Anda di halaman 1dari 36

WRAP UP PBL

SKENARIO III BLOK PANCA INDRA


BERCAK MERAH & GATAL DI SELANGKANGAN

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK A-1
Ketua

: Aiman Idrus Alatas

(1102013015)

Sekertaris

: Bening Irhamna

(1102013057)

Anggota

:
Abiyya Farah Putri
Amirtha Mustikasari
Ayuningtyas Tri Handini
Dharmaning Estu Wirastyo
Elisa Rosani
Intan Marsela
Jajang Permana Subhan
Lathifa Nabilahsari
Luvianti

(1102013003)
(1102013022)
(1102013050)
(1102013081)
(1102012074)
(1102013136)
(1102012136)
(1102013154)
(1102013158)

FAKULTAS KEDOKTERAN UMUM


UNIVERSITAS YARSI
2016/2017
JL.Letjend Suprapto, Cempaka Putih Jakarta 10510
Telp (021) 4244574 Fax (021) 4244574
0

SKENARIO III
BERCAK MERAH &GATAL DI SELANGKANGAN
Seorang wanita berusia 28 tahun datang ke Poliklinik dengan keluhan bercak merah & gatal
terutama bila berkeringat di selangkangan sejak 1 minggu yang lalu. Keluhan disertai dengan
beruntus dan kulit yang menebal berwarna gelap. Kelainan ini hilang timbul selama 6 bulan,
hilang apabila diobati dan timbul saat menstruasi atau menggunakan celana berlapis. Riwayat
keputihan disangkal. Kelainan ini dirasakan setelah berat badan penderita bertambah.
Pada pemeriksaan generalis: dalam batas normal
Pada pemeriksaan dermatologis: Reginer, bilateral pada ke-2 sisi medial paha atas tampak
lesi multiple, berbatas tegas, bentuk beraturan, ukuran bervariasi dari diameter 0,03 cm sp 0,1
cm, kering, permukaan halus dengan efloresensi berupa plak eritem, sebagian likhenifikasi
yang hiperpigmentasi pada bagian tengah tampak central healing dengan ditutpi skuama
halus. Setelah mendapatkan terapi, penderita diminta untuk kontrol rutin dan menjaga serta
memelihara kesehatan kulit sesuai tuntunan ajaran Islam.

KATA SULIT
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Regioner: daerah yang terlokalisir.


Efloresensi: kelainan kulit yang dapat dilihat dengan mata telanjang dan dapat diraba.
Likhenifikasi: daerah penebalan kulit yang terlihat seperti bergaris-garis.
Central healing: proses penyembuhan yang berada di bagian tengah lesi.
Skuama: lapisan stratum corneum yang terlepas dari kulit.
Hiperpigmentasi: penimbunan pigmen berlebih yang membuat kulit tampak hitam.
Plak: kelainan kulit dengan permukaan datar berdiameter >1cm dan terjadi karena
perluasan suatu papula.
8. Eritem: kemerahan pada kulit akibat pelebaran pembuluh darah kapiler yang bersifat
reversible.
PERTANYAAN
1. Apa hubungan menstruasi terhadap terjadinya gatal dan bercak merah yang dialami
pasien?
2. Apakah penyakit ini menular?
3. Apa hubungan kenaikan berat badan dengan keluhan yang dialami?
4. Mengapa kulit menebal dan berwarna gelap?
5. Apa yang menjadi penyebab terjadinya penyakit ini?
6. Apakah pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk dapat menegakan
diagnosis kasus ini?
7. Apa diagnosis pada skenario ini?
8. Apa tatalaksana yang tepat untuk menangani penyakit ini?
9. Bagaimana cara mencegah agar penyakit ini tidak berulang kembali?
JAWABAN
1.

Tidak mengganti
pembalut
Penggunaan
pembalut
berlapis

Lembab

Menggaruk

Menjadi tempat
berkembang biak
yang baik untuk
jamur

Gatal

Lecet (kulit menebal


dan berwarna gelap)

2. Menular bila ada media penularan seperti penggunaan handuk secara bersama-sama
dan berhubungan sexual.
3.

BB

Metabolisme

BB

Kulit berlipat-lipat

Keringat

Lembab

Lembab

4. (sudah dijelaskan dalam jawaban nomor 1)


5. Jamur
6. Kerokan lesi kulit
7. Mycosis

Tinea Cruris

Farmakologi
s

Pemeriksaan mikroskop dengan larutan KOH 10%

Etiologi: anti jamur


2

8.

Simptomatis: antihistamin

9. -

Membersihkan daerah lipatan kulit


Mengganti pembalut 3-4 x sehari
Menurunkan berat badan
Mengeringkan alat vital setelah
BAK&BAB dengan baik

HIPOTESIS
Wanita (28 Tahun)

Anamnesis: - bercak merah & gatal bila berkeringat di selangkanngan


sejak 1 minggu yang lalu
- beruntus, kulit menebal, berwarna gelap
- keputihan (-)

Hilang timbul
selama 6 bulan
terutama pada saat
menstruasi atau
menggunakan celana
berlapis

PF: -Generalis (N)


-Dermatologis: regioner
bilateral pada 2 sisi medial paha atas: - lesi multiple
Diagnosis: Tinea Cruris

- batas tegas

Diagnosis Banding: Tinea Corporis

- bentuk beraturan
- ukuran variasi (diameter 0,03-0,1 cm)

PP

Tatalaksana

- kering
Farmako

- permukaan halus dengan efloresensi berupa plak


eritem

Non Farmako

- sebagian likhenifikasi yang hiperpigmentasi

SASARAN BELAJAR
1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Kulit
3

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Memahami dan Menjelaskan Fungsi Kulit


Memahami dan Menjelaskan Etiologi dan Patofisiologi Infeksi Jamur
Memahami dan Menjelaskan Tanda dan Gejala
Memahami dan Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding
Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan Penunjang
Memahami dan Menjelaskan Tatalaksana
Memahami dan Menjelaskan Cara Menjaga Kesehatan Kulit Menurut Pandangan
Islam

1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Kulit

Kulit adalah organ tunggal terberat di tubuh dengan berat sekitar 15% dari berat
badan total dengan luas permukaan sekitar 1,2 - 2,3 m2 pada orang dewasa. Kulit terdiri
atas lapisan epidermis yang berasal dari ektoderm permukaan dan lapisan dermis yang
berasal dari mesoderm. Berdasarkan ketebalan epidermis kulit dapat dibedakan menjadi
kulit tebal dan kulit tipis. Turunan epidermis meliputi rambut, kuku, kelenjar sebasea,
dan kelenjar keringat.

Kulit terbagi menjadi 3 lapisan:


1) Epidermis
Epidermis terdiri dari 5 lapisan dan tidak mempunyai pemubuluh darah maupun
limpa sehingga semua nutrisi dan oksigen di dapat dari pembuluh kapiler pada lapisan
dermis yang berdifusi melalui cairan jaringan serta membran basal untuk mencapai
epidermis.
Sel-sel epidermis
a. Keratinosit
Sel terbanyak dengan jumlah mencapai 85%-95% pada epidermis. Berasal dari
ektoderm permukaan. Sel berbentuk gepeng ini memiliki sitoplasma yang dipenuhi oleh
skleroprotein birefringen, yakni keratin. Keratin ini mengandung sedikitnya 6 macam
polipeptida dengan berat molekul 40kDa sampai 70 kDa. Sel basal mengandung berat
molekul yang lebih rendah. Proses keratinisasi berlangsung selama 2-3 minggu yang
dimulai dari proses proliferasi, diferensiasi, kematian sel dan pengelupasan. Pada tahap
akhir diferensiasi diikuti penebalan membran sel, kehilangan inti dan organel lain di
5

dalam sel. Selama proses keratinisasi berlangsung enzim hidrolitik lisosom berperan
pada penghancuran organel sitoplasma.
b. Melanosit
Warna kulit ditentukan oleh berbagai faktor penting seperti kandungan
melanin dan karoten, jumlah pembuluh darah dalam dermis, dan warna darah yang
mengalir di dalamnya. Eumelanin adalah pigmen coklat tua yang dihasilkan oleh
melanosit. Sel ini berjumlah 7%-10% dan berasal dari neuroektoderm. Melanosit
memiliki badan sel yang bulat dengan cabang dendritik yang panjang dan tipis.
Hemidesmosom mengikat melanosit ke lamina basalis.
Melanosit paling banyak terdapat pada kulit muka dan genitalia eksterna. Jumlah
melanosit tiap individu hampir sama, hanya jumlah produksi melanin berbeda. Sintesis
melanin berlangsung di dalam melanosit dengan tirosinase berperan penting. Tirosin
mula-mula diubah menjadi 3,4-dihidroksifenilalanin (dopa) dan kemudian menjadi
dopaquinon yang kemudian bertransformasi dan dikonversi menjadi melanin. Dalam
melanosit, melanin berkumpul dalam vesikel yang disebut premelanosom. Vesikel
kemudian matang menjadi melanosom yang disebarkan melalui cabang sitoplasma
melanosit ke keratinosit di sekitarnya terutama yang berada di stratum basale. Setelah
granula melanin bermigrasi di dalam juluran sitoplasma, granula melanin akan
berkumpul di daerah supranuklear sehingga inti sel terlindungi dari radiasi matahari yang
merusak. Menggelapnya kulit karena sinar uv adalah hasil proses dua tahap yakni reaksi
fisikokimia menghitamkan melanin dan melepaskannya dengan cepat ke keratinosit.
Pada tahap kedua kecepatan sintesis melanin menjadi meningkat dan mengakibatkan
peningkatan jumlah pigmen.
c. Sel langerhans
Merupakan sel dendritik yang berbentuk bintang, ditemukan terutama di
antara keratinosit dalam lapisan atas stratum spinosum. Sel ini mempunyai reseptor
penanda imunologis yang mirip makrofag. Sel ini mengikat antigen asing di
permukaannya dan merupakan sel pembawa antigen yang menyebabkan limfosit T dapat
bereaksi terhadap antigen yang dibawanya. Sel ini berasal dari sekelompok sel prekursor
dalam sumsum tulang.
d. Sel Merkel
Sel ini memiliki jumlah paling sedikit dan berasal dari krista neuralis. Sel ini
terdapat pada lapisan basal kulit tebal, terutama banyak ditemukan di ujung jari, folikel
rambut dan mukosa mulut. Sel ini memiliki peranan sebagai mekanoreseptor.

