Anda di halaman 1dari 32

SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH

Menurut Permendagri No. 21 Tahun 2011, Pemerintahan Daerah adalah


penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat
daerah (DPRD) menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluasluasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pemerintah
Daerah adalah gubernur, bupati, dan/atau walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah.
Akuntansi

keuangan

daerah

adalah

proses

pengidentifikasian,

pengukuran,

pencatatan, dan pelaporan transaksi ekonomi (keuangan) dari entitas pemerintah daerah
pemda (kabupaten, kota, atau provinsi) yang dijadikan sebagai informasi dalam rangka
pengambilan keputusan ekonomi yang diperlukan oleh pihak-pihak eksternal entitas pemda
(kabupaten, kota, atau provinsi). Pihak-pihak eksternal entitas pemda yang memerlukan
informasi yang dihasilkan oleh akuntansi keuangan daerah tersebut antara lain adalah DPRD;
badan pengawas keuangan; investor; kreditur; dan donatur; analis ekonomi dan pemerhati
pemda; rakyat; pemda lain; dan pemerintah pusat, yang seluruhnya berada di lingkungan
akuntansi keuangan daerah.
Sistem Akuntansi Pemerintahan pada pemerintah daerah diatur dengan peraturan
gubernur/bupati/walikota

yang

mengacu

pada

pedoman

umum

Sistem Akuntansi

Pemerintahan. Ketentuan lebih lanjut mengenai penerapan SAP Berbasis Akrual secara
bertahap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada pemerintah daerah diatur dengan
Peraturan Menteri Dalam Negeri.
Penjelasan didalam kerangka umum sistem akuntansi keuangan daerah :
1. Satuan Kerja memberikan dokumen-dokumen sumber (DS) seperti Surat Perintah
Membayar Uang (SPMU) dan Surat Tanda Setoran (STS) dari transaksi keuangannya
kepada Unit Keuangan Pemerintah Daerah.
2. Unit Pembukuan dan Unit Perhitungan melakukan pembukuan bulanan DS tersebut
dengan menggunakan komputer akuntansi (komputer yang telah disiapkan untuk
keperluan akuntansi) termasuk perangkat lunak (software) akuntansi.
3. Dari proses akuntansi tersebut dihasilkan Jurnal yang sekaligus diposting kedalam Buku
Besar dan Buku Pembantu secara otomatis untuk setiap Satuan Kerja.
4. Bila dokumen di atas telah diverifikasi dan benar maka dilanjutkan dengan proses
komputer untuk pembuatan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ).

5. LPJ dikirimkan kepada Kepala Daerah sebagai pertanggung jawaban Satuan Kerja atas
pelaksanaan anggaran, satu copy dikirim kepada Satuan Kerja yang bersangkutan untuk
kebutuhan pertanggungjawaban dan manajemen, satu copy untuk arsip Unit Perhitungan.
LPJ konsolidasi juga harus diberikan kepada Kepala Daerah agar dapat mengetahui
keseluruhan realiasi APBD pada suatu periode.

Pedoman umum Sistem Akuntansi Pemerintahan diperlukan dalam rangka


mewujudkan konsolidasi fiskal dan statistik keuangan Pemerintah secara nasional. Selain
mengacu pada pedoman umum Sistem Akuntansi Pemerintahan, dalam menyusun Sistem
Akuntansi Pemerintahan pada pemerintah daerah, gubernur/bupati/walikota mengacu pula
pada peraturan daerah dan ketentuan peraturan perundangundangan mengenai pengelolaan
keuangan daerah.
Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah

Sistem akuntansi pemerintah daerah (SAPD) adalah serangkaian prosedur mulai dari
proses pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan
dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara manual
atau menggunakan aplikasi komputer. SAPD terdiri atas dua subsistem yaitu satuan kerja
perangkat daerah (SKPD) dan sistem akuntansi satuan kerja pengelola keuangan daerah
(SKPKD).
Sistem akuntansi pemerintahan daerah sekurang-kurangnya meliputi:
a. prosedur akuntansi penerimaan kas;
b. prosedur akuntansi pengeluaran kas;
c. prosedur akuntansi aset tetap/barang milik daerah; dan
d. prosedur akuntansi selain kas.
1. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah perangkat
daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang.
a. Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas
Prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPD meliputi serangkaian proses mulai
dari pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan
dengan penerimaan kas dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang
dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. Prosedur
akuntansi penerimaan kas dilaksanakan oleh PPK-SKPD.
Fungsi yang terkait :

Bendahara Penerimaan;
PPK-SKPD;
Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah dan Bidang Akuntansi dan Pengelolaan
Aset Daerah.

Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi penerimaan kas


mencakup:

surat tanda bukti pembayaran;

STS;

bukti transfer; dan

nota kredit bank.

Bukti transaksi tersebut kemudian lengkapi dengan:

surat ketetapan pajak daerah (SKP-Daerah); dan/atau

SKR; dan/atau

bukti transaksi penerimaan kas lainnya.


Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dalam prosedur akuntansi
penerimaan kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 241 terdiri dari:

buku jurnal penerimaan kas;

buku besar; dan

buku besar pembantu.


Fungsi yang terkait :

Bendahara Penerimaan;
PPK-SKPD;
Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah dan Bidang Akuntansi dan Pengelolaan
Aset Daerah.

Uraian Prosedur :

PPK-SKPD menerima SPJ Penerimaan beserta lampirannya dari Bendahara

Penerimaan;
Berdasarkan SPJ Penerimaan dan lampirannya, PPK-SKPD mencatat transaksi
pendapatan pada Jurnal Khusus Pendapatan dengan jurnal :
1) Kas di Bendahara Penerimaan di debet dan Pendapatan di kredit (untuk
mencatat penerimaan);
2) RK PPKD di debet dan Kas di Bendahara Penerimaan di kredit (untuk

mencatat penyetoran).
Dalam kondisi tertentu, dimungkinkan

terjadi

pengembalian

kelebihan

pendapatan yang harus dikembalikan ke pihak ketiga.


1) Jika pengembalian kelebihan pendapatan sifatnya berulang (recurring) yang
terjadi di periode tahun berjalan, PPK-SKPD berdasarkan informasi transfer
kas dari Bagian Pengelolaan Kas Daerah pada Biro Keuangan, mencatat
transaksi pengembalian kelebihan tersebut dengan menjurnal Akun
Pendapatan di Debit dan RK PPKD di kredit.
2) Jurnal tersebut juga berlaku bagi pengembalian yang sifatnya tidak berulang
tetapi terjadi dalam periode tahun berjalan.

3) Jika pengembalian kelebihan pendapatan tersebut bersifat tidak berulang


(non recurring) dan terkait dengan pendapatan periode tahun sebelumnya,
SKPD tidak melakukan pencatatan. Pencatatan dilakukan oleh Akuntansi
PPKD dengan menjurnal SiLPA di Debet dan Kas di Kas Daerah di

kredit.
Setiap periode, jurnal-jurnal tersebut diposting ke Buku Besar sesuai dengan kode

rekening pendapatan;
Setiap akhir bulan, PPK-SKPD memindahkan saldo-saldo yang ada di tiap buku

besar ke dalam Neraca Saldo;


Setiap akhir tahun semua buku besar ditutup sebagai dasar penyusunan laporan

keuangan SKPD.
b. Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas
Prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPD meliputi serangkaian proses
mulai dari pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan yang
berkaitan dengan pengeluaran kas dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan
APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer.
Prosedur akuntansi pengeluaran kas dilaksanakan oleh PPK-SKPD.
Fungsi yang Terkait :

Bendahara pengeluaran;
PPK-SKPD;
Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah dan Bidang Akuntansi dan Pengelolaan
Asset Daerah.

Prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPD meliputi:

sub prosedur akuntansi pengeluaran kas-langsung; dan

sub

prosedur

akuntansi

pengeluaran

kas-uang

persediaan/ganti

uang

persediaan/tambahan uang persediaan.


Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi pengeluaran kas mencakup:

SP2D; atau

nota debet bank; atau

bukti transaksi pengeluaran kas lainnya.

Bukti transaksi tersebut kemudian dilengkapi dengan:

SPM; dan/atau

SPD; dan/atau

kuitansi pembayaran dan bukti tanda terima barang/jasa.


Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dalam prosedur akuntansi

pengeluaran kas mencakup :

buku jurnal pengeluaran kas;

buku besar; dan

buku besar pembantu.

Uraian Prosedur :

PPK-SKPD berdasarkan bukti transaksi pengeluaran kas sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 248 ayat (1) Permendagri No. 13 Tahun 2006 melakukan pencatatan
ke dalam buku jurnal pengeluaran kas dengan mencantumkan uraian rekeninglawan asal pengeluaran kas berkenaan.

Secara periodik jurnal atas transaksi pengeluaran kas diposting ke dalam buku
besar rekening berkenaan.

