Anda di halaman 1dari 41

Laporan Pendahuluan Diabetes Melitus

A. Definisi
Diabetes berasal dari bahasa Yunani yang berarti mengalirkan atau
mengalihkan (siphon). Mellitus berasal dari bahasa latin yang bermakna manis
atau madu. Penyakit diabetes melitus dapat diartikan individu yang mengalirkan
volume urine yang banyak dengan kadar glukosa tinggi. Diabetes melitus adalah
penyakit hiperglikemia yang ditandai dengan ketidakadaan absolute insulin atau
penurunan relative insensitivitas sel terhadap insulin (Corwin, 2009).
Diabetes Melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai
berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan
berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai
lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron
(Mansjoer dkk, 2007)
Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2005, diabetus
merupakan

suatu

kelompok

panyakit

metabolik

dengan

karakterristik

hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau
kedua-duanya.
Diabetes Mellitus (DM) adalah kelainan defisiensi dari insulin dan
kehilangan toleransi terhadap glukosa ( Rab, 2008)
DM merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh
kelainan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia yang disebabkan
defisiensi insulin atau akibat kerja insulin yang tidak adekuat (Brunner & Suddart,
2002).
B. Klasifikasi
Dokumen konsesus tahun 1997 oleh American Diabetes Associations
Expert Committee on the Diagnosis and Classification of Diabetes Melitus,
menjabarkan 4 kategori utama diabetes, yaitu: (Corwin, 2009)

1. Tipe I: Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM)/ Diabetes Melitus


tergantung insulin (DMTI)
Lima persen sampai sepuluh persen penderita diabetik adalah tipe I. Selsel beta dari pankreas yang normalnya menghasilkan insulin dihancurkan
oleh proses autoimun. Diperlukan suntikan insulin untuk mengontrol kadar
gula darah. Awitannya mendadak biasanya terjadi sebelum usia 30 tahun.
2.

Tipe II: Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)/ Diabetes


Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI)
Sembilan puluh persen sampai 95% penderita diabetik adalah tipe II.
Kondisi ini diakibatkan oleh penurunan sensitivitas terhadap insulin
(resisten insulin) atau akibat penurunan jumlah pembentukan insulin.
Pengobatan pertama adalah dengan diit dan olah raga, jika kenaikan kadar
glukosa darah menetap, suplemen dengan preparat hipoglikemik (suntikan
insulin

dibutuhkan,

jika

preparat

oral

tidak

dapat

mengontrol

hiperglikemia). Terjadi paling sering pada mereka yang berusia lebih dari
30 tahun dan pada mereka yang obesitas.
3. DM tipe lain
Karena kelainan genetik, penyakit pankreas (trauma pankreatik), obat,
infeksi, antibodi, sindroma penyakit lain, dan penyakit dengan
karakteristik gangguan endokrin.
4. Diabetes Kehamilan: Gestasional Diabetes Melitus (GDM)
Diabetes yang terjadi pada wanita hamil yang sebelumnya tidak mengidap
diabetes.
C. Etiologi
1. Diabetes Melitus tergantung insulin (DMTI)
a. Faktor genetic :
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi
suatu presdisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes
tipe I. Kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu yang

memililiki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA


merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen
tranplantasi dan proses imun lainnya.
b. Faktor imunologi :
Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Ini
merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan
normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang
dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing.
c. Faktor lingkungan
Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel pancreas, sebagai
contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu
dapat memicu proses autoimun yang dapat menimbulkan destuksi sel
pancreas.
2. Diabetes Melitus tak tergantung insulin (DMTTI)
Secara pasti penyebab dari DM tipe II ini belum diketahui, factor genetic
diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
Diabetes Melitus tak tergantung insulin (DMTTI) penyakitnya mempunyai
pola familiar yang kuat. DMTTI ditandai dengan kelainan dalam sekresi
insulin maupun dalam kerja insulin. Pada awalnya tampak terdapat
resistensi dari sel-sel sasaran terhadap kerja insulin. Insulin mula-mula
mengikat dirinya kepada reseptor-reseptor permukaan sel tertentu,
kemudian terjadi reaksi intraselluler yang meningkatkan transport glukosa
menembus membran sel. Pada pasien dengan DMTTI terdapat kelainan
dalam pengikatan insulin dengan reseptor. Hal ini dapat disebabkan oleh
berkurangnya jumlah tempat reseptor yang responsif insulin pada
membran sel. Akibatnya terjadi penggabungan abnormal antara komplek
reseptor insulin dengan system transport glukosa. Kadar glukosa normal
dapat dipertahankan dalam waktu yang cukup lama dan meningkatkan
sekresi insulin, tetapi pada akhirnya sekresi insulin yang beredar tidak lagi

memadai untuk mempertahankan euglikemia (Price, 1995 cit Indriastuti


2008). Diabetes Melitus tipe II disebut juga Diabetes Melitus tidak
tergantung insulin (DMTTI) atau Non Insulin Dependent Diabetes
Melitus (NIDDM) yang merupakan suatu kelompok heterogen bentukbentuk Diabetes yang lebih ringan, terutama dijumpai pada orang dewasa,
tetapi terkadang dapat timbul pada masa kanak-kanak. Faktor risiko yang
berhubungan dengan proses terjadinya DM tipe II, diantaranya adalah:
a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65
tahun)
b. Obesitas
c. Riwayat keluarga
d. Kelompok etnik
D. Patofisiologi
Diabetes tipe I. Pada diabetes tipe satu terdapat ketidakmampuan untuk
menghasilkan insulin karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses
autoimun. Hiperglikemi puasa terjadi akibat produkasi glukosa yang tidak terukur
oleh hati. Di samping itu glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan
dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia
posprandial (sesudah makan).
Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi maka ginjal tidak dapat
menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar, akibatnya glukosa
tersebut muncul dalam urin (glukosuria). Ketika glukosa yang berlebihan di
ekskresikan ke dalam urin, ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan
elektrolit yang berlebihan. Keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Sebagai
akibat dari kehilangan cairan berlebihan, pasien akan mengalami peningkatan
dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsia).
Defisiensi insulin juga akan menggangu metabolisme protein dan lemak
yang menyebabkan penurunan berat badan. Pasien dapat mengalami peningkatan
selera makan (polifagia), akibat menurunnya simpanan kalori. Gejala lainnya

mencakup

kelelahan

mengendalikan

dan

kelemahan.

