Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Osteomielitis adalah infeksi akut tulang yang dapat terjadi karena penyebaran infeksi dari
darah (osteomielitis hematogen) atau yang lebih sering, setelah kontaminasi fraktur terbuka atau
reduksi (osteomielitis eksogen).
Osteomielitis adalah penyakit yang sulit diobati karena dapat terbentuk abses local. Abses
tulang biasanya memiliki pendarahan yang sangat kurang, dengan demikian, penyampaian sel-sel
imun dan antibiotic terbatas. Apabila infeksi tulang tidak diobati secara segera dan agresif, nyeri
hebat
dan
ketidak
mampuan
permanen
dapat
terjadi
(Corwin,
2001).
Osteomielitis sering ditemukan pada usia dekade I-II; tetapi dapat pula ditemukan pada bayi dan
infant. Anak laki-laki lebih sering dibanding anak perempuan (4:1). Lokasi yang tersering ialah
tulang-tulang panjang seperti femur, tibia, radius, humerus, ulna, dan fibula.(Yuliani 2010).
Prevalensi keseluruhan adalah 1 kasus per 5.000 anak. Prevalensi neonatal adalah sekitar 1
kasus per1.000. Kejadian tahunan pada pasien dengan anemia sel sabit adalah sekitar 0,36%.
Insiden osteomielitis vertebral adalah sekitar 2,4 kasus per 100.000 penduduk. Kejadian tertinggi
pada Negara berkembang. Tingkat mortalitas osteomielitis adalah rendah, kecuali jika sudah
terdapat sepsis atau kondisi medis berat yang mendasari. (Randall, 2011)
1.1.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, rumusan masalah dalam makalah ini
adalah bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Osteomielitis.
1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan osteomielitis.
2. Untuk mengetahui penyebab osteomielitis.
3. Untuk mengetahui patofisiologi dari osteomielitis
4. Untuk mengetahui jenis-jenis dari osteomielitis
5. Untuk mengetahui manifestasi klinis pada pasien yang mengalami osteomielitis.
6. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang bagi klien dengan osteomielitis.
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan medis pada klien yang mengalami osteomielitis.
8. Untuk mengetahui asuhan keperawatan klien yang mengalami osteomielitis.
1.4. Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan adalah studi literatur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan daripada
infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi,
tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling
jaringan tulang mati). Osteomielitis dapat menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi
kualitas hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas. (Brunner, suddarth.
(2001). Beberapa ahli memberikan defenisi terhadap osteomyelitis sebagai berkut :
a. Osteomyelitis adalah infeksi Bone marrow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh
staphylococcus aureus dan kadang-kadang Haemophylus influensae (Depkes RI, 1995).
b. Osteomyelitis adalah infeksi tulang (Carpenito, 1990).
c. Osteomyelitis adalah suatu infeksi yang disebarkan oleh darah yang disebabkan oleh
staphylococcus (Henderson, 1997)
d. Osteomyelitis adalah influenza Bone Marow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh
staphyilococcus Aureus dan kadang-kadang haemophylus influenzae, infeksi yang hampir selalu
disebabkan oleh staphylococcus aureus.
2.2 Anatomi Fisiologi Muskuloskeletal
Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan mengurus pergerakan.
Komponen utama dari sistem muskuloskeletal adalah tulang dan jaringan ikat yang menyusun
kurang lebih 25 % berat badan dan otot menyusun kurang lebih 50%. Sistem ini terdiri dari
tulang, sendi, otot rangka, tendon, ligament, dan jaringan-jaringan khusus yang menghubungkan
struktur-struktur ini. (Price,S.A,1995 :175)

KOMPONEN SISTEM MUSCULOSKELETAL


A. Tulang
Tulang adalah jaringan yang paling keras diantara jaringan ikat lainnya yang terdiri atas hampir
50 % air dan bagian padat, selebihnya terdiri dari bahan mineral terutama calsium kurang lebih
67 % dan bahan seluler 33%.

Fungsi dari tulang adalah sebagai berikut :


1. Mendukung jaringan tubuh dan memberikan bentuk tubuh.
2. Melindungi organ tubuh (jantung, otak, paru-paru, dan jaringan lunak).
3. Memberikan pergerakan (otot berhubungan dengan kontraksi dan pergerakan).
4. Membentuk sel-sel darah merah di dalam sumsum tulang (hematopoesis).
5. Menyimpan garam-garam mineral (kalsium, fosfor, magnesium dan fluor).
Struktur tulang
Tulang diselimuti di bagian luar oleh membran fibrus padat disebut periosteum.
Periosteum memberikan nutrisi pada tulang dan memungkinkan tumbuh, selain sebagai tempat
perlekatan tendon dan ligament. Periosteum mengandung saraf, pembuluh darah, dan limfatik.
Lapisan yang terdekat mengandung osteoblast . Dibagian dalamnya terdapat endosteum yaitu
membran vascular tipis yang menutupi rongga sumsum tulang panjang dan rongga dalam tulang
kanselus. Osteoklast terletak dekat endosteum dan dalam lacuna howship (cekungan pada
permukan tulang).
Sumsum tulang merupakan jaringan vascular dalam rongga sumsum (batang) tulang
panjang dan tulang pipih. Sumsum tulang merah terutama terletak di sternum, ilium, vetebra dan
rusuk pada orang dewasa, bertanggungjawab dalam produksi sel darah merah dan putih. Pada
orang dewasa tulang panjang terisi oleh sumsum lemak kuning. Jaringan tulang mempunyai
vaskularisasi yang baik. Tulang kanselus menerima asupan darah melalui pembuluh metafis dan
epifis. Pembuluh periosteum mengangkut darah ke tulang kompak melalui kanal volkman. Selain
itu terdapat arteri nutrient yang menembus periosteum dan memasuki rongga meduler melalui
foramina (lubang-lubang kecil). Arteri nutrient memasok darah ke sumsum tulang, System vena
ada yang keluar sendiri dan ada yang mengikuti arteri.
Tulang tersusun dari 3 jenis sel yaitu :
a.
Osteoblas
Osteoblas berfungsi dalam pembentukan tulang dengan mensekresikan matrik tulang.
Matrik tulang tersusun atas 98% kolagen dan 2% substansi dasar (glukosaminoglikan/ asam
polisakarida dan proteoglikan). Matrik tulang merupakan kerangka dimana garam garam mineral
ditimbun terutama calsium, fluor, magnesium dan phosphor.
b.

Osteosit
Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai pemeliharaan fungsi tulang
dan terletak pada osteon (unit matrik tulang). Osteon yaitu unit fungsional mikroskopik tulang
dewasa yang di tengahnya terdapat kapiler dan disekeliling kapiler tedapat matrik tulang yang
disebut lamella. Di dalam lamella terdapat osteosit, yang memperoleh nutrisi lewat prosesus
yang berlanjut kedalam kanalikuli yang halus (kanal yang menghubungkan dengan pembuluh
darah yang terletak kurang lebih 0,1 mm).
c.

Osteoklas
3

Osteoklas adalah sel-sel besar berinti banyak memungkinkan mineral dan matriks tulang
dapat diabsorpsi, penghancuran dan remodeling tulang. Tidak seperti osteoblas dan osteosit,
osteoklas mengikis tulang.
Tulang merupakan jaringan yang dinamis dalam keadaan peralihan tulang (resorpsi dan
pembentukan tulang). Kalium dalam tubuh orang dewasa diganti 18% pertahun.

Gambar 1.1 struktur tulang

a.

b.

