Anda di halaman 1dari 36

TRIAD KRR (Napza,seksualitas,dan Hiv/aids)

NARKOBA ?
Hari-hari kita masih panjang
Banyak harapan dalam masa depan
Jangan sampai kau sia-siakan
Hanya dengan Narkotika dan obat terlarang
Apa hidupmu akan kau pertaruhkan dalam serbuk-serbuk heroin??
Yang hanya buat mu merangkak dibawah kaki setan
Dan menginjak-injakmu dalam rasa sakit dan kebekuan
Ganja dan ekstasi
Akan mengikatmu dalam kesakitan yang abadi
Menuntun mu masuk jurang dan MATI
Apa itu yang kau harapkan??
Dijejali obat-obatan
Hingga bungkam akan impian
Apa hanya ini yang kau ingin kan??
Terpenjara jarum suntik dan kematian
Kami bertanya karena kau seorang teman
Remaja yang penuh khayal dan keingintahuan
Maka renungkanlah, maka fikirkanlah
Agar hidup mendatang tak sia-sia dan sengsara
Narkoba Haram Bagiku
Hari-hari ku tak seindah pelangi
Malam-malam ku tak sebaik malam mu
Semua yang ku lakukan akan berubah
Namaku tak sesuci yang dulu
Air yang jernih akan menjadi keruh
Hati yang bersih akan menjadi terpengaruh
karna dirimu membuat orang bahagia
tapi hanya sesaat
Semua ini terjadi di sebabkan oleh mu
Karna dirimu..
Membuatku sengsara
Karna dirimu membuat ku terluka
Karenamu
Masa depan menjadi suram
Keluarga berantakan
Aku sangat membenci mu
Walau pun kau selalu dipuja-puja
Karena dirimu Haram Bagi Ku
Diposkan oleh recares GP Bana di 20.58 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Rabu, 20 November 2013

gejala umum virus HIV


Gejala Umum Virus HIV
1. Demam
Demam ringan adalah gejala awal yang paling umum terjadi saat seseorang terpapar
virus HIV. Demam ringan ini seringkali disertai dengan sakit tenggorokan, kelelahan
yang ekstrim, dan pembekakan kelenjar getah bening.
Demam adalah reaksi dari sistem kekebalan tubuh sebagai akibat dari masuknya
virus HIV ke aliran darah dengan jumlah yang berlipat ganda.
2. Nyeri Otot
Nyeri otot dan persendian tak hanya dialami oleh orang-orang yang mengalami
gejala penyakit hepatitis dan sifilis, tapi juga dirasakan seseorang yang telah
terpapar virus HIV. Gejala ini seringkali diabaikan hingga paparan virus HIV benarbenar masuk ke tingkat yang mengkhawatirkan.
3. Ruam Kulit
Ruam bisa berupa bercak-bercak kemerahan pada kulit atau benjolan menyerupai
jerawat dalam jumlah banyak yang tak sembuh-sembuh. Gejala ini akan muncul jika
paparan virus HIV telah mencapai pada tingkat yang lebih parah.
4. Mual, Muntah, dan Diare
Antara 30- 60 persen pengidap HIV akan mengalami gejala singkat mual, muntah,
dan serangan diare. Selain sebagai gejala HIV tahap lanjut, gejala-gejala di atas
juga bisa muncul sebagai efek samping dari terapi pengobatan.
5. Berat Badan Turun Drastis
Berat badan turun drastis merupakan gejala tahap lanjut bahwa tubuh telah
terinfeksi HIV. Berat badan turun drastis bisa terjadi akibat diare atau kurangnya
nutrisi tubuh akibat sering memuntahkan makanan.
6. Batuk Kering

Biasanya batuk kering akan terjadi setelah satu tahun terjangkit virus HIV,
sekaligus menjadi tanda bahwa penyakit ini semakin memburuk. Penggunaan obat
batuk sekali pun tidak dapat meredakan batuk akibat paparan virus HIV.
7. Perubahan pada Kuku
Tanda lain dari infeksi HIV adalah perubahan pada kuku seperti penebalan, kuku
melengkung, dan perubahan warna seperti kuku menghitam atau muncul garis coklat
vertikal atau horisontal dipermukaan kuku.
Perubahan kuku ini dapat terjadi akibat infeksi jamur seperti kandida. Mengingat
penderita HIV mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh, maka jamur tersebut
bisa sangat mudah berkembang, kata Horberg.
8. Infeksi Jamur pada Mulut
Infeksi jamur tak hanya menyerang permukaan kuku, tapi juga organ lain seperti
mulut. Jika jamur sudah menginfeksi mulut, maka pengidap HIV akan sulit untuk
mengunyah
dan
menelan
makanan.
9. Kebingungan dan Sulit Konsentrasi
Masalah kognitif bisa menjadi tanda demensia terkait HIV. Selain mengalami
kebingungan dan sulit berkonsentrasi, demensia terkait HIV juga dapat
mempengaruhi memori dan masalah perilkau seperti mudah marah dan tersinggung.
Gejala ini diiringi dengan menurunnya keampuan motoris tubuh seperti menjadi
ceroboh, menurunnya kordinasi tubuh, dan bahkan hilangnya kemampuan untuk
menulis.
10. Herpes Genital
Herpes genital yang terjadi pada penderita HIV umumnya tidak memiliki gejala yang
khas. Namun luka yang muncul cenderung lebih besar dan lebih dalam. Penyakit ini
lebih banyak menular melalui hubungan kontak kulit dengan penderita, terutama
saat berhubungan seks. Umumnya gejalanya adalah timbul bintil-bintil di bagian luar
alat kelamin yang bentuknya memerah dan membengkak.
Cara Mencegah tertular/terinfeksi Virus HIV
1. Abstain atau penolakan
Ini adalah salah satu tips terbaik untuk mencegah AIDS dan penyakit menular
seksual lainnya. Tidak bercinta atau menolak untuk bercinta bisa mejadi trik terbaik
menghindari kemungkinan terkena infeksi penyakit ini. Ini adalah cara terbaik untuk
menghindari kontak dengan cairan vagina, air mani dan cairan pra-mani.

2. Menggunakan perlindungan
Untuk mencegah HIV AIDS, Anda harus selalu menggunakan pelindung atau kondom.
3. Setia dan Hindari Seks Bebas
Memiliki kontak fisik dengan hanya satu pasangan yang juga monogami pada waktu
yang sama. Terlibat dalam seks dengan banyak pasangan, terutama tanpa
menggunakan kondom dapat benar-benar berbahaya.
4. Berbagi jarum suntik
Suntikan jarum yang dipakai bergantian dan tidak steril dapat menyebabkan risiko.
AIDS menyebar karena transfusi darah, jadi sangat berhati-hati sebelum memakai
jarum.
5. Hindari ASI
Menurut US Department of Health and Human Services, ASI dapat mengandung
virus HIV, sehingga hindari kontak dari ASI dengan selaput lendir di mulut.
6. Pelumas
Banyak bahan kimia dan minyak yang dapat merusak kondom. Jadi, selalu gunakan
pelumas berbasis air.
Semoga artikel mengenai penyakit HIV yang mencakup gejala infeksi virus HIV,
cara penularan dan cara pencegahan ini bisa bermanfaat buat anda sebagai
antisipasi dan pengetahuan.
Diposkan oleh recares GP Bana di 21.18 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Aditif)
I. PENDAHULUAN :
Narkoba atau NAPZA adalah bahan / zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan / psikologi
seseorang ( pikiran, perasaan dan perilaku ) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan
psikologi. Yang termasuk dalam NAPZA adalah : Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya.
NARKOTIKA :
Menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika adalah: zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan
ketergantungan.
Narkotika terdiri dari 3 golongan :
1. Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu
pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi
mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Heroin, Kokain, Ganja.
2. Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan
dapat digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Morfin, Petidin.

3. Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan /
atau tujuan pengebangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan
ketergantungan. Contoh : Codein.
PSIKOTROPIKA :
Menurut UU RI No 5 / 1997, Psikotropika adalah : zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan
narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku.
Psikotropika terdiri dari 4 golongan :
1. Golongan I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak
digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh : Ekstasi.
2. Golongan II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalan terapi dan /
atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma
ketergantungan. Contoh : Amphetamine.
3. Golongan III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan /
atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma
ketergantungan. Contoh : Phenobarbital.
4. Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi
dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma
ketergantungan. Contoh : Diazepam, Nitrazepam ( BK, DUM ).
ZAT ADIKTIF LAINNYA :
Yang termasuk Zat Adiktif lainnya adalah : bahan / zat yang berpengaruh psikoaktif diluar Narkotika
dan Psikotropika, meliputi :
1. Minuman Alkohol : mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh menekan susunan saraf
pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari hari dalam kebudayaan tertentu.
Jika digunakan bersamaan dengan Narkotika atau Psikotropika akan memperkuat pengaruh obat /
zat itu dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman beralkohol :
a. Golongan A : kadar etanol 1 5 % ( Bir ).
b. Golongan B : kadar etanol 5 20 % ( Berbagai minuman anggur )
c. Golongan C : kadar etanol 20 45 % ( Whisky, Vodca, Manson House, Johny Walker ).
2. Inhalasi ( gas yang dihirup ) dan solven ( zat pelarut ) mudah menguap berupa senyawa organik,
yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor, dan sebagai pelumas mesin.
Yang sering disalahgunakan adalah : Lem, Tiner, Penghapus Cat Kuku, Bensin.
3. Tembakau : pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat.
Dalam upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat, pemakaian rokok dan alkohol terutama pada
remaja, harus menjadi bagian dari upaya pencegahan, karena rokok dan alkohol sering menjadi

pintu masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang berbahaya.


Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan dari NAPZA dapat digolongkan menjadi 3
golongan :
1. Golongan Depresan ( Downer ). Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas
fungsional tubuh. Jenis ini membuat pemakainya menjadi tenang dan bahkan membuat tertidur
bahkan tak sadarkan diri. Contohnya: Opioda ( Morfin, Heroin, Codein ), sedative ( penenang ),
Hipnotik (obat tidur) dan Tranquilizer (anti cemas ).
2. Golongan Stimulan ( Upper ). Adalah jenis NAPZA yang merangsang fungsi tubuh dan
meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini menbuat pemakainnya menjadi aktif, segar dan
bersemangat. Contoh: Amphetamine (Shabu, Ekstasi), Kokain.
3. Golongan Halusinogen. Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang
bersifat merubah perasaan, pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda
sehingga seluruh persaan dapat terganggu. Contoh: Kanabis ( ganja ).
II. PENYALAHGUNAAN NAPZA :
Di dalam masyarakat NAPZA / NARKOBA yang sering disalahgunakan adalah :
1. Opiada, terdapat 3 golonagan besar :
a. Opioda alamiah ( Opiat ) : Morfin, Opium, Codein.
b. Opioda semisintetik : Heroin / putauw, Hidromorfin.
c. Opioda sintetik : Metadon.
Nama jalanan dari Putauw : ptw, black heroin, brown sugar.
Heroin yang murni berbentuk bubuk putih, sedangkan yang tidak murni berwarna putih keabuan.
Dihasilkan dari getah Opium poppy diolah menjadi morfin dengan proses tertentu dihasilkan putauw,
yang kekuatannya 10 kali melebihi morfin.Sedangkan opioda sintetik mempunyai kekuatan 400 kali
lebih kuat dari morfin. Morfin, Codein, Methadon adalah zat yang digunakan oleh dokter sebagai
penghilang sakit yang sangat kuat, misalnya pada opreasi, penderita cancer.
Reaksi dari pemakaian ini sangat cepat yang kemudian menimbulkan perasaan ingin menyendiri
untuk menikmati efek rasanya dan pada taraf kecanduan pemakai akan kehilangan percaya diri
hingga tak mempunyai keinginan untuk bersosialisasi. Pemakai akan membentuk dunianya sendiri,
mereka merasa bahwa lingkungannya menjadi musuh.
2. KOKAIN :
Kokain berupa kristal putih, rasanya sedikit pahit dan lebih mudah larut
Nama jalanan : koka, coke, happy dust, chalie, srepet, snow / salju.
Cara pemakainnya : membagi setumpuk kokain menjadi beberapa bagian berbaris lurus diatas
permukaan kaca atau alas yang permukaannya datar kemudian dihirup dengan menggunakan
penyedot seperti sedotan atau dengan cara dibakar bersama dengan tembakau. Penggunaan
dengan cara dihirup akan beresiko kering dan luka pada sekitar lubang hidung bagian dalam.