Setiap akhir periode semua buku besar ditutup sebagai dasar penyusunan laporan
keuangan SKPD.

c. Prosedur Akuntansi Aset


Prosedur akuntansi aset pada SKPD meliputi pencatatan dan pelaporan akuntansi
atas perolehan, pemeliharaan, rehabilitasi, perubahan klasifikasi, dan penyusutan
terhadap aset tetap yang dikuasai/digunakan SKPD. Transaksi-transaksi tersebut
secara garis besar digolongkan dalam 2 kelompok besar transaksi, yaitu penambahan
nilai Aset dan pengurangan nilai aset.
Penambahan asset antara lain berasal dari pembelian, pembuatan/ pembangunan
yang dilaksanakan baik melalui kontrak maupun yang dilaksanakan secara swakelola,
hibah, dan dari nilai satuan minimum kapitalisasi asset tetap dari hasil pengembangan,
reklasifikasi, dan renovasi yang besarannya ditetapkan dalam kebijakan akuntansi.
Pengurangan asset antara lain karena penghapusan dan dihibahkan kepada pihak
lain.
Pemeliharaan aset tetap yang bersifat rutin dan berkala tidak dikapitalisasi.
Rehabilitasi yang bersifat sedang dan berat dikapitalisasi apabila memenuhi salah satu
kriteria

menambah

volume,

menambah

kapasitas,

meningkatkan

fungsi,

meningkatkan efisiensi dan/atau menambah masa manfaat. Perubahan klasifikasi aset


tetap berupa perubahan aset tetap ke klasifikasi selain aset tetap atau sebaliknya.

Penyusutan merupakan penyesuaian nilai sehubungan dengan penurunan kapasitas


dan manfaat dari suatu aset tetap.
Fungsi yang terkait :
Fungsi yang terkait dalam prosedur akuntansi aset tetap pada SKPD adalah
fungsi akuntansi pada PPK-SKPD dan Dinas Pendapatan, Pengelola Keuangan dan
Aset Daerah (DPPKAD).
Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi aset berupa bukti
memorial dilampiri dengan:

berita acara penerimaan barang;

berita acara serah terima barang; dan

berita acara penyelesaian pekerjaan.


Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dan/atau kejadian dalam

prosedur akuntansi aset mencakup:

buku jurnal umum;

buku besar; dan

buku besar pembantu.

Uraian Prosedur :

PPK-SKPD berdasarkan bukti transaksi dan/atau kejadian sebagaimana


membuat bukti memorial.

Bukti memorial sekurang-kurangnya memuat informasi mengenai jenis/nama


aset tetap, kode rekening, klasifikasi aset tetap, nilai aset tetap, tanggal transaksi
dan/atau kejadian.

Bukti memorial dicatat ke dalam buku jurnal umum.

Secara periodik jurnal atas transaksi dan/atau kejadian aset tetap diposting ke
dalam buku besar rekening berkenaan.

Setiap akhir periode semua buku besar ditutup sebagai dasar penyusunan
laporan keuangan SKPD.

d. Prosedur Akuntansi Selain Kas

Prosedur akuntansi selain kas pada SKPD meliputi serangkaian proses mulai
dari pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan
dengan semua transaksi atau kejadian selain kas yang dapat dilakukan secara manual
atau menggunakan aplikasi komputer.
Fungsi yang terkait :
Fungsi yang terkait dalam prosedur akuntansi selain kas pada SKPD adalah
fungsi akuntansi pada PPK-SKPD;
Prosedur akuntansi selain kas mencakup :

pengesahan pertanggungjawaban pengeluaran (pengesahan SPJ);

koreksi kesalahan pencatatan;

penerimaan/pengeluaran hibah selain kas;

pembelian secara kredit;

retur pembelian kredit;

pemindahtanganan atas aset tetap/barang milik daerah tanpa konsekuensi kas;


dan

penerimaan aset tetap/barang milik daerah tanpa konsekuensi kas.


Pengesahan pertanggungjawaban pengeluaran (pengesahan SPJ) merupakan

pengesahan atas pengeluaran/belanja melalui mekanisme uang persediaan/ganti


uang persediaan/tambahan uang persediaan. Koreksi kesalahan pencatatan
merupakan koreksi terhadap kesalahan dalam membuat jurnal dan telah diposting
ke

buku

besar.

