Feb - Mar 2016

SUKSESKAN MUNAS GPFI XV / 2016

PMMC

TRANS HOTEL, 23 - 25 OKTOBER 2016, BANDUNG - JAWA BARAT

Edisi Feb - Mar 2016

News

www.pmmc.or.id

media komunikasi penjual & pembeli farmasi

WE
Care
We
Share
Baksos GPFI, PMMC & SOS Children Village
Awal tahun 2016, tepatnya 13 Februari
PMMC - GPFI dan Panti Asuhan SOS
Children Village menggelar acara bakti
sosial di Taman Cibodas Jawa Barat.
Acara Baksos direncanakan akhir tahun
2015 dan disusun kepanitiaan oleh
pengurus PMMC.
Rapat panitia pertama di bulan
Desember 2015, dilaksanakan di ruang
aula Panti Asuhan SOS Children Village
di Cibubur Jakarta Timur dan rapat
kedua bertempat juga di SOS Children
Village Cibubur. Dalam rapat tersebut
membahas mengenai susunan acara,

Pharma Materials Management Club

anggaran dan jenis permainan.
Keberangkatan menuju taman Cibodas
berkumpul di lapangan panti asuhan
SOS Children Village Cibubur. Anakanak dan ibu asuh yang ikut berwisata
berjumlah 300 orang. Anak panti asuhan
yang ikut berwisata mulai dari usia balita
hingga dewasa.
Panita acara bakti sosial sudah
mempersiapkan berbagai atribut berupa
kaos, topi, tas dan alat tulis untuk
sekolah. Kaos yang disiapkan oleh panitia
berwarna kuning dan topi berwarna biru
navy. Dan semuanya mendapat apa yang

telah disiapkan oleh panitia bakti sosial.
PMMC menyediakan dua bus
pariwisata untuk mengantar anak-anak
dan ibu asuh menuju taman Cibodas.
Bus diberangkatkan pukul 05:00 WIB
dari panti asuhan SOS Children Village.
Semua yang berangkan dan menuju ke
acara bakti sosial menggunakan kaos
berwarna kuning dan bertopi biru.
Tenda dan panggung di tempat
acara sudah dipersiapkan oleh panita
dari PMMC dan SOS Children Village
sejak kemarin sore. Tak ketinggalan
ahli atau pawang hujan disiapkan oleh
PMMCNEWS I

1

Feb - Mar 2016

WE Care We Share

Baksos GPFI, PMMC & SOS Children Village

panitia untuk antisipasi hujan ditengah
acara berlangsung. Tas berbahan kain
didalamnya disediakan mantel hujan untuk
menghindari supaya tidak basah saat hujan.
Acara bakti sosial dibuka oleh ketua
umum bapak Kendrariadi Suahanda.
Menurut beliau,"Acara bakti sosial dengan
SOS Childrens Village Cibubur merupakan
kegiatan rutin setiap tahun, kalau tahun
2015 kita mengadakan di Aula SOS
Childrens Village Cibubur dan tahun ini kita
ingin mengajak bertamasya anak-anak dan
ibu asuh panti asuhan SOS Childrens Village
Cibubur yakni di Taman Cibodas, dan ini
usulan dari anak-anak panti asuhan dan
pengurus PMMC".
Dalam acara tersebut, PT. Actavis
Indonesia, PT. Dian Cipta Perkasa, PT.
Genero, PT. Avesta Continental Pack, PT.
Dian Langgeng Mandiri, dan beberapa
pengurus memberikan sumbangan untuk
anak-anak panti asuhan SOS Childrens
Village Cibubur.
Berbagai permainan dalam acara bakti
sosial, melibatkan pengurus PMMC,

2

I PMMCNEWS

ibu asuh dan anak-anak panti asuhan.
Permainan yang disuguhkan oleh panitia
antara lain, merias teman dengan mata
tertutup, membagikan tongkat dengan
berbaris, menciptakan jingle atau slogan
acara bakti sosial. Semua acara permainan
dilakukan dalam bentuk tim.
Acara bakti sosial berakhir pada sore
hari, semua tim yang ada mendapatkan
hadiah dari panitia bakti sosial. Dan semua
berkumpul untuk foto bersama di depan
panggung dan di lapangan volly berbaris
membentuk kata PMMC & SOS untuk
diambil video melalui drone.
Semua anak-anak dan ibu asuh, kembali
berkumpul di pelataran parkir bus yang
sudah dipersiapkan oleh panitia. Rasa
gembira anak-anak membuat PMMC
bangga bisa saling peduli dan berbagi.
Pengurus PMMC akan mengagendakan
kembali tahun depan dengan konsep acara
yang berbeda.

