Anda di halaman 1dari 57

TUGAS MATA KULIAH PERANCANGAN PABRIK

PERANCANGAN PENDIRIAN PABRIK KARET SIKLO

Disusun oleh:

1.
2.
3.
4.
5.

Kelompok 8
Pralingga Saputra (F34070076)
Ika Kartika
(F34070092)
Irfina Febianti
(F34070097)
Triyoda Arrahman (F34070118)
Novina Eka S.
(F34070122)

Pembimbing:
Dr. Ono Suparno, Ir. Muslich, MS dan Dr. Illah Saillah

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011

RINGKASAN

Karet siklo adalah turunan dari karet alam yang telah berubah menjadi resin atau bahan
termoplastik yang keras tetapi rapuh, dihasilkan dari pemanasan karet alam dengan adanya katalis
asam. Karet siklo dibuat melalui reaksi siklisasi. Ada beberapa alternatif proses siklisasi dalam
pembuatan karet siklo diantaranya dengan melalui proses siklisasi karet alam padat, siklisasi larutan
karet, dan siklisasi keadaan lateks.
Pendirian pabrik karet siklo membutuhkan analisis dan beberapa mekanisme perhitungan
yang ditujukan untuk mendapatkan analisis yang efektif, efisien, dan optimal dalam mendirikan
pabrik karet siklo, analisis dan perhitungan tersebut diantaranya adalah:
1. Analisis diagram alir proses yang bermanfaat untuk mengetahui seluruh alur proses yang akan
dilakukan dalam kegiatan pabrik
2. Analisis permintaan pasar terhadap karet siklo bermanfaat untuk menentukan besarnya
kapasitas produksi dari industri ini
3. Perhitungan neraca massa yang bermanfaat untuk mengetahui pengolahan jumlah massa yang
diolah, diproses dan dihasilkan dalam pembuatan karet siklo
4. Analisis deskripsi proses yang ditujukan untuk menjelaskan secara rinci diagram alir proses
yang meliputi fungsi peralatan dan proses
5. Perhitungan neraca energi dan kebutuhan utilitas yang bermanfaat untuk memperhitungkan
input, proses dan output jumlah energi yang diproses dalam setiap unit proses pembuatan karet
siklo. Dan setelah neraca energi dihitung, Neraca energi tersebut berfungsi untuk merancang
peralatan atau kebutuhan utilitas dari pendirian pabrik karet siklo
6. Analisis spesifikasi peralatan yang berfungsi untuk merinci spesifikasi dari peralatan-peralatan
yang akan digunakan di dalam pabrik. Analisis ini adalah proses lanjutan dari perhitungan
kebutuhan utilitas yang telah dilakukan pada tahap selanjutnya
7. Perhitungan prakiraan biaya peralatan yang bermanfaat untuk mengetahui jumlah biaya
peralatan yang akan dianggarkan untuk pendirian pabrik karet siklo.
8. Perhitungan investasi modal tetap, perhitungan ini adalah anlisis lanjutan dari perhitungan
prakiraan biaya peralatan yang kemudian diolah dengan metoda keuangan sehingga didapat
jumlah modal tetap yang dibutuhkan untuk pendirian pabrik karet siklo.
9. Perhitungan biaya produksi dan analisis ekonomi, kegiatan ini adalah kegiatan analisis dan
perhitungan tahap akhir yang ditujukan untuk menetapkan jumlah keseluruhan biaya produksi
per tahun dari analisis ekonomi yang dilakukan untuk pendirian pabrik karet siklo.

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, karena dengan rahmat-Nya kami dapat
menyelesaikan laporan perancangan pabrik mata kuliah Perancangan Pabrik Departemen Teknologi
Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Laporan ini disusun
berdasarkan analisis dan mekanisme perhitungan yang dilakukan untuk pendirian pabrik karet siklo.
Laporan perancangan pabrik ini ditujukan untuk memenuhi tugas akhir dalam mata kuliah
perancangan pabrik.
Laporan perancangan pabrik yang berjudul Perancangan Pendirian Pabrik Karet Siklo ini
berisi tentang aspek-aspek analisis dan perhitungan dalam mendirikan pabrik karet siklo sehingga
didapatkan analisis dan perhitungan yang efektif, efisien dan optimal. Laporan ini diharapkan dapat
memberikan informasi berguna bagi mahasiswa Departemen Teknologi Industri Pertanian, Institut
Pertanian Bogor dan pembaca lainnya.
Keberhasilan atas pembuatan laporan perancangan pabrik ini tidak lepas dari bantuan orangorang di sekeliling kami, maka dari itu kami mengucapkan terima kasih kepada:
1.
Orang tua dan keluarga penyusun
2.
Bapak Prof. Dr. Ir. Djumali Mangunwidjaja, DEA dan Ibu Dr. Ir. Erliza Noor
3.
Bapak Dr. Ir. Ono Suparno, Ibu Dr. Illah Sailah, Bapak Ir. Muslich, MS.
4.
Bapak Ary Achyar dan Saudari Caecillia Bingar atas bimbingan dan penyediaan pustaka dalam
melakukan perhitungan dan analisis pada laporan perancangan pabrik ini.
5.
Teman-teman mahasiswa Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi
Pertanian, Institut Pertanian Bogor yang telah mendukung penyusun selama ini dan membantu
penyusun selama menimba ilmu di Departemen Teknologi Industri Pertanian.
6.
Dan pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan secara satu per satu yang ikut membantu dalam
pembuatan laporan perancangan pabrik ini
Bogor, 20 Januari 2011
Penyusun

I.

PENDAHULUAN

1.1 Karet Siklo


Karet siklo merupakan turunan dari karet alam yang telah berubah menjadi resin atau
bahan termoplastik yang keras tetapi rapuh, yang dihasilkan dari pemanasan karet lam dengan
adanya katalis asam (Goonetilleke et al., 1993). Dalam hal ini, karet siklo adalah hasil modifikasi
secara kimia yang digolongkan ke dalam modifikasi tipe I karena struktur molekuknya
mengalami perubahan dari keadaan rantai lurus menjadi rantai siklis tanpa masuknya senyawa
baru (Alfa, 2000).
Karet siklo yang dihasilkan dapat berupa material keras yang rapuh seperti gutta perca,
balata keras, atau berupa serbuk amorpus berwarna keputihan. Bentuk yang terakhir ini
merupakan bentuk final reaksi sempurna dari karet siklo. Variasi sifat produk karet siklo
disebabkan oleh derajat siklisasi produk dan bukan karena pilihan metodenya, walaupun reaksi
samping seperti oksidasi atau pengikatan silang dapat mempengaruhi sifat dari karet siklo yang
dihasilkan (Alfa, 2000). Karet siklo dibuat melalui reaksi siklisasi. Siklisasi dapat didefinisikan
sebagai perubahan bentuk struktur rantai molekul dari keadaan rantai lurus menjadi rantai berupa
cincin. Siklisasi yang ideal akan menghasilkan struktur cincin karet siklo yang tidak lagi memiliki
ikatan rangkap dalam struktur molekulnya karena adanya pemanasan dan penambahan katalis
asam.
Alfa (2002) menjelaskan bahwa proses siklisasi lateks karet alam brlangsung sebagai
akibat dari pemanasan campuran lateks pekat yang telah distabilkan oleh surfaktan dengan katalis
asam sulfat teknis, sehingga struktur molekul karet alam yang seluma lurus berubah menjadi
struktur siklis. Pemanasan dilakukan dengan cara memanaskan reactor pada bejana air mendidih
atau bersuhu 100oC. Berlangsungnya reaksi siklisasi ditandai dengan berubahnya warna lateks
dari semula putih menjadi ungu.
Sifat produk dari karet siklo sangat tergantung kepada teknologi siklisasi dan katalis
asam yang digunakan. Karet siklo yang baik adalah mudah larut dalam pelarut karet. Selain itu,
karet siklo memiliki beberapa sifat diantaranya ringan, kaku, tahan terdapat gaya gesek,
mempunyai daya rekat yang baik terhadap logam, kayu, karet, kulit dan tekstil, mempunyai sifat
adhesi yang baik, bersifat non polar dan merupakan polimer non kristalin yang rantai-rantai
molekulnya telah dikeraskan oleh formasi cincin (Goonetilleke et al., 1993).
Kegunaan dari karet siklo yaitu sebagai resin penguat untuk karet dan sebagai binder
pada industri cat. Karet siklo juga dapat digunakan sebagai pengisi sekaligus penguat pada barang
jadi karet seperti dalam pembuatan sol sepatu dengan tingkat kekerasan tertentu.

1.2 Pemilihan Teknologi Proses Pembuatan Karet Siklo


Karet alam merupakan suatu senyawa hidrokarbon dan merupakan polimer alam yang
telah dikenal lebih dari seratus tahun. Karet alam merupakan hasil penggumpalan dari getah
karet atau lateks kebun, yaitu cairan seperti susu hasil sadapan dari pohon karet (Hevea
brasiliensis). Teknologi siklisasi atau pembuatan karet siklo dari karet alam sudah lama dikenal.
Bentuk karet alam yang digunakan sebagai bahan baku pada proses pembuatan karet siklo
adalah karet padat atau lateks pekat.
Metode siklisasi karet alam yang pertama kali ditemukan adalah siklisasi pada karet
alam padat, diikuti siklisasi pada larutan karet dan terakhir siklisasi pada lateks pekat.
Penampakan dan sifat karet siklo dari karet alam tidak tergantung pada metode siklisasi dan jenis

katalis asamnya, melainkan kepada derajat siklisasi yang dicapai. Metode siklisasi yang dapat
dipilih sebagai alternatif proses pembuatan karet siklo adalah sebagai berikut:
1. Siklisasi Karet Alam Padat
Siklisai karet alam padat dilakukan dengan cara mencampur karet alam padat
dengan 10 bagian asam pada gilingan rol ganda atau pada mesin pencampur banbury, lalu
lembaran karet yang diperoleh dipanaskan pada suhu 125oC 145oC selama 1 4 jam. Jika
asam yang digunakan berbentuk cair, maka sebelum ditambahkan pada karet terlebih dahulu
dicampur dengan bahan inert.
Karet siklo yang dihasilkan berdasarkan metode ini umumnya sukar larut dalam
pelarut karet, atau sedikit larut dengan viskositas larutan yang relatif tinggi (Coomarasamy et
al, 1981). Karet siklo tersebut biasanya digunakan sebagai bahan pengisi barang jadi karet,
dengan tujuan meningkatkan ketahanan kikis barang jadinya. Selain itu, karet siklo yang
diperoleh dari siklisasi karet alam dalam keadaan padat juga dapat digunakan sebagai bahan
baku bahan perekat, penempel karet pada logam atau pada permukaan halus lainnya.
2. Siklisasi Larutan Karet
Karet siklo yang diperoleh dengan metode ini, biasanya berupa bubuk putih hingga
kuning kemerahan, mempunyai viskositas larutan yang relatif rendah dan sangat memuaskan
jika dipakai sebagai bahan baku perekat, tinta cetak, cat tahan bahan kimia dan pelapis tahan
air. Katalis yang banyak digunakan pada metode ini adalah asam trikloroasetat, asam
anhidrida, asam flouroborat, boron triklorida, senyawa flourin dari boron atau fosforus dan
senyawa halide dari logam-logam amfoter. Pabrik karet siklo local yang terdapat di Sumatera
Utara telah menerapkan metode siklisasi karet alam pada keadaan larutan seperti ini.
Pelarut yang biasa digunakan untuk melarutkan karet yang akan disiklisasi adalah
fenol, yang mengandung sejumlah kecil katalis asam. Setelah siklisasi sempurna, akan
diperoleh karet siklo yang mempunyai berat molekul rendah, sehingga mudah larut dalam
berbagai pelarut karet menghasilkan larutan dengan viskositas rendah dan kandungan resin
yang tinggi. Oleh karena itu, karet siklo yang diperoleh dengan cara siklisasi larutan karet
alam sangat baik untuk digunakan sebagai bahan baku tinta cetak dan pelapis atau cat yang
tahan terhadap panas dan bahan kimia.
3. Siklisasi Keadaan Lateks
Metode siklisasi ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1947 oleh Rubber
Stichting Belanda dan Dunlop Rubber Co. pada saat bersamaan tanpa adanya kerjasama
(Janssen, 1956). Pada metode siklisasi ini asam sulfat pekat atau asam sulfonat ditambahkan
pada lateks alam yang sebelumnya telah dipekatkan dan telah dibubuhi bahan penstabil
(stabilizer). Bahan penstabil dari golongan kationik atau non ionik ditambahkan pada lateks
pekat, agar lateks tidak menggumpal ketika kontak dengan asam. Bahan penstabil yang
disarankan adalah penstabil kationik lunak yang dibuat dengan cara kondensasi etilen oksida
pada alkil amin rantai panjang, atau penstabil non ionik yang diperoleh dengan cara
mengkondensasi etilen oksida pada alcohol rantai panjang. Sifat dan mutu karet siklo yang
dihasilkan tergantung pada konsentrasi katalis asam dan lamanya pemanasan.
Asam sulfat merupakan katalis asam yang paling efektif digunakan pada metode
siklisasi pada lateks. Pada 100oC siklisasi lateks pekat dengan minimal 70% (w/w) asam
sulfat pekat akan sempurna telah berlangsung selama 2 jam. Setelah siklisasi selesai lateks
dituangkan ke dalam alcohol berair atau yang lebih ekonomis, dituangkan ke dalam air
mendidih hingga terbentuk flokulat yang halus. Setelah disaring, dicuci, dan dikeringkan
akan diperoleh karet siklo berupa serbuk yang sangat halus, yang akan melunak pada 130 oC
dan dapat dicetak kempa pada suhu 140oC. Karet siklo ini mudah didispersikan dalam air
sehingga dapat digunakan untuk memperkeras bahan jadi celup atau busa dari lateks pekat.

