Anda di halaman 1dari 26

REFERAT

PEMERIKSAAN PSIKIATRI

Ratu Suci Anggraini H

030.10.232

Adelita Yuli Hapsari

030.10.003

Elbert Wiradarma

030.10.091

Tri Handayani

030.10.269

Ryan Fernandi

030.10.243

Angga Haditya

030.09.022

Trian Satrio

030.10.272

Muhammad Ridwan F

030.10.195

Melissa Mauli Sibarani

030.10.176

Ula Inda Ramadhani

030.10.273

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA


RUMAH SAKIT JIWA Prof. Dr. SOEROJO MAGELANG
PERIODE 01 FEBRUARI 2016 04 MARET 2016
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
0

BAB I
PENDAHULUAN
Pemeriksaan psikiatri (gangguan jiwa) berbeda dengan pemeriksaan medis
umum karena pasien tidak sepenuhnya memiliki kemampuan untuk menyadari
adanya gangguan psikiatri dan bahkan pasien dapat datang dengan beberapa keluhan
somatik/fisik. Dokterpun kadang meremehkan keberadaan gangguan mental, bahkan
beberapa tidak yakin bahwa gangguan psikiatri sebagai gangguan medis yang nyata
dan hanya menfokuskan pada keluhan fisik.
Wawancara psikiatrik yang baik merupakan salah satu modal dasar yang harus
dimiliki oleh psikiater karena wawancara selain merupakan alat untuk mendapatkan
data juga harus bersifat terapetik Selama melakukan wawancara, kita harus
mengidentifikasi psikopatologi yang terdapat pada pasien, menginterpretasikan
psikopatologi itu ke dalam suatu gejala atau sindroma klinik yang esensial untuk
dapat menegakkan diagnosis (dalam hal ini diagnosis multiaksial dengan
menggunakan kriteria PPDGJIII) melalui suatu proses yang efisien.
Ketrampilan Klinik Dasar Psikiatri ini dirancang agar seorang dokter umum mampu
melaksanakan pemeriksaan psikiatrik untuk dapat menegakkan diagnosis multiaksial
berdasarkan PPDGJ III. Fokus pembelajaran dan pelatihan serta evaluasi kinerja
mengacu

pada

tingkat

kompetensi

keterampilan

yang

terintegrasi

dengan

pengetahuan esensial dan perilaku terpuji.

BAB II
PEMERIKSAAN PSIKIATRIK
II.1

WAWANCARA
Untuk mengobati seorang pasien psikiatrik, secara efektif, apakah dengan

medikasi, manipulasi lingkungan atau psikoterapi-psikodinamika, maka seorang


dokter psikiatrik harus membuat diagnosis yang akurat dan dapat dipercaya. Dan
untuk menyusun sebuah diagnosis yang baik, maka dokter tersebut haruslah belajar
mengenai pengaruh-pengaruh genetika, temperamental, biologi, perkembangan
sosial, dan psikologis. Seorang dokter psikiatrik seharusnya mampu untuk
menyampaikan keprihatinan, empati, rasa hormat, dan menciptakan suatu rapport dan
kepercayaan yang memungkinkan pasien untuk berbicara secara jujur dan akrab.1
Wawancara psikiatrik adalah suatu wawancara yang dilakukan oleh seorang
dokter dan pasien psikiatik yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi penting
untuk menilai kondisi pasien dan membentuk hubungan terapetik antara dokter dan
pasien. Dalam wawancara psikiatrik biasanya pasien mengungkapkan hal-hal yang
bersifat pribadi dan intim tentang penderitaan dan kehidupannya kepada dokter.
Wawancara ini dapat menjadi sulit karena tidak semua pasien psikiatri secara sukarela
mencari pertolongan dokter, sehingga keinginan untuk bekerja sama terganggu,
misalnya pada seorang psikiatrik yang diantar oleh polisi atau keluarganya. Dengan
demikian maka sebagian besar waktu dokter untuk mendengarkan, pengamatan, dan
interpretasi yang sangat penting untuk menegakkan diagnosis yang tepat.2
Dokter psikiatrik harus mengembangkan keterampilan dan teknik wawancara
paling efektif yang memungkinkan pasien menggambarkan tanda dan gejala yang
secara bersama-sama berperan dalam berbagai sindroma yang kemungkinan dapat
dijelaskan dan diobati. Pasien-pasien terentang dari mereka yang pandai berbicara
dengan jelas, dan mudah untuk diikutsertakan sampai mereka yang mengalami
gangguan berpikir, paranoid, berespon terhadap stimuli internal, dan mengalami
disorganisasi yang berat. Wawancara itu sendiri mungkin bervariasi, tergantung pada
2

tantangan spesifik yang ditemukan pada tiap-tiap pasien. Beberapa teknik adalah
berlaku universal pada semua situasi, teknik lain terutama dapat diterapkan pada jenis
wawancara tertentu. 1
Nancy Anderson dan Donald Black telah menuliskan 11 teknik yang sering
pada sebagian besar situasi wawancara psikiatrik.1
1. Dapatkan rapport seawall mungkin pada wawancara
2. Tentukan keluhan utama pasien
3. Gunakan keluhan utama untuk mengembangkan diagnosis banding sementara
4. Singkirkan atau masukkan berbagai kemungkinan diagnostic dengan
menggunakan pertanyaan yang terpusat dan terperinci
5. Ikuti jawaban yang samar-samar atau tak jelas dengan cukup gigih untuk
menentukan dengan akurat jawaban atas pertanyaan
6. Biarkan pasien berbicara dengan cukup bebas untuk mengamati bagaimana
kuatnya pikiran berkaitan
7. Gunakan campuran pertanyaan terbuka dan tertutup
8. Jangan takut untuk menanyakan tentang topic yang anda atau pasien rasakan
sulit atau memalukan
9. Tanyakan tentang pikiran atau ide bunuh diri
10. Berikan pasien kesempatan untuk menanyakan pertanyaan pada akhir
wawancara
11. Simpulkan wawancara awal dengan mendapatkan rasa kepercayaan, dan jika
mungkin harapan.
Dengan persiapan-persiapan di atas maka seorang dokter psikiatri dapat
membuat sebuah wawancara yang baik, memperoleh kepercayaan dari pasien, yang
dapat digunakan untuk membuat suatu diagnosis yang tepat.