Efek pemakain kokain : pemakai akan merasa segar, kehilangan nafsu makan, menambah percaya
diri, dan dapat menghilangkan rasa sakit dan lelah.
3. KANABIS :
Nama jalanan : cimeng, ganja, gelek, hasish, marijuana, grass, bhang.
Berasal dari tanaman kanabis sativa atau kanabis indica.
Cara penggunaan : dihisap dengan cara dipadatkan menyerupai rokok atau dengan menggunakan
pipa rokok.
Efek rasa dari kanabis tergolong cepat, pemakai cenderung merasa lebih santai, rasa gembira
berlebihan ( euphoria ), sering berfantasi / menghayal, aktif berkomunikasi, selera makan tinggi,
sensitive, kering pada mulut dan tenggorokan.
4. AMPHETAMINE :
Nama jalanan : seed, meth, crystal, whiz.
Bentuknya ada yang berbentuk bubuk warna putih dan keabuan dan juga tablet.
Cara penggunaan : dengan cara dihirup. Sedangkan yang berbentuk tablet diminum dengan air.
Ada 2 jenis Amphetamine :
a. MDMA ( methylene dioxy methamphetamine )
Nama jalanan : Inex, xtc.
Dikemas dalam bentuk tablet dan capsul.
b. Metamphetamine ice
Nama jalanan : SHABU, SS, ice.
Cara pengunaan dibakar dengan mengunakan alumunium foil dan asapnya dihisap atau dibakar
dengan menggunakan botol kaca yang dirancang khusus ( boong ).
5. LSD ( Lysergic Acid ).
Termasuk dalam golongan halusinogen.
Nama jalanan : acid, trips, tabs, kertas.
Bentuk : biasa didapatkan dalam bentuk kertas berukuran kotak kecil sebesar seperempat perangko
dalam banyak warna dan gambar. Ada juga yang berbentuk pil dan kapsul.
Cara penggunaan : meletakan LSD pada permukaan lidah, dan bereaksi setelah 30 60 menit
kemudian, menghilang setelah 8 12 jam.
Efek rasa : terjadi halusinasi tempat, warna, dan waktu sehingga timbul obsesi yang sangat indah
dan bahkan menyeramkan dan lama lama menjadikan penggunaanya paranoid.

6. SEDATIF HIPNOTIK ( BENZODIAZEPIN ) :


Termasuk golongan zat sedative ( obat penenang ) dan hipnotika ( obat tidur ).
Nama jalanan : Benzodiazepin : BK, Dum, Lexo, MG, Rohyp.
Cara pemakaian : dengan diminum, disuntikan, atau dimasukan lewat anus.
Digunakan di bidang medis untuk pengobatan pada pasien yang mengalami kecemasan, kejang,
stress, serta sebagai obat tidur.
7. SOLVENT / INHALASI :
Adalah uap gas yang digunakan dengan cara dihirup. Contohnya : Aerosol, Lem, Isi korek api gas,
Tiner, Cairan untuk dry cleaning, Uap bensin.
Biasanya digunakan dengan cara coba coba oleh anak di bawah umur, pada golongan yang
kurang mampu.
Efek yang ditimbulkan : pusing, kepala berputar, halusinasi ringan, mual, muntah gangguan fungsi
paru, jantung dan hati.
8. ALKOHOL :
Merupakan zat psikoaktif yang sering digunakan manusia
Diperoleh dari proses fermentasi madu, gula, sari buah dan umbi umbian yang mengahasilkan
kadar alkohol tidak lebih dari 15 %, setelah itu dilakukan proses penyulingan sehingga dihasilkan
kadar alkohol yang lebih tinggi, bahkan 100 %.
Nama jalanan : booze, drink.
Efek yang ditimbulkan : euphoria, bahkan penurunan kesadaran
III. PENYALAHGUNAAN DAN KETERGANTUNGAN
Penyalahguanaan adalah : penggunaan salah satu atau beberapa jenis NAPZA secara berkala atau
teratur diluar indikasi medis, sehingga menimbulkan gangguan kesehatan fisik, psikis dan gangguan
fungsi sosial.
Ketergatungan adalah : keadaan dimana telah terjadi ketergantungan fisik dan psikis, sehingga
tubuh memerlukan jumlah NAPZA yang makin bertambah ( toleransi ), apabila pemakaiannya
dikurangi atau diberhentikan akan timbul gejala putus obat ( withdrawal symptom ).
# PENYEBAB PENYALAHGUNAAN NAPZA
Penyebabnya sangatlah kompleks akibat interaksi berbagai faktor :
1. Faktor individual :
Kebanyakan dimulai pada saat remaja, sebab pada remaja sedang mengalami perubahan biologi,
psikologi maupun sosial yang pesat. Ciri ciri remaja yang mempunyai resiko lebih besar

menggunakan NAPZA :
a. Cenderung memberontak
b. Memiliki gangguan jiwa lain, misalnya : depresi, cemas.
c. Perilaku yang menyimpang dari aturan atau norma yang ada
d. Kurang percaya diri
e. Mudah kecewa, agresif dan destruktif
f. Murung, pemalu, pendiam
g. Merasa bosan dan jenuh
h. Keinginan untuk bersenang senang yang berlebihan
i. Keinginan untuk mencaoba yang sedang mode
j. Identitas diri kabur
k. Kemampuan komunikasi yang rendah
l. Putus sekolah
m. Kurang menghayati iman dan kepercayaan.
2. Faktor Lingkungan :
Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik sekitar rumah, sekolah,
teman sebaya, maupun masyarakat.
Lingkungan Keluarga :
a. Komunikasi orang tua dan anak kurang baik
b. Hubungan kurang harmonis
c. Orang tua yang bercerai, kawin lagi
d. Orang tua terlampau sibuk, acuh
e. Orang tua otoriter
f. Kurangnya orang yang menjadi teladan dalam hidupnya
g. Kurangnya kehidupan beragama.
Lingkungan Sekolah :
a. Sekolah yang kurang disiplin

b. Sekolah terletak dekat tempat hiburan


c. Sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan diri secara kreatif
dan positif
d. Adanya murid pengguna NAPZA.
Lingkungan Teman Sebaya :
a. Berteman dengan penyalahguna
b. Tekanan atau ancaman dari teman.
Lingkungan Masyrakat / Sosial :
a. Lemahnya penegak hukum
b. Situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang mendukung.
Faktor faktor tersebut diatas memang tidak selalu membuat seseorang kelak menjadi
penyalahguna NAPZA. Akan tetapi makin banyak faktor faktor diatas, semakin besar kemungkinan
seseorang menjadi penyalahguna NAPZA.
# GEJALA KLINIS PENYALAHGUNAAN NAPZA :
1. Perubahan Fisik :
- Pada saat menggunakan NAPZA : jalan sempoyongan, bicara pelo ( cadel ), apatis ( acuh tak acuh
), mengantuk, agresif.
Bila terjadi kelebihan dosis ( Overdosis ) : nafas sesak, denyut jantung dan nadi lambat, kulit
teraba dingin, bahkan meninggal.
Saat sedang ketagihan ( Sakau ) : mata merah, hidung berair, menguap terus, diare, rasa sakit
seluruh tubuh, malas mandi, kejang, kesadaran menurun.
Pengaruh jangka panjang : penampilan tidak sehat, tidak perduli terhadap kesehatan dan
kebersihan, gigi keropos, bekas suntikan pada lengan.
2. Perubahan sikap dan perilaku :
- Prestasi di sekolah menurun, tidak mengerjakan tugas sekolah, sering membolos, pemalas, kurang
bertanggung jawab.
Pola tidur berubah, begadang, sulit dibangunkan pagi hari, mengantuk di kelas atau tempat kerja.
Sering berpergian sampai larut malam, terkadang tidak pulang tanpa ijin.
Sering mengurung diri, berlama lama di kamar mandi, menghidar bertemu dengan anggota
keluarga yang lain.

Sering mendapat telpon dan didatangi orang yang tidak dikenal oleh anggota keluarga yang lain.
Sering berbohong, minta banyak uang dengan berbagai alasan tapi tidak jelas penggunaannya,
mengambil dan menjual barang berharga milik sendiri atau keluarga, mencuri, terlibat kekerasan
dan sering berurusan dengan polisi.
Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, pemarah, kasar, bermusuhan pencurigaan,
tertutup dan penuh rahasia.
# PENGARUH PENYALAHGUNAAN NAPZA
NAPZA berpengaruh pada tubuh manusia dan lingkungannya :
1. Komplikasi Medik : biasanya digunakan dalam jumlah yang banyak dan cukup lama.
Pengaruhnya pada :
a. Otak dan susunan saraf pusat :
- gangguan daya ingat
- gangguan perhatian / konsentrasi
- gangguan bertindak rasional
- gagguan perserpsi sehingga menimbulkan halusinasi
- gangguan motivasi, sehingga malas sekolah atau bekerja
- gangguan pengendalian diri, sehingga sulit membedakan baik / buruk.
b. Pada saluran napas : dapat terjadi radang paru ( Bronchopnemonia ). pembengkakan paru
( Oedema Paru )
c. Jantung : peradangan otot jantung, penyempitan pembuluh darah jantung.
d. Hati : terjadi Hepatitis B dan C yang menular melalui jarum suntik, hubungan seksual.
e. Penyakit Menular Seksual ( PMS ) dan HIV / AIDS.
Para pengguna NAPZA dikenal dengan perilaku seks resiko tinggi, mereka mau melakukan
hubungan seksual demi mendapatkan zat atau uang untuk membeli zat. Penyakit Menular Seksual
yang terjadi adalah : kencing nanah ( GO ), raja singa ( Siphilis ) dll. Dan juga pengguna NAPZA
yang mengunakan jarum suntik secara bersama sama membuat angka penularan HIV / AIDS
semakin meningkat. Penyakit HIV / AIDS menular melalui jarum suntik dan hubungan seksual,
selain melalui tranfusi darah dan penularan dari ibu ke janin.
f. Sistem Reproduksi : sering terjadi kemandulan.
g. Kulit : terdapat bekas suntikan bagi pengguna yang menggunakan jarum suntik, sehingga mereka
sering menggunakan baju lengan panjang.
h. Komplikasi pada kehamilan :
- Ibu : anemia, infeksi vagina, hepatitis, AIDS.
- Kandungan : abortus, keracunan kehamilan, bayi lahir mati
- Janin : pertumbuhan terhambat, premature, berat bayi rendah.
2. Dampak Sosial :
a. Di Lingkungan Keluarga :

