Anda di halaman 1dari 112

PELAKSANAAN

PENGELOLAAN LIMBAH B3 di JAWA BARAT


PASCA PELIMPAHAN KEWENANGAN

TRAGEDI
SDA-LH

Proses
Alam

Tidak
Terkait
Kebijakan

KELEMBAGAAN

PERMASALAHAN
LINGKUNGAN HIDUP
DAERAH

Ulah
Manusia

KARENA
KEBIJAKAN

PENEGAKAN
HUKUM

KESAMDARAN
RENDAH

BERBASIS
EKONOMI

PEMAHAMAN
RENDAH

EGOSEKTORALISME

KOMITMEN
KEP.
DAERAH

KOMITMEN
RENDAH

Perkotaan

Foto: Otto Sumarwoto

Permasalahan pencemaran air

SUMBER2
PENCEMAR

NONPOINT
SOURCES

Sumber: Miller, 2006

POINT SOURCES

titik buangan
limbah

zona

PROSES
KONTAMINASI

Sumber: Miller, 2006

POHON MASALAH DEGRADASI KONDISI SUNGAI


AIR
BAKU SMKN SULIT/
JUGA AIR UTK PER
TANIAN & INDFUSTRI

KESEHATAN
MASYARAKAT
TERGANGGU

RUSAKNYA
EKOSISTEM
SUNGAI

KEINDAHAN
KOTA
BERKURANG

SUNGAI TERCEMAR
PEMBUANGAN
LIMBAH/ SAMPAH
KE SUNGAI

BEBAN
PERUBAHAN
TATA GUNA LAHAN/
TATA RUANG

KURANGNYA
KESADARAN
MASYARAKAT

TERJADINYA
EROSI

KURANGNYA
PENEGAKAN
HUKUM

TINGGINYA
CURAH
HUJAN

LABILNYA
KONDISI
TANAH

ADANYA
PENGGUNDULAN
HUTAN/LAHAN
KRITIS

Cileungsi/
Bekasi

Cilamaya

PEMANTAUAN DAN
EVALUASI
KUALITAS AIR SUNGAI
LINTAS
DI JAWA BARAT

Ciliwung
Cisadane
Citarum
Cimanuk

Citanduy

DAS PROKASIH JAWA

rafik Status Mutu Air Rata-Rata Tahun 2008


( Metode INDEKS PENCEMARAN )
D
C
B
A

Keterangan
Status
A ( Mutu
Memenuhi Bak

Mutu
)
B ( Cemar
Ringan

C ( Cemar Sedang

D ( Cemar Berat )

PENCEMARAN LINGKUNGAN
BANJIR

BANJIR DISEBABKAN
TIMBUNAN SAMPAH DI
SUNGAI

Permasalahan Udara

SUMBER POLUSI
UDARA
CO, CO2, NOx, SO2,,
SPM

Transportasi

CO, CO2

SO2

H2S

SO2
NOx

Indus
tri
SO C
O
2

Aktifitas G.
Berapi
aerosol CO NH3
N2
O

CH4

Rumah Tangga

Kebakaran Hutan

ANTROPOGENIK
(Sumber dari Aktifitas
Manusia)

BIOGENIK
(Sumber Alamiah)

Beberapa Dampak Polusi


Udara
Pada Lingkungan
Hujan Asam

Jarak Pandang
Perubahan
Iklim

Udara beracun

Ekosistem Darat

Kesehatan

Penipisan
Lapisan Ozon

Ekosistem Air
Lokal / Regional

Global

HUJAN ASAM
Awan dng H2SO4

HUJAN ASAM

Asap dng gas SO2

Bagaimana dengan
Pengelolaan Limbah B3??

Prinsip Dasar Pengelolaan Limbah B3


Pengelolaan B3
dan limbah B3
memiliki
keunikan dan
kekhasan dalam
pengelolaannya

B3 dan limbah
B3 memiliki
resiko yang
sangat tinggi
(high risk)
apabila tidak
dikelola dengan
baik

Prinsip kehati-hatian
(precaunary principle)

Pengelolaan limbah B3 tidak serta merta langsung


diotonomikan ke daerah (perlu pentahapan proses)

Strategi
Sistem
Perizin
an

Instrumen yang paling elementer dalam strategi dan


konsep pengelolaan B3 dan limbah B3
Setiap dokumen izin yang telah dikeluarkan

Sistem
untuk aktivitas kegiatan pengelolaan B3 dan
Pengawasan limbah B3 haruslah dilakukan pengawasan
Sebagian kewenangan
Otonomi Pengelolaan B3 pengelolaan B3 dan limbah B3
dan
akan didesentralisasikan ke
Limbah B3 Kebijakan ke depandaerah, khususnya Izin
Penyimpanan, Izin Pengumpulan,
dan Sistem Pengawasan.
Upaya-upaya remediasi harus dilakukan
Strategi kebijakan terhadap lahan-lahan yang terkontaminasi
B3 dan limbah B3

PENGELOLAAN LIMBAH
BAHAN BERBAHAYA DAN
BERACUN
Meliputi :
1. Reduksi
2. Penyimpanan
3. Pengumpulan
4. Pemanfaatan
5. Pengolahan
6. Penimbunan

Peraturan Pengelolaan Limbah


B3

UU No. 23 / 1997

Pengelolaan Lingkungan Hidup

PP No. 18 / 1999 Jo. PP No. 85 /


1999

Pengelolaan Limbah B3

Kepdal 01/BAPEDAL/09/1995

Tata Cara & Persyaratan Teknis PEnyimpanan & Pengumpulan Limbah


B3

Kepdal 02/BAPEDAL/09/1995

Dokumen limbah B3

Kepdal 03/BAPEDAL/09/1995

Persyaratan teknis pengolahan limbah B3

Kepdal 04/BAPEDAL/09/1995

Tata Cara Penimbunan Hasil Pengolahan, Persyaratan Lokasi Bekas


Pengolahan dan Lokasi Penimbunan Limbah B3

Kepdal 05/BAPEDAL/09/1995

Simbol dan Label Limbah B3

Kepdal 68/BAPEDAL/05/1994

Tata cara memperoleh izin pengelolaan limbah B3

Kepdal 02/BAPEDAL/01/1998

Tata Laksana Pengawasan Pengelolaan Limbah B3

KepmenLH No. 128/2003

Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah Minyak Bumi dan
Tanah Terkontaminasi oleh Minyak Secara Biologis