II.1.1 Penatalaksanaan Waktu


3

Untuk sebuah konsultasi awal hendaklah suatu wawancara berkisar antara 30


menit hingga 1 jam, tergantung pada keadaan. Wawancara dengan pasien psikotik
atau pada pasien dengan penyakit medis biasanya singkat, hal ini dikarenakan oleh
pasien yang mungkin merasakan bahwa wawancara adalah suatu hal yang
menegangkan. Wawancara yang panjang mungkin diperlukan di ruang gawat darurat.
Kunjungan yang kedua maupun kunjungan selanjutnya beserta wawancara psikiatrik
yang terus menerus juga bervariasi dalam lamanya. 1
Penatalaksanaan waktu perjanjian juga mengungkapkan aspek penting dari
kepribadian dan penanganan. Seringkali, pasien datang lebih awal baik beberapa
menit maupun jam dan mungkin sangat awal. Dari sini kita menggali suatu
kesimpulan apakah pasien sedang mengalami suatu kecemasan ataupun suatu
kebutuhan yang mendesak (dalam hal ini dapat dianggap sebagai suatu petunjuk berat
ringannya suatu keluhan). Dan jika pasien terlambat atau bahkan absen maka dapat
pula ditanyakan penyebab keterlambatannya apakah karena lupa ataupun disebabkan
suatu keengganan untuk berkunjung dan berobat ke dokter.1
Bagi dokter psikiatrik itu sendiri waktu juga merupakan suatu hal yang
penting di dalam wawancara. Jika seorang dokter psikiatrik sungguh-sungguh tidak
dapat menghindarkan keterlambatan untuk suatu wawancara, sebaiknya dokter dapat
mengungkapkan penyesalannya. Hal ini berguna untuk menjaga sebuah hubungan
yang baik antara pasien dengan seorang dokter.
Pada umumnya setelah wawancara yang pertama, wawancara yang berikutnya
memungkinkan seorang pasien untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan informasi
yang telah diberikan pada kesalahan pertama. Untuk itu perlu untuk ditanyakan
apakah ia telah berpikir mengenai wawancara yang pertama. Pada umumnya, saat
rasa nyaman dan akrab pasien dengan dokter meningkat, mereka menjadi semakin
mampu untuk mengungkapkan perincian tentang kehidupan mereka.1
II.1.2 Susunan Tempat Duduk
Cara kursi disusun di tempat periksa dokter psikiatrik dapat mempengaruhi
wawancara. Kedua kursi harus kira-kira sama tingginya, sehingga tidak ada yang
4

melihat ke bawah untuk melihat lawan bicaranya. Sebagian besar dokter psikiatrik
berpikir bahwa lebih disukai untuk menyusun kursi tanpa adanya perabot lain di
antara dokter dan pasien. Jika terdapat beberapa kursi, maka dokter psikiatrik
menentukan kursinya sendiri dan selanjutnya membiarkan pasien memilih kursi di
mana ia akan merasa paling nyaman.1
Jika pasien yang sedang diwawancara adalah seorang yang kira-kira
berbahaya, maka pintu ruang wawancara harus dibiarkan terbuka, dokter psikiatrik
harus duduk di tempat yang paling dekat dengan pintu, tanpa ada sesuatu yang
menghalangi gerak dokter menuju pintu, dan jika diperlukan orang ketiga harus
diminta untuk berdiri di luar atau bahkan di dalam ruangan, untuk berjaga-jaga jika
terdapat masalah.1
II.1.3 Tempat Periksa Dokter Psikiatrik
Seorang dokter psikiatrik tidak boleh tidak dikenal sama sekali oleh
pasiennya. Oleh karena itu perlu bagi seorang dokter psikiatrik untuk membangun
sebuah image yang baik kepada pasien mengenai kepribadiannya. Hal ini dapat
dibangun antara lain melalui suasana tempat pemeriksaan. Sebagai contoh, kerapihan,
kebersihan ruangan, keserasian antara warna dinding ruangan, lukisan, perabotan dan
tanaman, foto pribadi serta diploma di dinding. Hal ini secara tidak langsung
menggambarkan sebagian mengenai diri dokter psikiatrik walaupun tidak
diungkapkan secara verbal.1
II.1.4 Membuat Catatan
Untuk alasan legalitas dan medis, suatu catatan tertulis yang adekuat tentang
tiap-tiap pasien harus dibuat. Catatan pasien juga membantu ingatan dokter psikiatrik
mengenai riwayat penyakit dan pengobatan pasien. Tiap-tiap klinisi harus membuat
suatu sistem penyimpanan catatan dan memutuskan informasi mana yang akan
dicatat. 1
II.1.5 Melakukan Wawancara Situasi
Wawancara dilakukan tergantung pada keadaan di mana wawancara
dilakukan, tujuan wawancara, kekuatan, kelemahan dan diagnosis pasien tertentu.
5

Pasien yang mempunyai diagnosis psikiatrik yang berbeda adalah berbeda dalam
kemampuannya untuk berperan serta dalam wawancara dan berbeda dalam tantangan
yang diberikannya pada dokter psikiatrik yang melakukan wawancara. Tema tertentu
yang konsisten seringkali terlihat dalam wawancara dengan pasien tertentu yang
mempunyai diagnosis yang sama, walaupun, bahkan dengan diagnosa yang sama,
pasien mungkin memerlukan strategi wawancara yang cukup berbeda. Contohnya
pada pasien dengan depresi dan kemungkinan bunuh diri tentu saja cara
penanganannya berbeda dengan pasien yang diduga menderita gangguan afek
maniakal ataupun skizofrenia. Teknik ini juga membutuhkan kepekaan hati dari
seorang psikiatri untuk menyelami hati seorang pasien dan melihat ke dasar hatinya
mengenai penderitaan yang dialaminya sehingga kita dapat membangun sebuah
hubungan yang baik dengan pasien dengan cara membangun kepercayaan dengan
pasien sehingga pasien dapat menceritakan dengan sejujurnya apa yang menjadi
bebannya, penderitaan dan ketidakmampuannya sehingga memudahkan bagi seorang
psikiatri untuk menemukan penyebab apa yang dikeluhkan oleh pasien tersebut.3
a. Pasien depresi dan kemungkinan bunuh diri
Pasien depresi seringkali tidak mampu untuk bercerita secara spontan dan
adekuat mengenai penyakitnya karena faktor-faktor tertentu seperti retardasi
psikomotor dan keputusasaan. Dokter psikiatrik harus siap untuk bertanya secara
spesifik pada seseorang yang mengalami depresi tentang riwayat dan gejala yang
berhubungan dengan depresi. termasuk pertanyaan tentang ide bunuh diri, di
mana pasien pada awalnya tidak sukarela. Alasan lain untuk bersikap spesifik
dalam bertanya kepada pasien depresi adalah bahwa pasien mungkin tidak
menyadari bahwa gejala tertentu seperti berjalan selama malam atau
meningkatnya keluhan somatik adalah berhubungan dengan gangguan depresi. 1
Salah satu aspek yang paling sulit dalam menghadapi pasien depresi adalah
mengalami keputusasaannya. Banyak pasien yang mengalami depresi berat
percaya bahwa perasaanya yang sekarang akan terus tidak terbatas dan tidak ada
harapan. Dokter psikiatrik harus berhati-hati untuk tidak menentramkan pasien
6