glikogenolisis

Dalam

(pemecahan

keadaan

glukosa yang

normal

insulin

disimpan)

dan

glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari dari asam-asam amino dan


substansi lain), namun pada penderita defisiensi insulin, proses ini akan terjadi
tanpa hambatan dan lebih lanjut akan turut menimbulkan hiperglikemia.
Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan peningkatan
produksi badan keton yang merupakan produk samping pemecahan lemak. Badan
keton merupakan asam yang menggangu keseimbangan asam basa tubuh apabila
jumlahnya berlebihan. Ketoasidosis yang diakibatkannya dapat menyebabkan
tanda-tanda dan gejala seperti nyeri abdomen, mual, muntah, hiperventilasi, nafas
berbau aseton dan bila tidak ditangani akan menimbulkan perubahan kesadaran,
koma bahkan kematian. Pemberian insulin bersama cairan dan elektrolit sesuai
kebutuhan akan memperbaiki dengan cepat kelainan metabolik tersebut dan
mengatasi gejala hiperglikemi serta ketoasidosis. Diet dan latihan disertai
pemantauan kadar gula darah yang sering merupakan komponen terapi yang
penting.
Diabetes tipe II. Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang
berhubungan dengan insulin yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin.
Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel.
Sebagai akibat terikatnya insulin dengan resptor tersebut, terjadi suatu rangkaian
reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel. Resistensi insulin pada diabetes
tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian insulin
menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan.
Untuk mengatasi resistensi insulin dan untuk mencegah terbentuknya
glukosa dalam darah, harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang
disekresikan. Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi
akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada
tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun demikian, jika sel-sel beta
tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin, maka kadar
glukosa akan meningkat dan terjadi diabetes tipe II. Meskipun terjadi gangguan

sekresi insulin yang merupakan ciri khas DM tipe II, namun masih terdapat
insulin dengan jumlah yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan
produksi badan keton yang menyertainya. Karena itu ketoasidosis diabetik tidak
terjadi pada diabetes tipe II. Meskipun demikian, diabetes tipe II yang tidak
terkontrol dapat menimbulkan masalah akut lainnya yang dinamakan sindrom
hiperglikemik hiperosmoler nonketoik (HHNK).
Diabetes tipe II paling sering terjadi pada penderita diabetes yang berusia
lebih dari 30 tahun dan obesitas. Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung
lambat (selama bertahun-tahun) dan progresif, maka awitan diabetes tipe II dapat
berjalan tanpa terdeteksi. Jika gejalanya dialami pasien, gejala tersebut sering
bersifat ringan dan dapat mencakup kelelahan, iritabilitas, poliuria, polidipsi, luka
pada kulit yang lama sembuh-sembuh, infeksi vagina atau pandangan yang kabur
(jika kadra glukosanya sangat tinggi).
E. Pathway

F. Manifestasi Klinis
1. Diabetes Tipe I:
a) hiperglikemia berpuasa
b) glukosuria, diuresis osmotik, poliuria, polidipsia, polifagia
c) keletihan dan kelemahan
d) ketoasidosis diabetik (mual, nyeri abdomen, muntah, hiperventilasi,
nafas bau buah, ada perubahan tingkat kesadaran, koma, kematian)
2. Diabetes Tipe II:
a) lambat (selama tahunan), intoleransi glukosa progresif
b) gejala seringkali ringan mencakup keletihan, mudah tersinggung,
poliuria, polidipsia, luka pada kulit yang sembuhnya lama, infeksi
vaginal, penglihatan kabur
c) komplikasi jangka panjang (retinopati, neuropati, penyakit vaskular
perifer)
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Glukosa darah: gula darah puasa > 130 ml/dl, tes toleransi glukosa >
200 mg/dl, 2 jam setelah pemberian glukosa.
2. Aseton plasma (keton) positif secara mencolok.
3. Asam lemak bebas: kadar lipid dan kolesterol meningkat
4. Osmolalitas serum: meningkat tapi biasanya < 330 mOsm/I
5. Elektrolit: Na mungkin normal, meningkat atau menurun, K normal
atau peningkatan semu selanjutnya akan menurun, fosfor sering
menurun.
6. Gas darah arteri: menunjukkan Ph rendah dan penurunan HCO3
7. Trombosit

darah:

Ht meningkat

(dehidrasi),

leukositosis

dan

hemokonsentrasi merupakan respon terhadap stress atau infeksi.


8. Ureum/kreatinin: mungkin meningkat atau normal
9. Insulin darah: mungkin menurun/ tidak ada (Tipe I) atau normal
sampai tinggi (Tipe II)
10. Urine: gula dan aseton positif

11. Kultur dan sensitivitas: kemungkinan adanya ISK, infeksi pernafasan


dan infeksi luka.
H. Komplikasi
Komplikasi

yang

berkaitan

dengan

kedua

tipe

DM

(Diabetes

Melitus) digolongkan sebagai akut dan kronik (Mansjoer dkk, 2007).


1. Komplikasi akut
Komplikasi akut terjadi sebagai akibat dari ketidakseimbangan jangka
pendek dari glukosa darah :
a. Hipoglikemia/Koma Hipoglikemia
Hipoglikemik adalah kadar gula darah yang rendah. Kadar gula darah
yang normal 60-100 mg% yang bergantung pada berbagai keadaan.
Salah satu bentuk dari kegawatan hipoglikemik adalah koma
hipoglikemik. Pada kasus spoor atau koma yang tidak diketahui
sebabnya maka harus dicurigai sebagai suatu hipoglikemik dan
merupakan alasan untuk pembarian glukosa. Koma hipoglikemik
biasanya disebabkan oleh overdosis insulin. Selain itu dapat pula
disebabkan oleh karana terlambat makan atau olahraga yang berlebih.
Diagnosa dibuat dari tanda klinis dengan gejala hipoglikemik terjadi
bila kadar gula darah dibawah 50 mg% atau 40 mg% pada
pemeriksaaan darah jari.
Penatalaksanaan kegawat daruratan:
1) Pengatasan hipoglikemi dapat diberikan bolus glukosa 40% dan
biasanya kembali sadar pada pasien dengan tipe 1.
2) Tiap keadaan hipoglikemia harus diberikan 50 cc D50 W dalam
waktu 3-5 menit dan nilai status pasien dilanjutkan dengan D5 W
atau D10 W bergantung pada tingkat hipoglikemia
3) Pada hipoglikemik yang disebabkan oleh pemberian long-acting
insulin dan pemberian diabetic oral maka diperlukan infuse yang
berkelanjutan.