PermenLH 02/2008

Pemanfaatan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Permen LH 18/2009

Tata Cara Perizinan Pengelolaan Limbah B3

Permen LH 30/2009

Tata Laksana periizinan dan Pengawasan Pengelolaan LB3

Mekanisme Pengelolaan LB3


Pengguna
Pengguna
(7)
(7)

Pemanfaa
Pemanfaa
(4)
tt
(4)

Pengangk
Pengangk
ut
(2)
ut
(2)

Pengangk
Pengangk
ut
(2)
ut
(2)

Penghasil
Penghasil
(1)
(1)

Pengangk
Pengangk
ut
(2)
ut
(2)

Pengump
Pengump
ul
ul
(4)
(4)

Pengangk
Pengangk
ut
(2)
ut
(2)

Pengangk
Pengangk
ut
(2)
ut
(2)

Pengolah
Pengolah
(5)
(5)

Pengangk
Pengangk
ut
(2)
ut
(2)

Penimbun
Penimbun
//
Landfiller
Landfiller
(6)
(6)

Hirarki Pengelolaan
Limbah B3
priorit
as

Penimbunan
Pengolahan
3R
Preventif

Alternatif akhir
27

Identifikasi Limbah B3

PP 85/1999

Kriteria

Uraian

Sumber

a. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik


b. Limbah B3 dari sumber spesifik
c. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa,

tumpahan, bekas kemasan, buangan produk


yang tidak memenuhi spesifikasi
Karakteristi
k

a. mudah meledak;
b. mudah terbakar;
c. bersifat reaktif;
d. beracun (uji TCLP);
e. menyebabkan infeksi; dan
f.

Uji
toksikologi

bersifat korosif.

LD50 dan/atau uji kronis

ya

Lampiran
I PP
85/99

tidak

Uji
karakteristik
tidak

ya
Limbah

> BMTCLP

Limbah
B3

TCLP Test
Lamp. II
PP 85/99
< BMTCLP

< 50 mg/kg BB

LD 50/LC
50
> 50 mg/kg BB

Ya, jika (penjelasan pasal 7 (4)


PP 85/99

dentifikasi Limbah B3

Uji kronis
tidak

Limbah
non B3

Penyimpanan Sementara

Keputusan Kepala Bapedal Nomor Kep01/Bapedal/09/1995

Berada di penghasil, pengumpul, pengolah, pemanfaat,


penimbun;

Terintegrasi dengan kegiatan utama, sehingga hanya


UKL/UPL atau terintegrasi dengan AMDAL kegiatan
utama;

Persyaratan lokasi:
- Lokasi bebas banjir, tidak rawan bencana, di luar
kawasan lindung dan sesuai dengan RTR;
- Khusus untuk pengumpul (tanah 1 ha, jarak dgn
jalan, fasilitas umum, perairan dan kawasan yang

Kemasan
Sesuai dengan karakteristik limbah;
Kondisi baik;
Simbol dan label (Kepka No. Kep02/Bapedal/09/1995) .
Rancang bangun tempat penyimpanan
Sesuai dengan karakteristik limbah;
Lantai kedap dan landai ke arah pit pengumpul;
Minimasi potensi leachate (atap);
Ventilasi yang memadai;
Pit pengumpul.
Memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP)
Memiliki operator yg memiliki pengetahuan tentang
limbah B3
Memiliki Emergency Response System (ERS)

Gudang Penyimpanan

LOKASI
DESIGN
METODA MENYIMPAN

PERSYARATAN KHUSUS
B3 Mudah Terbakar
Mudah Meledak
Reaktif

Gudang Penyimpanan

Penyusunan kemasan

PENGOPERASIAN

Fasilitas Tanggap Darurat

Emergency Exit

Fasiltas Tanggap Darurat

Fire Alarm

Gudang Penyimpanan

Emergency Call & Fire Extenguisher

Simbol & Label


Kep. Kepala BAPEDAL no. Kep-05/BAPEDAL/09/1995

Pengangkutan
Izin diterbitkan Departemen Perhubungan, Rekomendasi
dari KLH;
Persyaratan:
Alat angkut dan kemasan sesuai dengan karakteristik
limbah;
Alat angkut dalam kondisi baik;
Simbol dan label (Kepka No. Kep02/Bapedal/09/1995) .
Nomor register pengangkut;
Penggunaan Manifest (Keputusan Kepala Bapedal Nomor
Kep-02/Bapedal/09/1995) dan Pelaporan
Memiliki operator yang mengetahui tentang limbah B3
Memiliki Emergency Response System (ERS)
Memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP)
Bongkar muat;
Route;
Jadwal.

Pengangkutan

SYARAT KENDARAAN

Laik jalan
Design sesuai
Dilengkapi alat alat PKD
Izin Dephub.
Alat identifikasi

SYARAT PENGEMUDI
Syarat syarat umum
Pelatihan khusus
Bersertifikat

SYARAT PERUSAHAAN
Memiliki systim manajemen
pengangkutan
Memiliki sarana tanggap
darurat
Mendapat rekomendasi
BAPEDAL/KLH

Pengangkutan

Tidak dicampur

Macam Pengangkutan

Pengumpulan

Pada dasarnya persyaratan menyerupai penyimpanan


sementara;
Hanya dapat menyerahkan limbah kepada pengelola yang
telah memiliki izin pengelolaan limbah B3 atau ekspor;
Single waste Multiple waste characteristics
Single waste lebih sederhana : UKL/ UPL
Multiple waste:
AMDAL;
Laboratorium;
Rancang bangun tempat penyimpanan.

Pemanfaatan

PerMen KLH No 02 Thn 2008 mengenai Pemanfaatan


Limbah B3 yang mengutamakan prinsip 3R yaitu Reuse Recycle - Recovery.

