Anda di halaman 1dari 47

1.

SISTEM PERLINDUNGAN ANAK DI INDONESIA


Indonesia menghadapi masalah serius terkait dengan hak dan kesejahteraan
anak-anak. Hampir setengah dari anak-anak Indonesia berusia antara 13 dan 18
tahun putus sekolah; hampir tiga juta anak terlibat dalam perburuhan anak
berpotensi berbahaya, dan sekitar 2,5 juta anak Indonesia menjadi korban
kekerasan setiap tahun. Lebih dari 80% anak-anak sedang menjalani proses
peradilan berakhir di belakang bar dan jumlah yang lebih besar adalah tanpa
bantuan

hukum. Statistik

ini

menggarisbawahi

kebutuhan

untuk

mengintensifkan dan memperkuat upaya saat ini untuk meningkatkan


perlindungan anak di Indonesia. 2008 review dari Pemerintah Program Negara
Indonesia dan UNICEF Kerjasama menyoroti hubungan antara kebutuhan
untuk meningkatkan perlindungan anak dan pengembangan ekonomi nasional
yang adil dan berkelanjutan.

Kesenjangan yang signifikan tetap dalam ketersediaan informasi pembangunan


kerangka kebijakan di Indonesia dan aktual, on-the-tanah program di bidang
hak-hak anak dan perlindungan anak. Ada kebutuhan mendesak untuk
berpindah dari penyediaan ad-hoc, responsif, dan donor-driven upaya
perlindungan anak ke sistem anak strategis dan komprehensif perlindungan.

Sistem seperti menggunakan proses standar untuk mengumpulkan data,


menggunakan data tersebut untuk program-program desain, dan alamat
keprihatinan perlindungan anak dalam yang lebih luas sosial, ekonomi, konteks
politik dan hukum.

Dalam konteks ini bahwa Columbia University dan Universitas Indonesia,


bekerja sama dengan UNICEF dan Departemen Perencanaan Bahasa Indonesia
(BAPPENAS) mendirikan Universitas berbasis Center of Excellence, Pusat
tentang Perlindungan Anak, yang akan berfungsi sebagai model dari akademisi,
pemerintah dan keterlibatan masyarakat sipil yang memberikan kontribusi
untuk sistematisasi dan profesionalisasi perlindungan anak di Indonesia melalui
penelitian, analisis dan evaluasi.

Pusat ini difokuskan pada membangun kapasitas praktisi pemerintah,


profesional muncul, para pemimpin masyarakat sipil dan akademisi. Hal ini
bertujuan untuk mempromosikan seragam, solusi berkelanjutan untuk masalah
kompleks yang mempengaruhi anak-anak, keluarga, dan masyarakat. Selain itu,
ia mendorong kolaborasi dan pertukaran pengetahuan di kawasan Asia /
Pasifik.

Negara Indonesia, saat ini sedang mengembangkan kesejahteraan anak dan


keluarga yang fokus pada sistem untuk pencegahan dan merespon semua
bentuk bentuk kekerasan pada anak. Hal ini merupakan refleski pada
pendekatan baru pada upaya perlindungan anak secara internasional.

Kendati negara Indonesia telah mengembangkan sebuah kerangka kerja


progresif untuk hak-hak anak, hanya saja dalam pelaksanaannya kurang
mampu berkembang untuk perlindungan anak. Disisi lain, belum ada mandat
secara jelas bagi sebuah lembaga untuk mengelola pelayanan pencegahan dan
merespon masalah-masalah anak terkait dengan kewenangan dan akuntabilitas
untuk melindungi secara legal dan efektif.

Pendekatan dalam penyediaan layanan perlindungan anak berbasis sistem


mulai dikembangkan berbeda dengan pendekatan tradisional yang dijalankan
saat ini. Dimana, dalam pendekatan tradisional dilakukan berdasarkan respon
yang berbasis kesejahteraan, lebih dipimpin oleh NGOs, berorientasi pada
kedaruratan, berbasis pada issu (seperti perdagangan anak; peradilan anak),
bekerja berdasarkan jaringan dan bukan sistem; dan hanya terfokus pada
kelompok anak yang termarjinalkan dan rentan, serta layanan perlindungan
anak lebih mengedepankan pada respon atau gejala saja.

Upaya untuk mengadopsi pendekatan membangun sistem ini merupakan


upaya untuk mengkerangkakan kembali sebuah pendekatan pada anak yang
membutuhkan atau beresiko, memikirkan kembali bagaimana membangun
strategi

untuk

perlindungan

persekutuan/kemitraan,
memprogramkan kembali

anak,

bagaimana
intervensi

mendifinisikan

peran,

apa

tanggungjawab,

dari masing

itu
serta

masing stakeholder

diperlindungan anak.

Kerjakerja yang dilakukan dalam membangun sistem merupakan kerja-kerja


yang komprehensif yang saling terkait satu dengan lainnya atau saling
berinteraksi dalam kondisi yang harmonis dan teratur. Komponen yang saling
terkait antara lain adalah kerangka hukum dan kebijakan yang kuat untuk PA,
tersedianya anggaran yang memadai, koordinasi multi sektoral, sistem layanan
pencegahan yang ramah anak dan responsif, tenaga kerja PA yang profesional,
pengawasan dan regulasi, serta data dan informasi yang kuat tentang isu isu
PA.

Dalam sistem perlindungan anak meliputi:


a. Pencegahan terhadap kekerasan, penelantaran, perlakukan salah dan
eksploitasi yang direspon secara efektif ketika hal tersebut muncul serta
menyediakan layanan yang dibutuhkan, rehabilitasi dan kompensasi
terhadap para korban
b. Memperoleh pengetahuan tentang akar penyebab kegagalan pada
perlindungan anak dan sejauhmana mengetahui tentang kekerasan ,
penelantaran, eksploitasi dan perlakukan salah terhadap anak disemua
kondisi.
c. Mengembangkan kebijakan dan regulasi, yang mempengaruhi untuk
tindakan pencegahan dan penanganan, dan bagiamana memastikan
perkembangannya.
d. Mendorong partisipasi anak baik laki dan perempuan, orang tua, wali dan
masyarakat, international dan nasional NGO serta masyarakat sipil.
Pendekatan Perlindungan Anak Berbasis Sistem
Pendekatan perlindungan anak berbasis sistem sebagai pendekatan yang
menekankan tanggung jawab atau kewajiban dari negara sebagai primary duty
bearer dalam menyediakan layanan untuk pemenuhan hak hak anak dan
perlindungan anak

Negara mengakui anak sebagai pemegang hak dan berhak atas perlindungan,
mempromosikan tanggungjawab dan akuntabilitas negara untuk kesejahteraan
anak. Fokus pada pencegahan kekerasan disumber masalahnya, pengembangan
sistem kesejahteraan yang dilaksanakan oleh negara yang komprehensif (bukan
jejaring kerja/proyek), menjangkau semua anak dan fokus pada keluarga dan
masyarakat.

Kerja kerja berbasis sistem lebih teroganisir dan bersungguh sungguh, dapat
diprediksi, interaktif dan saling terkait satu sama lainnya.

Sistem perlindungan anak yang efektif mensyarakatkan adanya komponenkomponen yang saling terkait. Adapun komponen-komponen tersebut meliputi:
a. Layanan Kesejahteraan Sosial
Penguatan dan pemberian pelayanan kesejahteraan dan perlindungan anak
memerlukan gambaran yang jelas tentang tugas, tanggung jawab dan proses
kelembagaan di setiap tingkat. Proses dan kriteria pelaporan, penilaian, dan
perencanaan intervensi dan penanganan kasus perlu dipetakan, yang
kemudian dilakukan standarisasi dan disosialisasikan di semua tingkat.

Kapasitas pekerja sosial provinsi, kabupaten, dan masyarakat perlu


diperkuat. Tugas dan tanggung jawab yang baru ditetapkan dan
akuntabilitas harus menentukan kapasitas yang diperlukan di setiap
tingkatan.

b. Kerangka kerja legal/peraturan perundang-undangan


Kerangka hukum dan peraturan perlu ditingkatkan dan sesuai dengan
standard inernasional.. Kerangka hukum yang menyeluruh dan mengikat
diperlukan ditingkat pusat. Kerangka hukum dan peraturan ditingkat

provinsi dan kabupaten harus sejalan dengan kerangka hukum nasional.


Meliputi kerangka hukum dan kebijakan yang mendukung serta sistem data
dan informasi untuk perlindungan anak.
c. Perubahan sikap/ perilaku
Di tingkat masyarakat, berbagai komponen tersebut harus disatukan dalam
rangkaian kesatuan pelayanan perlindungan anak yang mendorong
kesejahteraan dan perlindungan anak dan meningkatkan kapasitas keluarga
dan masyarakat untuk memenuhi tanggung jawab mereka. Meliputi,
kampanye dan lobby; pemahaman media; ekspresi pendapat anak; debat
nasional; membangun kapasitas, dan lain sebagainya.

Pelayanan Sosial Melalui Pendekatan Sistem


Rangkaian dari layanan sosial perlindungan anak ditingkat masyarakat dimulai
dari pelayanan pencegahan primer, sekunder sampai layanan penanganan
tersier,

Mediasi Keluarga ; Identifikasi dini; Dukungan keuangan Asuhan petirahan


(Respite care)

Kampanye

Kesadaran

Pendidikan,

media,

Kelompok

Pengasuhan

Pencegahan primer bertujuan untuk memperkuat kapasitas masyarakat secara


menyeluruh dalam pengasuhan anak dan memastikan keselamatan mereka.

Meliputi kegiatan yang mengubah sikap dan perilaku, memperkuat ketrampilan


orangtua dan menyadarkan masyarakat tentang dampak yang tidak diinginkan
dari kekerasan terhadap anak.

Pencegahan sekunder atau layanan intervensi dini difokuskan pada keluarga


dan anak anak yang beresiko dilakukan dengan mengubah keadaan sebelum
perilaku kekerasan menimbulkan dampak buruk secara nyata terhadap anak
anak misalnya melalui konseling dan mediasi keluarga serta pemberdayaan
ekonomi.

Intervensi tersier menangani situasi dimana anak sudah dalam keadaan krisis
sebagai akibat kekerasan, perlakuan salah, eksploitasi, penelantaran, atau
tindakan-tindakan buruk lainnya. Oleh karena itu, intervensi ini bertujuan
untuk membebaskan anak-anak dari dampak buruk atau, jika dianggap layak,
melakukan pengawasan terstruktur dan memberikan layanan dukungan.
Mekanisme pencegahan dianggap lebih dibandingkan tepat dibandingkan
intervensi tersier atau reaktif.

