Anda di halaman 1dari 5

ANALISA IMPEMENTASI KONSEP SISTEM MANUFAKTUR TRADISIONAL DAN

MODERN DI PT. BATA


Paulus Meisandy, Hanna Susanty, Suci wulansari, dan Aryo Nugroho
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Institut Teknologi Sepuluh
November
Sukolilo, Surabaya, Indonesia
ABSTRAK
PT. Sepatu Bata Indonesia, salah satu perusahaan manufaktur yang memproduksi sepatu.
Perusahaan yang bergerak dibidang industri alas kaki ini didirikan di Indonesia pada tanggal
15 Oktober 1931. Produk Bata sendiri adalah sepatu kulit, sepatu olahraga, sepatu kanvas,
sepatu industry, kets, dan sandal. Persaingan industri sepatu di Indonesia sangat tinggi, hal
ini dapat dilihat dari persaingan para produsen dalam memperebutkan pangsa pasar. Bata
yang pada awalnya dianggap sebagai perusahaan yang mewakili sepatu Indonesia sebagai
market leader dengan pangsa pasar sebesar 40% dari produksi sepatu domestik. Namun
saat ini Bata hanya mampu menguasai pasar sebesar 7% untuk katagori sepatu olahraga
dan 9% untuk kategori sepatu non olahraga. Sudah cukupkah konsep dan strategi yang
diterapkan Bata.
1.

PENDAHULUAN
Dunia industri saat ini telah
mengalami
perkembangan yang pesat.
Terbukti dari bertambahnya perusahaan
yang menjalani proses produksi. Seiring
bertambahnya
perusahaan-perusahaan
manufaktur ini semakin berat pula
persaingan yang harus dihadapi antar
perusahaan. Di perusahaan alas kaki pun
juga mengalami perkembangan yang
sangat
baik.
Banyak
perusahaanperusahaan
di
Indonesia
yang
berkecimpung dalam bisnis sepatu atau
sandal. Khususnya pada PT. Sepatu Bata
Indonesia yang sudah akrab pada telinga
orang Indonesia.
PT.
Sepatu
Bata
Indonesia
beroperasi di Indonesia sejak tahun 1931
yang semula hanya menjual sepatu-sepatu
impor. Awal produksinya dimulai di
Kalibata, jakarta dalam tahun 1939. PT.
Sepatu
Bata
Indonesia
merupakan
perusahaan industri manufaktur yang
menghasilkan produk sepatu dan sandal,
baik sepatu resmi maupun sepatu santai
untuk pria dan wanita. Perusahaan ini
melakukan proses produksi secara terus
menerus untuk menghasilkan produk yang
berkualitas, sehingga produk diperusahaan
ini banyak diminati konsumen Indonesia
mulai dari kalangan menengah ke bawah
sampai kalangan menengah ke atas.
Pabrik perusahaan ini memiliki
beberapa
departemen.
Departemen
tersebut
yaitu
rubber
departement,
sandals
/
ladies
summer
shoes

departement,
men
summer
shoes
departement, dan kanvas departement.
Pada setiap departemen melakukan
kegiatan manufaktur proses produksi
mulai dari bahan baku sampai menjadi
produk jadi.

2.

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sistem Manufaktur
tradisional dan Modern
Sistem manufaktur suatu sistem
produksi yang mengubah bahan baku
menjadi produk jadi yang siap dijual,
dimana
dalam
setiap
proses
pengerjaannya dilakukan secara fisik dan
melibatkan berbagai
peralatan yang
mendukung dalam proses tersebut.[1]
Sistem
manufaktur
tradisional
merupakan sistem manufaktur yang
pengaplikasiannya dengan menggunakan
tenaga operator tanpa bantuan mesin.
Sedangkan sistem manufaktur modern
melibatkan
mesin
dalam
proses
produksinya.
2.2
Proses
dalam
Sistem
Manufaktur
Pada umumnya dalam menghasilkan suatu
produk,
sistem
manufaktur
memiliki
proses seperti berikut:
2.2.1. Desain Produk
Dalam
suatu
industri,
barang yang ingin diproduksi perlu
direncang sedemikian rupa agar