Suasana nyaman dan tentram dalam keluarga terganggu, sering terjadi pertengkaran, mudah
tersinggung.
Orang tua resah karena barang berharga sering hilang.
Perilaku menyimpang / asosial anak ( berbohong, mencuri, tidak tertib, hidup bebas) dan menjadi
aib keluarga.
Putus sekolah atau menganggur, karena dikeluarkan dari sekolah atau pekerjaan, sehingga
merusak kehidupan keluarga, kesulitan keuangan.
Orang tua menjadi putus asa karena pengeluaran uang meningkat untuk biaya pengobatan dan
rehabilitasi.
b. Di Lingkungan Sekolah :
Merusak disiplin dan motivasi belajar.
Meningkatnya tindak kenakalan, membolos, tawuran pelajar.
Mempengaruhi peningkatan penyalahguanaan diantara sesama teman sebaya.
c. Di Lingkungan Masyarakat :
Tercipta pasar gelap antara pengedar dan bandar yang mencari pengguna / mangsanya.
Pengedar atau bandar menggunakan perantara remaja atau siswa yang telah menjadi
ketergantungan.
Meningkatnya kejahatan di masyarakat : perampokan, pencurian, pembunuhan sehingga
masyarkat menjadi resah.
Meningkatnya kecelakaan.
# UPAYA PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NAPZA :
Upaya pencegahan meliputi 3 hal :
1. Pencegahan primer : mengenali remaja resiko tinggi penyalahgunaan NAPZA dan melakukan
intervensi.
Upaya ini terutama dilakukan untuk mengenali remaja yang mempunyai resiko tinggi untuk
menyalahgunakan NAPZA, setelah itu melakukan intervensi terhadap mereka agar tidak
menggunakan NAPZA.
Upaya pencegahan ini dilakukan sejak anak berusia dini, agar faktor yang dapat menghabat proses
tumbuh kembang anak dapat diatasi dengan baik.
2. Pencegahan Sekunder : mengobati dan intervensi agar tidak lagi menggunakan NAPZA.
3. Pencegahan Tersier : merehabilitasi penyalahgunaan NAPZA.

Yang dapat dilakukan di lingkungan keluarga untuk mencegah penyalahgunaan NAPZA :


1. Mengasuh anak dengan baik.
- penuh kasih sayang
- penanaman disiplin yang baik
- ajarkan membedakan yang baik dan buruk
- mengembangkan kemandirian, memberi kebebasan bertanggung jawab
- mengembangkan harga diri anak, menghargai jika berbuat baik atau mencapai prestasi tertentu.
2. Ciptakan suasana yang hangat dan bersahabat
Hal ini membuat anak rindu untuk pulang ke rumah.
3. Meluangkan waktu untuk kebersamaan.
4. Orang tua menjadi contoh yang baik.
Orang tua yang merokok akan menjadi contoh yang tidak baik bagi anak.
5. Kembangkan komunikasi yang baik
Komunikasi dua arah, bersikap terbuka dan jujur, mendengarkan dan menghormati pendapat anak.
6. Memperkuat kehidupan beragama.
Yang diutamakan bukan hanya ritual keagamaan, melainkan memperkuat nilai moral yang
terkandung dalam agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari hari.
7. Orang tua memahami masalah penyalahgunaan NAPZA agar dapat berdiskusi dengan anak
Yang dilakukan di lingkungan sekolah untuk pencegahan penyalahgunaan NAPZA :
1. Upaya terhadap siswa :
Memberikan pendidikan kepada siswa tentang bahaya dan akibat penyalahgunaan NAPZA.
Melibatkan siswa dalam perencanaan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA
di sekolah.
Membentuk citra diri yang positif dan mengembangkan ketrampilan yang positif untuk tetap
menghidari dari pemakaian NAPZA dan merokok.
Menyediakan pilihan kegiatan yang bermakna bagi siswa ( ekstrakurikuler ).
Meningkatkan kegiatan bimbingan konseling.Membantu siswa yang telah menyalahgunakan
NAPZA untuk bisa menghentikannya.
Penerapan kehidupan beragama dalam kegiatan sehari hari.
2. Upaya untuk mencegah peredaran NAPZA di sekolah :
Razia dengan cara sidak
Melarang orang yang tidak berkepentingan untuk masuk lingkungan sekolah
Melarang siswa ke luar sekolah pada jam pelajaran tanpa ijin guru
Membina kerjasama yang baik dengan berbagai pihak.
Meningkatkan pengawasan sejak anak itu datang sampai dengan pulang sekolah.

3. Upaya untuk membina lingkungan sekolah :


Menciptakan suasana lingkungan sekolah yang sehat dengan membina huibungan yang harmonis
antara pendidik dan anak didik.
Mengupayakan kehadiran guru secara teratur di sekolah
Sikap keteladanan guru amat penting
Meningkatkan pengawasan anak sejak masuk sampai pulang sekolah.
Yang dilakukan di lingkungan masyarakat untuk mencegah penyalahguanaan NAPZA:
1. Menumbuhkan perasaan kebersamaan di daerah tempat tinggal, sehingga masalah yang terjadi
di lingkungan dapat diselesaikan secara bersama- sama.
2. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang penyalahguanaan NAPZA sehingga
masyarakat dapat menyadarinya.
3. Memberikan penyuluhan tentang hukum yang berkaitan dengan NAPZA.
4. Melibatkan semua unsur dalam masyarakat dalam melaksanakan pencegahan dan
penanggulangan penyalahguanaan NAPZA.
IV. KESIMPULAN
Masalah penyalahguanaan NARKOBA / NAPZA khususnya pada remaja adalah ancaman yang
sangat mencemaskan bagi keluarga khususnya dan suatu bangsa pada umumnya. Pengaruh
NAPZA sangatlah buruk, baik dari segi kesehatan pribadinya, maupun dampak sosial yang
ditimbulkannya.
Masalah pencegahan penyalahgunaan NAPZA bukanlah menjadi tugas dari sekelompok orang saja,
melainkan menjadi tugas kita bersama. Upaya pencegahan penyalahgunaan NAPZA yang dilakukan
sejak dini sangatlah baik, tentunya dengan pengetahuan yang cukup tentang penanggulangan
tersebut.
Peran orang tua dalam keluarga dan juga peran pendidik di sekolah sangatlah besar bagi
pencegahan penaggulangan terhadap NAPZA.
Diposkan oleh recares GP Bana di 19.11 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Senin, 18 November 2013

Bocah Pengidap AIDS Alami Kekerasan Fisik


Tanggal: Sunday, 30 June 2013
Topik: Narkoba

TEMPO.CO, 28 Juni 2013


Blitar - Meila (bukan nama sebenarnya), bocah pengidap HIV/AIDS yang dirawat di Rumah Sakit Umum
Mardi Waluyo Kota Blitar, Jawa Timur, diduga pernah mengalami kekerasan fisik. Dia juga sempat diincar
panti asuhan yang diduga jaringan pengemis yang hendak mengambil-alih perawatan Meila.
Muhammad Agung, relawan HIV/AIDS yang merawat Meila di Ruang Isolasi Rumah Sakit Mardi Waluyo,
mengatakan sejak ditemukan akhir Mei lalu hingga sekarang, bocah tersebut tak berani berbicara
panjang. Dia hanya mengangguk dan menggeleng saat ditanya petugas medis yang merawatnya. "Ada
trauma luar biasa yang ia alami," kata Agung kepada Tempo, Jumat, 28 Juni 2013.
Meski belum bisa mengorek keterangan dari Meila, Agung dan seorang psikolog rumah sakit yang
merawat memastikan Meila mengalami kekerasan fisik dan psikis. Dia diduga tertular HIV dari orang
tuanya yang kemudian meninggal dunia. Selanjutnya Meila dirawat oleh orang dekat keluarganya dan
mengalami kekerasan sebelum akhirnya dibuang di pasar dan diselamatkan petugas Dinas Sosial.
Saat ini Agung dan relawan lainnya berusaha menyembuhkan luka traumatik yang dialami Meila.
Ditemani seorang psikolog, bocah berusia lima tahun ini menghabiskan waktu dengan menggambar dan
bermain boneka di rumah sakit. Namun, hingga kini dia masih bungkam dengan asal-usulnya dan tak
bersedia menceritakan apa yang dialami kepada Agung.
Kekerasan fisik dan psikis yang dialami Meila, menurut Agung, cukup berat. Dalam kondisi ditinggal mati
ibunya, dia hidup di jalanan tanpa kasih sayang. Dan pada saat yang sama kondisi kesehatannya terus
menurun akibat serangan virus HIV/AIDS. "Bisa dibayangkan bagaimana penderitaan dia," kata Agung.
Saat kondisi kesehatannya membaik kelak, Agung berharap Meila bisa dirawat dan ditampung di panti
asuhan khusus penderita orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Bogor atau Papua. Tempat itu dianggap
paling tepat untuk Meila karena semua orang bisa menerimanya dengan baik. Sementara perlakuan
tersebut tidak ada pada pengurus panti asuhan di Blitar dan kota lainnya.
Agung menambahkan keberadaan Meila ini juga mencuri perhatian kelompok tak jelas untuk
mengadopsinya. Baru-baru ini dia menerima permintaan adopsi dari sebuah lembaga di Yogyakarta yang
bermaksud mengadopsi Meila untuk dirawat. Namun, setelah ditelusuri dan berkomunikasi lebih jauh,
Agung menduga kelompok ini adalah jaringan mistur (pengemis yang diatur). Mereka kerap mengadopsi
anak-anak kecil yang sakit untuk dipekerjakan di kawasan wisata Candi Borobudur. Biasanya anak
pengidap penyakit folio, gizi buruk, dan kelumpuhan menjadi sasaran utama mereka.
Hal ini dibenarkan juru bicara Rumah Sakit Mardi Waluyo Rita Triana. Sebelum menghubungi Agung,
kelompok ini terlebih dulu mengontaknya untuk meminta hak pengasuhan Meila. Namun, Rita
menyerahkan keputusan itu kepada Agung dan Dinas Sosial yang telah merawat Meila selama beberapa
waktu terakhir. "Kami akan merujuknya ke panti asuhan resmi agar tak disalahgunakan kelompok tak
jelas," kata Rita.
Sumber: http://www.tempo.co

Diposkan oleh recares GP Bana di 20.52 Tidak ada komentar:


