Anda di halaman 1dari 35

Struktur Pengendalian Internal Premis pertama, tanggung jawab, terkait dengan tangung jawab

manajemen dan dewan direksi untuk membangun dan memelihara proses pengendalian internal.
Auditor eksternal auditor internal dan pihak lain barang kali juga berkepentingan dengan proses
pengendalian internal organisasi, tetapi tanggung jawab utama terhadap pengendalian tetap brada
di tangan manajemen dan dewan direksi. Premis kedua, jaminan yang masuk akal, terkait dengan
revalitas biaya dan manfaat suatu pengendalian. Manajemen yang hati-hati tidak seharusnya
mengeluarkan lebih bnyak biaya untuk pengendalian yang tidak sebanding dengan manfaat yang
didapatkan. Pertimbangan relativitas biaya dan manfaat terkait dengan pengendalian kerap kali
bersifat subjetif. Sering sulit untuk mengukur manfaat dan biaya terkait dengan faktor-faktor
yang tidak berwujud, seperti reputasi perusahaan atau tanpa pengendalian terhadap moral
karyawan. Manajemen harus hati-hati ketika membuat judgement untuk mendapatkan jaminan
yang masuk akal terkait dengan pencapaian tujuan pengendalian. Pengaruh Eksternal yang
Terkait dengan Entitas dan Pengendalian Internal FCPA (federal Foreign Corrupt Practices Act)
tahun 1977 merupakan satu persyaratan legal yang menjadi pertimbangan banyak organisasi.
Pelanggaran terhadap peraturan ini dapat mengakibatkan hukuman denda dan kurungan. Bagian
102 dari FCPA mensyaratkan semua perusahaan yang menjadi subjek dari Securities Exchange
Act tahun 1934 untuk: a. Membuat dan memelihara buku, catatan, dan rekening yang cukup
detail dan merefleksikan transaksi dan karakteristik aktiva secar akurat dan wajar. b.
Mengembangkan dan memelihara sistem pengendalian akuntansi internal yang dapat
memberikan jaminan yang masuk akal bahwa: 1. Transaksi dilaksanakan sesuai dengan otorisasi
manajemen, khusus maupun umum; 2. Transaksi dicatat guna (i) memudahkan penyajian laporan
keuangan agar sesuai dengan prinsip akuntansi yng diterima umum atau kriteria lain yang dapat
diterapkan dan (ii) memelihara akuntabilitas aktiva; 3. Akses terhadap aktiva hanya diizinkan
sesuai dengan otorisasi manajemen, baik otorisasi khusus maupun umum; 4. Akuntabilitas aktiva
yang tercatat dibandingkan dengan aktiva yang saat ini ada pada rentang yang cukup rasional,
dan tindakan yang tepat perlu diambil terkait dengan perbedaan nilai yang ditemukan.
Pelanggaran terhadap provisi tersebut dapat mengakibatkan denda $10.000 baik pada perusahaan
maupuan staf perusahaan, dan penjara lima tahun bagi para eksekutif yang terlibat. SarbanesOxley Act Bagi perusahaan publik, Sarbanes-Oxley Act 2002 (SOA) memuat tuntutan dan
batasan atas manajemen, auditor, dan dewan audit perusahaan. Dibentuk PCAOB (public
Company Accounting Oversight Board) dengan lima anggota, dengan tanggung jawab utama
mengatur perilaku auditor, dengan implikasi penting pada manajemen di dalam memberikan
sanksi. Pelanggan terhadap peraturan PCAOB dianggap sebagai peanggaran peraturan terhadap
1934 Securities Act. Dalam SOA, tindakan mempersulit mencakup pengubahan, penghancuran,
pemalsuan dokumen secara sengaja dengan tujuan untuk menghindari, mempersulit, atau
memengaruhi setiap investigasi federal atau penjadwalan proses kebangkrutan. Tindakan untuk
memengaruhi atau memperulit kantor akuntan publik selama kantor tersebut menjalankan
tugasnya juga merupakan satu tindakan illegal. Batasan atau Jasa Selain Audit SOA membatasi
jasa selain audit yang dapat diberikan oleh auditor kepada klien mereka.jasa yang tidak diizinkan
adalah 1. Pencatatan akuntansi atau jasa lain terkait dengan catatan akuntansi atau laporan
keuangan dari klien udit, 2. Perancangan dan penerapan sistem informasi keuangan, 3. Jasa
penilaian, opini kewajaran, atau laporan contribution-in-kind, 4. Jasa aktuaria, 5. Jasa
outsourcing audit internal, 6 fungsi manajemen atau sumber-sumber daya manusia, 7. Broker,
dealer, penasihat investasi, atau jasa perbankkan investasi, 8. Jas legal dan jas keahlian yang
tidak terkait dengan audit, dan 9. Jasa lain yang, berdasarkan peraturam tidak diizinkan. Peran
Komite Audit SOA melegalkan pentinganya komite audit. Auditor diharapakan melaporkan

semua informasi yang relevan dengan audit kepada dewan ini. Komite audit memiliki satu
tanggung jawab untuk memilih, menyewa, dan mengawasi auditor. Konflik Kepentingan Chief
executive officer (CEO),controller, chief financial officer (CFO), chief accounting officer atau
orang yang berada pada posisi yang ekuivalen dengan posisi tersebut, tidak boleh dipekerjakan di
akuntan publik yang ditunjuk oleh perusahaan, dalam periode satu tahun sebelum pelaksanaan
audit. Tanggung Jawab Perusahaan atas Pelaporan Keuangan CEO dan CFO harus membuat satu
pernyataan yang akan disertakan pada laporan audit untuk menjamin kewajaran laporan
keuangan dan pengungkapan yang termuat dalapam pelaporan periodik dan bahwa laporan
keuangan dan pengungkapan tersebut menggambarkan secara wajar, dalam segala hal yang
material, kondisi keuangan dan operasi penerbit. Larangan Perdagangan Insider selama Periode
Blackot Dana Pensiun SOA melarang pembelian atau penjualan saham oleh staf dan direktur
atau pihak insider yang lain selama periode blackout. Larangan atas Pemberian Pinjaman
Personal kepada Eksekutif dan Direktur perusahaan dilarang meminjakan uang kepada direktur
atau staf ekskutif. Kode Etik Perusahaan diminta untuk mengungkapkan apakah mereka telah
memiliki kode etik yang beraku untuk staf keuangan senior, dan mereka harus mengungkapkan
isi kode etik tersebut. Penafsiran Manajemen atas Pengendalian Internal SOA mensyaratkan
laporan tahunan memuat laporan pengendalian internal yang 1. Menyatakan tanggung jawab
manajemen untuk membangan dan memelihara struktur dan prosedur pengendalian internal yang
memadai untuk pelaporan keuangan, serta 2. Memuat suatu penilaian, pada akhir fiscal
perusahaan, mengenai keefektifan struktur dan prosedur pengendalian internal dari pelaporan
keuangan perusahaan. Dampak Lingkungan Bisnis Terhadap Pengendalin Internal Proses
pengendalian internal suatu entitas bervariasi tergantung pada konteks ukuran organisasi;
struktur organisasi, karakteristik kepemilikan; metode transmisi, pemrosesan, pemeliharaan dan
pengevaluasi informasi; persyaratan legal dan regulator; diversitas dan kompleksitas operasi
organisasi. Lingkungan Pengendalian Lingkungan pengendalian merupakan dampak kumulatif
atas faktor-faktor untuk membangun, mendukung dan meningkatkan efektifitas kebijakan dan
prosedur tertetu. Fator yang tercakup dalam lingkungan pengendalian adalah: Nilai-nilai
integritas dan etika Komitmen terhadap kompetensi Filosofi manajemen dan gaya operasi
Struktur organisasi Perhatian dan pengarahan yang diberikan oleh dewan direksi dan komitenya
Cara pembagian otoritas dan tanggung jawab Kebijakan sumber daya manusia dan prosedur.
Intergritas dan Nilai-nilai Etika Eksposur semacam ini mencakup kemungkinan denda yang
cukup besar atau tuduhan kriminal terhadap perusahaan eksekutif dalam perusahaan tersebut.
Etika dan Budaya Perusahaan Banyak pihak berpendapat bahwa setiap perusahaan memiliki
budaya sendiri dan budaya inilah yang mendukung ataupun menghalangi perilaku etis di
organisasi. Budaya perusahaan berhubungan dengan keyakinan umum, praktik, dan sikap
keryawan. Sebaik apa pun kode etik yang dimiliki perusahan, akan menjadi tidak berarti jika ada
masalah budaya yang signifikan dalam budaya organisasi. Menciptakan budaya organisasi yang
dapat mendukung perilaku yang etis memang sulit dan memang tidak dapat dicapai tanpa
pendidikan, pelatihan, dan komitmen. Beberap perusahaan menggunakan seminar untuk
mendidik dan melatih karyawan mereka. Komitmen dapa dicapai dengan menempatkan etika
sebagai satu posisi legal dalam struktur organisasi perusahaan. Karyawan harus diberi tahu
mengenai penalti atas setiap pelanggaran etika. Beberapa perusahaan memberikan penghargaan
kepada karyawan yang bersedia melaporkan pelanggaran etika. Untuk memastikan setiap
program etika berjalan dengan baik., perusahaan harus memiliki audit budaya untuk memeriksa
budaya dan perilaku etis dalam organisasi. Masalah etika dapat ada dalam banyak area.
Sebagaian area ini harus menghadapi masalah keamanan, peluang kerja yang sama, pelecehan

