Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK KIMIA IV

AYAKAN (SIEVING)

Disusun Oleh: Rindi Sulistyani


NIM: 1513020

POLITEKNIK STMI JAKARTA


Jl. Letjen Suprapto No.26, Cempaka Putih, Jakarta Pusat 10510
Website: www.stmi.ac.id. Telp: (021)42886064. Fax: (021) 42888206

OPERASI AYAKAN ( SIEVING )

I. MAKSUD DAN TUJUAN


Memisahkan bahan atas dasar ukuran partikel, untuk memperoleh bahan dengan ukuran
partikel lebih uniform.
Menentukan luas permukaan spesifik bahan.

II.TEORI PERCOBAAN
Material padat yang terdapat dalam ukuran yang terlalu besar untuk dilakukan proses
mekanik pada umumnya membutuhkan perlakuan fisik untuk memperkecil ukurannya.
Pengecilan ukuran itu biasanya dimaksudkan untuk memudahkan pemisahan campuran
material padat. Umumnya crushing dan grinding sering dilakukan untuk mengubah ukuran
partikel padatan yang besar menjadi partikel yang lebih kecil.
Dalam industri proses makanan, sejumlah besar produk makanan melibatkan proses
pengecilan ukuran. Roller mill digunakan untuk menggerus gandum menjadi tepung.
Kacang kedelai digiling, dipress dan dihancurkan untuk mendapatkan minyak dan
tepungnya. Hammer mill sering digunakan untuk menghasilkan tepung kentang, tapioca
atau jenis-jenis tepung lainnya. Gula dihancurkan untuk menghasilkan produk yang lebih
lama.
Operasi grinding sangat luas penggunaannya pada proses bijih tambang dan industri
semen. Sebagai contoh bijih tembaga, nikel, kobal dan besi biasanya dilakukan proses
grinding sebelum mengalami proses kimia. Limestone, marble, gypsum, dan dolomite
dihancurkan untuk penggunaan sebagai pengisi kertas, cat dan kertas. Bahan baku untuk
industri semen seperti lime, alumina dan silika digiling dalam skala besar atau dalam
jumlah besar.
Material padat diperkecil ukurannya dengan sejumlah metode perlakuan, compression
atau crushing umumnya untuk memperkecil padatan. Distribusi ukuran partikel sering pula
dinyatakan dalam jumlah kumulatif persen partikel yang lebih kecil dari ukuran yang
ditetapkan terhadap ukuran partikel.
Istilah pemecahan dan penghalusan atau penghancurkan (size reduction) zat padat
meliputi semua cara yang digunakan dimana partikel zat padat dipotong dan dipecahkan
menjadi kepingan-kepingan yang lebih kecil. Produk-produk komersial biasanya harus
memenuhi spesifikasi yang sangat dalam hal ukuran maupun bentuk partikel-partikelnya
menyebabkan reaktifitas zat padat itu meningkat. Pemecahan itu juga memungkinkan
Ayakan (Sieving) | 1

pemisahan komponen yang tak dikehendaki dengan cara-cara mekanik. Pemecahan itu
dapat

digunakan

untuk

memperkecil

bahan-bahan

berserat

guna

memudahkan

penanganannya.
Zat padat dapat diperkecil dengan berbagai cara, namun hanya ada empat cara saja yang
lazim digunakan dalam mesin pemecah penghalus. Cara itu ialah:
Kompresi (tekanan): Pada umumnya kompresi digunakan untuk pemecahan kasar zat
padat keras, dengan menghasilkan relatif sedikit halusan.
Impact (pukulan): Pukulan menghasilkan hasil yang berukuran kasar, sedang dan halus.
Atsiri (gesekan): Atsiri menghasilkan hasil yang sangat halus dari bahan yang lunak dan
tak-abrasif.
Pemotongan: Pemotongan memberikan hasil yang ukurannya pasti, dan kadang-kadang
juga bentuknya dengan hanya sedikit dan tak ada halusan sama sekali.
Kompresi umumnya digunakan utnuk pemecahan kasar zat padat keras, dengan
menghasilkan relatif sedikit halusan. Pukulan menghasilkan hasil yang berukuran kasar,
sedang dan halus.Berdasarkan ukuran zat padat yang akan dikecilkan (umpan), maka
peralatan pemecah atau pengecilan ukuran dibedakan atas
Pemecah kasar, yaitu menghasilkan padatan dengan ukuran umpan antara 2 sampai 96
inchi
Pemecah antara, yaitu menghasilkan padatan dengan ukuran 1 sampai 3 inchi
Pemecah halus , yaitu menghasilkan padatan dengan ukuran 0,25 sampai 0,5 inchi
Jenis-jenis mesin pemecah dan penghalus zat padat ialah:
A. Mesin pemecah (kasar dan halus)
1. Mesin-mesin rahang (jaw crusher)
2. Mesin pemecah giratori atau pemecah kisar (gyratory crusher)
3. Mesin pemecah roi (crushing rolls)
B. Mesin giling (sedang dan halus)
1. Mesin tumbuk palu (hammer mill); impaktor (impactor)
2. Mesin giling rol-kompresi (rolling-compression mill)
a. Mesin giling mangkuk (bowl mill)
b. Mesin giling rol (roll mill)
3. Mesin giling atsiri atau mesin giling kikis (attrition mill)
4. Mesin giling jungkir-guling (tumbling mill)
a. Mesin giling pakai-batang (rod mill)
Ayakan (Sieving) | 2

b. Mesin giling pakai-bola (ball mill): penggilingan pakai-batu (pebble mill)


c. Mesin giling tabung (tube mill): mesin giling kompartemen (compartment mill)
C. Mesin giling ultra halus
1. Mesin tumbuk palu (hammer mill) dengan klasifikasi dalam
2. Mesin giling energi-fluida (fluid-energy mill)
3. Mesin giling aduk (agitated mill)
D. Mesin potong
Pisau potong (knife cutter);mesin cencang (dicer); mesin iris (slitter)
Masing-masing mesin ini bekerja dengan cara yang berbeda. Pada mesin pemecah, cirri
kerjanya adalah kompresi (tekanan). Mesin giling menggunakan impak (pukulan) dan atsiri
(kikisan), kadang-kadang dalam gabungan dengan kompresi; mesin giling ultrahalus
bekerja terutama dengan atsiri. Pada mesin potong, mesin cencang, dan mesin iris, cirinya
tentulah aksi potong.
Beberapa jenis ayakan lainnya yang digolongkan dalam ayakan dinamis sesuai dengan
tipe gerakan yang digunakan untuk mengayak dan memindahkan material pada ayakan
antara lain:
Vibrating screen, permukaannya horizontal dan miring digerakkan pada frekuensi tinggi
(1000-7000 Hz). Satuan kapasitas tinggi, dengan efisiensi pemisahan yang baik, yang
digunakan untuk range yang luas dari ukuran partikel.
Occillating xcreen, dioperasikan pada frekuensi yang lebih rendah dari vibrating screen
(100-400 Hz) dengan waktu yang lebih lama, lebih linier dan tajam.
Reciprocating screen, dioperasikan dengan gerakan menggoyang, pukulan yang panjang
(20-200 Hz). Digunakan untuk pemindahan dengan pemisahan ukuran.
Shifting screen, dioperasikan dengan gerakan memutar dlam bidang permukaan ayakan.
Gerakan aktual dapat berupa putaran, atau gerakan memutar. Digunakan untuk
pengayakan material basah atau kering.
Resolving screen, ayakan miring, berotasi pada kecepatan rendah 910-20 rpm).
Digunakan untuk pengayakan basah dari material-material yang relatif kasar, tetapi
memiliki pemindahan yang kasar dengan vibrating screen.
Produk dari proses pengayakan/penyaringan ada 2 (dua), yaitu:
Ukuran lebih besar daripada ukuran lubang-lubang ayakan (oversize).
Ukuran yang lebih kecil daripada ukuran lubang-lubang ayakan (undersize)

Ayakan (Sieving) | 3

Dalam proses industri, biasanya digunakan material yang berukuran tertentu dan
seragam. Untuk memperoleh ukuran yang seragam, maka perlu dilakukan pengayakan.
Pada proses pengayakan zat padat itu dijatuhkan atau dilemparkan ke permukaan pengayak.
Partikel yang di bawah ukuran atau yang kecil (undersize), atau halusan (fines), lulus
melewati bukaan ayak, sedang yang di atas ukuran atau yang besar (oversize), atau buntut
(tails) tidak lulus. Pengayakan lebih lazim dalam keadaan kering (McCabe, 1999, halaman
386).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengayakan, yaitu:

