Anda di halaman 1dari 28

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN

PANKREATITIS

MAKALAH

oleh
Kelompok 12
Ika Adelia Susanti

NIM 142310101093

Miftahuddin

NIM 142310101035

Zahra Marseliya Khusnah

NIM 142310101143

Kelas C

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2016

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN


PANKREATITIS
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Klinik III B
dengan dosen pengampu Ns. Ratna Sari Hardiani, M.Kep

oleh
Kelompok 12
Ika Adelia Susanti

NIM 142310101093

Miftahuddin

NIM 142310101035

Zahra Marseliya Khusnah

NIM 142310101143

Kelas C

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala rahmat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Asuhan
Keperawatan pada Klien dengan Pankreatitis. Makalah ini disusun untuk
memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Klinik III B. Penyusunan
makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis
menyampaikan terima kasih kepada:
1. Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember yang telah
memberikan sarana dan prasarana kepada saya sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas ini dengan baik dan lancar
2. Ns. Peni Perdani Juliningrum, M.Kep selaku penanggung jawab mata
kuliah Ilmu Keperawatan Klinik III B
3. Ns.Ratna Sari Hardiani, M.Kep selaku dosen pengampu mata kuliah Ilmu
Keperawatan Klinik III B yang telah menyediakan waktu, tenaga dan
pikiran untuk membimbing kami dalam penyususnan makalah ini
4. semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi
kesempurnaan makalah ini. Akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat
bermanfaat.
Jember, Maret 2016

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
COVER.....................................................................................................

HALAMAN SAMPUL............................................................................

ii

KATA PENGANTAR...............................................................................

iii

DAFTAR ISI.............................................................................................

vi

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..
1.2 Rumusan Masalah.................................................................
1.3 Tujuan...................................................................................
1.4 Implikasi Keperawatan.........................................................
BAB 2. TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi Pankreatitis..............................................................

2.2 Epidemiologi Pankreatitis.....................................................

2.3 Etiologi Pankreatitis..............................................................

2.4 Tanda dan Gejala Pankreatitis...............................................

2.5 Patofisiologi Pankreatitis.......................................................

2.6 Komplikasi dan Prognosis Pankreatitis.................................

2.7 Pengobatan Pankreatitis.........................................................

11

2.8 Pencegahan Pankreatitis........................................................

11

BAB 3. PATHWAYS PANKREATITIS..................................................

13

BAB 4. ASUHAN KEPERAWATAN


4.1 Pengkajian.............................................................................

14

4.2 Diagnosa Keperawatan..........................................................

15

4.3 Intervensi Keperawatan.........................................................

16

4.4 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan..............................

18

BAB 5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan............................................................................

21

5.2 Saran......................................................................................

21

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................

22

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pankreas adalah kelenjar rasemosa besar dan memanjang yang terletak
melintang dibelakang lambung. Pankreas merupakan suatu organ yang
mempunyai fungsi endokrin dan eksokrin, dan kedua fungsi ini saling
berhubungan. Fungsi eksokrin yang utama adalah untuk memfasilitasi proses
pencernaan melalui sekresi enzim-enzim ke dalam duodenum proksimal. Salah
satu gangguan yang terjadi pada organ pankreas adalah pankreatitis. ankreatitis
adalah penyakit peradangan serius yang akut atau kronis. Pankreatitis merujuk
pada peradangan, edema, dan necrosis yang terjadi sebagai akibat pencernaandiri pankreas oleh enzim yang biasanya dikeluarkannya. Proses inflamasi bisa
menyebabkan perubahan morfologi, struktur dan fungsi dari kelenjar pankreas.
Perawat sebagai bagian dari tenaga kesehatan yang harus mengetahui
kondisi pasien, harus mengetahui konsep dasar penyakit sekaligus mengetahui
teori asuhan keperawatan pada pasien pankreatitis. Makalah ini dibuat untuk
membantu memahami konsep penyakait pankreatitis dan sebagai gambaran dalam
memberikan asuhan keperawatan yang profesional dan tepat sesuai respon
masing-masing individu.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan pankreatitis?
2. Bagaimana epidemiologi dari pankreatitis?
3. Bagaimana etiologi dari pankreatitis?
4. Bagaimana tanda dan gejala dari pankreatitis?
5. Bagimana patofisiologi dari pankreatitis?
6. Bagaimana klasifikasi dari pankreatitis?
7. Bagaimana komplikasi dan prognosis dari pankreatitis?
8. Bagaimana pengobatan dari pankreatitis?
9. Bagaimana pencegahan dari pankreatitis?
10. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien pankreatitis?
1.2 Tujuan
Tujuan dalam makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui pengertian pankreatitis.
2. Untuk mengetahui epidemiologi pankreatitis.
3. Untuk mengetahui etiologi pankreatitis.

4. Untuk mengetahui tanda dan gejala pankreatitis.


5. Untuk mengetahui patofisiologi pankreatitis.
6. Untuk mengetahui klasifikasi pankreatitis.
7. Untuk mengetahui komplikasi dan prognosis pankreatitis.
8. Untuk mengetahui pengobatan pankreatitis.
9. Untuk mengetahui pencegahan pankreatitis.
10. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien pankreatitis.
Implikasi Keperawatan
Pasien yang mengalami gangguan sistem pencernaan berupa pankreatitis
memerlukan dorongan serta dukungan baik secara biologis, psikologis, sosial
maupun spiritual. Seorang perawat harus mampu memberikan asuhan
keperawatan sekaligus menjelaskan kepada keluarga pasien mengenai tindak
lanjut perawatan pasien pankreatitis secara mandiri. Selain itu, perawat yang
mempunyai peran sebagai reseacher harus mampu menggunakan kesempatannya
untuk melakukan studi terkait yang dapat menambah wawasan sekaligus berguna
bagi kemajuan profesi keperawatan.

