Anda di halaman 1dari 4

TEORI

Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu


sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Spektrofotometer merupakan gabungan dari alat
optic dan elektronika serta sifat-sifat kimia fisiknya. Dimana detektor dapat mengukur
intensitas cahaya yang dipancarkan secara tidak langsung cahaya yang diabsorbsi. Tiap media
akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu tergantung pada senyawa atau warna
yang terbentuk (Rohman dan Gandjar, 2007).
Pada umumnya terdapat dua tipe instrumen spektrofotometer, yaitu single-beam dan
double beam. Single-beam instrumen dapat digunakan untuk kuantitatif dengan mengukur
absorbansi pada panjang gelombang tunggal. Single-beam instrumen mempunyai beberapa
keuntungan yaitu sederhana, harganya murah, dan mengurangi biaya yang ada merupakan
keuntungan yang nyata. Panjang gelombang paling rendah adalah 190 dan 210 nm dan paling
tinggi adalah 800 sampai 1000 nm. Double-beam instrumen, dibuat untuk digunakan pada
panjang gelombang 190 sampai 750 nm. Double-beam instrumen mempunyai dua sinar yang
dibentuk oleh potongan cermin yang berbentuk V yang disebut pemecah sinar. Sinar pertama
melewati larutan blanko dan sinar kedua secara serentak melewati sampel, mencocokkan
fotodetektor yang keluar menjelaskan perbandingan yang ditetapkan secara elektronik dan
ditunjukkan oleh alat pembaca (Skoog, D.A., 1996).
Spektrofotometri UV-Visible merupakan gabungan antara spektrofotometri UV dan
Visible. Alat ini menggunakan dua buah sumber cahaya yang berbeda, yaitu sumber cahaya
UV dan sumber cahaya Visible. (Rohman dan Gandjar, 2007).
Dalam analisis secara spektrofotometri terdapat tiga daerah panjang gelombang
elektromagnetik yang digunakan, yaitu daerah UV (200 380 nm), daerah visible (380 700
nm), daerah inframerah (700 3000 nm) (Khopkar 1990).
Panjang gelombang merupakan jarak linier dari suatu titik pada satu gelombang ke
titik yang bersebelahan pada gelombang yang bersebelahan. Dimensi panjang gelombang
adalah panjang (L) yang dapat dinyatakan dalam centimeter (cm) (Ibnu dan Rohman, 2009).
Senyawa analit menjerap radiasi elektromagnetik di daerah panjang gelombang UVVis yang mengakibatkan tereksitasinya elektron keringat yang lebih tinggi. Elektron akan
tereksitasi dari ground state menuju excited State (Snyder dkk., 2010).

Molekul-molekul yang memerlukan energi yang lebih banyak untuk mengeksitasi


elektron maka akan menyerap panjang gelombang yang lebih pendek, sedangkan untuk
molekul-molekul yang memerlukan energi yang lebih sedikit untuk mengeksitasi elektron
maka akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih panjang (Fessenden and
Fessenden, 1997). Hukum lambert-beer menunjukkan bahwa absorbansi suatu senyawa
dipengaruhi oleh absorptivitas molar, tebal kuvet dan konsentrasi molekul dalam senyawa
analit (Rohman dan Gandjar, 2007). Hukum lambert beber dapat dilihat melalui petsamaan
dibawah ini :
A = . b. C
A = absorban
= koefisien absorptivitas molar (M-1 cm-1)
C = konsentrasi molekul dalam senyawa analit
b = tebal curvet (cm)
(Rohman dan Gandjar, 2007).
Absorptivitas molar merupakan suatu konstate yang tergantung pada temperatur,
pelarut, struktur molekul, dan panjang gelombang radiasi. Dikatakan sebagai absorptivitas
molar apabila konsentrasi molekul zat analit dalam satuan molar (M). Jika konsentrasi
molekul zat analit berada dalam satuan persen berat/volume (g/100 ml), maka absorptivitas
dapat ditulis dengan

A 11 cm (Rohman dan Gandjar, 2007). Hubungan antara

A 11 cm dengan

absorptivitas molar () dapat dilihat pada persamaan di bawah ini :


=

A 11 cm

BM
10

M-1 cm-1

Keterangan :

= koefisien absorptivitas molar (M-1 cm-1)


A 11 cm = absorbtivitas molekul dalam satuan konsentrasi (g/100ml)

BM = bobot molekul (g/mol)


(Rohman dan Gandjar, 2007)
Nilai

A 11 cm

memberikan manfaat untuk mengetahui berapa besar konsentrasi

senyawa yang dianalisis harus dipersiapkan sehingga diperoleh absorbansi pada kisaran 0,2-

0,8. Selain itu, manfaat dari informasi nilai

A 1 cm

adalah terkait dengan sensitivitas

senyawa untuk diukur dengan spektrofotometri UV-Vis. Semakin besar nilai

A 11 cm

suatu

senyawa maka semakin sensitif senyawa tersebut untuk dideteksi dan diukur dengan
spektrofotometri UV-Vis. Nilai menunjukkan kemampuan suatu senyawa untuk mengalami
transisi
* sehingga dapat diaplikasikan pada spektrofotometer yang memiliki rentang
panjang gelombang antara 200-700 nm (Rohman dan Gandjar, 2007).