tersebut secara prematur bahwa segala sesuatu akan menjadi baik, karena pasien
kemungkinan akan merasakan penentraman tersebut sebagai suatu indikasi
bahwa dokter psikiatrik tidak mengerti derajat penderitaan yang mereka rasakan.
Pendekatan yang tepat bagi dokter psikiatrik adalah menyatakan bahwa ia
merasakan betapa sulitnya perasaan pasien, bantuan tersebut tentu dimungkinkan
dan pada saat itu dapat dimengerti bahwa pasien tidak percaya bahwa mereka
akan ditolong. Selain itu, dokter psikiatrik harus memperjelas bahwa ia
memutuskan untuk membantu pasien agar merasa lebih baik. Tiap orang yang
mengalami depresi berharap secara disadari maupun tidak disadari, bahwa dokter
psikiatrik akan secara ajaib dan segera menyembuhkan mereka, tetapi sebagian
besar orang yang mau mengikuti jalur terapetik bahkan jika sebagian dari mereka
percaya bahwa tidak ada harapan. Dokter psikiatrik yang melakukan wawancara
harus berhati-hati untuk tidak membuat janji bahwa pengobatan spesifik adalah
pemecahannya. Jika pengobatan tersebut ternyata tidak bekerja pada pasien,
kekecewaan akan menghilangkan harapan terakhir pasien.1
Permasalahan khusus saat mewawancarai pasien yang mengalami depresi
adalah kemungkinan untuk bunuh diri. Ingatlah bahwa kemungkinan bunuh diri
adalah sangat penting, jika melakukan wawancara pada setiap pasien depresi,
bahkan jika tidak tampak resiko bunuh diri.

b. Pasien kasar
Pasien yang kasar tidak boleh diwawancarai sendirian. Sekurangnya
satu orang lainnya harus selalu ada. Di dalam situasi tertentu orang tersebut
harus dijaga oleh seorang petugas keamanan atau polisi. Tindakan berjagajaga lainnya adalah dengan membiarkan pintu ruang wawancara terbuka dan
pewawancara duduk diantara pasien dan pintu, sehingga pewawancara
mempunyai jalan keluar yang tidak terhalangi jika diperlukan. Dokter harus
memperjelas dengan cara yang tegas tetapi tidak dengan dengan kemarahan,

bahwa pasien boleh mengatakan atau merasakan sesuatu tetapi tidak bebas
untuk bertindak dengan cara kekerasan.1
c. Pasien dengan waham
Waham dari seorang pasien tidak boleh ditentang secara langsung.
Waham mungkin merupakan pikiran sebagai suatu strategi pertahanan dan
perlindungan diri pasien, walaupun maladaptif yaitu untuk melawan ancaman
kecemasan, penurunan harga diri dan kebingungan.1
Menantang suatu waham dengan menegaskan bahwa hal tersebut tidak
benar atau tidak mungkin hanya meningkatkan kecemasan pasien dan
seringkali

menyebabkan

pasien

yang

terancam

mempertahankan

keyakinannya bahkan secara mati-matian. Tidak dianjurkan untuk berpurapura mempercayai waham pasien.1
II.2 FORMULASI LAPORAN PSIKIATRIK
Formulasi psikiatrik adalah suatu susunan / rangkaian laporan yang di
dalamnya termuat hal-hal yang penting dalam pemeriksaan psikiatri baik dari
wawancara maupun observasi terhadap pasien. Pemeriksaan psikiatri dan status
mental sangat berperan penting dalam hal penegakan diagnosa oleh karena itu kedua
bagian ini haruslah dibuat dan dilaporkan dengan sedetail dan seinformatif mungkin
agar memudahkan para dokter psikiatri untuk menarik kesimpulan dari hasil
pemeriksaan psikiatri serta menyingkirkan diagnosa-diagnosa pembanding sehingga
didapatkan suatu diagnosa yang tepat dan dapat pula dilakukan pengobatan ataupun
terapi yang tepat agar pasien dapat menjalani lagi kehidupannya dengan lebih baik.2
Dengan selesainya suatu wawancara dan observasi maka hasil dari pemeriksaan
tersebut dapat dituangkan dalam suatu laporan yang disebut laporan psikiatrik. Laporan ini
berisi riwayat psikiatrik dan hasil dari pemeriksaan mental dari pasien. Laporan ini mengikuti
garis besar dari riwayat psikiatrik dan pemeriksaan status mental dasar. Di dalam laporan
psikiatrik ini pemeriksa melaporkan hal-hal sebagai berikut : 3

1.

Pengungkapan pertanyaan penting, tentang pemeriksaan diagnosa lanjutan


yang harus dilakukan.

2.

Penambahan suatu ringkasan tentang temuan positif dan negatif.


8

3.

Membuat suatu diagnosis multiaksial sementara.

4.

Memberikan prognosis.

5.

Memberikan formulasi psikodinamika.

6.

Memberikan suatu kumpulan anjuran penatalaksanaan.