Penerimaan/pengeluaran

hibah

selain

kas

adalah

penerimaan/pengeluaran sumber ekonomi non kas yang merupakan pelaksanaan


APBD yang mengandung konsekuensi ekonomi bagi pemerintah daerah. Pembelian
secara kredit merupakan transaksi pembelian aset tetap yang pembayarannya
dilakukan di masa yang akan datang. Retur pembelian kredit merupakan
pengembalian aset tetap yang telah dibeli secara kredit. Pemindahtanganan atas aset
tetap tanpa konsekuensi kas merupakan pemindahtanganan aset tetap pada pihak
ketiga karena suatu hal tanpa ada penggantian berupa kas. Penerimaan aset tetap
tanpa konsekuensi kas merupakan perolehan aset tetap akibat adanya tukar menukar
(ruitslaag) dengan pihak ketiga.
Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi selain kas berupa
bukti memorial yang dilampiri dengan:

pengesahan pertanggungjawaban pengeluaran (pengesahan SPJ);

berita acara penerimaan barang;

surat keputusan penghapusan barang;

surat pengiriman barang;

surat keputusan mutasi barang (antar SKPD);

berita acara pemusnahan barang;

berita acara serah terima barang; dan

berita acara penilaian.


Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dan/atau kejadian dalam

prosedur akuntansi selain kas mencakup:

buku jurnal umum;

buku besar; dan

buku besar pembantu.

Uraian Prosedur :

PPK-SKPD berdasarkan bukti transaksi dan/atau kejadian membuat bukti


memorial.

Bukti memorial sekurang-kurangnya memuat informasi mengenai tanggal


transaksi dan/atau kejadian, kode rekening, uraian transaksi dan/atau kejadian,
dan jumlah rupiah.

Bukti memorial dicatat ke dalam buku jurnal umum.

Secara periodik jurnal atas transaksi dan/atau kejadian selain kas diposting ke
dalam buku besar rekening berkenaan.

Setiap akhir periode semua buku besar ditutup sebagai dasar penyusunan
laporan keuangan SKPD.

2. Satuan Kerjs Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD)


Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat SKPKD
adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna
barang, yang juga melaksanakan pengelolaan keuangan daerah. Pejabat Pengelola
Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat PPKD adalah kepala satuan kerja
pengelola keuangan daerah yang selanjutnya disebut dengan kepala SKPKD yang
mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak sebagai bendahara
umum daerah.
a. Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas
Prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPKD meliputi serangkaian proses
mulai dari pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan yang
berkaitan dengan penerimaan kas dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan
APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer.
Fungsi yang terkait :
Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah dan Bidang Akuntansi dan
Pengelolaan Asset Daerah. Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi
penerimaan kas mencakup:

bukti transfer;

nota kredit bank; dan

surat perintah pemindahbukuan.

Bukti transaksi tersebut diatas kemudian dilengkapi dengan:

surat tanda setoran (STS);

surat ketetapan pajak daerah (SKP-Daerah);

surat ketetapan retribusi (SKR);

laporan penerimaan kas dari bendahara penerimaan; dan

bukti transaksi penerimaan kas lainnya.


Buku yang digunakan untuk mencatat prosedur akuntansi penerimaan kas

mencakup:

buku jurnal penerimaan kas;

buku besar; dan

buku besar pembantu.

UraianProsedur :

Fungsi akuntansi berdasarkan bukti transaksi penerimaan kas melakukan


pencatatan ke dalam buku jurnal penerimaan kas dengan mencantumkan
uraian rekening-lawan asal penerimaan kas berkenaan.

Secara periodik jurnal atas transaksi penerimaan kas diposting ke dalam buku
besar rekening berkenaan.

Setiap akhir periode semua buku ditutup sebagai dasar penyusunan laporan
keuangan SKPKD.

b. Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas


Prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPKD meliputi serangkaian proses
mulai dari pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan yang
berkaitan dengan pengeluaran kas dalam rangka pertanggungjawaban
pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan
aplikasi komputer.
Fungsi yang terkait :

Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah dan Bidang Akuntansi dan

Pengelolaan Asset Daerah ;


Bendahara di SKPKD.
Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi pengeluaran kas

mencakup:

surat perintah pencairan dana (SP2D); atau


nota debet bank.

Bukti transaksi dilengkapi dengan:

surat penyediaan dana (SPD);

surat perintah membayar (SPM);

laporan pengeluaran kas dari bendahara pengeluaran; dan

kuitansi pembayaran dan bukti tanda terima barang/jasa.


Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dalam prosedur akuntansi

pengeluaran kas mencakup:

buku jurnal pengeluaran kas;

buku besar; dan

buku besar pembantu.