Semua rangkaian sistem baik tertier, sekunder dan primer harus saling
terhubungkan dalam sebuah rangkaian kesatuan perlindungan bagi anak-anak.

Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat Sebagai Pendekatan Berbasis


Sistem
Pada pendekatan berbasis sistem lebih mengedepankan porsi terbesar pada
layanan primer (kampanye kesadaran, pendidikan, media, dll). Dimana, hal ini

lebih banyak dilakukan diranah masyarakat hingga menyentuh wilayah


keluarga dan anak secara langsung. Anak dan keluargalah menjadi sasaran
utama dalam layanan berbasis sistem ini.

Dalam menyediakan layanan primer, KPAD/KPAD sudah memposisikan diri


sebagai institusi yang dekat dengan masyarakat khususnya di Desa/Kelurahan.
KPAD/KPAK merupakan inisiatif masyarakat sebagai ujung tombak untuk
melakukan

upaya

upaya

pencegahan

dengan

membangun

kesadaran

masyarakat dengan tujuan terjadinya perubahan sikap dan perilaku tentang


dampak yang tidak diinginkan dari kekerasan terhadap anak.
Selain itu, KPAD juga mengupayakan adanya kebijakan dan kertersediaan
anggaran di tingkat desa, membangun peran serta aktif dari anak, masyarakat
dan pemerintah secara bersama sama, serta membangun sistem rujukan ke
tingkat kecamatan dan kabupaten.

KPAD/KPAK pun bekerja pada layanan sekunder, seperti melakukan mediasi


dan konsultasi bagi masalah masalah anak yang terjadi dlingkungan mereka
tinggal. Kepercayaan penuh masyarakat kepada KPAD, membuat KPAD harus
bertindak demi kepentingan terbaik anak. Membangun jejaring untuk proses
penanganan anak lebih lanjut kesistem rujukan baik di Tk Kecamatan/
kabupaten.

Sebagian KPAD/KPAK yang tebentuk saat ini sudah menjadi bagian dalam
struktur layanan perlindungan anak di Kecamatan/Kabupaten, yang merupakan
satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam layanan perlindungan anak dari
Desa/Kelurahan Kecamatan dan Kabupaten.

Menilik peran dan fungsi KPAD dengan lebih mengedepankan pada


pencegahan, sangatlah bersinergi pada pendekatan perlindungan anak masa kini
dan merupakan bentuk nyata dari sebuah pendekatan yang berbasis sistem yang
langsung menyentuh ranah anak dan keluarga.

2. Sistem Perlindungan Anak Di Indonesia


Kedudukan Anak Menurut KUHPerdata
a.

Pengertian Anak sah adalah anak yang dilahirkan dari perkawinan yang
sah

b.

Ketentuan Pasal 250 KUHPerdata : Tiap-tiap anak yang dilahirkan atau


ditumbuhkan sepanjang perkawinan yang sah memperoleh suami ibu dari
anak tersebut sebagai anaknya.

c.

Ada kemungkinan anak tersebut bukan dibenihkan oleh suami ibu dari
anak tersebut.

d.

Dengan demikian suami ibu tersebut dapat menyangkal keabsahan status


anak.

Penyangkalan Anak Oleh Suami Ibu


Harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a.

Selama 300 hari ditambah 180 hari sebelum kelahiran anak, suami tersebut
dalam keadaan tidak memungkinkan untuk melakukan hubungan suami-istri.

b.

Jika kelahiran anak hasil hubungan zina si ibu tersebut disembunyikan dari
suaminya, suami tersebut dapat membuktikan bahwa anak yang dilahirkan
bukan anaknya. Pasal 253 KUHPerdata

c.

Kelahiran anak setelah ada keputusan perpisahan meja dan tempat tidur
melewati batas waktu 300 hari. Pasal 254 KUHPerdata

Pembuktian Anak

a.

Menurut ketentuan pasal 261 KUHPerdata keabsahana seorang anak


dibuktikan dengan akta kelahiran.

b.

Selain dengan akta kelahiran, pembuktian keabsahan seorang anak adalah


dengan akta perkawinan orang tuanya.

c.

Dalam hal akta perkawinan tidak ada atau hilang maka kedudukan anak
sah tersebut tidak dapat dibantah jika orang tuanya hidup bersama sebagai
layaknya suami istri.

Anak Alam dan Anak Sumbang


a.

Pengertian anak alam : anak alam adalah anak yang dilahirkan dan
dibenihkan di luar perkawinan oleh seorang pria dan wanita yang tidak terikat
dalam perkawinan dan bukan dilahirkan oleh mereka yang dilarang untuk
melangsungkan perkawinan karena hubungan darah yang terlalu dekat.

b.

Pengertian anak sumbang : anak-anak yang dilahirkan dari orang tua yang
mempunyai hubungan darah.

Pengakuan Anak
a.

Pengertian pengakuan anak adalah pengakuan anak luar kawin yang


dilahirkan di luar perkawinan yang sah.
Pengakuan anak dapat dibedakan menjadi :
1) Pengakuan anak sukarela
2) Pengakuan anak secara terpaksa

Pengakuan anak Secara Sukarela


Ayah atau ibu membuat suatu pernyataan yang berisi pengakuan terhadap anak
luar kawin, dengan demikian berarti ayah/ibu melakukan suatu tindakan pribadi
untuk menerima suatu kewajiban sebagai ayah/ibu sebagai anaknya.
Pengakuan Secara Terpaksa

Hal ini terjadi dengan satu keputusan hakim ditetapkan adanya keturunan dari
seorang anak yang dilahirkan diluar perkawinan dalam suatu proses mengenai
penentuan kedudukan hukum seseorang.
Akibat Hukum Pengakuan Anak
Adalah : bahwa antara orang tua yang mengakui dan anak yang diakui timbul
hubungan hukum sebagai orang tua dan anak.
Pengesahan Anak
Pengertian pengesahan anak adalah suatu upaya hukum dengan mana anak yang
diakui mendapatkan hak yang sama dengan seorang anak yang sah.
Cara Pengesahan Anak
a.

Dengan dilangsungkannya perkawinan orang tua tersebut

b.

Dengan

jalan

surat

pengesahan,

permohonan

pengesahan

anak

disampaikan kepada presiden dengan mendengar nasihat dari Mahkamah


Agung.

Kedudukan anak Menurut UU Perkawinan


UU perkawinan hanya mengenal 2 golongan anak :
a. Anak sah dari kedua orang tuanya
a. Pasal 42 UUP, anak sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat
perkawinan yang sah
b. Anak yang hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibu
yang melahirkannya.
Penyangkalan Sahnya Anak
a.

Menurut pasal 44 ayat 1 UUP, memberi hak kepada suami untuk


mengajukan sangkalan atas keabsahan seorang anak yang lahir dari
perkawinan, penyangkalan itu hanya dapat dilakukan dengan alasan zina.

b.

Cara Penyangkalan anak


Tidak diatur secara terperinci dalam UUP maupun dalam PP No. 9 th 1975
hanya diserahkan kepada pengadilan untuk menentukan sah atau tidaknya
anak.

c.

Penyangkalan Anak Dapat dilakukan oleh :


1. Oleh suami yang istrinya melahirkan anak yang disangkal
2. Pihak-pihak yang berkepentingan dalam hal ini adalah kerabat,
kekeluargaan dari pihak suami yang mempunyai hubungan darah dengan
suami.

2. KEDUDUKAN ANAK DI INDONESIA


Berdasarkan undang-undang no.1 tahun 1974 tentang anak mengatakan bahwa,
anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam/sebagai akibat perkawinan yang
sah. Masuk kepada substansi tentang nilai anak, ada beberapa substansi mengenai
nilai anak di Indonesia, antara lain:
a. Nilai anak dalam hubungannya dengan kebudayaan;
Sangat menentukan dan terkait dengan apakah anak itu semata-mata sebagai
pewaris, penerus nama keluarga, tenaga kerja murah, membantu ekonomi
keluarga, jaminan di hari tua, atau dikehendaki untuk dikasihi orang tuanya
sehingga dapat berkembang menjadi pribadi yang mandiri.
b. Arti atau nilai anak bagi orang tua;
Menurut majalah dharma Wanita 1993 no. 92 halaman 65 menyebutkan bahwa
anak adalah rahmat Allah, amanah Allah, barang gadaian, penguji
iman, media beramal, bekal di akhirat, unsur kebahagiaan, tempat bergantung
di hari tua, penyambung cita-cita, makhluk yang harus dididik.
c. Arti lain tentang anak;

Nilai jenis kelamin, bahwa anak itu terdiri dari dua jenis kelamin, yaitu lakilaki dan perempuan dimana anak laki-laki cenderung mempunyai nilai yang
lebih menguntungkan daripada anak perempuan.
d. Anak mempunyai nilai positif dan negatif
Suatu contoh nilai positif anak: melanjutkan garis keturunan, pengikat suami
istri, membina kebahagiaan. Suatu contoh nilai negatif anak: kenakalan anak,
biaya menyekolahkan anak dan lain sebagainya.
Terkait dengan nilai anak tersebut di atas tentu tidak akan lepas dan akan saling
terkait dengan angkastatistik dan masalah kependudukan di Indonesia. Beberapa
masalah kependudukan yang ada di Indonesiaantara lain:
a.

Jumlah penduduknya besar

b.

Pertumbuhan penduduk yang cepat

c.

Penyebaran penduduk yang tidak merata

d.

Komposisi penduduknya kurang menguntungkan

e.

Mobilitas penduduknya rendah

Indeks kependudukan merupakan sebuah gambaran mengenai kependudukan di


suatu negara. Indeks kependudukan suatu negara dapat dipahami dengan
menganalisis struktur penduduk dan komposisinya.
Menurut strukturnya, penduduk dibagi ke dalam tiga (3) kelompok, yaitu sebagai
berikut:
a.

Anak-anak, yaitu struktur penduduk dengan rentang usia 0 14 tahun atau


bisa disebut usia belum produktif

b.

Dewasa, yaitu struktur penduduk dengan rentang usia 15 64 tahun atau


disebut dengan usia produktif

c.