Terbagi atas 5 lapisan:

a. Stratum korneum/Lapisan tanduk


Terdiri dari beberapa lapis sel gepeng yang mati dan tidak berinti
Protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat tanduk)
b. Stratum Lusidum
Lapisan sel gepeng tanpa inti
protoplasma berubah menjadi protein (eleidin)
Biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki dan telapak tangan
Tidak tampak pada kulit tipis
c. Stratum granulosum / Lapisan Granular
Merupakan 2 atau 3 lapis sel gepeng
Sitoplasma berbutir kasar yang terdiri atas keratohialin dan terdapat inti diantaranya
Mukosa tidak mempunyai lapisan ini
d. Stratum spinosum / lapisan Malphigi
Lapisan epidermis yang paling tebal
Terdiri dari sel polygonal, besarnya berbeda-beda karena ada proses mitosis
Protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogen dan inti terletak ditengah
Terdapat jembatan antarsel (intecelluler bridges) yg tdd: protoplasma dan tonofibril
Perlekatan antar jembatan membentuk nodulus Bizzozero
Terdapat juga sel langerhans yang berperan dalam respon respon antigen kutaneus.
Seperti ditunjukan dibawah
7

e. Stratum basale
Terdiri dari sel sel kuboid yang tegak lurus terhadap dermis
Tersusun sebagai tiang pagar atau palisade
Lapisan terbawah dari epidermis
Mengadakan mitosis dan berfungsi reproduktif
Terdapat melanosit (clear cell) yaitu sel dendritik yang yang membentuk melanin
melindungi kulit dari sinar matahari. Dengan sitoplasma yang basofilik dan inti gelap,
mengandung butir pigmen (melanosomes)

Setiap kulit yang mati banyak mengandung keratin yaitu protein fibrous insoluble
yang membentuk barier terluar kulit yang berfungsi:
Mengusir mikroorganisme patogen
Mencegah kehilangan cairan yang berlebihan dari tubuh
Unsur utam yang mengerskan rambut dan kuku.
Setiap kulit yang mati akan terganti tiap 3-4 minggu. Epidermis akan bertambah
tebal jika bagian tersebut sering digunakan. Persambungan antara epidermis dan dermis
di sebut rete ridge yang berfunfgsi sebagai tempat pertukaran nutrisi yang essensial. Dan
terdapat kerutan yang disebut fingers prints.
8

2) Dermis (korium)
Merupakan lapisan dibawah epidermis. Terdiri dari jaringan ikat yang terdiri dari 2
lapisan:
a. Pars papilare
o Bagian yang menonjol ke epidermis
o Berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah
b. Pars retikulare
o Bagian yang menonjol ke subkutan
o Terdiri atas: serabut-serabut penunjang (kolagen, elastin, retikulin), matiks (cairan kental
asam hialuronat dan kondroitin sulfat serta fibroblas)
o Terdiri dari sel fibroblast yang memproduksi kolagen dan retikularis yang terdapat
banyak p. darah, limfe, akar rambut, kelenjar kerngat dan k. sebaseus.
3) Jaringan Subkutan atau Hipodermis / Subcutis
Terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Pada lapisan ini
terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah dan getah bening.
a. Sel lemak
o Sel lemak dipisahkan oleh trabekula yang fibrosa
o Lapisan terdalam yang banyak mengandung sel liposit yang menghasilkan banyak
lemak. Disebut juga panikulus adiposa yang berfungsi sebagai cadangan makanan
o Berfungsi juga sebagai bantalan antara kulit dan setruktur internal seperti otot dan tulang.
Sebagai mobilitas kulit, perubahan kontur tubuh dan penyekatan panas. Sebagai bantalan
terhadap trauma. Tempat penumpukan energi
b. Vaskularisasi
Dikulit diatur oleh 2 pleksus:
o Pleksus superfisialis
o Pleksus profunda
Adneksa Kulit
1) Kelenjar-Kelenjar Pada Kulit
a. Kelenjar keringat (glandula sudorifera)
Terdapat di lapisan dermis. Diklasifikasikan menjadi 2 kategori:
-

Kelenjar Ekrin terdapat disemua kulit

Melepaskan keringat sebgai reaksi penngkatan suhu lingkungan dan suhu tubuh.
9

Kecepatan sekresi keringat dikendalkan oleh saraf simpatik. Pengeluaran keringat pada
tangan, kaki, aksila, dahi, sebagai reaksi tubuh terhadap setress, nyeri dll

Kelenjar Apokrin

Terdapat di aksil, anus, skrotum, labia mayora, dan berm,uara pada folkel rambut

Kelenjar ininaktif pada masa pubertas,pada wanit a akan membesar dan berkurang pada
sklus haid

Kelenjar Apokrin memproduksi keringat yang keruh seperti susu yang diuraikan oleh
bajkteri menghasilkan bau khas pada aksila

Pada telinga bagian luar terdapat kelenjar apokrin khusus yang disebut K. seruminosa
yang menghasilkan serumen (wax)

2) Kelenjar Sebasea
Berfungsi mengontrol sekresi minyak ke dalam ruang antara folikel rambut dan
batang rambut yang akan melumasi rambut sehingga menjadi halus lentur dan lunak.
Turunan Kulit
Rambut
Rambut merupakann bangunan berzat tanduk yang diproduksi oleh folikel
rambut yang merupakan pertumbuhan epitel permukaan kedalam lapisan dermis
dibawahnya. Pertumbuhan rambut berlangsung dalam bagian pangkal folikel yang
menggelembung dan disebut bulbus pili, yang terdiri atas sel-sel epitelial yang aktif
membelah dan mengitari suatu papila jaringan ikat yang banyak mengandung pembuluh
darah, dan saraf yang penting bagi kelangsungan hidup folikel rambut. Papila dermis
dalam bulbus pili ini disebut papila pili. Batang rambut dibentuk oleh sel folikel yang
paling dalam yang membatasi papila yang disebut sel matriks. Sel-sel folikel rambut
merupakan lanjutan dari startum basal dan spinosum epidermis kulit. Pada permulaan
perkembangan semua sel pada folikel aktif bermitosis akan tetapi seltelah folikel
terdiferensiassi sempurna hanya tinggal sel-sel matriks yang aktif bermitosis dan
menghasilkan berbagai bagian rambut yaitu, medula, korteks, dan kutikula rambut.
Pigmen melanin ditemukan terjepit diantara dan di dalam sel tersebut sehingga mewarnai
rambut. M. arector pili melekat ke sarung folikel dan berinsersi di daerah papila dermis
pada epidermis. Kontraksi ini menyebabkan rambut menegak dan menarik ke dalam
daerah tempat insersinya pada papila sehingga terjadi keadaan yang tampak pada kulit
yang merinding. Muskulus arektor pili dipersarafi oleh sistem saraf simpatis dan
penegakan rambut terjadi apabila kedinginan atau ketakutan.
Kuku
Kuku berasal dari sel yang sama pada epidermis, mempunyai matriks yang aktif
bermitosis menghasilkan dasar kuku, yang merupakan lanjutan stratum germinatif kulit.
Bagian pangkal kuku diliputi suatu lipatan kulit yang disebut eponikium atau kutikula.
Lempeng kuku tumbuh dari dasar kuku sebagai suatu lempeng zat tanduk.Dasar kuku
merupakan lanjutan stratum germinatif, terdiri atas sel-sel basal di atas membran basal
dan dua atau tiga lapisan spinosum. Di bagian proksimal kuku terdapat daerah putih yang
berbentuk bulan , disebut lunula. Stratum korneum yang mengeras di bawah ujung bebas
10

kuku disebut hiponikium.Pertumbuhan kuku bersifat kontinu dan bisa digunakan sebagai
indikator kesehatan seseorang seperti, adanya lekukan dan kekeruhan sering ditemukan
pada infeksi kuku.Kuku yang tipis, mudah sobek, konkaf atau kuku sendok, menandakan
adanya penyakit seperti anemia kronik, sifilis dan demam rematik. Kuku yang kering dan
rapuh menunjukan defisiensi vitamin atau keadaan hipotiroid.
2. Memahami dan Menjelaskan Fungsi Kulit
Kulit berfungsi untuk :
1.Proteksi
Kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis atau mekanis, gangguan
kimiawi, gangguan bersifat panas, serta gangguan infeksi luar terutama kuman/bakteri
maupun jamur. Gangguan fisik dan mekanik ditanggulangi dengan adanya bantalan
lemak subkutis, tebalnya lapisan kilit, dan serabut penunjang yang berfungsi sebagai
pelindung bagian luar tubuh. Gangguan sinar UV diatasi oleh sel melanin yang menyerap
sebagian sinar tersebut. Gangguan kimiawi ditanggulangi dengan adanya lemak
permukaan kulit yang berasal dari kelenjar palit kulit yang mempunyai pH 5,0 6,5.
Lemak permukaan kulit juga berperan dalam mengatasi banyak mikroba yang ingin
masuk ke dalam kulit.
2.Absorpsi
Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan, maupun benda padat. tetapi
cairan yang mudah menguap lebih mungkin diserap kulit, begitu pula zat yang larut
dalam minyak. Permeabilitas kulit terhadap gas CO2 atau O2 mengungkapkan
kemungkinan kulit mempunyai peran dalam fungsi respirasi. Kemampuan absorpsi
tersebut dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit, hidrasi, kelembaban, metabolisme dan
jenis vehikulum.
3.Eksresi
Kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme berupa NaCl. Urea,
asam urat, dan ammonia. Sebum yang dihasilkan berfungsi untuk melindungi kulit
karena selain meminyaki kulit juga menahan evaporasi air yang berlebihan sehingga
kulit tidak menjadi kering.
4.Persepsi
Rangsang panas : badan-badan Ruffini di dermis dan subkutis.
Rangsang dingin : badan-badan Krause yang terletak di dermis.
Rangsang rabaan : badan taktil Meissner di papilla dermis dan badan Merkel
Ranvier di epidermis.
Rangsang tekan : badan Paccini di epidermis.
5.Pengaturan suhu tubuh
Termoregulasi kulit dilakukan dengan mengeluarkan keringat dan mengerutkan
pembuluh darah kulit.
11

