Anda di halaman 1dari 18

Tugas

Sistem Informasi Akuntansi

Resume Bab 15 dan 16

NAMA KELOMPOK:
1.
2.
3.
4.

Putu Desy Gita Lavenia


Luh Setia Agustin
Ni Nengah Desy Artini
Made Winda Widiani

1307021003
1307021004
1307021015
1307021014

JURUSAN AKUNTANSI PROGRAM DIPLOMA III


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2015
BAB XV

SISTEM AKUNTANSI PERSEDIAAN


A. Deskripsi Persediaan
Menurut C.Rollin Niswonger, Philip E. Fess, dan & Carl S.Warren
Persediaan (inventoris ) digunakan untuk mengartikan barang dagang yang
disimpan untuk dijual dalam operasi normal perusahaan, dan bahan yang terdapat
dalam proses produksi atau yang disimpan untuk tujuan itu. Menurut Mulyadi
(2001) dalam perusahaan manufaktur , persediaan terdiri dari persediaan produk
jadi, persediaan produk dalam proses persediaan bahan baku, persediaan bahan
penolong, persediaan bahan habis pakai pabrik, persediaan suku cadang. Dalam
perusahaan dagang, persediaan hanya terdiri dari satu golongan , yaitu persediaan
barang dagangan yang merupakan barang yang dibeli untuk dijual kembali. Dari
beberapa pengertian persediaan tersebut diatas, maka dapat diambil kesimpulan
bahwa persediaan adalah sejumlah komoditas yang disimpan guna memenuhi
kebutuhan dimasa yang akan datang.
B. Tujuan Sistem Informasi Akuntansi Persediaan
Memberikan informasi mengenai persediaan mulai dari pengakuan

sampai proses penerimaannya dengan prosedur yang baku.


Memberikan informasi mengenai alur persediaan yang ada sehingga
pemerintah daerah dapat memperhitungkan tingkat pengendalian yang

diperlukan.
Pengendalian persediaan sehingga persediaan dapat diperhitungkan
secara ekonomis keberadaannya.

C. Metode Pencatatan Persediaan


Ada dua macam metode pencatatan biaya persediaan yang dipakai dalam
produksi:
Metode mutasi persediaan (perpetual inventory method). Disebut
sistem perpetual karena pencatatan akuntansinya dilakukan secara
kontinyu (perpetual) baik untuk pencatatan jumlahnya maupun
biayanya atau harga pokoknya. Dengan demikian jumlah maupun
biaya persediaan dapat diketahui setiap saat. Sistem ini seringkali
diterapkan oleh perusahaan yang menjual barang dagangan dengan
harga per unit relatif mahal dan setiap unit barang dimungkinkan

memiliki variasi spesifikasi sesuai dengan keinginan konsumen.


Contoh perusahaan yang menerapkan misalnya perusahaan mobil,
perusahaan pesawat terbang, mebel, dan peralatan rumah tangga.
Sistem perpetual ini juga bisa diterapkan oleh perusahaan selain yang
dicontohkan di atas dikarena penggunaan wide spreadsheet yang
disediakan

oleh

computer

dan

penggunaan

scanner

untuk

mengidentifikasi setiap item persediaan.


Metode persediaan fisik (physical inventory method). Disebut sistem
periodik karena penghitungan jumlah dan nilai persediaan hanya akan
diketahui pada akhir periode saja untuk penyiapan pembuatan laporan
keuangan. Setiap terjadi transaksi pembelian barang maupun penjualan
barang akun persediaan tidak pernah dimutasi atau tidak pernah didebit
jika adapembelian atau dikredit jika ada penjualan. Akun persediaan
akan diperbaharui nilainya hanya pada akhir periode saja sebelum
penyusunan laporan keuangan melalui penghitungan fisik persediaan
(stock opname) di gudang. Saat ini sangat sedikit perusahaan yang
menerapkan system periodik kecuali untuk perusahaan kecil yang
menjual barang barang tertentu secara eceran dengan harga yang
murah missal permen, korek api, dan lain lain.