Dalam penyusunan suatu laporan psikiatrik diperlukan suatu formulasi yang

baku yang telah disepakati oleh suatu komunitas kedokteran dunia sehingga
memudahkan para dokter psikiatri untuk mencari data dan mengumpulkan informasi
yang membantu dokter tersebut untuk dalam menegakkan diagnosis.
II.3 KOMPONEN PEMERIKSAAN PSIKIATRIK
II.3.1 Riwayat Psikiatri
Riwayat psikiatri adalah suatu catatan mengenai kehidupan pasien. Catatan ini
memungkinkan seorang psikiater untuk memahami siapa pasiennya, dari mana pasien
berasal, dan kemana kemungkinan pasien pergi di masa yang akan datang. Riwayat
adalah suatu cerita kehidupan dari pasien yang diceritakannya kepada psikiater
dengan menggunakan bahasa dari pasien sendiri serta berdasarkan sudut pandang dari
pasien itu sendiri. Seringkali, riwayat ini juga mengandung informasi yang tidak
hanya diperoleh dari pasien sendiri tetapi juga berasal dari sumber-sumber yang lain,
seperti orang tua, pasangan hidup dari pasien, ataupun dari teman-teman pasien.
Memperoleh suatu cerita yang lengkap yang berasal dari pasien dan bila perlu berasal
dari sumber-sumber yang informative dan dapat dipercaya adalah amat sangat
penting untuk membuat diagnosis yang tepat dan menyusun rencana pengobatan yang
efektif dan spesifik. Seperti telah disebutkan diatas bahwa riwayat psikiatrik dengan
riwayat yang didapat pada kedokteran umum sedikit berbeda karena yang digali pada
riwayat kedokteran psikiatri adalah suatu keadaan yang menceritakan kebiasaan
hidup, perilaku sehari-hari dari pasien sampai pada keadaan saat dia sakit, sedangkan
riwayat pada kedokteran umum menceritakan mengenai keadaan fisik seorang pasien
serta perubahan-perubahan yang terjadi secara fisik pada tubuh pasien yang
berhubungan dengan penyakit yang dideritanya. Riwayat psikiatrik memberikan
9

gambaran mengenai riwayat karakteristik kepribadian pasien secara individual


termasuk di dalamnya adalah kekurangan-kekurangan dan kelebihan-kelebihan dari
pasien tersebut.1
Berikut adalah keterangan mengenai garis besar dari riwayat psikiatrik :
a. Data Identifikasi
Meliputi pertanyaan tentang identitas dan orientasi. Bermanfaat untuk
administrasi dan agar tidak salah mengenali pasien. Selain itu, komponenkomponen ini ada kaitannya dengan penyakit tertentu. Misalnya schizophrenia
serangan pertamanya biasanya pada usia kurang dari 45 tahun, depresi lebih
banyak terjadi pada wanita. Daerah Blitar secara epidemiologis banyak
penduduknya yang terkena schizophrenia. Identifikasi pasien meliputi nama,
umur, jenis kelamin, alamat, suku bangsa/latar belakang, kebudayaan, status sipil,
pendidikan, dan pekerjaannya. Orientasi dinilai dengan menanyakan posisi pasien
sekarang dalam ruang dan waktu.

b. Keluhan Utama
Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan oleh pasien yang
menyebabkan ia datang atau dibawa untuk mendapatkan pertolongan.
Keluhan ini biasanya dikatakan dengan kata-kata pasien sendiri, ataupun jika
pasien tidak mampu untuk berbicara dengan baik maka gambaran tentang
orang yang memberikan informasi juga harus dimasukkan.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Bertolak dari keluhan utama yaitu permulaan gangguan
(gejala/tanda pertama) hingga keadaan sekarang. Susun
secara sistematis dan kronologis. Didapatkan dari anamnesa
baik

secara

heteroanamnesa

atas

ijin

penderita

(bila

diindikasikan agar secara cepat tahu gambaran gejala)


10

maupun autoanamnesa (dahulukan) dengan prinsip 5W+How.


Tanyakan fungsi jiwa secermat mungkin antara lain:
Afek emosi
: apa pasien pernah menangis/tertawa

tanpa sebab
Proses berfikir

: apakah pasien pernah berbicara

melantur. Rincilah apa yang dibicarakan nilailah bentuk


dan isi pikiran, sedangkan arus pikiran tidak bisa dinilai

karena tidak direkam saat itu.


Presepsi
: pernahkan melihat/mendengar sesuatu

yang tidak dilihat/didengar orang lain


Kemauan
: bagaimana tentang perawatan diri,

pekerjaan, pergaulan sosial


d. Riwayat Pribadi
Dalam rangka untuk mempelajari penyakit pasien sekarang dan situasi
kehidupan saat ini, seorang psikiater membutuhkan pemahaman yang
menyeluruh mengenai masa lalu dari pasien dan hubungannya dengan
masalah mental sekarang. Disini dicatat setiap perubahan emosi dari setiap
periode kehidupan. Riwayat pribadi terdiri dari saat :
i. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Seorang psikiatri harus memperhitungkan keadaan dan situasi rumah
di mana pasien dilahirkan dan apakah pasien adalah anak yang direncanakan
dan diinginkan untuk dilahirkan. Keadaan persalinan juga harus ditanyakan
apakah cukup bulan atau tidak, macam persalinan (spontan atau cesarian),
obat yang diminum selama kehamilan, ada / tidaknya komplikasi saat lahir
dan defek saat bayi lahir. Hal- hal di atas adalah pertanyaan yang harus
ditanyakan oleh psikiatri untuk mengetahui riwayat pribadi pasien pada saat
kelahiran.
ii. Masa Anak-Anak Awal (sejak lahir sampai usia 3 tahun)

11

Periode ini merupakan masa anak-anak awal yang terdiri dari 3 tahun
pertama kehidupan pasien. Pada masa ini hal-hal yang perlu diamati adalah
mengenai hubungan antara ibu dan anak (interaksi melalui pemberian
makanan dan pengajaran ke toilet), ada / tidaknya gangguan dalam hal tidur
dan makan, bagaimana sifat anak tersebut (pemalu, overaktif, menarik diri,
senang belajar , takut-takut, senang bepergian, ramah / tidak), perilaku yang
aneh ada / tidak (membenturkan kepala ke tembok), ada / tidaknya pengasuh
yang lain selain ibu kandung, dan perkembangan awal baik dalam hal
berjalan, berbicara, berbahasa, perkembangan fisik, perkembangan motorik,
pola tidur, dan sebagainya.
iii. Masa Anak-Anak Pertengahan (usia 3 tahun - 11 tahun)
Pada masa ini psikiater dapat memusatkan perhatian pada hal-hal
penting antara lain bagaimana cara pemberian hukuman pada pasien di rumah,
bagaimana proses identifikasi jenis kelamin, ada tidaknya riwayat sakit dan
trauma serta pengalaman tentang sekolah awal dari pasien, khususnya
bagaimana pasien pertama kali berpisah dengan ibunya. Hal penting lainnya
yang tidak boleh dilupakan adalah bagaimana cara dia bergaul dan
membawakan peran dalam pergaulannya, apakah dia sebagai seorang
pemimpin, pemalu, lebih gemar bermain sendirian, serta popularitasnya di
kalangan teman-teman sepermainannya. Perilaku anak tersebut juga harus
diperhatikan apakah suka menyiksa hewan, mimpi malam yang buruk, fobia,
ngompol, tindakan yang menimbulkan bahaya kebakaran, dan riwayat
masturbasi yang harus digali.
iv. Masa Anak-Anak Akhir (pubertas sampai masa remaja)
Selama masa ini, anak-anak cenderung untuk mengembangkan
kemandirian dari orang tua mereka (pemisahan diri) yang ditunjukkan dalam
hubungan dengan teman sebaya, dan di dalam aktivitas kelompok bermain.
Pada fase ini anak-anak biasanya mempunyai sosok figur yang diidolainya
dan hal ini perlu untuk diketahui oleh dokter. Hal-hal yang perlu diperhatikan
12