Faktor yang berpengaruh terhadap keseimbangan pembentukan dan reabsorpsi tulang


adalah :
Vitamin D
Berfungsi meningkatkan jumlah kalsium dalam darah dengan meningkatkan penyerapan
kalsium dari saluran pencernaan. Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan deficit mineralisas,
deformitas dan patah tulang.
Horman parathyroid dan kalsitonin
Merupakan hormone utama pengatur homeostasis kalsium. Hormon parathyroid
mengatur konsentrasi kalsium dalam darah, sebagian dengan cara merangsang
perpindahankalsium dari tulang. Sebagian respon kadar kalsiumdarah yang rendah, peningkatan
hormone parathyroid akan mempercepat mobilisasi kalsium, demineralisasi tulang, dan
pembentukan kista tulang. Kalsitonin dari kelenjar tiroid meningkatkan penimbunan kalsium
dalam tulang.
4

c.

Peredaran darah
Pasokan darah juga mempengaruhi pembentukan tulang. Dengan menurunnya pasokan
darah / hyperemia (kongesti) akan tejadi penurunan osteogenesis dan tulang mengalami
osteoporosis (berkurang kepadatannya). Nekrosis tulang akan terjadi bila tulang kehilangan
aliran darah.
Pada keadaaan normal tulang mengalami pembentukan dan absorpsi pada suatu tingkat
yang konstan, kecuali pada masa pertumbuhan kanak-kanak diman lebih banyak terjadi
pembentukan dari pada absorpsi tulang.
Proses ini penting untuk fungsi normal tulang. Keadaan ini membuat tulang dapat
berespon terhadap tekanan yang meningkat dan untuk mencegah terjadi patah tulang. Perubahan
tesebut membantu mempertahankan kekuatan tulang pada proses penuaan. Matrik organic yang
sudah tua berdegenerasi, sehingga membuat tulang relative menjadi lemah dan rapuh.
Pembentukan tulang baru memerlukan matrik organic baru, sehingga memberi tambahan
kekuatan tulang. (Price,S.A,1995 : 1179)
Berdasarkan bentuknya tulang dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Tulang Panjang / Tulang Pipa
Tulang ini sering terdapat dalam anggota gerak. Fungsinya sebagai alat ungkit dari tubuh
dan memungkinkan untuk bergerak. Batang atau diafisis tersusun atas tulang kortikal dan ujung
tulang panjang yang dinamakan epifis tersusun terutama oleh tulang kanselus. Plat epifis
memisahkan epifiis dan diafisis dan merupakan pusat pertumbuhan longitudinalpada anak-anak.
Yang pada orang dewasa akan mengalami kalsifikasi. Misalnya pada tulang humerus dan femur.

Gambar 1.2 Struktur tulang panjang


2. Tulang Pendek
Tulang ini sering didapat pada tulang-tulang karpalia di tangan dan tarsalia di kaki.
Fungsinya pendukung seperti tampak pada pergelangan tangan. Bentuknya tidak teratur dan inti
dari konselus (spongi) dengan suatu lapisan luar dari tulang yang padat.
3. Tulang Pipih
5

Tulang ini sering terdapat di tengkorak, panggul / koxa, sternum, dan iga-iga, serta
scapula (tulang belikat). Fungsinya sebagai pelindung organ vital dan menyediakan permukaan
luas untuk kaitan otot-otot, merupakan tempat penting untuk hematopoesis. Tulang pipih
tersusun dari tulang kanselus diantara 2 tulang kortikal.
4. Tulang Tak Beraturan
Berbentuk unik sesuai dengan fungsinya. Struktur tulang tidak teratur, terdiri dari tulang
kanselous di antara tulang kortikal. Contoh : tulang vertebra, dan tulang wajah.
5. Tulang Sesamoid
Merupakan tulang kecil disekitar tulang yang berdekatan dengan persendian dan
didukung oleh tendon dan jaringan fasial. Contoh : tulang patella (Kap lutut).
Bentuk dan kontruksi tulang ditentukan fungsi dan gaya yang bekerja padanya.
B. Kerangka
Sebagian besar tersusun atas tulang. Kerangka tulang merupakan kerangka yang kuat
untuk menyangga struktur tubuh.
Kerangka dibagi menjadi :
a.
Kerangka aksial
Kerangka aksial terdiri dari 80 tulang, terkelompok pada 3 daerah yaitu

Kranium dan Tulang Muka ( TENGKORAK )

Kranium terdiri atas 8 tulang yaitu tulang-tulang parietal (2), temporal (2),frontal, oksipital,
stenoid, dan etmoid. Tulang muka terdiri atas 14 tulang yaitu tulang maksila (2), zigomatikus (2),
nasal (2), lakrimal (2), palatinum (2),concha inferior (2),mandibula dan vomer.

Kolumna Vertebralis
6

Kolumna vertebralis terdiri atas 26 tulang berbentuk tidak teratur, terbentang antara tengkorak
dan pelvis. Juga merupakan tempat melekatnya iga dan otot punggung. Kolumna vertebralis
dibagi dalam 7 vertebra sevikalis, 12 vertebra torakalis, 5 vertebra lumbalis, 5 vertebra sacrum
dan 4 vertebra koksigius.

Thoraks tulang

Thorak tulang terdiri tulang dan tulang rawan. Thoraks berupa sebuah rongga berbentuk kerucut
terdiri dari 12 vertebra torakalis dan 12 pasang iga yang melingkar dari tulang belakang sampai
ke sternum.
Pada sternum terdapat beberapa titik penting yaitu supra sternal notch dan angulus sterni yaitu
tempat bertemunya manubrium dan korpus sterni.
Bagian-bagian tersebut merupakan penunjang kepala, leher, dan badan serta melindungi otak,
medulla spinalis dan organ dalam thoraks.

b. Kerangka Apendikular
Kerangka apindikuler terdiri atas :

Bagian bahu (Singulum membri superioris)

Singulum membri superior terdiri atas klavikula dan scapula.


Klavikula mempunyai ujung medial yang menempel pada menubrium dekat suprasternal notch
dan ujung lateral yang menempel pada akronion.

Bagian panggul (Singulum membri inferior )

Terdiri dari ileum, iskium, pubis yang bersatu disebut tulang koksae. Tulang koksae bersama
sacrum dan koksigeus membentuk pelvis tulang. Ekstremitas bawah terdiri dari femur, patella,
tibia, fibula, tarsus, metatarsus.

c.

Cartilago (tulang rawan)


Tulang rawan terdiri dari serat-serat yang dilekatkan pada gelatin kuat, tetapi
fleksible dan tidak bervasculer. Nutrisi melaui proses difusi gel perekat sampai ke kartilago yang
berada pada perichondium (serabut yang membentuk kartilago melalui cairan sinovial), jumlah
serabut collagen yang ada di cartilage menentukan bentuk fibrous, hyaline, elastisitas, fibrous
(fibrocartilago) memili paling banyak serabut dan memiliki kekuatan meregang. Fibrus cartilage
menyusun discus intervertebralis articular (hyaline) cartilage halus, putih, mengkilap, dan kenyal
membungkus permukaan persendian dari tulang dan berfungsi sebagai bantalan. Cartilage yang
elastis memiliki sedikit serat dan terdapat pada telinga bagian luar.

d.

Ligamen (simplay)
Ligamen adalah suatu susunan serabut yang terdiri dari jaringan ikat keadaannya
kenyal dan fleksibel. Ligament mempertemukan kedua ujung tulang dan mempertahankan
stabilitas. Contoh ligamen medial, lateral, collateral dari lutut yang mempertahankan diolateral
dari sendi lutut serta ligament cruciate anterior dan posterior di dalam kapsul lutut yang
mempertahankan posisi anteriorposterior yang stabil. Ligament pada daerah tertentu melengket
pada jaringna lunak untuk mempertahankan struktur. Contoh ligament ovarium yang melalui
ujung tuba ke peritoneum.

e.