4) Hipoglikemi yang disebabkan oleh kegagalan glikoneogenesis


yang terjadi pada penyakit hati, ginjal, dan jantung maka harus
diatasi factor penyebab kegagalan ketiga organ ini.
b. Syndrom Hiperglikemik Hiperosmolar Non Ketotik (HHNC/HONK)
HONK adalah

keadaan

hiperglikemi

dan

hiperosmoliti

tanpa

terdapatnya ketosis. Konsentrasi gula darah lebih dari 600 mg bahkan


sampai 2000, tidak terdapat aseton, osmolitas darah tinggi melewati
350 mOsm perkilogram, tidak terdapat asidosis dan fungsi ginjal pada
umumnya terganggu dimana BUN banding kreatinin lebih dari 30 : 1,
elektrolit natrium berkisar antara 100 150 mEq per liter kalium
bervariasi.

Konsep Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus


A. Pengkajian
Pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang
melibatkan hubungan kerja sama antara perawat dengan klien dan keluarga, untuk
mencapai tingkat kesehatan yang optimal dalam melakukan proses terapeutik
maka perawat melakukan metode ilmiah yaitu proses keperawatan.
Proses keperawatan merupakan tindakan yang berurutan yang dilakukan
secara sistematis dengan latar belakang pengetahuan komprehensif untuk
mengkaji status kesehatan klien, mengidentifikasi masalah dan diagnosa,
merencanakan intervensi mengimplementasikan rencana dan mengevaluasi
rencana sehubungan dengan proses keperawatan pada klien dengan gangguan
sistem endokrin.
Pengkajian pada klien dengan gangguan sistem endokrin diabetes mellitus
dilakukan mulai dari pengumpulan data yang meliputi : biodata, riwayat
kesehatan, keluhan utama, sifat keluhan, riwayat kesehatan masa lalu,
pemeriksaan fisik, pola kegiatan sehari-hari.
Hal yang perlu dikaji pada klien degan Diabetes Mellitus :
a.

Aktivitas dan istirahat :

Kelemahan, susah berjalan/bergerak, kram otot, gangguan istirahat dan tidur,


tachicardi/tachipnea pada waktu melakukan aktivitas dan koma.
b. Sirkulasi
Riwayat hipertensi, penyakit jantung seperti IMA, nyeri, kesemutan pada
ekstremitas bawah, luka yang sukar sembuh, kulit kering, merah, dan bola mata
cekung.
c.

Eliminasi

Poliuri,nocturi, nyeri, rasa terbakar, diare, perut kembung dan pucat.


d. Nutrisi
Nausea, vomitus, berat badan menurun, turgor kulit jelek, mual/muntah.
e.

Neurosensori

Sakit kepala, mengatakan seperti mau muntah, kesemutan, lemah otot,


disorientasi, letargi, koma dan bingung.

10

f.

Nyeri

Pembengkakan perut, meringis.


g. Respirasi
Tachipnea, kussmaul, ronchi, wheezing dan sesak nafas.
h. Keamanan
Kulit rusak, lesi/ulkus, menurunnya kekuatan umum.
i.

Seksualitas

Adanya peradangan pada daerah vagina, serta orgasme menurun dan terjadi
impoten pada pria.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan poliuri dan
dehidrasi.
2. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan diabetes
mellitus.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gaya hidup kurang gerak dan
kelelahan.
C. Intervensi Keperawatan
1) Dx : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gaya hidup kurang gerak dan
kelelahan
1. Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas.
2. Kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan.
3. Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat.
4. Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan.
5. Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas (takikardi, disritmia, sesak
nafas, diaporesis, pucat, perubahan hemodinamik).
6. Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien.
7. Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalam merencanakan
progran terapi yang tepat.
8. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan.
9. Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai dengan kemampuan fisik,
psikologi dan sosial.

11

10. Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk
aktivitas yang diinginkan.
11. Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek.
12. Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang disukai.
13. Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang.
14. Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas.
15. Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas.
16. Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan.
17. Monitor respon fisik, emosi, sosial dan spiritual.
2) Dx : Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan diabetes
mellitus.
1. Observasi status hidrasi (kelembaban membran mukosa, TD ortostatik, dan
keadekuatan dinding nadi)
2. Monitor HMT, Ureum, albumin, total protein, serum osmolalitas dan urin
3. Observasi tanda-tanda cairan berlebih/ retensi (CVP meningkat, oedem,
distensi vena leher dan asites)
4. Pertahankan intake dan output secara akurat
5. Monitor TTV
6. Monitor adanya tanda-tanda infeksi.
7.

Kompres dengan air hangat bagian yang bengkak.

3) Dx : Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik.


Intervensi :
1. Diskusikan dengan pasien kebutuhan akan aktivitas.
2. Berikan aktivitas alternatif dengan periode istirahat yang cukup.
3. Pantau nadi, frekuensi pernafasan dan tekanan darah sebelum/sesudah
melakukan aktivitas.

12

4. Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai


toleransi.
D. Implementasi
Pelaksanaan rencana tindakan keperawatan disesuaikan dengan intervensi
yang tercantum dalam rencana keperawatan.
E. Evaluasi
Hasil yang diharapkan pada klien Diabetes Mellitus adalah :
a.

Apakah kebutuhan volume cairan klien terpenuhi/adekuat ?

b. Apakah nutrisi klien terpenuhi ke arah rentang yang diinginkan ?


c.

Apakah infeksi dapat dicegah dengan mempertahankan kadar

glukosa?
d. Apakah tidak terjadi perubahan sensori perseptual ?
e.

Apakah

kelelahan

dapat

diatasi

dan

produksi energi

dapat

dipertahankan sesuai kebutuhan ?


f.

Apakah klien dapat menerima keadaan dan mampu merencanakan

perawatannnya sendiri ?
g. Apakah klien dapat mengungkapkan pemahaman tentang penyakit ?

