Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN TUTORIAL

MOLUSKUM KONTAGIOSUM

Disusun Oleh:
Aneta Tria Sari, S.Ked.
( 2011730006)

Pembimbing :
dr. Endang Tri Wahyuni, Sp.KK.,M.Kes.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
STASE DERMATOLOGY BLUD SEKARWANGI
2016

BAB I
PENDAHULUAN

Moluskum kontagiosum merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh Molluscum


Contagiosum Virus (MCV); kelompok Pox Virus dari genus Molluscipox virus. Molluscum
Contagiosum Virus (MCV) merupakan virus double stranded DNA, berbentuk lonjong
dengan ukuran 230 x 330 nm. 3,4,10 Terdapat 4 subtipe utama Molluscum Contagiosum
Virus (MCV), yaitu MCV I, MCV II, MCV III dan MCV IV. Keempat subtipe tersebut
menimbulkan gejala klinis serupa berupa lesi papul milier yang terbatas pada kulit dan
membran mukosa . MCV I diketahui memiliki prevalensi lebih besar dibandingkan ketiga
subt ipe lain. Sekitar 96,6% infeksi moluskum kontagiosum disebabkan oleh MCV I. Akan
tetapi pada pasien dengan penurunan status imun didapatkan prevalensi MCV II sebesar 60
%. Molluscum Contagiosum Virus (MCV) merupakan imunogen yang lemah. Sekitar
sepertiga pasien tidak memproduksi antibodi terhadap MCV, sehingga seringkali didapatkan
serangan berulang.
Angka kejadian moluskum kontagiosum di seluruh dunia diperkirakan sebesar 2% 8%, dengan prevalensi 5% - 18% pada pasien HIV AIDS. Moluskum kontagiosum bersifat
endemis pada komunitas padat penduduk, higiene buruk dan daerah miskin. Penyakit ini
terutama menyerang anak-anak, usia dewasa dengan aktivitas seksual aktif dan status
imunodefisiensi. Penularan dapat melalui kontak langsung dengan lesi aktif atau
autoinokulasi, penularan secara tidak langsung melalui pemakaian bersama alat-alat pribadi
seperti handuk, pisau cukur, alat pemotong rambut serta penularan melalui kontak seksual .

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Moluskum kontagiosum adalah penyakit yang disebabkan virus poks, klinis berupa papulpapul, pada permukaannya terdapat lekukan, berisi massa yang mengandung badan
moluskum.
EPIDEMIOLOGI
Moluskum kontagiosum dapat ditemukan di seluruh dunia, kejadian meningkat pada daerah
tinggi di negara tropis Infeksi dengan moluskum kontagiosum terjadi pada semua kelompok
usia. Kejadian terbesar adalah pada anak-anak kurang dari 5 tahun. Hal ini diperkirakan
sebagai akibat dari transmisi melalui kontak kulit langsung dan otoinokulasi. Sedikit insiden
terjadi pada dewasa muda, yang dihasilkan melalui kontak seksual. Jika pada orang dewasa
digolongkan dalam penyakit akibat hubungan seksual (PHS). Infeksi pada bayi jarang terjadi,
mungkin karena antibodi ibu. Penyakit ini menyebar dengan cepat pada suatu komunitas
yang padat, higienis yang kurang, sanitasi buruk dan pada sosial ekonomi yang kurang
mampu. Tingkat prevalensi dalam populasi terinfeksi HIV dilaporkan 5-18%. Pada pasien
yang terinfeksi HIV dan yang memiliki jumlah CD4+ kurang dari 100 sel / uL, prevalensi
moluskum kontagiosum dilaporkan setinggi 33%.
PREDILEKSI
Predileksi atau tempat terjadinya moluskum kontagiosum berdasarkan usia terdapat sedikit
perbedaan, yaitu :

Anak-anak
wajah, leher, ketiak, kaki dan tangan.

Dewasa
daerah genital (kemaluan), perut bagian bawah, selangkangan, dan bokong sehingga
dapat dikategorikan sebagai Penyakit akibat Hubungan Seksual.