Secara global - limbah B3 dimanfaatkan menjadi dua:


sumber alternative bahan baku - alternate raw
material
sumber alternative bahan bakar - alternate fuel
material.
Proses pemanfaatan ini sebetulnya dikenal sebagai
waste co processing atau alternative fuel raw material
(AFR)

Prinsip-prinsip:
Aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia;
Mempunyai standard mutu produk;
Mempunyai demand pasar.

Pemanfaat sebagai kegiatan utama, izin dari


instansi teknis rekomendasi dari KLH;
Pemanfaat bukan sebagai kegiatan utama, izin dari
KLH.
Pemanfaatan yang tidak memerlukan izin:
terintegrasi dengan proses produksi;
hasil pemanfaatan kembali ke proses produksi;
belum masuk alat pengendali pencemaran.
Pada umumnya memerlukan uji coba untuk
membuktikan:
Produk aman;
Metode/ proses terhadap fluktuasi kualitas input;
Kualitas produk;
Pemasaran.

Pengolahan

Keputusan Kepala Bapedal Nomor Kep03/Bapedal/09/1995


Tujuan untuk mengurangi, memisahkan, mengisolasi
dan atau menghancurkan sifat/ kontaminan yang
berbahaya
Macam pengolahan:
Pengolahan fisika kimia
Pengolahan biologis
Pengolahan thermal

Penimbunan

Type penimbunan:
Landfill kelas I (double synthetic liner)
Landfill kelas II (single synthetic liner)
Landfill kelas III (clay liner)
Deep well injection
Persyaratan lokasi
Bebas banjir, bukan daerah genangan, jarak dengan
air permukaan
Permeabilitas tanah maks 10-7 cm/dt, litologi batuan
berbutir sangat halus
Sesuai dengan RTR (pemerintah daerah)
Secara geologis aman, stabil, tidak rawan bencana
dan diluar kawasan lindung
Tidak merupakan daerah resapan air terutama untuk
air minum, jika terdapat akuifer minimal terdapat
jarak 4 meter

Persyaratan limbah
Sebagai alternatif terakhir (final disposal)
Memenuhi baku mutu TCLP
Compressive strength 10 kg/ cm2
Kandungan senyawa organik

Persyaratan rancang bangun


Lapisan pelindung
Leachate collection dan treatment
Leak detection
Lapisan penutup
Gas collection dan vent (bagi yang organik
tinggi)
Ground water well monitoring (base line data for
ground water quality standard)

Pengawasan Pengelolaan Limbah B3


Pengawas :

KLH

BPLHD Propinsi dan Kab/kota


STD (sistem tanggap darurat)
- Nasional : KLH
- Daerah: Gubernur/Bupati/Walikota
Kewenangan Pengawas
- Memasuki lokasi pengelolaan limbah B3
- Pengambilan sampel
- Meminta keterangan berkaitan dengan limbah
B3
- Pemotretan
Penyidikan PPNS bila ada indikasi tindak pidana LH

Permasalahan di Lapangan
:

Sumber Data Potensi


Limbah B3
KLH &
Dinas
Lingkunga
n Hidup

Jumlah &
Jenis industri
terdaftar

Dinas
Perindustri
an &
BPPMD

POTENSI
DATA
PENGELOLAA
N LIMBAH B3
Dinas
Kesehata
n
Limbah
Medis

Dinas
Pertambang
an

Dinas
Pertanian
Penggunaa
n pestisida

Lembaga
Penelitia
n
Pemanfaatan
limbah B3

Tekmira
Penelitian
Akademis
Dinas
Perhubungan
DLL

PELAKU PENGOLAHAN
LIMBAH B3

Penghasil
Pengumpul
Pengangkut
Pemanfaat
Pengolah
Penimbun

DATABASE,
REKOMENDASI,
IZIN,
PENGAWASAN ??

Look at carefully

OYEKSI TIMBULAN LIMBAH B3 DARI SELURUH SEKTOR DI JAWA BARAT


N
o.
1
2
3
4
5

Tahun

Kab.
Bandung

200
0
200
5
201
0
201
5
202
0

81.314,5
94.221,3
123.726,0
165.573,3
221.574,4

Jumlah Limbah B3 ( Ton/Tahun)


Kota
Kab.
Kab.
Bandung
Sumeda
Garut
ng
21.087,5
14.161
618,2
24.434,7
32.086,2
42.938,6
57.461,5

,8
16.409
,7
21.548
,2
28.836
,4
38.589
,6

716,3
940,6
1.258,8
1.684,6

Jumlah
117.182
,0
135.782
,0
178.301
,0
238.607
,1
319.310
,1

Kondisi TPS Limbah B3

Kemasan
Akibat Kemasan yg tidak sesuai

Pengangkutan Limbah B3 yang Tidak Benar

Kemasan yg tidak sesuai


Kendaraan pengangkut tidak layak/tidaksesuai
Tidak dilengkapi simbol,label,plakat

Pengangkutan Limbah B3 yang Tidak Benar

Pengangkutan Limbah B3 yang Tidak Benar

Pengangkutan Limbah B3 yang Tidak Benar

Pengangkutan Limbah B3 yang Tidak Benar

Beberapa isu perubahan peraturan yang


berkaitan dengan pengelolaan Limbah B3

ANATOMI URUSAN PEMERINTAHAN (UU No.


32/2004)
URUSAN PEMERINTAHAN
ABSOLUT
(Mutlak urusan Pusat)
-

Pertahanan

Keamanan

Moneter

Yustisi

Politik
Negeri

Agama

CONCURRENT
(Urusan bersama
Pusat, Provinsi, dan Kab/Kota)

PILIHAN/OPTIONAL
(Sektor Unggulan)

Luar

WAJIB/OBLIGATORY
(Pelayanan Dasar)

Contoh: kesehatan,
Contoh: pertanian,
pendidikan, lingkungan
industri, perdagangan,
hidup, pekerjaan umum,
pariwisata, kelautan dsb
dan perhubungan, ....

