Anda di halaman 1dari 12

BAB 5 :

Teori Akuntansi Normatif Kasus Perubahan


Harga

Current Purchasing Power Accounting (CPPA)


CPPA Sering disebut juga daya beli akuntansi yang berlaku umum atau akuntansi
tingkat harga umum atau akuntansi tingkat dolar konstan. Konsep ini menilai
uang menurut daya belinya pada barang dan jasa secara umum. Tujuan konsep
ini untuk mempertahankan nilai modal menurut harganya yang tetap, dengan
ukuran indeks harga. Nilai harta, hutang dan modal yang terpengaruh oleh
perubahan harga disesuaikan dengan faktor indeks harga, sehingga dapat
dinyatakan dengan nilai uang yang sama.
Konsep

ini

digunakan

pada

saat

kenaikan

harga,

jika

suatu

entitas

mendistribusikan keuntungan yang disesuaikan berdasarkan harga perolehan


hasilnya bisa menjadi penurunan nilai riil dari suatu entitas. Dimana secara riil
entitas bisa mengambil risiko mendistribusikan sebagian dari modal. Saat
menerapkan konsep ini maka indeks harga dibutuhkan. Indeks harga adalah
rata-rata tertimbang dari harga saat barang dan jasa yang berhubungan dengan
rata-rata tertimbang harga dalam periode sebelumnya (periode dasar). Indeks
harga yang digunakan dalam konsep ini dapat indeks harga umum maupun
indeks harga khusus.
Penyeseuaian dalam CPPA dilakukan pada akhir periode akuntansi atau yang
biasanya dilakukan pada saat akhir tahun. Penyesuaian ini dapat dilakukan ke
semua akun akun biaya historis sebagai penyesuaian terhadap keadaan saat ini.
Akun kewajiban dianggap sebagai akun moneter, akun moneter yaitu akun yang
tidak

berpengaruh

nilainya

terhadap

kenaikan

harga,

sehingga

tingkat

kepastiannya menjadi jelas.


Selain itu, pada saat inflasi, pemegang aktiva moneter akan kehilangan secara
riil pemegang keuntungan kewajiban moneter, mengingat mereka harus
mengalami penurunan daya beli pada akhir periode jika dibandingkan dengan
awal periode sedangkan pemegang aktiva non-moneter tidak mengalami

perubahan daya beli. Keuntungan atau kerugian daya beli yang timbul dicatat
dalam laba rugi periode berjalan.
Namun konsep Current Purchasing Power Accounting (CPPA) tidak terlepas dari
kekurangan. Beberapa kekurangan dari CCPA yaitu Perubahan dalam harga
barang dan jasa yang termasuk dalam indeks harga umum mungkintidak
merefleksikan barang dan jasa di industri yang berbeda. Ini membuat tingkat
perbandingan antar industri menjadi berkurang dan prediksi atau penilaian yang
dilakukan menjadi tidak valid. Kekurangan berikutnya yaitu pengguna akan
mengira nilai yang disesuaikan adalah asset tertentu, padahal semua asset
menggunakan indeks yang sama sehingga hal ini akan membuat pengguna
menjadi bingung. Dengan semua kekurangan tersebut maka banyak yang
menganggap

bahwa

data

yang

disajikan

CPPA

tidak

relevan

terhadap

pengambilan keputusan.

Current

Cost

Accounting

(konsep

akuntansi

nilai

sekarang )
Konsep dimana menyatakan nilai pos-pos laporan keuangan dengan harga
perolehan sekarang yaitu dengan harga perolehan dari pos yang mempunyai
umur dan kapsitas yang sama.
Kelebihan :

Current cost menunjukan jumlah yang seharusnya dibayar oleh


perusahaan dalam periode berjalan untuk memperoleh aktiva atau

jasa.
Current cost memungkinkan identifikasi dari penyimpangan laba
atau rugi,sehingga mencerminkan hasil-hasil keputusan manajmen
asset dan dampak dari lingkungan atas perusahaan yang tidak

tercermin dalam transaksi rutin.


Current cost menggambarkan nilai aktiva pada perusahaan jika
perusahaan melanjutkan untuk memperoleh aktiva tersebut dan jika
nilainya belum ditambah aktiva tersebut.

Penjumlahan aktiva yang dinyatakan dalam nilai sekarang lebih


bearti dari pada penambahan biaya historis yang terjadi pada

periode yang berbeda.


Current cost memungkinkan pelaporan current operating profit,yang
dapat digunakan untuk meramalkan arus kas masa depan.