ETIOLOGI
Virus moluskum kontagiosum, yang berisi linier double-stranded DNA, menyebabkan
penyakit kulit moluskum kontagiosum.Restriksi endo nuklease menjelaskan 4 subtipe virus:
virus moluskum kontagiosum subtipe I, II, III, dan IV. Semua subtype diklasifikasikan
sebagai anggota dari genus Orthopoxvirus atau sebagai poxvirus yang tidak spesifik.
bereplikasi di sitoplasma sel yang terinfeksi. Masa inkubasi 2 sampai 7 minggu. Sangat
menular dapat melalui sentuhan kulit langsung atau melalui hubungan seksual.
PATOFISIOLOGI
Virus ini diketahui hanya menginfeksi epidermis. Infeksi awal tampaknya terjadi di
lapisan basal, dan mungkin disertai periode laten selama 6 bulan. Masa inkubasi biasanya
lebih pendek (yaitu, 2-7 minggu). Hal ini memberi kesan oleh fakta bahwa sementara partikel
virus berada dalam lapisan basal, replikasi DNA virus dan pembentukan partikel virus baru
tidak terjadi sampai spindle dan lapisan granular epidermis terlibat. Kadang-kadang, lesi
dapat berkembang melewati proliferasi seluler lokal, dan mereka dapat menjadi meradang
dengan edema , vaskularisasi meningkat, dan infiltrasi oleh neutrofil, limfosit, dan monosit.
Biasanya, ini hanya terjadi jika terjadi infeksi bakteri sekunder atau jika pecah ke dalam
dermis.
Ketika infeksi pada manusia terjadi, keratinosit epidermis yang diserang.Replikasi
virus terjadi dalam sitoplasma sel yang terinfeksi, menghasilkan karakteristik badan inklusi
sitoplasma.Histologi, badan-badan inklusi yang paling nyata terlihat dalam stratum
granulosum dan lapisan stratum korneum pada epidermis.Hiperproliferasi epidermis juga
terjadi karena terjadi peningkatan dua kali lipat dalam devisi seluler lapisan basal epidermis.
Cell-mediated immunitydianggap penting dalam modulasi dan mengendalikan infeksi
karena anak-anak dan pasien terinfeksi HIV yang tercatat memiliki lesi lebih luas dan
menetap. Insiden dan keparahan moluskum pada pasien HIV-positif dan AIDS tampaknya
berbanding terbalik dengan jumlah CD4. Kasus yang lebih parah juga telah dicatat pada
pasien yang menerima prednison dan methotrexate. Virus ini jarang menginduksi
pembentukan antibodi, sehingga tidak imunogenik, dan reinfeksi umum terjadi.
Virus moluskum kontagiosum menyebabkan 3 pola penyakit berbeda dalam 3
populasi pasien yang berbeda yaitu anak-anak, orang dewasa yang imunokompeten, dan
pasien dengan imunokompremais (anak-anak atau orang dewasa).Anak-anak tertular virus
moluskum kontagiosum dapat melalui kontak langsung kulit dengan kulit atau kontak tidak

