Anda di halaman 1dari 13

3

BAB II
TINJAUAN UMUM APOTEK

2.1

Definisi Apotek
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009, apotek adalah

sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh


Apoteker. Sedangkan menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No. 1332/Menkes/SK/X/2002 dan Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No. 1027/Menkes/SK/IX/2004, apotek adalah suatu tempat tertentu
tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi,
perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Pekerjaan kefarmasian meliputi
pembuatan

termasuk

pengendalian

mutu

sediaan

farmasi,

pengamanan,

pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep


dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat
tradisional. Sediaan farmasi yang dimaksudkan adalah obat, bahan obat, obat
tradisional dan kosmetik. Sedangkan perbekalan kesehatan lainnya meliputi
semua bahan dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya
kesehatan.
2.2

Definisi Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian


Menurut PP 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, Apoteker

adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah mengucapkan
sumpah jabatan Apoteker.
Tenaga teknis kefarmasian adalah tenaga yang membantu apoteker dalam
menjalani pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya
Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker.
Apotek dikelola oleh Apoteker yang bertindak sebagai Apoteker
Penanggung Jawab (APJ) dan dalam mendirikan Apotek, seorang Apoteker dapat
menggunakan modal sendiri dan/atau modal dari pemilik modal baik perorangan
maupun perusahaan.

Dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian pada fasilitas pelayanan


kefarmasian, Jika Apoteker yang mendirikan Apotek bekerjasama dengan pemilik
modal, maka segala yang berkaitan dengan pekerjaan kefarmasian di Apotek
dilakukan sepenuhnya oleh Apoteker yang bersangkutan tanpa ada campur tangan
dari pemilik modal.
Apoteker Penanggung Jawab (APJ) hanya dapat melaksanakan praktek di
1 (satu) apotek, sedangkan apoteker pendamping (APING) dapat melaksanakan
praktek paling banyak di 3 (tiga) apotek.
Dalam menjalankan praktek kefarmasian pada fasilitas pelayanan
kefarmasian, Apoteker harus menerapkan standar pelayanan kefarmasian.
Penyerahan dan pelayanan obat berdasarkan resep dokter dilaksanakan oleh
Apoteker. Apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian pada fasilitas
pelayanan kefarmasian dapat:
a.
b.

Mengangkat seorang Apoteker pendamping yang memiliki SIPA


Mengganti obat merek dagang dengan obat generik yang sama komponen

c.

aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan dokter dan atau pasien.
Menyerahkan obat keras, narkotik, dan psikotropika kepada masyarakat atas
resep dari dokter sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-udangan.

2.3

Persyaratan Apotek
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin


Apotek, hal-hal yang harus dipenuhi agar surat izin apotek dapat dikeluarkan,
yaitu :
a.

Apoteker Pengelola Apotek (APA) yang bekerja sama dengan Pemilik


Sarana Apotek (PSA) yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan
tempat, perlengkapan apotek, tenaga asisten apoteker, termasuk sediaan
farmasi serta perbekalan lainnya.

b.

Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi lainnya diluar

c.

sediaan farmasi.
Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan
pelayanan komoditi lainnya diluar sediaan farmasi.

Persyaratan ini kemudian dilengkapi dengan Keputusan Menteri


Kesehatan

Nomor

1027/Menkes/SK/IX/2004

tentang

Standar

Pelayanan

Kefarmasian di Apotek yaitu :


1.

Apotek berlokasi pada daerah yang mudah dikenali oleh masyarakat.

2.
3.
4.

Pada halaman terdapat papan petunjuk yang dengan jelas tertulis kata apotek.
Apotek harus dengan mudah diakses oleh anggota masyarakat.
Pelayanan produk kefarmasian diberikan pada tempat yang terpisah dari
aktivitas pelayanan dan penjualan produk lainnya, hal ini berguna untuk
menunjukkan integritas dan kualitas produk serta mengurangi resiko

5.

kesalahan penyerahan.
Masyarakat diberi akses secara langsung dan mudah oleh apoteker untuk

6.

memperoleh informasi dan konseling.