6.Pembentukan pigmen
Perbandingan jumlah sel basal : melanosit adalah 10 : 1. Jumlah melanosit dan
jumlah serta besarnya butiran pigmen menentukan warna kulit ras maupun individu.
Pajanan sinar matahari mempengaruhi produksi melanosom. Pigmen disebar ke
epidermis melalui tangan-tangan dendrite, sedangkan pada dermis melalui sel melanofag.
Warna kulit juga dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit, reduksi Hb, oksi Hb dan karoten.
7.Keratinisasi
Keratinosit dimulai dari sel basal yang mengadakan pembelahan, sel basal yang lain
akan berpindah ke atas dan berubah bentuknya menjadi sel spinosum, makin ke atas
makin gepeng dan bergranula menjadi sel granulosum. Makin lama inti menghilangdan
keratinosit ini menjadi sel tanduk yang amorf. Proses ini berlangsung normal selama
kira-kira 14-21 hari dan member perlindungan kulit terhadap infeksi secara mekanis
fisiologik.
8.Pembentukan vitamin D
Dimungkinkan dengan mengubah 7 dihidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar
matahari.
9.Fungsi Ekspresi Emosi
Hasil gabungan fungsi yang telah disebut di atas menyebabkan kulit mampu
berfungsi sebagai alat untuk menentukan emosi yang terdapat dalam jiwa manusia.
Kegembiraan dapat dinyatakan oleh otot kulit muka yang relaksasi dan tersenyum,
kesedihan diutarakan oleh kelenjar air mata yang meneteskan air matanya, ketegangan
dengan otot kulit dan kelenjar keringat, ketakutan oleh kontraksi pembuluh darah kapiler
kulit sehingga kulit menjadi pucat dan rasa erotik oleh kelenjar minyak dan pembuluh
darah kulit yang melebar sehingga kulit tampak semakin merah, berminyak, dan
menyebarkan bau khas.Semua fungsi kulit pada manusia berguna untuk mempertahankan
kehidupannya sama seperti organ tubuh lain.
3. Memahami dan Menjelaskan Etiologi dan Patofisiologi Infeksi Jamur
Mikosis dibedakan menjadi dua yaitu mikosis profunda dan mikosis superficial,
mikosis profunda adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur dengan gejala klinis tertentu di
bawah kulit misalnya traktus intestinalis, traktus respiratorius, traktusurogenital, susunan
kardiovaskular, susunan saraf sentral, otot, tulang, dan kadang kulit. Mikosis profunda
biasanya terlihat dalam klinik sebagai penyakit kronik dan residif. Manifestasi klinis
morfologik dapat berupa tumor, infiltrasi, peradangan vegetative, fistel, ulkus,sinus, tersendiri
maupun bersamaan.
Sedangkan mikosis superficial adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh jamur
yang hanya menginvasi jaringan superfisialis yang terkeratinisasi (kulit, rambut dan kuku)
dan tidak ke jaringan yang lebih dalam, dan mempunyai dua golongan yaitu dermatofitosis
dan non-dermatofitosis, dermatofitosis mempunyai enzim yang dapat mencerna keratin.
A. MIKOSIS PROFUNDA
Misetoma : adalah penyakit kronik, supuratif, dan granulomatosa yang dapat disebabkan
bakteri Actinomyces dan Nocardia yang termasuk Schizomycetes dan Eumycetes atau jamur
12

berfilamen.biasanya terdiri atas pembengkakan,abses, sinus, dan fistel multiple. Di dalam


sinus ditemukan butir-butir (granules) yang berpigmen yang kemudian dikeluarkan melalui
eksudat.Berhubungan dengan penyebabnya, misetoma yang disebabkan Actinomyces
disebut Actinomycotic mycetoma yang disebabkan bakteri botryomycosis dan yang
disebabkan jamur berfilamen dinamakan maduromycosis.biasanya merupakan lesi kulit yang
sirkumskrip dengan pembengkakan seperti tumor jinak dan harus disertai butir-butir.
Inflamasi dapat menjalar dari permukaan sampai ke bagian dalam dapat menyerang subkutis,
fasia, otot, dantulang. Sering berbentuk fistel yang mengeluarkan eksudat.
Sporotrikosis : adalah infeksi kronis yang disebabkan oleh Sporotrichium schenkii dan
ditandai dengan pembesaran kelenjar getah bening. Kulit dan jaringan subkutis diatas nodus
bening sering melunak dan pecah membentuk ulkus yang indolen.
Kromikosis : adalah penyakit jamur yang disebabkan bermacam-macam jamur berwarna
(dematiaceous). Penyakit ini ditandai dengan pembentukan nodus verukosa kutan yang
perlahan-lahan sehinggaakhirnya membentuk vegetasi papilomatosa yang besar.
Pertumbuhan ini dapat menjadi ulkus atau tidak, biasanya ada di kaki dan tungkai, namun
lokalisasi di tempat lain pernahditemukan, misalnya pada tangan, muka, leher, dada, dan
bokong.
Zigomikosis, Fikomikosis, Mukormikosis : Penyakit jamur ini terdiri atas berbagai infeksi
yang disebabkan oleh bermacam-macam jamur pula yang taksonominya dan peranannya
masih didiskusikan. Zygomycetes meliputi banyak genera yaitu:Mucor, Rhizopus,
Absidia,Mortierella, dan Cunning-hamella.
B. MIKOSIS SUPERFICIAL
NON DERMATOFITOSIS
Infeksi non-dermatofitosis pada kulit biasanya terjadi pada kulit yang paling luar. Hal ini
disebabkan jenis jamur ini tidak dapat mengeluarkan zat yang dapat mencerna keratin kulit
dan tetap hanya menyerang lapisan kulit yang paling luar. Yang masuk ke dalam golongan ini
adalah
1. TINEA VERSICOLOR
Tinea versikolor/Pityriasis versikolor adalah infeksi ringan yang sering terjadi disebabkan
oleh Malasezia furfur. Penyakit jamur kulit ini adalah penyakit yang kronik dan asimtomatik
ditandai oleh bercak putih sampai coklat yang bersisik. Kelainan ini umumnya menyerang
badan dan kadang- kadang terlihat di ketiak, sela paha,tungkai atas, leher, muka dan kulit
kepala.
Pertumbuhannya pada kulit (stratum korneum) berupa kelompok sel-sel bulat, bertunas,
berdinding tebal dan memiliki hifa yang berbatang pendek dan bengkok, biasanya tidak
menyebabkan tanda-tanda patologik selain sisik halus sampai kasar. Bentuk lesi tidak teratur,
berbatas tegas sampai difus dan ukuran lesi dapat milier,lentikuler, numuler sampai plakat.
2. PIEDRA
Merupakan infeksi jamur pada rambut sepanjang corong rambut yang memberikan benjolanbenjolan di luar permukaan rambut tersebut.
Ada dua macam :
13

Piedra putih : penyebabnya adalah Piedraia beigeli .


Piedra hitam : penyebabnya adalah Piedraia horlal.
3. OTOMIKOSIS
Otomikosis adalah infeksi jamur pada liang telinga bagian luar. Jamur dapat masuk ke dalam
liang telinga melalui alat-alat yang dipakai untuk mengorek-ngorek telinga yang
terkontaminasi atau melalui udara atau air. Penderita akan mengeluh merasa gatal atau sakit
di dalam liang telinga. Pada liang telinga akan tampak berwarna merah, ditutupi oleh skuama,
dan kelainan ini ke bagian luar akan dapat meluas sampai muara liang telinga dan daun
telinga sebelah dalam. Tempat yang terinfeksi menjadi merah dan ditutupi skuama halus. Bila
meluas sampai ke dalam, sampai ke membrana timpani, maka daerah ini menjadi merah,
berskuama, mengeluarkan cairan srousanguinos. Penderita akan mengalami gangguan
pendengaran. Bila ada infeksi sekunder dapat terjadi otitis ekstema. Penyebab biasanya jamur
kontaminasi yaitu Aspergillus, sp Mukor dan Penisilium.
4. TINEA NIGRA
Tinea nigra ialah infeksi jamur superfisialis yang biasanya menyerang kulit telapak kaki dan
tangan dengan memberikan warna hitam sampai coklat pada kulit yang terserang. Makula
yang terjadi tidak menonjol pada permukaan kulit, tidak terasa sakit dan tidak ada tandatanda radang. Kadang-kadang makula ini dapat meluas sampai ke punggung, kaki dan
punggung tangan, bahkan dapat menyebar sampai dileher, dada dan muka.Gambaran
efloresensi ini dapat berupa polosiklis, arsiner dengan warna hitam atau coklat hampir sama
seperti setetes nitras argenti yang diteteskan pada kulit. Penyebabnya adalah Kladosporium
wemeki dan jamur ini banyak menyerang anak-anak dengan higiene kurang baik dan orangorang yang banyak berkeringat.
DERMATOFITOSIS
Penyakit yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofit disebut " Dermatofitosis ".
Golongan jamur ini dapat mencerna keratin kulit oleh karena mempunyai daya tarik kepada
keratin (keratinofilik) sehingga infeksi jamur ini dapat menyerang lapisanlapisan kulit mulai
dari stratum korneurm sampai dengan stratum basalis.
Dermatofitosis disebabkan jamur golongan dermatofita yang terdiri dari tiga genus
yaitu genus: Mikrosporon, Trikofiton dan Epidermofiton. Dari 41 spesies dermafito yang
sudah dikenal hanya 23 spesies yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan
binatang yang terdiri dari 15 spesies Trikofiton, 7 spesies Mikrosporon dan 1 spesies
Epidermafiton.
Secara etiologis dermatofitosis disebabkan oleh tiga genus dan penyakit yang
ditimbulkan sesuai dengan penyebabnya. Diagnosis etiologi ini sangat sukar oleh karena
harus menunggu hasil biakan jamur dan ini memerlukan waktu yang agak lama dan tidak
praktis. Disamping itu sering satu gambaran klinik dapat disebabkan oleh beberapa jenis
spesies jamur, dan kadang-kadang satu gambaran klinis dapat disebabkan oleh beberapa
spesies dematofita sesuai dengan lokalisasi tubuh yang diserang. Istilah Tinea dipakai untuk
semua infeksi oleh dermatofita dengan dibubuhi tempat bagian tubuh yang terkena infeksi,
sehingga diperoleh pembagian dermatofitosis sebagai berikut :
1. Tinea kapitis : bila menyerang kulit kepala clan rambut .
2. Tinea korporis : bila menyerang kulit tubuh yang berambut (globrous skin).