seksual, kualitas produk dan jasa, privasi, kejujuran menjalankan bisnis, konflik kepentingan,
dan penghargaan terhadap kekayaan intelektual. Komitmen Terhadap Kompetensi Kompetensi
karyawan merupakan hal yang penting untuk memungkinkan proses pengendalian internal dapat
berfungsi dengan baik. Terakhir, sebenarnya kualitas dan kompetensi karyawanlah yang dapat
memastikan terlaksananya proses pengendalian yang baik. Tidak ada proses pengendalian yang
dapat berfungsi dengan baik tanpa karyawan yang kompeten. Filosofi Manajemen dan Gaya
Operasi Pengendalian yang efektif dalam suatu organisasi dimulai dan diakhiri dengan filosofi
manajemen. Jika manajemen percaya bahwa pengendalian penting, manajemen akan memastikan
bahwa kebijakan dan prosedur pengendalian diterapkan secara efektif. Struktur Organisasi
Pengendalian yang efektif dalam suatu organisasi dimulai dan diakhiri dengan filosofi
manajemen. Jika manajemen percaya bahwa pengendalian penting, manajemen akan memastikan
bahwa kebijakan dan prosedur pengendalian diterapkan secara efektif. Struktur organisasi
didefinisikan sebagai pola otoritas dan tanggung jawab yang ada dalam organsasi. Struktur
organisasi formal seringkali digambar dalam bentuk diagram organisasi. Sebagaimana
diindikasikan dalam diagram, penagihan tidak bertanggung jawab langsung kepada manajer
produksi. Ada juga struktur organisasi informal jika pola komunikasi tidak mengikuti alur
sebagaimana tertulis dalam struktur organisasi. Fungsi Dewan Direksi dan Komitenya Dewan
direksi merupakan perantara yang menghubungkan pemegang saham selaku pemilik organisasi
dengan manajemen melalui fungsi dewan direksi dan komitenya. Jika keanggotaan dewan direksi
sepenuhnya terdiri dari manajemen, atau jika dewan direksi jarang ,mengadakan rapat, maka
pemegang saham tidak memiliki kendali atas operasi manajemen. Komite audit seharusnya
independen dari manajemen organisasi. Keaggotaannya mencakup terutama anggota-anggota di
luar dewan direksi. Komite audit biasanya bertanggung jawab penuh atas laporan keuangan
perusahaan, termasuk kesesuaian dengan hukum dan regulasi yang berlaku. Komite audit juga
bertanggung jawab untuk meninju reaksi manajemen terhadap laporan akuntan publik terkait
dengn proses pengendalian internal perusahaan. Agar efektif, komite harus menjaga komunikasi
dengan fungsi internal audit organisasi, serta dengan auditor eksternal. Seorang auditor internal
seharusnya melapor kepada komite audit dari dewan direksi untuk menjaga independensi
pelaksanaan audit internal dari fungsi-fungsi lain dalam organisasi. Cara Memberikan Wewenang
dan Tanggung Jawab Pada struktur organisasi formal, dokumen tertulis sering digunakan untuk
mengindikasikan pemberian wewenang dan tanggung jawab dalam organisasi. Struktur
organisasi dilengkapi dengan diskripsi pekerjaan formal. Penganggaran Penganggaran
merupakan proses pembuatan anggaran (aktivitas utama manajemen). Anggaran untuk seluruh
organisasi disebut anggaran master. Anggaran master sering disajikan sebagai satu laporan
keuangan pro forma. Laporan keuangan pro forma merupakan ramalan laporan keuangan (neraca
dan laba rugi) yang menggambarkan prediksi keuangan sebagai konsekuensi dari rencana operasi
manajemen untuk periode anggaran tersebut. Kebijakan dan Praktik Sumber Daya Manusia
Personel merupakan komponen kunci dalam sistem pengendalian. Kualifikasi setiap posisi
pekerjaan dalam suatu perusahaan berkaitan dengan tanggung jawab posisi tersebut. Untuk
meyakinkan organisasi merekrut karyawan yang dapat diandalkan maka diperlukan adanya
Fidelity bonding. Fidelity bonding merupakan satu kontrak dengan perusahaan asuransi yang
memberikan jaminan finansial atas kejujuran individu yang namanya termuat di dalam kontrak
perjanjian. Pemisahaan Tugas Pemisahaan Tugas yang efektif tergantung tingkat kerincian
perencanaan prosedur dan kehati-hatian penugasan fungsi-fungsi pada berbagai orang dalam
organisasi. Supervisi Supervisi merupakan pengawasan langsung kinerja personel oleh seorang
karyawan yang diberi tanggunt jawab. Supervisi yang baik diperlukan untuk memastikan bahwa

pekerjaan yang dipercayakan kepada karyawan dilaksanakan sesuai dengan semestinya. Rotasi
Pekerjaan dan Vakasi Wajib Rotasi Pekerjaan dan Vakasi Wajib memungkinkan pemberi kerja
untuk mengecek dan memverifikasi pekerjaan karyawan lain pada saat mereka menjalankan
tugas mereka selama kurun waktu tertentu. Rotasi pekerjaan berfungsi sebagai cek umum atas
efisiensi karyawan yang saat itu sedang cuti atau yang dipindahkan ke pekerjaan lain. Selain itu
berfungsi juga sebagai pelatihan bagi karyawan secara umum. Pengendalian Ganda Pengendalian
Ganda merupakan penugasan kepada dua individu untuk menjalankan satu pekerjaan yang sama
secara harmoni. Pengendalian ganda merupakan supervisi khusus, dalam arti satu karyawan
secara konstan mengecek pekerjaan karyawan yang lain, demikian juga sebaliknya. Penaksiran
Risiko Merupakan proses mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola risiko yang
memengaruhi tujuan perusahaan. Tahapan yang paling kritis dalam menaksir risiko adalah
mengidentifikasi perubahan kondisi eksternal dan internal dan mengidentifikasi tindakan yang
diperlukan. Aktivitas Pengendalian Merupakan kebijakan dan prosedur yang dibangun untuk
membantu memastikan bahwa arahan manajemen dilaksanakan dengan baik. Ada banyak
aktivitas pengendalian yang dapat diterapkan Oleh manajemen, yaitu: 1. Rencana organisasi
mencakup pemisahan tugas untuk mengurangi peluang seseorang dalam suatu posisi pekerjaan
tertentu untuk melakukan kecurangan atau kesalahan menjalankan tugas sehari-hari mereka. 2.
Prosedur mencakup perancangan dan penggunaan dokumentasi dan catatan yang berguna untuk
memastikan pencatatan transaksi dan kejadian yang tepat. 3. Akses terhadap aktiva hanya
diberikan sesuai dengan otorisasi manajemen. 4. Cek independen dan peninjauan dilakukan
sebagai wujud akuntabilitas kekayaan perusahaan dan kinerja. 5. Pengendalian proses informasi
diterapkan untuk mengecek kelayakan otoritas, keakuratan, dan kelengkapan setiap transaksi.
Pemisahan Tugas diperlukan untuk mengurangi peluang seseorang yang ditempatkan dalam
suatu posisi pekerjaan tertentu untuk melakukan kecurangan atau kesalahan ketika menjalankan
tugas sehari-hari mereka. Pemisahan Wewenang Pelaksana Transaksi dari Pencatat Transaksi
mengurangi peluang terjadinya kesalahan dan kecurangan melalui dibentuknya independensi
akuntabilitas fungsi otoritas. Dalam rangka memastikan bahwa informasi akuntansi yang
dihasilkan tidak bersifat bias, fungsi pencatat transaksi biasanya dipusatkan dalam satu fungsi
yang terpisah, di bawah controller. Pemisahan Wewenang Pelaksana Transaksi dari Penyimpan
Kekayaan mengurangi peluang terjadinya kesalahan dan kecurangan dengan cara mewujudkan
akuntabilitas independen atas penggunaan (penyimpanan) harta. Otoritas aktivitas akan
dikomunikasikan kepada mereka yang bertanggung jawab menyimpan kekayaan organisasi dan
secara simultan juga akan dikomunikasikan kepada bagian pencatat transaksi (akuntansi).
Pemisahaan Pencatat Transaksi dari Penyimpan Kekayaan mengurangi peluang kesalahan dan
kecurangan dengan mewujudkan akuntabilitasyang independen atas penggunaan harta kekayaan
organisasi. Dokumen dan Catatan yang Memadai membantu memastikan pencatatan atas
transaksi dan kejadian. Dokumen dan catatan harus mudah digunakan dan mudah dipahami oleh
pengguna. Akses Terbatas ke Harta Kekayaan Organisasi hanya diizinkan sesuai dengan
otorisasi manajemen. Dalam hal mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan pengendalian dan
penjagaan fisik yang memadai, seperti: Cash register dan kotak terkunci Area dengan akses
terbatas dan ruang terkunci Satpam Closed circuit TV monitor Sistem alarm Pengamanan
fisik sangat bergantung pada prosedur yang mengatur pengamanan. Pengecekan Akuntabilitas
dan Tinjauan Kinerja oleh Pihak Independen , fungsi rekonsiliasi ini harus dijalankan oleh pihak
yang independen, bukan pihak yang berwenang untuk memberikan otoritas, pihak pencatat
transaksi, dan pihak penjaga kekayaan organisasi. Pengendalian Pengolahan Informasi
memastikan adanya otoritas, keakuratan, dan kelengkapan transaksi individual yang memadai.

Otoritas membatasi pelaksanaan transaksi atas suatu aktivitas oleh sejumlah individu tertentu.
Persetujuan merupakan penerimaan bahwa suatu transaksi boleh diproses lebih lanjut.
Persetujuan ini terjadi setelah otoritas dan digunakan untuk mendeteksi transaksi yang tanpa
otorisasi dan aktivitas tanpa otorisasi. Informasi dan Komunikasi Informasi dan Komunikasi
mengacu pada sistem akuntansi organisasi, yang terdiri dari metode dan catatan yang diciptakan
untuk mengidentifikasi, merangkai, menganalisis, mengelompokkan, mencatat, dan melaporkan
transaksi organisasi dan untuk memelihara akuntabilitas aktiva dan utang yang terkait.
Dokumentasi Sistem Akuntansi merupakan hal yang penting. Prosedur akuntansi seharusnya
ditetapkan dalam manual prosedur akuntansi sehingga kebijakan dan instruksi dapat diketahui
secara eksplisit dan diterapkan secara konsisten. Sistem Akuntansi Double-Entry berperan
sebagai alat yang akan menghasilkan serangkaian catatan yang seimbang. Dalam rangka
menyembunyikan suatu kecurangan dalam sistem akuntansi yang double-entry, pelaku
kecurangan harus menghapus data di kedua sisi rekening yang terkait dengan transaksi. Sistem
tersebut tidak dapat membuktikan adanya hal-hal yang tidak dicatat, catatan yang tidak benar,
serta ketidakjujuran. Jejak Audit ada jika total nilai moneter yang tercantum dalam buku besar
didukung dengan bukti-bukti berupa seluruh transaksi individu yang nilai totalnya sama dengan
jumlah moneter tersebut. Jika jejak audit tersedia, maka auditor memiliki keyakinan bahwa
sistem akuntansi dan laporan keuangan (output) yang terkait dapat dipercaya (akurat).
Komunikasi Komunikasi terkait dengan memberikan pemahaman yang jelas mengenai semua
kebijakan dan prosedur yang terkait dengan pengendalian. Komunikasi yang baik membutuhkan
komunikasi oral yang efektif, manual prosedur yang memadai, manual kebijakan, serta berbagai
jenis dokumentasi yang lain. Pengawasan Pengawasan atau monitoring melibatkan proses yang
berkelanjutan untuk menaksir kualitas pengendalian internal dari waktu ke waktu serta untuk
mengambil tindakan koreksi yang diperlukan. Fungsi audit internal adalah untuk mengawasi dan
mengevaluasi pengendalian secara terus-menerus. Tujuan fungsi audit internal adalah untuk
melayani manajemen dengan menyediakan bagi manajemen hasil analisis dan hasil penilaian
aktivitas dan sistem seperti: Sistem informasi organisasi Struktur pengendalian internal
organisasi Sejauh mana ketaatan terhadap kebijakan operasi, prosedur, dan rencana Kualitas
kinerja personel organisasi Fungsi audit internal sama seperti auditor eksternal. Auditor eksternal
harus independen dari organisasi yang diaudit karena opini mereka akan diberikan kepada pihak
ketiga (misalnya bank, pemegang saham, dan lain sebagainya), sementara auditor internal tidak
dapat independen dari organisasi, tetapi mereka harus independen dari manajemen yang
aktivitasnya sedang ditinjau. Pengendalian Pemrosesan Transaksi Pengendalian pemrosesan
transaksi merupakan satu prosedur yang dirancang untuk memastikan bahwa elemen, proses
pengendalian internal diimplementasikan dalam suatu sistem aplikasi tertentu di setiap siklus
transaksi organisasi. Pengendalian pemrosesan transaksi mencakup pengendalian umum
(mempengaruhi semua pemrosesan transaksi) dan pengendalian aplikasi (pengendalian yang
spesifik untuk setiap aplikasi tertentu. Pengendalian umum Pengendalian umum mencakup halhal sebagai berikut. Perencanaan organisasi pemrosesan data Perencanaan ini untuk pengolahan
data mencakup pemisahan tugas dalam fungsi pemrosesan data dan pemisahan organisasi
pemrosesan data dari operasi lain dalam organisasi. Pemisahan tugas dalam pemrosesan data
memiliki fungsi-fungsi yang terkait, seperti: Data : tanggung jawabnya mencakup
pertimbangan atas kualitas input, kelengkapan Analisis sistem : bertanggung jawab atas
pengembangan perancangan aplikasi sistem komputer secara umum. Programmer :
mengembangkan, mendesain, dan menulis kode program komputer berdasarkan spesifikasi yang
telah ditetapkan oleh analis. Operator Komputer : berfungsi mengoperasikan peralatan