Salah satu produk yang spesifik dari siklisasi lateks pekat ini adalah master batch
karet siklo, yaitu campuran karet siklo dan karet alam dengan perbandingan 50/50 (w/w).
Produk ini dihasilkan dengan cara menambahkan lateks alam yang sudah distabilkan dengan
bahan penstabil, pada lateks pekat yang sudah disiklisasi, lalu dituangkan pada air mendidih
untuk memisahkan hasilnya. Master batch karet siklo ini biasanya digunakan dalam industri
sol sepatu, industri rol karet, industri cetakan barang jadi karet yang tahan benturan.
Berdasarkan metode siklisasi yang telah dijelaskan di atas maka pemilihan teknologi
proses karet siklo harus disesuaikan dengan potensi yang dimiliki. Teknologi proses karet
siklo dengan bahan baku lateks dapat dikembangkan di Indonesia, mengingat Indonesia
sebagai produsen karet alam kedua (setelah Thailand) dan sebagian besar merupakan karet
alam yang dihasilkan dari perkebunan rakyat. Maka dipilih teknologi pengolahan karet siklo
dari lateks pekat.
Pengolahan pada keadaan lateks juga terbagi ke dalam beberapa bagian yaitu:
a) Lateks pekat
Lateks pekat dibuat dengan cara memekatkan lateks kebun dengan alat sentrifugasi.
Lateks kebun yang dipekatkan adalah lateks kebun yang telah dilakukan penambahan
surfaktan emulgen sebanyak 2 bsk (bobot per seratus karet). Lateks hasil sentrifugasi diuji
kadar karet kering (KKK). Diagram alir pembuatan lateks pekat dapat dilihat dibawah ini:

Lateks Kebun

Pengenceran

Emulgen 30 %
2 bsk

Kotoran

Lateks Kebun Bersih

Gambar 1. Diagram Alir Pembuatan Lateks Pekat


Pemekatan
Serum

b) Lateks deproteinasi (DPNR)


Lateks
Pekat
Uji KKK

Sebelum pembuatan lateks pekat DPNR, lateks kebun diuji kadar karet kering
(KKK) kemudian ditambahkan surfaktan sebanyak 2 bsk ke dalam lateks untuk mencegah
penggumpalan. Lateks kemudian diencerkan sampai mencapai KKK 10% lalu ditambahkan
enzim papain sebanyak 0.6 bsk, penambahan enzim digunakan untuk hidrolisa protein dalam

lateks. Kemudian lateks diperam selama 24 jam dalam kondisi suhu ruang agar enzim papain
dapat bekerja maksimal untuk menghidrolisa protein pada lateks.
Selanjutnya lateks tersebut di sentrifugasi untuk memekatkan lateks DPNR sampai
KKK_nya mencapai 60%. Lateks DPNR hasil sentrifusgasi ditentukan karakteristiknya dengan
pengujian KKK. Diagram alir pembuatan dapat dilihat di bawah ini (Gambar 2):
Lateks Kebun

Penyaringan

Emulgen 30%
2 bsk

Enzim Papain
0.06 bsk

Lateks Kebun Bersih

Pengenceran hingga KKK

Kotoran

Uji KKK

Air

10%
Pemeraman 24 jam
(suhu ruang)
Gambar 2. Diagram Alir Pembuatan Lateks DPNR
Serum
Pemekatan

c) Lateks Depolimerisasi
KKK
LateksUji
Pekat
DPNR

Setelah didapatkan lateks pekat maka selanjutnya dilakukan penambahan emulgen 1


bsk dan toluen sebanyak 10% sambil diaduk selama 15 menit pada suhu ruang. Kemudian
Ditambah dengan H2O2 sebanyak 2 bsk dan NAOCl sebanyak 1 bsk sambil diaduk hingga
homogeny, lateks tersebut diperam dalamoven dengan suhu 70 oC selama 16 jam. Lateks hasil
pemanasan inilah yang disebut sebagai lateks depolimerisasi. Diagram alir pembuatan lateks
depolimerisasi adalah sebagai berikut (Gambar 3):

Emulgen 30
% 1 bsk

Lateks Pekat

Toluen 10%

H2O2 2 bsk

Proses Depolimerisasi

NAOCl 7 bsk

Pemeraman 16 jam 70oC

Lateks Pekat
Depolimerisasi

Uji KKK

Gambar 3. Diagram Alir Pembuatan Lateks Depolimerisasi

1.3 Proses Pengolahan Karet Siklo dari Lateks Deproteinisasi (DPNR)


Jika dilihat dari nilai tambah setiap proses diatas (Lateks Pekat, Lateks DPNR dan
Lateks Depolimerisasi) nilai tambah terbesar diperoleh pada pembuatan karet siklo dari lateks
DPNR. Berikut penjabaran data nilai tambah masing-masing proses (Tabel 1):

Jenis Siklo

Tabel 1. Perbandingan Nilai Tambah Jenis Proses Siklo


Biaya
Harga
Total biaya
Total
Rendem
Produksi
Jual
produksi
revenue
en
(Rp/kg)
(Rp/kg)
(Rp)
(Rp)
87.34
16,096.80
30,716.74
1,405,894.51 2,682,800.07
91.24
18,836.26
34,407.90
1,718,620.36 3,139,376.80

Lateks Pekat
Lateks DPNR
Lateks
97.02
Depolimerisasi
Sumber: Kusumastuti, 2007

17,345.30

29,522.91

1,682,841.01

2,864,312.73

Nilai tambah
(Rp)
1,276,905.56
1,420,756.43
1,181,471.72

Maka proses terpilih untuk membuat karet siklo adalah dengan menggunakan bahan
baku lateks kebun yang diubah terlebih mengalami proses penurunan kadar protein dengan
memutus ikatan protein dalam lateks yang dikenal dengan lateks DPNR, karena lateks DPNR
memiliki nilai tambah yang paling tinggi dibandingkan jenis lateks yang lain.

1.4 Penentuan Kapasitas Produksi


Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya
peningkatan devisa Indonesia. Ekspor karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus
menunjukkan adalany peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada
tahun 1995 dan 2.0 juta ton pada tahun 2005. Pendapatan devisa negara dari komoditi ini pada
semester pertama tahun 2006 mencapai US$ 2.0 milyar, dan diperkirakan nilai ekspor karet pada
tahun 2006 akan mencapai US$ 4.2 milyar (Kompas, 2006).
Sejumlah lokasi di Indonesia yang memiliki keadaan ahan yang cocok untuk
pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Diantaranya 85%
merupakan perkebunan milik rakyat, dan hanya 7% milik negara serta 8% milik pihak swasta.
Produksi karet nasional pada tahun 2005 mencapai 2.2 juta ton. Jumlah ini masih akan bisa
ditingkatkan lagi dengan melakukan peremajaan dan memberdayakan lahan-lahan pertanian
milik petani serta lahan kosong/ tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan karet.
Karet merupakan kebutuhan yang vital bagi kehidupan manusia, hal ini terkait dengan
mobilitas manusia dan barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet. Kebutuhan
karet alam maupun karet sintetik terus meningkat sejalan dengan meningkatnya standar hidup
manusia. Kebutuhan karet sintetik relatif lebih mudah dipenuhi karena sumbernya relatif tersedia
walaupun harganya mahal, akan tetapi karet alam dikonsumsi sebagai bahan baku industri tetapi
diproduksi sebagai komoditi perkebunan.
Konsumsi karet dunia dalam dua decade ini meningkat secara drasis, walaupun terjadi
resesi ekonomi dunia pada awal tahun 1980-an dan krisis ekonomi dunia pada tahun 1980 2005
konsumsi karet alam mengalami pertumbuhan yang tinggi seperti China dan negara berkembang
lainnya (IRGS, 2004). Berikut perkembangan permintaan karet alam:
Tabel 2. Perkembangan Konsumsi Karet Dunia

Produksi karet alam dunia juga meningkat lebih dari tiga persen per tahun dalam dua
decade terakhir, dimana mencapai 8.81 juta toh per tahun. Pertumbuhan tersebut berasal dari
negara produsen Thailand, Indonesia, Malaysia, India, China, dan lainnya. Indonesia sendiri
memiliki pangsa produksi 26%. Berikut ini dijabarkan produksi karet dunia dan presentase
pertumbuhannya.

Tabel 3. Pertumbuhan Produksi Karet Dunia

Ketidakseimbangan penawaran dan permintaan karet alam mulai terlihat sejak tahun
1900-an dan mulai berpengaruh terhadap cadangan (stock) karet alam dunia. Secara teoritis,
harga diharapkan akan bereaksi dengan ketidakseimbangan penawaran dan permintaan. Karet
siklo merupakan olahan karet alam yang dapat diaplikasikan pada produk-produk seperti cat,
tinta, pengisi sandal, atau produk lain yang membutuhkan karet yang dapat larut dalam viskositas
rendah.
Tabel 4. Daftar Jumlah Industri Berdasarkan Sub Sektor

Industri-industri di atas memungkinkan untuk menggunakan karet siklo, dilihat dari


jumlah tahun 2008 terdapat 27.808 industri yang akan menggunakan karet siklo. Jumlah ini
sangat besar, dimana berdasarkan pada tabel 1 per tahun dibutuhkan 8.745.000 ton, dengan
pangsa pasar Indonesia adalah 26%, atau sebesar 2.273.700 ton. Jumlah ini yang akan membeli
karet siklo. Jadi kapasitas industri yang tepat adalah menghasilkan jumlah tersebut dalam waktu
1 tahun, atau sekitar 9500 ton per hari.
Indonesia adalah produsen karet alam yang besar di dunia, namun industri pengolah
karet alam menjadi bahan setengah jadi, masih sangat kurang. Jadi ketika industri pembuat karet

siklo ingin didirikan, harus langsung mengolah bahan bakuya yang berupa lateks DPNR dari
lateks kebun. Hal ini terkait belum adanya industri yang mampu memenuhi total kebutuhan
bahan baku lateks DPNR untuk memproduksi karet siklo 9500 ton per hari atau membutuhkan
10.003,7 kg lateks DPNR kering. Pengolahan sendiri lateks kebun menjadi lates DPNR akan
lebih menguntungkan karena Indonesia termasuk produsen lateks kebun yang besar.