Sistem dan prosedur yang bersangkutan dengan sistem akuntansi persediaan


adalah:
Prosedur pencatatan produk jadi. Dalam prosedur ini Harga Pokok Produk
Jadi didebitkan, sedangkan Persediaan Produk Jadi dikreditkan ke dalam
rekening barang dalam proses. Dokumen sumber yang digunakan dalam

prosedur pencatatan ini adalah laporan produk selesai dan bukti memorial.
Prosedur pencatatan harga pokok produk jadi yang dijual. Prosedur ini
merupakan salah satu prosedur dalam sistem penjualan disamping
prosedur lainnya seperti : Prosedur order penjualan, prosedur persetujuan
kredit, prosedur pengiriman barang, prosedur penagihan, prosedur

pencatatan piutang.
Prosedur pencatatan harga pokok produk jadi yang diterima kembali dari
pembeli. Jika produk jadi yang telah dijual dikembalikan oleh pembeli,
maka transakasi retur penjualan ini akan mempengaruhi persediaan produk

jadi, yaitu menambah kuantitas produk pada kartu gudang yang


diselenggarakan oleh bagian gudang dan menambah kuantitas dan harga
pokok produk jadi yang dicatat oleh bagian kartu persediaan produk jadi.
Prosedur ini merupakan salah satu prosedur yang membentuk sistem retur

penjualan.
Prosedur pencatatan tambahan dan penyesuaian kembali harga pokok
persediaan produk dalam proses. Pencatatan produk dalam proses
umumnya dilakukan perusahaan pada akhir periode, pada saat dibuat

laporan keuangan bulanan dan laporan keuangan tahunan.


Prosedur pencatatan harga pokok persediaan yang dibeli. Prosedur ini
merupakan salah satu prosedur yang membentuk sistem pembelian. Dalam

prosedur ini dicatat harga pokok persediaan yang dibeli.


Prosedur pencatatan harga pokok persediaan yang dikembalikan kepada
pemasok. Jika persediaan yang telah dibeli dikembalkan kepada pemasok,
maka transaksi retur pembelian ini akan mempengaruhi persediaan yang
bersangkutan, yaitu mengurangi kuantitas persediaan dalam kartu gudang
yang diselenggarakan oleh bagian gudang dan mengurangi kuantitas serta
harga pokok persediaan yang dicatat oleh bagian kartu persediaan dalam
kartu persediaan yang bersangkutan. Sedangkan dokumen yang digunakan
dalam prosedur pencatatan harga pokok persediaan yang dikembalikan

kepada pemasok adalah: laporan pengiriman barang dan memo debit.


Prosedur permintaan dan pengeluaran gudang. Prosedur ini merupakan
salah satu prosedur yang membentuk sistem akuntansi biaya produksi.
Dalam prosedur ini dicatat harga pokok persediaan bahan baku, bahan
penolong, bahan habis pakai pabrik, dan suku cadang yang dipakai dalam

kegiatan produksi dan kegiatan non produksi.


Prosedur pencatatan tambahan harga pokok

persediaan

karena

pengembalian barang gudang. Transaksi pengembalian barang gudang


mengurangi biaya dan menambah persediaan barang di gudang.
Sedangkan

dokumen

yang

digunakan

dalam

proses

prosedur

pengembalian barang gudang adalah bukti pengembalian barang gudang.


Sistem perhitungan fisik persediaan. Sistem perhitungan fisik persediaan
umunya digunakan oleh perusahaan untuk menghitung secara fisik
persediaan yang disimpan digudang, yang hasilnya digunakan untuk

meminta pertanggungjawaban bagian gudang

mengenai pelaksanaan

fungsi penyimpanan.
D. Fungsi Yang Terkait
Fungsi yang dibentuk untuk melaksanakan penghitungan fisik persediaan
umumnya bersifat sementara, yang biasanya berbentuk panitia atau komite, yang
anggotanya dipilihkan dari karyawan yang tidak menyelenggarakan catatan
akuntansi

persediaan

dan

tidak

melaksanakan

fungsi

gudang.

Panitia

penghitungan fisik persediaan terdiri dari:


1. Pemegang kartu penghitungan cek.
2. Penghitung.
3. Pengecek.
Dengan demikian berbagai fungsi yang terkait dalam system persediaan adalah:
1. Panitia Perhitungan Fisik Persediaan. Panitia ini berfungsi untuk
melaksanakan penghitungan fisik persediaan dan menyerahkan hasil
penghitungan tersebut kepada bagian kartu persediaan untuk digunakan
sebagai dasar adjustment terhadap catatan persediaan dalam kartu persediaan
2. Fungsi Akuntansi. Dalam sistem penghitungan fisik persediaan, fingsi ini
bertanggungjawab untuk:
a. Mencantumkan harga pokok satuan persediaan yang dihitung ke dalam
daftar hasil penghitung fisik
b. Mengalikan kuantitas dan harga pokok per satuan yang tercantum dalam
daftar hasil penghitungan fisik
c. Mencantumkan harga pokok total dalam daftar hasil penghitungan fisik
d. Melakukan adjustment data persediaan dalam jurnal umum berdasarkan
hasil penghitungan fisik persediaan.
3. Fungsi Gudang. Dalam sistem penghitungan fisik persediaan, fungsi gudang
bertanggung jawab untuk melakukan adjustment data kuantitas persediaan
yang dicatat dalam kartu gudang berdasarkan hasil penghitungan fisik
persediaan.
E. Informasi Yang Diperlukan Manajemen Akuntansi Persediaan
Manajemen persediaan berusaha mencapai keseimbangan