Tendon
Tendon adalah ikatan jaringan fibrous yang padat yang merupakan ujung dari otot
yang menempel pada tulang. Tendon merupakan ujung dari otot dan menempel kepada tulang.
Tendon merupakan ekstensi dari serabut fibrous yang bersambungan dengan aperiosteum.
Selaput tendon berbentuk selubung dari jaringan ikat yang menyelubungi tendon tertentu
terutama pada pergelangan tangan dan tumit. Selubung ini bersambungn dengan membrane
sinovial yang menjamin pelumasan sehinggga mudah bergerak.
f.

Fascia
Fascia adalah suatu permukan jaringan penyambung longgar yang didapatkan
langsung di bawah kulit, sebagai fascia superficial atau sebagai pembungkus tebal, jaringan
penyambung fibrous yang membungkus otot, saraf dan pembuluh darah. Yang demikian disebut
fascia dalam.
g.

Bursae
Bursae adalah kantong kecil dari jaringna ikat di suatu tempat dimana digunakan
di atas bagian yang bergerak. Misalnya antara tulang dan kulit, tulang dan tendon, otot-otot.
Bursae dibatasi membrane sinovial dan mengandung caiaran sinovial. Bursae merupakan
bantalan diantara bagian-bagian yang bergerak seperti olekranon bursae terletak antara prosesus
olekranon dan kulit.
h.

Persendian
Sendi adalah tempat pertemuan dua atau lebih tulang. Tulang-tulang ini
dipadukan dengan berbagai cara misalnya dengan kapsul sendi, pita fibrosa, ligamen, tendon,
fasia
atau
otot.
Dalam membentuk rangka tubuh, tulang yang satu berhubungan dengan tulang yang lain melalui
jaringan penyambung yang disebut persendian. Pada persendian terdapat cairan pelumas (cairan
sinofial). Otot yang melekat pada tulang oleh jaringan ikat disebut tendon. Sedangkan, jaringan
yang
menghubungkan
tulang
dengan
tulang
disebut
ligamen.
10

Secara structural sendi dibagi menjadi: sendi fibrosa, kartilaginosa, sinovial. Dan berdasarkan
fungsionalnya sendi dibagi menjadi: sendi sinartrosis, amfiartrosis, diarthroses.
Secara structural dan fungsional klasifikasi sendi dibedakan atas:
a.
Sendi Fibrosa/ sinartrosis
Sendi yang tidak dapat bergerak atau merekat ikat, maka tidak mungkin gerakan
antara tulang-tulangnya. Sendi fibrosa tidak mempunyai lapisan tulang rawan dan tulang yang
satu dengan lainnya dihubungkan oleh jaringan penyambung fibrosa. contohnya sutura pada
tulang tengkorak, sendi kaitan dan sendi kantong (gigi), dan sindesmosis (permukaan sendi
dihubungkan oleh membran).

b.

Sendi Kartilaginosa/ amfiartrosis


Sendi dengan gerakan sedikit, dan permukaan persendian- persendiannya dipisahkan
oleh bahan antara dan hanya mungkin sedikit gerakan. Sendi tersebut ujung-ujung tulangnya
dibungkus tulang rawan hyalin, disokong oleh ligament dan hanya dapat sedikit bergerak.
Ada dua tipe kartilago :

Sinkondrosis

Sendi yang seluruh persendianyan diliputi oleh tulang rawan hialin

Simfisis

Sendi yang tulangnya memiliki hubungan fibrokartilago dan selapis tipis tulang rawan
hialin yang menyelimuti permukaan sendi.
Contohnya :simfisis pubis (bantalan tulang rawan yang mempersatukan kedua tulang pubis),
sendi antara manubrium dan badan sternum, dan sendi temporer / sendi tulang rawan primer
yang dijumpai antara diafisis dan epifisis.
11

c.

Sendi Sinovial/ diarthroses


Sendi tubuh yang dapat digerakkan. Sendi ini memiliki rongga sendi dan permukaan
sendi dilapisi tulang rawan hialin.
Kapsul sendi terdiri dari suatu selaput penutup fibrosa padat, suatu lapisan dalam
yang terbentuk dari jaringan penyambung berpembuluh darah banyak dan sinovium yang
membentuk suatu kantong yang melapisi suatu sendi dan membungkus tendon-tendo yang
melintasi sendi. Sinovium menghasilkan cairan yang sangat kental yang membasahi
permukaan sendi. Caiaran sinovial normalnya bening, tidak membeku dan tidak berwarana.
Jumlah yang ditemukan pada tiap-tiap sendi relative kecil 1-3 ml. Cairan sinovial bertindak
pula juga sebagi sumber nutrisi bagi tulang rawan sendi.
Tulang rawan memegang peranana penting, dalam membagi organ tubuh. Tulang rawan
sendi terdi dari substansi dasar yang terdiri dari kolagen tipe II dan proteoglikan yang dihasilkan
oleh sel-sel tulang rawan. Proteoglikan yang ditemukan pada tulang rawan sendi sangat
hidrofilik, sehingga memungkinkan rawan tersebut mampu menahan kerusakan sewaktu sendi
menerima beban berat. Perubahan susunan kolagen dan pembentukan proteoglikan dapat terjadi
setelah cedera atau ketika usia bertambah.
Persendian yang bergerak bebas dan banyak ragamnya. Berbagai jenis sendi sinovial
yaitu sendi datar / sendi geser, sendi putar, sendi engsel, sendi kondiloid, sendi berporos, dan
sendi pelana / sendi timbal balik.Gerak pada sendi ada 3 kelompok utama yaitu gerakan
meluncur, gerkan bersudut / anguler, dan gerakan rotasi.
Adapun pergerakan yang dapat dilakukan oleh sendi-sendi adalah fleksi, ekstensi, adduksi,
abduksi, rotasi, sirkumduksi dan Pergerakan khusus seperti supinasi, pronasi, inversion, eversio,
protaksio.
Sendi diartrosis terdiri dari:
a. Sendi peluru
Sendi peluru adalah persendian yang memungkinkan gerakan yang lebih bebas. Sendi ini
terjadi apabila ujung tulang yang satu berbentuk bonggol, seperti peluru masuk ke ujung tulang

12

lain yang berbentuk cekungan. Contoh sendi peluru adalah hubungan tulang panggul dengan
tulang paha, dan tulang belikat dengan tulang atas.

b. Sedi engsel
Memungkinkan gerakan melipat hanya satu arah, Persendian yang menyebabkan
gerakan satu arah karena berporos satu disebut sendi engsel. Contoh sendi engsel ialah hubungan
tulang pada siku, lutut, dan jari-jari.

c. Sendi pelana
Sendi pelana adalah persendian yang membentuk sendi, seperti pelana, dan berporos
dua.
Contohnya,
terdapat
pada
ibu
jari
dan
pergelangan
tangan
Memungkinkan gerakan 2 bidang yang saling tegak lurus. misal persendian dasar ibu jari yang
merupakan sendi pelana 2 sumbu.