komputer mainframe Pustakawan : Untuk menjaga kode program komputer dan dokumentasi.
Karyawan pengendalian pemrosesan yang dijalankan, serta kewajaran output. Prosedur operasi
secara umum Mencakup manual tertulis dan dokumentasi lain yang memuat spesifikasi prosedur
yang harus diikuti. Definisi tanggung jawab: deskripsi tugas untuk setiap fungsi pekerjaan dalam
sistem pengolahan transaksi. Formulir bernomor Urut Tercetak: Nomor urut di setiap formulir
harus tercetak untuk memungkinkan deteksi atas hilangnya formulir dan kesalahan penggunaan
formulir. Reliabilitas Personel: Personel yang menjalankan pemrosesan harus dipastikan ia dapat
konsisten menjaga kinerjanya. Formulir tercetak: ada kalanya, sebagian informasi dicetak dalam
formulir dalam format yang akan memudahkan mesin untuk memprosesnya. Pelatihan personel:
personel harus diberi instruksi secara eksplisit dan harus diuji pemahamannya sebelum ia
dipercaya untuk menjalankan tugas baru. Persiapan yang simultan: pencatatan satu transaksi satu
kali guna memfasilitasi seluruh pemrosesan berikutnya, dengan menggunakan rangkap (kertas
karbon), untuk mencegah kesalahan penulisan ulang. Kompetensi Personel: orang yang diberi
tugas untuk memproses atau mensupervisi sistem pengolahan transaksi memiliki pemahaman
teknis yang diperlukan untuk menjalankan tugasnya. Dokumen Turnaround: dokumen yang
dihasilkan oleh komputer yang dimaksudkan untuk dimasukkan lagi ke dalam sistem. Rotasi
Tugas: pekerjaan yang dibebankan ke orang-orang harus dirotasi secara periodik, jika
memungkinkan dengan jadwal yang sporadik, khususnya untuk fungsi-fungsi kunci.
Dokumentasi: catatan tertulis dengan tujuan untuk sarana komunikasi. Perancangan formulir:
Formulir disusun sedemikian rupa sehingga formulir tersebut dapat menjelaskan dirinya sendiri,
mudah dipahami, jelas, serta dapat merangkum semua informasi yang dibutuhkan dengan usaha
yang paling minimal. Labeling : Identifikasi transaksi, file, atau item yang lain dengan tujuan
pengendalian. Karakteristik pengendalian peralatan Merupakan karakteristik pengendalian yang
diinstal di komputer untuk mengidentifikasi penanganan data yang tidak benar atau operasi
peralatan yang salah. Backup dan Recovery: Backup terdiri dari peralatan file dan prosedur yang
tersedia jika data yang asli hilang atau rusak. Recovery adalah kemampuan untuk membuat ulang
file master dengan menggunakan file dan transaksi di masa lalu. Contoh: Master file dan file
transaksi dipelihara setelah master file diperbarui datanya, sebagai cadangan jika file yang ada
pada saat ini rusak. Jejak Transaksi: Ketersediaan manual atau sarana machine-readable untuk
melacak status dan isi setiap catatan transaksi individual. Contoh: daftar perubahan atas file
komputer secara online disimpan dalam tape magnetik untuk menyediakan jejak transaksi.
Statistik Error-Source: Akumulasi informasi atas jenis kesalahan dan titik awal terjadinya
kesalahan. Hal ini berguna untuk menentukan karakteristik perbaikan yang diperlukan untuk
mengurangi jumlah kesalahan. Contoh: supervisor bagian input data mengumpulkan dan
meninjau ulang statistik atas kesalahan yang dilakukan oleh karyawan pada saat menginput data.
Pengendalian akses data dan peralatan Mencakup prosedur yang terkait dengan akses fisik ke
sistem komputer dan data karena diperlukan adanya prosedur yang memadai untuk melindungi
peralatan dan file data dari kerusakan atau pencurian. Penyimpanan yang Aman: aktiva informasi
harus dijaga sama seperti menjaga aktiva berwujud, misal kas, surat berharga, dan lain
sebagainya Contoh: File master buku besar disimpan di tempat yang terkunci setiap malam
Akses Ganda/Pengendalian Ganda: Dua tindakan atau dua kondisi yang independen dan simultan
diperlukan sebelum suatu proses diizinkan untuk dijalankan. Contoh: Kotak deposit yang berisi
file data komputer yang sensitif hanya dapat dibuka dengan dua kunci yang dipegang oleh dua
orang yang berbeda. Pengendalian Aplikasi Merupakan pengendalian yang spesifik untuk satu
aplikasi tertentu. Pengendalian aplikasi dikelompokkan menjadi pengendalian input,
pengendalian proses, serta pengendalian output. Pengendalian Input Pengendalian ini dirancang

untuk mencegah atau mendeteksi kesalahan pada tahap penginputan data. Pengendalian yang
lazim dipakai mencakup item-item berikut: 1. Otorisasi : Membatasi terjadinya suatu transaksi
atau pelaksanaan suatu proses hanya kepada individu tertentu. 2. Persetujuan : penerimaan suatu
transaksi untuk diproses setelah transaksi tersebut diotorisasi 3. Input Terformat: spasi otomatis
dan format perpindahan antarfield data selama penginputan data ke dalam suatu alat perekam
data. 4. Endorsement: menandai suatu formulir atau dokumen untuk mencegah atau mengizinkan
formulir tersebut untuk diprose lebih lanjut. 5. Pembatalan: mengidentifikasi dokumen transaksi
dengan tujuan mencegah penggunaan berulang atas suatu dokumen. 6. Exception input:
pemrosesan harus berjalan dengan aturan yang telah ditetapkan, kecuali diterima satu transaksi
khusus yang memerlukan perlakuan pemrosesan secara khusus karena nilainya yang berbeda
atau urutannya berbeda. 7. Password: otorisasi untuk mengizinkan akses data atau pengolahan
data dengan memberikan serangkaian kode atau sinyal tertentu yang hanya diketahui oleh
individu yang diberi wewenang. 8. Antisipasi: Ekspektasi bahwa suatu transaksi atau kejadian
akan terjadi pada satu waktu tertentu. 9. Transmittal Document (Batch Control Ticket): Media
untuk mengomunikasikan total pengendalian atas perpindahan data, baik dari sumber ke titik
pemrosesan data ataupun antartitik pemrosesan data. 10. Nomor seri batch (batch sequence):
sekelompok dokumen transaksi diberi nomor dan dicatat. 11. Control Register (Batch Control
Log): log atau register yang mengindikasikan disposisi dan pengendalian sekelompok transaksi.
12. Amount Control Total: total nilai moneter atau total kuantitas sekelompok transaksi. 13.
Document Control Total: Total nilai moneter atau total kuantitas sekelompok transaksi. 14. Line
control Document: Total baris data pada satu atau lebih dokumen. 15. Hash Total: total atas suatu
item yang tidak bermakna, dengan tujuan semata-mata untuk pengendalian. 16. Batch control
(Batch total): suatu jenis control total yang diterapkan atas dokumen transaksi sejumlah tertentu
atau atsa dokumen transaksi yang diterima untuk suatu kurun waktu tertentu. 17. Verifikasi
Visual: tinjauan sepintas secara visual atas suatu dokumen untuk menentukan kewajaran
dokumen tersebut. 18. Sequence Checking: verifikasi urutan alphanumerik suatu field kunci
dalam item yang akan diproses. 19. Overflow Check: Pengecekan batasan kapasitas suatu field,
file atau device. 20. Format Chech: memastikan bahwa data diinputkan dalam mode yang sesuainumerik atau alphabetik-dalam sebuah tabel. 21. Completeness Check: tes untuk memastikan
bahwa field tidak akan dapat diproses jika belum diisi. 22. Check digit: suatu angka yang
digunakan untuk mengecek keakuratan data yang diinputkan. 23. Reasonableness Test: Tes yang
diterapkan ke berbagai field data dengan cara membandingkan data dengan informasi lain yang
tersedia dalam transaksi tersebut atau dengan master records. 24. Limit Check: tes untuk
memastikan bahwa hanya data dalam batasan tertentu yang dapat diinputkan dan akan diterima
oleh sistem. 25. Validity Check: karakter dalam suatu field harus sesuai dengan nilai yang telah
ditetapkan dalam suatu tabel. 26. Readback: pengiriman kembali informasi input ke pengirim
agar dapat dibandingkan tau mendapatkan persetujuan. 27. Dating: perekaman data tanggal
dengan tujuan agar kelak data dapat dibandingkan atau dapat dicek tanggal kadaluwarsanya. 28.
Expiration: pengecekan batasan dengan membandingkan tanggal saat ini dengan tanggal yang
tercatat pada suatu transaksi, record, atau file. 29. Key Verification: penginputan ulang atas data
transaksi, yang oleh mesin akan dibandingkan dengan inputan yang pertama, guna mendeteksi
adanya kesalahan. Pengendalian Proses Pengendalian proses dirancang untuk memberikan
keyakinan bahwa pemrosesan telah terjadi sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan serta tidak
ada transaksi yang terlewat yang tidak diproses atau bahwa tidak ada transaksi tambahan yang
mestinya tidak ikut diproses. Pengendalian proses biasanya menyangkut hal-hal berikut ini: 1.
Mekanisasi: konsistensi yang difasilitasi oleh menanik atau pemrosesan elektronik 2.