Perubahan System Endokrin pada Lansia


1. Produksi hampir semua hormon menurun
2. Penurunan kemampuan mendeteksi stres
3. Konsentrasi glukosa darah meningkat dan tetap naik lebih lama dibandingkan
dengan
orang yang lebih muda
4. Fungsi paratiroid dan sekesinya tak berubah
5. Penurunan kadar esterogen dan peningkatan kadar follicle stimulating
hormone

13

selama menopause,yang menyebabkan thrombosis dan osteoporosis


6. Penurunan kadar progesterone
7. Penurunan kadar aldosteron serum sebanyak 50%
8. Penurunan laju sekresi kortisol sebanyak 25%
9. Kelenjar tiroid menjadi lebih kecil, produksi T3 dan T4 sedikit menurun, dan
waktu paruh T3 dan T4 meningkat. Implikasi dari hal ini adalah serum T3 dan T4
tetap stabil.

14

ASUHAN KEPERAWATAN Ny. R

A. PENGKAJIAN
Tanggal Pengkajian
Ruang
1. Identitas Klien
Nama
Umur
Jenis kelamin
Alamat
Agama
Status
Suku/Bangsa
Pekerjaan
Diagnosa medis
Nomor RM
Tanggal masuk

: 07 Februari 2016
: Irina C1
: Ny. R
: 68 tahun
: Perempuan
: Perumahan GPI, Mapanget
: Kristen
: Kawin
: Minahasa/Indonesia
: Swasta
: Diabetes Mellitus tipe II
: 18.11.59
: 07 Februari 2016

2. Identitas Penanggung Jawab

15

Nama
Jenis kelamin
Alamat
Hub. Dengan klien

: Ny. M
: Perempuan
: Perumahan GPI, Mapanget
: Anak Klien

3. Keluhan Utama
Klien mengatakan kakinya terasa kesemutan dan terasa berat untuk
berjalan.
4. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien mengatakan dua hari yang lalu kepalanya pusing, rasanya cekotcekot. Klien mengatakan lemas dan bila berjalan kaki terasa berat. Kaki
sering merasa kesemutan. Kemudian diperiksakan di puskesmas wilayah
Gedong Songo, nilai GDS adalah 411. Dari pihak puskesmas
menganjurkan klien untuk periksa di poliklinik Rumah Sakit. Klien
memeriksakan diri di RSUD Tugurejo pada tanggal 16 juni 2012, hasil
yang didapat adalah GDS 298, tekanan darah 130/80 mmHg, nadi
88x/menit. Klien disarankan untuk rawat inap, diagnosanya adalah
diabetes mellitus tipe II. Klien dirawat di ruang alamanda, di ruangan klien
mendapatkan terapi obat metformin 3 x 500 mg, asam mefenamat 3 x 500
mg, BC 3 x 100 mg , cefotaxim 2 x 2 mg, ranitidine 2 x 2 ml, dan infus
Nacl 20 tpm 500 cc.
5. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien pernah operasi batu ginjal satu tahun yang lalu.
6. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga tidak mempunyai riwayat diabetes mellitus, hipertensi, jantung,
dan lain-lain.
7. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda-tanda Vital
Tanggal 19 Juni 2012
Tekanan darah
: 120/80 mmHg
Denyut nadi
: 88 kali/menit
Pernafasan
: 18 kali/menit
Suhu
: 37,5C
b. Kulit

16

Warna kulit sawo matang, bengkak di kaki kanan dan kiri, kulit kering,
turgor kulit di ekstremitas bawah buruk.
c. Kepala dan Leher
Bentuk kepala
: mesochepal.
Rambut
: rambut beruban, panjang, ikal, tipis, penyebaran
merata, tidak ada lesi.
Mata
: simetris, sklera tidak ikterik, konjungtiva anemis,
palpebra tidak kehitaman, penglihatan baik.
Telinga
: simetris, tidak ada keluaran yang abnormal.
Hidung
: tidak ada sekret, tidak ada lesi, tidak ada massa.
Mulut
: Tidak ada sariawan, mukosa bibir kering, tidak ada
gusi berdarah.
Leher
d. Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan limfe.


: IC tampak.
: IC teraba di SIC V.
: Pekak.
: Bunyi jantung I-II murni, tidak ada bising, tidak

ada gallop.
e. Paru-paru
Inspeksi
: simetris, pengembangan dada kurang maksimal.
Palpasi
: pengembangan paru kanan dan kiri simetris.
Perkusi
: sonor.
Auskultasi
: tidak ada suara whezzing dan ronkhi.
f. Abdomen
Inspeksi
: tidak ada lesi, warna kulit sawo matang.
Auskultasi
: bising usus 10 kali/menit.
Palpasi
: tidak terdapat massa, tidak ada benjolan.
Perkusi
: timpani.
g. Ekstremitas
1) Look
a) Ekstremitas atas
Warna kulit sawo matang dan merata, kulit kering, tidak ada
edema di telapak tangan kanan dan kiri, tidak ada fraktur dan
deformitas.
b) Ekstremitas bawah
Warna kulit sawo matang, bengkak dibagian punggung kaki
kanan dan kiri, tidak ada fraktur dan deformitas.
2) Feel
a) Ekstremitas atas
Tidak terdapat nyeri tekan pada ekstremitas atas kanan dan kiri,
tidak ada baal, tidak ada kesemutan.

17

b) Ekstremitas bawah
Terdapat nyeri tekan pada bagian punggung kaki kanan dan
kiri, nyeri terasa cekot-cekot dan terkadang tiba-tiba terasa
nyeri seperti disetrum, kadang terasa kesemutan, klien
mengatakan skala nyeri 4, frekuensi nyerinya sering dirasakan.
c) Move
a) Ekstremitas atas :
Tangan kanan dan kiri bisa digerakkan. Tangan kanan dan kiri
klien mampu menentang gravitasi dan tahanan, mampu
melakukan fleksi-ekstensi, pronasi-supinasi, dan rotasi.
b) Ekstremitas bawah :
Kaki kanan dan kiri bisa digerakkan. Kaki kanan dan kiri
mampu menentang gravitasi dan tahanan tetapi kurang
maksimal,