14

3. Tinea kruris : bila menyerang kulit lipat paha, perineum, sekitar anus dapat meluas
sampai ke daerahgluteus, perut bagian bawah .
4. Tinea manus dan tinea pedis : Bila menyerang daerah kaki dan tangan, terutama telapak
tangan dan kaki serta sela-selajari.
5. Tinea Unguium : bila menyerang kuku .
6. Tinea Barbae : bila menyerang daerah dagu, jenggot, jambang dan kumis.
7. Tinea Imbrikata : bila menyerang seluruh tubuh dengan memberi gambaran klinik yang
khas.
PATOFISIOLOGI
Cara penularan jamur dapat secara angsung maupun tidak langsung.Penularan langsung
dapat secara fomitis, epitel, rambut yang mengandung jamur baik dari manusia, binatang,
atau tanah.Penularan tidak langsung dapat melalui tanaman, kayu yang dihinggapi jamur,
pakaian debu.Agen penyebabjuga dapat ditularkan melalui kontaminasi dengan pakaian,
handuk atau sprei penderita atau autoinokulasi dari tinea pedis, tinea inguium, dan tinea
manum.
1. Jamur ini menghasilkan keratinase yang mencerna keratin, sehingga dapat
memudahkan invasi ke stratum korneum.
2. Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya didalam jaringan
keratin yang mati.
3. Hifa ini menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke jaringan epidermis dan
menimbulkan reaksi peradangan.
4. Pertumbuhannya dengan pola radial di stratum korneum menyebabkan timbulnya
lesi kulit dengan batas yang jelas dan meninggi (ringworm).
5. Reaksi kulit semula berbentuk papula yang berkembang menjadi suatu reaksi
peradangan.
Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya kelainan di kulit adalah:
a) Faktor virulensi dari dermatofita
Virulensi ini bergantung pada afinitas jamur apakah jamur antropofilik, zoofilik,
geofilik. Selain afinitas ini massing-masing jamur berbeda pula satu dengan yang lain
dalam hal afinitas terhadap manusia maupun bagian-bagian dari tubuh
misalnya: Trichopyhton rubrum jarang menyerang rambut, Epidermophython
fluccosum paling sering menyerang liapt paha bagian dalam.
b) Faktor trauma
Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil lebih susah untuk terserang jamur.
c) Faktor suhu dan kelembapan
Kedua faktor ini jelas sangat berpengaruh terhadap infeksi jamur, tampak pada
lokalisasi atau lokal, dimana banyak keringat seperti pada lipat paha, sela-sela jari
paling sering terserang penyakit jamur.
d) Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan
Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi jamur dimana terlihat insiden
penyakit jamur pada golongan sosial dan ekonomi yang lebih rendah sering
ditemukan daripada golongan ekonomi yang baik.
e) Faktor umur dan jenis kelamin .

15

4. Memahami dan Menjelaskan Tanda dan Gejala


Tinea kapitis
Non-inflamasi atau gray patch
-

Gejala klinis terutama disebabkan oleh M. Audouinii dan M. Ferrigineum yang sering
ditemukan pada anak-anak.
Penyakit timbul akibat invasi rambut
ektothrix.
- Lesi bermula dari papul eritematosa yang
kecil disekitar rambut, kemudian papul
akan melebar dan membentuk bercak
yang menjadi pucat dan bersisik
mengelilingi batang rambut dan akhirnya
menyebar secara sentrifugal yang
melibatkan folikel rambut disekitarnya.
Keluhan penderita adalah rasa gatal, warna rambut menjadi abu-abu dan tidak
berkilau. Rambut mudah patah dan terlepas dari akarnya sehingga mudah dicabut
dengan pinset tanpa rasa nyeri yag menyebabkan alopesia setempat.

Black dot
-

Gejala yang timbul disebabkan oleh T. tonsurans


dan T. violaceum.
Lokasi arthrospores berada didalam batang rambut
yang membuat rambut menjadi lebih rapuh.
Rambut yang terinfeksi akan patah tepat pada
muara folikel dan yang tertinggal adalah ujung
rambut yang penuh dengan spora.
Pada infeksi black dot sering terjadi inflamasi
dimana peradangan terjadi dari folikulitis ke
kerion. Pada beberapa kasus tinea kapitis black dot
juga dapat ditemukan gangguan pada kuku dan
rambut yang hilang

Kerion
-

Kerion merupakan jenis tinea kapitis yang


bersifat inflamasi dan merupakan tinea
kapitis dengan peradangan yang berat.
Reaksi peradangan berupa pembengkakan
yang menyerupai sarang lebah dengan
serbukan
sel
radang
yang
padat
disekitarnya sehingga pada kulit kepala
tampak bisul-bisul kecil yang berkelompok
dan kadang-kadang ditutupi sisik-sisik
tebal.
16

dapat menimbulkan jaringan parut (sikatriks) dan berakibat alopesia yang menetap.
Jaringan parut yang menonjol kadang-kadang dapat terbentuk.

Favus
-

Favus merupakan gejala tinea yang jarang, gejala di


sebabkan T. schoenleinii. Organisme dapat
mempengaruhi kulit dan kuku juga hal ini di tandai
dengan warna krusta kekuningan yang dikenal
sebagai skutula disekitar rambut. Skutula memiliki
berbau yang khas yaitu berbau tikus moussy odor
dan rambut secara ekstensif akan hilang menjadi
alopesia dan atrofi.

Tinea barbae
Tipe Klinis
Tinea barbae biasanya menimbulkan lesi
yang unilateral dan lebih sering melibatkan area
jenggot daripada kumis atau bibir atas. Gejalanya
mempunyai 3 tipe klinis. Tipe klinis dari penyakit
ini terbagi menjadi tipe inflamasi/ deep berupa
lesi supuratif yang dalam serta bernodul, tipe
superficial berupa patch yang sebagian tanpa
rambut, berkrusta dan di superficial dengan
folikulitis dan tipe sirsinata.
1. Tipe inflamasi/ deep
Tipe ini biasanya disebabkan oleh T. mentagrophytes dan T. verrucosum. Tinea
barbae tipe inflamasi dianalogkan dengan tipe kerion pada tinea kapitis. Tipe deep
berkembang dengan lambat dan menghasilkan nodul yang menebal dan bengkak
seperti kerion. Lesi yang timbul berbentuk nodul dan seperti rawa disertai krusta
seropurulen. Bengkak pada tipe ini biasanya konfluen dan berbetuk infiltrasi difusa
seperti rawa dengan abses. Kulit yang terkena meradang, rambut-rambut menjadi
hilang, dan pus mungkin muncul melalui folikel sisa yang terbuka. Rambut-rambut di
daerah ini tidak mengkilat, rapuh, dan mudah diepilasi untuk mendemonstrasikan
sebuah massa purulen di sekitar akarnya. Pustulasi perifolikel dapat bergabung
membentuk saluran sinus dan kumpulan pus seperti abses, yang akhirnya menjadi lesi
alopecia. Umumnya lesi ini hanya terbatas pada satu bagian muka atau leher pada
laki-laki.
2. Tipe superfisial
Tipe superfisial dicirikan dengan folikulitis pustula yang tidak terlalu
meradang dan mungkin dihubungkan dengan T. violaceum atau T. Rubrum. Tipe
17

Superfisial dari tinea barbae menyerupai lesi pada tinea corporis. Ada lesi berbentuk
lingkaran dengan tepi vesikopustul. Reaksi host terhadap penyakit ini tidak terlalu
perah, meskipun alopecia mungkin timbul di pusat lesi.
Tipe ini disebabkan oleh lebih sedikit peradangan antropofil, bentuk tinea
barbae ini sangat menyerupai folikulitis bakteri, dengan eritema difusa ringan dan
papul folikular dan pustul. Rambut yang kusam dan rapuh membentuk infeksi
endotriks dengan T. violaceum sebagai etiologi yang lebih sering daripada T. rubrum.
Rambut yang terinfeksi biasanya mudah dicabut. Yang jarang, E. floccosuin mungkin
menyebabkan lesi verrukosa yang menyebar yang dikenal sebagai epidermofitosis
verrukosa.
3. Tipe sirsinata
Tipe ini sangat mirip dengan tinea sirsinata dari kulit glabrous, tinea barbae
sirsinata menunjukkan batas vesikopustular yang aktif dan menyebar dengan
lingkaran pusat dan rambut yang jarang-jarang pada daerah tersebut.
Gejala Klinis
Infeksi sering berawal pada leher atau dagu, tetapi gejala klinis dari Tine Barbae
tergantung pada patogen penyebab. Kadang-kadang dermatofitosis dapat berkembang tanpa
lesi khusus, tetapi selalu dengan rasa gatal.
Tinea yang disebabkan oleh dermatofita zoofilik lebih parah karena reaksi inflamasi
yang terjadi disebabkan oleh jamur yang lebih kuat.14 Dagu, pipi, dan leher sering terinfeksi.
Umumnya infeksi ini menyebabkan nodul yang inflamasi atau nodul-nodul dengan pustul
mulitpel dan aliran sinus pada permukaannya. Rambut dapat rontok dan patah, eksudat, pus
dan krusta menutupi permukaan kulit (kerion celsi). Rambut mudah dicabut dan tidak sakit.
Kadang-kadang muncul bersamaan dengan limfadenopati regional, sedangkan demam dan
malaise cukup jarang terjadi.
Ada gejala-gejala yang sangat jauh berbeda satu sama lain. Dua variasi gejala klinis
utama dibedakan.
Tipe tanpa inflamasi yang disebabkan oleh dermatofita antrofilik diawali dengan
patch datar dan eritema dengan tepi yang meninggi. Patch bersisik mungkin ditutupi papulpapul, pustule atau krusta. Rambut patah di dekat kulit dan dapat menyumbat folikel rambut.
Patch kulit mungkin soliter tetapi dapat juga multiple dan mungkin berbentuk annular. Patch
dapat bertahan hingga bertahun-tahun dan mungkin membesar. Kadang-kadang, morfologi
klinisnya menyerupai folikulitis bakteri, khususnya ketika folikel pustula telah berkembang
dan hilangnya rambut telah terlihat. Lesi pustula dengan rambut yang hilang menunjukkan
varian kronik dari infeksi jamur ini yang menyerupai sikosis (folikulitis pustula dari janggut).
Dengan demikian, penyakit itu disebut sycosiform tinea barbae.
Tipe dalam atau pustul dari tinea barbae dicirikan dengan adanya folikel yang berpustul dan
dalam yang membentuk nodul-nodul, seperti lesi kerion yang ditemukan pada Tinea capitis.
Lesi pustula ini diawali mikotik yang sesungguhnya dan pus sangat penuh pada artrokonidia
jamur. Reaksi yang terjadi bisa benar-benar parah dimana kebanyakan rambut menjadi patah
dilanjutkan resolusi dari penyakit ini. Alopecia dan bekas luka mungkin menetap. Lesi terlhat
seperti rawa dan membengkak. Rambut-rambut ini ketika diepilasi akan terlihat memiliki
sejenis pus, massa putih pada akar rambut dan mengelilingi jaringan di sekitarnya. Aliran
sinus meningkat dan merusak jaringan sekitar. Sedikit tekanan akan membangkitkan
ekstrusksi dari material purulen. Lesi ini mungkin soliter dan kebanyakan sering ditemukan
18

