Anda di halaman 1dari 5

KARAKTERISTIK CAMPURAN ASPAL BETON AC-WC

YANG MENGGUNAKAN LIQUID ASBUTON DENGAN VARIASI


PENAMBAHAN ASPAL MINYAK PENETRASI 60/70

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pertumbuhan volume lalulintas yang meningkat pesat memberikan dampak
terhadap permintaan akan pembangunan struktur perkerasan jalan dan pemakaian material
yang digunakan. Terutama untuk kondisi di Indonesia dimana beban lalu lintas yang
berlebihan (overloading) sering terjadi dan temperatur udara yang cukup tinggi, sehingga
perlu pertimbangan khusus dalam melakukan perencanaan campuran aspal termasuk
penggunaan bahan pengikat (aspal) untuk meningkatkan daya tahan terhadap retak dan
deformasi permanen.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, terdapat 2

(dua) masalah utama pada

pekerjaan aspal di Indonesia. Pertama adalah kebutuhan aspal Nasional untuk


pemeliharaan, peningkatan dan pengembangan aksebilitas transportasi jalan adalah sekitar
1.200.000 ton/tahun yang tidak dapat dipenuhi produksi aspal dalam negeri, sehingga
setengah dari jumlah tersebut masih harus diimpor. Masalah yang kedua adalah tidak
tercapainya umur rencana akibat kerusakan prematur yang diindikasikan terjadi pelunakan
serta oksidasi pada aspal, karena temperatur tinggi. Salah satu alternatif yang dapat
dipertimbangkan untuk mengurangi impor aspal sekaligus memperbaiki kinerja campuran
beraspal adalah memanfaatkan Liquid Asbuton
Pada saat ini, lapis perkerasan di Indonesia menggunakan campuran aspal panas,
baik untuk pembangunan jalan baru, pemeliharaan ataupun peningkatan jalan. Campuran
beraspal panas adalah kombinasi antara aggregat yang dicampur merata dan dilapisi oleh
aspal. Disebut campuran aspal panas (hot mix) karena dalam proses pencampurannya
dilakukan pemanasan dengan temperatur tertentu untuk mengeringkan dan mencairkan
aspal agar lebih mudah dicampur. Campuran beraspal panas yang sering digunakan adalah
lapis beton aspal atau Asphalt Concrete (AC). Lapis beton aspal adalah campuran beton
aspal yang memiliki susunan aggregat dengan gradasi yang menerus yang mengandalkan
ikatan saling mengunci (interlocking) diantara butir-butir aggregatnya. Kelemahan

campuran aspal beton adalah dalam hal kelenturan dan keawetannya, selain itu campuran
aspal beton rentan terhadap retak.
B. Rumusan Masalah
Metoda yang digunakan pada pengkajian Karakteristik Campuran aspal beton yang
menggunakan Liquid Asbuton dengan variasi penambahan aspal minyak ini adalah metoda
eksprimen yang dilakukan di Laboratorium Bidang dan Pengembangan Teknologi
Binamarga Propinsi Sulawesi Selatan adapun komposisi dan variasi aspal yang akan diteliti
adalah 100 % Aspal minyak ,menggunakan Liquid asbuton, 40 % Liquid asbuton dan 60
aspal minyak, 50 % Liquid asbuton dan 50 % aspal minyak, dan 60 Liquid asbuton dan 40
aspal minyak dan 100 % Aspal Liquid atau dapat diberi kode

( LA. 0, LA 40, LA 50 dan

LA 60 , LA 100).

C. Tujuan Penulisan
Pengujian aspal bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan kinerja dari aspal yang
akan digunakan. Pengujian Aspal penetrasi 60/70 adalah Pengujian yang dilakukan untuk
mengetahui sifat-sifat aspal meliputi pengujian penetrasi, titik lembek, titik nyala,
daktilitas, berat jenis, kelarutan dan Thin Film Oven Test (TFOT) dengan standar Bina
Marga.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Lapis Beton Aspal Lapis Aus (Wearing Course)
Lapis Beton Aspal (Laston) adalah lapisan penutup konstruksi perkerasan jalan
yang mempunyai nilai struktural. Campuran ini terdiri atas agregat bergradasi menerus
dengan aspal keras, dicampur, dihamparkan dan dipadatkan dalam keadaan panas pada
suhu tertentu (Bina Marga Dept.PU, 1999).
Muklis (2007), melakukan pengujian Modulus Resilien dan pengujian Fatigue
untuk

laston lapis aus (AC-WC) yang dibuat dari aspal modifikasi dengan nama

perdagangan aspal SUPERCOAT 51. Hasil pengujian Modulus Resilien dengan alat
UMATTA menunjukkan bahwa pada suhu pengujian 30C dan 60C