Jenis ayakan
Cara pengayakan
Kecepatan pengayakan
Ukuran ayakan
Waktu pengayakan
Sifat bahan yang akan diayak
Permukaan ayakan yang digunakan pada screen bervariasi, yaitu: [Brown,1950]

Plat yang berlubang (punched plate, bahan dapat berupa baja ataupun karet keras.
Anyaman kawat (woven wire), bahan dapat berupa baja, nikel, perunggu, tembaga, atau
logam lainnya.
Susunan batangan logam, biasanya digunakan batang baja (pararel rods).
Sistem bukaan dari permukaan ayakan juga bervariasi, seperti bentuk lingkaran, persegi
ataupun persegi panjang. Penggunaan bentuk bukaan ini tergantung dari ukuran,
karakteristik material, dan kecepan gerakan screen.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan material untuk menerobos ukuran ayakan
adalah:
Ukuran buhan ayakan
Semakin besar diameter lubang bukaan akan semakin banyak material yang lolos.
Ukuran relatif partikel
Material yang mempunyai diameter yang sama dengan panjangnya akan memiliki
kecepatan dan kesempatan masuk yang berbeda bila posisinya berbeda, yaitu yang satu
melintang dan lainnya membujur.
Pantulan dari material
Pada waktu material jatuh ke screen maka material akan membentur kisi-kisi screen
sehingga akan terpental ke atas dan jatuh pada posisi yang tidak teratur.
Ayakan (Sieving) | 4

Kandungan air
Kandungan air yang banyak akan sangat membantu tapi bila hanya sedikit akan
menyumbat screen.
Karakteristik Partikel Zat Padat.
Partikel zat padat secara individu dikarakteristikan dengan ukuran, bentuk dan
densitasnya. Tekanannya tidak sama ke segala arah. Tegangan geser yang diperlakukan
pada permukaan suatu massa ditransmisikan di seluruh massa partikel itu kecuali jika telah
terjadi kegagalan.
Partikel zat padat homogen mempunyai densitas yang sama dengan bahan bongkahan.
Partikel-partikel yang didapatkan dengan memecahkan zat padat campuran, misalnya bijih
yang mengandung logam, mempunyai berbagai densitas, biasanya mempunyai densitas
yang berbeda dari bahan lindaknya. Untuk partikel yang bentuknya beraturan, misalnya
yang berbentuk bola dan kubus, ukuran dan bentuknya dapat dinyatakan dengan mudah.
Tetapi partikel yang bentuknya tidak beraturan (seperti butir-butir pasir dan serpih mika),
istilah ukuran (size) dan bentuk (shape) tidak begitu jelas dan harus didefinisikan
secara acak.
Bentuk Partikel
Bentuk setiap partikel dikarakteristikkan dengan sferisitas atau kebolaan (Sphericity) S ,
yang tidak bergantung pada ukuran partikel. Untuk partikel berbentuk bola

dengan

diameter Dp, = 1; untuk partikel yang tidak berbentuk bola, sferisitas didefinisikan oleh
hubungan:
S=
dimana :

6V p
..(1)
D p x Sp

Dp = diameter ekivalen atau diameter nominal partikel


sp

= luas permukaan ssatu partikel

vp = volume satu partikel


Diameter ekivalen kadang-kadang didefinisikan sebagai diameter bola yang volumenya
sama dengan volume partikel itu. Tetapi, bahan-bahan berbentuk bijian (granular) halus,
volume maupun luas permukaannya tidak mudah ditentukan secara eksak, sehingga Dp
biasanya diambil dari ukuran nominal atas dasar analisis ayak (screen analysis) atau melalui
Ayakan (Sieving) | 5

pemeriksaan mikroskop. Luas permukaan didapatkan dari pengukuran adsorpsi atau dari
penurunan tekanan di dalam hamparan partikel, dan kemudian pers. (1) diterapkan untuk
menghitung S. Untuk kebanyakan bahan pecahan, nilai S berkisar antara 0,6 dan 0,8,
seperti terlihat pada tabel 1; tapi untuk partikel yang telah membulat karena abrasi S bisa
sampai setinggi 0,95.
Untuk kubus dan silinder yang panjangnya L sama dengan diameternya, diameter
ekivalen itu lebih besar dasri L, dan S yang didapatkan dari diameter ekivalen ialah 0,61
untuk kubus dan 0,87 untuk silinder. Untuk bentuk-bentuk itu sebaiknya digunakan
diameter nominal L, karena rasio permukaan terhadap volume ialah 6/Dp, sama dengan
bola, dan hal ini membuat S sama dengan 1,0. Untuk isian kolom (column packing) seperti
cincin dan pelana, juga digunakan ukuran nominal untuk menentukan S.
Ukuran Partikel
Pada umumnya, diameter dapat ditentukan untuk setiap partikel yang ekidimensional.
Partikel yang tidak ekidimensional, yaitu yang panjang pada satu arah ketimbang pada arah
yang lain, partikel itu dikarakterisasi dengan dimensi utama yang kedua terpanjang. Untuk
partikel berbentuk jarum, umpamanya Dp akan menunjukkan tebal partikel, dan bukan pada
panjangnya.
Ukuran partikel manurut konvensi, dinyatakan dalam berbagai satuan, bergantung pada
jangkauan ukuran yang terlibat. Parikel-partikel kasar diukur dalam inci atau milimeter;
partikel halus dengan ukuran ayak, partikel yang sangat halus dengan ukuran mikrometer.
Partikel-partikel yang ultra halus kadang-kadang diberikan dengan luas permukaan per
satuan massa, biasanya dalam meter persegi per gram.

Ukuran Partikel Campuran Dan Analisis Ukuran.


Dalam contoh yang ukurannya seragam, dengan diameter Dp, volume total partikel ialah
m/p, diameter m dan p masing-masing ialah massa contoh dan densitas partikel. Oleh
karena volume satu partikel adalah vp, banyaknya partikel di dalam contoh N ialah :

Ayakan (Sieving) | 6

N=

m
..(2)
p X V p

Tabel 1. Sifat bola untuk bermacam-macam bahan.


Bahan

Sifat bentuk
bola

Bola, kubus, silinder


pendek (L = Dp)

1,0

Cincin Raschig (L =
Dp)

Bahan

Sifat bentuk bola

Pasir Rounded

0,95

Pasir Ottawa

0,83

Debu Coal

0,73

L = Do, Di = 0,5 Do

0,58

Pasir Hitam

0,65

L = Do, Di = 0,75 Do

0,33

Gelas Crushed

0,65

Pelana Berl

0,3

Sempih Mica

0,28

Luas permukaan partikel-partikel itu ialah, dari pers. (1) dan (2)
A=N S p =

6m
..(3)
S x p x D p

Agar dapat menerapkan pers. (2) dan (3) terhadap partikel yang mempunyai berbagai
ukuran dan berbagai densitas, campuran itu dipilahkan menjadi fraksi-fraksinya, masingmasing dengan densitas konstan dan ukuran yang mendekati konstan. Setiap fraksi ini
ditimbang, atau partikel-partikelnya dicacah atau diukur dengan salah satu cara yang dapat
digunakan. Pers. (2) dan (3) lalu dapat diterapkan terhadap setiap fraksi itu dan hasilnya
kemudian dijumlahkan.
Informasi dari analisis ukuran partikel didaftarkan untuk menunjukkan massa atau
jumlah fraksi yang terdapat didalam setiap tokokan atau pertambahan kecil (increment)
ukuran berbagai fungsi ukuran partikel rata-rata (atau jangkauan ukuran) di dalam tokokan
itu. Analisis yang ditabulasikan dengan cara demikian dinamakan analisis differensial
(differensial analysis). Hasilnya biasanya disajikan dalam bentuk histogram, seperti terlihat
pada gambar 1a, dengan menggunakan kurva kontinu sebagai pendekatan terhadap
distribusi, seperti ditunjukkan oleh garis putus-putus pada gambar itu. Cara kedua untuk
menyajikan informasi itu ialah dengan menggunakan analisis kumulatif (Cumulatif
Analysis) yang didapatkan dengan menjumlahkan tokokan-tokokan itu secara berurutan,
mulai dari yang mengandung partikel terkecil; lalu mendaftarkan atau memetakan jumlah
kumulatif tersebut terhadap diameter maksimum dari partikel yang terdapat di dalam
Ayakan (Sieving) | 7