pada daerah maksila. Kadang-kadang keseluruhan area jenggot terkena dan indurasi verukosa
ungu kemerahan yang banyak juga terbentuk. Pembesaran kelenjar getah bening regional,
demam ringan, dan malaise mungkin muncul bersamaan pada infeksi yang parah, khususnya
yang disebabkan oleh T. verrucosum. Bibir atas biasanya terhindar dari tinea barbae, sangat
kontras jika dibandingkan dengan infeksi bakteri sycosis vulgaris.

Tinea unguium
Kuku jari kaki lebih sering terinfeksi dibandingkan
kuku jari tangan. Sekitar 80% tinea unguium terjadi pada
kaki. Gambaran klinis tinea unguium berdasarkan
klasifikasinya, yaitu:
1. Onikomikosis Distal Subungual (ODS)
Onikomikosis Distal Subungual (ODS) merupakan pola
tinea unguium yang paling sering terjadi. Infeksi dimulai
dari stratum korneum daerah hiponokium atau lipatan kuku, kemudian masuk ke subungual.
Onikomikosis Distal Subungual (ODS) sering dikaitkan dengan tinea pedis. Biasanya
disebabkan oleh T. rubrum.
2. Onikomikosis Subungual Proksimal (OSP)
Jamur masuk melalui kutikula lipatan kuku posterior kemudian berpindah sepanjang lipatan
kuku proksimal menginvasi matrik kuku. Pada tipe ini, paling sering disebabkan oleh T.
rubrum. Tipe ini selalu dikaitkan dengan keadaan immunocompromised. Banyak ditemukan
pada pasien HIV. Onikomikosis Subungual Proksimal (OSP) dapat mengenai satu atau dua
kuku. Gambaran klinis yang dapat ditemukan adalah bintik putih di bawah lipatan kuku
proksimal.
3. Onikomikosis Superfisial Putih (OSPT)
Pada tipe ini, jamur menginvasi permukaan dorsal kuku. Penyebab terbanyak adalah T.
mentagrophytes atau T. rubrum (pada anak-anak). Penyebab yang jarang Acremonium,
Fusarium, dan Aspergillus terreus. Permukaan lempeng kuku yang terinvasi oleh jamur
menunjukkan gambaran putih, seperti tepung/ serbuk kapur (chalky white) dan kadang mudah
retak.
Pada umumnya gambaran dermatofitosis terdiri atas bermacam macam ruam kulit
(polimorfi) dengan bagian tepi lebih aktif dan bagian tengah lebih tenang dan disertai rasa
gatal.
Tinea kruris
Gambaran klinis biasanya adalah lesi simetris di lipat paha kanan dan kiri. Mula
mula lesi ini berupa bercak eritematosa dan gatal, yang lama kelamaan meluas sehingga dapat
meliputi, skrotum, pubis, glutea bahkan sampai paha. Tepi lesi aktif, polisiklis, ditutupi
skuama, dan kadang kadang disertai dengan banyak papul eritema dan vesikel kecil kecil.
Pada bentuk kronis, lesi kulit hanya berupa bercak menebal hiperpigmentasi dengan sedikit
skuama. Erosi dan keluarnya cairan biasanya akibat garukan.
19

Tinea pedis
Ada 4 jenis tinea pedis interdigitalis,
moccasin, tipe akut ulserasi dan tipe
vesikobulosa semua dengan karakteristik
kulit masing-masing.
Interdigitalis
- Diantara jari 4 dan 5 terlihat
fisura yang dilingkari sisik
halus dan tipis.
- Dapat meluas ke bawah jari
(subdigital) dan ke sela jari yang lain.
- Sering terlihat maserasi. Aspek klinis berupa kulit putih dan rapuh. Dapat
disertai infeksi sekunder oleh bakteri sehingga terjadi selulitis, limfangitis,
limfadenitis, dan dapat pula terjadi erysipelas
Moccasin foot
- Pada seluruh kaki, dari telapak kaki, tepi sampai punggung kaki, terlihat kulit
menebal dan bersisikhalus dan seperti bedak
- Eritema biasanya ringan dan terlihat pada bagian tepi lesi
- Tepi lesi dapat dilihat papul dan kadang-kadang vesikel
Vesikobulosa
- Diakibatkan karena T.mentagrophytes
- Diameter vesikel lebih besar dari 3mm
- Jarang pada anak-anak, tapi etiologi yang sering terjadi pada anak-anak adalah
T.rubrum
- Vesikel pustul atau bula pada kulit tipis ditelapak kaki dan area periplantar
Tipe akut ulserasi
- Mempengaruhi telapak kaki dan terkait dengan maserasi dan kerusakan kulit
- Ko infeksi bakterial biasanya dari garam negatif kombinasi dengan
T.mentagrophytes menghasilkan vesikel pustul dan ulkus bernanah yang besar
pada permukaan plantar
Tinea Korporis
Gambaran klinis dimulai dengan lesi bulat atau lonjong
dengan tepi yang aktif dengan perkembangan kearah luar, bercakbercak bisa melebar dan akhirnya memberi gambaran yang
polisiklik,arsinar,dan sirsinar. Pada bagian pinggir ditemukan lesi
yang aktif yang ditandai dengan eritema, adanya papul atau
vesikel, sedangkan pada bagian tengah lesi relatif lebih tenang.
Tinea korporis yang menahun, tanda-tanda aktif menjadi hilang
dan selanjutnya hanya meninggalkan daerah hiperpigmentasi
saja . Gejala subyektif yaitu gatal, dan terutama jika berkeringat
dan kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan
Tinea korporis biasanya terjadi setelah kontak dengan
individu atau dengan binatang piaraan yang terinfeksi, tetapi
20

kadang terjadi karena kontak dengan mamalia liar atau tanah yang terkontaminasi.
Penyebaran juga mungkin terjadi melalui benda misalnya pakaian, perabot dan sebagainya
5. Memahami dan Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding

Letak

Faktok
resiko

Tinea kruris

Tinea Kapitis

Tinea Corporis

Tinea Pedis

Tinea
unguium

Lipatan paha,
daerah
genitokrural,
sekitar anus,
bokong, dan
kadang-kadang
sampai perut
bagian bawah.

Kulit dan
rambut kepala

Kulit tubuh tidak


berambut, bisa muncul
di seluruh bagian
tubuh, namun
umumnya muncul
pada lengan dan kaki.

Kaki, terutama pada


sela-sela jari dan
telapak kaki.
juga dikenal dengan
istilah athletes foot

Kuku

DM
Orang kulit
hitam
Anak-anak
pre-pubertas
Pekerja salon
Daerah padat
penduduk
Saling pakai
sisir

-Sirkulasi darah buruk.


-Usia masih sangat
muda atau sangat tua.
-Kondisi tempat
tinggal lembap, basah,
dan penuh sesak.
-Mengalami obesitas
akut.
-Sering melakukan
kontak fisik dengan
orang atau hewan yang
-Menjalani kemoterapi
atau mengonsumsi
obat-obatan steroid
yang bisa melemahkan
sistem imunitas.
-Menderita penyakit
yang membuat sistem
imunitas tubuh
melemah.
-Mengidap diabetes
tipe 1.
-Pernah terinfeksi
jamur sebelumnya.
-Mengalami
aterosklerosis atau
penyempitan dinding
arteri

-pemakaian sepatu
tertutup untuk waktu
yang lama,

Sama
dengan
Tinea Pedis

-Banyak
berkeringat.
Mengidap
penyakit kulit
lain.
Kelebihan berat
badan atau
obesitas.
-Memiliki
sistem kekebalan
tubuh yang
lemah.
-Berjenis
kelamin pria,
walaupun wanita
juga mungkin
terjangkit.
-Memakai
celana dalam
yang ketat atau
alat bantu atletik
yang tidak dicuci
setelah
digunakan.

-bertambahnya
kelembaban karena
keringat,
-pecahnya kulit
karena mekanis, dan
paparan terhadap
jamur di gedung olah
raga atau kolam
renang
-pemakaian kaus
kaki dengan bahan
yang tidak dapat
menyerap keringat
-kurangnya
kebersihan

21

Menggunakan
ruangan loker dan
kamar mandi
umum.
Etiologi

Manifestasi

T.rubrum,
T.mentagrophytes

-lesi berbatas
tegas.
-Peradangan pada
tepi lebih nyata
daripada
tengahnya.
-Efloresensi
terdiri atas
macam-macam
bentuk yang
primer dan
sekunder
(polimorf).
-Bila penyakit ini
menjadi menahun,
dapat berupa
bercak hitam
disertai sedikit
sisik.
-Erosi dan
keluarnya cairan
biasanya akibat
garukan.

