Anda di halaman 1dari 9

ETIKA PROFESI DAN TATA KELOLA KORPORAT

Prinsip 2 & 3 OECD di PT. Sumalindo Lestari Tbk

Disusun oleh :
MUHAMMAD HASANUDDIN (16.19.0231)
RICHARD SIBARANI

(16.19.0234)

SULAIMAN

(16.19.0237)

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA


(STIESIA) SURABAYA
2016

OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development)


Latar Belakang
OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) berupaya untuk
memahami dan membantu pemerintahan-pemerintahan dalam menanggapi perkembangan
dan persoalan baru, seperti tata kelola perusahaan, ekonomi informasi dan tantangantantangan dari populasi yang bartambah tua. OECD menyediakan tempat di mana pemerintah
dapat membandingkan pengalaman yang berkaitan dengan kebijakan, mencari jawaban untuk
masalah

bersama,

mengidentifikasi

praktik

yang

baik

dan

berupaya

untuk

mengkoordinasikan kebijakan dalam negeri dan internasional.


Misi dan Tujuan OECD
Mempromosikan kebijakan-kebijakan yang akan memperbaiki ekonomi, social, dan
kesejahteraan masyasyarakat diseluruh dunia. OECD Bertujuan untuk membandingkan
pengalaman kebijakan, mencari jawaban untuk masalah umum, mengidentifikasi praktekpraktek yang baik, dan mengkoordinasikan kebijakan-kebijakan domestik dan internasional.
Prinsip-prinsip OECD
Terdapat empat prinsip utama Corporate Governance secara umum yaitu:
1. Fairness (Kewajaran)
Kewajaran (fairness) merupakan suatu bentuk perlakuan yang adil dan setara di
dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta
peraturan perundangan yang berlaku.
2. Transparency (Keterbukaan Informasi)

Transparansi merupakan keterbukaan informasi, baik dalam proses pengambilan


keputusan maupun dalam mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai
perusahaan.
3. Accountability (Dapat Dipertanggungjawabkan)
Akuntabilitas adalah kejelasan fungsi, struktur, sistem dan pertangungjawaban organ
perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif.
4. Responsibility (Pertanggungjawaban)
Pertanggungjawaban perusahaan adalah kesesuaian (patuh) di dalam pengelolaan
perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang
berlaku.
Dalam setiap kegiatan operasional perusahaan seringkali menghasilkan eksternalitas (dampak
luar kegiatan perusahaan) negatif yang harus ditanggung oleh masyarakat. Oleh karena itu,
ke empat prinsip tersebut diharapkan dapat membantu untuk mengurangi kesenjangan
pendapatan dan kesempatan kerja pada segmen masyarakat yang belum mendapatkan
manfaat dari mekanisme pasar.
Berdasarkan prinsip-prinsip dasar GCG diatas, Terdapat 5 aspek yang dijabarkan oleh OECD
(Organization for Economic Cooperation and Development) adalah:
1) Perlindungan terhadap hak-hak pemegang saham dan fungsi kepemilikan
Hak-hak Pemegang Saham yang dimaksudkan adalah hak untuk (1) menjamin
keamanan metode pendaftaran kepemilikan, (2) mengalihkan atau memindahkan
saham yang dimilikinya, (3) memperoleh informasi yang relevan tentang perusahaan
secara berkala dan teratur, (4) ikut berperan dan memberikan suara dalam rapat umum
pemegang saham, dan (5) memilih anggota Dewan Komisaris dan Direksi, serta (6)
memperoleh pembagian keuntungan perusahaan. Ke 5 hak pemegang saham tersebut
harus dilindungi dan difasilitasi.
2) Perlakuan setara terhadap seluruh pemegang saham
Seluruh pemegang saham termasuk pemegang saham minoritas dan pemegang saham
asing harus diperlakukan setara. Seluruh pemegang saham harus diberikan
kesempatan yang sama untuk mendapatkan perhatian bila hak-haknya dilanggar.

