Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH BIOKIMIA LANJUT

HORMON KORTISOL

Disusun oleh:
1. Agustin Dwi Cahya Merdekawati (S831502035)
2. Mirrah Megha Singa Murti (S831502019)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SAINS KIMIA


PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN

Tubuh kita adalah suatu ciptaan Tuhan yang luar biasa, di dalamnya terdapat
berbagai organ sampai sel yang tertata teratur memiliki fungsi masing-masing.
Bayangkanlah kegiatan-kegiatan sebuah perusahaan internasional yang maju.
Ratusan ribu orang berkemampuan tinggi berkumpul di bawah satu atap
organisasi bisnis ini, semuanya bekerja ke arah satu tujuan bersama. Pengaturan
sebagaimana dijelaskan di atas harus memiliki komunikasi yang amat tertata di
tiap tingkatannya. Keberhasilan bergantung secara langsung pada komunikasi.
Jika tidak, perusahaan tak dapat bertahan dalam lingkungan masa kini yang cepat
berubah dan berkembang. Begitu pula yang terjadi di dalam tubuh manusia,
didalamnya terdapat zat pengatur yang disebut hormon.
Misalnya, yang membuat Anda dapat membaca makalah ini adalah sel-sel
mata Anda, dan untuk memberi makan sel-sel itu dibutuhkan glukosa. Untuk
memenuhi kebutuhan ini, sebuah sistem dibentuk dalam tubuh Anda yang
menghitung berapa banyak gula di dalam darah Anda dan menjaga agar jumlah ini
mantap. Sistem komunikasi kimiawi ini yang membuat 100 trilyun sel bekerja
saling selaras ini disebut sistem hormon. Sistem hormon, bersama dengan sistem
syaraf, menjamin penyelarasan sel di dalam tubuh. Jika kita menyetarakan sistem
syaraf dengan pesan-pesan yang dikirim melalui internet, sistem hormon dapat
disetarakan dengan sebuah surat yang dikirim melalui pos: lebih lambat, namun
pengaruhnya bertahan lebih lama.
Salah satu hormon yang mengatur kegiatan anggota tubuh kita sebagai
manusia adalah hormon kortisol. Hormon kortisol bekerja dalam tubuh manusia
bertempur di berbagai medan melawan rasa sakit, luka, infeksi, kepanasan,
kedinginan,

alergi,

kekurangan

oksigen,

lapar, dan

faktor-faktor

yang

meningkatkan suhu tubuh. Hormon kortisol selengkapnya akan dibahas pada bab
II makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN
Kortisol adalah glukokortikoid utama dihasilkan oleh zona fasikulata (ZF)
dan zona reticularis (ZR) bagian dalam yang dirangsang oleh ACTH
(adenokortikotropik hormon). Sekresi kortisol memiliki pola tertinggi ketika
bangun tidur (pagi) dan terendah pada waktu tidur (malam atau bed time). Sekresi
kortisol mencapai puncaknya antara pukul 06.00 sampai 08.00 WIB. Selain itu,
produksi kortisol juga meningkat pada waktu latihan fisik karena penting untuk
meningkatkan glukosa dan asam lemak bebas sebagai bahan pembentuk energi.
Jumlah kortisol normal pada jam 09.00 WIB sebesar 6-20 g/dl, pada
tengah malam kurang dari 8 g/dl. Kortisol terikat erat dengan transkortin atau
Cortisol-Binding Globulin (CBG) 75% dari jumlah kortisol seluruhnya. 15%
terikat kurang erat dengan albumin, dan 10% dari jumlah kortisol seluruhnya
memiliki efek metabolik.
Berikut beberapa efek metabolik kortisol, yaitu :
a. Protein

: Proses katabolik sehingga meningkatkan glukoneogenesis


b. Lemak :