antara

kekurangan dan kelebihan persediaan dalam suatu periode perencanaan yang


mengandung resiko dan ketidakpastian. Manajemen persediaan melibatkan
sejumlah kegiatan kordinasi antara persediaan dan produksi serta kegiatan
konsumsi pada sejumlah tahapan proses dan lokasi yang berhubungan.
Berdasarkan dari pengertian yang telah diuraikan sebelumnya, jadi dapat

disimpulkan Perancangan Sistem Manajemen Basisdata Persediaan Barang Jadi


adalah sistem yang menyangkut masalah pencatatan dan pelaporan yang dikaitkan
dengan pencatatan persediaan dan penilaiannya baik itu dalam proses penerimaan
barang atau pengeluaran barang yang dilakukan oleh perusahaan tersebut. Dalam
hal ini proses yang terjadi dari input, proses, hingga menjadi sebuah output yaitu
proses penerimaan barang dari kantor pusat, proses pengeluaran barang
(penjualan) kepada distributor, membuat jurnal, memposting buku besar, hingga
menghasilkan laporan pendukung yang terdiri dari laporan data barang, laporan
data gudang, laporan data distributor, dan kartu persediaan
Tujuan dari manajemen persediaan adalah menyelesaikan sasaran yang
berpotensi untuk:
1. Memaksimalkan pelayan pada pelanggan
2. Memaksimalkan efisiensi pembelian pada produksi
3. Meminimalkan investasi stock
4. Memaksimalkan profit
F. Dokumen Yang Digunakan
Menurut Mulyadi dalam buku Sistem Akuntansi, dokumen-dokumen yang
digunakan dalam sistem akuntansi persediaan adalah sebagai berikut :
1. Dokumen sumber yang digunakan dalam prosedur pencatatan produk jadi
adalah laporan produk selesai dan bukti memorial. Laporan produk selesai
digunakan oleh bagian gudang untuk mencatat tambahan kuantitas produk jadi
balam kartu gudang. Buki memorial digunakan untuk mencatat tambahan
kuantitas dan harga pokok persediaan produk jadi dalam kartu persediaan dan
digunakan sebagai dokumen sumber dalam mencatat transaksi selesainya
produk jadi dalam jurnal umum.
2. Dokumen sumber yang digunakan dalam prosedur pencatatan harga pokok
produk jadi yang dijual adalah surat order pengiriman dan faktur penjualan.
Surat order pengiriman diterima oleh bagian gudang dan bagian order
penjualan. Setelah bagian gudang mengisi surat order pengiriman tersebut
dengan kuantitas produk jadi yang diserahkan kepada bagian pengiriman, atas
dasar surat order pengiriman tersebut bagian gudang mencatat kuantitas yang
diserahkan ke bagian pengiriman dalam kartu gudang. Harga pokok produk
jadi yang dijual dicatat oleh bagian kartu persediaan dalam kartu persediaan
atas dasar tembusan faktur yang diterima oleh bagian tersebut dari bagian
penagihan.

3. Dokumen sumber yang digunakan dalam prosedur permintaan dan


pengeluaran barang gudang adalah bukti permintaan dan pengeluaran barang
gudang.
4. Dokumen yang digunakan untuk merekam, meringkas, dan membukukan hasil
perhitungan fisik persediaan adalah kartu perhitungan fisik (inventory tag)
yang digunakan untuk merekam hasil perhitungan fisik persediaan, daftar hasil
perhitungan fisik (inventory summary) yang digunakan untuk meringkas data
yang telah direkam dalam hasil kartu perhitungan fisik persediaan, dan bukti
memorial digunakan untuk membukukan adjustment rekening persediaan
sebagai akibat dari hasil penghitungan fisik ke dalam jurnal umum.
G. Catatan akuntansi
Catatan akuntansi yang digunakan dalam sistem penghitungan fisik
persediaan adalah:
1. Kartu Persediaan, catatan akuntansi ini digunakan untuk mencatat kuantitas
dan harga pokok barang yang di simpan di gudang yang tercantum dalam
kartu

persediaan

oleh

Bagian

Kartu

Persediaan,

berdasarkan

hasil

penghitungan fisik persediaan.


