Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Minyak atsiri merupakan suatu minyak yang mudah menguap (volatile oil)
biasanya terdiri dari senyawa organik yang bergugus alkohol, aldehid, keton,
dan berantai pendek dimana bahan utama yang digunakan adalah tumbuhan
yang diperoleh dari penyulingan akar, batang, daun, dan bunga, maupun biji.
Dengan adanya minyak atsiri kita bisa memanfaatan sumber daya alam yang
ada di Indonesia.
Minyak atsiri memiliki komponen-komponen kimia organik yang ada di
tumbuhan dan dibutuhkan oleh manusia, sehingga komponen tersebut
digunakan untuk keperluan industri. Pada bidang industri minyak atsiri banyak
digunakan sebagai bahan komestik, parfum, antiseptik, makanan, bahan
penyedap, obat-obatan, anti nyeri, pembunuh bakteri, pengawet dan
insektisida. Minyak atsiri juga dapat digunakan sebagai bahan aromaterapi.
Perminatan minyak atsiri dalam pasar baik dalam negeri maupun luar negeri
semakin meningkat. Potensi dipasaran yang ada di minyak atsiri yang besar
masih belum dimanfaatkan di luar negeri, karena di Indonesia produksi
indonesia masih mengolah minyak atsiri kasar dan industri yang mengolah
menjadi produk turunannya masih terbatas. Produk turunannya yang
dibutuhkan dalam negeri masih diperoleh melalui impor.
Pekak atau adas manis atau bunga atau pintu Star Anise (bahasa
latinnya Illicium) adalah rempah yang memiliki rasa yang mirip denganadas
manis (adas manis).Hal yang melatarbelakangi praktikum ini adalah agar
dapat mengetahui metode yang sesuai untuk mengekstrasi minyak atsiri pada
tanaman star anise dan dari praktikum ini kita bisa membandingkan hasil yang
didapat dengan literatur yang sudah ada.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari percobaan ekstraksi minyak atsiri adalah mengetahui
cara ekstraksi pembuatan minyak atsiri dari tanaman star anise.
1.3 Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan ini untuk menentukan kadar minyak dalam batang
tumbuhan star anise.
1.4 Ruang Lingkup Percobaan

Ruang lingkup dalam percobaan minyak atsiri ini adalah star anise, nheksana, aquadest yang dilakukan di Laboratorium Rekayasa Produk dan
Integrasi Proses di UNTIRTA Cilegon.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Minyak Atsiri


Minyak atsiri dikenal juga dengan nama minyak eteris atau minyak
terbang (essential oil volatile oil) yang dihasilkan oleh tanaman, minyak
tersebut mudah menguap pada suhu kamar, berbau wangi sesuai dengan bau
tanaman penghasilnya, umumnya larut dalam pelarut organik, dan tidak larut
dalam air. Minyak atsiri mengandung resin, dan lilin dalam jumlah kecil yang
merupakan komponen tidak mudah menguap. Komponen kimia minyak atsiri
pada umumnya dibagi menjadi dua golongan, yaitu hydrocarbon, dan
oxygennated hydrocarbon. Persenyawaan yang termasuk golongan
hidrokarbon terbentuk dari unsur hidrogen (H), dan karbon (C).
Minyak atsiri merupakan suatu minyak yang mudah menguap (volatile oil)
biasanya terdiri dari senyawa organik yang bergugus alkohol, aldehid, keton
dan berantai pendek. Minyak atsiri dapat diperoleh dari penyulingan akar,
batang, daun, bunga, maupun biji tumbuhan, selain itu diperoleh juga terpen
yang merupakan senyawaan hidrokarbon yang bersifat tidak larut dalam air
dan tidak dapat disabunkan. Beberapa contoh minyak atsiri yaitu minyak
cengkeh, minyak sereh, minyak kayu putih, minyak lawang dan dan lain-lain.
Sifat-sifat fisis minyak atsiri secara umum adalah sebagai berikut:
1) Warna: umumnya tidak berwarna. Namun karena pengaruh penguapan
dan oksidasi, dapat ditemukan berwarna hijau, coklat, kuning, dan
merah.
2) Rasa: bermacam-macam (manis, pedas, asam, pahit, dan ada rasa
membakar).
3) Bau: khas untuk setiap jenis minyak atsiri.
4) Berat jenis: berkisar antara 0,698-1,188 (gr/cm3) pada 15oC. Kisaran
nilai koreksinya adalah antara 0,00042-0,00084 untuk tiap perubahan
1oC.
5) Kelarutan: tidak larut dalam air, larut dalam alkohol, eter, kloroform,
asam asetat pekat, dan pelarut organik lain; kurang larut dalam
alkohol yang kadarnya kurang dari 70%.
6) Sifat: pelarut yang baik untuk lemak, minyak, resin, kamfer, sulfur,
dan fosfor.
7) Indeks bias: berkisar antara 1,3-1,7 pada suhu 20 oC. Kisaran nilai
koreksinya adalah antara 0,00039-0,00049 untuk tiap perubahan 1oC.
8) Putaran optik: berkisar antara -100o - +100o pada suhu 20oC. Kisaran
nilai koreksinya hanya dibuat untuk minyak sitrun yaitu 8,2-13,2
untuk tiap perubahan 1oC

