Anda di halaman 1dari 14

Cerebral Palsy (CP, Kelumpuhan Otak Besar) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan buruknya pengendalian

otot, kekakuan, kelumpuhan dan gangguan fungsi saraf lainnya.


Cerebral Palsy dan Bells Palsy tidak sama penyakitnya walaupun sama gejalanya membuat wajah kaku, Cerebral
palsy lebih sering ditemukan pada anak kecil sedangkan Bells Palsy pada orang dewasa.
CP terjadi pada 1-2 dari 1.000 bayi, tetapi 10 kali lebih sering ditemukan pada bayi prematur dan.10-15% kasus
terjadi akibat cedera lahir karena aliran darah ke otak sebelum/selama/ segera setelah bayi lahir.
Bayi prematur sangat rentan terhadap CP, kemungkinan karena pembuluh darah ke otak belum berkembang secara
sempurna dan mudah mengalami perdarahan atau karena tidak dapat mengalirkan oksigen dalam jumlah yang
memadai ke otak.
Gejala biasanya timbul sebelum anak berumur 2 tahun dan pada kasus yang berat, bisa muncul pada saat anak
berumur 3 bulan.
PENYEBAB
1. CP bisa disebabkan oleh cedera otak yang terjadi pada saat:
- bayi masih berada dalam kandungan
- proses persalinan berlangsung
- bayi baru lahir
- anak berumur kurang dari 5 tahun.
2. Tetapi kebanyakkan penyebabnya tidak diketahui.
Cedera otak bisa disebabkan oleh:
a. Kadar bilirubin yang tinggi di dalam darah (sering ditemukan pada bayi baru lahir), bisa menyebabkan kernikterus
dan kerusakan otak
b. Penyakit berat pada tahun pertama kehidupan bayi (misalnya ensefalitis, meningitis, sepsis, trauma dan dehidrasi
berat)
c. Cedera kepala karena hematom subdural
d. Cedera pembuluh darah.
GEJALA
Gejalanya bervariasi, mulai dari kejanggalan yang tidak tampak nyata sampai kekakuan yang berat, yang
menyebabkan perubahan bentuk lengan dan tungkai sehingga anak harus memakai kursi roda.
Gejala lain yang ditemukan pada CP:

- Kecerdasan di bawah normal


- Keterbelakangan mental
- Kejang/epilepsi (terutama pada tipe spastik)
- Gangguan menghisap atau makan
- Pernafasan yang tidak teratur
- Gangguan berbicara (disartria)
- Gangguan penglihatan
- Gangguan pendengaran
- Kontraktur persendian
- Gerakan menjadi terbatas.
-Gangguan perkembangan kemampuan motorik (misalnya menggapai sesuatu, duduk, berguling, merangkak,
berjalan)
DIAGNOSA
Tremor otot atau kekakuan tampak dengan jelas, dan anak cenderung melipat lengannya ke arah samping,
tungkainya bergerak seperti gunting atau gerakan abnormal lainnya.
PEMERIKSAAN PENUNJANG:
1. MRI kepala menunjukkan adanya kelainan struktur maupun kelainan bawaan
2.CT scan kepala menunjukkan adanya kelainan struktur maupun kelainan bawaan
3.Pemeriksaan pendengaran (untuk menentukan status fungsi pendengaran)
4. Pemeriksaan penglihatan (untuk menentukan status fungsi penglihatan)
5.EEG
6. Biopsi otot.
PENGOBATAN
CP tidak dapat disembuhkan dan merupakan kelainan yang berlangsung seumur hidup. Tetapi banyak hal yang
dapat dilakukan agar anak bisa hidup semandiri mungkin.
Pengobatan yang dilakukan biasanya tergantung kepada gejala
Jika tidak terdapat gangguan fisik dan kecerdasan yang berat, banyak anak dengan CP yang tumbuh secara normal
dan masuk ke sekolah biasa.Anak lainnya memerlukan terapi fisik yang luas, pendidikan khusus dan selalu
memerlukan bantuan dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari.

Pada beberapa kasus, untuk membebaskan kontraktur persendian yang semakin memburuk akibat kekakuan otot,
mungkin perlu dilakukan pembedahan.
Pembedahan juga perlu dilakukan untuk memasang selang makanan dan untuk mengendalikan refluks
gastroesofageal.

