Anda di halaman 1dari 11

DEFINISI, INSTRUMENTASI, PRINSIP KERJA, DAN METODE ANALISIS

GAS CROMATOGRAPHY MASS SPECTROMETRY (GCMS)

A.

Defenisi Gas Cromatografy Mass Spectrometry (GCMS)


GCMS merupakan metode pemisahan senyawa organik yang menggunakan dua

metode analisis senyawa yaitu kromatografi gas (GC) untuk menganalisis jumlah
senyawa secara kuantitatif dan spektrometri massa (MS) untuk menganalisis struktur
molekul senyawa analit.
Kromatografi

gas-spektrometer

massa

(GC-MS)

adalah

metode

yang

mengkombinasikan kromatografi gas dan spektrometri massa untuk mengidentifikasi


senyawa yang berbeda dalam analisis sampel. Kromatografi gas dan spketometer
masa memilki keunikan masing-masing dimana keduanya memiliki kelebihan dan
kekurangan. Dengan menggambungkan kedua teknik tersebut diharapkan mampu
meningkatkan kemamapuan dalam menganalisis sampel dengan mengambil kelebihan
masing-masing teknik dan meminimalisir kekurangannya.
Kromatografi gas dan spketometer masa dalam banyak hal memiliki banyak
kesamaan dalam tekniknya. Untuk kedua teknik tersebut, sampel yang dibutuhkan
dalam bentuk fase uap, dan keduanya juga sama-sama membutuhkan jumlah sampel
yang sedikit ( umumnya kurang dari 1 ng). Disisi lain, kedua teknik tersebut memiliki
perbedaan yang cukup besar yakni pada kondisi operasinya. Senyawa yang terdapat
pada kromatografi gas adalah senyawa yang digunakan untuk sebagai gas pembawa
dalam alat GC dengan tekanan kurang lebih 760 torr, sedangkan spketometer massa
beroperasi pada kondisi vakum dengan kondisi tekanan 10-6 10-5 torr.
Gas kromatografi merupakan salah satu teknik spektroskopi yang menggunakan
prinsip pemisahan campuran berdasarkan perbedaan kecepatan migrasi komponenkomponen penyusunnya. Gas kromatografi biasa digunakan untuk mengidentifikasi
suatu senyawa yang terdapat pada campuran gas dan juga menentukan konsentrasi
suatu senyawa dalam fase gas.
Spektroskopi massa adalah suatu metode untuk mendapatkan berat molekul
dengan cara mencari perbandingan massa terhadap muatan dari ion yang muatannya
diketahui dengan mengukur jari-jari orbit melingkarnya dalam medan magnetik seragam.

Penggunaan kromatografi gas dapat dipadukan dengan spektroskopi massa.


Paduan keduanya dapat menghasilkan data yang lebih akurat dalam pengidentifikasian
senyawa yang dilengakapi dengan struktur molekulnya.
Kromatografi gas ini juga mirip dengan distilasi fraksional, karena kedua proses
memisahkan komponen dari campuran terutama berdasarkan pada perbedaan titik
didih (atau tekanan uap). Namun, distilasi fraksional biasanya digunakan untuk
memisahkan komponen-komponen dari campuran pada skala besar, sedangkan GC
dapat digunakan padaskala yang lebih kecil (yaitu mikro) (Pavia:2006).

B.

Instrumentasi Cromatografy Mass Spectrometry (GCMS)


Rangkaian instrumentasi untuk gas kromatografi dan spekstroskopi massa

bergabung menjadi satu kesatuan rangkaian yang sering disebut dengan GCMS.
Secara umum rangkaian GCMS :

Gambar 1. Diagram Alir Kromatografi Gas-Cair


(Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Gas_chromatographydiakses tanggal 12 Des
2011)
Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing instrument pada rangkaian
GCMS.
1.

Instrumentasi Gas Kromatografi

a.

Carrier Gas Supply

Gas pembawa (carrier gas) pada kromatografi gas sangatlah penting. Gas yang
dapat digunakan pada dasarnya haruslah inert, kering, dan bebas oksigen. Kondisi
seperti ini dibutuhkan karena gas pembawa ini dapat saja bereaksi dan dapat
mempengaruhi gas yang akan dipelajari atau diidentifikasi.
b.

Control System
Berfungsi mengontrol tekanan dan laju fase gerak yang masuk ke kolom dan

mengontrol suhu oven.


c.