langsung kulit dengan benda yang terkontaminasi seperti peralatan olahraga dan pemandian
umum. Lesi biasanya terjadi di dada, lengan, badan, kaki, dan wajah.Pada orang dewasa,
moluskum kontagiosum dianggap sebagai penyakit menular seksual (PMS). Pada hamper
semua kasus yang mengenai orang dewasa sehat, pasien menunjukan beberapa lesi, yang
terbatas pada perineum, genital, perut bagian bawah, atau pantat. Umumnya, pada populasi
imunokompeten, moluskum kontagiosum adalah penyakit yang dapatsembuhsendiri.
Pasien yang terinfeksi dengan human immunodeficiency virus (HIV) atau pasien yang
kekebalannya menurun perjalanan penyakitnya lebih lama dengan lesi lebih luas dan
atipikal.Pada pasien terinfeksi HIV, lesi umumnya terdistribusi secara lebih luas, sering
terjadi pada wajah, dan mungkin timbul dalam jumlah ratusan.
GEJALA KLINIS
Masa inkubasi berlangsung satu sampai beberapa minggu. Moluskum kontagiosum
biasanya muncul sebagai tunggal atau ganda (yaitu, biasanya tidak lebih dari 20) diskret,
kelainan kulit berupa papul milier, kadang-kadang lentikuler dan berwarma putih seperti lilin,
berbentuk kubah yang kemudian ditengahnya terdapat lekukan (delle). Jika dipijat akan
tampak keluar masa berwarna putih seperti nasi. Lokalisasi penyakit ini di daerah muka,
badan dan ekstremitas. Sedangkan pada dewasa di daerah pubis dan genitalia eksterna.
Kadang-kadang dapat terjadi infeksi sekunder sehingga timbul supurasi.Secara umum,
gangguan ini tidak disertai dengan gejala sistemik (misalnya, demam, mual, malaise).

Moluskum kontagiosum pada anak, di ketiak dan wajah

Moluskum kontagiosum pada dewasa, di genitalia eksterna


DIAGNOSA DAN DIAGNOSA BANDING
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis seputar gejala dan hasil pemeriksaan
fisik. Diagnosis biasanya sudah dapat ditegakkan dengan melihat lesi yang khas, membuat
sediaan apus dari massa lesi dan dengan biopsy. Moluskum kontagiosum harus dapat
dibedakan denga veruka, varicella, pioderma, papiloma, epitelioma dan liken planus. Infeksi
jamur kriptokokus pada kulit pada pasien dengan AIDS ada kemungkinan menyerupai lesi
Moluskum kontagiosum.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Diagnosis moluskum kontagiosum biasanya berdasarkan penampilan klinis dan lokasi
dari lesi. Pewarnaan dari sediaan tipis dengan pewarnaan Giemsa, Gram, atau Wright dapat
mengungkapkan sel yang terinfeksi. Molluscum ContangiosumVirus (MCV) antigen dapat
dideteksi dengan pemeriksaan antibody fluoresen. Mikroskop elektron dapat mengidentifikasi
partikel virus. Lesi bias dibiopsi dengan pewarnaan hematoxylindaneosin (H & E), Dokter
dapat menunjukkan perubahan karakteristik dalam epidermis.Biopsi sangat penting dalam
kasus di mana diagnosis tidak jelas.
HISTOPATOLOGI
Prototipikal pewarnaan hematoxylindaneosin (H&E) potongan histologist moluskum
kontagiosum menunjukkan gambaran lekukan berbentuk cangkir pada epidermis sampai ke
dalam dermis (seperti terlihat pada gambar di bawah).

Potongan bagian bawah,


terlihat sebuah lesi moluskum kontagiosum menunjukkan gambaran klasik berbentuk
cangkir, invaginasi dari epidermis kedalam dermis. Badan Henderson-Paterson diidentifikasi
dan berwarna ungu-merah dalam gambar ini.
Dalam wilayah indentasi, epidermis tampak menebal (acanthosis) dibandingkan
dengan kulit sekitarnya yang tidak terinfeksi, dan lapisan sel epitel tidak berinti (cornified)
biasanya sudah hancur. Fitur yang khasa dalah inoklusi badan moluskum intra sitoplasma,
eosinofilik, inklusi granular kedalam lapisan keratinosit basal, keras, dan lapisan granular
epidermis (seperti terlihat pada gambar di bawah).

Potongan media
Pada lesi moluskum kontagiosum. Pada pembesaran terlihat lebih jelas badan
moluskum intra sitoplasmik (pewarnaan ungu-merah muda) dalam keratinosit.