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Sabtu, 16 November 2013

BAHAYA NARKOBA

Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat-obatan berbahaya. Seperti ungkapan
api kecil adalah kawan dan jika menjadi besar adalah lawan. Ini ungkapan yang sangat pas untuk
menggambarkan tentang narkoba.
Dalam dunia medis, narkoba bisa menjadi obat-obat yang berkhasiat untuk penyembuhan.
Penggunaan narkoba dalam dunia medis adalah legal. Nah yang menjadi penyalahgunaan adalah
ketika seseorang yang mengkonsumsi narkoba tanpa adanya pengawasan dari seorang ahli
kesehatan atau dokter.
Bila seseorang menggunakan narkoba tanpa adanya pengawasan dari dokter akan sangat
membahayakan si pengguna karena umumnya narkoba mengandung zat-zat beracun yang bisa
menyebabkan pengguna narkoba akan selalu ketergantungan atau kecanduan terhadap obatobatan tersebut, merusak organ-organ tubuh, mempengaruhi berkurangnya daya pikir seseorang
atau membuat pikiran menjadi tidak rasional dan kerusakan otak secara permanen. Akibat yang
lebih mengerikan lagi adalah berujung pada kematian.
Dilihat dari segi penggunaannya, narkoba dibedakan menjadi 2 golongan. Yakni pengguna
narkoba jalanan (ilegal) dan penggunaan narkoba legal dalam dunia medis yang disalahgunakan.
Dari penggolongan jenisnya, narkoba di bedakan menjadi 3 golongan besar yakni narkotika,
psikotropika dan zat aditif lainnya. Ketiga jenis narkoba tersbut juga sering disebut
dengan napza.
Data dan fakta menunjukkan persentase tertinggi penguna narkoba adalah anak-anak
sekolah dan anak-anak remaja. Sedangkan lokasi tempat mereka menikmati barang haram
tersebut umumnya di kos-kosan, club-club malam, diskotik dsbnya. Mereka dijadikan sasaran
empuk oleh para pengedar untuk mengeruk keuntungan dari penjualan barang haram tersebut.
Tidak pada mereka saja, kalau kita menonton berita di tv banyak contoh kasus artis-artis yang
terlibat dengan penggunaan narkoba. Bahkan ada yang tertangkap sampai 2 kali dalam kasus yang
sama. Ini menunjukkan cengkeraman narkoba yang sangat hebat pada seseorang sehingga sulit
untuk melepaskannya.
Mengingat maraknya peredaran narkoba di Indonesia yang sepertinya hukum di Indonesia
tidak membuat mereka (para pengedar atau bandar ) jera, selalu saja ada penyeledupan narkoba ke
wilayah Indonesia. Ini menjadi tugas dan kewajiban kita sebagai orang tua untuk mengawasi dan
lebih mewaspadai anak-anak kita di dalam pergaulan. Awasi tingkah laku dan pola hidup anak-anak.

Orangtua harus peka terhadap perubahan sikap anak-anak yang memang kalau mereka terlibat
penggunaan narkoba akan terlihat dengan sangat jelas. Kita patut dan wajib menjaga dan
melindungi mereka dari serangan hal semacam itu. Begitu mereka terjerumus, adalah masalah
besar di kemudian hari.
Diposkan oleh recares GP Bana di 22.35 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

ABORSI
Menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah abortus. Berarti
pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di
luar kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan
untuk
bertumbuh.
Dalam
1.
2.
3.

dunia

kedokteran
Aborsi
Aborsi
Aborsi

dikenal
3
Spontan
Buatan
Terapeutik

macam
/
/

aborsi,

yaitu:
Alamiah
Sengaja
Medis

Aborsi spontan / alamiah berlangsung tanpa tindakan apapun. Kebanyakan disebabkan karena
kurang
baiknya
kualitas
sel
telur
dan
sel
sperma,
sedangkan
Aborsi buatan / sengaja adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 28 minggu
sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana
aborsi
(dalam
hal
ini
dokter,
bidan
atau
dukun
beranak).
Aborsi terapeutik / medis adalah pengguguran kandungan buatan yang dilakukan atas indikasi
medik. Sebagai contoh, calon ibu yang sedang hamil tetapi mempunyai penyakit darah tinggi
menahun atau penyakit jantung yang parah yang dapat membahayakan baik calon ibu maupun
janin yang dikandungnya. Tetapi ini semua atas pertimbangan medis yang matang dan tidak
tergesa-gesa.
ALASAN

ABORSI

Aborsi dilakukan oleh seorang wanita hamil - baik yang telah menikah maupun yang belum
menikah dengan berbagai alasan. Akan tetapi alasan yang paling utama adalah alasan-alasan yang
non-medis
(termasuk
jenis
aborsi
buatan
/
sengaja)
Di
Amerika,
alasan-alasan
1. Tidak ingin memiliki anak karena
tanggung
jawab

dilakukannya
khawatir mengganggu
lain

aborsi
adalah:
karir, sekolah atau
(75%)

2.
3.

Tidak
Tidak

memiliki
ingin

cukup
uang
memiliki

untuk
anak

merawat
tanpa

anak
ayah

(66%)
(50%)

Alasan lain yang sering dilontarkan adalah masih terlalu muda (terutama mereka yang hamil di
luar nikah), aib keluarga, atau sudah memiliki banyak anak. Ada orang yang menggugurkan
kandungan karena tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Mereka tidak tahu akan keajaibankeajaiban yang dirasakan seorang calon ibu, saat merasakan gerakan dan geliatan anak dalam
kandungannya.
Alasan-alasan seperti ini juga diberikan oleh para wanita di Indonesia yang mencoba meyakinkan
dirinya bahwa membunuh janin yang ada didalam kandungannya adalah boleh dan benar . Semua
alasan-alasan
ini
tidak
berdasar.
Sebaliknya, alasan-alasan ini hanya menunjukkan ketidakpedulian seorang wanita,
yang
hanya
memikirkan
kepentingan
dirinya
sendiri.
Data ini juga didukung oleh studi dari Aida Torres dan Jacqueline Sarroch Forrest (1998) yang
menyatakan bahwa hanya 1% kasus aborsi karena perkosaan atau incest (hubungan intim satu
darah), 3% karena membahayakan nyawa calon ibu, dan 3% karena janin akan bertumbuh dengan
cacat
tubuh
yang
serius.
Sedangkan 93% kasus aborsi adalah karena alasan-alasan yang sifatnya untuk kepentingan diri
sendiri termasuk takut tidak mampu membiayai, takut dikucilkan, malu atau gengsi.
Resiko
Aborsi memiliki resiko yang tinggi terhadap kesehatan maupun keselamatan seorang wanita.
Tidak benar jika dikatakan bahwa jika seseorang melakukan aborsi ia tidak merasakan apa-apa
dan
langsung
boleh
pulang.
Ini adalah informasi yang sangat menyesatkan bagi setiap wanita, terutama mereka yang sedang
kebingungan
karena
tidak
menginginkan
kehamilan
yang
sudah
terjadi.
Ada
1.
2.

macam
Resiko

resiko
kesehatan
terhadap
wanita
yang
kesehatan
dan
keselamatan
Resiko
gangguan

melakukan
secara

aborsi:
fisik
psikologis

Resiko
kesehatan
dan
keselamatan
fisik
Pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada beberapa resiko yang akan
dihadapi seorang wanita, seperti yang dijelaskan dalam buku Facts of Life yang ditulis oleh
Brian
Clowes,
Phd
yaitu:
1.
Kematian
mendadak
karena
pendarahan
hebat
2.
Kematian
mendadak
karena
pembiusan
yang
gagal
3.
Kematian
secara
lambat
akibat
infeksi
serius
disekitar
kandungan
4.
Rahim
yang
sobek
(Uterine
Perforation)

5. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada
anak
berikutnya
6. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita)
7.
Kanker
indung
telur
(Ovarian
Cancer)
8.
Kanker
leher
rahim
(Cervical
Cancer)
9.
Kanker
hati
(Liver
Cancer)
10. Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat
pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya
11. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy)
12.
Infeksi
rongga
panggul
(Pelvic
Inflammatory
Disease)
13.
Infeksi
pada
lapisan
rahim
(Endometriosis)

Resiko
kesehatan
mental
Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi kesehatan dan
keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang sangat hebat
terhadap
keadaan
mental
seorang
wanita.
Gejala ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai Post-Abortion Syndrome (Sindrom PaskaAborsi) atau PAS. Gejala-gejala ini dicatat dalam Psychological Reactions Reported After
Abortion
di
dalam
penerbitan
The
Post-Abortion
Review
(1994).
Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami hal-hal seperti berikut ini:
1.
Kehilangan
harga
diri
(82%)
2.
Berteriak-teriak
histeris
(51%)
3.
Mimpi
buruk
berkali-kali
mengenai
bayi
(63%)
4.
Ingin
melakukan
bunuh
diri
(28%)
5.
Mulai
mencoba
menggunakan
obat-obat
terlarang
(41%)
6.
Tidak
bisa
menikmati
lagi
hubungan
seksual
(59%)
Diluar hal-hal tersebut diatas para wanita yang melakukan aborsi akan dipenuhi perasaan
bersalah
yang
tidak
hilang
selama
bertahun-tahun
dalam
hidupnya.
HUKUM

DAN

ABORSI

Menurut hukum-hukum yang berlaku di Indonesia, aborsi atau pengguguran janin termasuk
kejahatan,
yang
dikenal
dengan
istilah
Abortus
Provocatus
Criminalis
Yang
menerima
hukuman
1.
Ibu
yang
melakukan
2.
Dokter
atau
bidan
atau
dukun
yang
membantu
melakukan
3.
Orang-orang
yang
mendukung
terlaksananya

adalah:
aborsi
aborsi
aborsi

Macam-macam Aborsi
Saud (2006) mengemukakan bahwa secara garis besar aborsi dapat kita bagi menjadi
dua bagian; yakni Aborsi Spontan (Spontaneous Abortion) dan Abortus Provokatus (Provocation
Abortion).
Abortus Spontan
Menurut Hawari (2006, hal. 62) aborsi spontan adalah kehamilan berhenti karena
faktor-faktor alamiah. Selanjutnya Tjokronegoro (2002, hal 74) mengatakan bahwa aborsi
spontan adalah aborsi yang tidak sengaja atau terjadi diluar kemauan manusia. Aborsi spontan
ini diantaranya terjadi karena perdarahan, kecelakaan, penyakit, sipilis, dan lain sebagainya.
Aborsi spontan ini masih terdiri dari berbagai macam tahap yakni abortus iminen, abortus
inkomplitus, abortus komplitus, dan abortus insipien.
Abortus Iminen. Saud (2006) menyatakan dalam bahasa Inggris diistilahkan dengan
threaten abortion, terancam keguguran. Di sini keguguran belum terjadi, tetapi ada tanda-tanda
yang menunjukkan ancaman bakal terjadi keguguran. Selanjutnya Billy (2008) menjelaskan
aborsi iminens, yaitu adanya tanda-tanda perdarahan yang mengancam adanya aborsi, di mana
janin sendiri belum terlepas dari rahim. Keadaan seperti masih dapat diselamatkan dengan
pemberian obat hormonal serta istirahat total.
Abortus Inkomplitus. Pada aborsi ini sudah terjadi pembukaan rahim, janin sudah
terlepas & keluar dari dalam rahim namun masih ada sisa plasenta yang menempel dalam rahim.
Aborsi ini menimbulkan perdarahan yang banyak sebelum akhirnya plasenta benar-benar keluar
dari rahim. Penanganan yang harus dilakukan adalah kuretase untuk mengeluarkan sisa plasenta
yang tertinggal. Kemudian Admin (2008) menambahkan aborsi inkompletus yaitu pengeluaran
sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal
dalam uterus.
Abortus Komplitus. Abortus komplitus adalah semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan.
Billy (2008) mengatakan bahwa abortus komplitus yaitu aborsi di mana janin & plasenta sudah
keluar secara lengkap dari dalam rahim, walaupun masih ada sisa-sisa perdarahan yang kadang
masih memerlukan tindakan kuretase untuk membersihkannya. Selanjutnya Stevan (2008)
menambahkan abortus komplitus yaitu pengeluaran keseluruhan buah kehamilan dari rahim.
Keadaan demikian biasanya tidak memerlukan pengobatan.
Abortus Insipien (missed abortion). Istilah ini dipakai untuk keadaan dimana hasil
pembuahan yang telah mati tertahan dalam rahim selama 8 minggu atau lebih. Penderitanya
biasanya tidak menderita gejala, kecuali tidak mendapat haid. Kebanyakan akan berakhir dengan

pengeluaran buah kehamilan secara spontan dengan gejala yang sama dengan abortus yang lain.
Kemudian Saud (2006) menambahkan abortus insipien adalah buah kehamilan mati di dalam
kandungan,lepas dari tempatnya, tetapi belum dikeluarkan.
Abortus Provokatus.
Aborsi Provokatus (sengaja) masih terbagi dua bagian kategori besar yakni Abortus
Provokatus Medisinalis dan Abortus Provokatus Kriminalis (kejahatan).
Abortus Provokatus Medisinalis. Tjokronegoro (2002, hal. 75) menjelaskan abortus
provokatus medisinalis adalah abortus yang dilakukan oleh dokter atas dasar indikasi medis.
Dengan kata lain, sesuai dengan pemeriksaan medis yang menunjukkan adanya gejala-gejala yang
membahayakan jiwa si ibu.