Tricopyton
dan
Microsporum,
kecuali
T.Concentricu
m (penyebab
tersering
adalah M.
Canis dan T
tonsurans )
-Kerion
-Grey patch
ringworm
-Black dot
ringworm

Trichophyton rubrum
Trichophyton
mentagrophytes.

Gejala biasanya mulai


muncul 10 hari setelah
tubuh melakukan
kontak dengan jamur.
-Munculnya ruam
melingkar kemerahan
atau keperakan pada
kulit.
-Kulit bersisik.
-Terasa gatal
dan terjadi
peradangan.
-Muncul luka
melepuh dan berisi
nanah di sekitar ruam.
-Pada kasus yang
cukup parah, ruam
melingkar yang
muncul akan berlipat
ganda, tumbuh besar
dan mungkin menyatu.
- luka melepuh dan
bernanah bisa muncul
di sekitar ruam
melingkar. Kulit
dengan ruam
melingkat akan sedikit
terangkat dan kulit di
bawahnya terasa gatal.

epidermophyton
floccosum,
T.mentagrophytes, T.
rubrum, dan T.
tonsurans

T.rubrum
(tangan)
T.mentagro
phytes
(kaki)

Interdigital
tinea
pedis, umumnya
menginfeksi daerah
lembut antara jarijari kaki. gejala
berupa gatal,
kemerahan, selalu
tampak basah.

-sublungual
distalis

Chronic
hyperkeratotic tinea
pedis, merupakan
kondisi telapak kaki
kemerahan dengan
kerak yang kronis
pada penderita tinea
pedis. dapat
merasakan gatal atau
tidak merasakan
gejala sama sekali.
Acute
ulcerative tinea
pedis, adalah kondisi
munculnya bintikbintik berisi nanah
dan lepuhan-lepuhan
berisi cairan
Vesiculobull
ous athletes foot.
Gejala yang
ditimbulkan oleh
22

-bentuk
lateralis
-leukonikia
trikofita
-subungal
proksimalis
-distorfi
kuku total

penyakit ini adalah


kulit yang melepuh
atau adanya kantung
berongga (bula) pada
lapisan kulit yang
memerah di area
telapak kaki.

Diagnosis Banding Tinea Kruris


1. Candidosis intertriginosa
Kandidosis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh spesies Candida biasanya oleh
Candida albicans yang bersifat akut atau subakut dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit,
kuku, bronki.Penyakit ini terdapat di seluruh dunia, dapat menyerang semua umur, baik lakilaki maupun perempuan.
Patogenesisnya dapat terjadi apabila ada predisposisi baik endogen maupun eksogen.
Faktor endogen misalkan kehamilan karena perubahan pH dalam vagina, kegemukan karena
banyak keringat, debilitas, iatrogenik, endokrinopati, penyakit kronis orang tua dan bayi,
imunologik (penyakit genetik). Faktor eksogen berupa iklim panas dan kelembapan,
kebersihan kulit kurang, kebiasaan berendam kaki dalam air yang lama menimbulkan
maserasi dan memudahkan masuknya jamur, kontak dengan penderita.
Dapat mengenai daerah lipatan kulit, terutama ketiak, bagian bawah payudara, bagian
pusat, lipat bokong, selangkangan, dan sela antar jari; dapat juga mengenai daerah belakang
telinga, lipatan kulit perut, dan glans penis (balanopostitis). Pada sela jari tangan biasanya
antara jari ketiga dan keempat, pada sela jari kaki antara jari keempat dan kelima, keluhan
gatal yang hebat, kadang-kadang disertai rasa panas seperti terbakar.
Lesi pada penyakit yang akut mula-mula kecil berupa bercak yang berbatas tegas,
bersisik, basah, dan kemerahan. Kemudian meluas, berupa lenting-lenting yang dapat berisi
nanah berdinding tipis, ukuran 2-4 mm, bercak kemerahan, batas tegas, Pada bagian tepi
kadang-kadang tampak papul dan skuama. Lesi tersebut dikelilingi oleh lenting-lenting atau
papul di sekitarnya berisi nanah yang bila pecah meninggalkan daerah yang luka, dengan
pinggir yang kasar dan berkembang seperti lesi utama. Kulit sela jari tampak merah atau
terkelupas, dan terjadi lecet. Pada bentuk yang kronik, kulit sela jari menebal dan berwarna
putih.
2. Erytrasma
Erytrasma adalah penyakit bakteri kronik pada stratum korneum yang disebabkan oleh
Corynebacterium minitussismum, ditandai lesi berupa eritema dan skuama halus terutama di
daerah ketiak dan lipat paha. Gejala klinis lesi berukuran sebesar milier sampai plakat. Lesi
eritroskuamosa, berskuama halus kadang terlihat merah kecoklatan. Variasi ini rupanya
bergantung pada area lesi dan warna kulit penderita. Tempat predileksi kadang di daerah
intertriginosa lain terutama pada penderita gemuk. Perluasan lesi terlihat pada pinggir yang
23

eritematosa dan serpiginose. Lesi tidak menimbul dan tidak terlihat vesikulasi. Efloresensi
yang sama berupa eritema dan skuama pada seluruh lesi merupakan tanda khas dari
eritrasma. Skuama kering yang halus menutupi lesi dan pada perabaan terasa berlemak. Pada
pemeriksaan dengan lampu wood lesi terlihat berfluoresensi merah membara (coral red)
(Rasad, Asri, Prof.Dr. 2005)
3. Psoriasis
Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan residif,
ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar,
berlapis-lapis dan transparan, disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan Kobner. Tempat
predileksi pada skalp, perbatasan daerah tersebut dengan muka, ekstremitas ekstensor
terutama siku serta lutut dan daerah lumbosakral. Kelainan kulit terdiri atas bercak eritema
yang meninggi (plak) dengan skuama diatasnya. Eritema sirkumskrip dan merata, tetapi pada
stadium penyembuhan sering bagian di tengah menghilang dan hanya terdapat di pinggir.
Skuama berlapis-lapis, kasar dan berwarna putih seperti mika, serta transparan. Besar
kelainan bervariasi dapat lentikular, numular atau plakat, dapat berkonfluensi.
4. Dermatitis Seboroik
Dermatitis Seboroik merupakan penyakit inflamasi konis yang mengenai daerah kepala
dan badan. Prevalensi Dermatitis Seboroik sebanyak 1-5% populasi.Lebih sering terjadi pada
laki-laki daripada wanita. Penyakit ni dapat mengenai bayi sampa orang dewasa. Umumnya
pda bayi terjadi pada usia 3 bulan sedang pada dewasa pada usia 30-60 tahun. Kelainan kulit
berupa eritema dan skuama yang berminyak dan agak kekuningan dengan batas kurang tegas.
Bentuk yang berat ditandai dengan adanya bercak-bercak berskuama dan berminyak disertai
eksudat dan krusta tebal.
6. Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan Penunjang
Selain dari gejala-gejala khas setiap jamur, diagnosis suatu penyakit jamur harus
dibantu dengan pemeriksaan laboratorium, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Pemeriksaan preparat langsung


Pembiakan/Kultur
Reaksi imunologis
Biopsi atau pemeriksaan gambaran histopatologi
Pemeriksaan dengan sinar Wood
PEMERIKSAAN PREPARAT LANGSUNG

Untuk melihat apakah ada infeksi jamur perlu dibuat preparat langsung dari kerokan
kulit, rambut, atau kuku. Sediaan dituangi KOH 10%-40% dengan maksud melarutkan
keratin kulit atau kuku sehingga akan tinggal kelompok hifa. Sesudah 15 menit atau
sesudah dipanasi di atas api kecil, jangan sampai menguap, dilihat dibawah mikroskop,
dimulai dengan pembesaran 10 kali.

24

Adanya elemen jamur tampak berupa benang-benang bersifat kontur ganda. Selain
itu, tampak juga bitnik spora berupa bola kecil sebesar 1-3. Bahan-bahan yang
diperlukan untuk diperiksa didapat dari:
a. Kulit
Bahan diambil dan dipilih dari bagian lesi yang aktif, yaitu daerah pinggir. Terlebih
dahulu dibersihkan dengan alkohol 70% lalu dikerok dengan scalpel sehingga
memperoleh skuama yang cukup. Letakan di atas gelas objek, lalu dituangi KOH 10%.
b. Rambut
Rambut yang dipilih adalah rambut yang terputus-putus atau rambut yang warnanya
tidak mengkilat lagi, tuangi KOH 20%, lihat adanya infeksi endo atau ektotrik.
c. Kuku
Bahan yang diambil adalah masa detritus dari bawah kuku yang sudah rusak atau
dari bahan kukunya sendiri, selanjutnya dituangi dengan KOH 20-40% dan dilihat
dibawah mikroskop, dicari hifa atau spora.
Adapun tata cara pemeriksaan preparat langsung adalah sebagai berikut:
Pengambilan sampel
A. Alat alat yang dibutuhkan :
- Skalpel
- Pinset
- Alkohol 70%
- Kapas
- Kertas/wadah yang
bersih

B. Cara pengambilan sampel :


1.Bersihkan kulit yang akan dikerok dengan kapas alkohol 70% untuk
menghilangkan lemak, debu dan kotoran lainnya.
2.Keroklah bagian yang aktif dengan skalpel dengan arah dari atas kebawah (cara
memegang skalpel harus miring membentuk sudut 45 derajat ke atas).
3.Letakkan hasil kerokan kulit pada kertas atau wadah

Pembuatan sediaan
A.Alat alat yang dibutuhkan :
- Kaca objek
25

- Kaca penutup
- Lampu spiritus
- Pinset
- Reagen yaitu Larutan KOH 10% untuk kulit dan kuku, Larutan KOH 20% untuk
rambut

B.Cara pembuatan sediaan :


1. Teteskan 1-2 tetes larutan KOH 10% pada kaca objek.
2. Letakkan bahan yang akan diperiksa pada tetesan tersebut dengan menggunakan
pinset yang sebelumnya dibasahi dahulu dengan larutan KOH tersebut. Kemudian tutup
dengan kaca penutup.
3. Biarkan 15 menit atau dihangatkan diatas nyala api selama beberapa detik untuk
mempercepat proses lisis