2. Kartu Gudang, kartu gudang ini berfungi sebagai identitas barang yang
disimpan, untuk memudahkan pencarian barang dan sekaligus untuk mencatat
mutasi kuantitas barang yang tercantum dalam kartu gudang yang
diselenggarakan oleh Bagian gudang, berdasarkan hasil penghitungan fisik
persediaan.
3. Jurnal Umum, dalam sistem penghitungan fisik persediaan jurnal umum
digunakan untuk mencatat jurnal adjustment rekening persediaan karena
adanya perbedaan antara saldo yang dicatat dalam rekening persediaan dengan
saldo menurut penghitung fisik.
H. Jaringan Prosedur Yang Membentuk Sistem
Jaringan prosedur yang membentuk sistem penghitungan fisik persediaan
adalah:
1. Prosedur penghitung Fisik, dalam prosedur ini tiap jenis persediaan di gudang
di hitung oleh penghitung dan pengecek secara independen yang hasilnya
dicatat dalam kartu penghitung fisik.
2. Prosedur Kompilasi, dalam prosedur ini pemegang kartu penghitung fisik
melakukan perbandingan data yang dicatat dalam kartu penghitung fisik serta

melakukan pencatatan data yang tercantum dalam kartu penghitung fisik ke


dalam daftar penghitung fisik.
3. Prosedur Penentuan Harga pokok Persediaan, dalam prosedur ini Bagian
Kartu Persediaan mengisi harga pokok persatuan tiap jenis persediaan yang
tercantum dalam daftar penghitungan fisik berdasarkan informasi dalam kartu
persediaan yang bersangkutan serta mengalika harga pokok persatuan tersebut
dengan kuantitas hasil penghitungan fisik untuk mendaptakann total harga
pokok persatuan tersebutdengan kuantitas hasil penghitungan fisik untuk
mendapatkan total harga pokok persediaan yang dihitung.
4. Prosedur Adjustment, dalam prosedur ini bgian Kartu Persediaaan melakukan
adjustment terhadap data persediaan yang tercantum dalam kartu persediaan
berdasarkan data hasil perhitungan fisik persediaan yang tercantum dalam
daftar hasil penghitungan fisik persediaan. Dalam prosedur ini pula bagian
Gudang melakukan adjustment terhadap data kuantitas persediaan yang
tercatat dalam kartu gudang.
Unsur Pengendalian Internal
Organisasi
1. Penghitungan fisik persediaan harus dilakukan oleh suatu panitia yang terdiri
dari fungsi pemegang kartu penghitung fisik, fungsi penghitung, dan fungsi
pengecek. Untuk menjamin ketelitian dan keandalan data yang dihasilkan dari
kegiatan penghitungan fisik persediaan, panitia yang dibentuk untuk
melaksanakan kegiatan tersebut harus terdiri dari 3 kelompok: pemegang kartu
penghitung fisik, penghitung, dan pengecek..
2. Panitia yang dibentuk harus terdiri dari karyawan selain karyawan fungsi
gudang dan fungsi akuntansi persediaan dan biaya, karena kryawan di kedua
bagian inilah yang justru dievaluasi tanggung jawabnya atas persediaan.
Tujuan

penghitungan

fisik

persediaan

adalah

untuk

meminta

pertanggungjawaban mengenai barang yang disimpan oleh fungsi gudang dan


pertanggungjawaban mengenai ketelitian dan keandalan data persediaan yang
dicatat pada kartu persediaan di fungsi akuntansi persediaan. Oleh karena itu
agar data yang dihasilkan dari penghitungan fisik persediaan dijamin ketelitian
dan keandalannya, maka panitia yang dibentuk untuk melaksanakan kegiatan
tersebut

