Anda di halaman 1dari 57

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah


Pendidikan memegang peranan penting dalam memajukan suatu
bangsa. Sejarah mencatat tidak ada bangsa yang maju tanpa didukung oleh
kemajuan pendidikannya. Melalui pendidikan terjadi proses transformasi ilmu
nilai dan teknologi. Oleh karena itu, untuk memajukan suatu bangsa maka hal
yang paling utama adalah membenahi sistem pendidikan nasionalnya. Ujung
tombak dari keberhasilan pendidikan nasional adalah di sekolah, oleh karena
itu pendidikan di sekolah memerlukan perhatian khusus dan perlu kita pahami
secara menyeluruh. Hal ini ditujukan agar proses pendidikan di sekolah
berjalan efektif artinya siswa benar-benar memperoleh ilmu yang mereka
dapatkan di sekolah dan sekaligus nantinya dapat dijadikan bekal hidupnya
dalam menghadapi tantangan zaman yang bergerak semakin cepat.
Selanjutnya masalah pendidikan ini

harus ditangani secara profesional

dengan menerapkan prinsip manajemen pembelajaran yang tepat sesuai


dengan kebutuhan agar siswa nantinya siap untuk menghadapi perkembangan
dan perubahan yang terjadi di masyarakat secara terus menerus, sebagai
akumulasi

respon terhadap permasalahan yang terjadi selama ini serta

pengaruh perubahan global, perkembangan ilmu teknologi serta seni dan


budaya. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 yang isinya :

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan


suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa
mengembangkan

potensi

dirinya

untuk

memiliki

secara aktif

kekuatan

spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta


keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (UU
RI, 2003).
Banyak model pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk
belajar mandiri, kreatif, dan lebih aktif dalam mengikuti kegiatan
pembelajaran, sehingga siswa tidak merasa bosan dalam mengikuti kegiatan
belajar di kelas. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan dalam
strategi pembelajaran

yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk

belajar mandiri, kreatif, dan lebih aktif adalah dengan model pembelajaran
Sosio Drama Bermain Peran (AIR).
Suherman (2009) dalam jurnalnya menyatakan bahwa model
pembelajaran AIR terbagi ke dalam tiga bagian :
Model pembelajaran AIR merupakan model yang menerapkan tiga aspek,
yaitu: 1) Auditory: mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi,
argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi. 2) Intellectually:
menggunakan kemampuan berpikir (minds-on), konsentrasi dan berlatih
menggunakannya
menemukan,

melalui

mencipta,

bernalar,

mengkonstruksi,

menyelidiki,
memecahkan

mengidentifikasi,
masalah,

dan

menerapkan. 3) Repetition: mengulang, mendalami, memantapkan dengan


cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau berupa kuis. Sebagai model
pembelajaran kontruktivistik,

Sosio Drama Bermain Peran

(AIR)

menempatkan siswa sebagai pusat perhatian utama dalam kegiatan


2

pembelajaran melelui tahapan-tahapannya, siswa diberikan kesempatan secara


aktif dan terus menerus membangun sendiri pengetahuannya secara personal
maupun sosial sehingga terjadi perubahan konsep menjadi lebih rinci dan
lengkap.
Dengan Melihat latar belakang diatas, maka penulis akhirnya
mengambil sebah judul Penerapan Pembelajaran Model Sosio Drama Guna
Meningkatkan Kemampuan anak Dalam Menceritakan Kisah Drama Pendek
Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Pada Siswa Kelas VI SD Negeri Karang
Pawulang 1.

B. Rumusan Masalah
Merujuk pada uraian latar belakang di atas, dapat dikaji ada beberapa
permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah Pembelajaran Sosio Drama Bermain Peran berpengaruh terhadap
hasil belajar Bahasa Indonesia Kelas VI SD Negeri Karang Pawulang 1?
2. Seberapa tinggi keberhasilan pelajaran Bahasa Indonesia

dengan

diterapkannya metode Pembelajaran Sosio Drama pada siswa kelas VI SD


Negeri Karang Pawulang 1?

C. Tujuan Penelitian
Berdasar atas rumusan masalah di atas, maka tujuan dilaksanakan
penelitian ini adalah:
1. Untuk mengungkap pengaruh Model Pembelajaran Sosio Drama Bermain
Peran terhadap kreatifitas siswa dalam pelajaran Bahasa Indonesia SD
Negeri Karang Pawulang 1.

2. Ingin mengetahui seberapa jauh kreatifitas siswa dalam mata pelajaran


Bahasa Indonesia setelah diterapkannya model pembelajaran sosio drama
bermain peran pada siswa kelas VI SD Negeri Karang Pawulang 1.

D. Pentingnya Penelitian
1. Hasil dan temuan penelitian ini dapat memberikan informasi tentang Model
Pembelajaran Sosio Drama Bermain Peran dalam pembelajaran Bahasa
Indonesiaoleh guru Kelas VI SD Negeri Karang Pawulang 1.
2. Sekolah sebagai penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi
belajar siswa khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.
3. Guru, sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran
yang dapat memberikan manfaat bagi siswa.
4. Siswa, dapat meningkatkan motiviasi belajar dan melatih sikap sosial untuk
saling peduli terhadap keberhasilan siswa lain dalam mencapai tujuan
belajar.
5. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guruBahasa
Indonesiadalam meningkatkan pemahaman siswa belajarBahasa Indonesia.
6. Sumbangan pemikiran bagi guru Bahasa Indonesia dalam mengajar dan
meningkatkan pemahaman siswa belajar Bahasa Indonesia.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Proses Belajar Mengajar Bahasa Indonesia


Proses dalam pengertian disini merupakan interaksi semua komponen
atau unsur yang terdapat dalam belajar mengajar yang satu sama lainnya saling
berhubungan (inter independent) dalam ikatan untuk mencapai tujuan (Usman,
2000: 5).
Belajar diartikan sebagai proses perubahan tingka laku pada diri individu
berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya. Hal ini sesuai
dengan yang diutarakan Burton bahwa seseorang setelah mengalami proses
belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuannya,
keterampilannya, maupun aspek sikapnya. Misalnya dari tidak bisa menjadi
bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti. (dalam Usman, 2000: 5).
Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggungjawab
moral yang cukup berat. Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam
kegiatan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan
anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan proses belajar.
Proses belajar mengajar merupakan suatu inti dari proses pendidikan
secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegangn peran utama. Proses belajar
mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan
guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi
edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik
antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses
belajar mengajar (Usman, 2000: 4).

Sedangkan menurut buku Pedoman Guru Pendidikan Bahasa Indonesia,


proses belajar mengajar dapat mengandung dua pengertian, yaitu rentetan
kegiatan perencanaan oleh guru, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi program
tindak lanjut (dalam Suryabrata, 1997: 18).
Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses belajar
mengajar Bahasa Indonesia meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari
perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut
yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu
pengajaran Bahasa Indonesia.
B. Metode pembelajaran Sosio drama dan bermain peranan
Sosio drama berasal dari kata Sosio yang artinya masyarakat, dan
darma yang artinya keadaan orang atau peristiwa yang dialami orang, sifat dan
tingkah lakunya, hubungan seseorang, hubungan seseorang dengan orang
lain dan sebagainya.
Bermain peranan artinya memegang fungsi. Sosio drama, dan
bermain peranan dapat dipakaikan sebagai suatu metode dalam mengajar.
Dengan demikian metode sosio drama dan bermain peranan ialah penyajian
bahan dengan cara memperlihatkan peragaan, baik dalam bentuk uraian
maupun kenyataan. Semuanya berbentuk tingkahlaku dalam hubungan sosio
yang kemudian diminta beberapa orang peserta didik untuk memerankannya.
Jadi kedua metode itu sejalan atau sekali lalu dan karenanya biasa disebut
dengan metode sosio drama saja.

