Anda di halaman 1dari 4

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)


PENANGKAPAN
SATUAN RESERSE NARKOBA POLRES GORONTALO

A. Pendahuluan
Guna menjamin pelaksanaan tugas penyidikan yang benar, perlu disusun standar operasional
prosedur untuk dijadikan standar dalam melaksanakan penangkapan terhadap tersangka. SOP ini
merupakan pedoman bagi penyidik dalam melaksanakan tugas penangkapan yang dilaksanakan
terhadap tersangka.
Standar operasional ini merupakan panduan untuk menghindarkan penyidik terhadap hal-hal yang
kontra produktif yang dapat menghalangi kelancaran proses penyidikan. Dalam pelaksanaan upaya
paksa melalui penangkapan ini, ketentuan hukum acara yang ada dalam KUHAP maupun hukum
acara Undang-Undang lainnya, menjadi dasar SOP ini sebagai otorisasi operasional penyidik.
B. Tujuan
Tindakan penangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara
waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan
penyidikan atau penuntutan dan atau peradilan dalam hal atau menurut cara yang diatur dalam
Undang-Undang.
Penangkapan merupakan rangkaian atau bagian dari penyidikan, untuk mencegah tersangka
menghilangkan barang bukti dan mencegah tersangka melarikan diri.
Standar Operasional Prosedur Penangkapan ini dibuat sebagai standar atau panduan bagi Penyidik
dalam melakukan tindakan penangkapan terhadap tersangka sebagai langkah antisipasi terhadap
kemungkinan adanya kesalahan prosedur yang dapat mengakibatkan gugatan hukum atau halhal yang kontra produktif saat pelaksanaan penyidikan.
Standar Operasional Prosedur Penangkapan dirancang untuk terciptanya efektifitas dan efisiensi
terhadap penyidikan dan koordinasi baik dalam lingkungan internal Polri (penyidik, atasan penyidik
dan petugas penyimpan barang bukti) maupun dalam lingkungan eksternal yang berwenang.
C.

Ruang Lingkup
Standar Operasional Prosedur Penangkapan ini memuat petunjuk dan koordinasi meliputi
syarat yang harus dipenuhi, langkah-langkah penangkapan dalam rangkaian penyidikan, maupun
tertangkap. Standar Operasional Prosedur Penangkapan ini dapat menjadi panduan bagi seluruh
Penyidik Polri.

D. Definisi
1.

Pengertian penangkapan dalam Standar Operasional Prosedur ini

adalah pengertian

penangkapan dalam KUHAP.


2.

Pengertian tertangkap tangan dalam Standar Operasional Prosedur ini adalah pengertian
tertangkap tangan dalam KUHAP.

E. Petunjuk dan Koordinasi


Tindakan penangkapan merupakan rangkaian proses penyidikan perkara yang termasuk dalam
kategori upaya paksa penyidik. Dalam proses kegiatan

penangkapan, penyidik

melakukan

berdasarkan ketentuan hukum yang ada di dalam KUHAP dan hukum acara lainnya.
Dalam pelaksanaan kegiatan penangkapan melibatkan penyidik / petugas Kepolisian lainnya
maupun pihak di luar institusi Kepolisian antara lain penyidik pegawai negeri sipil, saksi, Kepala
Desa / Kepala Lingkungan, Penyedia Jasa Keuangan, Penyedia Barang dan Jasa lainnya,
Pengadilan Negeri, pemilik atau yang menguasai barang dan lain-lain.
Penangkapan dalam rangkaian kegiatan penyidikan
Syarat formal yang harus dipenuhi :
1) Dalam Surat Perintah Penangkapan harus mencantumkan dasar dilakukan penangkapan
yaitu :
a)

Pasal 1 butir 2 KUHAP.

b) Pasal 1 butir 20 KUHAP.


c)

Pasal 7 ayat (1) huruf d dan pasal 16 KUHAP.

d) Pasal 17 KUHAP.
e)

Pasal 18 KUHAP.

f)

Pasal 19 KUHAP.

g) UU RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.


h) Undang-Undang yang dipersangkakan, yang sifatnya LezSpecialist penyidik harus
menyesuaikan dengan

hukum acara pada undang-undang tersebut. Contoh

yaitu

Undang-Undang Narkotika dan Teroris yang mengatur berbeda dalam hal masa
penahanan, serta Undang-Undang ITE yang mengatur berbeda dalam hal mendapatkan
penetapan penahanan dari pengadilan, dan harus dilakukan dalam waktu 1x24 jam.
Untuk hal ini maka ijin penangkapan harus diminta kepada pihak Pengadilan sebelum
penangkapan dilakukan.
i)

Undang-Undang lain yang terkait.

j)

Laporan Polisi.

k) Surat Perintah Penyidikan.


l)

Surat Perintah Penggeledahan.

m) Surat Perintah Penyitaan.


n) Surat Perintah Tugas.
2) Penyidik membuat berita acara penangkapan dan surat pemberitahuan penangkapan dan
disampaikan kepada keluarga tersangka.
3) Petugas yang melaksanakan penangkapan adalah penyidik yang mendapat perintah dalam
Surat Perintah Penyidikan.
Syarat materiil yang harus dipenuhi :
Penangkapan dilakukan dengan mempertimbangkan persesuaian alat bukti, hasil
penyelidikan yang dianalisis dan menyimpulkan bahwa seseorang adalah tersangkanya dan
perlu dilakukan upaya paksa (penangkapan).