Lingkungan apotek harus dijaga kebersihannya, apotek harus bebas dari

7.

hewan pengerat, serangga/pestisida.


Apotek harus mempunyai suplai listrik yang konstan, terutama untuk lemari

8.

pendingin.
Apotek harus memiliki:
a) Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien
b) Tempat untuk mendisplai informasi bagi pasien, termasuk penempatan
brosur/materi informasi
c) Ruangan tertutup untuk konseling bagi pasien yang dilengkapi dengan
meja dan kursi serta lemari untuk menyimpan catatan medikasi pasien
d) Ruang racikan
e) Keranjang sampah yang tersedia untuk staf maupun pasien.

9.

Perabotan apotek harus tertata rapi, lengkap dengan rak-rak penyimpanan


obat dan barang-barang lain yang tersusun rapi, terlindung dari debu,
kelembaban dan cahaya yang berlebihan serta diletakkan pada kondisi
ruangan dengan temperatur yang telah ditetapkan.

2.4
Perizinan Apotek
2.4.1 Tata Cara Perizinan Apotek
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1332/Menkes/SK/X/2002 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 992/Menkes/Per/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin
Apotek, Apoteker Pengelola Apotek (APA) adalah apoteker yang telah diberi

Surat Izin Apotek (SIA). SIA adalah surat izin yang diberikan oleh menteri kepada
apoteker

atau

apoteker

bekerjasama

dengan

pemilik

sarana

untuk

menyelenggarakan apotek di suatu tempat tertentu. Izin apotek berlaku untuk


seterusnya selama apotek yang bersangkutan masih aktif melakukan kegiatan dan
apoteker pengelola apotek dapat melaksanakan pekerjaannya dan masih
memenuhi persyaratan.
Adapun tata cara pemberian izin apotek adalah sebagai berikut:
1.

Permohonan Izin Apotek diajukan kepada Kepala Dinas Kesehatan

2.

Kabupaten/Kota dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-1.


Dengan menggunakan Formulir APT-2 Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah menerima
permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM untuk
melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan apotek untuk melakukan

3.

kegiatan.
Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambatlambatnya 6 (enam) hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan setempat

4.

dengan menggunakan contoh Formulir APT-3.


Bila pemeriksaan poin (b) & (c) tidak dilaksanakan, apoteker pemohon dapat
membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas

5.

Propinsi dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-4.


Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah diterima laporan hasil
pemeriksaan sebagaimana dimaksud poin (c), atau pernyataan dimaksud poin
(d) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan Surat

6.

Izin Apotek dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-5.


Dalam hal hasil pemeriksaan Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau
Kepala Balai POM dimaksud poin (c) masih belum memenuhi syarat Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam waktu 12 (dua belas) hari
kerja mengeluarkan surat penundaan dengan menggunakan contoh Formulir

7.

Model APT-6.
Terhadap surat penundaan sebagaimana dimaksud dalam poin (f), apoteker
diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi

selambat-lambatnya dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal surat


8.

penundaan.
Bila permohonan izin apotek tidak memenuhi persyaratan, atau lokasi apotek
tidak

sesuai

dengan

permohonan,

maka

Kepala

Dinas

Kesehatan

Kabupaten/Kota setempat dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 (dua


belas) hari kerja wajib mngeluarkan surat penolakan disertai dengan alasanalasannya dengan mempergunakan contoh Formulir Model APT-7.
2.4.2 Pencabutan Surat Izin Apotek
Kepala Kantor Wilayah dapat mencabut Surat Izin Apotek apabila:
1.
2.

Apoteker sudah tidak lagi memenuhi ketentuan Apoteker Pengelola Apotek.


Apoteker tidak memenuhi kewajiban menyediakan, menyimpan dan
menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan yang keabsahannya
terjamin serta tidak mengganti obat generik yang ditulis didalam resep

3.

dengan obat paten.


Apoteker Pengelola Apotek berhalangan melakukan tugasnya lebih dari 2

4.

(dua) tahun secara terus menerus.