C. Kewajaran Metode Sosio Drama


6

Metode Sosio Drama wajar digunakan dalam rangka mencapai


tujuan-tujuan yang mengandung sifat-sifat sebagai berikut
1. Memahami perasaan orang lain.
2. Membagi pertanggungan jawab dan memikulnya.
3. Menghargai pendapat orang lain.
4. Mengambil keputusan dalam kelompok.
5. Membantu penyesuaian diri dengan kelompok. 6. Memperbaiki
hubungan sosial.
6. Mengenali nilai-nilai dan sikap-sikap.
7. Menanggulangi atau memperbaiki sikap-sikap salah.

D. Kebaikan Metode Sosio Drama


Keuntungan-keuntungan/kebaikan-kebaikan

yang

diperoleh

dengan melaksanakan metode sosio drama.


1.

Untuk mengajar peserta didik supaya is bisa menempatkan dirinya dengan


orang lain.
Dengan sosio drama setiap peserta didik diberi tugas memerankan halhal yang sesuai dengan kemampuannya. Sehingga dalam pelaksanaan
tersebut setiap anak merasa bertanggung jawab terhadap pelaksanaannya.
Dan pelaksanaan sosio drama selalu sangkut-menyangkut antara satu
peserta didik dengan peserta didik yang lain sehingga dengan cara yang
demikian peserta didik akan merasakan bagaimana perasaan orang lain
yang betul-betul merasakan sesuai dengan yang diperankan.

2. Guru dapat melihat kenyataan yang sebenarnya dari kemampuan peserta


didik.
7

Kalau dalam belajar kadang-kadang guru hanya mengetahui


kemampuan peserta didik dengan jalan observasi saja, sehingga guru tidak
bisa melihat dengan sebenarnya sampai dimana kemampuan peserta
didik dalam memainkan peranan yang dipegangnya.
3. Sosio drama dan permainan peranan menimbulkan diskusi yang hidup.
Sesudah permainan peranan dilaksanakan, ini akan me nimbulkan
diskusi yang hidup. Bukan saja bagi permainan peranan tapi juga bagi
penonton. Terutama sekali kalau yang diperankan itu masalah menarik
bagi peserta didik atau masalah yang hangat dibicarakan. Penonton yang
selalu mengikuti permainan peranan bukan saja pasif menerima apa yang
diperankan oleh pemainpemainnya tapi juga mereka akan melakukan
kritik dan saran terhadap kekurangan yang ditemui dalam semua
peranan yang dimainkan.
4. Peserta didik akan mengerti sosial psychologis.
Dalam sosio drama peserta didik tentunya akan berhadapan dengan
masalah yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Tentu saja dalam
pelaksanaannya peserta didik akan memecahkan masalah-masalah yang ada
hubungannya sesama manusia tersebut. Apakah latar belakang kejadian
tersebut Bagaimana cara mengatasinya dan sebagainya.

5. Metode sosio drama dapat menarik minat peserta didik.


Bukan saja karena metode ini merupakan metode yang baru, tapi juga
dalam metode ini peserta didik akan dapat menemui bermacam-macam
pengalaman yang berguna dalam kehidupan mereka sehari-hari.
8

6. Melatih peserta didik untuk berinisiatif dan berkreasi.


Dalam metode ini murid-peserta didik dituntut mengeluarkan
pendapatnya pada waktu menyelesaikan drama, dan disamping itu mereka
juga

dapat

mengembangkan

daya

fantasinya

dalam

peran yang

diinginkannya.

E. Kelemahannya
Kelemahan-kelemahan/kekurangan-kekurangan metode sosio drama
adalah sebagai berikut
1.

Sukar untuk memilih anak-anak yang betul-betul berwatak untuk


memecahkan masalah tersebut.
Dalam pelaksanaan metode ini peranan yang diperankan oleh tiaptiap anak hendaknya betul-betul dilaksanakan seperti apa yang terjadi
dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini tentu saja tidak akan bisa
dilaksanakan kecuali oleh peserta didik yang betul-betul berbakat dan
mempunyai watak dalam pemecahan tersebut. Peserta didik yang
demikian sulit mencarinya.

2.

Perbedaan adat istiadat kebiasaan dan kehidupan-kehidupan dalam


suatu masyarakat akan mempersulit pelaksanaannya
Dalam sosio drama kadang-kadang perasaan orang lain
tersinggung. Hal ini dipengaruhi oleh perbedaan tersebut di atas.
Walaupun bagaimana baiknya suatu sosio drama dilaksanakan, suatu
pihak mungkin akan tersinggung walaupun banyak yang menyetujui.
Oleh sebab itu guru hendaklah mengawasi jalannya sosio drama tersebut
supaya bersifat netral, sehingga tak satupun
9

pihak di dalam masyarakat akan tersinggung, sehingga tujuan dari


sosio drama di atas dicapai dengan balk.
3.

Anak-anak yang tidak mendapat giliran akan menjadi pasif.


Dalam sosio drama tidak semua dapat diikut sertakan apalagi
peserta didik yang tidak mempunyai watak dan bakat tentang hal itu. Oleh
sebab itu peserta didik yang tidak ikut serta akan pasif saja, karena
tugasnya hanya sekedar mengikuti jalan sosio drama saja.

4.

Kalau metode ini dipakainya untuk tujuan yang tidak layak.


Setiap metode yang dipakai ada suatu tujuan yang harus
dicapai terutama sekali tujuan yang berhubungan dengan persoalan
cara bertingkah laku dalam kehidupan kelompok. Oleh sebab itu jangan
dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan yang bertentangan dengan
tujuan di atas, seperti mendramakan suatu sifat sadis, balas dendam dan
sebagainya.

5.

Kalau guru kurang bijaksana tujuan yang dicapai tidak memuaskan.


Untuk mencapai kesuksesan dalam pelaksanaannya ada
langkah-langkah yang harus dituruti oleh peserta didik. Oleh sebab itu guru
harus memberikan pengertian yang mendalam terhadap anak-anak.
Apabila guru tidak memberikan pengertian tentang langkahlangkah yang harus ditempuh, maka sosio drama akan terlaksana secara
serampangan saja sehingga hasil yang dicapai tidak memuaskan.

F. Langkah-langkah sosio drama


Pelaksanaan sosio drama dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut
1. Persiapan
10

Mempersiapkan masalah situasi hubungan sosial yang akan


diperagakan atau pemilihan tema cerita. Pada kesempatan ini pula
menjelaskan mengenai peranan-peranan yang dimainkan, pelaksanaan sosio
drama/peran dan tugas-tugas bagi mereka yang tidak ikut berperan (penonton).
2. Penentuan pelaku atau pemeran.
Setelah mengemukakan tema cerita serta memberi dorongan kepada
peserta didik-murid untuk bermain peranan, maka diadakanlah penentuan
para pelaku dan menjelaskan bilamana dan betapa harus memulai melakukan
peran. Para pelaku diberi petunjuk atau contoh sederhana agar mereka slap
mental.
3. Permainan sosio drama.
Para pelaku memainkan peranannya sesuai dengan imaginasi atau daya
tanggap masing-masing, sampai pada suatu klimaks tertentu atau suatu titik
kulminasi (puncak) perdebatan yang hangat.

4. Diskusi.
Permainan dihentikan, para pemeran dipersilahkan duduk kembali,
kemudian dilanjutkan dengan diskusi di bawah pimpinan guru yang diikuti oleh
semua peserta didik (kelas). Diskusi berkisar pada tingkah laku para pemeran
dalam hubungannya dengan tema cerita, sehingga terhadirlah suatu
pembicaraan berupa tanggapan, pendapat dan beberapa kesimpulan.
5. Ulangan permainan.
Setelah diskusi selesai dilakukan ulangan permainan atau bermain
peranan ulangan dengan memperhatikan pendapat, saran-saran atau
kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh dari hasil diskusi.
11

G. Hal-Hal Yang Patut Diperhatikan Dalam Pelaksanaan Sosio-Drama


1. Masalah yang dijadikan tema cerita hendaknya dialami oleh sebagian
besar peserta didik-murid.
2. Penentuan pemeran hendaknya secara sukarela dan motivasi dari guru.
3. Jangan

terlalu

banyak

"disutradarai",

biarkan

peserta

didik

(tujuan),

bukan

mengembang-kan kreatifitas dan spontanitas mereka.


