Anda di halaman 1dari 51

Tugas Manajemen Keuangan

Analisis Laporan Keuangan Industri Semen


Periode 2010-2012

Diajukan untuk memenuhi nilai mata kuliah Manajemen Keuangan


Disusun oleh :
Afni Nur Oktafiani

8105133178

Meity Isanti

8105133183

Mutia Muthmaina

8105133189

Syifa Ashimah

8105133208

Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Jakarta
Jakarta

KATA PENGANTAR
Penulis mengucapkan puji syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan nikmat dan karunianya sehingga makalah ini dapat selesai tepat waktu dengan
lancar. Makalah ini merupakan hasil telaah pustaka dan analisis laporan keuangan perusahaan
semen periode 2010-2012.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih banyak kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penyelesaian karya tulis ini yaitu:
1. Allah SWT yang memberikan kesehatan serta kesempatan untuk menyelesaiakan
karya tulis ini,
2. Ibu Ati Sumiati, SPd.MSi selaku dosen mata kuliah Manajemen Keuangan,
3. Orang tua yang telah memberikan dukungan dan semangat kepada kami, serta
berbagai pihak yang tidak bisa kami sebutkan semua.
Penulis menyadari karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu
kami menerima segala kritik dan saran yang bersifat membangun. Akhirnya penulis berharap
karya tulis ini dapat bermanfaat untuk semua pihak khususnya mahasiswa UniversitasNegeri
Jakarta.

Jakarta, 29 Oktober 2014


Tim Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................
DAFTAR ISI....................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN................................................................................
1.1 Latar Belakang......................................................................................
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan...................................................................................
1.4 Manfaat Penulisan................................................................................
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................
2.1 Landasan Teori
2.2 Deskripsi Perusahaan..............................................................................
2.2.1 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk...........................................
2.2.2 PT Holcim Indonesia Tbk...............................................................
2.2.3 PT Semen Gresik (Persero) Tbk....................................................
2.3 Tabel Rasio Laporan Keuangan............................................................
2.4 Interpretasi Rasio...................................................................................
2.4.1Cross Section....................................................................................
1. Likuiditas Perusahaan (Liquidity)..........................................
2. Rasio Aktifitas (Activity Ratio).............................................
3. Keputusan Pendanaan (Leverage/Financing).........................
4. Pengembalian Atas Ekuitas ( Profitability).............................
2.4.2 Time Series.........................................................................
1. Likuiditas Perusahaan (Liquidity)..........................................
2. Rasio Aktifitas (Activity Ratio).............................................
3. Keputusan Pendanaan (Leverage/Financing).........................
4. Pengembalian Atas Ekuitas ( Profitability).............................
BAB III PENUTUP..........................................................................................
3.1 Simpulan...............................................................................................
3.2 Saran.....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................
LAMPIRAN.....................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam kerangka konseptual (Conceptual Framework) menyatakan bahwa laporan
keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan,
kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah
besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Untuk pengambilan keputusan
ekonomi, para pelaku bisnis membutuhkan informasi mengenai kondisi dan kinerja keuangan
perusahaan. Untuk dapat menginterpretasikan informasi akuntansi yang relevan dengan
tujuan dan kepentingan pemakainya telah dikembangkan seperangkat teknik analisis yang
didasarkan pada laporan keuangan yang dipublikasikan. Salah satu cara yang dapat
diaplikasikan dalam praktek bisnis adalah analisis rasio keuangan.
Analisis laporan keuangan dapat dilakukan dengan melakukan analisa terhadap rasiorasio keuangan yang menggambarkan hubungan diantara perkiraan-perkiraan laporan
keuangan. Analisis rasio berorientasi dengan masa depan yang berarti bahwa dengan analisis
rasio dapat digunakan sebagai alat untuk meramalkan (Forcasting) keadaan keuangan serta
hasil usaha di masa yang akan datang.
Oleh karena itu analisis rasio keuangan dapat membantu para pelaku bisnis, dan pihak
pemakai laporan keuangan lainnya dalam menilai kondisi keuangan perusahaan yang juga
bermanfaat untuk memprediksi laba/rugi perusahaan di masa yang akan datang. Bagi para
investor rasio keuangan dapat digunakan untuk membuat keputusan apakah akan membeli
kepemilikan suatu perusahaan serta menilai kondisi perusahaan saat ini dan untuk
mengetahui prospeknya dimasa akan datang. Selain itu rasio keuangan juga dapat digunakan
untuk menentukan kemampuan suatu perusahaan dalam membayar hutangnya.
Mengingat pentingnya kegiatan menganalisis laporan keuangan menggunakan analisis
rasio, maka perlu ada nya praktek langsung untuk menganalisis laporan keuangan suatu
perusahaan. Ada pun sebagai bahan untuk analisis rasio keuangan, penulis

memilih

perusahaan semen karena perusahaan semen merupakan salah satu perusahaan manufaktur
yang sudah cukup besar.

Dari alasan ketertarikan terhadap perusahaan di atas, diharapkan nantinya diketahui


apakah kinerja perusahaan sudah cukup baik atau kurang baik.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang maka perumusan masalahn sebagai ruang lingkup penulisan akan
dibatasi pada hal-hal berikut:
1. Bagaimana kinerja keuangan dari beberapa industri perusahaan semen di Indonesia
dalam periode 2010-2012 per 31 Desember?
2. Bagaimana likuiditas perusahaan, profitabilitas usaha, keputusan pendanaan, dan
tingkat pengembalian atas ekuitas dari beberapa Industri perusahaan semen dalam
periode 2010-2012 per 31 Desember?

1.3 Tujuan Penulisan


Beberapa tujuan yang diharapkan dari penulisan ini :
1.
2.
3.
4.

Menganalisis kinerja keuangan suatu perusahaan menggunakan rasio-rasio


Diharapkan dapat menambah pengetahuan para pembaca makalah
Memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Keuangan
Menganalisa berbagai rasio yang ada dan membandingkannya dari tahun ke tahun

1.4 Manfaat Penulisan


1. Sebagai bahan pelajaran bagi mahasiswa.
2. Sebagai wacana awal bagi penyusunan karya tulis selanjutnya.
3. Sebagai literature untuk lebih memahami kegiatan akuntansi, khususnya.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam kerangka konseptual (Conceptual Framework) menyatakan bahwa laporan
keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan,
kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah
besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Untuk pengambilan keputusan
ekonomi, para pelaku bisnis membutuhkan informasi mengenai kondisi dan kinerja keuangan
perusahaan. Untuk dapat menginterpretasikan informasi akuntansi yang relevan dengan
tujuan dan kepentingan pemakainya telah dikembangkan seperangkat teknik analisis yang
didasarkan pada laporan keuangan yang dipublikasikan. Salah satu cara yang dapat
diaplikasikan dalam praktek bisnis adalah analisis rasio keuangan.
Analisis laporan keuangan dapat dilakukan dengan melakukan analisa terhadap rasiorasio keuangan yang menggambarkan hubungan diantara perkiraan-perkiraan laporan
keuangan. Analisis rasio berorientasi dengan masa depan yang berarti bahwa dengan analisis
rasio dapat digunakan sebagai alat untuk meramalkan (Forcasting) keadaan keuangan serta
hasil usaha di masa yang akan datang.
Oleh karena itu analisis rasio keuangan dapat membantu para pelaku bisnis, dan pihak
pemakai laporan keuangan lainnya dalam menilai kondisi keuangan perusahaan yang juga
bermanfaat untuk memprediksi laba/rugi perusahaan di masa yang akan datang. Bagi para
investor rasio keuangan dapat digunakan untuk membuat keputusan apakah akan membeli
kepemilikan suatu perusahaan serta menilai kondisi perusahaan saat ini dan untuk
mengetahui prospeknya dimasa akan datang. Selain itu rasio keuangan juga dapat digunakan
untuk menentukan kemampuan suatu perusahaan dalam membayar hutangnya.
Mengingat pentingnya kegiatan menganalisis laporan keuangan menggunakan analisis
rasio, maka perlu ada nya praktek langsung untuk menganalisis laporan keuangan suatu
perusahaan. Ada pun sebagai bahan untuk analisis rasio keuangan, penulis

memilih

perusahaan semen karena perusahaan semen merupakan salah satu perusahaan manufaktur
yang sudah cukup besar.
Dari alasan ketertarikan terhadap perusahaan di atas, diharapkan nantinya diketahui
apakah kinerja perusahaan sudah cukup baik atau kurang baik.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang maka perumusan masalahn sebagai ruang lingkup penulisan akan
dibatasi pada hal-hal berikut:
3. Bagaimana kinerja keuangan dari beberapa industri perusahaan semen di Indonesia
dalam periode 2010-2012 per 31 Desember?
4. Bagaimana likuiditas perusahaan, profitabilitas usaha, keputusan pendanaan, dan
tingkat pengembalian atas ekuitas dari beberapa Industri perusahaan semen dalam
periode 2010-2012 per 31 Desember?

1.3 Tujuan Penulisan


Beberapa tujuan yang diharapkan dari penulisan ini :
5.
6.
7.
8.