Pharma Materials Management Club

Feb - Mar 2016

Produksi Bahan Baku garam farmasi

Indonesia MANDIRI Perkuat
Industri Farmasi
Perkembangan jumlah
penduduk di Indonesia
semakin besar, kebutuhan
akan obat-obatan yang
meningkat harus diimbangi
dengan industri farmasi
yang kuat dan mandiri.
Selain mengurangi
ketergantungan impor
bahan baku obat juga
menghemat devisa,
mengembangkan penelitian
bahan baku obat dan
pengembangan teknologi
farmasi.
Kemandirian Industri farmasi menjadi
kunci tak hanya untuk bersaing, namun
juga untuk mensejahterakan rakyat
di bidang kesehatan. “Kemandirian
bahan baku obat sudah merupakan
program pemerintah, bahkan tercantum
dalam Rencana Strategis Kementerian
Kesehatan sejak tahun 2010, namun
dalam pelaksanaannya tidak dapat
dilakukan hanya oleh Kementerian
Kesehatan, namun memerlukan
partisipasi dari berbagai stakeholder,
untuk itu diperlukan sinergisme antara
academic, business, government
dan community (ABGC) dalam
Pharma Materials Management Club

pelaksanaanya” ujar Menteri Kesehatan
RI Prof. Dr. Nila Moeloek, Sp.M(K) dalam
program Economic Challenges di Metro
TV (26/1/2016).
Menteri Perindustrian Saleh Husin
mengatakan hal itu saat meninjau
pembangunan pabrik obat biologi milik
PT Kalbe Farma Tbk di Cikarang, Bekasi,
Jawa Barat, Rabu (27/1/2016).
“Presiden Joko Widodo sangat
menaruh perhatian pada industri
farmasi karena selama ini impor bahan
baku obat masih 95 persen. Maka kita
perlu bekerja sama dengan para pelaku
industri ini untuk menumbuhkan industri
farmasi demi mengurangi importasi,”
katanya.
Pemerintah mengakui, berusaha
mempercepat penguatan produksi obatobatan oleh industri di dalam negeri.
Menperin mengungkapkan, pemerintah
akan meluncurkan paket kebijakan
ekonomi terkait farmasi dalam waktu
dekat.
Pada level ASEAN, pasar farmasi
Indonesia mencapai 27 persen dari total
pasar ASEAN. Dari jumlah tersebut,
sekitar 70 persen didominasi oleh
pemain nasional yang menjadikan
Indonesia satu-satunya negara di ASEAN
yang didominasi oleh industri lokal.
Pasar produk farmasi Indonesia sendiri

pada tahun 2016 ini diproyeksikan
sebesar Rp 69,07 triliun yang diharapkan
meningkat menjadi Rp 102,05 Triliun
pada tahun 2020.
“Nilai perdagangan produk farmasi
intra-ASEAN adalah sebesar USD
1,11 miliar. Itu peluang yang harus
diiringi dengan peningkatan kualitas
yang mumpuni melalui Research &
Development (R&D) yang komprehensif,
mengingat impor bahan baku kita sangat
tinggi,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Kemenperin
meminta dilakukan penelitian
independen pada produk biotech and
natural sebagai substitusi bahan baku
obat berbasis kekayaan alam yang
terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Soal investasi, hal itu menjadi
salah satu langkah penting dalam
pengembangan industri farmasi
Indonesia menuju kemandirian produksi
obat dan bahan baku obat.
Swasembada Garam
Swasembada garam perlu diikuti
dengan serapan industri yang
menggunakan garam sebagai bahan
baku, terutama industri farmasi. Karena
itu industri farmasi harus disiapkan dan
didorong untuk memanfaatkan garam
lokal dibandingkan garam impor.
... bersambung hal. 4

