Anda di halaman 1dari 8

1

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
PENANGANAN PELANGGARAN LALU LINTAS

NO. DOKUMEN
SOP/LANTAS/RES-GTO/02

NO. REVISI
00
TANGGAL TERBIT:

DIBUAT OLEH
BAUR TILANG

HALAMAN
9-16
2016

DIPERIKSA OLEH
KASAT LANTAS
TTD

DISAHKAN OLEH
KAPOLRES GORONTALO
TTD

TTD
MAUDY SASAMU
BRIPKA NRP 85030188

1.

WAWAN ANDI S. SH.SIK


AKP NRP 82051524

HERRI RIO PRASETYO SIK.

AKBP NRP 70020380

Tujuan
Disusunnya Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan pelanggaran lalu lintas
ini bertujuan untuk memberikan pedoman dalam rangka penanganan pelanggaran lalu
lintas, Polri diharapkan dapat lebih meningkatkan dan memantapkan perannya dalam
memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat, sehingga
dalam pelaksanaan tugas dilapangan tidak ada keragu-raguan dalam melakukan tindakan
penegakan hukum agar terwujud kepatuhan pengguna lalu lintas yang patuh terhadap
peraturan lalu lintas sehingga terwujud situasi kamseltibcarlantas di jalan..

2.

Pedoman/Acuan
2.1
Undang-Undang. No.8 tahun 1981 tentang KUHAP (pasal 221 s/d 216)
2.2
Undang-Undang No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
2.3
Undang- Undang No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan angkutan jalan.
2.4
PP No. 41 s/d PP No. 44 tahun 1993.

2
2. Pengertian
3.1

Lalu lintas adalah gerak kendaraan dan orang dan Ruang lalu lintas dijalan.

3.2

Kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang
berada pada kendaraan itu.

3.3

Pelanggaran Lalu lintas adalah perbuatan yang bertentangan dengan perundangundangan lalu lintas dan atau peraturan lalu lintas yang menimbukan kerugian jiwa
atau benda tetapi dapat mengganggu Kamseltibcar Lantas.

3.4

Quick Respon Sat Lantas adalah tindakan nyata personil lalu lintas berupa upaya,
kegiatan dan pekerjaan secara cepat, tepat, menangani kejadian atau masalah yang
berhubungan dengan kemacetan arus lalu lintas, pengawalan, kecelakaan lalu lintas,
baik yang diketahui, didengar atau dilihat langsung oleh petugas maupun laporan
masyarakat kepada petugas atau call centre dengan TPTKP, Pengaturan,
Pertolongan dan Penyelamatan, represif tahap awal serta tindakan kepolisian lain
yang tidak bertentangan dengan ketentuan Undang-Undang.

3.5

Pelanggaran adalah penyimpangan terhadap ketentuan undang-undang yang


berlaku.

3.6

Penindakan Pelanggaran Lalu lintas adalah tindakan hukum yang ditunjukan kepada
pelanggar peraturan perundang-undangan lalu lintas, yang dilakukan oleh petugas
Kepolisian Republik Indonesia baik secara Edukatif maupun Yuridis.

3.7

Tindakan Edukatif adalah bentuk tindakan yang diberikan oleh petugas Kepolisian
Republik Indonesia kepada pelanggar secara simpatik dalam bentuk
teguran/peringatan, tindakan ini hanya ditujukan terhadap pelanggaran lalu lintas
yang sifatnya ringan dan terhadap pelanggar yang masih asing dengan suatu wilayah
(pendatang baru).

3.8

Tindakan Yuridis adalah bentuk tindakan yang diberikan oleh petugas Kepolisian
Republik Indonesia kepada pelanggar secara Yuridis (Acara Pemeriksaan Cepat /
Tilang, Acara Pemeriksaan Singkat). Tindakan ini ditujukan kepada para pelanggar
peraturan perudang-undangan lalu lintas.

3
3.9

Tilang adalah bukti pelanggaran lalu lintas yang meliputi pelanggaran secara kasat
mata mudah diketahui, tidak perlu alat untuk membuktikan dan tidak perlu
keterangan ahli.

3.10

Dakgar Lantas adalah suatu tindakan yang dilaksanakan oleh Anggota Polri
khususnya personil lantas sebagai Penyidik/penyidik pembantu dalam hal dan
menurut cara yang diatur dalam undang-undang untuk menindak kepada semua
elemen masyarakat yang melanggar peraturan undang-undang yang telah
ditetapkan, yang bermuara menimbulkan kemacetan serta potensial menyebabkan
terjadinya laka lantas.