Selanjutnya Hawari (2006) menyatakan abortus provokatus

medisinalis adalah penghentian kehamilan (terminasi) yang disengaja karena alasan medik.
Praktek ini dapat dipertimbangkan, dapat dipertanggung-jawabkan, dan dibenarkan oleh hukum.
Kemudian Masirfan (2007) menambahkan abortus provocatus medicinalis, yaitu aborsi yang
dilakukan oleh dokter atas dasar indikasi medis, yang bertujuan menyelamatkan jiwa ibu yang
terancam bila kehamilan dipertahankan.
Abortus Provocatus Kriminalis. Abortus provocatus kriminalis, yaitu aborsi yang
dilakukan tanpa indikasi medis yang bertujuan untuk mengakhiri kehamilan yang tidak
dikehendaki. Tjokronegoro (2002, hal. 75) Abortus provokatus kriminalis biasanya dilakukan
untuk menghilangkan jejak hasil hubungan seks di luar nikah atau menghilangkan kehamilan yang
tidak dikehendaki, baik karena pertimbangan ekonomi maupun akibat pergaulan seks secara
bebas.
Selanjutnya Hawari (2006, hal. 62) abortus provocatus kriminalis, yakni penghentian
kehamilan (terminasi) atau pengguguran yang melanggar hukum agama, dan melanggar undangundang.
Teknik Aborsi
Boyke (2007) mengemukakan bahwa praktik aborsi dilakukan dengan beberapa macam
teknik yaitu teknik adilatasi dan kuret, teknik sunction, teknik salt poisoned, teknik
histerotomi, teknik prostaglandin dan pil RU 486.
Teknik Adilatasi dan Kuret
Teknik ini dilakukan dengan cara sebuah alat dimasukkan untuk memperlebar lubang
leher rahim. Kemudian, janin yang hidup itu dilepaskan dari dinding rahim, dicabik kecil-kecil
menggunakan alat yang tajam, dan dibuang ke luar. Selanjutnya Ady (2008) menyatakan bahwa

teknik ini dilakukan dengan cara lubang leher rahim diperbesar, agar rahim dapat dimasuki
kuret, yaitu sepotong alat yang tajam. Kemudian janin yang hidup itu dicabik kecil-kecil,
dilepaskan dari dinding rahim dan di buang keluar. Umumnya terjadi banyak pendarahan. Bidan
operasi ini harus mengobatinya dengan baik, bila tidak, akan terjadi infeksi.
Menurut Tjokronegoro (2002, hal. 134) teknik ini menggunakan alat khusus mulut rahim
dilebarkan, kemudian janin dicoret dengan alat seperti sendok kecil. Adanali (2002) menjelaskan
dalam teknik ini, mulut rahim dibuka atau dimekarkan dengan paksa untuk memasukkan pisau
baja yang tajam. Bagian tubuh janin dipotong berkeping-keping dan diangkat, sedangkan
plasenta dikerok dari dinding rahim. Darah yang hilang selama dilakukannya metode ini lebih
banyak dibandingkan dengan metode penyedotan. Begitu juga dengan perobekan rahim dan
radang paling sering terjadi.
Figur 1
Teknik Adilatasi dan Kuret

(1)

(2)

Teknik Sunction
Adanali (2002) mengatakan bahwa pada 1-3 bulan pertama dalam kehidupan janin, aborsi
dilakukan dengan metode penyedotan. Teknik inilah yang paling banyak dilakukan untuk
kehamilan usia dini. Mesin penyedot bertenaga kuat dengan ujung tajam dimasukkan ke dalam
rahim lewat mulut rahim yang sengaja dimekarkan. Penyedotan ini mengakibatkan tubuh bayi
berantakan dan menarik ari-ari (plasenta) dari dinding rahim. Hasil penyedotan berupa darah,
cairan ketuban, bagian-bagian plasenta dan tubuh janin terkumpul dalam botol yang dihubungkan
dengan alat penyedot .
Selanjutnya Land (2008) menambahkan bahwa ketelitian dan kehati-hatian dalam
menjalani metode ini sangat perlu di jaga guna menghindari robeknya rahim akibat salah sedot
yang dapat mengakibatkan pendarahan hebat yang terkadang berakhir pada operasi
pengangkatan rahim. Peradangan dapat terjadi dengan mudahnya jika masih ada sisa-sisa
plasenta atau bagian dari janin yang tertinggal di dalam rahim.

Teknik Salt Poisoned


Cara ini dilakukan pada janin berusia lebih dari 16 minggu (4 bulan), ketika sudah cukup
banyak cairan yang terkumpul di sekitar bayi dalam kantung anak, sebatang jarum yang panjang
dimasukkan melalui perut ibu ke dalam kantung bayi, lalu sejumlah cairan disedot keluar dan
larutan garam yang pekat disuntikkan ke dalamnya. Bayi ini menelan garam beracun itu dan ia
amat menderita. Ia meronta-ronta dan menendang-nendang seolah-olah dibakar hidup-hidup
oleh racun itu. Dengan cara ini, bayi akan mati dalam waktu kira-kira 1 jam, kulitnya benar-benar
hangus. Dalam waktu 24 jam kemudian, ibu akan mengalami sakit beranak dan melahirkan
seorang bayi yang sudah mati.
Selanjutnya Boyke (2007) menjelaskan bahwa cara ini dilakukan pada janin berusia lebih
dari 16 minggu, ketika sudah cukup banyak cairan yang terkumpul di sekitar bayi dalam kantong
anak sehingga sulit memasukkan alat karena ruang gerak bayi semakin menyempit.

Teknik Histerotomi
Pengguguran bayi dilakukan ketika kandungan berumur lebih dari enam bulan. Cara ini
menggunakan sebuah alat bedah yang dimasukkan melalui dinding perut. Bayi kadang langsung
dibunuh dengan menggunakan teknik pil bunuh (Pil Roussell-Uclaf/RU-486). Selanjutnya Gulardi
(2002) menjelaskan bahwa teknik ini terutama dilakukan 3 bulan terakhir dari kehamilan. Rahim
dimasuki alat bedah melalui dinding perut. Bayi kecil ini di keluarkan dan di biarkan saja agar
mati atau kadang-kadang langsung di bunuh.

Teknik Prostaglandin
Penggunaan cara terbaru ini memakai bahan-bahan kimia yang dikembangkan Upjohn
Pharmaceutical Co. Bahan-bahan kimia ini mengakibatkan rahim ibu mengerut, sehingga bayi
yang hidup itu mati dan terdorong keluar. Kerutan ini sedemikian kuatnya sehingga ada bayi-bayi
yang terpenggal. Sering juga bayi yang keluar itu masih hidup. Efek sampingan bagi si ibu banyak
sekali ada yang mati akibat serangan jantung waktu cairan kimia itu disuntikkan. Kemudian Sigi
(2005) menjelaskan teknik baru ini menggunakan bahan-bahan kimia yang mengakibatkan rahim
ibu mengerut sehingga bayi yang hidup itu mati dan terdorong keluar.
Pil Roussell-Uclaf (RU 486)

Pil Roussell-Uclaf (RU-486), satu campuran obat buatan Perancis tahun 1980.
Pengaborsiannya butuh waktu tiga hari dan disertai kejang-kejang berat serta pendarahan yang
dapat terus berlangsung sampai 16 hari. Menurut Trujilo (2003) masyarakat menamakannya "Pil
Aborsi Perancis". Teknik ini menggunakan 2 hormon sintetik yaitu mifepristone dan misoprostol
untuk secara kimiawi menginduksi kehamilan usia 5-9 minggu.
Di Amerika Serikat, prosedur ini dijalani dengan pengawasan ketat dari klinik aborsi
yang mengharuskan kunjungan sedikitnya 3 kali ke klinik tersebut. Pada kunjungan pertama,
wanita hamil tersebut di periksa dengan seksama. Jika tidak ditemukan kontra-indikasi (seperti
perokok berat, penyakit asma, darah tinggi, kegemukan, dll) yang malah dapat mengakibatkan
kematian pada wanita hamil itu, maka ia diberikan pil RU 486.
Selanjutnya Adanali (2002) menambahkan kerja pil RU 486 adalah untuk memblokir
hormon progesteron yang berfungsi vital untuk menjaga jalur nutrisi ke plasenta tetap lancar.
Karena pemblokiran ini, maka janin tidak mendapatkan makanannya lagi dan menjadi kelaparan.
Pada kunjungan kedua, yaitu 36-48 jam setelah kunjungan pertama, wanita hamil ini diberikan
suntikan hormon prostaglandin, biasanya misoprostol, yang mengakibatkan terjadinya kontraksi
rahim dan membuat janin terlepas dari rahim.
Kebanyakan wanita mengeluarkan isi rahimnya itu dalam 4 jam saat menunggu di klinik,
tetapi 30% dari mereka mengalami hal ini di rumah, di tempat kerja, di kendaraan umum, atau di
tempat-tempat lainnya, ada juga yang perlu menunggu hingga 5 hari kemudian. Kunjungan ketiga
dilakukan kira-kira 2 minggu setelah pengguguran kandungan, untuk mengetahui apakah aborsi
telah berlangsung. Jika belum, maka operasi perlu dilakukan (5-10 persen dari seluruh kasus).
Ada beberapa kasus serius dari penggunaan RU 486, seperti aborsi yang tidak terjadi hingga 44
hari kemudian, pendarahan hebat, pusing-pusing, muntah-muntah, rasa sakit hingga kematian.
Di Amerika Serikat, percobaan penggunaan RU 486 diadakan pada tahun 1995. Seorang
wanita diketahui hampir meninggal setelah kehilangan separuh dari volume darahnya dan
akhirnya memerlukan operasi darurat. Efek jangka panjang dari RU 486 belum diketahui secara
pasti, tetapi beberapa alasan yang dapat dipercaya mengatakan bahwa RU 486 tidak saja
mempengaruhi kehamilan yang sedang berlangsung, tetapi juga dapat mempengaruhi kehamilan
selanjutnya, yaitu kemungkinan keguguran spontan dan cacat pada bayi yang dikandung.
Alasan Wanita untuk Aborsi
Menurut Reardon (2007) Aborsi dilakukan oleh seorang wanita hamil, baik yang telah
menikah maupun yang belum menikah dengan berbagai alasan. Sesuai dengan adat di Indonesia
yang menilai kehamilan di luar nikah merupakan aib bagi keluarga dan belum bisa diterima oleh
masyarakat, akhirnya mereka dengan mudah membunuh janin yang ada di dalam rahimnya.