BAB 2. TINJAUAN TEORI


2.1 Definisi Pankreatitis
Pankreatitis merupakan penyakit yang serius pada pankreas dengan
intensitas yang dapat berkisar mulai dari kelainan yang relatif ringan dan sembuh
sendiri hingga penyakit yang berjalan dengan cepat dan fatal yang tidak bereaksi
terhadap berbagai pengobatan. (Brunner & Suddart, 2001)
Pankreatitis adalah kondisi inflamasi yang menimbulkan nyeri dimana
enzim pankreas diaktifasi secara prematur mengakibatkan autodigestif dari
pankreas. (Doengoes, 2000)
Pankreatitis Akut adalah peradangan pankreas yang terjadi secara tiba-tiba,
bisa bersifat ringan atau berakibat fatal.
Pankreatitis akut adalah inflamasi pankreas yang biasanya terjadi akibat
alkoholisme dan penyakit saluran empedu seperti kolelitiasis dan kolesistisis.
(Sandra M. Nettina, 2001)
Pankreatitis akut adalah suatu proses peradangan akut yang mengenai
pankreas dan ditandai oleh berbagai derajat edema, perdarahan dan nekrosis pada
sel-sel asinus dan pembuluh darah. Mortalitas dan gejala klinis bervariasi sesuai
derajat proses patologi. Bila hanya terdapat edema pankreas, mortalitas mungkin
berkisar dari 5% sampai 10%, sedangkan perdarahan masif nekrotik mempunyai
mortalitas 50% sampai 80%. Secara normal pankreas mengalirkan getah pankreas
melalui saluran pankreas (duktus pankreatikus menuju ke usus dua belas jari
(duodenum).
2.2 Epidemiologi Pankreatitis
Insiden pankreatitis sangat bervariasi dari satu negara ke negara lain
disebabkan karena faktor lingkungan. Di negara barat penyakit ini seringkali
ditemukan berhubungan erat dengan penyalahgunaan pemakaian alkohol dan
penyakit hepatobilier. Frekuensi berkisar 0,14% atau 10-15% pasien pada 100.000
penduduk. Statistik internasional, insiden pankreatitis berkisar antara 5-8- per
100.000 populasi, dengan peningkatan insiden yang dilaporkan di Amerika dan

Finlandia. Insiden di Inggris 5-10 per 100.000, Skotlandia 25-35 per 100.000, US
70-80 per 100.000. Insiden dari pankreatitis tidak tergantung pada gender atau ras
dan sangat jarang pada anak-anak. Komplikasi terjadi 25% dari semua kasus
pankreatitis dan mortalitas secara umum berhubungan dengan kelainan ini dan
meningkat 10-25% lebih dari 20 tahun.
Resiko usia di Afrika dan Amerika 33-64 tahun. Insiden pada laki-laki
65,6%, wanita 34%. Penyebab karena alkohol 44,1% batu empedu 29% dan
trauma 4,3%, terdapat paling banyak pada golongan usia 41-50 tahun.
2.3 Etiologi Pankreatitis
Pankreatitis akut terjadi akibat proses tercernanya organ ini oleh enzimenzimnya sendiri, khususnya oleh tripsin. Delapan puluh persen penderita
pankreatitis akut mengalami penyakit pada duktus billiaris; meskipun demikian,
hanya 5% penderita batu empedu yang kemudian mengalami nekrosis. Batu
empedu memasuki duktus koledokus dan terperangkap dalam saluran ini pada
daerah ampula Vateri, menyumbat- aliran getah pankreas atau menyebabkan aliran
balik (refluks) getah empedu dari duktus koledokus ke dalam duktus
pankreastikus dan dengan demikian akan mengaktifkan enzim-enzim yang kuat
dalam pankreas. Spasme dan edema pada ampula Vateri yang terjadi akibat
duodenitis kemungkinan dapat menimbulkan pankreatitis.
Penyebab Pankreatitis Akut :
1. Batu empedu
2. Alkoholisme
3. Obat-obat, seperti furosemide dan azathioprine
4. Gondongan (parotitis)
5. Kadar lemak darah yang tinggi, terutama trigliserida
6. Kerusakan pankreas karena pembedahan atau endoskopi
7. Kerusakan pankreas karena luka tusuk atau luka tembus
8. Kanker pankreas
9. Berkurangnya aliran darah ke pankreas, misalnya karena tekanan darah
yang sangat rendah
10. Pankreatitis bawaan
2.4 Tanda dan Gejala Pankreatitis
1. Nyeri

Hampir setiap penderita mengalami nyeri yang hebat di perut atas bagian
tengah, dibawah tulang dada (sternum).
Nyeri sering menjalar ke punggung. Kadang nyeri pertama bisa dirasakan
di perut bagian bawah. Nyeri ini biasanya timbul secara tiba-tiba dan
mencapai intensitas maksimumnya dalam beberapa menit. Nyeri biasanya
berat dan menetap selama berhari-hari. Bahkan dosis besar dari suntikan
narkotikpun sering tidak dapat mengurangi rasa nyeri ini. Batuk, gerakan
yang kasar dan pernafasan yang dalam, bisa membuat nyeri semakin
memburuk. Duduk tegak dan bersandar ke depan bisa membantu
meringankan rasa nyeri.
2. Mual dan muntah
Sebagian besar penderita merasakan mual dan ingin muntah. Penderita
pankreatitis akut karena alkoholisme, bisa tidak menunjukkan gejala
lainnya, selain nyeri yang tidak terlalu hebat.
3. Sedangkan penderita lainnya akan terlihat sangat sakit, berkeringat
4. denyut nadinya cepat (100-140 denyut per menit) dan
5. pernafasannya cepat dan dangkal.
6. Pada awalnya, suhu tubuh bisa normal, namun meningkat dalam beberapa
jam sampai 37,8-38,8? Celsius.
7. Tekanan darah bisa tinggi atau rendah, namun cenderung turun jika orang
tersebut berdiri dan bisa menyebabkan pingsan.
8.