Menganalisis kinerja keuangan suatu perusahaan menggunakan rasio-rasio


Diharapkan dapat menambah pengetahuan para pembaca makalah
Memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Keuangan
Menganalisa berbagai rasio yang ada dan membandingkannya dari tahun ke tahun

1.4 Manfaat Penulisan


1. Sebagai bahan pelajaran bagi mahasiswa.
2. Sebagai wacana awal bagi penyusunan karya tulis selanjutnya.
3. Sebagai literature untuk lebih memahami kegiatan akuntansi, khususnya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Landasan Teori


2.1.1 Analisis Laporan Keuangan
Menurut Gibson (2007:165) mengenai pengertin analisis laporan keuangan
didefinisikan sebagai berikut :
financial statement analysis is judgmental process. One of the primary objectives is
identification of major changes (turning points) in trends, amounts, relationship and
investigation of the reasons underlying those changes. Often a turning point may signal an
early warning of a sifnificant shift in the future success or failure of the business
Sedangkan menurut John J. Wild K.R Subramanyam & Robert F. Helsey (2007:12)
yang didefinisikan sebagai berikut :
financial analysis is the use of financial statement to analyze a companys financial position
and performance, and to assess future financial performance
Berdasarlan pengertian tersebut diatas, analisis laporan keuangan merupakan suatu
proses untuk mengidentifikasikan perubahan- perubahan yang ada di tren, jumlah, hubungan
serta kemampuan dan posisi finansial suatu perusahaan dan menganalisa hal tersebut untuk
acuan dimasa yang akan datang.
2.1.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Menurut Sofyan Safri Harahap (2002:126) mengenai tujuan analisis laporan keuangan
adalah sebagai berikut :
1. Dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam daripada yang terdapat dari
laporan keuangan biasa
2. Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata dari suatu laporan
keuangan atau yang berada dibalik laporan keuangan.
3. Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan.
4. Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam hubungannya dengan
suatu laporan keuangan baik dikaitkan dengan komponen intern laporan keuangan
maupun kaitannya dengan informasiyang diperoleh dari luar perusahaan.
5. Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan model-model dan
teori yang terdapat dilapangan seperti untuk prediksi dan peningkatan (rating)
6. Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh para pengambil keputusan.
7. Dapat memberikan rating perusahaan menurut kriteria tertentu yang sudah dikenal
dalam dunia bisnis
8. Dapat membandingkan situasi perusahaan dengan perusahaan lain dengan periode
sebelumnya atau dengan standar industri normal atau standar ideal
9. Dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami perusahaan, baik posisi
keuangan, hasil usaha, struktur keuangan dan sebagainya.
10. Dapat memprediksi potensi apa saja yang mungkin dialami perusahaan dimasa yang
akan datang.
2.1.3 Prosedur Analisis Laporan Keuangan

Sebelum menganalisa laporan keuangan, sebaiknya kita mengetahui prosedurprosedur analisis laporan keuangan terlebih dahulu. Prosedur-prosedur analisis terebut
dijelaskan oleh Dwi Prastowo D (1995:32) sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Memahami latar belakang keuangan perusahaan


Memahami kondisi-kondisi yang berpengaruh pada perusahaan
Mempelajari dan mereview laporan keuangan
Menganalisis laporan keuangan

2.1.4 Metode dan Tehnik Analisis Laporan Keuangan


Metode dan tehnik digunakan untuk menentukan dan mengukur hubungan antara pospos yang ada dalam laporan sehingga dapat diketahui perubahan-perubahan dari masingmasing pos tersebut bila dibandingkan dengan laporan dari beberapa periode suatu
perusahaan tertentu. Menurut Jane I . Reimers (2007:623), terdapat tiga cara yakni :
1. Horizontal Analysis
Horizontal analysis is a technique for evaluating a financial statement amount over
period. The purpose of horizontal analysis is to express the change in financial
statement item in percentage rather than in dollars
2. Vertical Analysis
Vertical analysis is similar to horizontal analysisi. But the analysisinvolves item on
a single years financial statement.Each item on a financial statement is expressed as
a percentage of a selected base amount
3. Ratio Analysis
Ratio analysis uses information in the financial statements to formulate specific
values that determine some measure of a companys financial position
2.1.5 Analisa Rasio Keuangan
2.1.5.1 Pengertian Rasio Keuangan
Berdasarkan pendapat Agnes Sawir (2005, p6), untuk menilai kondisi keuangan
dan prestasi perusahaan, analis keuangan memerlukan beberapa tolak ukur. Tolak
ukur yang sering dipakai adalah rasio atau indeks, yang menghubungkan dua data
keuangan yang satu dengan yang lainnya.
Menurut pendapat Slamet Munawir (2002, p37), analisa rasio adalah suatu metode
analisa untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan
rugi-laba secara individu atau kombinasi dari kedua laporan tersebut. Artinya
berdasarkan data-data yang terdapat dalam laporan keuangan baik dari neraca,
laporan laba-rugi, maupun kedua-duanya dapat dihitung bermacam-macam jenis rasio

yang dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan untuk


kelangsungan hidup perusahaan.
2.1.5.2 Kegunaan Rasio-rasio Keuangan
Menurut pendapat Agnes Sawir (2005, p6), analisis rasio keuangan, yang
menghubungkan unsur-unsur neraca dan perhitungan laba-rugi satu dengan lainnya,
dapat memberikan gambaran tentang sejarah perusahaan dan penilaian posisinya pada
saat ini. Analisis rasio juga memungkinkan manajer keuangan memperkirakan reaksi
para kreditor dan investor dan memberikan pandangan ke dalam tentang bagaimana
kira-kira dana dapat diperoleh.
2.1.5.3 Penggunaan Analisa Rasio
Menurut pendapat Agnes Sawir (2005, p6), rasio analisis keuangan meliputi dua
jenis perbandingan, yaitu:
a) Perbandingan Internal.
Memperbandingkan rasio sekarang dengan yang lalu untuk perusahaan
yang sama. Jika rasio keuangan disajikan dalam bentuk suatu daftar untuk
periode

beberapa

tahun,

analis

dapat

mempelajari

komposisi

perubahanperubahan dan menetapkan apakah telah terdapat suatu


perbaikan atau bahkan sebaliknya di dalam kondisi keuangan dan prestasi
perusahaan selama jangka waktu tersebut.
b) Perbandingan Eksternal.
Perbandingan meliputi perbandingan rasio perusahaan dengan perusahaan
lainnya yang sejenis atau dengan rata-rata industri pada satu titik yang
sama. Perbandingan tersebut dapat memberikan gambaran relatif tentang
kondisi keuangan dan prestasi perusahaan.
Menurut Slamet Munawir (2002, p101), angka-angka rasio keuangan dapat
dianalisa dengan membandingkan angka rasio-rasio tersebut dengan:
a) Standar rasio atau rasio rata-rata dari seluruh industri semacam dimana perusahaan yang data
keuangannya sedang dianalisa menjadi anggotanya.
b) Rasio yang telah ditentukan dalam budget perusahaan yang bersangkutan.
c) Rasio-rasio yang semacam di waktu-waktu yang lalu (rasio historis) dari perusahaan yang
bersangkutan.
d) Rasio keuangan dari perusahaan-perusahaan lain yang sejenis yang merupakan pesaing
perusahaan yang dinilai cukup baik atau berhasil dalam usahanya.

Berdasarkan pendapat Bambang Riyanto (2001, p329), penganalisa keuangan


dalam mengadakan rasio keuangan pada dasarnya dapat melakukannya dengan dua
macam cara perbandingan, yaitu:
a) Rasio tahun lalu (rasio historis), membandingkan rasio sekarang dengan rasio-rasio dari
waktu-waktu yang lalu dari perusahaan yang sama.
b) Rasio rata-rata industri, membandingkan rasio-rasio dari suatu perusahaan dengan rasio-rasio
semacam dari perusahaan lain yang sejenis untuk waktu yang sama.
Dalam penulisan laporan ini, cara perbandingan yang dilakukan adalah perbandingan
internal atau rasio tahun lalu.
2.1.5.4 Jenis Analisis Rasio Keuangan
Menurut pendapat Agnes Sawir (2005, p7), rasio-rasio dikelompokkan ke dalam
lima kelompok dasar, yaitu: likuiditas, leverage, aktivitas, profitabilitas, dan
penilaian. Sejumlah rasio yang tak terbatas banyaknya dapat dihitung, akan tetapi
dalam prakteknya cukup digunakan beberapa jenis rasio saja.
Jenis analisis rasio keuangan menurut Agnes Sawir (2005, p8-22) adalah sebagai
berikut:
A. Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio).
Merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajibannya yang akan jatuh tempo.
Rasio likuiditas yang umum digunakan yaitu:

Rasio Lancar (Current Ratio).


Rasio ini dihitung dengan membagi Aktiva lancar dengan Utang
Lancar. Rasio lancar merupakan ukuran yang paling umum digunakan
untuk mengetahui kesanggupan memenuhi kewajiban jangka pendek,
karena rasio ini menunjukkan seberapa jauh tuntutan dari kreditor
jangka pendek dipenuhi oleh aktiva yang diperkirakan menjadi uang
tunai dalam periode yang sama dengan jatuh tempo utang.

Aktiva Lancar
Rasio Lancar =
Utang Lancar

Rasio lancar yang rendah biasanya dianggap menunjukkan


terjadinya masalah dalam likuiditas. Sebaliknya suatu perusahaan yang
rasio lancarnya terlalu tinggi juga kurang bagus, karena menunjukkan
banyaknya dana menganggur yang pada akhirnya dapat mengurangi
kemampulabaan perusahaan.

Rasio Cepat (Quick Ratio).

Rasio ini dihitung dengan mengurangkan Persediaan dari Aktiva


Lancar dan kemudian membagi hasilnya dengan Utang Lancar.

Aktiva Lancar - Persediaan


Rasio Cepat =
Utang Lancar

Persediaan

merupakan

unsur

aktiva

lancar

yang

tingkat

likuiditasnya rendah, sering mengalami fluktuasi harga, dan unsur


aktiva lancar ini sering menimbulkan kerugian jika terjadi likuidasi.
Jadi rasio cepat lebih baik dalam mengukur kemampuan suatu
perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Rasio
cepat yang umumnya dianggap baik adalah 1 (satu).
B. Rasio Manajemen Utang (Solvability Ratio).
Rasio leverage mengukur tingkat solvabilitas suatu perusahaan. Rasio ini
menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi segala kewajiban
finansialnya seandainya perusahaan tersebut pada saat itu dilikuidasi.
Dengan demikian solvabilitas berarti kemampuan suatu perusahaan untuk
membayar semua utang-utangnya, baik jangka panjang maupun jangka
pendek.
Rasio leverage yang umum digunakan adalah:
Rasio Utang (Debt Ratio).
Rasio ini dihitung dengan membagi Total Utang dengan Total
Aktiva. Rasio ini memberikan tolak ukur seberapa besar total aktiva
yang dimiliki oleh perusahaan yang dibiayai melalui penggunaan
utang.

Total Utang
Rasio Utang =
Total Aktiva

Rasio ini memperlihatkan proporsi antara kewajiban yang dimiliki


dan seluruh kekayaan yang dimiliki. Semakin tinggi persentasenya,
cenderung semakin besar risiko keuangannya bagi kreditor maupun
pemegang saham.
Rasio Laba terhadap Beban Bunga (Times Interest Earned Ratio).
Rasio ini dihitung dengan membagi Laba Sebelum Pajak dan
Beban
Bunga/EBIT (Earning Before Income and Tax) dengan Beban Bunga.