SPM

(Standar Pelayanan Minimal)

URUSAN PEMERINTAH KAB/KOTA BIDANG LH


(PP NO. 38 TAHUN 2007)
SUB BIDANG
Pengendalia
n Dampak
Lingkungan

SUB SUB BIDANG


1

Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan


Beracun (B3)

Amdal

Pengelolaan kualitas air & pengendalian


pencemaran air

Pengelolaan kualitas udara dan pengendalian


pencemaran udara

Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan


pesisir dan laut

Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan


tanah akibat kebakaran hutan dan/atau lahan

Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan


tanah akibat kegiatan biomassa

Penanggulangan pencemaran dan kerusakan lingk


akibat bencana

Standar Nasional Indonesia (SNI) & standar


kompetensi personil bidang LH

10
62

Pengembangan perangkat ekonomi lingkungan


62

URUSAN PEMERINTAH KAB/KOTA BIDANG LH


(PP NO. 38 TAHUN 2007)
SUB BIDANG

SUB SUB BIDANG


11

Penerapan sistem manajemen lingkungan,


ekolabel, produksi bersih dan teknologi
ramah lingkungan

12

Pendidikan dan pelatihan

13

Pelayanan bidang LH (SPM)

14

Penegakan hukum lingkungan

15

Perjanjian intenasional di bidang


pengendalian dampak lingkungan

16

Perlindungan iklim dan perlindungan


atmosfir

17

Laboratorium lingkungan

Konservasi SDA

18

Keanekaragaman hayati

Tata Ruang

19

Pembagian urusan Bidang Tata Ruang


Perencanaan, Pemantauan dan Evaluasi
Tata Ruang

63

63

PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP


( SUB SUB BIDANG PENGELOLAAN LIMBAH B3)
PEMERINTAH

PEMERINTAH DAERAH
PROVINSI

PEMERINTAH DAERAH
KABUPATEN/KOTA

Pelaksanaan pengawasan
pengelolaan limbah B3

Pelaksanaan pengawasan
pengelolaan limbah B3 skala provinsi

Pelaksanaan pengawasan
pengelolaan limbah B3 skala
kabupaten/kota

Izin pengumpulan limbah


B3 skala nasional

Izin pengumpulan limbah B3 skala


provinsi (sumber limbah lintas
kabupaten/kota) kecuali minyak
pelumas bekas;
Rekomendasi izin pengumpulan
limbah B3 skala nasional

Izin pengumpulan limbah B3


skala kabupaten/kota kecuali
minyak pelumas bekas

Izin Penyimpanan Sementara


limbah B3 di Industri atau
usaha suatu kegiatan.
Izin lokasi pengolahan limbah
B3
Pengawasan pelaksanaan
pemulihan akibat
pencemaran limbah B3
skala nasional

Pengawasan pelaksanaan pemulihan


akibat pencemaran limbah B3 skala
provinsi

Pengawasan pelaksanaan
pemulihan akibat pencemaran
limbah B3 skala kabupaten/kota

Kewenangan Mengeluarkan Izin (pasal 3)


Gubernur

1.
2.
3.
4.

Pengolahan
Pemanfaatan
Landfill
Pengumpulan
skala Nasional

1.
2.

Pengumpulan
Skala Propinsi
Rekomendasi
Pengumpulan
skala Nas (psl 18)

< 20 %

1. Izin penyimpanan sementara


2. Pengumpulan skala Kab/Kota

> 80 %

Proses Pengajuan Izin


TPS/Pengumpulan
Pemohon
Izin
Pengawasan setelah izin diterbitkan

Gubernur
Status pemenuhan
persyaratan
administrasi
Status
pemenuhan
persyaratan
teknis

7 HARI

TIDA
K

Penilaian
administra
si

YA
7 HARI

Tim Verifikasi (harus disertai surat tugas


dari instansi pengelola LH)
1.Ketua : PPLHD dengan syarat :
a.telah mengikuti pelatihan
pengelolaan LB3 dan/atau
b.telah bekerja min 2 tahun di bidang
Pengelolaan LH
2. Anggota dengan syarat :
a.telah mengikuti pelatihan
pengelolaan LB3 dan/atau
b.telah bekerja min 2 tahun di bidang
Pengelolaan LH

TIDA
K

Verifikasi
Teknis
Persyaratan
teknis,
Ketentuan
teknis

Keputusan
Izin

TIDA
K

Y
PenerbitanAIzin

45 HARI PROSES
izin
(Setelah permohonan
PERIZINAN
lengkap)

Tim Pengawas (harus disertai surat


tugas dari instansi pengelola LH)
1.Ketua : PPLHD dengan syarat :
a.telah mengikuti pelatihan
pengelolaan LB3 dan/atau
b.telah bekerja min 2 tahun di
bidang Pengelolaan LH
2. Anggota dengan syarat :
a.telah mengikuti pelatihan
pengelolaan LB3 dan/atau
b.telah bekerja min 2 tahun di
bidang Pengelolaan LH

Penolakan Izin
(Surat
Gub/Bup/Wali)
disertai alasan
penolakan

(Kep Gub/Bup/Wali)
Catatan : Bila pengurusan izin sejak pemenuhan
persyaratan administasi > 45 hari, maka permohonan
izin dianggap disetujui

Rekomendasi
Izin pengumpulan B3 Skala
Nasional
Pemohon
Rekomendas Izin

YA
Verifikasi
Teknis

Keputusan

Y
A
Rekomendasi
(Surat Gubernur)

Catatan : Bila pengurusan rekomendasi izin


sejak pemenuhan persyaratan administasi
>30hari, maka permohonan rekomendasi izin
dianggap disetujui

TIDA
K

30

Tim Verifikasi (harus disertai surat


tugas dari instansi pengelola LH
1.Ketua : PPLHD dengan syarat :
a.telah mengikuti pelatihan
pengelolaan LB3 dan/atau
b.telah bekerja min 2 tahun di
bidang Pengelolaan LH
2. Anggota dengan syarat :
a.telah mengikuti pelatihan
pengelolaan LB3 dan/atau
b.telah bekerja min 2 tahun di
bidang Pengelolaan LH

Penilaian
administra
si

MENEG LH

(Setelah permohonan irekomendasi


izin HARI
lengkap)

Gubernur

TIDA
K

Penolakan
(Surat
Gubernur)
disertai alasan
penolakan

Persyaratan Badan usaha Pengumpulan Limbah B3


(pasal 4)

