Anda di halaman 1dari 7

44

BAB IV
TUGAS KHUSUS

4.1 Tugas Khusus Pelayanan Kefarmasian ke Rumah (Home Care)


4.1.1 Pengertian Home Care
Menurut

Kepmenkes

No.

1027/MENKES/SK/IX/2004

Pelayanan

residensial (Home Care) adalah pelayanan apoteker sebagai care giver dalam
pelayanan kefarmasian di rumah-rumah khususnya untuk kelompok lansia dan
pasien dengan pengobatan terapi kronis lainnya. Hal ini merupakan salah satu
tugas dari seorang Apoteker untuk dapat memberikan pelayanan dan perhatian
kepada pasien.
4.1.2 Penyelenggaraan Home Care
Home care dilaksanakan pada 27 Mei 2014 ke rumah salah satu pelanggan
Apotek Kimia Farma 12.
4.1.3 Prinsip - Prinsip Pelayanan Kefarmasian di Rumah
1. Pengelolaan pelayanan kefarmasian di rumah dilaksanakan oleh apoteker
yang kompeten
2. Mengaplikasikan peran sebagai pengambil keputusan profesional dalam
pelayanan kefarmasian sesuai kewenangan
3. Memberikan pelayanan kefarmasian di rumah dalam rangka meningkatkan
kesembuhan dan kesehatan serta pencegahan komplikasi
4. Menjunjung tinggi kerahasiaan dan persetujuan pasien
5. Memberikan rekomendasi dalam rangka keberhasilan pengobatan
6. Melakukan telaah (review) atas penatalaksanaan pengobatan

45

7. Menyusun rencana pelayanan kefarmasian berdasarkan pada diagnose dan


informasi yang diperoleh dari tenaga kesehatan dan pasien/keluarga
8. Membuat catatan penggunaan obat pasien (Patient Medication Record)
secara sistematis dan kontiniu, akurat dan komprehensif
9. Melakukan monitoring penggunaan obat pasien secara terus menerus
10. Bertanggung jawab kepada pasien dan keluarganya terhadap pelayanan
yang bermutu melalui pendidikan, konseling dan koordinasi dengan tenaga
kesehatan lain
11. Memelihara hubungan antar anggota tim kesehatan untuk menjamin agar
kegiatan yang dilakukan anggota tim saling mendukung dan tidak tumpang
tindih
12. Berpartisipasi

dalam

aktivitas

penelitian

untuk

mengembangkan

pengetahuan pelayanan kefarmasian di rumah


4.1.4 Pelayanan yang dapat Diberikan Apoteker
Jenis pelayanan kefarmasian di rumah yang dapat dilakukan oleh Apoteker,
meliputi :
1. Penilaian/pencarian (assessment) masalah yang berhubungan dengan
pengobatan
2. Identifikasi kepatuhan dan kesepahaman terapeutik
3. Penyediaan obat dan/atau alat kesehatan
4. Pendampingan pengelolaan obat dan/atau alat kesehatan di rumah, misal
cara pemakaian obat asma, penyimpanan insulin, dll
5. Evaluasi penggunaan alat bantu pengobatan dan penyelesaian masalah
sehingga obat dapat dimasukkan ke dalam tubuh secara optimal
6. Pendampingan pasien dalam penggunaan obat melalui infus/obat khusus

46

7. Konsultasi masalah obat


8. Konsultasi kesehatan secara umum
9. Dispensing khusus (misal : obat khusus, unit dose)
10. Monitoring pelaksanaan, efektifitas dan keamanan penggunaan obat
termasuk alat kesehatan pendukung pengobatan
11. Pelayanan farmasi klinik lain yang diperlukan pasien
12. Dokumentasi pelaksanaan pelayanan kefarmasian di rumah
4.2 Profil Pasien
Nama