desain yang akan diproduksi sesuai


dengan yang diharapkan dan dapat
diterima di masyarakat.
2.2.2 Persiapan Material
Salah satu hal yang penting
dalam proses manufaktur adalah
mempersiapkan material yang akan
digunakan
untuk
memproduksi
suatu produk yang sesuai denan
desain yang dibuat sebelumnya.
2.2.3 Proses Pembuatan
Setelah
merancang
dan
memperoleh bahan baku, tahap
selanjutnya yaitu proses produksi.
Dalam sistem manufaktur, proses
pembuatan
produk
dilakukan
secara fisik baik menggunakan alat
maupun mesin.
2.2.4. Quality Control
Setelah produk selesai maka
untuk tetap menjaga kualitas,
produk tersebut perlu adanya
Quality Control agar produk yang
dihasilkan sesuai dengan standar
yang ditentukan perusahaan sesuai
dengan kepuasan konsumen.
3.

PROSES PRODUKSI SEPATU


BATA
3.1 Flowchart Produksi

PT.

Gambar 1. Flowchart Proses Produksi


Sepatu Bata

Di dalam pembuatan sepatu, PT


Sepatu Bata melakukan beberapa tahap
proses produksi yang terbagi menjadi tiga
bagian yaitu :[2]
1. Bagian Manipulation
2. Bagian Sewing
3. Bagian Confection
Tahapan yang dilakukan untuk
memproduksi produk sepatu dimulai dari
manipulation.
Tahapan
ini
adalah
persiapan untuk membuat bagian sole
pada sepatu. Tahapan selanjutnya adalah
proses sewing, yang bertujuan untuk
melakukan
penjahitan
model
dan
menggabungkan beberapa bagian. Setelah
dari
proses
sewing
selesai
maka
dilanjutkan pada bagian confection yang
bertugas untuk melakukan vulkanisir agar
dapat terbentuk sepatu.[1]

3.2 Penjelasan Proses Produksi


3.2.1 Manipulation (Persiapan)
Kegiatan persiapan dibagi
menjadi
lagi
dalam
tiga
departemen produksi yang lebih
kecil, yaitu departemen 301, 302
dan 306.
Departemen 301 adalah
departemen yang memproduksi
sole dalam bentuk lembaran. Sole
ini dibuat dari campuran bahan
karet dan bahan-bahan kimia yang
diolah dengan mesin Banbury
Mixen.
Lembaran
sole
tadi
kemudian dipotong dengan mesin
Felman Cutting sehingga berbentuk
sole luar.
Departemen 302 adalah
departemen yang menggabungkan
sole luar dengan sole dalam dan
lapis sole. Setelah lapisan sole
selesai digabungkan, lalu dibuat
cap dan dikirim kegudang atau
langsung
pada
departemen
confection.
Departemen 306 adalah
departemen
yang
menyiapkan
bahan-bahan bagian muka sepatu
dengan berbagai jenis sesuai
dengan perintah produksi. Pada
departemen
ini
muka
sepatu
dipotong dengan mesin pemotong,
setelah
selesai
maka
dapat
diserahkan pada bagian sewing.

3.2.2 Sewing (Penjahitan)


Kegiatan penjahitan dalam
pembuatan
sepatu
Bubble
Gummers,
PT.
Sepatu
Bata
membaginya
dalam
bebarapa
departemen
yang
mempunyai
kegiatan tersendiri seperti menjahit
pinggiran sepatu, menjahit model,
menggabungkan
bahan
bagian
muka, membuat atau memasang
mata ayam, menjahit lapis. Setelah
proses penjahitan tersebut selesai,
maka produksi dialihkan kepada
departemen confection.
3.2.3 Confection (Penyelesaian)
Pada kegiatan ini confection
dibagi
lagi
menjadi
beberapa
departemen yang memproduksi
sepatu sesuai dengan jenis yang
telah direncanakan untuk setiap
departemen
produksi
yang
bersangkutan.
Departemen
ini
mempunyai tugas antara lain
adalah
menggabungkan
sole,
bahan lapis dengan bahan bagian
muka dengan menggunakan mesin
injeksion.
Sepatu
yang
telah
melalui proses penggabungan tadi
dimasukkan
lagi
pada
mesin
vulkanisasi
atau
pematangan
sehingga terbentuk sepatu jadi.
Pada
tahap
terakhir
sepatu
diserahkan
kepada
bagian
pemeriksa mutu pabrik untuk
diteliti apakah sepatu tersebut
layak untuk dipakai, setelah sepatu
melewati tahapan pengujian sepatu
tersebut diserahkan kepada bagian
pembungkus
untuk
dipak
perpasang kemudian dimasukkan
ke kotak dan siap untuk dikirim
pada
bagian
penjualan.
Pada
gudang penjualan sepatu diperiksa
secara sampel, dihitung kemudian.
4.

