Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN ANALISA SINTESA TINDAKAN

NASOGASTRIK TUBE
Project ini dikumpulkan untuk memenuhi tugas praktek klinik keperawatan Kegawatdaruratan di
Rumah Sakit Dr. M. Ashari Pemalang

Oleh:
Destini Puji Lestari

220202111130032

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014

LAPORAN ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN


DI INTENSIVE CARE UNIT RS Dr. M. ASHARI PEMALANG
Inisial pasien

: Tn. R (23 tahun)

Diagnosa medis

: Post Drowning

Tanggal masuk

: 16 Desember 2014

1. Diagnosa keperawatan dan dasar pemikiran


a. Diagnosa keperawatan
DS: - (klien mengalami penurunan kesadaran)
DO: terdengar suara ronchi basah, RR= 44x/menit, terdapat distensi abdomen, GCS:
E3M4V1
Diagnosa keperawatan:
b. Dasar pemikiran
Tenggelam (drawning) adalah kematian yang disebabkan oleh aspirasi cairan ke dalam
pernapasan akibat terbenamnya seluruh atau sebagian tubuh ke dalam air. Penyebab dari
tenggelam adalah terganggunya kemampuan fisik akibat pengaruh obat-obatan,
ketidakmampuan akibat hipoterma, syok cedera atau kelelahan, dan ketidakmampuan
akibat penyakit akut ketika berenang. Tanda dan gejala dari pasien dengan kasus
tenggelam adalah koma, edema paru, peningkatan sirkulasi, asidosis, timbulnya
hiperkapnea, hipoksemia. Berdasarkan jenis tenggelam, pasien Tn. R termasuk dalam jeis
tenggelam Submersion of the Unconscious yaitu tenggelam yang sering terjadi pada
korban yang menderita epilepsi atau penyakit jantung khususnya coronary atheroma,
hipertensi atau orang yang mengonsumsi alkohol dan mengalami trauma kepala saat
masuk ke air.
2. Tindakan keperawatan yang dilakukan
Melakukan pemasangan Nasogatric Tube (NGT)
3. Prinsip-prinsip tindakan
Nasogatrict tube adalah melakukan pemasangan selang (tube) dari rongga hidung ke
lambung (gaster).
Persiapan alat:
Baki berisi:
a. NGT no.14 atau 16
b. Jelly
c. Tongue spatel
d. Sepasang sarung tangan

e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Senter
Spuit/alat suntik ukuran 50-100cc
Plester
Stetoskop
Handuk
Tissue
Bengkok

Prosedur pelaksanaan:
Tahap pra interaksi:
a.
b.
c.
d.

Mengecek program terapi


Mencuci tangan
Mengidentifikasi pasien dengan benar (nama, nomor kamar)
Menyiapkan dan meletakkan alat di dekat pasien

Tahap orientasi:
a. Mengucapkan salam, menyapa pasien, memperkenalkan diri
b. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
c. Menanyakan persetujuan/kesiapan klien
Tahap Kerja:
a. Mendekatkan alat ke samping klien
b. Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan tujuannya
c. Mencuci tangan
d. Memposisikan klien pada posisi high flower (meningkatkan kemampuan klien
untuk menelan)
e. Memasang handuk pada dada klien, meletakkan tissue wajah dalam jangkauan
klien
f. Memasang sarung tangan
g. Mengukur panjang tube yang akan dimasukkan dengan menggunakan:

Metode tradisional: ukur jarak dari puncak lubang hidung ke daun


telinga bawah dan ke prosessus xipoideus di sterum
Metode hanson: mula-mula tandai 50cm pada tube, kemudian lakukan
pengukuran dengan metode tradisional. Selang yang akan dimasukkan
pertengahan antar 50cm dengan tanda tradisional

h. Berikan tanda pada panjang selang yang sudah diukur dengan menggunakan
plester

i. Memberikan jelly pada NGT sepanjang 10-20cm


j. Mengngatkan klien bahwa selang akan segera dimasukkan dan instrusikan klien
untuk mengatur posisi kepala ekstensi, masukkan selang melalui lubang hidung
yang telah ditentukan
k. Lanjutkan memasukkan selang sepanjang rongga hidung. Jika merasakan agak
tertahan, putarlah selang dan jangan dipaksakan untuk dimasukkan
l. Lanjutkan memasang selang sampai melewati nasofaring, setelah melewati
nasofaring (3-4cm) anjurkan klien untuk menekuk leher dan menelan
m. Tidak memaksakan selang masuk. Bila ada hambatan atau klien tersedak,
sianosis, maka hentikan mendorong selang. Periksa posisi selang di belakang
tenggorok dengan menggunakan spatel lidah dan senter
n. periksa letak selang dengan:

o.
p.
q.
r.
s.
t.