Kelemahan :

Pengguna

current

cost

adalah

subyektif

karena

sangat sulit

menentukan harga perolehan sekarang yang pasti setiap saat.


Masalah utama yang dihadapi dalam pelaksanaan Akuntansi Nilai Sekarang
adalah pengukuran dari nilai sekarang (current value) itu sendiri. Menurut Martin
A. Miller ada dua metode yang paling sering digunakan dalam perhitungan
yaitu : Sistem Nilai Masukan (Entry Value System) dari Sistem Nilai Keluaran (Exit
Value System).
Entry

Value

System

didasarkan

atas

dasar

harga

pokok

penggantian

(Replacement Cost) atau harga pokok, untuk memproduksi (Reproduksi Cost).


Yang dimaksud dengan Replacement Cost adalah estimasi biaya yang harus
dikeluarkan untuk memperoleh aktiva baru atau ekuivalennya pada harga
sekarang (current prices) setelah disesuaikan dengan depresiasi. Sedangkan
Reproduction Cost dimaksud sebagai estimasi biaya yang harus dikeluarkan
untuk memproduksi aktiva baru atau ekuivalennya pada harga sekarang setelah
diasumsikan dengan depresiasinya.
Exit Value Sistem biasanya didasarkan atas nilai bersih yang dapat direalisasi
(Net Realizable Value) dalam keadaan usaha yang biasa atau kadang-kadang
berdasarkan atas Discounted Cash Flow. Yang dimaksudkan dengan Net
Realizable Value adalah estimasi harga penjualan atas aktiva setelah didukungi
biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menjual aktiva tersebut. Sedangkan
Discounted Future Cash Flow dimaksudkan sebagai nilai sekarang (present value)
dari estimasi pemasukan kas (Cash Inflow) atau cast saving yang dijual pada
tingkat bunga yang sesuai.

Elemen-Elemen Moneter dan Non Moneter

Dalam current cost accounting elemen-elemen di neraca perlu juga dibedakan


dalam elemen moneter dan non moneter.
Elemen non moneter adalah semua elemen yang bukan merupakan elemen
moneter. Seperti juga halnya dengan elemen moneter, elemen non moneter juga
dibagi kedalam aktiva dan kewajiban non moneter. Untuk elemen non moneter
umumnya ditetapkan kembali untuk menghadapi perubahan harga sekarang
(changes in current value).
Dalam menerapkan metode ini kesimpulan atas aktiva moneter dan non moneter
adalah sebgai berikut:
Karena aktiva moneter telah ditetapkan dalam jumlah uang yang tetap, mereka
itu menggambarkan sejumlah uang yang diharapkan untuk direalisasikan dalam
waktu dekat, oleh karenanya aktiva moneter secara efektif telah ditetapkan
kembali untuk current value financial statement (laporan keuangan dengan nilai
sekarang). Namun aktiva non moneter tidak ditetapkan dalam sejumlah uang
yang tetap dan karena itu menggambarkan Net Realizables Value mereka. Oleh
karena itu, aktiva non moneter harus ditetapkan kembali untuk disajikan pada
Current Value.

Holding Gain Or Losses


Holding gain dan losser timbul dikarenakan adanya perbedaan antara perbedaan
antara harga pokok historis atau aktiva dengan harga pokoknya sekarang.
Holding gain terdiri atas dua komponen yaitu :

a) Realized Holding Gains yang dihasilkan dari penyelesaian (disposal)


aktiva, apakah aktiva itu dijual/digunakan dalam suatu periode
akuntansi.
b) Unrealized Holding Gains yang dihasilkan dari penambahan dalam
nilai sekarang (current value) suatu aktiva dalam suatu periode
akuntansi dimana aktiva tersebut masih ditahan oleh perusahaan.
Langkah-langkah yang diperlukan dalam pengungkapan Akuntansi Kos Sekarang
adalah sebagai berikut : (Smith-Skousen: 1991:566)

a) Tetapkan jumlah nilai berjalan persediaan, harta tak bergerak,


pabrik, dan peralatan.
b) Terapkan tes jumlah yang dapat diganti kembali ke jumlah nilai
berjalan dan pilih yang lebih rendah.
c) Berdasarkan hasil langka b), hitunglah harga pokok penjualan,
penyusutan dan amortisasi.
d) Tetapkan perubahan dalam nilai berjalan persediaan dan harta tak
bergerak, pabrik, dan peralatan menurut jumlah nominal dan juga
rupiah konstan.
Bila perusahaan beranggapan bahwa perubahan nilai sekarang (current cost)
atau persediaan, harta tak gerak, pabrik, dan peralatan tidaklah besar dan tidak
memberikan pengaruh yang berarti atas laporan keuangan, maka pengungkapan
atas current cost ini tidak perlu dibuat, namun dalam catatan informasi
tambahan perlu disebutkan alasan yang mendukung.