13

d. Sendi pivot
Memungkinkan rotasi untuk melakukan aktivitas untuk memutar pegangan pintu, misal
persendian antara radius dan ulna.
e. Sendi peluncur
Memungkinkan gerakan terbatas kesemua arah. Contoh adalah sendi-sendi tulang karpalia di
pergelangan tangan.
Jaringan Penyambung
Jaringan yang ditemukan pada sendi dan daerah-daerah yang berdekatan terutama
adalah jaringan penyambung, yang tersususn dari sel-sel dan subtansi dasar. Dua macam sel yang
ditemukan pada jaringan penyambung sel-sel yang tidak dibuat dan tetap berada pada jaringan
penyambung, seperti sel mast, sel plasma, limfosit, monosit, leukosit polimorfonuklear. Sel-sel
ini memegang peranan penting pada reaksi-reaksi imunitas dan peradangan yang terlihat pada
penyakit-penyakit reumatik. Jenis sel yang kedua dalam sel penyambung ini adalah sel yang
tetap berada dalam jaringan seperti fibroblast, kondrosit, osteoblas. Sel-sel ini mensintesis
berbagai macam serat dan proteoglikan dari substansi dasar dan membuat tiap jenis jaringan
pemyambung memiliki susunan sel yang tersendiri.
Serat-serat yang didapatkan didalam substansi dasar adalah kolagen dan elastin. Serat-serat
elastin memiliki sifat elastis yang penting. Serat ini didapat dalam ligament, dinding pembuluh
darah besar dan kulit. Elastin dipecah oleh enzim yang disebut elastase.
Otot
Otot yang melekat pada tulang memungkinkan tubuh bergerak. Kontraksi otot
menghasilkan suatu usaha mekanik untuk gerakan maupun produksi panas untuk
mempertahankan temperature tubuh. Jaringan otot terdiri atas semua jaringan kontraktil.
Menurut fungsi kontraksi dan hasil gerakan dari seluruh bagian tubuh otot dikelompokkan dalam
:
14

Otot rangka (striadted / otot lurik).


Terdapat pada system skelet, memberikan pengontrolan pergerakan, mempertahankan postur
tubuh dan menghasilkan panas.
Otot polos (otot visceral).
Terdapat pada saluran pencernaan, perkemihan, pembuluh darah. Otot ini mendapat rangsang
dari saraf otonom yang berkontraksi di luar kesadaran
Otot jantung.
Hanya terdapat pada jantung dan berkontraksi di luar pengendalian.
Otot rangka dinamai menurut bentuknya seperti deltoid, menurut jurusan serabutnya seperti
rektus abdominis, menurut kedudukan ototnya seperti pektoralis mayor, menurut fungsinya
seperti fleksor dan ekstensor. Otot rangka ada yang berukuran panjang, lebar, rata, membentuk
gumpalan masas. Otot rangka berkontraksi bila ada rangsang. Energi kontaraksi otot diperoleh
melalui pemecahan ATP dan kegiatan calsium.
Otot dikaitkan di dua tempat tertentu yaitu :
a. Origo
Tempat yang kuat dianggap sebagai tempat dimana otot timbul
b. Isersio
Lebih dapat bergerak dimana tempat kearah mana otot berjalan.
Kontraksi otot rangka dapat terjadi hanya jika dirangsang. Energi kontraksi otot dipenuhi dari
pemecahan ATP dan kegiatan kalsium. Serat-serat dengan oksigenasi secara adekuat dapat
berkontraksi lebih kuat, bila dibandingkan dengan oksigenasi tidak adekuat. Pergerakan akibat
tarikan otot pada tulang yang berperan sebagai pengungkit dan sendi berperan sebagai tumpuan
atau penopang.
Masalah yang berhubungan dengan system ini mengenai semua kelompok usia, masalah pada
system musculoskeletal tidak mengancam jiwa tetapi berdampak pada kativitas dan produktivitas
penderita.
2.3 Klasifikasi Osteomielitis

Dari uraian di atas maka dapat diklasifikasikan dua macam osteomielitis, yaitu:
1.

Osteomielitis Primer.

Penyebarannya secara hematogen dimana mikroorganisme berasal dari focus ditempat lain dan
beredar melalui sirkulasi darah.
2.

Osteomielitis Sekunder.

Terjadi akibat penyebaran kuman dari sekitarnya akibat dari bisul, luka fraktur dan sebagainya.
15

Berdasarkan lama infeksi, osteomielitis terbagi menjadi 3, yaitu:


1.

Osteomielitis akut

Yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 2 minggu sejak infeksi pertama atau sejak penyakit
pendahulu timbul. Osteomielitis akut ini biasanya terjadi pada anak-anak dari pada orang dewasa
dan biasanya terjadi sebagai komplikasi dari infeksi di dalam darah. (osteomielitis hematogen)
Osteomielitis akut terbagi menjadi 2, yaitu:
a.

Osteomielitis hematogen

Merupakan infeksi yang penyebarannya berasal dari darah. Osteomielitis hematogen akut
biasanya disebabkan oleh penyebaran bakteri darah dari daerah yang jauh. Kondisi ini biasannya
terjadi pada anak-anak. Lokasi yang sering terinfeksi biasa merupakan daerah yang tumbuh
dengan cepat dan metafisis menyebabkan thrombosis dan nekrosis local serta pertumbuhan
bakteri pada tulang itu sendiri. Osteomielitis hematogen akut mempunyai perkembangan klinis
dan onset yang lambat.
b.

Osteomielitis direk

Disebabkan oleh kontak langsung dengan jaringan atau bakteri akibat trauma atau pembedahan.
Osteomielitis direk adalah infeksi tulang sekunder akibat inokulasi bakteri yang menyebabkan
oleh trauma, yang menyebar dari focus infeksi atau sepsis setelah prosedur pembedahan.
Manifestasi klinis dari osteomielitis direk lebih terlokasasi dan melibatkan banyak jenis
organisme.
2.

Osteomielitis sub-akut

Yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 1-2 bulan sejak infeksi pertama atau sejak penyakit
pendahulu timbul.
3.

Osteomielitis kronis

Yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 2 bulan atau lebih sejak infeksi pertama atau sejak
penyakit pendahulu timbul. Osteomielitis sub-akut dan kronis biasanya terjadi pada orang
dewasa dan biasanya terjadi karena ada luka atau trauma (osteomielitis kontangiosa), misalnya
osteomielitis yang terjadi pada tulang yang fraktur.

16

2.4 Etiologi
Osteomyelitis menurut penyebabnya adalah osteomyelitis biogenik yang paling sering :
1.

Staphylococcus (orang dewasa)

2.

Streplococcus (anak-anak)

3.

Pneumococcus dan Gonococcus


2.5 Manifestasi klinis

a. Fase akut
Fase sejak infeksi sampai 10-15 hari. Makin panas tinggi, nyeri tulang dekat sendi, tidak dapat
menggerakan anggota tubuh.
b. Fase kronik
Rasa sakit tidak begitu berat, anggota yang terkena merah dan bengkak dengan pus yang selalu
mengalir keluar dari sinus atau mengalami periode berulang nyeri, inflamasi, dan pengeluaran
pus. Infeksi derajat rendah dapat terjadi pada jaringan parut akibat kurangnya asupan darah.
2.6 Patofisiologi
Staphylococcus aureus merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi tulang.
Organisme patogenik lainnya yang sering dijumpai pada Osteomielitis meliputi :
Proteus, Pseudomonas, dan Escerichia Coli. Terdapat peningkatan insiden infeksi
resistensi penisilin, nosokomial, gram negative dan anaerobik. Awitan Osteomielitis
stelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan pertama (akut fulminan
stadium 1) dan sering berhubngan dengan penumpukan hematoma atau infeksi
superficial. Infeksi awitan lambat (stadium 2) terjadi antara 4 sampai 24 bulan setelah
pembedahan. Osteomielitis awitan lama (stadium 3) biasanya akibat penyebaran
hematogen dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah pembedahan. Respon inisial terhadap
infeksi adalah salah satu dari inflamasi, peningkatan vaskularisasi, dan edema. Setelah 2
atau 3 hari, trombisis pada pembuluh darah terjadi pada tempat tersebut, mengakibatkan
iskemia dan nefrosis tulang sehubungan dengan penigkatan tekanan jaringan dan
medula. Infeksi kemudian berkembang ke kavitas medularis dan ke bawah periosteum
dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya. Kecuali bila proses
infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan membentuk abses tulang. Pada perjalanan
alamiahnya, abses dapat keluar spontan namun yang lebih sering harus dilakukan insisi
dan drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk dalam dindingnya terbentuk daerah
jaringan mati (sequestrum) tidak mudah mencari dan mengalir keluar. Rongga tidak
17

dapat mengempis dan menyembuh, seperti yang terjadi pada jaringan lunak lainnya.
Terjadi pertumbuhan tulang baru(involukrum) dan mengelilingi sequestrum. Jadi
meskipun tampak terjadi proses penyembuhan, namun sequestrum infeksius kronis yang
ada tetap rentan mengeluarkan abses kambuhan sepanjang hidup penderita. Dinamakan
osteomielitis tipe kronik.