Injeksi Sampel (Injection Port)


Sejumlah

kecil

sampel

yang

akan

dianalisis

diinjeksikan

pada

mesin

menggunakan semprit kecil. Jarum semprit menembus lempengan karet tebal


(Lempengan karet ini disebut septum) yang mana akan mengubah bentuknya kembali
secara otomatis ketika semprit ditarik keluar dari lempengan karet tersebut.
Dalam pemisahan dengan GLC cuplikan harus dalam bentuk fase uap. Tetapi
kebanyakan senyawa organik berbentuk cairan dan padatan. Oleh karena itu,
senyawa yang berbentuk cairan dan padatan pertama-tama harus diuapkan. Ini membutuhkan pemanasan sebelum masuk dalam kolom. Panas itu terdapat pada tempat
injeksi. Namun demikian suhu tempat injeksi tidak boleh terlalu tinggi, sebab
kemungkinan akan terjadi perubahan karena panas atau penguraian dari senyawa
yang akan dianalisa. Kita juga tidak boleh menginjeksikan cuplikan terlalu banyak,
karena GC sangat sensitif. Biasanya jumlah cuplikan yang diinjeksikan pada waktu
kita mengadakan analisa 0,5 -50 ml gas dan 0,2 - 20 ml untuk cairan seperti pada
gambar di bawah.
d.

Oven
Oven digunakan untuk memanaskan column pada temperature tertentu sehingga
mempermudah proses pemisahan komponen sample. Biasanya oven memiliki
jangkauan suhu 30oC 320oC.

e.

Kolom
Kolom merupakan jantung dari kromatografi gas. Ada beberapa bentuk kolom,

diantaranya lurus, bengkok, misal berbentuk V atau W, dan kumparan/spiral. Kolom


selalu merupakan bentuk tabung. Berisi fasa diam, sedangkan fasa bergerak akan
lewat didalamnya sambil membawa sample. Secara umum terdapat 2 jenis kolom, yaitu:

1) Packed column, umumnya terbuat dari glass atau stainless steel coil dengan panjang
1 5 m dan diameter kira-kira 5 mm.
2) Capillary column, umumnya terbuat dari purified silicate glass dengan panjang 10100 m dan diameter kira-kira 250 mm. Beberapa jenis stationary phase yang sering
digunakan:

Polysiloxanes untuk nonpolar analytes/sample.

Polyethylene glycol untuk polar analytes/sample.

Inorganic atau polymer packing untuk sample bersifat small gaseous species.
Ada dua tipe utama kolom dalam kromatografi gas-cair. Tipe pertama, tube

panjang dan tipis berisi material padatan; Tipe kedua, lebih tipis dan memiliki fase diam
yang berikatan dengan pada bagian terdalam permukaannya. Ada tiga hal yang dapat
berlangsung pada molekul tertentu dalam campuran yang diinjeksikan pada kolom:

Molekul dapat berkondensasi pada fase diam.

Molekul dapat larut dalam cairan pada permukaan fase diam

Molekul dapat tetap pada fase gas

2.

Instrumentasi Spekstroskopi massa

a.

Sumber Ion
Setelah analit melalui kolom kapiler, ia akan diionisasi. Ionisasi pada spektroskopi

massa yang terintegrasi dengan GC ada dua, yakni Electron Impact ionization (EI) atau
Chemical Ionization (CI), yang lebih jauh lagi terbagi menjadi negatif (NCI) dan positif
(PCI). Berikutnya akan dijelaskan ionisasi EI. Ketika analit keluar dari kolom kapiler, ia
akan diionisasi oleh elektron dari filamen tungsten yang diberi tegangan listrik. Ionisasi
terjadi bukan karena tumbukan elektron dan molekul, tapi karena interaksi medan
elektron dan molekul, ketika berdekatan. Hal tersebut menyebabkan satu elektron lepas,
sehingga terbetuk ion molekular M+, yang memiliki massa sama dengan molekul netral,
tetapi bermuatan lebih positif. Adapun perbandingan massa fragmen tersebut dengan
muatannya disebut mass to charge ratio yang disimbolkan M/Z. Ion yang terbentuk
akan didorong ke quadrupoles atau mass filter. Quadrupoles berupa empat
elektromagnet.
Setelah melewati rangkaian gas kromatografi, sampel gas yang akan diuji
dilanjutkan melalui rangkaian spekstroskopi massa. Molekul-molekul yang melewati

sumber ion ini diserang oleh elektron, dan dipecah menjadi ionion positifnya. Tahap ini
sangatlah penting karena untuk melewati filter, partikel-partikel sampel haruslah
bermuatan.
b.

