Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas merupakan suatu penentuan

pengukuran angka keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa. SDM yang


memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat dan kesehatan yang prima selain
menyempurnakan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Anak sebagai
SDM penerus bangsa dan harapan masa depan keluarga, masyarakat dan negara perlu
diberikan pembinaan terarah sedini mungkin, bahkan sejak dalam kandungan. Cara
paling awal dan utama untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal antara lain dengan
cara memberikan Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan. ASI
diberikan eksklusif tanpa makanan lainnya, kemudian setelah 6 bulan ASI tetap diberikan
dengan didampingi makanan tambahan yang disesuaikan dengan usianya. (KNPP RI,
2008).
ASI adalah sumber nutrisi yang sangat lengkap untuk bayi. Selain kandungan
makronutrien dan mikronutrien, sejumlah fakta mengindikasikan bahwa susu manusia
mengandung komponen lain termasuk agen anti inflamasi, immunoglobulin, antimikroba,
antioksidan, oligosakarida, sitokin, hormon, dan Growth Factor (GF). Efek kombinasi
dari komponen bioaktif susu manusia ini menghasilkan proteksi bagi bayi menyusui
melawan infeksi, alergi, dan penyakit kronis dengan basis imunologis (Ross, et al, 2012).
Selama periode sekitar 6 bulan, ASI memiliki unsur yang memenuhi semua
kebutuhan nutrisi yang diperlukan oleh bayi kecuali jika ibu mengalami keadaan gizi
kurang yang berat (Gibney, 2008). WHO/UNICEF merekomendasikan salah satu hal
penting yang harus dilakukan yaitu memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja atau pemberian
ASI Eksklusif sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan (WHO, 2009).
Pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan telah terbukti baik untuk kesehatan salah
satunya dapat mengurangi tingkat morbiditas dan mortalitas bayi yang disebabkan karena

infeksi saluran pencernaan, meningkatkan perkembangan kognitif dan meningkatkan


ketahanan hidup bayi (Nurmiati, 2008). Sedangkan manfaat bagi ibu, pemberian ASI
Eksklusif akan menurunkan resiko perdarahan pasca melahirkan, resiko terkena kanker
payudara, dan menunda kehamilan atau sebagai alat kontrasepsi alami (KNPP RI 2008).
Bayi yang tidak mendapat ASI akan mudah terkena penyakit infeksi terutama
diare dan ISPA. ISPA menyebabkan 40% dari kematian anak usia 1 bulan sampai 4 tahun
(Depkes, 2009). Sebagian besar hasil penelitian di negara berkembang menunjukkan
bahwa 20- 35% kematian bayi dan anak balita disebabkan oleh ISPA. Diperkirakan
bahwa 2- 5 juta bayi dan balita di berbagai negara setiap tahun mati karena ISPA (WHO,
2007).
Sebanyak 30.000 kematian bayi di Indonesia dan 10 juta kematian balita di dunia
pada tiap tahunnya, bisa dicegah dengan pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan
sejak tanggal kelahirannya, tanpa harus memberikan makanan dan minuman tambahan
kepada bayi. Disebutkan terungkap data bahwa bayi yang diberi susu formula memiliki
kemungkinan untuk meninggal pada bulan pertama kelahirannya, dengan peluang 25 kali
lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang disusui oleh ibunya secara eksklusif
(UNICEF, 2006)
Data Survei Demografi Indonesia (SDKI) 1997-2007 menyebutkan, prevalensi
ASI Eksklusif turun dari 40,2% menjadi 39,5% pada tahun 1997 dan 32% pada tahun
2007. Sedangkan menurut data Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) ASI Eksklusif
pada bayi 0-6 bulan di Indonesia pada tahun 2008 adalah 56,2%. Angka ASI Eksklusif
pada pada tahun 2010 bulan meningkat dari 15,3% menjadi 30,2% pada tahun 2013.
Walau angka inisiasi menyusu dini (IMD) <1 jam meningkat dari 29,3% (2010) menjadi
34,5% (2013), Provinsi Sumatera Barat masih menduduki urutan terbawah kedua setelah
Maluku (13%) dalam perilaku pemberian ASI IMD yaitu hanya 16%. Menurut
Kasnodiharjo (1998) ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kebiasaan tidak
memberikan ASI Eksklusif kepada bayi, antara lain yaitu karena ibu sibuk bekerja,
pendidikan ibu rendah, gencarnya iklan susu formula, kurangnya sekresi hingga bayi
lapar bila tidak diberi makanan tambahan, pengetahuan ibu tentang ASI kurang, serta
keterpaparan terhadap media massa.
2

Lingkungan merupakan faktor yang berperan penting dalam pemberian ASI.


Keluarga merupakan faktor besar dari bagian orang terdekat dari bayi. Lingkungan yang
nyaman akan memberikan rasa nyaman pula pada bayi dan ibu pada saat menyusui
sehingga ini akan merangsang reflek oksitosin untuk merangsang keluarnya ASI lebih
banyak (Roesli, 2000). Tidak hanya ibu, seharusnya sebagai orang terdekat lainnya, ayah
juga memiliki peranan penting dalam menciptakan lingkungan yang nyaman untuk ibu
saat menyusui. Fasilitas kesehatan juga sangat berperan penting dalam pemberian ASI.
Oleh karena itu untuk kesuksesan dalam pemberian ASI harus ada dukungan terhadap
keluarga oleh petugas kesehatan dan untuk itu petugas harus paham dengan ASI
(Kemenkes RI, 2000).
Berdasarkan data Puskesmas Pauh tahun 2014 di dapatkan program cakupan ASI
ekslusif masih jauh dari target yaitu 85%, sedangkan pencapainnya hanya 60,88%.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah pada Plan of Action ini, yaitu:
1. Apa saja masalah belum tercapainya target ASI Eskkusif di wilayah kerja Puskesmas
Pauh.
2. Apa alternatif solusi cara pemecahan dan upaya untuk meningkatkan tercapainya target
ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Pauh.
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1

Tujuan Umum
Mampu mengidentifikasi masalah dan solusi pemecahan masalah belum

tercapainya target ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Pauh.


1.3.2

Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi masalah belum tercapainya target ASI Eskkusif di wilayah
kerja Puskesmas Pauh.

2. Mencari alternatif solusi cara pemecahan dan upaya untuk meningkatkan


tercapainya target ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Pauh.

1.4 Manfaat Penulisan


1.4.1

Puskesmas
Sebagai bahan masukan bagi pihak Puskesmas Pauh dalam pelaksanaan program-

program kesehatan yang akan datang.


1.4.1

Penulis
Memperoleh pengalaman dalam mengidentifikasi masalah kesehatan, menentukan

prioritas masalah, serta mencari solusi dan pencegahan yang tepat di wilayah kerja
Puskesmas Pauh.
1.4.2

Masyarakat
Sebagai motivasi agar masyarakat berpatisipasi dalam setiap pelaksanaan program

puskesmas demi meningkatnya status kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas


Pauh.
1.5 Metode Penulisan
Metode penulisan Plan of Action ini berupa tinjauan kepustakaaan yang merujuk
pada berbagai literatur, serta laporan tahunan 2014, serta diskusi dengan beberapa
penanggung jawab program Puskesmas Pauh.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Air Susu Ibu (ASI)


Air Susu Ibu (ASI) merupakan cairan hidup karena mengandung sel darah putih,
zat kekebalan, enzim, hormon dan protein yang cocok untuk bayi yang diperlukan untuk
pertumbuhan, perkembangan dan kelangsungan hidupnya. (Depkes RI, 2009). Untuk
mendapat manfaat yang maksimal maka ASI harus diberikan sesegara mungkin setelah
dilahirkan yaitu dalam waktu 30 menit setelah lahir karena daya isap bayi saat itu paling
kuat untuk merangsang produksi ASI selanjutnya. (Soetjiningsih, 1997).
2.2 Pengertian ASI Eksklusif
ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja kepada bayi tanpa tambahan makanan
atau minuman lain seperti air putih, susu formula, jeruk, madu, air teh, pisang, bubur
susu, biskuit, bubur nasi tim kecuali vitamin, mineral, obat dan ASI yang diperah yang
diberikan selama 6 bulan (Depkes RI, 2009). Memberikan ASI secara eksklusif sampai
bayi berusia 6 bulan akan menjamin tercapainya pengembangan potensial kecerdasan
anak secara optimal. Selain sebagai sumber nutrisi yang ideal dengan komposisi yang
disesuaikan dengan kebutuhan bayi, ASI mengandung nutrisi khusus yang diperlukan
otak bayi agar tumbuh optimal (Roesli, 2009).
2.3 Cakupan Pemberian ASI Eksklusif
Pada tahun 2012 telah diterbitkan peraturan pemerintah tentang pemberian air
susu ibu eksklusif (PP no. 33 Tahun 2012). Dalam PP tersebut diatur tugas dan tanggung
jawab pemerintah dan pemerintah daerah dalam program pengembangan ASI,
diantaranya menetapkan kebijakan nasional dan aderah, melaksanakan advokasi dan
sosialisasi serta melakukan pengawasan terkait program pemberian ASI eksklusif. Dan
diikuti dengan penerbitan Permenkes Nomor 15 Tahun 2013 tanggal 18 februari 2013
tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah ASI, dan

Permenkes Nomor 39 Tahun 2013 tanggal 17 Mei 2013 tentang Susu Formula Bayi dan
Produk Lainnya (KEMENKES, 2014).
2.4 Jenis- jenis ASI
Menurut Suraatmaja (1997), berdasarkan stadium laktasi ASI dapat dibedakan
menjadi 3 yaitu:
1. Kolostrum yang dikeluarkan dari hari pertama sampai hari ketiga dan keempat.
2. ASI peralihan yang dikeluarkan dari hari keempat sampai kesepuluh.
3. ASI matur yang dikeluarkan pada hari kesepuluh dan seterusnya.
2.5 Komposisi ASI
ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam
organik yang disekresi oleh kelenjar payudara ibu sebagai makanan utama bayi. ASI
mengandung lebih dari 200 unsur pokok utama dimana semua unsur tersebut terdapat
secara proporsional dan seimbang. (Roesli, 2000). ASI dalam jumlah cukup dapat
memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama kehidupannya. Komposisi zat gizi
yang terdapat dalam ASI antara lain sebagai berikut:
1.

Karbohidrat
Karbohidrat dalam ASI berbentuk laktosa dan jumlahnya relatif lebih tinggi

dibandingkan dengan air susu sapi. Karbohidrat dalam ASI merupakan nutrisi penting
yang berperan dalam pertumbuhan sel saraf otak serta pemberian energi untuk kerja selsel saraf. Didalam usus sebagian laktosa diubah menjadi asam laktat yang berfungsi
mencegah pertumbuhan bakteri serta membantu penyerapan kalsium dan mineral.
(Prasetyono. 2009).
2.