WOC

18

2.6 Pemeriksaan penunjang


1. Pemeriksaan darah
Sel darah putih meningkat sampai 30.000 L gr/dl disertai peningkatan laju endap darah
2. Pemeriksaan titer antibody anti staphylococcus
Pemeriksaan kultur darah untuk menentukan bakteri (50% positif) dan diikuti dengan uji
sensitivitas

3. Pemeriksaan feses
Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh bakteri
salmonella
4. Pemeriksaan biopsy tulang
Merupakan proses pengambilan contoh tissue tulang yang akan digunakan untuk
serangkaian tes.
5. Pemeriksaan ultra sound
Yaitu pemeriksaan yang dapat memperlihatkan adannya efusi pada sendi.
6. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan photo polos dalam 10 hari pertama tidak ditemukan kelainan radiologik. Setelah 2
minggu akan terlihat berupa refraksi tulang yang bersifat difus dan kerusakan tulang dan
pembentukan tulang yang baru.

Pemeriksaan tambahan :
1. Bone scan : dapat dilakukan pada minggu pertama
2. MRI: jika terdapat fokus gelap pada T1 dan fokus yang terang pada T2, maka
kemungkinan besar adalah osteomielitis.

19

2.7 Penatalaksanaan medis


1. Terapi
Osteomielitis hematogen akut paling bagus di obati dengan evaluasi tepat terhadap
mikroorganisme penyebab dan kelemahan mikroorganisme tersebut dan 4-6 minggu terapi
antibiotic yang tepat.
Debridement tidak perlu dilakukan jika telah cepat diketahui. Anjuran pengobatan sekarang
jarang memerlukan debridement. Bagaimana jika terapi antibiotic gagal, debridement dan
pengobatan 4-6 minggu dengan antibiotic parenteral sangat diperlukan. Setelah kultur
mikroorganisme dilakukan, regimen antibiotic parenteral (nafcillin[unipen] + cefotaxime lain
[claforan] atau ceftriaxone [rocephin]) diawali untuk menutupi gejala klinis organism tersangka.
Jika hasil kultur telah diketahui, regimen antibiotic ditinjau kembali. Anak-anak dengan
osteomielitis akut harus menjalani 2 minggu pengobatan dengan antiniotik parenteral sebelum
anak-anak diberikan antibiotic oral.
Osteomielitis kronis pada orang dewasa lebih sulit disembuhkan dan umumnya diobati
dengan antibiotic dan tindakan debridement. Terapi antibiotik oral tidak dianjurkan untuk
digunakan. Tergantung dari jenis osteomielitis kronis. Pasien mungkin diobati dengan antibiotik
parenteral selama 2-6 minggu. Bagaimanapun,tanpa debridement yang bagus, osteomielitis
kronis tidak akan merespon terhadap kebanyakan regiment antibiotic, berapa lama pun terapi
dilakukan. Terapi intravena untuk pasien rawat jalan menggunakan kateter intravena yang dapat
dipakai dalam jangka waktu lama (contohnya : kateter hickman) akan menurunkan masa rawat
pasien di rumah sakit.
Terapi secara oral menggunakan antibiotic fluoroquinolone untuk organism gram negative
sekarang ini digunakan pada orang dewasa dengan osteomielitis. Tidak ada fluoroquinolone yang
tersedia digunakan sebagai antistaphylococcus yang optimal, keuntungan yang paling penting
dari insidensi kebalnya infeksi nosokomial yang didapat dengan bakteri staphylococcus. Untuk
lebih lanjutnya, sekarang ini quinolone tidak menyediakan pengobatan
Daerah yang terkana harus diimobilisasi untuk mengurangi ketidak nyamanan dan mencegah
terjadinya fraktur. Dapat dilakukan rendaman salin hangat selama 20 menit beberapa kali per hari
untuk meningkatkan aliran darah.
Sasaran awal terapi adalah mengontrol dan menghentikan proses infeksi, Kultur darah dan
swab dan kultur abses dilakukan untuk mengidentifikasi organisme dan memilih antibiotika yang
terbaik. Kadang, infeksi disebabkan oleh lebih dari satu patogen.
20

Begitu spesimen kultur telah diperoleh, dimulai pemberian terapi antibiotika intravena,
dengan asumsi bahwa dengan infeksi staphylococcus yang peka terhadap penisilin semi sintetik
atau sefalosporin. Tujuannya adalah mengentrol infeksi sebelum aliran darah ke daerah tersebut
menurun akibat terjadinya trombosis. Pemberian dosis antibiotika terus menerus sesuai waktu
sangat penting untuk mencapai kadar antibiotika dalam darah yang terus menerus tinggi.
Antibiotika yang paling sensitif terhadap organisme penyebab yang diberikan bila telah
diketahui biakan dan sensitivitasnya. Bila infeksi tampak telah terkontrol, antibiotika dapat
diberikan per oral dan dilanjutkan sampai 3 bulan. Untuk meningkatkan absorpsi antibiotika oral,
jangan diminum bersama makanan.
Bila pasien tidak menunjukkan respons terhadap terapi antibiotika, tulang yang terkena harus
dilakukan pembedahan, jaringan purulen dan nekrotik diangkat dan daerah itu diiringi secara
langsung dengan larutan salin fisiologis steril. Tetapi antibitika dianjurkan.
Pada osteomielitis kronik, antibiotika merupakan ajuran terhadap debridemen bedah.
Dilakukan sequestrektomi (pengangkatan involukrum secukupnya supaya ahli bedah dapat
mengangkat sequestrum). Kadang harus dilakukan pengangkatan tulang untuk memajankan
rongga yang dalam menjadi cekungan yang dangkal (saucerization). Semua tulang dan kartilago
yang terinfeksi dan mati diangkat supaya dapat terjadi penyembuhan yang permanen.
Luka dapat ditutup rapat untuk menutup rongga mati (dead space) atau dipasang tampon agar
dapat diisi oleh jaringan granulasi atau dilakukan grafting dikemudian hari. Dapat dipasang
drainase berpengisap untuk mengontrol hematoma dan mebuang debris. Dapat diberikan irigasi
larutan salin normal selama 7 sampai 8 hari. Dapat terjadi infeksi samping dengan pemberian
irigasi ini.
Rongga yang didebridemen dapat diisi dengan graft tulang kanselus untuk merangsang
penyembuhan. Pada defek yang sangat besar, rongga dapat diisi dengan transfer tulang
berpembuluh darah atau flup otot (dimana suatu otot diambil dari jaringan sekitarnya namun
dengan pembuluh darah yang utuh). Teknik bedah mikro ini akan meningkatkan asupan darah;
perbaikan asupan darah kemudian akan memungkinkan penyembuhan tulang dan eradikasi
infeksi. Prosedur bedah ini dapat dilakukan secara bertahap untuk menyakinkan penyembuhan.
Debridemen bedah dapat melemahkan tulang, kemudian memerlukan stabilisasi atau
penyokong dengan fiksasi interna atau alat penyokong eksterna untuk mencegah terjadinya patah
tulang.