tokokan itu. Gambar 1b, merupakan pemetaan terhadap analisis kumulatif distribusi yang
terlihat pada gambar 1a. Dalam analisis kumulatif, data itu dapat dinyatakan dengan baik
dalam bentuk kurva kontinu.
Perhitungan mengenai ukuran partikel rata-rata, luas permukaan partikel, atau populasi
partikel itu di dalam campuran itu dapat dibuat berdasarkan analisis differensial ataupun
analisis kumulatif. Pada prinsipnya, metode yang didasarkan atas analisis kumulatif lebih
tepat daripada yang didasarkan atas analisis differensial; sebab, bila kita menggunakn
analisis kumulatif, kita tidak perlu lagi mengandaikan bahwa semua partikel yang terdapat
di dalam satu fraksi tertentu mempunyai ukuran yang sama. Namun, dilain pihak ketelitian
pengukuran besar partikel biasanya tidak memadai untuk kita menggunakan analisis
kumulatif, sehingga perhitungan itu hampir selalu didasarkan atas analisis differensial saja.
Permukaan Spesifik Campuran
Jika densitas partikel p dan sferisitas s diketahui, luas permukaan partikel didalam
setiap fraksi dapat dihitung dari pers. (3).
Bila hasilnya untuk semua fraksi dijumlahkan kita akan mendapatkan A, yaitu
permukaan spesifik (spesific surface), artinya luas permukaan total per satuan massa
partikel. Jika p dan s adalah konstan, Aw diberikan oleh :
6X1
6X 2
6X n

...
S p D p1
S p D p2
S p D pn

Aw =
6
S p

xi

i 1

(4)

pi

dimana: subkrip = masing-masing tokokan


Xi = fraksi massa dalam setiap tokokan tertentu
n = jumlah tokokan
Dpi = diameter partikel rata-rata, diambil sebagai rata-rata aritmetik dari
diameter terkecil dan terbesar di dalam tokokan itu.

Ayakan (Sieving) | 8

0.25
0.2
0.15

FRAKSI MASAA

0.1
0.05
0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

UKURAN PARTIKEL
Fraksi Mas sa Kumulatif le bih kec il dar i ukura n ya ng ditetapka n

UKURA N PARTIKEL

Gambar 1. Distribusi ukuran partikel untuk powder :


analisis differensial
analisis kumulatif
Ukuran Partikel Rata-rata
Ukuran partikel rata-rata untuk campuran partikel didefinisikan menurut berbagai cara.
Barangkali yang paling lazim dipakai ialah diameter pukul-rata volume-permukaan
(volume-surface mean diameter) Dpi, yang dihubungkan dengan luas permukaan spesifik
Aw.
Didefinisikan oleh :

Ds =

6
S

Aw p

(5)

Substitusikan pers. (4) ke dalam pers. (5) memberikan :


1
xi

Ds =

D pi

(6)

Ayakan (Sieving) | 9

Jika jumlah partikel di dalam setiap fraksi N i diketahui, dan bukan fraksi massanya.
Kadang-kadang, digunakan rata-rata lain. Diameter pukul-rata-rata aritmetik (arithmetic
mean diameter) DN ialah :

N
n

D pi

i 1

D pi

i 1

N
n

NT

i 1

(7)

DN =

Dimana NT ialah jumlah partikel di dalam keseluruhan contoh.


Diameter pukul-rata massa (massa mean diameter) Dw didapatkan dari persamaan:
Dw = xi Dpi (8)
Jika volume total contoh itu dibagi dengan jumlah partikel di dalam campuran (lihat di
bawah) kita dapatkan volume rata-rata setiap partikel. Diameter partikel itu ialah diameter
pukul-rata volume (volume mean diameter) Dv, yang didapatkan dari hubungan:

1
3

Dv =

xi


i 1

3
D pi

(9)

Untuk contoh yang terdiri dari partikel seragam, diameter rata-rata, tentu saja sama.
Tetapi untuk campuran yang terdiri dari partikel berbagai ukuran, masing-masing diameter
rata-rata yang ada itu mungkin sangat berlainan satu sama lain.
Jumlah Partikel Di Dalam Campuran
Untuk menghitung, dari analisa differensial, jumlah partikel yang terdapat didalam
campuran, dapat kita gunakan pers. (2), yaitu persamaan untuk menghitung jumlah partikel
yang terdapat di dalam setiap fraksi. Kemudian N w, yaitu populasi total didalam suatu
massa contoh, didapatkan dengan menjumlahkan senua fraksi. Untuk suatu bentuk partikel
tertentu, volume setiap partikel itu sebanding dengan diameternya pangkat tiga, atau
vp = a Dp3 (10)
dimana a adalah faktor bentuk volume (volume shape factor). Dari pers.(2) dengan
mengandaikan bahwa a tidak bergantung pada ukuran, maka
1
a p

Nw =

xi

i 1

pi

1
a p Dv3

(11)
Ayakan (Sieving) | 10

Luas permukaan spesifik, diameter rata-rata yang bermacam-macam serta jumlah


partikel dapat dihitung dengan mudah dari analisis ukuran partikel dengan menggunakan
program komputer yang sederhana. Instrumen-instrumen pengukur untuk partikel-partikel
yang sangat halus banyak yang sudah diprogramkan sehingga dapat menyatakan besaranbesaran itu secara langsung.
Analisis Ayak; Deret Ayak Standar
Ayak (screen) standar digunakan untuk mengukur besarnya partikel (dan distribusinya)
dalam jangkau ukuran antara 3 sampai 0,0015 in (76 mm sampai 38 m). Ayak-ayak uji itu
terbuat dari kawat, sedang rapat anyaman (mesh) dan ukuran kawatnya dibakukan dengan
teliti. Bukan ayak itu berbentuk bujur sangkar. Setiap ayak itu diidentifikasi menurut mesh
(rapat ayak) per inci. Bukaan sebenarnya tentulah lebih kecil dari angka meshnya, karena
tebal kawat tentu harus diperhitungkan juga. Karakteristik dari suatu deret yang lazim yaitu
deret ayak standar Tyler (Tyler standar screen series). Perangkat ayak ini didasarkan atas
bukaan (lubang) ayak ukuran 200 mesh, yang ditetapkan sebesar 0,074 mm.
Luas bukaan pada setiap ayak tertentu adalah persis dua kalibukaan pada ayak ukuran
berikutnya yang lebih kecil. Rasio dimensi anyaman yang sebenarnya pada suatu ayak
terhadap ayak berikut yang lebih kecil, oleh karena itu ialah

= 1,41.

Untuk mendapatkan pemisahan ukuran yang lebih rapat, dibuat pula ayak-ayak dengan
4

ukuran-antara yang masing-masingnya mempunyai dimensi mesh

atau 1,189 kali

ukuran ayak standar yang lebih kecil berikutnya. Namun biasanya ayak antara ini tidak
banyak dipakai.
Dalam melakukan analisis, seperangkat ayak standar disusun secara deret dalam suatu
tumpukan, dimana ayak denmgan anyaman paling rapat ditempatkan paling bawah, dan
yang anyamannya paling besar ditempatkan paling atas. Contoh yang dianalisis lalu
dimasukkan ke dalam ayak yang paling atas dan oengayak itu diguncang secara mekanis
selama beberapa waktu tertentu, misalnya selama 20 menit. Partikel yang tertahan pada
setiap ayak dikumpulkan dan ditimbang, dan massa pada setiap tokokan ayak itu
dikonversikan menjadi fraksi massa atau persen massa dari contoh keseluruhan. Setiap
partikel yang dapat lulus dari ayak yang terhalus dikumpulkan didalam suatu panci yang
ditempatkan pada dasar susunan itu.
Ayakan (Sieving) | 11

Hasil dari analisis ayak ditabulasikan untuk menunjukkan fraksi massa pada setiap
tokokan ayak sebagai fungsi dari jangkau ukuran mesh pada setiap tokokan itu. Oleh karena
partikel yang tertahan pada suatu ayak tertentu adalah yang lulus dari ayak yang di atasnya,
maka hanya diperlukan dua angka saja untuk menentukan jangkau ukuran suatu tokokan;
angka yang pertama berdasarkan ayak yang meluluskannya, dan yang kedua ayak yang
14
20

menahannya. Jadi, notasi

berarti lulus dari 14 mesh dan tertahan oleh 20 mesh.