Dalam Praktikum ini bahan yang digunakan adalah tumbuhan star anise.
Star anise dikenal dengan nama Illicium verum atau bunga lawang atau
pekak, Pekak atau adas manis atau bunga atau pintu Star Anise (bahasa
latinnya Illicium) adalah rempah yang memiliki rasa yang mirip dengan adas
manis (adas manis).
Rempah ini banyak digunakan di dalam masakan negara-negara Asia.
Bunga Lawang adalah salah satu dari 5 bumbu dan rempah yang diracik
dalam bumbu tradisional masakan Cina yaitu Ngo Hiong.
2.2 Ekstraksi
Ekstraksi adalah proses penarikan suatu zat dengan pelarut sehingga
terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Misalnya saja,
karena komponennya saling bercampur secara sangat erat, peka terhadap
panas, beda sifat-sifat fisikanya terlalu kecil, atau tersedia dalam konsentrasi
yang terlalu rendah. Dalam hal semacam itu, seringkali ekstraksi adalah satusatunya proses yang dapat digunakan atau yang mungkin paling
ekonomis.Selain untuk kepentingan analisis kimia, ekstraksi juga banyak
digunakan untuk pekerjaan preparatif dalam bidang kimia organik, biokimia,
dan anorganik di laboratorium.Tujuan ekstraksi ialah memisahkan suatu
komponen dari campurannya dengan menggunakan pelarut.Yang harus di
perhatikan pada proses ekstraksi, antara lain:
1. Klasifikasi Ekstraksi
Ekstraksi dapat diklasifikasikan menjadi:
a. Ekstraksi Khelat
Ekstraksi ini berlangsung melalui pembentukan khelat atau struktur
cincin.
b. Ekstraksi Solvasi
Ekstraksi ini disebabkan oleh spesies ekstraksi disolvasi ke fase
organik.
c. Ekstraksi Pembentukan Pasangan Ion
Ekstraksi ini berlangsung melalui pembentukan spesies netral yang
tidak bermuatan diekstraksi kefasa organik.
d. Ekstraksi sinergis
Ekstraksi ini menyatakan adanya kenaikan pada hasil ekstraksi
disebabkan oleh adanya penambahan ekstraksi dengan
memanfaatkan pelarut pengekstraksi.
2. Metode Ekstraksi
Metode ekstraksi dibagi menjadi dua, yaitu ekstraksi cara dingin
dan ekstraksi cara panas.
1. Ekstraksi Cara Dingin