Persyaratan lain yg di atur dlm perundangan, seperti Dokumen lingkungan, kesuaian dg tata ruang, d

Jenis Limbah B3 yg diperbolehkan di kumpul oleh pengumpul (Pasal 6)

Penerbitan izin berupa Keputusan Gubernur/Bupati/Walikota


yang memuat :
1. Identitas badan usaha (nama, alamat, bidang usaha, nama
penanggung jawab kegiatan)
2. Sumber limbah B3
3. Lokasi/area kegiatan pengelolaan limbah B3
4. Jenis & karakteristik limbah B3
5. Kewajiban yang harus dilakukan (mematuhi jenis limbah B3 yang
dikumpulkan, mengikuti persyaratan pengumpulan limbah B3
sesuai peraturan perundang-undangan, mengiktui persyaratan
pengumpulan sesuai dengan jenis dan karakteristik limbah B3,
mencegah terjadinya tumpahan/ceceran limbah B3, mencatat
neraca limbah B3,mematuhi jangka waktu pengumpulan limbah
B3, menyampaikan laporan kegiatan perizinan pengumpulan
limbah B3)
6. Sistem pengawasan dan masa berlaku izin
Masa berlaku izin :
. 5 tahun dan dapat diperpanjang, permohonan perpanjang paling
lama 60 hari kerja sebelum izin berakhir
. Bila terjadi perubahan jenis, karakteristik, dan/atau cara
pengumpulan limbah B3, maka wajib mengajukan izin baru
. Pencabutan izin harus lebih dahulu diberikan surat peringatan

Kewenangan Pengawas (PPLHD)

Memotret

Meminta
keterangan

Membuat
status
penaatan

PEMBINAAN (Pasal 27)

Tingkat Provinsi

Tingkat Kab/Kota

Menteri

1. Menteri
2. Gubernur

Pembiayaan
Pasal 28,29, 30

Perizinan, Rekomendasi oleh Pemohon


Pengawasan oleh APBN,APBD
Pembinaan oleh APBN (tingkat Provinsi)
APBD (tingkat Kab/Kota)

PERMASALAHAN YANG MUNCUL DI


DAERAH
Belum menuangkan dalam Perda, tapi sudah membuat
PerGub/perbup/perwali lebih dahulu?
Belum ada Perda dan PerGub/perbup/perwali, tapi
sudah mengeluarkan ijin?
Bagaimana bila poin 1-2
terjadi??

Menurut aturan: Urusan wajib & pilihan harus


ditetapkan dengan Perda lebih dahulu. Kemudian untuk
pengaturan pelaksanaan lebih detil untuk tiap urusan
dituangkan/diatur dalam PerGub/PerBup.

Solusi yang ada untuk


pelaksanaan perizinan di
daerah :

Permen LH No. 30 Tahun 2009 dapat langsung


dilaksanakan dengan Peraturan Kepala Daerah
sepanjang daerah tidak memungut pajak/retribusi
dan tidak mengenakan sanksi
u

Apabila daerah memungut pajak/retribusi dan


mengenakan sanksi, wajib ditindaklanjuti dengan
Hasil Rapat
dengan
KLH, Depdagri,
Peraturan
Daerah
(Perda) Biro Hukum dan BLH
an
r
g
a
ba den ad
a
J
v njti kep
o
Pr kla nur utk at
da ber LH sur da
n
i
i
a
u
en t G ter kan kep
m ra en ri
i
e
Su M mb esm ah
r
r
e
m a ra d a e
c
se

Untuk Pelaksanaan kegiatan Verifikasi


Lapangan dan Pengawasan harus
dilakukan oleh Tim yang diketuai oleh
PPLHD (harus yang telah mengikuti
pelatihan pengelolaan LB3 dan/atau
pengalaman min 2 tahun dalam
pengelolaan Lingkungan Hidup)
i
ut
j
n
belum
ada PPLHD yang dilantik
la u r

ak rn ar
d
n be ag
i
en t Gu LH
m a
da
i
i
r
r
r
a
a u t e m p an
b
Ja n S en res ke kuk
ov nga a M ara kan ela a
r
i
t aan h
P de ad ec
s
r
m
s ega k
p
se bin era
e
u
k
el unt kan em da
d
i
en ah ant n p rat
m er el ika pa
p er k a
da
b ut
m
e
m nis

Program pengendalian
pencemaran dalam upaya
pengelolaan lingkungan di industri

Superkasih

2003-2005

JUMLAH INDUSTRI SUPERKASIH


PROVINSI JAWA BARAT
TAHUN
2003

2004

2005

TOTAL

DAS

KAB/KOTA

SUB JUMLAH

JUMLAH
25

Citarum

Kab. Bandung

25

Citarum

Kab. Sumedang

Kota Cimahi

12

Kab. Subang

Kab. Purwakarta

Cileungsi/
Kali Bekasi

Kab. Bekasi

Citarum

Kota Cimahi

10

Kota Bandung

Cilamaya

3 DAS

7 Kab/Kota

74 industri

25

24

Superkasih
POINT SUPERKASIH YANG BELUM
DILAKSANAKAN
DI 74 INDUSTRI SUPERKASIH

REKOMENDASI 74
INDUSTRI SUPERKASIH
DI JAWA BARAT

Program EPCM
(ENVIRONMENTAL POLLUTION
CONTROL MANAGER)

MASALAH UTAMA DALAM


PENGENDALIAN LIMBAH INDUSTRI

Kebijakan internal
Teknologi Pengolahan
Limbah Cair
SDM
SOP/Prosedur

Berdasarkan 4 Masalah Utama Tersebut

Membutuhkan Peraturan untuk


Mengatasinya
Salah Satu Solusi

EPCM di Industri

ORGANISASI FUNGSIONAL

PENGENDALIAN PENCEMARAN DI INDUSTRI

PENANGGUNGJAWAB UTAMA
MANAJER

PENGENDALIAN
PENCEMARAN AIR

PELAKSANA
OPERASI IPAL

MANAJER

PENGENDALIAN
PENCEMARAN UDARA

PELAKSANA
OPERASI PERANGKAT
PENGENDALI EMISI

MANAJER

PENGELOLAAN
SAMPAH INDUSTRI

MANAJER

GANGGUAN GETARAN
DAN BISING

PENANGGUNGJAWAB
PENANANGAN LIMBAH B3
PELAKSANA
OPERASI INSINERATOR

EPCM

Manajer Pengendalian Pencemaran Lingkungan

PERDA NO.3 TAHUN 2004 :