4. Diskusi

diarahkan

kepada

penyelesaian

akhir

kepada baik atau tidaknya seseorang peserta didik berperan.


5. Kesimpulan diskusi dapat diresumekan oleh guru.
sosio drama bukanlah sandiwara atau drama biasa, melainkan

H. Motivasi Belajar
1. Pengertian Motivasi
Motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif
menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan
mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang
mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan
tertentu (Usman, 2000: 28).
Sedangkan menurut Djamarah (2002: 114) motivasi adalah suatu
pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk
aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar,
motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi
dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini
sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nur (2001: 3) bahwa siswa yang
12

termotivasi dalam belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang


lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan meyerap
dan mengendapkan mateti itu dengan lebih baik.
Jadi motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk
berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
1. Macam-macam Motivasi
Menurut jenisnya motivasi dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Motivasi Intrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam individu,
apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain
sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan
sesuatu atau belajar (Usman, 2000: 29).
b. Motivasi Ekstrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu,
apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain
sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu
atau belajar. Misalnya seseorang mau belajar karena ia disuruh oleh orang
tuanya agar mendapat peringkat pertama dikelasnya (Usman, 2000: 29).

I. Prestasi Belajar
Belajar dapat membawa suatu perubahan pada individu yang belajar.
Perubahan ini merupakan pengalaman tingkah laku dari yang kurang baik
menjadi lebih baik. Pengalaman dalam belajar merupakan pengalaman yang
dituju pada hasil yang akan dicapai siswa dalam proses belajar di sekolah.
Menurut Poerwodarminto (1991: 768), prestasi belajar adalah hasil yang dicapai
13

(dilakukan, dekerjakan), dalam hal ini prestasi belajar merupakan hasil


pekerjaan, hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan ketelitian
kerja serta perjuangan yang membutuhkan pikiran.
Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa prestasi belajar yang
dicapai oleh siswa dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya setelah
siswa itu melakukan kegiatan belajar. Pencapaian hasil belajar tersebut dapat
diketahui dengan megadakan penilaian tes hasil belajar. Penilaian diadakan
untuk mengetahui sejauh mana siswa telah berhasil mengikuti pelajaran yang
diberikan oleh guru. Di samping itu guru dapat mengetahui sejauh mana
keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar di sekolah.
Sejalan dengan prestasi belajar, maka dapt diartikan bahwa prestasi
belajar Bahasa Indonesia adalah nilai yang dipreoleh siswa setelah melibatkan
secara langsung/aktif seluruh potensi yang dimilikinya baik aspek kognitif
(pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan) dalam proses
belajar mengajar Bahasa Indonesia.
J. Hubungan Motivasi dan Prestasi Belajar Terhadap Metode pembelajaran
Sosio drama dan bermain peranan
Motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat
sesuatu dalam mencapai tujuan tertetntu. Siswa yang termotivasi untuk belajar
sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari
materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu
dengan lebih baik (Nur, 2001: 3). Sedangkan prestasi belajar adalah hasil yang
dicapai oleh siswa dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya setelah
siswa itu melakukan kegiatan belajar.

14

Sedangkan metode pembelajaran sosio drama dan bermain peranan


adalah suatu metode pembelajaran yang memberikan kesempatan dan menuntut
siswa terlibat secara aktif di dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan
memberikan informasi singkat (Siadari, 2001: 7).
Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya
motivasi dalam pembelajaran Metode sosio drama dan bermain peranan
tersebut maka hasil-hasil belajar akan menjadi optimal. Makin tepat motivasi
yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Dengan motivasi yang
tinggi maka intensitas usaha belajar siswa akan tingi pula. Jadi motivasi akan
senantiasa menentukan intesitas usaha belajar siswa. Hasil ini akan dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa.

K.

Materi Bahasa Indonesia Mebaca Naskah Drama


Kamu sering menonton drama di televisi, bukan? Menonton drama memang
mengasyikkan. Kalau kamu menonton dengan saksama, dengan mudah kamu
akan dapat menceritakan isi drama yang kamu tonton.
Ada cara mudah untuk memahami isi sebuah drama. Ikutilah langkah-langkah
berikut.
1.

Kenali tokoh-tokoh beserta perwatakannya.

2.

Pahami permasalahan yang muncul.

2. Pahami jalan keluar yang dilakukan tokoh-tokoh dalam mengatasi


permasalahan tersebut.
15

Sekarang, mari mencoba memahami isi drama pendek melalui kegiatankegiatan berikut.

Simaklah drama yang diperagakan teman-temanmu berikut!

Ikrar
Bel tanda istirahat kedua berbunyi. Anak-anak berhamburan ke luar dari
kelas. Ada yang ke kantin, ada pula yang bermain-main di halaman. Ratna,
Via, Meilani menuju kursi panjang di halaman sekolah. Mereka duduk santai
sambil mengobrol. Ratna : Me, sebentar lagi kita akan meninggalkan sekolah
ini!
Mei : Iya, ya. Sebentar lagi kita tidak akan melihat senyum ramah Pak Roni
dan sapaan lembut Bu Lidya.
Ratna : Aku sedih, Me. Rasanya berat meninggalkan sekolah ini. (tertunduk
lesu dengan mata berkaca-kaca).
Mei : (merangkul pundak Ratna) Sama, Rat. Aku, Via, dan teman-teman
yang lain juga begitu. Tapi kita tidak boleh cengeng.
Via : (merentangkan kedua tangan di depan Ratna) Aduh... Tuan Putri,
kenapa bersedih? Adakah sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Tuan Putri?
Mei : Jangan meledek begitu, Vi! Ini masalah serius.
Via : Ya...ya, aku juga serius. Ada apa teman?
Ratna : Aku sedih karena sebentar lagi kita akan meninggalkan sekolah
tercinta ini.

16

Via : Sedih sih sedih. Tapi kita harus berpikir ke depan. Bagaimana cara kita
membanggakan hati Bapak/Ibu Guru di sekolah yang kita cintai ini. Itu yang
perlu kita pikirkan.
Mei : Caranya gimana, coba?
Via : Kita harus bisa masuk di sekolah favorit! Makin banyak siswa SD kita
yang diterima di sekolah favorit, makin banggalah Bapak/Ibu Guru. Nama SD
kita pun makin cemerlang.
Ratna : (mengangkat muka) Via benar. Kita harus berpandangan ke depan.
Mei : Nah, begitu dong. Mulai sekarang, mari kita tingkatkan semangat
belajar! Kita harus bisa masuk sekolah favorit!
Ratna : Kita harus bisa membanggakan Bapak/Ibu Guru!
Via : Sekarang, mari kita berikrar. (Menggandeng tangan Ratna dan Mei.
Mereka saling bergandengan tangan, membentuk lingkaran).
Ratna : Ikrar! Kami akan terus mencintai sekolah ini.
Mei : Kami akan berusaha diterima di sekolah favorit.
Via : Kami akan berusaha menjadi yang terbaik di sekolah baru.
Ratna : Agar Bapak/Ibu Guru bangga pada kami.
Ratna+Via+Mei : (Melepaskan gandengan lalu bertepuk tangan sambil
bersorak) Hore ...

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!


1. Siapakah yang mengobrol di halaman sekolah?
2. Masalah apa yang mereka bicarakan?
3. Bagaimana tekad mereka untuk membanggakan hati Bapak/Ibu Guru?
4. Bagaimana komentarmu terhadap tekad Ratna, Mei, dan Via?
17

5. Apa yang seharusnya dilakukan anak yang hendak lulus terhadap


sekolahnya?

Perhatikan penggunaan tanda baca titik dua (:) di bawah ini!


Ratna : Me, sebentar lagi kita akan meninggalkan sekolah ini.
Mei : Iya, ya. Sebentar lagi kita tidak akan melihat senyum ramah Pak Roni
dan sapaan lembut Bu Lidya.
Ratna : Aku sedih, Me. Rasanya berat meninggalkan sekolah ini. (tertunduk
lesu dengan mata berkaca-kaca).
Tanda baca titik dua (:) di atas digunakan sesudah kata yang menunjukkan
pelaku dalam percakapan.
Selain itu, tanda titik dua (:) juga digunakan sebagai berikut.
1. Pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti pemerian atau rangkaian.
Contoh: Rina membeli peralatan sekolah: buku, tas, pensil, penggaris, dan
pulpen.
2. Di antara bab dan ayat dalam kitab suci.
Contoh: Surat Al Baqarah:11
3. Dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Contoh:
Ketua : Edi Wuryanta
Sekretaris : Indri Widiastuti
Bendahara : Evarina K.