pada masa ini adalah onset dari pubertas, prestasi akademik, bagaimana
aktivitas diluar sekolah (olah raga dan klub), jenis kegiatan yang diminatinya,
keterlibatan hal-hal seksual, ketertarikannya pada lawan jenis dan pengalaman
seksual (masturbasi, berhubungan seks dan mimpi basah), pengalaman
bekerja, riwayat penggunaan alkohol dan penggunaan zat psikoaktif serta
ada / tidaknya gejala-gejala pada saat puber (mood, ketidakteraturan dalam
makan dan tidur, bagaimana dia bertengkar dan berargumentasi).
v. Masa Dewasa
a. Riwayat pekerjaan
Pada bagian ini seorang psikiatri mendeskripsikan pilihan
pekerjaan pasien, keperluan pelatihan dan persiapannya, konflik yang
berhubungan dengan kerja, dan ambisi serta tujuan jangka panjang.
Psikiatri juga harus menggali perasaan pasien terhadap pekerjaan yang
dilakukannya sekarang apakah ia merasa senang, terpaksa, jenuh
ataupun tidak puas atas pilihan pekrjaannya tersebut. Disamping itu
perlu juga ditanyakan riwayat pekerjaannya , lama ia bekerja, apakah
pernah pindah kerja, bila ya tanyakan juga alasannya, frekuensinya
serta hubungannya dengan teman sekerjanya.
b. Riwayat perkawinan dan persahabatan.
Di dalam bagian ini dokter menggambarkan setiap status
pernikahan, sah /sesuai dengan hukum adat yang berlaku. Hubungan
yang bermakna yang terjalin antara dokter dengan pasiennya juga
haruslah ditanyakan. Riwayat perkawinan atau hubungan jangka
panjang yang dideskripsikan haruslah memberikan gambaran tentang
perkembangan hubungan, dimulai saat pasien baru menikah sampai
keadaan pasien saat ini.
c. Riwayat agama
Seorang psikiater juga perlu untuk menggali lebih dalam
mengenai latar belakang agama kedua orang tua pasien, pasien sendiri
serta bagaimana pelaksanaannya di dalam keluarga. Sikap pasien dan

13

keluarganya tersebut apakah longgar, ketat, dan apakah terdapat


konflik keagamaan antara orang tua pasien dan pasien sendiri dan
bagaimana mereka mengatasinya.
d. Aktivitas sosial
Dokter psikiatrik haruslah menggambarkan kehidupan sosial
pasien dan sifat persahabatan, dengan penekanan pada kualitas
kedalaman hubungan manusia. Jenis hubungan yang dimiliki pasien
bersama teman-temannya, apa kegiatan mereka selama ini dan apakah
terdapat saling perhatian diantara mereka.

e. Riwayat psikoseksual
Seorang dokter psikiatri perlu untuk menanyakan riwayat seksual dari
pasien. Hal ini diperlukan untuk mengetahui apakah adanya kelainan dari
perkembangan seksual pasien sampai pada saat ini. Banyak riwayat seksual
infantil yang tidak diungkapkan pemeriksaan psikiatri yang disebabkan oleh tidak
diperhatikannya riwayat tersebut, karena kesulitan mendapatkan informasi. Juga
perlu ditanyakan riwayat seksual contohnya pertama kali melakukan onani /
masturbasi, apakah memperoleh kepuasan atau tidak, frekuensinya, kualitas
hubungan seksnya dan apakah ia puas dengan itu atau terdapat penyimpangan dari
perilaku seksualnya. Semua hal tersebut perlu digali secara mendalam sebab
seringkali memberikan arti yang penting dalam hal pengumpulan data psikiatri dan
penyimpulan diagnosis dari suatu pasien.
f. Riwayat Keluarga
Sebuah laporan yang singkat dan jelas mengenai tiap penyakit psikiatrik,
perawatan keluarga di rumah sakit serta pengobatan anggota keluarga dekat pasien
harus dimasukkan ke dalam bagian dari laporan ini juga. Perlu ditanyakan juga ada
atau tidaknya riwayat penggunaan alkohol atau zat-zat yang lain ataupun perilaku
antisosial yang terdapat dalam keluarga. Di samping itu riwayat keluarga juga