21

Pemberian antibiotic dapat dilakukan :


1. Melalui oral (mulut)
2. Melalui infuse : jika diberikan melalui infus, maka diberikan selama 2 minggu, kemudian
diganti menjadi melalui mulut. Jika dalam 24 jam pertama gejala tidak membaik, maka
perlu dipertimbangkan untuk dilakukan tindakan operasi untuk mengurangi tekanan yang
terjadi dan untuk mengeluarkan nanah yang ada. Etelah itu dilakukan irigasi secara
kontinyu dan dipasang drainase. Teruskan pemberian antiniotik selama 3-4 minggu
hingga nilai laju endap darah (LED) normal.
2.8 Komplikasi
1. Dini :
1)

Kekakuan yang permanen pada persendian terdekat (jarang terjadi)

2)
Abses yang masuk ke kulit dan tidak mau sembuh sampai tulang yang mendasarinya
sembuh
3)

Atritis septik
2. Lanjut :

1)
Osteomielitis kronik ditandai oleh nyeri hebat rekalsitran, dan penurunan fungsi tubuh
yang terkena
2)

Fraktur patologis

3)

Kontraktur sendi

4)

Gangguan pertumbuhan

22

2.9 Konsep Dasar Keperawatan


1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang
sistematis dalam pengumpulan data dari beberapa sumber data untuk mengevaluasi dan
mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam, 2001).
Pengkajian yang dilakukan pada klien dengan osteomielitis meliputi:
a)

Identifikasi klien

Terdiri dari nama, jenis kelamin, usia, status perkawinan,


pendidikan,bahasa yang digunakan, pekerjaan dan alamat.
b)
1)

agama,

suku

bangsa,

Riwayat keperawatan
Riwayat kesehatan masa lalu

Identifikasi adanya trauma tulang, fraktur terbuka,atau infeksi lainnya (bakteri


pneumonia,sinusitis,kulit atau infeksi gigi dan infeksi saluran kemih) pada masa lalu. Tanyakan
mengenai riwayat pembedahan tulang.
2)

Riwayat kesehatan sekarang


Apakah klien terdapat pembengkakan,adanya nyeri dan demam.

3)

Riwayat kesehatan keluarga


Adakah dalam keluarga yang menderita penyakit keturunan.

4)

Riwayat psikososial
Adakah ditemukan depresi, marah ataupun stress.

5)

Kebiasaan sehari-hari

a) Pola nutrisi

: anoreksia, mual, muntah.

b) Pola eliminasi : adakah retensi urin dan konstipasi.

23

c) Pola aktivitas : pola kebiasaan

6)

Pemeriksaan fisik

1. Pemeriksaan fisik dibagi menjadi dua yaitu pemeriksaan umum untuk mendapatkan

gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokal).


Keadaan umum meliputi:
1. Tingkat kesadaran (apatis, sopor, koma, gelisah, kompos mentis yang bergantung pada
keadaan klien).
2. Kesakitan atau keadaan penyakit (akut, kronis, ringan, sedang, dan pada kasus
osteomielitis biasanya akut).
Tanda-tanda vital tidak normal terutama pada osteomielitis dengan komplikasi septikimia.
1. B1 (Breathing). Pada inspeksi, didapat bahwa klien osteomielitis tidak mengalami
kelainan pernapasan. Pada palpasi toraks, ditemukan taktil fremitus seimbang kanan dan
kiri. Pada auskultasi, tidak didapat suara napas tambahan.
2. B2 (Blood). Pada inspeksi, tidak tampak iktus jantung. Palpasi menunjukan nadi
meningkat, iktus tidak teraba. Pada auskultasi, didapatkan S1 dan S2 tunggal, tidak ada
mundur.
3. B3 (Brain). Tingkat kesadaran biasanya kompos mentis.
a. Kepala
: Tidak ada gangguan (normosefalik, simetris, tidak ada
penonjolan tidak
ada sakit kepala).
b. Leher
: Tidak ada gangguan (simetris, tidak ada penonjolan,
reflex menelan ada).
c. Wajah
: Terlihat menahan sakit, tidak ada perubahan fungsi
atau bentuk.
d. Mata
: Tidak ada gangguan, seperti konjungtiva tidak anemis
(pada klien patah tulang tertutup karena tidak terjadi perdarahan). Klien
osteomielitis yang desrtai adanya malnutrisi lama biasanya mengalami
konjungtiva anemis.
e. Telinga
: Tes bisik atau Weber masih dalam keadaan normal.
Tidak ada lesi atau nyeri tekan.
f. Hidung
: Tidak ada deformitas, tidak ada pernafasan cuping
hidung.
g. Mulut dan faring
: Tidak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi
perdarahan, mukosa mulut tidak pucat.

24

h. Status mental
: Observasi penampilan dan tingkah laku klien.
Biasanya status mental tidak mengalami perubahan.

Pemeriksaan saraf cranial :


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Saraf I. Biasanya tidak ada kelainan fungsi penciuman.


Saraf II. Tes ketajaman penglihatan normal.
Saraf III,IV,dan VI. Biasanya tidak ada gangguan mengangkat kelopak mata, pupil isokor.
Saraf V. Klien osteomielitis tidak mengalami paralisis pada otot wajah dan reflex kornea
tidak ada kelainan.
Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal dan wajah simetris.
Saraf VIII. Tidak ditemukan tuli konduktif dan tuli persepsi.
Saraf IX dan X. Kemampuan menelan baik.
Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius.
Saraf XII. Lidah simetris, tidak da deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi. Indra
pengecapan normal.

Pemeriksaan reflex

: Biasanya tidak terdapat reflex patologis.

4. B4 (Bladder). Pengkajian keadaan urine meliputi warna, jumlah, karakteristik dan berat
jenis. Biasanya klien osteomielitis tidak mengalami kelainan pada system ini
.
5. B5 (Bowel). Inspeksi abdomen; Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia. Palpasi: Turgor
baik, hepar tidak teraba. Perkusi: Suara timpani, ada pantulan gelombang cairan.
Auskultasi: Peristaltik usus normal (20 kali/menit). Inguinal-genitalia-anus: Tidak ada
hernia, tidak ada pembesaran limfe,tidak ada kesulitan defekasi.Pola nutrisi dan
metabolisme.:Klien osteomielitis harus mengonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan seharihari,seperti kalsium, zat besi, protein, vitamin C, dan lainnya untuk membantu proses
penyembuhan infeksi tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien dapat membantu
menentukan penyebab masalah muskuloskletal dan mengantisipasi komplikasi dari
nutrisi yang tidak adekuat, terauma kalsium atau protein. Masalah nyeri pada
osteomielitis menebabkan klien kadang mual atau muntah sehingga pemenuhan nutrisi
berkurang. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan pola eliminasi, tetapi tetap perlu dikaji
frekuensi, konsistensi, warna, serta bau feces. Pada pola berkemih, dikaji frekuensi,
kepekatan, warna, bau, dan jumlah urine.
6. B6 (Bone). Adanya oteomielitis kronis dengan proses supurasi di tulang dan osteomielitis
yang menginfeksi sendi akan mengganggu fungsi motorik klien. Kerusakan integritas
jaringan pada kulit karena adanya luka disertai dengan pengeluaran pus atau cairan
bening berbau khas. Look. Pada osteomielitis hematogen akut akan ditemukan gangguan
pergerakan sendi karena pembengkakan sendi dan gangguan bertambah berat bila terjadi
spasme local. Gangguan pergerakan sendi juga dapat disebabkan oleh efusi sendi atau
25

infeksi sendi (arteritis septik). Secara umum, klien osteomielitis kronis menunjukkan
adanya luka khas yang disertai dengan pengeluaran pus atau cairan bening yang berasal
dari tulang yang mengalami infeksi dan proses supurasi. Manifestasi klinis osteomielitas
akibat fraktur terbuka biasanya berupa demam, nyeri, pembengkakan pada daerah
fraktur, dan sekresi pus pada luka. Move. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada
gangguan gerak (Mobilitas) atau tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan
pasif. Pemeriksaan yang didapat adalah adanya gangguan/keterbatasan gerak sendi pada
osteomielitis akut. Pola tidur dan istirahat. Semua klien osteomielitis merasakan nyeri
sehingga dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur. Pengkajian yang dilakukan adalah
lama tidur, suasana, kebiasaan, dan kesulitan serta penggunaan obat tidur.
Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan tentang respon manusia dari
individu atau kelompok dimana perawat secara akountabilitas dapat mengidentifikasi dan
memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan.
Diagnosa pada pasien dengan osteomielitis adalah sebagai berikut (Marlyn E. Doengoes :
hal ) :
a)

Nyeri b.d inflamasi dan pembengkakan.

b)

Kerusakan mobilitas fisik b.d nyeri

c)

Gangguan intergritas kulit b.d efek pembedahan ; imobilisasi.

d)

Resiko terhadap penyebaran infeksi b.d pembentukan abses tulang, kerusakan kulit
3. Rencana Keperawatan
Nyeri b.d inflamasi dam pembengkakan

1
.