Filter
Selama ion melui rangkaian spekstroskopi massa, ion-ion ini melalui rangkaian

elektromagnetik yang menyaring ion berdasarkan perbedaan masa. Para ilmuwan


memisahkan komponen-komponen massa untuk kemudian dipilih yang mana yang
boleh melanjutkan yang mana yang tidak (prinsip penyaringan). Filter ini terus
menyaring ion-ion yang berasal dari sumber ion untuk kemudian diteruskan ke detektor.
Pada quadrupoles, ion-ion dikelompokkan menurut M/Z dengan kombinasi
frekuensi radio yang bergantian dan tegangan DC. Hanya ion dengan M/Z tertentu yang
dilewatkan oleh quadrupoles menuju ke detektor.
c.

Detektor
Ada beberapa tipe detektor yang biasa digunakan. Detektor ionisasi nyala

dijelaskan pada bagian bawah penjelasan ini, merupakan detektor yang umum dan
lebih mudah untuk dijelaskan daripada detektor alternatif lainnya.
Dalam mekanisme reaksi, pembakaran senyawa organik merupakan hal yang
sangat kompleks. Selama proses, sejumlah ion-ion dan elektron-elektron dihasilkan
dalam nyala. Kehadiran ion dan elektron dapat dideteksi. Seluruh detektor ditutup
dalam oven yang lebih panas dibanding dengan temperatur kolom. Hal itu
menghentikan kondensasi dalam detektor.
Detektor terdiri atas High Energy Dynodes (HED) dan Electron Multiplier (EM)
detector. Ion positif menuju HED, menyebabkan elektron terlepas. Elektron kemudian
menuju kutub yang lebih positif, yakni ujung tanduk EM. Ketika elektron menyinggung
sisi EM, maka akan lebih banyak lagi elektron yang terlepas, menyebabkan sebuah
arus/aliran. Kemudian sinyal arus dibuat oleh detektor proporsional terhadap jumlah ion
yang menuju detektor.
d.

Recorder
Berfungsi merekam hasil dan mencetaknya pada sebuah grafik. Hasil detektor

akan direkam sebagai urutan puncak-puncak; setiap puncak mewakili satu senyawa
dalam campuran yang melalui detektor. Sepanjang anda mengontrol secara hati-hati

kondisi dalam kolom, anda dapat menggunakan waktu retensi untuk membantu
mengidentifikasi senyawa yang tampak-tentu saja anda atau seseorang lain telah
menganalisa senyawa murni dari berbagai senyawa pada kondisi yang sama.
3.

Komputer
Data dari spekrometri masa dikirim ke computer dan diplot dalam sebuah grafik

yang disebut spectrum masa.

C.

Prinsip Kerja Cromatografy Mass Spectrometry (GCMS)


GC-MS adalah terdiri dari dua blok bangunan utama: kromatografi gas dan

spektrometer massa . Kromatografi gas menggunakan kolom kapiler yang tergantung


pada dimensi kolom itu (panjang, diameter, ketebalan film) serta sifat fase (misalnya 5%
fenil polisiloksan). Perbedaan sifat kimia antara molekul-molekul yang berbeda dalam
suatu campuran dipisahkan dari molekul dengan melewatkan sampel sepanjang kolom.
Molekul-molekul memerlukan jumlah waktu yang berbeda (disebut waktu retensi) untuk
keluar dari kromatografi gas, dan ini memungkinkan spektrometer massa untuk
menangkap, ionisasi, mempercepat, membelokkan, dan mendeteksi molekul terionisasi
secara terpisah. Spektrometer massa melakukan hal ini dengan memecah masingmasing molekul menjadi terionisasi mendeteksi fragmen menggunakan massa untuk
mengisi rasio.
1.

Kromatografi Gas (Gas Chromatography)


Kromatografi gas (GC) merupakan jenis kromatografi yang digunakan dalam kimia

organik untuk pemisahan dan analisis. GC dapat digunakan untuk menguji kemurnian
dari bahan tertentu, atau memisahkan berbagai komponen dari campuran. Dalam
beberapa situasi, GC dapat membantu dalam mengidentifikasi sebuah senyawa
kompleks.
Dalam kromatografi gas, fase yang bergerak (atau "mobile phase") adalah sebuah
operator gas, yang biasanya gas murni seperti helium atau yang tidak reactive seperti
gas nitrogen. Stationary atau fasa diam merupakan tahap mikroskopis lapisan cair atau
polimer yang mendukung gas murni, di dalam bagian dari sistem pipa-pipa kaca atau
logam yang disebut kolom. Instrumen yang digunakan untuk melakukan kromatografi
gas disebut gas chromatograph (atau "aerograph", "gas pemisah").

2.