Usia lanjut (manula), yaitu struktur penduduk dengan usia 65 tahun ke atas
disebut usia tidak produktif

3. SISTEM

PEMBERIAN

PELAYANAN

KESEJAHTERAAN

PERLINDUNGAN ANAK DI INDONESIA


Kesejahteraan dan perlindungan anak di Indonesia telah diatur oleh berbagai
kebijakan dan program, antara lain mulai dari Undang Undang Dasar 1945,
dimana anak terlantar dan fakir miskin dipelihara oleh Negara. Undang
Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan
Anak telah mengatur tentang hak anak yaitu anak berhak atas
kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang
baik dalam keluarganya maupun dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan
berkembang dengan wajar, dan tanggung jawab orangtua yaitu bahwa
orangtua bertanggung jawab terhadap kesejahteraan anak.
Pada tahun 1990 Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak
(KHA) melalui Keppres 36/1990 pada tanggal 25 Agustus 1990 dimana
substansi inti dari KHA adalah adanya hak asasi yang dimiliki anak dan
ada tanggung jawab Negara-Pemerintah-Masyarakat-dan Orangtua untuk
kepentingan

terbaik

bagi

anak

agar

meningkatnya

efektivitas

penyelenggaraan perlindungan anak secara optimal. Kemudian KHA


dikuatkan dengan terbitnya Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002
Tentang Perlindungan Anak yang mengatur tentang Hak dan Kewajiban
Anak, serta kewajiban dan tanggug jawab

negara, pemerintah,

masyarakat, keluarga, dan orangtua.


Di samping itu juga diatur tentang kuasa asuh, perwalian, pengasuhan
dan pengangkatan anak, serta penyelenggaraan perlindungan.
Permasalahan anak telah direspon oleh berbagai Kementerian/ Lembaga
terkait, antara lain Kementerian Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak, Kesehatan, Pendidikan, Agama, Dalam Negeri, Tenaga
Kerja, Hukum dan HAM, Kepolisian, Pengadilan Negeri, Lembaga donor
dan lembaga kesejahteraan social di tingkat nasional maupun wilayah. Di
lingkup Kementerian Sosial (selanjutnya disebut Kemensos) untuk

mempercepat penanganan masalah sosial anak, pada tahun 2009 Direktorat


Kesejahteraan Sosial Anak mulai mengembangkan Program Kesejahteraan
Sosial Anak (PKSA) melalui kegiatan uji coba penanganan anak jalanan di
lima wilayah yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, Sulawesi Selatan,
dan Yogyakarta. PKSA dikuatkan melalui kebijakan pemerintah yaitu
keluarnya Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 Tentang Percepatan
Pelaksanaan

Prioritas

Pembangunan

Nasional,

dimana

diperlukan

penyempurnaan program bantuan sosial berbasis keluarga khususnya bidang


kesejahteraan sosial anak balita terlantar, anak terlantar, anak jalanan, anak
dengan disabilitas, anak yang berhadapan dengan hukum, dan anak yang
membutuhkan perlindungan khusus. Selanjutnya PKSA dikuatkan lagi
dengan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 Tentang Program
Pembangunan yang Berkeadilan, yang menetapkan PKSA sebagai program
prioritas nasional yang meliputi PKSA Balita, PKSA Terlantar, PKS-Anak
Jalanan, PKS-Anak yang Berhadapan dengan Hukum, PKS-Anak Dengan
Kecacatan, dan PKS-Anak yang Membutuhkan Perlindungan Khusus.

Sebagai tindak lanjut dari Instruksi Presiden, telah ditetapkan Keputusan


Menteri Sosial RI Nomor 15A/HUK/2010 Tentang Panduan Umum Program
Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA), dan untuk operasionalisasi PKSA telah
diterbitkan Pedoman Operasional Program Kesejahteraan Sosial Anak
(PKSA) melalui Keputusan Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Nomor:
29/RS-KSA/2011 Tentang Pedoman Operasional PKSA. Mulai tahun 2010,
layanan PKSA telah diperluas jangkauan target sasaran maupun wilayahnya.
PKSA dikembangkan dengan perspektif jangka panjang sekaligus untuk
menegaskan komitmen Kementerian Sosial untuk merespon tantangan dan
upaya mewujudkan kesejahteraan sosial anak yang berbasis
Perwujudan
perubahan

dari

kesungguhan

paradigma

dalam

Kementerian

pengasuhan,

hak.

Sosial mendorong

peningkatan

kesadaran

masyarakat, penguatan tanggung jawab orangtua/ keluarga,

dan

perlindungan anak yang bertumpu pada keluarga dan masyarakat, serta


mekanisme pemenuhan kebutuhan dasar anak yang dapat merespon
keberagaman kebutuhan melalui tabungan.
PKSA merupakan respon sistemik dalam perlindungan anak, termasuk
memberikan penekanan pada upaya pencegahan melalui lima komponen
program yaitu: 1) pemenuhan kebutuhan

dasar, 2) aksesibilitas terhadap

pelayanan sosial dasar, 3) pengembangan potensi dan kreativitas anak, 4)


penguatan tanggung

jawab orangtua, dan 5) penguatan lembaga

kesejahteraan sosial anak. Secara konseptual PKSA lebih komprehensif dan


berkelanjutan dibandingkan program pelayanan sosial anak pada tahuntahun sebelumnya karena sudah berdasarkan pendekatan kepada anak,
orangtua atau keluarga (family base care), dan kepada masyarakat yaitu
lembaga kesejahteraan sosial yang khusus menangani anak (LKSA).
Sebelumnya, pengasuhan anak dan masalah-masalah perlindungan anak
hanya difokuskan pada anak. Keluarga dan masyarakat belum banyak
disentuh. Misalnya penanganan anak terlantar, anak jalanan, anak
berhadapan dengan hukum lebih banyak diserahkan ke lembaga atau panti
sosial dimana di dalam penanganannya orangtua atau keluarga pengganti
kurang dilibatkan. Anak lebih banyak dicabut dari lingkungan keluarga. Isu
ini dipertegas dengan banyaknya jumlah panti asuhan.
Hasil penelitian Save the Children, Depsos RI dan Unicef, 2007,
memperkirakan terdapat 5.250 hingga 8.610 panti asuhan seluruh
Indonesia atau terdapat 225.750 hingga 315.000 anak jika jumlah panti
sebanyak 5.250 dan 370.230 hingga 516.600 anak jika jumlah panti 8.610.
Walaupun orangtua mereka masih lengkap, karena faktor kemiskinan
dan agar anak dapat terpenuhi kebutuhan dasar serta memperoleh layanan
sosial dasar (pendidikan dan kesehatan) mereka memasukkan anaknya
ke panti asuhan.

Tiga tahun terakhir ini (2010, 2011, dan 2012), jumlah anak yang telah
dilayani melalui panti, luar panti, jumlah tenaga, dan jumlah lembaga yang
telah diintervensi melalui PKSA adalah sebagai berikut:
Tabel 1.

Jumlah anak melalui Panti dan Luar Panti, SDM dan

Lembaga yang telah di Intervensi melalui PKSA


No
Jenis Pelayanan
2010 2011 2012
1. Pelayanan dalam panti
2.575 2.470 2.460
2. Pelayanan luar panti
138.64 158.01 170.46
3. Sumber daya manusia (Pekerja 350
855
1.111
1
5
1
4
Lembaga kesejahteraan sosial
5.833 5.833 6.728
Sosial)
Sumber: Direktorat Kesejahteraan Anak, 2013.
Dari hasil evaluasi Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak dalam
implementasi PKSA masih terdapat kendala antara lain :
a. PKSA belum memiliki data prevalensi yang baik tentang
masalah perlindungan anak dan kebijakan perlindungan
anak yang komprehensif,
b. Ada beberapa kasus pemanfaatan bantuan yang digunakan
tidak mendorong perubahan perilaku seperti digunakan
untuk modal usaha, memenuhi kebutuhan keluarga,
membayar sewa rumah dan utang serta membeli hewan
peliharaan,
c. Belum

adanya

rumusan

indikator

tentang

orangtua/keluarga yang dapat merawat dan melindungi


anak-anak dengan kecacatan, dan
d. Terbatasnya lembaga pelayanan sosial masyarakat, sarana
dan prasarananya dalam menangani masalah sosial anak
dengan kecacatan.
Pada

tahun

2011

Badan

Perencanaan

Pembangunan

Nasional

(BAPPENAS) bekerjasama dengan Pusat Kajian Perlindungan Anak


Universitas Indonesia, dan Bank Dunia telah melakukan

kajian yang

berfokus pada PKSA yaitu menganalisis proses pelaksanaan program serta


kontribusinya terhadap pengembangan pendekatan perlindungan. Hasil
kajian tersebut menunjukkan antara lain : PKSA memberikan manfaat
yang sangat berharga kepada mereka yang membutuhkan, meskipun
pelaksanaan program tersebut masih memiliki banyak kekurangan. Dari
hasil penelitian ini juga terungkap bahwa pelaksana PKSA belum memiliki
data dasar untuk mengukur keberhasilannya sesuai dengan indikator yang
telah ditetapkan yaitu:
a. Jumlah anak terlantar (termasuk anak balita), anak jalanan, anak- anak
berhadapan dengan hukum, anak-anak penyandang cacat, dan anak-anak
yang membutuhkan perlindungan khusus yang mampu mengakses layanan
dasar meningkat.
b. Persentase orangtua atau keluarga yang bertanggung jawab dalam
perawatan dan perlindungan anak meningkat.
c. Jumlah anak yang mengalami masalah sosial menurun.
d. Jumlah lembaga kesejahteraan sosial yang memberikan jasa perlindungan
bagi anak-anak meningkat.
e. Jumlah pelayanan yang diberikan LKSA (Lembaga Pelaksana PKSA)
meningkat.
f. Jumlah pekerja sosial, tenaga kesejahteraan sosial dan relawan sosial di
bidang kesejahteraan sosial meningkat.
g. Jumlah kerangka hukum yang mengatur perawatan dan perlindungan
anak sebagai dasar hukum PKSA bertambah. Hasil penelitian ini
mengharapkan KEMENSOS dan BAPPENAS harus bekerja dengan lebih
terstruktur untuk mempromosikan integrasi perlindungan anak dalam
kebijakan Negara di bidang sosial ekonomi. Untuk itu diperlukan suatu
pengkajian dan bukti yang dapat membantu pengembangan sistem
kesejahteraan, pengasuhan, dan perlindungan anak.