3) Peran stakeholders dalam corporate governance


Hak-hak para pemangku kepentingan (stakeholders) harus diakui sesuai peraturan
perundangan yang berlaku, dan kerjasama aktif antara perusahaan dan para
stakeholders harus dikembangkan dalam upaya bersama menciptakan kekayaan,
pekerjaan, dan keberlanjutan perusahaan.
4) Disklosur dan transparansi
Disklosur atau pengungkapan yang tepat waktu dan akurat mengenai segala aspek
material perusahaan, termasuk situasi keuangan, kinerja, kepemilikan, dan
governance perusahaan.
5) Tanggung jawab Pengurus Perusahaan (Corporate Boards)
Pengawasan Komisaris terhadap pengelolaan perusahaan oleh Direksi harus berjalan
efektif, disertai adanya tuntutan strategik terhadap manajemen, serta akuntabilitas dan
loyalitas Direksi dan Komisaris terhadap perusahaan dan pemegang saham.

PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk


Profil Perusahaan
PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk adalah sebuah perusahaan kayu yang berbasis di Indonesia.
Perusahaan yang didirikan pada tanggal 14 April 1980 dan memulai kegiatan komersialnya
sejak tahun 1983. Kantor pusat SULI terletak di Menara Bank Danamon, Lantai 19, Jl. Prof.
Dr. Satrio Kav. EIV/6, Mega Kuningan, Jakarta dan kantor pusat operasional dan pabriknya
berlokasi di Kalimantan Timur. PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk, merupakan pabrik kayu
terbesar di Kalimantan Timur dan telah mempekerjakan sebanyak 3700 staf. Kegiatan utama
Perusahaan terdiri dari pengolahan kayu, kegiatan penebangan, operasi hutan tanaman
industri, serta perdagangan ekspor, impor dan lokal. Perusahaan ini memiliki sejumlah
konsesi hutan alam dan konsesi hutan tanaman yang dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip
pengelolaan hutan lestari.

Pada tanggal 8 Maret 2013, perusahaan menjual seluruh sahamnya di PT. Sumalindo Alam
Lestari kepada PT. Mentari Pertiwi Makmur.Sebelumnya, saham perusahaan ini tercatat di
Bursa Efek Indonesia namun sejak tanggal 10 Juni 2013, pihak Bursa memutuskan untuk
melakukan penghentian sementara terhadap perdagangan efek perusahaan di seluruh pasar
terkait dengan masalah pemberitaan media Tribun Kaltim yang menyebutkan bahwa Kantor
Operasional PT Sumalindo Lestari Tbk yang berlokasi di Sengkotek Jl. Cipto
Mangunkusumo, kecamatan Loa Janan Ilir terbakar tetapi kemudian permasalahan dapat
terselesaikan.
Visi perusahaan
Menjadi industri perkayuan terpadu dan bertanggung jawab sosial, memberikan solusi
dengan menghasilkan produk-produk ramah lingkungan yang menggunakan bahan baku dari
hutan yang dikelola secara lestari, serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam lainnya.
Misi perusahaan
1. Mengelola kelompok usaha industri perkayuan terpadu di bidang kayu lapis dan kayu
lapis olahan, MDF serta produk-produk turunan lainnya yang berkaitan dengan
industri perkayuan serta mempunyai tanggung jawab sosial.
2. Menjaga keberlangsungan kebutuhan bahan baku yang dipenuhi dari hutan alam dan
hutan tanaman yang dikelola berdasarkan prinsip pengelolaan hutan lestari.
3. Melakukan proses produksi yang memenuhi standar ramah lingkungan.
4. Memberikan nilai tambah produk melalui peningkatan nilai disetiap proses
tahapannya, pengembangan produk, sumber daya manusia dan jalur distribusi.
5. Mengoptimalisasi pemanfaatan sumber daya alam lainnya Struktur Organisasi