A. Latar Belakang
Bells palsy merupakan paresis nervus fasialis perifer yang penyebabnya tidak diketahui
(idiopatik) dan bersifat akut. Banyak yang mencampur adukkan antara Bells palsy dengan
paresis nervus fasialis perifer lainnya yang penyebabnya diketahui. Biasanya penderita
mengetahui kelumpuhan fasialis dari teman atau keluarga atau pada saat bercermin atau sikat
gigi/berkumur. Pada saat penderita menyadari bahwa ia mengalami kelumpuhan pada wajahnya,
maka ia mulai merasa takut, malu, rendah diri, mengganggu kosmetik dan kadang kala jiwanya
tertekan terutama pada wanita dan pada penderita yang mempunyai profesi yangmengharuskan
ia untuk tampil di muka umum. Seringkali timbul pertanyaan didalam hatinya, apakah wajahnya
bisa kembali secara normal atau tidak. Bells palsy adalah kelumpuhan fasialis perifer yang
belum diketahui penyebabnya, bisa akibat proses non-supuratif, non-neoplasmatik, nondegeneratif primer namun sangat mungkinakibat edema jinak pada bagian nervus fasialis di
foramenstilomastoideus atau sedikit proksimal dari foramen tersebut, yang mulanya akut dan
dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan.
Bells palsy menempati urutan ketiga penyebab terbanyak dari paralysis fasial akut. Di
dunia, Di Amerika Serikat insiden Bells palsy setiap tahun sekitar 23 kasus per 100.000 orang,
63% mengenai wajah sisi kanan. Insiden Bells palsy rata-rata 15-30 kasus per 100.000 populasi.
Penderita diabetes mempunyai resiko 29% lebih tinggi, dibanding non-diabetes. Bells palsy
mengenai laki-laki dan wanita dengan perbandingan yang sama. Akan tetapi, wanita muda yang
berumur 10-19 tahun lebih rentan terkena daripada laki-laki pada kelompok umur yang sama.
Penyakit ini dapat mengenai semua umur, namun lebih sering terjadi pada umur 15-50
tahun. Sedangkan di Indonesia, insiden Bells palsy secara pasti sulit ditentukan. Data yang
dikumpulkan dari 4 buah Rumah sakit di Indonesia didapatkan frekuensi Bells palsy sebesar
19,55 % dari seluruh kasus neuropati dan terbanyak pada usia 21 -30 tahun. Lebih sering terjadi
pada wanita daripada pria.

TINJAUAN TEORI
5.1 ANATOMI
Nervus facialis terutama merupakan saraf motorik, yang menginervasi otot-otot ekspresi
wajah. Disamping saraf ini membawa serabut parasimpatis ke kelenjar ludah dan air mata dan ke
selaput mukosa rongga hidung dan mulut dan juga menghantar berbagai jenis sensasi dari otototot yang disarafinya.Inti nervus fasialis terletak dipons.
Saraf mengintari inti nervus abdusen, dan kelenjar di bagian lateral pons. Nervus
intermedius keluar di permukaan lateral pons diantara nervus fasialis dan nervus
vestibukoklearis. Nervus fasialis bersama dengan nervus intermedius dan nervus

vestibulokoklearis kemudian memasuki meatus akusticus internus. Di sini nervus facialis bersatu
dengan nervus intermedius dan menjadi satu berkas yang berjalan di dalam kanalis facialis dan
kemudian masuk ke dalam os mastoid. Ia keluar dari tulang tengkorak melalui foramen
stilomastoideum , dan bercabang untuk mempersarafi otot-otot wajah.
Nervus Fasialis mengandungi empat macam inti :
1. Nukleus fasialis, saraf somatomotorik, yang memepersarafi otot-otot wajah.
2. Nukleus salivatorius superior, saraf viseromotorik. Saraf ini mengurus glandula dan mukosa
faring, palatum, rongga hidung, sinus paranasal dan glandula submaksiler serata sublingual dan
maksilaris.
3. Nukleus solitaries, saraf viserosensorik yang menghantar implus dari alat pengecap di dua
pertiga bagian depan lidah.
Nukleus sensoris trigeminus, saraf somatosensorik. Menghantarkan rasa nyeri, suhu dan
raba dari bagian daerah kulit dan mukosa
5.2 PENYAKIT AKIBAT LESI PADA NERVUS FASIALIS
1. Sindrom Moibeus adanya parese nervus fasialis bilateral yang merupakan kelainan congenital
akibat adanya gangguan perkembangan nervus fasialis dan seringkali bersamaan dengan
kelemahan okular.
2. Bells Palsy Parese Bell merupakan lesi nervus fasialis yang tidak diketahui penyebabnya karena
terjepit di dalam foramen stilomastoideus dan menimbulkan kelumpuhan yang disebut sebagai
Bells Palsy.
3. Syndroma Millard Gubler
Suatu sindroma yang ditandai dengan paralisis N6 dan N7 yang disebabkan karena lesi
didaerah pons.
4. Sindroma Ramsay Hunt
Suatu infeksi saraf wajah yang disertai dengan ruam yang menyakitkan dan kelemahan
otot wajah. Penyebab RHS adalah virus varisela-zoster, virus yang menyebabkan cacar air.
Setelah menyembuhkan cacar air, virus berdiam tidak aktif dalam saraf. Bertahun-tahun
kemudian, virus aktif kembali. Jika virus mengaktifkan kembali dan menginfeksi saraf wajah,
hasilnya adalah RHS.
5.3 DEFINISI BELLS PALSY
Bell palsy merupakan bentuk kelumpuhan wajah akibat disfungsi sarafkranial VII (nervus
fasialis) menyebabkan ketidakmampuan untuk mengontrol otot-otot wajah pada sisi yang
terkena.
5.4 ETIOLOGI BELLS PALSY
Bell palsy terjadi ketika saraf yang mengendalikan otot-otot wajah (saraf wajah) menjadi
meradang atau dikompresi. Tidak diketahui apa yang menyebabkansaraf wajah menjadi
meradang, meskipun
diperkirakan bahwa
virus. Virus
yangtelah
dikaitkan
dengan Bell palsy termasuk virus yang menyebabkan:
a) Luka dingin dan herpes genital (herpes simplex)
b) Cacar air dan herpes zoster (herpes zoster)

c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)

