Anda di halaman 1dari 10

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................i
DAFTAR ISI .....................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..............................................................................................1
1.2 Tujuan ...........................................................................................................2
BAB II ISI
2.1 Instrumen Penghalus Simplisia......................................................................3
2.2 Teori Penetapan Derajat Kehalusan Serbuk Simplisia...................................5
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................iii

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
selesainya makalah tugas Farmakognosi Jurusan Farmasi Semester III. Makalah
tentang Instrumen Penghalus dan Derajat Kehalusan Simlisia disusun untuk
memenuhi persyaratan pengganti praktikum farmakognosi. Banyak suka duka
penyusun dalam menyusun laporan ini, dan Penyusun menyadari bahwa
laporan ini dapat selesai berkat bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu pada
kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada:
-

Seluruh pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini yang


tidak dapat penulis sebutkan semuanya.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah, masih

banyak kekurangan yang ada, maka untuk itu penulis mengharapkan saran serta
kritik yang bersifat membangun. Sehingga penyusun dapat lebih baik lagi dalam
pembuatan karya berikutnya.
Tasikmalaya, Oktober 2015

Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pemanfaatan tanaman obat sebagai obat tradusional merupakan suatau produk
pelayanan kesehatan yang strategis karena berdampak positif terhadap tingkat
kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Tanaman obat dapat memberikan nilai tambah apabila diolah lebih lanjut
menjadi berbagai jenis produk. Tanaman obat tersebut dapat diolah menjadi
berbagai macam produk seperti simplisia (rajangan), serbuk, minyak atsiri,
ekstrak kental, ekstrak kering, instan, sirup, permen, kapsul maupun tablet.
Simplisia merupakan bahan alami yang digunakan sebagi bahan baku obat
yang mengalami pengolahan atau baru dirajang saja, tetapi sudah dikeringkan.
Permintaan bahanbaku simplisia sebagai bahan baku obat-obatan semakin
meningkat dengan bertambahnya industri jamu. Selain itu, efek samping
penggunaan tanaman obat untuk mengobati suatu penyakit lebih kecil
dibandingkan obat sintetis.
Proses pembuatan simplisia diperlukan beberapa tahapan yaitu pengumpulan
bahan baku, sortasi basah, pencuciab, perajangan, pengeringan, sortasi kering,
pengepakan dan penyimpanan. Agar simplisia memiliki mutu dan ketahanan
kualitas yang baik, selain proses pengumpulan baku, sortasi basah, pencucian,
perajangan, pengeringan dan sortasi kering, juga perlu diperhatikan proses
pengepakan dan penyimpanan karena sangat berpengaruh pada kandungan
kadar zat aktif dalam simplisia, maka dibutuhkan suatu instrument yang sesuai
standar yang digunakan.

1.2 Tujuan

Untuk mengetahui instrumen yang digunakan.


Untuk mengetahui derajat kehalusan

BAB II
ISI

2.1 Instrumen Penghalus Simplisia


Blender

Blender adalah alat elektronik berupa wadah dilengkapi pisau berputar


yang digunakan untuk mengaduk, mencampur, menggiling, atau melunakkan
bahan makanan dan bisa juga untuk menghaluskan simplisia. Pisau berbentuk
seperti sebuah baling-baling pendek yang dipasang pada bagian bawah wadah.
Pisau ini diputar dengan cepat dengan tenaga dari sebuah motor sehingga alat
ini dengan segera dapat mencampur, mencincang, dan melumatkan bahanbahan yang dimasukkan ke dalamnya. Blender juga umumnya dilengkapi
pengatur kecepatan berputarnya pisau di dalam wadah.
Ayakan

Ayakan (saringan) adalah alat yang digunakan untuk memisahkan bagian


yang tidak diinginkan berdasarkan ukurannya, dari dalam bahan
curah dan bubuk yang memiliki ukuran partikel kecil dan bahan adonan atau

campuran dari cairannya. Ayakan terbuat dari logam, polimer, serat tanaman
dan kayu.
Pengayakan dilakukan dengan menaruh bahan curah di atas ayakan sambil
menggoyang-goyangkan ayakan. Partikel yang berukuran lebih kecil dari
nomor meshakan jatuh, sedangkan yang berukuran lebih besar akan tetap
berada di atas ayakan. Tergantung tujuannya, partikel yang berukuran besar
dapat digerus kembali agar lebih kecil atau dibuang karena tidak dibutuhkan.
Hammer Mill

Diantara alat penggiling standar yang luas digunakan adalah jenis alat
standar yang dikenal dengan nama alat penggiling palu (Hammer Mill). Alat
ini merupakan mesin yang kokoh untuk memecah bongkahan bahan yang
rapuh dengan prinsip menggunakan pemalu yang berputar 3600 . Penggiling
palu ini terdiri dari suaturotar pada mana terkait 4 pendulum penghancur.
Selain itu, ada pula penggiling pisau yang beroperasi dengan cara
memotong bahan yang dimasukkan ke dalam ruang penampung, dimana pisau
pisau dapat bergerak secara vertical atau horizontal. Penggiling ini sangat
sesuai untuk menggiling daun, kulit (cortex) dan akar yang selanjutnya dalam
diekstraksi secara maserasi dan perkolasi.
Penggiling lain untuk tanaman obat adalah dengan melewatkan bahan
melalui sesuatu system yang mempunyai suatu piringan bergeligi yang apat
beroperasi baik secara horizontal maupun vertical. Penggiling jenis ini sangat
sesuai untuk menggiling biji biji yang keras ataupun bahan yang sebelumnya
sudah dipotong.
2.2 Teori Penetapan Derajat Kehalusan Serbuk Simplisia