Analisa
4.1 Analisa Strategi
Perusahaan Bata telah melakukan
beberapa
strategi
pemasaran
diantaranya
yaitu
optimalisasi
Pelaksanaan Atribute Brand. Yaitu
mengkomunikasikan kepercayaan atau
keyakinan terhadap atribut fungsional
produk
yaitu
harga,
kualitas,
pelayanan,
keunikan,
dan
ketersediaan. Melalui harga dengan
create magic price yaitu dengan

memberikan harga yang lebih murah


pada
setiap
bulan,
senantiasa
meningkatkan kualitas, menciptakan
berbagai macam inovasi dalam rangka
menciptakan keunikan, memberikan
pelayanan
yang optimal
kepada
konsumen dan mendirikan beberapa
toko
di
berbagai
daerah
agar
memudahkan
konsumen
untuk
memperoleh brand Bata. Walaupun
kendati telah dilakukan berbagai
upaya namun tetap saja tidak berhasil
memperbaiki keadaan.[3]
Hal ini disebabkan karena PT. Sepatu
Bata memiliki beberapa permasalahan
yakni :[3]
a) Bata memposisikan produknya
sebagai produk murah dan awet,
sedangkan kondisi pasar saat ini
memiliki kecenderungan ke arah
lifestyle dan fashionable produk.
b) Konsep murah tersebut tidak
sesuai
dengan
kenyataannya,
harga produk Bata relatif mahal.
c) Konsep
awet
yang
menjadi
positioning Bata, berubah menjadi
tradisional
ketinggalan
zaman
karena adanya pergeseran selera
konsumen. Rupanya, persepsi awet
justru
dikonotasikan
dengan
model-model kuno dan konservatif.
Akhirnya pencitraan Bata tidak
bisa
mewakili
perkembangan
zaman.
d) Promosi dan komunikasi kurang,
hanya bersifat jangka pendek dan
menyambut even-even tertentu
saja, misalnya Bata Back to
School, atau Lebaran, Natal dan
Tahun Baru.
e) Inovasi
produk/model
kurang,
padahal dari sisi perusahaan, Bata
merasa telah melakukan usaha
yang
maksimal
untuk
mengembangkan produk, yang
dilakukan oleh SIC (Shoe Inovation
Centre), yang telah berusaha
untuk mencari design, material,
dan teknologi untuk memperoleh
produk
yang
sesuai
dengan
keinginan pelanggan. SIC ini juga
dilengkapi
dengan
fasilitas
modern, menggunakan komputer
seperti CAD/CAM ataupun Corel
Draw
dalam
pengembangan
designnya.
f) Bata tidak mengikuti perubahan
lifestyle yang ada di Indonesia,

dimana pada masa sebelumnya


sepatu dilihat hanya sebagai
manfaatnya sebagai alas kaki,
menjadi sepatu sebagai gaya
hidup
dan
penampilan
yang
trendy.
4.2 Analisa Sistem Produksi
Bisnis alas kaki di Indonesia
memiliki pangsa pasar yang potensial
di masa yang akan datang. Namun
ancaman yang dihadapi juga cukup
besar.
Persaingan
antar
produk
membuktikan
bahwa
kebutuhan
masyarakat akan alas kaki masih
sangat besar. Faktor-faktor dominan
yang berpengaruh pada produksi
perusahaan
PT Sepatu Bata yaitu
yang menjadi kekuatan perusahaan
adalah efektivitas saluran distribusi,
variasi produk, efisiensi produksi,
kualitas produk terjamin, harga produk
bersaing, laba usaha yang meningkat,
citra
perusahaan
yang
baik,
sedangkan kelemahan perusahaan
terletak pada pelatihan yang belum
dilakukan secara optimal, penguasaan
teknologi yang kurang dan lamban,
dan promosi yang kurang. Dari faktor
eksternal didapat peluang perusahaan
adalah besarnya pasar baik domestik
maupun ekspor, daya beli konsumen
yang
meningkat,
perkembangan
teknologi, pertumbuhan pasar yang
tinggi, jumlah konsumen yang besar.
Faktor ancaman bagi perusahaan
adalah inflasi yang menyebabkan
harga bahan baku menjadi mahal,
krisis
moneter
yang
membuat
ketidakstabilan rupiah, serta tingginya
jumlah pesaing.
5.