Contoh analisa ayak terlihat pada tabel 2. Dua kolom pertama memberikan ukuran mesh
dan lebar bukaan didalam ayak, kolom ketiga ialahj fraksi massa dari contoh keseluruhan
yang tertahan pada ayak yang bersangkutan. Fraksi itu ditandai dengan xi dimana i ialah
nomor ayak dihitung dari bawah; jadi i = 1 menunjukkan panci dan ayak i + 1 ialah ayak
berikut di atas ayak i. Lambang Dpi berarti diameter partikel, sama dengan besarnya bukaan
anyaman pada ayak i.
Dua kolom terakhir dalam tebel 2 menunjukkan diameter partikel rata-rata D pi pada
setiap tokokan dan fraksi kumulatif yang lebih kecil dari masing-masing nilai Dpi. Dalam
analisis ayak, fraksi kumulatif ini kadang-kadang dituliskan bertolak dari ayak paling atas
dan dinyatakan sebagai fraksi lebih besar dari ukuran tertentu.
Pemetaan secara differensial data yang terdapat di dalam kolom 2 dan 3. Tabel 2
memberikan gambaran yang salah mengenai distribusi ukuran partikel karena jangkau
ukuran partikel yang diliputnya berbeda dari suatu tokokan ke tokokan lain.
Bahan yang terkumpul di atas satu tokokan (ayak Tertentu) lebih sedikit bila jangkau
ukuran setiap jangkau itu masing-masing sama, dan data itu dapat dipetakan secara
langsung. Namun, disini kita akan mendapatkan gambaran yang lebih tepat dengan
memetakan xi/(Dpi+1 Dpi), dimana Dpi+1 Dpi ialah ukuran partikel dalam tokokan i. Hal ini
diilustrasikan oleh gambar 2a yang merupakan pemetaan langsung, dan Gambar 2b yang
merupakan pemetaan yang disesuaikan untuk partikel ukuran 20/28 mesh dan lebih kecil
yang didaftarkan pada table
Tabel 2. Analisis Ayak
Mesh

Bukaan ayak
Dpi, mm

Fraksi massa yang


tertahan, xi

Diameter partikel
rata-rata dalam
tokokan, Dpi, mm

Fraksi kumulatif
partikel yang
lebih kecil dari
Dpi

Ayakan (Sieving) | 12

4
6
8
10
14
20
28
35
48
65
100
148,6
200
Pan

4,699
3,327
2,362
1,651
1,168
0,833
0,589
0,417
0,295
0,208
0,147
0,104
0,074
-

0,0000
0,0251
0,148,60
0,3207
0,2570
0,1590
0,0538
0,0210
0,0102
0,0077
0,0058
0,0041
0,0031
0,0075

4,013
2,845
2,007
1,409
1,001
0,711
0,503
0,356
0,252
0,178
0,126
0,089
0,037

1,0000
0,9749
0,8499
0,5292
0,2722
0,1132
0,0594
0,0384
0,0282
0,0205
0,0147
0,0106
0,0075
0,0000

Grafik kumulatif dibuat dari hasil seperti yang didalam kolom 2 dan 5 dalam tabel 2.
Bila jangkau menyeluruh ukuran partikel itu besar, pemetaan itu sering dilakukan dengan
menggunakan skala logaritmik untuk diameter. Pemetaan kumulatif semilogaritmik
daripada analisis dari tabel 2 diberikan dalam gambar 3.
Pemetaan kumulatif itu dapat pula dibuat di atas kertas probabilitas-logaritmik dimana
skala absis dibagi sesuai dengan distribusi probabilitas menurut Gauss. Analisa ukuran
terhadap hasil dari mesin pemecah atau penggiling biasanya menghasilkan grafik garis
lurus di atas kertas itu, sedikitnya untuk sebagian besar jangkau ukurannya. Grafik seperti
itu dulu digunakan untuk ekstrapolasi ke ukuran partikel yang lebih kecil dari jangkau ayak
penguji, tetapi karena sekarang sudah ada metode untuk mengukur partikel yang sangat
kecil, hal tersebut di atas tidak diperlukan lagi.
Penentuan Ukuran Partikel Yang Sangat Halus
Ukuran partikel yang terlalu halus untuk analisis ayak dapat ditentukan dengan berbagai
metode, antara lain dengan sedimentasi differensial, pengukuran porositas pada hamparan
endapan, absorpsi cahaya di dalam suspensi, adsorpsi gas pada permukaan partikel, dan
dengan mencacah secara visual di baah mikroskop. Dalam salah satu peranti pengukur,
yaitu yang dinamakan pencacah Coulter (Coulter Counter), suspensi encer partikel dibuat
didalam zat cair pembawa yang bersifat penghantar listrik. Suspensi itu dilewatkan secara
perlahan melalui orifice yang sangat halus. Di dalam zat cair melintas orifice itu diberikan
penurunan tegangan listrik; arus yang mengalir diantara hulu dan elektrode hilir lalu diukur.

Ayakan (Sieving) | 13

III.

ALAT DAN BAHAN PERCOBAAN

Satu set ayakan dan Timbangan.


(1) Tombol Pengatur Frekuensi
(2) Tombol pengatur waktu
(3) Pegangan / pengikat

Bahan arang aktif

IV.

PROSEDUR
PERCOBAAN :
1. Ditimbang tokokan dan pan kosong dari alat ayakan.
2. Alat diset sesuai gambar dengan urutan pan paling
bawah dan selanjutnya tokokan yang berurutan
semakin ke atas nilai Mesh-nya makin kecil.
3. Bahan padat /arang (coal) ditimbang sebanyak 10
gram.
4. Arang dimasukkan ke dalam tokokan paling atas.
5. Alat ayakan dinyalakan sampai waktu dan frekuensi
tertentu.
6. Bahan dianalisis dengan dua percobaan berat konstan
dan waktu konstan.
7. Pan yang berisi coal ditimbang.

V.

DATA PENGAMATAN
VI.

Massa Konstan = 7 gram


Ayakan (Sieving) | 14

VII.
VIII.
IX.
X.

T1 = 1 Menit
T2 = 2 Menit
T3 = 3 Menit
Waktu Konstan = 1 Menit

XI.
XII.
XIII.

Massa 1 = 5 gram
Massa 2 = 6 gram
Massa 3 = 7 gram

Ayakan (Sieving) | 15

XIV.
Data Kalibrasi Mesh
XV.

XVI. Berat Kosong

XVII.

esh
XVIII. 8

(gram)

Mesh (cm)
XX. 0,017

0
XXI. 1

XIX. 118,64

8
XXIII. 0,015

00
XXIV. 1

XXII. 113,94

0
XXVI. 0,012

20
XXVII.

XXV. 106,71

4
XXIX. 0,010

140
XXX. 1

XXVIII.

110,9

4
XXXII.

70
XXXI. 106,52
XXXIII.
Massa Konstan = 7 gram

0,0089

XXXIV.

XXXV.

Mesh
XXXIX.

Mesh (cm)
XL. 0,0178

1 Menit 2 Menit 3 Menit


XLI. 6, XLII. 6, XLIII. 6,

80
XLIV. 1

XLV. 0,0150

53
40
35
XLVI. 0, XLVII. 0, XLVIII.

00
XLIX. 1

L.

0,0124

LI.

20
LIV. 1

LV.

0,0104

11
10
06
LVI. 0, LVII. 0, LVIII. 0,

0,0089

09
07
04
LXI. 0, LXII. 0, LXIII. 0,

40
LIX. 1

XXXVI.

12

LX.

70
LXIV. Total

XXXVII. XXXVIII.

14
0,09
0, LII. 0, LIII. 0,

06
05
03
LXV. 6, LXVI. 6, LXVII.6,
91

76

LXX. 5

LXXI. 6

57

Waktu Konstan = 1 Menit


LXVIII.
Mesh
LXXIII.
80

LXIX.

Mesh (cm)
gram
gram
LXXIV.
0 LXXV.4, LXXVI.
,0178

47

5,17

LXXII.
7 gram
LXXVII.
5,96

LXXVIII. LXXIX.

0 LXXX.

LXXXI.

100
,0150
LXXXIII. LXXXIV.

0,20
0 LXXXV.

0,27
0,35
LXXXVI. LXXXVII.

120
,0124
LXXXVIII.LXXXIX.