harus

bukan

kryawan

dari

kedua

fungsi

yang

dimintai

pertanggungjawaban tersebut (misalnya fungsi gudang dan fungsi akuntansi


persediaan).
Sistem Otorisasi Dan Rosedur Pencatatan
1. Daftar hasil penghitungan fisik persediaan ditandatangani oleh ketua panitia
penghitungan fisik persediaan. Daftar hasil penhitungan fisik berisi informasi
hasil penghitungan fisik persediaan. Daftar ini merupakan dokumen sumber
sebagai dasar untuk meng-adjust kartu persediaan, dan kartu gudang, serta
merupakan dokumen pendukung bukti memorial yang dicatat dalam jurnal
umum. Dengan demikian daftar ini merupakan dokumen penting untuk mengup date catatan akuntansi.
2. Pencatatan hasil penghitungan fisik persediaan didasarkan atas kartu
penghitungan fisik yang telah diteliti kebenarannya oleh pemegang kartu
penghitungan fisik. Hal ini dimaksudkan agar setiap dokumen sumber dibuat
atas dasar data yang dijamin ketelitinnya.
3. Harga satuan yang dicantumkan dalam daftar hasil penghitungan fisik berasal
dari kartu persediaan yang bersangkutan. Harga satuan yang dicantumkan
dalam daftar hasil penghitungan fisik adalah diambil dari kartu persediaan
yang bersangkutan dalam prosedur penetapan harga (pricing prosedur).
4. Adjustment terhadap kartu persediaan didasarkan pada informasi (kuantitas
maupun harga pokok total) tiap jenis persediaan yang tercantum dalam daftar
penghitungan fisik. Setelah kuantitas tiap jenis persediaan yang dihitung
dicantumkan dalam daftar hasil penghitungan fisik, kemudiaan ditentukan
harga pokok per unitnya dan jumlah harga pokok tiap jenis persediaan, untuk
dasar adjustment data yang dicatat dalam kartu persediaan yang bersangkutan
Praktik Yang Sehat
1. Kartu penghitung fisik bernomor urut tercetak dan penggunaannya
dipertanggungjawabkan oleh fungsi pemegang kartu penghitungan fisik.
2. Penghitungan fisik setiap jenis persediaan dilakukan dua kali secara
independen, pertama kali oleh penghitung dan kedua kali oleh pengecek.
3. Kuantitas dan data persediaan yang lain yang tercantum dalam kartu
penghitungan fisik dicocokkan oleh pemegang kartu penghitungan fisik
sebelum data yang tercantum dalam penghitungan fisik dicatat dalam daftar
hasil penghitungan fisik.

4. Peralatan dan metode yang digunakan untuk mengukur dan menghitung


kuantitas persediaan harus dijamin ketelitiannya.

BAB XVI
SISTEM AKUNTANSI AKTIVA TETAP
Deskripsi Aktiva Tetap
Aktiva tetap mempunyai karakteristik yang berbeda dengan aktiva lancer. Aktiva
lancar dikendalikan pada saat konsumsinya sedangkan aktiva tetap dilaksanakan
pada saat perencanaan perolehan aktiva tersebut. hal ini disebabkan banyak
pengeluaran-pengeluaran yang bersangkutan dengan aktiva tetap yang tidak bias
tidak harus dilakukan karena berupa committed costs. Pengendalian aktiva tetap
dilakukan pada saat perencanaan perolehannya, sistem akuntansi tetap
menyediakan mekanisme otorisasi sejak saat perencanaan sampai dengan saat
pelaksanaan perolehan aktiva tetap. Aktiva Tetap adalah kekayaan perusahaan
yang memiliki wujud, mempunyai manfaat ekonomis lebih dari satu tahun, dan
diperoleh perusahhan untuk melaksanakan kegiatan perusahaan, bukan untuk
dijual kembali. Karena kekayaan ini mempunyai wujud, seringkali aktiva tetap
disebut dengan aktiva tetap berwujud (tangiable fixest assets).
Karakteristik Transaksi Aktiva Tetap
Transaksi aktiva tetap memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Frekuensi terjadinya transaksi yang mengubah aktiva tetap relative sedikit
dibandingkan dengan transaksi yang mengubah aktiva lancar, namun
umumnya menyangkut jumlah rupiah yang besar.
2. Pengendalian aktiva tetap dilaksanakan pada saat perencanan perolehan aktiva
tetap, sehingga sistem otorisasi perolehan aktiva tetap ditetapkan pada saat
perencanaan perolehan dan pada saat pelaksanaan rencana perolehan aktiva
tetap.
3. Pengeluaran yang bersangkutan dengan aktiva tetap perlu dibedakan menjadi
2 macam: - pengeluaran pendapatan (revenue expenditure) dan pengeluaran
modal (capital Expenditure). Pengeluaran pendapatan dibebankan sebagai
biaya pada periode akuntansi terjadinya, sedangkan pengeluaran modal
diperlakukan sebagai tambahan harga pokok aktiva tetap dan dibebankan

sebagai biaya dalam periode akuntansi yang menikmati manfaat pengeluaran


modal tersebut.
Penggolongan Aktiva Tetap
Aktiva tetap dalam perusahaan manufaktur umumnya di golongkan sebagai
berikut:
1. Tanah dan perbaikan tanah (land and land improvement)
2. Gedung dan perbaikan gedung (building and building improvement)
3. Mesin dan Equipment pabrik
4. Mebel
5. Kendaraan
Transaksi Yang Mengubah Aktiva Tetap
Transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap terdiri dari tiga kelompok:
(1) Transaksi yang mengubah rekening aktiva tetap
(2) transaksi yang mengubah rekening akumulasi depresiasi aktiva tetap yang
bersangkutan,
(3) transaksi yang mengubah rekening biaya reparasi dan pemeliharaan aktiva
tetap.
Jenis transaksi yang mengubah harga pokok aktiva terdiri: transaksi perolehan,
pengeluaran modal, revaluasi, pertukaran penjualan.
Jenis transaksi yang mengubah akumulasi depresiasi aktiva tetap terdiri dari:
depresiasi, penghentian pemakaian, penjualan dan pemakaian.