18

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena


penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian
ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu
teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.
Menurut

Oja

dan

Sumarjan

(dalam

Titik

Sugiarti,

1997:

8)

mengelompokkan penelitian tindakan menjadi empat macam yaitu, (a) guru sebagai
penelitia; (b) penelitian tindakan kolaboratif; (c) simultan terintegratif; (d)
administrasi social eksperimental.
Dalam penelitian tindakan ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti,
penanggung jawab penuh penelitian ini adalah guru. Tujuan utama dari penelitian
tindakan ini adalah untuk meningkatkan hasil pembelajaran di kelas dimana guru
19

secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan,


pengamatan, dan refleksi.
Dalam penelitian ini peneliti tidak bekerjasama dengan siapapun, kehadiran
peneliti sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dilakukan seperti biasa,
sehingga siswa tidak tahu kalau diteliti. Dengan cara ini diharapkan didapatkan data
yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan.

A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian


1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan
penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat
di SDN Karang Pawulang 1 Kota Bandung.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat
penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada Maret s.d
April 2011 semester genap 2011/2012.
No
1
2
3

Jadwal kegiatan

Maret
April
Mei
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Persiapan awal sampai


penyusunan proposal
Persiapan instrument dan alat
Pegumpulan data

penulis mengadakan
penelitian dengan metode
dokumentasi yaitu dengan
mencari nilai raport dan nilai
20

4
5

ulangan harian siswa.

penulis mengadakan
penelitian yaitu siklus I

penulis mengadakan
penelitian siklus II

penulis mengadakan
penelitian siklus III
Analisis data
Penyusunan Laporan

3. Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah siswa kelas Via SD Negeri Karang
Pawulang 1 Kota Bandung tahun pelajaran 2011/2012.

B. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut
Tim Pelatih Proyek PGSM, PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat
reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan
rasional dari tindakan mereka dalam

melaksanakan tugas, memperdalam

pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki


kondisi dimana praktek pembelajaran tersebut dilakukan (dalam Mukhlis,
2003: 3).
Sedangkah menurut Mukhlis (2003: 5) PTK adalah suatu bentuk kajian
yang bersifat sistematis reflektif oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki
kondisi pembelajaran yang dilakukan.
Adapun

tujuan

utama

dari

PTK

adalah

untuk

memperbaiki/meningkatkan pratek pembelajaran secara berkesinambungan,

21

sedangkan tujuan penyertaannya adalah menumbuhkan budaya meneliti di


kalangan guru (Mukhlis, 2003: 5).
Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan,
maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan
Taggart (dalam Sugiarti, 1997: 6), yaitu berbentuk spiral dari sklus yang satu ke
siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action
(tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada
siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan,
dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan
yang berupa identifikasi permasalahan. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian
tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut:

22

Penjelasan alur di atas adalah:


1. Rancangan/rencana

awal,

sebelum

mengadakan

penelitian

peneliti

menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan,


termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.
2. Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti
sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil
atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran aktif model Sosio
Drama Bermain Peran.
3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau
dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang
diisi oleh pengamat.
4. Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat
membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus
berikutnya.
Observasi dibagi dalam tiga putaran, yaitu putaran 1, 2 dan 3,
dimana masing putaran dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang
sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes
formatif di akhir masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran dimaksudkan
untuk memperbaiki sistem pengajaran yang telah dilaksanakan.

C. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:
1. Silabus

23

Yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan


pembelajaran pengelolahan kelas, serta penilaian hasil belajar.
2. Rencana Pelajaran (RP)
Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai
pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masingmasing RP berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar,
tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatan belajar mengajar.

3. Lembar Kegiatan Siswa


Lembar kegaian ini yang dipergunakan siswa untuk membantu
proses pengumpulan data hasil eksperimen.
4. Tes formatif
Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep Bahasa
Indonesia pada yang telah dipelajari selama ini. Tes formatif ini diberikan
setiap akhir putaran. Bentuk soal yang diberikan adalah pilihan ganda
(objektif). Sebelumnya soal-soal ini berjumlah 50 soal yang telah diujicoba,
kemudian penulis mengadakan analisis butir soal tes yang telah diuji
validitas dan reliabilitas pada tiap soal. Analisis ini digunakan untuk
memilih soal yang baik dan memenuhi syarat digunakan untuk mengambil
data. Langkah-langkah analisi butir soal adalah sebagai berikut:

a. Validitas Tes

24

Validitas butir soal atau validitas item digunakan untuk


mengetahui tingkat kevalidan masing-masing butir soal. Sehingga dapat
ditentukan butir soal yang gagal dan yang diterima. Tingkat kevalidan
ini dapat dihitung dengan korelasi Product Moment:

rxy

N XY X Y

N X

N Y

(Suharsimi Arikunto, 2001: 72)


Dengan: rxy

: Koefisien korelasi product moment

: Kumlah peserta tes

: Jumlah skor total

: Jumlah skor butir soal

X2

: Jumlah kuadrat skor butir soal

XY : Jumlah hasil kali skor butir soal

b. Reliabilitas
Relaiabilitas butir sola dalam penelitian ini menggunakan rumus
belah dua sebagai berikut:
r11

2r1 / 21 / 2
(Suharsimi Arikunto, 20001: 93)
(1 r1 / 21 / 2 )

Dengan: r11
r1/21/2

: Koefisien reliabilatas yang sudah disesuaikan


: Korelasi antara skor-skor setiap belahan tes

Kriteria reliabilitas tes jika harga r 11 dari perhitungan lebih besar dari
harga r pada tabel product moment maka tes tersebut reliable.
c. Taraf Kesukaran
25

Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal


adalah indeks kesukaran. Rumus yang digunakan untuk menentukan
taraf kesukaran adalah:
P

B
Js

(Suharsimi Arikunto, 2001: 208)

Dengan: P

: Indeks kesukaran

: banyak siswa yang menjawab soal dengan benar

Js

: Jumlah seluruh siswa peserta tes

Kriteria untuk menentukan indeks kesukaran soal adalah sebagai


berikut:
-

Soal dengan P = 0,000 sampai 0,300 adalah sukar

Soal dengan P = 0,301 sampai 0,700 adalah sedang

Soal dengan P = 0,701 sampai 1,000 adalah mudah

d. Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk
membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa
yang berkemampuan rendah. Angka yang menunjukkan besarnya daya
pembeda desebut indeks diskriminasi. Rumus yang digunakan untuk
menghitung indeks diskriminasi adalah sebagai berikut:
D

B A BB

PA PB
JA JB

(Suharsimi Arikunto, 2001: 211)

Dimana:
D : Indeks diskriminasi
BA : Banyak peserta kelompok atas yang menjawab dengan benar
26

BB : Banyak peserta kelompok bawah yang menjawab dengan benar


JA : Jumlah peserta kelompok atas
JB : Jumlah peserta kelompok bawah
PA

BA
Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar.
JA

PB

BB
Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar
JB

Kriteria yang digunakan untuk menentukan daya pembeda butir


soal sebagai berikut:
-

Soal dengan D = 0,000 sampai 0,200 adalah jelek

Soal dengan D = 0,201 sampai 0,400 adalah cukup

Soal dengan D = 0,401 sampai 0,700 adalah baik

Soal dengan D = 0,701 sampai 1,000 adalah sangat baik

D. Metode Pengumpulan Data


Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui
observasi pengolahan metode pembelajaran aktif model meninjau kesulitan
pada materi pelajaran, dan tes formatif.