Uraian Prosedur :

Fungsi akuntansi SKPKD berdasarkan bukti transaksi pengeluaran kas


melakukan pencatatan ke dalam buku jurnal pengeluaran kas dengan
mencantumkan uraian rekening-lawan asal pengeluaran kas berkenaan.

Secara periodik jurnal atas transaksi pengeluaran kas diposting ke dalam


buku besar rekening berkenaan.

Setiap akhir periode semua buku besar ditutup sebagai dasar penyusunan
laporan keuangan SKPKD.

c. Prosedur Akuntansi Aset


Prosedur akuntansi aset pada SKPKD meliputi serangkaian proses pencatatan
dan pelaporan akuntansi atas perolehan, pemeliharaan, rehabilitasi, penghapusan,
pemindahtanganan, perubahan klasifikasi, dan penyusutan terhadap aset tetap
yang dikuasai/digunakan SKPKD yang dapat dilakukan secara manual atau
menggunakan aplikasi komputer. Prosedur akuntansi aset pada SKPKD
digunakan sebagai alat pengendali dalam pengelolaan aset yang
dikuasai/digunakan SKPD dan/atau SKPKD.
Fungsi yang terkait :

Bidang Akuntansi dan Pengelolaan Asset Daerah


Bidang Akuntansi dan Pengelola Aset Daerah
Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi aset berupa bukti

memorial dilampiri dengan:

berita acara penerimaan barang;


surat keputusan penghapusan barang;
surat keputusan mutasi barang (antar SKPKD);
berita acara pemusnahan barang;
berita acara serah terima barang;
berita acara penilaian; dan
berita acara penyelesaian pekerjaan.

Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dan/atau kejadian dalam


prosedur akuntansi aset mencakup:

buku jurnal umum;


buku besar; dan
buku besar pembantu.

Uraian Prosedur :

Fungsi akuntansi SKPKD berdasarkan bukti transaksi dan/atau kejadian


membuat bukti memorial.

Bukti memorial sekurang-kurangnya memuat informasi mengenai jenis/nama


aset tetap, kode rekening, klasifikasi aset tetap, nilai aset tetap, tanggal
transaksi dan/atau kejadian.

Bukti memorial dicatat ke dalam buku jurnal umum.

Secara periodik jurnal atas transaksi dan/atau kejadian aset tetap diposting ke
dalam buku besar rekening berkenaan.

Setiap akhir periode semua buku besar ditutup sebagai dasar penyusunan
laporan keuangan SKPKD.

d. Prosedur Akuntansi Hutang


Prosedur pencatatan hutang pada Bidang Akuntansi dan Pengelolaan Asset
Daerah merupakan pencatatan atas pengakuan atau pelepasan hutang jangka
panjang yang muncul dari transaksi penerimaan atau pengeluaran pembiayaan
yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah.
Uraian Prosedur :
Berdasarkan bukti transaksi yang ada, Bidang Akuntansi membuat bukti
memorial. Bukti memorial tersebut sekurang-kurangnya memuat informasi
mengenai Jenis/nama hutang jangka panjang; Kode rekening terkait; Nilai
hutang; Tanggal transaksi. Bidang Akuntansi pada DPPKAD mencatat bukti
memorial ke dalam jurnal umum.
Setiap periode, Jurnal-jurnal tersebut diposting ke Buku Besar. Setiap akhir
bulan, Bidang Akuntansi dan Pengelolaan Asset Daerah pada DPPKAD
memindahkan saldo-saldo yang ada di tiap buku besar ke dalam Neraca Saldo.
Setiap akhir tahun semua buku besar ditutup sebagai dasar penyusunan laporan
keuangan.

e. Prosedur Akuntansi Selain Kas


Prosedur akuntansi selain kas pada SKPKD meliputi serangkaian proses mulai
dari pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan yang
berkaitan dengan semua transaksi atau kejadian selain kas yang dapat dilakukan
secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. Prosedur akuntansi selain
kas mencakup mencakup:

koreksi kesalahan pembukuan;

penyesuaian terhadap akun tertentu dalam rangka menyusun laporan


keuangan pada akhir tahun;

reklasifikasi belanja modal menjadi aset tetap; dan

reklasifikasi akibat koreksi yang ditemukan dikemudian hari.

Fungsi Yang Terkait :


Fungsi yang terkait dalam prosedur akuntansi selain kas adalah Bidang
Akuntansi dan Pengelolaan Asset Daerah pada DPPKAD;
Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi selain kas
berupa bukti memorial dilampiri dengan:

berita acara penerimaan barang;

surat keputusan penghapusan barang;

surat keputusan mutasi barang (antar SKPKD);

berita acara pemusnahan barang;

berita acara serah terima barang;

berita acara penilaian; dan

berita acara penyelesaian pekerjaan.


Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dan/atau kejadian dalam

prosedur akuntansi selain kas mencakup:

buku jurnal umum;

buku besar; dan

buku besar pembantu.

Uraian Prosedur :

Fungsi akuntansi berdasarkan bukti transaksi dan/atau kejadian membuat


bukti memorial.

Bukti memorial sekurang-kurangnya memuat informasi mengenai tanggal


transaksi dan/atau kejadian, kode rekening, uraian transaksi dan/atau
kejadian, dan jumlah rupiah.

Bukti memorial dicatat ke dalam buku jurnal umum.

Secara periodik jurnal atas transaksi dan/atau kejadian selain kas diposting
ke dalam buku besar rekening berkenaan.

Setiap akhir periode semua buku besar ditutup sebagai dasar penyusunan
laporan keuangan SKPKD.

3. PERTANGGUNGJAWABAN PELAKSANAAN APBD


a. Laporan Realisasi Semester Pertama.
PPK-SKPD menyiapkan laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan
dan belanja SKPD disertai dengan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya paling

lambat 7 (tujuh) hari kerja setelah semester pertama tahun anggaran berkenaan
berakhir disampaikan kepada Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang untuk
ditetapkan sebagai laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan
belanja SKPD;
Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang menyampaikan laporan realisasi
semester pertama kepada Kepala DPPKAD sebagai dasar penyusunan laporan
realisasi semester pertama APBD paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah
semester pertama tahun anggaran berkenaan berakhir. Kepala DPPKAD menyusun
laporan realisasi semester pertama APBD dengan cara menggabungkan seluruh
laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD paling
lambat minggu kedua bulan Juli tahun anggaran berkenaan dan disampaikan kepada
Sekretaris Daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah.
Laporan realisasi semester pertama APBD dan prognosis untuk 6 (enam) bulan
berikutnya disampaikan kepada Kepala Daerah paling lambat minggu ketiga bulan
Juli tahun anggaran berkenaan untuk ditetapkan sebagai laporan realisasi semester
pertama APBD dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya. Laporan realisasi
semester pertama APBD dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya disampaikan
kepada DPRD dan Menteri Dalam Negeri paling lambat akhir bulan Juli tahun
anggaran berkenaan
b. Laporan Tahunan
Penyusunan Laporan Keuangan SKPD

PPK-SKPD menyiapkan Laporan Keuangan SKPD tahun anggaran berkenaan


dan disampaikan kepada Pejabat Pengguna Anggaran/ Pengguna Barang untuk

ditetapkan sebagai laporan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran SKPD;


Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku Pengguna
Anggaran/Pengguna Barang menyampaikan Laporan Keuangan kepada Kepala
Daerah melalui DPPKAD paling lambat 1 (satu) bulan setelah tahun anggaran
berakhir dilampiri dengan surat pernyataan Pejabat Pengguna
Anggaran/Pengguna Barang bahwa pengelolaan APBD yang menjadi
tanggungjawabnya telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian intern

yang memadai dan standar akuntansi pemerintahan.


Laporan Keuangan SKPD terdiri dari:
1) Laporan Realisasi Anggaran
2) Neraca
3) Catatan Atas Laporan Keuangan

Laporan Keuangan yang dihasilkan pada tingkat Satuan Kerja Perangkat Daerah
dihasilkan melalui proses akuntansi lanjutan yang dilakukan oleh PPK-SKPD.
Jurnal dan posting yang telah dilakukan terhadap transaksi keuangan menjadi
dasar dalam penyusunan laporan keuangan.

Penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah


Laporan Keuangan Pemerintah Daerah adalah laporan keuangan konsolidasi dari
Laporan Keuangan SKPD-SKPD dan Laporan Keuangan PPKD yang juga bertindak
sekaligus sebagai konsolidator. Proses pembuatan Laporan Keuangan Pemda ini pada
dasarnya sama dengan proses pembuatan Laporan Keuangan yang telah dijelaskan
dalam prosedur sebelumnya. Perbedaan utama adalah adanya jurnal eliminasi untuk
menghapus reciprocal account (akun RK PPKD di Laporan Keuangan SKPD dan
Akun RK SKPD di Laporan Keuangan PPKD).