Standarisasi: prosedur yang konsisten, terstruktur dan seragam harus dikembangkan untuk
menangani semua proses 3. Default Option: pengisian otomatis nilai pada suatu item dalam layar
inputan transaksi tidak di isi. 4. Batch Balancing: perbandingan item atau dokumen yang telah
diproses dengan control total yang telah dihitung sebelumnya 5. Run-to-Run Total: penggunaan
total output yang dihasilkan dari suatu proses sebagai total control input untuk proses berikutnya.
Penggunaan total control seperti suatu mata rantai yang mengaitkan satu proses dengan proses
yang lain dalam suatu urutan proses dalam satu kurun waktu tertentu. 6. Balancing: tes kesamaan
antara nilai dua set item yang ekuivalen atau satu set item dengan total control. Adanya
perbedaan mengindikasikan ada kesalahan 7. Matching: mencocokkan suatu item yang lain yang
diterima dari sumber yang independen untuk mengendalikan proses transaksi. 8. Rekening
Kliring: suatu angkan yang dihasilkan dari pemrosesan suatu item dengan item yang diterima
dari sumber yang independen untuk mengendalikan transaksi 9. Tickler File: sebuah file control
terdiri dari item-item yang diurutkan berdasarkan umur untuk diproses lebih lanjut 10.
Redundant Processing: pengulangan suatu proses untuk dibandingkan dengan proses pertama,
untuk mengecek kebenaran hasil proses 11. Summary Processing: suatu proses redundan dengan
menggunakan suatu angka total. Perbandingan total control untuk kesamaan dengan hasil proses
dari item-item secara detail 12. Trailer Label: suatu record yang memberikan total control untuk
membandingkan dengan akumulasi jumlah record atau jumlah nilai record yang diproses 13.
Automated Error Correction: pembetulan kesalahan suatu transaksi secara otomatis yang
melanggar suatu pengendalian Pengendalian Output Pengendalian Output dirancang untuk
memastikan bahwa input dan proses yang telah dijalankan menghasilkan output yang valid dan
bahwa output telah didistribusikan secara tepat. Pengendalian output yang lazim digunakan
antara lain: 1. Rekonsiliasi: identifikasi dan analisis perbedaan nilai yang terkandung di dalam
dua file yang secara substansial sebenarnya identik atau antara rincian sebuah file dengan total
control. 2. Aging: identifikasi item-item yang belum diproses atau masih berada dalam suatu file
sesuai dengan tanggal transaksi item tersebut. 3. Suspense File: suatu file yang memuat itemitem yang belum diproses atau bahkan belum selesai diproses dan sedang menunggu tindak
lanjut berikutnya. 4. Suspense Account: suatu total kontrol untuk item-item yang sedang
menunggu proses lebih lanjut. 5. Audit Secara Periodik: verifikasi secara periodic suatu file atau
proses untuk mendeteksi masalah pengendalian. 6. Discrepancy Report: daftar sesuatu hal yang
telah melanggar detective control danmemerlukan investigasi lebih lanjut. 7. Upstream
Resubmission: pengiriman kembali transakasi salah yang telah dikoreksi ke hulu proses transaksi
sehingga transaksi tersebut harus melewati semua pengendalian detektif sebagaimana dialami
oleh transaksi normal yang lain. Pengendalian Preventif, Detektif dan Korektif Pengendalian
Preventif berperan untuk mencegah terjadinya kesalahan dan kecurangan. Pengendalian
Detektif berperan untuk mengungkapkan kesalahan dan kecurangan yang telah terjadi.
Pengedalian Korektif berperan untuk membetulkan kesalahan yang terjadi. Mengkomunikasikan
Tujuan Pengendalian Internal Sebuah proses pengendalian internal merupakan proses seseorang
mengecek pekerjaan orang lain. Fungsi prinsip dari pengendalian internal adalah untuk
memengaruhi perilaku setiap orang yang terlibat dalam suatu system bisnis. Tugas manajemen
adalah untuk memastikan efisiensi operasi. Oleh karena itu, perilaku dan aktivitas perlu
diorganisasi dan dikendalikan sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Tujuan pengendalian
internal harus dipandang relevan dengan tujuan individu yang akan menjalankan system
pengendalian. Tujuan dan Pola Perilaku Sistem informasi memiliki beberapa tujuan, salah satu
tujuannya, adalah produktivitas. Reliabilitas informasi dan menjaga kekayaan organisasi juga
merupakan tujuan yang penting.produktivitas dalam sistem informasi sering terhambat oleh

pertimbangan reliabilitas. Pengendalian menjadi kendala bagi produktivitas, tetapi meningkatkan


reliabilitas output sistem informasi. Tujuan sistem pengendalian internal dicapai melalui tindakan
orang-orang yang terlibat di dalam sistem. Kolusi merupakansuatu konspirasi antara dua atau
lebih orang untu melakukan kecurangan. Ada beberapa factor yang mempengaruhi perilaku
individu dalam suatu sistem pengendalian. Salah satu factor yang penting adalah perencanaan
formal organisasi serta metode dan pengukuran yang terkait yang dijalankan oleh suatu
organisasi .apa yang disebut dengan istilah krgagalan manusia merupakan sumber semua
pencurian dan kecurangan dalam suatu sistem. Hal ini dapat diminimalisasi jika seorang
karyawan benar-benar memahami, menerima, dan menghayati tujuan pengendalian internal
karena manusia adalah elemen penting dalam pengendalian internal. Analisis Proses
Pengendalian Internal Proses pengendalian internal secara rutin mengumpulkan informasi
mengenai pelaksanaan tugas-tugas, transfer otoritas, persetujuan dan verifikasi. Ada beberapa
alas an mengapapengendalian internal tidak teradministrasi. Karyawan baru atau mungkun
karyawan yang telah berpengalaman tidak memahami tugas mereka. Yang lazim terjadi, tugas
pengendalain internal tidak dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas kerja.
Teknik Analitik Kuesioner pengendalian internal merupakan salah satu teknik analitik yang lazim
digunakan untuk menganalisis pengendalian internal. Kuesioner ini secara tradisional menjadi
elemen utama dalam suatu program audit. Kuesioner dirancang sedemikian rupa sehingga
jawaban positif mengindikasikan adanya pengendalian internal yag baik, dan jawaban yang
negate artinya adanya kelemahan dalam pengendalian internal. Disamping itu, flow chart analitik
juga bisa digunakan dalam analisis pengendalian internal, khususnya jika analisis tersebut
melibatkan aplikasi sistem computer. Matriks pengendalian aplikasi berguna sebagai formulir
analisis yang relevan dengan tinjauan penegndalian internal suatu sistem informasi. Teknik lain
yang dapat digunakan adalah menaksir tingkat kekuatan dan reliabilitas relative setiap
pengendalian yang ada dengan menuliskan angka ke dalam kotak. Angka 1 mengindikasikan
sangat reliable, angka 3 reliabel, dan angka 5 tidak reliable.
Copy the BEST Traders and Make Money : http://ow.ly/KNICZ

4. PEMROSESAN TRANSAKSI DAN PROSES


PENGENDALIAN INTERNAL (SIA)
4.1. KEBUTUHAN AKAN PENGENDALIAN
Pengendalian dan Eksposur
Eksposur mencakup potensi dampak financial akibat suatu kejadian dikalikan dengan
probabilitas terjadinya kejadian tersebut. Eksposur adalah risiko dikalikan konsekuensi
financial atas risiko tersebut.
4.2. Elemen-elemen struktur pengendalian interen
Eksposur Umum
1. Biaya yang terlalu tinggi:
Harga yang dibayarkan untuk pembelian barang yang digunakan dalam organisasi bisa
saja terlalu mahal. Cek bisa saja dibayarkan kepada karyawan yang tidak bekerja dengan

efektif dan efisien.


2. Pendapatan yang Cacat:
Biaya terutang tidak tertagih dari penjualan kredit terlalu banyak. Barang dagangan telah
dikirim ke pelanggan tetapi tidak tercatat sehingga tidak ditagih.
3. Kerugian Akibat Kehilangan Aktiva:
Aktiva dapat hilang sebagai akibat pencurian, tindakan kekerasan, atau bencana alam.
Kas, baha baku, atau peralatan dapat rusak atau salah penempatan.
4. Akuntansi yang Tidak Akurat:
Kebijakan dan prosedur akuntansi dapat salah, tidak tepat, atau secara signifikan berbeda
dari yang diterima umum. Kesalahan ini dapat mencakup kesalahan penilaian transaksi,
kesalahan waktu pencatatan, atau kesalahan klasifikasi transaksi.
5. Interupsi Bisnis:
Interupsi bisnis mencakup penghentian sementara suatu operasi bisnis, penghentian
permanen atas operasi suatu bisnis, atau penutupan suatu usaha.
6. Sanksi Hukum:
Penghentian kegiatan bisnis bisa saja terjadi sebagai hukuman dari lembaga pemerintah
jika perusahaan melakukan perbuatan yang melanggar hukum.
7. Ketidakmampuan untuk bersaing:
Ketidakmampuan ini dapat terjadi sebagai akibat kombinasi berbagai eksposur yang telah

PEMROSESAN TRANSAKSI DAN


STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN

I.

PEMROSESAN TRANSAKSI

Salah satu tujuan sistem informasi adalah mendukung operasi harian perusahaan.
Tujuan ini dicapai melalui : (1) pemrosesan transaksi-transaksi yang disebabkan
baik oleh sumber-sumber ekstern maupun intern, dan (2) menyiapkan keluarankeluaran seperti dokumen-dokumen operasional dan laporan-laporan keuangan.

Kerangka Pemrosesan Transaksi

A.

Jaringan Kerja Keseluruhan Perusahaan

Pemrosesan transaksi terjadi selaras dengan operasi perusahaan. Perangkat


gabungan sistem-sistem pemrosesan transaksi serupa dengan jaringan kerja yang
kompleks dari operasi-operasi fisik, proses kertas kerja dan arus data/informasi
yang saling bergantung.

B.