Proses lipolisis sehingga pelepasan lemak

bebas (FFA) meningkat dan menyebabkan deposisi lemak


sentripetal (Buffalo Hump)
c. Karbohidrat

Penyerapan glukosa di otot dan

lemak menurun, sekresi glukosa oleh hepar meningkat


sehingga

sel

beta

pankreas

dapat

dilemahkan

(DM

tersembunyi muncul).
Fungsi kortisol berlawanan dengan insulin yaitu menghambat sekresi insulin
dan meningkatkan proses glukoneogenesis di Hepar. Sekresi kortisol juga
dirangsang oleh beberapa faktor seperti trauma, infeksi, dan berbagai jenis stres.
Kortisol akan menghambat proteksi dan efek dari berbagai mediator dari proses
inflamasi dan imunitas seperti interleukin-6 (IL-6), Lymphokines, Prostaglandins,
dan histamine
Produksi kortisol dibutuhkan untuk produksi Angiostensin-II yaitu efek
unutk vasokontriksi dan vasotonus sehingga dapat membantu mempertahankan

tonus pembuluh darah yang adekuat (adequate vascular tone). Tonus pembuluh
darah yang adekuat untuk mengatur tonus arteriol dan memelihara tekanan darah.
Glukokortikoid juga meningkatan sekresi air (renal free water clearance),
ekskresi K+, retensi Na+ dan menekan penyerapan kalsium di tubulus renalis.
Mekanisme sekresi kortisol yaitu ketika kadar kortisol dalam darah menurun
maka target cells yaitu kelenjar adrenal menstimulasi hipofisis untuk mensekresi
ACTH, agar ACTH tersekresi maka perlu menstimulasi hipotalamus untuk sekresi
ACRH.
Hormon kortisol dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Kelenjar adrenal terletak
di kutub atas kedua ginjal. Kelenjar adrenal juga disebut sebagai kelenjar
suprarenalis karena letaknya yang ada di atas ginjal. Selain itu kelenjar adrenal
juga disebut kelenjar anak ginjal karena lokasinya yang menempel pada ginjal.
Kelenjar adrenal tersusun dari dua lapis yaitu korteks dan medulla. Korteks
adrenal esensial untuk bertahan hidup. Kehilangan hormon adrenokortikal dapat
menyebabkan kematian. Korteks adrenal mensintesis tiga kelas hormon steroid
yaitu mineralokortikoid, glukokortikoid, dan androgen. (Hotma, 1999)

Gambar 1. Anatomi fisiologis kelenjar adrenal


(Sumber:http://m.medicastore.com)
Hormon mineralokortikoid pada manusia yang utama adalah aldosteron
dibentuk di zona glomerulosa. Hormon ini mengatur keseimbangan elektrolit
dengan meningkatkan retensi natrium dan ekskresi kalium. Aktivitas fisiologik ini
selanjutnya membantu dan mempertahankan tekanan darah normal dan curah

jantung. Hormon glukokortikoid pada manusia yang utama adalah kortisol


dibentuk di zona fasikulata. Kortisol memiliki efek pada tubuh seperti
metabolisme glukosa yaitu glukoneogenesis yang meningkatkan kadar glukosa
darah, metabolisme protein, keseimbangan cairan dan elektrolit, inflamasi dan
imunitas. Korteks adrenal mensekresi sejumlah kecil steroid seks dari zona

retikularis. Adrenal mensekresi sedikit androgen dan esterogen.


Gambar 2. Anatomi Melintang Adrenal
(Sumber: www.wikivet.net)

Jumlah dari kortisol yang diproduksi oleh kelenjar adrenal adalah tepat
seimbang. Seperti hormon lainnya, kortisol diatur oleh hipotalamus yang
merupakan salah satu bagian dari otak, dan kelenajr pituitari. Pertama,
hipotalamus mengeluarkan hormon pemicu
yang

disebut

corticotropin-releasing

hormone (CRH) yang dapat menghantarkan


signal untuk membuat kelenjar pituitari
dapat

mengeluarkan

menstimulasi
mengeluarkan

ACTH.

kelenjar

ACTH

adrenal

kortisol.

untuk

Kortisol

lalu

memberikan signal kembali kepada kedua


pihak kelenjar pituitari dan hipotalamus
untuk

mengurangi

hormon

pemicu

(mekanisme inhibisi umpan balik).