Bpk. T

Jenis Kelamin

Laki-laki

Umur

67 Tahun

Alamat

Jl. Titimplik, Bandung

History Penyakit

Hipertensi dan Asam Urat

4.3 Hasil Kunjungan


Ketika dikunjungi pasien terlihat sehat bugar. ketika kami memberikan
pertanyaan seputar penyakit yang diderita pasien. Penyakit pasien adalah
Hipertensi dan asam urat. Obat yang diresepkan terakhir oleh dokter antara lain;
Allopurinol 300 mg, Captopril 50 mg, Nifedipin 10 mg dan Hydrochlortiazid 25
mg. Pada resep tidak ada obat untuk diabetes, ternyata setelah ditanyakan obat
untuk diabetes telah diberikan oleh dokter berupa tablet yang tidak diketahui
tablet itu kandungannya apa. Pasien pun menggunakan obat herbal yang tidak
diketahui juga apa kandunganya, serta pasien melakukan terapi batu giok. Ketika
pasien ditanyakan mengenai hasil cek hipertensi dan asam urat. pasien menjawab
cek terakhir kedua penyakit itu sudah normal. Setelah banyak berbincang
diketahui bahwa pasien tidak teratur dalam mengkonsumsi obat yang telah

47

diberikan. Pasien pun kurang berolahraga, sering ke kamar mandi dan mengalami
cegukan.
Dua bulan terakhir pasien telah di rawat sebanyak 2 kali karena keluhan
cegukan yang dideritanya. Menurut pasien, dokter mendiagnosa cegukan terjadi
akibat dari gangguan pencernaan yang dialami pasien. Tetapi setelah keluar dari
rumah sakit, cegukan tersebut masih terjadi disertai mual dan muntah. Pasien
mengatakan ketika setelah meminum obat dan kecapean, cegukan mulai terjadi.
Dalam mengkonsumsi makanan pasien sudah sangat sadar untuk menjauhi
makanan dan minuman yang tidak boleh dikonsumsi. Beberapa makanan yang
tidak boleh konsumsi oleh pasien diantaranya, jeroan, kacang-kacangan, garam,
singkong, dll.
Resep yang diberikan :
R/ Allopurinol tab 300 mg No. XV
S 2 dd tab 1
R/ Hydrochlortiazid 25 mg No. LX
S 2 dd tab 1
R/ Captropil 50 mg No. LX
S 2dd tab 1
R/ Nipedipin10 mg No. LX
S 2dd tab 1
4.4 Pembahasaan
Monografi Obat
a. Allopurinol
Komposisi
: Allopurinol
Indikasi
: Hiperurisemia primer (gout) dan hiperurisemia sekunder
Dosis

(mencegah pengendapan asam urat daN kalsium oksalat)


: Dosis maksimal tunggal 300 mg bila perlukan, bila diperlukan
maksimal 900 mg/hari.Dosis harus dipantau dengan kadar

Kontraindikasi
Efek samping

asam urat. Serum/ air seni dengan waktu yang tepat


: Hipersensitif terhadap dihidropiridin
: Sakit kepala, edema, lelah, pusing, mual, rasa panas,

Perhatian

kemerahan di wajah.
: Gangguan fungsi hati dan ginjal, hamil dan laktasi, anak >6

Interaksi Obat

tahun, lansia.
: ACE inhibitor, nitrat kerja lama, nitrogliserin sublingual,
AINS, antibiotik, obat hipoglikemik oral.

48

b. Hydrochlortiazid
Komposisi
: Hydrochlortiazid
Indikasi
: Hipertensi
Dosis
: 12 mg - 25 mg / hari
Efek samping
: Gangguan
elektrolit:

hipokalemia,

hipokloremia;

hipomagnesemia.
c. Captopril
Indikasi
Kontraindikasi

: Hipertensi, pengobatan gagal jantung, nefropati


: Gagal ginjal, hamil dan laktasi, hipersensitif terhadap ACE

Efek samping

inhibitor lain.
: Hipotensi (1-3%), takikardia (1%) hyperkalemia (1-11%),

Dosis

batuk (1-2%), demam, rash.


