Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendarahan adalah salah satu kejadian yang menakutkan selama kehamilan.
Pendarahan ini dapat bervariasi mulai dari jumlah yang sangat kecil (binti-bintik),
sampai pendarahan hebat dengan gumpalan dank ram perut. Karena itu, pendarahan
selama kehamilan dapat dianggap sebagai suatu keadaan akut yang dapat membahayakan
ibu dan anak, sampai dapat menimbulkan kematian. Sebanyak 20% wanita hamil pernah
mengalami perdarahan pada awal kehamilan dan sebagian mengalami abortus. Hal ini
tentu akan menimbulkan ketidakberdayaan dari wanita sehingga ditinjau dari suatu
kesehatan akan sangat ditanggulangi utnuk meningkatakan keberdayaan seorang wanita.
Mengingat akan hal tersebut, maka penting untuk mengetahui lebih dalam mengenai
masalah perdarahan saat kehamilan ini.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep perdarahan hamil muda ?
2. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan perdarahan hamil muda ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk Mengetahui tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan
perdarahan kehamilan muda.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui konsep teoritis dari perdarahan kehamilan muda
2. Untuk mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan pada perdarahan kehamilan
muda
1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Penulis
Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan, serta dapat
mengaktualisasikannya pada lingkungan sekitar, baik dalam lingkungannya
keluarga maupun masyarakat.

1.4.2

Bagi Pembaca
Diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai askep
pada pasien dengan perdarahan antepartum.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Perdarahan Pada Kehamilan Muda
Perdarahan selama kehamilan dapat dianggap sebagai suatu keadaan akut yang
dapat membahayakan ibu dan anak, sampai dapat menimbulkan kematian. Perdarahan
pada kehamilan muda adalah perdarahan pervaginam pada kehmilan kurang dari 22
minggu. Kehamilan muda umum disebut pada ibu hamil yang berusia 1-3 bulan. Pada
usia kehamilan muda ibu hamil mengalami perubahan fisik dan psikis sehingga beberapa
perubahan harus diamati apakah perubahan yang umum terjadi ketika hamil atau
perubahan abnormal yang harus diwaspadai. Ibu yang mengalami pendarahan ringan
pada usia kehamilan muda memang sering terjadi, bahkan risiko komplikasi yang terjadi
pada ibu hamil muda yang mengalami pendarahan hanya terjadi lima persen saja.
Pendarahan yang terjadi pada awal kehamilan lebih ringan dari saat sedang haid.
Pendarahan yang terjadi hanya flek yang berwarna merah hingga cokelat. Penyebabnya
terjadi pendarahan ringan pada usia kehamilan muda karena implantasi yaitu kondisi sel
telur yang dibuahi akan menempel pada lapisan rahim. Kondisi inilah yang menyebabkan
pendarahan ringan beberapa hari pada ibu hamil.
2.1.1

Etiologi
Ada beberapa keadaan yang dapat menimbulkan perdarahan pada awal
kehamilan, antara lain:
1. Keguguran atau abortus
2. Kehamilan Ektopik Terganggu
3. Mola Hidatidosa

2.1.1.1 Keguguran atau Abortus


A. Pengertian
Keguguran atau abortus adalah terhentinya proses kehamilan yang
sedang berlangsung sebelum mencapai umur 28 minggu atau berat janin
sekitar 500 gram (Manuaba, 2007). Abortus adalah berakhirnya suatu
kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau umur kehamilan
kurang dari 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di
luar kandungan (Sarwono, 2008).
Abortus adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun, spontan
maupun buatan, sebelum janin mampu bertahan hidup. Batasan ini berdasar
umur kehamilan dan berat badan. Dengan lain perkataan abortus adalah

terminasi kehamilan sebelum 20 minggu atau dengan berat kurang dari 500 g
(Handono, 2009).
B. Klasifikasi
1) Abortus spontan ( terjadi dengan sendiri, keguguran ) ; merupakan20%
dari semua abortus
2) Abortus provocatus artificialis ( disengaja,digugurkan ) ; 80% dari
semua abortus.
a. Abortus provocatus artificialis atau abortus therapeuticus
b. Abortus provocatus criminalis
C. Etiologi
Penyebab abortus ada berbagai macam yang diantaranya adalah (Mochtar,
2002):
1) Faktor maternal
a) Kelainan genetalia ibu
b) Penyakit-penyakit ibu (Penyakit infeksi, Keracunan Pb, nikotin, gas
racun, alkohol, Malnutrisi )
c) Antagonis rhesus
d) Gangguan sirkulasi plasenta
e) Usia ibu
2) Faktor janin
pertumbuhan abnormal dari fetus sering menyebabkan abortus spontan.
Abortus spontan yang disebabkan oleh karena kelainan dari ovum
berkurang kemungkinannya kalau kehamilan sudah lebih dari satu bulan,
artinya makin muda kehamilan saat terjadinya

abortus makin besar

kemungkinan disebabkan oleh kelainan ovum.