Mononucleosis (Epstein-Barr)
Infeksi Cytomegalovirus
Penyakit pernapasan (adenovirus)
Campak Jerman (rubella)
Mumps (virus gondok)
Flu (influenza B)
Penyakit tangan-kaki-dan-mulut (coxsackievirus)
Dengan Bell palsy, saraf yang mengendalikan otot-otot wajah, yang melewaticelah
sempit dari tulang dalam perjalanan ke wajah, menjadi meradang dan bengkak. Biasanya
berhubungan dengan infeksi virus. Selain otot-otot wajah, sarafmempengaruhi air mata, air
liur, rasa dan tulang kecil di tengah telinga Anda.
5.5 EPIDEMIOLOGI BELLPALSY
Di Amerika Serikat, kejadian tahunan Bell palsy adalah sekitar 23 kasus per 100.000
orang. Sangat sedikit kasus yang diamati selama bulan-bulan musim panas. Secara internasional,
insiden tertinggi ditemukan pada sebuah penelitian di Seckori, Jepang, pada tahun 1986, dan
kejadian terendah ditemukan di Swedia pada tahun 1971. Kebanyakan studi populasi umum
menunjukkan kejadian tahunan dari 15-30 kasus per 100.000 penduduk.
Bell palsy diperkirakan menyumbang sekitar 60-75% dari kasus kelumpuhan wajah akut
unilateral, dengan sisi kanan terkena 63% dari waktu. Hal ini juga dapat berulang, dengan
kekambuhan berbagai dilaporkan 4-14%. meskipun bilateral Bell palsy simultan dapat
mengembangkan, sangat jarang. Hal ini menyumbang hanya 23% dari kelumpuhan wajah
bilateral dan memiliki tingkat kejadian yang kurang dari 1% dari itu untuk kelumpuhan saraf
wajah unilateral. [28, 29] Sebagian besar pasien dengan facial palsy bilateral memiliki sindrom
Guillain-Barr, sarkoidosis, penyakit Lyme, meningitis (neoplastik atau infeksi), atau
Neurofibroma bilateral (pada pasien dengan neurofibromatosis tipe 2).
Orang dengan diabetes memiliki risiko 29% lebih tinggi dari yang dipengaruhi oleh Bell
palsy dibandingkan orang tanpa diabetes. Jadi, mengukur kadar glukosa darah pada
saat diagnosis Bell palsy dapat mendeteksi diabetes terdiagnosis. Pasien diabetes 30% lebih
mungkin dibandingkan pasien nondiabetes untuk memiliki pemulihan hanya parsial,
kekambuhan Bell palsy juga lebih umum di antara pasien diabetes.Bell palsy juga lebih umum
pada orang yang immunocompromised atau pada wanita dengan preeklamsia.
Sex dan demografi yang berkaitan dengan usia
Bell palsy tampaknya mempengaruhi jenis kelamin sama. Namun, perempuan muda
berusia 10-19 tahun lebih mungkin akan terpengaruh dibandingkan pria dalam kelompok usia
yang sama. Wanita hamil memiliki risiko 3,3 kali lebih tinggi untuk terkena Bell palsy daripada
wanita hamil, Bell palsy paling sering terjadi pada trimester ketiga.
Secara umum, Bell palsy terjadi lebih sering pada orang dewasa. Sebuah dominasi sedikit
lebih tinggi diamati pada pasien yang lebih tua dari 65 tahun (59 kasus per 100.000 orang), dan
tingkat insiden lebih rendah diamati pada anak-anak muda dari 13 tahun (13 kasus per 100.000
orang). Insiden terendah ditemukan pada orang muda dari 10 tahun, dan insiden tertinggi adalah

pada orang berusia 60 tahun atau lebih. Puncak usia antara 20 dan 40 tahun. Penyakit ini juga
terjadi pada orang tua berusia 70-80 tahun.
5.6 FAKTOR RISIKO
Bell palsy lebih sering terjadi pada orang yang: Hamil, terutama selama trimester ketiga,
atau yang berada di minggu pertama setelah melahirkan.Memilikiinfeksi saluran pernapasan
atas, seperti
flu atau
pilek
Beberapa
orang
yangmengalami
serangan
berulang dari Bell palsy Memiliki
riwayat
keluarga seranganberulang. Dalam
kasus
tersebut, mungkin ada kecenderungan genetik untuk Bellpalsy.
5.7 PATOGENESIS DAN PATOSIOLOGI BELLS PALSY
Bells palsy merupakan kelemahan wajah dengan tipe lower motor neuronyang
disebabkan oleh keterlibatan saraf fasialis idiopatik di luar sistem saraf pusat, tanpa adanya
penyakit neurologik lainnya. Sindrom ini pertama sekali dideskripsikan pada tahun 1821 oleh
seorang anatomis dan dokter bedah bernama Sir Charles Bell. Karena proses yang dikenal awam
sebagai masuk angin atau dalam bahasa inggris cold, nervus fasialis bisa sembab.
Gejala Bells palsy dapat berupa kelumpuhan otot-otot wajah pada satu sisi yang terjadi
secara tiba-tiba beberapa jam sampai beberapa hari (maksimal 7 hari). Pasien juga mengeluhkan
nyeri di sekitar telinga, rasa bengkak atau kaku pada wajah walaupun tidak ada gangguan
sensorik. Kadang- kadang diikuti oleh hiperakusis, berkurangnya produksi air mata, hipersalivasi
dan berubahnya pengecapan. Kelum-puhan saraf fasialis dapat terjadi secara parsial atau
komplit. Kelumpuhan parsial dalam 17 hari dapat berubah menjadi kelumpuhan komplit.
Dalam mendiagnosis kelum- puhan saraf fasialis, harus dibedakan kelumpuhan sentral
atau perifer. Kelumpuhan sentral terjadi hanya pada bagian bawah wajah saja, otot dahi masih
dapat berkontraksi karena otot dahi dipersarafi oleh kortek sisi ipsi dan kontra lateral sedangkan
kelumpuhan perifer terjadi pada satu sisi wajah.