Kadang-kadang bagian putih mata (sklera) tampak kekuningan.

9.

20% penderita pankreatitis akut mengalami beberapa pembengkakan pada


perut bagian atas. Pembengkakan ini bisa terjadi karena terhentinya
pergerakan isi lambung dan usus (keadaan yang disebut ileus
gastrointestina atau karena pankreas yang meradang tersebut membesar
dan mendorong lambung ke depan.

2.5 Patofisiologi Pankreatitis

Pankreatitis akut dimulai sebagai suatu proses autodigesti di dalam kelenjar


akibat premature zymogen (prekorsor dari enzim digestif) dalam sel-sel secretor
pancreas (asinar), sistem saluran atau ruang interstisial. Gangguan sel asini
pancreas dapat terjadi karena beberapa sebab:
1.

Obstruksi ductus pankreatikus. Penyebab tersering obstruksi adalah


batu empedu kecil (microlithiasis) yang terjebak dalam ductus. Sebab
lain adalah karena plug protein (stone prootein) dan spasme sfingter
Oddi pada kasus pankreatitis akibat konsusmsi alkohol.
stimulasi hormon cholecystikini (CCK) sehingga akan mengaktivasi

2.

enzim pankreas. Hormon CCK terstimulasi akibat diet tinggi protein


dan lemak (hipertrigliseridemia) dapat juga karena alkohol
Iskemia sesaat dapat meningkatkan degradasi enzim pancreas. Keadaan

3.

ini dapat terjadi pada prosedur operatif atau karena ateroklerosis pada
arteri di pancreas
Gangguan di sel asini pancreas akan diikuti dengan pelepasan enzim
pancreas, yang selanjutnya akan merangsang sel-sel peradangan (makrofag,
neutrophil, sel-sel endotel, dsb) untuk mengelurakan mediator inflamasi
(bradykinin, platelet activating factor [PAF]) dan sitokini proinflammatory
(TNF-. IL-1 beta, IL-6, IL-8 dan intercellular adhesive molecules (ICAM 1) dan
vascular adhesive molecules (VCAM) sehingga menuebabkan permeabilitas
vascular meningkat, teraktivitasinya sistem komplemen dan ketidakseimbangan
sistem trombo-fibrinolitik. Kondisi tersebut akhirnya memicu terjadinya gangguan
mikrosirkulasi, stasis mikrosirkulasi, iskemia dan nekrosis sel-sel pancreas.
Kejadian di atas tidak saja terjadi lokal di pancreas tetapi dapat pula terjadi di
jaringan/organ vital lainnya sehingga dapat menyebabkan komplikasi lokal
maupun sistemik.
Dengan kata lain pankreastitis akut dimulai oleh adanya kejadian yang
menginisiasi luka kemudian diikuti kejadian selanjutnya memperberat luka.
Secara ringkas progesi pankreatitis akut dapat dibagi menjadi 3 fase berurutan,
yaitu:
1.
2.

Inflamsi lokal pancreas


Peradangan sistemik (systemic inflammatory response syndrome

3.

[SIRS])
Disfungsi multi organ (multiorgan dysfungctions [MODs]).

Berat ringannya pankreatitis akut tergantung dari respons inflamsi sistemik


yang diperantai oleh keseimbangan sitokin proinflammatory dan antiinflammatory dan ada tidaknya infeksi baik lokal maupun sistemik. Adanya
banyak faktor yang dapat menyebabkan pankreatitis akut, tetapi yang paling
sering ditemukan adalah alkoholisme (utama), gangguan traktus bilier (kedua),
kolelitiasis, dan kolesisttitis. Pada keadaan dimana sitokin proinflammatory lebih
dominan daripada sitokin anti-inflammatory (IL-10, IL-1 receptor antagonist (IL1ra) dan soluble TNF receptor (sTNFR) keadaan yang terjadi adalah pankreatitis
akut berat.
2.6 Klasifikasi
Bradley membagi pankreatitis berdasarkan fisiologik, tes laboratorium,
dan parameter klinis menjadi:
Pankreatitis Akut Ringan; Biasanya tidak disertai komplikasi atau disfungsi
organ
Pankreatitis Akut Berat; disertai gangguan fungsi pancreas, terjadi
komplikasi lokal atau sistemik
Pankreatitis akut berat dapat didefinisikan pankreatitis akut yang disertai
gagal organ dan atau dengan komplikasi lokal (pembentukan abses, nekrosis
dan pseudocyst).
Berdasarkan patologi dibedakan menjadi:
1.

Pankreatitis

Akut

Interstitial.

Secara

makroskopik

pancreas

membengkak secara difus dan pucat. Tidak terdapat nekrosis atau


perdarahan, bila ada minimal sekali. Secara mikroskopik, daerah
interstitial melebar karena adanya edema ekstrasel, disertai seberan sel
leukosit PMN. Saluran pancreas diisi bahan purulent. Tidak didapatkan
dekstruksi asinus.
2.