PMMCNEWS I

3

Feb - Mar 2016

... lanjutan hal. 3

Kementerian Perdagangan
menyatakan bahwa untuk impor garam
konsumsi memerlukan rekomendasi
dari kementerian teknis dan hanya
bisa dilakukan oleh Badan Usaha Milik
Negara (BUMN) yang bergerak di bidang
pergaraman.
“Garam konsumsi hanya dapat
diimpor oleh BUMN yang bergerak di
bidang pergaraman dan pada saat gagal
panen raya,” kata Plt. Direktur Jenderal
Perdagangan Luar Negeri Kementerian
Perdagangan, Karyanto Suprih, di
Jakarta, Selasa (19/1/2016).
Industri farmasi Indonesia saat ini,
masih sangat tergantung pada bahan
baku impor, hampir 95% bahan baku
obat (BBO) yang diperlukan masih
harus diimpor. Salah satu bahan yang
masih diimpor adalah garam farmasi.
Dalam industri farmasi, garam farmasi
merupakan bahan baku yang banyak
digunakan antara lain sebagai bahan
baku sediaan infus, produksi tablet,
pelarut vaksin, sirup, oralit, cairan
pencuci darah, minuman kesehatan dan
lain-lain.
Kebutuhan garam farmasi di
Indonesia sampai saat ini seluruhnya
masih dipenuhi oleh produk impor.
Dikarenakan hingga sekarang belum ada
industri lokal yang memproduksi garam

4

I PMMCNEWS

farmasi. Kebutuhan garam tersebut
masih dimpor seperti dari Jerman,
China, Australia, Selandia dan India.
Data dari Dirjen Perdagangan Luar
Negeri Kementerian Perdagangan
Republik Indonesia, menunjukkan bahwa
impor bahan baku garam farmasi tahun
2013 sebesar 3.152 ton dan seluruhnya
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
dalam negeri dan kenaikan volume
impor garam farmasi pada rentang tahun
2011 – 2012 dan 2012 – 2013 masing –
masing adalah 25 % dan 35%.
Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT) telah berhasil
mengembangkan teknologi produksi
garam farmasi hingga pada skala pilot.
Produk hasil kajian tersebut telah lulus
pengujian produk sebagai NaCl derajat
farmasi dari berbagai laboratorium,
diantaranya pengujian dari lembaga
perguruan tinggi, PT. Sucofindo maupun
industri pengguna seperti PT. Otsuka
dan PT. Biofarma. Proses produksi garam
farmasi ini juga telah mendapatkan
sertifikat paten dari Dirjen HAKI dengan
No Paten ID P0026107 tahun 2010.
Berdasarkan pemetaan kandungan
teknologi dan sumber bahan baku
serta bahan penolongnya, maka
teknologi produksi garam farmasi yang
akan diterapkan ini sebagian besar

menggunakan bahan atau peralatan
yang diproduksi di dalam negeri. Dengan
demikian maka secara tidak langsung
rencana pembangunan pabrik garam
farmasi ini mampu memberikan nilai
tambah bagi industri terkait lainnya.
Pembangunan pabrik ini bahan baku
obat garam farmasi PT Kimia Farma
(Persero) Tbk ini mampu menekan laju
impor garam farmasi yang saat ini masih
impor dari luar negeri. Direncanakan
harga bahan baku obat garam farmasi
PT Kimia Farma (Persero) Tbk lebih
rendah dari harga garam farmasi impor
yang saat ini berkisar Rp7.000,00 per
kilogram.
Sejalan dengan itu, Kemenperin
meminta dilakukan penelitian
independen pada produk biotech and
natural sebagai substitusi bahan baku
obat berbasis kekayaan alam yang
terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Soal investasi, hal itu menjadi
salah satu langkah penting dalam
pengembangan industri farmasi
Indonesia menuju kemandirian produksi
obat dan bahan baku obat. (tph/dbs)