Sistem Informasi Fungsional

Sistem operasional dan organisasi perusahaan pada umumnya dibagi berdasarkan


fungsi. Untuk memungkinkan pengendalian yang efektif dan efisien atas operasi
dan koordinasi kegiatan-kegiatan manajerial. Sistem informasinya haruslah dibagi
menurut fungsi-fungsi yang sama. Macam-macam subsistem informasi fungsional
pada tiap-tiap industri berbeda-beda. Bahkan antara satu perusahaan dengan
perusahaan lainnya dalam industri yang sama juga berbeda. Setiap subsistem
informasi fungsional berkaitan erat dengan penyediaan pengendalian yang ketat
terhadap satu atau beberapa sistem pemrosesan transaksi. Hal yang sama
pentingnya adalah hubungan yang ada pada setiap subsistem informasi fungsional
diantara tingkat operasional dan tingkat manajerial. Subsistem informasi fungsional
membantu arus informasi transaksi kepada manajer-manajer fungsional.

Komponen-Komponen Pemrosesan Transaksi

Pemrosesan transaksi terjadi dalam suatu proses. Proses ini yang dikenal sebagai
siklus akunting. Siklus akunting membutuhkan beragam komponen pembangun.
Komponen-komponen ini meliputi dokumen sumber, jurnal dan register, lejer dan
arsip (file) laporan dan keluaran-keluaran lain, bagan rekening dan kode-kode lain,
rangkaian audit, metode dan alat-alat pemrosesan, serta pengendalian.
A.

Dokumen Sumber

Kebanyakan transaksi dicatat pada dokumen sumber, selain menyediakan catatancatatan tertulis dokumen sumber berfungsi :
a.

Memicu meng-otorisasi operasi fisik

Sebagai contoh surat pesanan penjualan meng-otorisasi pengiriman barang dan


gangguan kepada pelanggan.
b.

Memantau arus fisik

Misalnya surat pesanan penjualan digunakan untuk memperlihatkan pergerakan


barang pesanan dari gudang ke tempat pengiriman.

c.

Mencerminkan akuntabilitas atas tindakan yang diambil

Misalnya tagihan dari pemasok diparaf untuk memperlihatkan bahwa tagihan ini
sudah diperiksa kebenarannya.
d.

Menjaga kemutakhiran dan kelengkapan basis data

Sebagai contoh kopi faktur penjualan digunakan untuk memutakhirkan saldo dalam
catatan sediaan. Catatan pelanggan dan kemudian diarsipkan untuk kepentingan
riwayat penjualan.
e.

Menyediakan data yang dibutuhkan untuk keluaran

Misalnya data dalam surat pesanan penjualan digunakan untuk menyiapkan faktur
penjualan dan ikhtiar penjualan.

B.

Jurnal dan Register

Jurnal dan register merupakan catatan akunting yang memuat data dalam urutan
kronologis. Jurnal merupakan catatan akunting formal awal dalam sistem manual.
Mengikhtiarkan data transaksi dalam satu keuangan. Register berfungsi sebagai
pengganti jurnal atau catatan kronologis atau buku harian untuk data atau peristiwa
yang tidak bersifat keuangan.

C.

Buku Besar dan Arsip

Buku besar (ledger) mengikhtiarkan status perkiraan dalam satuan keuangan. Nilai
transaksi yang muncul dalam jurnal dipindahkan atau diposkan ke pos perkiraan
yang sesuai. Melalui proses posting ini status setiap perkiraan yang terpengaruh
dimutakhirkan dengan menaikkan atau menurunkan saldo perkiraan sebesar nilai
transaksi. Jadi, jika jurnal menekankan pada kegiatan transaksi, buku besar
menekankan pada status perkiraan.

D.

Laporan dan Dokumen

Berbagai laporan umumnya dihasilkan dari pemrosesan transaksi. Salah satu jenis
keluaran laporan dikenal sebagai laporan keuangan. Sejumlah besar dokumen
operasional juga dihasilkan oleh sistem pemrosesan transaksi. Beberapa dari
dokumen ini dihasilkan untuk memicu tindakan. Dokumen lain dihasilkan untuk

mencatat tindakan-tindakan yang telah diselesaikan. Dokumen operasional tertentu


yang disiapkan oleh sistem pemrosesan transaksi perusahaan menjadi masukan
dokumen sumber untuk pemrosesan lebih lanjut.

E.

Bagian Perkiraan dan Kode Lainnya

Transaksi akunting harus diklasifikasikan dan dikodekan sebelum diposkan ke dalam


buku besar. Bagan perkiraan merupakan daftar berkode dari perkiraan-perkiraan
yang termuat dalam buku besar umum perusahaan. Pada dasarnya, ini merupakan
struktur data keuangan perusahaan. Bagan perkiraan ini bukan saja memungkinkan
pengklasifikasian dan pengkodean data transaksi melainkan juga menyediakan
elemen-elemen data rinci untuk menyusun dan menyajikan informasi dalam laporan
keuangan.

F.

Rangkaian Audit

Rangkaian audit adalah seperangkat mata rantai yang dibentuk oleh elemenelemen pemrosesan transaksi pokok. Rangkaian audit merupakan alat untuk
melakukan penelusuran dari dokumen-dokumen sumber melalui jurnal dan buku
besar sampai ke total ikhtisar dalam laporan keuangan atau keluaran keuangan
lainnya, dan sebaliknya. Disamping membantu audit sistem pemrosesan transaksi.
Rangkaian audit memungkinkan :
(1)

Koreksi kesalahan yang terdeteksi

(2) Menjawab pertanyaan


(3) Rekonstruksi arsip

G.

Tindakan Pengendalian dan Pengamanan

Pemrosesan transaksi yang baik menuntut adanya berbagai tindakan pengendalian


dan pengamanan. Contoh pengendalian yang telah dijelaskan meliputi bagan
perkiraan, perkiraan pengendali, rangkaian audit, dan metode pemrosesan sekali
tulis. Pengendalian seperti itu harus didukung dengan dokumentasi yang memadai,
meliputi : (1) manual prosedur, dan (2) uraian tanggung jawab yang dibebankan
kepada mereka yang terlibat dalam pemrosesan transaksi.

Arus Transaksi Melalui Siklus Akunting

Tiap-tiap sistem pemrosesan transaksi menggabungkan komponen-komponen yang


telah disinggung sebelumnya ketika transaksi menjalani keseluruhan siklus
akunting. Pada bagian ini kita menelusuri arus penjualan, penerimaan tunai,
pembelian, pengeluaran tunai, dan transaksi pembayaran gaji.

A.

Transaksi Penjualan

Untuk kepentingan siklus akunting, arus dimulai dengan dokumen sumber yang
dikenal sebagai faktur penjualan. Data dari tiap-tiap faktur penjualan : (1)
dimasukkan ke dalam jurnal penjualan, dan (2) diposkan sebagai debet ke perkiraan
pelanggan dalam buku besar pembantu piutang.

B.

Transaksi Penerimaan Tunai

Cek yang diterima dari pelanggan merupakan dokumen sumber yang mengawali
pencatatan sebagian besar transaksi penerimaan tunai. Tetapi, karena cek
sebenarnya adalah uang tunai, ia tidak boleh digunakan dalam pemrosesan.
Sebagai gantinya, dokumen yang dinamakan tanda bukti penerimaan disiapkan.
Nilai yang terlihat dalam bukti penerimaan kemudian : (1) dimasukkan ke dalam
jurnal penerimaan tunai, dan (2) diposkan sebagai kredit ke catatan pelanggan
pada buku besar pembantu piutang usaha.

C.

Transaksi Pembelian

Jika terjadi transaksi pembelian, dapat dilakukan salah dari tindakan berikut, yakni :
(1) tagihan digunakan sebagai sumber langsung jumlah yang dimasukkan ke dalam
jurnal pembelian atau register tagihan, (2) tagihan terlebih dahulu dipindahkan ke
voucher pengeluaran, dan dari sini nilai kewajiban tersebut dimasukkan ke dalam
register voucher.

D.

Transaksi Pengeluaran Tunai (Kas)

E.

Transaksi Pembayaran Gaji

F.

Transaksi Akunting Lainnya

II.

SPI (SISTEM PENGENDALIAN INTERN)

Definisi Sistem Pengendalian Intern

Sistem pengendalian intern adalah struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran


yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan
keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya
kebijakan manajemen.
Tujuan SPI menurut definisi tersebut adalah :
1.

Menjaga kekayaan organisasi

2.

Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi

3.

Mendorong efisiensi, dan

4.

Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen

Menurut tujuannya SPI dapat dibagi menjadi dua, yakni :


Pengendalian Intern Akuntansi (Internal Accounting Control) dan Pengendalian
Intern Administratif (Internal Administrative Control).

Unsur Sistem Pengendalian Intern

Unsur pokok SPI adalah :


1.
Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara
tegas.
2.
Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan
yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan biaya.
3.
Praktek yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit
organisasi.
4.

Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawabnya.

Ad. 1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara


tegas.
Struktur organisasi merupakan kerangka (framework) pembagian tanggung
jawab fungsional kepada unit-unit organisasi yang dibentuk untuk melaksanakan
kegiatan-kegiatan pokok perusahaan. Pembagian tanggung jawab fungsional dalam
organisasi didasarkan pada prinsip-prinsip berikut :
a.
Harus dipisahkan fungsi-fungsi operasi dan penyimpanan dari fungsi
akuntansi. Fungsi operasi adalah fungsi yang memiliki wewenang untuk
melaksanakan suatu kegiatan (misal : pembelian)
Fungsi penyimpanan adalah fungsi yang memiliki wewenang untuk menyimpan
aktiva perusahaan.
Fungsi akuntansi adalah fungsi yang memiliki wewenang untuk mencatat peristiwa
keuangan perusahaan.
b.
Suatu fungsi tidak boleh diberi tanggung jawab penuh untuk melaksanakan
semua tahap suatu transaksi.

Ad. 2. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan


yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan biaya.
Dalam organisasi, setiap transaksi hanya terjadi atas dasar otorisasi dari
pejabat yang memiliki wewenang untuk menyetujui terjadinya transaksi tersebut.
Oleh karena itu, dalam organisasi harus dibuat sistem yang mengatur pembagian
wewenang untuk otorisasi atas terlaksananya setiap transaksi. Selanjutnya,
prosedur pencatatan yang baik akan menghasilkan informasi yang teliti dan dapat
dipercaya mengenai kekayaan, utang, pendapatan, dan biaya suatu organisasi.

Ad. 3. Praktek yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit
organisasi.
Cara-cara yang umum ditempuh perusahaan dalam menciptakan praktek
yang sehat adalah :
a.
Penggunaan formulir bernomor urut tercetak yang pemakaiannya harus
dipertanggung-jawabkan oleh yang berwenang.

b.
Pemeriksaan mendadak (surprised audit). Pemeriksaan mendadak
dilaksanakan tanpa pemberitahuan lebih dahulu kepada pihak yang akan diperiksa,
dengan jadwal yang tidak teratur.
c.
Setiap transaksi tidak boleh dilaksanakan dari awal sampai akhir oleh satu
orang atau satu unit organisasi tanpa ada campur tangan dari orang atau unit
organisasi lain.
d.
Perputaran jabatan (job rotation). Perputaran jabatan yang diadakan secara
rutin akan dapat menjaga independensi pejabat dalam melaksanakan tugasnya,
sehingga persekongkolan diantara mereka dapat dihindari.
e.