Protein
ASI mengandung protein lebih rendah bila dibandingkan dengan susu sapi, tetapi

memiliki nilai nutrisi yang tinggi sehingga protein ASI hampir seluruhnya diserap oleh
pencernaan bayi. Protein ASI yang utama yaitu whey dan kasein. Whey adalah protein

yang halus, lembut dan mudah dicerna; kasein adalah protein yang bentuknya kasar,
bergumpal dan sukar dicerna oleh usus bayi. Rasio protein whey:kasein dalam ASI adalah
60:40, sedangkan rasio protein dalam susu sapi adalah 20:80. Hal ini menguntungkan
bayi mengingat protein whey lebih mudah dicerna. Didalam ASI juga terdapat kandungan
asam amino esensial taurin yang tinggi, yang penting untuk pertumbuhan retina dan
konjugasi bilirubin, dan asam amino sistin yang penting untuk pertumbuhan otak bayi.
2.

Lemak
Dalam ASI lemak merupakan sumber kalori utama dan sumber vitamin yang larut

dalam lemak (A, D, E dan K) dan sumber asam lemak yang esensial. Asam lemak rantai
panjang berperan dalam perkembangan otak, kolesterol yang diperlukan untuk mielinisasi
SSP, dan berfungsi untuk pembentukan enzim yang akan mengendalikan kadar kolesterol.
Komposisi lemak terus berubah sesuai dengan kebutuhan energi yang diperlukan bayi.
Jenis lemak dalam ASI banyak mengandung omega-3, omega-6, dan DHA yang
dibutuhkan dalam pembentukan sel-sel jaringan otak. Komposisi lemak dalam ASI adalah
3,7-4,8 gram/100 mL.
4.

Mineral
ASI mengandung mineral yang lengkap, walaupun kadarnya relatif rendah tetapi

bisa mencukupi kebutuhan bayi sampai umur 6 bulan. Zat besi dan kalsium dalam ASI
merupakan mineral yang sangat stabil, mudah diserap tubuh, dan berjumlah sangat
sedikit. Sekitar 75% dari zat besi yang terdapat dalam ASI dapat diserap oleh usus.
Kandungan mineral dalam ASI cukup tinggi, jika sebagian besar tidak terserap maka akan
memperberat kerja usus serta mengganggu pencernaan sehingga bisa merangsang
pertumbuhan bakteri merugikan. Hal ini yang menyebabkan perut bayi kembung dan bayi
gelisah karena gangguan metabolisme.
5.

Vitamin
ASI mengandung vitamin yang lengkap, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan

bayi selama 6 bulan, sehingga tidak perlu ditambah kecuali vitamin K karena bayi baru
lahir ususnya belum mampu membentuk vitamin K. Begitu juga dengan vitami D hanya

sedikit dalam lemak susu, tapi bisa diperoleh lewat sinar matahari pagi (Soetjiningsih,
1997).
6.

Air
Sekitar 88% dari ASI terdiri dari air yang berguna untuk melarutkan zat yang

terdapat didalamnya. ASI merupakan sumber air yang secara metabolik aman dan
kandungan airnya yang relatif tinggi ini akan meredakan rangsangan haus dari bayi. Jadi
secara kuantitas bayi tidak membutuhkan tambahan air karena jumlah air yang ada dalam
ASI sudah mencukupi kebutuhan bayi akan cairan.
2.6 Manfaat ASI
1) Bagi Bayi
a)

Mengandung komposisi yang tepat

b) ASI meningkatkan kecerdasan bayi, dimana lemak pada ASI adalah lemak tak
jenuh yang mengandung omega 3 untuk pematangan sel-sel otak. Selain itu ASI
juga memiliki perbandingan antara whey (zat yang membantu penyerapan dan
metabolisme protein kedalam pembuluh darah dalam 20-40 menit) dan kasein (zat
yang membantu penyerapan dan metabolisme protein dalam 2- 4 jam) yang sesuai
untuk bayi. ASI juga mengandung Taurin (asam amino), DHA dan AA yang
diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak yang optimal.
c)

Mengandung zat protektif, seperti aspek imunologi yang didapatkan dari ASI
(Sunardi, 2008)

2). Bagi Ibu


a) Aspek Psikologi
Kontak langsung antara ibu dan bayi melalui sentuhan kulit mampu memberikan
kepuasan dan rasa aman. Karena selama proses menyusui bayi merasakan
kehangatan tubuh ibu dan mendengar detak jantung ibu yang sudah dikenalnya sejak
didalam rahim. Apabila bayi merasa aman dan nyaman maka bayi akan jarang

menangis dan rewel. Secara psikologis, pertumbuhan dan perkembangan bayi juga
sangat tergantung pada integritas ibu dan bayi. Karena kasih sayang ibu dapat
memberikan rasa aman dan tenang maka bayi bisa menjadi lebih agresif saat
menyusu.
b) Aspek Ekonomi
Dengan menyusui secara eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk
membeli susu formula dan peralatannya sampai bayi berumur 6 bulan. Hal ini dapat
mengurangi biaya tambahan dan menghemat pengeluaran rumah tangga dan biaya
pengobatan penyakit yang disebabkan oleh dampak negatif penggunaan susu
formula.
c) Aspek Penundaan Kehamilan
Dengan menyusui secara eksklusif dapat menunda haid dan kehamilan, sehingga
dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah sementara yang secara umum
dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi (MAL). MAL harus memenuhi tiga
kriteria yaitu: tidak haid, menyusui secara eksklusif, umur bayi kurang dari 6 bulan.
2.7 Cara Meningkatkan produksi ASI
Dibawah ini merupakan cara-cara meningkatkan ASI yang perlu ibu ketahui yaitu:
1.

Minum banyak jus buah segar setiap pagi untuk meningkatkan asupan vitamin

2.

Lebih baik mengonsumsi cemilan biji-bijian, sereal sehat dan buah, daripada cemilan
biskuit yang tidak memberikan banyak asupan gizi.

3.

Cepat makan bila merasa lapar, walau akhirnya harus makan 10 kali sehari

4.

Banyak makan makanan yang banyak mengandung asam lemak esensial seperti biji
bunga matahari, minyak ikan dan telur. Asam lemak esensial penting untuk
perkembangan otak dan sistem imunitas bayi.

5.

Pastikan banyak minum air putih. Tubuh butuh banyak air untuk produksi ASI.

2.8 Kendala Pemberian ASI Eksklusif


Kendala yang sering dijadikan alasan oleh ibu untuk tidak memberikan ASI
eksklusif:
1.

Produksi ASI Kurang


Salah satu alasan utama para ibu untuk tidak memberi ASI eksklusif. Walaupun

banyak ibu yang merasa ASI kurang, tetapi hanya sedikit yang secara biologis memang
kurang produksi ASI. Sebanyak 95-98% ibu dapat menghasilkan ASI yang cukup bagi
bayinya.
2.

Ibu Kurang Memahami Tata Laksana ASI yang Benar


Ibu kurang memahami tata laksana ASI yang benar, misalnya pentingnya

memberikan ASI, bagaimana ASI keluar, bagaimana posisi menyusui dan perlekatan yang
baik sehingga bayi dapat mengisap secara efektif dan ASI dapat keluar dengan optimal,
termasuk cara memberikan ASI bila ibu harus berpisah dengan bayinya.
3.

Ibu ingin menyusui kembali setelah bayi diberi susu formula (relaksasi)
Relaksasi merupakan suatu keadaan ibu yang telah berhenti menyusui ingin

memulai menyusui kembali. Biasanya setelah tidak menyusu beberapa lama produksi ASI
akan berkurang dan bayi akan malas menyusu dari ibunya apalagi jika sudah diberikan
susu botol.
4.

Bayi terlanjur mendapatkan prelakteal feeding.


Seringkali sebelum ASI keluar bayi sudah diberi air putih, air gula, madu, susu

formula dengan dot. Hal ini akan menyebabkan bayi malas menyusui.
5.

Kelainan Bayi.
Bayi yang menderita sakit atau dengan kelainan kongenital mungkin akan

mengganggu proses menyusu. kelainan ini perlu ditatalaksana dengan benar agar keadaan
tersebut tidak menjadi penghambat dalam proses menyusui. (Partiwi&Purnawati, 2008).

10

6.

Ibu Bekerja
Bekerja bukan alasan untuk tidak memberikan ASI Eksklusif, karena waktu ibu

bekerja, bayi dapat diberi ASI perah yang diperah sehari sebelumnya.
7.

Takut Ditinggal Suami


Dari sebuah survei yang dilakukan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia

(YLKI) pada tahun 1995 terhadap ibu-ibu se-Jabodetabek, diperoleh data bahwa alasan
pertama berhenti memberikan ASI pada anaknya karena takut ditinggal suaminya. Ini
karena adanya mitosnya yang salah yaitu menyusui akan mengubah bentuk payudara
menjadi jelek.
8.

Anggapan Susu Formula Lebih Praktis


Pendapat ini tidak benar karena untuk membuat susu formula diperlukan api atau

listrik untuk memasak air, peralatan yang harus steril dan perlu waktu untuk
mendinginkan susu yang baru dibuat. Sementara ASI siap pakai dengan suhu yang tepat
setiap saat serta tidak memerlukan perlengkapan apapun.
9.

Takut Badan Tetap Gemuk


Pendapat bahwa ibu menyusui akan sukar menurunkan berat badan adalah tidak

benar. Didapatkan bukti bahwa menyusui akan membantu ibu-ibu menurunkan berat
badan lebih cepat daripada ibu yang tidak menyusui secara eksklusif. Timbunan lemak
yang terjadi sewaktu hamil akan dipergunakan untuk proses menyusui, sedangkan wanita
yang tidak menyusui akan lebih sukar untuk menghilangkan lemak. (Roesli, 2000).
2.8 Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui
Berdasarkan SK Kemenkes No. 450/Menkes/SK/IV/2004), terdapat sepuluh
langkah menuju keberhasilan menyusui. Antara lain:
a. Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui Untuk fasilitas kesehatan
1.

Mempunyai kebijakan tertulis tentang pemberian ASI

11

2.

Memberikan pelatihan bagi petugas

3.

Menjelaskan manfaat pemberian ASI kepada ibu hamil

4.

Melaksanakan inisiasi menyusui dini

5.

Menunjukkan teknik menyusui yang benar

6.

Tidak memberikan makanan atau minuman selain ASI

7.

Melaksanakan rawat gabung

8.