II. DIAGRAM ALIR DAN NERACA MASSA


2.1. Diagram Alir Pembuatan Karet Siklo
Tahap 1
Lateks DPNR diperoleh melalui proses deproteinasi, yaitu proses penghilangan atau
penurunan protein pada karet. Tahap-tahap yang dilakukan yaitu (Gambar 4):
a. Lateks kebun disaring terlebih dahulu untuk memisahkan kotoran-kotoran yang terdapat di dalam
lateks.
b. Pengujian kadar karet kering (KKK), kadar jumlah padatan (KJP), kadar nitrogen, dan viskositas
Mooney. Penetapan Kadar Karet Kering (KKK), metode yang dilakukan yaitu sebanyak 5-10
gram contoh lateks kebun dituangkan ke dalam cawan aluminium lalu ditambahkan asam format
3% sambil diaduk. Untuk mempercepat proses penggumpalan, cawan yang berisi sampel lateks
tersebut dipanaskan sehingga terbentuk gumpalan sempurna yang ditandai dengan terbentuknya
serum yang jernih. Gumpalan yang terbentuk digiling hingga membentuk krep yang
ketebalannya antara 0,6-1 mm. Selanjutnya krep yang telah kering sempurna didinginkan dalam
desikator kemudian ditimbang.
c. Lateks tersebut kemudian ditambahkan dengan surfaktan emulgen sebanyak 2 bsk (berat
perseratus bagian karet) untuk menstabilkan lateks agar tidak menggumpal. Surfaktan emulgen
yang ditambahkan yaitu surfaktan terik. Terik ini digunakan untuk mencegah prakoagulasi lateks.
d. Selanjutnya lateks diencerkan hingga KKK lateks 10%.
e. Kemudian lateks ditambahkan enzim papain sebanyak 0,06 bsk. Tujuan dari penambahan enzim
ini adalah untuk menghidrolisis protein dalam lateks sehingga dihasilkan lateks berkadar protein
rendah.
f. Berikutnya, lateks diinkubasi selama 24 jam pada suhu ruang agar enzim dapat bekerja secara
optimal. Enzim ini akan akan menghidrolisis protein yang terdapat pada lateks.
g. Lateks dipekatkan dengan alat sentrifuge yang berguna untuk memisahkan lateks dari serum
sehingga mencapai KKK 60 %.
h. Dihasilkan lateks yang dikenal dengan lateks DPNR (Deproteinezed Natural Rubber), lalu
dilakukan analisis KKK, KJP, kadar nitrogen, dan viskositas Mooney.

Lateks Kebun

KKK, KJP, Kadar


nitrogen, viskositas
Mooney

Emulgen 2 bsk

Air

Pengenceran
Enzim Papain
0.06 bsk
Inkubasi 24 jam

Pemekatan

Lateks DPNR

Serum

KKK, KJP, Kadar


nitrogen, viskositas
Mooney

Gambar 4. Diagram Alir Lengkap Pembuatan Lateks DPNR


Tahap 2
Pada tahap kedua, lateks kebun yang telah diolah menjadi lateks DPNR diolah lebih lanjut.
Tahap-tahap yang ilakukan yaitu (Gambar 5):
a.
Lateks DPNR yang telah diketahui KKK-nya ditambahkan emulgen 2 bsk untuk mencegah
penggumpalan saat kontak langsung dengan asam sulfat teknis. Selain itu lateks DPNR diberi
senyawa asam sulfat teknis untuk proses siklisasi lateks. Penambahan asam sulfat pada lateks
DPNR berdasarkan perbandingan berat antara lateks DPNR dengan asam sulfat yaitu 1:1,4
(w/w).
b.
Kemudian campuran lateks DPNR dengan asam sulfat dipanaskan pada suhu 100 oC selama 2
jam sambil diaduk pelan agar terjadi pemutusan rantai lateks dari rantai panjang menjadi rantai
berstruktur cincin yang ditandai dengan perubahan warna dari putih menjadi ungu.
c.
Lateks yang telah tersiklisasi, kemudian dicuci dengan air panas dengan komposisi 1:5 untuk
mencuci atau menghilangkan asam sulfat yang terkandung didalam campuran. Campuran yang
dihasilkan berupa disperse yang membentuk butiran-butiran berwarna putih.
d.
Proses selanjutnya adalah penetralan dengan amoniak untuk menghilangkan kelebihan asam
sulfat sampai diperoleh pH netral. Kemudian dispersi tersebut dicuci kembali dengan air panas
untuk menghilangkan sisa-sisa asam sulfat dan garam.
e.
Kemudian keringkan di oven pada suhu 70-80 oC sehingga dihasilkan serbuk karet siklo
berwarna putih, lalu diuji kelarutan dan spektroskopi infra merah.

Lateks DPNR

Emulgen 2 bsk
Asam Sulfat
Pemanasan
T=2 jam, t=100C

Pencucian

Air Panas

Netralisasi
pH netral

Amoniak

Pencucian

Air Panas

Pengeringan
T=70C

Karet Siklo

Bentuk dan warna


kelarutan serta
spektroskopi

Gambar 5. Diagram Alir Pembuatan Karet Siklo

2.2. Neraca Massa


2.2.1 Lateks DPNR

Gambar 1. Neraca Massa Pembuatan Lateks Kebun Menjadi Lateks DPNR

2.2.2 Karet Siklo


Lateks Pekat DPNR 16672.83 kg
Karet 10003.7 kg
Serum 6669.13 L

Emulgen 300.11 kg
H2SO4 15560.73 kg

Pengadukan
200 rpm, 30 menit

Dispersi Siklo 26318.4 kg


Karet 10003.7 kg
Serum 16314.70 L, Tin = 25oC

Pemanasan
97oC 2oC
2,5 jam
Dispersi Siklo 26318.4 kg
Karet 10003.7 kg
Serum 16314.70 L

Air 526366.75 L
T in = 25oC

Pencucian sebanyak
4 kali, stiap kali
pencucian
dttambahkan air
131591.69 L
T = 100oC, 60 menit

Serum 386879.68 L

Dispersi Siklo 255805.63 kg


Karet 10003.7 kg
Serum 155801.93 L
Air 131591.64 L
T in = 25oC
Amonia 10869.52 L

Penetralan sampai
pH 7
T = 80oC
50 rpm, t = 60 menit
Mix tank, wash tank

Serum 141802.75 L

Dispersi Siklo 166464.04 kg


Karet 10003.7 kg
Serum 156460.34 L
T = 70oC
Pengeringan
100 oC
Selama 12-18 jam

Loss / hilang
503.66 kg

Air 15736.66 L

Karet siklo kering


9500.04 kg

Gambar 2. Neraca Massa Pembuatan Lateks DPNR Menjadi Karet Siklo

Tabel 5. Aliran Masuk dan Keluar pada Setiap Proses Lateks DPNR

Proses
Pencampuran

F1
X1
F5

Pengenceran
Pemeraman
Penggumpalan
Pengeringan

F7
X7
F11
X11
F16
-

Aliran Masuk
Lateks Kebun
15.371
Surfaktan nonionic
24.6

Kg
Lt

F4
X4

(Dispersi lateks)
Air
(Dispersi lateks)
Enzim Papain
(Dispersi lateks)
Asam Formiat
(Dispersi lateks)
-

Lt
Lt
Lt
Lt
Lt
Lt
Ml
-

F6

15.395,6
76.978
92.377,04
3,44
92.377,04
9,84
92.386,88
-

F9
X9
F14
X14
F17
F18

Aliran Keluar
Dispersi Lateks
15.395,6
(Dispersi lateks)
(Dispersi lateks)
(Dispersi lateks)
(lateks DPNR kering)
(Air)

F19 (DPNR hilang)


*Keterangan: Basis bahan baku yang masuk adalah lateks kebun sebesar 15.371 liter

92.373,6
92.377,04
92.386,88
16.672,83

Ml
Ml
Ml
Ml
Kg

75.018,93 liter

Asumsi
Kadar kering karet lateks pekat 60%

Dispersi siklo: air = 1:5

Tabel 6. Aliran Masuk dan Keluar pada Setiap Proses Karet Siklo
Proses
Pengadukan

Aliran Masuk
Aliran Keluar
F1
(Lateks pekat DPNR)
16672,83
kg
F4
(Dispersi siklo)
26318,4
X1
Karet
10003,7
kg
X4
Karet
10003,7
X2
Serum
6669,13
L
X4
Serum
16314,7
F2
(Emulgen)
300,11
kg
F3
(H2SO4)
15560,73
kg
Pemanasan
F5
(Dispersi siklo)
26318,4
kg
F6
(Dispersi siklo)
26318,4
X5
Karet
10003,7
kg
X6
Karet
10003,7
X5
Serum
16314,7
L
X6
Serum
16314,7
Pencucian
F7
(Dispersi siklo)
26318,4
kg
F9
(Dispersi siklo)
255805,63
X7
Karet
10003,7
kg
X9
Karet
10003,7
X7
Serum
16314,7
L
X9
Serum
155801,93
F8
(Air)
526366,75
L
F10
(Serum)
386879,68
Penetralan
F11
(Dispersi siklo)
255805,63
kg
F14
(Dispersi siklo)
166464,04
X11 Karet
10003,7
kg
X14 Karet
10003,7
X11 Serum
155801,93
L
X14 Serum
156460,34
F12
(Amoniak)
131591,64
L
F15
(Serum)
141802,75
F13
(Air)
10869,52
L
Pengeringan
F16
(Dispersi siklo)
166464,04
kg
F17
(Siklo kering)
9500,04
X16 Karet
10003,7
kg
F18
(Air)
15736,66
X16 Serum
156460,34
L
F19
(Siklo hilang)
503,66
*Keterangan: Basis bahan baku yang masuk adalah lateks DPNR sebanyak 16672,83 kg

kg
kg
L
kg
kg
L
kg
kg
L
L
kg
kg
L
L
kg
L
kg

Asumsi
Kadar kering karet lateks pekat 60%

Tidak ada yang hilang

Dispersi siklo: air = 1:5


Pencucian sebanyak 4 kali

BJ siklo 1

III. DESKRIPSI PROSES


3.1 Proses Lateks DPNR
Proses pengolahan lateks DPNR dari bahan baku lateks kebun dibagi menjadi 5 (lima) tahap
yaitu pencampuran pengenceran, pemeraman, penggumpalan, dan pengeringan. Penjelasan mengenai
tahapan-tahapan proses tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pencampuran

Gambar 4. Neraca Massa Pencampuran


Tahap pertama untuk membuat lateks deproteinisasi (DPNR) dari lateks kebun adalah
pencampuran. Tahap ini melakukan homogenisasi antara lateks kebun dengan penambahan
surfaktan non-ionik. Penambahan surfaktan non-ionik sebanyak 24,6 L, guna penambahan
surfaktan ini adalah untuk menjaga agar lateks tidak menggumpal ketika kontak dengan enzim
papain.

2. Pengenceran

Gambar 5. Neraca Massa Pengenceran


Proses selanjutnya setelah pencampuran adalah pengenceran Pada proses ini dispersi
lateks yang masuk adalah sebanyak 15395,6 L dan dispersi yang keluar adalah sebanyak
92373,6L. Pengenceran dilakukan agar menjaga keadaan dan mempersiapkan kondisi lateks saat
reaksi deproteanisasi berlangsung.

3. Pemeraman

Gambar 6. Neraca Massa Pemeraman


Lateks yang telah diencerkan selanjutnya diperam selama 20 jam. Disperse lateks yang
akan diperam adalah sebanyak 92373,6 L. Bahan yang digunakan untuk proses pemereman adalah
enzim papain 0,07 bsk. Enzim papain yang digunakan sebanyak 3,44 L dan akan menghasilkan
disperse lateks sebanyak 15395,6 L. Pemeraman adalah proses penting dalam pembuatan lateks
DPNR, yaitu saat proses deproteinisasi dilakukan.

4. Penggumpalan

Gambar 7. Neraca Massa Penggumpalan


Lateks yang telah diperam selama 20 jam dalam enzim papain, selanjutnya digumpalkan
dengan menggunakan asam formiat 0,2 bsk. Asam formiat yang dimasukan adalah sebanyak 9,84
L. Asam formiat atau biasa disebut juga dengan asam semut merupakan larutan yang digunakan
untuk menggumpalkan lateks. Penggumpalan dilakukan selama 4-5 jam dalam bak penggumpalan
akan menghasilkan disperse lateks sebanyak 92386,88 L.

