Anda di halaman 1dari 2

BAB I

Remaja dalam arti adolesence (inggris) berasal dari bahasa latin adolscere yang
artinya tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa (Hurlock, 2004). Menurut World Health
Organization (WHO) masa remaja terbagi atas masa remaja awal (early adolescence)
berusia 10-13 tahun, masa remaja tengah (middle adolescence) berusia 14-16 tahun dan
masa remaja akhir (late adolescence) berusia 17-19 tahun (Syarafina & Probosari, 2014).
Remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang merupakan transisi antara
masa kanak-kanak dan dewasa, meliputi perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan
psikososial (Santrock, 2011).
Masa remaja dimulai dengan masa pubertas dimana terjadi perubahan-perubahan
dalam diri remaja. Pada masa pubertas, akan ditandai dengan datangnya menstruasi pada
perempuan. Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim endometrium yang disertai dengan
pendarahan yang terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan.
Menstruasi yang berulang setiap bulan tersebut akhirnya membentuk siklus menstruasi.
Menstruasi juga bisa diartikan keluarnya cairan secara berkala dari vagina selama masa
usia produktif (Aulia, 2009). Perubahan biologis pubertas yang merupakan tanda akhir masa
kanak-kanak, berakibat pada peningkatan pertumbuhan berat dan tinggi badan, perubahan
dalam proporsi dan bentuk tubuh, serta pencapaian kematangan organ seksual (Papalia,
2008). Perkembangan pada remaja puteri yang telah mengalami menstruasi seperti jerawat,
membesarnya pinggul serta pertambahan berat badan adalah yang paling banyak
dikeluhkan oleh remaja puteri dan menyebabkan ketidakpuasan atas perubahan yang terjadi
dalam masa pubertas remaja puteri tersebut. Periode gemuk pada anak perempuan dalam
masa puber, biasanya terjadi antara usia enam belas dan delapan belas tahun, bertepatan
dengan periode kemandulan remaja. Pada saat ini terjadi pertumbuhan pesat dalam
panjangnya uterus dan beratnya indung telur (Hurlock, 2004).

Perubahan fisik dalam masa remaja lebih pesat daripada masa kanak-kanak, dan
perubahan yang pesat ini menimbulkan respon tersendiri bagi remaja berupa tingkah laku
yang sangat memperhatikan bentuk tubuhnya (Hurlock, 2004). Remaja umumnya
mengalami pergolakan hidup yang diakibatkan oleh berbagai macam perubahan, baik fisik,
psikis maupun sosial. Perubahan fisik pada remaja merupakan perubahan yang paling
kelihatan menonjol, dan juga salah satu sumber permasalahan utama pada remaja. Salah
satu permasalahan utama yang dihadapi oleh remaja, khususnya remaja putri, adalah berat
badan dan penampilan diri (Putri, 2008). Memasuki masa remaja yang diawali dengan
terjadinya kematangan seksual, maka remaja akan dihadapkan pada keadaan yang
memerlukan

penyesuaian

untuk

menerima

perubahan-perubahan

yang

terjadi.

Pertumbuhan dan perkembangan pada masa remaja sangat pesat, baik fisik maupun
psikologisnya. Terutama remaja perempuan, karena anak perempuan akan lebih cepat
dewasa dibandingkan dengan anak laki-laki (Proverawati & Misaroh, 2009). Perubahan fisik
dalam masa remaja lebih pesat daripada masa kanak-kanak, dan perubahan yang pesat ini
menimbulkan

respon

tersendiri

bagi

remaja

berupa

tingkah

laku

yang

sangat

memperhatikan bentuk tubuhnya (Hurlock, 2004). Remaja umumnya mengalami pergolakan


hidup yang diakibatkan oleh berbagai macam perubahan, baik fisik, psikis maupun sosial.
Perubahan fisik pada remaja merupakan perubahan yang paling kelihatan menonjol, dan
juga salah satu sumber permasalahan utama pada remaja. Salah satu permasalahan utama
yang dihadapi oleh remaja, khususnya remaja putri, adalah berat badan dan penampilan diri
(Putri, 2008).
Dengan berkembangnya media informasi yang ada, sering terjadi kesalahan dalam
menilai perubahan tubuh oleh remaja puteri. Terdapat 51,6% remaja putri puas terhadap
bentuk dan ukuran tubuhnya, sedangkan 48,4% merasa tidak puas Setyorini (2010).
Fenomena ketidakpuasan citra tubuh di Surabaya merupakan fenomena yang menarik
untuk diteliti lebih jauh. Pada tahun 2003, terdapat 40% mahasiswi yang berusia 18-25
tahun, yang sangat tidak puas terhadap citra tubuhnya (kategori tinggi), dan 38% mahasiswi
yang tidak puas terhadap citra tubuhnya (kategori cukup) (Maria, 2015).