Memasang spuit pada ujung GT, memasang bagian diafragma stetoskop


pada perut di kuadran kiri atas klien (gaster), kemudian suntikan 10-20cc
udara bersamaan dengan auskultasi abdomen
Aspirasi pelan-pelan untuk mendapatkan isi lambung
Memasukkan ujung bagian luar selang NGT kedalam mangkuk yang berisi
air, jika ada gelembung udara berarti masuk ke paru-paru, bila tidak berarti
masuk pada lambung
Oleskan alkohol pada ujung hidung klien dan biarkan sampai kering
Fiksasi selang dengan plester dan hindari penekanan pada hidung
Mengevaluasi klien setelah terpasang NGT
Merapikan alat-alat
Mencuci tangan
Mendokumentasikan hasil tindakan pada catatan perawatan

Tahap Terminasi
a. Mengevaluasi tindakan yang dilakukan
b. Merapikan pasien dan lingkungan
c. Mengajak pasien berdoa dan berserah kepada Allah
d. Berpamitan dengan pasien
e. Membereskan dan mengembalikan alat ke tempat semula
f. Mencuci tangan

g. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan


(Kusyati, 2003)
4. Analisa tindakan keperawatan
Pemasangan pipa nasogatrik atau nasogatric tube (NGT) merupakan prosedur pemasangan
pipa melalui lubang hidung (nostril) turun ke nasofaring kemudian ke lambung (Barbara,
2004). Prosedur ini bermanfaat untuk tujuan diagnosis maupun terapi. Dua indikasi yangs
ering yaitu untuk akses pemberian utrisi bagi pasien yang tidak mampu makan melalui mulut
dan untuk mengevaluasi isi lambung pasien (William, 2004).
Pemasangan NGT dilakukan pada pasien yang tidak sadar, pasien dengan masalah saluran
pencernaan atas (steus esofagus, tumor mult, faring, maupun laring), pasien yang tidak
mampu menelan, pasien pasca operasi saluran pencernaan atas. Salah satu tujuan
pemasangan selang NGT adalah mengeluarkan cairan/isi lambung dan gas yang ada di dalam
lambung (Agha, 2011).
Pada kasus pasien, Tn. R mengalami penurunan kesadaran dan banyak meminum air
sehingga air yang ada di dalam perut pasien harus segera dikeluarkan. Pemasangan selang
NGT pada pasien harus segera dilakukan untuk mengeluarkan cairan lambung pasien.
5. Bahaya yang dapat terjadi
Komplikasi-komplikasi dapat terjadi akibat trauma mekanik selama proses pemasangan awal
NGT maupun penempatan NGT yang tidak tepat antara lain:
a. Distres nafas pada pemasangan awal NGT terjadi akibat penempatan posisi pasien
serta teknik pemasangan NGT yang tidak tepat. Ini dapat dicegah dengan
memposisikan pasien pada posisi fowler serta melakukan tahapan prosedur
pemasangan NGT dengan berurutan, serta yang paling penting adalah konfirmasi
letak pipa. Penanganan awal bila muncul tanda-tanda distres nafas adalah segera
menarik keluar NGT.
b. Malposisi NGT
Jangan melakukan pemasangan NGT misalnya malposisi NGT pada pasien
trauma maksilofasial yang dicurigai mengalami fraktur cribiformis plate
c. Epitaksis masif dapat menyebabka gangguan pada jalan nafas sehingga
memerlukan pemasangan tampon. Risiko komplikasi ini dapat dikurangi dengan
melakukan teknik pemasangan NGT yang tepat yaitu dengan menelusuri dasar
hidung menuju ke arah telinga saat mendorong masuk NGT untuk mengurangi
terjaidnya turbinasi dan nyeri serta epistaksis.

d. Pneumonia aspirasi terjadi akibat aspirasi isi lambung saat pasien muntah. Ini
dapat dicegah dengan memposisikan pasien dengan baik, bila perlu lakukan
intubasi bila saluran napas tidak lapang terutama pada pasien tidak sadar.
e. Hipoksemia terjadi akibat obstruksi saluran napas karena penempatan NGT yang
kurang tepat
(Todd, 2006)
6. Hasil yang didapat dan maknanya
S: - (pasien mengalami penurunan kesadaran)
O: keluar cairan melalui selang NGT sebanyak 400cc
A: masalah teratasi sebagian
P: kaji dan catat cairan yang keluar melalui selang NGT
7. Tindakan keperawatan lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi diagnosa di atas (mandiri
dan kolaboratif)
a. Memposisikan pasien semifowler
b. Mengkaji keseimbangan nutrisi dan cairan
c. Mengkaji adanya obstruksi jalan nafas pasie
8. Evaluasi diri
Mahasiswa harus lebih meningkatkan ilmu pengetahuan mengenai prosedur pemasangan
NGT dengan tepat untuk menghindari kemungkinan kesalahan penempatan selang NGT
9. Kepustakaan
1) Kusyati, Eni. 2003. Ketrampilan dan Prosedur Keperawatan Dasar. Semarang: Kilat Press
2) Kozier, Barbara, etc. 2004. Fundamental Nursing: Concepts, Process and Practice
Seventh ed. Pearson Prentice hall New Jersey.
3) Lippincot Williams & Wilkins. Nasogatric Tube Insertion and Removal: ursing Procedur
Fourth ed.1. Wolter Kluwer Company
4) Agha, R & Muhammed RSS. 2011. Pneumothorax After Nasogatric Tube Insertion.
Journal of the Royal Society of Medicine Short Reports: 2: 28