Metoda ini artinya tidak ada proses pemanasan selama proses


ekstraksi berlangsung, tujuannya untuk menghindari rusaknya
senyawa yang dimaksud rusak karena pemanasanan. Jenis ekstraksi
dingin adalah:
a) Maserasi
Merupakan proses ekstraksi menggunakan pelarut diam
atau dengan beberapa kali pengocokan pada suhu ruangan.
Pada dasarnya metoda ini dengan cara merendam sample
dengan sekali-sekali dilakukan pengocokan. Umumnya
perendaman dilakukan 24 jam dan selanjutnya pelarut
diganti dengan pelarut baru. Ada juga maserasi kinetik yang
merupakan metode maserasi dengan pengadukan secara
sinambung tapi yang ini agak jarang dipakai.
b) Perkolasi
Perkolasi adalah proses penyarian sampel dengan jalan
melewatkan pelarut yang sesuai secara lambat pada sampel
dalam suatu percolator. Perkolasi bertujuan supaya zat
berkhasiat tertarik seluruhnya dan biasanya dilakukan untuk
zat berkhasiat yang tahan ataupun tidak tahan
pemanasan.Prinsip kerja dari ekstraksi metode perkolasi
adalah sampel di rendam dengan pelarut, selanjutnya
pelarut (baru) dilalukan (ditetes-teteskan) secara terus
menerus sampai warna pelarut tidak lagi berwarna atau
tetap bening yang artinya sudah tidak ada lagi senyawa
yang terlarut.
2. Ekstraksi Cara Panas
Metoda ini pastinya melibatkan panas dalam prosesnya.
Dengan adanya panas secara otomatis akan mempercepat proses
penyarian dibandingkan cara dingin. Metode ekstraksi panas
meliputi:
a. Refluks
Merupakan ekstraksi dengan pelarut yang dilakukan pada titik
didih pelarut tersebut, selama waktu tertentu dan sejumlah
pelarut tertentu dengan adanya pendingin balik (kondensor).
Umumnya dilakukan tiga sampai lima kali pengulangan proses
pada residu pertama, sehingga termasuk proses ekstraksi
sempurna. Prinsip kerja ekstraksi metode refluks adalah sampel
dalam wadah, pasangkan kondensor, panaskan. Pelarut akan
mengekstraksi dengan panas, terus akan menguap sebagai
senyawa murni dan kemudian terdinginkan dalam kondensor,

turun lagi ke wadah, mengekstraksi lagi dan begitu terus.


Proses umumnya dilakukan selama satu jam.
b. Soxhlet
Merupakan ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru,
umumnya dilakukan menggunakan alat khusus sehingga terjadi
ekstraksi konstan dengan adanya pendingin balik
(kondensor).Disini sampel disimpan dalam alat Soxhlet dan
tidak dicampur langsung dengan pelarut dalam wadah yang di
panaskan, yang dipanaskan hanyalah pelarutnya, pelarut
terdinginkan dalam kondensor dan pelarut dingin inilah yang
selanjutnya mengekstraksi sampel.
c. Digesti
Merupakan maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinyu)
yang dilakukan pada suhu lebih tinggi dari suhu ruangan,
secara umum dilakukan pada suhu 40C 50C.
d. Infusa
Merupakan proses ekstraksi dengan merebus sample (khusunya
simplisia) pada suhu 900C.
3. Destilasi
Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan
kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap
(volatilitas) bahan atau didefinisikan juga teknik pemisahan kimia
yang berdasarkan perbedaan titik didih.Macam-macam destilasi
sebagai berikut,
a. Destilasi sederhana adalah salah satu cara pemurnian zat cair
yang tercemar oleh zat padat/zat cair lain dengan perbedaan
titik didih cukup besar, sehingga zat pencemar/pengotor akan
tertinggal sebagai residu.
b. Destilasi bertingkat adalah proses pemisahan destilasi ke dalam
bagian- bagian dengan titik didih makin lama makin tinggi
yang selanjutnya pemisahan bagian-bagian ini dimaksudkan
untuk destilasi ulang.
c. Distilasi Azeotrop digunakan dalam memisahkan campuran
azeotrop (campuran campuran dua atau lebih komponen yang
sulit di pisahkan), biasanya dalam prosesnya digunakan
senyawa lain yang dapat memecah ikatan azeotrop tsb, atau
dengan menggunakan tekanan tinggi.
d. Destilasi vaccum adalah merupakan destilasi tekanan dibawah
1 atmosfer tekanan operasinya 0,4 atm (300 mmHg absolut),
untuk memisahkan fraksi fraksi yang tidak dapat dipisahkan
dengan destilasi atmosferik seperti gas oil berat, parafine