3.11 Tabel denda adalah kesepakatan perkiraan denda bagi jenis-jenis pelanggaran yang
ditetapkan oleh Surat Keputusan Ketua Pengadilan Negeri. Selanjutnya tabel ini
dipergunakan oleh Penyidik untuk mencantumkan besarnya denda yang harus
dibayar ke Bank.
4.

Alat
4.1

4.2
4.3
4.4
5.

Alat perlengkapan penindakan pelanggaran lalu lintas yang digunakan


4.1.1 Blangko Tilang / BAP Singkat.
4.1.2 Surat Perintah Tugas.
4.1.3 Papan Petunjuk adanya pemeriksaan.
4.1.4 Label Barang Bukti.
Piranti pendukung lainnya;
Perundang-undangan, buku-buku dan referensi yang berkaitan dengan produk
hukum;
Jalan yang digunakan sebagai tempat untuk dilakukan penindakan terhadap
pelanggaran lalu lintas.

Prosedur Pelaksanaan
5.1
Tahap persiapan
Untuk penindakan pelanggaran lalu lintas administrasi pendukung yang perlu
disiapkan antara lain :
5.1.1 Blangko Tilang / BAP Singkat.
Bentuk dan Administrasi Tilang
a.

Tilang
bentuk dan formatnya merupakan Berita Acara yang
disederhanakan sehingga dalam Tilang tercantum catatan Polisi tentang :
1). Identitas pelanggar

4
2).
3).
4).
5).
6).
7).

Jenis pelanggaran
Lokasi pelanggarannya
Barang bukti yang diminta
Waktu pelaksanaan sidang
Dan pada sebaliknya catatan untuk Pengadilan dan Kejaksaan
Data penindakan lengkap dengan tanda tangan

b. Tilang terdiri dari 5 lembar dan masing masing berlainan warna :


(1). Merah dan atau Biru untuk Pelanggar
(2). Hijau untuk Pengadilan
(3). Putih untuk Kejaksaan
(4). Kuning untuk Polri
c. Fungsi Tilang :
(1). Sebagai surat panggilan ke Pengadilan Negeri
(2). Sebagai pengantar untuk pembayaran denda ke Bank /
Panitera
(3). Sebagai tanda penyitaan atas barang bukti yang di sita
( SIM, STNK, Kendaraan Bermotor ).
5.1.2 Surat Perintah Tugas.
5.1.3 Papan Petunjuk adanya pemeriksaan
5.1.4 Label Barang Bukti.
5.2

Tahap Pelaksanaan
5.2.1 Pelaksanaan penindakan pelanggaran lalu lintas digolongkan menjadi 2 yaitu:
1. Penindak bergerak / Hunting yaitu cara menindak pelanggar
sambil
melaksanakan patroli (bersifat insidentil). Sifat penindakan ofensif
terhadap pelanggaran yang tertangkap tangan ( Pasal 111 KUHAP) bagi
petugas tidak perlu dilengkapi Surat Perintah Tugas
2. Penindakan ditempat / stationer yaitu cara melaksanakan pemeriksaan
kendraan bermotor sebagaimana yang diatur dalam pasal 2 huruf a, pasal
3 (1), pasal 7, pasal 1a2, pasal 13 (1,2), pasal 14, pasal 15, pasal 18. PP
42 tahun 1993.
5.2.2

Dalam pelaksanaannya harus dilengkapi dengan Surat Perintah Tugas dan


dipimpin oleh Perwira.pada setiap lokasi pelaksanaan pemeriksaan kendraan
bermotor petugas dibagi dalam kelompok-kelompok:
1. Petugas yang beri isyarat mengurangi kecepatan.
2. Petugas yang menghentikan.

5
3.
4.
5.
6.

Petugas yang memeriksa


Petugas yang melaksanakan penilangan
Petugas yang mengamankan Barang bukti
Petugas yang siap sedia melakukan tindakan lain
(pengajaran,
mengantisipasi kalau ada perlawanan Fisik).
5.2.3 semua Pelanggaran ditindak denganTilang Alternatif I, kecuali bagi pelanggar
yang tidak mengakui kesalahannya/tidak mau tanda tangan, ditindak dengan
alternatif III.
5.2.4 Proses Acara Pemeriksaan Pelanggaran Lalu lintas menggunakan Tilang
sebagaimana diatur dalam Pasal 211 KUHAP
5.3

Kelengkapan Tugas
5.3.1 Pakaian petugas menggunakan PDL Sus Lantas lengan panjang dilengkapi
sabuk dan manshet.
5.3.2 Alkomlek yang bisa digelar ke mako dan induk / pos-pos.
5.3.3 Kendaraan bermotor secukupnya.