Karena itu ia terjepit dalam foramen stilomastoideum dan menimbulkan kelumpuhan


fasialis LMN. Kelumpuhan tersebut dinamakan Bells palsy. Bagian atas dan bawah dari otot
wajah seluruhnya lumpuh. Dahi tidak dapat di kerutkan. Fissure palpebral tidak dapat ditutup
dan pada usaha untuk memejam mata telihatlah bola mata yang berbalik ke atas. Sudut mulut

tidak bisa diangkat. Bibir tidak bisa dicucurkan dal platisma tidak dapat digerakkan. Karena
lagoftalmos, maka air mata tidak bisa disalurkan secara wajar sehingga tetimbun disitu.
Gejala-gejala pengiring seperti ageusia dan hiperakusis tidak ada karena bagian nervus
fasialis yang terjepit di foramen stilomastoideum sudah tidak mengandung lagi serabut korda
timpani dan serabut yang ,menyarafi muskulus stapedius.
Gambar 2. Penderita Bells Palsy

Terdapat lima teori yang kemungkinan menyebabkan terjadinya Bells palsy, yaitu iskemik
vaskular, virus, bakteri, herediter, dan imunologi. Teori virus lebih banyak dibahas sebagai
etiologi penyakit ini. Burgess et al mengidentifikasi genom virus herpes simpleks (HSV) di
ganglion genikulatum seorang pria usia lanjut yang meninggal enam minggu setelah
mengalami Bells palsy. Murakami et al.menggunakan teknik reaksi rantai polimerase untuk
mengamplifikasi sekuens genom virus, dikenal sebagai HSV tipe 1 di dalam cairan endoneural
sekeliling saraf ketujuh pada 11 sampel dari 14 kasus Bells palsy yang dilakukan dekompresi
pembedahan pada kasus yang berat. Murakami et al. menginokulasi HSV dalam telinga dan lidah
tikus yang menyebabkan paralisis pada wajah tikus tersebut. Antigen virus tersebut kemudian
ditemukan pada saraf fasialis dan ganglion genikulatum. Dengan adanya temuan ini, istilah
paralisis fasialis herpes simpleks atau herpetika dapat diadopsi. Gambaran patologi dan
mikroskopis menunjukkan proses demielinisasi, edema, dan gangguan vaskular saraf.
Berdasarkan letak lesi, manifestasi klinis Bells palsy dapat berbeda. Bila lesi di foramen
stylomastoid, dapat terjadi gangguan komplit yang menyebabkan paralisis semua otot ekspresi
wajah. Saat menutup kelopak mata, kedua matamelakukan rotasi ke atas (Bells phenomenon).
Selain itu, mata dapat terasa berair karena aliran air mata ke sakus lakrimalis yang dibantu
muskulus orbikularis okuli terganggu.
Manifestasi komplit lainnya ditunjukkan dengan makanan yang tersimpan antara gigi dan
pipi akibat gangguan gerakan wajah dan air liur keluar dari sudut mulut. Lesi di kanalis fasialis
(di atas persimpangan dengan korda timpani tetapi di bawah ganglion genikulatum) akan
menunjuk semua gejala seperti lesi di foramen stylomastoid ditambah pengecapan menghilang
pada dua per tiga anterior lidah pada sisi yang sama. Bila lesi terdapat di saraf yang menuju ke
muskulus stapedius dapat terjadi hiperakusis (sensitivitas nyeri terhadap suara keras). Selain itu,
lesi pada ganglion genikulatum akan menimbulkan lakrimasi dan berkurangnya salivasi serta
dapat melibatkan saraf kedelapan.
5.8 MANIFESTASI KLINIS
Gambaran klinis biasanya timbul mendadak,hampir selalu unilateral,sering kali waktu
bangun tidur pagi penderita baru mengetahui kelumpuhan otot wajah atau diberitahukan teman
bahwa salah satu sudut mulutnya rendah.Manifestasi klinik Bells Palsy khas dengan
memperhatikan riwayat penyakit dan gejala kelumpuhan yang timbul. Pada anak 73% didahului
infeksi saluran napas bagian atas yang erat hubungannya dengan cuaca dingin.
Perasaan nyeri, pegal, linu dan rasa tidak enak pada telinga atau sekitar nya sering merupakan
gejala awal yang segera diikuti oleh gejala kelumpuhan otot wa ja h berupa :
1. Dahi tidak dapat dikerutkan atau lipat dahi hanya terlihat pada sisi yang sehat.
2. Kelopak mata tidak dapat menutupi bola mata pada sisi yang lumpuh (lagoftalmus).

3. Gerakan bola mata pada sisi yang lumpuh lambat, disertai bolam atau berputar ke atas bila
memejamkan mata (elevasi), fenomena ini di sebut Bells sign.
4. Sudut mulut tidak dapat diangkat,lipat nasolabialis mendatar pada sisi yang lumpuh dan
mencong ke sisi yang sehat.
5. Selain gelaja-gejala diatas,dapat juga ditemukan gejala lain yang menyertai antara lain:
gangguan fungsi pengecap,hiperakusis dan gangguan lakrimasi.
6. Penderita tidak dapat bersiul atau meniup, atau bila berkumur, air akan keluar melalui sisi mulut
yang lumpuh.