tidak

mampu

melakukan

fleksi-ekstensi,

dorsofleksi-plantarfleksi. Terdapat bengkak di punggung kaki


kanan dan kiri.
d) Kekuatan otot
Ekstremitas atas

Kanan

Kiri

Siku

Lengan bawah

Pergelangan tangan

Jari

Ekstremitas bawah

Kanan

Kiri

Lutut

Betis

Pergelangan kaki

Jari

h. Genetalia
Tidak terkaji.
i. Sistem persarafan
1. Status mental

18

Tingkat kesadaran compos mentis, GCS 15 (E4V5M6), gaya bicara


pelan dan jelas.
2. Fungsi intelektual
Orientasi waktu, orang dan tempat baik.
3. Daya pikir
Daya pikir spontan, alamiah dan masuk akal, tidak ada kesulitan
berpikir dan tidak ada halusinasi .
4. Status emosional
Status emosional pasien alamiah dan datar, tidak pemarah, cemas
dan tidak apatis.
j. Sistem Gastrointestinal
Klien mengatakan nafsu makan bertambah, banyak minum, dan buang
air kecil kurang lebih 7-8 kali per hari.
k. Sistem Imunitas
Klien mengatakan tidak alergi makanan ataupun obat-obatan.
8. Pengkajian Fungsional
a. Persepsi terhadap kesehatan-manajemen kesehatan
Klien mengatakan ketika sakit selalu memeriksakan ke Puskesmas atau
dokter. Klien mengatakan sehat adalah suatu kondisi tubuh yang bisa
melakukan apapun, sedangkan sakit adalah kondisi tubuh yang lemah.
Klien tidak minum minuman keras, tidak merokok, tidak memakai
narkoba.
b. Kebutuhan Oksigenasi
Klien tampak tidak mengalami sesak nafas, tidak ada cuping hidung,
tidak mengalami sianosis, tidak batuk. Tidak terdengar bunyi
whezzing, ronki.
c. Kebutuhan Nutrisi dan Cairan
Sebelum dirawat di Rumah Sakit klien mengatakan makan 5 kali
dalam sehari, nafsu makan bertambah sejak 1 bulan yang lalu. Klien
mengatakan tidak begitu suka sayur. Klien mengatakan kurang lebih
minum 6-7 gelas perhari. Sebelum sakit tinggi badan klien adalah 155
cm, berat badan 54 kg. Klien mengatakan mengalami penambahan
berat badan selama 1 bulan dari 54 kg menjadi 60 kg.
Saat sakit klien mendapatkan diit makanan bubur tanpa sari rendah
gula. Hasil pemeriksaan laboratorium pada tanggal 16 Juni 2012 Hb
14.10 g/dl (normal 13.2-17.3), hematocrit 42.40% (normal 40-52). Saat

19

masuk di Rumah Sakit BB klien turun menjadi 58 kg, albumin 4.8


(normal 3.2-5.2).
IMT
= BB/TB2
= 58/ (1,552)
= 58/2,4025
= 24,14 (normal)
Keterangan :
1) Tinggi badan dalam meter.
2) Klasifikasi nilai IMT.
IMT

Status gizi

Kategori

< 17,0

Gizi kurang

Sangat kurus

17,0 18,5

Gizi kurang

Kurus

18,5 25,0

Gizi baik

Normal

25,0 27,0

Gizi lebih

Gemuk

>27,0

Gizi lebih

Sangat gemuk

d. Kebutuhan Eliminasi
Sebelum masuk Rumah Sakit, klien mengatakan melakukan eliminasi
urin sebanyak 7-8 kali dalam sehari, eliminasi fekal sebanyak 2 kali
selama 1 hari (diare) selama 3 hari.
Saat masuk rumah sakit, frekuensi eliminasi urin sedikit berurang
menjadi 5-6 kali dalam sehari, eliminasi fekal 1 kali dalam sehari
dengan konsistensi lembek.
e. Kebutuhan Aktivitas dan Latihan
Aktivitas

Keterangan

Skor

Makan

0 : tidak mampu, 5 : memerlukan

10

bantuan seperti memotong makanan,


mengoleskan

mentega,

atau

memerlukan bentuk diet khusus, 10 :


mandiri/tanpa bantuan
Mandi

0 : tergantung, 5 : mandiri

Kerapian/penampilan

0 : memerlukan

bantuan untuk 5

menata penampilan diri, 5 : mampu


secara

mandiri

menyikat

gigi,

20

mengelap wajah, menata rambut dan


bercukur
Berpakaian

0 : tergantung/tidak mampu, 5 : perlu


dibantu

tetapi

dapat

melakukan

sebagian, 10 : mandiri (mampu


mengancingkan

baju,

menutup

resleting, merapikan baju)


BAB

0 : inkontinensia/tergantung pada 5
enema,

kadang

mengalami

gangguan, 10 : normal
BAK

0 : inkontinensia, harus dipasang

10

kateter atau tidak mampu mengontrol


BAK secara mandiri, 5 : kadang
mengalami kesulitan, 10 : normal
Penggunaan kamar mandi

0 : tergantung, 5 : perlu bantuan

10

tetapi tidak tergantung penuh, 10 :


mandiri
Berpindah tempat

tidak

gangguan

mampu,

mengalami

keseimbangan,

15

memerlukan banyak bantuan untuk


bisa duduk, 10 : memerluka sedikit
bantuan (diarahkan secara verbal), 15
: mandiri
Mobilitas

0 : tidak mampu atau berjalan kurang

15

dari 50 yard, 5 : hanya bisa bergerak


dengan kursi roda > 50 yard, 10 :
berjalan dengan bantuan > 50 yard,
15 : mandiri (meski dengan alat
bantu)
Naik/turun tangga

0 : tidak mampu, 5 : memerlukan

10

bantuan , 10 : mandiri

Total = 90 (mandiri)