Pharma Materials Management Club

Feb - Mar 2016

Lembaga Kebijakan Barang/Jasa Pemerintah

Pembatalan tender secara sepihak

Pemutusan hubungan kerja
(PHK) karyawan menghantui
industri konsumen seperti
produsen obat pun tengah
ketar-ketir menghadapi
risiko PHK karyawan.
Di industri farmasi menjelaskan,
salah satu penyebab meningkatnya
risiko PHK di industri farmasi saat ini
adalah terjadinya pembatalan lelang
obat untuk memasok kebutuhan
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS) Kesehatan. Penundaan lelang
obat untuk BPJS ini yang membuat
operasional biaya produksi perusahaan
farmasi di Indonesia kacau.
Seperti dalam dua tahun terakhir,
penyediaan obat untuk BPJS ini
porsinya mencapai sekitar 60% dari
total omzet industri farmasi. Bisa
dibayangkan betapa besar potensi
kerugiannya produksi jika pasokan
kepada pembeli utama ini tertunda.
Kepala Lembaga Kebijakan Barang/
Jasa Pemerintah (LKPP) Agus
Prabowo membenarkan kondisi ini.
Pharma Materials Management Club

Ia mengungkapkan, tender yang
dibatalkan adalah tender e-catalog
obat tahun 2016. Meski begitu, Agus
mengklaim telah mempersiapkan
tender susulan. "Sedang kami
persiapkan tender ulangnya," kata
Agus kepada wartawan, Selasa
(9/2/2016)
Hanya saja beliau belum dapat
memastikan kapan waktu lelang
susulan dilaksanakan. Beliau hanya
memastikan, jangka waktu akhir lelang
dilakukan Maret 2016.
"Kami berusaha sebelum Maret
2016 lelang sudah selesai," terang
Agus tanpa menjelaskan alasan sebab
musabab pembatalan lelang e-catalog
tersebut.
Penundaan atau pembatalan tender
oleh LKPP dilakukan secara tersebut
membuat gusar pelaku industri
farmasi. "Obat untuk BPJS Kesehatan.
Jika dibatalkan kami akan dirugikan,"
kata sumber Media yang enggan
disebutkan identitasnya tersebut,
Selasa (8/2/2016).
Informasi ini menceritakan,
pembatalan tender dilakukan LKPP
setelah ada pemenang. "Dengan
alasan ada masalah internal LKPP,"
ungkapnya.
Bisa diketahui, dalam proses tender
yang dilakukan LKPP itu diikuti sekitar
40 perusahaan farmasi dengan
nilai proyeknya sekitar Rp 2 triliun.

Pengadaan obat e-catalog tersebut
mencari sekitar 350 jenis obat untuk
keperluan program Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN).
Ancaman terhadap PHK
Selain bisa mengganggu
ketersediaan obat untuk program
JKN, penundaan tender obat tersebut
membuat rencana bisnis industri
farmasi mulai dari produksi sampai
dengan pemasaran berantakan. Dan
Ini akan memperkeruh kondisi industri
farmasi. Ujung dari masalah ini bisa
menimbulkan PHK.
Di sisi lain, industri farmasi juga
mendapat kabar buruk dari sektor
ketenagakerjaan. Michael, Pimpinan
Kolektif Nasional Konfederasi
Persatuan Buruh Indonesia (KPBI)
mengatakan, ada beberapa
perusahaan farmasi yang saat ini
tengah melakukan proses PHK
terhadap karyawan. "Termasuk salah
satunya Novartis," kata Michael
kepada wartawan, Selasa (9/2/2016).
Tidak hanya perusahaan
multinasional bahkan perusahaan
farmasi lokal pun yang memenangkan
tender lelang e-catalog sudah siap
gulung tikar.
Berapa jumlahnya, beliau belum
mengungkapkan dan masih akan
menghitungnya. (tph/dbs)