3) Faktor paternal
translokasi kromosom pada sperma dapat menyebabkan abortus.
D. Patofisiologi
Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam decidua basalis, diikuti
oleh nekrosis jaringan di sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi
terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing didalam
uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan
isinya. Hasil konsepsi pada abortus dikeluarkan dalam berbagai bentuk. Ada
kalanya janin tidak tampak didalam kantong ketuban yang disebut blighted
ovum, mungkin pula janin telah mati lama disebut missed abortion. Apabila
mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu singkat, maka ovum akan
dikelilingi oleh kapsul gumpalan darah, isi uterus dinamakan mola kruenta.
4

Bentuk ini menjadi mola karneosa apabila pigmen darah diserap sehingga
semuanya tampak seperti daging. Pada janin yang telah meninggal dan tidak
dikeluarkan dapat terjadi proses mumifikasi: janin mengering dan menjadi
agak gepeng atau fetus compressus karena cairan amnion yang diserap.
Dalam tingkat lebih lanjut janin menjadi tipis seperti kertas perkamen atau
fetus papiraseus. Kemungkinan lain yang terjadi apabila janin yang meninggal
tidak dikeluarkan dari uterus yaitu terjadinya maserasi, kulit terkupas,
tengkorak menjadi lembek, dan seluruh janin berwarna kemerahmerahan
(Sarwono, 2008).
E. Komplikasi
1) Perdarahan
2) Infeksi
3) Syok
2.1.1.2 Kehamilan Ektopik
A. Definisi
Kehamilan ektopik terjadi bila telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh
di luar endometrium kavum uteri. Kehamilan ekstrauterin tidak sinonim dengan
kehamilan ektopik karena kehamilan pada pars interstisialis tuba dan kanalis
servikalis masih termasuk dalam uterus, tetapi jelas bersifat ektopik. Sebagian
besar kehamilan ektopik berlokasi di tuba. Sangat jarang terjadi implantasi pada
ovarium, rongga perut, kanalis servikalis uteri, tanduk uterus yang rudimenter dan
divertikel pada uterus. Berdasarkan implantasi hasil konsepsi pada tuba, terdapat
kehamilan pars interstisialis tuba, kehamilan pars ismika tuba, kehamilan pars
ampularis tuba dan kehamilan infundibulum tuba.
B. Etiologi
1. Faktor dalam lumen tuba :
a) Endosalpingitis dapat menyebabkan perlekatan endosalping, sehingga
lumen tuba menyempit atau membentuk kantong buntu.
b) Pada hipoplasia uteri lumen tuba sempit dan berlekuk-lekeuk dan hal ini
sering disertai gangguan fungsi silia endosalping akibat infeksi dan
menyebabkan implantasi di tuba.
c) Operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tak sempurna dapat menjadi
sebab lumen tuba menyempit.
2. Faktor pada dinding tuba :
a) Endometriosis tuba
b) Divertikel tuba
5

3. Faktor di luar dinding tuba :


a) Perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba dapat menghambat
perjalanan telur
b) Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tuba
4. Faktor lain :
a) Migrasi luar ovum
b) Fertilisasi in vitro
c) Pemakaian kontrasepsi dan IUD
d) Merokok
C. Klasifikasi
1. Kehamilan tuba
2. Kehamilan heterotipik
3. Kehamilan ovarial
4. Kehamilan servikal
5. Kehamilan abdominal
D. Komplikasi
1. Pada pengobatan konservatif, yaitu bila ruptur tuba telah lama berlangsung (46 minggu), terjadi perdarahan ulang. Ini merupakan indikasi operasi.
2. Infeksi
3. Sub illeus karena massa pelvis
4. Sterilitas
2.1.1.3 Mola Hidatidosa
A. Definisi
Mola hidatidosa adalah kelainan didalam kehamilan dimana jaringan
plasenta berkembang dan membelah terus menerus dalam jumlah yang
berlebihan. (Khumaira, 2012). Mola hidatidosa ialah suatu kehamilan dimana
setelah fertilisasi hasil konsepsi tidak berkembang menjadi embrio tetapi terjadi
proliferasi dari villi koriales disertai dengan degenerasi hidropik. (Saifuddin dkk,
2009). Mola hidatidosa ialah suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar
dimana tidak ditemukan janin dan hampir seluruh villi korialis mengalami
perubahan berupa degenerasi hidropik. (Saifuddin dkk, 2010). Secara
makroskopik mola hidatidosa mudah dikenal yaitu berupa gelembung putih,
tembus pandang, berisi cairan jernih, dengan ukuran bervariasi.