14

harus memberikan gambaran mengenai riwayat psikiatrik, kesehatan umum dan


penyakit genetik pada ayah, ibu, dan kerabat yang lainnya. Perlu juga ditanyakan
mengenai sikap keluarga terhadap keadaan sakit pasien, apakah mereka
mendukung terhadap pengobatan pasien atau tidak. Kalau perlu ditanyakan
keadaan finansial keluarga, siapa yang bekerja dan apakah cukup untuk keluarga.
Semua penjelasan singkat tersebut diatas adalah hal-hal mengenai riwayat
psikiatri pasien yang perlu ditanyakan secara lengkap, detail sehingga dapat
memberikan gambaran yang jelas mengenai pasien dan keadaan kehidupannya serta
saat sakitnya. Hal ini akan membantu kita sebagai seorang psikiater untuk memahami
seorang pasien sebagai seorang manusia secara utuh baik jasmani maupun fisik.
Hal lain yang dapat membantu mengenai pemahaman kita akan keadaan sakit
pasien adalah dengan melakukan pemeriksaan mental yang kemudian dicatat dalam
status pemeriksaan mental. Status pemeriksaan mental adalah bagian dari
pemeriksaan klinis yang menggambarkan jumlah total observasi pemeriksa dan kesan
atau impresi tentang pasien psikiatri saat wawancara. Pada status mental ini kita
melakukan pemeriksaan terhadap koordinat psikiatri / fungsi mental / fungsi
kepribadian yaitu kesadaran, alam pikiran, alam perasaan dan perilaku pasien. Untuk
melakukannya dan mendapatkan hasil yang optimal diperlukan observasi secara
cermat dan menyeluruh mengenai pasien juga tidak dilupakan adalah teknik
wawancara yang digunakan untuk menemukan kelainan-kelainan dalam fungsi
mental pasien.3
II.4 PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
II.4.1 Gambaran Umum
Adalah gambaran tentang penampilan pasien dan kesan fisik secara
keseluruhan yang dicerminkan oleh sikap, postur perawakan, pakaian,
perawatan diri dan dandanan. Hal lain yang perlu dinilai adalah apakah
tampak sesuai usia, tampak sehat atau sakit, tenang, bingung, tidak ramah,
kekanak-kanakan, sikap saat berbicara, kesadarannya baik secara neurologis
(compos mentis sampai koma), psikologis (menciut atau berubah) ataupun
15

kesadaran secara sosial (baik atau tidak) dan tingkah laku saat wawancara
(terdapatnya tik, stereotipi, mannerisme, agitasi, melawan, hiper/hipoaktivitas,
stupor, dsb.). Semua hal diatas haruslah diperhatikan saat wawancara dengan
melakukan observasi terhadap pasien secara teliti.1
II.4.2 Keadaan afektif dan Hidup Emosi
Keadaan afektif didefinisikan sebagai

emosi

yang

menetap,

berlangsung lama, internal, dan mempengaruhi persepsi / perilaku seseorang


tentang dunia sekitarnya. Secara objektif dapat dilihat dari cara berbicaranya,
ekspresi wajahnya, gerak-gerik tubuhnya, nada suaranya apakah

euthym,

dysthym, hiperthym, hipothym, dsb.


Hidup emosi adalah respons emosional secara eksternal, yang tampak pada
saat wawancara, emosi yang sesaat / jangka pendek; tampak dari reaksi yang
timbul setelah membicarakan sesuatu hal. Pemeriksaan hidup emosi ini
didasarkan observasi pada stabilitas, pengendalian, empati, echt / unecht,
dalam / dangkal, skala diferensiasi, dan serasi / tidaknya.3
II.4.3 Bicara
Bicara adalah gagasan, pikiran, perasaan yang diekspresikan melalui
bahasa; komunikasi melalui penggunaan kata-kata dan bahasa. Bagian ini
adalah bagian dari laporan psikiatri yang menggambarkan karakteristik saat
pasien berbicara. Yang dinilai dalam hal bicara ini adalah baik dalam kuantitas
maupun kualitatifnya. Secara kuantitas yang dimaksud adalah dari jumlah
pembicaraannya apakah pasien banyak atau sedikit pembicaraan yang terjadi
khususnya pasien, sedangkan secara kualitas adalah dapat dilihat dari isi
bicaranya, apakah memberikan informasi yang banyak atau sedikit.
Disamping itu juga perlu diperhatikan adanya gangguan dalam berbicara
misalnya : disartria, dypsoprody, gagap, gangguan pada afasia ,dsb.1
II.4.4 Gangguan persepsi
Persepsi adalah daya mengenal kualitas, hubungan serta perbedaan
suatu benda, melalui proses mengamati, mengetahui dan mengartikan.
Memindahkan stimuli fisik menjadi informasi psikologik, sehiingga stimulus
16

sensoris berada dalam genggamannya. Gangguan ini dapat berupa distorsi


sensorik dan desepsi sensorik. Bentuk-bentuk distorsi sensorik antara lain
terjadi perubahan intensitas, perubahan kualitas, perubahan bentuk /
dismegalopsia. Sedangkan desepsi sensorik adalah gangguan sensorik berupa
munculnya persepsi baru dengan atau tanpa objek luar, contohnya adalah
halusinasi dan ilusi. Gangguan ini dapat melibatkan berbagai sistem sensorik
dalam tubuh kita antara lain penglihatan, pembauan, pendengaran, taktil dan
penciuman. Keadaan halusinasi dan onset dari halusinasi terjadi adalah
penting karena itu wajib untuk digali dan diketahui oleh para dokter psikiatri
yang bersangkutan.1
II.4.5 Pikiran
Pikiran adalah suatu aliran gagasan, asosiasi dan symbol yang
mengarah pada tujuan, dimulai dari adanya masalah atau tugas dan mengarah
pada kesimpulan yang berorientasi kenyataan serta terjadi dalam urutan yang
logis. Disini, gangguan pada pikiran dibagi menjadi 2 yaitu gangguan proses
pikir / bentuk pikir dan gangguan isi pikir. Contoh gangguan pada proses
berpikir adalah adanya gangguan dalam hal produktivitas, kontinuitas pikiran
dan hendaya berbahasa. Sedangkan gangguan pada isi pikir adalah
terdapatnya preokupasi dan waham. Pada bagian ini pemeriksa dapat
menemukan adanya gangguan dalam hal berpikir antara lain terdapatnya
waham yang biasanya sering muncul pada orang dengan gangguan jiwa, juga
dapat diketemukan pula adanya pembicaraan yang tak berujung pangkal atau
juga adanya suatu ketidaksinambungan antara jawaban pasien

dengan

pertanyaan yang diberikan oleh kita sebagai seorang psikiatri. Pasien juga
dapat memberikan penjelasan seolah-olah bahwa pikirannya dapat dibaca
orang lain, sepreti disiarkan atau juga disedot sehingga pikirannya menjadi
kosong. Macam-macam keanehan ini dapat diperoleh oleh psikiatri dengan
cara mengadakan wawancara dan melakukan obsevasi dengan baik.1