Anjurkan pemberian ASI tanpa dijadwal (on demand)

9.

Tidak memberikan Dot atau Kempeng kapada bayi

10.

Membina kelompok pendukung ASI

b. Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui untuk Masyarakat


1.

Meminta hak untuk mendapatkan pelayanan inisiasi menyusui dini ketika


persalinan

2.

Meminta hak untuk tidak memberikan asupan apapun selain ASI kepada bayi
baru lahir

3.

Meminta hak untuk bayi tidak ditempatkan terpisah

4.

Melaporkan pelanggaran-pelanggaran kode etik WHO terhadap pemasaran


pengganti ASI

5.

Mendukung ibu menyusui dengan membuat tempat kerja yang memiliki fasilitas
ruang menyusui

6.

Menciptakan kesempatan agar ibu dapat memerah ASI dan atau menyusui
bayinya ditempat kerja

7.

Mendukung ibu untuk memberikan ASI kapanpun dan dimanapun

8.

Menghormati ibu menyusui ditempat umum

12

9.

Memantau pemberian ASI dilingkungan sekitarnya

10. Memilih fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan yang menjalankan
10 LMKM (Kemenkes, 2010).
2.9 Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif
1) Umur
Umur adalah lama hidup atau ada (sejak dilahirkan atau didakan) (KBBI, 1995).
Proses degenerasi payudara mengenai ukuran dan kelenjar alveoli mengalami regresi
yang dimulai pada usia 30 tahun. Sehingga dengan proses tersebut payudara cenderung
kurang menghasilkan. Makin tua umur seseorang maka proses perkembangan mentalnya
bertambah baik, akan tetapi pada umur tertentu, bertambahnya proses perkembangan
mental ini tidak secepat seperti ketika berumur belasan tahun. Ibu yang umurnya lebih
muda lebih banyak memproduksi ASI dibandingkan dengan ibu-ibu yang yang sudah tua.
Hal ini terjadi terjadi karena pembesaran payudara setiap siklus ovulasi mulai dari
permulaan tahun menstruasi sampai umur 30 tahun (Suratmadja, 1997).
2) Pendidikan
Helmi (2010) menyatakan terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan
ibu dengan pemberian ASI Eksklusif yaitu ibu yang berpendidikan rendah mempunyai
peluang 5,5 kali untuk tidak menyusui secara eksklusif dibandingkan ibu yang
berpendidikan tinggi.
3) Paritas
Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang mampu yang
mampu hidup diluar rahim. Semakin banyak anak yang dilahirkan akan mempengaruhi
produktivitas ASI karena berhubungan dengan status kesehatan ibu dan kelelahan.
Pikiran, perasaan, dan sensasi seorang ibu sangat mempengaruhi peningkatan atau
penghambat pengeluaran oksitosin yang sangat berperan dalam pengeluaran ASI (Roesli,
2000).

13

4) Pekerjaan
Bekerja selalu dijadikan alasan tidak memberikan ASI eksklusif pada bayi karena ibu
meninggalkan rumah sehingga waktu pemberian ASI pun berkurang. Akan tetapi
seharusnya seorang ibu yang bekerja tetap memberi ASI secara eksklusif kepada bayinya
dengan pengetahuan yang benar tentang menyusui, perlengkapan memerah ASI, dan
dukungan lingkungan kerja (Soetjiningsih, 1997). Status pekerjaan berpeluang
mempengaruhi ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Adanya kecenderungan para ibu
yang bekerja mencari nafkah menjadi penyebab gagalnya pemberian ASI. Meningkatnya
partisipasi angkatan kerja perempuan yang disebabkan oleh tuntutan ekonomi,
menyebabkan sebagian keluarga tidak dapat mempertahankan kesejahteraannya hanya
dari satu sumber pendapatan. Masuknya perempuan dalam kerja sedikit banyak
mempengaruhi peran ibu dalam pengasuhan anak (Soetjiningsih, 1997).
5) Kepercayaan Ibu
Kepercayaan yaitu keyakinan seseorang terhadap suatu hal. Keyakinan sering
diperoleh dari orang tua, kakek atau nenek. Seseorang menerima kepercayaan itu
berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu (Notoatmodjo,
2003). Kepercayaan yang diyakini dimasyarakat dapat juga berupa kebiasaan yang
berlangsung di masyarakat yang merupakan hasil pelaziman yang berlangsung dalam
waktu yang lama. Kebiasaan ini sering dikaitkan dengan adat istiadat karena kebiasaan
pada umumnya sudah melekat pada diri seseorang termasuk kebiasaan yang kurang
menguntungkan bagi kesehatan. Kepercayaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
keyakinan yang dimiliki ibu tentang ASI eksklusif.
6) Penyuluhan/Konseling di Pelayanan Kesehatan
Menurut WHO salah satu strategi untuk memperoleh perubahan perilaku yaitu
dengan memberikan informasi tentang cara mencapai hidup sehat, pemeliharaan
kesehatan, menghindari penyakit, dan sebagainya. Hal ini akan meningkatkan
pengetahuan masyarakat sehingga menimbulkan kesadaran mereka yang akhirnya akan
menyebabkan orang berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
(Notoatmodjo, 2007).

14

7) Kebijakan
Bila kebijakan di Puskesmas mendukung program ASI eksklusif maka ASI
eksklusif selama 6 bulan lebih mudah dilaksanakan. Akan tetapi apabila belum ada
kebijakan, walaupun pengetahuan dan sikap tenaga kesehatan sudah baik terhadap
praktek pemberian ASI eksklusif, bila tidak ada kebijakan yang mendukung akan tetap
mengalami hambatan.
8) Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga merupakan faktor pendukung yang merupakan suatu kegiatan
baik bersifat emosional maupun psikologis yang diberikan kepada ibu menyusui dalam
memberikan ASI. Seorang ibu yang tidak pernah mendapatkan nasehat tentang ASI dari
keluarganya dapat mempengaruhi sikap ketika ia harus menyusui sendiri bayinya (Lubis,
2000). Hasil penelitian Asmijati (2007) menyebutkan ibu yang mendapat dukungan
keluarga memiliki kemungkinan memberikan ASI Eksklusif 6,53 kali lebih besar
dibandingkan ibu yang tidak mendapat dukungan keluarga. Penelitian lain juga
mengatakan bahwa ibu yang tidak mendapat dukungan keluarga meningkatkan resiko
tidak memberikan ASI eksklusif (Mardeyanti, 2007).
9) Dukungan Petugas Kesehatan
Menurut Green (1980) dalam Notoatmodjo (2003) perilaku terbentuk karena
faktor pendorong yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan, atau
petugas yang lain, yang merupakan referensi dari perilaku masyarakat. Sebagai seorang
yang dipercayai ibu-ibu dalam mengatasi masalah bayi, tenaga kesehatan hendaknya
memberikan nasihat kepada seorang ibu permulaan menyusui, agar dapat mengukuhkan
kepercayaan dirinya atas kesanggupan menyusui dan bersikap mendukung penilaian
bahwa menyusui adalah suatu fungsi alamiah yang sempurna (Jellife, 1994)
Menurut Soetjiningsih (1997) pemberian ASI belum secara optimal diberikan oleh
ibu disebabkan karena keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan petugas kesehatan
dalam memberikan penyuluhan mengenai cara pemberian ASI yang baik dan benar.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa sikap petugas kesehatan sangat mempengaruhi
pemilihan makanan bayi oleh ibunya. Pengaruh ini dapat berupa sikap negatif secara

15

pasif, yang dinyatakan dengan tidak menganjurkan dan tidak membantu bila ada
kesulitan laktasi. Sikap ini bisa pula secara aktif misalnya bila ada kesulitan laktasi,
malah petugas sendiri yang menganjurkan untuk memberikan susu botol kepada bayi.
Hasil penelitian Lestari (2004) menyatakan bahwa ibu yang memberikan ASI
Eksklusif 36,7% mendapat dukungan dari petugas kesehatan, sedangkan yang tidak
mendapat dukungan dari petugas kesehatan hanya 19,0%. Penelitian lain juga
menunjukkan bahwa ibu yang mendapat dukungan dari tenaga kesehatan berpeluang 5,63
kali memberikan ASI Eksklusif dibandingkan dengan yang tidak mendapat dukungan dari
tenaga kesehatan.
10) Pengetahuan
Pengetahuan merupakan salah satu faktor predisposisi yang menentukan perilaku
kesehatan seseorang. Pengetahuan tersebut dapat diperoleh melalui pendidikan formal,
penyuluhan, dan informasi dari media massa. Pengetahuan adalah hasil dari tahu yang
terjadi setelah penginderaan terhadap objek tertentu, perilaku yang didasari oleh
pengetahuan akan lebih langgeng dari pada yang tidak didasari oleh pengetahuan
(Notoatmodjo, 2007).
Hasil penelitian Ibrahim (2002) menyebutkan bahwa ibu yang berpengetahuan
baik 1,9 kali berpeluang untuk memberikan ASI Eksklusif dibandingkan ibu yang
berpengetahuan kurang. Begitu juga dengan penelitian Hartuti (2006) menyebutkan
proporsi ibu yang memberikan ASI Eksklusif dengan pengetahuan baik lebih besar yaitu
27,3% dibanding dengan proporsi ibu yang memberikan ASI Eksklusif yang
berpengetahuan kurang hanya sebesar 3,8%.

16

BAB III
ANALISA SITUASI
3.1

Kondisi Geografis
Wilayah kerja Puskesmas Pauh terletak di Kecamatan Pauh, pada 00 58 Lintang

Selatan, 100

21 11 Bujur Timur sebelah timur pusat Kota Padang yang terdiri 9

(sembilan) kelurahan. Dengan luas wilayah + 146, 2m Km 2, terdiri dari 60 % dataran


rendah dan 40 % dataran tinggi Curah hujan 471 mm / bulan , temperatur antara 28 0
310C dengan batas wilayah sebagai berikut :
a.

Sebelah Timur berbatas dengan Kabupaten Solok

b.

Sebelah Barat berbatas dengan Wilayah kerja Puskesmas


Andalas (Padang Timur)

c.

Sebelah Utara berbatas dengan Wilayah Kerja Puskesmas


Kecamatan Koto Tangah.

d.

Sebelah Selatan berbatas dengan sebagian Wilayah kerja


Puskesmas Lubuk Kilangan.