B. Etiologi
6

Sejauh ini penyebabnya masih belum diketahui. Diperkirakan bahwa faktorfaktor seperti gangguan pada telur, kekurangan gizi pada ibu hamil, dan kelainan
rahim berhubungan dengan peningkatan angka kejadian molla. Wanita dengan
usia dibawah 20 th atau diatas 40 th juga berada dalam resiko tinggi.
Mengkonsumsi makanan rendah protein, asam folat, dan karoten juga
meningkatkan resiko terjadinya molla. (Khumaira, 2012).
C. Komplikasi
1. Perdarahan yang hebat sampai syok
2. Perdarahan berulang yang mengakibatkan anemia
3. Infeksi sekunder
4. Perforasi karena keganasan atau tindakan
5. Menjadi ganas (PTG) pad kira-kira 18-20% kasus, akan menjadi
koriokarsinoma.
2.1.2

Gambaran Klinis
Perdarahan

yang

banyak

dalam

waktu

yang

relatif

singkat,

akan

mengakibatkan volume darah intravaskular berkurang; untuk menjaga aliran darah ke


organ-organ vital (otak, jantung, paru), pembuluh darah ke organ usus, uterus, ginjal,
otot, kulit meningkat. Perdarahan yang berkepanjangan tanpa penanganan yang baik
akan menimbulkan hipoksi pembuluh darah organ-organ. Pembuluh darah yang
mengalami hipoksi berubah dari vasokontriksi menjadi vasodilatasi, akibatnya aliran
darah intravaskular semakin lambat, sehingga terjadi kegagalan fungsi organ-organ
tubuh. Perubahan-perubahan yang terjadi akibat pendarahan ini ditandai dari
gambaran klinis berupa syok (hemorrhagic shock). Gambaran klinis syok hemoragis
dan hubungannya dengan infus cairan (darah) intravena.

2.1.3

WOC
Kehamilan
Pendarahan ibu hamil muda
Ektopik

Belum matangnya

sel telur tumbuh

pasien tidak paham

faktor ovum

alat reproduksi untuk hamil ke arah rongga peritoneum

dengan penyakitnya

faktor kelainan telur

menembus lapisan

pasien bertanya

mengalami

faktor penyakit pada ibu

muskularis diperitoneum

mengenai

penyakitnya

keterlamba
lingkungan/eksogen

terjadinya ruptur

Buah kehamilan pada usia

-tan dalam
Defisiensi

pengeluaran
20mg dgn berat 500gr

Pengetahuan

janin tidak dapat beradaptasi

kematian
ovum di

dal janin gugur (Abortus)

-am

tubuh
Rangsangan pada uterus

lepasnya buah

mengalami

Kontraksi uterus

kehamilan dari implantasinya

degenerasi
Prostaglandin meningkat

terputusnya pembuluh darah

korion

akan
Dilatasi serviks

tumbuh

berganda

dan

mengandung
Nyeri
cairan
Kista-kista
kecil
seperti anggur
Molahidatidos
a

Tindakan
infasif
Kuratase
Perdarahan

Masuknya alat kuratase

Defisit volume cairan

Invasi

bakteri

Resti
Infeksi

2.2 Asuhan Keperawatan


2.2.1 Pengkajian
Pengkajian

adalah

pendekatan

sistematis

untuk

mengumpulkan

data

dan

menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien.
Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
A. Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur,
agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- ,
lamanya perkawinan dan alamat
B. Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan
pervaginam berulang
C. Riwayat kesehatan , yang terdiri atas :
a. Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah
Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus
haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
b. Riwayat kesehatan masa lalu Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan
yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di
mana tindakan tersebut berlangsung.
c. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah
dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah
ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya.
d. Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari
genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan
penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.

e. Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi,


lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta
kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya.
f. Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien
mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan
anaknya.
g. Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi
yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.
h. Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi
oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya. Pola aktivitas sehari-hari : Kaji
mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat
tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit.
D. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum Kesadaran : composmetis s/d coma Postur tubuh : biasanya
gemuk Cara berjalan : biasanya lambat dan tergesa-gesa Raut wajah : biasanya
pucat
b. Tanda-tanda vital Tensi : normal sampai turun (syok) (<> Nadi : normal
sampai meningkat (> 90x/menit) Suhu : normal / meningkat (> 37o c) RR :
normal / meningkat (> 24x/menit)
c. Pemeriksaan cepalo caudal
i. Kepala : kulit kepala biasanya normal / tidak mudah mengelupas
ii.
iii.
iv.
v.

rambut biasanya rontok / tidak rontok


Muka : biasanya pucat, tidak oedema ada cloasma
Hidung : biasanya ada pernafasan cuping hidung
Mata : conjunctiva anemis
Dada : bentuk dada normal, RR meningkat, nafas cepat da dangkal,

hiperpegmentasi aerola.
vi. Abdomen
Inspeksi : perut besar (buncit), terlihat etrio pada area perut, terlihat
linea alba dan ligra Palpasi rahim keras, fundus uteri naik Auskultasi :
tidak terdengar DJJ, tidak terdengar gerakan janin.
d. Genetalia
Hiperpregmentasi pada vagina, vagina berdarah / keluar darah yang merah
kehitaman, terdapat farises pada kedua paha / femur.
e. Ekstremitas : Akral dingin, tonus otot menurun.

10

2.2.2

Diagnosa
1. Nyeri akut berhubungan dengan dilatasi serviks.
2. Defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan.
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan invasi bakteri.
4. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.

2.2.3

Intervensi

N
O
1

Diagnosa
Nyeri akut
berhubunga
n

NOC
Pain level
Pain control
Comfrort level
Kriteria hasil :
Mampu mengontrol

NIC
pain management
Lakukan

Rasional
Membantu dalam
evaluasi

pengkajian

kebutuhan

nyeri secara

danketidak

nyeri(tahu penyebab

komperhesif

efektifan

nyeri, mampu

termasuk

menggunakan tehnik

lokasi,

nonfarmatologi

karakteristik,

untuk

durasi,

mengurangurangi

frekuensi,

nyeri, mencari

kualitas, dan

bantuan)
Melaporkan bahwa
nyeri berkurang

faktor
presitipasi
Gunakan tekni

dengan

komunikasi

menggunakan

teraupeutik

manajmen nyeri
Mampu mengenai

untuk
mengetahui

nyeri (sekala
intesitas frekuensi
dan tanda)
Menyatakan rasa
nyaman setelah
nyeri berkurang

pengalaman
nyeri
Kaji kultur yang
mengetahui
respon nyeri
Evaluasi
bersama
pasien dan tim
kesehatan lain
11

intervensi.
Mengetahui
pengalaman nyeri
pasien
Mengetahui
penyebab nyeri
pada pasien
Merencanakan
intervensi
selanjutnya jika
intervensi
sebelumnya tidak
efektiv
Pemberian
farmakologi
secara benar

tentang
ketidak
evektifan
kontrol nyeri
masa lampau
Pilih dan
lakukan
pengalaman
nyeri
(farmakologi,
nonfarmakologi,
dan
2

Resiko
tinggi
infeksi

Immune status
Knowledge :

interpersonal)
Bersihkan
lingkungan setelah

infection control
Risk control

dipakai pasien

Kriteria Hasil:

lain.
Pertahankan

teknik isolasi.
Batasi pengunjung

bila perlu.
Intruksikan pada

Klien bebas dari


tanda dan gejala
infeksi
Mendiskripsikan

Mengetahui
keadaan umum

klien
Menjaga agar luka

bersih dan kering


Mencegah terjadi

infeksi lebih lanjut


Memberikan data
penunjang tentang

proses penularan

pengunjung untuk

penyakit, faktor

mencuci tangan

yang

saat berkunjung

mikroorganisme

mempengaruhi

dan setelah

penularan serta

berkunjung

penyebab infeksi
Menjaga

penatalaksaannya
Menunjukkan
kemampuan untuk

kesetabilan tubuh

meninggalkan

mencegah
timbulnya infeksi
Jumlah leukosit

dalam batas

untuk cuci tangan.


Tingkatkan intake
nutrisi.