Nyeri
Definisi :
Sensori yang tidak
menyenangkan dan
pengalaman emosional
yang muncul secara
aktual atau potensial
kerusakan jaringan atau
menggambarkan adanya
kerusakan (Asosiasi
Studi Nyeri

NOC :
Pain Level,
Pain control,
Comfort level

NIC :
Pain Management

Lakukan pengkajian nyeri secara


Kriteria Hasil :
komprehensif termasuk lokasi,
o Mampu mengontrol nyeri
karakteristik, durasi, frekuensi,
(tahu penyebab nyeri,
kualitas dan faktor presipitasi
mampu
menggunakan Observasi reaksi nonverbal dari
tehnik
nonfarmakologi
ketidaknyamanan
untuk mengurangi nyeri,
Gunakan teknik komunikasi terapeutik
mencari bantuan)
26

Internasional): serangan o Melaporkan bahwa nyeri


mendadak atau pelan
berkurang
dengan
intensitasnya dari ringan
menggunakan manajemen
sampai berat yang dapat
nyeri
diantisipasi dengan
o Mampu mengenali nyeri
akhir yang dapat
(skala,
intensitas,
diprediksi dan dengan
frekuensi dan tanda nyeri)
durasi kurang dari 6
o Menyatakan rasa nyaman
bulan.
setelah nyeri berkurang
o Tanda vital dalam rentang
Batasan karakteristik :
normal
Laporan secara
verbal atau non
verbal
Fakta dari observasi
Posisi antalgic
untuk menghindari
nyeri
Gerakan
melindungi
Tingkah laku
berhati-hati
Muka topeng
Gangguan tidur
(mata sayu, tampak
capek, sulit atau
gerakan kacau,
menyeringai)
Terfokus pada diri
sendiri
Fokus menyempit
(penurunan persepsi
waktu, kerusakan
proses berpikir,
penurunan interaksi
dengan orang dan
lingkungan)
Tingkah laku
distraksi, contoh :
jalan-jalan,
menemui orang lain
dan/atau aktivitas,
aktivitas berulangulang)
Respon autonom
(seperti diaphoresis,
perubahan tekanan
darah, perubahan
nafas, nadi dan

untuk mengetahui pengalaman


nyeri pasien
Kaji kultur yang mempengaruhi
respon nyeri
Evaluasi pengalaman nyeri masa
lampau
Evaluasi bersama pasien dan tim
kesehatan
lain
tentang
ketidakefektifan kontrol nyeri masa
lampau
Bantu pasien dan keluarga untuk
mencari dan menemukan dukungan
Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan,
pencahayaan
dan
kebisingan
Kurangi faktor presipitasi nyeri
Pilih dan lakukan penanganan nyeri
(farmakologi, non farmakologi dan
inter personal)
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
Ajarkan
tentang
teknik
non
farmakologi
Berikan analgetik untuk mengurangi
nyeri
Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan dokter jika ada
keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil
Monitor penerimaan pasien tentang
manajemen nyeri
Analgesic Administration
Tentukan lokasi, karakteristik,
kualitas, dan derajat nyeri
sebelum pemberian obat
Cek instruksi dokter tentang jenis
obat, dosis, dan frekuensi
Cek riwayat alergi
Pilih analgesik yang diperlukan
atau kombinasi dari analgesik
ketika pemberian lebih dari satu
Tentukan
pilihan
analgesik
tergantung tipe dan beratnya
27

dilatasi pupil)
Perubahan
autonomic dalam
tonus otot
(mungkin dalam
rentang dari lemah
ke kaku)
Tingkah laku
ekspresif (contoh :
gelisah, merintih,
menangis, waspada,
iritabel, nafas
panjang/berkeluh
kesah)
Perubahan dalam
nafsu makan dan
minum

nyeri
Tentukan analgesik pilihan, rute
pemberian, dan dosis optimal
Pilih rute pemberian secara IV,
IM untuk pengobatan nyeri
secara teratur
Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik
pertama kali
Berikan analgesik tepat waktu
terutama saat nyeri hebat
Evaluasi efektivitas analgesik,
tanda dan gejala (efek samping)

Faktor yang
berhubungan :
Agen injuri (biologi,
kimia, fisik, psikologis)

Gangguan mobilitas fisik b.d Nyeri


Gangguan mobilitas
fisik b/d kerusakan
neuromuskuler
Definisi :

Keterbatasan dalam
kebebasan untuk
pergerakan fisik
tertentu pada bagian
tubuh atau satu atau
lebih ekstremitas

NOC :
Joint Movement : Active
Mobility Level
Self care : ADLs
Transfer performance

Kriteria Hasil :
Klien meningkat dalam
aktivitas fisik
Mengerti tujuan dari
peningkatan mobilitas
Memverbalisasikan perasaan
dalam meningkatkan
Batasan karakteristik :
kekuatan dan kemampuan
Postur tubuh yang
berpindah
Memperagakan penggunaan
tidak stabil
alat Bantu untuk mobilisasi
selama
(walker)
melakukan
kegiatan rutin
harian
Keterbatasan
kemampuan

NIC :
Exercise therapy : ambulation
Monitoring
vital
sign
sebelm/sesudah latihan dan lihat
respon pasien saat latihan
Konsultasikan dengan terapi fisik
tentang rencana ambulasi sesuai
dengan kebutuhan
Bantu klien untuk menggunakan
tongkat saat berjalan dan cegah
terhadap cedera
Ajarkan pasien atau tenaga
kesehatan lain tentang teknik
ambulasi
Kaji kemampuan pasien dalam
mobilisasi
Latih pasien dalam pemenuhan
kebutuhan ADLs secara mandiri
sesuai kemampuan
Dampingi dan Bantu pasien saat
mobilisasi dan bantu penuhi
28

untuk melakukan
keterampilan
motorik kasar
Keterbatasan
kemampuan
untuk melakukan
keterampilan
motorik halus
Tidak ada
koordinasi atau
pergerakan yang
tersentak-sentak
Keterbatasan
ROM
Kesulitan
berbalik (belok)
Perubahan gaya
berjalan (Misal :
penurunan
kecepatan
berjalan,
kesulitan
memulai jalan,
langkah sempit,
kaki diseret,
goyangan yang
berlebihan pada
posisi lateral)
Penurunan waktu
reaksi
Bergerak
menyebabkan
nafas menjadi
pendek
Usaha yang kuat
untuk perubahan
gerak
(peningkatan
perhatian untuk
aktivitas lain,
mengontrol
perilaku, fokus
dalam anggapan
ketidakmampuan
aktivitas)
Pergerakan yang
lambat
Bergerak
menyebabkan

kebutuhan ADLs ps.