campuran

menggunakan aspal supercoat menghasilkan nilai Modulus Resilien (2996 Mpa dan 247,1
Mpa) yang lebih tinggi dibanding campuran menggunakan aspal Pen 60/70 (2417 Mpa dan
225,15 MPa).Pada suhu pengujian 45C

campuran menggunakan aspal Supercoat

mempunyai nilai Modulus resilien (469,65 Mpa) yang sedikit lebih rendah dari pada
campuran menggunakan aspal Pen 60/70 (504,2 Mpa)
Erlangga (2008), melakukan penelitian tentang Kinerja Kelelahan Campuran Beton
Aspal Lapis Pengikat (AC-BC) dengan subtitusi Buton granular Asphalt (BGA) 15/25
Lawele. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan 5% dan 10% BGA
Lawele pada campuran AC-BC, dapat menaikkan Stabilitas Marshall (BGA-5 = 1201,35
kg, BGA-10 = 1212,77 kg dan BGA-0 = 1066,81 kg). Dengan penambahan BGA
memberikan Nilai Kekakuan Modulus Umatta lebih besar sehingga makin tahan terhadap
beban lalu lintas (BGA-5 = 1247 Mpa, BGA-10 = 1364 Mpa dan BGA-10 = 929,3 Mpa).
Nilai Modulus Kekakuan Lentur Awal dari Pengujian Fatique memberikan nilai yang lebih
besar dengan menggunakan BGA 5 dan BGA 10 dibandingkan BGA 0 dengan tingkat
pembebanan 0,1 kN, 0,15 kN dan 0,20 kN.Nilai FE BGA 0 = 18,085 Mpa, 16,042 Mpa,
15,264 Mpa ; BGA-5 = 24,786 Mpa, 21,783 Mpa, 20,939 Mpa dan BGA -10 = 50,962
Mpa, 36,743 Mpa, 32,645 Mpa). Dengan demikian pengujian Umatta dan Marshall
menunjukkan bahwa campuran menggunakan BGA Lawele didapat Modulus Kekakuan
yang lebih tinggi dan Stabilitas Marshall yang tinggi, sehingga diindikasikan dapat
memperpanjang umur kelelahan.
Kekuatan perkerasan beton aspal diperoleh dari struktur agregat yang saling
mengunci, menghasilkan geseran internal yang tinggi dan saling melekat bersama oleh

lapis tipis aspal perekat diantara butiran agregat. Oleh sebab itu beton aspal memiliki sifat
stabilitas tinggi dan relatif kaku, yaitu tahan terhadap pelelehan plastis namun cukup peka
terhadap retak, sehingga dengan demikian campuran ini cukup peka terhadap variasi kadar
aspal dan perubahan gradasi agregat.
Lapis Beton Aspal Lapis Aus (Wearing Course) adalah merupakan lapisan paling
atas dari struktur perkerasan yang berhubungan langsung dengan roda kendaraan,
mempunyai tekstur yang lebih halus dibandingkan dengan Laston Lapis Aus (Binder
Course). Disamping sebagai pendukung beban lalu lintas, lapisan ini mempunyai fungsi
utama sebagai pelindung konstruksi dibawahnya dari kerusakan akibat pengaruh air dan
cuaca, sebagai lapisan aus dan menyediakan permukaan jalan yang rata dan tidak licin
(Bina Marga Dept.PU, 1987).
B. Pengolahan Data
Data yang tersedia merupakan data yang diperoleh dari hasil pengujian
laboratorium dengan variasi penambahan aspal minyak penetrasi 60/70. Data diolah
secara statistik dengan menggunakan program komputer IBM SPSS untuk mengetahui
adanya keterkaitan antara variasi penambahan aspal minyak penetrai 60/70 dengan kadar
aspal optimum, rongga dalam campuran (VIM), rongga diantara (VMA), rongga terisi
aspal (VFB), stabilitas marshall, kelelahan dan marshall quotient.

Data hasil perencaan sifat-sifat campuran AC - WC


Hasil Pengujian

Persyaratan

Sifat-sifat Campuran
LA.0

LA.40

LA.50

LA.60

LA.100

Kadar aspal optimum,


%

5,75

6,15

6,35

6,75

Rongga dalam
campuran (VIM), %

4,25

4,40

4,55

5,40

> 5,5

3,5 5,5

Rongga diantara
(VMA), %

17,5

17,60

17,80

18,90

> 19,48

Min. 15

Rongga terisi aspal


(VFB) %

75,0

73,0

71,5

70,0

< 65

Min. 65

Stabilitas Marshall, kg

1330

1720,0

1865

1900

2249,7

Min. 800

4,8

4,25

3,85

3,60

3,39

Min. 3

277,08

404,71

484,41

527,77

663,63

Min. 250

Kelelehan, mm
Marshall Quotient,
kg/mm