EBIT
Rasio Laba terhadap Beban Bunga =
Beban Bunga

Rasio ini mengukur kemampuan pemenuhan kewajiban bunga


tahunan dengan laba operasi (EBIT), sejauh mana laba operasi boleh
turun tanpa menyebabkan kegagalan dalam pemenuhan kewajiban
membayar bunga pinjaman.
C. Rasio Manajemen Aktiva (Assets Management Ratio).
Merupakan rasio yang mengukur sejauh mana efektivitas manajemen
perusahaan dalam mengelola asset-assetnya. Artinya dalam hal ini adalah mengukur
kemampuan manajemen perusahaan dalam mengelola persediaan bahan mentah,
barang dalam proses, dan barang jadi serta kebijakan manajemen dalam mengelola
aktiva lainnya dan kebijakan pemasaran. Rasio manajemen aktiva menganalisis
hubungan antara laporan laba-rugi, khususnya penjualan dengan unsur-unsur yang ada
pada neraca, khususnya unsur-unsur aktiva. Rasio akitivitas ini diukur dengan istilah
perputaran unsur-unsur aktiva yang dihubungkan dengan penjualan.
Rasio-rasio aktivitas yang umum digunakan:
Rasio Perputaran Persediaan (Inventory Turnover Ratio).

Rasio ini dihitung dengan membagi Harga Pokok Penjualan dengan Rata-rata
Persediaan. Sedangkan untuk menghitung periode rata-rata persediaan dihitung
dengan membagi jumlah hari dalam setahunnya, dianggap 360 hari, dengan
perputaran persediaan. Satu tahun dapat diasumsikan 360 hari atau 365 hari, kedua
angka ini digunakan dalam lingkup keuangan dan perbedaannya tidak akan
mempengaruhi
keputusan yang dihasilkan.

Harga Pokok Penjualan


Rasio Perputaran Persediaan =
Rata-rata Persediaan

360 hari
Periode Rata-rata Persediaan =
Perputaran Persediaan

Perputaran ini menunjukkan berapa kali jumlah persediaan barang dagang diganti
atau dijual dalam suatu periode. Apabila perputaran persediaan barang itu cepat,
maka tidak ada masalah bagi perusahaan. Sebaliknya, apabila perputaran
persediaan barang lambat, hal ini akan mengganggu kelangsungan hidup
perusahaan. Karena untuk menyimpan barang tersebut akan memerlukan berbagai
macam biaya dan kerugian yang mungkin timbul, misalnya biaya sewa gedung,
biaya pemeliharaan, biaya bunga, biaya kebakaran, dan lain-lain.
Rasio Perputaran Piutang (Account Receivable Turnover Ratio).
Rasio ini dihitung dengan membagi Penjualan dengan rata-rata Piutang Usaha.

tinggi, maka
Penjualan
Rasio Perputaran Piutang =
Rata-rata Piutang Usaha

360 hari
Periode Rata-rata Piutang Usaha =
Perputaran Piutang Usaha
Apabila perusahaanmenunjukkan
perputaranpiutangsemakin

perusahaan tersebut mempunyai tingkat rasio yang baik.


Oleh karena dana yang diinvestasikan dalam piutang itu rendah. Sebaliknya, kalau
rasionya semakin rendah berarti dana yang diinvestasikan dalam piutang semakin tinggi, hal
ini disebabkan oleh bagian kredit dan penagihan bekerja tidak efektif, ada perubahan dalam
kebijakan pemberian kredit kepada pelanggan.
Dengan menggunakan perputaran piutang dagang dapat pula dihitung waktu rata-rata
pengumpulan piutang tersebut, yaitu dengan membagi jumlah hari dalam setahun, dianggap
360 hari, dengan tingkat perputaran piutang tersebut. Semakin besar hari penagihan piutang,
semakin besar pula resiko piutang tidak dapat ditagih.
Rasio Perputaran Total Aktiva (Total Assets Turnover Ratio).
Rasio ini dihitung dengan membagi Penjualan dengan Rata-rata
Total Aktiva.
Penjualan
Rasio Perputaran Total Aktiva =
Rata-rata Total Aktiva

Rasio ini menunjukkan efektivitas penggunaan seluruh harta perusahaan dalam


rangka menghasilkan penjualan atau menggambarkan berapa rupiah penjualan bersih
yang dapat dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan dalam bentuk harta
perusahaan. Kalau perputarannya lambat, ini menunjukkan bahwa aktiva yang
dimiliki terlalu besar dibandingkan dengan kemampuan untuk menjual. D.Rasio
Profitabilitas (Profitability Ratio).
Kemampulabaan (profitabilitas) merupakan hasil akhir bersih dari berbagai
kebijakan dan keputusan manajemen. Rasio kemampulabaan akan memberikan

jawaban akhir tentang efektivitas manajemen perusahaan, rasio ini memberi gambaran
tentang tingkat efektivitas pengelolaan perusahaan.
Rasio profitabilitas yang umum digunakan:

Rasio Marjin Laba Bersih (Profit Margin on Sales Ratio).


Rasio ini dihitung dengan membagi Laba Bersih dengan Penjualan.

Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan.

Laba Bersih
Rasio Marjin Laba Bersih =
Penjualan

Rasio Daya Laba Dasar (Basic Earning Power Ratio).


Rasio ini dihitung dengan membagi Laba Sebelum Pajak dan Biaya.
Bunga/EBIT (Earning Before Income and Tax) dengan Total Aktiva. Rasio ini
menunjukkan kemampuan menghasilkan laba dari aktiva perusahaan, sebelum
pengaruh pajak serta bunga. Rasio ini sangat berguna untuk membandingkan
perusahaan dengan situasi pajak yang berbeda dan tingkat bunga yang berbeda.

EBIT
Basic Earning Power
=
Total Aktiva

Rasio Pengembalian Atas Total Aktiva atau ROA (Return on Assets Ratio). ROA
sering disamakan dengan ROI (Return on Investment).
Rasio ini dihitung dengan membagi Laba Bersih dengan Total Aktiva. Rasio
ini menunjukkan seberapa banyak laba bersih yang bisa diperoleh dari seluruh
kekayaan yang dimiliki perusahaan.
Laba Bersih
ROI =
Total Aktiva

Rasio Pengembalian Atas Ekuitas atau ROE (Return on Equity Ratio).

Rasio ini dihitung dengan membagi Laba Bersih dengan Ekuitas. Rasio ini
memperlihatkan sejauh manakah perusahaan mengelola modal sendiri secara
efektif, mengukur tingkat keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemilik
modal sendiri atau pemegang saham perusahaan.
Laba Bersih
ROE =
Ekuitas

E. Rasio Penilaian Pasar (Valuation Ratio).


Sekumpulan rasio yang menghubungkan harga saham perusahaan dengan laba dan
nilai buku per saham.
Rasio penilaian yang umum digunakan:

Rasio Harga terhadap Laba atau PER (Price to Earnings Ratio).


Rasio harga per saham terhadap laba per saham.
Harga Saham
Rasio Harga terhadap Laba =
Laba per Saham

Rasio Harga Pasar terhadap Nilai Buku (Market to Book Ratio).


Rasio harga pasar saham terhadap nilai bukunya.
Harga Pasar
Rasio Harga Pasar terhadap Nilai Buku =
Nilai Buku per Saham

Untuk mengatasi kekurangan dari analisis rasio maka perlu dikombinasikan


berbagai rasio agar menjadi suatu model prediksi yang berarti. Analisa Z-skor
merupakan suatu model untuk memprediksi kegagalan bisnis perusahaan yang
diperoleh dari kombinasi rasio-rasio keuangan yang paling berkontribusi terhadap
model prediksi (STIE Supra
2003, p90).

2.2 Deskripsi Perusahaan

2.2.1 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk


PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (IDX:INTP ) adalah salah satu produsen semen
di Indonesia. Indocement merupakan produsen terbesar kedua di Indonesia. Selain
memproduksi semen, Indocement juga memproduksi beton siap-pakai, serta mengelola
tambang agregat dan tras. Indocement berdiri sejak 16 Januari 1985. Perusahaan ini
merupakan hasil penggabungan enam perusahaan semen yang memiliki delapan pabrik
Pabrik pertama Indocement sudah beroperasi sejak 4 Agustus 1975.
Per 31 Desember 2013, Indocement memiliki kapasitas produksi terpasang sebesar
18,6 juta ton semen per tahun.Selain itu, Indocement juga memiliki kapasitas produksi beton
siap-pakai sebesar 4,4 Juta meter kubik per tahun dengan 40 batching plant dan 648 truk
mixer, serta 2,5 juta ton cadangan agregat. Indocement memiliki 12 buah pabrik, sembilan
diantaranya berada di Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dua berada di Cirebon, Jawa
Barat dan satu di Tarjun, Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Produk utama Indocement adalah semen tipe Ordinary Portland Cement disingkat
OPC dan Pozzolan Portland Cement disingkat PPC yang kemudian digantikan oleh Portland
Composite Cement disingkat PCC sejak 2005. Indocement juga memproduksi semen jenis
lain misalnya Portland Cement Type II dan Type V serta Oil Well Cement. Indocement juga
merupakan satu-satunya produsen semen jenis Semen Putih (White Cement) di Indonesia.
Indocement pertama kali mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada 5 Desember
1989. Sejak tahun 2001, HeidelbergCement Group, yang berbasis di Jerman dan merupakan
produsen utama di dunia dengan pabrik di lebih dari 50 negara mengambilalih kepemilikan
mayoritas saham di Indocement. Semen yang dipasarkan adalah semen dengan merek "Tiga
Roda".
2.2.2 PT Holcim Indonesia Tbk
PT Holcim Indonesia Tbk adalah sebuah perusahaan produsen semen. Perusahaan
yang dulunya dikenal dengan nama PT Semen Cibinong Tbk ini didirikan sejak tanggal 1971.
Perubahan nama ini terjadi pada tanggal 1 Januari 2006. Perusahaan ini dimiliki oleh Holcim
Ltd (Swiss) sebesar 77,33% dan publik sebesar 22,7%. Perusahaan juga memiliki anak
perusahaan PT Holcim Beton yang sebelumnya bernama PT Trumix Beton.
Perusahaan memiliki dua pabrik yaitu pabrik Narogong dan pabrik Cilacap dengan kapasitas
maksimum 7,9 juta ton per tahun dan kini sedang membangun fasilitas produksi ke-3 di i
Tuban, Jawa Timur, yang berkapasitas tahunan 3,4 juta ton yang direncanakan mulai berjalan
pada tahun 2013. Perusahaan juga mengoperasikan

banyak batching plant beton, dua

tambang dan jaringan logistik lengkap yang mencakup pula gudang dan silo. Produknya
dijual di 9.000 toko bangunan di seluruh Indonesia.
Perusahaan yang berkantor pusat di l. Gatot Subroto No. 38, Jakarta, Indonesia ini
merupakan satu-satunya produsen yang menyediakan produk dan layanan terintegrasi yang

meliputi 10 jenis semen, beton dan agregat, bahkan kini sedang mengembangkan usaha
waralaba yang unik, yakni Solusi Rumah, yang menawarkan solusi perbaikan dan
pembangunan rumah dengan biaya terjangkau dengan dukungan lebih dari 14.700 ahli
bangunan binaan Holcim, waralaba yang hingga 2012 telah mencapai 433 gerai, dan staf
penjualan via telepon yang jumlahnya terus bertambah.
Perusahaan yang memiliki visi untuk menyediakan solusi berkelanjutan untuk
membangun masa depan masyarakat Indonesia ini memiliki misi untuk membangun
perusahaan yang memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan dengan
menyediakan solusi pembangunan sesuai prinsip berkelanjutan bagi setiap segmen pelanggan
tertentu, memperhatikan keselamatan kerja dan kelestarian lingkungan, dan membina
kemampuan sumber daya manusia, berinovasi dan membangun jaringan yang kuat.