5. Pengeringan
Tahap terakhir dalam proses pembuatan lateks DPNR adalah pengeringan. Proses ini akan
dilakukan dengan menggunakan oven pengering. Banyak lateks DPNR yang dihasilkan adalah
sebanyak 16672,83 kg.

Gambar 7. Neraca Massa Pengeringan

3.2 Proses Karet Siklo


Proses pengolahan karet siklo dari bahan baku lateks DPNR dibagi menjadi 5 (lima) tahap,
yaitu tahap pengadukan, pemanasan, pencucian, penetralan, dan pengeringan. Penjelasan mengenai
tahapan-tahapan proses tersebut adalah sebagai berikut :

1. Pengadukan

Gambar 11. Neraca Massa Proses Pengadukan


Tahap pertama untuk membuat karet siklo dari lateks deproteinisasi (DPNR) adalah
pencampuran. Tahap ini melakukan homogenisasi antara lateks DPNR, karet, serum dengan
penambahan emulgen dan asam sulfat. Proses pengadukan menggunakan kecepatan 200 rpm
selama 30 menit. Penambahan emulgen sebanyak 300,11 kg berguna untuk mencegah
penggumpalan saat kontak langsung dengan asam sulfat teknis. Sedangkan penambahan asam
sulfat yang disertai pengadukan, ditujukan untuk memutus rantai lateks dari rantai panjang
menjadi rantai berbentuk cincin, yang ditandai dengan perubahan warna dari putih menjadi ungu.
Pada proses pencampura ini digunakan reaktor. Reaktor yang dibutuhkan hanya untuk
mencampur lateks dengan asam sulfat pekat, berupa reaktor berdinding rangkap yang dinding
luarnya dapat diisi dengan air pendingin.

2. Pemanasan

Gambar 12. Neraca Massa Proses Pemanasan


Proses selanjutnya setelah pengadukan adalah pemanasan dengan suhu 97 oC selama 2,5
jam. Fungsi pemanasan ini sama dengan pengadukan yaitu mempercepat reaksi pemutusan rantai
panjang lateks menjadi bentuk cincin. Pada proses ini dispersi karet siklo yang masuk adalah
sebanyak 26318,4 kg, karet 10003,7 kg dan serum 16314,7 L. Tidak ada bagian yang terbuang
dalam proses pemanasan, sehingga output yang dihasilkan nilainya sama dengan input. Pada
proses pemanasan digunakan tangki reaktor. Proses pemansan dapat dilakukan pada reaktor yang
sama, yang mana sebagai sumber pemanas digunakan uap atau cairan pemanas yang dialirkan pada
dinding luar atau langsung ke dalam lateks melalui pipa-pipa kecil, atau pemanas listrik.

3. Pencucian

Gambar 13. Neraca Massa Proses Pencucian


Lateks yang telah tersiklisasi kemudian dicuci menggunakan air panas dengan komposisi
1:5 untuk menghilangkan kandungan asam sulfat yang terkandung dalam campuran. Campuran
yang dihasilkan berupa dispersi yang membentuk butiran-butiran berwarna putih. Pada proses
pencucian digunakn bak pencucian.

4. Penetralan

Gambar 14. Neraca Massa Proses Penetralan


Proses selanjutnya adalah penetralan dengan amonia untuk menghilangkan kelebihan
asam sulfat sampai diperoleh pH netral. Kemudian dispersi tersebut dicuci kembali dengan air
panas untuk menghilangkan sisa-sisa asam sulfat dan garam. Pada proses penetralan digunakan
bak netralisasi.

5. Pengeringan

Karet Siklo Kering


9500,04 kg

Gambar 15. Neraca Massa Proses Pengeringan


Dispersi siklo kemudian dikeringkan menggunakan oven pada suhu 70oC, sehingga
dihasilkan serbuk karet siklo berwarna putih. Dapat dilihat bahwa dari 16672,83 kg lateks DPNR
dapat dihasilkan 9500,04 kg karet siklo kering. Pada proses pengeringan digunakan tray dryer
dikarenakan karet siklo yang dihasilkan berbentuk bubuk

IV. NERACA ENERGI DAN UTILITAS


IV.1Neraca Energi
Neraca energi didapatkan dari energi yang dibutuhkan pada pengolahan dari lateks kebun
menjadi lateks DPNR dan pengolahan lateks DPNR menjadi karet siklo. Dibawah ini adalah perincian
perhitungannya :
Asumsi dan Keterangan:
Basis
Daya motor mixing
Tairin
Cp lateks
Cp air
L
Debit
1 ml
1 kJ
1 liter solar
1 kkal

=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=

100.000 ml lateks DPNR


0,37 kW / 0.5 HP
25oC
0,76 k kal/kg oC
1 kkal/kgoC
539 kkal/kg
35 m3/jam
1 gram
0,239 kkal
9703 kkal
0,001163 kWh

4.1.1 Energi yang Dibutuhkan untuk Pengolahan Lateks Kebun Menjadi Lateks DPNR
1.

Pencampuran (Mixing) dan Pengadukan


V = 200 rpm
T = 30 menit = 1800 detik

2. Pengeringan
Air yang harus diuapkan = 75.018,93 kg
Tsetelah penggumpalan = 35oC
Tpengeringan = 100oC

4.1.2 Energi yang Dibutuhkan untuk Pengolahan lateks DPNR Menjadi Karet Siklo
1. Pengadukan pada tangki reaktor
V = 200 rpm
T = 30 menit = 1800 detik

2. Pemanasan lateks
Lateksin = 26.318,4 kg = 26.318.400 gram
Tpemanasan = 97oC

3. Pencucian
Perbandingan air dan lateks = 1: 5 = 26.318.400 ml : 526.366.750 ml
Tpencucian = 100oC

4. Pemompaan air untuk pencucian

5. Peningkatan suhu saat pencucian setelah penetralan


Tpenetralan = 80oC
Perbandingan lateks dan air saat pencucian setelah penetralan = 1 : 0.8

6. Pengadukan saat penetralan (mix tank dan wash tank)


V = 200 rpm
T = 60 menit = 3600 detik

7. Pengeringan
Air yang harus diuapkan = 15.736,66 L = 15.736,66 kg

Tsetelah pencucian = 50oC


Tpengeringan = 100oC

8. Energi untuk Boiler


Boiler digunakan untuk menghasilkan panas sebesar 8.640.288 kkal. Pemanasan ini dipakai
untuk memanaskan lateks pada tangki reaktor. Lateks yang dipanaskan sebanyak gram. Diketahui
bahwa boiler yang digunakan mempunyai kapasitas 60 liter solar/jam menghasilkan 8000 kkal.

Total energi yang dibutuhkan per batch:

Total energi dan solar yang dibutuhkan per hari :

4.2 Scale Up Tangki Pengaduk


Tenaga yang diperluka pengaduk pada suatu tangki dipengaruhi oleh empat fungsi variable
yaitu:
a.
b.

Diameter Impeller
Jumlah Putaran Impeller per satuan waktu

c.
d.

Viskositas
Densitas
Empat fungsi variabel menggunakan analisis dimensional. Secara eksperimen didapatkan
bahwa kebutuhan tenaga berbanding proporsional dengan jumlah putaran 2. Diasumsikan diameter
impeller pada tangki pengadukan akan dinaikkan menjadi 2 kali lipat.
Dimensi Variabel yang mempengaruhi :
D=L
N = T-1
= ML-1T-1
= ML-3
Dimensi fungsi :
W

= F.s
= m.a.s
= ML2T-2

P
W
t

= Tenaga
= Usaha
= Waktu
P=

Persamaan Dimensi
P = f ( D.N..) = k. Da.Nb.c.d
M:1=c+d
L : 2 = a - 3c d
T : -3 = -b -d
c=1d
b=3d
2 = a 3(1-d) d
a = 2 + 3 3d + d
a = 5 2d

= ML2T-3

P N2 eksperimen
P N3 N-d
Maka d = -1

Cairan dalam tangki pengaduk adalah sama sehingga dan konstan

atau

D2 = 2D1 , maka tenaga yang dibutuhkan adalah

Jadi, tenaga yang diperlukan untuk peningkatkan impeller sebesar 2 kali lipat adalah
sebanyak 8 kali dari tenaga awal yang dibutuhkan.

V. PERALATAN
Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan karet siklo adalah lateks DPNR, sedangkan
produsen penghasil lateks DPNR di Indonesia tidak dapat memenuhi input produksi untuk karet siklo
sehingga diperlukan peralatan untuk membuat lateks DPNR dari lateks kebun. Alat utama yang
digunakan dalam proses produksi lateks DPNR dari lateks kebun adalah reaktor pencampuran, bak
penggumpalan, dan oven pengering.
Alat utama yang digunakan dalam proses produksi karet siklo dari lateks DPNR adalah
reaktor siklisasi, bak pencucian, bak netralisasi dan oven pengering. Bahan baku lateks DPNR akan
masuk ke dalam reaktor siklisasi. Proses yang terjadi pada reaktor siklisasi adalah pengadukan dan
pemanasan. Dispersi lateks kemudian dimasukkan ke bak pencucian untuk dibersihkan dari sisa
pereaksi asam sulfat, selama 4 kali pencucian. Sebelum masuk ke oven pengering dispersi lateks di
netralisasi dengan menambahkan NH3 sampai pH lateks 7. Tahap terkahir pada proses produksi ini
adalah pengeringan dengan oven dan menghasilkan karet siklo dalam bentuk bubuk. Berikut
spesifikasi alatnya.
1. Lateks DPNR
a. Reaktor Pencampuran

Mesin pK

Tempat pemasukan
bahan

Pengukur suhu

cm
0
55
Tempat pengeluaran
200 cm

bahan

Gambar 16. Rancangan Reaktor Pencampuran


Reaktor pencampuran yang dirancang ini (Gambar 16). Lateks kebun dimasukkan ke
dalam lubang pemasukan bahan, dan kemudian ditambahkan surfaktan non-ionik. Bahan akan
diaduk dengan kecepatan 200 rpm selama 30 menit untuk membentuk reaksi yang baik.
Kapasitas reaktor ini adalah sebesar 16.000 liter.Setelah proses selesai bahan akan dikeluarkan
melalui lubang pengeluaran.

b.
Bak Penggumpalan
Lateks yang telah tercampur dengan asam format tersebut didiamkan selama 4-5 jam
agarmenggumpal dengan sempurna. Bak penggumpalan terdapat sebanyak 5 unit dengan ukuran
15x0,5x0,5 m3 dan memiliki kapasitas 2500-3000 L per bak (Gambar 17).

Gambar 17. Lateks dalam Bak Koagulasi


c.
Oven Pengering
Tahap terakhir dari proses produksi lateks DPNR adalah pengeringan. Tidak perlu desain khusus
untuk alat pendukung proses ini. Mesin pengering yang digunakan adalah oven dengan 12 rak-rak
kecil (Gambar 18). Kapasitas dari oven ini adalah 90.000-95.000 kg bahan ( lateks kebun) yang akan
dikeringkan. Dimensi dari alat ini yaitu 475 x 450 x 465 cm. Oven ini terbuat dari bahan baja stainless
steel dengan rak besi yang anti karat. Energi panas yang digunakan yaitu dari bahan bakar untuk
memanaskannya, misal kompor LPG. Kontrol suhu pemanasan otomatis sampai dengan 125oC.

Gambar 18. Oven Pengering


2. Karet Siklo
a. Reaktor Siklisasi
Reaktor siklisasi yang dirancang ini (Gambar 19), didesain otomatis akan melambatkan aliran uap
sumber pemanasan jika suhunya lebih dari 72oC. Lateks DPNR dimasukkan ke dalam lubang
pemasukan bahan, dan kemudian ditambahkan asam sulfat sebagai reaktor reaksi siklisasi. Bahan
akan diaduk dengan kecepatan 200 rpm selama 30 menit untuk membentuk reaksi yang baik. Setelah
proses selesai bahan akan dikeluarkan melalui lubang pengeluaran.