destilate atau vakum distilate yang masih terkandung didalam


long residu dari hasil destilasi atmosferik.
4. Jenis Pelarut yang Digunakan
Hal yang perlu diperhatian dalam proses ekstraksi adalah senyawa
yang memiliki kepolaran yang sama sehingga akan lebih mudah larut
dengan pelarutnya. Terdapat tiga jenis pelarut, diantaranya adalah
a. Pelarut Polar
Pelarut yang memiliki kepolaran yang tinggi cocok untuk
mengekstraksi senyawa yang polar. Contoh: air, metanol,
etanol, dan asam asetat.
b. Pelarut Semi Polar
Pelarut dengan kepolaran lebih rendah dibandingkan dengan
pelarut polar.Contoh : aseton, etil asetat dan kloroform
c. Pelarut Non Polar
Pelarut ini baik untuk mengekstraksi senyawa yang sama sekali
tidak larut dalam pelarut polar. Contoh: heksana dan eter.
5. Syarat Pelarut
Beberapa syarat pelarut yang ideal untuk ekstraksi antara lain:
a. tidak toksik dan ramah lingkungan
b. mampu mengekstrak semua senyawa dalam sampel
c. mudah untuk dihilangkan dari hasil ekstrak
d. tidak bereaksi dengan senyawa-senyawa dalam sampel yang
diekstrak
e. ekonomis
6. Derajat Kehalusan Sampel
Semakin halus sampel, luas kontak permukaan sampel akan semakin
besar sehingga proses ekstraksi akan lebih cepat dan optimal.

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Diagram Alir


Dalam percobaan ekstraksi kali ini, metode yang digunakan digambarkan
dalam diagram alir seperti dibawah ini:

40 gr star anise
300 mL n-heksana

Labu Leher Tiga


t=2 jam T=500C
Mengaduk dengan magnetic
Dekantasi dan Disaring

Filtrat

Residu

Destilsa
si

Microwav
e

Minyak

Gambar 1. Diagram Alir Ekstraksi Minyak Atsiri

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Dalam percobaan ekstraksi kali ini alat - alat yang digunakan
adalah
a. Corong
b. Erlenmeyer
c. Gelas Beker
d. Gelas Ukur
e. Hot plate
f. Kertas Saring
g. Kondensor
h. Labu Alas Bulat
i. Labu Leher Tiga
j. Magnetik Stirrer
k. Neraca
l. Panci
m. Pengayak 80 mesh
n. Pipa penghubung
o. Pipa T
p. Pipet Tetes
q. Refraktormeter
r. Spatula
s. Statif
t. Thermometer
u. Microwave
3.2.2

Bahan
Dalam percobaan ekstraksi kali ini bahan - bahan yang digunakan
adalah
a. Aquadest
b. Es batu
c. n-heksana
d. Star Anise 40 gram (80 mesh)

3.3 Prosedur Percobaan


Prosedur percobaan ekstraksi dengan sampel batang serai ini terdapat tiga
tahapan yaitu.
3.3.1 Proses Ekstraksi Sampel
Langkah pertama yang dilakukan untuk melakukan
percobaan ekstraksi adalah menggiling tanaman star
anisesehingga menjadi serpihan kecil dan tipis. Setelah
menggiling, mengayak serpihan tersebut dengan pengayak
sehingga menjadi bubuk-bubuk halus,kemudian menimbang
sebanyak 40 gramdan memasukkan bubuk halus star anise ke
dalam .Memasukkan bubuk star anise dan pengaduk magnektik

10

serta menambahkan 300 mL n-heksana kedalam labu ukur leher


tiga kemudian mengrefluks larutan, menjaga suhu larutan 50C
selama proses berlangsung. Setelah mengrefluks larutan,
kemudian menyaring sehingga mendapatkan larutan minyak dan
n - heksana serta residunya. Sebelum disaring dengan kertas
saring, menimbang kertas saring terlebih dahulu. Setelah itu
menyaring larutan , dan mengeringkan hasil residu dengan
microwave. Setelah mengeringkan residu, menimbang residu
yang sudah kering. Kemudian mendistilasi hasil larutan dengan
menggunakan alat destilasi sederhana, sehingga mendapat larutan
minyak atsiri dan n - heksana terpisah. Setelah mendestilasi
mencatat volume minyak yang didapat.
3.3.2

3.3.3

Uji Mutu Densitas Minyak Atsiri


Menimbang gelas ukur yang telah bersih dan kering
sebagai a gram. Mengisi gelas ukur minyak atsiri star anise
kemudian menimbang sebagai b gram. Menghitung densitas
minyak atsiri dari star anise.
Menguji Indeks Bias
Langkah pertama hal yang harus dilakukan pada
pengujianindeks bias adalah membilas prisma pada refraktormeter
menggunakan aquades. Selanjutnya mengelap dan meneteskan
minyak hingga memenuhi prisma. Kemudian membaca
refraktometer dibawah cahaya terang. Selanjutnya mencatat data
pengamatan. Kemudian membilas prisma dan day light plate
menggunakan aquades.