5.9ANAMNESIS BELLS PALSY


Hampir semua pasien yang dibawa ke ruang gawat darurat merasa bahwa
merekamenderita stroke atau tumor intrakranial. Hampir semua keluhan yang disampaikan
adalah kelemahan pada salah satu sisi wajah.
1. Nyeri post auricular: Hampir 50% pasien menderita nyeri di regio mastoid. Nyeri sering muncul
secara simultan disertai dengan paresis, tetapi paresis muncul dalam 2-3 hari pada sekitar 25%
pasien.
2. Aliran air mata: Ini disebabkan akibat penurunan fungsi orbicularis oculi dalammengalirkan air
mata. Hanya sedikit air mata yang dapat mengalir sampai ke saccus lacrimalis dan terjadi
kelebihan cairan.
3. Mata Kuning.
4. kelopak mata tidak bisa menutup dengan sempurna, gangguan pada pengecapan, serta sensasi
mati rasa pada salah satu bagian wajah.
5. Pada kasus yang lain juga terkadang disertai dengan adanya hiperakusis (sensasi pendengaran
yang berlebihan), telinga berdenging, nyeri kepala dan perasaan melayang. Hal tersebut terjadi
mendadak dan mencapai puncaknya dalam dua hari.
6. Keluhan yang terjadi diawali dengan nyeri pada bagian telinga yang seringkali dianggap sebagai
infeksi.
7. Selain itu masih ada gejala-gejala lain yang ditimbulkan oleh penyakit ini yaitu, pada awalnya,
penderita merasakan ada kelainan di mulut pada saat bangun tidur, menggosok gigi atau
berkumur, minum atau berbicara. Mulut tampak mencong terlebih saat meringis, kelopak mata
tidak dapat dipejamkan (lagoftalmos), waktu penderita menutup kelopak matanya maka bola
mata akan tampak berputar ke atas(nistagmus). Penderita tidak dapat bersiul atau meniup,
apabila berkumur maka air liur akan keluar ke sisi melalui sisi mulut yang lumpuh
8. Riwayat penyakit seperti :
a. infeksi saluran pernafasan otitis media akut
b. herpes
c. Meningitis
d. Diabetes militus
e. Trauma daerah wajah

5.10

PEMERIKSAAN FISIK BELLS PALSY

Paralisis mudah didiagnosis dengan pemeriksaan fisik yang lengkap untuk


menyingkirkan kelainan sepanjang perjalanan saraf dan kemungkinan penyebab lain.adapun
pemeriksaan yang dilakukan adalah :
1. Pemeriksaan gerakan dan ekspresi wajah.pemeriksaan ini akan menemukan kelemahan pada
seluruh wajah sisi yang terkena.kemudian pasien diminta menutup mata dan mata pasien pada
sisi yang terkena memutar keatas.
2. Bila terdapat hiperakusi,saat stateskop diletakkan pada telinga pasien maka suara akan terdengar
lebih jelas pada sisi cabang muskulus stapedius yang paralisis.tanda klinis yang membedakan
Bells Palsy dengan stroke atau kelainan yang bersifat sentral lainnya adalah tidak terdapatnya
kelainan pemeriksaan saraf kranialis lain,motorik dan sensorik ekstremitas dalam batas normal
dan pasien tidak mampu mengangkat alis dan dahi pada sisi yang lumpuh.
Pemeriksaan optalmologi terutama dilakukan bila terdapat lagoftalmus pada mata sisi
yang lumpuh.Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan tingkat lagoftalmus sehingga dapat
diperkirakan kesanggupan kelopak mata dalam melindungi kornea.
5.11

1.
2.

3.

4.

5.

PEMERIKSAAN PENUNJANG BELLS PALSY

Bells Palsy merupakan diagnosis klinis sehingga pemeriksaan penunjang perlu


dilakukan untuk menyingkirkan etiologi sekunder dari paralisis saraf kranialis.
Pemeriksaan radiologis dengan CT-Scan atau radiografi polos dapat dilakukan untuk
menyingkirkan fraktur,metastasis tulang,dan keterlibatan system saraf pusta(SSP).
Pemeriksaan neurofisiologi pada Bellss Palsy sudah dikenal sejak tahun 1970 sebagai
preediktor kesembuhan,bahkan dahulu sebagai acuan pada penentuan dekompresi
intrakanikular.Grosevaetal melaporkan pemeriksaan elektromiografi(EMG)mempunyai nilai
prognostic yang lebih baik dibanding elekttroneurografi(ENG).pemeriksaan serial EMG pada
penelitian tersebut setelah hari ke-15 mempunyai positive-predictive value(PPV) 100% dan
negative-predictive-value(NPV) 96%.spektrum abnormalitas yang didapatkan berupa penurunan
amplitude Compound Motor Action Potential(CMAP),pemanjangan latensi saraf kranialis
Pemeriksaan blink-refleks didapatkan pemanjangan gelombang R1 ipsilateral.pemeriksaan
blink reflex ini sangat bermanfaat karena 96% kasus didapatkan abnormalitas hingga minggu ke
lima,meski demikian sensitivitas pemeriksaan ini rendah.abnormalitas gelombang R2 hanya
ditemukan pada 15,6% kasus.
Pemeriksaan MRI dilakukan pada kasus yang kita curigai suatu neoplasma tulang temporal,
tumor otak,glandula parotis atau untuk mengevaluasi multiple sklerosis. Gambaran MRI pada
kasus Bells palsy dapat berupa peningkatan gadolinium saraf pada bagian distal kanalis
auditorius interna dan ganglion genikulatum yang merupakan lokasi tersering terjadinya edema
saraf fasialis yang menetap.pemeriksaan MRI digunakan untuk mengevaluasi skleosis
multiple.selain itu,MRI dapat memvisualisasi perjalanan dan penyengatan kontras saraf fasialis.
Tes Schirmer dilakukan untuk mengevaluasi fungsi saraf Petrosus dengan menilai fungsi
lakrimasi pada mata kanan dan kiri. Hasil abnormal menunjukan kerusakan pada Greater
Superficial Petrosal Nerve(GSPN) atau saraf fasialis di proksimal ganglion genikulatum. Lesi

