Anda di halaman 1dari 7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Kista dermoid adalah kelainan bawaan yang timbul di daerah fusi embrional ectoderm. Kista
dermoid merupakan suatu choristoma yang bersifat kongenital atau didapat, dilapisi oleh
keratinizing epidermis dengan struktur dermis di dalamnya seperti folikel rambut, kelenjar
keringat, dan kelenjar sebasea. Kista dermoid berisi cairan sebasea, keratin, kalsium, dan kristal
kolesterol. Sekitar 10-50% kista dermoid merupakan kista dermoid orbital. 1,3
Predileksi
Kista ini umumnya terdapat di daerah muka, terutama di pinggir luar antara atas tulang orbita
dan pangkal hidung. Kista juga dapat timbul di abdomen, ovarium, punggung, rafe median
skrotum dan perineum. 1
Anatomi, histologi, dan fisiologi kulit
Kulit merupakan organ terbesar tubuh, terdiri dari 3 bagian yaitu lapisan sel di permukaan
yang disebut dengan epidermis, sekat antara dermis dan epidermis yaitu membrana basal, dan
lapisan jaringan ikat yang lebih dalam, dikenal sebagai dermis. 4

Gambar 1. Anatomi dan histologi kulit

Lapisan epidermis terdiri dari 5 stratum yaitu: stratum korneum, stratum lusidum, stratum
granulosum, stratum spinosum, dan stratum basale. 4

Gambar 2. Lapisan-lapisan epidermis

1. Stratum Korneum (lapisan tanduk): Lapisan kulit paling luar yang terdiri dari sel gepeng
yang mati, tidak berinti, protoplasmanya berubah menjadi keratin (zat tanduk)
2. Stratum Lusidum. Terletak di bawah lapisan korneum, lapisan sel gepeng tanpa inti,
protoplasmanya berubah menjadi protein yang disebut eleidin. Lapisan ini lebih jelas tampak
pada telapak tangan dan kaki.
3. Stratum Granulosum (lapisan keratohialin). Merupakan dua atau tiga lapis sel gepeng dengan
sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya. Butir kasar terdiri dari keratohialin.
Mukosa biasanya tidak mempunyai lapisan ini.
4. Stratum Spinosum (stratum Malphigi) atau prickle cell layer (lapisan akanta). Terdiri dari sel
yang berbentuk poligonal, protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogen,
selnya akan semakin gepeng bila semakin dekat ke permukaan. Di antara stratum spinosum,
terdapat jembatan antar sel (intercellular bridges) yang terdiri dari protoplasma dan tonofibril
atau keratin. Perlekatan antar jembatan ini membentuk penebalan bulat kecil yang disebut
nodulus Bizzozero. Di antara sel spinosum juga terdapat pula sel Langerhans.
5. Stratum Basalis. Terdiri dari sel kubus (kolumnar) yang tersusun vertikal pada perbatasan
dermo-epidermal berbaris seperti pagar (palisade). Sel basal bermitosis dan berfungsi
reproduktif.
a. Sel kolumnar. Protoplasma basofilik inti lonjong besar, di hubungkan oleh jembatan antar
sel.
b. Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell. Sel berwarna muda, sitoplasma
basofilik dan inti gelap, mengandung pigmen (melanosomes).

Membran basal adalah sekat antara dermis dan epidermis, terbentuk dari struktur protein
khusus dan berfungsi melekatkan epidermis ke dermis. Di permukaan membran basal, melekat
selapis stratum basal atau startum germinativum yang aktif bermitosis. Sel yang makin tua makin
terdorong ke permukaan, memproduksi granul kerathohialin dan disebut keratinosit. Keratinosit
inilah yang membentuk epidermis. 4
Lapisan Dermis (korium, kutis vera, true skin). Terdiri dari lapisan elastik dan fibrosa
dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut. Secara garis besar dibagi menjadi 2 bagian
yaitu: 4
Pars Papilare. Bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh

1.

darah.
Pars Retikulare. Bagian bawah yang menonjol ke subkutan. Terdiri dari serabut penunjang

2.

seperti kolagen, elastin, dan retikulin. Dasar (matriks) lapisan ini terdiri dari cairan kental
asam hialuronat dan kondroitin sulfat, dibagian ini terdapat pula fibroblas. Serabut kolagen
dibentuk oleh fibroblas, selanjutnya membentuk ikatan (bundel) yang mengandung
hidroksiprolin dan hidroksisilin. Kolagen muda bersifat elastin, seiring bertambahnya usia,
menjadi kurang larut dan makin stabil. Retikulin mirip kolagen muda. Serabut elastin
biasanya bergelombang, berbentuk amorf, dan mudah mengembang serta lebih elastis.

Adneksa kulit terdiri atas kelenjar-kelenjar kulit, rambut dan kuku. 4


1.