Terjadi pelanggaran terhadap Undang-undang obat keras, Undang-undang
kesehatan, Undang-undang psikotropika, Undang-undang narkotika serta

5.
6.

ketentuan peraturan perundang-undangan lain yang berlaku.


Surat Izin Kerja Apoteker Pengelola Apotek dicabut.
Pemilik Sarana Apotek terbukti terlihat dalam pelanggaran perundang-

7.

undangan dibidang obat.


Apotek tidak lagi memenuhi persyaratan sebagai apotek.

2.5

Peranan Apoteker di Apotek


Peran Apoteker yang digariskan oleh WHO yang semula dikenal dengan

Seven Stars of Pharmacist sekarang menjadi Seven Stars Plus of Pharmacist


antara lain meliputi:
a.

Care giver
Apoteker harus dapat memberi pelayanan dalam bentuk pelayanan klinis,
analitis, teknis, sesuai peraturan perundang-undangan. Dalam memberikan
pelayanan, apoteker harus berinteraksi dengan pasien secara individu maupun

b.

kelompok dan mengintergrasikan pelayanannya.


Decision maker

Apoteker

harus

dapat

mengambil

keputusan

yang

tepat

untuk

c.

mengefisiensikan dan mengefektifkan sumber daya yang ada di apotek.


Communicator
Apoteker harus mempunyai kemampuan berkomunikasi yang cukup baik,

d.

baik komunikasi lisan maupun tulisan.


Leader
Apoteker harus memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin, memiliki
keberanian mengambil keputusan yang empati dan efektif serta kemampuan

e.

mengkomunikasikan dan mengelola hasil keputusan.


Manager
Apoteker harus memiliki kemampuan manajerial dalam mengelola sumber

f.

daya yang tersedia.


Teacher
Apoteker harus bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan pelatihan
mengenai hal-hal yang berkaitan dengan apotek.

g.

Life Long Learner


Apoteker harus senantiasa mengembangkan sikap mencari ilmu sepanjang
hayat, belajar terus menerus untuk meningkatkan pengetahuan dan

h.

kemampuan, serta mengikuti perkembangan ilmu kefarmasian.


Researcher
Apoteker harus senantiasa berperan serta dalam berbagai penelitian guna
mengembangkan ilmu kefarmasian.
Seorang Apoteker memiliki peran di apotek antara lain sebagai manager,

retailer, dan professional. Apoteker harus mempunyai kemampuan manajerial


yang baik, yaitu keahlian dalam menjalankan prinsip-prinsip ilmu manajemen,
yang meliputi:
a.

Kepemimpinan (leading), merupakan kemampuan untuk mengarahkan orang


lain, dalam hal ini anggota atau bawahan, untuk bekerja dengan suka rela
sesuai dengan apa yang diinginkannya dalam mencapai tujuan tertentu.
Kualitas kepemimpinan seorang pemimpin ditentukan dengan adanya sasaran
dan program yang jelas, bekerja sistematis dan efektif, mempunyai kepekaan
terhadap hubungan antar manusia, dapat membentuk tim dengan kinerja
tinggi, dan dapat mengerjakan tugas-tugas dengan efektif dan efisien. Untuk
dapat memimpin apotek dengan baik maka seorang Apoteker harus

mempunyai pengetahuan tentang pembukuan, administrasi, personalia, dan


b.

lain-lain.
Perencanaan (Planning), sebagai pengelola apotek, Apoteker harus mampu
menyusun perencanaan dari suatu pekerjaan, cara dan waktu pengerjaan, serta
siapa yang mengerjakannya. Apoteker harus mampu menyusun rencana agar

c.

tujuan apotek tercapai.