Sehubungan dengan masih adanya permasalahan dalam implementasi


kebijakan kesejahteraan, pengasuhan, danperlindungan anak khususnya
dalam pelaksanaan PKSA, maka Pusat Penelitian dan Pengembangan
Kesejahteraan Sosial memandang perlu melakukan penelitian kebijakan ini.
Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan bukti terbaik dalam
mendukung pengembangan kebijakan, memperjuangkan penyusunan
peraturan yang memadai, berpusat pada anak, keluarga, dan masyarakat
serta non diskriminatif.
Walaupun sudah banyak kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk
kesejahteraan, pengasuhan dan perlindungan anak mulai dari UndangUndang Dasar, Undang-Undang,
Presiden

sampai

dengan

Peraturan Pemerintah,

Keputusan

Menteri,

Instruksi

namun

dalam

implementasinya belum didukung oleh sumber daya manusia (SDM),


anggaran, sarana dan prasarana serta sistem yang memadai, sehingga
masih banyak bermunculan permasalahan pemenuhan hak-hak dan
perlindungan anak. Pada 2011 jumlah Anak Balita Terlantar 1.224.168
jiwa atau sekitar 5,77 persen dari 21,22 juta jiwa anak Balita, Anak
Terlantar 3.115.777 jiwa atau 5,36 persen dari 58,17 juta jiwa anak usia
5-17 tahun (Kementerian Sosial RI Dalam Angka 2012), dan anak
dengan disabilitas pada tahun 2009 berjumlah 438,39 ribu jiwa atau
0,55 persen dari jumlah seluruh anak (Profil PMKS, 2011). Disamping
permasalahan

konvensional

permasalahan

kontemporer

HIV/AIDS

yang

belum

tersebut,
seperti

saat

anak

terakomodir

ini

banyak

dengan

dalam

muncul

narkoba

substasi

atau

peraturan

perundang-undangan. Jumlahnyapun belum terdata secara regular oleh


Badan Pusat Statistik (BPS), tetapi tergantung dari pelaporan keluarga
ataupun masyarakat.
Kesejahteran, Pengasuhan, Dan Perlindungan Anak
Kesejahteraan, pengasuhan dan perlindungan anak adalah tiga konsep

yang tidak terpisahkan dimana untuk mencapai kesejahteraan, anak


membutuhkan pengasuhan dan perlindungan. Bab ini menguraikan
tentang

ketiga

konsep

tersebut

dan

faktor-faktor

yang

mempengaruhinya.
A. Kesejahteraan Anak
Sebagaimana diuraikan dalam Child and Family Services Review
process, ada tiga variabel kesejahteraan. Tiga variabel kesejahteraan
dikonseptualisasikan

dalam

kerangka

berikut

yaitu

Pertama,

kesejahteraan dalam arti keluarga memiliki peningkatan kapasitas untuk


memenuhi kebutuhan anak-anak mereka. Konsep ini mencakup
pertimbangan kebutuhan dan pelayanan kepada anak- anak, orangtua,
dan orangtua asuh serta keterlibatan anak-anak, remaja, dan keluarga
dalam perencanaan pemecahan masalah. Dalam hal ini kunjungan
pekerja sosial dengan anak-anak dan orangtua merupakan hal yang
penting, karena hasil penelitian pada 52 negara bagian dan teritori telah
menemukan hubungan yang kuat dan positif yang signifikan secara
statistik antara kunjungan petugas sosial dengan anak-anak dan hasil
keselamatan dan/kesejahteraan anak. Dalam penelitian yang dilakukan
oleh Biro Anak, ada nilai "kekuatan" untuk kunjungan petugas sosial
dengan anak yang berkaitan
pencapaian

secara

bermakna

dengan

nilai

substansial untuk peringkat kelima dari tujuh hasil

(www.acf.hhs.gov/program/ cb, diambil September 28, 2004). Kedua,


kesejahteraan dalam arti: anak-anak dan remaja menerima layanan yang
sesuai

untuk

memenuhi

kebutuhan pendidikan

mereka.

Ketiga,

kesejahteraan dalam arti: anak-anak dan remaja menerima pelayanan


yang memadai untuk memenuhi kebutuhan fisik dan kesehatan mental
mereka. (CHILD WELFARE, For The Twenty-First Century, 2005) Dalam
kenyataannya, yang pertama adalah yang paling umum dan paling luas
cakupannya.

Menurut Undang Undang Nomor 4 Tahun 1979, diamanatkan

bahwa

Kesejahteraan anak adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan anak


yang dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar,
baik secara rohani, jasmani, maupun sosial.
B. Pengasuhan Anak
Pengasuhan adalah sebuah proses mengasuh, merawat, membimbing,
dan mendukung anak baik secara fisik, sosial, intelektual, dan beragam
aspek perkembangan

lainnya.

Sebesar

apa sense of giving pelaku

pengasuhan menjadi kunci yang akan menentukan kualitas proses


pengasuhan yang didapatkan anak (Goldenline, STIF in Padang,
10_12_2013). Anak merupakan anugerah yang tidak dapat dinilai oleh
apapun bagi pasangan suami isteri yang membentuk dalam suatu
keluarga. Karena tidak setiap pasangan suami isteri diberikan keturunan
berupa anak. Setiap anak yang dilahirkan ke dunia ini harus
mendapatkan kehidupan yang layak. Sampai seorang Aristoteles,
mengatakan bahwa anak layaknya bagian tubuh orangtuanya, oleh
sebab itu orangtua memiliki hak atas pengasuhan anaknya. Pendapat
senada juga dikemukakan oleh John Lock, yang mengatakan anak
diproduksi atas jerih payah orangtua, oleh sebab itu orangtua punya
hak

atas

pengasuhan

anaknya. Bahkan menurut teori property

dikatakan, bahwa anak adalah milik orangtua. Oleh karena itu, anak
wajib diasuh dengan sebaik-baiknya agar dapat tumbuh dan berkembang
dengan semestinya.
Menurut Mohamad Afrizal, pengasuhan anak merupakan salah satu
faktor yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak,
terutama pada masa kritis yaitu usia 0-8 tahun. Kehilangan
pengasuhan yang baik, misalnya perceraian, kehilangan orangtua,
baik untuk sementara maupun selamanya, bencana alam dan berbagai
hal yang bersifat traumatis lainnya sangat mempengaruhi kesehatan

fisik dan psikologisnya. Dengan demikian, kehilangan atau berpisah


dari keluarga ini akan meningkatkan risiko kesehatan, perkembangan,
dan kesejahteraan anak secara keseluruhan. Risiko ini akan
meningkat, apabila kehilangan ini terjadi dalam masa kritis
pertumbuhan anak, yaitu masa awal kanak-kanak. Akibat bencana
alam, perang, perceraian, kematian orangtua dan anggota keluarga
lainnya,

dan

mengalami

kelahiran

kesulitan

tak dikehendaki
berkembang

seorang

menjadi

anak

manusia

dapat
dewasa

seutuhnya.
Lebih lanjut dikatakan dengan mengacu kepada konsep dasar tumbuh
kembang, maka secara konseptual pengasuhan adalah upaya dari
lingkungan agar kebutuhan-kebutuhan dasar anak untuk tumbuh
kembang (asah, asih, dan asuh) terpenuhi dengan baik dan benar,
sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Akan
tetapi, praktiknya tidaklah sesederhana itu karena praktik ini berjalan
secara informal, sering dibumbui dengan hal-hal yang tanpa disadari
dan tanpa disengaja serta lebih diwujudkan oleh suasana emosi
rumah tangga sehari-hari yang terjadi dalam bentuk interaksi antara
orangtua dan anaknya serta anggota keluarga lainnya. Dengan
demikian hubungan inter dan intra personal orang-orang di sekitar
anak tersebut dan anak itu sendiri sangat memberi warna pada praktik
pengasuhan anak.
Menurut Sunarwati dalam Mohamad Afrizal (2007), pengasuhan
anak oleh substitusi ibu, baik yang paruh waktu (misalnya di tempat
penitipan anak) maupun

yang punya waktu (misalnya

oleh

pramusiwi) harus selalu memperhatikan hal-hal tersebut di atas yaitu


pada dasarnya agar prinsip asah, asih, dan asuh didapatkan anak
dengan baik dan benar. Oleh karena itu, dalam pengasuhan anak ada
empat

hal

yang

harus

dipenuhi,

yaitu

bahwa

setiap

anak

membutuhkan orangtua, dan tumbuh secara alamiah dengan saudara


kandung yang dimilikinya, di dalam rumah mereka sendiri, dan di
dalam lingkungan yang mendukungnya (http://mohamadafrizal.
wordpress.com/paud/pengasuhan-anak/, diunduh 10_12_2013).
C. Perlindungan Anak
Di Indonesia, Perlindungan Anak diatur dalam Undang Undang
Nomor 23 Tahun 2002 yaitu segala kegiatan untuk menjamin dan
melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh,
berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat
dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari
kekerasan dan diskriminasi.
Sedangkan Perlindungan khusus adalah perlindungan yang diberikan
kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan
hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang
dieksploitasi

secara

diperdagangkan,

anak

ekonomi
yang

dan/atau
menjadi

seksual,

korban

anak

yang

penyalahgunaan

narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza),


anak korban penculikan, penjualan, perdagangan, anak korban
kekerasan baik fisik dan/atau mental, anak yang menyandang cacat,
dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran.
Azas dan Tujuan Perlindungan Anak
Penyelenggaraan

perlindungan

anak

berazaskan

Pancasila

dan

berlandaskan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun


1945 serta prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak-Hak Anak meliputi: non
diskriminasi; kepentingan yang terbaik bagi anak;

hak untuk hidup,

kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan penghargaan terhadap


pendapat

anak.

Perlindungan

anak

bertujuan

untuk

menjamin

terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan


berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat
kemanusiaan,

serta mendapat

perlindungan

dari

kekerasan dan

diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas,


berakhlak mulia, dan sejahtera. Sejalan dengan tujuan tersebut, maka
hakekat perlindungan anak Indonesia adalah perlindungan keberlanjutan,
karena merekalah yang akan mengambil alih peran dan perjuangan
mewujudkan cita- cita dan tujuan bangsa Indonesia. Negara, pemerintah,
masyarakat, keluarga, dan orangtua berkewajiban dan bertanggung
jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak.
4.

STANDAR PELAYANAN LEMBAGA PENGASUHAN ANAK


Layanan Perlindungan Anak (Child Protective Services/ CPS)
Program layanan perlindungan anak ( CPS) merupakan program inti di
semua lembaga kesejahteraan anak yang mengupayakan keselamatan
anak bekerjasama dengan lembaga masyarakat. Lebih luas,

CPS

mengacu pada perangkat hukum yang sangat khusus, mekanisme


pendanaan, respon lembaga bersama pemerintah untuk melaporkan
penyalahgunaan dan penelantaran anak (Waldfogel, 1999). Dasar
program CPS berasal dari hukum yang dibentuk di setiap negara yang
mendefinisikan kekerasan dan

penelantaran anak serta menentukan

bagaimana lembaga CPS harus menanggapi laporan penganiayaan anak.