E. Teknik Analisis Data


Untuk

mengetahui

keefektivan

suatu

metode

dalam

kegiatan

pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan


teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat
menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh
dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk
27

memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa


selama proses pembelajaran.
Untuk mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan
siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara
memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.
Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistic sederhana yaitu:
1. Untuk menilai ulangan atau tes formatif
Peneliti melakukan penjumlahan nilai yan gdiperoleh siswa, yang
selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga
diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:
X

X
N

Dengan

: X

= Nilai rata-rata

X = Jumlah semua nilai siswa


N = Jumlah siswa

2. Untuk ketuntasan belajar


Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan
secara klasikal. Berdasarkan petunju pelaksanaan belajar mengajar
kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu seorang siswa telah tuntas belajar
bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar
bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih
dari atau sama dengan 65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan
belajar digunakan rumus sebagai berikut:
28

Siswa. yang.tuntas.belajar x100%


Siswa

3. Untuk lembar observasi


a.

Lembar observasi pengelola metode pembelajarn koooperatif model


Sosio Drama Bermain Peran .
Untuk menghitung lembar observasi pengelolaan metode pembelajaran
kooperatif model Sosio Drama Bermain Peran digunakan rumus sebagai
berikut :
X=

P1 P 2
2

Dimana P1 = Pengamat 1 dan P2 = Pengamat 2


b.

Lembar observasi aktifitas guru dan siswa


Untuk menghitung lembar observasi aktifitas guru dan siswa digunakan
rumus sebagai berikut :
%=

x
x 100 % dengan
x

X=

Jumah.hasil . pengama tan


Jumlah. pengama tan

Dimana : %

P1 P 2
2

= Presentase pengamatan

= Rata-rata

= Jumlah rata-rata

P1

= Pengamat 1

P2

= Pengamat 2

29

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Data penelitian yang diperoleh berupa hasil uji coba item butir soal, data
observasi berupa pengamatan pengelolaan metode belajar aktif model sosio drama
bermain peran dan pengamatan aktivitas siswa dan guru pada akhir pembelajaran,
dan data tes formatif siswa pada setiap siklus.
Data hasil uji coba item butir soal digunakan untuk mendapatkan tes yang
betul-betul mewakili apa yang diinginkan. Data ini selanjutnya dianalisis tingkat
validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda.
Data lembar observasi diambil dari dua pengamatan yaitu data pengamatan
pengelolaan metode belajar aktif model sosio drama bermain peran

yang

digunakan untuk mengetahui pengaruh penerapan metode belajar aktif model sosio
drama bermain peran dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dan data
pengamatan aktivitas siswa dan guru.
Data tes formatif untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa
setelah diterapkan metode belajar aktif model sosio drama bermain peran.

A. Analisis Item Butir Soal


30

Sebelum melaksanakan pengambilan data melalui instrumen penelitian


berupa tes dan mendapatkan tes yang baik, maka data tes tersebut diuji dan
dianalisis. Uji coba dilakukan pada siswa di luar sasaran penelitian. Analisis tes
yang dilakukan meliputi:

1. Validitas
Validitas butir soal dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan tes
sehingga dapat digunakan sebagai instrument dalam penelitian ini. Dari
perhitungan 50 soal diperoleh 20 soal tidak valid dan 30 soal valid. Hasil
dari validits soal-soal dirangkum dalam tabel di bawah ini.
Tabel 1. Soal Valid dan Tidak Valid Tes Formatif Siswa
Soal Valid
Soal Tidak Valid
5, 6, 7, 9, 12, 13, 14, 17, 19, 21, 23, 25, 27, 1, 2, 3, 4, 8, 10, 11, 15, 16,
28, 29, 30, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 18, 20, 22, 24, 38, 39, , 46,
41, 42, 43, 44, 45

47, 48, 49, 50

2. Reliabilitas
Soal-soal yang telah memenuhi syarat validitas diuji reliabilitasnya.
Dari hasil perhitungan diperoleh koefisien reliabilitas r 11 sebesar 0, 754.
Harga ini lebih besar dari harga r product moment. Untuk jumlah siswa (N =
27) dengan r (95%) = 0,381. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan
telah memenuhi syarat reliabilitas.

3. Taraf Kesukaran (P)

31

Taraf kesukaran digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaran soal.


Hasil analisis menunjukkan dari 50 soal yang diuji terdapat:
-

25 soal mudah

15 soal sedang

10 soal sukar

4. Daya Pembeda
Analisis daya pembeda dilakukan untuk mengetahui kemampuan
soal dalam membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa
yang berkemampuan rendah.
Dari hasil analisis daya pembeda diperoleh soal yang berkteriteria
jelek sebanyak 18 soal, berkriteria cukup 22 soal, berkriteria baik 8 soal, dan
yang berkriteria tidak baik 2 soal. Dengan demikian soal-soal tes yang
digunakan telah memenuhi syara-syarat validitas, reliabilitas, taraf
kesukaran, dan daya pembeda.

B. Analisis Hasil Penelitian Persiklus


1. Siklus I
a. Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran
yang terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat
pengajaran yang mendukung.
b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan
Pelaksanaan

kegiatan

belajar

mengajar

untuk

siklus

dilaksanakan pada tanggal 20 Maret 2011 di kelas VIa dengan jumlah


32

siswa 44 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun
proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah
dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan
pelaksaaan belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I
dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam
proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil
penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut:
Tabel 2
Pengelolaan Pembelajaran Pada Siklus I
No

II
III

Aspek yang diamati


Pengamatan KBM
A.Pendahuluan
1. Memotivasi siswa
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran
3. Menghubungkan dengan pelajaran
sebelumnya
4. Mengatur siswa dalam kelompokkelompok belajar
B. Kegiatan inti
1. Mempresentasikan langkah-langkah
metode pembelajaran kooperatif
2. Membimbing siswa melakukan kegiatan
3. Melatih keterampilan kooperatif
4. Mengawasi setiap kelompok secara
bergiliran
5. Memberikan bantuan kepada kelompok
yang mengalami kesulitan
C. Penutup
1. Membimbing siswa membuat rangkuman
2. Memberikan evaluasi
Pengelolaan Waktu
Antusiasme Kelas
1. Siswa antusias
2. Guru antisias
Jumlah

Penilaian
P1 P2

Rat
arata

2
2

2
2

2
2

3
3

3
3

3
3

3
3
2

3
3
2

3
3
2

2
3
32

2
3
32

2
3
32
33

Keterangan

Nilai

: Kriteria

1) : Tidak Baik
2) : Kurang Baik
3) : Cukup Baik
4) : Baik

Berdasarkan tabel di atas aspek-aspek yang mendapatkan


kriteria kurang baik adalah memotivasi siswa, menyampaikan tujuan
pembelajaran, pengelolaan waktu, dan siswa antusias. Keempat aspek
yang mendapat nilai kurang baik di atas, merupakan suatu kelemahan
yang terjadi pada siklus I dan akan dijadikan bahan kajian untuk refleksi
dan revisi yang akan dilakukan pada siklus II.
Hasil observasi berikutnya adalah aktivitas guru dan siswa
seperti pada tabel berikut :
Tabel 3
Pengelolaan Pembelajaran Pada Siklus I
No

Aktivitas Guru yang diamati


Menyampaikan tujuan
1 Memotivasi siswa
2 Mengkaitkan dengan pelajaran sebelumnya
3 Menyampaikan materi/ langkah-langkah/ strategi
4 Menjelaskan materi yang sulit
5 Membimbing dan mengamati siswa dalam
6 menemukan konsep
7 Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil
8 kegiatan
9 Memberikan umpan balik
Membimbing siswa merangkum pelajaran
No
Aktivitas siswa yang diamati
1 Mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru
2 Membaca buku
3 Bekerja dengan sesama anggota kelompok

Presentase
5,0
8,3
8,3
6,7
13,3
21,7
10,0
18,3
8,3
Presentase
22,5
11,5
18,7
34

4
5
6
7
8
9

Diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru


Menyajikan hasil pembelajaran
Menyajikan/ menanggapi pertanyaan/ ide
Menulis yang relevan dengan KBM
Merangkum pembelajaran
Mengerjakan tes evaluasi