Keharusan pengambilan cuti bagi karyawan yang berhak.

f.
Pembentukan unit organisasi yang bertugas untuk mengecek aktivitas unsurunsur SPI yang lain. Unit organisasi ini disebut satuan pengawas intern atau staf
pemeriksa intern. Agar efektif dalam menjalankan tugasnya, satuan pengawas
intern ini harus tidak melaksanakan fungsi operasi, fungsi penyimpanan, dan fungsi
akuntansi, serta harus bertanggung jawab kepada manajemen puncak.

Ad. 4. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawabnya.


Diantara 4 unsur pokok SPI, unsur mutu karyawan merupakan unsur SPI
yang paling penting. Jika perusahaan memiliki karyawan yang kompeten dan jujur,
unsur SPI yang lain dapat dikurangi sampai batas yang minimum, dan perusahaan
tetap mampu menghasilkan pertanggung-jawaban keuangan yang dapat
diandalkan.

Lingkungan Pengendalian (Control Environment)

Lingkungan pengendalian mencerminkan sikap dan tindakan para pemilik dan


manajer perusahaan mengenai pentingnya pengendalian intern perusahaan.
Efektifitas unsur pengendalian intern sangat ditentukan oleh atmosfer yang
diciptakan lingkungan pengendalian.

Lingkungan pengendalian memiliki empat unsur, yaitu :


1.

Filosofi Dan Gaya Operasi

Filosofi adalah seperangkat keyakinan dasar (basic beliefs) yang menjadi parameter
bagi perusahaan dan karyawannya. Filosofi merupakan apa yang seharusnya
dikerjakan dan apa yang seharusnya tidak dikerjakan oleh perusahaan. Filosofi
memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan : (1) mengapa perusahaan
dalam bisnis ?, (2) bagaimana perusahaan melaksanakan bisnis ?, (3) apa yang
seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan sebagai bisnis
perusahaan ?.

2.

Berfungsinya Dewan Komisaris Dan Komite Pemeriksa

Dewan komisaris adalah wakil pemegang saham dalam perusahaan berbadan


hukum perseroan terbatas. Dewan ini berfungsi mengawasi pengelolaan
perusahaan yang dilaksanakan oleh manajemen (direksi). Dengan demikian dewan
komisaris yang aktif menjalankan fungsinya dapat mencegah konsentrasi
pengendalian yang terlalu banyak di tangan manajemen (direksi).
Apabila penunjukan akuntan publik dilakukan oleh manajemen puncak, kebebasan
akuntan publik dapat tampak berkurang dipandang dari sudut pemegang saham.
Hal ini karena manajemen puncak adalah pihak yang seharusnya dinilai kejujuran
pertanggung-jawaban keuangan oleh akuntan publik. Padahal manajemen puncak
yang menentukan pemilihan akuntan publik yang ditugasi dalam pemeriksaan
laporan keuangan yang dipakai untuk pertanggung-jawaban keuangan oleh
manajemen puncak. Oleh karena itu, untuk menciptakan independensi akuntan
publik perusahaan-perusahaan yang go public sebaiknya mengalihkan wewenang
penunjukan akuntan publik dari tangan manajemen puncak ke tangan dewan
komisaris atau komite pemeriksaan (audit committee).
Fungsi komite pemeriksaan yang secara langsung berdampak terhadap akuntan
publik adalah :
a.
Menunjuk akuntan publik yang melaksanakan pemeriksaan tahunan terhadap
laporan keuangan perusahaan.
b.

Membicarakan luas pemeriksaan dengan akuntan publik.

c.
Meminta komunikasi langsung dengan akuntan publik mengenai masalahmasalah besar yang ditemukan oleh akuntan dalam pemeriksaan.
d.
Menelaah laporan keuangan dan laporan akuntan pada saat pemeriksaan
akuntan selesai dilakukan.

3.

Metode Pengendalian Manajemen

Metode pengendalian manajemen merupakan metode perencanaan dan


pengendalian alokasi sumber daya perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan.
Perencanaan dan pengendalian manajemen dilakukan melalui empat tahap : (1)
penyusunan program (rencana jangka panjang), (2) penyusunan anggaran (rencana
jangka pendek), (3) pelaksanaan dan pengukuran, dan (4) pelaporan dan analisis.

4.

Kesadaran Pengendalian

Kesadaran pengendalian dapat tercermin dari reaksi yang ditunjukkan oleh


manajemen dari berbagai jenjang organisasi atas kelemahan pengendalian yang
ditunjuk oleh akuntan intern atau akuntan publik. Jika manajemen segera
melakukan tindakan koreksi atas temuan kelemahan pengendalian yang
dikemukakan oleh akuntan intern atau akuntan publik, hal ini merupakan petunjuk
adanya komitmen manajemen terhadap penciptaan lingkungan pengendalian yang
baik.

Siapa Yang Bertanggung Jawab Atas Pengendalian Intern Akuntansi ?

Apabila sebuah perusahaan dikelola oleh manajer profesional, maka dalam


perusahaan ini terdapat pemisahan antara pemilik dan pemimpin perusahaan.
Pemilik menyerahkan pengelolaan kekayaannya kepada manajer profesional
tersebut, dan dengan demikian manajer profesional berkewajiban untuk
mempertanggungjawabkan hasil pengelolaan kekayaan tersebut kepada
pemiliknya.

Pertanggung-jawaban pengelolaan kekayaan pemilik perusahaan ini disajikan dalam


laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan alat pertanggung-jawaban
manajemen puncak atas hasil pengelolaan terhadap kekayaan yang dipercayakan
kepadanya oleh pemilik perusahaan.

Pendekatan Untuk Merancang Pengendalian Intern Untuk Akuntansi

Rincian tujuan SPI akuntansi adalah sebagai berikut :


1.

Menjaga kekayaan perusahaan :

a.

Penggunaan kekayaan hanya melalui sistem otorisasi yang telah ditetapkan.

b.
Pertanggung-jawaban kekayaan perusahaan yang dicatat dibandingkan
dengan kekayaan yang sesungguhnya ada.
2.

Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi :

a.

Pelaksanaan transaksi melalui sistem otorisasi yang telah ditetapkan.

b.

Pencatatan transaksi yang terjadi dalam catatan akuntansi.

Tujuan tersebut dirinci lebih lanjut sebagai berikut :


Ad. 1.a.
1.

Pembatasan akses langsung terhadap kekayaan.

2.

Pembatalan akses tidak langsung terhadap kekayaan.

Ad. 1.b.
1.
Pembandingan rencana periodik antara catatan akuntansi dengan kekayaan
yang sesungguhnya ada.
2.

Rekonsiliasi antara catatan akuntansi yang diselenggarakan.

Ad. 2.a.
1.

Pemberian otorisasi oleh pejabat berwenang.

2.
Pelaksanaan transaksi sesuai dengan otorisasi yang diberikan oleh pejabat
yang berwenang.

Ad. 2.b.
1.

Pencatatan semua transaksi yang terjadi.

2.

Transaksi yang dicatat adalah benar-benar terjadi.

3.

Transaksi dicatat dalam jumlah yang benar.

4.

Transaksi dicatat dalam periode akuntansi yang seharusnya.

5.

Transaksi dicatat dengan penggolongan yang seharusnya.

6.

Transaksi dicatat dan diringkas dengan teliti.

PEMROSESAN TRANSAKSI DAN STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN


RINGKASAN

PEMROSESAN TRANSAKSI DAN STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN

RINGKASAN
Pengendalian

diperlukan

untuk

mengurangi

eksposur-eksposur.

Suatu

organisasi dipengaruhi oleh eksposur yang dapat memberi akibat buruk bagi
operasinya, bahkan sekalipun organisasi itu berjalan dengan baik. Banyak aspek
dari pemrosesan komputer cenderung secara signifikan meningkatkan eksposur
terjadinya kejadian yang tidak menyenangkan .analisis eksposur dalam organisasi
sering dikaitkan dengan konsep siklus transaksi harus mengembangkan tujuan
pengendalian yang rinci untuk setiap siklus transaksi .
Struktur pengendalian intern suatu pihak mencakup kebijakaan dan prosedurprosedur yang ditetapkan untuk menjamin bahwa tujuan tertentu dari pihak dapat
dicapai.

Struktur pengendalian

pengendalian,

akutansi

dan

intern

mencakup

prosedur

tiga

pengendalian.

elemen

; lingkungan

Pengendalian

dapat

diklasifikasikan baik sebagai pengendalian umum maupun pengendalian aplikasi.


Metode standar untuk mengklasifikasikan pengendalian aplikasi adalah dengan
memperhatikan apakah pengendalian tertentu telah diaplikasikan kepada masukan,
pemrosesan , atau keluaran. Bab ini membahas dan mengilustrasikan variasi dari
praktik praktik pengendalian yang umum.
Pertimbangan

etika

harus

diperhatikan

dalam

perancangan

struktur

pengendalian intern. Manusia merupakan elemen penting dalam stiap struktur


pengendalian intern. .Penting untuk mengkomunikasikan dan memahami tujuan

tujuan dari pengendalian intern. Tujuan tujuan pengendalian intern harus dipandang
sebagai suatu yang relevan bagi individu individu yang akan terlibat dalam
perngendalian sistem.
Analiasis atas struktur pengendalian intern membutuhkan pemahaman atas
struktur baik dalam masa perancangan maupun pada saat dioperasikan. Teknik
analitis yang paling umum yang digunakan dalam analisis pengendalian intern
adalah kuesioner pengendalian intern. Bagan arus analistis juga bermanfaat dalam
analisis pengendalian intern. Prinsip prinsip dasar dari teori yang memadai telah
dibahas karena analisis manfaat dan biaya dari sistem pengendalian intern
memerlukan beberapa penilaian kelayakan sistem.