: Hipertensi akut : oral : 12,5-25mg, dapat diulang disaat
dibutuhkan Hipertensi : oral : awal 12,5-25mg 2-3 kali/hari;
dapat ditingkatkan 122,5-25 mg/dosis pada 1-2 minggu
interval mencapai 50mg 3 kali/hari. Maximum : 150mg 3

Perhatian

kali/hari. Dosis lazim: 25-100mg/hari dalam 2 dosis terapi


Gagal ginjal
Clcr 10-50mL/menit : 75% dari dosis normal
Clcr <10 mL/menit : 50% dari dosis normal
: Neutropenia, agranulositosis, trombosipenia, anemia, penyakit
vascular kolagen, penyakit ginjal.

d. Nifedifin
Komposisi
Indikasi

: Nifedipin
: Ca-blocker, terapi & profilaksis insufisiensi koroner kronik,

Dosis
Kontraindikasi
Efek samping

khususnya angina dan sebagai terapi tambahan antihipertensi.


: angina 10mg, hipertensi 30-60 mg(1x sehari)
: Hamil, Laktasi
: Vasodilatasi sementara dan ringan, rasa hangat, mual dan
pusing

Obat yang diberikan oleh dokter ada 4 untuk obat anti hipertensi dan asam
urat.

Obat

yang

memiliki

indikasi

sebagai

anti

hipertensi

adalah

Hydrochlorotiazid, Captopril dan Nifedipin. Sedangkan Allopurinol adalah untuk


asam urat yang diderita oleh pasien.

49

HCT atau hidroklortiazid merupakan salah suatu obat antihipertensi yang


bekerja dengan cara diuretik. Obat antihipertensi diuretik digunakan sebagai
pilihan pertama dalam pengobatan hipertensi. HCT bekerja dengan cara
meningkatkan pengeluaran garam dan air oleh ginjal. Hal ini akan menurunkan
volume ekstrasel yang pada akhirnya akan menurunkan tekanan darah. Disamping
itu,berpengaruh langsung terhadap dinding pembuluh, yakni penurunan kadar
natrium membuat dinding lebih kebal terhadap noradrenalin hingga daya tahannya
berkurang. Efek hipotensifnya relatif ringan dan tidak meningkat bila dosis
diperbesar.
Mekanisme Captopril yaitu sebagai penanganan hipertensi dan infark
miokard. Captopril sebagai antihipertensi golongan ACE inhibitor bekerja dengan
cara menghambat enzim ACE yang mengubah angiotensin I menjadi
angiotensinII. Efek peniadaan pembentukan angiotensin II adalah dengan cara
vasodilatasi dan mengurangi retensi garam dan air, sehingga zat ini tidak
menimbulkan udema.
Mekanisme dari Nifedipin adalah menghambat masuknya transmembran
ion kalsium ekstraseluler melintasi membran sel otot polos pembuluh darah dan
miokard tanpa mengubah konsentrasi kalsium serum; ini menyebabkan
penghambatan kontraksi otot polos jantung dan pembuluh darah, sehingga
melebarkan arteri koroner dan sistemik utama.
Sedangkan Allopurinol

memiliki

mekanisme

kerja

adalah

dapat

menurunkan produksi asam urat dengan menghambat xanthin-oksidase yaitu


enzim yang dapat mengubah hipoxanthin menjadi xanthin dan mengubah xanthin
menjadi asam urat. Dengan menurunkan konsentrasi asam urat dalam darah dan
urin, allopurinol mencegah atau menurunkan endapan urat sehingga mencegah
terjadinya gout arthritis dan urate nephropathy.
Dari keempat obat tersebut terdapat 1 interaksi obat yaitu dari Allopurinol
dan Captropil yaitu terjadinya resiko anafilaksis dan sindrom Stevens Johnson
dengan tingkat serius dan mungkin dapat merenggut nyawa pasien. Sehingga
disarankan pengobatannya perlu ada perubahan, seperti dengan penghentian
penggunaan captropil agar interaksi obat tidak terjadi. Jadi obat yang digunakan

50

hanya hydrochlorotiazid dan nifedipin untuk anti hipertensinya dan Allopurinol


sebagai Obat Asam uratnya. Agar pengobatan lebih optimal pasien perlu
mengkonsumsi obat secara teratur agar kadar asam urat dan tekanan darah
tingginya terkontrol serta melakukan olah raga selain membatasi konsumsi
makanan dan minuman.