PENGELOLAAN KUALITAS AIR & PENGENDALIAN
PENCEMARAN AIR

Bagian Keempat : Pembuangan Air


Limbah ke Sumber Air
Ps.18 Ayat (1) : Setiap orang atau
badan yang melaksanakan
pembuangan air limbah ke sumber air
harus :
c. Memiliki operator dan
penanggung jawab Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang
bersertifikat

PERDA NOMOR 11 TAHUN 2006


TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN
UDARA
Pasal 23 ayat (b)
Setiap usaha dan/atau kegiatan dari sumber tidak
bergerak yang mengeluarkan emisi, wajib :
Memiliki manajer pengelola lingkungan
bidang udara yang bersertifikat

PROPER
(Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan)

PRINSIP DASAR PENILAIAN


PROPER
BOBOT

X
S
K
O
R
E

Penerapan
Sistem
Manajemen
Lingkungan

Pemanfaatan
Sumber Daya

=
Pelaksanaan
Pengembangan
Masyarakat
(Community
Development)

N
I
L
A
I

Best Practices ; Best Available Technology;


Best Corporate Social Responsibility

EMAS
Passing Grade

HIJAU
Passing Grade

BEYOND COMPLIANCE AREA


PENGENDALIAN PENCEMARAN LAUT
PENGELOLAAN LIMBAH B3
PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA
PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR
PENERAPAN AMDAL

TAAT

BIRU

BELUM TAAT

MERAH

TIDAK ADA UPAYA

HITAM

PENTAATAN TERHADAP PERATURAN LINGKUNGAN HIDUP

Highlight UU PPLH
(Undang-undang Pengelolaan Lingkungan Hidup)

No. 32 Tahun 2009

Baku Mutu Lingkungan Hidup


(pasal 20)
Penentuan terjadinya pencemaran lingkungan
hidup diukur melalui baku mutu lingkungan hidup
(ayat 1)
Setiap orang diperbolehkan membuang limbah ke
media lingkungan hidup dengan syarat (ayat 3) :
Memenuhi baku mutu lingkungan hidup
Mendapat izin dari Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota
(sesuai kewenanganya masing-masing)

Baku Mutu Lingkungan Hidup, meliputi :


Baku mutu air(a); Baku mutu air laut(c); Baku mutu
udara ambien(d); Baku mutu lain sesuai dengan
perkembangan Iptek (ayat 2) dan diatur dalam
Peraturan Pemerintah (ayat 4)
Baku mutu air limbah(b); baku mutu emisi(e); baku mutu
gangguan(f) (ayat 2) dan diatur dalam Peraturan
menteri (ayat 5)

Perizinan
Izin Lingkungan (pasal 36) :
1. Setiap usaha/kegiatan yang wajib memiliki amdal atau
UPL-UKL wajib memiliki izin lingkungan;
2. Izin lingkungan diterbitkan berdasarkan keputusan
kelayakan lingkungan hidup atau rekomendasi UPLUKL;
3. Izin lingkungan wajib mencantumkan persyaratan yang
dimuat dalam keputusan kelayakan lingkungan hidup
atau rekomendasi UPL-UKL
4. Izin lingkungan diterbitkan oleh Menteri, Gubernur atau
Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya.

Penolakan izin lingkungan (pasal 37) :


Menteri, gubernur, bupati/walikota wajib
menolak permohonan izin lingkungan apabila
tidak dilengkapi dengan amdal atau UPL-UKL
(ayat 1)

Izin lingkungan dapat dibatalkan


apabila (pasal 37 ayat 2) :
Persyaratan yang diajukan dalam permohonan
izin mengandung cacat hukum, kekeliruan,
penyalahgunaan, ketidakbenaran, pemalsuan
data, dokumen atau informasi.
Penerbitannya tanpa memenuhi syarat
kelayakan lingkungan hidup atau rekomendasi
UPL-UKL
Pasal
Penanggung
jawab usaha/kegiatan
tidak
38 : Izin lingkungan
dapat juga dibatalkan
melalui
melaksanakan
kewajiban
ditetapkan
keputusan
pengadilan
tata usahayang
negara
dalam dokumen amdal atau UPL-UKL

Kewajiban izin lingkungan (pasal 40)


:
1. Izin lingkungan merupakan persyaratan
untuk memperoleh izin usaha/kegiatan
2. Apabila izin lingkungan dicabut maka
izin usaha/kegiatan dibatalkan
3. Apabila ada perubahan dalam
usaha/kegiatan maka penanggung
jawab usaha/kegiatan wajib
memperbarui izin lingkungan

Peraturan pelaksanaan perizinan


(pasal 41)
. Ketentuan perizinan ini diatur dalam

Dana penjaminan fungsi lingkungan


hidup (pasal 55) :
Pemegang izin lingkungan wajib menyediakan
dana penjaminan untuk pemulihan fungsi
lingkungan hidup (ayat 1)
Dana disimpan di Bank pemerintah yang
ditunjuk oleh menteri, gubernur atau
Bupati/walikota (sesuai dengan
kewenanganya) (ayat 2)
Pemulihan dilakukan oleh pihak ketiga yang
ditunjuk oleh menteri, gubernur atau
Bupati/walikota (sesuai dengan
kewenangannya)
dengan
menggunakan
Ketentuan
mengenai Pengendalian
Pencemaran
(pasal 13 s/ddana
penjaminan
(ayat 3)Pemerintah
pasal 55)
diatur dalam Peraturan
Ketentuan mengenai dana penjaminan diatur

BAB XII
PENGAWASAN DAN SANKSI
ADMINISTRATIF
Pengawasan (Pasal 71) :
Menteri, gubernur, bupati/walikota wajib
melakukan pengawasan terhadap ketaatan
penanggung jawab usaha/kegiatan atas
ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan
perundang-undangan dibidang perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup
Menteri, gubernur, bupati/walikota dapat
mendelegasikan kewenanganya dalam
melakukan pengawasan kepada
pejabat/instansi teknis yang bertanggung
jawab di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup

Kewenangan PPLH (pasal 74) :


Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup berwenang
(ayat 1)
a. Melakukan pemantauan;
b. Meminta keterangan;
c. Membuat salinan dari dokumen /membuat
catatan yang diperlukan;
d. Memasuki tempat tertantu;
e. Memotret;
f. Membuat rekaman audio visual;
g. Mengambil sampel;
h. Memeriksa peralatan;
i. Memeriksa instalansi/transportasi;
j. Menghentikan pelanggaran tertentu.
PPLH dapat berkoordinasi dengan PPNS (ayat 2)
Penangung jawab usaha/kegiatan dilarang
menghalangi pelaksanaan tugas PPLH (ayat 3)

Sanksi Administratif (Pasal 76) :


Menteri, gubernur, bupati/walikota
menerapkan sanksi administrasi
kepada penanggung jawab
usaha/kegiatan jika dalam pengawasan
ditemukan pelanggaran terhadap izin
lingkungan.
Sanksi administrasi terdiri dari :
a.
b.
c.
d.

Teguran tertulis;
Paksaan pemerintah;
Pembekuan izin lingkungan;
Pencabutan izin lingkungan.

Paksaan Pemerintah (Pasal 80) :


Paksaan pemerintah berupa (ayat 1):
a. Penghentian sementara kegiatan produksi
b. Pemindahan sarana produksi
c. Penutupan saluran pembuangan air limbah
atau emisi
d. Pembongkaran
e. Penyitaan terhadap barang/alat yang
berpotensi menimbulkan pelanggaran
f. Penghentian sementara seluruh kegiatan
g. Tindakan lain yang bertujuan untuk
menghentikan pelanggaran dan tindakan
memulihkan fungsi lingkungan hidup

Pengenaan paksaan pemerintah dapat


dijatuhkan tanpa didahului teguran apabila
pelanggaran yang dilakukan menimbulkan
(ayat 2):
Ancaman yang sangat serius bagi manusia
dan lingkungan hidup
Dampak yang lebih besar dan lebih luas
jika tidak segera dihentikan
pencemaran/perusakannya
Kerugian yang lebih besar bagi lingkungan
hidup jika tidak segera dihentikan
pencemaran/perusakannya.
Sanksi atas kelalaian terhadap paksaan
pemerintah (Pasal 81) :
Penanggung jawab usaha yang tidak

BAB XIV
PENYIDIKAN DAN PEMBUKTIAN

Penyidikan (Pasal 94) :


Pejabat pegawai negeri sipil tertentu
dilingkungan instansi pemerintah yang
lingkup tugas dan tanggung jawabnya
di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup diberi
wewenang sebagai penyidik
sebagaimana dimaksu dalam hukum
acara pidana untuk melakukan
penyidikan tindak pidana lingkungan
hidup (ayat 1)

Lanjutan
- Kewenangan Penyidik PPNS :

a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran


laporan atau keterangan berkenan dengan
tindak pidana di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup;
b. Melakukan pemeriksaan terhadap setiap
orang yang diduga melakukan tindak pidana
di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup;
c. Meminta keterangan dan bahan bukit dari
setiap orang berkenaan dengan peristiwa
tindak pidana di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup;
d. Melakukan pemriksaan atas pembukuan,
catatan dan dokumen lain berkenaan dengan
tindak pidana di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup;

Lanjutan..
f.

Melakukan penyitaan terhadap bahan dan


barang hasil pelanggaran yang dapat
dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana
di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup;
g. Meminta bantuan ahli dalam rangka
pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana
di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup;
h. Menghentikan penyidikan;
i. Memasuki tempat tertentu,
memotret/membuat rekaman audio visual;
j. Melakukan penggeledahan terhadap badan,
pakaian, ruangan atau tempat lain yang
diduga merupakan tempat dilakukannya
tindak pidana;

Penegakan hukum terpadu (Pasal 95)


:
Dalam rangka penegakan hukum
terhadap pelaku tindak pidana
lingkungan hidup, dapat dilakukan
penegakan hukum terpadu antara
penyidik pegawai negeri sipil, kepolisian,
dan kejaksaan di bawah koordinasi
Menteri (ayat 1)
Ketentuan mengenai pelaksanaan
penegakan hukum terpadu diatur
dengan peraturan perundang-undangan
(ayat 2).

BAB XV
KETENTUAN PIDANA
Tindak Pidana dalam undang-undang ini merupakan kejahatan
(Pasal 97)
Hukuman tindak pidana (pasal 98) :
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan
yang mengakibatkan :
1. dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air,
baku mutu air laut atau kriteria baku kerusakan
lingkungan hidup dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10
(sepuluh) tahun dan denda paling sedikit Rp.
3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) dan paling banyak
Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) (ayat 1)
2. orang luka atau bahaya kesehatan manusia, dipidana
pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan
paling lama 12 (dua belas) tahun dan denda paling
sedikit Rp. 4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah) dan
paling banyak Rp. 12.000.000.000,00 (dua belas miliar
rupiah) (ayat 2)

Pasal lanjutan tindak pidana (pasal 99) :


Setiap orang yang karena kelalaiannya
mengakibatkan :
1. dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu
air, baku mutu air laut atau kriteria baku kerusakan
lingkungan hidup dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3
(tiga) tahun dan denda paling sedikit Rp.
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling
banyak Rp. 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah)
(ayat 1)
2. orang luka atau bahaya kesehatan manusia,
dipidana pidana penjara paling singkat 2 (dua)
tahun dan paling lama 6 (enam belas) tahun dan
denda paling sedikit Rp. 2.000.000.000,00 (dua
miliar rupiah) dan paling banyak Rp.
6.000.000.000,00 (enam miliar rupiah) (ayat 2)
3. Orang luka berat atau mati, dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan

Pasal lanjutan tindak pidana (pasal 100) :