Pankreatitis Akut Nekrosis Hemoragik. Secara makroskopik, tampak


nekrosis jaringan pancreas (lemak di tepi pancreas, parenkim) disertai
perdarahan dan inflamasi yang dapat mengisi ruang retroperitoneal.
Bila penyakit berlanjt, tampak abses dan timbulnya bakteri di jaringan

nekrosis yang berdinding (abses purulen). Secara mikroskopik, adanya


nekrosis lemak dan jaringan pancreas, kantong infiltrat yang meradang
dan berdarah. Pembuluh darah di dalam dan di sekitar daerah nekrotik
menunjukkan kerusakan mulai dari inflamsi perisvakular, vasculitis,
dan thrombosis pembuluh darah. Bentuk pankreatitis ini lebih fatal
dibanding pankraetitis akut interstisial.
2.7 Komplikasi dan Prognosis Pankreatitis
Komplikasi
Kasus pankreatitis yang ringan biasnya sembuh tanpa komplikasi, namun
semakin berat serangan akut, semakin mungkin terjadi komplikasi:

Pseudokista/abses

pancreas.

Bermanifestasi

dengan

adanya

nyeri

persiisten dan/ atau demam. Diagnosis ini ditegakkan dengan CT dan


seringkali bisa dilakukan drainase perkutan.

Sindrom distress pernapasan dewasa

Trombosis vena porta/mesenterika


Komplikasi utama berkenaan dengan pankreatitis adalah pseudokista dan

pembentukan abses. Rongga-rongga abnormal ini pada akhirnya pecah da


menimbulkan peritonitis. Pseudokista dapat sebuh secara spontan, namun
pembedahan biasanya diperlukan untuk mengalirkan rongga abnormal ini untuk
mencegah peritonitis.
Komplikasi yang terjadi dapat bersifat lokal maupun sistemik, komplikasi
lokal meliputi kumpulan cairan akut, nekrosis, abses, dan pseudosit (kumpulan
getah pancreas dan pecahan jaringan yang diselaputi dengan dinding berserat atau
jaringan berbentuk granul) yang berkembang sekirat 4-6 minggu setelah serangan
awal. Abses pankraetik biasanya merupakan infeksi sekunder dari nekrosis
jaringan atau pseudosit dan terkaitt dengan keparahan penyakit. Kematian
disebabkan nekrosis infeksi dan sepsis. Asites pankreatik terjadi ketika sekresi
pankrean menyebar ke rongga peritonela.
Komplikasi sistemik meliputi gangguan kardiovaskuler, renal, pulmonary,
metabolic, hemoragik, abnormalitas sistem saraf pusat. Shock adalah penyebab

utama kematian. Hipotensi terjadi akibat hypovolemia, hypoalbuminemia, dan


rilis kinin serta sepsis. Komplikasi renal biasanya disebabkan hypovolemia.
Komplikasi pulmonary berkembang ketika terjadi akumulasi cairan diantara
rongga pleura dan menekan paru, acute respiratory distress syndrome (ARDS) ini
akan menahan pertukaran gas, yang dapat menyebabkan hipoksemia. Perdarahan
gastrointestinal terjadi akibat rupture pseudosit. Pankreatitis akut berat biasanya
kebingungan dan koma.
Prognosis
Untuk menilai prognosis dipakai kriteria Ranson. Penderita dengan jumlah
skor kurang dari 3, angka kematian 0-5%. Penderita dengan jumlah skor 3 atau
lebih, angka kematian 15-20%.
2.8 Pengobatan Osteoporosis
Tujuan pengobatan adalah menghentikan proses peradangan dan
antodigesti atau menstabilkan sedikitnya keadaan klinis sehingga memberi
kesempatan resolusi penyakit. Pasien pankreatitis menerima terapi suportif yang
terdiri kontrol nyeri secara efektif, penggantian cairan, dan nutrisi pendukung.
Oleh karena itu manajemen pankreatitis, biasanya terdiri dari:

Manajemen cairan

Nutrisi pendukung
- Untuk mengistirahatkan saluran cerna
- Diberikan nutrisi secara enteral maupun parenteral

Manajemen nyeri

Selain itu dapat juga dilaukan radiologi dan ERCP atau terapi bedah.
Manajemen terapi yang diberikan tersebut dbagi dalam terapi farmakologi dan
non farmakologi.
A. Terapi Non Farmakologi
a. Nutrisi pendukung

Pemberian nutrisi pendukung dilakukan untuk mengistirahatkan saluran


cerna sehingga mengurangi stimulasi pancreas juga karena terjadinya malnutrisi.
Malnutrisi diakibatkan metabolism pada pasien dengan pankraetitis akut berat
menyerupai keadaan sepsis, yang ditandai dngan hiperdinamik, hipermetabolik,
dan hiperkatabolik.
Dalam beberapa tahun lalu pemberian nutrisi yang direkomendasiakn
adalah nutrisi parenteral melalui vena sentral. Pemeberian nutrisi per-oral akan
merangsang produksi enzim pancreas sehingga akan memperberat penyakit.
Namun dengan berjalannya waktu, pemberian nutrisi sebaiknya diberikan secara
enteral.
Berdasarkan penelitian, pemberian nutrisi parenteral dapat mengakibatkan:
1. Atrofi jaringan limfoid usus (GALT/gut associated lymphoid tissue)
yang merupakan sumber utama imunitas mukosa
2. Terganggunya fungsi limfosit sel T dan sel B, menurunnya aktivitas
kemotaksis leukosit dan fungsi fagositosis sehingga memudahkan
pertumbuhan bakteri (bacterial overgrowth)
3. Meningkatnya permeabilitas dinding usus yang dapat mempermmudah
terjadinya transkolasi bakteri, endotoksin, dan antigen masuk ke dalam
sirkulasi.
Pemberian nutrisi enteral berdasarkan penelitian lebih menguntungkan
karena:
1. Dapat melindungi fungsi barrier usus,
2. Menurunkan produksi mediator proinflammatori sehingga risiko
translokasi bacterial dan endotoksin menurun
Nutrisi yang diberikan secara oral, nasogatrik maupun melalui dusodenum
dapat meningkatkan produksi enzim pancreas. Namun nutrisi enteral melalui
nasojejunal tube (NJT) tidak merangsang prooduksi enzim. Nurisi enteral
diberikan segera setalah dilakuakn resusitasi cairan, dapat diberikan 48 jam
pertama bila kondisi sudah stabil, dan tidak ada kontraindikasi seperti adanya:
syok, perdarahan gastrointestinal massif, obstruksi intestinal, fistula jejunum atau

enteroparalisis berat. Ada tiga alternative pemberian nutrisi enteral pada


pankreatitis akut berat:
1.