0,14
0,20
0,27
0 XC. 0, XCI. 0, XCII. 0,

140
XCIII. 1

,0104
XCIV. 0,0089

70
XCVIII.

Total

LXXXII.

08
13
19
XCV. 0, XCVI. 0, XCVII.
03
07
0,12
XCIX. 4, C.
5, CI.
6,
92

84

89

CII.

CIII.

Perhitungan

CIV.

s (Sifat Kebolaan) Coal

CV.

p (Densitas Partikel) Coal

= 0,73
= 1,4 g/cm3

CVI.
CVII. Aw Kumulatif:
Mesh gr mesh 80 gr mesh 100 gr mesh120 gr mesh 140 gr mesh170
x(
+
+
+
+
)
total gr
total gr
total gr
total gr
total gr
( s+ p )

CVIII.
CIX.

CX. Aw Differensial:
CXI.

Mesh
gr mesh80 gr mesh 80+ gr mesh100 gr mesh 100+ gr mesh120 gr mesh 120+ gr mesh 140
x
+
+
+
total gr
total gr
total gr
total gr mesh 120
( s + p)

CXII.
CXIII.

Variasi Massa:

Pada 5 gram

Mesh 80

CXIV.
CXV.

Aw Kumulatif =

Aw Differensial=
Mesh 100

( 4,47+0,20+0,14 +0,08+0,03)
0,0178
x
=8,357. 1003
(1,4 +0,73)
4,92

(4,47+ 4,67+0,34 +0,22+0,11)


0,0178
x
=0,0167
(1,4+0,73)
4,92

Aw Kumulatif =

CXVI.
CXVII.

Aw Differensial=

(4,47+ 4,67+0,34 +0,22+0,11)


0,0150
x
=0,0140
(1,4+0,73)
4,92

Mesh 120

CXVIII.

Aw Kumulatif =

Aw Differensial=

CXIX.

( 4,47+0,20+0,14 +0,08+0,03)
0,0150
x
=7,042.1003
(1,4 +0,73)
4,92

( 4,47+0,20+0,14 +0,08+0,03)
0,0124
x
=5,822.1003
(1,4 +0,73)
4,92

(4,47+ 4,67+0,34 +0,22+0,11)


0,0124
x
=0,0116
(1,4+0,73)
4,92

Mesh 140

( 4,47+0,20+0,14 +0,08+0,03)
0,0104
=4,883.1003
CXX. Aw Kumulatif = (1,4 +0,73) x
4,92
CXXI.

Aw Differensial=

(4,47+ 4,67+0,34 +0,22+0,11)


0,0104
x
=9,765 .1003
(1,4+0,73)
4,92

Mesh 170
Aw Kumulatif =

CXXII.
CXXIII.

( 4,47+0,20+0,14 +0,08+0,03)
0,0089
x
=4,178.1003
(1,4 +0,73)
4,92

Aw Differensial=

(4,47+ 4,67+0,34 +0,22+0,11)


0,0089
x
=8,357. 1003
(1,4+0,73)
4,92

CXXIV.
Pada 6 gram
Mesh 80
(5,17+ 0,27+0,20+0,13+ 0,07)
0,0178
=8,357.1003
CXXV. Aw Kumulatif = (1,4 +0,73) x
5,84
Aw Differensial=

CXXVI.

Mesh 100
Aw Kumulatif =

CXXVII.

Aw Differensial=

CXXVIII.

(5,17+5,44+ 0,47+0,33+0,2)
0,0178
x
=0,0167
(1,4+0,73)
5,84
(5,17+ 0,27+0,20+0,13+ 0,07)
0,0150
x
=7,042.1003
(1,4 +0,73)
5,84

(5,17+5,44+ 0,47+0,33+0,2)
0,0150
x
=0,0141
(1,4+0,73)
5,84

Mesh 120

CXXIX.

Aw Kumulatif =

(5,17+ 0,27+0,20+0,13+ 0,07)


0,0124
x
=5,822.1003
(1,4 +0,73)
5,84

Aw Differensial=

CXXX.

( 5,17+5,44 +0,47+0,33+ 0,2 )


0,0124
x
=0,0116
5,84
( 1,4 +0,73 )

CXXXI.
Mesh 140
(5,17+ 0,27+0,20+0,13+ 0,07)
0,0104
x
=4,883.1003
(1,4 +0,73)
5,84

CXXXII.

Aw Kumulatif =

CXXXIII.

Aw Differensial=

(5,17+5,44+ 0,47+0,33+0,2)
0,0104
x
=9,765. 1003
(1,4+0,73)
5,84

Mesh 170

CXXXIV.
CXXXV.

Aw Kumulatif =

(5,17+ 0,27+0,20+0,13+ 0,07)


0,0089
x
=4,178.1003
(1,4 +0,73)
5,84

Aw Differensial=

( 5,17+5,44 +0,47+0,33+ 0,2 )


0,0089
x
=8,357.1003
5,84
( 1,4 +0,73 )

CXXXVI.
Pada 7 gram
Mesh 80
CXXXVII.
CXXXVIII.

( 5,96+6,31+ 0,62+ 0,46+0,31 )


0,0178
x
=0,0167
6,89
( 1,4 +0,73 )

Aw Kumulatif =

(5,96+ 0,35+0,27+0,19+ 0,12)


0,0150
x
=7,042.1003
(1,4 +0,73)
6,89

( 5,96+6,31+ 0,62+ 0,46+0,31 )


0,0150
x
=0,0141
6,89
( 1,4 +0,73 )

Mesh 120
Aw Kumulatif =

CXLI.

Aw Differensial=

Aw Differensial=

CXL.

CXLII.

(5,96+ 0,35+0,27+0,19+ 0,12)


0,0178
x
=8,357. 1003
(1,4 +0,73)
6,89

Mesh 100

CXXXIX.

Aw Kumulatif =

Aw Differensial=

(5,96+ 0,35+0,27+0,19+ 0,12)


0,0124
x
=5,822.1003
(1,4 +0,73)
6,89

( 5,96+6,31+ 0,62+ 0,46+0,31 )


0,0124
x
=0,0116
6,89
( 1,4 +0,73 )

Mesh 140

CXLIII.

CXLIV.

Aw Kumulatif =

(5,96+ 0,35+0,27+0,19+ 0,12)


0,0104
x
=4,883.1003
(1,4 +0,73)
6,89

Aw Differensial=

( 5,96+6,31+ 0,62+ 0,46+0,31 )


0,0104
x
=9,765. 1003
6,89
( 1,4 +0,73 )

Mesh 170

Aw Kumulatif =

CXLV.
CXLVI.

(5,96+ 0,35+0,27+0,19+ 0,12)


0,0089
x
=4,178.1003
(1,4 +0,73)
6,89

Aw Differensial=

( 5,96+6,31+ 0,62+ 0,46+0,31 )


0,0089
x
=8,357. 1003
6,89
( 1,4 +0,73 )

CXLVII.
CXLVIII. Variasi Waktu
Pada 1 menit
Mesh 80
CXLIX.

Aw Kumulatif =

Aw Differensial=

CL.

(6,53+ 0,12+ 0,11+0,09+0,06)


0,0178
x
=8,357. 1003
(1,4 +0,73)
6,91

( 6,53+6,65+ 0,23+0,2+0,15 )
0,0178
x
=0,0167
6,91
( 1,4 +0,73 )

Mesh 100
Aw Kumulatif =

CLI.
CLII.

Aw Differensial=

(6,53+ 0,12+ 0,11+0,09+0,06)


0,0150
x
=7,042. 1003
(1,4 +0,73)
6,91

( 6,53+6,65+ 0,23+0,2+0,15 )
0,0150
x
=0,0141
6,91
( 1,4 +0,73 )

Mesh 120
CLIII.
CLIV.

Aw Kumulatif =

(6,53+ 0,12+ 0,11+0,09+0,06)


0,0124
x
=5,822. 1003
(1,4 +0,73)
6,91

Aw Differensial=

( 6,53+6,65+ 0,23+0,2+0,15 )
0,0124
x
=0,0116
6,91
( 1,4 +0,73 )

Mesh 140
CLV.
CLVI.

Aw Kumulatif =

(6,53+ 0,12+ 0,11+0,09+0,06)


0,0104
x
=4,883.1003
(1,4 +0,73)
6,91

Aw Differensial=

( 6,53+6,65+ 0,23+0,2+0,15 )
0,0104
x
=9,765. 1003
6,91
( 1,4 +0,73 )

Mesh 170
CLVII.
CLVIII.