21

80 100 : mandiri
60 79
: bantuan minimal dalam ADL
40 59
: sebagian tergantung
20 39
: sangat tergantung
< 20
: tergantung total
f. Kebutuhan Istirahat dan tidur
Sebelum sakit, keluarga klien mengatakan frekuensi tidur klien 8
jam/hari, dengan kualitas tidur yang baik dan tidak mengalami
gangguan tidur (insomnia, parasomnia).
Saat masuk rumah sakit, frekuensi tidur klien bertambah, tidur klien
sekitar 10 jam/hari.
g. Kebutuhan Personal Hygiene
Sebelum sakit, klien selalu mandi 2 kali dalam sehari, rajin menggosok
gigi, dan toileting secara mandiri. Klien mencuci rambut 1 kali dalam
2 hari. Saat sakit, klien bisa melakukan perawatan diri secara mandiri,
seperti mandi, toileting, namun dalam hal berpakaian klien
membutuhkan bantuan orang lain.
h. Kebutuhan Persepsi Sensori
Penglihatan
: baik.
Pendengaran
: tidak menggunakan alat bantu dengar.
Penciuman
: baik, mampu mencium aroma.
Pengecap
: baik.
Perabaan
: mengenali rangsang (benda tumpul, tajam, halus).
i. Kebutuhan Komunikasi dan Mental
Klien berbicara jelas. Klien menggunakan bahasa jawa, klien adalah
orang yang ekstrovert.
j. Kebutuhan Kenyamanan
Klien bedrest, ekstremitas bawah terasa nyeri dan berat sehingga malas
untuk berjalan, nyeri yang dirasakan seperti disetrum, kadang terasa
kesemutan, klien mengatakan skala nyeri 4, frekuensi nyerinya sering
dirasakan. Klien merasa lemas.
k. Kebutuhan Seksualitas
Tidak terkaji.
l. Kebutuhan Mekanisme Koping
Klien mengatakan koping yang dilakukan klien saat menghadapi
tekanan adalah menonton televise dan berkebun.
m. Kebutuhan Konsep diri.
Harga diri
: klien tidak malu dengan penyakit yang dialaminya.
Ideal diri
: klien ingin cepat sembuh dan melakukan pekerjaan
rumah seperti biasa.

22

Identitas diri
Peran
Gambaran diri

: klien mengakui sebagai perempuan.


: klien sebagai ibu rumah tangga.
: klien ikhlas dengan penyakit diabetes yang

dialami.
n. Kebutuhan Rekreasi dan Spiritual
Sebelum masuk rumah sakit, klien mengatakan suka jalan-jalan
menonton televisi dan berkebun. Klien rajin sholat 5 waktu. Saat
masuk rumah sakit, klien hanya bisa berdoa.
9. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium (2 Juni 2012)
Komponen

Hasil

Normal

Leukosit
Eritrosit
Hb
Ht
MCV
MCH
MCHC
Trombosit
RDW
Eosonofil Absolut
Basofil Absolut
Netrofil Absolut
Limfosit Absolut
Monosit Absolut
Eosonofil
Basofil
Neutrofil
Limfosit
Monosit
Glukosa sewaktu
Kolesterol total

7,81
5,08
14,10
42,40
83,50
27,80
33,30
286
12,40
0,28
0,02
3,20
3,61
0,70
3,60
0,30
40,90
H 46,20
H 9,00
H 247
186

3,6-11 10^3 /Ul


3,8-5,2 10^6 /Ul
11,7-15,53 g/dl
35-47 %
80-100 L
26-34 pg
32 36 g/dl
150-440 10^3 /Ul
11,5-14,5 %
0,045-0,44 10^3 /Ul
0-0,2 10^3 /Ul
1,8-8 10^3 /Ul
0,9-5,2 10^3 /Ul
0,16-1 10^3 /Ul
2-4 %
0-1 %
50-70%
25-40 %
2-8 %
< 125 mg/Dl
< 200 mg/Dl : desirabelle
200-239 : borderline high

Trigliserida

148

>240 : high

Asam urat
SGOT
SGPT
Ureum
Albumin

3,0
13
12
21
4.8

< 150 ug/Dl : borderline high


200-499 : high
>500 : very high
2.4 5,7 mg/dL

23

0 35 u/L
0 35 u/L
10,0 50,0 mg/dL
3.2-5.2 g/dL

24

10. Therapy
Nacl 20 tetes per menit (infus)
Cefotaxim 2 x 1 gr (intravena)
Ranitidin 2 x 2 ml (intravena)
Metformin 3 x 500 mg (oral)
Asam mefenamat 3 x 500 mg (oral)
BC tablet 3 x 100 mg (oral)
No.

Terapi

Cara

Dosis

Indikasi

Kontraindikasi

500 ml

Hipostremia atau sindrom rendah Hipernatremia,

Efek Samping

Pemberian
1

Nacl

Infus

garam,

mengembalikan cairan.

jaringan

atau

keseimbangan cairan tubuh dan

infeksi

pada

NaCl,

tempat suntikan,

terapi

metabolic,

Cefotaxim

Intravena

2 x 1 gr

retensi Demam, nekrosis,

untuk
pengganti

alkalosis
cairan

hypervolemia,

ekstraseluler, pelarut untuk obat

sindrom

yang diberikan secara infus intra

intoleransi garam

vena drip.

pasca operasi.

Infeksi saluran pernafasan bagian Hipersensitifitas terhadap Reaksi


bawah, infeksi saluran kemih & Sefalosporin, penderita hipersensitifitas,
kelamin, gonore, infeksi kulit & ginjal berat.

eosinofilia,

jaringan lunak, infeksi dalam perut

neutropenia,

25

termasuk

peritonitis

leukopenia yang

(radang

selaput perut), infeksi tulang &

bersifat

sendi, infeksi susunan saraf pusat

sementara,

(meningitis/radang selaput otak).

flebitisefek pada
lambung-usus,
superinfeksi.
Peradangan
iritatif dan nyeri
pada

Ranitidin

Intravena

2 x 2 ml

Pengobatan

jangka

pendek

tukak usus 12 jari aktif, tukak


lambung
-

aktif,

mengurangi

penyuntikan.
Diare, nyeri otot,

Penderita
gangguan

ginjal.
Wanita
hamil

gejala refluks esofagitis.


Terapi pemeliharaan setelah menyusui

tempat

fungsi pusing,
ruam
dan

malaise,

timbul
kulit,
nausea,

konstipasi.

penyembuhan tukak usus 12


-

jari, tukak lambung.


Pengobatan

keadaan

hipersekresi patologis, misal


sindroma Zollinger Ellison dan

26

Metformin Per oral

mastositosis sistemik.
3 x 500 - Pengobatan penderita diabetes Penderita kardiovaskular, Efek
mg

samping

yang baru terdiagnosis setelah gagal ginjal, gagal hati, bersifat reversible
dewasa,

dengan

tanpa dehidrasi dan peminum pada

saluran

kelebihan berat badan dan bila diet alkohol, koma diabetik, cerna

termasuk

tidak

atau

berhasil.

ketoasidosis,

infark anoreksia,

- Sebagai kombinasi terapi pada miokardial,


penderita yang tidak responsif penyakit
therhadap

terapi

keadaan gangguan
kronik

muntah,

tunggal yang berkaitan dengan rasa logam pada

sulfonilurea baik primer ataupun hipoksia


sekunder.

akut mual,

perut,

jaringan, mulut dan diare.

keadaan

yang Dapat

- Sebagai obat pembantu untuk berhubungan

dengan menyebabkan

mengurangi dosis insulin apabila asidosis

seperti asidosis

dibutuhkan.

syok,

laktat

insufisiensi tetapi

pulmonar,
asidosis laktat.

laktat
kematian

riwayat akibat insiden ini


lebih rendah 10 15

kali

dari

fenformin

dan

lebih rendah dari

27

kasus
hipoglikemia
yang disebabkan
oleh
glibenklamid/sulf
onilurea.

Kasus

asidosis

laktat

dapat

diobati

dengan

natrium

bikorbonat. Kasus
individual dengan
metformin adalah
anemia
megaloblastik,
pneumonitis,
vaskulitis.
5

Asam
mefenama
t

Per oral

3 x 500 Untuk
mg

menghilangkan

segala Pada penderita dengati Mual,

muntah,

macam nyeri dan ringan sampai tukak lambung / usus. diare,


sedang dalam kondisi akut dan pendenta asma.penderita agranulositosis

28

kronis.

termasuk

nyeri

karena ginjal dan penderita yang dan

trauma, nyeri sendi, nyeri otot, hipersensitif.


sakit

sehabis

operasi

hemolitik

anemia.

dan

melahirkan, nyeri sewaktu haid.


sakit kepala dan sakit gigi.
6

BC

Per oral

1 x 5 mg

Menjaga kesehatan system saraf, Hipersensitif.


kulit,

system

Sedasi.

pencernaan,

meningkatkan energy dan stamina


serta imunitas, anti stress dan
depresi,

mengatasi

melancarkan

sirkulasi

kelelahan,
darah,

pembentukan sel darah merah yang


sehat,

antioksidan

dalam

menangkal serangan radikal bebas.

29

B. ANALISA DATA
1.

DS :
Intoleransi
aktivitas
- Klien mengatakan klien malas untuk
berhubungan dengan gaya
beraktivitas karena merasa cepat
hidup kurang gerak dan
lelah.
kelelahan.
- Klien mengatakan jika berjalan kaki
-

terasa berat dan kesemutan.


Klien mengatakan lebih

suka

istirahat.
DO :
-

3.

Punggung kaki kanan kiri bengkak.


Kekuatan otot :
Tangan kanan 5
Tangan kiri 5
Kaki kanan 4
Kaki kiri 4
Skor GCS 15.

DS :
Ketidakefektifan
- Klien mengatakan bengkak di punggung
-

kaki kanan dan kiri.


Klien mengatakan sudah mengetahui

perfusi

jaringan

perifer

berhubungan

dengan

diabetes mellitus.

bahwa klien punya penyakit DM.


DO :
-

Bengkak di punggung kaki kanan dan


kiri.

Tanda-tanda vital : tekanan darah


120/80

mmHg,

denyut

nadi

88

kali/menit, pernafasan 18 kali/menit,


suhu 37,5C
C. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan poliuri dan
dehidrasi.
2. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan diabetes
mellitus.
30

3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gaya hidup kurang gerak dan


kelelahan.

31

D. INTERVENSI KEPERAWATAN

No

Dx. Kep

Intoleransi
berhubungan

Tujuan dan kriteria hasil

aktivitas Setelah

tindakan

dengan keperawatan selama 3x24 jam maka

gaya hidup kurang gerak klien


dan kelelahan.

dilakukan

Intervensi

dapat

bertoleransi

terhadap

aktivitas dengan kriteria hasil :


1. Berpartisipasi

dalam

aktivitas

tekanan darah, nadi dan RR.


sehari

melakukan
hari

secara

mandiri.
3. Keseimbangan
istirahat.

2. Kaji

adanya

faktor

yang

menyebabkan

3. Monitor nutrisi dan sumber energi yang


adekuat.
4. Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan

aktivitas

(ADLs)

melakukan aktivitas.
kelelahan.

fisik tanpa disertai peningkatan


2. Mampu

1. Observasi adanya pembatasan klien dalam

emosi secara berlebihan.


5. Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas
(takikardi, disritmia, sesak nafas, diaporesis,

aktivitas

dan

pucat, perubahan hemodinamik).


6. Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat
pasien.
7. Kolaborasikan

dengan

Tenaga

Rehabilitasi

Medik dalam merencanakan progran terapi yang


tepat.

32

8. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas


yang mampu dilakukan.
9. Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang
sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan
sosial.
10. Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan
sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang
diinginkan.
11. Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas
seperti kursi roda, krek.
12. Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang
disukai.
13. Bantu klien untuk membuat jadwal latihan
diwaktu luang.
14. Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi
kekurangan dalam beraktivitas.
15. Sediakan penguatan positif bagi yang aktif
beraktivitas.
16. Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi

33

diri dan penguatan.


2

Ketidakefektifan perfusi Setelah

dilakukan

17. Monitor respon fisik, emosi, sosial dan spiritual.


tindakan 8. Observasi status hidrasi (kelembaban membran

jaringan

perifer keperawatan selama 3 x 24 jam maka

mukosa, TD ortostatik, dan keadekuatan dinding

berhubungan

dengan ketidakefektifan

nadi)

diabetes mellitus.

perfusi

jaringan

teratasi dengan kriteria hasil:


1. Tekanan systole dan diastole
dalam batas normal.
2. Tidak ada gangguan mental,
orientasi kognitif dan kekuatan
otot.

9. Monitor HMT, Ureum, albumin, total protein,


serum osmolalitas dan urin
10. Observasi tanda-tanda cairan berlebih/ retensi
(CVP meningkat, oedem, distensi vena leher
dan asites)
11. Pertahankan intake dan output secara akurat

3. Na, K, Cl, Ca, Mg, BUN, Creat 12. Monitor TTV


dan Biknat dalam batas normal.
4. Tidak ada distensi vena leher.
5. Intake output seimbang.