14,4
2,9
5,2
8,9
6,9
8,9

Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa aktivitas guru yang


paling dominan pada siklus I adalah membimbing dan mengamati siswa
dalam menemukan konsep, yaitu 21,7 %. Aktivitas lain yang
presentasinya cukup besar adalah memberi umpan balik/ evaluasi, tanya
jawab dan menjelaskan materi yang sulit yaitu masing-masing sebesar
13,3 %. Sedangkan aktivitas siswa yang paling dominan adalah
mengerjakan/ memperhatikan penjelasan guru yaitu 22,5 %. Aktivitas
lain yang presentasinya cukup besar adalah bekerja dengan sesama
anggota kelompok, diskusi antara siswa/ antara siswa dengan guru, dan
membaca buku yaitu masing-masing 18,7 % 14,4 dan 11,5%.
Pada siklus I, secaraa garis besar kegiatan belajar mengajar dengan
metode pembelajaran model sosio drama bermain peran sudah
dilaksanakan dengan baik, walaupun peran guru masih cukup
dominanuntuk memberikan penjelasan dan arahan, karena model
tersebut masih dirasakan baru oleh siswa.
Table 4
Distribusi Nilai Tes Pada Siklus I
No
1
2
3
4

Nama
siswa
Amel Daniela
Salsabila Sofa
Melinda AP
Nadin Savira

Skor
70
70
30
80

Keterangan
T
TT

35

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44

Fauzia Nurhaliza
Dzikrifa Dingtyas
Yasfiaka Diah
Alif Nurhayati
Anisa Ramdhiani
Intan Widya
Namura Harun
Shasa Safira
Aisya Sifaru
Dwijaya Safira
Melinda Hasbyi
Mutia Rizky
Nadira Auliya
Rafa Zihan
Kurnia Puspitasari
Muhamad Mustofa
Aria Durga
Lamor Anandika
Muamad Ibror
Aman Abadi
Fikri Lutha
Muhamad Rico
Naufal Rahman
Ahmad Fikri
Muahamad Farhan
Dika Eka Yudistira
Didin Ahmad Maulana
Rizaldy MA
Teby Perkasa Nasuha
Febi Ariany
Adrian Friananto
Ahmad Fadly
Hadian Dwi Nugroho
Nurjihan Hanifah
Shabira
Dina Yusri
Dadang Putra Pratama
Safira Nurul Cahyani
Jaka Ihsam Setiadi
Jajang Rahmat
Jumlah
Skor Maksimal Ideal 4400

100
60
80
30
50
80
70
60
90
80
80
80
70
60
70
40
80
70
80
40
30
70
70
70
60
70
80
70
50
30
30
70
80
70
70
80
60
70
80
100
2930

30

14

Jumlah Skor Tercapai 2930


Skor Rata-rata 66,59
36

Keterangan:

: Tuntas

TT

: Tidak Tuntas

Jumlah siswa yang tuntas

: 30

Jumlah siswa yang belum tuntas

: 14

Klasikal

: Belum tuntas

Tabel 4
Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I
No
1

Uraian
Nilai rata-rata tes formatif

Jumlah siswa yang tuntas belajar

Persentase ketuntasan belajar

Hasil Siklus I
66,59
30
68,18

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan


metode pembelajaran dengan Sosio Drama Bermain Peran diperoleh
nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 66,59 dan ketuntasan belajar
mencapai 68,18% atau ada 30 siswa dari 44 siswa sudah tuntas belajar.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal
siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 65
hanya sebesar 68,18% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang
dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih
merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan
guru dengan menerapkan metode pembelajaran dengan Sosio Drama
Bermain Peran.
c. Refleksi

37

Dalam

pelaksanaan

kegiatan

belajar

mengajar

diperoleh

informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut:


1) Guru

kurang

baik

dalam

memotivasi

siswa

dan

dalam

menyampaikan tujuan pembelajaran


2) Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu
3) Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung.
d. Refisi
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih
terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya refisi untuk dilakukan pada
siklus berikutnya.
1) Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas
dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana siswa diajak
untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan.
2) Guru

perlu

mendistribusikan

waktu

secara

baik

dengan

menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi


catatan
3) Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa
sehingga siswa bisa lebih antusias.

2. Siklus II
a. Tahap perencanaan
Pada tahap inipeneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran
yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat
pengajaran yang mendukung.

38

b. Tahap kegiatan dan pelaksanaan


Pelaksanaan

kegiatan

belajar mengajar

untuk siklus II

dilaksanakan pada tanggal 3 April 2011 di kKelas VI dengan jumlah


siswa 44 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun
proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan
memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga keslah atau kekurangan
pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi)
dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II
dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam
proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang
digunakan adalah tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada
siklus II adalah sebagai berikut:
Tabel 5
Pengelolaan Pembelajaran Pada Siklus II
No
I

Aspek yang diamati


Pengamatan KBM
D.Pendahuluan
1. Memotivasi siswa
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran
3. Menghubungkan dengan pelajaran
sebelumnya
4. Mengatur siswa dalam kelompokkelompok belajar
E. Kegiatan inti
1. Mempresentasikan langkah-langkah
metode pembelajaran kooperatif
2. Membimbing siswa melakukan kegiatan
2. Melatih keterampilan kooperatif
3. Mengawasi setiap kelompok secara
bergiliran

Penilaian
P1 P2

Rat
arata

3
3

3
4

3
3,5

3
4
4

4
4
4

3,5
4
4

3
39

4. Memberikan bantuan kepada kelompok


yang mengalami kesulitan
A.Penutup
1. Membimbing siswa membuat rangkuman
2. Memberikan evaluasi
II
Pengelolaan Waktu
Antusiasme Kelas
III
1. Siswa antusias
2. Guru antisias
Jumlah
Keterangan :
Nilai : Kriteria

3
4
3

4
4
3

3,5
4
2

4
4
41

3
4
43

3,5
4
42

1) : Tidak Baik
2) : Kurang Baik
3) : Cukup Baik
4) : Baik

Dari tabel di atas, tanpak aspek-aspek yang diamati pada


kegiatan belajar mengajar (siklus II) yang dilaksanakan oleh guru
dengan menerapkan metode pembelajaran model sosio drama bermain
peran mendapatkan penilaian yang cukup baik

dari pengamat.

Maksudnya dari seluruh penilaian tidak terdapat nilai kurang. Namun


demikian penilaian tesebut belum merupakan hasil yang optimal, untuk
itu ada beberapa aspek yang perlu mendapatkan perhatian untuk
penyempurnaan penerapan pembelajaran selanjutnya. Aspek-aspek
tersebut adalah memotivasi siswa, membimbing siswa merumuskan
kesimpulan/ menemukan konsep, dan pengelolaan waktu.
Dengan penyempurnaan aspek-aspek I atas alam penerapan
metode pembelajarn model sosio drama bermain peran, diharapkan
siswa dapat menyimpulkan apa yang telah mereka pelajari dan

40

mengemukakan pendapatnya sehingga mereka akan lebih memahami


tentang apa ynag telah mereka lakukan.
Berikut disajikan hasil observasi akivitas guru dan siswa :

Tabel 6
Aktivitas Guru Dan Siswa Pada Siklus II
No
1
2
3
4
5
6

Aktivitas Guru yang diamati


Menyampaikan tujuan
Memotivasi siswa
Mengkaitkan dengan pelajaran sebelumnya
Menyampaikan materi/ langkah-langkah/ strategi
Menjelaskan materi yang sulit
Membimbing dan mengamati siswa dalam
menemukan konsep
7
Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil
kegiatan
8
Memberikan umpan balik
9
Membimbing siswa merangkum pelajaran
No
Aktivitas siswa yang diamati
1 Mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru
2 Membaca buku
3 Bekerja dengan sesama anggota kelompok
4 Diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru
5 Menyajikan hasil pembelajaran
6 Menyajikan/ menanggapi pertanyaan/ ide
7 Menulis yang relevan dengan KBM
8 Merangkum pembelajaran
9 Mengerjakan tes evaluasi

Presentase
6,7
6,7
6,7
11,7
11,7
25,0
8,2
16,6
6,7
Presentase
17,9
12,1
21,0
13,8
4,6
5,4
7,7
6,7
10,8