PMMCNEWS I

5

Feb - Mar 2016

perlunya hulu

industri farmasi dikembangkan
Kementerian Perindustrian meyakini hulu industri farmasi dapat bertumbuh lebih
subuh sejalan dengan dikeluarkannya bidang ini dari daftar negatif investasi.
Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan selama ini bahan baku obat
90% diimpor. Guna menekan persentase ini maka industri hulu farmasi harus
digerakkan. Salah satunya bisa dengan membuka kesempatan bagi perusahaan
asing menancapkan modal.
“Bagaimana agar importasi ini
dikurangi tentu dengan membangun
industri obat dari hulu ke hilir di
dalam negeri,” ucapnya di sela
kunjungan ke kawasan industri di
Gresik.
Saleh menyambut baik
dikeluarkannya industri farmasi
dari daftar negatif investasi.
Dengan begini bidang usaha ini jadi
terbuka seratus persen terhadap
aliran kapital dari luar negeri.
Menurutnya, bahkan tidak masalah
jika perusahaan bahan baku obat
sepenuhnya dimiliki asing.
Alasan Saleh, karena kenyataannya
industri farmasi domestik belum
piawai memproduksi bahan baku
obat. Kendati investasi yang
dimiliki asing, tetap saja akan
menggerakkan penghiliran industri
obat di Tanah Air.
Anchor industri yang masuk bisa
merangsang kehadiran perusahaan
lain yang ada dalam rantai produksi
bahan baku obat. Selain itu juga
bisa menekan harga obat serta

6

I PMMCNEWS

membuka lapangan kerja lebih lebar
bagi tenaga kerja Indonesia.
“Tidak ada ancaman masuknya
tenaga kerja asing, justru akan
menyerap tenaga kerja lokal juga,”
ujar Saleh.
Namun Kementerian
Perindustrian sejauh ini baru dalam
taraf menyambut potensi investasi
asing yang bakal masuk. Belum ada
langkah lebih lanjut yang disiapkan.
Misalnya, dengan memberikan
tenggat waktu peningkatan
lokalisasi bahan baku obat.
Sebagai contoh di industri
otomotif, Kemenperin menetapkan
batasan lokalisasi komponen
bagi pemanufaktur low cost and
green car. Menanggapi hal ini
Saleh menjawab, “Nanti kami
koordinasikan dengan Kemenkes.
Kalau sekarang yang penting
bagaimana kurangi impor dulu”.
Diberitakan Bisnis sebelumnya,
pelaku industri farmasi
membenarkan untuk membangun
struktur industri yang kuat, harus

dimulai dari pembangunan industri
hulu di dalam negeri.
Direktur Utama PT Phapros Tbk
Iswanto mengakui industri bahan
baku obat belum kuat. Oleh karena
itu, industri hulu harus disuburkan
agar perlahan bisa dilanjutkan
dengan mengembangkan industri
perantara.
“Memangun industri bahan baku
itu tidak mudah. Perlu kondisi
khusus untuk mengembangkan
ini, termasuk dari sisi perpajakan,”
katanya kepada Bisnis.
Dia menjelaskan bahwa hampir
50% bahan baku farmasi global
dikuasai oleh China dan India yang
kuat industri hulu dan antaranya.
Menurutnya, Indonesia juga punya
potensi untuk mengembangkan
industri antara yang bahan bakunya
berasal dari industri petrokimia.

Pharma Materials Management Club

Feb - Mar 2016

BUKA
PUASA
BERSAMA
KEMENKES - BPOM - PMMC - GPFI - GAKESLAB

Pharma Materials Management Club

PMMCNEWS I

7

Liputan Khusus MUNAS GPFI XV

persiapan munas gpfi xv tahun 2016

sumbang saran demi masa depan

Beberapa bulan lagi
tepatnya 23 - 25 Oktober
2016 di Trans Hotel
Bandung, GPFI akan
mempunyai ketua umum
baru. Bertempat di hotel
Bidakara 17 Maret 2016,
panitia OC dan SC mengelar
rapat pembentukan
acara Munas GP Farmasi
Indonesia yang ke 15.
Rapat yang dipimpin oleh
ketua Organizing Commitee
bapak Handoko dan dihadiri
oleh Sekjen GPFI bapak Tirto
Kusnadi, Direktur Eksekutif
GPFI bapak Darojatun
Sanusi, ketua umum
GPFI Jabar bapak Donny