2.2.3 PT Semen Gresik (Persero) Tbk


PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (dahulu PT Semen Gresik (Persero) Tbk) adalah
produsen semen yang terbesar di Indonesia. Pada tanggal 20 Desember 2012, PT Semen
Indonesia (Persero) Tbk resmi berganti nama dari sebelumnya bernama PT Semen Gresik
(Persero) Tbk[1]. Diresmikan di Gresik pada tanggal 7 Agustus 1957 oleh Presiden RI
pertama dengan kapasitas terpasang 250.000 ton semen per tahun. Pada tanggal 8 Juli 1991
Semen Gresik tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya sehingga
menjadikannya BUMN pertama yang go public dengan menjual 40 juta lembar saham kepada
masyarakat.
Pada tanggal 20 Desember 2012, melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
(RUPSLB) Perseroan, resmi mengganti nama dari PT Semen Gresik (Persero) Tbk, menjadi
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Penggantian nama tersebut, sekaligus merupakan
langkah awal dari upaya merealisasikan terbentuknya Strategic Holding Group yang
ditargetkan dan diyakini mampu mensinergikan seluruh kegiatan operasional. Saat ini
kapasitas terpasang Semen Indonesia sebesar 29 juta ton semen per tahun, dan menguasai
sekitar 42% pangsa pasar semen domestik. Semen Indonesia memiliki anak perusahaan PT
Semen Gresik, PT Semen Padang, PT Semen Tonasa dan Thang Long Cement.

2.3 Tabel Rasio Laporan Keuangan


1. Liquidity Ratio

ANALISIS

Current Ratio
LIQUIDITY
RATIO
Acid Test
Ratio

TAHUN

PT HOLCIM
INDONESIA
Tbk

INDOCEMENT
TUNGGAL
PRAKARSA Tbk

PT SEMEN
GRESIK
(PERSERO)
Tbk

RATA-RATA
INDUSTRI

2010

1,662

5,554

2,918

3,378

2011

1,466

6,985

2,647

3,699

2012

1,405

6,035

1,696

3,045

2010

1,293

4,589

2,273

2,718

2011

1,127

6,086

1,952

3,055

2012

0,963

5,427

1,226

2,539

TAHUN

PT HOLCIM
INDONESIA
Tbk

INDOCEMENT
TUNGGAL
PRAKARSA Tbk

PT SEMEN
GRESIK
(PERSERO)
Tbk

RATA-RATA
INDUSTRI

2010

4,499

4,307

4,639

4,482

2011

8,191

5,629

4,431

6,084

2012

8,244

6,135

4,508

6,296

2010

10,557

8,628

8,356

9,180

2011

11,787

7,277

8,958

9,340

2012

11,141

7,043

7,947

8,711

2010

34,575

42,304

43,680

40,186

2011

30,967

50,160

40,747

40,625

2012

32,761

51,821

45,928

43,503

2010

0,755

1,417

1,746

1,306

2. Activity Ratio

ANALISIS

Inventories
Turnover
Account
Receivable
Turnover
Average
Collection
Period

ACTIVITY
RATIO

Fixed Asset
Turnover

Asset
Turnover

2011

0,913

1,772

1,363

1,350

2012

0,940

2,115

1,068

1,374

2010

0,571

0,726

0,922

0,740

2011

0,687

0,765

0,833

0,762

2012

0,741

0,760

0,737

0,746

TAHUN

PT HOLCIM
INDONESIA
Tbk

INDOCEMENT
TUNGGAL
PRAKARSA Tbk

PT SEMEN
GRESIK
(PERSERO)
Tbk

RATA-RATA
INDUSTRI

2010
2011

0,346
0,313

1,512
0,133

0,220
0,257

0,693
0,234

3.Leverage Ratio

ANALISIS
LAVERAGE
RATIO

Debt Ratio

Debt to Equity
Ratio

Times Interest
Earned

2012

0,308

0,147

0,317

0,257

2010

0,529

1,775

0,282

0,862

2011

0,455

0,154

0,345

0,318

2012

0,446

0,172

0,463

0,360

2010

4,931

304,441

99,169

136,180

2011

18,624

237,020

149,213

134,952

2012

11,946

345,835

35,913

131,231

TAHUN

PT HOLCIM
INDONESIA
Tbk

INDOCEMENT
TUNGGAL
PRAKARSA Tbk

PT SEMEN
GRESIK
(PERSERO)
Tbk

RATA-RATA
INDUSTRI

2010

0,079

0,210

0,235

0,175

2011

0,097

0,198

0,201

0,166

2012

0,111

0,209

0,185

0,169

2010

0,121

0,247

0,301

0,223

2011

0,141

0,229

0,271

0,214

2012

0,160

0,245

0,271

0,226

2010

0,139

0,290

0,255

0,228

2011

0,141

0,259

0,242

0,214

2012

0,150

0,275

0,251

0,226

4. Profibility

5.

ANALISIS

ROA

ROE
PROFITABILITY
Net Profit
Margin

EPS

2010

108,000

876,050

613,000

532,350

2011

139,000

977,100

662,000

592,700

2012

176,000

1293,150

817,000

762,050

2.4 Interpretasi Ratio


2.4.1 Cross Section
1. Likuiditas Perusahaan ( Liquidity)
A. Rasio Lancar

8.000
6.000

HOLCIM
INDOCEMENT

4.000

GRESIK
RATA-RATA
INDUSTRI

2.000
0.000
2010

2011

2012

Rasio lancar menunjukkan likuiditas perusahaan yang diukur dengan membandingkan


aktiva lancar terhadap hutang lancar (hutang lancar atau hutang jangka pendek). Berdasarkan
grafik diatas, rata-rata industri rasio lancar dari ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim
Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk. yaitu:
pada tahun 2010 sebesar 3.3778, pada tahun 2011 sebesar 3.6992, pada tahun 2012 sebesar
3.0453. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya
mengalami fluktuasi. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada
tahun 2011, dan terendah pada tahun 2012.
Dilihat dari diagram tersebut, yang memiliki kemampuan terbesar dalam melunasi
hutangnya dengan aktiva lancarnya adalah PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Dapat
dibuktikan dengan angka rasio lancarnya yaitu: pada tahun 2010 sebesar 5,554 ; pada tahun
2011 sebesar 6,985 ; pada tahun 2012 sebesar 6,035. Nilai rasio lancar ini juga melebihi dari
rata-rata industri.
B. Rasio Cepat
7.000
6.000
5.000

HOLCIM

4.000

INDOCEMENT

3.000

GRESIK

2.000

RATA-RATA
INDUSTRI

1.000
0.000
2010

2011

2012

Rasio cepat menunjukan liquiditas perusahaan, seperti yang diukur dengan


membandingkan aktiva lancar, kecuali persediaan, terhadap kewajiban lancarnya.
Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri rasio cepat dari ketiga perusahaan tersebut (PT.
Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.)
yaitu: pada tahun 2010 sebesar 2,7184, pada tahun 2011 sebesar 3,0550, pada tahun 2012
sebesar 2,5386. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya

mengalami fluktuasi. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada
tahun 2011, dan terendah pada tahun 2012.
Dilihat dari diagram tersebut, yang memiliki kemampuan terbesar dalam melunasi
hutangnya dengan aktiva lancarnya tanpa menggunakan persediaan adalah PT Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk. Dapat dibuktikan dengan angka rasio cepatnya yaitu: pada tahun 2010
sebesar 4,307 ; pada tahun 2011 sebesar 5,629 ; pada tahun 2012 sebesar 6,135. Nilai rasio
cepat ini juga melebihi dari rata-rata industri.

2. Rasio Aktifitas ( Activity Ratio)


A. Perputaran Persediaan
9.000
8.000
7.000
6.000
5.000
4.000
3.000
2.000
1.000
0.000
2010

HOLCIM
INDOCEMENT
SEMEN GRESIK
RATA-RATA
INDUSTRI
2011

2012

Perputaran Persediaan adalah adalah ukuran seberapa sering persediaan barang


dagang terjual dalam waktu satu periode. Periode dapat dalam masa tahunan ataupun
bulanan. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri perputaran persediaan dari ketiga
perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT.
Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 4,4816, pada tahun 2011
sebesar 6,0835, pada tahun 2012 sebesar 6,2956. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa
rata-rata industri setiap tahunnya mengalami peningkatan. Rata-rata industri tertinggi dari
ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2012, dan terendah pada tahun 2010.

B. Perputaran Piutang Usaha

14.000
12.000
HOLCIM

10.000
8.000

INDOCEMENT

6.000

SEMEN GRESIK

4.000

RATA-RATA
INDUSTRI

2.000
0.000
2010

2011

2012

Perputaran Piutang Usaha adalah Usaha untuk mengukur seberapa sering piutang
usaha berubah menjadi kas dalam setahun. Piutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan
mempunyai hubungan yang erat dengan volume penjualan kredit, karena timbulnya piutang
disebabkan oleh penjualan barang-barang secara kredit dan hasil dari penjualan secara kredit
netto dibagi dengan piutang rata-rata merupakan perputaran piutang. Perputaran Persediaan
adalah adalah ukuran seberapa sering persediaan barang dagang terjual dalam waktu satu
periode. Periode dapat dalam masa tahunan ataupun bulanan. Berdasarkan grafik diatas, ratarata industri perputaran piutang usaha dari ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia
Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun
2010 sebesar 9,1803, pada tahun 2011 sebesar 9,3403, pada tahun 2012 sebesar 8,7106. Dari
data diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya mengalami fluktuasi.
Rata-rata industri tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2011, dan terendah
pada tahun 2012.

