Anda di halaman 1dari 20

PENGANGGARAN

PENYUSUNAN ANGGARAN PRODUKSI

Disusun Oleh :
EKA NOR SYAFAAT
2013.62.000441

AKUNTANSI SEMESTER V
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI BALIKPAPAN
( S.T.I.E. BALIKPAPAN )

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat-Nya
penulis dapat menyusun makalah Penyusunan Anggaran Produksi ini sebagai bagian
dari kegiatan pembelajaran dalam mata kuliah Penganggaran di Stie Balikpapan.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah
ini, khususnya kepada Dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada
penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini.
Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan baik pada penulisan
maupun materi, mengingat kemampuan yang penulis miliki masih terbatas. Untuk itu,
masukan baik kritik maupun saran dari semua pihak sangat diperlukan.

Balikpapan, 14 Desember 2015

Penulis

DAFTAR ISI
Cover ................................................................................................................................ i
Kata Pengantar .................................................................................................................ii
Daftar Isi ..........................................................................................................................iii
BAB

Pendahuluan
A. Latar Belakang..........................................................................................1
B. Tujuan Penulisan.......................................................................................1

BAB II

Pembahasan
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Pengertian Anggaran Produksi.................................................................2


Aspek-aspek Perencanaan Produksi.........................................................3
Proses Perencanaan Produksi...................................................................5
Tujuan Anggaran Produksi.......................................................................7
Prosedur Penyusunan Anggaran Produksi...............................................8
Penyusunan Anggaran Produksi...............................................................9
Contoh Kasus dan Penyelesaiannya.......................................................10

BAB III Penutup


Kesimpulan...................................................................................................17
Daftar Pustaka

18

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bagi perusahaan yang bergerak dalam struktur pasar penjualan, kegiatan produksi
justru lebih penting dari kegiatan penjualan, karena barang yang diproduksi beberapa saja
jumlahnya akan laku dijual bila memenuhi syarat tertentu.
Kebanyakan perusahaan bergerak dalam struktur pasar pembeli sehingga kegiatan
produksi merupakan kegiatan penunjang utama kegiatan penjualan. Artinya kegiatan
produksi harus mempertimbangkan kegiatan penjualan, namun tidak hanya kegiatan
penjualan yang perlu dipertimbangkan oleh kegiatan produksi, kebijaksanaan persediaan
produk juga perlu diperhatikan.
Kerangka pikir seperti berikut :

ANGGARAN
PENJUALAN

ANGGARAN
PRODUKSI

Merupakan penjabaran dari rencana penjualan menjadi rencana produksi, jadi suatu
perencanaan tingkat atau volume barang yang harus diproduksi oleh perusahaan agar
sesuai dengan volume atau tingkat penjualan yang direncanakan.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dari makalah ini adalah agar pembaca dapat menyusun anggaran
produksi dengan mengutamakan stabilitas produksi, stabilitas persedian, dan campuran
stabilitas produksi dan persediaan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Anggaran Produksi


Produksi dapat diartikan secara sempit maupun secara luas. Dalam arti sempit,
produksi merupakan usaha manusia yang mengolah atau mengubah sumber-sumber
ekonomi (bahan-bahan) menjadi produk baru. Sedangkan dalam arti luas, produksi
adalah setiap kegiatan yangditujukan untuk menciptakan atau menambah nilai guna
(manfaat) suatu barang atau jasa yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan.
Jadi, inti dari kegiatan produksi adalah menambah atau menciptakan nilaiguna atau
manfaat dari suatu barang atau jasa. Manfaat (utility) yang diciptakan terdiri dari manfaat
bentuk, manfaat tempat maupun manfaat waktu.
Produk adalah hasil yang diperoleh dari kegiatan produksi. Namun, pengertian
produk sebagai hasil produksi sering kali diartikan sebagai barang, atau seringkali barang
yang merupakan produk dari kegiatan produksi disebut dengan produk.
Barang adalah hasil dari kegiatan produksi yang mempunyai sifat-sifat fisik dan
kimia, serta ada jangka waktu antara saat diproduksi dengan saat produk tersebut
dikonsumsi atau digunakan. Sedangkan, jasa adalah hasil dari kegiatan produksi yang
tidak mempunyai sifat-sifat baik fisik maupun kimia serta tidak ada jarak waktu antara
saat diproduksidengan saat dikonsumsi
Produktivitas adalah nilai output dalam hubungannya dengan kesatuan input tertentu,
serta umumnya dinyatakan sebagai imbangan daripada hasil kerja rata-rata dalam
hubungannya dengan jam orang rata-rata dari tenaga kerja yang diberikan dalam proses
tersebut
Proses produksi menunjukkan cara atau metode ataupun teknik bagaimana
menciptakan atau menambah faedah atau guna barang atau jasa dengan mempergunakan
sumber-sumber ekonomi (faktor-faktor produksi).
Anggaran produksi merupakan perencanaan secara terpisah mengenai jumlah unit
produk yang akan diproduksi pada periode tertentu atau periode yang akan datang
dimana didalamnya mencakup mengenai kuantitas, kualitas, dan kapan akan diproduksi.