Gambar 3. Mekanisme produksi hormon kortisol
Mekanisme pelepasan hormon kortisol atau hormon glukokortikoid lebih
rincinya ditampilkan dalam Gambar 4 berikut ini:

Gambar 4. Mekanisme Pelepasan Hormon Glukokortikoid (Hormon Kortisol)


Hormon kortisol berasal dari Zona Fasciculata dari medula kelenjar adrenal
dan merupakan hormon steroid, hormon ini berdifusi melalui membran dan
bekerja di dalam sel. Di hipotalamus, corticotropin-releasing hormone (CRH)
dibebaskan dan menyebabkan pelepasan hormon adrenokortikotropik (ACTH),
yang menyebabkan sekresi kortisol, perwakilan utama dari glukokortikoid.
Kortisol mengikat dua reseptor di sitosol. Reseptor tipe I mempunyai afinitas yang
tinggi terhadap kortisol, tetapi juga mengikat aldosteron. Tetapi, konsentrasi
intraseluler kortisol selalu lebih besar sehingga reseptor mengikat dapat kortisol
secara khusus. Reseptor tipe II adalah reseptor yang khusus mengikat kortisol
tetapi dengan afinitas yang rendah. Pada saat konsentrasi tinggi, reseptor berlaku
sebagai pengatur khusus dalam situasi stress. Kortisol adalah hormon stres, dan
sebagian besar fungsinya adalah mengindikasi glukoneogenesis, meningkatkan
tingkat asam lemak dalam darah, dan mengurangi metabolisme anabolik dengan
menghambat sintesis protein otot.
Detail mengenai kaskade (efek domino) perjalanan signal dalam produksi
hormon kortisol dapat disimak pada gambar dibawah ini, dimana gambar-gambar
tersebut merupakan potongan dari video animasi produksi hormon kortisol.
Molekul ACTH (adrenokortikotropik) yang dilepaskan oleh kelenjar pituitari di
dalam otak dan dilepaskan kedalam aliran darah. Ketika molekul tersebut sampai
pada kelenjar adrenal, dia akan menstimulasi pengeluaran hormon kortisol. Sistem
kaskade ini begitu rumit sebenarnya, namun akan coba disederhanakan melalui
ilustrasi dibawah ini:

1. ACTH terikat pada reseptor


MC2-R pada sel di dalam
korteks

dari

kelenjar

adrenal.

Sistem

reseptor

MC2-R bekerja menyerupai


sistem

reseptor

andrenerjik

beta-2

yangmana

menginisiasi relaksasi dari


otot

bronkiolus

sel

ketika

epinefrin mengikatnya.
2. ACTH menstimulasi reseptor untuk
merubah bentuknya ketika berikatan.
Perubahan bentuk ini menyebabkan
protein

menjadi

aktif

dan

uncoupled.
3. Protein G terstimulasi dan aktif maka
adenilat siklase dapat mengubah ATP
(molekul energi sel) menjadi cAMP
(molekul pembawa signal).
4. cAMP mengaktivasi protein kinase A,
ketika cAMP berikatan dengan subunit pengatur dari Protein Kinase A
(PKA), perubahan konformasi terjadi yang
melepaskan subunit katalis.

5. Subunit PKA yang aktif kemudian


menuju membran mitokondrial dan
mengaktifkan
protein

(fosforilasi)

sebuah

disebut

StAR

yang

(steroidogenic

acute

regulatory

protein). Sebenarnya ada beberapa


protein yang terlibat untuk bekerja
sama menunjukkan fungsinya dalam
korteks adrenal namun hanya satu yang di perlihatkan dalam gambar untuk
tujuan penyederhanaan.
6. StAR bertanggungjawab untuk menengahi tugas yang rumit mengimpor
kolesterol ke dalam mitokondria.

7. Sekali masuk, enzim mengalami


dua

konversi

secara

kimia,

mengubah kolesterol menjadi


17-OH-pregnenolon,

yang

kemudian dikirim ke retikulum


endoplasma dan diubah menjadi
11-deoksikortisol.

8. Senyawa

11-deoksikortisol

lalu

dikirim kembali ke mitokondria dan


kemudian
kedalam

akhirnya
bentuk

ditransformasi
akhirnya

yaitu

kortisol. Kortisol melewati membran


dan masuk ke aliran darah.

Produksi hormon kortisol dalam tubuh dapat meningkat, bahkan berlebih.