Pemeriksaan
A. Alat yang digunakan : Mikroskop
B. Cara Pemeriksaan :
1. Periksa sediaan dibawah mikroskop perbesaran objektif 10 X
2. Kemudian dengan pembesaran 40 X untuk mencari adanya hypha dan atau spora,
akan tampak gambaran hifa dan spora tergantung jamur yang menyebabkan penyakitnya
contohnya :
-Terlihat gambaran hifa sebagai dua garis sejajar terbagi oleh sekat dan bercabang
maupun spora berderet (artrospora) pada Tinea (Dermatofitosis)
-Terlihat campuran hifa pendek dan spora spora bulat yang dapat berkelompok
(gambaran Meat ball and spagheti) pada Pitiriasis Versikolor (panu)

PEMERIKSAAN KULTUR DENGAN SABOURAUD AGAR


Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada medium
saboraud dengan ditambahkan chloramphenicol dan cyclohexamide (mycobyoticmycosel) untuk menghindarkan kontaminasi bakterial maupun jamur kontaminan.
Perbenihan pada suhu 24- 30C. Pembacaan diakukan dalam waktu 1-3 minggu. Koloni
yang tumbuh diperhatikan mengenai warna, bentuk, permukaan dan ada atau tidaknya
hifa.
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
a. Bentuk koloni
26

ada 3 bentuk koloni jamur, yaitu:

Koloni ragi
Makroskopis tampak bundar, lunak atau lembek dengan permukaan halus
atau rata, mengkilat, tidak berpigmen, warna kekuningan, seperti koloni
bakteri.
Koloni menyerupai ragi
Secara mikroskopis tampak sebagai sel tunggal dan kadang-kadang tampak
miselium semu (sel-sel panjang, tetapi tidak khas dan tidak bersekat).
Koloni filament
Secara makroskopis tampak seperti kapas berupa benang halus dengan
permukaan dan pinggir tidak rata.
b. Bentuk hifa

Menurut fungsinya:
-Hifa vegetative untuk perkembangan dan mengambil makanan
-Hifa reproduktif untuk membentuk dan memperbanyak diri dengan spora
Menurut jenisnya:
-Hifa berseptum
-Hifa tidak berseptum
Pembagian lain:
-Hifa sejati apabila panjang hifa lebih dari lebar
-Hifa semu
c. Bentuk spora

PEMERIKSAAN REAKSI IMUNOLOGIS


Dengan menyuntikan secara intrakutan semacam antigen yang dibuat dari koloni
jamur, reaksi (+) berarti infeksi oleh jamur (+), misalnya:
a. Reaksi trikofitin
Antigen yang dibuat dari pembiakan trikofitosis. Bila (+) berarti ada infeksi
trikofiton.
b. Reaksi histoplasmin
Antigen yang dibuat dari pembiakan Histoplasma. Bila (+) berarti infeksi
Histoplasma (+)
c. Reaksi sporotrikin
Antigen dibuat dari koloni Sporotricium schenkii. Bila (+) berarti infeksi oleh
spesies sporotrikum

BIOPSI
Dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis namun sensitifitasnya dan
spesifisitasnya rendah. Pengecatan dengan Peridoc AcidSchiff Pengecatan dengan
27

(hematoxylin and eosin stain , jamur akan tampak merah muda atau menggunakan
pengecatan methenamin silver, jamur akan tampak coklat atau hitam (Wiederkehr,
Michael. 2008).
PEMERIKSAAN DENGAN SINAR WOOD
Sinar Wood adalah sinar ultraviolet yang setelah melewati suatu saringan wood,
sinar yang tadinya polikromatis menjadi monokromatis dengan panjang gelombang 3600
A. sinar ini tidak dapat dilihat.
Bila sinar ini diarahkan ke kulit atau rambut yang mengalami infeksi oleh jamurjamur tertentu, sinar ini akan berubah menjadi dapat dilihat, dengan memberi warna
kehijauan atau fluoresensi. Bila pemeriksaan memberi fluoresensi maka pemeriksaan
sinar wood positif dan apabila tidak ada fluoresensi maka negatif. Jamur yang
memberikan fluoresensi adalah Microsporum lanosum, Microsporum audounii, M.canis,
dam Malassezia furfur (penyebab tinea vesikolor).

7. Memahami dan Menjelaskan Tatalaksana


Farmakologi
Terdapat banyak obat antijamur topikal untuk pengobatan infeksi dermatofit. Lokasi
ini sangat peka nyeri, jadi konsentrasi obat harus lebih rendah dibandingkan lokasi lain,
misalnya asam salisilat, asam benzoat, sulfur, dan sebagainya. Obat-obat topikal ini bisa
digunakan bila daerah yang terkena sedikit, tetapi bila infeksi jamur meluas maka lebih
baik menggunakan obat oral sistemik (Graham-Brown, 2002).
Menurut Bagian Farmakologi FK UI (1995), Bagian Kesehatan Anak FK UI (2002),
dan Nasution M.A. (2005), obat-obat pada infeksi jamur pada kulit ada 2 macam yaitu :
1) Obat topikal, misalnya :
a) Golongan Mikonazole,
b) Golongan Ketokonazole, dan sebagainya.
Pengobatan umumnya 2x/hari minimal selama 3 minggu atau 2 minggu sesudah tes
KOH negatif dan klinis membaik.

28

2) Obat per oral, misalnya :


a) Golongan Griseofulvin, dosis :
Anak : 10 mg/kgBB/hari (microsize).
5,5 mg/kgBB/hari (ultra-microsize).
Dewasa : 500-1000 mg/hari/
b) Golongan Ketokonazole, dosis :
Anak : 3-6 mg/kgBB/hari.
Dewasa : 1 tablet (200 mg)/hari.
c) Golongan Itrakonazole, dosis :
Anak : 3-5 mg/kgBB/hari.
Dewasa : 1 kapsul (100 mg)/hari.
d) Golongan Terbinafin, dosis :
Anak : 3-6 mg/kgBB/hari.
10-20 kg : 62,5 mg ( tablet)/hari.
20-40 kg : 125 mg ( tablet)/hari.
Dewasa : 1 tablet (250 mg)/hari.
Terapi lokal
Infeksi pada badan dan lipat paha dan lesi-lesi superfisialis, di daerah jenggot,
telapak tangan dan kaki, biasanya dapat diobati dengan pengobatan topikal saja.
1. Lesi-lesi yang meradang akut dengan vesikula dan eksudat harus dirawat dengan
kompres basah secara terbuka, dengan berselang-selang atau terus menerus. Vesikel
harus dikempeskan tetapi kulitnya harus tetap utuh.
2. Toksilat, haloprogin, tolnaftate dan derivat imidazol seperti mikonasol, ekonasol,
bifonasol, kotrimasol dalam bentuk larutan atau krem dengan konsentrasi 1-2%
dioleskan 2 x sehari akan menghasilkan penyembuhan dalam waktu 1-3 minggu.
3. Lesi hiperkeratosis yang tebal, seperti pada telapak tangan atau kaki memerlukan terapi
lokal dengan obat-obatan yang mengandung bahan keratolitik seperti asam salisilat 36%. Obat ini akan menyebabkan kulit menjadi lunak dan mengelupas. Obat-obat
keratolitik dapat mengadakan sensitasi kulit sehingga perlu hati-hati kalau
menggunakannya.
4. Pengobatan infeksi jamur pada kuku, jarang atau sukar untuk mencapai kesembuhan
total. Kuku yang menebal dapat ditipiskan secara mekanis misalnya dengan kertas
amplas, untuk mengurangi keluhan-keluhan kosmetika. Pemakaian haloprogin lokal atau
larutan derivat asol bisa menolong. Pencabutan kuku jari kaki dengan operasi, bersamaan
dengan terapi griseofulvin sistemik, merupakan satu-satunya pengobatan yang bisa
diandalkan terhadap onikomikosis jari kaki.

Terapi sistemik
Pengobatan sistemik pada umumnya mempergunakan griseofulvin. Griseofulvin
adalah suatu antibiotika fungisidal yang dibuat dari biakan spesies penisillium. Obat ini
sangat manjur terhadap segala jamur dermatofitosis. Griseofulvin diserap lebih cepat
29

oleh saluran pencernaan apabila diberi bersama-sama dengan makanan yang banyak
mengandung lemak, tetapi absorpsi total setelah 24 jam tetap dan tidak dipengaruhi
apakah griseofulvin diminum bersamaan waktu makan atau diantara waktu makan.
Dosis rata-rata orang dewasa 500 mg per hari. Pemberian pengobatan dilakukan 4 x
sehari, 2 x sehari atau sekali sehari. Untuk anak-anak dianjurkan 5 mg per kg berat badan
dan lamanya pemberian adalah 10 hari. Salep ketokonasol dapat diberikan 2 x sehari
dalam waktu 14 hari.
Infeksi
Rekomendasi
Alternatif
Tinea
Terbinafine
250 Itraconazole 200 mg/hr /3-5 bulan
unguium

mg/hr

(Onychomycos untuk
is)

minggu atau 400 mg/hr seminggu per bulan

kuku

jari selama 3-4 bulan berturut-turut.

tangan, 12

Fluconazole 150-300 mg/ mgg s.d

minggu untuk kuku sembuh (6-12 bln) Griseofulvin 500-

Tinea capitis

jari kaki

1000

Griseofulvin

bulan)
Terbinafine 250 mg/hr/4 mgg

500mg/day

Itraconazole 100 mg/hr/4mgg

sembuh

sembuh

(12-18

(6-8

minggu)
Griseofulvin
mg/hr
sembuh

Tinea cruris

s.d

10mg/kgBB/hari) Fluconazole 100 mg/hr/4 mgg

s/d
Tinea corporis

mg/hr

500 Terbinafine 250 mg/hr selama 2-4


sampai minggu

Itraconazole

1 mgg.

dikombinasikan

Fluconazole

dengan

selama 4 mgg.

mg/hr

mg/hr

(4-6 selama 15 hr atau 200mg/hr selama

minggu), sering

imidazol.
Griseofulvin

100

150-300

mg/mggu

500 Terbinafine 250 mg/hr selama 2-4


sampai mgg Itraconazole 100

sembuh (4-6 minggu)

mg/hr selama 15 hr atau 200 mg/hr


selama 1 mgg.
Fluconazole 150-300 mg/hr selama 4

Tinea pedis

mgg.
Griseofulvin 500mg/hr Terbinafine 250 mg/hr selama 2-4
sampai sembuh (4-6 mgg Itraconazole 100
minggu)

mg/hr selama 15 hr atau 200mg/hr


selama 1 mgg.
30

Fluconazole 150-300 mg/mgg selama 4


mgg.