C. Periode Penagihan Rata-rata


60.000
50.000
HOLCIM

40.000

INDOCEMENT

30.000

SEMEN GRESIK

20.000

RATA-RATA
INDUSTRI

10.000
0.000
2010

2011

2012

Periode penagihan rata-rata yaitu rata-rata periode tagihan menandakan seberapa


cepat perusahaan mampu menagih kredit, yang diukur oleh rata-rata jumlah hari penagihan
piutang dagang yaitu 365 hari. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri periode penagihan
rata-rata dari ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement
Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 40,1863,
pada tahun 2011 sebesar 40,6247, pada tahun 2012 sebesar 43,5033. Dari data diatas, dapat
disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya mengalami peningkatan. Rata-rata
industri tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2012, dan terendah pada
tahun 2010.

D. Perputaran Aktiva Tetap


2.500
2.000
HOLCIM

1.500

INDOCEMENT
SEMEN GRESIK

1.000

RATA-RATA
INDUSTRI

0.500
0.000
2010

2011

2012

Rasio Perputaran Aktiva Tetap menunjukkan kemampuan aktiva tetap untuk


menghasilkan penjualan, menunjukkan aktiva yang ditunjukkan oleh jumlah hasil penjualan
per Rp1 aktiva tetap. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri perputaran aktiva tetap dari
ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa.,
PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 1,3058, pada tahun 2011
sebesar 1,3495, pada tahun 2012 sebesar 1,3742. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa
rata-rata industri setiap tahunnya mengalami peningkatan. Rata-rata industri tertinggi dari
ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2012, dan terendah pada tahun 2010.

E. Perputaran Total Aktiva

1.000
0.800

HOLCIM

0.600

INDOCEMENT

0.400

GRESIK

0.200

RATA-RATA
INDUSTRI

0.000
2010

2011

2012

Perputaran Total Aktiva Tetap merupakan komponen dari tingkat pengembalian


pendapatan terhadap operasi investasi. Total Perputaran Aktiva diukur dengan penjualan
rupiah per satu rupiah dari aktiva. Rasio ini menunjukkan seberapa efisien perusahaan
menggunakan aktivanya untuk menghasilkan penjualan. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata
industri perputaran aktiva dari ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT.
Indocement Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010
sebesar 0,7396, pada tahun 2011 sebesar 0,7617, pada tahun 2012 sebesar 0,7459. Dari data
diatas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Ratarata industri tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2011, dan terendah pada
tahun 2010.
3. Keputusan Pendanaan (Leverage)
A. Rasio Hutang
1.600
1.400
1.200

HOLCIM

1.000

INDOCEMENT

0.800

SEMEN GRESIK

0.600

RATA-RATA
INDUSTRI

0.400
0.200
0.000
2010

2011

2012

Rasio hutang menunjukkan berapa banyak hutang yang digunakan untuk membiayai
aset-aset perusahaan. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri rasio hutang dari ketiga

perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT.
Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 0,6927, pada tahun 2011
sebesar 0,2342, pada tahun 2012 sebesar 0,2571. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa
rata-rata industri setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga
perusahaan tersebut ada pada tahun 2010, dan terendah pada tahun 2011.

B. Rasio Hutang terhadap Modal


2.000
1.500

HOLCIM
INDOCEMENT

1.000

SEMEN GRESIK
RATA-RATA
INDUSTRI

0.500
0.000
2010

2011

2012

Tingkat pengembalian atas ekuitas menunjukkan rata-rata perhitungan pengembalian


atas investasi pemegang saham yang diukur dengan membandingkan pendapatan bersih
terhadap ekuitas saham biasa. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri rasio hutang
terhadap modal dari ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement
Tunggal Prakasa., PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 0,8619,
pada tahun 2011 sebesar 0,3179, pada tahun 2012 sebesar 0,3601. Dari data diatas, dapat
disimpulkan bahwa rata-rata industri setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Rata-rata industri
tertinggi dari ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2010, dan terendah pada tahun 2011.
C. Rasio Laba Terhadap Beban Bunga
400.000
350.000
300.000

HOLCIM

250.000

INDOCEMENT

200.000

SEMEN GRESIK

150.000

RATA-RATA
INDUSTRI

100.000
50.000
0.000
2010

2011

2012

Rasio laba terhadap beban bunga menunjukkan kemampuan perusahaan untuk


menutupi biaya bunga yang diukur dengan membandingkan pendapatan usaha terhadap biaya
bunga. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri rasio laba terhadap beban bunga dari
ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa.,
PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 136,18, pada tahun 2011
sebesar 134,95, pada tahun 2012 sebesar 131,23. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa
rata-rata industri setiap tahunnya mengalami penurunan. Rata-rata industri tertinggi dari
ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2010, dan terendah pada tahun 2012.
4. Pengembalian Atas Ekuitas ( Profibility )
A. Return On Asset
0.250
0.200
HOLCIM

0.150

INDOCEMENT
SEMEN GRESIK

0.100

RATA-RATA
INDUSTRI

0.050
0.000
2010

2011

2012

ROA merupakan suatu pendekatan untuk mengevaluasi profitabilitas dan tingkat


pengembalian atas aktiva. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri Return On Assets dari
ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa.,
PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 0,1748, pada tahun 2011
sebesar 0,1656, pada tahun 2012 sebesar 0,1685. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa
rata-rata industri setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga
perusahaan tersebut ada pada tahun 2010, dan terendah pada tahun 2011.

B. Return On Equity
0.350
0.300
0.250

HOLCIM

0.200

INDOCEMENT

0.150

SEMEN GRESIK

0.100

RATA-RATA
INDUSTRI

0.050
0.000
2010

2011

2012

ROE merupakan suatu pendekatan untuk mengevaluasi profitabilitas dan tingkat


pengembalian ekuitas. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri Return On Equity dari
ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa.,
PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 0,2230, pada tahun 2011
sebesar 0,2137, pada tahun 2012 sebesar 0,2256. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa
rata-rata industri setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga
perusahaan tersebut ada pada tahun 2012, dan terendah pada tahun 2011.

C. Margin Laba Bersih


0.350
0.300
0.250

HOLCIM

0.200

INDOCEMENT

0.150

SEMEN GRESIK

0.100

RATA-RATA
INDUSTRI

0.050
0.000
2010

2011

2012

Margin laba bersih mengukur perolehan laba bersih atas investasi pada setiap Rp. 1
penjualan. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri Net Profit Margin dari ketiga
perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa., PT.

Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 0,2278, pada tahun 2011
sebesar 0,2141, pada tahun 2012 sebesar 0,2255. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa
rata-rata industri setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Rata-rata industri tertinggi dari ketiga
perusahaan tersebut ada pada tahun 2010, dan terendah pada tahun 2011.
D. Pendapatan Per Saham
1400
1200
1000

HOLCIM

800

INDOCEMENT

600

GRESIK

400

RATA-RATA
INDUSTRI

200
0
2010

2011

2012

Pendapatan per saham menggambarkan jumlah Rp yang diperoleh untuk setiap


lembar saham biasa. Berdasarkan grafik diatas, rata-rata industri Pendapatan per Saham dari
ketiga perusahaan tersebut (PT. Holcim Indonesia Tbk., PT. Indocement Tunggal Prakasa.,
PT. Semen Gresik (Persero) Tbk.) yaitu: pada tahun 2010 sebesar 532,35, pada tahun 2011
sebesar 592,7, pada tahun 2012 sebesar 762,05. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa
rata-rata industri setiap tahunnya mengalami meningkat. Rata-rata industri tertinggi dari
ketiga perusahaan tersebut ada pada tahun 2012, dan terendah pada tahun 2010.

2.4.2 Time Series


1. Likuiditas
a. Rasio Lancar

Current ratio PT Holcim Indonesia Tbk


1.700
1.600
1.500
1.400
1.300
1.200
2010

2011

2012

Rasio lancar menunjukkan likuiditas perusahaan yang diukur dengan membandingkan


aktiva lancar terhadap hutang lancar (hutang lancar atau hutang jangka pendek). Berdasarkan
grafik di atas, dapat dilihat rasio lancar PT. Holcim Indonesia dari tahun 2010 hingga 2012
per 31 Desember mengalami penurunan tiap tahunnya. Bisa dilihat di tahun 2010 aktiva
lancarnya bernilai Rp 7,3 triliun sedangkan kewajiban lancarnya bernilai Rp 2 triliun dapat
dihitung bahwa likuiditas perusahaan mencapai 3 kali.
Pada tahun 2011 terjadi penurunan pada nilai rasio lancar. Rasio lancarnya menurun
sebesar 0,24 dari 3 kali menjadi 2,76 kali. penurunanini disebabkan peningkatan yang
signifikan dari jumlah aktiva lancar yang bernilai Rp 7 triliun menjadi Rp. 5,3 triliun. Dan
sedikit peningkatan nilai dari kewajiban lancar yang berjumlah 1,8 triliun menjadi 1,9 triliun.
Pada tahun 2012 perusahaan PT. Mayora Indah mengalami penurunan rasio lancar.
Rasio lancar menurun sebesar 0,32 dari 2,76 kali menjadi 2,44 kali. penurunan rasio ini
disebabkan karena meningkatnya jumlah kewajiban lancar yang signifikan dan diikuti dengan
sedikit kenaikan aktiva lancarnya. Aktiva lancar meningkat dari Rp 5,3 triliun menjadi Rp 6,4
triliun dan kewajiban lancar meningkat signifikan dari Rp 1,9 triliun menjadi Rp. 2,6 triliun.
Dengan penurunan rasio lancar ini tentu saja perusahaan PT Holcim Indonesia ini

mempunyai kemampuan yang lebih kecil untuk memenuhi kewajiban jatuh tempo atau
kurang liquid dari tahun sebelumnya.