Aw Kumulatif =

(6,53+ 0,12+ 0,11+0,09+0,06)


0,0089
x
=4,178.1003
(1,4 +0,73)
6,91

Aw Differensial=

CLIX.
Pada 2 menit
Mesh 80

( 6,53+6,65+ 0,23+0,2+0,15 )
0,0089
x
=8,357. 1003
6,91
( 1,4 +0,73 )

Aw Kumulatif =

CLX.

Aw Differensial=

CLXI.

( 6,40+6,54 +0,24+ 0,17+0,12 )


0,0178
x
=0,0167
6,76
( 1,4 +0,73 )

Mesh 100

CLXII.
CLXIII.

(6,40+ 0,14+0,10+ 0,07+0,05)


0,0178
x
=8,357.1003
(1,4 +0,73)
6,76

Aw Kumulatif =

(6,40+ 0,14+0,10+ 0,07+0,05)


0,0150
x
=7,042.1003
(1,4 +0,73)
6,76

Aw Differensial=

( 6,40+6,54 +0,24+ 0,17+0,12 )


0,0150
x
=0,0141
6,76
( 1,4 +0,73 )

Mesh 120

CLXIV.
CLXV.

Aw Kumulatif =

(6,40+ 0,14+0,10+ 0,07+0,05)


0,0124
x
=5,822.1003
(1,4 +0,73)
6,76

Aw Diff erensial=

( 6,40+6,54+ 0,24+0,17+ 0,12 )


0,0124
x
=0,0116
6,76
( 1,4+0,73 )

Mesh 140
CLXVI.
CLXVII.

Aw Kumulatif =

(6,40+ 0,14+0,10+ 0,07+0,05)


0,0104
x
=4,883. 1003
(1,4 +0,73)
6,76

Aw Differensial=

( 6,40+6,54 +0,24+ 0,17+0,12 )


0,0104
x
=9,765. 1003
6,76
( 1,4 +0,73 )

Mesh 170
CLXVIII.
CLXIX.

Aw Kumulatif =

(6,40+ 0,14+0,10+ 0,07+0,05)


0,0089
x
=4,178. 1003
(1,4 +0,73)
6,76

Aw Differensial=

( 6,40+6,54 +0,24+ 0,17+0,12 )


0,0089
x
=8,357. 1003
6,76
( 1,4 +0,73 )

CLXX.
Pada 3 menit
Mesh 80
CLXXI.

CLXXII.

Aw Kumulatif =

(6,35+ 0,09+ 0,06+0,04 +0,03)


0,0178
x
=8,357.1003
(1,4 +0,73)
6,57

Aw Differensial=

( 6,35+6,44 +0,15+0,1+0,07 )
0,0178
x
=0,0167
6,57
( 1,4 +0,73 )

Mesh 100
CLXXIII.

Aw Kumulatif =

(6,35+ 0,09+ 0,06+0,04 +0,03)


0,0150
x
=7,042.1003
(1,4 +0,73)
6,57

CLXXIV.

Aw Differensial=

( 6,35+6,44 +0,15+0,1+0,07 )
0,0150
x
=0,0141
6,57
( 1,4 +0,73 )

Mesh 120
CLXXV.
CLXXVI.

A w Kumulatif =

(6,35+0,09+ 0,06+0,04+ 0,03)


0,0124
x
=5,882. 1003
(1,4+ 0,73)
6,57

Aw Differensial=

( 6,35+6,44 +0,15+0,1+0,07 )
0,0124
x
=0,0116
6,57
( 1,4 +0,73 )

Mesh 140
CLXXVII.
Aw Kumulatif =

(6,35+ 0,09+ 0,06+0,04 +0,03)


0,0104
x
=4,883.1003
(1,4 +0,73)
6,57

CLXXVIII.
Aw Differensial=

( 6,35+6,44 +0,15+0,1+0,07 )
0,0104
x
=9,765.1003
6,57
( 1,4 +0,73 )

Mesh 170
(6,35+ 0,09+ 0,06+0,04 +0,03)
0,0089
=4,178.1003
CLXXIX. Aw Kumulatif = (1,4 +0,73) x
6,57
CLXXX.

Aw Differensial=

( 6,35+6,44 +0,15+0,1+0,07 )
0,0089
x
=8,357.1003
6,57
( 1,4 +0,73 )

CLXXXI.
Variasi Massa
CLXXXIV.
CLXXXVII.
5
gram

Fraksi Massa yang yang tertahan, Aw


CLXXXVIII.
6
CLXXXIX.
gram

gram

CXCII.D
i

CXCV.K

f
f
e
r
CLXXXII.
CLXXXIII.
N

u
CXCIII.
Kumula

e
n

CXCIV.

Differensi

al

80

Kumulat

CCIV. 0
CCII. 0,

CCI.
03

8,357.10

01
67

CCIII.

0
03

8,357.10

CCV.
03

8,357.10

CCVII.
CCVI.
CCVIII.
10
2
0,0140

l
0

CXCVIII.
CXCIX.

CXCVII.

Differen

CC.

CXCVI.

7
CCXII.0
CCIX.
7,042.1003

CCX. 0,
01
41

CCXI.
7,042.1003

,
0
1

CCXIII.
7,042.1003

4
1

CCXV.
CCXIV.
CCXVI.
12
3
0,0116

CCXVII.
5,822.1003

CCXVIII.
0,0116

CCXIX.
5,822.1003

CCXXIII.CCXXIV.
CCXXV.
CCXXVI.
CCXXII.
14
9,765.1003 4,883.1003 9,765.1003
4

CCXXVII.

CCXXXI.
CCXXXII. CCXXXIII. CCXXXIV.
CCXXX.
17
8,357.1003 4,178.1003 8,357.1003
5

CCXXXV.

CCXXXVIII.

4,883.1003

4,178.1003

CCXX.
0,0116
CCXXVIII.
9,765.1003
CCXXXVI.
8,357.1003

CCXXI.
5,822.1003
CCXXIX.
4,883.1003
CCXXXVII.
4,178.1003

Variasi Waktu
CCXLI.
CCXLIV. 1 menit
CCL. K
CCXLIX.
CCXXXIX.
CCXL. Differen
N
M
s
i
a
l

CCLV.CCLVI. CCLVII.
1

80

0,0167

Fraksi Massa yang yang tertahan, Aw


CCXLV. 2 menit
CCXLVI. 3 menit
CCLII. K
CCLI. Di

ff

er

en

si

al

i
f
CCLVIII.

CCLIX.
03

8,357.10

CCLXIV.
CCLXIII.
CCLXV.
10
2
0,0140

CCLXVI.

CCLXXII.
CCLXXI.
CCLXXIII.
12
3
0,0116

CCLXXIV.

7,042.1003

5,822.1003

0,0167
CCLXVII.
0,0141
CCLXXV.
0,0116

CCLIII.

Differen

u
l
a
t

CCLIV.

Kumulat

i
f
CCLX.

CCLXI.
03

8,357.10

CCLXVIII.
7,042.1003
CCLXXVI.
5,822.1003

0,0167
CCLXIX.
0,0141
CCLXXVII.
0,0116

CCLXII.
03

8,357.10
CCLXX.

7,042.1003
CCLXXVIII.
5,822.1003

CCLXXX.
CCLXXXI. CCLXXXII. CCLXXXIII.
CCLXXIX.
14
9,765.1003 4,883.1003 9,765.1003
4

CCLXXXIV. CCLXXXV. CCLXXXVI.

CCLXXXVIII.
CCLXXXIX. CCXC.
CCXCI.
CCLXXXVII.
17
8,357.1003 4,178.1003 8,357.1003
5

CCXCII.

4,883.1003

4,178.1003

9,765.1003
CCXCIII.
8,357.1003

4,883.1003
CCXCIV.
4,178.1003

CCXCV.
CCXCVI.

CCXCVII.
CCXCVIII.

VI. PEMBAHASAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat dianalisa bahwa percobaan ini

bertujuan untuk memisahkan bahan atas dasar ukuran partikel untuk memperoleh bahan dengan
ukuran partikel lebih uniform dari suatu material hasil proses penghancuran (grinding)

berdasarkan pada standard ayakan tyler. Pada Praktikum kali ini material yang akan dipastikan
adalah arang aktif.
CCXCIX.

Pengayakan dilakukan dengan dua percobaan berat konstan dan waktu konstan.