pada tempat ini dapat menyebabkan terjadinya keratitis atau ulkus pada kornea akibat
terpaparnya kornea mata yang mengalami kelumpuhan.
6. Pemeriksaan reflex stapedius rutin dilakukan pada kelumpuhan saraf fasialis. Pemeriksaan ini
untuk mengevaluasi fungsi cabang stapedius dari saraf fasialis. Terjadinya kekeringan pada
kornea karena kelopak mata yang tidak dapat menutup sempurna dan produksi air mata yang
berkurang. Perawatan ini dapat dilakukan dengan menggunakan artificial tear solution pada
waktu pagi dan siang hari dan salep mata pada waktu tidur. Pasien juga dianjurkan menggunakan
kacamata bila keluar rumah. Bila telah terjadi abrasi kornea atau keratitis, maka dibutuhkan
penatalaksanaan bedah untuk melindungi kornea seperti partial tarsorrhaphy. Pada kasus
Bells palsy dengan reflex stapedius yang masih normal menandakan bahwa penyembuhan
komplit dapat terjadi dalam 6 minggu.
7. Test Gustometri dilakukan untuk menilai fungsi saraf khorda timpani dengan menilai
pengecapan pada lidah 2/3 anterior dengan rasa manis, asam dan asin. Tes ini sangat subjektif
disamping fungsi pengecapan,khorda timpani juga berperan dalam fungsi salivasi kita dapat
menilai fungsi duktus Whartons dengan mengukur produksi saliva dalam 5 menit. Bila Produksi
saliva berkurang dapat diprediksi khorda timpani tidak berfungsi baik.menurut Quinn dkk, pada
kasus Bells Palsy sering terdapat kepanjangan topografi saraf fasialis dimana terdapat
kehilangan fungsi lakrimasi sedangkan reflek stapedius dan fungsi pengecapan masih normal
atau dapat juga fungsi lakrimasi dan reflek stapedius mengalami ganguan, tetapi fungsi salvias
nya masih normal. Hal ini disebabkan karena terdapatnya multipel inflamasi dan demyelinisasi
disepanjang perjalanan saraf fasialis dari batang otak ke cabang perifer.
8. Pemeriksaan darah untuk menunjukkan kenaikkan titer antibody virus varicella zoster.
5.12

1.
2.

3.
4.

5.
6.

PENCEGAHAN BELLS PALSY

Seperti disarankan oleh Dokter Syaraf agar Bell's Palsy tidak mengenai anda, cara-cara
yang bisa ditempuh Adalah :
Jika berkendaraan motor, gunakan helm penutup wajah full untuk mencegah angin mengenai
wajah.
Jika tidur menggunakan kipas angin, jangan biarkan kipas angin menerpa wajah langsung.
Arahkan kipas angin itu ke arah lain. Jika kipas angin terpasang di langit-langit, jangan tidur
tepat di bawahnya. Dan selalu gunakan kecepatan rendah saat pengoperasian kipas.
Kalau sering lembur hingga malam, jangan mandi air dingin di malam hari. Selain tidak bagus
untuk jantung, juga tidak baik untuk kulit dan syaraf.
Bagi penggemar naik gunung, gunakan penutup wajah / masker dan pelindung mata. Suhu
rendah, angin kencang, dan tekanan atmosfir yang rendah berpotensi tinggi menyebabkan Anda
menderita Bell's Palsy.
Setelah berolah raga berat, jangan langsung mandi atau mencuci wajah dengan air dingin.
Saat menjalankan pengobatan, jangan membiarkan wajah terkena angin langsung. Tutupi wajah
dengan kain atau penutup. Takut dibilang "orang aneh"? Pertimbangkan dengan biaya yang anda
keluarkan untuk pengobatan.
Penyebab Bell's Palsy, yakni angin yang masuk ke dalam tengkorak atau foramen stilo
mastoideum. Angin dingin ini membuat syaraf di sekitar wajah sembab lalu membesar.

Pembengkakan syaraf nomor tujuh atau nervous fascialis ini mengakibatkan pasokan darah ke
syaraf tersebut terhenti. Hal itu menyebabkan kematian sel sehingga fungsi menghantar impuls
atau rangsangnya terganggu. Akibatnya, perintah otak untuk menggerakkan otot-otot wajah tidak
dapat diteruskan.
5.13