13. Monitor adanya tanda-tanda infeksi.


14. Kompres dengan air hangat bagian yang
bengkak.

6. Tidak ada oedem perifer dan


asites.
E. IMPLEMENTASI

34

Dx. Kep

Tanggal
Waktu

08

Implementasi

Februari -

Respon

Memberikan injeksi cefotaxim dan ranitidin

Merapikan

tempat

tidur

dan

menciptakan

lingkungan yang terapeutik

08.10 WIB

klien

menanyakan

fungsi

obat

cefotaxim dan ranitidin


O : Klien kooperatif.

2016
08.00 WIB
08.05 WIB

TTD

Mengkaji faktor penyebab kelelahan

S : klien mengatakan terimakasih


O : klien kooperatif, tempat tidur bersih.
S : klien mengatakan cepat lelah jika
beraktivitas dan pusing.
O : klien kooperatif, ada bengkak di
punggung kaki kanan dan kiri

08.15 WIB

Mengkaji pola tidur klien

S : Klien mengatakan tidur kurang


lebih 8 jam per hari, saat di rumah
sakit

frekuensi

tidur

bertambah

menjadi 10 jam per hari.


O : palpebral tidak

kehitaman,

konjungtiva tidak anemis, kantung


mata tidak membengkak.
10.00 WIB

Membantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas

S : klien mengatakan bisa melakukan

ringan yang bisa dikerjakan

pekerjaan rumah yang ringan seperti

35

Membantu klien untuk menentukan jadwal menyapu, mencuci piring.


aktivitas sehari-hari.

12.00 WIB

Mengukur tanda-tanda vital

O : klien kooperatif.

S : klien mengatakan pusing


O : TD 120/90 mmHg, nadi 96 kali per
menit, suhu 37,5 C, pernafasan 20 kali
per menit.

12.10 WIB

Mengkaji kekuatan otot

S:O : ekstremitas atas kanan dan kiri 5,


ekstremitas bawah kanan dan kiri 4.

12.15 WIB

Mengajarkan teknik ROM

S : klien mengatakan akan melakukan


ROM
O : klien kooperatif.

09

Februari

Memberikan injeksi ranitidine dan cefotaxim

09.00 WIB

09.30 WIB

Mengajarkan teknik ROM pada keluarga S : O : Klien kooperatif.


klien.
Mengklarifikasi
jadwal
yang
sudah S : klien mengatakan kemarin jalan-

2016
08.00 WIB

ditentukan pada tanggal 19 Juni 2012.

S:O : klien kooperatif

jalan sampai depan ruangan ditemani


keluarga.

36

O : klien kooperatif.
12.00 WIB

Mengukur TTV

S : klien mengatakan pusing sudah


berkurang.
O : Klien kooperatif, TD 110/80
mmHg, nadi 86 kali per menit, suhu 37
C, pernafasan 19 kali per menit.

08.00 WIB

Memberikan

penguatan

melakukan aktivitas ringan.

positif

untuk S : klien mengatakan akan melakukan


aktivitas ringan, jika sudah terasa lelah
akan beristirahat
O : klien kooperatif

08

Februari

2016
08.30 WIB
10.00 WIB

12.00 WIB

Mengobservasi tanda-tanda cairan berlebih/ S : O : bengkak di punggung kaki kanan


retensi (CVP meningkat, oedem, distensi
dan kiri
vena leher dan asites)
Mengompres bagian bengkak dengan air S : klien mengucapkan terimakasih
O : Klien kooperatif.
hangat.
S : klien mengatakan pusing
Mengukur tanda-tanda vital.
O : TD 120/90 mmHg, nadi 96 kali per
menit, suhu 37,5 C, pernafasan 20 kali
per menit.

37

12.10 WIB

Mengkaji tingkat mobilitas fisik.

S : klien mengatakan malas untuk


melakukan

aktivitas

karena terasa

berat dan cepat lelah.


O : kekuatan otot ekstremitas atas 5,
kekuatan otot ekstremitas bawah 4.
09

Februari

Mengajarkan

pada

keluarga

untuk S : O : bengkak berkurang.

2016
08.30 WIB

mengompres hangat.
Melakukan kompres hangat pada daerah

09.00 WIB

bengkak.
Monitor tanda-tanda infeksi

S:O : Klien kooperatif, warna kulit yang


bengkak adalah kemerahan.

12.00 WIB

Mengukur TTV

S : klien mengatakan pusing sudah


berkurang.
O : Klien kooperatif, TD 110/80
mmHg, nadi 86 kali per menit, suhu 37
C, pernafasan 19 kali per menit.

F. EVALUASI

38

Tanggal
Waktu
07

No.
Dx.

Februari 1

2016
08.00 WIB

Diagnosa
Keperawatan
Intoleransi

Evaluasi

TTD

aktivitas

berhubungan S :
- klien mengatakan akan mencoba untuk
dengan gaya hidup kurang gerak dan
melakukan aktivitas yang ringan terlebih
kelelahan.
dahulu, jika merasa lelah klien akan beristirahat,
klien mengatakan akan menggunakan jadwal
-

harian sebagai acuan untuk latihan beraktivitas.


Klien mengatakan sudah mencoba melakukan
aktivitas ringan seperti jalan-jalan sampai depan
ruang Alamanda.

O:
- Klien tampak bersemangat.
- Klien membuat jadwal untuk beraktivitas.
- Klien mengalami kemajuan dalam beraktivitas
(belajar untuk tidak bedrest)
A : Masalah teratasi sebagian.
P : Lanjutkan intervensi.
-

Lanjutkan jadwal aktivitas.


Berikan penguatan positif terhadap klien.

39

Ketidakefektifan

perfusi

jaringan S : klien mengatakan nyeri di bagian yang bengkak

perifer berhubungan dengan diabetes sudah sedikit berkurang.


O:
mellitus.
- Kekuatan otot klien untuk ekstremitas atas 5,
ekstremitas bawah 5.
- Bengkak sudah tidak ada.
A : Masalah teratasi sebagian.
P : Lanjutkan intervensi
- Kompres air hangat jika terjadi bengkak
kembali.

40

41

Anda mungkin juga menyukai