Inklusi ini, yang disebut badan moluskum atau badan Henderson-Paterson, berukuran
diameter 35 um dan menggeser nucleus kepinggiran sel. Studi ultrastructural telah
menunjukkan bahwa badan moluskum terbungkus kantung dengan membran yang banyak
mengandung virion moluskum kontagiosum. Dermis sekitarnya relatif tampak normal.
Dalam kasus nonproto typical, terjadi rupture badan moluskum intradermal, terdapat
infiltrat inflamasi terdiri dari limfosit, histiosit, dan kadang terdapat benda asing-jenis giant
sel multinuklear dapat ditemukan.Osifikasi metaplastic dapat terjadi tapi jarang. Yang paling
besar, infitratinflamasi dermal akan terlihat sepert ilimfomakulit (pseudolymphoma).

PENATALAKSANAAN MOLUSKUM KONTAGIOSUM


Moluskum kontagiosum adalah penyakit infeksi virus yan g dapat sembuh spontan.
Pada kelompok pasien imunokompeten jarang ditemui lesi moluskum kontagiosum bertahan
lebih dari 2 bulan. Terapi untuk memperbaiki gejala yang timbul diperlukan pada beberapa
pasien dengan penurunan status imun, dimana didapatkan les i ekstensif dan persisten.1
Pemberian terapi dilakukan berdasarkan beberapa pertimbangan meliputi kebutuhan pasien,
rekurensi penyakit serta kecenderungan pengobatan yang meninggalkan lesi pigmentasi atau
jaringan parut. Sebagian besar pengobatan moluskum kontagiosum bersifat traumatis pada
lesi. Pilihan terapi terbaru mencakup pemberian antivirus dan agen imunomodulator. Berikut
ini merupakan beberapa pilihan terapi yang umum digunakan dalam penatalaksanaan
moluskum kontagiosum.
1. Bedah Beku (Cryosurgery)
Merupakan salah satu terapi yang umum dan efisien digunakan dalam pengobatan
moluskum kontagiosum, terutama pada lesi predileksi perianal dan perigenital. Bahan
yang digunakan adalah nitrogen cair . Aplikasi menggunakan lidi kapas pada masingmasing lesi selama 10-15 detik. Pemberian terapi dapat diulang dengan interval 2-3
minggu. Efek samping meliputi rasa nyeri saat pemberian 3 terapi, erosi, ulserasi serta
terbentuknya jaringan parut hipopigmentasi maupun hiperpigmentasi.

2. Eviserasi
Merupakan metode yang mudah untuk menghilangkan lesi dengan cara mengeluarkan
inti umbilikasi sentral melalui penggunaan instrumen seperti skalpel, ekstraktor komedo
dan jarum suntik. Penggunaan metode ini mungkin tidak dapat ditoleransi oleh anak-anak.
3. Podofilin dan Podofilotoksin
Suspensi podofilin 25% dalam larutan benzoin atau alkohol dapat diaplikasikan
pada lesi dengan menggunakan lidi kapas, dibiarkan selama 1 -4 jam kemudian dlakukan
pembilasan dengan menggunakan air bersih. Pemberian terapi dapat diulang sekali
seminggu. Terapi ini membutuhkan perhatian khusus karena mengandung mutagen yaitu
quercetin dan kaempherol. Efek samping lokal akibat penggunaan bahan ini meliputi erosi
pada permukaan kulit normal serta timbulnya jaringan parut. Efek samping sistemik akibat
penggunaan secara luas pada permukaan mukosa berupa neuropati saraf perifer, gangguan
ginjal, ileus, leukopeni dan trombositopenia. 3,5 Podofilotoksin merupakan alternatif yang
lebih aman dibandingkan podofilin. Sebanyak 0,05 ml podofilotoksin 5% diaplikasikan
pada lesi 2 kali sehari selama 3 hari. Kontraindikasi absolut kedua bahan ini pada wanita
hamil.
4. Cantharidin
Merupakan agen keratolitik berupa larutan yang mengandung 0,9% collodian dan
acetone. Telah menunjukkan hasil memuaskan pada penanganan infeksi Molluscum
Contagiosum Virus (MCV). Pemberian bahan ini terbatas pada puncak lesi serta
didiamkan selama kurang lebih 4 jam sebelum lesi dicuci. Cantharidin menginduksi
lepuhan pada kulit sehingga perlu dilakukan tes terlebih dahulu pada lesi sebelum
digunakan. Bila pasien mampu menoleransi bahan ini, terapi dapat diulang sekali
seminggu sampai lesi hilang. Efek samping pemberian terapi meliputi eritema, pruritus
serta rasa nyeri dan terbakar pada daerah lesi. Kontraindikasi penggunaan Cantharid in
pada lesi moluskum kontagiosum di daerah wajah.
5. Tretinoin
Tretinoin merupakan derivat vitamin A yang berfungsi sebagai agen anti proliferasi sel Krim tretinoin 0,1% digunakan pada penanganan moluskum kontagiosum.
Pemberian dengan cara dioleskan 2 kali sehari pada lesi. Penyembuhan dilaporkan terjadi
dalam waktu 11 hari setelah pemberian terapi. Efek samping terapi berupa eritema pada