Kelebihan kortisol dapat menyebabkan perubahan berbagai kondisi di dalam
tubuh khususnya fungsi metabolik seperti dibawah ini:
1. Metabolisme protein
Efek

katabolik

dan

antianabolik

pada

protein

yang

dimiliki

glukokortikoid menyebabkan menurunnya kemampuan sel-sel pembentuk


protein untuk mensistesis protein. Kortisol menekan pengangkutan asam
amino ke sel otot dan mungkin juga ke sel ekstrahepatika seperti jaringan
limfoid menyebabkan konsentrasi asam amino intrasel menurun sehingga
sintesis protein juga menurun. Sintesis protein yang menurun memicu
peningkatan terjadinya proses katabolisme protein yang sudah ada di dalam
sel. Proses katabolisme protein ini dan proses kortisol memobilisasi asam
amino dari jaringan ekstrahepatik akan menyebabkan tubuh kehilangan
simpanan protein pada jaringan perifer seperti kulit, otot, pembuluh darah,
dan tulang atau seluruh sel tubuh kecuali yang ada di hati. Oleh karena itu
secara klinis dapat ditemukan kondisi kulit yang mengalami atropi dan mudah
rusak, luka-luka sembuh dengan lambat. Ruptura serabut-serabut elastis pada
kulit menyebabkan tanda regang pada kulit berwarna ungu (striae). Otot-otot
mengalami atropi dan menjadi lemah. Penipisan dinding pembuluh darah dan
melemahnya jaringan penyokong pembuluh darah menyebabkan mudah
timbul luka memar. Matriks protein tulang menjadi rapuh dan menyebabkan
osteoporosis, sehingga dapat dengan mudah terjadi fraktur patologis.
Kehilangan asam amino terutama di otot mengakibatkan semakin banyak

asam

amino

tersedia

dalam

plasma

untuk

masuk

dalam

proses

glukoneogenesis di hati sehingga pembentukan glukosa meningkat.


2. Metabolisme karbohidrat
Efek kortisol terhadap metabolisme karbohidrat untuk merangsang
glukoneogenesis yaitu pembentukan karbohidrat dari protein dan beberapa zat
lain oleh hati. Seringkali kecepatan glukoneogenesis sebesar 6 sampai 10 kali
lipat. Salah satu efek glukoneogenesis yang meningkat adalah jumlah
penyimpanan glikogen dalam sel-sel hati yang juga meningkat.
Kortisol juga menyebabkan penurunan kecepatan pemakaian glukosa
oleh kebanyakan sel tubuh. Glukokortikoid menekan proses oksidasi
nikotinamid-adenin-dinukleotida (NADH) untuk membentuk NAD +. Karena
NADH harus dioksidasi agar menimbulkan glikolisis, efek ini dapat berperan
dalam mengurangi pemakaian glukosa sel.
Peningkatan kecepatan glukoneogenesis dan kecepatan pemakaian
glukosa oleh sel berkurang dapat meningkatkan konsentrasi glukosa darah.
Glukosa darah yang meningkat merangsang sekresi insulin. Peningkatan
kadar plasma insulin ini menjadi tidak efektif dalam menjaga glukosa plasma
seperti ketika kondisi normal. Tingginya kadar glukokortikoid menurunkan
sensitivitas banyak jaringan, terutama otot rangka dan jaringan lemak,
terhadap efek perangsangan insulin pada ambilan dan pemakaian glukosa.
Efek metabolik meningkatnya kortisol dapat menganggu kerja insulin
pada sel-sel perifer, sebagai akibatnya penderita dapat mengalami
hiperglikemia. Pada seseorang yang mempunyai kapasitas produksi insulin
yang normal, maka efek dari glukokortikoid akan dilawan dengan
meningkatkan sekresi insulin untuk meningkatkan toleransi glukosa.
Sebaliknya penderita dengan kemampuan sekresi insulin yang menurun tidak
mampu untuk mengkompensasi keadaan tersebut, dan menimbulkan
manifestasi klinik DM.
3. Metabolisme lemak