Mesin
pK

Tempat pemasukan
bahan

Tangki

Oli masuk

Oli keluar

Pemanas
Oli

Pengukur suhu

m
c
0
60
Tempat pengeluaran
200 cm

bahan

Gambar 19. Rancangan Reaktor Siklisasi

Gambar 20. Reaktor Siklisasi


Nama alat
Keterangan

:
:

Reaktor Siklisasi (Gambar 20)


Reaktor siklisai ini terbuat dari baja anti karat (stainless steel) tahan asam,
Bioreaktor yang digunakan terbuat dari bahan baja 316 yang mengandung
18% kromium, 2-2,5% molibdenum, dan 10% nikel. dengan kapasitas
bahan yang dapat dimasukkan yaitu liter. Bioreaktor ini mempunyai

panjang 6 meter dan diameter 200 cm. Untuk kapasitas 16.000-18.000 liter
digunakan motor penggerak 8 PK.
b. Bak Pencucian
Proses pencucian pada produksi karet siklo dari lateks DPNR dilakukan untuk
menghilangkan sisa asam sulfat yang masih menempel pada proses siklisasi di reaktor. Pencucian
dilakukan sebanyak 4 kali dengan sistem bertahap (Gambar 22 dan Gambar 23). Air pencucian dengan
jumlah 1 tahap akan masuk di setiap bak pencucian bersamaan dengan masuknya dispersi karet siklo.
Input yang bersamaan ini diharapkan menimbulkan turbulen agar dispersi siklo kontak dengan air
secara merata tanpa ada mixing.
Mekanisme alat ini cukup sederhana. Pertama bahan dimasukkan melalui lubang pemasukan
bahan. Sebelum bahan dimasukkan lubang pengeluran ke bak kedua harus ditutup. Air akan dipompa
dari bawah dan kemudian masuk ke bak pertama, jalur air ke bak kedua sampai keempat harus ditutup
terlebih dahulu. Air akan kontinu memenuhi bak pencucian lalu diam selama 7,5 menit dan kemudian
keluar ke lubang pengeluaran air di kanan bak. Jika air telah keluar, secara otomatis saluran
pengeluaran bahan ke bak kedua terbuka, dan bahan akan masuk ke tahapan pencucian selanjutnya.
Proses ini terus berlangsung sampai pencucian keempat berkahir. Berikut contoh bak pencucian 1
tahap. Berikut bentuk alat yang ada dipasaran, tetapi untuk industri dibuat desain khusus.

Gambar 21. Bak Pencucian 1 Tahap


Nama alat
Keterangan

:
:

Bak pencucian (Gambar 21)


Bak pencucian dibuat sebanyak 4 buah, dikarenakan pada saat pencucian
karet siklo dilakukan sebanyak 4 kali. Bak pencucian dibuat dari drum
plastik besar berbentuk tabung, yang dapat menampung bahan sebanyak
600.000 liter, agar air dapat mengalir ke dalam bak pencucian digunakan
pipa. Dalam 1 kali batch di dalam bak, waktu yang dibutuhkan sekitar 5-7
menit. Daya dari motor penggerak yang digunakan untuk mengalirkan air
sebesar 8 PK.

1000 cm
Gambar 22. Rancangan Bak Pencucian Sistem 4 Tahap (Tampak Depan)

72
5
c
m
Gambar 23. Rancangan Bak Pencucian Sistem 4 Tahap (Tampak Samping)

100 cm

c. Bak Netralisasi
Bak Netralisasi digunakan untuk membantu proses netralisasi. pH dispersi lateks masih
sangat asam untuk pemakaian, maka wajib dinetralisasi terlebih dahulu. Sistem ini menggunakan
pengadukan dengan penambahan ammonia, sampai pH 7. Setelah pH 7 didapat, larutan akan
dialirkan ke tangki penyucian yang kontinu dengan bak netralisasi untuk dibersihkan kembali. Alat
yang digunakan tidak jauh berbeda dari bak netralisasi pada umumnya. Alat ini juga disertai oleh
pH meter di setiap tangki untuk memantau pH larutan. Berikut Gambar 19 desain bak netralisasi:

cm
725
125
300
m

CD
M5
cm

Gambar 19. Rancangan Bak Netralisasi


Tangki penetralan akan dibuat dari bahan stainless steel, hal ini ditujukan agar bahan
tahan terhadap pH tinggi dan tidak akan terkontaminasi ketika larutan didalamnya asam. Kapasitas
alat ini dirancang untuk bahan 500.000 L 600.000 L. Bahan aka masuk dari lubang inlet
kemudian ditambahkan ammonia sambil diaduk.pH diukur menggunakan pH meter di tangki
tersebut. Setelah proses netralisasi selesai saluran larutan ke tangki pencucian dibuka dan larutan
dimasukkan ke tangki pencucian. Pencucian dilakukan 1 kali dengan pH tetap dikontrol.
d. Oven Pengering
Tahap terakhir dari proses produksi karet siklo adalah pengeringan.pada tahap ini karet
siklo yang sebelumnya dalam bentuk dipersi dikeringkan sampai berbentuk padat. Oven pengering
yang diperlukan tidak jauh berbeda dengan oven pengering untuk proses produksi lateks DPNR.
Mesin pengering yang digunakan adalah oven dengan 12 rak-rak kecil (Gambar 20). Kapasitas
dari oven ini adalah 10.000-15.000 kg bahan ( karet siklo) yang akan dikeringkan. Dimensi dari
alat ini yaitu 225 x 255 x 240 cm. Oven ini terbuat dari bahan baja stainless steel dengan rak besi
yang anti karat. Energi panas yang digunakan yaitu dari bahan bakar untuk memanaskannya, misal
kompor LPG. Kontrol suhu pemanasan otomatis sampai dengan 125oC.

Gambar 20. Oven Pengering

VI. TATA LETAK DAN PENANGANAN BAHAN


Tipe tata letak pabrik ada dua macam, yaitu tipe tata letak berdasarkan produk (product
layout) dan berdasarkan proses (process layout). Penentuan tipe tata letak tergantung pada spesifikasi
proses produksinya. Proses produksi yang berbeda akan memiliki sifat-sifat khusus dan memerlukan
deain tataletak yang berbeda pula.
Industri karet siklo hanya memproduksi satu jenis produk, maka tipe tata letak industri yang
dipakai adalah product layout. Pengorganisasian pekerjaan didasarkan pada urutan proses produksi
suatu produk atau sekumpulan produk. mesin-mesin produksi diletakkan pada satu jalur menurut
urutan proses produksinya.Perancangan tata letak fasilitas merupakan proses perancangan dan
pengaturan fasilitas fisik (mesin atau peralatan, lahan, bangunan atau ruang) untuk mengoptimalkan
keterkaitan antar pekerja, aliran bahan, aliran informasi dan metode yang dibutuhkan dalam rangka
mencapai tujuan perusahaan secara efektif dan efisien. Ruangan yang dibutuhkan dalam pendirian
industri karet siklo adalah:
1. Kantor, berfungsi untuk aktivitas manajemen diluar proses produksi.
2. Gudang bahan baku, menyimpan bahan baku sebelum digunakan dalam proses produksi.
3. Gudang produk jadi, menyimpan produk jadi, dalam hal ini karet siklo sebelum
didistribusikan.
4. Gudang bahan tambahan, bahan tambahan yang digunakan untuk produksi karet siklo
merupakan bahan-bahan kimia yang berpotensi mempengaruhi bahan lainnya, maka
dibuatkan gudang tersendiri.
5. Ruang pencampuran dan pemanasan, ruangan ini merupakan salah satu ruangan untuk proses
produksi, di dalamnya akan terdapat reaktor siklisasi lateks untuk pencampuran dan
pemanasan.
6. Ruang pemisahan dan pencucian, merupakan ruangan produksi lainnya yang berfungsi
sebagai ruang pencucian karet untuk memisahkan kandungan zat kimia yang masih
menempel.
7. Ruang pengeringan, tahap terakhir dalam memproduksi karet adalah pengeringan, di ruangan
ini proses tersebut akan berlangsung dengan menggunakan oven.
8. Ruang pengemasan, berfungsi untuk mengemas karet siklo sebelum dipasarkan, baik itu
kemasan primer, sekunder, atau tersier.
9. Laboratorium research and development, laboratorium ini diadakan untuk mengembangkan
produk dan sebagai sarana untuk mengontrol kualitas produk.
10. Instalasi pengolahan limbah, air yang telah digunakan dalam proses ini mengandung berbagai
senyawa kimia, maka sebelum dibuang ke lingkungan harus melalui tahap pengolahan air
limbah sampai memenuhi baku mutu lingkungan. Proses tersebut akan dilakukan pada
instalasi pengolahan limbah.
11. Instalasi listrik, tempat sumber listrik industri.
12. Instalasi air, tempat yag mengatur sirkulasi air di industri.
13. Emplacement, lapangan terbuka yang digunakan sebagai tempat parker, serta jarak untuk
mengakomodir kebisingan dari industri ke lingkungan sekitar.
14. Kamar mandi.
15. Mushola dan kantin.
16. Pos keamanan.
Agar dapat ditentukan tataletak yang baik, maka harus terlebih dahulu dibuat diagram
keterkaitan atnta aktivitas. Keterkaitan antar aktivitas menjadi pedoman dalam perancangan tata letak
ruang pabrik secara menyeluruh, yaitu bagaimana meletakkan ruang untuk kegiatan tertentu pada
lokasi tertentu dengan mempertimbangkan keterkaitan dan interaksinya antar ruang. Untuk

menggambarkan hubungan keterkaitan antar kegiatan, dapat dilakukan dengan memberikan derajat
keterkaitan aktivitas sebagai berikut:

A (Absolutely Important), menunjukkan bahwa letak antar suatu kegiatan harus saling

berdekatan dan bersebelahan dengan kegiatan lain.


E (Especially Important), menunjukkan bahwa letak antar dua kegiatan tertentu harus

berdekatan.
I (Important), menunjukkan bahwa letak antar dua kegiatan tertentu harus cukup berdekatan.
O (Ordinary), menunjukkan bahwa letak antar dua kegiatan tertentu tidak harus saling

berdekatan.
U (Unimportant), menunjukkan bahwa letak antar dua kegitan tertentu bebas dan tidak

terkait satu sama lain.


X (Undesirable), menunjukkan bahwa letak antar dua kegiatan tidak boleh saling berdekatan.

Bagan keterkaitan digunakan untuk merencanakan tata letak biasanya digambarkan dalam bentuk
diagram untuk mempermudah pertimbangan dan perhitungannya, berikut diagram keterkaitan
aktivitas untuk industri karet siklo:

Gambar 18. Diagram Keterkaitan Aktivitas Industri Karet Siklo


Setelah membuat diagram keterkaitan aktivitas pada masing-masing ruangan, dilakukan perhtungan
Total Closeness Ratio (TCR) untuk mempermudah penyusunan tataletak pabrik. Perhitungan dilihat
pada Lampiran 1.