PENATALAKSANAAN BELLS PALSY

Terapi Farmakologi
Penggunaan steroid dapat mengurangi kemungkinan paralisis permanen dari
pembengkakan pada saraf di kanalis fasialis yang sempit. Steroid, terutama prednisolon yang
dimulai dalam 72 jam dari onset. Dosis pemberian prednison (maksimal 40-60 mg/hari) dan
prednisolon (maksimal 70mg) adalah 1 mg per kg per hari peroral selama enam hari diikuti
empat hari tappering off. Efek toksik dan hal yang perlu diperhatikan pada penggunaan steroid
jangka panjang, berupa retensi cairan, hipertensi, diabetes, ulkus peptikum, osteoporosis, supresi
kekebalan tubuh (rentan terhadap infeksi), dan Cushing syndrome.
Ditemukannya genom virus di sekitar saraf ketujuh menyebabkan preparat antivirus
digunakan dalam penanganan Bells palsy. Penelitian mengindikasikan bahwa hasil yang lebih
baik didapatkan pada pasien yang diterapi dengan asiklovir/ valasiklovir dan prednisolon
dibandingkan yang hanya diterapi dengan prednisolon. Untuk dewasa diberikan dengan dosis
oral 2 000-4 000 mg per hari yang dibagi dalam lima kali pemberian selama 7-10 hari,
sedangkan pemberian valasiklovir (kadar dalam darah 3-5 kali lebih tinggi) untuk dewasa adalah
1000-3000 mg per hari secara oral dibagi 2-3 kali selama lima hari. Efek samping jarang
ditemukan pada penggunaan preparat antivirus, namun kadang dapat ditemukan keluhan berupa
adalah mual, diare, dan sakit kepala.
Terapi Non-Farmakolog
Fisioterapi
a) Infra Merah
Infra merah dapat diterapkan untuk menghangatkan otot dan meningkatkan fungsi, tetapi
Anda harus memastikan bahwa mata dilindungi dengan penutup mata. Waktu penerapan selama
10 sampai 20 menit pada jarak biasanya antara 50 dan 75 cm.
b) Terapi Ultrasound
Terapi ultrasound diaplikasikan pada batang saraf (nerve trunk) di depan tragus telinga dan di
daerah antara prosesus mastoideus dan mandibula.
c) Stimulasi Elektrik (Electrical Stimulation)
Stimulasi listrik adalah teknik yang menggunakan arus listrik untuk mengaktifkan saraf
penggerak otot dan ekstremitas yang diakibatkan oleh kelumpuhan akibat cedera tulang belakang
(SCI),
cedera
kepala,
stroke
dan
gangguan
neurologis
lainnya. Electrical
Stimulation arus Faradik yang diberikan dapat menimbulkan kontraksi otot dan membantu
memperbaiki perasaan gerak sehingga diperoleh gerak yang normal serta bertujuan untuk
mencegah/ memperlambat terjadinya atrofi otot.
Pada kasus Bells Palsy ini rangsangan gerak dari otak tidak dapat disampaikan kepada
otot-otot wajah yang disyarafi. Akibatnya kontraksi otot secara volunter hilang sehingga
diperlukan bantuan dari rangsangan arus faradik untuk menimbulkan kontraksi otot. Rangsangan

d)

a)

b)

a)
b)
c)
d)

arus faradik yang dilakukan berulang- ulang dapat melatih kembali otot- otot yang lemah untuk
melakukan gerakan sehingga dapat meningkatkan kemampuan kontraksi otot sesuai fungsinya.
Massage
Suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan suatu manipulasi yang dilakukan
dengan tangan yang ditujukan pada jaringan lunak tubuh, untuk tujuan mendapatkan efek baik
pada jaringan saraf, otot, maupun sirkulasi. Pada kasus Bells Palsy teknik massage yang
diberikan yaitu stroking, effleurage, finger kneading dantapping.
Perawatan mata :
1. Pasien disarankan melindungi matanya dari terpaan debu dan angin secara langsung untuk
menghindari terjadinya iritasi.
2. Kornea mata memiliki risiko mengering dan terpapar benda asing. Proteksinya dapat
dilakukan dengan penggunaan air mata buatan (artificial tears).
3. Pasien diajarkan untuk melatih gerakan-gerakan didepan kaca seperti : mengangkat alis dan
mengerutkan dahi keatas, menutup mata,tersenyum, bersiul, menutup mulut dengan rapat,
mengangkat sudut bibir ke atas dan memperlihatkan gigi-gigi, mengembangkempiskan cuping
hidung, mengucapkan kata-kata labil a,i,u,e,o minimal 4x sehari selama 5-10 menit.
Evaluasi
Kemampuan fungsional dasar dengan ugo fish scale.
Ugo Fisch scale bertujuan untuk pemeriksaan fungsi motorik dan mengevaluasi kemajuan
motorik otot wajah pada penderita bells palsy. Penilaian dilakukan pada 5 posisi, yaitu saat
istirahat, mengerutkan dahi, menutup mata, tersenyum, dan bersiul. Pada tersebut dinilai simetris
atau tidaknya antara sisi sakit dengan sisi yang sehat. (Lumbantobing 2006).
Kekuatan otot dengan MMT
Untuk menilai kekuatan otot fasialis yang mengalami paralisis digunakan
skala Daniel and Worthinghoms Manual Muscle Testing, Yaitu:
Nilai 0 (zero) : Tidak ada kontraksi yang tampak
Nilai 1 (trace) : Kontraksi minimal
Nilai 3 ( fair) : kontraksi sampai dengan sisi normal secara maksimal
Nilai 5 normal : kontraksi normal, penuh,terkontrol dan simetris

1. Idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP) dan amegakaryocytic thrombocytopenic purpura


(ATP) .
Pemeriksaan darah tepi dari kedua kelainan ini hanya menunjukan trombositopenia tanpa
retikulospenia atau granulositepenia/leucopenia. Pemerikasaan susum tulang dari ITP
menunjukkan gambaran yang normal sedangkan pada ATP tidak ditemukan megakariosit.
2. Leukemia akut jenis aleukemik, terutama LLA (Leukemia Limfositik Akut) dengan jumlah
leukosit yang kurang dari 6000/mm3. Kecuali pada stadium dini, biasanya pada LLA ditemukan
spleenomegali. Darah tepi sukar dibedakan, karena kedua penyakit mempunyai gambaran yang
serupa (pansitopenia dan relative limfosotosis) kecuali bila terdapat sel blas dan limfositosis
yang lebih dari 90%, diagnosis lebih cenderung kepada LLA.
3. Stadium praleukemik dari leukemia akut. Sukar dibedakan baik gambaran klinis, darah tepi
maupun susum tulang, karena masih menunujukan gambaran anemia aplastik. Biasanya setelah
2-7 bulan kemudian baru terlihat gambaran khas LL.