17

II.4.6 Orientasi
Orientasi adalah kemampuan pasien untuk mengenali dirinya dan
keadaan sekitarnya. Terdiri dari :1
Orientasi Waktu, Yaitu kemampuan pasien untuk mengenal waktu sekarang
ini.
Orientasi terhadap Orang, Yaitu kemampuan pasien untuk mengenali orangorang yang ada disekitarnya.
Orientasi Tempat, Yaitu kemampuan pasien untuk

mengenali tempat

keberadaan pasien
Namun kesemuanya itu bersifat situasional.
II.4.7 Informasi Umum dan Daya Ingat
Informasi umum didapatkan dengan cara menanyakan pasien
pertanyan-pertanyaan spesifik berdasar topik yang ada sekarang ini, seperti
nama-nama lima presiden terakhir, kejadian-kejadian aktual, ataupun
informasi tentang sejarah atau geografi. Untuk mendapatkan informasi umum
dari pasien haruslah disesuaikan dengan tingkat pendidikan pasien.
Pemeriksaan ini penting untuk mengetahui kemungkinan terjadinya demensia
pada pasien.3
Fungsi daya ingat (memori) biasanya dibagi menjadi empat bidang :
ingatan jauh (remote memory), daya ingat masa lalu yang belum lama (recent
memory), dan penyimpanan daya ingat segera (immediate retention and
recall).1
Daya ingat yang baru saja dapat diperiksa dengan bertanya pada
pasien tentang bagaimana nafsu makan mereka selanjutnya bertanya pada
pasien apa yang mereka makan sabagai sarapan atau makan malam pada
kemarin malam. Meminta pasien untuk mengulangi enam angka maju dan
selanjutnya mundur untuk pemeriksaan daya ingat segera.1
Daya ingat jauh dapat diperiksa dengan bertanya pada pasien tentang
informasi masa kanak-kanak mereka selanjutnya dapat diperjelas. Mintalah
pada pasien untuk mengingat peristiwa-peristiwa baru yang penting dari
beberapa bulan terakhir untuk menilai daya ingat masa lalu yang belum lama.1
II.4.8 Fungsi Intelektual
18

Bagian dari pemeriksaan status mental ini mencari petunjuk fungsi


organ organik, intelegensia pasien, kapasitas berpikir abstrak dan tilikan dan
perkembangan. Disini dinilai antara lain daya ingat pasien, pengetahuan
pasien, gambaran dia berpikir abstrak serta bagaimana kemampuan dia dalam
menolong dirinya sendiri. Disini seorang psikiatri dapat melakukan tes dengan
cara memberikan pertanyaan yang sederhana dan biasanya berkaitan dengan
kehidupan sehari-hari pasien. Dapat juga dilakukan tes IQ dengan bantuan
psikiatri bila kita curigai adanya gangguan pada perkembangan mental pada
pasien tersebut. Konsentrasi dan perhatian pada pasien ini juga perlu diuji,
contohnya dengan menggunakan seven serial tes. Sedangkan untuk daya
berpikir abstrak maka pasien dapat dinilai dari gambar yang diberikan oleh
kita kepada pasien untuk dilukis dan kemudian kita minta pasien untuk
menginterpretasikan gambar hasil lukisan tersebut.3
II.4.9 Pertimbangan dan Tilikan
Selama proses menggali riwayat penyakit, dokter psikiatrik harus
mampu menilai banyak aspek kemampuan pasien dalam hal pertimbangan
sosial. Maksudnya adalah apakah pasien dapat mengerti akibat perilaku atau
perbuatannya terhadap orang lain. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan
memberikan contoh pengandaian suatu keadaan ,mis : bila di taman ada
orang yang pingsan apa yang akan kamu lakukan? pertanyaan ini akan
memancing pendapat dari pasien dan hal inilah yang akan kita nilai.1
Tilikan adalah derajat kesadaran dan pengertian pasien bahwa mereka
sakit. Pasien mungkin menunjukkan penyangkalan penyakitnya sama sekali
atau

mungkin

menunjukkan

kesadaran

bahwa

mereka

sakit

tetapi

melemparkan kesalahan pada orang lain, faktor eksternal atau bahkan faktor
organik yang lain.Tilikan dibagi menjadi 6 derajat, yaitu:1
- tilikan derajat 1 menyangkal bahwa dirinya sakit
- tilikan derajat 2 Mengakui dan menyangkal bahwa dirinya sakit
pada saat yang

bersamaan.

19

tilikan derajat 3 menyalahkan orang lain/faktor eksternal sebagai

penyebab sakitnya
tilikan derajat 4 sadar bahwa sakitnya disebabkan oleh sesuatu

yang tidak diketahui dalam dirinya


tilikan derajat 5 sadar bahwa dirinya sakit tetapi tidak bisa

menerapkan dalam mengatasinya (tilikan intelektual)


tilikan derajat 6 sadar bahwa dirinya sakit dan sudah bisa

menerapkannya sampai kesembuhannya (tilikan emosional sejati)


II.4.10 Reliabilitas
Bagian ini adalah bagian terakhir dari status pemeriksaan mental.
Bagian ini menyimpulkan kesan dokter psikiatrik terhadap reliabilitas pasien
dan kemampuan pasien untuk melaporkan situasi dan keadaannya dengan
tepat. Bagian ini merupakan penilaian dokter terhadap pada kebenaran dan
kejujuran pasien. Karena itu dokter psikiatri harus berhati-hati pada kasuskasus tertentu yang memungkinkan pasien untuk lebih sering berbohong baik
karena malu ataupun tidak ingin keburukannya diketahui orang lain.1
Dari kedua buah laporan diatas kita dapat memperoleh sebagian besar
informasi yang kita perlukan untuk memperoleh suatu diagnosa. Tetapi untuk
lebih memastikan suatu diagnosis dan menyingkirkan diagnosa pembanding
dapat pula dilakukan pemeriksaan laboratorium contohnya : foto roentgen, tes
obat-obatan, dll yang dilakukan sesuai dengan indikasi yang diharapkan. Juga
perlu dilakukan pula pemeriksaan fisik pada pasien untuk mengetahui ada /
tidaknya hubungan sakit mental pada pasien dengan sakitnya secara fisik,
contohnya pada penyakit typhus dapat timbul suatu keadaan yang disebut
dengan delirium, keadaan ini adalah suatu penurunan kesadaran yang disertai
dengan gejala mirip gejala pada penyakit gangguan mental.2
II.5 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LANJUTAN
II.5.1 Status Internus
Status internus adalah pemeriksaan fisik secara umum sesuai dengan
bidang penyakit dalam untuk mengetahui penyakit-penyakit yang