17

3.2

Gambar 3.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas


Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pauh 2014
Keadaan Demografi
Berdasarkan data dari Kantor Kecamatan Pauh Kota Padang tahun 2014 yang

dipublikasikan pada tahun 2014 jumlah Penduduk Kec. Pauh adalah sebanyak 63.624
jiwa dengan jumlah KK 12.986 RT Sebanyak 169 dan RW 50 dengan rata-rata anggota
keluarga 4 orang serta kepadatan penduduk 489/km. Adapun rincian jumlah penduduk
menurut kelurahan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.1 Demografi Wilayah Kerja Puskesmas Pauh
No
Kelurahan
Jml KK
Jumlah Jiwa
RT
1 Pisang
1686
7.769
23
2 Binuang Kp Dalam
1388
6.120
25
3 Piai Tangah
1110
4.716
18
4 Cupak Tangah
1678
8.519
26
5 Kapalo Koto
1290
5.949
20
6 Koto Luar
1865
8.117
18
7 Lambung Bukit
966
4.055
15
8 LimauManis Selatan
2123
13.256
12
9 Limau Manis
1180
5.123
12
Jumlah
12.986
63.624
169
Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2014
3.3

RW
7
6
8
7
6
5
4
3
4
50

Sarana dan Prasarana Kesehatan


Perluasan jangkauan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh puskesmas selain

ditunjang oleh Puskesmas Pembantu serta Puskesmas Keliling dan Poskeskel, juga
dibantu oleh peran institusi yang ada pada berbagai tatanan yang ada seperti Posyandu
Balita dan Lansia, sekolah , Majelis Taklim, dan lain-lain.
Salah satu Lembaga atau institusi kesehatan yang dirasakan masih eksis ditengah
masyarakat sampai saat ini adalah Posyandu. Jumlah Posyandu di Kecamatan Pauh pada
tahun 2014 adalah sebagai berikut Posyandu balita sebanyak 70 buah dan Posyandu
Lansia sebanyak 13 buah Selain itu beberapa sarana pelayanan kesehatan yang bersifat
Private / swasta yang ada diwilayah kerja
Puskesmas Pauh ada 5 Bidan Praktek Swasta(BPS), 5 Klinik bersalin dan 5
Praktek Swasta Dokter Umum, 3 Praktek dokter Spesialis, 2 Praktek Swasta Dokter Gigi,
3 Apotik, 5 Rumah Obat, 2 Laboratorium, 7 Ambulance kelurahan dan Rumah sakit
swasta 1.

18

Prasarana Puskesmas saat ini terutama pada gedung A yaitu gedung pelayanan
rawat jalan

pada saat penyusunan laporan tahunan ini telah dimanfaatkan untuk

pelayanan kepada masyarakat. Gedung C yang menjadi ruang rawat inap cukup baik
namun prasarana penunjang kegiatan perlu dilengkapi seperti intalasi air besih dan listrik
sendiri sehingga mampu memberi pelayanan yang baik kepada masyarakat.
Untuk membantu terselenggaranya pembangunan kesehatan diwilayah kerja
Puskesmas Pauh dibantu oleh jejaring kerja seperti 1 Unit Puskel, 7 Kendaraan Roda dua,
3 Poskeskel, yaitu koto lua, Pisang dan Limau Manis Selatan dan 4 unit Puskesmas
Pembantu yang terletak di Kelurahan Batu Busuk, Piai Tangah, Ulu Gadut, Jawa Gadut.
Dalam tahun ini juga untuk melengkapi sarana UKBM di Kelurahan Siaga, telah
ada 2unit Poskeskel pada kelurahan Limau Manis Selatan dan Kelurahan Koto Lua.
Terhitung mulai Oktober 2008 sampai sekarang telah beroperasional dan dipimpin oleh 2
( dua ) orang Bidan.
Adapun rincian rincian sarana dan prasarana yang dimiliki Puskesmas untuk
mendukung jalannya kegiatan pelayanan kesehatandi wilayah kerjanya dapat dilihat pada
tabel berikut ini.

No
I
1
2
3
4
5
6
7

Tabel 3.2 Sarana dan Prasarana Puskesmas Pauh


Jenis Sarana dan
Kondisi
Jumlah
Rusak
Rusak
Prasarana
Baik
Sarana Kesehatan
Ringan Sedang
Puskesmas Induk
1
1
Rawat Inap
1
1
Puskesmas Pembantu
5
5
Rumah Dinas Dokter
1
1
Rumah Dinas Perawat
1
1
Rumah Dinas Bidan
1
1
Puskesmas Keliling
roda. 4

Rusak
Berat

19

8 Ambulance
1
1
9 Sepeda Motor
7
5
II
Sarana Penunjang
1 Komputer
5
4
2 Mesin Tik
2
1
3 Telepon
1
1
4 Listrik
2
2
5 Sarana Air Bersih
Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2014
3.4

2
1
1

Tenaga Kesehatan
Jumlah seluruh sumber daya kesehatan pada Puskesmas Pauh sampai dengan 31

Desember 2014 adalah 67 orang, 4orang Tenaga medis yang terdiri dari 2 orang Dokter
Umum,2 orang tenaga medis dokter gigi. Dokter Umum mempunyai tugas tambahan
sebagai kepala Puskesmas, Sedangkan tenaga paramedis berjumlah 63 Orang.

Tabel 3.3 Rincian Ketenagaan Puskesmas Pauh


Jenis Ketenagaan
Jumlah
Status Kepeg
Dokter
2
PNS
Dokter Gigi
2
PNS
Sarjana Kesmas
2
PNS
Sarjana Keperawatan
1
PNS
Rekam Medik
2
PNS
D3 Keperawatan
13
10 PNS,3 Volunteer
D3 Kebidanan
22
15 PNS,6 PTT,1 Volunteer
D3 Gizi
4
2 PNS,2 Volunteer
D3 Teknisi Gigi
2
PNS
D3 Kesling
2
PNS
Bidan (D1)
3
2 PNS,1 PTT
Perawat ( SPK )
4
PNS
Analis Kimia
2
PNS
Ass. Apoteker
2
PNS
Apoteker
1
PNS
LCPK
1
PNS
SMA
4
PNS
Jumlah
67
Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2014
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

3.5 Sosial, Budaya, dan Ekonomi

20

a.

Sosial budaya
Penduduk wilayah kerja Puskesmas Pauh dengan strata dan rasial yang relatif

homogen dengan akar budaya yang kuat dan kental. Sistem kekerabatan yang masih
dijalankan oleh penduduk setempat masih dipakai sebagian besar penduduk dan
merupakan kekuatan yang dapat digarap apabila cara nya diketahui. Pendekatan
kultural sangat dibutuhkan dalam rangka menjalin kerjasama peran serta
masyarakat.
b.

Ekonomi
Pendapatan penduduk wilayah kerja Puskesmas Pauh boleh dikata bervariasi

mulai dari petani 46 % , dengan kemampuan terbatas sampai ke kelompok mampu


dan mapan. Swasta 24 % , PNS 17 % , ABRI 5 %, sisanya bekerja di sektor
informal lainnya. Namun kelompok dengan pendapatan rendah dan tidak menentu
secara signifikan rawan dengan kesehatan yaitu keluarga miskin ternyata menduduki
proporsi yang cukup besar yaitu

22,4 % dari total penduduk wilayah kerja

Puskesmas Pauh.
3.6

Gambaran kependudukan
Dibawah ini disajikan gambaran kependudukan yang menjadi sasaran dan cakupan

kesehatan Puskesmas Pauh berdasarkan perhitungan statistik dan konversi dari DKK
tahun 2014 sebagai berikut.

No

Tabel 3.4 Gambaran Kependudukan Puskesmas Pauh


Jumlah
Kelurahan
Pddk
Bayi Balita Bumil Bulin

Buteki

Lansia

Pisang

7.769

158

630

177

164

164

992

Binuang Kp. Dalam

6.120

134

564

146

139

139

707

Piai Tangah

4.716

119

514

134

126

126

466

Cupak Tangah

8.519

180

679

195

188

188

1063

Kapalo Koto

5.949

135

566

151

144

144

670

Koto Lua

8.117

161

598

178

170

170

892

Lambuang bukit

4.055

79

305

91

86

86

396

21

Limau.M Selatan

13.256

191

729

207

199

199

1609

Limau Manis

5.123

115

530

128

122

122

559

63.624

1275

5115

1407

1338

1338

7354

Jumlah

Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2014

3.7 Strukutur Organisasi Puskesmas Pauh

22

KEPALA
PUSKESMAS
dr.Hj.RATNA SARI

KEPALA TATA USAHA

RHEYNCE PRIMARIA,
SKM
UMUM DAN
KEPEGAWAIAN
KEUANGAN
BENDAHARA
BOK

NURBAINI
RIKA MULYANI,
Amd.Kep
BENDAHARA APBD

EVI SUSANTI, AMS


BENDAHARA BPJS

ROLLY MEIRDHANIA,
Amd.PK
KOOR UPAYA KESMAS
KOOR YAN.PUSKESMAS

drg.FAHMIL KHALIS

Drg.HELDA LIDRA

PUSTU

PROMKES

DESI DELVITA

YESRI YULIANTI, Keb

KOOR UKP

KR
UK.PENGEMBANGAN

dr.FEBRINA

Drg.YENNI

UGD & RAWAT INAP

RITA SYURYANTI,
S.Kep

KB /KIA
POSKESKEL

POLIKLINIK UMUM

EMILDA, Amd.Keb

SONYA FALIYAN.Keb

dr.FEBRINA

GIZI

LELY GUSLINA, AMG


KESLING

EVI SUSANTI, AMS

UKS / UKGS

DARMILA,AMKG
KESEHATAN LANSIA

RAFNIATI,
AMd.Kep
USAHA KES.KERJA &
OLAHRAGA

YUSMAINI,
Amd.Kep

KESEHATAN REMAJA

YESRI YULIANTI

SURVEYLANS

ZULKIFLI, B.Sc
IMUNISASI

BETA OHTA
ARIANI,Amd.Kep

Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2014


3.8 Visi dan Misi Puskesmas Pauh
23

Dalam fungsinya sebagai penyelenggara pembangunan kesehatan di wilayah


Kecamatan Pauh, Puskesmas Pauh mempunyai visi: Masyarakat Pauh Sehat, Mandiri
dan Berkeadilan. Untuk mewujudkan visi ini, Puskesmas Pauh mengusung misi
pembangunan kesehatan diwilayah Kecamatan Pauh yang akan memberi dukungan agar
tercapainya visi pembangunan nasional yaitu:
1. Puskesmas Pauh menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan.
2. Mendorong kemandirian untuk hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah
kerja Puskesmas Pauh.
3. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan
kesehatan.
4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat serta
lingkungannya.