Selanjutnya Djena (2008) menambahkan bahwa menurut penelitian Elliot Institutes Post
Abortion Review menunjukkan bahwa dalam 95% dari semua kasus pria memegang peran utama
dalam keputusan aborsi dan 80% wanita ingin melahirkan bila didukung. Oleh sebab itu seringkali
aborsi adalah pilihan orang lain dalam kehidupannya. Ada tiga alasan wanita memutuskan untuk
aborsi yaitu alasan medis, alasan sosial (non-medis) dan alasan psikiatris.
Alasan Medis
Jika kehamilan dapat membawa maut atau bahaya bagi wanita seperti wanita
berpenyakit jantung, penyakit paru-paru, hipertensi, penyakit ginjal, diabetes mellitus, kanker
payudara, kanker leher rahim. Kemudian Kusmaryanto (2005, hal. 121) menjelaskan bahwa aborsi
dengan alasan medis adalah aborsi yang dilakukan oleh karena adanya tanda atau keadaan yang
menunjukkan atau menggambarkan pelangsungan kehamilan akan menyebabkan kerusakan serius
pada kesehatan ibu yang tidak bisa dipulihkan atau bahkan bisa menyebabkan kematian ibu.
Tetapi untuk melakukan hal tersebut juga harus ada usaha yang serius untuk mengetahui
apakah memang aborsi ini secara objektif menjadi satu-satunya cara untuk menjaga kesehatan
ibu. Apakah masih ada kemungkinan lain untuk menjaga kesehatan itu dengan cara yang lain
tanpa harus melakukan aborsi. Disini diperlukan suatu kejujuran dalam menegakkan diagnosis
medis dan sekaligus tugas mulia riset medis untuk menemukan cara-cara baru dalam menjaga
dan memelihara hidup manusia.
Selanjutnya Hawari (2006, hal. 65) menambahkan bahwa penghentian kehamilan yang
berdasarkan pertimbangan medik, misalnya bila kehamilan itu diteruskan dapat membahayakan
keselamatan ibu yang bersangkutan. Atas pertimbangan medik maka janin yang dikandungnya
dapat digugurkan. Atau ibu yang mengidap suatu penyakit, misalnya mengalami gangguan jiwa
atau jantung. Apalagi ibu sedang meminum obat-obatan yang dapat mengakibatkan gangguan
perkembangan janin dalam kandungan.
Pengguguran berlatar belakang medikpun ada ketentuannya. Boleh dilakukan terminasi
kehamilan (aborsi), dengan catatan janin yang dikandungnya belum berumur duabelas minggu
(tiga bulan). Karena secara kedokteran sejak usia ini baru dapat didengar bunyi jantung.
Bentuknya sudah lengkap hanya ukurannya masih sangat kecil. Setelah melewati usia itu dengan
resiko apapun, janin tidak boleh digugurkan; karena teknologi modern sudah dapat menjaga

kehamilan ibu. Kalau dia lemah jantung bisa diperkuat jantungnya, kalaupun sudah sembilan bulan
tidak bisa melahirkan juga dapat dilakukan pembedahan.
Alasan Sosial (Non-Medis)
Dengan berbagai alasan seseorang melakukan aborsi tetapi alasan yang paling utama
adalah alasan-alasan non-medis. Menurut Katangsungkana (2005) alasan seseorang melakukan
aborsi antara lain: hamil diluar nikah, tidak ingin memiliki anak, belum siap karena masih terlalu
muda, sudah memiliki banyak anak, akibat perkosaan, dan hubungan intim satu darah.
Selanjutnya Jacqueline (2005) menambahkan alasan apapun yang wanita lakukan untuk
melakukan aborsi menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui akan keajaiban-keajaiban yang
dirasakan seorang calon ibu dan hanya menunjukkan ketidakpedulian seorang wanita, yang hanya
memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Aborsi dengan alasan sosial (non-medis) dapat terjadi
karena berbagai hal, antara lain: kehamilan tidak diinginkan/ kehamilan di luar nikah dan masalah
ekonomi.
Kehamilan tidak diinginkan/ kehamilan di luar nikah. Tindakan aborsi kebanyakan terjadi
karena kehamilan yang tidak diinginkan. dan biasanya ibu berusaha dengan berbagai cara untuk
mengakhiri kehamilannya tersebut. Jika tidak dapat memperoleh pertolongan melalui jalur resmi
maka ibu akan mencoba jalur non-resmi yang tentu saja memiliki risiko amat tinggi dan tentu
saja kemungkinan besar tindakan ini akan berakhir pada kematian sang ibu.
Riza (2007) mengemukakan bahwa kehamilan yang tidak diingini dalam jumlah yang besar
juga terjadi pada kelompok remaja. Para remaja yang dihadapkan pada realitas pergaulan bebas
masyarakat modern itu, tidak dibekali sedikitpun dengan pengetahuan tentang fisiologi
reproduksi dan perilaku seksual yang benar. Berdasarkan data WHO diketahui bahwa di seluruh
dunia, setiap tahunnya diperkirakan ada sekitar 15 juta remaja yang mengalami kehamilan.
Sekitar 60% di antaranya tidak ingin melanjutkan kehamilan tersebut dan berupaya
mengakhirinya.
Kemudian Wimpie (2008) menjelaskan meningkatnya kasus aborsi di kalangan remaja
semata bukan salah remaja. Kondisi lingkungan sosial yang berkembang secara cepat, dan di sisi
lain pengetahuan remaja tentang seksual dan aborsi sangat rendah merupakan salah satu faktor
penyebab. Apalagi pergaulan remaja yang makin bebas, juga menjadi penyebab meningkatnya
kasus aborsi. Terjadinya perubahan pola hidup masyarakat, terutama dalam pergaulan bebas,
ternyata tidak dibarengi dengan pengetahuan seks yang benar. Pendidikan seks bagi sebagian

masyarakat masih dinilai tabu. Kondisi ini makin menambah jumlah remaja yang hamil sebelum
nikah. Melihat kenyataan itu, remaja yang melakukan aborsi sesungguhnya menjadi korban.
Masalah Ekonomi. Salah satu alasan terbesar melakukan aborsi adalah masalah ekonomi,
karena biasanya ibulah yang khawatir kalau tidak bisa memberikan makan dan keperluan lain.
Pertolongan aborsi yang tidak aman lebih banyak dialami oleh kelompok masyarakat yang miskin,
karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan untuk membiayai jasa pertolongan profesional.
Sebaliknya, kelompok masyarakat yang kaya yang dikatakan relatif lebih banyak yang melakukan
aborsi, mempunyai risiko lebih kecil untuk mendapat pertolongan aborsi yang tidak aman.
Kusmaryanto (2005, hal. 123) menyatakan bahwa alasan ekonomi tidak bisa dijadikan
alasan untuk dilakukannya aborsi sebab hidup manusia itu jauh lebih bernilai daripada semua
nilai ekonomi. Hidup manusia itu tidak bisa diganggu gugat. Selanjutnya Hamina (2006)
menambahkan bahwa kehamilan yang tidak dikehendaki boleh mendatangkan kesan negatif
terhadap wanita mempunyai beban fisikal, emosi dan keuangan. Wanita juga kerap mengalami
tekanan dan kemurungan apabila mengandung anak yang tidak dikehendaki. Sebagai penyelesaian
wanita mengambil keputusan menggugurkan kandungan secara diam-diam.
Dampak/ Resiko Aborsi
Aborsi memiliki resiko yang tinggi terhadap kesehatan maupun keselamatan seorang
wanita. Tidak benar jika dikatakan bahwa jika seseorang melakukan aborsi tidak merasakan apaapa dan langsung boleh pulang. Resiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi
berisiko kesehatan dan keselamatan secara fisik dan gangguan psikologis.
Resiko pada Kesehatan dan Keselamatan secara Fisik
Clowes (2008) mengemukakan pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi
ada beberapa resiko yang akan dihadapi seorang wanita yaitu: a) kematian mendadak karena
pendarahan hebat, b) kematian mendadak karena pembiusan yang gagal, c) kematian secara
lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan, d) rahim yang sobek, e) kerusakan leher rahim
yang

akan

menyebabkan

cacat

pada anak

berikutnya,

f)

kanker

payudara

karena

ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita, g) kanker indung telur, h) kanker leher rahim,
i) kanker hati, j) kelainan pada plasenta/ari-ari yang akan menyebabkan cacat pada anak
berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya, k) menjadi mandul/tidak
mampu memiliki keturunan lagi, l) infeksi rongga panggul, m) infeksi pada lapisan rahim.

Resiko Gangguan Psikologis


Menurut Clowes(2008) proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi
dari segi kesehatan dan keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak
yang sangat hebat terhadap keadaan mental seorang wanita.
Reardon (2007) menyatakan bila seorang ibu secara kasar dipisahkan dari anaknya akan
terjadi trauma alamiah. Ibu telah mengalami peristiwa kematian yang tidak alamiah. Dalam
banyak kasus telah melanggar etika moral dan nalurinya yang alamiah. Terjadi pukulan yang
menghancurkan

citra

dirinya

sebagai

seorang

ibu

yang

memelihara,

melindungi

dan

mempertahankan hidup.
Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami hal-hal sebagai
berikut: 55% dari yang mengaborsi mengalami mimpi buruk dan dihantui aborsi, 73%
menggambarkan kilas balik (flashback), 58% wanita melaporkan berpikiran bunuh diri yang
dihubungkan secara langsung dengan aborsi yang telah dilakukan, 68% menyatakan merasa buruk
tentang dirinya, 79% melaporkan rasa bersalah tanpa mampu memaafkan diri sendiri, 63%
mengalami ketakutan akan kehamilan mendatang dan menjadi orangtua, mengalami kesulitan bila
berdekatan dengan bayi-bayi, 67% menggambarkan dirinya tumpul emosinya.
Komplikasi Aborsi
Tjokronegoro (2002, hal. 15) menyatakan bahwa pengakhiran kehamilan tidak selalu
aman. Di negara-negara yang pengakhiran kehamilannya belum legal, banyak perempuan mati
atau mendapat masalah kedokteran yang serius setelah berusaha melakukan pengakhiran
kehamilannya sendiri atau pergi ke dukun yang memakai alat-alat sangat primitif atau tidak
bersih. Akhirnya perempuan-perempuan itu akan mengalami komplikasi yang sangat serius,
seperti: perforasi uterus, sisa-sisa plasenta yang tertinggal, perdarahan, robekan mulut rahim,
infeksi hebat, keracunan, shock dan gangrene. Di seluruh dunia, di negara-negara dimana
pengakhiran kehamilan masih ilegal, pengakhiran kehamilan merupakan penyebab utama kematian
ibu.
Menurut Azrul (2006) aborsi sangat berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan bagi
wanita apabila dilakukan dengan sembarangan oleh yang tidak terlatih. Perdarahan yang terus
menerus serta infeksi yang terjadi setelah tindakan aborsi merupakan sebab utama kematian