Pekerja sosial di lembaga-lembaga CPS memiliki tanggung jawab untuk
mengatasi efek dari penganiayaan, menerapkan respon layanan yang
akan

menjaga

anak-anak dan remaja aman dari penyalahgunaan dan

penelantaran, serta bekerjasama dengan keluarga untuk mencegah


kemungkinan terjadinya penganiayaan di masa yang akan datang
(Depanfilis & Salus 2003, Departemen Kesehatan dan Layanan Manusia
US, 1988).
Dalam mendukung kesejahteraan anak dan remaja para penulis (Altman;

Cohen, Hornsby, and Priester; Kemp, Allen- Eckard, Ackroyd, Becker,


and Burke; and Chahine and Higgins) dalam tulisannya Systemic Issues
in Child Welfare, fokus pada beberapa faktor kunci dalam bekerja dengan
keluarga yaitu melibatkan anak dan remaja, keluarga dan masyarakat
dalam proses asesmen melalui konfrensi tim. Filosofi layanan
perlindungan anak menurut De Panfilis dan Salus 2003, Lembaga
Layanan Perlindungan Anak bekerja berdasarkan keyakinan filosofis
bahwa setiap anak memiliki hak untuk pengasuhan dan pengawasan
yang memadai dan bebas dari penyalahgunaan, penelantaran, dan
eksploitasi. Hukum melindungi anak-anak dan remaja, menganggap
bahwa itu adalah tanggung jawab orangtua untuk memperhatikan
kebutuhan fisik, mental, emosional, dan kesehatan anak-anak mereka
terpenuhi secara memadai.
Asumsi lainnya adalah bahwa Layanan Perlindungan Anak harus
campur tangan ketika orangtua meminta bantuan atau gagal, atau lalai
dalam memenuhi kebutuhan dasar anak-anak mereka dan menjaga
mereka agar aman dari penyalahgunaan atau penelantaran, seperti
yang didefinisikan oleh undang-undang negara sipil (Gerald P. Mallon
and Peg Mc Cartt Hess, 2005).
Penyalahgunaan dan Penelantaran Anak
Penelantaran dapat didefinisikan sebagai kelalaian dalam pengasuhan
oleh orang yang bertanggung jawab (misalnya, orangtua atau pengasuh
lainnya), yang mengakibatkan kerugians ignifikan atau risiko bahaya
yang

signifikan

terhadap

anak

dan

remaja

(Dubowitz,

2000).

Penelantaran lebih lanjut dapat didefinisikan sebagai kegagalan untuk


memenuhi
pengawasan,
kesehatan.

kebutuhan
dan

dasar

anak-anak

perlindungan,

dalam

pemeliharaan,

perawatan
pendidikan,

fisik,
dan

Kekerasan fisik dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan yang


ditimbulkan oleh orang yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak
atau remaja itu, yang mengakibatkan cedera fisik yang signifikan atau
risiko cedera tersebut (Dubowitz, 2000). Contoh tindakan yang
ditimbulkan termasuk meninju, memukul, menendang, menggigit,
mengguncangkan, melempar, menusuk, mencekik, membakar, atau
memukul dengan tangan, tongkat, tali, atau benda lain (Goldman &
Salus, 2003).
Pelecehan seksual dapat didefinisikan sebagai tindakan seksual tanpa
kesepakatan, motivasi perilaku seksual yang melibatkan anak dan remaja,
atau eksploitasi seksual terhadap anak (Berliner, 2000) oleh orang yang
bertanggung jawab atas pengasuhan anak. Pelecehan seksual anak
termasuk perilaku yang lebih luas, seperti oral, anal penetrasi penis,
atau alat kelamin, digital anal atau genital atau penetrasi lain, kontak
kelamin dengan non intrusi, cumbuan payudara anak atau pantat,
penampilan senonoh, supervisi yang tidak memadai atau tidak dari
kegiatan sukarela seksual anak, dan penggunaan anak atau remaja
dalam prostitusi, pornografi, kejahatan internet, atau kegiatan seksual
eksploitatif lainnya (Goldman & Salus, 2003).
Penganiayaan psikologis dapat didefinisikan sebagai pola berulang dari
perilaku atau kejadian ekstrim oleh orang yang bertanggung jawab atas
pengasuhan anak yang menyampaikan kepada anak bahwa ia tidak
berharga, cacat, tidak dicintai, tidak diinginkan, terancam, atau hanya
bernilai jika menemukan orang lain yang membutuhkan, oleh orang
yang

bertanggung

profesional

Amerika

jawab
tentang

atas pengasuhan anak (Masyarakat


Penyalahgunaan

Anak,

1995).

Penganiayaan psikologis meliputi baik tindakan pelecehan terhadap anak


atau remaja dan kelalaian dalam pengasuhan. Bentuk penganiayaan
psikologis termasuk penolakan secara angkuh (misalnya, perilaku

bermusuhan menolak dan merendahkan); teror (misalnya, ancaman


untuk

menyakiti

anak atau seseorang yang penting untuk

anak),

mengeksploitasi atau merusak (misalnya, mendorong anak atau remaja


untuk berpartisipasi dalam merusak diri sendiri atau perilaku kriminal);
menyangkal respon emosional (misalnya, mengabaikan atau gagal untuk
mengekspresikan kasih sayang), dan mengisolasi (misalnya, membatasi
anak mendapatkan pengalaman sesuai dengan tahapan perkembangan)
(Brassard & Hart, 2000).
Tahapan proses Layanan Perlindungan Anak
Untuk memenuhi tujuan perlindungan anak, CPS menerima laporan
penganiayaan

anak

yang

dicurigai,

menilai risiko dan keamanan

anak-anak dan remaja, dan menyediakan atau mengatur layanan untuk


meningkatkan keamanan, kestabilan dan kesejahteraan anak-anak dan
remaja yang telah disalahgunakan atau diabaikan atau yang beresiko
disalahgunakan

atau

ditelantarkan.

Setiap

penanganan

masalah

dilakukan melalui satu atau lebih rangkaian tahapan proses CPS yaitu:
(1) penerimaan, (2) asesmen awal/investigasi, (3) penilaian keluarga, (4)
perencanaan intervensi, (5) penyediaan layanan, (6) Evaluasi kemajuan
kasus, dan (7) penutupan kasus. Keputusan kunci bervariasi pada
masing-masing tahapan proses (De Panfilis & Salus, 2003).

Intake (penerimaan)
CPS bertanggung jawab untuk menerima dan menanggapi laporan
pelecehan dan penelantaran anak yang dicurigai. Keputusan kunci
pada tahap ini adalah: (1) menentukan apakah informasi yang
dilaporkan sesuai kriteria yang ada dalam pedoman lembaga untuk
penganiayaan anak yang didasarkan hasil kontak tatap-muka dengan
anak atau remaja dan keluarganya dan (2) untuk menentukan

urgensinya, lembaga harus menanggapi laporan tersebut. Petugas


penerimaan mewawancarai orang yang menelepon tentang laporan
pelecehan atau penelantaran anak yang dicurigai untuk membuat
keputusan.
Asesmen awal
Setelah

menerima

laporan,

CPS

melakukan

penilaian

awal/

penyelidikan dengan mewawancarai anak atau remaja, saudara,


orangtua atau pengasuh lainnya, dan individu lain yang mungkin
memiliki informasi mengenai dugaan penganiayaan. Jika informasi
menunjukkan bahwa kejahatan mungkin telah dilakukan, kontakkontak dengan CPS biasanya dikoordinasikan dengan penegak
hukum. Dua penilaian utama yang dilakukan pada tahap ini adalah
penilaian terhadap keselamatan anak (misalnya, apakah ada risiko
besar akan kerusakan parah) dan penilaian risiko

penganiayaan

(yaitu, kemungkinan penganiayaan anak di masa depan).


Keputusan kunci pada tahap ini adalah untuk menentukan: (1) apakah
penganiayaan anak terjadi seperti yang didefinisikan oleh hukum
negara, (2) apakah kelangsungan keselamatran anak atau pemuda
mengkhawatirkan dan, jika demikian, intervensi yang akan dilakukan
untuk

menjamin

perlindungan

anak,

(3)

apakah

ada

risiko

penganiayaan masa depan dan tingkat resikonya, dan (4) apakah jasa
keagenan terus diperlukan untuk membantu keluarga menjaga
keamanan anak, mengurangi risiko penganiayaan di masa depan, dan
mengatasi efek penganiayaan anak. Beberapa kasus ditutup pada
tahap ini jika tidak ada dasar untuk memberikan layanan kepada anak
atau remaja dan keluarga.
Asesmen keluarga
Asesmen keluarga adalah suatu proses yang

komprehensif

untuk

mengidentifikasi, mengingat, dan mencari faktor yang mempengaruhi


keselamatan, kestabilan dan kesejahteraan anak atau remaja. Tujuan
dari asesmen ini adalah untuk mengembangkan kemitraan dengan
keluarga,

rencana

pelayanan

yang

diperlukan

untuk

menjamin

keselamatan, kestabilan, dan kesejahteraan anak (Department Kesehatan


dan Layanan Manusia US, 2000). Pada tahap ini, pekerja CPS
melibatkan anggota keluarga dalam proses untuk memahami kekuatan,
risiko, dan kebutuhan intervensi.
Keputusan kunci pada tahap ini adalah untuk menentukan: (1) faktor
risiko yang menyebabkan kekhawatiran bahwa anak dapat dianiaya
di masa depan, (2) faktor-faktorprotektif atau kekuatanyang dapat
mengurangi kemungkinan penganiayaan masa depan, (3) efek
penganiayaan yang diamati pada anak dan/atau anggota keluarga
lainnya, dan (4) tingkat motivasi atau kesiapan anggota keluarga
untuk berpartisipasi dalam intervensi yang akan mengurangi risiko
penganiayaan dan mengatasi efek penganiayaan.
Rencana Intervensi
Untuk mencapai hasil program CPS yaitu, keselamatan, kestabilan, dan
kesejahteraan anak, serta keluarga, intervensi harus direncanakan dan
bertujuan. Hasil ini dicapai melalui tiga jenis rencana: (1) rencana
keselamatan, yang dikembangkan berdasarkan bahwa anak berada pada
risiko kerusakan parah dalam waktu dekat, (2) rencana kasus, yang
mengikuti asesmen keluarga dan menetapkan hasil dan tujuan dan
menjelaskan bagaimana keluarga bekerja menuju hasil tersebut, dan (3)
jika seorang anak atau remaja telah ditempatkan dalam pengasuhan luar
rumah (out-of- home care), dalam waktu bersamaan disusun rencana
kasus dengan mengidentifikasi bentuk-bentuk alternatif bagaimana
penyatuan kembali atau keajekan dengan orangtua baru dapat tercapai
jika usaha untuk menyatukan kembali gagal.