Hardiana, ketua umum
Jatim bapak Adi Supeno dan
para panitia OC & SC.
Jawa Barat selaku tuan
rumah Munas GPFI XV,
pengurus GPFI dan panitia
lokal akan mempersiapakan
segala kebutuhan Munas
GPFI XV. Menurut ketua
umum GPFI Jabar,"
Diperiode lalu, pengurus
GPFI Jabar sempat tidak
aktif dan baru aktif setahun
ini sejak saya diangkat
sebagai ketua umum oleh
bapak Hamadi Wijaya
bendahara umum GPFI
Pusat, jadi kami akan
mempersiapkan segala
kebutuhan Munas GPFI XV".
Pengurus GPFI Jabar yang
hadir sekitar delapan orang
pengurus.

Bakti sosial

pmmc - gpfi - sos children village

Pharma Materials Management Club

PMMCNEWS I

9

Feb - Mar 2016
Menteri perindustrian Saleh Husin

Maksimalkan Industri Kreatif 2016
diantaranya industri farmasi

Kementerian Perindustrian
(Kemenperin) menargetkan
pertumbuhan industri pada
2016 sebesar 5,7 persen.
Menteri Perindustrian
(Menperin) Saleh Husin ingin
terus menjaga konsistensi
pertumbuhan industri
lebih tinggi daripada angka
pertumbuhan ekonomi
nasional.
Untuk mencapai target
pertumbuhan industri pada 2016,
Kemenperin akan memaksimalkan
kontribusi industri kreatif yang
bernilai tambah tinggi dan
memaksimalkan pembangunan
infrastruktur kawasan industri
di luar Pulau Jawa guna menarik
minat investasi. Pada tahun 2015
ini, Kemenperin telah membangun
jalan poros tengah dan jalur kereta
api di Kawasan Ekonomi Khusus Sei
Mangkei.
Kemenperin akan memberikan
dukungan fasilitas insentif untuk
pengembangan industri. Insentif
yang diharapkan mulai dari insentif
fiskal, seperti tax holiday dan tax
allowance, insentif nonfiskal, hingga
penyediaan pembiayaan.

Menurutnya, semua paket
kebijakan ekonomi yang diluncurkan
oleh pemerintah sejak September
2015 akan bisa dirasakan
manfaatnya pada tahun depan.
Kelompok industri prioritas
tersebut adalah industri pangan,
industri farmasi, kosmetik dan alat
kesehatan, industri tekstil, kulit,
alas kaki, dan aneka industri alat
transportasi, industri elektronika
dan telematika/ICT, dan industri
pembangkit energi.
Selain itu, ada pula industri barang
modal, komponen, bahan penolong
dan jasa industri, industri hulu agro,
industri logam dasar dan bahan
galian bukan logam, serta industri
kimia dasar berbasis migas dan batu
bara. Saleh menegaskan, dalam
beberapa kali kesempatan bertemu
dengan pelaku
Misalnya, ketersediaan energi
listrik dan gas dengan harga
yang bersaing, bunga bank yang
kompetitif, serta harga logistik yang
murah. Mulai 2016 pemerintah
menetapkan harga gas untuk pabrik
sesuai kemampuan industri, yakni 7
dolar AS per MMBTU.
Hal tersebut diharapkan dapat
membuat daya saing industri
meningkat dan semakin kompetitif.
"Ini sudah lama diwacanakan