Gambar 19. Desain Tataletak Pabrik Berdasarkan Ruangan

Gambar 20. Tataletak Alat di Ruang Produksi

VII. BIAYA INVESTASI


Perincian biaya investasi disajikan Lampiran 2, komponen-komponen dari biaya investasi
yang dihitung meliputi tanah dan bangunan, mesin dan peralatan, instalasi penunjang, serta alat kantor
dan transportasi. Pada tanah dan bangunan, komponen-komponen yang dimiliki oleh perusahaan
meliputi tanah, bangunan kantor, ruang pencampuran dan pemanasan, ruang pemisahan dan
pencucian, ruang pengeringan, ruang pengemasan, gudang bahan baku dan produk, laboratorium, pos
keamanan, musholla dan kantin, unit pengolahan limbah, emplasemen, bangunan instalasi listrik, dan
bangunan instalasi air. Total biaya untuk tanah bangunan yang dibutuhkan adalah sebesar Rp.
221.700.000,00. Untuk mesin dan peralatan, komponen-komponen yang dibutuhkan yaitu tangki
penerimaan dan penyaringan, reactor pencampuran dan siklisasi, tangki pemisah dan pencucian, oven
pengeringan, dan boiler (QM 9004). Total biaya mesin dan peralatan yang dibutuhkan adalah sebesar
Rp. 60.820.000.000,00.
Biaya investasi selanjutnya yaitu biaya instalasi penunjang, komponen-komponen pada biaya
instalasi penunjang yaitu biaya pengolahan limbah, telepon, generator set, instalasi air, dan peralatan
laboratorium. Biaya total untuk instalasi penunjang adalah sebesar Rp. 354.000.000,00. Biaya
investasi terakhir yaitu alat tulis kantor dan transportasi. Komponen-komponen dari alat tulis kantor
dan transportasi yaitu alat kantor, mobil operasional, dan sepeda motor. Total biaya yang dibutuhkan
dari alat tulis kantor dan transportasi adalah sebesar Rp. 95.000.000,00. Total biaya investasi yang
diperlukan dari keempat komponen tersebut adalah sebesar Rp.61.490.700.000,00.
Pada Lampiran 3, terdapat tabel perhitungan mengenai struktur biaya tetap dan biaya
operasional. Biaya tetap hanya terdiri dari biaya untuk upah/gaji karyawan per tahun untuk 22 orang.
Karyawan tersebut adalah satu orang Direktur dengan gaji Rp 60.000.000,- per tahun, satu orang
Kepala Bagian Produksi, satu orang Kepala Bagian Administrasi, dan satu orang Kepala Bagian
Pemasaran yang masing-masing dengan gaji Rp 24.000.000,- per tahun. Selain itu, ada juga dua orang
Staf Pemasaran Teknisi dan dua orang Staf Produksi yang masing-masing dengan gaji Rp
12.000.000,- per tahun, dua orang Teknisi dengan gaji Rp 18.000.000,- per tahun, lima orang buruh
dengan gaji total sebesar Rp 30.000.000,- per tahun, dua orang supir kantor dengan gaji Rp
16.800.000,- per tahun, serta upah lima orang Tenaga Harian sebesar Rp 36.000.000,- per tahun.
Struktur biaya operasional yang kami miliki diperuntukkan untuk biaya listrik non mesin,
biaya bahan baku, biaya bahan penunjang, biaya bahan operasional, biaya administrasi dan telepon,
serta biaya penyusutan alat. Biaya listrik per tahun sebesar Rp 2.400.000,-. Biaya bahan baku Lateks
kebun sebesar Rp 8.484.792.000,- per tahun, serta biaya pembelian bahan penunjang yang terdiri dari
emulgen sebesar Rp 1.692.620.400,- per tahun, asam sulfat sebesar Rp 2.987.660.160,- per tahun,
enzim papain sebsar Rp 371.520.000,-, surfaktan non-ionik sebesar Rp 147.600.000,-, asam formiat
sebesar Rp 106.272.000,-, dan ammonia sebesar Rp 97.904.180.160,- per tahun. Biaya bahan
operasional untuk drum sebesar Rp 12.600.000.000,- per tahun, listrik sebesar Rp 3.440.947.272,- per
tahun, air sebesar Rp 368.526.000,- per tahun, juga biaya solar sebesar Rp 795.583.680,- per tahun.
Biaya administrasi dan telepon yang masing-masing sebesar Rp 120.000.000,- dan Rp 240.000.000,per tahun. Struktur biaya operasional yang kami miliki termasuk biaya penyusutan alat-alat sebesar
Rp 135.033.244.172,- per tahun yang akan dijelaskan selanjutnya.
Pada Lampiran 4 menerangkan perhitungan dari biaya penyusutan pada pendirian pabrik
karet siklo. Pada Komponen pertama yaitu komponen tanah dan bangunan didapat total biaya
penyusutan adalah sebesar Rp. 4.292.500,-. perhitungan ini didapat dari jumlah biaya penyusutan
bangunan kantor, ruang pencampuran dan pemanasan, ruang pemisahan dan pencucian, ruang
pengeringan, ruang pengemasan, gudang bahan baku dan produk, laboratorium, pos keamanan,
Musholla dan kantin, Unit pengolahan limbah, Emplasemen, Bangunan instalasi listrik, dan bangunan

instalasi air. Setiap sub komponen tersebut memiliki persentase penyusutan sebesar 50 % dan
dikalikan dengan total biaya dan didapat nilai sisanya, kemudian nilai sisa tersebut dibagi dengan
umur ekonomisnya sehingga didapat nilai penyusutan/tahun.
Pada komponen kedua yaitu komponen mesin dan peralatan memiliki sub komponen tanki
penerimaan dan penyaringan, rector pencampuran dan siklisasi, tangki pemisah dan pencucian, oven
pengeringan, dan boiler (QM 9004). Jumlah biaya penyusutan dari komponen ini adalah senilai Rp.
5.473.800.000,- yang didapat dengan cara yang sama seperti pada perhitungan biaya penyusutan pada
komponen pertama. Namun pada komponen ini memiliki nilai persentase penyusutan 10 % dan nilai
ekonomis selama 10 tahun.
Pada Komponen ketiga yaitu komponen instalasi penunjang terdiri dari sub komponen
pengolahan limbah, telepon, generator set, instalasi air, dan peralatan laboratorium. Sub komponen
pada komponen ini memiliki nilai persentase penyusutan 50 % dengan umur ekonomis 10 tahun. Dan
dari hasil seluruh perhitungan biaya penyusutan pada setiap sub komponen didapat jumlah biaya
penyusutan pada komponen ini sejumlah Rp. 7,500,000.00,-.
Komponen terakhir adalah komponen ATK dan transportasi yang terdiri dari sub komponen
alat kantor, mobil operasional, dan sepeda motor. Dengan proses perhitungan biaya penyusutan yang
sama didapat jumlah biaya penyusutan pada komponen ini adalah Rp. 4,750,000.00,-. Sub komponen
pada komponen ini memiliki nilai persentase penyusutan 50 % dan umur ekonomis selama 10 tahun.
Jadi, Total biaya penyusutan dari pendirian pabrik karet siklo ini didapat sebesar Rp. 5.490.342.500,-.
Nilai ini didapat dari perjumlahan seluruh biaya penyusutan di setiap komponen biaya penyusutan.

VIII. BIAYA PRODUKSI DAN ANALISIS EKONOMI


Harga dan proyeksi/perencanaan penerimaan dari hasil penjualan produk karet siklo disajikan
pada Lampiran 5. Karet siklo diproduksi sebesar 9500,04 Kg per hari dengan proyeksi produksi
sebesar 2280009,6 Kg per tahun pada tahun produksi ke-III. Total biaya yang terdiri dari biaya
operasional dan biaya pokok produksi untuk memproduksi satu kilo karet siklo sebesar Rp 56.53,72.
Sesuai dengan harga per Kg karet siklo yang sudah ada di pasaran, maka kami menetapkan harga jual
karet siklo sebesar Rp 70.000,- per Kg. Dengan proyeksi tersebut maka dapat terlihat proyeksi biaya
produksi, penerimaan, serta profit untuk 10 tahun ke depan. Pada tahun produksi pertama, kami
merencanakan untuk berproduksi hanya sebesar 1140004,8 Kg per tahun. Dengan profit sebesar Rp
12.283.713.914,- atau sebesar 18,19% dari biaya pengeluaran. Pada tahun produksi kedua kami
meningkatkan jumlah produksi kami hingga mencapai 1.824.007,68 Kg per tahun. Peningkatan ini
merupakan hasil dari penggunaan 50% dari profit yang kami dapat pada tahun produksi pertama.
Dengan peningkatan ini kami mampu mendapat nett profit sebesar Rp 19.653.942.262,40,- per tahun.
Ketika memasuki tahun produksi ketiga, kami memperkirakan mampu memproduksi karet siklo
sebesar 2.280.009,6 Kg per tahun dengan menggunakan 25% dari profit tahun kedua dan akan
berjalan stabil hingga tahun produksi ke X. Peningkatan jumlah produksi tersebut diharapkan mampu
meningkatkan nett profit hingga mencapai Rp 24.567.427.828,00.
Pada Lampiran 6 tabel proyeksi laba rugi, dihitung mulai dari tahun pertama sampai tahun
ke-10m. Pada tabel proyeksi laba rugi dihitung tentang penerimaan [B], Harga Pokok Penjualan
(HPP), Laba Kotor, Biaya Operasional, Laba Operasi (EBIT), Biaya Bunga, Laba sebelum pajak
(EBT), Pajak Penghasilan, dan laba bersih. Penerimaan pada tahun pertama yaitu sebesar Rp.
79.800.336.000,00 dan pada tahun kedua sebesar Rp 127.680.537.600,00, dan untuk tahun ketiga
sampai tahun kesepuluh sebesar Rp. 159.600.672.000,00. Harga Pokok Penjualan untuk tahun
pertama adalah sebesar Rp. 64.449.850.836,00. Kemudian menghitung laba kotor. Laba kotor dihitung
dari Penerimaan dikurangi dengan Harga Pokok Penjualan. Biaya Operasional perusahaan yang
digunakan sebesar Rp. 3.066.771.250,00. Laba Operasi (EBIT) perusahaan didapatkan dari Laba
Kotor dikurangi dengan Biaya Operasional. Biaya bunga perusahaan yang digunakan adalah sebesar
0%. Laba sebelum pajak atau EBT didapatkan dari nilai laba operasi atau EBIT. Pajak penghasilan
dari perusahaan pada tahun pertama adalah sebesar Rp. 1.228.371.391,40 sehingga laba bersih
perusahaan pada tahun pertama adalah sebesar Rp. 11.055.342.522,60. Nilai tersebut didapatkan dari
Laba Sebelum Pajak (EBT) dikurangi dengan Laba Bersih.
Pada Lampiran 7 Tabel Analisis Kelayakan Usaha, dihitung nilai penerimaan, pengeluaran,
B-C, DF, PV(B-C), Akumulatif PV, PV(B), dan PV(C). Pada tabel analisis kelayakan usaha ini nilai
pendapatan atau I yang digunakan adalah sebesar 12%, dan akan didapatkan nilai NPV, Net B/C, PBP,
BEP produk, BEP rupiah, dan IRR. Nilai B-C pada tabel didapatkan dari niali Penerimaan (B)
dikurangi dengan nilai Pengeluaran (C). Discount Flow pada tahun pertama adalah sebesar 1, dan nilai
PV (B-C) didapatkan dari nilai Discount Flow dikalikan dengan B-C. Nilai NPV yang dihasilkan
adalah sebesar Rp. 62.436.144.143,33, dan nilai Net B/C sebesar 2,02, dan nilai Pay Back Period
atau PBP atau modal akan kembali setelah 5,13 tahun, dan nilai BEP sebesar 9.572.744,90 produk,
dan nilai IRR yang didapatkan sebesar 31,10%.
Pada Lampiran 8 yaitu tabel perhitungan IRR. Pada tabel ini, untuk menghitung IRR
dibutuhkan data perhitungan Penerimaan (B), Pengeluaran (C), B-C, DF, PV(B-C), Akumulasi PV,
PV(B), PV(C). Dengan perhitungan seperti yang tertera diatas, maka didapatkan bahwa nilai IRR
perusahaan yang didapatkan sebesar 0,311 atau sebesar 31,1 %. Pada tabel Analisis Kelayakan Usaha
dapat terlihat bahwa usaha ini layak. Hal ini dapat dilihat dari nilai Net Present Value yang positif

yaitu sebesar Rp 62.436.144.143,33 dan nilai Pay Back Period (PBP) sebesar 5,13 tahun yang dapat
diartikan bahwa modal perusahaan dapat kembali lagi setelah 5,13 tahun kemudian.