Nasojejunal tube

2.

Gastrotomy/jejunostomy tube

3.

Jenunostomi secara bedah

Pemberian secara NJT lebih terpilih karena lebih aman, non-invasif dan
lebih mudah dikerjakan dengan endoskopi.
b. Intervensi radiologi dan ERCP
Mengangkat batu empedu dengan ERCP atau pembedahan dapat
mengatasi pankreatitis akut dan mencegah kambuh kembali. Meskipun demikian
pada saat ini terapi pankreatitis akut berat telah bergeser dari tindakan
pembedahan awal ke perawatan intensif agresif. Seiring dengan berkembangnya
radiologi dan endoskopi intervensi, tindakan bedah dapat diminimalissasi.
Tindakan ERCP, drainase endoskopis dan perkutaneus baik dengan
panduan USG maupun CT scan dapat diindikasikan pada komplikasi pankreatitis
berat seperti: timbunan cairan peri pankreatitik, pseudocyst dan abses lambat.
Pseudocyst didefinisikan sebagai adanya timbunan caira yang menetap lebih dari
4 minggu, terjadi akibat rupturnya ductus pankreatikus dapat didrainase secara
endokopis dengan keberhasilan sekitar 83%.
Batu emepedu yang bermigrasi dan terjebak di ampula merupakan
penyebab tersering pankreatitis akut (acute biliary pancreatitis). ERCP
merupakan prosedur endoskopis untuk mengevaluasi sistem bilier dan sistem
ductus pankreatikus. Beberapa studi membuktikan bahwa ERCP yang dilakukan
pada 24-72 jam dari onset klinis pada pasien pankreatitis akut berat yang terbukti
dengan obstruksi bilier, kolangitis dan peningkatan bilirubin dapat menurunkan
mordibitas dan mortalitas.
Pasien yang mengalami ERCP seringkali diombinasi dengan tindakan
sfingterotomi endoskopis tanpa memandang ada/tidaknya batu di ductus biliaris.
Pada pasien dengan kolangitis memerlukan tindaan sfingterotomi endoskopis atau

drainase ductus dengan stent perlu dilakukan untuk menghilangkan obstruksi


bilier.
c. Terapi Bedah
Tindakan bedah diindikasikan pada pankreatitis akut berat:
1. Pankreatitis nekrotik akut terinfeksi
2. Penkreatitis nekrotik steril dengan pankreatitis akut fulminant (ditandai
dengan menurunnya kondisi pasien akibat gagal irgan multiple yang
muncul dalam beberapa hari sejak onset gejala)
3. Pankreatitis akut dengan perdarahan usus.
Indikasi pembedahan adalah:
a. Segera
1. Pankreatitis akuta karena trauma
2. Pankreatitis akuta karena kelainan traktus biliaris dengan sepsis
atau icterus yang berat
3. Pankreatitis akut dalam waktu relative singkat menjadi progesif,
atau terjadi tanda-tanda peritonitis umum.
4. Timbulnya abses, atau perdarahan massif dari saluran pencernaan.
5. Pankreatitis akuta dengan perforasi usus, strangulasi usus, ataupun
gangguan vaskularisasi usus.
6. Penderita sakit berat, dengan pengobatan konservatif tidak ada
perbaikan
7. Pankreatitis akit disertai kegagalan organ-organ.
b. Ditunda 4-6 minggu setelah gejala akut hilang
Pada pankreatitis akut yang disebabkan kelainan traktus biliaris
dengan gejala yang ringan da nada tanda-tanda perbaikan setelah 3-5
hari perawatan.

Tujuan tindakan bedah adalah untuk memberikan jaringan nekrotik


sebersih mungkin dengan menyisakan jaringan pancreas yang masih viabel.
Tindakan debridement (necrotomy) merupakan gold standard pada pankreatitis
nekrosis akut terinfeksi dan nekrosis peri pankreatik. Pankreatitis nekrotik akut
steril tidak perlu tindakan bedah, cukup konservatif kecuali terjadi pankreatitis
akut fulminant.
B. Terapi Farmakologi
c. Manajemen Nyeri
Untuk mengatasi nyeri perut diberikan analgesic. Factor penting yang
erlu diperhatikan dalam memilih analgetik adalah efikasi dan keamanan.
Dahulu tritmen biasanya diawali dengan pemberian meperidine secara
parenteral (50-100 mg tiap 3-4 jam), karena tidak mengakibatkan
pankeatritis. Sekarang ini, banyak rumah sakit yang membatasi atau
malah tidak menggunakannya lai karena tidak seefektif narkotik lainnya
dan dikontraindikasikan pada pasien gangguan ginjal. Selain kurang
efektif, juga dibutuhkan dosis dan frekuensi yang lebih tinggi. Hal yang
terpenting adalah bahwa metabolit aktif meperidine berakulmulasi pada
pasien

gagal

ginjal

adalah

bahwa

metabolit

aktif

meperidine

berakumulasi pada pasien gagal ginjal dan dapat menyababkan kejang


atau psikosis.
Parental morfin lebih direkomendasikan. Terapi penggunaannya
terkadang harus dihindari karena dapat menyebabkan spasm sphincter of
Oddi,

meningkatkan

serum

amylase,

dan

jarang

pankreatitis.