daerah timbulnya lesi. Pilihan lain menggunakan krim tretinoin 0,05% menunjukkan hasil
yang memuaskan dengan efek samping berupa iritasi ringan.
6. Cimetidine
Cimetidine merupakan antagonis reseptor histamin H 2 yang menstimulasi reaksi
hipersensitifitas tipe lambat. Mekanisme kerja Cimetidine pada terapi moluskum
kontagiosum masih belun diketahui secara jelas. Sebuah studi menunjukkan keberhasilan
penggunaan cimetidine dosis 40 mg / kgBB / oral / hari dosis terbagi dua pada pengobatan
moluskum kontagiosum dengan lesi ekstensif. Cimetidine berinteraksi dengan berbagai
pengobatan sistemik lain, sehingga perlu dilakukan anamnesis riwayat pengobatan pada
pasien yang akan mendapat terapi obat ini.
7. Larutan KOH
Larutan KOH 10% diaplikasikan 2 kali sehari pada lesi dengan menggunakan lidi
kapas. Pemberian terapi dihentikan bila didapatkan respon inflamasi atau timbul ulkus
pada daerah lesi. Perbaikan lesi didapatkan setelah kurang lebih 30 hari pemberian terapi.
Efek samping berupa pembentukan jaringan parut hipertropik serta hipopigmentasi dan
hiperpigmentasi pada daerah lesi. Sebuah studi merekomendasikan penggunaan l arutan
KOH 5% yang memiliki efek samping minimal dalam pengobatan moluskum
kontagiosum pada anak -anak.
8. Pulsed Dye Laser
Beberapa studi menunjukkan hasil memuaskan penggunaan modalitas terapi pulsed
dye laser pada lesi moluskum kontagiosum. Perbaikan l esi dicapai dalam waktu 2 minggu
setelah pemberian terapi tanpa disertai efek samping yang berarti. Pulsed dye laser
merupakan salah satu pilihan terapi yang efisien namun memiliki kekurangan dari segi
efektifitas biaya.
9. Imunomodulator
Penggunaan imunomodulator telah menjadi bagian dari pilihan terapi moluskum
kontagiosum. Pada pasien dengan gangguan fungsi imun dimana didapatkan lesi ekstensif
tersebar di seluruh tubuh, terapi lokal yang bersifat destruktif dikatakan tidak efektif.
Penggunaan imunomodulator telah memberikan hasil memuaskan.