Pengorganisasian (Organizing), apoteker harus mampu mengatur dan
menentukan pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh karyawan dengan efektif
dan efisien, sesuai dengan pendidikan dan pengalaman. Pengaturan ini dapat
dilakukan dengan mengelompokkan pekerjaan sesuai keahlian karyawan,
menentukan tanggung jawab dan wewenang untuk tiap pekerjaan dan hasil
yang hendak dicapai, serta menjalin hubungan yang harmonis dengan

d.

karyawan.
Pelaksanaan (actuating), Apoteker harus dapat menjadi pemimpin yang
menjadi

panutan

karyawan,

yaitu

mengetahui

permasalahan,

dapat

menunjukkan jalan keluar terhadap masalah yang sedang dihadapi, dan turut
e.

berperan aktif dalam kegiatan.


Pengawasan (controlling), Apoteker harus selalu melakukan evaluasi setiap
kegiatan dan mengambil tindakan demi perbaikan dan peningkatan kualitas,
apakah semua sudah berjalan dengan baik ke arah tercapainya tujuan, dengan
membandingkan hasilnya dengan suatu standar tertentu. Dengan adanya
pengawasan maka penyimpangan-penyimpangan dari sasaran yang telah
ditetapkan dapat dicegah dan memperbaikinya apabila penyimpangan telah
terjadi.
Sebagai retailer, seorang apoteker memiliki peranan dalam peningkatan

omset apotek. Seorang apoteker harus dapat mengidentifikasi atau melihat


keadaan pasar, berusaha menarik konsumen sebanyak-banyaknya dan memuaskan
konsumen dengan pelayanan yang baik.
Peran apoteker sebagai profesi, antara lain:
- Peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, dan pencapaian tujuan
pengobatan
- Menjamin pasokan dan penggunaan obat maupun produk kesehatan lainnya

10

- Sumber informasi swamedikasi bagi masyarakat maupun pemberi saran


tentang penggunaan dan pemilihan obat untuk gejala yang dapat diobati
- Mempengaruhi proses peresapan dengan mengganti obat merek dagang dengan
obat generik yang sama komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas
persetujuan dokter dan atau pasien.
2.6

Fungsi dan Tugas Apoteker di Apotek


Fungsi dan tugas Apoteker Pengelola Apotek yaitu:

a.
b.
c.

Membuat visi dan misi


Membuat strategi, tujuan, sasaran, dan program kerja
Membuat dan menetapkan peraturan atau SPO pada setip fungsi kegiatan di

d.

apotek
Membuat sistem pengawasan dan pengendalian SPO dan program kerja pada
setiap fungsi kegiatan di apotek.
Sedangkan Tugas Apoteker di Apotek adalah wajib melayani resep-resep

dari dokter, dokter gigi, dokter hewan yang sepenuhnya merupakan tanggung
jawab APJ (Apoteker Penanggung Jawab). Dalam melayani resep, Apoteker harus
melaksanakan pekerjaan kefarmasiannya sesuai dengan tanggung jawab dan
keahlian profesinya yang dilandasi pada kepentingan masyarakat. Apabila
menemukan kekeliruan atau ketidakjelasan dalam resep, maka apoteker wajib
berkonsultasi dengan dokter penulis resep.
Selain melakukan pelayanan obat melalui resep dokter, apotek juga dapat
menjual obat tanpa resep. Obat-obat yang dapat diserahkan tanpa resep dokter
meliputi obat bebas, obat bebas terbatas, dan obat-obat yang termasuk dalam
Daftar Obat Wajib Apotek (DOWA) yang ditetapkan Menteri Kesehatan.
Penjualan obat keras yang dinyatakan sebagai Daftar Obat Wajib Apotek tanpa
resep, dapat dilakukan oleh Apoteker Pengelola Apotek, Apoteker Pendamping
atau Apoteker Pengganti.
Tugas apoteker di apotek adalah:
a.
b.
c.
d.
2.7

Melakukan pengelolaan sumber daya


Melakukan pelayanan di apotek
Melakukan evaluasi mutu pelayanan
Melakukan pengelolaan obat narkotika dan psikotropika
Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek

11

Pada

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

1332/Menkes/SK/X/2002 dinyatakan bahwa apoteker berkewajiban menyediakan,


menyimpan dan menyerahkan sediaan farmasi yang bermutu baik dan yang
keabsahannya terjamin.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1027/Menkes/SK/IX/2004, pelayanan kefarmasian adalah bentuk pelayanan dan
tanggung

jawab

profesi

apoteker

dalam

pekerjaan

kefarmasian

untuk

meningkatkan kualitas hidup pasien.