Secara garis besar anggaran produksi dapat digambarkan sebagai berikut:


Tingkatan penjualan

xxx

Tingkatan Persediaan akhir

xxx +

Tingkat kebutuhan

xxx

Tingkat persediaan awal

xxx

Tingkat produksi

xxx

Perencanaan produksi berhubungan dengan :


1. Tingkat Produksi
2. Kebutuhan Fasilitas Produksi
3. Tingkat Persediaan Barang Jadi
Dalam perencanaan produksi terdapat kebijaksanaan produksi dan tingkat persediaan
barang. Setiap kebijaksanaan mempunyai cara pendekatan yang berbeda dalam
penyusunan anggaran produksi.
Bila perusahaan bersaing dalam pelayanan yang cepat dalam melayani pesanan, maka
perusahaan memerlukan persediaan barang jadi minimal yang besar. Besar kecilnya
persediaan barang jadi minimal dipengaruhi oleh faktor berikut :
a. Sifat penyesuaian jadwal produksi dengan persamaan ekstra
b. Sifat persaingan industri
c. Hubungan antara penyimpanan barang digudang (carrying cost) dengan biaya
kehabisan stock / persediaan (stock out cost)
B. Aspek-aspek Perencanaan Produksi
Aspek perencanaan produk dan produksi terkait dengan dua pertanyaan mendasar, yaitu
apa dan bagaimana. Oleh karena itu, ada tiga aspek dari perencanaan produk, yaitu:
1. Aspek produk apa yang akan dibuat
Aspek ini menuntut perusahaan atau wirausaha untuk dapat memilih salah satu dari
dua cara:
a) Market-pull, yaitu memproduksi dan menjual produk atas dasar pertimbangan
membuat apa yang dapat dijual. Jenis produk yang akan dihasilkan ditentukan
berdasarkan permintaan pasar. Dengan kata lain cara ini dilandasi filosofi untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat.
b) Technology-push, yaitu memproduksi

dan

menjual

produk

atas

dasar

pertimbangan menjual apa yang dapat dibuat. Jenis produk yang akan
dihasilkan ditentukan berdasarkan teknologi yang dimiliki dan dikuasai

perusahaan. Dengan perkataan lain, cara ini dilandasi filosofi untuk menciptakan
kebutuhan masyarakat.
2. Aspek volume produk
Aspek ini adalah aspek yang berhubungan dengan jumlah produk yang akan
dihasilkan/diproduksi. Umumnya dikenal dua cara atau teknik untuk menentukan
jumlah produk yang akan diproduksi, yaitu:
a) Teknik nonstatistika atau teknik pertimbangan.
Yaitu penentuan volume atau jumlah produk yang harus dibuat dandijual yang
didasarkan atas pendapat/pertimbangan seseorang atau sekelompok orang, baik
dari manajemen perusahaan maupun dari luar perusahaan. Teknik yang banyak
digunakan antara lain:
1) Pertimbangan tenaga penjual.
Tenaga penjual merupakan pihak yang paling mengetahui bagaimana kondisi
pasar dan permintaan konsumen. Oleh karena itu, tenaga penjual dapat
menjadi salah satu sumber informasi yang tepat dalam menentukan volume
produksi.
2) Pertimbangan eksekutif
Pihak eksekutif dalam hal ini adalah pihak manajemen perusahaan. Pihak
eksekutif adalah wirausaha yang berwawasan luas, termasuk tentang kondisi
pasar atau permintaan masyarakat. Oleh karena itu, pertimbangan dari pihak
manajemen