b. Rasio Cepat

Acid Test ratio PT Holcim Indonesia Tbk


1.500
1.000
0.500
0.000
2010

2011

2012

Rasio cepat menunjukan liquiditas perusahaan, seperti yang diukur dengan


membandingkan aktiva lancar, kecuali persediaan, terhadap kewajiban lancarnya.
Berdasarkan grafik di atas, rasio lancar PT Holcim Indonesia dari tahun 2010 hingga 2012
per 31 Desember mengalami kenaikan dan penurunan tiap tahunnya. Bisa dilihat di tahun
2011 aktiva lancarnya bernilai Rp 4 triliun dan persediaan bernilai Rp 1,3 triliun sedangkan
kewajiban lancarnya bernilai Rp.1,8 triliun. Dapat disimpulkan bahwa nilai rasio cepat
sebesar 1,49 kali.
Pada tahun 2011 terjadi peningkatan signifikan pada nilai rasio cepat. Rasio cepat
meningkat sebesar 0,49 dari 1,49 kali menjadi 1,98 kali. Peningkatan ini disebabkan
peningkatan yang cukup signifikan dari jumlah aktiva lancar yang bernilai Rp 4 triliun
menjadi 5,3 triliun. Peningkatan rasio cepat ini juga diiringi dengan sedikit kenaikan
kewajiban lancar sebesar Rp 1,8 triliun menjadi 1,9 triliun.
Pada tahun 2012 terjadi penurunan rasio cepat. Penurunan rasio cepat sebesar 0,09
dari 1,98 kali menjadi 1,89 kali. Penurunan rasio ini disebabkan meningkatnya jumlah
kewajiban lancer dan aktiva lancar yang sangat signifikan, dan diikuti sedikit kenaikan
persediaan. Aktiva lancar meningkat dari Rp 5,3 triliun menjadi Rp 6,4 triliun. Kewajiban
lancar dari Rp 1,9 triliun menjadi Rp 2,6 triliun dan persediaan tetap 1,4 triliun. Dengan

penurunan rasio cepat berarti PT Holcim Indonesia ini mempunyai kemampuan yang lebih
kecil (lama) untuk memenuhi kewajiban atau kurang liquid dari tahun sebelumnya.

2. Rasio Aktifitas
a. Perputaran Persediaan

nventory Turn Over PT Holcim Indonesia Tbk


10.000
8.000
6.000
4.000
2.000
0.000
2010

2011

2012

Perputaran Persediaan adalah adalah ukuran seberapa sering persediaan barang


dagang terjual dalam waktu satu periode. Periode dapat dalam masa tahunan ataupun
bulanan. Pada tahun 2010, perputaran persediaan mancapai titik 5,83 kali/tahun. Hal ini
menunjukkan bahwa dalam setahun PT. Holcim Indonesia melakukan pengisian ulang
persediaan sebanyak 5,83 kali/tahun.
Pada tahun 2011, perputaran persediaan PT Holcim Indonesia mengalami penurunan.
Dari titik 5,83 kali/tahun menjadi 5,45 kali/tahun. Hal ini disebabkan karena penurunan harga
pokok produksi dan persediaan dari tahun sebelumnya. Angka 5,45 kali/tahun menunjukkan
bahwa dalam setahun PT. Holcim Indonesia melakukan pengisian ulang persediaan setiap 67
hari. Atau dengan kata lain persediaan yang dimiliki PT. Mayora Indah,Tbk dapat bertahan
selama 67 hari. Dan harus dilakukan pengisian ulang persediaan setelahnya.
Pada tahun 2012, perputaran persediaan PT. Holcim Indonesia mengalami
peningkatan dari titik 5,45 kali/tahun menjadi 6,25 kali/tahun. Hal ini disebabkan karena
peningkatan jumlah harga pokok produksi dan factor-faktor lain yang mendukung. Angka
6,25 kali/tahun menunjukkan bahwa PT. Holcim Indonesia. dapat bertahan selama 58 hari
untuk pengisian ulang persediaan.

b. Perputaran Piutang Usaha

AR Turn Over PT Holcim Indonesia Tbk


12.000
11.500
11.000
10.500
10.000
9.500
2010

2011

2012

Perputaran Piutang Usaha adalah Usaha untuk mengukur seberapa sering piutang
usaha berubah menjadi kas dalam setahun. Piutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan
mempunyai hubungan yang erat dengan volume penjualan kredit, karena timbulnya piutang
disebabkan oleh penjualan barang-barang secara kredit dan hasil dari penjualan secara kredit
netto dibagi dengan piutang rata-rata merupakan perputaran piutang.
Pada tahun 2010, Perputaran Piutang usaha PT Holcim Indonesia adalah 7,30 kali/
tahun. Hal ini berarti bahwa dalam setahun PT Holcim Indonesia mampu merubah piutang
menjadi kas sebanyak 7,30 kali/tahun atau setiap 50 hari.
Pada tahun 2011, perputaran piutang usaha PT Holcim Indonesia menurun dari 7,30
kali/tahun menjadi 5,12 kali/tahun. Penurunan ini disebabkan menurunnya jumlah penjualan
kredit, hal ini menandakan bahwa penurunan perputaran piutang pada tahun ini menandakan
bahwa PT Holcim Indonesia memiliki kemampuan merubah piutang menjadi kas tidak lebih
baik dibandingkan pada tahun sebelumnya yaitu setiap 71 hari.
Pada tahun 2012, perputaran piutang usaha PT Holcim Indonesia meningkat dari 5,12
kali/tahun menjadi 5,86 kali/tahun. Penurunan ini disebabkan meningkatnya penjualan kredit,
hal ini menyebabkan kemampuan PT Holcim Indonesia dalam merubah piutang usaha
menjadi kas menurun atau setiap 62 hari.

c. Average Collection Period

ge Collection Period PT Holcim Indonesia Tbk


36.000
34.000
32.000
30.000
28.000
2010

HOLCIM

2011

2012

Periode penagihan rata-rata yaitu rata-rata periode tagihan menandakan seberapa


cepat perusahaan mampu menagih kredit, yang diukur oleh rata-rata jumlah hari penagihan
piutang dagang yaitu 365 hari. Pada tahun 2010 periode penagihan rata-ratanya bernilai 50
hari.
Pada tahun 2011 periode penagihan rata-ratanya meningkat menjadi 71,24 hari.
Meningkatnya periode penagihan rata-rata ini disebabkan karena jumlah piutang nya
menurun. Hal ini menunjukan bahwa di tahun PT Holcim Indonesia mempunyai waktu yang
lebih banyak dari tahun sebelumnya untuk mampu menagih piutangnya.
Pada tahun 2012 menurut perhitungan periode penagihan rata-rata, kini jumlah
periode untuk menagih piutangnya lebih pendek dibanding tahun sebelumnya. Bisa dilihat
bahwa di tahun ini, periode penagihan rata-ratanya sebesar 62,25 hari . Ini PT Holcim
Indonesia,Tbk memiliki piutang lebih kecil dari tahun sebelumnya.

d.Perputaran Aktiva Tetap

ixed Asset Turn Over PT Holcim Indonesia Tbk


1.000
0.800
0.600
0.400
0.200
0.000
2010

2011

2012

Rasio Perputaran Aktiva Tetap menunjukkan kemampuan aktiva tetap untuk


menghasilkan penjualan, menunjukkan aktiva yang ditunjukkan oleh jumlah hasil penjualan
per Rp1 aktiva tetap.
Pada tahun 2010, PT Holcim Indonesia memiliki total penjualan sebesar
Rp 9,453
triliun dengan jumlah aktiva tetap sebesar Rp 2,504 triliun. Sehingga rasio perputaran aktiva
tetap pada tahun 2011 adalah 3,77 kali/tahun. Hal ini menunjukkan bahwa setiap Rp 1 aktiva
tetap dapat menghasilkan penjualan sebanyak Rp 3,77 atau dengan kata lain penjualan yang
terjadi sebesar 3,77 kali total aktiva tetap.
Pada tahun 2011, rasio perputaran aktiva tetap mengalami penurunan dari 3,77
kali/tahun menjadi 3,52 kali/tahun. Penurunan perputaran aktiva tetap disebabkan adannya
penurunan jumlah penjualan kredit. Pada tahun 2013, peningkatan perputaran aktiva tetap
dari 3,52 kali/tahun menjadi 3,66 kali/tahun. Sehingga setiap Rp1 aktiva tetap dapat
menghasilkan penjualan sebanyak Rp 3,66 atau dengan kata lain penjualan yang terjadi pada
tahun 2013 adalah sebanyak 3,66 kali dari total aktiva tetap. Penurunan perputaran aktiva
tetap disebabkan karena meningkatnya jumlah penjualan kredit.
e. Perputaran Total Aktiva

Asset Turn Over PT Holcim Indonesia Tbk


0.800
0.600
0.400
0.200
0.000
2010

2011

2012

Perputaran Total Aktiva Tetap merupakan komponen dari tingkat pengembalian


pendapatan terhadap operasi investasi. Total Perputaran Aktiva diukur dengan penjualan
rupiah per satu rupiah dari aktiva. Rasio ini menunjukkan seberapa efisien perusahaan
menggunakan aktivanya untuk menghasilkan penjualan.
Pada tahun 2010, perputaran total PT Holcim Indonesia adalah sebesar 1,43 kali.
Dapat disimpulkan efisiensi perusahaan menggunakan aktiva mencapai 1,43 kali Hal ini
menunjukkan bahwa dari setiap satu rupiah aktiva yang dimiliki PT. Mayora Indah,Tbk,
dapat dihasilkan 1,43 rupiah penjualan.
Pada tahun 2011, perputaran total aktiva PT Holcim Indonesia dari menurun dari 1,43
kali menjadi 1,27 kali. Hal ini menunjukkan bahwa dari setiap satu rupiah aktiva yang
dimiliki PT Holcim Indonesia, dapat dihasilkan 1,27 rupiah penjualan. Secara keseluruhan
peningkatan jumlah aktiva yang dibarengi dengan peningkatan total penjualan telah pula
meningkatkan perputaran total PT Holcim Indonesia pada tahun 2012. Hal ini menunjukkan
bahwa PT. Mayora Indah,Tbk telah lebih efisien mengelola aktivanya untuk meningkatkan
penjualan.
Pada tahun 2012, perputaran total aktiva PT Holcim Indonesia menurun dari 1,27 kali
menjadi 1,24 kali. Hal ini menunjukkan bahwa dari setiap satu rupiah aktiva yang dimiliki PT
Holcim Indonesia, dapat dihasilkan 1,24 rupiah penjualan. Dengan penurunan perputaran
total aktiva PT Holcim Indonesia pada tahun 2013 menunjukkan bahwa kurang baik dalam
mengelola aktivanya sehingga tidak efisien untuk bisa sebanding meningkatkan penjualan.
3. Keputusan Pendanaan
a. Rasio Hutang