20

diderita pasien. Pemeriksaan fisik umum harus mengikuti format


standar yang berlaku, meliputi sistem-sistem per organ di tubuh mulai
dari kepala hingga kaki.2
II.5.2 Status neurologis
Status neurologis adalah pemeriksaan fisik di bidang neurologi.
Evaluasi neurologis secara detail, umumnya penting pada pasien
psikiatrik untuk mengetahui fokal sign yang mungkin dikeluhkan oleh
pasien.2
II.5.3 Wawancara diagnostik lanjutan
II.5.4 Wawancara dengan anggota keluarga, teman atau tetangga oleh pekerja
sosial
II.5.5 Tes psikologis, neurologis, atau laboratorium sesuai indikasi, seperti;
elektroensefalogram, scan tomografi computer pencitraan resonansi
magnetik, tes untuk gangguan medis lainnya, tes pemahaman
membaca dan menulis, tes untuk afasia, tes psikologi proyektif, tes
supresi deksametasone, tes urine 24 jam untuk intoksikasi logam
berat.1
II.6 DIAGNOSIS
Klasifikasi diagnostik dibuat menurut edisi empat American Psychiatric
Associations Diagnosis dan Statistical Manual of Mental Disorder (DSM-IV).
DSM-IV menggunakan suatu skema klasifikasi multiaksial yang terdiri dari lima
aksis, masing-masing harus dicantumkan dalam diagnosis.1
1. Aksis I, terdiri dari semua sindroma klinis (contoh : gangguan suasana
perasaan, skizofrenia, gangguan kecemasan umum) dan kondisi lain yang
merupakan pusat perhatian klinis.
2. Aksis II, terdiri dari ganguan kepribadian dan retardasi mental.
3. Aksis III, terdiri dari tiap penyakit medis ( contoh : epilepsi, penyakit
kardiovaskuler,

penyakit gastrointestinal, gangguan endokrin).

4. Aksis IV, dimaksudkan pada masalah psikologi dan lingkungan ( contoh :


perceraian,

kematian orang yang dicintai,dll).


21

5. Aksis V, berhubungan dengan penilaian global yang ditunjukkan oleh pasien


selama

wawancara (contoh : fungsi sosial, pekerjaan, dan psikologis):

digunakan skala ranking yang berurutan dari 100 (berfungsi superior) sampai 1
(fungsi sangat terganggu).
II.7 PROGNOSIS
Prognosis adalah suatu pendapat tentang kemungkinan perjalanan segera dan di
masa datang, tingkat dan akibat gangguan. Faktor prognosis yang baik dan buruk,
seperti yang telah diketahui dan dituliskan.1
II.8 FORMULASI PSIKODINAMIKA
Formulasi psikodinamika adalah suatu ringkasan dari pengaruh psikologis yang
diajukan pada masalah yang menyebabkan gangguan pasien; pengaruh-pengaruh
dalam kehidupan pasien yang berperan dalam penyakit sekarang; faktor lingkungan
dan kepribadian yang relevan dalam menentukan gejala pasien dan bagaimana
pengaruh-pengaruh

tersebut

telah

berinteraksi

dengan

susunan

genetika,

temperamental, dan biologis pasien; tujuan primer dan sekunder. Suatu garis besar
tentang mekanisme pertahanan utama yang digunakan harus dituliskan.1

II.9 ANJURAN-ANJURAN
Dalam menyusun rencana pengobatan, dokter harus mencatat apakah pasien
membutuhkan pengobatan psikiatrik pada saat itu dan jika demikian pada masalah
dan gejala sasaran mana pengobatan ditunjukkan, jenis pengobatan atau kombinasi
pengobatan mana yang harus diterima pasien, dan lingkungan pengobatan mana yang
tampaknya paling sesuai. Sebagai contoh, pemeriksa menilai peranan medikasi,
pengobatan rawat jalan ataupun rawat inap, frekuensi sesi, kemungkinan lama terapi
dan jenis psikoterapi. Tujuan spesifik dari pengobatan harus dicatat. Jika dianjurkan
22

perawatan di rumah sakit, dokter harus menyebutkan alasan perawatannya di rumah


sakit tersebut, jenis perawatan yang diindikasikan, dan mendesaknya kebutuhan
pasien untuk dirawat, dan kemungkinan lama perawatan rawat inap. Dokter harus
memperkirakan lamanya pengobatan. Jika baik pasien maupun anggota keluarga
tidak mau menerima anjuran pengobatan dan dokter berpikir bahwa penolakan
tersebut dapat mempunyai akibat yang serius, pasien (atau orangtua/ penjaganya)
harus menandatangani suatu pernyataan bahwa anjuran pengobatan telah ditolak.1

BAB III
KESIMPULAN
Tujuan dilakukannya pemeriksaan psikiatrik dan status mental dengan
baik adalah untuk mendapatkan kepercayaan dari pasien dan keluarganya,
sehingga dokter dapat mengetahui pasien secara keseluruhan, dan dapat
menentukan diagnosis serta pengobatan yang paling tepat kepada pasien.

23

Komponen utama dalam melakukan pemeriksaan psikiatri dengan baik


adalah dengan melakukan wawancara, observasi, dan pemeriksaan status mental
secara benar. Hal ini perlu didukung oleh kemampuan dokter sebagai ahli
psikiatri. Menangani pasien secara holistik dapat memudahkan dokter untuk
mendapat gambaran pasien secara keseluruhan, sehingga dokter dapat
mengetahui berbagai riwayat kehidupan pasien, dapat menggali faktor pencetus
untuk penyakitnya, dan faktor-faktor lain yang berkaitan seperti lingkungan.
Dengan adanya data yang lengkap, akan sangat membantu dokter dalam
menentukan langkah diagnosis dan terapi yang tepat. Pengobatan yang lengkap
meliputi pengobatan fisik, psikologis dan sosiobudaya yang tidak hanya tertuju
pada obat-obatan saja, namun juga terapi yang memang dibutuhkan pasien, yang
sesuai dengan penyebab timbulnya penyakit pada pasien, sehingga kemungkinan
untuk berulangnya penyakit akan semakin kecil.

DAFTAR PUSTAKA
1. Grebb, Jack A. Kaplan, Harold I, Sadock, Benjamin J : Kaplan and Sadock.
Behavioural Sciences Clinical psychiatry, Seven edition, William & Wilkins 428
East Preston Street, Baltimore, Maryland 21202,USA 1994.
2. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, fourth edition,American
Psychiatric Association, Washington DC.
24

3. W.F Maramis. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Penerbit Airlangga


University Press, 2005.

25