Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
...orang dan tempat tidak dapat dipisahkan. Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi
yang ada di bawah kakinya... Tempat itu yaitu tanah air. Tanah air itu adalah satu kesatuan.
Allah SWT membuat peta dunia, menyusun peta dunia. Kalau kita melihat peta dunia,kita
dapat menunjukkan dimana kesatuan-kesatuan itu. Seorang anak kecil pun, jikalau ia
melihat dunia, ia dapat menunjukkan bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu
kesatuan..., ungkap Soekarno dalam sebuah pidato beliau.
Indonesia telah berusia 70 tahun, akan tetapi sungguh miris, gerakan-gerakan separatisme
kerap ditemukan di Indonesia, seperti yang terjadi di tanah Papua. Gerakan separatis di Papua
dilandaskan pada perasaan tidak setuju dengan kesepakatan Pepera yang berisi dukungan
integrasi Irian Barat ke dalam wilayah Indonesia, karena kesepakatan tersebut tidak ditempuh
dengan cara satu orang satu suara. Dengan kata lain, kelompok separatis Free West Papua
menganggap Indonesia sebagai penjajah di tanah Papua (bbc.com). Ketimpangan dari segi
ekonomi dan sosial dengan beberapa daerah di Indonesia serta ketidakadilan yang terjadi di
Papua juga memicu gerakan separatis ini.
Dilansir dari Okezone.com, gerakan separatisme dapat mengancam kedaulatan dan
keamanan negara. Untuk mengantisipasi hal tersebut, perlu dilakukan upaya dalam
memelihara keutuhan NKRI. Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusional pun
perlu terus dijaga dan perlunya melaksanakan pembangunan yang berwawasan nusantara.
Dari segi sejarah, wawasan nusantara sudah digagas sejak zaman kerajaan pada masa
kejayaan Majapahit ketika Hayam Wuruk memerintah dengan Mahapatih Gajah Mada yang
telah berjanji tidak akan bersenang-senang sebelum mampu menyatukan nusantara di
Indonesia. Gagasan ini berkembang kembali pada masa penjajahan ketika sumpah pemuda
dirumuskan (1928), yang mana telah menyatukan pelajar dan pemuda dari seluruh Indonesia
melalui pernyataan yang mengaku bahwa putra dan putri Indonesia berbangsa, bertumpah
darah dan berbahasa yang satu yaitu Indonesia.
Sejarah mengenai wawasan nusantara ini berlanjut pada masa pra kemerdekaan, ketika
Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang merupakan
bentukan jepang mulai membahas batas-batas wilayah Negara Indonesia dan berusaha
menyatukan kepulauan Indonesia. Hingga akhirnya keluarlah Deklarasi Juanda pada tanggal
13 Desember 1957 yang merupakan pengumuman pemerintah RI tentang wilayah kedaulatan
perairan negara Republik Indonesia kepada dunia, yang berisi hal untuk mengatur batas
wilayah Indonesia. Dengan adanya Deklarasi Juanda, secara yuridis formal, Indonesia
menjadi utuh dan tidak terpecah lagi.
Berdasarkan fakta sejarah dan makna dari wawasan nusantara, maka sebagai mahasiswa
harus paham dan tergerak untuk menjalankan serta mewujudkan wawasan nusantara sesuai
dengan tujuan nasional yang tertera pada Pembukaan Undang Undang Dasar 1945, karena
disadari atau tidak, tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia dalam mempertahankan
keutuhan NKRI semakin berat.
I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah yaitu: bagaimana
Bangsa Indonesia dapat menjaga keutuhan NKRI, khususnya pada kasus upaya pemisahan
diri yang dilakukan oleh Papua berdasarkan pada wawasan nusantara?

I.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah melihat dan menggali wawasan nusantara sebagai
salah satu cara yang dapat digunaka untuk menjaga keutuhan NKRI, khususnya pada kasus
upaya pemisahan diri yang dilakukan oleh Papua.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Wawasan Nusantara
Secara Etimologis, Pengertian Wawasan Nusantara adalah cara pandang terhadap kesatuan
kepulauan yang terletak antara dua benua yaitu asia dan australia dan dua samudra yaitu
samura hindia dan samudra pasifik. Istilah wawasan nusantara berasal dari
kata Wawas (Bahasa Jawa) yang artinya "pandangan, tinjauan atau penglihatan indrawi", dan
kemudian ditambahkan akhiran an , sehingga arti wawasanadalah cara pandang, cara tinjau,
cara melihat. Sedangkan kataNusantara terdiri dari dua kata yaitu nusa yang berarti "pulau
atau kesatuan kepulauan" dan antara yang berarti "letak antara dua unsur yaitu dua benua dan
dua samudra". Sehingga arti dari kata nusantaraadalah kesatuan kepulauan yang terletak dari
dua benua yaitu asia dan australia dan dua samudra yaitu samudra hindia dan pasifik.
Pengertian Wawasan Nusantara Menurut Definisi Para Ahli - Setelah arti umum dan
etimologis wawasan nusantara, jika ditinjau dari pengertian wawasan nusantara menurut para
ahli antara lain sebagai berikut...
Prof. Dr. Wan Usman, Pengertian wawasan nusantara menurut definisi prof. Dr. Wan
Usman adalah cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan tanah airnya sebagai
negara kepulauan dengan semua aspek kehidupan yang beragam.
Kel. Kerja LEMHANAS, Pengertian wawasan nusantara menurut definisi Kel. Kerja
LEMHANAS (Lembaga Pertahanan Nasional) 1999 adalah cara pandang dan sikap
bangsa indonesia mengenai diri dan lingkungan yang beragam dan bernilai startegis
dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa dan kesatuan wilayah dalam
menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk
mencapai tujuan nasional.
Tap MPR Tahun 1993 dan 1998 Tentang GBHN, Pengertian wawasan nusantara menurut
definisi Tap MPR tahun 1993 dan 1998 tentang GBHN adalah cara pandang dan sikap bangsa
Indonesia mengenai diri dan lingkungan dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan
bangsa serta kesatuan wilayah dalam menyelenggarakan kehidupan masyarakat, berbangsa,
dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional
II.2. Wawasan Nusantara dan Integrasi Wilayah
Dengan diterimanya konsepsi wawasan nusantara (Konsepsi Deklarasi Juanda) di
forum internasional terjaminlah integrasi teritorial kita, yaitu Laut Nusantara, yang semula
dianggap laut bebas menjadi bagian integral wilayah Indosia. Di samping itu pengakuan
landas kontinen Indonesia dan Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEE) menghasilkan
pertumbuhan wilayah Indonesia yang cukup besar, sehingga menghasilkan luas wilayah
Indonesia yang semula nomor 17 di dunia menjadi nomor 17 di dunia.
Pertambahan luas ruang hidup tersebut di atas menghasilkan sumber daya alam yang
cukup besar bagi kesejahteraan bangsa, mengingat bahwa minyak, gas bumi, dan mineral
lainnya banyak yang berada di dasar laut, baik di lepas pantai (off shore) maupun di laut
dalam. Pertambahan luas wilayah tersebut dapat diterima oleh dunia internasional, termasuk
tentangga dekat kita, yaitu Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, India, Australia, dan
Papua Nugini yang dinyatakan dengan persetujuan yang menyangkut laut teritorial maupun
landas kontinen. Persetujuan tersebut dapat dicapai karena Indonesia dapat memberikan
akomodasi kepada kepentingan negara-negara tetangga antara lain bidang perikanan

(traditional fishing right) dan hak lintas dari Malaysia Barat ke Malaysia Timur atau
sebaliknya.
Penerapan wawasan nusantara di bidang komunikasi dan transportasi dapat dilihat
dengan adanya satelit Palapa dan Microwave System serta adanya lapangan terbang perintis
dan pelayaran perintis. Dengan adanya proyek tersebut laut dan hutan tidak lagi menjadi
hambatan yang besar sehingga lalu lintas perdagangan dan integrasi budaya dapat lancar
jalannya. Penerapan wawasan nusantara di bidang ekonomi juga lebih dapat dijamin
mengingat kekayaan alam yang ada lebih bisa dieksploitasi dan dinikmati serta
pemerataannya dapat dilakukan karena sarana dan prasarana menjadi lebih baik. Penerapan di
bidang sosial budaya terlihat dari dilanjutkannya kebijakan menjadikan bangsa Indonesia
yang bhineka tunggal ika, sebangsa, setanah air, senasib sepenanggung, dan berasaskan
Pancasila. Tingkat kemajuan yang sama merata dan seimbang terlihat dari tersedianya sekolah
di seluruh tanah air dan adanya universitas negeri di setiap provinsi.
II.3 Politik Perbatasan dalam Konteks Wawasan Nusantara
Kebijakan politik untuk mengamankan wilayah perbatasan belum seperti diharapkan,
hal ini terbutkti banyak walayah yang tidak dirurus oleh Jakarta sehingga diklaim oleh negara
tetangga seperti diungkapkan oleh Siswono (2005: 4) Tahun-tahun ini kita dirisaukan oleh
berita tentang rapuhnya batas-batas wilayah NKRI. Setelah Pulau Pasir di Wilayah Timor
diakui milik Australia dan kita menerimanya, Sipadan dan Ligitan diputuskan Mahkamah
Internasional menjadi milik Malaysia, tapal batas di Kalimantan digeser hingga 800 meter,
pekerja pembuat Mercusuar di Ambalat diintimidasi polisi perairan Malaysia. Lalu lintas
batas yang bebas, nelayan-nelayan asing yang mencuri ikan hingga merapat ke pantai-pantai
Sumatra (pulau-pulau Rondo di Aceh dan Sekatung di Riau). Semua itu menunjukkan betapa
lemahnya negara kita dalam menjaga batas luar wilayah NKRI (Kompas, 20 April 2005: 4).
Pada tahun 2002
terpampang di surat kabar kapal ikan asing yang meledak terbakar
ditembak oleh kapal perang kita. Mengingat setiap hari ribuan kapal asing mencuri ikan di
wilayah RI ada baiknya jika setiap bulan 10 kapal pencuri ikan ditembak meriam kapal
patroli AL, agar jera. Jikalau yang terjadi penyelesaian damai di laut, maka pencurian ikan
akan semakin hebat, dan penghormatan bangsa dan negara lain akan merosot.
Potensi desharmoni dengan negara tetangga adalah masalah perbatasan, tentu tidak
nyaman jika diperbatasan selalu tegang. Oleh karena itu perlu penegasan batas wilayah agar
saling menghormati wilayah masing-masing negara. Suasana yang harmonis adalah
kebutuhan hidup bertetanngga dengan bangsa lain. Kondisi disepanjang perbatasan
Kalimantan dengan kehidupan seberang perbatasan yang lebih makmur dapat mengurangi
kebanggaan warga di perbatasan pada negara kita. Pulau-pulau di Kepulauan Riau yang
ekonominya lebih berorientasi ke Singapura dengan menerima dolar Singapura sebagai alat
pembayaran juga dapat merapuhkan rasa kebangsaan Indonesia pada para penghuni pulau
tersebut. Perekonomian di Pulau Mianggas dan Pulau Marampit lebih berorientasi ke Filipina
Selatan akan melemahkan semangat kebangsaan warganya.
Pengelolaan wilayah perbatasan perlu segera ditingkatkan dengan membentuk
Kementriaan Perbatasan yang mengelola kehidupan masyarakat perbatasan agar lebih
makmur dan mendapat kemudahan agar dapat mengakses ke daerah lain di wilayah NKRI.
Wilyan NKRI perlu dijaga dengan penegasan secara defakto dengan menghadirkan penguasa
local seperti lurah, camat seperti polisi dan tentara sebagai simbul kedaulatan negara.
Meskipun memiliki ribuan pulau tetapi tidak boleh meremehkan eksistensi salah satu pulau

atau perairan yang sekecil apapun pulau atau daratan, dan bila itu wilayah NKRI perlu
dipertahankan dengan jiwa dan raga seluruh bangsa ini. Kasus Ambalat; Bermula dengan
lepasnya Timor Timur 1999, kemudian kekalahan diplomasi kita di Mahkamah
Internasional dengan kasus Sipadan dan Ligitan , 2002 sehingga kedua pulau tersebut
menjadi miliki Malaysia. Lepasnya kedua pulau Sipadan dan Ligitan dengan waktu reltif
singkat membuat rakyat Indonesia menjadi trauma akan lepasnya blok Ambalat yang kaya
minyak ke tangan Malaysia. Kontruksi bangunan teritorial kita dilihat dari kepentingan
nasional begitu rapuh dalam beberapa tahun terakhir ini. Sengketa dua blok wilayah Malaysia
dan Indonesia kembali memanas. Masing-masing mengklaim sebagai wilayah mereka.
Malaysia memberi nama Wilayah ND6 dan ND7 dan Indonesia memberi nama blok
Ambalat dan Ambalat Timur (Rusman Ghazali, Kompas, 28 April 2005; 4). Menurut Prof.
Azmi Hasan, ahli strategi politik Malaysia, bantahan Indonesia sudah diatisipasi bahkan
pemerintah Malaysia sudah menyiapkan segala bantahan sengketa Ambalat. Pemerintahan
Malaysia tidak meragukan lagi kesahihan kepemilikan atas klaim ND6 dan ND7 sebagai
bagian meilikinya atas dasar peta pantas benua 1979. Malaysia melakukan bantahan atas
konsesei ekplorasi minyak yang diberikan kepada perusahaan ENI dan Unicoal yang
diberikan oleh Pemerintah Indonesia. Bukan hanya itu, dalam tulisannya Prof. Azmi
membuat kalkulasi atas kekuatan militer Indonesia jika harus berhadapan dengan kekuatan
militer Malaysia. Bahwa TNI tidak berada dalam keadaan optimal akibat embargo militer AS
sejak beberapa tahun yang lalu. Sebagai contoh hanya 40% Jet tempur yang dimiliki TNI AU
tidak dapat digunakan, karena ketiadaan suku cadang untuk mengoperasikan kekuatan secara
penuh. Jet Sukoi yang dimiliki Indonesia hanya mempunyai kemampuam radar, tanpa
dibantu kelengkapan persenjataan yang lebih canggih lainnya. Pendek kata bahwa dalam
sengketa ini kekuatan militer TNI juga telah diperhitungkan kekuatannya oleh para ahli
strategi di Malaysia sebagai refrensi pemerintah Malaysia dalam menentukan sikap terhadap
sengketa di wilayah Ambalat.
II.4 Organisasi Papua Merdeka (OPM)
Organisasi Papua Merdeka (OPM) adalah sebuah gerakan nasionalis yang didirikan
tahun 1965 yang bertujuan untuk mewujudkan kemerdekaan Papua bagian barat dari
pemerintahan Indonesia. Sebelum era reformasi, provinsi yang sekarang terdiri atas Papua dan
Papua Barat ini dipanggil dengan nama Irian Jaya. .
OPM merasa bahwa mereka tidak memiliki hubungan sejarah dengan bagian Indonesia yang
lain maupun negara-negara Asia lainnya. Penyatuan wilayah ini ke dalam NKRI sejak tahun
1969 merupakan buah perjanjian antara Belanda dengan Indonesia dimana pihak Belanda
menyerahkan wilayah tersebut yang selama ini dikuasainya kepada bekas jajahannya yang
merdeka, Indonesia. Perjanjian tersebut oleh OPM dianggap sebagai penyerahan dari tangan
satu penjajah kepada yang lain.
Pada tanggal 1 Juli 1971, Nicolaas Jouwe dan dua komandan OPM yang lain, Seth Jafeth
Raemkorem dan Jacob Hendrik Prai menaikkan bendera Bintang Fajar dan
memproklamasikan berdirinya Republik Papua Barat. Namun republik ini berumur pendek
karena segera ditumpas oleh militer Indonesia dibawah perintah Presiden Soeharto.
Tahun 1982 Dewan Revolusioner OPM didirikan dimana tujuan dewan tersebut adalah untuk
menggalang dukungan masyarakat internasional untuk mendukung kemerdekaan wilayah
tersebut. Mereka mencari dukungan antara lain melalui PBB, GNB, Forum Pasifik Selatan,
dan ASEAN latar belakang pemerontakan biasanya diawali dari ketidakpuasan masyarakat

daerah atas kebijakan pemerintah yang dirasa kurang adil. Oleh karena itu, saya berharap
kepada pemerintah, agar lebih memperhatikan daerah2 yang yang selama ini terabaikan
sehingga kedepannya tidak ada lagi pemberontakan terhadap pemerintah, karena nyawa
rakyat indonesia lebih berharga daripada intrik-intrik poltik yang hanya menguntungkan
sebagian orang yang berkuasa.
II.5 Tom Wanggai Aktivis OPM
Tanggal 28 Juli 1965 adalah awal dari gerakan-gerakan kemerdekaan Papua Barat
yang ditempeli satu label yaitu OPM (Organisasi Papua Merdeka).
Lahirnya OPM di kota Manokwari pada tanggal itu ditandai dengan penyerangan orang-orang
Arfak terhadap barak pasukan Batalyon 751 (Brawijaya) di mana tiga orang anggota kesatuan
itu dibunuh. Picu proklamasi OPM yang pertama itu adalah penolakan para anggota
Batalyon Papua (PVK = Papoea Vrijwilligers Korps ) dari suku Arfak dan Biak untuk
didemobilisasi, serta penahanan orang-orang Arfak yang mengeluh ke penguasa setempat
karena pengangguran yang tinggi serta kekurangan pangan di kalangan suku itu (Ukur dan
Cooley, 1977: 287; Osborne, 1985: 35-36; Sjamsuddin, 1989: 96-97; Whitaker, 1990: 51).
Pada tanggal 14 Desember 1988, sekitar 60 orang berkumpul di stadion Mandala di kota
Jayapura, untuk menghadiri upacara pembacaan proklamasi OPM serta pengibaran
bendera OPM yang kesekian kali.
Peristiwa ini agak berbeda dari peristiwa-peristiwa serupa sebelumnya.
Soalnya, untuk pertama kalinya, bukan bendera Papua Barat hasil rancangan seorang Belanda
di masa pemerintahan Belanda yang dikibarkan, melainkan sebuah bendera baru rancangan si
pembaca proklamasi, Thomas Wanggai, yang dijahit oleh isterinya yang berkebangsaan
Jepang, Ny. Teruko Wanggai.
Selain itu, Wanggai tidak menggunakan istilah Papua Barat, seperti para pencetus
proklamasi-proklamasi OPM maupun para pengibar bendera OPM sebelumnya, melainkan
memproklamasikan berdirinya negara Melanesia Barat. Kemudian, Thomas Wanggai
sendiri adalah pendukung OPM berpendidikan paling tinggi sampai saat itu. Ia telah
menggondol gelar Doktor di bidang Hukum dan Administrasi Publik dari Jepang dan AS,
sebelum melamar bekerja di kantor gubernur Irian Jaya di Jayapura.
Dibandingkan dengan gerakan-gerakan nasionalisme Papua sebelumnya, gerakan Tom
Wanggai mendapat perhatian yang paling luas dan terbuka dari masyarakat Irian Jaya. Sidang
pengadilan negeri di Jayapura yang menghukumnya dengan 20 tahun penjara tertinggi
dibandingkan dengan vonis-vonis sebelumnya untuk para aktivis OPM mendapat perhatian
luas.

BAB III
PEMBAHASAN MASALAH
Kasus separatisme beberapa daerah di Indonesia membuat geger pemerintah
Indonesia. Kasus yang syarat akan banyak kepentingan ini menjadi salah satu fokusan satuan
elit militer Indonesia, KOPASSUS (Korps Pasukan Khusus). KOPASSUS telah
mengumpulkan beberapa dokumen terkait kasus separatisme yang terjadi di Papua. Dari hasil
penyelidikan tersebut, KOPASSUS menemukan bahwa ada beberapa kelompok orang
bersenjata yang mengawal terjadinya separatisme di Papua ini. Penemuan kelompok orang
bersenjata ini hanya bagian kulit dari isu separatisme ini. Tak hanya itu, dalam laporan juga
diungkap sejumlah nama politisi, akademisi, wartawan, pekerja sosial dan pemimpin agama
dari seluruh dunia yang menyokong gerakan separatisme di Papua.
Munculnya Gerakan Separatis Papua yang menuntut kemerdekaan tentu menimbulkan
ancaman terhadap integritas wilayah NKRI. Kelompok separatis di Papua menggugat bahwa
berdasarkan sejarah wilayah Irian Barat bukanlah wilayah Hindia Belanda sebagaimana yang
diakui Indonesia saat ini. Pandangan tersebut perlu diluruskan, karena pada dasarnya Irian
Barat merupakan bagian dari sejarah wilayah Hindia Belanda. Semenjak kermerdekaan
Indonesia, seharusnya Irian Barat sudah masuk kedalam wilayah NKRI.
Laporan itu menggambarkan pengawasan ketat yang dilakukan oleh intelijen Kopassus di
Papua terhadap orang-orang yang dianggap sebagai tokoh gerakan separatis, orang-orang
asing yang dicurigai mendukung gerakan ini, termasuk mengawasi turis-turis asing yang
berkunjung ke sana.
Diungkap juga daftar informan yang ditugasi untuk mengawasi orang-orang yang
dicurigai oleh Kopassus. Kendati jati diri informan-informan itu tidak disebutkan, namun
dalam laporan itu mereka digambarkan berdasarkan temperamen dan motivasi mereka.
Informan-informan ini digambarkan berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa,
birokrat, guru, tukang ojek, kepala suku, kepala desa, hingga petani.
Sejak otonomi khusus diperkenalkan pada 2001, diperkirakan jumlah pasukan TNI
yang dikerahkan di sana berlipat gandadari tiga batalyon menjadi enam batalyon.
Diperkirakan, jumlahnya sekitar 15.000 orang, atau sekitar 13 kali dari jumlah pasukan
separatis di sana. Berdasarkan dokumen tersebut, kekuatan kelompok separatis di Papua
meliputi 1.129 orang tentara separatis, dilengkapi 131 senjata serta granat.
Pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan adalah
melalui kepala-kepala adat ataupun kepala-kepala suku di daerah setempat. Hal ini
dikarenakan di Papua, ketaatan dan kesetiaan orang Papua terhadap pemimpin adat/agama
mereka sangat tinggi. Sampai pada titik dimana adat memiliki keutamaan di atas hukum dan
menciptakan peluang terjadinya konflik horisontal. Banyak motif yang muncul pada kasus
separatisme Papua ini, dikarenakan kondisi alam Tanah Mutiara Hitam itu menyimpan
kekayaan yang sangat berlimpah dan tentu menggiurkan bagi banyak pihak.
Munculnya gerakan separatisme di tanah Papua sebenarnya telah dicarikan solusinya
oleh Pemerintah melalui Otonomi Khusus (Otsus) Papua. Melalui Tim Otsus Papua, dengan
pelimpahan dana Rp 30 triliun serta dana reguler lainnya diharapkan keinginan Papua untuk
mempercepat pembangunan terealisasi. Namun berdasarkan laporan audit BPK ditemukan
adanya bantuan yang belum sampai ke rakyat.
Hal ini terjadi tentu tidak terlepas dari kepentingan banyak pihak dan ingin
menanamkan mindset kepada warga Papua bahwa pemerintah lengah dan tidak peduli akan

kondisi rakyat Papua. Ini terbukti dari penolakan rakyat Papua pada saat kunjungan Presiden
Republik Indonesia ke Papua pada bulan Mei 2015 lalu.
Selain itu, suasana ini diperkeruh oleh Australia dengan membocorkan penyelidikan
yang dilakukan KOPASSUS dalam mencari informasi terkait kasus separatisme ini melalui
media Australia, Fairfax dan ditindaklanjuti oleh The Canberra Times. Info yang disebarkan
tersebeut adalah terkait adanya informan dan mata-mata dari pemerintah Republik Indonesia
yang diutus untuk mengusut kasus separatisme ini dan tentu akan menjadi suatu bahaya bagi
Australia yang juga punya kepentingan. Hal ini juga didukung oleh beberapa anggota
parlemen Inggris yang memfasilitasi konferensi International Parliamentary for West Papua
(IPWP) untuk OPM di Inggris. Padahal, International Parliamentary for West Papua yang
diluncurkan di House of Commons, London, Inggris, 15 Oktober 2008, bertujuan untuk
mendukung penentuan nasib sendiri warga asli Papua.
Untuk permasalahan dan konspirasi yang terjadi di Papua yang sudah dijelaskan di
atas, menunjukkan bahwa kurangnya awareness dan careness masyarakat Indonesia secara
umum untuk memperjuangkan nasib warga Papua ini. Dan berdasarkan penyelidakan yang
dilakukan oleh KOPASSUS, dapat disimpulkan bahwa laporan yang bertajuk Anatomi
Separatis Papua (Anatomy of Papuan Separatis) itu menyatakan, penduduk dari provinsi
timur yang kaya akan sumber daya ini mudah dipengaruhi oleh ide-ide separatis. Tuntutan
irasional untuk hak adat atas tanah dan terbatasnya infrastruktur serta transportasi telah
menghambat pertumbuhan ekonomi. Sehingga dibutuhkan wawasan nusantara bagi setiap
warga negara Indonesia sehingga dapat meningkatkan kepedulian dan kepekaan terhadap isuisu nasional yang mengganggu stabilitas Republik Indonesia.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
Upaya pemisahan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia di Papua bukan kali
pertama terjadi. Pada tahun 1976 pernah juga terjadi upaya pemisahan diri oleh GAM
(Gerakan Aceh Merdeka). Upaya-upaya tersebut terjadi karena adanya perbedaan pandangan
terhadap NKRI. Perbedaan tersebut terjadi karena wawasan nusantara yang terlalu sempit.
Ambisi yang tinggi juga memicu terjadinya upaya pemisahan tersebut. Pemerintah dapat
mencegah dan menaggulangi upaya ini dengan memaksimalkan kerja badan-badan khusus
seperti KOPASSUS (Korps Pasukan Khusus). Pendekatan ke kepala-kepala daerah setempat
penting untuk tindak pencegahan maupun penanggulangan. Jika kondisi sudah mengarah
kepada kontak fisik, Pemerintah perlu mempersiapkan secara matang pasukan yang akan
melawan pemberontak. Seperti pada penanggulangan OPR, pemerintah mengerahkan sekitar
15.000 orang, atau sekitar 13 kali dari jumlah pasukan separatis, sehingga upaya pemisahan
diri di papua tersebut dapat tertangani.
Penyetaraan dan perataan pembangunan nasioanl perlu di lakukan dari Sabang sampai
Merauke. Dengan tidak adanya ketimpangan baik segi sarana prasarana, pendidikan, dll, maka
wawasan nusantara setiap warga negara akan baik dan kecemburuan antar bagian NKRI tidak
terjadi. Sehingga rasa nasionalisme dan cinta tanah air akan muncul dalam pribadi masingmasing warga Negara.

DAFTAR PUSTAKA
Bonasir,
Rohmatin.
2014.
Tuntutan
Papua
Merdeka
Terus
Dikobarkan.
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/11/141128_papua_separatis_merde
ka diakses pada 9 Maret 2016.
Detik. 2015. http://news.detik.com/wawancara/2959938/pendeta-benny-giay-separatismeadalah-nasionalisme-papua. Diakses pada tanggal 13 Maret 2016
Jakartagreater. 2013. http://jakartagreater.com/separatisme-di-bumi-papua/. Diakses pada
tanggal 13 Maret 2016
Kusrahmadi,
Sigit
Dewi.
2014.
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/WAWASAN
%20NUSANTARA%20%20Jurnal%20Penting.pdf diakses pada 13 Maret 2016
Okezone. 2015. Separatisme Jadi Sisi Miris Indonesia di Usia 70 Tahun.
http://news.okezone.com/read/2015/09/18/525/1216843/separatisme-jadi-sisi-mirisindonesia-di-usia-70-tahun diakses pada 9 Maret 2016.
Prasetyo
Aris,
R.
2013.
Sejarah
OPM
(Organisasi
Papua
Merdeka).
http://blog.umy.ac.id/arisrofiqprasetyo/sejarah-opmorganisasi-papua-merdeka/
diakses
pada 13 Maret 2016

MAKALAH
WAWASAN NUSANTARA

NAMA KELOMPOK:
1. FIKAN MUBAROK. R
2. ANDIKA PRATAMA

2712100080
2713100039

3. RAMADHAN PUTRA NARINDRA

2713100071

4. AMELTHIA RAHEL

2713100113

5. ARIEF RIZALDI. P

2713100120

6. NARPATI KONIG. G

2714100143