3.9 Pencapaian Program Puskesmas Pauh


Keadaan gizi di puskesmas Pauh selama tahun 2014 dapat dilihat dari pencapaian
D/S, N/D dan BGM/D, Kunjungan Pojok Gizi, dan Fe 1, Fe 3, Vit A dan Fe Bufas.
Tabel 3.5 Pencapaian D/S, N/D dan BGM/D Puskesmas Pauh Tahun 2014
Dari data di atas menunjukan bahwa Pencapaian Puskesmas Pauh Tahun 2014 D/S
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Kelurahan

D/S

Limau Manis
73.1
Cupak Tangah
74
Koto Lua
79.5
Piai Tangah
74.2
Binuang Kp.Dalam
88.5
Kapalo Koto
61.3
Pisang
63.5
Limau Manis Selatan
76
Lambung Bukit
71.8
73.5
Puskesmas
73.5%, N/D 83.2%, BGM/D 0.04 % dan Asi

N/D

BGM/D

Asi Ekslusif

0.01
65%
63
0.04
62%
79.6
0.02
69%
88.9
0.01
52%
86.8
0.05
53%
92.5
0.04
68%
79.8
0.07
49%
90
0.03
57%
79.8
0.09
68%
87.5
60.88%
83.2
0.04
Ekslusif 60.88%. Dengan pencapaian

tertinggi D/S dan N/D pada daerah Binuang Kampung Dalam. Dilihat dari peta wilayah
kerja puskesmas Pauh, Binuang Kampung Dalam merupakan daerah terdekat dari
puskesmas, sehingga memudahkan ibu-ibunya membawa anak-anaknya melakukan
penimbangan. Untuk BGM/D tertinggi pada daerah Lambung Bukit, daerah ini sangat

24

luas dan memiliki penduduk yang lebih sedikit dari daerah lainnya. Hal ini membuat ada
beberapa anak di daerahnya yang tidak terpantau oleh puskesmas, sehingga BGM/D nya
lebih rendah, yaitu 0,09%. Untuk ASI Eksklusif masih cukup rendah pada setiap daerah.
Tabel 3.6 Hasil Pemantauan Status Gizi Puskesmas Pauh Tahun 2014
BB/U
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Kelurahan

BB/TB
Krs

TB/U
Sgt Pd Nrm

Brk Krg Baik Lbh Skl Krs Nrml Gmk Pdk


k
Limau manis
0
0
29
1
0
0
29
1
0
0
Koto Luar
0
5
25
0
0
3
27
0
0
2
Kapalo Koto
1
2
17
0
0
1
19
0
0
1
Cupak Tangah
1
1
38
0
0
2
38
0
0
2
Binuang Kp Dl
0
1
18
1
0
0
19
1
0
0
Pisang
0
5
53
2
0
2
56
2
0
2
Piai Tangah
0
1
39
0
0
1
39
0
0
1
LMS
0
6
33
1
0
3
36
1
0
1
Lambung Bukit
0
0
20
0
0
0
20
0
0
0
Total
2
21
272
5
0
12
283
5
0
9
Persentase
0,7
7
90,6 1,7
0
4
94,3
1,7
0
3
Dari data diatas menunjukan bahwa data status gizi menurut BB/U dengan
kategori buruk 0,7%, kurang 7%, baik 90,6% dan lebih 1,7%. Status gizi menurut BB/TB
dengan kategori kurus sekali 0, kurus 14%, normal 94,3% dan gemuk 1,7%. Status gizi
menurut TB/U dengan kategori sangat pendek 0, pendek 3%, dan normal 97%. Limau
manis selatan adalah daerah dengan status gizi kurang terbanyak yaitu berjumlah 6 orang
dari 7 orang gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Pauh.

25

l
30
28
19
38
20
58
39
39
20
291
97

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Identifikasi Masalah
Proses identifikasi masalah dilakukan melalui kegiatan observasi dan wawancara
dengan pimpinan puskesmas, pemegang program, dan orang-orang yang menjalankan
program serta analisis laporan program Puskesmas Pauh. Proses ini dilakukan dengan
melihat data sekunder berupa laporan program Puskesmas Pauh tahun 2014.
Makalah ini menitik beratkan pada indikator pencapaian program gizi di
Puskesmas Pauh. Maka didapatkan data berikut, dan disimpulkan beberapa masalah yang
bisa ditemukan pada laporan tersebut. Beberapa potensi masalah yang berhasil
diidentifikasi di Puskesmas Pauh adalah :

Tabel 4.1 Indikator Pencapaian Program Gizi di Puskesmas Pauh


NO

INDIKATOR

TARGET
(% )

PENCAPAIAN
(%)

KESENJAN
GAN (%)

Balita ditimbang BB ( D/S )

85

73,5

-11.5

Balita gizi buruk mendapat


perawatan

100

100

Balita 6-59 bln mendapat vit A

85

B : 86,4
A,B : 91,7

+ 1,4
+6,7

Bayi 0-6 bln mendapat ASI ekslusif

80

60,88

-19.12

Bumil mendapat 90 tablet FE

95

Fe1 : 98,65

+3.65

Fe3 : 90,26

-4,74

RT mengkonsumsi garam beryodium

90

88.2

-1,8

Kota melaksanakan surveilans gizi

100

100

Buffer stock MP ASI

100

100

Balita BGM

<5

0.04

+4,95

10 Vitamin A Bufas

95

91.85

-3.15

11 FE Bufas

95

91,85

-3,15

12 Balita yang naik BBnya ( N/D )

80

83,2

+3,2

26

13 Bumil KEK

<5

<5

14 Balita pendek

34

-31

15 Balita gizi kurang

4.2

Penentuan Prioritas Masalah


Berdasarkan proses identifikasi masalah, ditemukan beberapa masalah yang

memerlukan penyelesaian. Tetapi tidak semua masalah dalam program gizi di Puskesmas
dapat diselesaikan sekaligus, sehingga perlu dilakukan penentuan prioritas masalah yang
merupakan masalah terbesar dan mungkin untuk diselesaikan. Dalam hal ini metode yang
kami gunakan adalah Metode Hanlon. Dari masalah tersebut akan dibuat Plan of Action
untuk mengatasi masalah yang telah ditetapkan:
Kriteria skoring yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Urgensi : Merupakan masalah yang penting untuk dilaksanakan
a. Nilai 1 = Tidak penting
b. Nilai 2 = Kurang penting
c. Nilai 3 = Cukup penting
d. Nilai 4 = Penting
e. Nilai 5 = Sangat penting
2. Kemungkinan intervensi
a. Nilai 1 = Tidak mudah
b. Nilai 2 = Kurang mudah
c. Nilai 3 = Cukup mudah
d. Nilai 4 = Mudah
e. Nilai 5 = Sangat mudah
3. Biaya
a. Nilai 1 = Sangat mahal
b. Nilai 2 = Mahal
c. Nilai 3 = Cukup mahal

27

d. Nilai 4 = Murah
e. Nilai 5 = Sangat murah
4. Kemungkinan meningkatkan mutu
a. Nilai 1 = Sangat rendah
b. Nilai 2 = Rendah
c. Nilai 3 = Sedang
d. Nilai 4 = Tinggi
e. Nilai 5 = Sangat tinggi
Tabel 4.2 Penilaian Prioritas Masalah
No

Masalah

Urgensi

Intervensi

Biaya

Mutu

Total

Ranking

Rendahnya
pencapaian
balita yang ditimbang BB
(D/S)

12

II

Rendahnya ASI Eksklusif


bayi 0-6 bulan

15

Rendahnya
Fe3

Pencapaian

11

III

Rendahnya
RT
yang
mengonsumsi
garam
yodium

11

III

Rendahnya
pemberian
vit.A
Bufas,
karena
ketidak hadiran ibu

11

III

Rendahnya pemberian Fe
bufas
karena
ketidakhadiran ibu.

11

III

Dari tabel penilaian prioritas masalah di atas, kami mengambil prioritas masalah
untuk Plan Of Action yaitu, cakupan ASI Ekslusif yang masih belum mencapai target.
Penulis menganggap perlu untuk menganalisis penyebab masalah ini untuk mencari
solusi dan inovasi dalam meningkatkan capaian program dan dapat meningkatkan
kesehatan masyarakat khususnya di wilayah kerja Puskesmas Pauh.
Keterangan:

28

1. Balita yang Ditimbang (D/S)


Urgensi (Skor 3, penting)
Penimbangan adalah kegiatan pemantauan pertumbuhan balita di posyandu dengan
tujuan yaitu untuk mengetahui dan memantau perkembangan berat badan serta untuk
penjaringan balita gizi buruk atau balita bawah garis merah (BGM). Penimbangan
termasuk ke dalam suatu program utama gizi di Puskesmas dikarenakan masih
tingginya angka balita kurang gizi di Indonesia.
Intervensi (Skor 2, kurang mudah)
Rendahnya pencapaian balita yang ditimbang adalah dikarenakan kurangnya
partisipasi dari masyarakat untuk membawa anaknya melakukan penimbangan.
Intervensi yang dapat kita lakukan berupa tindakan aktif dengan melakukan
penyuluhan guna meningkatkan pengetahuan ibu tentang pentingnya membawa balita
ke posyandu. Walaupun penyuluhan aktif telah dilakukan, tanpa pastisipasi dan
keinginan kuat dari masyarakatnya maka tidak akan terealisasi kegitan penimbangan
ini.
Biaya (Skor 4, murah)
Penimbangan dilakukan di posyandu setiap bulan sekali di setiap posyandu di
masing - masing kelurahan dengan alat yang telah tersedia di posyandu. Biaya dari
posyandu sendiri sudah disediakan oleh puskesmas dari dana BOK.
Mutu (Skor 3, Sedang)
Dengan melakukan penimbangan kita dapat memantau perkembangan berat badan
balita, sehingga kita dapat mengurangi angka gizi kurang. Status gizi yang baik dapat
meningkatkan kualitas SDM.
2. ASI Eksklusif
Urgensi (Skor 4, sangat penting)
ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja selama 6 bulan tanpa pemberian
tambahan makanan lainnya. ASI merupakan cairan hidup karena mengandung sel darah
putih, zat kekebalan, enzim, hormon dan protein yang cocok untuk bayi yang
diperlukan untuk pertumbuhan, perkembangan dan kelangsungan hidupnya. Di
Indonesia, angka ASI Eksklusif masih sangat rendah. Sebanyak 30.000 kematian bayi
di Indonesia dan 10 juta kematian balita di dunia pada tiap tahunnya, bisa dicegah
dengan pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan sejak tanggal kelahirannya,
29

tanpa harus memberikan makanan dan minuman tambahan kepada bayi. Bayi yang
tidak mendapatkan ASI lebih mudah terserang infeksi seperti diare dan ISPA.
Intervensi (Skor 2, kurang mudah)
Pemberian ASI Eksklusif sangat dipengaruhi oleh sikap dan pengetahuan ibunya.
Masih rendahnya pemberian ASI Eksklusif dikarenakan kuranganya pengetahuan ibu
akan pentingnya ASI untuk bayi, adanya perasaan malas dan takut untuk menyusui
bayinya, serta kurangnya dukungan dari keluarga. Intervensi yang dapat kita lakukan
adalah memberikan konseling pada ibu untuk memberi ASI secara optimal tanpa
makanan tambahan lainnya dan juga pada ayah agar selalu memberi dukungan yang
lebih kepada ibu saat menyusui bayinya.