dalam

menentukan

volume

produksi

patut

untuk

dipertimbangkan.
Hal ini tidak jauh berbeda dari pertimbangan tenaga penjual, dengan wawasan
yang dimilikinya pihak eksekutif membuat perkiraan jumlah produk yang
akan dihasilkan.
3) Pertimbangan ekspert.
Ekspert merupakan pihak yang memang memiliki tugas meramal volume
penjualan, sehingga dari hasil ekspertnya tersebut dapat ditentukan berapa
volume produksi yang tepat. Ekspert merupakan pihak yang memang diserahi
tugas untuk membuat peramalan mengenai jumlah produk yang akan
diproduksi. Oleh karena itu pihak ekspert akan melakukan berbagai hal yang
ada kaitannya dengan usahanya untuk memprediksi produksi, misalnya
melakukan survey ke konsumen atau pasar, mencatat fluktuasi penjualan dan
sebagainya. Data-data yang diperoleh kemudian dianalisis dan selanjutnya
dijadikan pedoman untuk menentukan jumlah produksi.
b) Teknik statistika atau teknik analisis kuantitatif.
Yaitu penentuan volume produksi berdasarkan atas analisis kuantitatif
terhadap data-data masa lalu dan proyeksi masa yang akan datang dengan

menggunakan

rumus-rumus

statistika

tertentu.

Teknik

ini

biasanya

membutuhkan data-data kuantitatif mengenai produksi dan penjualan


sebelumnya untuk dapat menentukan atau membuat peramalan bagi produksi
dan penjualan yang akan datang.
3. Aspek kombinasi produk.
Merupakan aspek yang berhubungan dengan masalah jumlah jenis produk yang akan
diproduksi, yaitu perusahaan akan memproduksi dan menjual lebih dari satu jenis
produk (misalnya produk X dan Y). Karena sumber daya yang dimiliki perusahaan
terbatas, maka harus ditentukan kombinasi produksi yang tepat, berapa jumlah X
yang diproduksi danberapa jumlah Y yang akan diproduksi. Untuk menjawab
kombinasi yang tepat tersebut biasanya menggunakan teknik linier programming.
C. Proses Perencanaan Produksi
a. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan produksi
Sebelum menetapkan langkah-langkah perencanaan produksi, setiap perusahaan
dalam hal ini manajer produksi selayaknya mempertimbangkan hal-hal yang
berkenaan dengan perencanaan produksi, yaitu antara lain:
1) Jumlah kebutuhan produksi per produk selama periode tertentu.
2) Kebijakan persediaan terhadap jumlah persedian bahan baku/penolong, bahan
setengah jadi dan barang jadi.
3) Kebijakan kapasitas mesin atau kapasitas poduksi.
4) Tersedianya fasilitas produksi, seandainya terjadi penambahan atau pengurangan
kapasitas produksi.
5) Tersedianya bahan baku dan bahan penolong serta tenaga kerja.
6) Jumlah produksi atau lot produksi yang ekonomis
7) Jadwal produksi dalam satu periode anggaran tertentu.
8) Skala produksi dan karakteristik proses produksi.
9) Dan lain-lain, termasuk dampak dari lamanya proses produksi.
b. Langkah-langkah perencanaan produksi.
Setiap wirausaha atau manajer produksi suatu perusahaan melakukan langkahlangkah perencanaan produksi sebagai berikut:
1. Penelitian dan Pengembangan Produk
Bagi perusahaan/wirausaha penelitian produk yang dilakukan dibedakan atas
penelitian terhadap proses produksi maupun pada produk yang dihasilkan.
a) Penelitian proses produksi
Penelitian proses produksi dimaksudkan untuk perbaikan terhadap proses
produksi yang sedang berjalan baik produk yang sedang berjalan maupun
untuk terciptanya produk baru tertentu.
b) Penelitian produk
Penelitian produk ditujukan untuk perubahan/perbaikan produk yang sudah
ada disesuaikan dengan selera konsumen.
2. Mencari gagasan dan seleksi produk