Hidromorfon lebih disukai karena waktu paruh yang lebih panjang.


Belum ada bukti bahwa obat antsekretori dapat mencegah eksaserbasi
nyeri perut.
d. Pembatasan

Komplikasi

Sistemik

dan

Pencegahan

Nekrosis

Pankreas
Manajemen Cairan
Penggantian cairan sangat penting untuk mengkoreksi volume
intravascular. Prognosis pasien sangat bergantung dengan restorasi cairan

yang cepat dan adekuat, sesuai denganjumlah cairan yang masuk ke


rongga peritoneal. Pasien pankreatitis akut mungkin trjadi penyisipan
cairan 4-12 L ke rongga peritoneal akibat inflamasi.
Vasodilatsi akibat respons inflamasi, muntah, dan nasogastric juga
menyebabkan hypovolemia dan kehilangan cairan dan elektrolit. Pada
pankreatitis berat pembuluh darah di dan sekitar pancreas mungkin trjadi
rupture dan menyebabkan perdarahan. Pemberian koloid secara intarvena
mungkin diperlukan untuk mempertahankan volume dan tekanan darah
karena kehilangan cairan kaya protein.
Obat-obatan
Sejumlah obat diteliti efikasinya dalam mencegah komplikasi
pancreas diantaranya adalah:

Antagonis H2 , proton pump inhibitor

Protease inhibitor: gabexate, aprotinin

Platelet-activating factor antagonist: lexipafant

Somatostatin dan Octreotide


o Inhibitor potent sekeresi enzim pancreas
o Mengurangi kematian tetapi tidak mengurangi komplikasi

Terapi alternative
a.

Peritoneal Lavage
Cara ini dianjurkan dilakukan pada pankreatitis akut yang

harus

berat

untuk

menggantikan

tindakan

drainase

secara

pembedahan. Tindakan ini diharapkan dapat mengeluarkan zat-zat


berbahaya yang dikeluarkan PA berat, seperti histamine, tripsin,
kinin, myocardial depressant factor, ataupun prostaglandin.
b.

Pemberian Somatostatin
Obat ini diharapkan menghambat ekskresi pancreas, dengan

secara langsung menekan sekresi kelnjar pancreas dan secara tidak


langsung

menekan

pengeluaran

hormone

pencernaan

yang

mempengaruhi pancreas. Yang sering dipakai adalah: Octreotide


(Sandostatin) 100 g, diberikan secara subkutan 3dd.

Adapun obat-obatan yang perlu dihindari adalah:


1. Tiazid
2. Sulfonamid
3. Furosemid
4. Azatiprin
2.9 Pencegahan Pankreatitis
Pankreatitis akut erat kaitannya dengan konsumsi minuman beralkohol dan
penumbatan batu empedu maka langkah yang paling efektif adalah dengan cara
menghindari dua factor risiko tersebut dengan cara:
o Mengurangi atau menghentikan konsumsi minuman beralkohol
o Menghindari atau membatasi makanan berkolesterol tinggi guna
mencegah terbentuknya batu empedu, seperti daging yang bnayak
mengandung lemak, makanan berminyak, dan mentega.
o Mengonsumsi makanan kaya serat seperti buah, dan biji-bjian.
o Pankreatitis akut juga rentan dialami penderita obesitas, karena itu
penerapan diit dan olahraga secara teratur diperlukan sbagai langkah
pencegahan.
o Dianjurkan makan 4-5 kali/hari dengan makanan sedikit lemak dan
protein, dan banyak mengandung karbohidrat.

BAB 3. PATHWAYS PANKREATITIS

Batu empedu

Alkoholisme

Terjebak di duktus pankreatik

Trauma fisik dan infeksi


(bakteri & virus)

Spasme sfingtrer oddi


Iritasi pankreas

Obstruksi duktus pankreatik


PANKREATITIS
Eksudasi darah & protein

Inflamasi

Rongga pleura

Metabolisme tubuh

Ekspansi paru

HCl

Dispneu

Hipertermi

Pelepasan mediator
Ke hipotalamus
Ke korteks serebri

Asupan nutrisi

Kebutuhan nutrisi
kurang dari
kebutuhan tubuh
Hipotensi
Dan takikardi

Suhu tubuh

Mual, muntah

Pola nafas tidak


efektif

Merangsang ujung saraf

Kehilangan cairan tubuh

Nyeri akut

Dehidrasi
Defisit volume
cairan

Energi

Merangsang
saraf otonom
Pengaktifan
norephineprin

Hipovolemik
Kelemahan fisik
Hipotensi
Intoleransi
aktivitas

Gangguan
istirahat tidur

BAB 4. ASUHAN KEPERAWATAN


4.1 Pengkajian
a. Identitas pasien
Biodata diperoleh data tentang nama, umur, jenis kelamin, tempat tinggal,
pekerjaan, pendidikan dan status perkawinan. Dimana beberapa faktor
tersebut dapat menempatkan klien pada resiko pada pankreatitis akut
b. Keluhan utama
Nyeri hampir selalu merupakan keluhan yang diberikan oleh pasien dan
nyeri dapat terjadi di epigastrium, abdomen bawah atau terlokalisir pada
daerah torasika posterior dan lumbalis. Nyeri bisa ringan atau parah atau
biasanya menetap
c. Riwayat Kesehatan
1. Riwayat penyakit sekarang
Riwayat kesehatan juga mencakup pengkajian yang tetap tentang
nyeri, lokasi, durasi, faktor-faktor pencetus dan hubungan nyeri dengan
makanan, postur, minum alkohol, anoreksia, dan intoleransi makanan
2. Riwayat penyakit dahulu
Ulkus peptikum, gagal ginjal, vaskular disorder, hypoparathyroidism
dan hyperlipidemia
3. Riwayat penyakit keluarga
Kaji riwayat keluarga yang mengkonsumsi alkohol, mengidap
pankreatitis dan penyakit biliaris.
d. Pola fungsional
1. Sirkulasi
Hiperermi, hipotensi, takikardi, dan edema
2. Integritas ego
Gelisah
3. Eliminasi
Diare dan muntah
4. Makanan/cairan
Anoreksia, tidak toleran terhadap makanan, mual, dan muntah
5. Nyeri/kenyamanan
Nyeri abdomen dalam berat yang tak berhubungan, biasanya terlokasi
pada epigastrium dan periumbilikal tetapi dapat menyebar ke
punggung. Timbulnya dapat tiba-tiba dan sering berhubungan dengan
minuman keras atau makan terlalu banyak
6. Pernafasan
Takipneu dan dispneu
7. Keamanan