Partikel yang lolos melalui tangan tertentu disebut sebagai undersize dan partikel yang tertahan
diatas disebut oversize. Pada alat pengayakan, susuanan alat disusun dengan urutan pan paling
bawah dan selanjutnya tokokan yang berurutan semakin keatas nilai Mesh-nya makin kecil.
Dimana semakin besar ukuran ayakan maka semaki kecil ukuran lubang dalam inchi atau meter.
CCC. Pada percobaan jumlah arang aktif yang akan diayak yaitu 5 gram, 6 gram, dan 7 gram.
Kemudian arang dimasukkan ke dalam tokokan paling atas, lalu diatur waktunya selama 5 menit.
Selanjutnya diayak lagi dengan massa konstan yaitu 7 gram dengan variasi waktu 1 menit, 2
menit, dan 3 menit.
CCCI. Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa semakin besar ukuran mesh pada ayakan
maka semakin kecil bukaan ayak

D pi , mm

. Dimana pengayakan ini dipengaruhi oleh bentuk

lubang ayakan, celah dan interval ayakan, ukuran partikel, kapasitas ayakan dan keefektifan dan
variabel dalam proses pengayakan.

CCCII.
CCCIII.
CCCIV.
CCCV.
CCCVI.
CCCVII.

VII. KESIMPULAN

CCCVIII.

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

Pengecilan ukuran adalah penghancuran dan pemotongan mengurangi ukuran bahan padat
dengan kerja mekanis, yaitu membaginya menjadi partikel-partikel yang lebih kecil.
Pengayakan atau penyaringan adalah proses pemisahan secara mekanik berdasarkan perbedaan
ukuran.
Beberapa yang perlu diperhatikan dalam pengayakan yaitu jenis ayakan, cara pengayakan,
kecepatan pengayakan, ukuran ayakan, waktu pengayakan, serta sifat bahan yang akan diayak.
Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa semakin besar guncangan yang diberikan maka luas
permukaan spesifik yang didapat semakin besar.

Pada percobaan operasi ayakan ini diperlukan kelihaian dan kejelian dalam penimbangan yang
didapat.
Faktor penyebab berkurangnya jumlah bahan yang diayak haruslah dihindarkan sedini
mungkin, seperti angin, kesalahan penimbangan (bisa diakibatkan oleh alat yang tidak layak),
atau faktor akurasi lainnya.
CCCIX.
CCCX.
CCCXI.
CCCXII.
CCCXIII.
CCCXIV.
CCCXV.
CCCXVI.
CCCXVII.
CCCXVIII.
CCCXIX.
CCCXX.
CCCXXI.
CCCXXII.
CCCXXIII.
CCCXXIV.
CCCXXV.
CCCXXVI.
CCCXXVII.
CCCXXVIII.
CCCXXIX.

CCCXXX.

VIII. DAFTAR PUSTAKA

CCCXXXI.

Anonimus. 2003. Petunjuk Praktikum Operasi Teknik Kimia, Lab. Operasi

Teknik Kimia FT-UMJ. Fakultas Teknik, Jurusan. Kimia Universitas Muhammadiyah


Jakarta.

CCCXXXII.

Bernasconi, G, H. Gester, H. Hauser, H. Stauble, dan E. Schneiter.

1995. Teknologi Kimia. Bagian 2. Diterjemahkan oleh Dr. Ir. Lienda Handojo, M. Eng.
Jakarta :PT Pradnya Paramita.
CCCXXXIII.

Geankoplis, Christi. 1993. Transport Processes And Unit Operation. Third

Edition. London: Prentice Hall International.


CCCXXXIV.

McCabe,Warren L,dkk. 1999. Operasi Teknik Kimia. Jilid 2. Edisi keempat.

Diterjemahkan oleh: Ir. E.Jasjfi,M.Sc.Jakarta: Erlangga.


CCCXXXV.
CCCXXXVI.
CCCXXXVII.
CCCXXXVIII.
CCCXXXIX.
CCCXL.
CCCXLI.
CCCXLII.
CCCXLIII.
CCCXLIV.
CCCXLV.
CCCXLVI.
CCCXLVII.
CCCXLVIII.
CCCXLIX.
CCCL.
CCCLI.
CCCLII.
CCCLIII.
CCCLIV.
CCCLV.
CCCLVI.

CCCLVII.
1

IX. TUGAS

Sebutkan analisa kesalahan pada praktikum!


CCCLVIII.Jawab:

Akurasi penimbangan yang kurang akibat alat sudah tidak layak (rusak).

Faktor angin sehingga menyebabkan pada saat ditimbang kemungkinan akan jatuh
kebawah.

Proses pembersihan ayakan sebelum dimulai yang kurang bersih.

Penglihatan pada waktu ayakan yang kurang ketelitian.

Human error.
CCCLIX.

Aplikasi di dunia industry


CCCLX. Jawab:
Hammer Mill

CCCLXI.
CCCLXII.

Hammer mill merupakan aplikasi dari gaya pukul (impact force).

Prinsipnya seperti pemecahan menggunakan palu. Prinsip kerja hammer mill adalah rotor
dengan kecepatan tinggi akan memutar palu-palu pemukul di sepanjang lintasannya. Bahan
masuk akan terpukul oleh palu yang berputar dan bertumbukan dengan dinding, palu atau
sesama bahan. Akibatnya akan terjadi pemecahan bahan. Proses ini berlangsung terus
hingga didapatkan bahan yang dapat lolos dari saringan di bagian bawah alat. Jadi selain
gaya pukul dapat juga terjadi sedikit gaya sobek.
CCCLXIII.

Penggiling palu (Hammer Mill) merupakan penggiling yang serbaguna,

dapat digunakan untuk bahan kristal padat, bahan berserat dan bahan yang agak lengket.
Pada skala industri penggiling ini digunakan untuk lada dan bumbu lain, susu kering, gula
dan lain-lain (Wiratakusumah, 1992).
CCCLXIV.

Menurut Mc Colly (1955), penggunaan hammer mill mempunyai

beberapa keuntungan antara lain adalah:

Konstruksinya sederhana

Dapat digunakan untuk menghasilkan hasil gilingan yang bermacam-macam ukuran

Tidak mudah rusak dengan adanya benda asing dalam bahan dan beroperasi tanpa bahan

Biaya operasi dan pemeliharaan lebih murah dibandingkan dengan burr mill
CCCLXV.

Sedangkan beberapa kerugian menggunakan hammer mill antara lain

adalah:

Biasanya tidak dapat menghasilkan gilingan yang seragam

Biaya pemasangan mula-mula lebih tinggi dari pada menggunakan burr mill

Untuk gilingan permulaan atau gilingan kasar dibutuhkan tenaga yang relatif besar
sampai batas-batas tertentu
CCCLXVI.

Hammer mill adalah mesin yang bertujuan untuk menghancurkan bahan

material besar menjadi potongan kecil. Mesin ini memiliki banyak macam aplikasi di
banyak industri, termasuk:
Etanol tanaman (jagung)
Sebuah mesin pertanian, yang pabrik gandum menjadi tepung kasar untuk diberi makan
kepada ternak
Fluff produksi bubur kertas
Jus buah produksi
Grinding palet pengiriman digunakan untuk mulsa
Penggilingan gabah
Penggergajian, ukuran pengurangan skrap trim dan serutan planet menjadi bahan bakar
boiler atau mulsa
Pencabikan kertas
CCCLXVII.
CCCLXVIII.
CCCLXIX.
Jaw Crusher (compressive crusher)

CCCLXX.

CCCLXXI.

Pada umumnya jaw crusher banyak digunakan pada industri semen

dikarenakan kontruksinya yang sederhana jika dibandingkan dengan crusher-crusher lain


dan juga seiring digunakan sebagai primary crusher. Jenis crusher ini menggunakan gaya
tekan untuk menghancurkan maerial/batuan, gaya tekan ini ditimbulkan karena adanya
bagian yang bergerak disebut Moving plate dan Swing plate.
CCCLXXII.