Continuously Contemporary Accounting (CoCoA)


Menurut Continuously Contemporary Accounting (CoCoA), daya beli uang tidak
konstan,

tapi

saat

ini

dan

terus

berubah.

Mengingat

lingkungan

yang

berkembang di mana perusahaan dan bisnis beroperasi, menurut model, nilai


uang atau nilai realisasi bersih dari bisnis adalah setara kas saat ini aset. Ini
adalah sistem akuntansi yang mengukur aktiva dan kewajiban pada harga tunai
mereka saat ini, misalnya, nilai realisasi bersih dari aset jika dijual dalam kondisi
bisnis saat ini.
Sistem Akuntansi Adaptive
Sesuai Continuously Contemporary Accounting (COCOA): bisnis, untuk bertahan
hidup, harus beradaptasi dengan ekosistem yang terus berubah di mana mereka
beroperasi, dan oleh karena itu harus jadi praktek akuntansi mereka. Untuk
perusahaan, adaptasi menyiratkan penjualan aset dianggap tidak layak dan
akuisisi aset lebih cocok dengan lingkungan baru. Oleh karena itu, tujuan
akuntansi harus untuk menawarkan harga tunai saat aset untuk pembantu suatu
perusahaan dalam pengambilan keputusan yang lebih baik. Continuously
Contemporary Accounting (CoCoA) menegaskan, laporan keuangan bisnis harus
mencakup harga jual prediksi saat ini setiap aset dan karenanya keuntungan

harus dihitung sebagai perubahan modal adaptif perusahaan selama periode


tersebut.
Kekuatan dari Model Akuntansi
Continuously Contemporary Accounting (CoCoA) adalah model mudah bagi
akuntan untuk mempekerjakan dalam mengembangkan neraca dan laporan
keuangan. Laporan terus menyarankan perusahaan atas aset yang diperlukan
untuk menjual dan membeli dan, karena itu, membantu badan untuk bertahan
hidup dalam lingkungan bisnis yang kompetitif. Berbeda dengan sistem biaya
historis,

di

mana

ada

tingkat

error

lebih

besar,

memprediksi

biaya

mengalokasikan untuk depresiasi jauh lebih sederhana dan lebih akurat di bawah
Continuously Contemporary Accounting (CoCoA). Karena neraca Continuously
Contemporary Accounting (CoCoA) memperkirakan apa yang perusahaan akan
menerima jika dijual setiap aset pada tanggal saat ini, laporan adalah panduan
yang berguna bagi pemegang saham untuk menilai risiko investasi dan manfaat.
Kelemahan dari Model Akuntansi
Continuously Contemporary Accounting (CoCoA) menuntut perubahan mendasar
dalam praktik akuntansi, dari sistem berbasis biaya untuk keluar dari sistem
harga,

sehingga

kebanyakan

bisnis

masih

enggan

untuk

menggunakan

Continuously Contemporary Accounting (CoCoA). Aset mungkin memiliki harga


jual rendah di pasar, tapi mungkin nilai tinggi dalam perusahaan.Neraca
Continuously Contemporary Accounting (CoCoA) gagal untuk memperhitungkan
nilai internal aset dan hanya mengukur dengan nilai harga keluar di pasar.
Sementara Continuously Contemporary Accounting (CoCoA) menekankan pada
perlunya suatu entitas untuk beradaptasi dengan lingkungannya, gagal untuk
memperhitungkan pengaruh suatu entitas mungkin pada lingkungan, misalnya,
aset kinerja tinggi dalam perusahaan dapat lembur menaikkan harga jual di
pasar .

BAB 6 :
TEORI AKUNTANSI NORMATIF - KERANGKA KONSEPTUAL

Kerangka Kerja Konseptual


Kerangka Konseptual adalah :
Suatu sistem yang koheren antara tujuan dan landasan-landasan yang
saling terkait dan diharapkan mengarah kepada suatu standar yang
konsisten. (Statement of Financial Accounting Concepts No. 1: Objectives
of Financial Reporting by Business Enterprises 1978)
Tujuan kerangka konseptual adalah untuk memberikan teori akuntansi yang
terstruktur.
Dasar pemikiran adanya Kerangka Konseptual :
Untuk mengembangkan praktik pelaporan keuangan yang logis dan
konsisten, sehingga perlu mengatasi isu-isu, seperti
a. Apa yg kita maksud tentang laporan keuangan dan apa saja yg
seharusnya dicakup dalam lap. Keuangan
b. Organisasi seperti apa yang harus menyusun Lap. Keuangann
c. Tujuan Pelaporan Keuangan
d. Karakteristik kualitatif yang harus dimiliki oleh informasi akuntansi
e. Elemen-elemen Laporan Keuangan
f.