gliserofosfat

yang

berasal

dari

glukosa

dibutuhkan

untuk

penyimpanan dan mempertahankan jumlah trigliserida dalam sel lemak. Jika


gliserofosfat tidak ada maka sel lemak akan melepaskan asam lemak. Asam

lemak akan dimobilisasi oleh kortisol sehingga konsentrasi asam lemak bebas
di plasma meningkat. Hal ini menyebabkan peningkatan pemakaian untuk
energi dan penumpukan lemak berlebih sehingga obesitas. Distribusi jaringan
adiposa terakumulasi didaerah sentral tubuh menimbulkan obesitas wajah
bulan (moon face). Memadatnya fossa supraklavikulare dan tonjolan
servikodorsal (punguk bison), Obesitas trunkus dengan ekstremitas atas dan
bawah yang kurus akibat atropi otot memberikan penampilan klasik perupa
penampilan Chusingoid.
4. Sistem kekebalan
Ada dua respon utama sistem kekebalan yaitu pembentukan antibodi
humoral oleh sel-sel plasma dan limfosit B akibat ransangan antigen yang
lainnya tergantung pada reaksi-reaksi yang diperantarai oleh limfosit T yang
tersensitasi.
Pemberian dosis besar kortisol akan menyebabakan atrofi yang
bermakna pada jaringan limfoid di seluruh tubuh. Hal ini akan mengurangi
sekresi sel-sel T dan antibodi dari jaringan limfoid. Akibatnya tingkat
kekebalan terhadap sebagian besar benda asing yang memasuki tubuh akan
berkurang.
Glukokortikoid mengganggu pembentukan antibodi humoral dan
menghambat pusat-pusat germinal limpa dan jaringan limpoid pada respon
primer terhadap anti gen. Gangguan respon imunologik dapat terjadi pada
setiap tingkatan berikut ini yaitu proses pengenalan antigen awal oleh sel-sel
sistem monosit makrofag, Induksi dan proleferasi limfosit imunokompeten,
produksi anti bodi, reaksi peradangan,dan menekan reaksi hipersensitifitas
lambat.
5. Elektrolit
Glukokortikoid memiliki efek minimal pada kadar elektrolit serum.
Glukokortikoid yang diberikan atau disekresikan secara berlebih akan
menyebabkan

retensi

natrium

dan

pembuangan

kalium

menyebabkan edema, hipokalemia dan alkalosis metabolik.


6. Sekresi lambung

sehingga

Sekeresi asam lambung dapat ditingkatkan sekresi asam hidroklorida


dan pepsin dapat meningkat. Faktor-faktor protekitif mukosa dirubah oleh
steroid dan faktor-faktor ini dapat mempermudah terjadinya tukak.
7. Fungsi otak
Perubahan psikologik terjadi karena kelebihan kortikosteroid, hal ini
ditandai dengan oleh ketidak stabilan emosional, euforia, insomnia, dan
episode depresi singkat.

8. Eritropoesis
Kortisol mengurangi jumlah eosinofil dan limfosit di dalam darah.
Involusi jaringan limfosit, menyebabkan rangsangan untuk pelepasan
neutrofil dan peningkatan eritropoiesis.
Jika jumlah hormon kortisol sangat tinggi di dalam tubuh maka akan
menyebabkan terjadinya penyakit sindrom cushing. Cushing sindrome adalah
hiperaktivitas atau hiperfungsi kelenjar adrenal sehingga mengakibatkan
hipersekresi hormon glukokortikoid (kortisol). Bentuk gangguan ini relatif jarang
dijumpai. Sindrom cushing adalah keadaan glukokortikoid yang tinggi dan
mencakup kelebihan glukokortikoid yang disebabkan oleh pemberian terapeutik
kortikosteroid. Sindrom cushing merupakan pola khas obesitas yang disertai
dengan hipertensi, akibat dari kadar kortisol darah yang tinggi secara abnormal
karena hiperfungsi korteks adrenal. Sindromnya dapat tergantung kortikotropin
(ACTH) ataupun tidak tergantung ACTH.
Penyebab sindroma Cushing dari dalam tubuh yaitu akibat produksi kortisol
di dalam tubuh yang berlebihan. Hal ini terjadi akibat produksi yang berlebihan
pada salah satu atau kedua kelenjar adrenal, atau produksi hormon ACTH
(hormon yang mengatur produksi kortisol) yang berlebihan dari kelenjar hipofise.
Hal ini dapat disebabkan oleh :
1. Hiperplasia adrenal yaitu jumlah sel adrenal yang bertambah. Sekitar 70-80%
wanita lebih sering menderita sindroma chusing.