Keputusan penting pada tahap perencanaan kasus adalah untuk


menentukan: (1) hasil kasus yang menjadi target intervensi (misalnya,
fungsi keluarga ditingkatkan, mengontrol perilaku emosi, meningkatkan
harga diri, meningkatkan interaksi orangtua-anak), (2) tujuan kasus
yang akan membantu anggota keluarga berhasil, (3) intervensi
terbaik yang mendukung pencapaian tujuan-tujuan dan hasil, dan (4)
penyedia terbaik intervensi.
Penyediaan layanan
Tahap di mana rencana kasus diimplementasikan. Pada tahap ini
peran pekerja CPS adalah untuk mengatur, memberikan, dan/atau
mengkoordinasikan pelayanan kepada anak-anak yang teraniaya,
orangtua atau pengasuh lainnya, serta keluarga. Pelayanan selektif
untuk membantu keluarga mencapai manfaat dan tujuan berdasarkan
kesesuaian pelayanan dengan tujuan dan prinsip-prinsip praktak
terbaik. Keputusan penting pada tahap ini meliputi:
a.mengidentifikasi

layanan

khusus

yang

akan

diberikan dan intensitas serta durasi pelayanan,


b.menentukan siapa yang erbaik diposisikan untuk
memberikan layanan ini,
c.menentukan

interval

yang

tepat

untuk

mengevaluasi kemajuan keluarga

d.

menetapkan
mengkoordinasikan

mekanisme
para

penyedia

untuk
layanan

(misalnya, mengembangkan berbagi informasi,


jadwal pertemuan tim).
Evaluasi kemajuan

Penilaian adalah proses yang berkelanjutan yang dimulai dengan


kontak dengan klien dan berlanjut sepanjang penanganan kasus.
Kemajuan pencapaian hasil dan tujuan harus dievaluasi secara resmi
setidaknya setiap 3 bulan. Keputusan kunci yang harus dibuat selama
tahap proses ini mencakup penilaian:
a. status keamanan anak atau remaja saat ini,
b.

tingkat pencapaian manfaat keluarga,

c. tingkat pencapaian tujuan dan pelaksanaan tugas


sesuai rencana kasus,
d.

perubahan risiko dan faktor perlindungan yang


telah diidentifikasi, dan

e.tingkat keberhasilan dalam mengatasi salah satu


dari efek penganiayaan pada anak atau remaja dan
anggota keluarga lainnya.
Penutupan kasus
Proses mengakhiri hubungan antara pekerja CPS dan keluarga
dengan melibatkannya dalam proses penilaian kemajuan kasus sejak
dari awal, tengah, dan akhir. Secara optimal kasus ditutup ketika
keluarga telah mencapai manfaat dan tujuan mereka, yaitu anak- anak
atau remaja aman, dan risiko penganiayaan telah dikurangi atau
dihilangkan. Kasus kadang-kadang ditutup, namun keluarga masih
membutuhkan bantuan. Bila kebutuhan masih jelas, upaya lain
dilakukan untuk membantu keluarga menerima layanan melalui
lembaga masyarakat yang sesuai. Untuk mengukur keberhasilan
perlindungan anak menurut ASFA (1997) lembaga CPS merancang
pengukuran pencapaian hasil program perlindungan anak yaitu:
a. anak dan remaja dalam keadaan aman,
b. anak dan remaja stabil hidup dalam keluarga,
c. anak dan remaja sejahtera, dan
d. keluarga sejahtera (Courtney, 2000).

D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesejahteraan, Pengasuhan dan


Perlindungan Anak
Faktor-faktor

yang

dapat

mempengaruhi

kesejahteraan,

pengasuhan dan perlindungan anak antara lain : pelaksanaan peran dan


fungsi keluarga atau keluarga pengganti, dan keberfungsian lembaga
perlindungan anak dan penerapan sanksi terhadap pelaku perlakuan salah
terhadap anak. Setiap keluarga memiliki sejumlah peranan yang mesti
dilaksanakan.

Menurut

Jhonson

(1988),

peranan

keluarga

menggambarkan seperangkat perilaku antar pribadi, sifat, kegiatan yang


berhubungan dengan pribadi dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan
pribadi dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku keluarga,
kelompok dan masyarakat. Berbagai peranan yang terdapat di dalam
keluarga adalah sebagai berikut:
a. Ayah sebagai suami dan ayah dari anak-anak, berperan sebagai
pencari naThah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai
kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta
sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
b. Ibu sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, mempunyai peranan
untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anakanaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan
sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya,
disamping itu ibu juga dapat berperan sebagai pencari naThah
tambahan dalam keluarganya.
c. Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkat
perkembangannya, baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.
Selain memiliki peranan, setiap keluarga juga memiliki sejumlah fungsi
yang mesti dilaksanakan. Menurut Zastrow (1999), beberapa fungsi
keluarga, yaitu:
a. Replacement of the population. Replacement yang berarti

adanya fungsi regenerasi.


b. Care of the young, yang berarti pengasuhan dan perawatan,
sampai anak memasuki usia remaja. Dalam posisi seperti
ini keluarga merupakan meta institusi di dalam kehidupan
anak.
c. Sosialization

of

mensosialisasikan

new

members,

fungsi

untuk

budaya,

norma,

bahasa,

nilai-nilai

dan lain-lain kepada anggota keluarga.


d. Regulation of Sosial behavior, fungsi pengaturan perilaku
sosial.

Kegagalan

menghasilkan

pengaturan

ketidakcocokan

perilaku
dengan

sosial

akan

harapan

yang

diinginkan.
e. Source of affection. Fungsi untuk memberikan kasih
sayang, cinta yang tulus kepada semua anggota keluarga.
Bilamana hal ini mengalami kegagalan, maka keluarga
akan menjadi kurang harmonis.
Berdasarkan uraian tentang konsep kesejahteraan, pengasuhan dan
perlindungan anak dan remaja sebagaimana telah diuraikan di atas,
maka dalam merumuskankan kebijakan, pelaksanaan program dan
kegiatan

kesejahteraan,

pengasuhan

dan

perlindungan

anak

seyogyanya memperhatikan kaidah-kaidah dari konsep tersebut.


Kebutuhan Balita
a. Kebutuhan Fasilitas Balita
Pelayanan sosial yang harus diberikan oleh sebuah Dinas Sosial anak dan
balita adalah pelayanan pengasuhan di dinas tersebut. Menurut salah seorang
ahli psikologi perkembangan yaitu Erik Erikson (2001: 76), kebutuhan dasar
anak pada masa bayi (baru lahir) sampai dengan kurang lebih 1 tahun adalah
kebutuhan yang bersifat biologis dan psikologis. Kebutuhan biologis, seperti
makan, minum, pakaian, dan segala urusan pencernaan. Kebutuhan psikologis

seperti kebutuhan akan rasa aman, merasa diri dicintai dan diperhatikan, dan
kebutuhan untuk dilindungi. Untuk itu lanjut Erikson, diperlukan figur orang
tua dan pola pengasuhan yang konstan dan stabil sehingga sang anak bisa
mempercayai dan meyakini bahwa orang tuanya selalu siap menanggapi
kebutuhannya.Untuk itu, Dinas sosial harus memberikan pelayanan dalam
rangka memenuhi kebutuhan sehari-hari. Fasilitas makanan, pakaian, dan
perlengkapan bermain untuk menunjang perkembangan harus maksimal
pemenuhannya. Termasuk dalam pelayanan perlindungan seperti fasilitas
ruang tidur, ruang bermain, fasilitas

perkembangan anak, dan akses

mendapatkan pendidikan, serta kesehatan.


b. Kebutuhan Makanan Balita
Kebutuhan nutrisi merupakan kebutuhan yang penting dalam proses
pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita. Menurut Aziz A. Hidayat,
2005, terpenuhinya kebutuhan nutrisi pada bayi adan anak diharapkan anak
dapat tumbuh dengan cepat sesuai dengan usia tumbuh kembang dan dapat
meningkatkan kualitas hidup. Sedangkan menurut Marzuki Iskandar (2005:
119) seoarang ahli gizi balita, kunci asupan zat gizi balita yang baik adalah
makanan yang sehat dan bervariasi, mengandung karbohidrat, protein,vitamin,
dan mineral. Jadi, dalam mendukung tumbuh kembang balita, makanan yang
diberikan harus sesuai dengan kebutuhan balita. Makanan dan zat-zat yang
diperlukan oleh tubuh yang berhubungan dengan kesehatan balita adalah:
1. Makanan bayi usia 0-4 bln
Pertumbuhan dan perkembangan bayi masih berlangsung sampai
dewasa.Makanan yang paling sesuai untuk bayi adalah Air Susu Ibu,
karena ASI memang diperuntukkan bayi-bayi yang khasiatnya sebagai
makanan pokok untuk bayi.
2. Mengatur makanan anak usia 1-5 tahun.

Dalam memenuhi kebutuhan gizi usia 1-5 thn hendaknya digunakan


kebutuhan prinsip sebagai berikut:
a. Bahan makanan sumber kalori harus dipenuhi baik

berasal dari

makanan pokok, minyak dan zat lemak serta gula.


b.