Debt Equity PT Holcim Indonesia Tbk


0.360
0.340
0.320
0.300
0.280
2010

2011

2012

Rasio hutang menunjukkan berapa banyak hutang yang digunakan untuk membiayai
aset-asetperusahaan. Berdasarkan Annual PT Holcim Indonesia periode 2010 - 2012 per 31
Desember. Pada tahun 2010, terlihat bahwa sebanyak Rp 4,1 triliun hutang perusahaan
digunakan untuk membiayai total aktiva sebesar Rp 6,5 triliun, atau dapat disimpulkan
bahwa, PT Holcim Indonesia membiayai 63% aset perusahaan denganhutang, sedangkan
37% aset dibiayai dari ekuitas pemegang saham.
Pada tahun 2011, terjadi penaikanbaik pada total hutang maupun total aktiva, total
hutang dari Rp 4,1 triliun menjadi Rp 5,2 triliun dan total aktiva dari Rp 6,5triliun menjadi
Rp 8,3 triliun. Menjadikanpendanaan aktiva PT Holcim Indonesia, mengalami kesamaan
tingkat rasio berkisar 63% PT. Mayora Indah Tbk membiayai 63% aset perusahaan
denganhutang, sedangkan 37% aset dibiayai dari ekuitas pemegang saham.
Pada tahun 2012, peningkatan baik pada total hutang maupun total aset, namun mengalami
penurunan rasio PT Holcim Indonesia,Tbk dari 63% menjadi 59%, dimana sebanyak Rp 5,7
triliun total hutang dari total aset sebanyak Rp 9,7triliun. PT Holcim Indonesia membiayai
59% aset perusahaan denganhutang sedangkan 61% aset dibiayai dari ekuitas pemegang
saham
b. Rasio Hutang terhadap Modal

Debt to Equity Ratio PT Holcim Indonesia Tbk


0.550
0.500
0.450
0.400
2010

2011

2012

Rasio utang terhadap modal menunjukan perbandingan antara hutang yang digunakan
untuk membiayai aset perusahaan dengan total modal sendirinya. Pada tahun 2011, terlihat
bahwa sebanyak Rp 4,1 triliuntotal hutang perusahaan dan total ekuitassebesar Rp 2,4 triliun,
sehingga mendapatkan jumlah ratio sebesar 172 % atau dapat disimpulkan bahwa PT Holcim
Indonesia, menggunakan hutang sebesar 172 % dari modal sendiri yang dimiliki perusahaan .
Pada tahun 2011, terjadi penaikanbaik pada total hutang maupun total ekuitas, total
hutang dari Rp 4,1 triliun menjadi Rp 5,2 triliun dan total ekuitas dari Rp 2,4triliun menjadi
Rp 3,0 triliun. Menjadikan PT Holcim Indonesia , hampir mengalami kesamaan tingkat rasio
berkisar 172% menjadi 171%, artinya dimana PT Holcim Indonesia menggunakan hutang
sebesar 171 % dari modal sendiri yang dimiliki perusahaan .
Pada tahun 2012, peningkatan kembali terjadi baik pada total hutang maupun total
ekuitas, namun kembali mengalami penurunan rasio PT Holcim Indonesia dari 171% menjadi
147%, dimana sebanyak Rp 5,7 triliun total hutang dari total aset sebanyak Rp3,9triliun. PT
Holcim Indonesia Tbkmenggunakan hutang sebesar 147 % dari modal sendiri yang dimiliki
perusahaan.
c. Rasio Laba terhadap Beban Bunga

me Interest Earned PT Holcim Indonesia Tbk


20.000
15.000
10.000
5.000
0.000
2010

2011

2012

Rasio laba terhadap beban bunga menunjukkan kemampuan perusahaan untuk


menutupibiaya bunga yang diukur dengan membandingkan pendapatan usaha terhadap biaya
bunga. Dimulai dari tahun 2010, PT Holcim Indonesia , mencatat EBIT sebesar Rp 757milyar
dengan total beban bunga sebesar Rp 123 milyar. Rasio laba terhadap beban bunga yang
didapat adalah6,12 kali. Rasio ini bisa diinterpretasikan sebagai berikut : perusahaan PT
Holcim Indonesia ,mempunyai EBIT yang besarnya 6,12 kali beban bunga.

Pada tahun 2011, terlihat perubahan negatif, walaupun baik laba operasi maupun
bebanbunga mencatat kenaikan dari Rp 757 milyar menjadi Rp 1,1 triliun pada EBIT dan dari
Rp 123 milyar menjadi Rp 223 milyar padabeban bunga yang mengakibatkan rasio laba
terhadap beban bunga menurun dari 6,12 kali menjadi 5,18 kali. Rasio tersebut dapat
diinterpretasikan bahwa PT Holcim Indonesia, pada tahun 2011 memiliki EBIT sebesar 5,18
kali beban bunga.
Pada tahun 2012, meskipunEBIT naik dari Rp 1,1 triliun menjadi Rp 1,3 triliundan
beban bunga juga naik dari Rp 223 milyar menjadi Rp 256 milyar. Walaupun mengalami
penaikan dari nominalnya, tingkatrasio laba terhadap beban bunga turun dari 5,18 kali
menjadi 5,08 kali. Sehingga banyaknya laba yang dimiliki PT Holcim Indonesia adalah 5,08
kali besar beban bunga pada tahun tersebut.
4. Pengembalian Atas Ekuitas
a. Pengembalian Atas Asset

ROA PT Holcim Indonesia Tbk


0.120
0.100
0.080
0.060
0.040
0.020
0.000
2010

2011

2012

Tingkat pengembalian atas asset menunjukkan indikator jumlah pendapatan yang dihasilkan oleh
perusahaan yang diukur dengan membandingkan laba bersih setelah pajak (Earning After Tax) yang
dihasilkan dengan total aktiva.
Pada tahun 2010 PT Holcim Indonesia mencatat laba bersih setelah pajak sebesar Rp. 483
miliar dengan total aktiva berjumlah Rp. 6,5 Triliun. Hal ini menghasilkan rasio pengembalian asset
sebesar 0,07
Pada tahun 2011 PT Holcim Indonesia mencatat laba bersih setelah pajak dari sebesar Rp. 744
miliar dengan total aktiva Rp. 8,3 Triliun. Terjadi peningkatan antara laba bersih setelah pajak dan
total aktiva. Peningkatan ini mempengaruhi rasio pengembalian yang meningkat menjadi 0,09
Pada tahun 2012 PT Holcim Indonesia mencatat laba bersih setelah pajak dari sebesar Rp. 1
Triliun dengan total aktiva sebesar Rp. 9,7 Triliun. Terjadi peningkatan antara laba bersih setelah

pajak dan total aktiva. Peningkatan ini mempengaruhi rasio pengembalian yang meningkat menjadi
0,11. Peningkatan rasio pengembalian atas asset ini menyebabkan semakin baik pula tingkat
pengembalian atas asset yang di gunakan

b. Pengembalian Atas Modal

ROE PT Holcim Indonesia Tbk


0.200
0.150
0.100
0.050
0.000
2010

2011

2012

Tingkat pengembalian atas ekuitas menunjukkan rata-rata perhitungan pengembalian atas


investasi pemegang saham yang diukur dengan membandingkan pendapatan bersih terhadap ekuitas
saham biasa.
Pada tahun 2010, PT Holcim Indonesia mencatat laba bersih sebesar Rp 483 milyar dengan
besar ekuitas saham biasa Rp 2,4 Triliun. Hal ini menghasilkan rasio pengembalian saham sebesar
19,94 % atau dapat dikatakan bahwa setiap Rp 1 modal sendiri menghasilkan laba bersih sebesar Rp
19,94 yang tersedia bagi pemegang saham.
Pada tahun 2011, tingkat pengembalian ekuitas mengalami kenaikan yang cukup signifikan
dari pengembalian ekuitas sebesar 19,94% menjadi 24,27%. Total ekuitas menunjukan perkembangan
dari Rp 2,4 Triliun menjadi Rp 3 Triliun dan diikuti laba bersih yang bertambah dari Rp 483 milyar

menjadi Rp 744 milyar. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa pada tahun 2010 setiap Rp 1 modal
sendiri menghasilkan laba bersih sebesar Rp 24,27 yang tersedia bagi pemegang saham.
Pada tahun 2012, kembali terjadi perubahan yang positif namun tidak cukup signifikan,
tingkat pengembalian ekuitas naik dari 24,27% menjadi 26,87%. Hal ini disebabkan karena kenaikan
laba bersih yang diperoleh dari Rp 744 milyar pada tahun 2012 menjadi Rp 1 Triliun dan peningkatan
total ekuitas pemegang saham biasa dari Rp 3 Triliun menjadi Rp 3,9 Triliun. Persentase ini
menandakan bahwa pada tahun 2013, setiap Rp 1 modal biasa menghasilkan pendapatan bersih
sebesar Rp 26,87% yang tersedia bagi pemegang saham.

c.Margin Laba Bersih

Net Profit Margin PT Holcim Indonesia Tbk


0.155
0.150
0.145
0.140
0.135
0.130
2010

2011

2012

Marjin Laba Operasi adalah variabel penting dalam memahami profitabilitas operasi perusahaan.
Margin laba bersih menunjukkan pendapatan yang diperoleh perusahaan dengan cara membandingan
laba bersih atas investasi pada setiap Rp.1 penjualan. Marjin Laba Operasi menunjukkan keefektifan
manajemen dalam mengelola laporan keuangan perusahaan yang diukur dengan membandingkan laba
usaha terhadap penjualan.
Pada tahun 2010 Margin laba operasi yang dihasilkan oleh PT Holcim Indonesia
menunjukkan nilai sebesar 0,05. Dengan laba operasi berjumlah 483 miliar dan penjualan sejumlah
9,4 Triliun.
Pada tahun 2011 terjadi peningkatan pada margin laba operasi yang dihasilkan oleh PT
Mayora Indah sebesar 0,02 dengan nilai 0,05 menjadi 0,07. Hal ini disebabkan karena terjadi

peningkatan laba bersih sejumlah 744 milyar dan penjualan sebesar 10,5 Triliun pada akhir tahun
pembukuan.
Pada tahun 2012 terjadi peningkatan lagi pada margin laba operasi yang dihasilkan oleh PT
Mayora Indah sebesar 0,02 dengan nilai margin sebesar 0,07 pada tahun 2012 menjadi 0,09 pada
tahun 2013. Hal ini dikarenakan terjadi peningkatan yang seimbang pada laba bersih menjadi 1 Triliun
dan peningkatan pada penjualan menjadi 12 Triliun. Dengan meningkatnya NPM maka penghasilan
perusahaan semakin besar dan efektifitas manajemen perusahaan semakin baik.