2. Tumor kelenjar hipofise, yaitu sebuah tumor jinak dari kelenjar hipofise yang
menghasilkan ACTH dalam jumlah yang berlebihan, sehingga menstimulasi
kelenjar adrenal untuk membuat kortisol lebih banyak.
3. Tumor ektopik yang menghasilkan hormon ACTH. Tumor ini jarang terjadi,
dimana tumor terbentuk pada organ yang tidak memproduksi ACTH,
kemudian tumor menghasilkan ACTH dalam jumlah berlebihan. Tumor ini
bisa jinak atau ganas, dan biasanya ditemukan pada paru-paru seperti oat cell
carcinoma dari paru dan tumor karsinoid dari paru, pankreas (tumor
pankreas), kelenjar tiroid (karsinoma moduler tiroid), atau thymus (tumor
thymus).
4. Gangguan primer kelenjar adrenal, dimana kelenjar adrenal memproduksi
kortisol secara berlebihan diluar stimulus dari ACTH. Biasanya terjadi akibat
adanya tumor jinak pada korteks adrenal (adenoma). Selain itu dapat juga
tumor ganas pada kelenjar adrenal (adrenocortical carcinoma).
5. Sindrom chusing alkoholik yaitu produksi alkohol berlebih, dimana akohol
mampu menaikkan kadar kortisol.
6. Pada bayi, sindrom cushing paling sering disebabkan oleh tumor
adrenokorteks yang sedang berfungsi, biasanya karsinoma maligna tetapi
kadang-kadang adenoma benigna.
Tanda dan gejala sindrom cushing bervariasi, akan tetapi kebanyakan orang
dengan gangguan tersebut memiliki obesitas tubuh bagian atas, wajah bulat,
peningkatan lemak di sekitar leher, dan lengan yang relatif ramping dan kaki.
Anak-anak cenderung untuk menjadi gemuk dengan tingkat pertumbuhan menjadi
lambat.
Manifestasi klinis yang sering muncul pada penderita cushing syndrome
antara lain :
1. Rambut tipis
2. Moon face
3. Penyembuhan luka buruk
4. Mudah memar karena adanya penipisan kulit

5. Petekie
6. Kuku rusak
7. Kegemukan dibagian perut
8. Kurus pada ekstremitas
9. Striae
10. Osteoporosis
11. Diabetes Melitus
12. Hipertensi
13. Neuropati perifer
Tanda-tanda umum dan gejala lainnya termasuk
1. Kelelahan yang sangat parah
2. Otot-otot yang lemah
3. Tekanan darah tinggi
4. Glukosa darah tinggi
5. Rasa haus dan buang air kecil yang berlebihan
6. Mudah marah, cemas, bahkan depresi
7. Punuk lemak (fatty hump) antara dua bahu
(National Endocrine and Metabolic Diseases Information Service, 2008)