Kesimpulan dan Saran


5.1 Kesimpulan
a. Tahapan yang dilakukan untuk
memproduksi
produk
sepatu
dimulai dari manipulation. Tahapan
ini
adalah
persiapan
untuk
membuat bagian sole pada sepatu.
Tahapan selanjutnya adalah proses
sewing, yang bertujuan untuk
melakukan penjahitan model dan
menggabungkan beberapa bagian.
Setelah dari proses sewing selesai
maka dilanjutkan pada bagian
confection yang bertugas untuk
melakukan vulkanisir agar dapat
terbentuk sepatu.

b. Persaingan produk sangat tinggi.


Produk yang akan dipasarkan harus
memenuhi syarat pasar sekarang
ini. Sehingga produk dapat terus
bersaing.
5.2 Saran
Beberapa rekomendasi sebagai solusi
yang coba penulis sampaikan adalah: [3]
a. Merepositioning
Merek,
karena
minat pembelian yang rendah atas
produk , perusahaan mungkin salah
dalam menentukan target pasar
atau kurang memahami karakter
dan keinginan dari konsumennya.
Positioning yang penulis usulkan
adalah murah dan trendy. Alasan
dipilihnya kata murah adalah untuk
menyesuaikan dengan segmen dan
target pasar sedangkan digantinya
kata awet dengan kata trendy
adalah
dimaksudkan
untuk
memenuhi perubahan selera pasar
yang
lebih
mengarah
pada
Fashionable, selain itu sangat sulit
bagi
perusahaan
untuk
memproduksi
produk
yang
berteknologi tinggi dan awet tetapi
dengan biaya yang murah.
b.

Melakukan Komunikasi Pemasaran


Yang efektif. aktifitas komunikasi
pemasaran
hendaknya
berpedoman
pada
pernyataan
positioning
dan
dilaksanakan
secara
konsisten
dengan
menawarkan sekumpulan manfaat
yang dimiliki oleh sebuah merek
(brand value proposition). Pesan
yang harus disampaikan adalah
The Same for Less yaitu strategi
positioning
yang
menekankan
kepada konsumen bahwa kualitas
dari merek produk perusahaan
sama dengan kualitas produk
merek pesaing dengan penetapan
harga
yang
lebih
murah
dibandingkan
harga
produk
pesaing.

c. Menjalin hubungan baik dengan


mitra kerja. perusahaan harus
memberikan perhatian baik kepada
mitra dagang salah satunya dengan
memberikan komisi sekian persen
kepada mitra dagang bila berhasil
menjual
produk
Bata.hal
ini

ditujukan untuk memotivasi dan


meningkatkan posisi tawar produk
di mata pedagang.
d. Gunakan endoser yang tepat.
ketika Nike menargetkan sepatunya
kepada penggemar olahraga bola
basket NBA. Maka, diluncurkan 3
jenis sepatu yang berbeda pula.
Tipe Air Jordan dibintangi Michael
Jordan; Force deperankan David
Robinson dan Charles Barkley;
Flight
diwakili
Scotty
Pippen.
Masing-masing bintang mewakili
karakter tertentu. Dengan caracara seperti itu, Nike sukses
mengalahkan pemain besar lain,
Adidas dan Reebok.
e. Luncurkan
Brand
baru
untuk
katagori baru. Kalau merk Bata
sudah
berkurang
ekuitasnya,
sebaikanya
jangan
digunakan
sebagai
payung
lagi
untuk
berbagai katagori produk seperti
sepatu kulit,sepatu olahraga,sandal
dsb . Bikin Brand yang sama sekali
baru.
REFERENSI
[1]http://www.anneahira.com/sistemmanufaktur-13670.htm,
diakses
pada
tanggal 4 Mei 2012.
[2]library.gunadarma.ac.id/repository/files/
22280/10203849/bab-iv.pdf, diakses pada
tanggal 4 mei 2012.
[3]http://risvanaripin.blogspot.com/2012/0
5/studi-kasus-analisis-strategi.html,
diakses pada tanggal 5 Mei 2012.