Setiap orang yang melanggar baku mutu air limbah,
baku mutu udara ambien, atau baku mutu gangguan
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3
(tiga) tahun dan denda paling banyak Rp.
3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) (ayat 1).
Tindak pidana hanya dapat dikenakan apabila sanksi
administratif yang telah dijatuhakntidak dipatuhi atau
pelanggaran dilakukan lebih dari 1 kali (ayat 2).
Tindak pidana rekayasa ganetik (Pasal 101) :
Setiap orang yang melepaskan/mengedarkan produk
rekayasa genetik ke media lingkungan hidup yang
bertentangan dengan peraturan perundangundangan atau izin lingkungan dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan
paling lama 3 (tiga) tahundan denda paling sedikit
1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) dah paling
banyak Rp. 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pengelolaan limbah tanpa izin (Pasal 102) :


Setiap orang yang melakukan pengelolaan limbah B3 tanpa
izin (pasal 59 ayat 4) dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun
dan denda paling sedikit 1.000.000.000,00 (satu milyar
rupiah) dah paling banyak Rp. 3.000.000.000,00 (tiga miliar
rupiah).
Penghasil limbah B3 tanpa melakukan pengelolan (pasal
103) :
Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 dan tidak
melakukan pengelolaan (pasal 59) dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3
(tiga) tahun dan denda paling sedikit 1.000.000.000,00
(satu milyar rupiah) dah paling banyak Rp.
3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
Dumping (pasal 104) :
Setiap orang yang melakukan dumping limbah/bahan ke
media lingkungan hidup (pasal 60) tanpa izin dipidana
dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan
denda paling banyak Rp. 3.000.000.000,00 (tiga miliar

Usaha/kegiatan yang tidak punya izin


lingkungan (pasal 109) :
Setiap orang yang melakukan usaha/kegiatan tanpa
memiliki izin lingkungan (pasal 36 ayat 1) dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun
dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling
sedikit 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) dah
paling banyak Rp. 3.000.000.000,00 (tiga miliar
rupiah).
Penyusun amdal tanpa punya sertifikat (pasal
110) :
Setiap orang yang menyusun amdal tanpa sertifikat
kompetensi penyusun amdal (pasal 69 ayat 1 huruf i)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga)
tahun dan denda paling banyak Rp. 3.000.000.000,00
(tiga miliar rupiah).

Pejabat pemberi izin lingkungan (pasal 111) :


Pejabat pemberi izin lingkungan yang menerbitkan
izin lingkungan tanpa dilengkapi dengan amdal atau
UPL-UKL (pasal 37 ayat 1) dipidana dengan pidana
penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan paling banyak
Rp. 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah)

Pejabat pemberi izin usaha /kegiatan yang


menerbitkan izin usaha /kegiatan tanpa dilengkapi
dengan izin lingkungan (pasal 40 ayat 1) dipidana
dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan
paling banyak Rp. 3.000.000.000,00 (tiga miliar
rupiah)

Pejabat yang tidak melakukan pengawasan (Pasal 112) :


Setiap pejabat berwenang yang dengan sengaja tidak melakukan
pengawasan terhadap ketaatan penanggung jawab usaha/kegiatan
terhadap peraturan perundang-undangan dan izin lingkungan (pasal 71 dan
pasal 72) yang mengakibatkan terjadinya pencemaran/kerusakan
lingkungan yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan paling banyak Rp.
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Keterangan yang tidak benar (pasal 113) :
Setiap orang yang memberikan informasi palsu, menyesatkan,
menghilangkan informasi, merusak informasi atau memberikan keterangan
yang tidak benar yang diperlukan dalam kaitannya dengan pengawasan dan
penegakkan hukum yang berkaitan dengan perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup (pasal 69 ayat 1 huruf j) dipidana dengan pidana penjara
paling lama 1 (satu) tahun paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah).
Tidak melaksanakan paksaan pemerintah (pasal 114) :
Setiap penanggung jawab usaha/kegiatan yang tidak melaksanakan
paksaan pemerintah dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu)
tahun dan denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Menganggu penyidikan (Pasal 115) :


Setiap orang yang dengan sengaja mencegah,
menghalang-halangi atau menggagalkan pelaksanaan
tugas pejabat pengawas lingkungan hidup atau pejabat
penyidik pegawai negeri sipil, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 1 (satu) tahun dan paling banyak Rp.
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Sanksi bersama (pasal 116) :
1. Apabila tindak pidana lingkungan hidup dilakukan oleh,
untuk atau atas nama badan usaha, tuntutan pidana dan
sanksi padana dijatuhkan kepada :
a. Badan usaha
b. Orang yang memberi perintah untuk melakukan tindak
pidana
tersebut atau orang yang bertindak sebagai
pemimpin kegiatan dalam tindak pidana tersebut..
2. Apabila tindak pidana lingkungan hidup tersebut diatas
dilakukan oleh orang, berdasarkan hubungan kerja atau
hubungan lain yang bertindakl dalam lingkup kerja badan
usaha, sanksi pidana dijatuhkan terhadap pemberi perintah
atau pemimpin dalam tindak pidana tersebut tanpad
memperhatikan tindak pidana tersebut dilakukan sedcara

Sanksi pidana (Pasal 117) :


jika tuntutan pidana diajukan kepada pemberi perintah
atau pemimpin tindak pidana (pasal 116 ayat 1 huruf b),
ancaman pidana dijatuhkan berupa pidana penjara dan
denda diperberat dengan sepertiga.
Sanksi pidana (pasal 118) :
Terhadap tindak pidana (pasal 116 ayat 1 huruf a), sanksi
pidana dijatuhkan kepada badan usaha yang diwakili oleh
pengurus yang berwenang mewakili di dalam dan di luar
pengadilan sesuai dengan perundang-undangan selaku
pelaku fungsional.
Aturan lain (pasal 119) :
selain pidana sebagaimana dimaksud dalam undangundang ini, terhadap badan usaha dapat dikenakan
pidana tambahan atau tindakan tata tertib berupa :
a. Perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak
pidana
b. Penutupan seluruh atau sebagian tempat
usaha/kegiatan
c. Perbaikan akibat tindak pidana
d. Pewajiban mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak

Terimakasih