Gambar 5. Ciri Fisik Penderita Sindrom Cushing

Penatalaksanaan Cushing Syndrome bergantung pada apa penyebab hormon


kortisol yang diproduksi secara berlebihan. Penatalaksanaan dapat dilakukan
secara pembedahan, radiasi, kemoterapi atau penggunaan obat untuk menghambat
kortisol. Jika penyebabnya adalah penggunaan jangka panjang hormon
glukokortikoid yang digunakan untuk mengobati gangguan lain, dokter secara
bertahap akan mengurangi dosis hingga mencapai dosis terendah namun tetap
cukup untuk mengendalikan gangguan itu. Setelah kontrol berhasil dilakukan,
dosis harian hormon glukokortikoid dapat ditingkatkan dua kali lipat dan
diberikan pada hari lain untuk mengurangi efek samping .
a. Hipofisis Adenoma
Pengobatan yang tersedia untuk penyakit Adenoma Hipofisis . Cara yang
paling banyak digunakan adalah operasi pengangkatan tumor , yang dikenal
sebagai transsphenoidal adenomectomy. Cara ini menggunakan mikroskop
khusus dan instrumen yang sangat halus, ahli bedah akan mendekati kelenjar
pituitari melalui lubang hidung atau pembukaan yang dibuat di bawah bibir
atas. Tingkat keberhasilan atau penyembuhan dari prosedur ini lebih dari 80
persen bila dilakukan oleh seorang ahli bedah yang berpengalaman. Setelah
operasi hipofisis, tingkat produksi ACTH dua tetes di bawah normal. Hal ini
merupakan penurunan yang alami, namun untuk sementara klienakan diberi
bentuk sintetis dari kortisol ( seperti hydrocortisone atau prednisone).
Pada klien yang mengalami gagal operasi transsphenoidal, dapat
dilakukan metode radioterapi. Radiasi ke kelenjar pituitari diberikan selama 6.
Hal ini memerlukan waktu beberapa bulan atau tahun sebelum klien merasa
lebih baik. Namun demikian, kombinasi dari radiasi dan obat Mitotane
(Lysodren) dapat membantu mempercepat pemulihan. Mitotane dapat menekan
produksi kortisol dan menurunkan kadar hormon plasma dan urin. Tingkat
keberhasilan dengan menggunakan pengobatan Mitotane mencapai 30 sampai
40 persen. Obat lain yang digunakan tanpa atau dengan kombinasi untuk
mengontrol produksi kelebihan kortisol diantaranya aminoglutethimide ,
metyrapone , trilostane dan ketoconazole.
b. Ektopik ACTH Syndrome

Kelebihan produksi kortisol yang disebabkan oleh sindrom ACTH


ektopik dapat disembuhkan dengan menghilangkan semua jaringan kanker
yang mensekresi ACTH. Pilihan pengobatan kanker adalah operasi, radioterapi,
kemoterapi, imunoterapi, atau kombinasi dari perawatan ini tergantung pada
jenis kanker dan seberapa jauh tumor tersebut telah menyebar. Karena ACTH,
tumor mensekresi (misalnya, kanker paru-paru sel kecil) mungkin sangat kecil
dan bahkan telah menyebar luas pada saat diagnosis, obat penghambat, seperti
Mitotane, merupakan bagian penting dari pengobatan. Pada beberapa kasus,
jika operasi hipofisis tidak berhasil, operasi pengangkatan kelenjar adrenal
(adrenalektomi bilateral ) dapat menggantikan cara pengobatan.
c. Tumor Adrenal
Pembedahan adalah pengobatan utama untuk tumor kanker dari kelenjar
adrenal. Pada penyakit Primary Pigmented Micronodular Adrenal operasi
pengangkatan kelenjar adrenal mungkin diperlukan.
Pemeriksaan diagnostik penyakit sindrom cushing dapat dilakukan dengan
melakukan uji laboratorium dengan memeriksa hormon metabolik, sel darah dan
glukosa. Hasil dari pemeriksaan ketiga variabel tersebut akan menunjukkan
bahwa pasien dapat didiagnosa menderita sindrom cushing seperti yang terlihat
pada Tabel 1 dibawah ini:
Tabel 1. Diagnosis Sindrom cushing
Pemeriksaan
Laboratorium
Hormon Metabolik

Variabel

Hasil

a. 17-Hidroksikortikoid

Naik

Sel Darah

b. 17-ketosteroid
a. Eosinofil

Naik
Turun

b. Neutrofil

Naik

c. Darah

Naik

d. Urin
Glukosa

Pemeriksaan diagnostik lain yang dilakukan adalah:

Turun
Positif

1. Sampel darah, untuk menentukan adanya variasi diurnal yang normal pada
kadar kartisol plasma. Variasi ini biasanya tidak terdapat pada gangguan fungsi
adrenal.
2. Test supresi deksametason, untuk menegakkan diagnosis penyebab sindrom
cushing apakah dari hipofisis atau adrenal. Deksametason diberikan pada pukul
11 malam dan kadar kortisol plasma diukur pada pukul 8 pagi di hari
berikutnya.
3. Pengukuran kadar kortisol. Bebas dalam urine 24 jam, untuk memeriksa kadar
17-hidroksikortikosteroid serta 17-ketosteroid yang merupakan metabolit
kortisol & androgen dalam urine. Pada sindrom cushing kadar metabolit dan
kadar kortisol plasma akan meningkat.
4. Stimulasi CRF (Corticotropin Releasing Faktor), untuk membedakan tumor
hipofisis dengan tempat-tempat ektopik produksi ACTH.
5. Pemeriksaan Radioimunoassay ACTH plasma, untuk mengenali penyebab
sindrom cushing.
6. Pemindai CT, USG atau MRI Untuk menentukan lokasi jaringan adrenal &
mendeteksi tumor pada kelenjar adrenal.