Biaya (Skor 4, murah)


ASI dihasilkan oleh ibu dengan dukungan makanan - makanan yang sehat dan
bergizi. Untuk mendapatkannya tidak perlu biaya yang mahal.
Mutu (Skor 5, sangat tinggi)
ASI meningkatkan kecerdasan bayi, dimana lemak pada ASI adalah lemak tak
jenuh yang mengandung omega 3 untuk pematangan sel-sel otak. Selain itu ASI juga
memiliki perbandingan antara whey (zat yang membantu penyerapan dan metabolisme
protein kedalam pembuluh darah dalam 20-40 menit) dan kasein (zat yang membantu
penyerapan dan metabolisme protein dalam 2- 4 jam) yang sesuai untuk bayi. ASI juga
mengandung Taurin (asam amino), DHA dan AA yang diperlukan untuk pembentukan
sel-sel otak yang optimal.

3. Pemberian Tablet Fe3 pada ibu hamil


Urgensi (Skor 2, kurang penting)
Tablet Tambah Darah (Ferrous Sulfate Folic Acid) merupakan komponen penting
dalam pembentukan hemoglobin (Hb), mioglobin,dan beberapa enzim dalam tubuh.
Pentingnya pemberian tablet Fe pada ibu hamil untuk mencegah terjadinya anemia
defisiensi besi, mencegah perdarahan saat persalinan. Dengan begitu dapat
menurunkan angka kematian ibu. Selain itu, Fe juga dapat meningkatkan nutrisi bagi
janin. Setiap wanita hamil membutuhkan kira - kira 800 mg Fe, 300 mg untuk janin
dan plasenta, 500 mg untuk pembentukan massa hemoglobin maternal.
30

Intervensi (Skor 2, kurang mudah)


Pemberian tablet Fe pada ibu hamil dipengaruhi oleh kunjungannya. Pemberian
Fe3 rendah dikarenakan angka K4 juga rendah. Intervensi yang dapat kita lakukan
adalah mengingatkan ibu hamil untuk selalu teratur melakukan kunjungan ke
puskesmas dengan memberikan kartu KIA yang dapat memantau selalu kunjungan ibu
dan apa saja yang telah diberikan. Hal ini tidak mudah dikarenakan ibu hamil sering
melakukan K4 di tempat persalinan bukan di puskesmas.
Biaya (Skor 4, murah)
Pemberian tablet Fe pada ibu hamil dibagi dalam dua pemberian, yaitu pemberian
tablet Fe 1 pada kepada kunjungan pertama (K1) sebanyak 30 tablet dan pemberian
tablet Fe 3 pada kehamilam trisemester ke III (K4) sebanyak 60 tablet. Tablet Fe
diberikan secara gratis oleh puskesmas untuk ibu hamil.
Mutu (Skor 3, sedang)
Zat besi (Fe) adalah mineral yang dibutuhkan untuk membentuk sel darah merah
(hemoglobin). Selain itu, mineral ini juga berperan sebagai komponen untuk
membentuk mioglobin yaitu protein yang membawa oksigen ke otot, kolagen yaitu
protein yang terdapat di tulang, tulang rawan dan jaringan penyambung, serta enzim.
Zat besi juga berfungsi untuk pertahanan tubuh.
4. Konsumsi Garam Beryodium
Urgensi (Skor 2, kurang penting)
Garam beryodium berfungsi untuk pertumbuhan anak. Anak - anak yang sedang
dalam masa pertumbuhan membutuhkan yodium untuk tumbuh dan perkembangan
otaknya. Kekurangan zat yodium akan berdampak buruk. Saat ini prevalensi Gangguan
Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) masih tinggi. GAKY termasuk kedalam 5
masalah gizi utama di Indonesia. Dengan mengonsumsi garam beryodium akan dapat
menekan angka GAKY, dengan begitu dapat meningkatkan keerdasan anak dan
kualitas sumber daya manusia pun juga akan naik.
Intervensi (Skor 2, kurang mudah)
Intervensi yang dapat kita lakukan adalah pemantauan garam beryodium di
tingkat masyarakat dilakukan 2 x 1 tahun. Dengan pemantauan ini kita dapat melihat
jumlah rumah tangga yang mengonsumsi garam beryodium. Sampel yang digunakan
31

adalah garam yang digunakan oleh anak sekolah dasar kelas 3 dan kelas 4 di wilayah
kerja puskesmas pauh. Selanjutnya dilakukan iodina test, apabila berwarna ungu kuat
berarti mengandung yodium, apabila ungu lemah berarti sedikit mengandung yodium
dan apabila tidak berwarna berarti tidak mengandung yodium. Bagi yang sedikit atau
tidak mengandung yodium sama sekali akan dilakukan intervensi lebih dengan
pemberian garam beryodium dan pelatihan akan pentingnya garam beryodium tersebut.
Biaya (Skor 4, murah)
Garam beryodium sangat mudah didapatkan di warung dan pasar terdekat dengan
harga yang terjangkau. Kegiatan pemantauan garam beryodium bagi masyarakat
merupakan kegiatan preventif dan promotif yang biayanya dikeluarkan dari dana BOK.
Mutu (Skor 3, sedang)
Zat yodium yag terkandung didalam garam beryodium dapat meningkatkan
kecerdasan anak. Anak dari rumah tangga yang mengonsumsi garam beryodium akan
lebih cerdas dan pertumbuhannya juga bagus dibandingkan anak yang tidak
mengonsumsi garam beryodium.
5. Pemberian Vitamin A Bufas
Urgensi (Skor 2, kurang penting)
Pada ibu nifas, vitamin A berperan penting untuk memelihara kesehatan ibu dan
anak yang disusuinya. Buta senja pada ibu menyusui, suatu kondisi yang kerap terjadi
karena kekurangan vitamin A (KVA). Insiden KVA masih cukup tinggi dan merupakan
salah satu dari lima masalah utama gizi di Indonesia. Anemia pada ibu akan berdampak
pada penurunan berat badan , kekurangan gizi, sehingga meningkatkan resiko infeksi
dan penyakit reproduksi pada ibu. Dengan kata lain, kekurangan vitamin A dapat
menurunkan kelangsungan hidup ibu hingga 2 tahun setelah melahirkan.
Intervensi (Skor 2, kurang mudah)
Ibu nifas beresiko tinggi KVA karena pada masa tersebut ibu membutuhkan
vitamin A yang lebih tinggi untuk proses pemulihan dari persalinan dan produksi ASI.
Intervensi yang dapat kita lakukan adalah dengan pemberian vitamin A setelah
melahirkan 1 kapsul dan 1 kapsul lagi setelah 24 jam dari pemberian pertama dengan
dosis 200.000 IU. Untuk ibu yang melahirkan di puskesmas kita dapat melakukannya,

32

tapi bagi yang melakukan persalinan di tempat selain puskesmas maka perlu dilakukan
peninjauan ulang.
Biaya (Skor 4, murah)
Penyediaan vitamin A sudah termasuk kedalam dana APBD sehingga pemberian
vitamin A kepada ibu nifas diberikan secara gratis oleh puskesmas.
Mutu (Skor 3, sedang)
Vitamin A berguna untuk melindungi timbulnya komplikasi berat pada penyakit
infeksi yang biasa terjadi pada anak dan juga berfungsi melindungi mata dari
xeropthalmia dan buta senja. Anak yang dilahirkan dari ibu yang berstatus gizi baik
tapi dengan cadangan vitamin A yang terbatas akan mudah terserang penyakit, karena
cadangan vitamin A tersebut hanya cukup memenuhi kebutuhan selama 2 minggu.
Konsentrasi vitamin A dalam ASI sangat bergantung pada status gizi ibu. Pemberian
kapsul vitamin A bagi ibu nifas dapat menaikkan jumlah kandungan vitamin A dalam
ASI sehingga dapat meningkatkan status vitamin A pada bayi yang disusuinya.
6. Pemberian Fe Bufas
Urgensi (Skor 2, kurang penting)
Tablet Fe adalah suatu tablet mineral yang dibutuhkan untuk membentuk sel darah
merah (hemoglobin). ibu nifas membutuhkan Fe lebih banyak dari biasanya, untuk
membentuk hemoglobin baru pasca persalinan yang banyak mengeluarkan darah dan
untuk bayinya sebagai salah satu nutrisi yang dibutuhkannya dalam pembentukan sel
darah merah. Bayi akan mendapatkan Fe dari ASI yang diproduksi oleh ibu, untuk itu
status gizi ibu juga sangat berpengaruh.
Intervensi (Skor 2, kurang mudah)
Sama halnya dengan ibu hamil, ibu nifas juga sangat membutuhkan tablet tambah
darah (Fe) ini untuk penggantian sel darah merah. Intervensi yang dapat dilakukan
adalah pemberian tablet Fe pada ibu nifas. Untuk melakukan intervensi ini dibutuhkan
juga partisipasi dari ibu. Tanpa keinginan, kepedulian dan peran serta dari si ibu, kita
tidak akan bisa melakukan intervensi.
Biaya (Skor 4, murah)

33

Tablet Fe disediakan oleh puskesmas dari dana APBD. Untuk itu setiap ibu hamil
dan ibu nifas yang rutin melakukan kunjungan ke puskesmas akan diberi tablet Fe
secara gratis.
Mutu (Skor 3, sedang)
Zat besi (Fe) berperan sebagai komponen untuk membentuk hemoglobin,
mioglobin yaitu protein yang membawa oksigen ke otot, dan kolagen yaitu protein
yang terdapat di tulang, tulang rawan dan jaringan penyambung, serta enzim. Zat besi
juga berfungsi untuk pertahanan tubuh.