IX. KESIMPULAN DAN SARAN


9.1. Kesimpulan
Karet siklo merupakan turunan dari karet alam yang telah berubah menjadi resin atau
bahan termoplastik yang keras tetapi rapuh, yang dihasilkan dari pemanasan karet lam dengan
adanya katalis asam. Karet siklo dibuat melalui reaksi siklisasi. Sifat produk dari karet siklo
sangat tergantung kepada teknologi siklisasi dan katalis asam yang digunakan. Karet siklo yang
dihasilkan dapat berupa material keras yang rapuh seperti gutta perca, balata keras, atau berupa
serbuk amorpus berwarna keputihan. Kegunaan dari karet siklo yaitu sebagai resin penguat
untuk karet dan sebagai binder pada industri cat. Karet siklo juga dapat digunakan sebagai
pengisi sekaligus penguat pada barang jadi karet seperti dalam pembuatan sol sepatu dengan
tingkat kekerasan tertentu. Proses yang dipilih untuk membuat karet siklo adalah dengan
menggunakan bahan baku lateks kebun yang diubah menjadi lateks DPNR, karena lateks DPNR
memiliki nilai tambah yang paling tinggi dibandingkan jenis lateks yang lain.
Proses produksi karet siklo dari lateks DPNR membutuhkan input sebanyak 16672,83 kg
dengan kadar KKK 60 %, input ini dapat menghasilkan karet siklo sebanyak 9500 kg. bahan baku
karet siklo berupa lateks DPNR tidak dapat dipenuhi oleh produsen lateks DPNR sehingga pabrik
kami melakukan proses tambahan yaitu berupa proses produksi lateks DPNR dari lateks kebun.
Pada proses pembuatan karet siklo bahan tambahan yang digunakan yaitu emulgen,
H2SO4, air, dan amoniak. Tahap pertama pembuatan karet siklo adalah proses pengadukan dan
pemanasan menggunakan reaktor siklisasi lateks. Semua bahan tambahan dicampur dengan bahan
baku utama (Lateks DPNR) pada tahap ini, sehingga reaksi siklisasi terjadi. Kemudian larutan
akan mengalami proses pencucian 4 tahap untuk mengurangi bahan kimia yang masih menempel
pada lateks. Tahap berikutnya adalah penetralan dan pencucian kembali, larutan lateks akan
dinetralkan sampai pH 7 dan kemudian dicuci kembali untuk mengurangi kandungan zat
kimianya. Tahap terakhir adalah pengeringan dengan oven, sampai seluruh kandungan air
terangkat. Total energi yang dibutuhkan untuk menjalankan industri karet siklo per hari adalah
31.566.148,36 kkal atau 10.799,91kWh dan solar untuk bahan bakar boiler sebanyak 487,47 liter.
Industri karet siklo akan layak didirikan jika kapasitas produksi per hari adalah 9500,04
kg karet siklo dengan 1 batch produksi. Biaya investasi adalah sebesar Rp 61.490.700.000,- dan
biaya operasional per tahun adalah Rp 135.033.244.172,-. Jika karet siklo dijual dengan harga Rp
70.000,00 atau $ 7.7, industri akan mendapat profit sebesar 18,19% dan biaya investasi akan
kembali setelah 5.13 tahun atau setelah menjual 9.572.744,9 kg karet siklo. Arus kas yang
diperkirakan pada masa yang akan datang atau nilai NPV adalah Rp 62.436.144.143,33,-. Tingkat
IRR untuk industri ini adalah 31,1% angka tersebut sudah diatas suku bunga bank sekarang, jadi
dapat dinyatakan industri karet siklo layak.

9.2. Saran
Pengembangan industri karet siklo di Indonesia masih kurang, hal ini dikarenakan oleh
belum adanya penelitian lanjutan pembuatan karet siklo dalam skala industri. Ketidaktersediaan
alat penunjang proses produksi mengakibatkan biaya investasi tinggi yang juga menjadi salah
satu hambatan dalam pendirian industri ini. Perlu dilakukan studi kelayakan lebih lanjut termasuk
penentuan pasar agar kelayakan pendirian industri karet siklo semakin terukur dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA
Alfa. 2000. Karet Siklo Resin Sintesis dari Karet Alam. Laporan Intern. Balai Penelitian Teknologi
Karet, Bogor.
Alfa. 2002. Produksi Karet Berprotein Rendah dari Lateks Karet Alam dengan Menggunakan Papain.
Tesis. Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Goonetilleke, P., S.M.C.E. Silva, L.P. Whitarana dan I. Denawaka. 1993. Preparation and
Characterisation of Soluble Cyclised Rubber from Natural Rubber Latex. Proceedigs
International Rubber Technology Conference, 429-438.
Kusumastuti, Cicilia Bingar. 2007. Perbandingan Sifat Vulkanisat dari Beberapa Jenis Karet Siklo.
Institut Pertanian Bogor, Bogor

Lampiran 2. Biaya Investasi


Asumsi:
Umur Proyek
Pajak Penghasilan (PPN)
Kapasitas produksi
Harga jual karet siklo
Basis Produksi
1 tahun
1 liter solar
N
o.
1

=
=
=
=
=
=
=

Komponen
Tanah dan
Bangunan

10 tahun
10 %
Tahun ke-1 50%, ke-2 80%, ke-3 dst 100%
6 USD (Rp 58.500,00)
100.000 ml karet siklo/batch (273.73 kg/hari)
12 bulan = 240 hari
9063 kkal
Satu
an

Volu
me

Harga

Total Biaya
100,

Tanah

m2

500

000.00

Bangunan kantor
Ruang pencampuran dan
pemanasan
Ruang pemisahan dan
pencucian

m2

50

000.00

m2

10

000.00

m2

20

000.00

Ruang pengeringan

m2

40

000.00

Ruang pengemasan
Gudang bahan baku dan
produk

m2

20

000.00

m2

80

000.00

Laboratorium

m2

10

000.00

Pos keamanan

m2

000.00

Musholla dan kantin

m2

20

000.00

Unit pengolahan limbah

m2

30

000.00

Emplasemen

m2

70

000.00

Bangunan instalasi air

m2

10

000.00

50,000
,000.00

750,

37,500
,000.00

550,

5,500
,000.00

550,

11,000
,000.00

550,

22,000
,000.00

550,

11,000
,000.00

450,

36,000
,000.00

450,

4,500
,000.00

450,

2,700
,000.00

550,

11,000
,000.00

450,

13,500
,000.00

200,

14,000
,000.00

300,

3,000
,000.00
221,700

TOTAL TANAH & BANGUNAN

Mesin dan
Peralatan

Tanki penerimaan dan


penyaringan
Reaktor pencampuran dan
siklisasi
Tangki pemisah dan
pencucian
Oven pengeringan Lateks
DPNR
Oven pengeringan Karet
Siklo

,000.00

buah

buah

buah

buah

buah

buah

buah

Pengolahan limbah

unit

Telepon
Generator set

unit
unit

1
1

Boiler (QM 9004)


Reaktor pencampuran
lateks DPNR

1,867,000,
000.00
23,500,000,
000.00
1,967,000,
000.00
1,236,000,
000.00
1,080,000,
000.00
12,500,000,
000.00
18,670,000,
000.00

TOTAL MESIN & PERALATAN

Instalasi
Penunjang

124,000,
000.00
5,000,
000.00
50,000,

1,867,000
,000.00
23,500,000
,000.00
1,967,000
,000.00
1,236,000
,000.00
1,080,000
,000.00
12,500,000
,000.00
18,670,000
,000.00
60,820,000
,000.00
124,000
,000.00
5,000
,000.00
50,000

N
o.

Komponen

Instalasi air
Peralatan laboratorium

Satu
an

Volu
me

unit

paket

Harga
000.00
25,000,
000.00
150,000,
000.00

Total Biaya
,000.00
25,000
,000.00
150,000
,000.00
354,000

TOTAL INSTALASI PENUNJANG

ATK dan
Transportasi

,000.00

Alat kantor

paket

Mobil operasional

buah

Sepeda motor

buah

TOTAL ATK & TRANSPORTASI


TOTAL BIAYA INVESTASI

15,000,
000.00
60,000,
000.00
10,000,
000.00

15,000
,000.00
60,000
,000.00
20,000
,000.00
95,000
,000.00
61,490,700,0
00.00

Lampiran 3. Perincian Biaya Tetap dan Biaya Operasional


No.
1

Upah

Komponen
Direktur
Kepala bagian produksi

Satuan
bulan
bulan

Jumlah
1
1

Harga
5,000,000.00
2,000,000.00

Total Biaya
60,000,000.00
24,000,000.00

Kepala bagian administrasi

bulan

2,000,000.00

24,000,000.00

Kepala bagian pemasaran

bulan

2,000,000.00

24,000,000.00

Staf pemasaran

bulan

1,000,000.00

24,000,000.00

Staf produksi

bulan

1,000,000.00

24,000,000.00

Teknisi

bulan

750,000.00

18,000,000.00

Buruh

bulan

500,000.00

30,000,000.00

Supir

bulan

700,000.00

16,800,000.00

Tenaga harian

bulan
bulan

5
1

600,000.00
200,000.00

36,000,000.00
2,400,000.00

liter/hari

15371

2,300.00

8,484,792,000.00

kg/hari

300.11

23,500.00

1,692,620,400.00

Listrik (non mesin)

Bahan baku

Lateks kebun

Bahan penunjang

Emulgen
Asam sulfat

6
7

Bahan operasional

Administrasi dan Telkom


Biaya Penyusutan Alat
TOTAL BIAYA OPERASIONAL

kg/hari

15560.73

800.00

2,987,660,160.00

Amonia

liter/hari

131591.64

3,100.00

97,904,180,160.00

Papain

liter/hari

3.44

450,000.00

371,520,000.00

Tarik (Surfaktan)

liter/hari

24.6

25,000.00

147,600,000.00

Asam Formiat

liter/hari

9.84

45,000.00

106,272,000.00

Drum

buah/hari

3500

15,000.00

12,600,000,000.00

Listrik

kWh/hari

10779.91

1,330.00

3,440,947,272.00

Air

m3/hari

614.21

2,500.00

368,526,000.00

Solar

liter/hari

487.49

6,800.00

795,583,680.00

ATK

Paket/bulan

500,000.00

120,000,000.00

Telepon

Paket/bulan
Paket/tahun

1,000,000.00

240,000,000.00
5,490,342,500.00
135,033,244,172.00

Lampiran 4. Perhitungan Biaya Penyusutan


No.
1

Komponen
Tanah dan Bangunan

Tanah

Satu
an

Vol

m2

Harga

Persentase
Penyusutan

Nilai Sisa

Penyusutan/tahun

500

100,000.00

50,000,000.00

Bangunan kantor
Ruang pencampuran dan
pemanasan
Ruang pemisahan dan
pencucian

50

750,000.00

37,500,000.00

20

50%

18,750,000.00

937,500.00

m2

10

550,000.00

5,500,000.00

20

50%

2,750,000.00

137,500.00

m2

20

550,000.00

11,000,000.00

20

50%

5,500,000.00

275,000.00

Ruang pengeringan

m2

40

550,000.00

22,000,000.00

20

50%

11,000,000.00

550,000.00

Ruang pengemasan
Gudang bahan baku dan
produk

m2

20

550,000.00

11,000,000.00

20

50%

5,500,000.00

275,000.00

m2

80

450,000.00

36,000,000.00

20

50%

18,000,000.00

900,000.00

Laboratorium

m2

10

450,000.00

4,500,000.00

20

50%

2,250,000.00

112,500.00

Pos keamanan

m2

450,000.00

2,700,000.00

20

50%

1,350,000.00

67,500.00

Musholla dan kantin

m2

20

550,000.00

11,000,000.00

20

50%

5,500,000.00

275,000.00

Unit pengolahan limbah

m2

30

450,000.00

13,500,000.00

20

50%

6,750,000.00

337,500.00

Emplasemen

m2

70

200,000.00

14,000,000.00

20

50%

7,000,000.00

350,000.00

10

300,000.00

3,000,000.00

20

50%

1,500,000.00

75,000.00

Bangunan instalasi air

Mesin dan Peralatan

Umur
Ekonomis

TOTAL TANAH &


BANGUNAN
2

Total Biaya

221,700,000.00
Tanki penerimaan dan
penyaringan
Reaktor pencampuran dan
siklisasi
Tangki pemisah dan
pencucian
Oven pengeringan Lateks
DPNR
Oven pengeringan Karet
Siklo

buah

buah

buah

buah

buah

1,867,000,
000.00
23,500,000,
000.00
1,967,000,
000.00
1,236,000,
000.00
1,080,000,
000.00

4,292,500.00

1,867,000,000.00

10

10%

186,700,000.00

168,030,000.00

23,500,000,000.00

10

10%

2,350,000,000.00

2,115,000,000.00

1,967,000,000.00

10

10%

196,700,000.00

177,030,000.00

1,236,000,000.00

10

10%

123,600,000.00

111,240,000.00

1,080,000,000.00

10

10%

108,000,000.00

97,200,000.00

No.