Demam
e. Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi
Ubun-ubun cekung, perut cekung,
2. Head To Toe
a. Kepala : Bentuk ubun ubun cekung, kaji kulit kepala
b. Rambut : Warna rambut hitam, tidak ada bau pada rambut, keadaan
rambut tertata rapi.
c. Mata (Penglihatan) : Posisi simetris, bentuk cowong , pupil isokor,
tidak terdapat massa dan nyeri tekan, tidak ada penurunan
penglihatan.
d. Telinga (Pendengaran)
Daun telinga : tidak terdapat lesi
Lubang telinga : tidak terdapat
e. Mulut dan gigi : Mukosa bibir kering, pecah-pecah, warna gusi
merah muda, tidak terdapat perdarahan gusi, dan gigi bersih.
f. Leher : Posisi trakea simetris, tidak terdapat pembesaran kelenjar
tiroid, tidak ada pembesaran vena jugularis.
g. Thorak
Bentuk : simetris
Pernafasan : takipnea
Tidak terdapat otot bantu pernafasan
h. Abdomen
1. Inspeksi
Bentuk : normal simetris
Benjolan : tidak terdapat benjolan
2. Auskultasi : Bising usus meningkat, peristaltik usus meningkat
3. Palpasi
Terdapat nyeri tekan
Tidak terdapat massa / benjolan
Terdapat tanda tanda asites
Tidak terdapat pembesaran hepar
4. Perkusi : Suara abdomen hypertimpani.
Ekstremitas : Tidak terdapat luka dan spasme otot.
Integumen : Turgor kulit kurang (1 2 detik).
4.2 Diagnosa Keperawatan
1.
2.
3.
4.
5.

Nyeri akut b.d inflamasi


Pola nafas tidak efektif b.d inflamasi dan edema
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan asupan nutrisi
Hipertermi b.d proses inflamasi
Defisit volume cairan b.d dehidrasi

4.3 Intervensi Keperawatan


No Dx
1. Dx 1

Tujuan dan Kriteria Hasil


Tujuan:

Intervensi
1. Observasi reaksi nonverbal dari

Setelah dilakukan perawatan


selama

3x24

ketidaknyamanan
2. Kaji nyeri pasien
nyeri
3. Gunakan teknik

jam

pasien berkurang

terapeutik

untuk

komunikasi
mengetahui

Kriteria hasil:

2.

Dx 2

pengalaman nyeri pasien


a. Mampu mengontrol nyeri 4. Ajarkan teknik menejemen nyeri
b. Nyeri berkurang
5. Kolaborasi
pemberian
obat
c. Menyatakan rasa nyaman
dengan tenaga medis
setelah nyeri berkurang
Tujuan:
1. Posisikan
pasien
untuk
Setelah dilakukan perawatan
selama 3x24 jam pola nafas

adanya suara tambahan


3. Observasi adanya tanda-tanda

dapat kembali efektif


Kriteria hasil:
a. Frekuensi

nafas

memaksimalkan ventilasi
2. Auskultasi suara nafas, catat

hipoventilasi
dalam 4. Monitor frekuensi dan irama

batas noras (16-20)


pernafasan
b. Tidak ada suara nafas 5. Monitor suara paru
6. Monitor
pola
abnormal
c. Pasien dapat bernafas
abnormal
3.

Dx 3

normal
Tujuan:
Setelah dilakukan perawatan
selama 3x24 jam intake
nutrisi adekuat
Kriteria hasil:
a. Mampu mengidentifikasi
kebutuhan nutrisi
b. Tidak ada tanda-tanda

pernafasan

1. Kaji adanya alergi makanan


2. Anjurkan
pasien
untuk
meningkatkan intake nutrisi
3. Monitor mual dan muntah
4. Monitor jumlah nutrisi dan kalori
5. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan
nutrisi yang dibutuhkan pasien

malnutrisi
c. Tidak terjadi penurunan
4.

Dx 4

berat badan yang berarti


Tujuan:

1. Monitor suhu sesering mungkin(2

Setelah dilakukan perawatan

jam sekali)
2. Monitor suhu dan warna kulit
selama 2x24 jam hipertermi
3. Monitor tekanan darah, nadi dan
dapat teratasi
RR
Kriteria hasil:
4. Monitor intake dan output
5. Berikan antipiretik
a. Suhu tubuh dalam rentang
normal (36,5-37,5

b. Nadi (60-100 x/m) dan


RR (16-20) dalam batas
normal
c. Tidak ada

perubahan

warna kulit dan tidak ada


5.