Cara penghitungan yang digunakan

Perlunya kesepakatan mengenai masalah masalah akuntansi sehingga


tidak selalu mengadakan kesepakatan secara add hoc
Jika tidak ada kerangka konseptual maka konsistensi menjadi terbatas.

Sejarah Perkembangan Kerangka Kerja Konseptual


Kerangka Kerja Konseptual telah dikembangkan di berbagai Negara seperti
Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, New Zealand, dll. Namun, hingga
saat ini belum ada penyusun standar yang telah mengembangkan Kertas Kerja
Konseptual secara lengkap . Perkembangannya pun terbatas dalam tahun-tahun
terakhir ini.

Perkembangan Kerangka Kerja Konseptual di Amerika

Pada

Tahun

1961

dan

1962

Moonitz,

dan

Moonitz

dan

Sprouse,

menentukan bahwa praktik akuntansi harus didasarkan pada current value,


bukan historical cost. Namun hal ini mendapat banyak kritikan karena dianggap
terlalu ekstrim. Pada 1965, Grady mengembangkan teori yang didasarkan pada
deskripsi praktik yang ada (mendasari munculnya APB Statement No. 4). Namun
juga mendapat kritikan.
Pada 1971 dibentuk Trueblood Committee yang menghasilkan Laporan
Trueblood di tahun 1973. Lapoarn ini berisi 12 tujuan akuntansi dan 7
karakteristik kualitatif informasi keuangan yang harus dimiliki. Kemudian tahun
1974 APB digantikan oleh FASB yang kemudian memulai proyek pembuatan
Kerangka Kerja Konseptual. Hasilnya, tahun pada 1978-1985, dirilis 6 Statement
of Financial Accounting Concept.
Perkembangan Kerangka Kerja Konseptual di Australia
Tingkat perkembangan yang lambat dan sampai saat ini hanya 4 SAC
yang telah dirilis.

SAC kelima, yang berkaitan dengan masalah pengukuran,

belum dirilis. Tahun 2005 , Australia mengadopsi Kerangka Kerja IASB, karena
Australia memutuskan untuk menggunakan IFRS.
Perkembangan Kerangka Kerja Konseptual di Inggris
Pada tahun 1976, Inggris mengembangkan panduan yang berkaitan
dengan tujuan dan identifikasi pengguna Laporan Keuangan (peduli dengan hakhak masyarakat untuk mendapatakan akses terhadap informasi keuangan) dan
disebut The Corporate Report. Namun hal tersebut ternyata tidak diterima
secara luas oleh profesi akuntansi di Inggris.
Pada tahun1991, ASB mulai mengembangkan Kerangka Kerja Konseptual
dan mengadopsi Kerangka Kerja Konseptualnya IASC. Tahun 2005 IASB dan FASB
mulai bekerja sama mengembangkan kerangka kerja yang dapat diterima oleh
keduanya, Convergent Project.

Building Blok Kerangka Kerja Konseptual.


Komponen Kerangka Kerja Konseptual :
1. definisi entitas pelapor
2. Tujuan umum pelaporan keuangan (Laporan Keuangan)
3. Pengguna Laporan Keuangans

4. karakteristik kualitatif Laporan Keuangan


5. Unsur-unsur laporan keuangan
6. Pendekatan yang digunakan terkait pengakuan dan pengukuran
Bagannya adalah sebagai berikut (Deegan; 2007):

1. Definisi Laporan Keuangan

2. Definisi Entitas Pelaporan

3. Definisi Pengguna

4. Tujuan Laporan Keuangan

5. Asumsi-asumsi yang
mendasari

6. Karakteristik Kualitatif Lap.


Keuangan

8. Kriteria Pengakuan

7. Elemen-elemen Laporan
Keuangan

9. Dasar dan Teknik


Pengukuran

Definisi Entitas Pelapor


Tidak semua entitas digolongkan sebagai entitas pelaporan. Faktor indikasi dari
entitas pelapor (SAC 1):
1. Pemisahan manajemen dari orang-orang dengan kepentingan ekonomi
dalam entitas
2. pentingnya ekonomi atau politik / pengaruh entitas / pada pihak lain
3. karakteristik keuangan entitas

Tujuan Umum Pelaporan Keuangan


Tujuan tradisional adalah untuk memungkinkan orang luar untuk menilai
kepengurusan manajemen.
Tujuan terakhir pelaporan keuangan adalah untuk membantu membuat
keputusan ekonomi bagi pengguna laporan, misalnya :
Tujuan menurut FASB, menyediakan informasi yang berguna untuk ivestor
sekarang,

potensial (calon) investor, dan kreditor, dan pengguna lain dalam

membuat investasi, kredit, dan keputusan lainnya.