Spektroskopi Massa (Mass Spectrometry)


Umumnya spektrum massa diperoleh dengan mengubah senyawa suatu sample

menjadi ion-ion yang bergerak cepat yang dipisahkan berdasarkan perbandingan


massa terhadap muatan.
Spektroskopi massa mampu menghasilkan berkas ion dari suatu zat uji, memilah
ion tersebut menjadi spektum yang sesuai dengan perbandingan massa terhadap
muatan dan merekam kelimpahan relatif tiap jenis ion yang ada. Umumnya hanya ion
positif yang dipelajari karena ion negative yang dihasilkan dari sumber tumbukan
umumnya sedikit.
3.

Kombinasi GCMS
Saat GC dikombinasikan dengan MS, akan didapatkan sebuah metode analisis

yang sangat bagus. Peneliti dapat menganalisis larutan organik, memasukkannya ke


dalam

instrumen,

memisahkannya

menjadi

komponen

tinggal

dan

langsung

mengidentifikasi larutan tersebut. Selanjutnya, peneliti dapat menghitung analisa


kuantitatif dari masing-masing komponen. Pada Gambar 4, sumbu z menyatakan
kelimpahan senyawa, sumbu x menyatakan spektrum kromatografi, dan sumbu y
menyatakan spektrum spektroskopi massa. Untuk menghitung masing-masing metode
dapat divisualisasikan ke dalam grafik dua dimensi.
4.

Metode Analisis Cromatografy Mass Spectrometry (GCMS)


Pada metode analisis GCMS (Gas Cromatografy Mass Spektroscopy) adalah

dengan membaca spektra yang terdapat pada kedua metode yang digabung tersebut.
Pada spektra GC jika terdapat bahwa dari sampel mengandung banyak senyawa, yaitu
terlihat dari banyaknya puncak (peak) dalam spektra GC tersebut. Berdasarkan data
waktu retensi yang sudah diketahui dari literatur, bisa diketahui senyawa apa saja yang
ada dalam sampel.
Selanjutnya adalah dengan memasukkan senyawa yang diduga tersebut ke dalam
instrumen spektroskopi massa. Hal ini dapat dilakukan karena salah satu kegunaan dari
kromatografi gas adalah untuk memisahkan senyawa-senyawa dari suatu sampel.
Setelah itu, didapat hasil dari spektra spektroskopi massa pada grafik yang berbeda.
Informasi yang diperoleh dari kedua teknik ini yang digabung dalam instrumen
GC/MS adalah tak lain hasil dari masing-masing spektra. Untuk spektra GC, informasi

terpenting yang didapat adalah waktu retensi untuk tiap-tiap senyawa dalam sampel.
Sedangkan untuk spektra MS, bisa diperoleh informasi mengenai massa molekul relatif
dari senyawa sampel tersbut.
Tahap-tahap suatu rancangan penelitian GC/MS:
1.

Sample preparation

2.

Derivatisation

3.

Injeksi
Menginjeksikan campuran larutan ke kolom GC lewat heated injection port.

GC/MS kurang cocok untuk analisa senyawa labil pada suhu tinggi karena akan
terdekomposisi pada awal pemisahan.
4.

GC separation
Campuran dibawa gas pembawa (biasanya Helium) dengan laju alir tertentu

melewati kolom GC yang dipanaskan dalam pemanas. Kolom GC memiliki cairan


pelapis (fasa diam) yang inert.
5.

MS detector
Aspek kualitatif : lebih dari 275.000 spektra massa dari senyawa yang tidak

diketahui dapat teridentifikasi dengan referensi komputerisasi.


Aspek kuantitatif : dengan membandingkan kurva standar dari senyawa yang
diketahui dapat diketahui kuantitas dari senyawa yang tidak diketahui.
6.

Scanning
Spektra massa dicatat secara reguler dalam interval 0,5-1 detik selama

pemisahan GC dan disimpan dalam sistem instrumen data untuk digunakan dalam
analisis. Spektra massa berupa fingerprint ini dapat dibandingkan dengan acuan.

D.

Karakteristik Analisis

1.

Limitasi/Batasan
Secara umum, penggunaan metode GC-MS hanya terbatas untuk senyawa

dengan tekanan uap berkisar10-10 torr. Kebanyakan senyawa dengan tekanan lebih
rendah hanya dapat dianalisis jika senyawa tersebut merupakan senyawa turunan
(contoh , trimetilsili eter). Penentuan penentuan gugus fungsional pada cincin aromatic

masih sulit. Untuk senyawa isomer tidak dapat dibedakan oleh spketometer (sebagai
contoh : naftalena vs azulena), tapi dapat dipisahkan dengan kromatograpi.
2.

Sensivitas dan Batas Deteksi


Bergantung pada faktor pelarutan dan metode ionisasi, sebuah ekstrak dengan

0,1 100 ng dari setiap komponen mungkin dibutuhkan agar sesuai jumlah yang
diinjeksikan.
3.