Langkah-langkah Penangkapan :
1) Sebelum penangkapan dilakukan, penyidik wajib melakukan gelar perkara dan melaporkan
kepada atasan Penyidik kegiatan penangkapan yang akan dilakukan;
2) Penyidik sebelum melakukan penangkapan agar melakukan briefing dan diskusi untuk
membahas kegiatan penangkapan termasuk menilai resiko yang mungkin berdasarkan
informasi, dan mendapatkan cara untuk meminimalisir resiko yang mungkin terjadi;
3) Penyidik menunjukkan Surat Perintah Tugas dan Surat Perintah Penangkapan yang sudah
disiapkan terlebih dahulu kepada orang yang akan ditangkap atau orang yang mempunyai
hubungan dengan tersangka atau pihak lain yang berada di TKP.
4) Penyidik, sedapat mungkin berkoordinasi dengan pihak terkait baik kepolisian setempat
termasuk pejabat setingkat RT/RW untuk menyampaikan kegiatan penangkapan yang
akan dilakukan;
5) Penyidik wajib memberikan peringatan agar tersangka bekerja sama untuk menyerahkan
diri secara baik- baik;
6) Penyidik setelah memberikan peringatan kepada tersangka untuk bekerjasama namun tidak
mendapat respon, maka langkah paksa secara terukur dan melindungi penyidik untuk
menangkap Tersangka segera dilakukan. Upaya paksa yang dilakukan sifatnya
melumpuhkan, dan dapat ditingkatkan dengan melihat penilaian resiko berkembang
dilapangan;
7) Penyidik melakukan identifikasi dan dokumentasi serta pemeriksaan kesehatan terhadap
tersangka yang ditangkap;
8) Setelah dilakukan penangkapan, Penyidik membuat Berita

Acara Penangkapan dan

permohonan penetapan penangkapan dari Pengadilan Negeri;


9) Setelah tersangka ditangkap, pada kesempatan pertama segera dilakukan pemeriksaan
dengan menggunakan berita acara pemeriksaan tersangka.
Terhadap penangkapan yang menemukan benda/barang bergerak maka dapat langsung
dilakukan penyitaan, sedangkan terhadap benda yang tidak bergerak tidak dilakukan penyitaan,
melainkan disegel / diblokir. Untuk penangkapan yang dilanjutkan dengan penyitaan bukti
digital, hal ini diatur dalam SOP khusus Subdit Fismondev. Demikian juga bahwa dalam
penyidikan cyber crime, metode penangkapan harus menghindarkan tersangka dari perangkat
IT yang digunakan untuk menjamin keaslian data dan informasi yang didapatkan pada
komputer dan menghindari terjadinya kerusakan barang bukti.
Hal-hal khusus dalam Penangkapan Tersangka
1) Setiap orang dapat yang menemukan tindak pidana dalam keadaan tertangkap tangan,
berhak menangkap tersangka, untuk kemudian segera melaporkan atau menyerahkan
tersangka tersebut beserta barang bukti yang ada kepada kesatuan Polri terdekat. Demikian
juga, Anggota Polri atau Penyidik yang menemukan tindak pidana dapat melakukan
penangkapan dan segara menyerahkan tersangka dan barang bukti kepada Perwira siaga
atau Ka SPK dan diteruskan kepada Penyidik. Hal penting dalam hal ini adalah barang
bukti dari tindak pidana yang didapatkan tidak boleh tidak harus diserahkan kepada
Penyidik untuk disita.

2) Penangkapan atas dasar permintaan melalui Interpol dengan dilengkapi Surat permintaan
penangkapan yang dikeluarkan oleh negara peminta harus dikoordinasikan dengan pihak
terkait untuk kepastian hukum yang menjadi dasar otoritas penangkapan;
3) Penangkapan terhadap tersangka yang keberadaannya diluar yuridiksi Penyidik yang
melakukan penyidikan, dapat dilakukan oleh penyidik setempat dengan dilengkapi surat
perintah penangkapan dengan dasar surat perintah penangkapan yang diterbitkan oleh
Penyidik atau dasar surat DPO. Hal ini dapat juga dilakukan oleh penyidik yang menangani
dengan dibantu oleh penyidik setempat;
4) Penangkapan terhadap pejabat dan penyelenggara Negara harus mendapatkan ijin melalui
permintaan yang diajukan oleh penyidik, kepada Presiden untuk anggota DPR/MPR, DPD,
BPK, Menteri, Gubernur dan Deputy Gubernur BI, Gubernur, Bupati dan Walikota. Untuk
anggota DPR tingkat provinsi harus seijin Menteri Dalam Negeri. Untuk anggota DPR
setingkat kabupaten atas seijin Gubernur Kepala Daerah. Untuk Ketua dan Majelis Hakim,
permohonan kepada Mahkamah Agung RI, melalui Kapolda yang akan ditujukan kepada
Kabareskrim dan diteruskan oleh Jaksa Agung.

F. PENUTUP
Demikian Standar Operasional Prosedur ( Sop ) Penangkapan ini dibuat sebagai pedoman dan
panduan bagi penyidik / penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan
Limboto,
Februari 2016
An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO
KASAT RESNARKOBA
TTD

ASLI, SH
AKP NRP 80110618

Anda mungkin juga menyukai