Dx 5

pusing
Tujuan:

1. Pertahankan intake dan output

Setelah perawatan selama


3x24

jam

intake

cairan

adekuat
Kriteria hasil:
a. Tidak

ada

2.
3.
4.
5.

cairan
Monitor status hidrasi
Monitor status nutrisi
Monitor TTV
Kolaborasi pemberian cairan IV

tanda-tanda

dehidrasi
b. Mempertahankan

output

urin
c. TTV (TD=120/90 mmHg,

N=60-100x/m,

T=36,5-

37,5 )
4.4 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan
No. Dx
Implementasi
Evaluasi
1.
Dx 1 1. Melakukan
observasi S : Pasien mengatakan Nyeri saya
reaksi

nonverbal

dari

sudah berkurang

ketidaknyamanan
O : Skala nyeri turun dari 7
2. Mengkaji nyeri pasien
menjadi 3 dan pasien mampu
3. Melakukan
teknik
mengontrol nyeri
komunikasi
terapeutik
A : Masalah teratasi
untuk
mengetahui
P : Terminasi tindakan

pengalaman nyeri pasien


4. Mengajarkan
teknik
menejemen nyeri
5. Melakukan
kolaborasi
pemberian obat dengan
2.

tenaga medis
Dx 2 1. Memposisikan
untuk

pasien S : Pasien menyatakan Saya

memaksimalkan

ventilasi
2. Mendengarkan

observasi

adanya

lebih

lega

saat

bernafas
suara O : RR = 20 x/m, tidak ada suara

nafas, catat adanya suara


tambahan
3. Melakukan

merasa

nafas tambahan
A : Masalah teratasi
P : Terminasi tindakan

tanda-tanda

hipoventilasi
4. Memonitor frekuensi dan
irama pernafasan
5. Memonitor suara paru
6. Memonitor
pola
3.

pernafasan abnormal
Dx 3 1. Mengkaji adanya alergi S : Pasien mengatakan Saya
makanan
2. Menganjurkan
untuk

sudah tidak mual dan muntah


pasien

meningkatkan

intake nutrisi
3. Memonitor mual

dan

saat makan
O : Tidak ada tanda-tanda
malnutrisi

A : Masalah teratasi
muntah
P : Terminasi tindakan
4. Memonitor jumlah nutrisi
dan kalori
5. Melakukan

kolaborasi

dengan ahli gizi untuk


menentukan jumlah kalori
dan
4.

nutrisi

yang

dibutuhkan pasien
Dx 4 1. Memonitor suhu sesering S : Pasien mengatakan Saya
mungkin(2 jam sekali)
2. Memonitor suhu dan

sudah tidak panas lagi saat


malam hari

warna kulit
3. Memonitor

tekanan

darah, nadi dan RR


4. Memonitor intake

5.

O : T = 37,5 , N = 80x/m, RR=

20x/m
A
:
Masalah
teratasi
dan
P : Terminasi tindakan

output
5. Memberikan antipiretik
Dx 5 1. Mempertahankan intake S : Pasien mengatakan Saya
2.
3.
4.
5.

dan output cairan


sudah tidak merasa kehausan
Memonitor status hidrasi
lagi
Memonitor status nutrisi
Memonitor TTV
O : TD=120/90 mmHg, N=80x/m,
Melakukan
kolaborasi
T=37,5 , Tidak ada tandapemberian cairan IV
tanda dehidrasi
A : Masalah teratasi
P : Terminasi tindakan

BAB 5. PENUTUP

5.1

Kesimpulan
Pankreas adalah kelenjar rasemosa besar dan memanjang yang terletak

melintang dibelakang lambung. Pankreas merupakan suatu organ yang


mempunyai fungsi endokrin dan eksokrin, dan kedua fungsi ini saling
berhubungan. Salah satu gangguan yang terjadi pada organ pankreas adalah
pankreatitis. ankreatitis adalah penyakit peradangan serius yang akut atau kronis.
Pankreatitis merujuk pada peradangan, edema, dan necrosis yang terjadi sebagai
akibat pencernaan-diri pankreas oleh enzim yang biasanya dikeluarkannya.
Proses inflamasi bisa menyebabkan perubahan morfologi, struktur dan fungsi dari
kelenjar pankreas.
Dalam penatalaksanaannya yang terpenting untuk pankreatitis akut adalah
mengatasi nyeri akut, manajemen penggantian cairan, dan pemerian nutrisi
pendukung. Selain itu juga diberikan antibiotika untuk profilkasis pada
pankreatitis nekrosis. Terapi endoskopi maupun bedah juga perlu dilkaukan pada
kondisi tertentu.
5.2

Saran
Sebagai perawat harus selalu sigap cepat dalam penanganan penyakit

pankreatitis karena akan menjadi fatal jika terlambat dalam menangani


penyakitnya. Selain itu perawat juga memberikan pendidikan kesehatan kepada
klien dan keluarga agar mereka faham dengan penyakit tersebut, bagaimana cara
mencegah dan pengobatan apa yang bisa dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
Bakta, I. made dan Suastika, I. Ketut.1998. Gawwat Darurat di Bidang PEnyakit
Dalam. Jakarta: EGC
Baradero, Mary. Dayrit. W. Mary dan Siswadi, Yakobus. 2005. Klien Gangguam
Hati: Seri Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC
Doenges, Marilynn E.1999.Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta:EGC
Davey, Patrick. 2005. At a Glance Medicine. Jakarta: Erlangga
Faiz, Omar, dkk. 2004. At a Glance Anatomi. Jakarta: Erlangga
Getty, R. 1975. Sisson and Grossman's The Anatomy of the Domestic Animals.
Vol.1. W.B. Saunders Company: Philadelphia. London. Toronto.
Nurarif, Amin Huda & Kusuma, Hardhi.2015.Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis &NANDA NIC NOC. Jogjakarta: Media
Action
Samba, Suharyati. 1994. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Vol 3.
Jakarta: EGC
Smeltzer, Suzanne C.2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth.Jakarta: EGC