Imunomodulator topikal telah digunakan pada bermacam kelainan kulit. Molekul


imunomodulator topikal memiliki kemampuan memodifikasi respon imun lokal pada kulit,
bersifat stimulator maupun supresor terhadap respon imun. Pemilihan preparat topikal
didasarkan pada beberapa alasan antara lain hasil terapi memuaskan, kemudahan aplikasi
serta tingkat keamanan lebih baik dibandingkan preparat sistemik. Imunomodulator
topikal terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu imunomodulator steroid dan imunomodulator
non -steroid. Berikut ini adalah klasifikasi imunomodulator non -steroid topikal di bidang
dermatologi:
1. Macrolactum
- Tacrolimus
- Pimecrolimus
- Sirolimus
- Siklosporin
2. Alergen kontak
- Dyphencyprone (DPC)
- Squaric Acid Dibutyl Ester (SADBE)
- Dinitrochlorobenzene (DNCB)
3. Imunostimulator
- Imiquimod
- Resiquimod
4. Imunomodulator lain
- Calcipotriol
- Anthralin
- Zinc topikal
- Interferon topikal
- Interferon intralesi
Imunomodulator non-steroid topikal yang umum digunakan pada terapi moluskum
kontagiosum adalah imiquimod. Imiquimod merupakan molekul sintetik golongan
imidazoquinoline amine. Mekanisme kerja imiquimod masih belum diketahui secara jelas.
Pemberian imiqu imod secara topikal merangsang respon imun seluler dan respon imun lokal

melalui stimulasi monosit, makrofag dan sel dendritik di jaringan perifer untuk memproduksi
sitokin proinflamasi, terutama interferon - 1 (IFN- 1), interferon- 2 (IFN- 2), interferon 5 (IFN- 5), interferon- 6 (IFN- 6), interferon- 8 (IFN- 8), interleukin 12 (IL-12) dan
Tumor Necrosing Factor- (TNF-). Mekanisme tersebut merupakan pertahanan alami
primer terhadap infeksi virus. IFN- akan menghambat respon T helper 2 (Th2), s edangkan
IL-12 dan TNF- menstimulasi respon T helper1 (Th1). Imiquimod diketahui berperan pula
dalam meningkatkan maturasi dan migrasi sel Langerhans fungsional yang berperan sebagai
antigen presenting cell pada jaringan epidermis kulit, menuju kelenjar l imfe regional.
Keadaan ini membuat respon imun yang diinduksi oleh imiquimod menjadi lebih spesifik
terhadap antigen tertentu. Imiquimod tersedia dalam bentuk krim 1% dan 5%, bermanfaat
dalam penanganan kelainan infeksi maupun neoplasma dermatologi. Imiquimod digunakan 3
kali / minggu pada malam hari sampai lesi hilang secara menyeluruh atau selama maksimal
16 minggu. Dioleskan pada tiap lesi dan didiamkan selama 6 -10 jam.
Pemakaian krim imiquimod 5%, 5 hari dalam seminggu selama 16 minggu
memberikan perbaikan lesi pada 15 pasien anak dengan moluskum kontagiosum. Penelitian
lain membandingkan krim imiquimod 1% dengan placebo pada 100 pasien laki-laki
moluskum kontagiosum, didapatkan perbaikan lesi menyeluruh pada 86% pasien yang
mendapat terapi krim imiquimod 1%. Rekurensi lesi moluskum kontagiosum terjadi 10 bulan
setelah pemberian terakhir krim imiquimod 1% pada seorang pasien. Penggunaan krim
imiquimod secara umum cukup dapat ditoleransi. Efek samping minimal berupa rasa gatal,
nyeri dan terbaka r pada kulit. Pada beberapa kasus pernah dilaporkan terjadinya efek
samping berupa eritema, indurasi, erosi dan ulkus. Efek samping sistemik berupa sakit nyeri
kepala, nyeri otot dan flu like symptoms didapatkan pada beberapa kasus. 6 Tidak didapatkan
bukti timbulnya efek samping sistemik maupun toksik pada anak -anak.
10. Antivirus
Antivirus yang umum digunakan dalam pengobatan moluskum kontagiosum adalah
Cidofovir. Cidofovir merupakan analog nukleosida deoxytidine 7 monophosphate yang
memiliki aktivitas antivi rus terhadap sejumlah besar DNA virus meliputi citomegalovirus
(CMV), virus herpes simplex (HSV), Human Papiloma Virus (HPV) dan Molluscum
Contagiosum Virus (MCV). Didalam tubuh host, cidofovir mengalami 2 fase fosforilasi
melalui jalur monofosfat kinase dan piruvat kinase. Melalui kedua fase fosforilasi tersebut
akan terbentuk cidofovir difosfat yang merupakan metabolit aktif cidofovir. Cidofovir
difosfat bekerja sebagai inhibitor kompetitif terhadap DNA polimerase virus

sehingga mampu menghambat sint esis DNA virus.