Manajemen Aktiva Tetap


Aktiva tetap menuntut pemanfaatan optimum selama taksiran umur ekonomisnya.
Perlu dibentuk satu fungsi yang memiliki tanggung jawab untuk mengatur
penggunaan, pemindahan, pemberian otorisasi penghentian pemakaian aktiva
tetap. Wewenang yang dimiliki oleh bagian aktiva tetap adalah:
1. Menempatkan aktiva tetap ditangan fungsi pemakai aktiva tetap
2. Memberikan otorisasi pemindahan aktiva tetap dari satu fungsi ke fungsi
lainnya.
3. memberikan otorisasi penghentian pemakaian aktiva tetap
4. Memberikan otorisasi pegeriman aktiva tetap ke pihak luar untuk keperluan
reparasi

Struktur Kode Aktiva Tetap


Jika perusahaan memiliki berbagai jenis aktiva tetap di berbagai lokasi, untuk
memudahkan identifikasi aktiva tetap, diperlukan kode yang mampu memberikan
informasi lengkap mengenai aktiva tetap. Diantara informasi penting yang perlu
dicerminkan dalam kode aktiva tetap adalah: golongan aktiva tetap, jenis aktiva
tetap, lokasi, portability, tahun perolehan, fungsi yang bertanggung jawab dalam
pemakaian aktiva tersebut.
Dokumen
Dokumen yang digunakan untuk merekam data transaksi yang mengubah harga
pokok aktiva tetap dan akumulasi depresiasi aktiva tetap yang bersangkutan
adalah:
1. Surat permintaan otorisasi investasi (expenditure authorization request)
Karena investasi dalam aktiva tetap biasanya meliputi jumlah rupiah yang relatif
besar dan mencakup keterikatan dana dalam jangka waktu yang relative panjang,
maka pengendalian aktiva tetap dilakukan melalui perencanaan yang matang.
Perencanaan pengeluaran investasi dalam aktiva tetap dimulai dengan
diajukannya usulan investasi kepada manajemen puncak. Melalui staff direksi,
usulan investasi diteliti kelayakan teknis dan ekonominya.
2. Surat Permintaan Reparasi (Authorization for Repair)
Dokumen ini berfungsi sebagai perintah dilakukanya reparasi yang merupakan
pengeluaran modal.
3. Surat Permintaan Transfer Aktifa Tetap
Dokumen ini berfungsi sebagai permintaan dan pemberian otorisasi transfer
aktiva tetap.
4. Surat Permintaan Penghenian Pemakaian Aktiva Tetap
Dokumen ini berfungsi sebagai permintaan dan pemberian otorisasi penghentian
pemakain aktiva tetap
5. Surat Perintah Kerja (Work Order)
Dokumen ini memiliki dua fungsi: sebagai perintah dilaksanakannya pekerjaan
tertentu mengenai aktiva tetap dan sebagai catatan yang dipakai untuk

mengumpulkan biaya pembuatan aktiva tetap. Dokumen ini digunakan sebagai


perintah kerja pemasangan aktiva tetap yang dihentikan pemakainnya.
6. Surat Order Pembelian
Dokumen ini diterbitkan oleh fungsi pembelian yang merupakan surat untuk
memesan aktiva tetap kepada pemasok. Untuk pembelian aktiva tetap yang
melibatkan jumlah yang besar umumnya pemilihan pemasok dilakukan melalui
proses tender terbuka.
7. Laporan Penerimaan Barang
dokumen ini diterbitkan oleh fungsi penerimaan setelah fungsi ini dilakukan
pemeriksaan kuantitas, mutu, dan spesifikasi aktiva tetap yang diterima dari
pemasok.
8. Faktur Dari Pemasok
Dokumen ini merupakan tagihan dari pemasok untuk aktiva tetap yang dibeli.
9. Bukti Kas Keluar
Dokumen ini merupakan perintah pengeluaran kas yang dibuat oleh fungsi
akuntansi setelah dokumen surat permintaan otorisasi investasi, surat order
pembelian, laporan penerimaan barang dan faktur dari pemasok diterima dan
diperiksa oleh fungsi tersebut.
10. Daftar Deprsiasi Aktiva Tetap
Daftar ini berisi jumlah biaya depresiasi aktiva tetap yang dibebankan dalam
periode akuntasnsi tertentu. Dokumen ini merupakan dasar untuk pembuatan bukti
memorial untuk pencatatan biaya depresiasi yang dibebankan dalam periode
akuntansi tertentu.
11. Bukti Memorial
Dokumen ini digunakan sebagai dokumen sumber untuk pencatatan transaksi
depresiasi aktiva tetap, harga pokok aktiva tetap yang telah selesai dibangun,
pemberhentian pemakain aktiva tetap, dan pengeluaran modal.
Catatan Akuntansi
Catatan akuntansi yang digunakan untuk mencatat transaksi yang mengubah harga
pokok aktiva tetap dan akumulasi depresiasi aktiva tetap adalah
1. Kartu Aktiva Tetap