3.4 Gambar Alat


Berikut merupakan serangkaian alat yang digunakan untuk mengekstraksi
minyak atsiri:

11

Gambar 2. Rangkaian Alat Refluks

Gambar 3. Rangkaian Alat Destilasi


3.5 Variabel Percobaan
Dalam percobaan kali ini, yang bertindak sebagai variabel tetap adalah
volume n-heksana, star anise dan variabel berubahnya adalah waktu
pengadukan, pelarut n-heksana dan variabel terikatnya adalah kadar minyak
atsiri.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan

12

Hasil percobaan dari praktikum ekstraksi minyak atsiri pada tumbuhan star
anise yang dibandingkan dengan karakteristik minyak anis dari sumber
(Lawrence, 2002), sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Percobaan
Karakteristik
Berat Jenis
Indeks Bias
Rendemen

Standar Minyak Anise


0,98 gr/mL
1,55
-

Minyak Anise
(Pelarut n-heksana)
0,78 gr/mL
1,5
14,1 %

4.2 Pembahasan
Percobaan ekstraksi minyak atsiri star anise dilakukan dengan beberapa
cara dan perlakuan. Penggilingan bahan dan penghalusan menggunakan blender
dilakukan pertama kali agar didapatkan sampel star anise yang lebih halus untuk
selanjutnya dilakukan penyaringan kering atau pengayakan dengan ukuran
pengayak 80 mesh, ini berfungsi untuk mendapatkan hasil yang optimal dan
maksimal, agar kelenjar minyak star anise terbuka sebanyak mungkin sehingga
minyak atsiri target yang terdapat didalam star anise dapat diekstraksi sebanyak
mungkin dan proses ekstraksi menjadi lebih cepat. Dalam percobaan kali ini
bahan yang digunakan sebanyak 40 gram sampel halus yang ditambahkan dengan
pelarut n-heksana 300 mL.Penggunaan n-heksana sebagai pelarut didasarkan atas
sifat dari n-heksana yang bersifat stabil, mudah menguap, selektif dalam
melarutkan zat, mengekstrasi sejumlah kecil lilin dan dapat mengekstraksi zat
wangi dalam jumlah besar. Pemilihan n-heksana sebagai pelarut juga didasarkan
atas kepolaran dari minyak atsiri star anise yang hendak diekstrak bersifat non
polar, karena n-heksana merupakan jenis pelarut non polar yang baik. Pada
dasarnya senyawa non polar akan terikat dengan baik oleh pelarut yang juga non
polar.

13

Gambar 4. Proses Refluks


Proses perlakuan berikutnya adalah mengekstraksi sampel, yang
digunakan pada percobaan kali ini adalah metode ekstraksi panas jenis
refluks.Refluks adalah proses ekstraksi dengan pelarut yang didihkan beserta
bahan sampel selama waktu tertentu dan jumlah pelarutnya konstan, karna pelarut
terus bersirkulasi didalam refluks (menguap, didinginkan, kondensasi, kemudian
menetes kembali ke menstrum (campuran pelarut dan bahan sampel) di dalam
alat). Umumnya dilakukan pengulangan pada residu pertama, hingga didapat
sebanyak 3-5 kali hingga didapat proses ekstraksi sempurna (exhaustive
extraction). Pada percobaan ini refluks larutan dilakukan hanya satu kali selama 2
jam dengan suhu 50C. Refluks disini berfungsi untuk mengekstraksi sampelsampel yang mempunyai tekstur kasar, dan tahan pemanasan langsung. Pada
proses refluks ini juga dimulainya pemisahan antara zat yang akan terikat dengan
pelarut dan zat yang memang tidak dapat terikat.

14

Gambar 5. Penyaringan Larutan Hasil Refluks


Di akhir proses refluks akan didapatkan campuran antara pelarut dan zat
yang terekstraksi didalamnya dan serbuk padatan star anise sebagai residu. Hasil
dari refluks yang terdiri dari dua fasa ini kemudian disaring untuk memisahkan
antara zat cair dan serbuk padatan. Serbuk padatan yang didapat dipanaskan
menggunakan oven sampai kering dengan sempurna dan kemudian ditimbang
massanya.