Cidofovir tersedia dalam bentuk krim 3% , solusio intravena dan intralesi. Beberapa
studi menunjukkan hasil memuaskan penggunaan cidofovir topikal maupun injeksi intralesi
pada pengobatan penyakit kulit yang disebabkan oleh virus. Resolusi lesi moluskum
contagiosum didapatkan 2 -6 minggu setelah pemberian terapi.
Sebuah laporan kasus menyebutkan efektifitas pemberian krim cidofovir 3% sekali
sehari selama 8 minggu pada pengobatan 2 penderita moluskum kontagiosum anak dengan
infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Meadows dkk melaporkan keberhasilan terapi
krim cidofovir 3% dan solusio cidofovir intravena pada 3 orang penderita HIV sero -positif
disertai moluskum kontagiosum dengan predileksi lesi di daerah wajah, badan, ekstremitas
dan perianal. Pemberian terapi cidofovir intravena pada 2 orang pasien memberikan
perbaikan lesi dalam waktu 2 bulan, sedangkan aplikasi krim cidofovir 3% dua kali sehari
selama 2 minggu pada seorang pasien memberikan perbaikan lesi secara menyeluruh.
Cidofovir memiliki potensi cukup baik dalam pengobatan moluskum kontagiosum,
terutama pada pasien dengan penurunan status imun. Akan tetapi kurangnya efektifitas dari
segi biaya memberikan batasan ter sendiri dalam pemilihan terapi
Efek samping lokal pemberian terapi cidofovir mencakup reaksi inflamasi pada
daerah sekitar lesi, sedangkan efek samping sistemik meliputi nefrotoksik, neutropenia dan
asidosis metabolik.

KOMPLIKASI
Walaupun banyak pasiien Moluskum yang asimtomatik, rasa gatal kadang-kadang
menjadi masalah yang signifikan, terutama pada pasien dengan riwayat dermatitis
atopi.Konjungtivirtis dan keratitis kronis bisa terjadi pada pasien dengan lesi kelopak
mata.Infeksi bakteri sekunder dapat terjadi terutama jika pasien menggaruk lesi.
PENCEGAHAN
Untuk mencegah penyebaran virus, dapat dilakukan:
1. Hindari menyentuh atau menggaruk papul.
2. Tidak pinjam meminjam barang pribadi seperti handuk, baju atau sisir.
3. Hindari kontak seksual sampai papul telah diobati dan sembuh

PROGNOSIS
Lesi dapat bertahan 2-4 tahun, penularan yang terjadi akibat otoinokulasi adalah wajar,
kebanyakan akan hilang spontan pada 6-9 bulan, tetapi untuk persisnya dapat sampai
beberapa tahun.

DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda, Adhi. 2005. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi keempat. Jakarta : FK UI
2. Siregar RS, Wijaya. 2005. Saripati Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : EGC
3. Crowe, Mark A. Molluscum Contagiosum.http://emedicine.medscape.com/article/910570
-overview.

4. Djuanda, A. (2008). Penyakit virus. In A. Djuanda, M. Hamzah, & S. Aisah, ILMU


PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN (pp. 114-115). Jakarta: FKUI.

5. Kauffman

CL,

Yoon

SW.

Molluscum

Contagiosum,

dalam

http://emedicine

medscape.com/

6. Wynnis Tom, Sheila Fallon Friedlander, Poxvirus Infections, In: Freedberd IM, Eisen AZ,
Wolff, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI, Fitzpatrick TB, eds. Fitzpatricks Dermatology
in General Medicine. 7 th edition. New York: McGrawHill.2008