Komponen
Boiler (QM 9004)
Reaktor pencampuran
lateks DPNR

Satu
an

Vol

buah

buah

Harga
12,500,000,
000.00
18,670,000,
000.00

TOTAL MESIN &


PERALATAN
3

Instalasi Penunjang

ATK dan Transportasi

TOTAL ATK &


TRANSPORTASI
TOTAL BIAYA
PENYUSUTAN/TAHUN

Umur
Ekonomis

Persentase
Penyusutan

Nilai Sisa

12,500,000,000.00

10

10%

1,250,000,000.00

1,125,000,000.00

18,670,000,000.00

10

10%

1,867,000,000.00

1,680,300,000.00

60,820,000,000.00

Penyusutan/tahun

5,473,800,000.00

Pengolahan limbah

unit

20,000,000.00

20,000,000.00

10

50%

10,000,000.00

1,000,000.00

Telepon

unit

5,000,000.00

5,000,000.00

10

50%

2,500,000.00

250,000.00

Generator set

unit

50,000,000.00

50,000,000.00

10

50%

25,000,000.00

2,500,000.00

Instalasi air

unit

25,000,000.00

25,000,000.00

10

50%

12,500,000.00

1,250,000.00

Peralatan laboratorium

paket

50,000,000.00

50,000,000.00

10

50%

25,000,000.00

2,500,000.00

TOTAL INSTALASI
PENUNJANG
4

Total Biaya

150,000,000.00

7,500,000.00

Alat kantor

paket

15,000,000.00

15,000,000.00

10

50%

7,500,000.00

750,000.00

Mobil operasional

buah

60,000,000.00

60,000,000.00

10

50%

30,000,000.00

3,000,000.00

Sepeda motor

buah

10,000,000.00

20,000,000.00

10

50%

10,000,000.00

1,000,000.00

95,000,000.00

4,750,000.00
5,490,342,500.00

Lampiran 5. Harga dan Prakiraan Penerimaan


Produksi/hari (kg)
Produksi/tahun (kg)
Harga Pokok Produksi (kg)
Biaya Operasional
Total biaya produksi
Harga Jual Karet Siklo (kg)

9500.04
2280009.6
56,534.72
2,690.14
59,224.86
70,000.00

Thn ke-

Produksi karet siklo (kg)

1
2
3

1140004.8
1824007.68
2280009.6

Pengeluaran [C]
(Rp)
67,516,622,086.00
108,026,595,337.60
135,033,244,172.00

2280009.6

6
7
8
9
10

2280009.6
2280009.6
2280009.6
2280009.6
2280009.6

Penerimaan [B] (Rp)

Profit (Rp)

% Profit

79,800,336,000.00
127,680,537,600.00
159,600,672,000.00

12,283,713,914.00
19,653,942,262.40
24,567,427,828.00

18.19361445
18.19361445
18.19361445

135,033,244,172.00

159,600,672,000.00

24,567,427,828.00

18.19361445

135,033,244,172.00
135,033,244,172.00
135,033,244,172.00
135,033,244,172.00
135,033,244,172.00

159,600,672,000.00
159,600,672,000.00
159,600,672,000.00
159,600,672,000.00
159,600,672,000.00

24,567,427,828.00
24,567,427,828.00
24,567,427,828.00
24,567,427,828.00
24,567,427,828.00

18.19361445
18.19361445
18.19361445
18.19361445
18.19361445

Lampiran 6. Proyeksi Laba Rugi


Tahun
ke1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Penerimaan [B]
79,800,336,
000.00
127,680,537,
600.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00

Harga Pokok Penjualan


(HPP)
64
,449,850,836.00
103,
119,761,337.60
128,
899,701,672.00
128,
899,701,672.00
128,
899,701,672.00
128,
899,701,672.00
128,
899,701,672.00
128,
899,701,672.00
128,
899,701,672.00
128,
899,701,672.00

Laba Kotor
15,350,4
85,164.00
24,560,7
76,262.40
30,700,9
70,328.00
30,700,9
70,328.00
30,700,9
70,328.00
30,700,9
70,328.00
30,700,9
70,328.00
30,700,9
70,328.00
30,700,9
70,328.00
30,700,9
70,328.00

Biaya
Operasional
3,066,771
,250.00
4,906,834
,000.00
6,133,542
,500.00
6,133,542
,500.00
6,133,542
,500.00
6,133,542
,500.00
6,133,542
,500.00
6,133,542
,500.00
6,133,542
,500.00
6,133,542
,500.00

Laba Operasi
(EBIT)
12,28
3,713,914.00
19,65
3,942,262.40
24,56
7,427,828.00
24,56
7,427,828.00
24,56
7,427,828.00
24,56
7,427,828.00
24,56
7,427,828.00
24,56
7,427,828.00
24,56
7,427,828.00
24,56
7,427,828.00

Biaya
Bunga
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Laba sebelum pajak


(EBT)
12,283,71
3,914.00
19,653,94
2,262.40
24,567,42
7,828.00
24,567,42
7,828.00
24,567,42
7,828.00
24,567,42
7,828.00
24,567,42
7,828.00
24,567,42
7,828.00
24,567,42
7,828.00
24,567,42
7,828.00

Pajak
Penghasilan
1,228,371,
391.40
1,965,394,
226.24
2,456,742,
782.80
2,456,742,
782.80
2,456,742,
782.80
2,456,742,
782.80
2,456,742,
782.80
2,456,742,
782.80
2,456,742,
782.80
2,456,742,
782.80

Laba Bersih
11,055,342,
522.60
17,688,548,
036.16
22,110,685,
045.20
22,110,685,
045.20
22,110,685,
045.20
22,110,685,
045.20
22,110,685,
045.20
22,110,685,
045.20
22,110,685,
045.20
22,110,685,
045.20

Lampiran 7. Analisis Kelayakan Usaha


Tahun
ke0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

I
I%

Penerimaan [B]
0
79,800,336,
000.00
127,680,537,
600.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00

0.12
12

Pengeluaran [C]
61,490,700,
000.00
67,516,622,
086.00
108,026,595,
337.60
135,033,244,
172.00
135,033,244,
172.00
135,033,244,
172.00
135,033,244,
172.00
135,033,244,
172.00
135,033,244,
172.00
135,033,244,
172.00
135,033,244,
172.00

B-C
(61,490,700,0
00.00)
12,283,713,9
14.00
19,653,942,2
62.40
24,567,427,8
28.00
24,567,427,8
28.00
24,567,427,8
28.00
24,567,427,8
28.00
24,567,427,8
28.00
24,567,427,8
28.00
24,567,427,8
28.00
24,567,427,8
28.00

DF
1
0.892857143
0.797193878
0.711780248
0.635518078
0.567426856
0.506631121
0.452349215
0.403883228
0.360610025
0.321973237

PV (B - C)
(61,490,
700,000.00)
10,967,
601,708.93
15,668,
002,441.33
17,486,
609,867.55
15,613,
044,524.60
13,940,
218,325.54
12,446,
623,504.94
11,113,0
56,700.84
9,922,
372,054.32
8,859,
260,762.79
7,910,
054,252.49

NPV
Net B/C
PBP
BEP
BEP

Akumulai PV
(61,490,700,
000.00)
(50,523,098,
291.07)
(34,855,095,
849.74)
(17,368,485,
982.19)
(1,755,441,
457.59)
12,184,776,
867.94
24,631,400,
372.89
35,744,457,
073.73
45,666,829,
128.05
54,526,089,
890.84
62,436,144,
143.33

62,436,144,143.33
(2.02)
5.13
9,572,744.90
566,944,454,967.23

PV [B]
71,250,300,0
00.00
101,786,142,8
57.14
113,600,605,8
67.35
101,429,112,3
81.56
90,561,707,4
83.54
80,858,667,3
96.01
72,195,238,7
46.44
64,460,034,5
95.04
57,553,602,3
17.00
51,387,144,9
25.89

PV [C]
(61,490,700,0
00.00)
10,967,601,7
08.93
15,668,002,4
41.33
17,486,609,8
67.55
15,613,044,5
24.60
13,940,218,3
25.54
12,446,623,5
04.94
11,113,056,7
00.84
9,922,372,0
54.32
8,859,260,7
62.79
7,910,054,2
52.49

Tahun
Produk
Rupiah

Lampiran 8. Perhitungan IRR


Tahun
ke0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

IRR

Penerimaan [B]
79,800,336,
000.00
127,680,537,
600.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00
159,600,672,
000.00

0.311046412

Pengeluaran [C]
61,490,700,
000.00
67,516,622,
086.00
108,026,595,
337.60
135,033,244,
172.00
135,033,244,
172.00
135,033,244,
172.00
135,033,244,
172.00
135,033,244,
172.00
135,033,244,
172.00
135,033,244,
172.00
135,033,244,
172.00

B-C
(61,490,700,0
00.00)
12,283,713,
914.00
19,653,942,
262.40
24,567,427,
828.00
24,567,427,
828.00
24,567,427,
828.00
24,567,427,
828.00
24,567,427,
828.00
24,567,427,
828.00
24,567,427,
828.00
24,567,427,
828.00

DF

PV (B - C)
(61,490,700
,000.00)
9,369,396
,690.81
11,434,404
,280.57
10,901,982
,736.84
8,315,481
,921.26
6,342,629
,708.00
4,837,837
,661.58
3,690,058
,275.08
2,814,590
,117.73
2,146,827
,215.26
1,637,491
,392.85

1.00
0.76
0.58
0.44
0.34
0.26
0.20
0.15
0.11
0.09
0.07

NPV

(0.00)

Akumulai PV
(61,490,700,
000.00)
(52,121,303,
309.19)
(40,686,899,
028.62)
(29,784,916,
291.77)
(21,469,434,
370.51)
(15,126,804,
662.51)
(10,288,967,
000.93)
(6,598,908,
725.85)
(3,784,318,
608.12)
(1,637,491,
392.85)
(0.00)

PV [B]
71,250,300,
000.00
101,786,142,
857.14
113,600,605,
867.35
101,429,112,
381.56
90,561,707,
483.54
80,858,667,
396.01
72,195,238,
746.44
64,460,034,
595.04
57,553,602,
317.00
51,387,144,
925.89

PV [C]
(61,490,700,0
00.00)
10,967,601,
708.93
15,668,002,
441.33
17,486,609,
867.55
15,613,044,
524.60
13,940,218,
325.54
12,446,623,
504.94
11,113,056,
700.84
9,922,372,
054.32
8,859,260,
762.79
7,910,054,
252.49

Lampiran 1. Tabel Perhitungan Total Closeness Ratio (TCR)

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

KEGIATAN
Kantor
Gudang Bahan Baku
Gudang Produk Jadi
Instalasi Pengolahan Limbah
R. Pencampuran & Pemanasan
R. Pemisahan & Pencucian
Ruang Pengeringan
Ruang Pengemasan
Lab. R & D
Kamar Mandi
Mushola & Kantin
Emplacement
Instalasi Listrik
Instalasi Air
Gudang Bahan Tambahan

1
3
3
0
3
3
1
1
3
81
27
27
3
3
1

2
3
1
0
81
81
81
27
9
3
1
1
1
3
27

3
3
1
1
27
27
27
81
27
3
1
27
9
1
0

4
0
0
1
0
0
1
1
1
27
0
1
1
1
0

5
3
81
27
1
81
27
27
3
3
1
1
1
3
3

6
3
81
27
0
81
3
3
1
3
1
1
1
1
27

7
1
9
27
1
81
81
27
3
3
1
1
1
1
1

8
1
27
81
1
27
3
27
3
3
1
81
1
1
3

9
3
9
27
1
3
1
3
3
3
1
1
1
1
9

10
81
3
3
27
3
3
3
3
3
81
1
1
1
3

11
27
1
1
0
1
1
1
1
1
81
9
1
1
1

12
27
1
27
1
1
1
1
81
1
1
9
1
1
1

13
3
1
9
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

14
3
3
1
1
3
1
1
1
1
1
1
1
27
1

15
1
27
0
0
3
27
1
3
9
3
1
1
1
1

16
9
9
9
1
1
1
1
3
27
1
3
81
9
9
1

TCR
168
256
244
36
316
312
179
263
93
217
130
235
59
29
79

16.

Pos Keamanan

27

81

165