Dari penelitian yang dilakukan baik terhadap proses produksi maupun terhadap
produk, maka langkah selanjutnya adalah pelaksanaan dari penelitian dan
pengembangan tersebut, yaitu dengan tahapan :
a) Mencari gagasan, yaitu tahapan dalam mencari gagasan-gagaan dalam rangka
pengembangan produk. Gagasan ini dapat berasal dari pasar/konsumen,
teknologi yang ada atau digunakan dan dari pihak ketiga atau biasanya pihak
ahli.
b) Seleksi produk, yaitu tahapan untuk memilih gagasan-gagasan yang masuk
atau yang terbaik berkaitan dengan pengembangan produk, sehingga gagasan
yang dimanfaatkan adalah gagasan-gagasan yang tidak akan mengakibatkan
perusahaan mengalami kerugian.
c) Desain produk pendahuluan
Sebelum ditetapkan desain produk/jasa yang akan dikembangkan, maka ada
beberapa hal yang harus dilakukan perusahaan/wirausaha yaitu:
1) Penentuan bentuk serta fungsi produk baru yang akan diproduksi
2) Pemilihan bahan yang akan digunakan dengan mempertimbangkan:
(a) Kebutuhan jenis (spesifikasi) produk atau bagian dari produk
(b) Harga dari bahan yang akan digunakan
(c) Biaya pemrosesan bahan atau biaya proses produksi.
3) Kesempatan diversifikasi
Yaitu peluang untuk menambah atau memperbanyak jenis produk
yangakan dihasilkan.
Ada tiga faktor yang harus dicantumkan dalam desain produk pendahuluan
ini, yaitu:
1) frekuensi kerusakan komponen (reabilitas),
2) kemudahan untuk pemeliharaan dan perbaikan (maintainability),
3) umur produk.
d) Pengujian, yaitu dimaksudkan untuk menguji apakah produk layak
dikembangkan atau tidak, baik dilihat dari potensi pasar atau konsumen
maupun secara teknik dari produk tersebut.
e) Desain akhir
Apabila hasil pengujian produk tersebut layak untuk dikembangkan, maka
dibuatlah disain akhir. Apabila telah ditetapkan jenis produk yang akan
dihasilkan, maka langkah selanjutnya adalah menetapkan skala produksi,
yaitu meliputi:
1) Penetapan waktu, yaitu kapan kegiatan proses produksi akan dilakukan.
2) Penetapan kuantitas produk, yaitu berupa jumlah (volume) produk
yangakan dihasilkan.
3) Menghitung keperluan biaya, yaitu berapa besar jumlah biaya yang
dibutuhkan.
4) Penetapan jumlah tenaga kerja yang diperkerjakan.

5) Penetapan peralatan apa saja yang akan digunakan.


6) Penetapan persediaan bahan baku yang optimal yang sesuai dengan
kebutuhan.
D. Tujuan Anggaran Produksi
Tujuan dari disusunnya anggaran produksi adalah :
1. Menunjang kegiatan penjual, sehingga barang dapat disediakan sesuai yang
direncanakan.
2. Menjaga tingkat persediaan memadai dengan cara mengusahakan persediaan yang
tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.

Terlalu besar : meningkatkan biaya-biaya dan resiko-resiko yang menjadi


beban perusahaan.

Terlalu kecil : Mengakibatkan banyaknya gangguan, kekurangan persediaan


barang mentah mendatangkan gangguan dalam proses produksi, kekurangan
persediaan barang jadi mengakibatkan banyak langganan yang kecewa dan
hilangnya peluang memperoleh keuntungan.