Berdasarkan tabel I di atas, tampak bahwa aktifitas guru yang


paling dominan pada siklus II adalah membimbing dan mengamati siswa
dalam menentukan konsep yaitu 25%. Jika dibandingkan dengan siklus
I, aktivitas ini mengalami peningkatan. Aktivitas guru yang mengalami
penurunan adalah memberi umpan balik/evaluasi/ Tanya jawab (16,6%),
mnjelaskan materi yang sulit (11,7). Meminta siswa mendiskusikan dan

41

menyajikan hasil kegiatan (8,2%), dan membimbing siswa merangkum


pelajaran (6,7%).
Sedangkan untuk aktivitas siswa yang paling dominan pada
siklus II adalah bekerja dengan sesama anggota kelompok yaitu (21%).
Jika dibandingkan dengan siklus I, aktifitas ini mengalami peningkatan.
Aktifitas siswa

yang mengalami penurunan adalah mendengarkan/

memperhatikan penjelasan guru (17,9%). Diskusi antar siswa/ antara


siswa dengan guru (13,8%), menulis yang relevan dengan KBM (7,7%)
dan merangkum pembelajaran (6,7%). Adapun aktifitas siswa yang
mengalami peningkatan adalah membaca buku (12,1%), menyajikan
hasil pembelajaran (4,6%), menanggapi/mengajukan pertanyaan/ide
(5,4%), dan mengerjakan tes evaluasi (10,8%)
Table 7
Distribusi Nilai Tes Pada Siklus II
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Nama
siswa
Amel Daniela
Salsabila Sofa
Melinda AP
Nadin Savira
Fauzia Nurhaliza
Dzikrifa Dingtyas
Yasfiaka Diah
Alif Nurhayati
Anisa Ramdhiani
Intan Widya
Namura Harun
Shasa Safira
Aisya Sifaru
Dwijaya Safira
Melinda Hasbyi
Mutia Rizky
Nadira Auliya
Rafa Zihan

Skor
70
80
50
80
100
70
90
40
70
60
70
80
70
80
80
40
70
60

Keterangan
T
TT

42

19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44

Kurnia Puspitasari
Muhamad Mustofa
Aria Durga
Lamor Anandika
Muamad Ibror
Aman Abadi
Fikri Lutha
Muhamad Rico
Naufal Rahman
Ahmad Fikri
Muahamad Farhan
Dika Eka Yudistira
Didin Ahmad Maulana
Rizaldy MA
Teby Perkasa Nasuha
Febi Ariany
Adrian Friananto
Ahmad Fadly
Hadian Dwi Nugroho
Nurjihan Hanifah
Shabira
Dina Yusri
Dadang Putra Pratama
Safira Nurul Cahyani
Jaka Ihsam Setiadi
Jajang Rahmat
jumlah

80
80
80
80
70
60
40
70
80
80
80
80
80
90
80
70
50
80
70
90
70
30
80
80
90
100
3200

34

10

Skor Maksimal Ideal 4400


Jumlah Skor Tercapai 3200
Skor Rata-rata 72,73

Keterangan:

: Tuntas

TT

: Tidak Tuntas

Jumlah siswa yang tuntas

: 34

Jumlah siswa yang belum tuntas

: 10

Klasikal

: Belum tuntas

43

Tabel 7
Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus II
No
Uraian
1 Nilai rata-rata tes formatif
2

Jumlah siswa yang tuntas belajar

Persentase ketuntasan belajar

Hasil Siklus II
72,73
34
77,27

Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa


adalah 72,73% dan ketuntasan belajar mencapai 77,27% atau ada 34
siswa dari 44 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa
pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami
peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil
belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap
akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan
berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga
sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan dinginkan guru
dengan menerapkan metode pembelajaran dengan sosio drama bermain
peran.
c. Refleksi
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari
hasil pengamatan sebagai berikut:
1) Memotivasi siswa
2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep
3) Pengelolaan waktu
d. Revisi Rancangan

44

Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat


kekurangan-kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan
pada siklus II antara lain:
1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa
lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung.
2) Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan
takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau
bertanya.
3) Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan
kesimpulan/menemukan konsep.
4) Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan
pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
5) Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi
soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan
belajar mengajar.

3. Siklus III
a. Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran
yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat
pengajaran yang mendukung.
b. Tahap kegiatan dan pengamatan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III
dilaksanakan pada tanggal 15 April 2011 di kelas VI dengan jumlah
siswa 44 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun
45

proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan


memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau
kekurangan pada siklus II tidak terulang laig pada siklus III.
Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan
belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III
dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam
proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang
digunakan adalah tes formatif III. Adapun data hasil penelitian pada
siklus III adalah sebagai berikut:
Tabel 8
Pengelolaan Pembelajaran Pada Siklus III
No
I

Aspek yang diamati


Pengamatan KBM
A. Pendahuluan
1. Memotivasi siswa
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran
3. Menghubungkan dengan pelajaran
sebelumnya
4. Mengatur siswa dalam kelompokkelompok belajar
B. Kegiatan inti
1. Mempresentasikan langkah-langkah
metode pembelajaran kooperatif
2. Membimbing siswa melakukan kegiatan
3. Melatih keterampilan kooperatif
4. Mengawasi setiap kelompok secara
bergiliran
5. Memberikan bantuan kepada kelompok
yang mengalami kesulitan
C. Penutup
1. Membimbing siswa membuat
rangkuman
2. Memberikan evaluasi

Penilaian
P1 P2
3
4

3
4

Rat
arata
3
4

4
4
4
3

4
4
3
3

4
4
3,5
3

4
4

4
4

4
4

46

II
III

Pengelolaan Waktu
Antusiasme Kelas
1. Siswa antusia
2. Guru antisias
Jumlah
Keterangan :
Nilai
1

4
4
45

4
4
44

4
4
44,5

: Kriteria

: Tidak Baik

2. : Kurang Baik
3. : Cukup Baik
4. : Baik

Dari tabel di atas, dapat dilihat aspek-aspek yang diamati pada


kegiatan belajar mengajar (siklus III) yang dilaksanakan oleh guru
dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model Sosio
Drama Bermain Peran

mendapatkan penilaian cukup baik dari

pengamat adalah memotivasi siswa, membimbing siswa merumuskan


kesimpulan/menemukan konsep, dan pengelolaan waktu.
Penyempurnaan aspek-aspek diatas dalam menerapkan metode
pembelajaran model sosio drama bermain peran diharapkan dapat
berhasil semaksimal mungkin.
Tabel 9
Aktivitas Guru dan Siswa Pada Siklus III
No
1
2
3
4
5
6
7

Aktivitas Guru yang diamati


Menyampaikan tujuan
Memotivasi siswa
Mengkaitkan dengan pelajaran sebelumnya
Menyampaikan materi/ langkah-langkah/ strategi
Menjelaskan materi yang sulit
Membimbing dan mengamati siswa dalam
menemukan konsep
Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil

Presentase
6,7
6,7
10,7
13,3
10,0
22,6
10,0
47

8
9
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

kegiatan
Memberikan umpan balik
Membimbing siswa merangkum pelajaran
Aktivitas siswa yang diamati
Mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru
Membaca buku
Bekerja dengan sesama anggota kelompok
Diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru
Menyajikan hasil pembelajaran
Menyajikan/ menanggapi pertanyaan/ ide
Menulis yang relevan dengan KBM
Merangkum pembelajaran
Mengerjakan tes evaluasi

11,7
10,0
Presentase
20,8
13,1
22,1
15,0
2,9
4,2
6,1
7,3
8,5

Berdasarkan tabel diatas tampak bahaw aktivitas guru yang


paling dominan pada siklus III adalah membimbing dan mengamati
siswa dalam menemukan konsep yaitu 22,6%, sedangkan aktivitas
menjelaskan materi yang sulit dan memberi umpan balik/evaluasi/tanya
jawab menurun masing-masing sebesar (10%), dan (11,7%). Aktivitas
lain yang mengalami peningkatan adalah mengkaitkan dengan pelajaran
sebelumnya (10%), menyampiakan materi/strategi