Menurut Materia Medika pengayak dibuat dari kawat logam atau bahan
lain yang cocok dengan penampang melintang yang sama diseluruh bagian. Jenis
pengayak dinyatakan dengan nomor yang menunjukkan jumlah lubang tiap cm
dihitung searah dengan panjang kawat.
Derajat halus serbuk dinyatakan dengan nomor pengayak. Jika derajat
halus suatu serbuk dinyatakan dengan 1 nomor, dimaksudkan bahwa semua
serbuk dapat melalui pengayak dengan nomor tersebut. Jika derajat halus suatu
serbuk dinyatakan dengan 2 nomor, dimaksudkan bahwa semua serbuk dapat
dapat melalui pengayak dengan nomor terendah dan tidak lebih dari 40% melalui
pengayak dengan nomor tertinggi.
Menurut Farmakope Indonesia dalam penetapan derajat halus serbuk
simplisia nabati dan simplisia hewani, tidak ada bagian dari obat yang dibuang
selama penggilingan atau pengayakan, kecuali dinyatakan lain dalam masingmasing monografi.
Metode Penetapan Keseragaman Derajat Halus
-

Untuk penetapan keseragaman derajat halus serbuk obat dan bahan kimia,
cara yang boleh dilakukan dengan menggunakan pengayak baku yang
memenihu persyaratan. Hindari penggoyangan lebih lama, yang akan

menyebabkan peningkatan derajat halus serbuk selama penetapan.


Untuk serbuk sangat kasar, kasar dan setengah kasar
Masukkan 25-100 g serbuk uji pada pengayak baku yang sesuai yang
mempunyai panci penampung dan tutup yang sesuai. Goyang pengayak
dengan arah putaran horizontal dan ketukkan secara vertikal pada
permukaan keras selama tidak kurang dari 20 menit atau sampai
pengayakan praktis sempurna. Timbang seksama jumlah yang tertinggal

pada pengayak dan dalam panci penampung.


Untuk serbuk halus atau sangat halus.
Lakukan penetapan seperti pada serbuk kasar kecuali contoh tidak lebih
dari 25 g dan pengayak yang digunakan digoyang selama tidak kurang 30
menit atau sampai pengayakan praktis sempurna.

Untuk serbuk berminyak atau serbuk lain yang cenderung menggumpal


dan dapat menyumbat lubang, sikat pengayak secara berkala hati-hati
selama penetapan. Hancurkan gumpalan yang terbentuk selama
pengayakan. Derajat halus serbuk obat dan bahan kimia dapat juga
ditetapkan dengan cara melewatkan pada pengayak yang dapat digoyang
secara mekanik yang memberikan gerakan berputar dan ketukan seperti
pada pengayak yang menggunakan tangan; tetapi dengan gerakan mekanik
yang seragam, mengikuti petunjuk dari pabrik pembuat pengayak.

Tabel 1 Klasifikasi Serbuk Berdasarkan Derajat Halus


Simplisia Nabati dan Simplisia Hewani
Klasifikasi Serbuk Nomor Nominal
Serbuk 1

Batas derajat halus2


%

Bahan Kimia
Nomor

Batas derajat halus2

Nomor

Nominal

Pengayak

Serbuk 1

Nomor
Pengayak

Sangat Kasar

20

60

Kasar

20

40

60

20

60

40

Setengah Kasar

40

40

80

40

60

60

Halus

60

40

100

80

60

120

Sangat Halus

80

100

80

120

100

120

Keterangan :
1. Semua partikel serbuk melewati pengayak dengan nomor nominal tertentu.
2. Batas persentase yang melewati pengayak dengan ukuran yang telah
ditentukan.
Derajat halus serbuk dinyatakan dengan satu atau dua nomor. Jika derajat
halus serbuk dinyatakan satu nomor, berarti semua serbuk dapat melalui pengayak

dengan nomor tersebut. Jika dinyatakan dengan dua nomor, berarti semua serbuk
dapat melalui pengayak dengan nomor terendah dan tidak lebih dari 40% melalui
pengayak dengan nomor tertinggi.
Sebagai contoh serbuk 22/60, dimaksudkan bahwa serbuk dapat melalui
pengayak nomor 22 seluruhnya, dan tidak lebih dari 40% melalui pengayak
nomor 60.
Nomor pengayak menunjukkan jumlah-jumlah lubang tiap 2,54 cm
dihitung searah dengan panjang kawat. Pengayak dibuat dari kawat logam atau
bahan lain yang cocok dengan penampang melintang yang sama di seluruh
bagian.
Dalam beberapa hal digunakan juga istilah umum untuk menyatakan
kehalusan serbuk yang disesuaikan dengan nomor pengayak sebagai berikut:
1.

Serbuk sangat kasar adalah serbuk (5/8)

2.

Serbuk kasar adalah serbuk (10/40)

3.

Serbuk agak kasar adalah serbuk (22/60)

4.

Serbuk agak halus adalah serbuk (44/85)

5.

Serbuk halus adalah serbuk (85)

6.

Serbuk sangat halus adalah serbuk {120/200(300)}

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.1995.Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta:Departemen Kesehatan RI

Anonim.1995. Materia Medika Indonesia Jilid VI Cetakan Keenam. Jakarta:


Direktorat Jenderal Pengawasan Obat Dan Makanan
http://www.scribd.com/doc/240013152/CPOTB#scribd
https://id.wikipedia.org/wiki/Ayakan
https://id.wikipedia.org/wiki/Blender