3. Mengatur produksi sedemikian rupa sehingga biaya-biaya produksi barang yang


dihasilkan akan seminimal mungkin supaya perusahaan pabrik ini bekerja pada
tingkat efisien tertentu.
4. Untuk mencapai tingkat keuntungan tertentu, misalnya berapa hasil yang diproduksi
supaya dapat dicapai tingkat keuntungan dengan persentase tertentu dari keuntungan
setahun terhadap penjualan yang diinginkan.
5. Untuk menguasai pasar tertentu, sehingga hasil perusahaan ini tetap mempunyai
market share tertentu.
6. Untuk mengusahakan dan mempertahankan supaya pekerjaan dan kesempatan kerja
yang sudah ada dapat sernakin berkembang.
E. Prosedur Penyusunan Anggaran Produksi
Prosedur perencanaan maka pimpinan harus memperhatikan tahapan-tahapan sebagai
berikut:
a. Menetapkan tujuan maupun serangkaian tujuan
b. Merumuskan keadaan saat ini
c. Mengidentifikasikan segala kemudahan dan hambatan
d. Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan
Hal yang perlu di perhatikan dalam menyusun anggaran produksi :
a. Sifat dari proses produksi
Sifat dari proses produksi dapat dibedakan menjadi 2 antara lain :
1. Proses produksi terputus-putus (intennitten proces).

Proses yang aliran barang baku sampai menjadi produksi akhir perusahaan tidak
mempunyai pola yang pasti atau berubah-ubah contohnya perusahaan percetakan,
jasa, reprerasi, pabrik, kapal, dan sebagainya.
2. Proses produksi terus menerus (continuous process)
Pada perusahaan yang menyusun perencanaan produksi yang berdasarkan proses
produksi terus menerus, melakukan perencanaan produksinya berdasarkan
ramalan penjualan, dimana kegiatan produksi tidak dilakukan menurut pesanan
akan tetapi untuk memenuhi pasar dan jumlah yang besar, serta berulang-ulang
dalam jangka waktu tertentu
b. Jenis dan mutu dari barang yang diproduksi
Hal yang perlu di ketahui dan diperhatikan mengenai jenis dan sifat produksi oleh
perusahaan dalam menyusun perencanaan produksi:
1. Mempelajari dan menganalisa jenis barang yang diproduksi sejauh mungkin
2. Apakah produk yang diproduksi itu merupakan konsumen goods.
3. Sifat dan produksi yang akan dihasilkan apakah merupakan barang yang akan
tahan lama atau tidak.
4. Sifat dari produksi dan permintaan barang yang akan dihasilkan apakah musiman
atau sepanjang masa.
c. Sifat dan barang yang diproduksi apakah barang baru atau barang lama
Jika akan dihasilkan barang yang baru maka diadakan riset pendahuluan mengenai:
1. Lokasi perusahaan, apakah perlu diletakkan berdekatan dengan sumber bahan
mentah ataukah dekat dengan pasar.
2. Jumlah barang yang akan diproduksi
3. Sifat permintaan barang ini apakah musiman atau sepanjang masa.
4. Dalam hal-hal yang dibutuhkan untuk memulai produksi tersebut
F. Penyusunan Anggaran Produksi
Langkah-langkah penyusunan anggaran produksi adalah :
1.

Menentukan kebijakan yang berhubungan dengan tingkat persediaan.

2.

Menetapkan jumlah total masing-masing jenis produk yang harus diproduksi selama
periode anggaran.

3.

Menyusun schedule atau meratakan produksi pada periode interim.


Pendekatan atau kebijakan dalam menyusun anggaran produksi adalah :
1. Kebijaksanaan yang mengutamakan stabilitas tingkat produksi dengan tingkat
persediaan barang yang dibiarkan mengembang.

Kebutuhan 1 tahun = x

Kebutuhan per bulan = x /12

Persediaan sesuai kebutuhan

2. Kebijaksanaan yang mengutamakan pengendalian tingkat persediaan barang, dengan


tingkat produksi dibiarkan mengembang.

Persediaan awal tahun

Persediaan akhir tahun

Persediaan bulanan disesuaikan secara bertahap kearah tingkat persediaan


yang diinginkan.

3. Kebijaksanaan yang merupakan kombinasi dari kedua kebijaksanaan, tingkat


produksi maupun tingkat persediaan sama-sama berubah dalam batas-batas tertentu.
G. Contoh Kasus dan Penyelesaiannya
1. Kebijakan stabilitas tingkat produksi ( Production Stability Concern Approuch )
Yang dimaksud dengan mengutamakan stabilitas produksi adalah perkembangan
yang stabil dari jumlah yang diproduksi di waktu yang akan datang, sehingga
walaupun terjadi fluktuasi penjualan, jumlah unit yang diproduksi tetap sama.
Contoh Kasus 1 :
Diketahui rencana penjualan PT. SUPRA selama 1 tahun (2003) adalah :
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
Nopember
Desember
Jumlah