Penerapan GCG pada PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk


Dalam menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG). Dewan komisaris
perseroan melakukan kontrol melalui fungsi utamanya sebagai pengawas direksi dalam

menjalankan tata kelola perusahaan. Fungsi pengawasan Dewan Komisari tersebut


dilaksanakan melalui mekanisme yang sudah ditentukan antara lain melalui optimalisasi
fungsi Komite Audit sabagai Komite Independen yang dibentuk oleh Dewan Komisaris
dan berperan membantu Komisaris mendapatkan informasi mengenai kondisi serta
aktifitas-aktifitas tertentu yang sedang atau telah dilaksanakan oleh Perseroan melalui
laporan rutinnya.
Sementara itu Direksi Perseroan memastikan bahwa setiap rencana kerja, strategi
maupun kebijakan yang akan diambil dalam pelaksanaan tata kelola perusahaan seharihari selalu mengikutsertakan peran para karyawannya melalui divisi-divisi yang dibentuk
dalam organisasi sesuai dengan fungsinya masing-masing. Dengan demikian apa yang
diputuskan dan dilaksanakan tetap berpedoman pada prinsip GCG, dan tentu berpedoman
pula pada peraturan dan ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal, bidang
kehutanan, anggaran dasar Perseroan serta peraturan dan ketentuan lain yang berlaku.
Dewan Komisaris berkeyakinan, penerapan GCG tersebut merupakan pondasi yang
penting bagi Perseroan untuk berkembang di masa datang.
Pada kesempatan ini Dewan Komisaris melaporkan bahwa Perseroan telah
menerapkan tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG)
dengan merujuk pada ketentuan BAPEPAM-LK dan Pedoman Umum Good Corporate
Governance yang dikeluarkan oleh Komisi Nasional Kebijakan Governance tahun 2006
dengan menetapkan Pedoman Tindak Komisaris. Lebih lanjut, Dewan Komisaris juga
telah menetapkan Piagam Komite Audit yang mengacu pada berbagai ketentuan tersebut.
Melalui Komite Audit, Dewan Komisaris secara rutin menerima evaluasi atas kinerja
keuangan Perseroan dan laporan tentang efektivitas pengendalian internal Perseroan.
Dewan Komisaris berkeyakinan, penerapan GCG ini merupakan pondasi yang penting
bagi Perseroan untuk berkembang di masa datang. OECD (Organisation for Economic
Co-operation

and

Development)

berupaya

untuk

memahami

dan

membantu

pemerintahan-pemerintahan dalam menghadapi perkembangan dan persoalan baru,


seperti tata kelola perusahaan, ekonomi informasi, dan tantangan-tantangan yang
dihadapi. OECD bertujuan untuk membandingkan pengalaman yang berkaitan dengan
kebijakan, mencari jawaban untuk masalah, mengidentifikasi praktik yang baik dan
berupaya untuk mengkoordinasikan kebijakan dalam negeri dan internasional.

PT Sumalindo sudah memberikan hak-hak yang seharusnya diperoleh para


pemegang saham, misalnya para pemegang saham menerima informasi yang relevan
secara tepat waktu mengenai penerbitan dan penawaran saham yang membutuhkan
persetujuan para pemegang saham, informasi tersebut diperoleh

melalui sekretaris

perusahaan yang dijadikan sebagai pusat informasi bagi para pemegang saham dan
seluruh stakeholders yang memerlukan informasi informasi penting yang berkaitan
dengan kegiatan maupun perkembangan Perseroan dan anak perusahaan.
Para pemegang saham juga memiliki hak untuk berpartisipasi dalam RUPS, salah satu
contohnya adalah hak untuk memilih dan menghapus anggota dewan. Dalam pertemuan
pemegang saham, proses dan prosedur memilih anggota dewan layaknya dipermudah
agar dapat memberikan suara secara efektif. Untuk pemegang saham minoritas juga harus
dilindungi dari tindakan kepentingan perusahaan yang merugikan. Selain itu, juga harus
memiliki sarana yang efektif. Dalam laporan keuangan menyebutkan juga bahwa para
pemegang saham dapat mentransfer seluruh resiko dan manfaat atas kepemilikan asset.
PT Sumalindo sudah menerapkan OECD point diatas, hal ini tercantum dalam
laporan keuangan dan diimplementasikan dalam semua kegiatannya yang berdasarkan
prinsip transparansi, akuntanbilitas, tanggung jawab, independensi dan kewajaran.