bagi perempuan yang mengalami aborsi. Akan tetapi kematian yang disebabkan komplikasi sering
tidak muncul dalam laporan kematian tetapi dilaporkan sebagai perdarahan atau sepsis.
Selanjutnya Yathie (2007) menambahkan bahwa komplikasi akibat aborsi yang tidak
aman menyebabkan kurang lebih dari 40% kematian ibu diseluruh dunia. Artinya paling tidak
200.000 dari 500.000 kematian setiap tahun akibat proses yang berhubungan dengan kehamilan
dan persalinan, meninggal karena aborsi yang tidak aman. Baik yang tercatat maupun yang tidak
tercatat. Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain: perforasi dalam, infeksi, perdarahan dan
pengakhiran kehamilan tidak lengkap.
Perforasi Dalam
Melakukan kerokan harus diingat bahwa selalu ada kemungkinan terjadinya perforasi
dinding uterus, yang dapat menjurus ke rongga peritoneum, ke ligamentum latum, atau ke
kandung kencing. Oleh sebab itu letak uterus harus
ditetapkan lebih dahulu dengan seksama pada awal tindakan, dan pada dilatasi serviks jangan
digunakan tekanan berlebihan. Pada kerokan kuret dimasukkan dengan hati-hati, akan tetapi
penarikan kuret ke luar dapat dilakukan dengan tekanan yang lebih besar.
Selanjutnya Joomla (2008) menjelaskan bahwa bahaya perforasi ialah perdarahan dan
peritonitis. Apabila terjadi perforasi atau diduga terjadi peristiwa itu, penderita harus diawasi
dengan seksama dengan mengamati keadaan umum, nadi, tekanan darah, kenaikan suhu, turunnya
hemoglobin, dan keadaan perut bawah. Jika keadaan meragukan atau ada tanda-tanda bahaya,
sebaiknya dilakukan laparatomi percobaan dengan segera.

Infeksi
Menurut Riza (2007) komplikasi dini dan yang paling sering adalah infeksi yang
disebabkan oleh aborsi yang tidak lengkap, yang sebagian atau seluruh produk pembuahan masih
tersisa di dalam rahim. Infeksi merupakan salah satu komplikasi aborsi yang paling fatal.
Infeksi yang paling serius yang jarang ditemukan adalah infeksi bakteri anaerob yang
menyebabkan tetanus. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh penggunaan peralatan yang tidak
bersih.
Clowes (2008) menyatakan bahwa apabila syarat asepsis dan antisepsis tidak diindahkan,
maka bahaya infeksi sangat besar. Infeksi kandungan yang terjadi dapat menyebar ke seluruh

peredaran darah, sehingga menyebabkan kematian. Bahaya lain yang ditimbulkan abortus
kriminalis antara lain infeksi pada saluran telur. Akibatnya, sangat mungkin tidak bisa terjadi
kehamilan lagi.
Perdarahan
Penyebab kematian kedua yang paling penting adalah perdarahan. Perdarahan dapat
disebabkan oleh aborsi yang tidak lengkap atau cedera organ panggul atau usus. Kematian
biasanya disebabkan oleh tidak tersedianya darah atau fasilitas transfusi rumah sakit.
Selanjutnya Joomla (2008) menambahkan bahwa kerokan pada kehamilan agak tua atau pada
mola hidatidosa ada bahaya perdarahan. Oleh sebab itu, jika perlu hendaknya diselenggarakan
transfusi darah dan sesudah kerokan selesai dimasukkan tampon kasa ke dalam uterus dan
vagina.
Pengakhiran Kehamilan Tidak Lengkap
Menurut Tjokronegoro (2002, hal. 17) pengakhiran kehamilan tidak lengkap yaitu
sebagian jaringan kehamilan masih tertinggal di dalam rongga uterus, sehingga tindakannya
harus di ulang. Sesuai dengan tujuan dari abortus itu sendiri yaitu ingin mengakhiri kehamilan,
maka nasib janin pada kasus abortus provokatus kriminalis sebagian besar meninggal. Kalaupun
bisa hidup, itu berarti tindakan abortus gagal dilakukan dan janin kemungkinan besar mengalami
cacat fisik.
Pasal yang Terkait dalam Aborsi
Menurut hukum-hukum yang berlaku di Indonesia, aborsi atau pengguguran janin
termasuk kejahatan, yang dikenal dengan istilah Abortus Provocatus Criminalis. Dimana yang
menerima hukuman yaitu: ibu yang melakukan aborsi, dokter, bidan atau dukun yang membantu
melakukan aborsi, orang-orang yang mendukung terlaksananya aborsi. Hawari (2006, hal. 59)
menyatakan dalam UU No. 23 Tahun 1992, tentang kesehatan mengatakan dalam kondisi
tertentu bisa dilakukan tindakan medis tertentu (aborsi).

artikel aborsi di indonesia


Aborsi

di

Indonesia

Oleh

redaksi

pada

Jum,

12/21/2007

10:57.
Artikel

Pengertian aborsi adalah tindakan penghentian kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan (sebelum usia 20 minggu kehamilan), bukan semata untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil
dalam keadaan darurat tapi juga bisa karena sang ibu tidak menghendaki kehamilan itu.
Ada dua macam aborsi, yaitu aborsi spontan dimana aborsi terjadi secara alami, tanpa intervensi
tindakan medis, dan aborsi yang direncanakan dimana melalui tindakan medis dengan obat-obatan
saja (jamu, dsb) atau tindakan bedah, atau tindakan lain yang menyebabkan pendarahan lewat vagina.
Penghentian kehamilan pada usia dimana janin sudah mampu hidup mandiri di luar rahim ibu (lebih
dari 21 minggu usia kehamilan), bukan lagi tindakan aborsi tetapi pembunuhan janin atau infantisida.
Saat ini aborsi masih merupakan masalah kontroversial di masyarakat.Indonesia, namun terlepas dari
kontorversi tersebut, aborsi diindikasikan merupakan masalah kesehatan masyarakat karena
memberikan dampak pada kesakitan dan kematian ibu. Sebagaimana diketahui penyebab utama
kematian ibu hamil dan melahirkan adalah perdarahan, infeksi dan eklampsia. Namun sebenarnya
aborsi juga merupakan penyebab kematian ibu, hanya saja muncul dalam bentuk komplikasi
perdarahan dan sepsis (Gunawan, 2000). Akan tetapi, kematian ibu yang disebabkan komplikasi aborsi
sering tidak muncul dalam laporan kematian, tetapi dilaporkan sebagai perdarahan atau sepsis. Hal
itu terjadi karena hingga saat ini aborsi masih merupakan masalah kontroversial di masyarakat.
Di negara-negara yang tidak mengizinkan aborsi seperti Indonesia, banyak perempuan terpaksa
mencari pelayanan aborsi tidak aman karena tidak tersedianya pelayanan aborsi aman atau biaya yang
ditawarkan terlalu mahal. Pada remaja perempuan kendala terbesar adalah rasa takut dan tidak tahu
harus mencari konseling. Hal ini menyebabkan penundaan remaja mencari pertolongan pelayanan
aman,
dan
sering
kali
terperangkap
di
praktek
aborsi
tidak
aman.
Aborsi yang tidak aman adalah penghentian kehamilan yang tidak diinginkan yang dilakukan oleh
tenaga yang tidak terlatih, atau tidak mengikuti prosedur kesehatan atau kedua-duanya (Definisi
WHO). Dari 46 juta aborsi/tahun, 20 juta dilakukan dengan tidak aman, 800 wanita diantaranya
meninggal karena komplikasi aborsi tidak aman dan sekurangnya 13 persen kontribusi Angka
Kematian
Ibu
Global
(AGI,
1997;
WHO
1998a;
AGI,
1999)
.
WHO memperkirakan ada 4,2 juta aborsi dilakukan per tahun, 750.000 1,5 juta dilakukan di
Indonesia, 2.500 orang diantaranya berakhir dengan kematian (Wijono, 2000). Survei Kesehatan
Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 : Aborsi berkontribusi 11,1 % terhadap Angka kematian Ibu
(AKI) , sedangkan menurut Rosenfield dan Fathalla (1990) sebesar 10 % (Wijono, 2000)
Tidak sedikit masyarakat yang menentang aborsi beranggapan bahwa aborsi sering dilakukan oleh
perempuan yang tidak menikah karena alasan hamil di luar nikah atau alasan-alasan lain yang
berhubungan dengan norma khususnya norma agama. Namun kenyataannya, sebuah studi di Bali
menemukan bahwa 71 % perempuan yang melakukan aborsi adalah perempuan menikah (Dewi, 1997),
juga studi yang dilakukan oleh Population Council, 98,8 % perempuan yang melakukan aborsi di sebuah
klinik swasta di Jakarta, telah menikah dan rata-rata sudah memiliki anak (Herdayati, 1998), alasan

yang umum adalah karena sudah tidak ingin memiliki anak lagi, seperti hasil survey yang dilakukan
Biro Pusat Statistik (BPS), 75 % wanita usia reproduksi berstatus kawin tidak menginginkan
tambahan
anak
(BPS,
Dep.Kes
1988)
Aborsi mungkin sudah menjadi kebutuhan karena alasan di atas, namun karena adanya larangan baik
hukum maupun atas nama agama, menimbulkan praktek aborsi tidak aman meluas. Penelitian pada 10
kota besar dan 6 kabupaten memperlihatkan 53 % Jumlah aborsi terjadi di kota, padahal penduduk
kota 1,36 kali lebih kecil dari pedesaan, dan pelayan aborsi dilakukan oleh tenaga yang tidak terlatih
terdapat di 16 % titik pelayanan aborsi di kota oleh dukun bayi dan 57 % di Kabupaten. Kasus aborsi
yang ditangani dukun bayi sebesar 11 % di kota dan 70 % di Kabupaten dan dari semua titik pelayanan
54 % di kota dan 85 % di Kabupaten dilakukan oleh swasta/ pribadi (PPKLP-UI, 2001).
Hukum yang ada di Indonesia seharusnya mampu menyelamatkan ibu dari kematian akibat tindak
aborsi tak aman oleh tenaga tak terlatih (dukun). Ada 3 aturan aborsi di Indonesia yang berlaku
hingga
saat
ini
yaitu,
1. Undang-Undang RI No. 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang
menjelaskan dengan alasan apapun, aborsi adalah tindakan melanggar hukum. Sampai saat ini masih
diterapkan.
2. Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk
Diskriminasi
Terhadap
Perempuan.
3. Undang-undang RI No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan yang menuliskan dalam kondisi tertentu,
bisa
dilakukan
tindakan
medis
tertentu
(aborsi).
Namun keberadaan peraturan di atas justru dianggap menimbulkan kerugian, karena aborsi masih
dianggap sebagai tindakan kriminal, padahal aborsi bisa dilakukan secara aman (safe abortion). UU
Kesehatan dibuat untuk memperbaiki KUHP, tapi memuat definisi aborsi yang salah sehingga pemberi
pelayanan (dokter) merupakan satu-satunya yang dihukum. Pada KUHP, baik pemberi pelayanan
(dokter), pencari pelayanan (ibu), dan yang membantu mendapatkan pelayanan, dinyatakan bersalah.
dan akibat aborsi dilarang, angka kematian dan kesakitan ibu di Indonesia menjadi tinggi karena ibu
akan
mencari
pelayanan
pada
tenaga
tak
terlatih
Oleh karena itu, hingga kini AKI Indonesia (390 per 100.000 kelahiran. tahun 2000) masih
menduduki urutan teratas di Asia Tenggara, walaupun kontribusi aborsi sering tidak dilihat sebagai
salah satu faktor tingginya angka tersebut. Aborsi sendiri masih tetap merupakan suatu wacana yang
selalu mengundang pro dan kontra baik hukum maupun agama yang mungkin tidak akan habis jika
tidak ada peraturan baru tentang aborsi aman khususnya yang tegas dan jelas.
Sebaiknya jika aborsi bisa dilakukan, ada persayaratan yang mungkin dapat dibuat peraturannya oleh
pemerintah,
seperti
Aborsi sebaiknya dilakukan di RS atau klinik yang memenuhi persyaratan dan mendapatkan izin