Tingkat
Penjualan
1.500Unit
1.600Unit
1.600Unit
1.400Unit
1.200Unit
1.000Unit
700Unit
600Unit
900Unit
1.100Unit
1.200Unit
1.400Unit
14.200Unit

Sedangkan tingkat persediaan adalah :


Persediaan awal tahun
2.000 Unit
Persediaan akhir tahun
1.500 Unit
Buatlah anggaran produksi untuk tahun 2003 dengan Menggunakan 3 Metode
tersebut.
Jawab :
Dengan menggunakan Kebijakan Stabilitas tingkat produksi. ( Kasus 1 )

Jumlah yang harus diproduksi adalah :


Penjualan 1 tahun
14.200 unit
Persediaan akhir tahun
1.500 unit +
Kebutuhan 1 tahun
15.700 unit
Persediaan awal tahun
2.000 unit Jumlah yang harus diproduksi
13.700 unit
Pengalokasian tingkat produksi tiap bulan dapat dilakukan dengan 2 cara ;
a) Produksi selama 1 tahun
= 13.700 unit
Produksi per bulan
= 13.700 unit : 12 bulan
= 1.141,67 unit
b) Produksi selama 1 tahun = 13.700 Unit
Perhitungan cara di atas produksi rata-rata perbulan = 1.141,67 unit
Bilangan bulat yang paling mendekati dan mudah dilaksanakan = 1.100 unit.
Apabila produksi per bulan = 1.100 unit, maka kekurangannya :
13.700 - (12 x 1.100) = 500 unit
500 unit dialokasikan ke bulan-bulan dengan tingkat penjualan tertinggi yaitu
Januari dengan tingkat penjualan sebasar 1.500 unit.
Februari dengan tingkat penjualan sebasar 1.600 unit
Maret dengan tingkat penjualan sebasar 1.600unit
April dengan tingkat penjualan sebasar 1.400 unit
Desember dengan tingkat penjualan sebasar 1.400 unit
Maka :
Masing-masing mendapat ; (500 unit : 5) x 1 unit = 100 unit
Sehingga secara keseluruhan adalah :
- 5 bulan masing-masing (1.100 + 100) unit
- 7 bulan masing-masing 1.100 unit
Jumlah

6.000 unit
7.700 unit +
13.700 unit

Contoh Kasus 2 :
PT. MAJU merencanakan penjualan tahun 2003 dengan pola sebagai berikut :
Quarter 1 : 8500 Unit
Quarter 2 : 9000 Unit
Quarter 3 : 9500 Unit
Quarter 4 : 10000 Unit

Jika diketahui persediaan tahun 2003 :


Persediaan awal : 2000 Unit
Persediaan Akhir : 2500 Unit
Untuk tahun 2004, manajemen perusahaan menginginkan adanya persediaan akhir
sebanyak 3000 Unit.
Buatlah Anggaran produksinya dengan menggunakan 3 kebijakan tersebut.
Jawab :
Dengan menggunakan Kebijakan Stabilitas tingkat produksi ( Kasus 2 )
Quarter 1

Quarter 2

Quarter 3

Quarter 4

Total

Penjualan

9000

9500

10000

10500

39000

Pesediaan Akhir

3000

3000

2500

3000

3000

Kebutuhan

12000

12500

12500

13500

42500

Persediaan Awal

2500

3000

3000

2500

2500

Produksi

9500

9500

9500

9500

39500

2. Kebijakan pengendalian tingkat persediaan ( Inventory Control )


Disini perkembangan jumlah unit yang diproduksi dibiarkan berfluktuasi, tetapi
tingkat persediaan diusahakan stabil dari waktu ke waktu. Cara yang dilakukan
adalah persediaan awal dan persediaan akhir ( dengan waktu bulanan, triwulan,
semester, dll ).
Dengan menggunakan Kebijakan Pengendalian Tingkat Produksi (Kasus 1)
Pengalokasian tingkat produksi tiap bulan dapat dilakukan dengan dua cara :
a. Persediaan awal tahun
= 2.000 unit
Persediaan akhir tahun
= 1.500 unit
Selisihnya
= 500 unit
Selisihnya tersebut dialokasikan per bulan;
(500 : 12) x 1 unit
= 41,67 unit

b. Persediaan awal tahun


= 2.000 unit
Persediaan akhir tahun
= 1.500 unit
Selisihnya
= 500 unit
Agar didapat hasil bilangan bulat dan mudah dilaksanakan maka 500 unit dibagi
dengan 5 sehingga :
(500 : 5) x 1 unit
= 100 unit
Angka tersebut dialokasikan dari bulan Januari hingga bulan Mei.