Menurut Sastrohamidjodjo H., 2001, instrumen yang digunakan untuk mempelajari


serapan atau emisi radiasi elektromagnetik sebagai fungsi dari panjang gelombang disebut
spektrometer atau spektrofotometer. Komponenkomponen pokok dari spektrofotometer
meliputi :
1. Sumber tenaga radiasi yang stabil
Sumber radiasi UV yang kebanyakan digunakan adalah lampu hidrogen dan
lampu deuterium. Yang terdiri dari sepasang elektroda yang terselubung dalam tabung
gas dan diisi dengan gas hidrogen dan deuterium yang bertekanan rendah. Sumber
radiasi ultraviolet lain adalah lampu xenon, tetapi tidak se stabil lampu hidrogen. Sumber
radiasi terlihat dan radiasi inframerah dekat yang biasa digunakan adalah lampu filamen
tungsten.
2. Monokromator
Dalam spektrometer, radiasi yang polikromatik yang harus diubah menjadi radiasi
monokromatik. Ada dua jenis alat yang digunakan untuk mengurai radiasi polikromatik
menjadi monokromatik yai
tu penyaring dan monokromator. Penyaring dibuat dari benda khusus yang hanya
meneruskan radiasi pada daerah panjang gelombang tertentu dan penyerap radiasi dari
panjang gelombang yang lain. Monokromator merupakan serangkaian alat optik yang
mengurai radiasi polikromatik menjadi jalur-jalur yang efektif/panjang gelombanggelombang tunggalnya dan memisahkan panjang gelombang-gelombang tersebut
menjadi jalur-jalur yang sangat sempit.
3. Tempat Cuplikan
Cuplikan pada daerah ultraviolet atau terlihat yang biasnya berupa gas atau
larutan ditempatkan dalam sel atau kuvet. Untuk daerah violet biasanya digunakan
Quartz atau sel dari silica yang dilebur, sedangkan untuk daerah terlihat digunkan gelas
biasa atau quartz. Sel yang digunakan untuk cuplikan yang berupa gas mempunyai
panjang lintasan dari 0,1 100 nm, sedangkan sel untuk larutan mempunyai panjang

lintasan tertentu dari 1 hingga 10 cm. Sebelum sel dipakai harus dibersihkan dengan air,
atau jika dikehendaki dapat dicuci dengan larutan detergen atau asam nitrat panas.
4. Detektor
Setiap detektor penyerap tenaga foton yang mengenainya dan mengubah tenaga
tersebut untuk dapat di ukur secara kuantitatif seperti sebagai arus listrik atau perubahanperubahan panas. Kebanyakan detektor menghasilkan sinyal listrik yang dapat
mengaktifkan meter atau pencatat. Setiap pencatat harus menghasilkan sinyal yang
secara kuantitatif berkaitan dengan tenaga cahaya yang mengenainya.

DAPUS
Gholib, I., dan Abdul R., 2007. Kimia Farmasi Analisis. Cetakan Pertama, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, hal : 136-140.

Sastrohamidjojo, H, 1985, Kromatografi, Edisi Pertama, Penerbit Liberty, Yogyakarta, hal :


109-112.
Skoog, D.A., 1996, Penyidikan Spektrometrik Senyawa Organik, Edisi ke-4, Penerbit
Erlangga, Jakarta, hal : 256-271.
Fessenden, R.J. and Fessenden, J.S., 1997, Kimia Organik, edisi III, jilid I, diterjemahkan oleh
Aloysius Handayana Pudjaatmaka, Penerbit Erlangga, Jakarta, pp. 436.
Rohman, A. dan Gandjar, I.G., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Penerbit Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, pp.231-232, 244-246, 381, 388.

Khopkar,S. 2007. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press : Jakarta, hal : 107-115.
Snyder, L.R., Kirkland, J.J., and Dolan, J.W., 2010, Introduction of Modern Liquid
Chromatography, A John Willey & Sons, Inc. Publication, New York, pp. 208-209.