5.4

Tehnik Penindakan.
a. Penindakan bergerak dilaksanakan pada saat petugas sedang melakukan :
1). Patroli lalu lintas.
2). Pengaturan dan penjagaan pada PH Lantas (persimpangan, ruas jaln dll).
b. Penindakan ditempat pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
1). Direncanakan terlebih dahulu.
2). Dilengkapi dengan Surat Perintah Tugas
3). Harus dipimpin oleh Perwira.
4). Lokasinya ditetapkan.
5). Sasaran diprioritaskan.
6). Dapat dilaksanakan secara gabungan dengan instansi terkait (Pemda, DLLAJ,
Jasa Raharja dll).
c. Sistem penindakan
(1). Alternatif penindakan
Pelaksanaan penindakan dengan Tilang ada 2 alternatif
yaitu :
(a). Alternatif I diperuntukan :
- Terhadap pelanggar yang mengakui
Kesalahannya

6
- Pelanggar bersedia bayar denda ke Bank dan diwakili
petugas yang ditunjuk Polri
- Formulir Tilang yang disampaikan warna biru
(b).

oleh

Alternatif II diperuntukkan :
Terhadap pelanggar yang tidak mengakui
kesalahan, menentang
petugas dengan cara tidak mau tanda tangan dan atau pelanggar
yang melakukan pelanggaran pada ruas jalan yang ditetapkan sebagai
Pilot Proyek Tertib Lalu Lintas( PPKTL ).

(2). Prosedur dan Mekanisme Tilang


Polri selaku penyidik bertugas :
(a). Menindak pelanggar baik dengan alternatif I
maupun alternatif III.
(b). Pelaksanaan Tilang alternatif I :

Polri
menindak
dengan
menggunakan
Formulir warna biru

Menyarankan pelanggar dalam


kesempatan pertama bayar
denda ke Bank ( Maksimal dalam batas waktu 5 hari ).

Setelah pelanggar bayar denda ke Bank dan Bank telah


memberikan validasi berupa Cap Registrasi, segera Polri
mengembalikan Barang Bukti yang di sita.

Berkas Tilang akan diajukan secara


kumulatif oleh petugas
Ba Tilang ke PN sedangkan sidang dihadiri oleh wakil yang
ditunjuk.
(c). Pelaksanaan tilang alternatif III.
- Polri menindak dengan menggunakan Folmulir warna merah.
- Dalam penetapan hari sidang harus memperhatikan ketetapan
yang telah ditentukan oleh Pengadilan.
- Jelaskan kapan dimana pelanggar harus menghadiri sidang.
- Bilamana pelanggar tidak hadir, Penyidik berkewajiban sampai
dengan 2 kali memanggil dan untuk ke 3 kalinya langsung
melakukan penangkapan ( Pasal 20 (2) KUHAP).
- Pengembalian barang bukti menunggu selesainya sidang dan
dengan bukti setelah pelanggar membayar denda kepada
Panitera Pengadilan.

7
6.

PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN


1. Pengawasan
a. Analisa dan evaluasi hasil laporan.
b. Mengecek pelaksanaan melalui alat komunikasi (Telepon / HT).
c. Mengontrol langsung.
2. Pengendalian
a. Melalui pelaporan hasil pelaksanaan tugas.
b. Langsung dan tidak langsung
c. Dalam pelaksanaan Penindakan pelanggar Lantas dilarang:
1. Menyimpang dari Pelaksanaan tugas pokok
2. Menerima segala bentuk imbalan dan atau pungli.
3. Melepas atribut atau perlengkapan yang ada pada perorangan.
4. Melakukan tindakan tercela yang dapat merugikan masyarakat, profesi dan
kesatuan.

7.

PENUTUP
1.

Ketentuan perubahan dan berlakunya Standard Operation Procedur ini ada pada Dit
Lantas Polda Gorontalo yang pelaksanaan dan pembinaan / bimbingan teknis
dilakukan oleh Kasubdit Bin Gakkum Ditlantas Polda Gorontalo.

8
2.
3.

Ketentuan-ketentuan lain yang berkaitan dengan prosedur Ur Langgar yang telah


ada dan tidak bertentangan dengan Petunjuk Pelaksanaan ini tetap berlaku
sebagaimana mestinya.
Buku Standard Operation Procedure (SOP) berlaku sejak ditetapkan.
Ditetapkan di
Pada tanggal

:
:

Gorontalo
2016

An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO


WAKA
u.b
KASAT LANTAS
TTD
WAWAN ANDI S. SH.SIK.
AJUN KOMISARIS POLISI NRP 82051524

Anda mungkin juga menyukai