4.3 Analisis Sebab Masalah


A. Manusia
1. Ibu
1) Pengetahuan ibu yang kurang tentang pengertian ASI eksklusif.
Tabel 4.3 Variabel Pengetahuan Ibu Mengenai ASI
Variabel

Jumlah (n)

Presentase (%)

Pengetahuan
Kurang

14

58%

Baik

10

42%

Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner kepada 24 ibu hamil dan menyusui
yang melakukan kunjungan ke puskesmas Pauh mengenai pengetahuan ibu terhadap ASI
eksklusif, didapatkan 58% dengan pengetahuan kurang dan 42% dengan pengetahuan
baik. Hal ini menunjukan masih ada ibu - ibu hamil dan menyusui yang tidak mengerti
denisi ASI Eksklusif yang sesungguhnya, yaitu hanya diberi ASI selama 6 bulan tanpa
makanan tambahan lainnya. Pengetahuan yang masih kurang ini lah yang mempengaruhi
rendahnya pencapaian ASI Eksklusif di Puskesmas Pauh, karena jika ibunya sudah
memberi makanan tambahan dalam waktu 6 bulan tersebut maka sudah tidak termasuk
ASI Eksklusif lagi. Untuk meningkatkan pencapaian ASI Eksklusif harus kita mulai dari
pengertian ibunya dulu mengenai ASI Eksklusif.

34

2) Presepsi negatif pada ibu muda terhadap ASI dikarenakan produksi ASI ibu dan
faktor pendukung yang kurang .
Tabel 4.4 Variabel Presepsi Ibu Mengenai ASI
Variabel

Jumlah (n)

Presentase (%)

Presepsi
Negatif

13

54%

Positif

11

46%

Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner kepada 24 ibu hamil dan menyusui
yang melakukan kunjungan ke Puskesmas Pauh mengenai perilaku ibu mengenai ASI
eksklusif, didapatkan 54 % yang memiliki persepsi negatif dan 46 % yang memiliki
persepsi positif. Masih lebih dari setengah ibu di puskesmas Pauh yang memiliki persepsi
negatif. Dari wawancara dengan ibu - ibu tersebut, ada yang mengatakan kalau menyusui
itu sakit, ada juga yang berpendapat menyusui akan mempengaruhi bentuk payudara
sehingga takut nanti ditinggal suami, dan pendapat - pendapat lainnya yang membuat ibu
- ibu tersebut tidak memberikan ASI Eksklusif sebagaimana mestinya. Hal ini akan
sangat berpengaruh pada pencapaian ASI Eksklusif di Puskesmas Pauh.

3) Kurangnya dukungan dari suami dan keluarga dalam pengawasan pemberian ASI
eksklusif.
Tabel 4.5 Variabel Dukungan Keluarga Terhadap ASI
Variabel
Jumlah (n)
Presentase (%)
Dukungan Orang terdekat
Suami
Ya

33%

35

Tidak

16

67%

Ya

15

63,5%

Tidak

37,5%

Ya

21%

Tidak

19

79%

Ya

11

46%

Tidak

13

54%

Ya

17%

Tidak

20

83%

Ya

21%

Tidak

19

79%

Dukungan Informasi

12

50%

Dukungan Motivasi

12

50%

2 Bulan

12

50%

4 Bulan

33%

6 Bulan atau Lebih

17%

Orang Tua

Mertua

Saudara Kandung

Teman

Tetangga

Bentuk Dukungan Orang Terdekat

Lama Pemberian Dukungan

Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner kepada 24 ibu menyusui yang


melakukan kunjungan ke Puskesmas Pauh mengenai dukungan orang terdekat terhadap
pemberian ASI eksklusif, didapatkan yang memperoleh dukungan dari suami hanya 33%,
dukungan dari orang tua 63,5%, dukungan dari mertua hanya 21%, dukungan dari
saudara kandung 46%, dukungan dari teman hanya 17%, dan dukungan dari tetangga
21%. Dari hasil tersebut bisa dilihat bahwa masih rendahnya tingkat dukungan dari orang
- orang di sekitar ibu kepada ibu menyusui sehingga ini dapat mempengaruhi ibu dalam
memberikan ASI. Sehingga ibu tidak betah dan tidak nyaman dalam memberikan ASI.
Bagi orang terdekat yang telah memberikan dukungan dapat berupa informasi dan

36

motivasi yang dapat meningkatkan keinginan ibu dalam memberikan ASI Eksklusif yang
baik dan benar. Jangka waktu memberikan dukungan juga mempengaruhi, di Puskesmas
Pauh ibu yang mendapatkan dukungan sampai 6 bulan selama masa ASI Eksklusif itu
hanya 17%. Hal ini jelas menyebabkan angka pencapaian ASI Eksklusif rendah karena
kurangnya dukungan.
4) Ibu terlalu cepat memberikan MP ASI
5) Pendidikan yang rendah
6) Ibu takut ditinggal oleh suami karena berat badan bertambah
2. Tenaga Kesehatan
1. Tidak memberikan konseling ASI ekslusif setiap kegiatan pemeriksaan kehamilan
Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas puskesmas mengenai dukungan
petugas kesehatan mengenai ASI eksklusif, didapatkan bahwa tidak ada pemberian
konseling yang teratur mengenai ASI Eksklusif kepada ibu. Menurut hasil wawancara
dengan petugas puskesmas hal ini disebabkan karena kurangnya kepedulian petugas
dalam ASI Eksklusif, kurangnya waktu yang terjadwal dalam pemberian konseling
kepada ibu, dan kurangnya kedisiplinan petugas dalam menjalankan program.
2. Banyaknya petugas yang lupa dalam pencatatan pemberian ASI ekslusif pada bayi di
posyandu
Salah satu bukti kurangnya kepedulian dan kedisiplinan petugas dalam program
ASI Eksklusif yaitu banyaknya petugas yang lupa dalam mencatat pemberian ASI
Eksklusif pada bayi di posyandu. Hal ini didapatkan dari hasil buku bantu posyandu
yang kosong atau diisi sama dengan sebelumnya dalam pencapaian ASI Eksklusif.
B. Material
Hanya terdapat sedikit poster tentang ASI, serta letak tidak strategis dan ukurannya
yang tidak memungkinkan untuk dibaca.
C. Metode
Pemberian edukasi hanya melalui penyuluhan secara keseluruhan dengan metode
ceramah, sehingga responden tidak dapat mengingat secara rinci. Serta tidak
dilakukannya konseling baik oleh petugas kesehatan maupun kader.

37

D. Lingkungan

4.4 Alternatif Pemecahan Masalah


A. Manusia
1. Ibu
a. Masalah:
1. Kurangnya pengetahuan ibu tentang pengertian ASI ekslusif.
2. Perilaku ibu yang kurang mendukung dan peduli dalam pelaksanaan pemberian
ASI ekslusif.
3. Ibu terlalu cepat memberikan MP ASI.
4. Presepsi negatif ibu terhadap ASI disebabkan karena produksi ASI ibu yang
kurang, dan faktor psikologis dari ibu.
5. Pendidikan yang rendah.
6. Ibu yang sibuk bekerja.
b. Rencana:
1) Video ASI kelas ibu hamil
-

Pelaksanaan : Video ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang


ASI Ekslusif yang dilakukan secara visual, dimana akan lebih efektif
dibandingkan metode penyuluhan yang biasa diberikan. Karena akan lebih mudah
menangkap materi yang diterangkan, mengingat dan dapat dipraktekkan nantinya.

Pemutaran video dapat dilakukan sebelum konseling dimulai.


Pelaksana : Promkes, KIA, Gizi, Dokter puskesmas dan Kader
Sasaran : Ibu hamil dan suami
Waktu : 1 x 2 minggu
Tempat : Gedung penyuluhan
Target : - Minimal dilakukan 1 x sebulan
- Meningkatnya cakupan ASI eksklusif

2. Tenaga Kesehatan
a. Masalah

38

Tidak menyertakan konseling ASI ekslusif dalam kegiatan pemeriksaan

kehamilan
Petugas tidak melakukan pencatatan pemberian ASI ekslusif pada bayi di

posyandu
b. Rencana
1) Evaluasi Kerja Petugas Puskesmas
Pelaksanaan

: Evaluasi petugas puskesmas yang bertanggung jawab untuk

pemberian penyuluhan dan konseling ASI Eksklusif setiap kunjungan ibu hamil dan
bagi yang tidak melakukannya diberikan peringatan.
Pelaksana
: Kepala Puskesmas, Pemegang program gizi dan KIA.
Sasaran
: bidan, dokter, petugas KIA, petugas yang turun ke posyandu,kader
Waktu
: 1 x sebulan
Target
: Meningkatnya cakupan ASI ekslusif
B. Material
a. Masalah
Kurangnya Poster tentang ASI dan letaknya yang tidak strategis

b. Rencana
Menambah jumlah poster mengenai pentingnya ASI ekslusif, menambahkan poster
dengan isi yang lebih rinci dan poster yang sudah ada diletakkan di posisi yang
mudah dilihat dan mudah dibaca oleh ibu.
c. Sasaran : Promkem
d. Target
: Minimal ada 4 poster tentang ASI ekslusif dan diposisikan diposisi
yang benar
C. Metode
a.

Masalah
Penyuluhan dan konseling yang diberikan baik oleh petugas kesehatan maupun kader

dengan metode ceramah sehingga ibu mudah lupa dengan apa yang telah disampaikan
b. Rencana

39

1) Pembuatan Kartu Monitoring ASI Ekslusif


Pelaksanaan

: pemberian kartu monitoring ASI Eksklusif bayi 0-6 bulan yang

dapat dipegang oleh pihak petugas dan juga ibu. Nantinya dapat dijadikan kecukupan
pemberian ASI Eksklusif. dalam kartu ini ibu mendapat penjelasan mengenai ASI
eklusif, cara pemberian ASI yang benar, kapan waktu pemberian MP ASI yang
tepat,dl, Sehingga ibu dapat melihat dan mengingat kembali penyuluhan dan
konseling yang telah diberikan
Pelaksana

: KIA, dokter, bidan, dan kader

Sasaran
Waktu
Target

: Petugas dan ibu


: setiap kunjungan ibu.
: Meningkatnya cakupan pencatatan ASI ekslusif

D. Lingkungan
a.

Masalah

1. Kurangnya dukungan dari suami dan keluarga dalam pengawasan pemberian ASI
ekslusif
2. Tradisi dan kebiasaan dalam pemberian makanan pendamping ASI yang cepat
b. Rencana

1) Ayah ASI
Pelaksanaan

: Pelaksanaan program ini ditujukan untuk para ayah sebagai

pengawas dan pemantau dalam pemberian ASI ekslusif oleh ibu. Karena salah satu
faktor yang berpengaruh dari pemberian ASI Ekslusif adalah faktor psikologi ibu,
jadi dukungan dari suami sebagai kepala keluarga sangat dibutuhkan. Program ini
memerlukan kerjasama dengan pihak petinggi diwilayah tersebutuntuk membentuk
suatu kelompok bapak pengawas pemberian ASI. Melalui kerjasama ini puskesmas

40

berperan dalam pemberian edukasi dan penyuluhan kepada bapak-bapak akan


pentingnya ASI ekslusif.
Pelaksana : Gizi, dokter, bidan, kader
Sasaran
: suami dari istri yang hamil dan menyusui
Waktu
: 1 x 6 bulan
Target
: 70 % bapak-bapak yang memiliki istri hamil dan menyusui mengikuti
memiliki pemahaman tentang ASI ekslusif.