Kepala DPPKAD menyusun laporan keuangan pemerintah daerah dengan cara


menggabungkan laporan-laporan keuangan SKPD paling lambat 3 (tiga) bulan

setelah berakhirnya tahun anggaran berkenaan;


Bidang Akuntansi dan Pengelolaan Aset Daerah pada DPPKAD menyiapkan
kertas kerja (worksheet) 10 lajur sebagai alat untuk menyusun Laporan
Keuangan. Kertas kerja adalah alat bantu yang digunakan dalam proses
pembuatan Laporan Keuangan. Kertas kerja berguna untuk mempermudah proses

pembuatan laporan keuangan yang dihasilkan secara manual;


Bidang Akuntansi dan Pengelolaan Asset Daerah pada DPPKAD melakukan
rekapitulasi Neraca Saldo Setelah Penyesuaian baik dari SKPD-SKPD maupun
dari PPKD. Nilai tersebut diletakkan di kolom Neraca Saldo yang terdapat pada

Kertas Kerja.
Bidang Akuntansi dan Pengelolaan Asset Daerah pada DPPKAD kemudian
membuat jurnal eliminasi. Jurnal ini dibuat dengan tujuan melakukan eliminasi
atas saldo pada akun-akun yang bersifat reciprocals. Akun Reciprocal adalah
akun-akun Rekening Koran (RK) yang merupakan jenis akun perantara dan
bersifat sementara;
Jurnal eliminasi adalah :
Eliminasi RK :
RK PPKD..

xxx

RK SKPD Dinas

xxx

RK SKPD Kantor

xxx

RK SKPD Badan

xxx

Bidang Akuntansi dan Pengelolaan Aset Daerah pada DPPKAD melakukan


penyesuaian pada neraca saldo berdasarkan jurnal eliminasi yang telah dibuat
sebelumnya. Nilai yang telah disesuaikan diletakkan pada kolom Neraca Saldo

Setelah Penyesuaian yang terdapat pada Kertas Kerja;


Berdasarkan Neraca Saldo yang telah disesuaikan, Bidang Akuntansi dan
Pengelolaan Aset Daerah pada DPPKAD mengidentifikasi akun-akun yang
termasuk dalam komponen Laporan Realisasi Anggaran dan memindahkannya ke

kolom Laporan Realisasi Anggaran yang terdapat pada Kertas Kerja;


Berdasarkan Neraca Saldo yang telah disesuaikan, Bidang Akuntansi dan
Pengelolaan Aset Daerah pada DPPKAD mengidentifikasi akun-akun yang
termasuk dalam komponen Neraca dan memindahkannya ke kolom Neraca

yang terdapat pada Kertas Kerja;


Dari kertas kerja yang telah selesai diisi, Bidang Akuntansi dan Pengelolaan Aset
Daerah pada DPPKAD menyusun Laporan Keuangan yang terdiri dari Neraca

Konsolidasi dan Laporan Realisasi Anggaran Konsolidasi.


Laporan keuangan pemerintah daerah disampaikan kepada Kepala Daerah
melalui Sekretaris Daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah dalam

rangka memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan APBD;


Laporan keuangan Pemerintah Daerah terdiri dari:
1) Laporan realisasi anggaran
2) Neraca
3) Laporan arus kas
4) Catatan atas laporan keuangan
Laporan keuangan Pemerintah Daerah disusun dan disajikan sesuai dengan
peraturan pemerintah yang mengatur tentang standar akuntansi pemerintahan
serta dilampiri dengan ikhtisar realisasi kinerja dan laporan keuangan Badan

Usaha Milik Daerah/Perusahaan Daerah;


Laporan ikhtisar realisasi kinerja disusun dari ringkasan laporan keterangan
pertanggungjawaban Kepala Daerah dan laporan kinerja interim di lingkungan

pemerintah daerah;
Penyusunan laporan kinerja interim berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam
Negeri yang mengatur mengenai laporan kinerja interim di lingkungan

pemerintah daerah
Laporan Keuangan pemerintah daerah dilampiri dengan surat pernyataan Kepala
Daerah yang menyatakan pengelolaan APBD yang menjadi tanggungjawabnya

telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai,

sesuai dengan peraturan perundang-undangan.


Laporan Keuangan disampaikan oleh Kepala Daerah kepada Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) untuk dilakukan pemeriksaan paling lama 3 (tiga) bulan setelah

tahun anggaran berakhir;


Pemeriksaan Laporan Keuangan oleh BPK diselesaikan selambat-lambatnya 2

(dua) bulan setelah menerima laporan keuangan dari Pemerintah Daerah;


Kepala Daerah memberikan tanggapan dan melakukan penyesuaian terhadap
laporan keuangan pemerintah daerah berdasarkan hasil pemeriksaanaan BPK.

c. Pen
etap
an

Raperda Tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD.