/langkah-langkah

(13,3%), meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan


(10%), dan membimbing siswa merangkum pelajaran (10%). Adapun
aktivitas ynag tidak menglami perubahan adalah menyampaikan tujuan
(6,7%) dan memotivasi siswa (6,7%).
Sedangkan untuk aktivitas siswa yang paling dominan pada
siklus III adalah bekerja dengan sesama anggota kelompok yaitu
(22,1%) dan mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru (20,8%),
aktivitas yang mengalami peningkatan adalah membaca buku siswa
(13,1%) dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru (15,0%).
Sedangkan aktivitas yang lainnya mengalami penurunan.
48

Table 10
Distribusi Nilai Tes Pada Siklus III
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37

Nama
siswa
Amel Daniela
Salsabila Sofa
Melinda AP
Nadin Savira
Fauzia Nurhaliza
Dzikrifa Dingtyas
Yasfiaka Diah
Alif Nurhayati
Anisa Ramdhiani
Intan Widya
Namura Harun
Shasa Safira
Aisya Sifaru
Dwijaya Safira
Melinda Hasbyi
Mutia Rizky
Nadira Auliya
Rafa Zihan
Kurnia Puspitasari
Muhamad Mustofa
Aria Durga
Lamor Anandika
Muamad Ibror
Aman Abadi
Fikri Lutha
Muhamad Rico
Naufal Rahman
Ahmad Fikri
Muahamad Farhan
Dika Eka Yudistira
Didin Ahmad Maulana
Rizaldy MA
Teby Perkasa Nasuha
Febi Ariany
Adrian Friananto
Ahmad Fadly
Hadian Dwi Nugroho

Skor
80
70
50
70
70
90
70
60
90
90
70
80
80
90
50
80
90
60
80
70
90
80
70
80
60
80
90
70
90
80
70
80
90
60
90
90
70

Keterangan
T
TT

49

38
39
40
41
42
43
44

Nurjihan Hanifah
Shabira
Dina Yusri
Dadang Putra Pratama
Safira Nurul Cahyani
Jaka Ihsam Setiadi
Jajang Rahmat
jumlah
Skor Maksimal Ideal 4400

60
90
80
80
80
100
100
3420

38

Jumlah Skor Tercapai 3420


Skor Rata-rata 77,73
Keterangan:

: Tuntas

TT

: Tidak Tuntas

Jumlah siswa yang tuntas

: 38

Jumlah siswa yang belum tuntas

:6

Klasikal

: Tuntas

Tabel 11
Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus III
No
Uraian
1 Nilai rata-rata tes formatif
2

Jumlah siswa yang tuntas belajar

Persentase ketuntasan belajar

Hasil Siklus III


77,73
38
86,36

Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif


sebesar 77,73 dan dari 44 siswa yang telah tuntas sebanyak 38 siswa
dan 6 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal
ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 88,64% (termasuk
kategori tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih
baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini

50

dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam


menerapkan pembelajaran dengan sosio drama bermain peran sehingga
siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga
siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan.
Disamping itu ketuntasan ini juga dipengaruhi oleh kerja sama dari
siswa yang telah menguasai materi pelajaran untuk mengajari temannya
yang belum menguasai.
c. Refleksi
Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik
maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan
penerapan metode pembelajaran dengan sosio drama bermain peran.
Dari data-data yang telah diperoleh dapat duraikan sebagai berikut:
1. Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua
pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang
belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masingmasing aspek cukup besar.
2. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif
selama proses belajar berlangsung.
3. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami
perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik.
4. Hasil belajar siswsa pada siklus III mencapai ketuntasan.
d. Revisi Pelaksanaan
Pada siklus III guru telah menerapkan metode pembelajaran
dengan sosio drama bermain peran dengan baik dan dilihat dari aktivitas
siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar
51

sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu


banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakah selanjutnya
adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada
dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar
selanjutnya penerapan metode pembelajaran dengan sosio drama
bermain peran dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga
tujuan pembelajaran dapat tercapai.

C. Pembahasan
1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa
Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran
penemuan terbimbing memiliki dampak positif dalam meningkatkan
prestasi belajar siswa.hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya
pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan
belajar meningkat dari siklus I, II, dan III) yaitu masing-masing 68,18%,
77,27%, dan 86,36%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara
klasikal telah tercapai.
2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses
metode pembelajaran dengan sosio drama bermain peran dalam setiap siklus
mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar
siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa
pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.
3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran

52

Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses


pembelajaran matematika dengan metode pembelajaran dengan sosio Drama
bermain peran yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan
alat/media, mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi
antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas
siswa dapat dikategorikan aktif.
Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah
melaksanakan langkah-langkah metode pembelajaran dengan sosio drama
bermain peran dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul
di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam
mengerjakan

kegiatan

pembelajaran,

menjelaskan,

memberi

umpan

balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup


besar.

C. Pembahasan
1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa
Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa pembelaajran
Bahasa Indonesia memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi
belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman
siswa terhadap materi yang disampaikan guru untuk menghadapi ujian akhir
(ketuntasan belajar meningkat dari sklus I, II, dan III) yaitu masing-masing
60%, 77%, dan 88%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal
telah tercapai.

53

2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran


Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses
metode belajar aktif model sosio drama bermain peran dalam setiap siklus
mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar
siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa
pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.
3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses
pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat
dikategorikan aktif.
Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah
melaksanakan langkah-langkah pembelajaran berjalan dengan baik. Hal ini
terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing
dan mengamati

siswa dalam mengerjakan

kegiatan

pembelajaran,

menjelaskan, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase


untuk aktivitas di atas cukup besar.

54

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga
siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan
dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pembelajaran dengan metode belajar aktif model sosio drama bermain
peran memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar
siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam
setiap siklus, yaitu siklus I 68,18%), siklus II (77,27%), siklus III
(86,36%).
2. Penerapan metode sosio drama bermain peran mempunyai pengaruh
positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang
ditunjukan dengan rata-rata jawaban siswa yang menyatakan bahwa
siswa tertarik dan berminat dengan model sosio drama bermain peran
sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar.
3. Penerapan metode sosio drama bermain peran efektif untuk
mengingatkan kembali materi ajar yang telah diterima siswa selama ini,
sehingga mereka merasa siap untuk menghadapi ujian akhir yang segera
akan dilaksanakan.

B. Saran
55

Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses
belajar mengajar Bahasa Indonesia lebih efektif dan lebih memberikan hasil
yang optimal bagi siswa, makan disampaikan saran sebagai berikut:
1. Untuk melaksanakan metode sosio drama bermain peran memerlukan
persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mempu menentukan
atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan metode
model sosio drama bermain peran proses belajar mengajar sehingga
diperoleh hasil yang optimal.
2. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya
lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran yang
sesuai, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat
menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan,
sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah
yang dihadapinya.
3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini
hanya dilakukan di SDN Karang Pawulang 1 Kota Bandung.

DAFTAR PUSTAKA

56

Arikunto, Suharsimi. 1997. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi


Aksara.
Berg, Euwe Vd. (1991). Miskonsepsi Bahasa Indonesia dan Remidi Salatiga:
Universitas Kristen Satya Wacana.
Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Algesindo.
Joyce, Bruce dan Weil, Marsh. 1972. Models of Teaching Model. Boston: A Liyn
dan Bacon.
Masriyah. 1999. Analisis Butir Tes. Surabaya: Universitas Press.
Mukhlis, Abdul. (Ed). 2000. Penelitian Tindakan Kelas. Makalah Panitia Pelatihan
Penulisan Karya Ilmiah untuk Guru-guru se-Kabupaten Tuban.
Nur, Moh. 2001. Pemotivasian Siswa untuk Belajar. Surabaya. University Press.
Universitas Negeri Surabaya.
Soedjadi, dkk. 2000. Pedoman Penulisan dan Ujian Skripsi. Surabaya; Unesa
Universitas Press.
Suryosubroto, B. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT. Rineksa
Cipta.
Usman, Uzer. 2000. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Widoko. 2002. Metode Pembelajaran Konsep. Surabaya: Universitas Negeri
Surabaya.

57