dan akhirnya terwujud. Kita
memang butuh kerja keras dan
punya semangat yang sama demi
kepentingan semua pihak, terutama
industri," kata Saleh.
Sekjen Kemenperin Syarif
Hidayat menambahkan, untuk
meningkatkan industri prioritas
tersebut, dibutuhkan sinergitas
dari kementerian/lembaga lain
dan pelaku usaha. Selama ini
sektor prioritas telah memberikan
kontribusi besar terhadap kinerja
kumulatif industri pengolahan
nonmigas nasional.
Di tengah kondisi perekonomian
yang masih belum stabil, geliat
industri pengolahan nonmigas
mencapai 5,21 persen atau lebih
tinggi dibanding pertumbuhan
ekonomi nasional yang mencapai
4,73 persen pada kuartal III 2015.
Syarif mengatakan, di tengah
situasi ekonomi global yang sedang
lesu, Kemenperin akan melakukan
sejumlah penyesuaian target
pembangunan industri.
"Karena situasi ekonomi yang
tidak baik, akan menyesuaikan
sejumlah target, terutama untuk
lima tahun pertama dalam yang
tertuang dalam rencana induk
pembangunan industri nasional.
Karena, dalam lima tahun pertama
ini situasi ekonomi diperkirakan
masih berat," kata Syarif.
Penyesuaian pertama yang
dilakukan adalah menurunkan
target pertumbuhan industri pada
tahun ini menjadi hanya 5,5 persen
dari target semula, yakni 6,8 persen.
Selain itu, target empat tahun
ke depan ditetapkan sebesar 5,7
persen pada 2016, 6,5 persen pada
2017,7,4 persen untuk 2018, dan
8,4 persen pada 2019.
Target tersebut lebih rendah
dari yang telah ditetapkan dalam
Permenperin No. 31.1/M-IND/
PER/3/2015 tentang Rencana
Strategis Kementerian Perindustrian
2015-2019.
... bersambung hal. 11

10

I PMMCNEWS

Pharma Materials Management Club

Feb - Mar 2016

THE DEDICATED B2B PLATFORM
FOR INDONESIA’S
PHARMACEUTICAL SECTORS
05 – 08 October 2016 – JIExpo
Jakarta
EXHIBITION FEATURING
IPEX – INDONESIA PHARMACEUTICAL
EXPO 2016 | www.ipex.co.id
Genjot daya saing
Dalam upaya menumbuhkan serta
meningkatkan kinerja dan daya saing industri
nasional, Kemenperin mengambil langkah
strategis melalui paket-paket kebijakan
ekonomi.
Langkah pertama, yakni deregulasi,
debirokratisasi,serta penegakan hukum
dalam kepastian usaha melalui perombakan
89 peraturan dalam rangka memperlancar
kegiatan usaha.
Kemudian, langkah kedua melakukan
persetujuan tax alowance dan tax holiday
dengan mempercepat layanan investasi dalam
bentuk kemudahan dan kepastian fasilitas dan
memangkas perizinan investasi.
Langkah ketiga, yakni melakukan
penyesuaian harga energi melalui penurunan
harga gas dan listrik untuk industri. Selain itu,
kemudahan KUR melalui penurunan tingkat
bunga dari 22 persen menjadi 12 persen
dengan cakupan penerima KUR diperluas
serta proses persetujuan investasi.
Langkah keempat adalah pemberian
kredit modal kerja untuk ekspor melalui
besaran pinjamanyang diberikan maksimai
Rp 50 miliar per perusahaan untuk
komoditasfurnitur, barang dari kayu, tekstil
dan produk tekstil, serta alas kaki.
Selanjutnya, langkah kelima, yaitu revaluasi
aset melalui perlakuan khusus PPh atas
penilaian kembali aktiva tetap untuk tujuan
perpajakan yang diajukan pada tahun 2015
dan 2016.
Langkah keenam adalah memberikan
insentif KEK melalui PPh (tax holiday & tax
allowance) dan pembebasan PPN & PPnBM
importasi serta kepabeanan, ketenagakerjaan,
pertanahan, dan perizinan. Syarif optimistis,
paket-paket kebijakan ekonomi yang
diluncurkan sejak September 2015 akan
membuahkan hasil pada 2016 mendatang.

The 11th International Exhibition on Pharmaceutical,
Ingredients, Contract manufacturing, Processing, Technology,
Packaging machinery, Equipments and Services
Featuring:
• APIs • Intermediates • Natural Extracts
• Excipients / Formulation • Custom Manufacturing
• Biopharmaceuticals • Fine Chemicals
• Lab Equipment, Instruments, Labware, Water Treatment
• Enviroment And Quality Control, Technical Publication
• Pharmaceutical Products / Medicine
• Pharmaceutical Enginering• Material & Packaging
• Plant & Machinery for Pharma

(sumber: Republika)

Pharma Materials
Materials Management
Management Club
Club
Pharma

PMMCNEWS I

11

Feb - Mar 2016

12

I PMMCNEWS

Pharma Materials Management Club

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful