Anda di halaman 1dari 4

KISTA GIGI YANG MENYEBABKAN KELAINAN TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN

PENDAHULUAN
Kista merupakan rongga patologis berisi cairan atau semi cairan dibatasi epitel sebagai kapsul. Kista dari gigi atau biasa yang disebut dengan kista odontogenik antara lain kista dari gigi yang disebabkan oleh peradangan seperti kista radikuler ( kista
periapikal ) dan kista residual serta kista yang berasal dari perkembangan yaitu kista premordial dan kista dentigerous. Kista gigi yang disebabkan oleh peradangan merupakan kista dari gigi yang sering menimbulkan kelainan di bidang THT yaitu antara lain
sinusitis maksilaris, dan fistula oroanthral. Berdasarkan penelitian ditemukan menemukan 47 % infeksi sinus maksilaris kronik akibat kelainan gigi. Ada beberapa hal yang menyebabkan kista tumbuh, antara lain; daya tahan tubuh jelek, stress, masalah
hormonal, dan lingkungan yang buruk.
Kelainan THT lain yang dapat ditemukan adalah timbulnya berbagai keluhan pada telinga berupa rasa pusing berputar, nyeri dalam telinga yang terjadi sebagai akibat refered pain yang berasal dari rasa nyeri di gigi molar atas, dan sendi mulut.
Keluhan pada hidung yang dapat timbul antara lain rasa nyeri di daerah muka dan kepala terutama daerah sekitar dahi, pangkal hidung, pipi, dan tengah kepala serta gangguan penghidung.
Salah satu kelainan pada bagian THT yang disebabkan oleh kelainan gigi seperti kista adalah sinusitis maksilaris serta fistula oroanthral. Sinus maksila merupakan sinus yang paling sering terinfeksi, karena merupakan sinus paranasal yang terbesar,
letak muaranya lebih tinggi dari dasar sinus. Infeksi gigi, paling sering sebagai penyebab infeksi sinus maksila terutama infeksi dari rahang atas gigi molar 1, molar 2, dan molar 3 serta premolar 1 dan premolar 2. Penyebaran infeksi dari gigi ke antrum melalui
dua cara, yaitu melalui infeksi gigi kronis dan perkontinuitatum.
Dalam refrat ini akan dibahas bagaimana kista gigi dapat menyebabkan kelainan THT seperti sinusitis maksilaris dan fistula oroanthral.
ISI
II.1 KISTA GIGI
Kista merupakan rongga patologis berisi cairan atau semi cairan dibatasi epitel sebagai kapsul. Dalam ilmu kedokteran gigi dan mulut, dikenal kista rongga mulut. Adapun klasifikasinya yaitu sebagai berikut: 1,2,3
I.
Kista Rahang
A. Odontogenik
1. Perkembangan
a. Kista Premordial
Merupakan kelainan perkembangan akibat degenerasi retikulum retilata sebelum kalsifikasi, biasanya timbul di periapikal gigi yang masih vital di regio mandibula.
b. Kista Dentigerous
Kista dentigerous merupakan kista yang menutupi mahkota gigi yang belum erupsi. Kista ini dapat terjadi pada leher gigi pada regio maksila dan mandibula.
2. Peradangan
a. Kista Radikuler
Kista radikuler atau biasa yang disebut dengan kista periapikal merupakan kista gigi yang paling banyak ditemukan. Kista radikuler ini timbul dari sisa-sisa epitel ligamentum periodontal sebagai akibat peradangan, dengan diikuti
kematian pulpa pada apeks gigi yang terkena.
b. Kista Residual
Kista radikuler yang tetap tertinggal didalam rahang setelah pengangkatan gigi.
B. Non Odontogenik
1. Kista Nasopalatinus
Kista berdinding epitel dengan sel non odontogenik yang berasal dari sisa-sisa epitel embrionik dalam kanalis nasopalatinus.
2. Kista Globulomaksilaris
Kista fisural yang ditemukan didalam tulang antara insisivus kedua dan caninus maksila.
3. Kista Nasolabialis
Kista yang terjadi diluar tulang pada lipatan nasolabialis dibawah alae nasi.
II.
Kista Jaringan Lunak
1. Kista Dermoid
Kista yang timbul pada dasar mulut yang dilapisi epidermis dan alat tambahan kulit yang ada dalam dinding fibrosa.
2. Kista Epidermoid
Kista yang biasanya terjadi akibat trauma dengan ukuran yang terbatas. Dilapisi oleh epidermis tapi tidak mengandung alat tambahan kulit.
3. Kista Glandula Salivaria
a. Mukocele
Kista yang sering terjadi pada bibir bawah akibat obstruksi duktus glandula salivarius menyebabkan dilatasi di proksimal obstruksi.
b. Ranula
Mukocele yang timbul pada dasar mulut yang biasanya unilateral dan menyebabkan pembengkakan biru translusen yang mirip perut kodok.
4. Kista Celah Brakhialis
5. Kista Duktus Tiroglossus
6. Kista Higroma

Perlu diingat perbedaan mendasar antara kista dan abses, yakni sebagai berikut . 1
Kista
Abses
Pertumbuhan lambat
Pertumbuhan cepat
Tidak ada tanda-tanda radang
Ada tanda-tanda radang
Aspirasi: cairan kuning bening steril
Berisi pus
Rontgen: radioluscent dengan batas yang jelas dan Penuh kuman
tegas
Rontgen: radioluscent yang difus/cloudy
Tidak ada fluktuasi dan pointing
Ada fluktuasi dan pointing
Kista gigi yang sudah terinfeksi dapat memberikan tanda-tanda yang serupa dengan abses.
Pada umumnya kista disebabkan karena retensi, kelainan pertumbuhan, trauma dan peradangan. Ada beberapa hal yang menyebabkan kista mudah tumbuh antara lain daya tahan tubuh jelek, stress, masalah hormonal, dan lingkungan yang buruk.
Diantara sekian banyak macam kista gigi, kista gigi yang disebabkan oleh peradangan merupakan kista dari gigi yang sering menimbulkan kelainan di bidang THT yaitu antara lain sinusitis maksilaris, dan fistula oroanthral. 1,2.4
II.2 KELAINAN THT YANG DISEBABKAN OLEH KISTA GIGI
Kista gigi dapat menimbulkan kelainan pada telinga, hidung, dan tenggorokan secara langsung. Gejala-gejala yang dapat ditimbulkan antara lain adalah gejala telinga berupa rasa pusing berputar, nyeri dalam telinga yang terjadi sebagai akibat refered
pain yang berasal dari rasa nyeri di gigi molar atas, dan sendi mulut. Gejala hidung yang timbul dapat berupa rasa nyeri di daerah muka dan kepala terutama daerah sekitar dahi, pangkal hidung, pipi, dan tengah kepala dan gangguan penghidung. 4
Pada umumnya, kista gigi akan memberikan gejala pembengkakan pada daerah sekitar tanpa disertai rasa nyeri yang terjadi secara lambat, disertai pembentukan sekret, asimetri pada muka, mendesak dan menyebabkan susunan gigi tidak teratur, serta
menyebabkan fraktur patologis.
Kelainan pada bagian THT yang dapat disebabkan oleh kelainan gigi berupa kista gigi adalah sinusitis maksilaris serta fistula oroanthral. Sinusitis maksilaris yang disebabkan oleh kelainan gigi dikenal dengan istilah MSDO ( Maxillaris Sinusitis of
Dental Origin).
II. 2. 1 MSDO (Maxillaris Sinusitis of Dental Origin)5,6
Sinus maksilaris merupakan salah satu sinus para nasalis. Sinus ini merupakan sinus yang terbesar sekaligus yang paling sering terinfeksi karena merupakan sinus paranasal yang terbesar, letak muaranya lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga aliran
sekret (dreanase) dari sinus maksila sangat tergantung dari gerakan silia. Sinus ini mempunyai beberapa dinding, dinding anterior dibentuk oleh permukaan maksila os maksila, yang disebut fosa kanina. Dinding posterior dibentuk oleh permukaan infratemporal
maksila. Dinding medial dibentuk oleh dinding lateral rongga hidung. Dinding superior dibentuk oleh dasar orbita dan dinding inferior oleh prosesus alveolaris dan palatum. 6
Dasar sinus maksila berdekatan dengan tempat tumbuhnya gigi premolar kedua, gigi molar ke satu dan ke dua, bahkan kadang-kadang gigi tumbuh ke dalam rongga sinus dan hanya tertutup oleh mukosa. Hal ini mengakibatkan proses supuratif yang
terjadi sekitar gigi-gigi ini dapat menjalar ke mukosa sinus melalui pembuluh darah atau limfe, sedangkan pencabutan gigi ini dapat menimbulkan hubungan dengan rongga sinus melalui fistel oroantral yang akan mengakibatkan sinusitis. Didalam sinus
kadang-kadang ada sekat-sekat yang membentuk ruang-ruang dibagian posterior sehingga dapat menjadi sumber infeksi terus-menerus. 6
Pada dasarnya patofisiologi terjadi sinusitis maksilaris adalah terjadinya edema kompleks ostiomeatal, mukosa yang letaknya berhadapan akan saling bertemu, sehingga silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat dialirkan. Maka terjadi gangguan
drainase dan ventilasi di dalam sinus, sehingga silia menjadi kurang aktif dan lendir yang diproduksi mukosa sinus menjadi lebih kental dan merupakan media baik utuk tumbuhnya bakteri patogen. Bila sumbatan berlangsung terus, akan terjadi hipoksia dan
retensi lendir, sehingga timbul oleh bakteri anaerob. Selanjutnya terjadi perubahan jaringan menjadi hipertropi, polipoid atau pembentukan polip dan kista.
Pada sinusitis maksilaris yang disebabkan oleh kista gigi, faktor predisposisinya adalah obstruksi yang diakibatkan kista gigi dan peradangan. Infeksi gigi, paling sering sebagai penyebab infeksi sinus maksila terutama infeksi dari rahang atas gigi
molar 1,2,3 serta premolar 1 dan 2. Penyebaran infeksi dari gigi ke antrum melalui dua cara, yaitu melalui infeksi gigi kronis, yang mengakibatkan terbentuknya daerah granulasi pada mukosa sinus yang menutupi daerah alveolaris, sehingga fungsi mukosa
didaerah tersebut berubah dan aktifitas silia terganggu. Dapat juga perkontinuitatum, bakteri langsung menyebar dari granuloma kapital atau kantong periodontal ke sinus maksila. 4,6
Pada sinusitis akut yang dapat berasal dari penyebaran infeksi pada gigi gejala yang bisa ditemukan antara lain adalah gejala lokal dan gejala sistemik. Gejala sisiemik yang bisa ditemukan antara lain demam dan rasa lesu. Gejala lokal yang dapat
ditemukan adalah terdapat ingus kental yang berbau dan kadang-kadang mengalir ke nasofaring, hidung terasa tersumbat, rasa nyeri di daerah sinus yang terkena, kadang-kadang dirasakan juga nyeri di daerah lain karena nyeri alih ( referred pain ). Kadangkadang ditemukan juga nyeri dibawah kelopak mata yang terkadang menyebar ke alveolus sehingga gigi terasa nyeri.
Pada sinusitis maksila kronis gejala yang ditemukan sangat bervariasi dari ringan sampai berat, seperti :
1) Gejala hidung,
a) Obstruksi hidung, keluhan ini se ring dirasakan oleh penderita sebelum terjadi sinusitis, karena adanya rinitis alergi dan polip yang timbul sebelumnya.
b) Sekret hidung. Pada sinusitis alergi maka cairan yang keluar bersifat serous kadang-kadang mukoid yang berlebihan. Bila sekret berubah menjadi mukupurulen, biasanya sudah terjadi proses paradangan dan bila sekret bercampur darah, terutama
unilateral dicurigai adanya keganasan.
c) Post nasap drip (ingus belakang hidung), merupakan gejala yang paling sering ditemukan dan dirasakan sebagai perasaan kering dari tenggorok, rasa panas di belakang hidung serta rasa tidak nyaman di mulut.
d) Epistaksis, disebabkan karena peradangan dan vasodilatasi pembuluh darah pada mukosa hidung.
e) Gangguan penghidung, ada keluhan kakosmia , penderita merasakan bau busuk, bahkan bau dapat tercium oleh orang lain, biasanya karena kelainan anatomi hidung. Pada sinusitis kronis dengan dasar rinitis alergi biasanya keluhannya hiposmia sampai
anosmia dan kadang-kadang parosmia.
f) Ekskoriasi sekitar lubang hidung, seringkali ditemukan pada anak-anak dan dianggap sebagai tanda sinusitis kronis.
g) Allergic salute, yaitu gerakan punggung tangan menggosok hidung karena gatal, keadaan ini sering tampak pada anak-anak dan menimbulkan garis melintang di dorsum nasi bagian sepertiga bawah, yang disebut allergic crease (linea nasalis).
2) Gejala faring. Rasa kering tenggorok yang disebabkan oleh faringitis dan tonsillitis.
3) Gejala telinga. Sinusitis kronis dapat menyebabkan nasofaringitis, sehingga terjadi edema mukosa dan obstruksi tuba Eustachius dan kadang-kadang dapat terjadi otitis media serosa kronis karena alergi sebagi gangguan dasarnya. 2,6
4) Nyeri kepala. Mempunyai sifat khas yaitu nyeri pada pagi hari dan akan berkurang atau hilang setelah siang hari. Hal ini diduga karena penimbunan sekret dalam rongga hidung dan sinus serta adanya stasi vena pada malam hari, sedangkan pada siang hari
karena posis tegak, drenase baik.

5) Gejala mata. Berupa keluhan mata gatal dan lakrimasi yang disebabkan karena obstruksi dan infeksi duktus lakrimalis, sehingga sering terjadi konjungtivitis. Pada anak terdapat bayangan gelap di bawah mata yang terjadi karena statis vena sekunder akibat
obstruksi hidung, yang disebut allergic shiners (black eyes of allergy). Dapat timbul Dennise line, yaitu adanya lipatan (alur) di bawah palpebra inferior oleh karena kontraksi otot polos dibawah palpebra inferior, gambaran ini tampak sejak bayi dan
berhubungan dengan rinitas alergi dan dermatitis atopi.
6) Gejala Saluran nafas. Batuk dan kadang-kadang terdapat komplikasi di paru, berupa bronchitis atau bronkiektasis atau asma bronkial, sehingga terjadi penyakit sinobronkitis.
7) Gejala Saluran Cerna. Mukopus yang tertelan dapat menimbulkan gangguan pencernaan , nausea dan gastritis ringan.
8) Allergic or adenoid faces/sad looking faces. Bernafas melalui mulut, mulut terbuka, allergic or shiners dan kemungkinan disertai maloklusi gigi. Hal ini disebabkan alergi dan pembesaran nsil atau adenoid.
9) Gejala umum, kadang-kadang disertai rasa lesu dan demam yang tidak begitu tinggi. 2,6,
Dalam menegakkan diagnosis sinusitis maksila kronis, pemeriksan dimulai dari anamnesis, gejala klinis, diikuti dengan pemeriksaan klinis rutin sampai pemeriksaan khusus.
Pemeriksaan penunjang sinusitis maksila terdiri dari : 2,6
1) Transiluminasi.2,6
Dapat dipakai untuk pemeriksaan sinus maksila dan sinus frontal. Pada sinus maksila tampak gambaran seminular infraorbital, sinar tentang pada pipi dan pupil bercahaya. Pada sinus frontal yang normal menunjukkan sinar terang pada sinus frontal dan
tampak tegas batas antara rongga dan tulang. Sinus tampak lebih gelap jika di dalamnya terdapat cairan pus, mukopus, penebalan mukosa dan massa tumor. Jika sinus tampak lebih kecil dan gelap maka kemungkinan oleh karena trauma, gangguan
pertumbuhan, penebalan jaringan lunak atau penebalan tulang. Transiluminasi tidak mempunyai arti penting untuk menegakkan diagnosis dan kebenaran diagnosisnya dibandingkan dengan hasil fungsi sinus hanya 50 % - 68 %. Selain itu jika dibandingkan
dengan pemeriksaan foto Rontgen hasilnya berbeda 15 %.
2) Pemeriksaan radiologik.
Umumnya ada tiga posis yang secara rutin dilakukan . yaitu posisi oksipitomental (Watres), oksitofrontal (Caldwell) dan posisi lateral. Pemeriksaan radiologi khusus dilakukan jika pemeriksaan radiologi rutin meragukan atau tidak jelas. Pemeriksaan ini
terdiri atas : a) Pemeriksaan radiologi dengan bahan kontras. Dengan pemeriksaan cara ini dapat diketahui keadaan anatomi dan fungsi sinus maksila. b) Ultrasonografi (USG). Cukup baik untuk pemeriksaan sinus karena mudah, murah dan tanpa radiasi.
Tetapi beberapa ahli berpendapat nilai diagnostiknya rendah. c) Computed tomography scanning (CT scan) merupakan pilihan utama diagnostik penyakit-penyakit inflamasi atau neoplasma sinus paranasal dan merupakan bagian penting sebagai
pemeriksaan penunjang. 45 CT scan yang digabung dengan pemeriksaan endoskopi hidung, akan memberikan hasil 90 % lebih akurat dibandingkan dengan pemeriksaan sendirisendiri. d)Magnetic resonance imaging (MRI). Memberikan gambaran yang
lebih baik untuk membedakan karakteristik dari suatu lesi jaringan.
3) Fungsi sinus maksila
Selain untuk membantu diagnosis dapat juga untuk terapi. Trokar yang dimasukkan ke dalam antrum sinus maksila dapat melalui ostium sinus di meatus medius, fosa kanina, dan meatus inferior. Pada sinusitis dengan penebalan mukosa, biasanya cairan
tidak dapat keluar karena ostium menjadi sempit atau tersumbat total.
4) Pemeriksaan sinoskopi atau antroskopi sinus maksila.
Pertama kali dikemukan oleh Hirschmann pada tahun 1901. Hasil sinoskopi lebih baik dibandingkan dengan hasil radiologik, karena dapat mengetahui jenis dan perubahan patologik, serta keadaan ostium sinus maksila.
Pengobatan dapat dilakukan dengan eksplorasi sinus untuk mengangkat semua mukosa yang terinfeksi, sehingga drenase sekret dan ventilasi sinus maksila menjadi baik. Sementara itu untuk pengobatan kausatif maka dihilangkan factor penyebab,
yaitu dengan menghilangkan kistadengan enukleasi dan atau marsupialisasi, dan dengan dibantu terapi antibiotik yang adekuat, dan untuk infeksi akar gigi dilakukan perawatan saluran akar gigi. Namun untuk kista gigi ada kemungkinan untuk timbul
berulang.4,5,6
II. 2. 2Fistula Oroantral 7,8
Fistula oroantral adalah fistula yang terletak antara sinus maksilaris dan rongga mulut. Fistula oroantral biasanya terjadi setelah ekstraksi gigi yang telah mengalami komplikasi berupa kista. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut Beberapa gigi
geraham atas berada sangat dekat dengan dasar sinus maksilaris. Ini tergantung dari ukuran sinus. Rongga sinus berbatasan dengan apeks gigi oleh lapisan tulang yang tipis. Batas ini kadang tidak dijumpai pada gigi molar I dan kadang akar gigi masuk ke dalam
sinus. Kadang-kadang akar gigi begitu tertutup terhadap tulang di bawah sinus maksilaris sehingga tulang rusak bila gigi diekstraksi . 6,7,8
Fistula oroantral kadang-kadang dapat terjadi setelah ekstraksi yang dilakukan pada gigi yang tidak mengalami kerusakan tapi mengalami malposisi. Ini biasanya sembuh dengan cepat setelah perbaikan lokal, terapi antibiotik, dan menyuruh pasien
untuk tidak menghembuskan udara lewat hidung. Bila akar gigi hancur selama ekstraksi, sebaiknya dibiarkan sembuh sendiri bila tidak ada infeksi. Bila ada infeksi, terapi antibiotik ditambah irigasi lokal membantu proses penyembuhan. Prosedur yang lebih
radikal penting untuk mengeluarkan benda asing dan menutup fistula. 6.7,8
Selain dua hal di atas, fistula oroanthral dapat juga disebabkan Defek congenital ( yang dihubungkan dengan clept palatum). Pada saat lahir sinus maksilaris berbentuk rongga kecil yang mulai berkembang pada bulan ketiga kehidupan fetus dan
berakhir pada usia 18-20 tahun. Sementara sinus maksilaris adalah hasil perkembangan maksila dan proses pneumatisasinya. Perkembangan itu mengikuti perkembangan rahang dan erupsi gigi permanen. Pada perkembangan yang tidak sempurna dapat
terbentuk hubungan antara sinus maksilaris dengan rongga mulut, yang pada akhirnya dapat menimbulkan fistula oroanthral. 6,7
Fistula oroanthral ini dalam penanganannya selain oleh dokter gigi dan mulut mesti melibatkan ahli THT sub divisi plastik rekontruksi, karena kasus ini melibatkan sinus maksilaris. Jika Fistula oroantral tidak ditanggulangi dengan baik maka dapat
terjadi komplikasi berupa sinusitis maksilaris yang rekuren maupun persisten 6.7
KESIMPULAN
Kista dari gigi (kista odontogenik) dibagi menjadi kista gigi yang disebabkan oleh peradangan seperti kista radikuler ( kista periapikal ) dan kista residual serta kista yang berasal dari perkembangan yaitu kista premordial dan kista dentigerous. Kista
gigi yang disebabkan oleh peradangan merupakan kista dari gigi yang sering menimbulkan kelainan di bidang THT yaitu antara lain sinusitis maksilaris, dan fistula oroanthral.
Dasar sinus maksila berdekatan dengan tempat tumbuhnya gigi premolar kedua, gigi molar ke satu dan ke dua, bahkan kadang-kadang gigi tumbuh ke dalam rongga sinus dan hanya tertutup oleh mukosa. Hal ini mengakibatkan proses supuratif yang
terjadi sekitar gigi-gigi ini dapat menjalar ke mukosa sinus melalui pembuluh darah atau limfe, sedangkan pencabutan gigi ini dapat menimbulkan hubungan dengan rongga sinus melalui fistel oroantral yang akan mengakibatkan sinusitis.
Fistula oroantral adalah fistula yang terletak antara sinus maksilaris dan rongga mulut. Fistula oroantral biasanya terjadi setelah ekstraksi gigi yang telah mengalami komplikasi berupa kista.
Rayan-Novi-Tini-Tri

Anda mungkin juga menyukai