Berikan sumber protein nabati dan hewani.

c. Jangan memaksa anak makan makanan yang tidak disenangi, berikan


makanan lain yang diterima anak.
d. Berilah makanan selingan (makanan ringan) misalnya, biscuit dan
semacamnya, diberikan antara waktu makan pagi, siang dan malam.
Makanan anak usia 1 tahun belum banyak berbeda dengan makanan waktu
usia kurang dari 1 thn, sebagaimana dijelaskan bahwa anak disapih lebih baik
pada umur 2 tahun sehimngga pada umum diatas 1 thn ASI masih diberikan
pada anak. Pada umumnya makanan masih berbentuk lemak baik nasi, sayur
dan lauk pauk seperti daging hendaknya dimasak sedemikian rupa sehingga
anak mudah mengunyahnya dan mudah dicerna, anak mulai diajak makan
bersama-sama keluarga yaitu makan pagi, siang dan malam.
c. Kebutuhan Kesehatan balita
Menurut UU no.23 tahun 1992 kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan,
jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial
ekonomis. Menurut pernyataan dari WHO kesehatan adalah kesehatan fisik,
mental, dan kesejahteraan sosial secara lengkap dan bukan hanya sekedar
tidak mengidap penyakit atau kelemahan. Dengan demikian jelaslah bahwa
sehat adalah kondisi yang prima meliputi tidak hanya fisik, mental maupun
sosial, melainkan diartikan pula bebas dari sakit atau cacat.
Kesehatan perlu ditanamkan pada anak sejak usia dini karena kesehatan
merupakan gambaran kesejahteraan dan kekuatan seluruh bangsa yang
tercermin dari kesehatan suatu keluarga. Berdasarkan uraian di atas, dapat
dikatakan bahwa kesehatan adalah keadaan dimana manusia dan lingkungan

tidak ada gangguan keseimbangan, maka seseorang dapat dikatakan secara


rohani jasmani maupun sosial.
Seorang

anak

dapat

dikatakan

sehat

apabila

mempunyai

kriteria

perkembangan dan pertumbuhan yang sesuai (Sunarti, 1994) :


1. Kesehatan fisik, seoarang anak harus dikontrol kesehatan fisiknya dengan
melihat berat dan tinggi badan normalnya
2. Kesehatan mental (psikis), kesehatan mental usia 0-6 bulan dapat dilihat
dengan perkembangannya contohnya bayi yang berumur 1 bulan
menggerakkan anggota badan secara aktif, bereaksi terhadap bunyi,
menatap wajah pengasuh, berdiri berpegangan, memukul mainan dengan
kedua tangan dan memasukkan biscuit kemulut. Perkembangan tersebut
adalah hal- hal yang berkaitan dengan fungsi organ tubuh seperti
kepandaian, intelegensia, emosi, perilaku dan panca indra. Selain itu
perkembangan anak bisa diperiksa atau dikontrol dengan imunisasi.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Dinas sosial harus mendukung anak untuk
memperoleh akses kesehatan yang diperlukan balita. Lembaga harus
mengontrol kesehatan masing-masing balita seperti pemberian gizi, vitamin,
imunisasi dan melakukan pemeriksaan sesuai prosedur untuk merespon
keluhan kesehatan anak jika sakit.
d. Kebutuhan Pendidikan
Dalam hal pendidikan, dinas sosial wajib memberikan dukungan pendidkan
baik secara moral maupun informal. Dalam UU RI nomor 23 tahun 2002
tentang hak pendidikan seorang anak dijelaksan bahwa balita berhak
memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan
kepribadiannya dan tinkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya,
anak yang memiliki keunggulan juga berhak mendapatkan pendidikan khusus.
Selain itu juga disebutkan bahwa anak yang menderita cacat berhak
memperoleh pendidikan luar biasa, rehabilitasi, bantuan sosial, dan

pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial. Beberapa kegiatan pendidikan yang


bisa dilakukan adalah pendirian PAUD, taman kanan-kanak/kelompok
bermain, dan Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk balita penyandang cacat.
Menurut John H. Pestalozzi (1988), Pendidikan sosial akan berkembang jika
dimulai dengan pendidikan lingkungan yang baik. Selain itu, Pestalozzi juga
memaparkan bahwa pembelajaran pada anak harus berjalan secara teratur
setingkat demi setingkat dan bertahap.
Menurut Friederich W. Frobel (1840), anak didik harus didorong untuk aktif
sehingga dapat melakukan berbagai kegiatan (pekerjaan) yang produktif.
Aktivitas anak akan tumbuh dan berkembang jika pada anak diberikan
susasana bebas sehingga anak mampu mampu berkembang sesuai potensinya
masing-masing.
5. ANTICIPATORY GUIDANCE
a. Pengertian
Anticipatory Guidance merupakan petunjuk-petunjuk yang perlu diketahui
terlebih dahulu agar orang tua dapat mengarahkan dan membimbing anaknya
secara bijaksana, sehingga anak dapat bertumbuh dan berkembang secara
normal. Pemberian bimbingan kepada orang tua untuk mengantisipasi hal-hal
yang terjadi pada setiap tingkat pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan
pertumbuhan dan perkembangan anak.
Memberitahukan/upaya bimbingan kepada orang tua tentang tahapan
perkembangan sehingga orang tua sadar akan apa yang terjadi dan dapat
memenuhi kebutuhan sesuai dengan usia anak.

1. Tahapan Usia Anticipatory Guidance

Anticipatory Guidance Pada Masa Bayi (0-12 Bulan)


a. Usia 6 (enam) bulan pertama
1. Memahami adanya proses penyesuaian antara orang tua dengan
bayinya, terutama pada ibu yang membutuhkan bimbingan/asuhan
pada masa setelah melahirkan.
2. Membantu orang tua untuk memahami bayinya sebagai individu yang
mempunyai kebutuhan dan untuk memahami bagaimana bayi
mengekspresikan apa yang diinginkan melalui tangisan.
3. Menentramkan orang tua bahwa bayinya tidak akan menjadi manja
dengan adanya perhatian yang penuh selama 4-6 bulan pertama.
4. Menganjurkan orang tua untuk membuat jadwal kebutuhan bayi dan
orang tuanya.
5. Membantu orang tua untuk memahami kebutuhan bayi terhadap
stimulasi lingkungan.
6. Menyokong kesenangan orang tua dalam melihat petumbuhan dan
perkembangan bayinya, yaitu dengan bersahabat dan mengamati
respon social anak misalnya dengan tertawa/tersenyum.
7. Menyiapkan orang tua untuk memenuhi kebutuhan rasa aman dan
kesehatan bagi bayi misalnya imunisasi.
8. Menyiapkan orang tua untuk mengenalkan dan memberikan makanan
padat.
b. Usia 6 (enam) bulan kedua
1. Menyiapkan orang tua akan danya ketakutan bayi terhadap orang yang
belum dikenal (stranger anxiety).
2. Menganjurkan orang tua untuk mengizinkan anaknya dekat dengan
ayah dan ibunya serta menghindarkan perpisahan yang terlalu lama
dengan anak tersebut.
3. Membimbing orang tua untuk mengetahui disiplin sehubungan dengan
semakin meningkatnya mobilitas (pergerakan si bayi).
4. Menganjurkan untuk mengguanakan suara yang negative dan kontak
mata daripada hukuman badan sebagai suatu disiplin. Apabila tidak
berhasil, gunakan 1 pukulan pada kaki atau tangannya.
5. Menganjurkan orang tua untuk memberikan lebih banyak perhatian
ketika bayinya berkelakuan baik dari pada ketika ia menangis.

6. Mengajrkan mengenai pencegahan kecelakaan karena ketrampilan


motorik dan rasa ingin tahu bayi meningkat.
7. Menganjurkan orang tua untuk meninggalkan bayinya beberapa saat
dengan pengganti ibu yang menyusui.
8. Mendiskusikan mengenai kesiapan untuk penyapihan.
9. Menggali perasaan ornag tua sehubungan dengan pola tidur bayinya.
2. Anticipatory Guidance Pada Masa Toddler (1-3 Tahun)
a. Usia 12-18 bulan
1. Menyiapkan orang tua untuk antisipasi adanya perubahan tingkah laku
dari toodler terutama negativism.
2. Mengkaji kebiasaan makan dan secara bertahap penyapihan dari botol
serta peningkatan asupan makanan padat.
3. Menyediakan makanan selingan antara 2 waktu makan dengan rasa
yang disukai.
4. Mengkaji pola tidur malam, kebiasaan memakai botol yang merupakan
penyebab utama gigi berlubang.
5. Mencegah bahaya yang dapat terjadi di rumah.
6. Perlu
ketentuan-ketentuan/disiplin
dengan

lembut

untuk

meminimalkan negativism, tempertantrum serta penekanan akan


kebutuhan yang positif dan disiplin yang sesuai.
7. Perlunya mainan yang dapat meningkatkan

berbagai

aspek

perkembangan anak.

b. Usia 18-24 bulan


1. Menekankan pentingnya persahabatan dalam bermain.
2. Menggali kebutuhan untuk menyiapkan kehadiran adik baru.
3. Menekankan kebutuhan akan pengawasan terhadap kesehatan gigi dan
4.
5.
6.
7.

kebiasaan-kebiasaan pencetus gigi berlubang.


Mendiskusikan metode disiplin yang ada.
Mendiskusikan kesiapan psikis dan fisik anak untuk toilet training.
Mendiskusikan berkembangnya rasa takut anak.
Menyiapkan orang tua akan adanya tanda regresi pada waktu

mengalami stress.
8. Mengkaji kemampuan anak untuk berpisah dengan orang tua.

9. Memberi kesempatan orang tua untuk mengekspresikan kelelahan,


frustasi dan kejengkelan dalam merawat anak usia toodler.
c. Usia 24-36 bulan
1. Mendiskusikan pentingnya meniru dan kebutuhan anak untuk
dilibatkan dalam kegiatan.
2. Mendiskusikan pendekatan yang dilakuakan dalm toilet training.
3. Menekankan keunikan dari proses berfikir toodler terutama untuk
bahasa yang diungkapkan.
4. Menekankan disiplin harus tetap terstruktur dengan benar dan nyata,
hindari kebingungan dan salah pengertian.
5. Mendiskusikan adanya taman kanak-kanak atau play group.
3. Anticipatory Guidance Pada Masa Preschool (3-5 Tahun)
Pada masa ini petunjuk bimbingan tetap diperlukan walaupun kesulitannya
jauh lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Sebelumnya, pencegahan
kecelakaan dipusatkan pada pengamatan lingkungan terdekat, dan kurang
menekankan pada alas an-alasannya. Sekarang proteksi pagar, penutup stop
kontak disertai dengan penjelasan secara verbal dengan alas an yang tepat
dan dapat dimengerti.
Masuk sekolah adalah bentuk perpisahan dari rumah baik bagi orang tua
maupun anak. Oleh karena itu, orang tua memerlukan bantuan dalam
melakukan penyesuaian terhadap perubahan ini, terutama bagi Ibu yang
tinggal di rumah/tidak bekerja. Ketika anak mulai masuk taman kanakkanak, maka ibu mulai memerlukan kegiatan-kegiatan di luar keluarga,
seperti keterlibatannya dalam masyarakat atau mengembangkan karier.
Bimbingan terhadap orang tua pada masa ini dapat dilakukan pada anak
umur 3, 4, 5 tahun.
a. Usia 3 tahun
1. Menganjurkan orang tua untuk meningkatkan minat anak dalam hubungan
yang luas.
2. Menekankan pentingnya batas-batas / peraturan-peraturan.