Catatan akuntansi ini merupakan buku pembantu aktiva tetap yang digunakan
untuk mencatat secara rinci segala data yang bersangkutan dengan aktiva tetap
tertentu.
2. Jurnal Umum
Jurnal umum ini digunakan untuk mencatat transaksi harga pokok aktiva tetap
yang

telah

selesai

dibangun,

biaya-biaya

untuk

pemasangan

dan

pembongkaran aktiva tetap, penghentian pemakaian aktiva tetap dan


depresiasi aktiva tetap.
3. Register Kas Keluar
Jurnal ini digunakan untuk mencatat transaksi pembelian aktiva tetap dan
pengeluaran modal yang berupa pengeluaran kas.
Fungsi Yang Terkait
Fungsi yang terkait dalam transaksi yang mengubah harga pokok aktiva tetap dan
akumulasi depresiasi aktiva tetap adalah:
1. Fungsi Pemakait
Dalam sistem akuntansi aktiva tetap, fungsi pemakai bertanggung jawab
mengajukan usulan investasi dalam aktiva tetap dan mengajukan surat
permintaan otorisasi investasi untuk merealisasikan perolehan aktiva tetap
seperti yang tercantum dalam anggaran investasi yang telah disetujui oleh
rapat umum pemegang saham.
2. Fungsi riset dan pengembangan
Fungsi ini bertanggung jawab mengajukan usulan investasi aktiva tetap yang
dimanfaatkan bersama oleh lebih dari satu fungsi.
3. Direktur yang bersangkutan
Pejabat ini berfungsi memberikan persetujuan terhadap usulan investasi dan
surat permintaan otorisasi reparasi yang diajukan oleh unit organisasi yang ada
dibawah wewenangnya.
4. Direktur Utama
Pejabat ini memberikan otorisasi terhadap semua mutasi aktiva tetap.
5. Fungsi Pembelian

Fungsi ini bertanggung jawab memilih pemasok dan menerbitkan surat order
pembelian untuk pengadaan aktiva tetap.
6. Fungsi Penerimaan
Fungsi ini bertanggung jawab melakukan pemeriksaan terhadap aktiva tetap
yang diterima dari pemasok.
7. Fungsi Aktiva Teta
Fungsi ini bertanggung jawab atas pengolahan aktiva tetap perusahaan.
8. Fungsi Akuntansi
Fungsi ini bertanggung jawab dalam pembuatan dokumen sumber (bukti kas
Keluar dan Bukti Memorial) untuk pencatatan mutasi aktiva tetap dan
pentelenggaraan buku pembantu aktiva tetap.
Jaringan Sub Sistem
Jaringan subsistem yang membentuk sistem akuntansi aktiva tetap adalah:
1. Sistem pembelian aktiva tetap.
Sistem ini dirancang untuk melaksanakan pencatatan harga pokok aktiva tetap
yang dipeoleh dari transaksi pembelian.
2. Sistem perolehan aktiva tetap memulai pembangunan sendiri.
Sistem ini dirancang untuk mencatat harga pokok aktiva tetap yang dipeoleh
perusahaan dari pembangunan yang dilaksanakan sendiri oleh perusahaan.
3. Sistem pengeluaran modal.
Sistem ini dirancang untuk mencatat tambahan harga pokok aktiva tetap
dengan adanya pengeluaran modal.
4. Sistem penghentian pemakaian aktiva tetap.
Sistem ini dirancang untuk mencatat pengurangan harga pokok dan akumulasi
depresiasi aktiva tetap yang dihentikan pemakainnya serta laba rugi yang
timbul sebagai akibat penghentian pemakaian aktiva tetap tersebut.
5. Sistem transfer aktiva tetap.
Sistem ini dirancang untuk mencatat transfer aktiva tetap dari satu pusat
pertanggungjawaban yang lain.
6. Sistem revaluasi aktiva tetap.