Berikan alat Bantu jika klien
memerlukan.
Ajarkan pasien bagaimana
merubah posisi dan berikan
bantuan jika diperlukan

29

tremor
Faktor yang
berhubungan :
Pengobatan

Terapi
pembatasan gerak
Kurang
pengetahuan
tentang kegunaan
pergerakan fisik
Indeks massa
tubuh diatas 75
tahun percentil
sesuai dengan
usia
Kerusakan
persepsi sensori
Tidak nyaman,
nyeri
Kerusakan
muskuloskeletal
dan
neuromuskuler
Intoleransi
aktivitas/penurun
an kekuatan dan
stamina
Depresi mood
atau cemas
Kerusakan
kognitif
Penurunan
kekuatan otot,
kontrol dan atau
masa
Keengganan
untuk memulai
gerak
Gaya hidup yang
menetap, tidak
digunakan,
deconditioning
Malnutrisi
selektif atau
umum

30

Kerusakan intergritas kulit b.d efek pembedahan ; imobilisasi.


Kerusakan integritas kulit
b/d penurunan imunitas

NOC : Tissue Integrity : Skin


and Mucous Membranes
Kriteria Hasil :
Integritas kulit yang baik
bisa
dipertahankan
(sensasi,
elastisitas,
temperatur,
hidrasi,
pigmentasi)
Tidak ada luka/lesi pada
kulit
Perfusi jaringan baik
Menunjukkan
pemahaman dalam proses
perbaikan
kulit
dan
mencegah
terjadinya
sedera berulang
Mampu melindungi kulit
dan
mempertahankan
kelembaban kulit dan
perawatan alami

NIC : Pressure Management

Anjurkan pasien untuk menggunakan


pakaian yang longgar

Hindari kerutan padaa tempat tidur

Jaga kebersihan kulit agar tetap


bersih dan kering

Mobilisasi pasien (ubah


pasien) setiap dua jam sekali

Monitor
kulit
kemerahan

Oleskan lotion atau minyak/baby oil


pada derah yang tertekan

Monitor aktivitas dan mobilisasi


pasien

Monitor status nutrisi pasien

akan

posisi

adanya

Resiko infeksi b.d pembentukan abses tulang, kerusakan kulit


Resiko infeksi
Definisi : Peningkatan
resiko masuknya
organisme patogen
Faktor-faktor resiko :
Prosedur Infasif
Ketidakcukupan
pengetahuan untuk
menghindari paparan
patogen
Trauma
Kerusakan jaringan
dan peningkatan

NOC :
Immune Status
Knowledge : Infection
control
Risk control
Kriteria Hasil :
Klien bebas dari tanda dan
gejala infeksi
Mendeskripsikan proses
penularan penyakit, factor
yang
mempengaruhi
penularan
serta
penatalaksanaannya,
Menunjukkan kemampuan
untuk mencegah timbulnya

NIC :
Infection Control (Kontrol infeksi)
Bersihkan
lingkungan
setelah
dipakai pasien lain
Pertahankan teknik isolasi
Batasi pengunjung bila perlu
Instruksikan pada pengunjung untuk
mencuci tangan saat berkunjung dan
setelah berkunjung meninggalkan
pasien
Gunakan sabun antimikrobia untuk
cuci tangan
Cuci tangan setiap sebelum dan
sesudah tindakan kperawtan
31

paparan lingkungan
Ruptur membran
amnion
Agen farmasi
(imunosupresan)
Malnutrisi
Peningkatan paparan
lingkungan patogen
Imonusupresi
Ketidakadekuatan
imum buatan
Tidak adekuat
pertahanan sekunder
(penurunan Hb,
Leukopenia,
penekanan respon
inflamasi)
Tidak adekuat
pertahanan tubuh
primer (kulit tidak
utuh, trauma
jaringan, penurunan
kerja silia, cairan
tubuh statis,
perubahan sekresi
pH, perubahan
peristaltik)
Penyakit kronik

infeksi

Jumlah leukosit dalam batas


normal

Menunjukkan perilaku
hidup sehat

Gunakan baju, sarung tangan


sebagai alat pelindung
Pertahankan lingkungan aseptik
selama pemasangan alat
Ganti letak IV perifer dan line
central dan dressing sesuai dengan
petunjuk umum
Gunakan kateter intermiten untuk
menurunkan
infeksi
kandung
kencing
Tingktkan intake nutrisi
Berikan terapi antibiotik bila perlu

Infection
Protection
(proteksi
terhadap infeksi)

Monitor tanda dan gejala


infeksi sistemik dan lokal

Monitor hitung granulosit,


WBC

Monitor kerentanan terhadap


infeksi

Batasi pengunjung

Saring pengunjung terhadap


penyakit menular

Partahankan teknik aspesis pada


pasien yang beresiko

Pertahankan teknik isolasi k/p

Berikan perawatan kuliat pada


area epidema

Inspeksi kulit dan membran


mukosa terhadap kemerahan, panas,
drainase

Ispeksi kondisi luka / insisi


bedah

Dorong masukkan nutrisi yang


cukup

Dorong masukan cairan

Dorong istirahat

Instruksikan
pasien
untuk
minum antibiotik sesuai resep

Ajarkan pasien dan keluarga


tanda dan gejala infeksi

Ajarkan
cara
menghindari
infeksi

Laporkan kecurigaan infeksi


32

Laporkan kultur positif

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Osteomielitis merupakan infeksi tulang ataupun sum-sum tulang, biasanya disebabkanoleh bakteri
piogenik atau mikobakteri. Osteomielitis bisa mengenai semua usia tetapi umumnyamengenai anak-anak dan
orang tua. Oteomielitis umumnya disebabkan oleh bakteri, diantaranyadari species staphylococcus dan
stertococcus. Selain bakteri, jamur dan virus juga dapatmenginfeksi langsung melalui fraktur terbuka. Tibia bagian
distal, femur bagian distal, humerus ,radius dan ulna bagian proksimal dan distal, vertebra, maksila, dan mandibula
merupakan tulangyang paling beresiko untuk terkena osteomielitis karena merupakan tulang yang banyak
vaskularisasinya.

33

Berdasarkan lama infeksi, osteomielitis terbagi menjadi 3, yaitu : osteomielitis akut, subakut dan kronis.
Gambaran klinis terlihat daerah diatas tulang bisa mengalami luka danmembengkak, dan pergerakan akan
menimbulkan nyeri. Osteomielitis menahun seringmenyebabkan nyeri tulang, infeksi jaringan lunak diatas tulang
yang berulang dan pengeluarannanah yang menetap atau hilang timbul dari kulit. Pengeluaran nanah terjadi jika
nanah daritulang yang terinfeksi menembus permukaan kulit dan suatu saluran (saluran sinus) terbentuk dari
tulang menuju kulit.Oteomielitis didiagnosis banding dengan osteosarkoma dan Ewing sarkoma sebabmemiliki
gambaran radiologik yang mirip.
Gambaran radiologik osteomielitis baru terlihatsetelah 10-14 hari setelah infeksi, yang akan
memperlihatkan reaksi periosteal, sklerosis,sekwestrum dan involikrum.Osteomielitis dapat diobati dengan terapi
antibiotik selama 2-4 minggu atau dengandebridement. Prognosis osteomielitis bergantung pada lama perjalanan
penyakitnya, untuk yangakut prognosisnya umumnya baik, tetapi yang kronis umumnya buruk.

3.2 Saran
Makalah sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami sebagai kelompok mengharapkan kritikan
dan saran dari dosen pembimbing dan teman teman sesama mahasiswa. Selain itu penyakit osteomilitis ini
sangat berbahaya dan kita sebagai host harus bisa menerapkan pola hidup sehat agar kesehatan kita tetap terjaga

34