Dengan menggunakan Kebijakan Pengendalian Tingkat Produksi (Kasus 2)


Selisih tingkat persediaan ( Per Quarter ) = Persediaan Awal Persediaan Akhir
4
= ( 2500 3000 ) / 4 = 125
Quarter 1

Quarter 2

Quarter 3

Quarter 4

Total

Penjualan

9000

9500

10000

10500

39000

Pesediaan Akhir

2625

2750

2875

3000

3000

Kebutuhan

11625

12250

12875

13500

42000

Persediaan Awal

2500

2625

2750

2875

2500

Produksi

9125

9625

10125

10625

39500

3. Kebijakan Kombinasi, Dimana Tingkat Persediaan Maupun Tingkat


Produksi Sama-sama Berfluktuasi Pada Batas-batas Tertentu.
Disini meskipun telah ditetapkan dengan cara kombinasi, tetapi perusahaan masih
harus menetapkan asumsi asumsi lain agar dapat dicapai keseimbangan yang
optimum antara tingkat penjualan, persediaan , dan produksi.
Dengan menggunakan Kebijakan Kombinasi ( Kasus 1 )
Dalam beberapa situasi, manajemen dapat mengambil kebijaksanaan seperti :
a) Tingkat produksi tidak boleh berfluktuasi lebih dari 15% diatas atau dibawah
rata- rata bulanan.
b) Tingkat persediaan tidak boleh lebih dari 1.600 unit dan tidak boleh kurang dari
setengahnya persediaan maksimal.
c) Produksi bulan Juli - Agustus - September boleh dikurangi 30% dari tingkat
produksi normal.

Dengan menggunakan Kebijakan Kombinasi ( Kasus 2 )


Dalam beberapa situasi, manajemen dapat mengambil kebijaksanaan seperti :
a) Tingkat produksi tidak boleh berfluktuasi lebih dari 20% dari tingkat
produksi rata-rata.
b) Tingkat persediaan Quarter 1 berfluktuasi 500 unit, Quarter 2 berfluktuasi
400 unit, Quarter 3 berfluktuasi 300 unit, dan Quarter 4 berfluktuasi 300
unit
Tingkat produksi rata-rata = Produksi 1 tahun = 39000 = 9750
4
4

Quarter 1

Quarter 2

Quarter 3

Quarter 4

Penjualan

9000

9500

10000

10500

Pesediaan Akhir

2000

1600

1300

1000

Kebutuhan

11000

11100

11300

9500

Persediaan Awal

2500

2000

1600

1300

Produksi

8500

9100

9700

8200

Hasil Perhitungan Untuk 3 Metode ( Kasus 1 )

Anggaran Produksi (Metode Mengutamakan Stabilitas Produksi )


Keterangan
Renc.Penjualan
Persediaan akhir +
Jumlah
Persediaan awal Tingkat produksi

Jan
Feb
1.500 1.600
1.700 1.300
3.200 2.900
2.000 1.700
1.200 1.200

Mar
1.600
900
2.500
1.300
1.200

Apr
1.400
700
2.100
900
1.200

Mei
1.200
600
1.800
700
1.100

Jun
1.000
700
1.700
600
1.100

Jul
700
1.100
1.800
700
1.100

Agt
600
1.600
2.200
1.100
1.100

Sept
900
1.800
2.700
1.600
1.100

Okt
1.100
1.800
2.900
1.800
1.100

Nop
1.200
1.700
2.900
1.800
1.100

Anggaran Produksi (Metode Pengendalian Tingkat Persediaan)


Keterangan
Jan
Feb
Renc.Penjualan
1.500 1.600
Persediaan akhir +
1.900 1.800
Jumlah
3.400 3.400
Persediaan awal 2.000 1.900
Tingkat produksi
1.400 1.500