Kelenjar-kelenjar pada kulit terdiri atas:


-

Kelenjar Keringat (glandula sudorifera) Keringat mengandung air, elektrolit, asam laktat, dan
glukosa. pH nya sekitar 4-6,8. Kelenjar keringat ada dua macam yaitu: kelenjar ekrin kecilkecil, terletak dangkal di dermis dengan secret encer, kelenjar ekrin terbentuk sempurna pada
minggu ke 28 kehamilan dan berfungsi 40 minggu setelah kelahiran. Salurannya berbentuk
spiral dan bermuara langsung pada kulit dan terbanyak pada telapak tangan, kaki, dahi, dan
aksila. Sekresi tergantung beberapa faktor dan saraf kolinergik, faktor panas, stress
emosional. Kedua, kelenjar apokrin, lebih besar, terletak lebih dalam, secretnya lebih kental.
Dipengaruhi oleh saraf adrenergik, terdapat di aksila, aerola mammae, pubis, labia minora
dan saluran telinga. 4

Kelenjar Palit (glandula sebasea). Terletak di seluruh permukaan kulit manusia kecuali
telapak tangan dan kaki. Disebut juga dengan kelenjar holokrin karena tidak berlumen dan
sekret kelenjar ini berasal dari dekomposisi sel-sel kelenjar. Kelenjar palit biasanya terdapat
di samping akar rambut dan muaranya terdapat pada lumen akar rambut (folikel rambut).
Sebum mengandung trigliserida, asam lemak bebas, skualen, wax ester, dan kolesterol.
Sekresi dipengaruhi oleh hormon androgen. Pada anak-anak, jumlahnya sedikit. Pada dewasa

2.

3.

menjadi lebih banyak dan berfungsi secara aktif. 4


Kuku. Bagian terminal lapisan tanduk (stratum korneum) yang menebal. Pertumbuhannya
1mm per minggu. 4
Rambut terdiri atas akar rambut yaitu bagian yang terbenam dalam kulit dan batang rambut
bagian yang berada di luar kulit. Jenis rambut yaitu lanugo, rambut halus pada bayi, tidak
mengandung pigmen dan rambut terminal adalah rambut yang lebih kasar dengan banyak
pigmen, mempunyai medula, terdapat pada orang dewasa. Pada dewasa, selain di kepala,
terdapat juga bulu mata, rambut ketiak, rambut kemaluan, kumis, janggut yang
pertumbuhannya dipengaruhi oleh androgen (hormon seks). Rambut halus di dahi dan badan
lain disebut rambut velus.4
Epidemiologi
Sekitar 10-15% kista dermoid merupakan kista dermoid orbital. Kista dermoid biasanya

ditemukan pada beberapa tahun pertama kehidupan. Akan tetapi, kista dermoid yang profunda
dapat tidak terdiagnosis pada beberapa tahun pertama kehidupan dan biasanya akan terdiagnosis
pertama kali pada usia dewasa. Kista dermoid orbital paling banyak ditemui di aspek
superolateral dengan sutura frontozygomatic sebagai tempat perlengketannya dan jarang
ditemukan pada daerah superonasal. 5,6,7
Etiologi
Etiologi kista dermoid belum diketahui secara pasti. Terdapat teori yang menyatakan bahwa
kista dermoid kongenital merupakan lesi disembrionik yang berasal dari elemen ektoderm yang
terjebak pada saat penggabungan antara arkus brankial pertama dan kedua yang terjadi pada
masa gestasi 3 sampai 4 minggu. Sedangkan kista dermoid yang didapat, terjadi akibat trauma
yang menyebabkan implantasi sel epitel ke jaringan yang lebih dalam, atau karena oklusi
kelenjar sebasea. 1,5,6
Manifestasi klinik

1.

Keluhan subjektif
Pada umumnya, penderita datang dengan keluhan terdapat massa yang semakin lama

semakin membesar. Pertumbuhan lesi tersebut biasanya perlahan. 1,5,6


2. Gejala klinis
a.
Kista dapat teraba dengan mudah dan memiliki batas yang tegas.
b.
Inflamasi. Jika kista ruptur, secara spontan maupun karena trauma, respon
c.

inflamasi dapat terlihat.


Temuan Neurologis. Walaupun jarang terjadi, kista dapat menekan nervus
disekitarnya. 5,6,7

Diagnosis banding
1.