Gambar 6. Proses Destilasi Sederhana


Campuran hasil refluks dan penyaringan kemudian selanjutnya didistilasi
menggunakan alat destilasi sederhana. Distilasi adalah suatu metode yang
digunakan untuk memisahkan campuran yang didasarkan pada perbedaan tingkat
volatilitas (kemudahan suatu zat untuk menguap) pada suhu dan tekanan tertentu.
Destilasi merupakan proses fisika, dan tidak ada reaksi kimia yang berlangsung
didalamnya. Dasar utama pemisahan dengan cara destilasi adalah perbedaan titik

15

didih pada tekanan tertentu. Proses destilasi biasanya melibatkan suatupenguapan


campuran dan diikuti dengan proses pendinginan dan pengembunan. Pada
destilasi dalam percobaan ini suhu dikontrol pada keadaan konstan 68C dan
tekanan 1 atm. Penetapan suhu ini didasarkan atas perbedaan titik didih zat pelarut
(n-heksana) sebesar 68C dan minyak anis sebesar 232C. Pada proses ini, pelarut
yang mendidih kemudian menguap lalu terkondensasi di kondensor dan kembali
menjadi cairan yang menetes pada labu erlenmeyer yang telah dilapisi es batu.
Sedangkan minyak atsiri star anise akan tertinggal di labu leher tiga. Proses
destilasi ini dilakukan sampai benar - benar tidak ada lagi tetesan pelarut pada
labu erlenmeyer. Penambahan es batu sebagai pelapis pada labu erlenmeyer
berguna untuk mempercepat pendinginan uap yang kembali menjadi cairan.

Gambar 7. Minyak Anise Hasil Percobaan


Hasil akhir dari percobaan ini adalah cairan pada labu leher tiga yang tidak
teruapkan berupa minyak atsiri dari star anise berwarna hijau tua kecoklatan
dengan massa 5,64 gram. Rangkaian terakhir dari percobaan ekstraksi minyak
atsiri star anise ini adalah uji mutu minyak atsiri berupa uji densitas dan indeks
bias. Dari uji densitas yang dilakukan, didapatkan densitas dari minyak atsiri star
anise yang didapat sebesar 0,783 gr/mL, sedangkan menurut literatur Lawrence
adalah 0,98 gr/mL. Indeks bias yang didapat adalah 1,5, sedangkan menurut
literatur Lawrence aadalah 1,55. Rendemen yang dihasilkan adalah 14,1%. Dari
massa jenis minyak atsiri yang didapat, berbeda dengan literature yang ada, ini
disebabkan kurang sempurnanya proses refluks pelarut meng-ekstrasi star anise
dalam 70mL larutan sampel, mengakibatkan residu yang dihasilkan masih
mengandung banyak minyak atsiri yang belumter-ekstrasi. Dari hasil yang didapat
pada percobaan ini berbeda dengan literatur, karena terjadi kesalahan pada saat

16

proses destilasi dimana waktu untuk mendestilasi kurang. Sehingga didalam


minyak atsiri yang didapat masih terdapat n-heksana yang mempengaruhi densitas
atau kerapatan molekul minyak atsiri.

17

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan ekstraksi minyak atsiri star anise dan analisa
terhadap mutunya, dapat disimpulkan
a. Ekstaksi minyak anis dengan menggunakan pelarut n-heksana
menghasilkan rendemen sebesar 14,1%.
b. Berdasarkan uji densitas, minyak atsiri dari percobaan ini memiliki
densitas sebesar 0,783 gr/mL.
c. Berdasarkan analisa indeks bias, minyak atsiri dari percobaan ini
memiliki indeks bias sebesar 1,5.
d. Penggunaan n-heksana dipakai karna sesuai untuk mengekstrasi
minyak atsiri karna keduanya bersifat non polar dan non polar.
5.2 Saran
Adapun saran untuk yang dapat diberikan untuk percobaan ekstraksi
minyak atsiri pada star anise adalah sebagai berikut,
a. Dapat digunakan variasi bahan seperti biji adas, ketumbar, dan serai.
b. Variasi pelarut pun dapat ditambahkan menggunakan kloroform, dietil
eter, maupun etanol.