Chronic and/or Terbinafine

250 Itraconazole 200 mg/hr selama 4-6

widespread

mg/hr selama 4-6 mgg. Griseofulvin 500-

non-

minggu

1000 mg/hr sampai sembuh (3-6 bulan).

responsive
tinea.
Non farmakologi
Pencegahan
Menurut Brooks (2001) dan Graham-Brown (2002), infeksi berulang pada Tinea
kruris dapat terjadi melalui proses autoinokulasi reservoir lain yang mungkin ada di
tangan dan kaki (Tinea pedis, Tinea unguium). Jamur diduga berpindah ke sela paha
melalui kuku jari-jari tangan yang dipakai menggaruk sela paha setelah menggaruk kaki
atau melalui handuk. Untuk mencegah infeksi berulang, daerah yang terinfeksi dijaga
agar tetap kering dan terhindar dari sumber-sumber infeksi serta mencegah pemakaian
peralatan mandi bersama-sama (Brooks, 2001).
Menurut Nasution M.A. (2005), disamping pengobatan, yang penting juga adalah
nasehat kepada penderita misalnya pada penderita dermatofitosis, disarankan agar :
1) Memakai pakaian yang tipis.
2) Memakai pakaian yang berbahan cotton.
3) Tidak memakai pakaian dalam yang terlalu ketat.
Oleh karena itu, berikan anjuran-anjuran pada pasien agar tidak terjadi infeksi
berulang. Anjurkan pasien menggunakan handuk terpisah untuk mengeringkan daerah
sela paha setelah mandi, anjurkan pasien untuk menghindari mengenakan celana ketat
untuk mencegah kelembaban daerah sela paha, anjurkan pasien dengan Tinea kruris yang
mengalami obesitas untuk menurunkan berat badan, dan anjurkan pasien untuk memakai
kaus kaki sebelum mengenakan celana untuk meminimalkan kemungkinan transfer
jamur dari kaki ke sela paha (autoinokulasi). Bubuk antifungal, yang memiliki manfaat
tambahan pengeringan daerah sela paha, mungkin dapat membantu dalam mencegah
kambuhnya Tinea kruris (Wiederkehr, 2012).
Komplikasi
Pada penderita Tinea kruris dapat terjadi komplikasi infeksi sekunder oleh
organisme candida atau bakteri. Pemberian obat steroid topikal dapat mengakibatkan
eksaserbasi jamur sehingga menyebabkan penyakit menyebar (Wiederkehr, 2012).

31

Prognosis
Prognosis Tinea kruris akan baik, asalkan kelembaban dan kebersihan kulit selalu
dijaga (Siregar, 2004).
Perkembangan penyakit dermatofitosis dipengaruhi oleh bentuk klinik dan penyebab
penyakitnya disamping faktor-faktor yang memperberat atau memperingan penyakit.
Apabila faktor-faktor yang memperberat penyakit dapat dihilangkan, umumnya penyakit
ini dapat hilang sempurna.
8. Memahami dan Menjelaskan Cara Menjaga Kesehatan Kulit Menurut
Pandangan Islam
Menjaga kulit dari sinar Matahari Matahari memiliki peran utama dalam merusak
kulit. Anda perlu melindungi kulit dari matahari guna mencegah penuaan pada kulit.
Matahari sangat berpengaruh dalam membuat kulit berkerut, kering, dan membuat warna
kulit berubah; Penjarangan kulit, tekstur kulit, penipisan kulit serta penyakit kulit yang
berhubungan dengan paparan sinar matahari.
Perintah menutup aurat
Aurat diambil dari perkataan Arab 'Aurah' yang berarti keaiban. Manakala dalam
istilah fiiah aurat diartikan sebagai bagian tubuh badan seseorang yang wajib ditutup atau
dilindungi dari pandangan.
Perintah menutup aurat telah difirmankan oleh Allah s.w.t dalam surah al-ahzab ayat
33
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah
laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat
dan ta'atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak
menghilangkan dosa dari kamu dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
Manfaat menutup aurat:
1. Selamat dari adzab Allah (adzab neraka)
Ada dua macam penghuni Neraka yang tak pernah kulihat sebelumnya;
sekelompok laki-laki yang memegang cemeti laksana ekor sapi, mereka mencambuk
manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, sesat dan
menyesatkan, yang dikepala mereka ada sesuatu mirip punuk unta. Mereka (wanitawanita seperti ini) tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya. Sedangkan
bau surga itu tercium dari jarak yang jauh (HR. Muslim).
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan
Wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang ialah mereka yang menutup
sebagian tubuhnya dan menampakkan sebagian lainnya dengan maksud menunjukkan
kecantikannya.
2.

Terhindar dari pelecehan


Banyaknya pelecehan seksual terhadap kaum wanita adalah akibat tingkah laku
mereka sendiri. Karena wanita merupakan fitnah (godaan) terbesar. Sebagaiman sabda
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam,
32

Sepeninggalku tak ada fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada
wanita. (HR. Bukhari)
Islam telah menggariskan batasan aurat pada lelaki dan wanita.Aurat asas pada lelaki
adalah menutup antara pusat dan lutut. Manakala aurat wanita pula adalah menutup
seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan.
1. Aurat Ketika Sembahyang
Aurat wanita ketika sembahyang adalah menutup seluruh badan kecuali muka dan tapak
tangan.
2. Aurat Ketika Sendirian
Aurat wanita ketika mereka bersendirian adalah bahagian anggota pusat dan lutut. Ini
bererti bahagian tubuh yang tidak boleh dilihat antara pusat dan lutut.
3. Aurat Ketika Bersama Mahram
Pada asasnya aurat seseorang wanita dengan mahramnya adalah antara pusat dan lutut.
Walau pun begitu wanita dituntut agar menutup mana-mana bahagian tubuh badan yang
boleh menaikkan syahwat lelaki walaupun mahram sendiri.
Perkara ini dilakukan bagi menjaga adab dan tatsusila wanita terutana dalam menjaga
kehormatan agar perkara-perkara sumbang yang tidak diingini tidak akan berlaku.
Syarak telah menggariskan golongan yang dianggap sebagai mahram kepada seseorang
wanita:
1.Suami
2.Ayah mertua
3.Anak-anak lelaki termasuk cucu sama ada dari anak lelaki atau perempuan
4. Saudara lelaki kandung atau seibu atau sebapak
5. Anak saudara lelaki karena mereka ini tidak boleh dinikahi selama-lamanya
6. Anak saudara dari saudara perempuan
7. Sesama wanita sama ada kaitan keturunan atau seagama
8. Hamba sahaya
9. Pelayan yang tidak ada nafsu syahwat
10. Anak-anak kecil yang belum mempunyai syahwat terhadap wanita. Walau pun begitu,
bagi kanak-kanak yang telah mempunyai syahwat tetapi belum baligh,wanita dilarang
menampakkan aurat terhadap mereka.
Berwudhu
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang
menyucikan/membersihkan diri. (Al-Baqarah : 222)
Ajaran kebersihan dalam Agama Islam berpangkal atau merupakan konsekusensi
dari pada iman kepada Allah, berupaya menjadikan dirinya suci/bersih supaya Ia
berpeluang mendekat kepada Allah SWT.
Kebersihan itu bersumber dari iman dan merupakan bagian dari iman. Dengan
demikian kebersihan dalam Islam mempunyai aspek ibadah dan aspek moral, dan karena
itu sering juga dipakai kata bersuci sebagai padanan kata membersihkan/melakukan
kebersihan. Ajaran kebersihan tidak hanya merupakan slogan atau teori belaka, tetapi
33

harus dijadikan pola hidup praktis, yang mendidik manusia hidup bersih sepanjang masa,
bahkan dikembangkan dalam hukum Islam. Dalam rangka inilah dikenal sarana-sarana
kebersihan yang termasuk kelompok ibadah, seperti : wudhlu, tayamum, mandi (ghusl),
pembersihan gigi (siwak).
Adanya kewajiban shalat 5 waktu sehari merupakan jaminan terpeliharanya
kebersihan badan secara terbatas dan minimal, karena ibadah shalat itu baru sah kalau
orang terlebih dahulu membersihkan diri dengan berwudhlu. Demikian juga ibadah
tersebut baru sah jika pakaian dan tempat dimana kita melakukannya memang bersih.
Jadi jaminan kebersihan diri, pakaian dan lingkungan mereka yang melaksanakannya.
Disinilah letaknya ibadah itu ikut berperan membina kesehatan jasmani selain tentunya
peran utamanya membina kesehatan jiwa/rohani manusia.

34

DAFTAR PUSTAKA
1. Baligni K, Vardi VL, Barzegar MR et al. Extensive tinea corporis with photosensivity.:
case report. Indian J. Dermatol 2009,54:57-59
2. Budimulja, Unandar. 2010. Mikosis (Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Ed.6 p.89-105).
Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
3. Bennet, J.E.: Antumicrobial agents; in: Goodman & Gilmans. Brunton, L.L: Lazo, J.S.
and Parker, K.L: The Pharmacological Basis of Therapeutics; 11th ed.pp. 1232 (McGrawHill, Medical Publishing Division, New York 2006)
4. Nasution MA, Muis Kamaliah, Juwono, dkk. Diagnosis dan penatalaksanaan
dermatofitosis. Cermin Dunia Kedokteran, edisi khusus 1992, 80:116-118
5. Siregar, R.S,Sp.KK. 2002. Penyakit Jamur Kulit Edisi 2. Jakarta: Buku Kedokteran EGC
6. http://www.bekamhijamah.com/index.php?
Sehat_secara_Islam_dengan_dr.Aldjoefrie:Menjaga_kesehatan_kulit_badan_dan_wajah_d
engan_sistem_Islam

35

Anda mungkin juga menyukai