Prinsip seperti gigi geraham menghancurkan makanan: Jaw Crusher

bekerja mengandalkan kekuatan motor. Melalui roda motor, poros eksentrik digerakkan
oleh sabuk segitiga dan slot wheel untuk membuat jaw plate bergerak seirama. Oleh karena
itu, material dalam rongga penghancuran yang terdiri dari jaw plate, jaw plate yang
bergerak dan side-lee board dapat dihancurkan dan diberhentikan melalui pembukaan
pemakaian.
CCCLXXIII. Jaw Crusher adalah type crusher yang paling umum, dimana sistem
kerjanya memampatkan/menghimpit material hingga hancur, biasa digunakan untuk
menghancurkan batu jenis batu yang keras, seperti batu kali, batu pegunungan, batu
mineral, batu emas, batu mangan, batu besi, dsb. Unjuk kerja dari Jaw Crusher sangatsangat ditentukan oleh ukuran Fly wheel (Roda Gila) nya dan kekuatan Shaft, karena
kedua komponen tersebut berperan vital. Untuk operasional produksi penambangan Jaw
Crusher ini tidak bisa berdiri sendiri, harus didukung dengan peralatan2 yang lain.
CCCLXXIV.
Cone crusher
CCCLXXV.
CCCLXXVI.
CCCLXXVII.
penghancur

yang

Cone crusher adalah semacam mesin


biasa

digunakan

dalam

pertambangan,

metalurgi, konstruksi pembangunan industri, jalan dan industri


kimia. Hal ini dapat digunakan untuk menghancurkan mineral
keras keras dan menengah, batu, besi bijih, batu kapur, bijih tembaga, kuarsa, granit, batu
pasir, dll.
CCCLXXVIII.

Fitur Cone Crusher:

1. Cone crusher memiliki karakteristik kekuatan tarik besar, efisiensi tinggi, kapasitas
crushing tinggi, biaya operasi yang rendah dan umur panjang. Hal ini mudah untuk
beroperasi dan ekonomis.

2. Bahan hancur adalah dengan ukuran yang sama, sehingga mengurangi beban beredar.
3. Penghancur besar dan menengah mengadopsi hidrolik ruang pembersih sistem, yang
akan membantu mengurangi down time.
4. Cone crusher dengan kamar yang berbeda yang tersedia, untuk memenuhi kebutuhan
pelanggan kami.
5. Segel Grease efektif dapat menghindari penyumbatan sistem air makan dan sistem
drainase, serta pencampuran air dan minyak.
6. Sebagai perangkat perlindungan overload, alat pengaman pegas memungkinkan benda
asing dan potongan besi untuk melewati ruang menghancurkan tanpa membahayakan
mesin.
CCCLXXIX.
CCCLXXX.

Komponen Cone Crusher:


Terdiri dari frame, sumbu horisontal, rem kerucut, roda keseimbangan,

lengan eksentrik, dinding menghancurkan atas (las kerucut), turun menghancurkan dinding
(bergerak kerucut), kopling fluida, sistem pelumas, sistem hidrolik dan sistem kontrol.
CCCLXXXI.
Prinsip Kerja dari Cone Crusher:
1. Ketika kerucut crusher bekerja, motor lengan eksentrik berputar. Lengan eksentrik
menggerakkan poros transmisi dan bagian kerucut untuk membuat gerakan ayunan.
Ketika akan berayun sampai permukaan dinding menghancurkan dengan dinding mortir
gulungan, batuan dan bijih yang ditekan dan dihancurkan.
2. Bersama antara lengan dan frame dikompresi dengan logam. Ketika blok logam dan
bahan lainnya yang tidak dapat hancur jatuh ke crusher, logam akan keluar dari
penghancur dan debit objek.
3. Ketika bahan yang tidak dapat dihancurkan melewati ruang menghancurkan atau
overload mesin, sistem keselamatan logam membuat lubang kerucut pemakaian
menjadi lebih besar. Saat objek keluar dari ruang menghancurkan, lubang pemakaian
secara otomatis akan reset. Cone crusher melanjutkan operasi normal.
4. Permukaan menghancurkan ruang ditutupi dengan memakai pelat baja, menolak lapisan
tinggi. Ukuran pemakaian lubang dapat disesuaikan hidrolik atau manual.
CCCLXXXII.
Roller Mills

CCCLXXXIII.
CCCLXXXIV.Prinsip kerja penggilingan. Hal ini digunakan untuk menggiling dan
menghancurkan gandum di tanaman sereal pengolahan. Hal ini dirancang untuk
mendapatkan tepung dan semolina dalam tepung dan pabrik semolina dengan mengolah
gandum dibersihkan. Aplikasi bidang:

Pada industri makanan

Tepung & semolina pabrik

Jagung, barley, rye dan tanaman sereal sama pengolahan,

Pada industri makanan lainnya untuk rolling, menghancurkan dan proses serupa
lainnya.

CCCLXXXV.
CCCLXXXVI.

Prinsip kerja:

CCCLXXXVII.

Gulungan bekerja paralel secara otomatis dibuka dan ditutup oleh

sistem pneumatik yang digerakkan oleh sebuah unit kontrol elektronik. Gandum bersih
memasuki pabrik rol dalam cermin suatu cerat dan proses penggilingan dimulai. Indikator
tingkat Capacitive menyesuaikan jumlah butir, yang memasuki pabrik rol dari inlet, yang
mengontrol gulungan makan. Biji-bijian, yang mengalir secara teratur melalui gulungan,
mengalami pengolahan. Sistem penyesuaian, yang menyediakan pendekatan yang sangat
tepat dari gulungan satu sama lain, dapat dengan mudah diintegrasikan dengan sistem
otomatisasi. Udara, yang tersedot melalui sistem pneumatik melalui saluran udara khusus
diciptakan, menyediakan aliran biasa gabah antara gulungan. Efisiensi dari pabrik rol
meningkat karena fitur tersebut.

Produk digiling dibuang ke dalam hopper, yang

ditempatkan di bawah pabrik rol dan kemudian disampaikan melalui suatu sistem
pneumatik.
CCCLXXXVIII.
Ball Mill

CCCLXXXIX.
CCCXC.
CCCXCI.
CCCXCII.
CCCXCIII.
CCCXCIV.
CCCXCV.

Ball mill merupakan alat

industry yang paling sangat dibutuhkan untuk hasil yang maksimal dalam kategori
penghancuran tingkat halus karena mesin grinding ball mill ini menggunakan teknologi
Balls (bolabola) yang di rancang sehingga memiliki luas permukaan per unit lebih dari
rod untuk menghasilkan bahan baku material yang lebih halus. Seperti halnya dalam pabrik
semen yang menerapkan teknologi ball mill pada mesin industri semen yang dikelola.
CCCXCVI.

Prinsip kerja Ball mill adalah memutarkan tabung berisi dengan peluru

besi seperti bolabola yang sudah diisikan di dalam mesin grinding tersebut terbuat dari
baja. Proses penghaluskan terjadi karena mesin grinding yang berputar sehingga ball di
dalamnya ikut menggelinding, menggerus dan menggiling seluruh material di dalam
grinding sampai halus. Jika kecepatan putaran terlalu cepat maka bola bola yang ada di
dalam mesin grinding akan menempel pada tabung dan hasil yang dihasilkan tidak akan
bagus jadi pengaturan harus disesuaikan untuk hasil yang maksimum.
CCCXCVII.

Spesifikasi Ball Mill Grinding Balls

CCCXCVIII. Bola - bola penggiling yang terbuat dari baja, baik itu dari baja tempa,
baja paduan, baja karbon tinggi atau baja cor-coran dan konsumsi berat perbola berkisar
antara 0.1 sampai 1.0 kg per ton bijih tergantung dari kekerasan bijih yang akan digerus
hingga halus. Pengisian bola - bola besi ini dilakukan sebesar 40 sampai dengan 50% dari
volum mill (maksudnya dari volume silnder tempat penampungan material) dan sekitar
40% lagi adalah ruang kosong yang difungsikan sebagai ruang udara.
CCCXCIX. Silinder penampungan juga terbuat dari bahan besi yang berkualitas
terbaik untuk menghasilkan material / bijih yang maksimum, dengan volume yang berbeda
- beda tergantung kebutuhan konsumen karena ada juga industri penggerusan tingkat
rumahan ( misal seperti pembijihan air raksa, dan berujung dengan logam mulia) sampai
dengan industri besar seperti pemproduksi semen.
CD.
Mesin Ball Mill standart biasanya bekerja dengan kecepatan yang sudah
disetting secara default 70 sampai 80% dari kecepatan rata - rata kritis. Seperti halnya

dengan mesin rod mill, mesin grinding ball mill juga memliki klasifikasi jenis seperti
peripheral dicharge mill, offerflow mill dan grate mill.