Perbandingan dengan Teknik lainnya

IR spketometer dapat menyediakan informasi posisi aromatic isomer dimana GC-

MS tidak bisa; namun IR biasanya lebih rendah sensitivitasnya sebesar 2 4.

NMR (nuclear magnetic resonance) spektrometri dapat memberikan informasi rinci

pada konformasi molekuler ekstrak; namun biasanya NMR lebih rendah sensivitasnya
sebesar 2-4.
4.

Sampel

Keadaan sampel harus dalam keadaan larutan untuk diijeksikan ke dalam kromatografi.
Pelarut

harus

bersifat

volatile

dan

organic

(sebagai

contoh

heksana

atau

dikllorometana). Jumlah sampel bergantung pada metode ionisasi yang dilakukan,


biasanya yang sering digunakan untuk analisis sensivitas adalah sebesar 1 100 pg
per komponen.
5.

Informasi analitikal

GC-MS digunakan untuk identifikasi kualitatif dan pengukuran kuantitatif dari komponen
individual dalam senyawa campuran kompleks. Terdapat perbedaan strategi analisis
data untuk aplikasi keduanya.
6.

Keunggulan dari metode ini adalah sebagai berikut :

a.

Efisien, resolusi tinggi sehingga dapat digunakan untuk menganalisa partikel

berukuran sangat kecil seperti polutan dalam udara


b.

Aliran fasa bergerak (gas) sangat terkontrol dan kecepatannya tetap.

c.

Pemisahan fisik terjadi didalam kolom yang jenisnya banyak sekali, panjang dan

temperaturnya dapat diatur.


d.

Banyak sekali macam detektor yang dapat dipakai pada kromatografi gas (saat ini

dikenal 13 macam detektor) dan respons detektor adalah proporsional dengan jumlah
tiap komponen yang keluar dari kolom.

e.

Sangat mudah terjadi pencampuran uap sampel kedalam fasa bergerak.

f.

Kromatograf sangat mudah digabung dengan instrumen fisika-kimia yang lainnya,

contohnya GC/FT-IR/MS.
g.

Analisis cepat, biasanya hanya dalam hitungan menit.

h.

Tidak merusak sampel.

i.

Sensitivitas tinggi sehingga dapat memisahkan berbagai senyawa yang saling

bercampur dan mampu menganalisa berbagai senyawa meskipun dalam


kadar/konsentrasi rendah. Seperti dalam udara, terdapat berbagai macam senyawa
yang saling bercampur dan dengan ukuran partikel/molekul yang sangat kecil.
7.

Kekurangan dari metode ini adalah sebagai berikut :

a.

Teknik Kromatografi gas terbatas untuk zat yang mudah menguap

b.

Kromatografi gas tidak mudah dipakai untuk memisahkan campuran dalam

jumlah besar. Pemisahan pada tingkat mg mudah dilakukan, pemisahan pada tingkat
gram mungkin dilakukan, tetapi pemisahan dalam tingkat pon atau ton sukar dilakukan
kecuali jika ada metode lain.
c.

Fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair tidak bersifat reaktif terhadap

fase diam dan zat terlarut.

Daftar Pustaka
Fowlis, Ian A.,1998. Gas Chromatography Analytical Chemistry by Open Learning. John
Wiley & Sons Ltd: Chichester.
Pavia, Donald L., Gary M. Lampman, George S. Kritz, Randall G. Engel
(2006). Introduction to Organic Laboratory Techniques (4th Ed.). Thomson
Brooks/Cole. pp. 797817.
Skoog, Douglas A., Donald M. West, F. James Holler. 1991. Fundamental of Analytical
Chemistry. Seventh Edition. New York: Saunders College Publishing.
Hites. Ronald. Gas Chromatography Mass Spectrometry. School of Public and
Enviromental Affairs and Departement of Chemstry. Indiana Universitas
Khopkar, S.H. 1985. Konsep Dasar Kimia Analitik. Penerbit Universitas Indonesia (UIPress) : Indonesia

Skoog, Douglas A., West, Donald M., dan Holler, F.James. 1996. Analytical Chemistry.
Saunders College Publishing : Amerika.
Shalahuddin,

Iqbal.

2012.

Mengenal

Kromatografi

Gas.

http://iqshalahuddin.wordpress.com/2012/03/15/mengenal-kromatografi-gas/
(diakses 27 november 2012).
Skoog, Douglas A., West, Donald M., dan Holler, F.James. 1996. Analytical Chemistry.
Saunders College Publishing : Amerika.