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk memperjelas diagnosa


sebelumnya adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Penunjang
a. Foto Rontgen Tulang

Hasil
a. Osteoporosis terutama pelvis, kranium,
kosta, vertebra

b. Pielografi laminografi

b. Pembesaran

adrenal

(karsinoma)

Lokalisasi tumor adrenal

c. Arteriografi
d. Scanning
e. Ultrasonografi
f. Foto rontgen Kranium

c. Hiperplasi
d. Tumor
e. Hiperplasi
f. Tumor hipofisis

Sindrom Chusing yang tidak diobati akan fatal dalam beberapa tahun oleh
karena gangguan kardiovaskuler dan sepsis. Setelah pengobatan radikal kelihatan
membaik, bergantung kepada apakah gangguan kerusakan kardiovaskuler
irreversibel. Pengobatan sustitusi permanen memberikan risiko pada waktu
klienmengalami stres dan dipelrukan perawatan khusus. Karsinoma adrenal atau
yang lainnya cepat menjadi fatal oleh karena kakeksia dan atau metastasis.

BAB III

PENUTUP
Pembahasan pada bab II telah menjelaskan definisi, fungsi serta gangguan
akibat kortisol yang berlebihan di dalam tubuh. Kortisol (juga disebut
hidrokortison, punya komponen F) memiliki efek fisiologis yang luas, termasuk
regulasi pada metabolisme intermedier, fungsi kardiovaskular, pertumbuhan dan
imunitas. Kortisol disintesis dan disekresi diatur oleh system saraf pusat, yang
sangat sensitif terhadap umpan negatif dari kortisol yang ada di sirkulasi dan
glukokortikoid yang berasal dari luar (sintesis).
Penyakit yang dapat timbul akibat jumlah kortisol yang sangat tinggi di
dalam tubuh manusia adalah sindrom cushing. Cushing sindrom adalah kelainan
hiperfungsi kelenjar adrenal yang bertugas memproduksi glukokortikoid atau
kortisol. Pada penyakit ini kadar kortisol dalam darah meningkat. Faktor pemicu
keadaan tersebut ada dua yaitu faktor luar dan dalam tubuh. Secara umum yang
paling sering terjadi yaitu pengobatan kortikosteroid dan keganasan dalam tubuh
yang memicu peningkatan CRH oleh hipotalamus dan ACTH dari hipofisis
sebagai respon umpan balik saat sel target akan hormon kortisol. Hormon kortisol
yang meningkat memberikan dampak pada beberapa fungsi tubuh seperti
penumpukan lemak pada daerah sentral yang disebut moon face, tubuh semakin
gemuk baik akibat kelebihan volume cairan maupun penumpukan lemak, dan lain
sebagainya.
Setelah mengetahui seluk beluk mengenai kortisol, harapannya adalah kita
sebagai manusia dapat menjaga keajaiban yang telah dibenamkan dalam tubuh
kita yaitu hormon kortisol.

DAFTAR PUSTAKA
http://learn.genetics.utah.edu/content/cells/fight_flight/cortisol/
http://www.johnwiley.net.au/highered/interactions/media/Regulation/content/Regu
lation/endo3a/screen0.swf
https://www.academia.edu/10371317/Kortikosteroid_dan_Derivatnya
https://www.academia.edu/9812484/Kelenjar_Adrenal_dan_Kelainannya
J. Corwin, Elizabeth. 2009. Buku Saku Patofisiologi edisi 3. Jakarta : EGC
Pierce A. Grace and Neil R. Borley. 2007. At a Glance Ilmu Bedah edisi 3. Jakarta
: EMS