3. Mengantisipasi perubahan perilaku agresif.


4. Menganjurkan orang tua menawarkan anaknya alternative-alternatif
pilihan pada saat anak bimbang.
5. Perlunya perhatian ekstra
b. Usia 4 tahun
1. Menyiapkan orang tua terhadap perilaku anak yang agresif, termasuk
aktifitas motorik dan bahasa yang mengejutkan.
2. Menyiapkan orang tua menghadapi perlawanan anak terhadap
kekuasaan orang tua.
3. Kaji perasaan orang tua sehubungan dengan tingkah laku anak.
4. Menganjurkan beberapa macam istirahat dari pengasuh utama, seperti
menempatkan anak pad ataman kanak-kanak selama setengah hari.
5. Menyiapkan orang tua untuk menghadapi meningkatnya rasa ingin
tahu seksual pada anak.
6. Menekankan pentingnya batas-batas yang realistic dari tingkah laku.
7. Mendiskusikan disiplin.
8. Menyiapkan orang tua untuk meningkatkan imajinasi di usia 4 tahun,
dimana anak mengikuti kata hatinya dalam ketinggian bicaranya
(bedakan dengan kebohongan) dan kemahiran anak dalam permainan
yang membutuhkan imajinasi.
9. Menyarankan pelajaran berenang.
10. Menjelaskan perasaan-perasaan Oedipus dan reaksi-reaksinya. Anak
laki-laki biasanya lebih dekat dengan ibunya dan anak perempuan
dengan ayahnya. Oleh karena itu, anak perlu dibiasakan tidur terpisah
dengan orang tuanya.
11. Menyiapkan orang tua untuk mengantisipasi mimpi buruk anak dan
menganjurkan mereka agar tidak lupa untuk membangunkan anak dari
mimpi yang menakutkan.
c. Usia 5 tahun
1. Memberikan pengertian bahwa usia 5 tahun merupakan periode yang
relative lebih tenang dibandingkan masa sebelumnya.
2. Menyiapkan dan membantu anak memasuki lingkungan sekolah.
3. Mengingatkan imunisasi yang lengkap sebelum masuk sekolah.
4. Meyakinkan bahwa usia tersebut adalah periode tenang pada anak.

4. Anticipatory Guidance Pada Masa Usia Sekolah (6-12 Tahun)


a. Usia 6 tahun
1. Bantu orang tua memahami kebutuhan mendorong anak berinteraksi
dengan teman.
2. Ajarkan pencegahan kecelakaan dan keamanan terutama naik sepeda.
3. Siapkan orang tua akan peningkatan interst anak ke luar rumah.
4. Dorong orang tua untuk respek terhadap kebutuhan anak akan privacy
dan menyiapkan kamar tidur yang berbeda.

b. Usia 7-10 tahun


1. Menakankan untuk mendorong kebutuhan akan kemandirian.
2. Tertarik beraktifitas diluar rumah.
3. Siapkan orang tua untuk perubahan pada wanita pubertas.
c. Usia 11-12 tahun
1. Bantu orang tua untuk menyiapkan anak tentang perubahan tubuh
pubertas.
2. Anak wanita pertumbuhan cepat.
3. Sex education yang adekuat dan informasi yang adekuat.
Pencegahan Terhadap Kecelakaan Pada Anak
Kecelakaan merupakan kejadian yang dapat menyebabkan kematian pada anak.
Kepribadian adalah factor pendukung terjadinya kecelakaan.
Orang tua bertanggungjawab terhadap kebutuhan anak, menyadari karakteristik
perilaku yang

menimbulkan

kecelakaan waspada terhadap

factor-faktor

lingkungan yang mengancam keamanan anak.


Faktor-faktor Yang Menyebabkan Kecelakaan :
1.

Jenis kelamin, biasanya lebih banyak pada laki-laki karena lebih aktif di

rumah.
2.
Usia, pada kemampuan fisik dan kognitif, semakin besar akan semakin
tahu mana yang bahaya.

3.

Lingkungan, adanya penjaga atau pengasuh.

Cara Pencegahan :
1.
2.
3.

Pemahaman tingkat perkembangan dan tingkahlaku anak.


Kualitas asuhan meningkat.
Lingkungan aman.

Bahaya umum yang harus diperhatikan ortu:


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Lantai rumah yang basah atau licin


Rumah dengan tangga yang curam 7 tidak ada pegangan
Alat makan dari bahan pecah belah
Penyimpanan zat berbahaya yang terbuka & dapat dijangkau anak
Adanya sumur yang terbuka
Adanya parit di depan/samping rumah
Rumah yang letaknya di pinggir jalan raya
Kompor/alat memasak yang dijangkau anak
Kabel listrik yang berantakan
Stop kontak yang tidak tertutup

Upaya yang dapat dilakukan ortu di rumah:


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Benda tajam disimpan di tempat yang aman


Benda kecil disimpan dalam laci yang tertutup
Zat yang berbahaya disimpan dalam almari terkunci
Amankan kompor dan berikan penutup yang aman
Jaga lantai rumah selalu bersih dan kering
Apabila ada tangga, pasang pintu di bagian bawah atau atas tangga
Sekring listrik harus tertutup
Apabila ada parit, tutup dengan papan atau semen
Bagi yang rumahnya di tepi jalan raya, sebaiknya da pintu pagar yang

tertutup rapat
10. Apabila ada sumur, tutup sehingga tidak bisa dibuka anak
11. Bila bayi tidur, berikan p[engaman di pinggir tempat tidur
Pencegahan Terhadap Kecelakaan:
1. Masa Bayi
Jenis kecelakaan : Aspirasi benda, jatuh, luka baker, keracunan, kurang O2.
Pencegahan
a. Aspirasi : bedak, kancing, permen (hati-hati).
b. Kurang O2 : plastic, sarung bantal.

c. Jatuh : tempat tidur ditutup, pengaman (restraint), tidak pakai kursi tinggi.
d. Luka bakar : cek air mandi sebelum dipakai.
e. Keracunan : simpan bahan toxic dilemari.
2. Masa Toddler
Jenis kecelakaan :
a. Jatuh/luka akibat mengendarai sepeda.
b. Tenggelam.
c. Keracunan atau terbakar.
d. Tertabrak karena lari mengejar bola/balon.
e. Aspirasi dan asfiksia.
Pencegahan :
a. Awasi jika dekat sumber air.
b. Ajarkan berenang.
c. Simpan korek api, hati-hati terhadap kompor masak dan strika.
d. Tempatkan bahan kimia/toxic di lemari.
e. Jangan biarkan anak main tanpa pengawasan.
f. Cek air mandi sebelum dipakai.
g. Tempatkan barang-barang berbahaya ditempat yang aman.
h. Jangan biarkan kabel listrik menggantung mudah ditarik.
i. Hindari makan ikan yang ada tulang dan makan permen yang keras.
j. Awasi pada saat memanjat, lari, lompat karena sense of balance.
3. Pra Sekolah
Kecelakaan terjadi karena anak kurang menyadari potensial bahaya : obyek
panas, benda tajam, akibat naik sepeda misalnya main di jalan, lari mengambil
bola/layangan, menyeberang jalan.
Pencegahan ada 2 cara ;
1. Mengontrol lingkungan.
2. Mendidik anak terhadap keamanan dan potensial bahaya.
a. Jauhkan korek api dari jangkauan.

b. Mengamankan

tempat-tempat

yang

secara

potensial

dapat

membahayakan anak.
c. Mendidik anak : Cara menyeberang jalan, arti rambu-rambu lalulintas,
cara mengendarai peran orang tua = perlu belajar mengontrolsepeda
yang aman lingkungan.
4. Usia Sekolah
a. Anak sudah berpikir sebelum bertindak.
b. Aktif dalam kegiatan : mengendarai sepeda, mendaki gunung, berenang.
c. Perawat mengajarkan keamanan:
1) Aturan lalu-lintas bagi pengendara sepeda.
2) Aturan yang aman dalam berenang
3) Mengawasi pada saat anak menggunakan alat berbahaya : gergaji, alat
listrik.
4) Mengajarkan agar tidak menggunakan alat yang bisa meledak/terbakar.
5. Remaja
a. Penggunaan kendaraan bermotor bila jatuh dapat : fraktur, luka pada
kepala.
b. Kecelakaan karena olah raga.
Pencegahan:
a. Perlu petunjuk dalam penggunaan kendaraan bermotor sebelumnya ada
negosiasi antara orang tua dengan remaja.
b. Menggunakan alat pengaman yang sesuai.
b. Melakukan latihan fisik yang sesuai sebelum melakukan olah raga.
5. Pendidikan Kesehatan Untuk Orang Tua
a. Upaya pencegahan kecelakaan pada anak
b.
c.
d.
e.

orang tua harus diberikan

bimbingan dan antisipasi pendidikan kesehatan.


Prinsip pendidikan kesehatan:
Diberikan berdasarkan kebutuhan spesifik klien.
Pendidikan kesehatan yang diberikan harus bersifat menyeluruh
Hanya terjadi interaksi timbal balik antara perawat dan orang tua dan bukan

hanya perawat sefihak yang aktif memberikan materi pendidikan kesehatan


f. Pendidikan kesehatan diberikan dengan mempertimbangkan usia klien yang
menerimanya.

g. Proses pendidikan kesdehatan harus memperhatikan prinsip belajar dan


mengajar.
h. Perubahan perilaku pada orang tua menjadi tujuan utama pendidikan
kesehatan yang diberikan.

DAFTAR PUSTAKA
Peraturan Perundang-undangan:
Undang Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial (BPJS).
Undang Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perdagangan Manusia.

Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.


Undang Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak
Undang Undang RI Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial.
Undang Undang RI Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Konvensi Mengenai HakUUD 1945 Pasal 27 Ayat 2 UUD 1945 Pasal 27 Ayat 2.
Buku-buku:
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional RI bekerjasama dengan Pusat
Kajian Perlindungan Anak Universitas Indonesia dan Bank Dunia.
(2011). Membangun Sistem Perlindungan Anak di Indonesia, Sebuah
Kajian Pelaksanaan PKSA Kementerian Sosial RI dan
Kontribusinya terhadap Sistem Perlindungan Anak.
Hikmat, Hari. (2006). Pedoman Analisis Kebijakan Kesejahteraan Sosial,
Pada Tgl 05 Maret 2008 Disampaikan dalam Kegiatan Finalisasi
Pedoman Analsis Kebijakan Kesejahteraan Sosial, Departemen
Sosial RI.
Kementerian Sosial RI, Badan Pusat Statistik. (2012). Profil PMKS,
Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial, INDONESIA 2011. Pusat
Data dan Informasi Kementerian Sosial RI.
Mallon, Gerald P and Peg McCartt Hess. (2005). Child Welfare For The
Twenty-First Century. A Handbook of Practices, Policies, and
Program. Columbia University Press.