Mar
1.600
1.700
3.300
1.800
1.500

Apr
1.400
1.600
3.000
1.700
1.300

Mei
1.200
1.500
2.700
1.600
1.100

Jun
1.000
1.500
2.500
1.500
1.000

Jul
700
1.500
2.200
1.500
700

Agt
600
1.500
2.100
1.500
600

Sept
900
1.500
2.400
1.500
900

Okt
1.100
1.500
2.600
1.500
1.100

Nop
1.200
1.500
2.700
1.500
1.200

Agt
600
1.600
2.200
1.100
1.100

Sept
900
1.800
2.700
1.600
1.100

Okt
1.100
1.800
2.900
1.800
1.100

Nop
1.200
1.700
2.900
1.800
1.100

Anggaran Produksi (Metode Kombinasi )


Keterangan
Jan
Feb
Renc.Penjualan
1.500 1.600
Persediaan akhir +
1.600 1.300
Jumlah
3.100 2.900
Persediaan awal 2.000 1.600
Tingkat produksi
1.100 1.300

Mar
1.600
1.000
2.600
1.300
1.300

Apr
1.400
900
2.300
1.000
1.300

Mei
1..200
600
1.800
700
1.100

Jun
1.000
700
1.700
600
1.100

Jul
700
1.100
1.800
700
1.100

Hasil Perhitungan Untuk 3 Metode ( Kasus 2 )


Anggaran Produksi (Metode Mengutamakan Stabilitas Produksi )
Quarter 1

Quarter 2

Quarter 3

Quarter 4

Total

Penjualan

9000

9500

10000

10500

39000

Pesediaan Akhir

3000

3000

2500

3000

3000

Kebutuhan

12000

12500

12500

13500

42500

Persediaan Awal

2500

3000

3000

2500

2500

Produksi

9500

9500

9500

9500

39500

Anggaran Produksi (Metode Pengendalian Tingkat Persediaan)


Quarter 1

Quarter 2

Quarter 3

Quarter 4

Total

Penjualan

9000

9500

10000

10500

39000

Pesediaan Akhir

2625

2750

2875

3000

3000

Kebutuhan

11625

12250

12875

13500

42000

Persediaan Awal

2500

2625

2750

2875

2500

Produksi

9125

9625

10125

10625

39500

Anggaran Produksi (Metode Kombinasi )


Quarter 1

Quarter 2

Quarter 3

Quarter 4

Penjualan

9000

9500

10000

10500

Pesediaan Akhir

2000

1600

1300

1000

Kebutuhan

11000

11100

11300

9500

Persediaan Awal

2500

2000

1600

1300

Produksi

8500

9100

9700

8200

BAB III
KESIMPULAN
Anggaran produksi merupakan perencanaan secara terpisah mengenai jumlah unit
produk yang akan diproduksi pada periode tertentu atau periode yang akan datang
dimana didalamnya mencakup mengenai kuantitas, kualitas, dan kapan akan diproduksi.
Pendekatan atau kebijakan dalam menyusun anggaran produksi adalah :
1. Kebijaksanaan yang mengutamakan stabilitas tingkat produksi dengan tingkat
persediaan barang yang dibiarkan mengembang.

Kebutuhan 1 tahun = x

Kebutuhan per bulan = x /12

Persediaan sesuai kebutuhan

2. Kebijaksanaan yang mengutamakan pengendalian tingkat persediaan barang,


dengan tingkat produksi dibiarkan mengembang.

Persediaan awal tahun

Persediaan akhir tahun

Persediaan bulanan disesuaikan secara bertahap kearah tingkat


persediaan yang diinginkan.

3. Kebijaksanaan yang merupakan kombinasi dari kedua kebijaksanaan, tingkat


produksi maupun tingkat persediaan sama-sama berubah dalam batas-batas
tertentu.

18

DAFTAR PUSTAKA
M. Nafarin, Penganggaran Perusahaan, Edisi Revisi, Salemba Empat, Jakarta, 2004.
http://mutiara-bening.blogspot.co.id/2009/02/anggaran-produksi.html
http://managing-people-for-improvement.blogspot.co.id/2013/06/anggaranproduksi.html
http://ma-lanjut.lab.gunadarma.ac.id/wp-content/uploads/2013/11/Ang03-Produksi.pdf