A. Kebutuhan Akan Pengendalian

a. Pengendalian dan Eksposur


Pengendalian sangat erat hubungannya dengan eksposur, Eksposur terdiri dari
dampak

keuangan

kemunculannya.

potensial

Jadi

eksposur

yang

berlipat

adalah

risiko

ganda

karena

probabilitas

dikalikan

dengan

konsekuensi

keuangannya.
Eksposur tidak timbul dari kurangnya pengendalian. Pengendalian cenderung untuk
mengurangi

eksposur,

tetapi

kurangnya

pengendalian

jarang

menyebabkan

eksposur. Eksposur melekat dalam operasi setiap organisasi dan dapat timbul
karena berbagai sebab.
Eksposur-eksposur Umum
Eksposur-eksposur yang sering terjadi dalam lingkungan bisnis yang umum, antara
lain:
1. Biaya-biaya berlebihan
2. Pendapatan menurun

3. Kehilangan Aktiva
4. Akuntansi yang tidak akurat
5. Interupsi bisnis ( gangguan usaha atau bisnis )
6. Sanksi wajib/ Sanksi perundang-undangan
7. Kerugian kompetitif
8. Penipuan dan penggelapan, seperti:
-

Kejahatan kerah putih

Penipuan Manajemen

Pelaporan keuangan yang keliru

Kejahatan perusahaan
b. Tujuan-tujuan Pengendalian dan Siklus-siklus Transaksi
- Siklus Pendapatan: Kejadian-kejadian yang berkaitan dengan pendistribusian
barang dan jasa kepada pihak lain dan penagihan pembayaran.
Tujuan pengendaliannya: Pelanggan diotorisasi sesuai dengan kriteria manajemen,
harga dan syarat barang dan jasa yang disediakan diotorisasi sesuai dengan kriteria
manajemen.

- Siklus Pengeluaran: Kejadian-kejadian yang berkaitan dengan perolehan barang


dan jasa dari pihak lain dan penetapan kewajiban yang berkaitan.
Tujuan pengendaliannya: Pemasok harus diotorisasi sesuuai dengan kriteria
manajemen

dan

jumlah

yang

disampaikan

kepada

pemasok

harus

diklasifikasikan,diikhtisarkan,dan dilaporkan secara akurat.


- Siklus Produksi: Kejadian-kejadian yang berkaitan dengan transformasi sumber
daya menjadi barang dan jasa.

Tujuan pengendaliannya: Rencana produksi harus diotorisasi sesuai dengan kriteria.


- Siklus Keuangan: Kejadian-kejadian yang berkaitan dengan perolehan dan
manajemen dana modal termasuk kas.
Tujuan pengendaliannya: Akses ke kas dan efek-efek hanya diperbolehkan sesuai
dengan kriteria manajemen.

Tujuan-tujuan pengendalian ini di ambil dari konsep struktur pengendalian intern.


Pertama, manajemen harus mengembangkan struktur pengendalian intern. Struktur
ini

kemudian

dapat

di

aplikasikan

ke

siklus-siklus

transaksi

dengan

mengembangkan tujuan-tujuan pengendalian spesifik untuk setiap siklus.

B. Elemen-elemen Struktur Pengendalian Intern

Struktur pengendalian intern perusahaan terdiri dari


prosedur

untuk

menyediakan

jaminan

yang

kebijakan dan prosedur-

memadai

bahwa

tujuan-tujuan

perusahaan dapat di capai. Struktur pengendalian intern perusahaan terdiri dari


tiga elemen : Lingkungan pengendalian, sistem akuntansi, dan prosedur-prosedur
pengendalian. Konsep struktur pengendalian intern di dasarkan pada dua premis
utama yaitu tanggung jawab manajemen dan jaminan yang memadai.

Tanggung Jawab Manajamen

Meskipun auditor ekstern, auditor intern, dan pihak-pihak lain secara langsung
memperhatikan struktur pengendalian intern perusahaan, tanggung jawab utama
struktur ini tetaplah pada manajemen.

Jaminan Yang Memadai


Konsep jaminan yang memadai harus di kaitkan dengan manfaat dan biaya
pengendalian. Manajemen yang hati-hati tidak akan menghabiskan biaya untuk
manfaat pengendalian yang lebih kecil dari biayanya.

a.

Lingkungan Pengendalian
Lingkungan pengendalian suatu organisasi merupakan dampak kolektif dari
berbagai faktor dalam menetapkan, meningkatkan, atau memperbaiki efektifitas
kebijakan dan prosedur-prosedur tertentu. Faktor-faktor itu mencangkup :

Filosofi dan gaya operasional manajemen

Struktur organisasi

Fungsi dewan komisaris dan anggota-anggotanya

Metode-metode membebankan otoritas dan tanggung jawab

Metode-metode pengendalian manajemen

Fungsi audit intern

Kebijakan dan praktik-praktik kepegawaian

Pengaruh dari luar yang berkaitan dengan perusahaan

b.

Sistem Akuntansi
Sistem akuntansi suatu organisasi terdiri dari metode dan catatan-catatan yang di
buat untuk mengidentifikasikan, mengumpulkan, menganalisis, mencatat, dan

melaporkan

transaksi-transaksi

organisasi

dan

menyelenggarakan

pertanggungjawaban bagi aktifadan kewajiban yang berkaitan


c.

Prosedur-prosedur pengendalian
Prosedur-prosedur pengendalian merupakan kebijakan dan prosedur-prosedur yang
tercangkup dalam lingkungan pengendalian dan sistem akuntansi yang harus di
tetapkan oleh manajemen untuk memberikan jaminan yang memadai bahwa tujuan
tertentu akan dapat di capai. Pengendalian akuntansi intern meliputi rencana
organisasi dan prosedur-prosedur dan pencatatan-pencatatan yang berhubungan
dengan penjagaan aktiva dan kelayakan laporan keuangan. Pengendalian akuntansi
intern di rancang untuk memberikan jaminan memadai bahwa tujuan-tujuan
tertentu telah sesuai dengan setiap sistem aplikasi yang signifikan di dalam
organisasi.

C. Alat Pengendalian Pemrosesan Transaksi

Alat pengendalian pemrosesan transaksi merupakan prosedur-prosedur yang di


rancang untuk meyakinkan bahwa elemen-elemen struktur pengendalian intern di
implementasikan dalam sistem aplikasi khusus yang terdapat di dalam setiap siklus
transaksi

organisasi.

pengendalian

Alat

umum

dan

pengendalian

pemrosesan

pengendalian

aplikasi.

transaksi

terdiri

Pengendalian

dari

umum

mempengaruhi seluruh pmrosesan transaksi. Pengendalian aplikasi berpengaruh


khusus terhadap aplikasi-aplikasi individual.

a. Pengendalian Umum
Pengendalian umum memperhatikan keseluruhan lingkungan pemrosesan transaksi.
Pengendalian umum mencangkup hal-hal berikut ini :
-

Rencana pengorganisasian pemrosesan transaksi

Prosedur-prosedur oprasi umum

Masalah pengendalian peralatan

Pengendalian peralatan dan akses data


Sebagai contoh, di ambil dari hal-hal tersebut di atas :

Rencana pengorganisasian pemrosesan transaksi


Rencana pengorganisasian dalam penanganna dan pemerosesannya di lakukan
secara terpisah.
Contoh : Fungi pustaka komputer menyelenggarakan penyimpanan program
kompoter dan dokumentasi, tetapi tidak memiliki akses ke atau otoritas untuk
mengoperasikan peralatan pengolahan komputer.
Pengolahan data komputer harus tidak memiliki penanganan fisik maupun otoritas
atas setiap aktiva selain hanya mengolah data aktiva.
Contoh : Departemen-departemen yang bertanggung jawab atas penanganan fisik
persediaan harus tidak melapor kepada wakil direktur bidang pengolahan data
komputer.

Prosedur-prosedur oprasi umum

Titik awal dan akhir untuk setiap fungsi pekerjaan harus di indikasikan secara jelas,
seperti juga hubungan fungsi-fungsi pekerjaan satu sama lain.
Contoh : Operator komputer memiliki akses terbatas kepada program-program dan
file-file data.

b.Pengendalian Aplikasi
Pengendalian aplikasi di khususkan untuk aplikasi individual. Pengendalianpengendalian aplikasi di kategorikan menjadi pengendalian masukan, pemrosesan,
dan keluaran.

Kategori-kategori

ini

berkaitan

dengan

langkah-langkah

dasar

dalam

silus

pengolahan data.

c.Pengendalian Preventif, Detektif, Dan Korektif


Pengendalian Preventif di lakukan untuk mencegah kekeliruan dan penipuan
sebelum keduanya terjadi, terutama pada masukkan dan pemrosesan pada
pemrosesan transaksi. Pengandalian Detektif di lakukan untuk mengatasi kekeliruan
dan penipuan setelah keduanya terjadi. Pengendalian Korektif digunakan untuk
mengoreksi kekeliruan.

D.Etika Dan Struktur Pengendalian Intern

a.Etika dan Budaya Perusahaan


Banyak perusahaan yang telah mengadopsi peraturan kode etika yang merupakan
pedoman dalam menjalankan bisnis sesuai etika. Begitupun, banyak organisasi
profesonal, seperti AICPA, yang mengadopsi peraturan ini peraturan kode etik ini
umumnya di tulis dalam bahasa hukum yang berfokus pada hal-hal yang mungkin di
langgar.
Banyak yang menentang dengan mengatakan bahwa setiap perusahaan memiliki
budayanya sendiri, yang di sebut budaya perushaan, yang mungkin meningkatkan
atau mengabaikan etika. Budaya perusahaan tergantung pada tingkah laku, dan
praktik kerja para karyawan. Untuk setiap program etika kerja, perusahaan harus
memiliki audit budaya atas perlaku budaya dan etika perusahaannya.

b.Mengkomunikasikan Tujuan-tujuan Pengendalian Intern

Manusia merupakan elemen penting dari setiap struktur prngrndalian intern. Fungsi
prinspal dari pengendalian intern adalah mempengaruhi tingkah laku manusia
dalam suatu sistem bisnis. Jadi, perilaku dan aktifitas-aktifitas perlu di kelola dan di
kendalikan sehingga tujuan organisasi dapat di capai. Tujuan pengendalian intern
harus di pandang secara relevan dengan individu yang menjalankan sistem
pengendalian tersebut. Sistem harus di rancang sedemikian rupa sehingga pegawai
yakin bahwa pengendalian bertujuan melindungi kesulitan-kesulitan atau krisiskrisis dalam oprasi organisasi yang sebaliknya dapat mempengaruhi mereka secara
pribadi.
Ref

http://anissa-k.blogspot.com/2012/05/sia-dalam-proses-transaksi-dan-

struktur.html

Pertanyaan :
1. Eksposur-eksposur yang sering terjadi dalam lingkungan bisnis yng umum antara
lain

a. biaya-biaya berlebihan

c.

kehilangan

b. pendapatan menurun

d. semua jawaban benar

aktiva

2. Siklus-siklus apa saja yang terdapat pada tujuan dan pengendalian siklus
transaksi,

kecuali

a. siklus pendapatan

c.

siklus

b. siklus pemborosan

d. siklus pengeluaran

keuangan

3. Kejadian-kejadian yang berkaitan dengan perolehan barang dan jasa dari pihak
lain

dan

penetapan

a. siklus keuangan
b. siklus pendapatan

kewajiban

yang

berkaitan
c.

adalah

pengertian

siklus

dari

produksi

d. siklus pengeluaran

4. Konsep struktur pengendalian intern didasarkan pada dua premis utama yaitu ?
5. Sebutkan tugas-tugas pokok yang terdapat dalam system akuntansi ?
Jawaban :

1.