Tujuan menurut IASB, menyediakan informasi tentang posisi keuangan,
performance,

dan perubahan posisi keuangan perusahaan, yang bermanfaat

secara luas bagi pengguna untuk membuat keputusan-keputusan ekonomi.

Pengguna Laporan Keuangan


SAC No. 2 mengidentifikasi tiga kelompok pengguna utama untuk Laporan
Keuangan:
1. penyedia sumber daya
(karyawan, kreditur, pemasok, investor)
2. penerima barang dan jasa
(pelanggan dan penerima manfaat )
3. pihak yang melakukan reviu atau fungsi pengawasan
(parlemen, pemerintah, lembaga regulator, analis, serikat buruh, kelompok
pengusaha, media dan kelompok kepentingan khusus)

Perspektif internasional pada pengguna Laporan Keuangan :


IASB
Penggunan

Lap.

Keuangan

investor,

tenaga

kerja,

pemberi

pinjaman, supplier, konsumen, pemerintah,.


US SFAC 1:
fokus utama adalah investor

potensial dan pengguna lain dengan

baik kepentingan keuangan secara langsung atau terkait dengan


orang-orang

yang

mempunyai

langsung
UK. The Corporate Report

kepentingan

keuangan

secara

semua kelompok yang terkena dampak operasi organisasi memiliki


hak

atas

informasi

mengenai

entitas

pelaporan,

tidak

selalu

berhubungan dengan keputusan alokasi sumber daya


Unsur-unsur Laporan Keuangan
1. Aset :
... Manfaat ekonomi masa depan dikendalikan oleh entitas sebagai akibat
transaksi masa lalu dan peristiwa masa lalu lainnya (IASB framework
paragraph 49(a))
Tiga karakteristik kunci:
1. harus menjadi manfaat ekonomis masa depan
2. entitas pelaporan harus mengontrol manfaat ekonomi masa depan
3. transaksi atau peristiwa masa lalu lainnya menimbulkan kontrol pelaporan
entitas harus terjadi.

2. Kewajiban :
Kewajiban kini perusahaan yang timbul dari peristiwa masa lalu,
penyelesaian yang diharapkan dapat mengakibatkan arus keluar
sumber daya dari perusahaan

sumber daya dan manfaat ekonomi.

((IASB framework paragraph 49(a))


Tiga karakteristik kunci:
1. harus berupa pengeluaran/transfer di masa mendatang kepada
entitas lain.
2. Merupakan kewajiban masa kini/sekarang
3. Akibat dari transaksi masa lalu.
3. Ekuitas:
... Nilai sisa dari aset suatu entitas setelah dikurangi dengan semua
kewajiban (IASB framework paragraph 49(c))
4. Income
kenaikan keuntungan ekonomi selama periode akuntansi dalam
bentuk kas masuk,

atau penambahan aset,

atau penurunan

kewajiban, yang menyebabkan kenaikan ekuitas, namun bukan


merupakan

penambahan

framework paragraph 70(a))

5. Biaya

kontribusi

(modal)

oleh

pemilik

(IASB

... Penurunan keuntungan ekonomi selama periode akuntansi dalam


bentuk

kas

keluar,

atau

pengurangan

aset,

atau

peningkatan

kewajiban yang menyebabkan penurunan ekuitas, namun bukan


dalam berupa pembagian kepada pemilik (IASB framework paragraph
70(b))
Hal-hal yang terkait dengan kerangka kerja konseptual
1. Standar akuntansi harus lebih konsisten dan logis
2. standar-setter harus lebih bertanggung jawab atas keputusan mereka
3. komunikasi antara standar-setter dan konstituen mereka harus
ditingkatkan
4. Pengembangan standar akuntansi harus lebih ekonomis
5. Terkait

isu

tertentu,

mungkin

dapat

mengurangi

kebutuhan

pengembangan standar tambahan


6. menekankan peran keputusan kegunaan laporan keuangan daripada

kekhawatiran untuk membatasi pengelolaan