41

BAB V
RENCANA PELAKSANAAN PROGRAM

5.1 Tahap Persiapan


Pada tahap awal ini akan dilangsungkan rapat dan diskusi antara pimpinan
Puskesmas dengan pemegang program Gizi terkait tidak tercapainya cakupan target ASI
selama beberapa tahun belakangan ini di Puskesmas Pauh. Kemudian akan dilanjutkan
rapat dan diskusi antara pemegang program KIA Ibu dan Anak, promosi kesehatan, dan
gizi untuk dapat diidentifikasi dan evaluasi penyebab tidak tercapainya cakupan target
ASI Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Pauh, serta mengoptimalkan pojok ASI yang
sudah ada.
Berikut adalah upaya untuk meningkatkan dan menggiatkan ibu dalam pemberian
ASI kepada anaknya agar target cakupan ASI eklusif tercapai:
1. Penjelasan kembali kepada petugas KIA Ibu dan Anak, promosi kesehatan, dan gizi
mengenai kewajibannya dalam kegiatan gerakan ASI Eksklusif.
2. Menjalankan kembali program konseling ASI Eksklusif bagi ibu yang tidak berjalan
sebelumnya, dan perbaikan kinerja petugas mengenai kegiatan yang akan dilakukan,
baik dalam bentuk pelatihan ataupun pemberian booklet.
3. Meningkatkan kerjasama lintas sektor terutama dengan Kelurahan, Kecamatan, PKK,
dan tokoh masyarakat. Kerjasama dapat berupa upaya menggerakkan masyarakat
untuk mendukung program Ayah ASI
Perencanaan yang telah disusun ini dibicarakan dengan pimpinan Puskesmas dan
pemegang program yang terkait khususnya Gizi, KIA Ibu dan Anak dan Promosi
Kesehatan. Hasil rapat disepakati untuk menyukseskan upaya meningkatkan cakupan ASI
eklusif di wilayah kerja Puskesmas Pauh. Selanjutnya dilakukan advokasi kepada lurah
dan tokoh masyarakat setempat untuk mendapatkan dukungan program dan membina
kerja sama lintas sektoral untuk menyukseskan program ini.

42

5.2 Tahap Pelaksanaan


Pada tahap pelaksanaan ini akan dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah di
tetapkan, maka dibutuhkan kerjasama dari seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan ini,
baik dari pemimpin puskesmas, pemegang program, dan juga responden. Maka dilakukan
pelaksanaan berupa:
5.2.1 Meningkatkan Kerjasama Antar Program
Peningkatan kerjasama program dilakukan oleh KIA Ibu dan Anak, Promosi
Kesehatan dan Gizi. Kegiatan yang dilakukan dapat berupa penyuluhankepada ibu hamil,
ibu yang punya bayi, dan suami dari ibu.
5.2.2 Meningkatkan Peranan Kader
Peningkatan peranan kader ini dapat dicapai apabila kualitas dari kader telah
ditingkatkan, maka akan diberi pelatian kepada kader mengenai ASI Eksklusif dan
pembentukan program baru yaitu kelompok Ayah ASI
5.2.3 Pembentukan Kartu Monitoring ASI Eksklusif
Pembentukan kartu monitoring ASI Eksklusif akan dilakukan dan nantinya akan
diberikan kepada ibu dan petugas pemegang program yang bertanggung jawab, tujuannya
agar pencatatan lebih mudah dan pemantauan lebih baik dilakukan karena terdapat
feddback dari kedua belah pihak.
5.2.4 Pembentukan Ayah ASI
Pembentukan Ayah ASI dilakukan di masing-masing kelurahan. Sosialisasi ini
bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk membentuk kelompok Ayah ASI dimana
dalam pembentukannya didukung oleh puskesmas, bapak Lurah, serta peran kader.
5.2.5

Program Penyuluhan, yang terdiri dari:


1. Penyuluhan kepada masyarakat mengenai ASI Eksklusif
2. Pemutaran video ASI Eksklusif
5.2.6 Poster
Psoter ini bertujuan sebagai penyuluhan dengan mode visual, poster dibuatkan
dengan ukuran yang sesuai agar dapat dilihat dengan jelas oleh masyarakat, dan
diletakkan ditempat-tempat yang strategis.

5.3 Tahap Evaluasi


Pada tahap ini evaluasi dilakukan untuk menilai tingkat kesuksesan kegiatan
pelaksanaan program kerja.

43

Tahap ini bertujuan untuk mengetahui kesuksesan jalannya kegiatan-kegiatan


dalam pelaksanaan program kerja. Evaluasi dilakukan setelah pelaksanaan kegiatan
melalui pendataan dari masing-masing program KIA Ibu dan Anak, promosi kesehatan,
gizi serta laporan kader. Evaluasi dilakukan sesuai dengan sistem pelaporan di Puskesmas
Pauh dalam Lokakarya Mini (Lokmin) dalam 3 bulan.
Keberhasilan ini dapat dinilai melalui meningkat atau tidaknya cakupan ASI
Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Pauh dengan melihat dari catatan buku/kartu
monitoring ASI Eksklusif yang sudah direncanakan dalam program ini dan sudah
disiapkan oleh petugas.

44

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
1.

Masalah - masalah yang menyebabkan belum tercapainya target ASI Eskkusif di


wilayah kerja Puskesmas Pauh adalah kurangnya pengetahuan ibu tentang pengertian
ASI Eksklusif, presepsi negatif pada ibu muda terhadap ASI, kurangnya dukungan
dari suami dan keluarga terdekat dalam masa pemeberian ASI, rendahnya pendidikan
ibu, tidak adanya konseling yang dilakukan petugas puskesmas pada ibu, kurangnya
pencatatan mengenai ASI Eksklusif di posyandu, kurangnya material berupa poster
tentang ASI dan letaknya yang tidak strategis, tidak inovatifnya metode yang
dilakukan dalam penyuluhan hanya berupa ceramah - ceramah yang membosankan
bagi ibu, dan lingkungan yang tidak mendukung.

2. Pemecahan masalah dan upaya untuk meningkatkan tercapainya target ASI eksklusif di
wilayah kerja Puskesmas Pauh adalah mengadakan video ASI kelas ibu hamil,
evaluasi kerja petugas puskesmas, menambah jumlah poster tentang ASI dan
meletakannya di tempat - tempat strategis, pembuatan kartu monitoring ASI
Eksklusif, peningkatan peranan kader, peningkatan kerja sama antar program dan
pembentukan Ayah-ASI.
6.2 Saran
1. Bagi Puskesmas untuk dapat melaksanakan program konseling ASI yang belum
dilaksanakan selama ini, dan meningkatkan kinerja dan tanggung jawab petugas
terhadap program ASI Eksklusif agar tercapainya cakupan ASI Eksklusif
diwilayah kerja Puskesmas Pauh.
2. Bagi Pemerintah untuk dapat mendukung dan menyediakan sarana dan prasarana
agar tercapainya program ASI Eksklusif.
3. Bagi masyarakat untuk dapat meningkatkan partisipasi dalam melakukan
kunjungan ke Puskesmas Pauh.

BAB VII

45

PENUTUP
Dengan mengikuti kegiatan kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Kesehatan
Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Andalas ini telah dilakukan identifikasi
terhadap berbagai masalah serta menyusun beberapa perencanaan untuk pemecahan
masalah yang ada di wilayah kerja Puskesmas Pauh. Dari beberapa perencaaan tersebut
lebih diutamakan untuk diadakan konseling ASI bagi ibu, yang sebelumnya tidak berjalan
di Puskesmas Pauh, dan menjalankan program perencanaan yang telah disusun. Selain
itu, beberapa perencanaan lain yang telah disusun dapat menjadi masukan bagi semua
pihak untuk dapat berpartisipasi ke depan dalam upaya meningkatkian derajat kesehatan
masyarakat. Kepada semua pihak yang telah membantu sehingga laporan ini dapat
tersusun kami ucapkan terima kasih.

46

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. (2009). Pemberian Air Susu Ibu dan Makanan Pendamping Air Susu Ibu.
Jakarta: Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Gizi Masyarakat.
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. (1995). Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka
Gibney JM. (2008). Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC
Jellife DB. (1994). Kesehatan Anak di Daerah Tropis. Jakarta: Bumi Aksara
Komite Nasional Pemantauan Penerapan (KNPP). (2008). Pemberdayaan Perempuan
dalam Peningkatan Pemberian ASI. Jakarta: KNPP RI.
Lestari. (2004). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif
di Wilayah Kerja Puskesmas Kedawung II Seragen. Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadyah Surakarta.
MardeyantiF. (2007). Hubungan Pekerjaan dengan Kepatuhan Memberikan ASI pada
Ibu di Desa Kebunbatur Kabupaten Grobogan. Semarang: STIKES Ngudi Waluyo
Press.
Notoatmodjo. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Cetakan Pertama. Jakarta:
Rineka Cipta.
Notoatmodjo. (2007). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rhineka Cipta
Nurmiati B. (2008). Pengaruh Durasi Pemberian ASI Terhadap Ketahanan Hidup Bayi
di Indonesia. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Prasetyono. (2009). ASI Eksklusif Pengenalan, Praktik, dan Kemanfaatannya.
Yogyakarta: Diva Press
Pratiwi, AN dan Purnawati, J. (2008). Kendala Pemberian ASI Eksklusif. Bedah ASI:
Kajian dari Berbagai Sudut Pandang Ilmiah, Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia

47

Roesli. (2000). Menyelamatkan Bayi Lewat ASI. Jakarta: Pustaka Pengembangan


Swadaya Nusantara
Roesli. (2009). Mengenal ASI Eksklusif Seri Satu. Jakarta: Trubus Agriwidya
Soetjiningsih. (1997). ASI: Petunjuk Untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta: EGC.
Sunardi. (2008). Ayah, Beri Aku ASI. Solo: Aqwamedika
Suraatmaja S. (1997). Aspek Gizi Air Susu Ibu. Petunjuk Untuk Tenaga Kesehatan.
Jakarta: EGC
UNICEF.

(2006).

Indonesias

infant

mortality

rate

still

high:

UNICEF.

http://emedicine.medscape.com/article/979458-overview. juni, 13, 2011.

48