D.

Semua

jawaban

benar

2.

B.

Siklus

pemborosan

3.

D.

Siklus

pengeluaran

4.

Tanggung

jawab

manajemen

dan

jaminan

yang

memadai

5. Mengumpulkan, Menganalisa, Mencatan, dan Melaporkan

PEMROSESAN TRANSAKSI DAN STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN

IV.1.

PEMROSESAN TRANSAKSI

Salah satu tujuan sistem informasi adalah mendukung operasi harian


perusahaan. Tujuan ini dicapai melalui : (1) pemrosesan transaksi-transaksi yang
disebabkan baik oleh sumber-sumber ekstern maupun intern, dan (2) menyiapkan
keluaran-keluaran seperti dokumen-dokumen operasional dan laporan-laporan
keuangan. Kerangka Pemrosesan Transaksi :

A.

Jaringan Kerja Keseluruhan Perusahaan

Pemrosesan transaksi terjadi selaras dengan operasi perusahaan. Perangkat


gabungan sistem-sistem pemrosesan transaksi serupa dengan jaringan kerja yang
kompleks dari operasi-operasi fisik, proses kertas kerja dan arus data/informasi
yang saling bergantung.

B.

Sistem Informasi Fungsional

Sistem operasional dan organisasi perusahaan pada umumnya dibagi


berdasarkan fungsi. Untuk memungkinkan pengendalian yang efektif dan efisien
atas operasi dan koordinasi kegiatan-kegiatan manajerial. Sistem informasinya
haruslah dibagi menurut fungsi-fungsi yang sama. Macam-macam subsistem

informasi fungsional pada tiap-tiap industri berbeda-beda. Bahkan antara satu


perusahaan dengan perusahaan lainnya dalam industri yang sama juga berbeda.
Setiap subsistem informasi fungsional berkaitan erat dengan penyediaan
pengendalian yang ketat terhadap satu atau beberapa sistem pemrosesan
transaksi. Hal yang sama pentingnya adalah hubungan yang ada pada setiap
subsistem informasi fungsional diantara tingkat operasional dan tingkat manajerial.
Subsistem informasi fungsional membantu arus informasi transaksi kepada
manajer-manajer fungsional.

IV.2.

Elemen elemen struktur pengendalian intern.

Lingkungan Pengendalian (Control Environment)


Lingkungan pengendalian perusahaan mencakup sikap para manajemen dan
karyawan terhadap pentingnya pengendalian yang ada di organisasi tersebut. Salah
satu faktor yang berpengaruh terhadap lingkungan pengendalian adalah filosofi
manajemen (manajemen tunggal dalam persekutuan atau manajemen bersama
dalam perseroan) dan gaya operasi manajemen (manajemen yang progresif atau
yang konservatif), struktur organisasi (terpusat atau ter desentralisasi) serta praktik
kepersonaliaan. Lingkungan pengendalian ini amat penting karena menjadi dasar
keefektifan unsur-unsur pengendalian intern yang lain. pengendalian internal vc
pengendalian manajemen:

1.

pengendalian internal a penegnedalian manajemen terdiri dari pengendallian


intern dan ekstern b. lebih nekenkankan pd tujuan perusahaan dan menghubungkan
pengendallian manajemen untuk mencapai tujaun c. meliputi produksi, transportasi
dan riset perusahaan.

2.

pengendalian manjemen a. mengendalikan terrdiri dari pengendalian administratif


dan pengendalian akuntansi b. menekankan pda pengendazlian terhadap
mengamankan aktiva perusahaan dengan melakukan pecatatan akuntansi
memeadai c. meliputi akkuntansi meningkatkan efektifitas dan efesiensi dan taat pd
hukum yang berlaku.

Penilaian Resiko (Risk Assesment)


Semua organisasi memiliki risiko, dalam kondisi apapun yang namanya risiko pasti
ada dalam suatu aktivitas, baik aktivitas yang berkaitan dengan bisnis (profit dan
non profit) maupun non bisnis. Suatu risiko yang telah di identifikasi dapat di
analisis dan evaluasi sehingga dapat di perkirakan intensitas dan tindakan yang
dapat meminimalkannya.

Prosedur Pengendalian (Control Procedure)


Prosedur pengendalian ditetapkan untuk menstandarisasi proses kerja sehingga
menjamin tercapainya tujuan perusahaan dan mencegah atau mendeteksi
terjadinya ketidakberesan dan kesalahan. Prosedur pengendalian meliputi hal-hal
sebagai berikut:
Personil yang kompeten, mutasi tugas dan cuti wajib.
Pelimpahan tanggung jawab.
Pemisahan tanggung jawab untuk kegiatan terkait.
Pemisahan fungsi akuntansi, penyimpanan aset dan operasional.

Pemantauan (Monitoring)
Pemantauan terhadap sistem pengendalian intern akan menemukan kekurangan
serta meningkatkan efektivitas pengendalian. Pengendalian intern dapat di monitor
dengan baik dengan cara penilaian khusus atau sejalan dengan usaha manajemen.
Usaha pemantauan yang terakhir dapat dilakukan dengan cara mengamati perilaku
karyawan atau tanda-tanda peringatan yang diberikan oleh sistem akuntansi.
Penilaian secara khusus biasanya dilakukan secara berkala saat terjadi perubahan
pokok dalam strategi manajemen senior, struktur korporasi atau kegiatan usaha.
Pada perusahaan besar, auditor internal adalah pihak yang bertanggung jawab atas
pemantauan sistem pengendalian intern. Auditor independen juga sering
melakukan penilaian atas pengendalian intern sebagai bagian dari audit atas
laporan keuangan.

Informasi dan Komunikasi (Information and Communication)


Informasi dan komunikasi merupakan elemen-elemen yang penting dari
pengendalian intern perusahaan. Informasi tentang lingkungan pengendalian,
penilaian risiko, prosedur pengendalian dan monitoring diperlukan oleh manajemen

Winnebago pedoman operasional dan menjamin ketaatan dengan pelaporan hukum


dan peraturan-peraturan yang berlaku pada perusahaan.
Informasi juga diperlukan dari pihak luar perusahaan. Manajemen dapat
menggunakan informasi jenis ini untuk menilai standar eksternal. Hukum, peristiwa
dan kondisi yang berpengaruh pada pengambilan keputusan dan pelaporan
eksternal.

IV.3. Alat pengendalian pemrosesan transaksi.

Alat pengendalian pemrosesan transaksi merupakan prosedur-prosedur yang di


rancang untuk meyakinkan bahwa elemen-elemen struktur pengendalian intern di
implementasikan dalam sistem aplikasi khusus yang terdapat di dalam setiap siklus
transaksi organisasi. Alat pengendalian pemrosesan transaksi terdiri dari
pengendalian
umum
dan
pengendalian
aplikasi.
Pengendalian
umum
mempengaruhi seluruh pmrosesan transaksi. Pengendalian aplikasi berpengaruh
khusus terhadap aplikasi-aplikasi individual.

a.

Pengendalian Umum
Pengendalian umum memperhatikan keseluruhan lingkungan pemrosesan transaksi.
Pengendalian umum mencangkup hal-hal berikut ini :
Rencana pengorganisasian pemrosesan transaksi
Prosedur-prosedur oprasi umum
Masalah pengendalian peralatan
Pengendalian peralatan dan akses data
Sebagai contoh, di ambil dari hal-hal tersebut di atas :

Rencana pengorganisasian pemrosesan transaksi


Rencana pengorganisasian dalam penanganna dan pemerosesannya di lakukan
secara terpisah.
Contoh : Fungsi pustaka komputer menyelenggarakan penyimpanan program
kompoter dan dokumentasi, tetapi tidak memiliki akses ke atau otoritas untuk
mengoperasikan peralatan pengolahan komputer.
Pengolahan data komputer harus tidak memiliki penanganan fisik maupun otoritas
atas setiap aktiva selain hanya mengolah data aktiva.

Contoh : Departemen-departemen yang bertanggung jawab atas penanganan fisik


persediaan harus tidak melapor kepada wakil direktur bidang pengolahan data
komputer.

Prosedur-prosedur oprasi umum


Titik awal dan akhir untuk setiap fungsi pekerjaan harus di indikasikan secara jelas,
seperti juga hubungan fungsi-fungsi pekerjaan satu sama lain.
Contoh : Operator komputer memiliki akses terbatas kepada program-program dan
file-file data.

b.

Pengendalian Aplikasi
Pengendalian aplikasi di khususkan untuk aplikasi individual. Pengendalianpengendalian aplikasi di kategorikan menjadi pengendalian masukan, pemrosesan,
dan keluaran.Kategori-kategori ini berkaitan dengan langkah-langkah dasar dalam
silus pengolahan data.

c.

Pengendalian Preventif, Detektif, Dan Korektif


Pengendalian Preventif di lakukan untuk mencegah kekeliruan dan penipuan
sebelum keduanya terjadi, terutama pada masukkan dan pemrosesan pada
pemrosesan transaksi. Pengandalian Detektif di lakukan untuk mengatasi kekeliruan
dan penipuan setelah keduanya terjadi. Pengendalian Korektif digunakan untuk
mengoreksi kekeliruan.

IV.4.

Etika dan struktur pengendalian.

a.

Etika dan Budaya Perusahaan


Banyak perusahaan yang telah mengadopsi peraturan kode etika yang merupakan
pedoman dalam menjalankan bisnis sesuai etika. Begitupun, banyak organisasi
profesonal, seperti AICPA, yang mengadopsi peraturan ini peraturan kode etik ini
umumnya di tulis dalam bahasa hukum yang berfokus pada hal-hal yang mungkin di
langgar.

b.

Mengkomunikasikan Tujuan-tujuan Pengendalian Intern


Manusia merupakan elemen penting dari setiap struktur prngrndalian intern. Fungsi
prinspal dari pengendalian intern adalah mempengaruhi tingkah laku manusia
dalam suatu sistem bisnis. Jadi, perilaku dan aktifitas-aktifitas perlu di kelola dan di
kendalikan sehingga tujuan organisasi dapat di capai. Tujuan pengendalian intern

harus di pandang secara relevan dengan individu yang menjalankan sistem


pengendalian tersebut. Sistem harus di rancang sedemikian rupa sehingga pegawai
yakin bahwa pengendalian bertujuan melindungi kesulitan-kesulitan atau krisiskrisis dalam oprasi organisasi yang sebaliknya dapat mempengaruhi mereka secara
pribadi.