D. Pendapatan per Saham

Earning per Share PT Holcim Indonesia Tbk


200
150
100
50
0
2010

2011

2012

Earning per share adalah variable penting yang digunakan para investor untuk menghitung
berapa jumlah pendapatan yang akan diterima apabila memiliki per lembar saham pada suatu
perusahaan. Yang dihitung dengan cara membagi pendapatan yang tersedia bagi pemegang saham
dengan jumlah saham yang beredar
Pada tahun 2011 perusahan memilik laba per saham sebesar 614 kemudian meningkat tiap
tahunnya. Pada tahun 2012 laba per saham PT Holcim Indonesia Tbk sebsar 952 kemudian meningkat
lagi pada tahun 2013 sebesar 1165 per saham. Ini menunjukkan tiap tahun nilai laba per saham
semakin meningkat.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Untuk kinerja dan posisi keuangan berdasarkan perhitungan rasio selama tahun 2010,
2012 dan 2013 pada PT Holcim Indonesia Tbk, adalah sebagai berikut;

Pada Rasio Likuiditas, dilihat dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2012 secara umum kondisi
keuangan PT. Mayora Indah Tbk dalam keadaan baik, yang menandakan bahwa perusahaan dalam hal
ini mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

Pada Rasio Aktivitas, dilihat dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2012 secara umum dalam keadaan
baik, karena PT. Holcim Indonesia Tbk mampu memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara
efektif dan efisien.

Pada Rasio Manajemen utang, dilihat dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2012 dapat dikatakan
dalam keadaan baik, karena penggunaan utang untuk membiayai kegiatan operasional PT. Holcim
Indonesia Tbk serta dalam pelunasan kewajibannya dapat dilakukan dengan baik olehPT Holcim
Indonesia Tbk.

Pada Rasio Profitabilitas, dilihat dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2012 dapat dikatakan dalam
keadaan fluktuasi tetapi tidak menurunkan profit perusahaan secara signifikan.

3.2 Saran
Dilihat dari posisi perusahaan keuangan perusahaannya, PT Holcim Indonesia Tbk
masih bisa meningkatkan kinerjanya agar posisi perusahaan dapat berada dalam kondisi
aman. Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain dengan :

Melakukan Manajemen Aset dengan baik, seperti manajemen kas, persediaan dan
piutang dagang untuk mendapatkan hasil yang baik sekaligus dapat mengendalikan
resiko.

Melakukan pengeluaran untuk pertumbuhan mendatang seperti mengadakan survei dan


upaya penelitian untuk pengembangan produk yang dapat selalu disesuaikan dengan
selera konsumen.

Menjaga agar tidak ketinggalan dalam penambahan teknologi, seperti mesinmesin untuk
produksi.

Melakukan hubungan kerja sama yang baik dengan bank dengan melakukan manajemen
utang yang lebih baik.

LAMPIRAN
Perhitungan Rasio
1. PT. Indocement Tunggal Prakasa Tbk
Data yang digunakan dalam membuat perhitungan rasio adalah sebagai berikut;

KETERANGAN
LIQUIDITY RATIO
Aktiva Lancar
Hutang Lancar
Persediaan
ACTIVITY RATIO
Piutang Usaha
Penjualan
HPP
Total Aktiva
Aktiva Tetap Bersih
LAVERAGE RATIO
Total Hutang
Total Ekuitas
Beban Bunga
Laba Operasi (EBIT)
PROFITABILITY
Laba Bersih (EAT)

INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA


2010
2010
2011
2012
Rp
7.484.807
Rp
1.347.705
Rp
1.299.548

Rp
10.314.573
Rp
1.476.597
Rp
1.470.305

Rp
14.597.400
Rp
2.418.762
Rp
1.470.305

Rp
1.290.898
Rp
11.137.805
Rp
5.597.042
Rp
15.346.145
Rp
7.861.338

Rp
1.908.525
Rp
13.887.892
Rp
7.473.669
Rp
18.151.331
Rp
7.836.758

Rp
2.454.818
Rp
17.290.337
Rp
9.020.338
Rp
22.755.160
Rp
8.175.760

Rp
23.207.893
Rp
13.077.390
Rp
13.955
Rp
4.248.475

Rp
2.417.380
Rp
15.733.951
Rp
19.864
Rp
4.708.156

Rp
3.336.422
Rp
19.418.738
Rp
18.042
Rp
6.239.550

Rp
3.224.941

Rp
3.601.516

Rp
4.763.388

Tbk
Data yang digunakan dalam membuat perhitungan rasio adalah sebagai berikut;
KETERANGAN
LIQUIDITY RATIO
Aktiva Lancar
Hutang Lancar
Persediaan
ACTIVITY RATIO
Piutang Usaha
Penjualan

PT HOLCIM INDONESIA Tbk


2010
2011
2012
Rp
2.253.237
Rp
1.355.830
Rp
499.926

Rp
2.468.172
Rp
1.683.799
Rp
570.459

Rp
2.186.797
Rp
1.556.875
Rp
687.087

Rp
564.622
Rp
5.960.589

Rp
638.343
Rp
7.523.964

Rp
808.791
Rp
9.011.076

2 PT.
Holcim
Indonesia,

HPP
Total Aktiva
Aktiva Tetap Bersih
LAVERAGE RATIO
Total Hutang
Total Ekuitas
Beban Bunga
Laba Operasi (EBIT)
PROFITABILITY
Laba Bersih (EAT)

Rp
2.249.357
Rp
10.437.249
Rp
7.893.251

Rp
4.672.435
Rp
10.950.501
Rp
8.238.252

Rp
5.664.231
Rp
12.168.517
Rp
9.588.783

Rp
3.611.246
Rp
6.822.608
Rp
232.820
Rp
1.147.957

Rp
3.423.241
Rp
7.527.260
Rp
82.328
Rp
1.533.257

Rp
3.750.461
Rp
8.418.056
Rp
156.767
Rp
1.872.712

Rp
828.422

Rp
1.063.560

Rp
1.350.791

3. PT Semen Gresik (Persero) Tbk


Data yang digunakan untuk menghitung rasio adalah sebagai berikut:

KETERANGAN
LIQUIDITY RATIO
Aktiva Lancar
Hutang Lancar
Persediaan
ACTIVITY RATIO
Piutang Usaha
Penjualan

PT SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk


2010
2011
2012
Rp
7.345.867
Rp
2.517.518
Rp
1.624.219

Rp
7.646.144
Rp
2.889.137
Rp
2.006.660

Rp
8.231.297
Rp
4.852.204
Rp
2.284.905

Rp
1.716.582
Rp
14.344.188

Rp
1.828.477
Rp
16.378.793

Rp
2.466.060
Rp
19.598.247

HPP
Total Aktiva
Aktiva Tetap Bersih
LAVERAGE RATIO
Total Hutang
Total Ekuitas
Beban Bunga
Laba Operasi (EBIT)
PROFITABILITY
Laba Bersih (EAT)

Rp
7.534.079
Rp
15.562.998
Rp
8.217.131

Rp
8.891.867
Rp
19.661.602
Rp
12.015.457

Rp
10.300.666
Rp
26.579.083
Rp
18.347.786

Rp
3.423.246
Rp
12.139.752
Rp
47.622
Rp
4.722.623

Rp
5.046.505
Rp
14.615.096
Rp
34.112
Rp
5.089.952

Rp
8.414.229
Rp
18.164.854
Rp
175.074
Rp
6.287.454

Rp
3.656.621

Rp
3.960.604

Rp
4.926.639

Keterangan :
Rasio dihitung dengan menggunakan Microsoft Excel dengan memasukkan rumus sesuai yang tertera
di landasan teori sehingga menghasilkan perhitungan rasion seperti yang di bawah ini;

ANALISIS

Current Ratio
LIQUIDITY
RATIO
Acid Test Ratio
ACTIVITY RATIO
Inventories
Turnover
Account
Receivable
Turnover
Average
Collection
Period

TAHUN

PT HOLCIM
INDONESIA
Tbk

INDOCEMENT
TUNGGAL
PRAKARSA Tbk

PT SEMEN
GRESIK
(PERSERO)
Tbk

RATA-RATA
INDUSTRI

2010

1,662

5,554

2,918

3,378

2011

1,466

6,985

2,647

3,699

2012

1,405

6,035

1,696

3,045

2010

1,293

4,589

2,273

2,718

2011

1,127

6,086

1,952

3,055

2012

0,963

5,427

1,226

2,539

2010

4,499

4,307

4,639

4,482

2011

8,191

5,629

4,431

6,084

2012

8,244

6,135

4,508

6,296

2010

10,557

8,628

8,356

9,180

2011

11,787

7,277

8,958

9,340

2012

11,141

7,043

7,947

8,711

2010

34,575

42,304

43,680

40,186

2011
2012

30,967
32,761

50,160
51,821

40,747
45,928

40,625
43,503

Fixed Asset
Turnover

Asset Turnover

Debt Ratio

LAVERAGE
RATIO

Debt to Equity
Ratio

Times Interest
Earned

ROA

ROE
PROFITABILITY
Net Profit
Margin

EPS

2010

0,755

1,417

1,746

1,306

2011

0,913

1,772

1,363

1,350

2012

0,940

2,115

1,068

1,374

2010

0,571

0,726

0,922

0,740

2011

0,687

0,765

0,833

0,762

2012

0,741

0,760

0,737

0,746

2010

0,346

1,512

0,220

0,693

2011

0,313

0,133

0,257

0,234

2012

0,308

0,147

0,317

0,257

2010

0,529

1,775

0,282

0,862

2011

0,455

0,154

0,345

0,318

2012

0,446

0,172

0,463

0,360

2010

4,931

304,441

99,169

136,180

2011

18,624

237,020

149,213

134,952

2012

11,946

345,835

35,913

131,231

2010

0,079

0,210

0,235

0,175

2011

0,097

0,198

0,201

0,166

2012

0,111

0,209

0,185

0,169

2010

0,121

0,247

0,301

0,223

2011

0,141

0,229

0,271

0,214

2012

0,160

0,245

0,271

0,226

2010

0,139

0,290

0,255

0,228

2011

0,141

0,259

0,242

0,214

2012

0,150

0,275

0,251

0,226

2010

108,000

876,050

613,000

532,350

2011

139,000

977,100

662,000

592,700

2012

176,000

1293,150

817,000

762,050

DAFTAR PUSTAKA