12

pasien agar

pasien.
Gunakan sabun
antimikrobia

resiko infeksi
Membunuh

terhindar dari

infeksi
Menstabilkan
kekebalan tubuh
terhadap infeksi

normal

Berikan terapi

Menunjukkan

antibiotik bila

dan gejala terhadap

perilaku hidup

perlu infection

sehat

protection

infeksi sejak dini


Keadaan umum

pasien terjaga
Luka termonitoring

( proteksi terhadap

infeksi).
Ajarkan pasien

dengan baik

dan keluarga tanda

dan gejala infeksi..


Inspeksi kulit dan
membran mukosa
terhadap
kemerahan ,

Kekurangan
volume
cairan

Mengatasi tanda

NOC
00027 Fluid balance
Nutritional status :

panas, drainase.
Inspeksi kondisi

luka / insisi bedah


NIC
- monitor status
hidrasi
(kelembaban

food and fluid intake


Kriteria Hasil

membrane

Mempertahankan

mukosa, nadi

urine output sesuai

adekuat, tekanan

dengan usia dan BB,

darah ortosatatik)
monitor vital sign
berikan

BJ urine normal, HT

normal
Tekanan darah, suhu,

penggantian

nesogatrik sesuai
output
atur kemungkinan

transfuse
monitor tingkat

HB dan hematocrit
monitor respon

nadi dalam batas


normal
Tidak ada tandatanda dehidrasi,
elastisitas turgor
kulit baik, tidak ada

pasien terhadap

rasa haus yang


berlebihan

13

penambahan cairan
kolaborasikan

pemberian cairan
intravena
Resiko
tinggi
infeksi

NOC
Immune status
Knowledge :
infection control
Risk control
Kriteria hasil
Klien bebas dari
tanda dan gejala
infeksi
Mendeskripsikan
proses penularan
penyakit, factor yang

NIC
- Pertahankan
lingkungan aseptic
selama pemasangan
alat
- Monitor tanda dan
gejala infeksi
sistemik dan local
- Monitor kerentanan
terhadap infeksi
- Inspeksi kondisi luka/

mempengaruhi

insisi bedah
- Ajarkan pasien dan

penularan serta

keluarga tentang

penatalaksanaannya
Menunjukkan

tanda dan gejala

kemampuan untuk
mencegah timbulnya

infeksi
- Berikan terapi
antibiotic bila perlu

infeksi
Jumlah leukosit
dalam batas normal
Menunjkkan perilaku
hidup sehat

2.2.4

Implementasi
Pelaksanaan tindakan dilakukan pada klien disesuaikan dengan prioritas
masalah yang telah disusun. Yang paling penting pelaksanaan mengacu pada
intervensi yang telah ditentukan dengan maksud agar kebutuhan klien terpenuhi
secara optimal. Dahulukan tindakan yang dianggap prioritas/masalah utama.

2.2.5

Evaluasi
Evaluasi pelaksanaan yang telah dilakukan kepada pasien.

14

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Di tinjau dari segi Kesehatan yaitu perdarahan selama kehamilan, maka banyak faktor
yang menyebabkan pengurangan pemberdayaan wanita. Kematian ibu selama kehamilan ada
tiga hal pokok yaitu, perdarahan selama kehamilan, pereklamsi,eklamsi dan infeksi. Tetapi
yang kami ketengahkan, baru kematian ibu akibat perdarahan selama kehamilan dan
penanggulangannya, untuk meningkatkan keberdayaan seorang wanita. Diantaranya adalah
abortus, mola hidatidosa, kehamilan ektopik yang terganggu, menstruasi dan kehamilan
normal, kelainan lokal pada vagina dan servik seperti varises, perlukaan, erosi, polip dan
keganasan, partus prematus, solusio plasenta, inkopetensi servik, perdarahan ante partum
seperti plasenta previa, dan lain-lain.
3.2 SARAN
Untuk meningkatkan pemberdayaan wanita maka diharapkan setiap wanita yang mengalami
perdarahan pervagina selama kehamilan seyogyanya harus memeriksakan diri ke dokter
spesialis, untuk selanjutnya dapat ditangani olehnya begitupun bagi wanita sendiri
(penderita), perlu mengetahui hari pertama haid terakhir, gejala dan tanda kehamilan, riwayat
obstetri teruahulu, riwayat ginekologi seperti servisitis atau operasi, riwayat Keluarga
Berencana, perdarahan kwalitas dan kwantitasnya dan lain-lain.

15

DAFTAR PUSTAKA

A.Mansjoer, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius


Maulana, Mirza.2008.Penyakit Kehamilan dan Pengobatannya.Yogyakarta : Katahati
Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
Sastrawinata, Sulaeman, dkk. 2004. Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi. Jakarta: EGC

16