Batas
umur
kehamilan
trismester
pertama
sampai
kehamilan
23
minggu
Perempuan yang berniat melakukan aborsi perlu mendapatkan konseling agar dapat memutuskan
sendiri untuk diaborsi atau tidak dan konseling pasca aborsi guna menghindari aborsi berulang
Perempuan di bawah usia kawin harus didampingi orangtuanya dalam membuat keputusan aborsi
Undang-undang sebaiknya mengizinkan aborsi atas indikasi kesehatan, yang diputuskan oleh

Menteri
Kesehatan,
dengan
batas
waktu
dua
tahun
Pelayanan aborsi oleh klinik yang ditunjuk pemerintah, dan dikenakan biaya relatif murah

sekali

Remaja dan Narkoba


Ada tiga hal yang harus diperhatikan ketika melakukan program anti narkoba di sekolah. Yang
pertama adalah dengan mengikutsertakan keluarga. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa
sikap orangtua memegang peranan penting dalam membentuk keyakinan akan penggunaan
narkoba pada anak-anak. Strategi untuk mengubah sikap keluarga terhadap penggunaan narkoba
termasuk memperbaiki pola asuh orangtua dalam rangka menciptakan komunikasi dan lingkungan
yang lebih baik di rumah. Kelompok dukungan dari orangtua merupakan model intervensi yang
sering digunakan.

Apa itu Narkoba


Narkoba adalah singkatan dari Narkotika dan Obat berbahaya. Selain "narkoba", istilah lain
yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia
adalah napza yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif. Semua
istilah ini, baik "narkoba" atau napza, mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai
resiko kecanduan bagi penggunanya.
Menurut pakar kesehatan narkoba sebenarnya adalah psikotropika yang biasa dipakai untuk
membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini
pemanfaatannya disalah gunakan diantaranya dengan pemakaian yang telah diluar batas dosis /
over dossis.
Narkoba atau NAPZA merupakan bahan/zat yang bila masuk ke dalam tubuh akan
mempengaruhi tubuh terutama susunan syaraf pusat/otak sehingga jika disalahgunakan akan
menyebabkan gangguan fisik, psikis/jiwa dan fungsi sosial. Karena itu Pemerintah
memberlakukan Undang-undang (UU) untuk penyalahgunaan narkoba yaitu UU No.5 tahun 1997
tentang Psikotropika dan UU No.22 tahun 1997 tentang Narkotika.

Penyebaran Narkoba di Kalangan Anak-anak dan Remaja

Hingga kini penyebaran narkoba sudah hampir tak bisa dicegah. Mengingat hampir seluruh
penduduk dunia dapat dengan mudah mendapat narkoba dari oknum-oknum yang tidak
bertanggung jawab. Misalnya saja dari bandar narkoba yang senang mencari mangsa didaerah
sekolah, diskotik, tempat pelacuran, dan tempat-tempat perkumpulan genk. Tentu saja hal ini
bisa membuat para orang tua, ormas,pemerintah khawatir akan penyebaran narkoba yang begitu
meraja rela.
Upaya pemberantas narkoba pun sudah sering dilakukan namun masih sedikit kemungkinan untuk
menghindarkan narkoba dari kalangan remaja maupun dewasa, bahkan anak-anak usia SD dan
SMP pun banyak yang terjerumus narkoba. Hingga saat ini upaya yang paling efektif untuk
mencegah penyalahgunaan Narkoba pada anak-anak yaitu dari pendidikan keluarga. Orang tua
diharapkan dapat mengawasi dan mendidik anaknya untuk selalu menjauhi Narkoba.
Menurut kesepakatan Convention on the Rights of the Child (CRC) yang juga disepakati
Indonesia pada tahun 1989, setiap anak berhak mendapatkan informasi kesehatan reproduksi
(termasuk HIV/AIDS dan narkoba) dan dilindungi secara fisik maupun mental. Namun realita
yang terjadi saat ini bertentangan dengan kesepakatan tersebut, sudah ditemukan anak usia 7
tahun sudah ada yang mengkonsumsi narkoba jenis inhalan (uap yang dihirup). Anak usia 8 tahun
sudah memakai ganja, lalu di usia 10 tahun, anak-anak menggunakan narkoba dari beragam jenis,
seperti inhalan, ganja, heroin, morfin, ekstasi, dan sebagainya (riset BNN bekerja sama dengan
Universitas Indonesia).
Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), kasus pemakaian narkoba oleh pelaku
dengan tingkat pendidikan SD hingga tahun 2007 berjumlah 12.305. Data ini begitu
mengkhawatirkan karena seiring dengan meningkatnya kasus narkoba (khususnya di kalangan
usia muda dan anak-anak, penyebaran HIV/AIDS semakin meningkat dan mengancam.
Penyebaran narkoba menjadi makin mudah karena anak SD juga sudah mulai mencoba-coba
mengisap rokok. Tidak jarang para pengedar narkoba menyusup zat-zat adiktif (zat yang
menimbulkan efek kecanduan) ke dalam lintingan tembakaunya.
Hal ini menegaskan bahwa saat ini perlindungan anak dari bahaya narkoba masih belum cukup
efektif. Walaupun pemerintah dalam UU Perlindungan Anak nomor 23 tahun 2002 dalam pasal
20 sudah menyatakan bahwa Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua
berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak (lihat lebih
lengkap di UU Perlindungan Anak). Namun perlindungan anak dari narkoba masih jauh dari
harapan.
Narkoba adalah isu yang kritis dan rumit yang tidak bisa diselesaikan oleh hanya satu pihak
saja. Karena narkoba bukan hanya masalah individu namun masalah semua orang. Mencari solusi
yang tepat merupakan sebuah pekerjaan besar yang melibatkan dan memobilisasi semua pihak
baik pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan komunitas lokal. Adalah sangat
penting untuk bekerja bersama dalam rangka melindungi anak dari bahaya narkoba dan
memberikan alternatif aktivitas yang bermanfaat seiring dengan menjelaskan kepada anak-anak
tentang bahaya narkoba dan konsekuensi negatif yang akan mereka terima.

Anak-anak membutuhkan informasi, strategi, dan kemampuan untuk mencegah mereka dari
bahaya narkoba atau juga mengurangi dampak dari bahaya narkoba dari pemakaian narkoba dari
orang lain. Salah satu upaya dalam penanggulangan bahaya narkoba adalah dengan melakukan
program yang menitikberatkan pada anak usia sekolah (school-going age oriented).
Di Indonesia, perkembangan pencandu narkoba semakin pesat. Para pencandu narkoba itu pada
umumnya berusia antara 11 sampai 24 tahun. Artinya usia tersebut ialah usia produktif atau
usia pelajar. Pada awalnya, pelajar yang mengonsumsi narkoba biasanya diawali dengan
perkenalannya dengan rokok. Karena kebiasaan merokok ini sepertinya sudah menjadi hal yang
wajar di kalangan pelajar saat ini. Dari kebiasaan inilah, pergaulan terus meningkat, apalagi
ketika pelajar tersebut bergabung ke dalam lingkungan orang-orang yang sudah menjadi
pencandu narkoba. Awalnya mencoba, lalu kemudian mengalami ketergantungan.

Dampak Negatif Penyalahgunaan Narkoba


Dampak negatif penyalahgunaan narkoba terhadap anak atau remaja (pelajar) adalah sebagai
berikut:
Perubahan dalam sikap, perangai dan kepribadian,
sering membolos, menurunnya kedisiplinan dan nilai-nilai pelajaran,
Menjadi mudah tersinggung dan cepat marah,
Sering menguap, mengantuk, dan malas,
tidak memedulikan kesehatan diri,
Suka mencuri untuk membeli narkoba.
Menyebabkan Kegilaan, Pranoid bahkan Kematian !

Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba


Upaya pencegahan terhadap penyebaran narkoba di kalangan pelajar, sudah seyogianya menjadi
tanggung jawab kita bersama. Dalam hal ini semua pihak termasuk orang tua, guru, dan
masyarakat harus turut berperan aktif dalam mewaspadai ancaman narkoba terhadap anak-anak
kita.
Ada tiga hal yang harus diperhatikan ketika melakukan program anti narkoba di sekolah. Yang
pertama adalah dengan mengikutsertakan keluarga. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa
sikap orangtua memegang peranan penting dalam membentuk keyakinan akan penggunaan
narkoba pada anak-anak. Strategi untuk mengubah sikap keluarga terhadap penggunaan narkoba
termasuk memperbaiki pola asuh orangtua dalam rangka menciptakan komunikasi dan lingkungan
yang lebih baik di rumah. Kelompok dukungan dari orangtua merupakan model intervensi yang

sering digunakan.
Kedua, dengan menekankan secara jelas kebijakan tidak pada narkoba. Mengirimkan pesan yang
jelas tidak menggunakan membutuhkan konsistensi sekolah-sekolah untuk menjelaskan bahwa
narkoba itu salah dan mendorong kegiatan-kegiatan anti narkoba di sekolah. Untuk anak sekolah
harus diberikan penjelasan yang terus-menerus diulang bahwa narkoba tidak hanya
membahayakan kesehatan fisik dan emosi namun juga kesempatan mereka untuk bisa terus
belajar, mengoptimalkan potensi akademik dan kehidupan yang layak.
Terakhir, meningkatkan kepercayaan antara orang dewasa dan anak-anak. Pendekatan ini
mempromosikan kesempatan yang lebih besar bagi interaksi personal antara orang dewasa dan
remaja, dengan demikian mendorong orang dewasa menjadi model yang lebih berpengaruh.
Oleh sebab itu, mulai saat ini pendidik, pengajar, dan orang tua, harus sigap serta waspada,
akan bahaya narkoba yang sewaktu-waktu dapat menjerat anak-anak sendiri. Dengan berbagai
upaya tersebut di atas, mari kita jaga dan awasi anak didik dari bahaya narkoba tersebut,
sehingga harapan untuk menelurkan generasi yang cerdas dan tangguh di masa yang akan datang
dapat terealisasikan dengan baik.***