Kista epidermoid

Kista epidermoid (kista sebasea) adalah kumpulan material seperti keratin, biasanya putih,
licin, mudah digerakkan, dan cheesy di dalam dinding kista. Secara klinis, kista epidermal
muncul sebagai nodul bulat, keras berwarna daging. Kista epidermal merupakan tumor jinak
yang tidak perlu dihilangkan kecuali mengganggu secara kosmetik atau terinfeksi. 1,5,6
Kista epidermoid terbentuk dari beberapa mekanisme. Kista dapat diakibatkan sekuesterasi
dari sisa epidermal selama kehidupan embrionik, oklusi dari unit pilosebaseus, trauma atau
implantasi bedah dengan elemen epitelial. Oklusi kelenjar ekrin dapat menjadi faktor tambahan
perkembangan kista epidermal. 1,5,6
Pada pemeriksaan histopatologi, kista epidermal dibatasi dengan epitel skuamosa berlapis
yang mengandung lapisan granuler. Keratin terlaminisasi ditemukan dalam kista. Respon
inflamasi dapat ditemukan pada kista yang ruptur. Kista yang sudah tua dapat terkalsifikasi. 1,5,6
Kista dermoid dan epidermoid adalah choriostoma timbul dari permukaan ektoderm yang
terjebak pada lipatan embriogenik. Kista epidermoid hanya dibatasi oleh epitel squamous yang
berhubungan dengan keratin, sedangkan kista dermoid dibatasi oleh epitel squamous dan dermis
dengan rambut, kelenjar sebasea dan keratin. 1,5,6
2. Kista ateroma
Berasal dari akne yang tersumbat muara kelenjarnya dan berisi sel-sel debris epidermis dan
Kristal-kristal kolesterol. Bentuknya bulat atau lonjong, biasanya lunak, berdinding tipis, batas
tegas, letaknya subkutan, sedikit menonjol, yang khas pada kista ini adalah kadang-kadang dapat
dijumpai suatu bintik pada puncak penonjolan kista pada kulit yang merupakan muara kelenjar

yang tersumbat. Pada palpasi, teraba lekukan, konsistensi tumor kistik, dapat digerakkan dari
dasar tetapi melekat pada dermis diatasnya dan tidak nyeri tekan. Ditemukan di daerah yang
mengandung kelenjar sebasea. Daerah predileksinya adalah kepala, wajah, telinga, leher dan
punggung. 1,5,6,7
Table 1. berbagai jenis kista di kulit 1,7
Kista Ateroma

Kista Dermoid

Kista Epidermoid

Struktur asal

Kelenjar
Sebasea

Ektoderm

Epitel epidermis

Titik di puncak

puncta

Parut bebas bau

Kulit di puncak

Tipis

Biasa

Biasa

Dinding kista

Rapuh

Liat

Tebal, tidak terlalu


rapuh

Isi

Sebum
asam

Bebas dari dasar

Ya

berbau Minyak
bahan
putih

campur Keratin putih tidak


berwarna berbau

Tidak

Tidak

Diagnosis
1. Pemeriksaan Fisik
Berupa nodul intrakutan atau subkutan, soliter, berukuran 1-4 cm, mudah digerakkan dari
kulit diatasnya dan dari jaringan dibawahnya. Pada palpasi, permukaannya halus, konsistensi
lunak dan kenyal. 5,6,7
2. Histopatologi
Secara histologi, kista dermoid berisi desquamated squamous epithelium dan keratin di
lumennya dan dibatasi oleh keratinized stratified squamous epithelium. Kunci untuk
mendiagnosis kista dermoid adalah struktur-struktur adneksa seperti kelenjar sebasea. Akar
rambut, kelenjar keringat apokrin dan kelenjar lakrimal dapat juga ditemukan di dinding kista.
Selain itu, lumen juga dapat berisi hair shaft dan keratin. 5,6,7

Gambar 4. Histopatologi kista dermoid.

Kista yang ruptur dapat menyebabkan reaksi granulomatosa dan residual cyst yang
dibatasi oleh epitel squamous berganti menjadi epitheloid hystiocyte dan multinucleated giant
cell. 5,6,7
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan berupa pembedahan yaitu dengan ekstirpasi kista dilakukan dengan
mengangkat kista beserta kapsulnya. Selama proses pembedahan, dinding kista dijaga sebaik
mungkin agar tetap utuh karena dinding dan isi kista bersifat iritatif sehingga apabila kista ruptur
pada saat pengangkatan, akan menyebabkan terjadinya proses peradangan jaringan orbita
disekitarnya. 5,7,8
Komplikasi 5
1.
Kista dermoid orbital dapat menyebabkan komplikasi neurologis jika menekan nervus
2.
3.

optikus, nervus cranialis III, IV dan VI


Jika kista ruptur, maka akan terdapat tanda-tanda peradangan
Ekstirpasi parsial dari kista dermoid, dapat menyebabkan inflamasi yang persisten, dan
kista yang berulang.

A. Prognosis
Secara umum, prognosis kista dermoid baik. Hal ini dapat terjadi jika dilakukan ekstirpasi
yang tepat dengan skar yang minimal. 5,7,8