1) Kepala Daerah menyampaikan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggung
jawaban Pelaksanaan APBD pada DPRD paling lambat 6 (enam) bulan setelah
tahun anggaran berakhir;

2) Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggung jawaban Pelaksanaan APBD


memuat Laporan Keuangan yang meliputi Laporan realisasi Anggaran, Neraca,
Laporan Arus Kas, Catatan atas Laporan Keuangan serta dilampiri dengan
Laporan Kinerja yang telah diperiksa BPK dan Ikhtisar Laporan Keuangan Badan
Usaha Milik Daerah/ Perusahaan Daerah;
3) Badan Usaha Milik Daerah/Perusahaan Daerah wajib menyampaikan :
a) Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Daerah/Perusahaan Daerah untuk
periode yang sama dengan APBD yang belum di audit kepada DPPKAD
selambat-lambatnya 2 (dua setengah) bulan setelah tahun APBD berakhir;
b) Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Daerah/Perusahaan Daerah untuk
periode yang sama dengan APBD yang sudah di audit kepada DPPKAD
selambat-lambatnya 5 (lima setengah) bulan setelah tahun APBD berakhir.
4) Apabila sampai batas waktu 2 (dua) bulan setelah penyampaian laporan keuangan
BPK belum menyampaikan hasil pemeriksaan, Kepala Daerah menyampaikan
Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggung- jawaban Pelaksanaan APBD
kepada DPRD;
5) Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD
dirinci dalam Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran
Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD;
6) Agenda Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban
Pelaksanaan APBD ditentukan oleh DPRD;
7) Persetujuan bersama terhadap Rancangan

Peraturan

Daerah

tentang

Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD oleh DPRD paling lambat 1 (satu) bulan


terhitung sejak Rancangan Peraturan Daerah diterima.

d. Evaluasi

Rancangan

Peraturan

Daerah

Tentang

Pertanggungjawaban

Pelaksanaan APBD dan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran


Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD
1) Rancangan peraturan daerah provinsi tentang pertanggungjawaban pelaksanaan
APBD yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan gubernur
tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebelum ditetapkan
oleh gubernur paling lama 3 (tiga) hari kerja disampaikan terlebih dahulu kepada
Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi.
2) Hasil evaluasi disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri kepada Gubernur paling
lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud.

3) Apabila Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan


daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan peraturan
gubernur tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sudah
sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih
tinggi, gubernur menetapkan rancangan peraturan daerah dan rancangan
peraturan gubernur menjadi peraturan daerah dan peraturan gubernur.
4) Dalam hal Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan
daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan peraturan
gubernur tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD
bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang
lebih tinggi, gubernur bersama DPRD wajib melakukan penyempurnaan paling
lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi.
5) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh gubernur dan DPRD, dan
gubernur tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan peraturan gubernur
tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD menjadi peraturan
daerah dan peraturan gubernur, Menteri Dalam Negeri membatalkan peraturan
daerah dan peraturan gubernur dimaksud sesuai dengan peraturan perundangundangan.
6) Rancangan peraturan daerah kabupaten/kota tentang pertanggungjawaban
pelaksanaan APBD yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan
bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD
sebelum ditetapkan oleh bupati/walikota paling lama 3 (tiga) hari kerja
disampaikan kepada gubernur untuk dievaluasi.
7) Hasil evaluasi disampaikan oleh gubernur kepada bupati/walikota paling lama 15
(lima belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan peraturan daerah
kabupaten/kota dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.
8) Apabila gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota
tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sudah sesuai dengan
kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi,
bupati/walikota menetapkan rancangan dimaksud menjadi peraturan daerah dan
peraturan bupati/walikota.
9) Dalam hal gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah
tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APED dan rancangan peraturan

bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD tidak


sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih
tinggi, bupati/walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7
(tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi.
10) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh bupati/walikota dan DPRD, dan
bupati/walikota tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota
tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD menjadi peraturan
daerah dan peraturan bupati/walikota, Gubernur membatalkan peraturan daerah
dan peraturan bupati/walikota dimaksud sesuai dengan peraturan
perundangundangan.
11) Gubernur menyampaikan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah
kabupaten/kota tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan
peraturan bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan
APBD kepada Menteri Dalam Negeri.