5.14

DIAGNOSIS BANDING BELLS PALSY


Diagnosis banding paralisis fasialis dapat dibagi menurut lokasi lesi sentral dan perifer.
1. Kelainan sentral dapat merupakan:
a) stroke bila disertai kelemahan anggota gerak sisi yang sama dan ditemukan proses patologis di
hemisfer serebri kontralateral
b) kelainan tumor apabila onset gradual dan disertai perubahan mental status atau riwayat kanker
dibagian tubuh lainnya
c) sklerosis multipel bila disertai kelainan neurologis lain seperti hemiparesis atau neuritis optika;
dan trauma bila terdapat fraktur os temporalis pars petrosus, basis kranii, atau terdapat riwayat
trauma sebelumnya.
2. Kelainan perifer yang ditemukan dapat merupakan : Suatu otitis media supuratif dan mastoiditis
apabila terjadi reaksi radang dalam kavum timpani dan foto mastoid menunjukkan suatu
gambaran infeksi;
a) Herpes zoster otikus bila ditemukan adanya tuli perseptif, tampak vesikel yang terasa amat nyeri
di pinna dan/atau pemeriksaan darah menunjukkan kenaikan titer antibodi virus varicella-zoster
b) Sindroma Guillain-Barre saat ditemukan adanya paresis bilateral dan akut;
c) Kelainan miastenia gravis jika terdapat tanda patognomonik berupa gangguan gerak mata
kompleks dan kelemahan otot orbikularis okuli bilateral
d) Tumor serebello-pontin (tersering) apabila disertai kelainan nervus kranialis V dan VIII
e) Tumor kelenjar parotis bila ditemukan massa di wajah (angulus mandibula)
f) Sarcoidosis saat ditemukan tanda-tanda febris, perembesan kelenjar limfe hilus, uveitis,
parotitis, eritema nodosa, dan kadang hiperkalsemia.
5.15 KOMPLIKASI BELLS PALSY
Sekitar 5% pasien setelah menderita Bells palsy mengalami sekuele berat yang tidak
dapat diterima. Beberapa komplikasi yang sering terjadi akibat Bells palsy, adalah
1. Regenerasi motor inkomplit yaitu regenerasi suboptimal yang menyebabkan paresis seluruh atau
beberapa muskulus fasialis,
2. Regenerasi sensorik inkomplit yang menyebabkan disgeusia (gangguan pengecapan), ageusia
(hilang pengecapan), dan disestesia (gangguan sensasi atau sensasi yang tidak sama dengan
stimuli normal), dan
3. Reinervasi yang salah dari saraf fasialis.
Reinervasi yang salah dari saraf fasialis dapat menyebabkan
a) sinkinesis yaitu gerakan involunter yang mengikuti gerakan volunter, contohnya timbul gerakan
elevasi involunter dari sudut mata, kontraksi platysma, atau pengerutan dahi saat memejamkan
mata,
b) crocodile tear phenomenon, yang timbul beberapa bulan setelah paresis akibat regenerasi yang
salah dari serabut otonom, contohnya air mata pasien keluar pada saat mengkonsumsi makanan.
5.16
1.

PROGNOSIS BELLS PALSY


Sekitar 80-90 % penderita Bells Palsy mengalami perbaikan pada kekuatan otot-otot ekspresi
muka. Jika terdapat tanda-tanda kesembuhan otot wajah sebelum hari ke-18, maka kesembuhan

2.

3.

sempurna atau hampir sempurna diharapkan dapat terjadi. Perbaikan kelainan yang komplit
biasanya dimulai setelah 8 minggu dan mencapai maksimal dalam 9 bulan sampai 1 tahun. Pada
penderita dengan kelainan inkomplit, perbaikan biasanya dimulai setelah 2 minggu. Kurang
dari15% penderita didapatkan gejala sisa. Hampir 80% mendapatkan perbaikannya sampai 95%
atau lebih.
Faktor-faktor yang meramalkan prognosis yang baik adalah kelainan inkomplit, umur relatif
muda (kurang dari 60 tahun), interval yang pendek antara onset dan perbaikan pertama (initial
improvement) dalam 2 minggu, dan studi elektrodiagnostik yang menunjang. Faktor-faktor yang
meramalkan prognosis yang jelek adalah paralisis total, usia lanjut (lebih dari 60 tahun), interval
yang panjang antara onset dan perbaikan (sekitar 2 bulan), dan studi elektrodiagnostik yang tidak
menunjang.
Nilai peramalan sehubungan dengan paralisis nervus fasialis (nyeri belakang telinga, fonofobia,
hilangnya pengecapan, berkurangnya sekresi air mata dan aliran saliva) adalah tidak jelas. Tetapi
kelemahan pada fungsi-fungsi ini dapat menunjukkan luasnya degenerasi motor akson.