Pengelolaan persediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya di
apotek dilakukan sesuai ketentuan perundangan yang berlaku meliputi:
a. Perencanaan
Dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi perlu diperhatikan
pola penyakit, kemampuan masyarakat, dan budaya masyarakat.
b. Pengadaan
Untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaan sediaan
farmasi harus melalui jalur resmi.
c. Penyimpanan
Obat / bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. Dalam hal ini
pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain, maka harus
dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas pada
wadah baru, wadah sekurang-kurangnya memuat nomor batch dan tanggal
kadaluarsa. Semua bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai, layak
dan menjamin kestabilan bahan. Pengeluaran obat memakai sistem First In
First Out (FIFO) artinya obat yang masuk terlebih dahulu ke gudang maka
akan terlebih dahulu dikeluarkan apabila ada permintaan. Selain itu juga
digunakan sistem First Expire First Out (FEFO), artinya obat yang memiliki
tanggal kadaluarsa terlebih dahulu maka akan dikeluarkan lebih dulu bila ada
permintaan.
Pelayanan di apotek meliputi pelayanan resep, promosi dan edukasi, serta
pelayanan residensial (home care).
1.

Pelayanan resep
a. Skrining resep
i. Persyaratan administratif, meliputi :

12

- Nama, SIP dan alamat dokter


- Tanggal penulisan resep
- Tanda tangan/paraf dokter penulis resep
- Nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien
- Nama obat, potensi, dosis, jumlah yang minta
- Cara pemakaian yang jelas
- Informasi lainnya
ii. Kesesuaian farmasetik
- Bentuk sediaan
- Dosis
- Potensi
- Stabilitas
- Inkompatibilitas
- Cara dan lama pemberian
iii. Pertimbangan klinis
- Adanya alergi obat
- Efek samping
- Interaksi (baik antara obat dengan penyakit maupun obat dengan
obat lainnya)
- Kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat, cara pemberian dan lainlain)
- Duplikasi dari obat (polypharmacy)
Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada
dokter penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif
seperlunya bila perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan.
b. Penyiapan obat
i. Peracikan
Merupakan

kegiatan

menyiapkan,

menimbang,

mencampur,

mengemas dan memberikan etiket pada wadah. Dalam melaksanakan


peracikan

obat

harus

dibuat

suatu

prosedur

tetap

dengan

memperhatikan dosis, jenis dan jumlah obat serta penulisan etiket


yang benar.
ii. Etiket
Etiket harus jelas dan dapat dibaca.
iii. Kemasan obat yang diserahkan
Obat hendaknya dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok
sehingga terjaga kualitasnya.
iv. Penyerahan Obat

13

Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan


akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat
dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan
konseling kepada pasien dan tenaga kesehatan.
v. Informasi obat
Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah
dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi
obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi: cara pemakaian obat,
cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivasi serta
makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi.
vi. Konseling
Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi,
pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat
memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar
dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan salah sediaan farmasi
atau perbekalan kesehatan lainnya. Untuk penderita penyakit tertentu
seperi cardiovascular, diabetes, TBC, asma, dan penyakit degeneratif
maupun penyakit kronis lainnya, apoteker harus memberikan
konseling secara berkelanjutan.
vii. Monitoring Penggunaan Obat
Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan
pemantauan penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu seperti
2.

cardiovascular, diabetes, TBC, asma, dan penyakit kronis lainnya.


Promosi dan Edukasi
Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus berpartisipasi

secara aktif dalam promosi dan edukasi. Apoteker ikut membantu diseminasi
informasi, antara lain dengan penyebaran leaflet/brosur, poster, penyuluhan, dan
lain-lainnya.
3.

Pelayanan residensial (Home Care)


Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan pelayanan

kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia


dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk aktivasi ini
apoteker harus membuat catatan berupa catatan pengobatan (medication record).