7. Sistem akuntansi depresiasi aktiva tetap.


Sistem ini dirancang untuk mencatat biaya depresiasi aktiva tetap.
PENJELASAN DAN UNSUR PENGENDALIAN INTERN
Organisasi
1. Fungsi pemakai harus terpisah dari fungsi akuntansi aktiva tetap.
Untuk mengawasi aktiva tetap dan pemakainnya fungsi yang mencatat semua
data yang bersangkutan dengan aktiva tetap harus dipisah dari fungsi pemakai
aktiva tetap.
2. Transaksi perolehan, penjualan dan penghentian pemakaian aktiva tetap harus
dilaksanakan oleh lebih dari unit organisasi yang bekerja secara independen.
Untuk menciptakan pengecekan intern dalam setiap transaksi yang mengubah
aktiva tetap, unit organisasi dibentuk sedemikian rupa sehingga tidak ada
satupun transaksi yang mengubah aktiva tetap yang dilaksanakan secara penuh
hanya oleh satu unit organisasi saja.
Sistem Otorisasi
3. Anggaran investasi diotorisasi oleh rapat umum pemegang saham.
Karena investasi dalam aktiva tetap umunya meliputi jumlah rupiah yang
besar dan menyebabkan keterikatan dana dalam jangka waktu yang lama,
maka anggaran penggunaan investasi merupakan sarana yang baik sebagai alat
pengendalian investasi dalam aktiva tetap.
4. Surat permintaan otorisasi investasi, surat permintaan otorisasi reparasi, surat
permintaan penghentian pemakaian aktiva tetap, dan surat transfer aktiva tetap
diotorisasi oleh direktur yang bersangkutan dan direktur utama.
Setiap realisasi yang tercantum dalam anggaran investasi harus mendapat
persetujuan dari direktur yang bearsangkutan sebelum disetujui pelaksanaanya
oleh direktur utama perusahaan.
Reparasi yang berisi persetujuan dilaksanakannya pengeluaran modal harus
mendapat otorisasi oleh direktur utama.
5. Surat perintah kerja diotorisasi oleh kepada departemen yang bersangkutan.

Work order yang berisi persetujuan dilaksanakannya pengeluaran modal untuk


pembangunan, reparasi, pembongkaran aktiva tetap harus mendapat otorisasi
oleh kepala departemen yang bersangkutan.
6. Surat order pembelian diotorisasi oleh pejabat yang berwenang.
Jika jumlah harga beli aktiva tetap tinggi, otorisasi surat order pembelian
berada ditangan direktur utama.
7. Laporan penerimaan barang diotorisasi oleh fungsi penerimaan.
Laporan penerimaan barang yang berisi persetujuan penerimaan aktiva tetap
yang dikirim oleh pemasok harus mendapat otorisasi oleh fungsi penerimaan.
8. Bukti kas keluar diotorisasi oleh fungsi akuntansi.
Bukti kas keluar yang berisi persetujuan dilaksanakannya pengeluaran kas
untuk pembayaran harga aktiva tetap yang dibeli harus medapat otorisasi oleh
direktur utama.
9. Bukti memorial diotorisasi oleh kepala fungsi akuntansi.
Bukti memorial yang berisi persutujuan dilaksanakannya
Prosedur Pencatatan
10. Perubahan kartu aktiva tetap harus didasarkan pada bukti kas keluar atau bukti
memorial, atau surat permintaan transfer aktiva tetap yang dilampiri dengan
dokumen pendukung yang lengkap, yang diotorisasi oleh pejabat yang
berwenang.
Setiap pemutalhiran data yang dicatat dalam kartu aktiva tetap harus dilkukan
oleh fungsi akuntansi , dan harus didasarkan pada dokumen sumber yang
diotorisasi oleh pejabat yang berwenang serta dilampiri oleh dokumen
pendukung yang sahih
Praktik Yang Sehat
11. Secara periodic dilakukan pencocokan fisik aktiva tetap dengan kartu aktiva
tetap.
Pengawasan intern yang baik masyarakat dalam kartu aktiva tetap secara
periodic dicocokkan dengan aktiva tetap secara fisik.
12. Penggunaan anggaran investasi sebagai alat pengendalian investasi dalam
aktiva tetap.

Pengawasan investasi dalam aktiva tetap yang baik dilaksanakan dengan


menggunakan perencanaan yang dituangkan dalam anggaran investasi.
13. Penutupan asuransi aktiva tetap terhadap kerugian.
Untuk mencegah kerugian yang timbul sebagai akibat kebakaran dan
kecelakaan, aktiva tetap harus diasuransikan dengan jumlah penggunaan yang
memadai.
14. Kebijakan

akuntansi

tentang

pemisahan

pengeluaran

modal

(capital

expenditure) dengan Pengeluaran pendapatan (revenue expenditure).


Kebijakan akuntansi tentang pembedaan pengeluaran modal dan pengeluaran
penghasilan harus dinyatakan secara ekplisit dan tertulis untuk menjamin
konsitensi perlakuan akuntansi terhadap kedua macam pengeluaran tersebut.