14

Adapun evaluasi mutu pelayanan di apotek yang dilakukan menggunakan


indikator:
a.

Tingkat kepuasan konsumen : dilakukan dengan survei berupa angket atau

b.
c.

wawancara langsung
Dimensi waktu : lama pelayanan diukur dengan waktu (yang telah ditetapkan)
Prosedur tetap : untuk menjamin mutu pelayanan sesuai standar yang telah
ditetapkan.

2.8

Pengelolaan Narkotika dan Psikotropika


Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, menyebutkan

bahwa narkotika hanya dapat disalurkan oleh industri farmasi, pedagang besar
farmasi, dan sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah sesuai dengan
ketentuan dalam Undang-Undang ini. Apotek hanya dapat memperoleh obatobatan narkotika dari pabrik obat dan PBF tertentu, yaitu PT. Kimia Farma
Trading & Distribution. Pemesanan obat narkotika dilakukan dengan surat
pesanan khusus yang ditandatangani oleh APA dengan mencantumkan nama jelas,
nomor SIK dan stempel apotek. Surat pesanan menggunakan SP model N-9 yang
dibuat rangkap 4. Apotek memiliki kewajiban untuk mengirimkan laporan
bulanan mengenai pemasukan dan pengeluaran narkotika yang ditujukan kepada
Dinas Kesehatan Kota Bandung dengan tembusan kepada Dinas Kesehatan
tingkat Provinsi dan Balai Besar POM tingkat Provinsi, dan penanggung jawab
narkotik PT. Kimia Farma.
Penyimpanan Narkotika diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
28/Menkes/Per/I/1978, yaitu bahwa narkotika disimpan dalam lemari khusus yang
terbuat dari kayu dengan ukuran 40 x 80 x 100 cm. jika ukurannya kurang dari
ketentuan di atas, maka lemari tersebut harus menempel pada dinding atau alasnya
ditanam di lantai. Lemari tersebut mempunyai 2 sekat dan masing-masing sekat
harus mempunyai kunci tersendiri, bagian pertama untuk menyimpan morfin dan
petidin serta garam-garamnya, sedangkan pada bagian lain untuk menyimpan obat
narkotika lain dan untuk pemakaian sehari-hari. Pemusnahan dilakukan dengan
pembuatan berita acara yang sekurang-kurangnya memuat:
a.

Nama, jenis dan jumlah

15

b.

Keterangan tempat, jam, hari, tanggal, bulan dan tahun dilkasanakan

c.

pemusnahan.
Tanda tangan dan identitas lengkap pelaksana dan pejabat yang menyaksikan
pemusnahan.
Berita Acara Pemusnahan tersebut kemudian dikirimkan kepada Badan

POM dan Dinas Kesehatan Kota Bandung, dengan tembusan kepada Dinas
Kesehatan Provinsi dan Balai Besar POM tingkat Provinsi.
Pengelolaan obat Psikotropika dilakukan sesuai dengan Undang-Undang
No. 5 Tahun 1997 yang menjelaskan bahwa apotek merupakan salah satu badan
yang memiliki hak untuk menyalurkan dan menyerahkan psikotropika.
Penyerahan psikotropika oleh apotek hanya dapat dilakukan kepada apotek
lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter dan kepada pengguna
atau pasien yang tentunya memiliki resep dokter.
Obat psikotropika yang sudah tidak memenuhi persyaratan untuk
digunakan dalam pelayanan kesehatan, kadaluarsa atau karena berkaitan dengan
tindak pidana harus dimusnahkan. Pemusnahan dilakukan oleh pemerintah, orang
atau badan yang bertanggung jawab atas produksi dan atau peredaran
Psikotropika, sarana kesehatan tertentu, serta lembaga ilmu pengetahuan tertentu
dengan disaksikan oleh petugas dari dinas kesehatan kabupaten/provinsi yang
bertanggung jawab di bidang kesehatan. Setiap pemusnahan psikotropika wajib
dibuatkan Berita Acara Pemusnahan.