Anda di halaman 1dari 12

EFEK FOTOLISTRIK 2

LAPORAN PRAKTIKUM
ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Eksperimen Fisika 2
yang diampu oleh Dr. Parlindungan Sinaga, M.Si

Disusun oleh:
Dhea Intan Patya

(1301982)

Teman sekelompok:
Elza Anisa Suwandi

(1305749)

LABORATORIUM FISIKA LANJUT


PRODI FISIKA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA


2016

A. Tujuan
1. Memahami fenomena efek fotolistrik.
2. Menentukan konstanta Planck.
B. Dasar Teori
Pada awal abad ke-20 serangkaian eksperimen menyatakan bahwa elektron
dilepaskan dari permukaan logam jika cahaya yang frekuensinya cukup tinggi
dipancarkan pada permukaan logam tersebut (diperlukan cahaya ultraungu untuk semua
logam, kecuali logam alkali), peristiwa ini disebut dengan efekfotolistrik. Efek fotolistrik
pada awalnya merupakan hasil dari penelitian Heinrich Hertz yang membuktikan teori
gelombang elektromagnetik Maxwell. Saat itu menurut fisika klasik cahaya hanya
dipandang sebagai gelombang elektromagnetik. Ketika seberkas cahaya ditembakan pada
sebuah plat logam, gelombang akan berosilasi dengan elektron pada logam sehingga
elektron terlepas dari permukaan logam dengan energi kinetik yang bergantung pada
intensitasnya.
Pada tahun 1902 P. Lenard mempelajari bahwa saat keluar dari elektron memiliki
kecepatan tertentu serta energi yang dimilki elektron ini tidak bergantung pada intensitas
cahaya. Perubahan intensitas cahaya yang datang pada foto sel hanya berpengaruh
terhadap jumlah elektron foton yang dihasilkan. Makin intensitas cahaya yang datang
maka makin banyak jumlah elektron foto yang dihasilkan. Energi kinetik rata-rata
elektron foto hanya bergantung pada frekuensi foton datang.
Pada tahun 1905 Einstein memberikan penjelasan mengenai hasil yang didapat
Lenard dengan menggunakan konsep yang dinyatakan Max Planck sebelumnya. Ia
menyatakan bahwa cahaya/radiasi yang dipancarkan harus dianggap sebagai paket-paket
energi berharga diskrit (foton). Foton membawa energi

yang dapat melepaskan

elektron dari permukaan logam jika energi foton lebih besar dari fungsi kerjanya (W)
yang merupakan energi minimum yang dibutuhkan untuk melepaskan elektron dari
permukaan logam.
Pendapat yang dikemukakan Einstein adalah, suatu berkas cahaya terdiri dari paketpaket energi berharga diskrit dengan sifat-sifat :

1. Paket energi merambat dengan kecepatan cahaya c, tetapi berbeda dengan


gelombang, energi ini tidak merambat dalam ruang dan tetap menempati volume
yang sangat terbatas dalam ruang.

E h
2. Energi paket terkait dengan frekwensi secara linier dengan hubungan
.
3. Dalam peristiwa foto listrik sebuah paket menyerahkan energi seluruhnya pada
elektron, dan elektron itu kemudian meninggalkan logam.
Setelah elektron mendapatkan cukup energi dari foton untuk melepaskan diri dari
permukaan logam, Einstein mengatakan bahwa energi kinetik elektron setelah terlepas
sebanding dengan frekuensi foton.
h=W + Ek

Gambar 1. Pengamatan eksferimen efek fotolistrik


Sesuai dengan skema percobaan diatas, cahaya monokromatis dipancarkan pada plat
katoda yang kemudian akan melepaskan elektron yang bergerak menuju anoda. Laju
pancaran elektron tersebut terukur oleh galvanometer sebagai arus listrik. Untuk menghitung
energi kinetiknya maka dihubungkanlah sumber tegangan pada anoda dan katoda dengan
terminal positif pada katoda dan terminal negative pada anoda sehingga dihasilkanlah
retarding voltage atau potensial perlambatan. Ketika potensial perlambatan ditambah arus
listrik perlahan menurun dan akhirnya menghilang pada nilai potensial perlambatan tertentu

yang akhirnya disebut sebagai stopping voltage atau potensial penghenti (V0). Saat tidak
ada arus lagi yang mengalir, saat itulah elektron memiliki energi kinetik maksimumnya.
Ek max=e V 0
Ek max= Energi kinetik maksimum elektron .
e=muatan elektron .
V 0= potensial penghenti .
Setiap logam yang digunakan memiliki energi minimum yang harus dicapai agar
elektron dapat terlepas dari permukaan logam. Berikut daftar fungsi kerja pada logam :
N
o
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Element
Aluminu
m
Beryllium
Cadmium
Calcium
Carbon
Cesium
Cobalt
Copper
Gold
Iron
Lead

W (eV)

N
o

4.08

12

5.0
4.07
2.9
4.81
2.1
5.0
4.7
5.1
4.5
4.14

13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

Element
Magnesiu
m
Mercury
Nickel
Niobium
Potassium
Platinum
Selenium
Silver
Sodium
Uranium
Zinc

W (eV)
3.68
4.5
5.01
4.3
2.3
6.35
5.11
4.73
2.28
3.6
4.3

Fungsi kerja ini dipengaruhi oleh nilai frekuensi ambang atau frekuensi cut-off yang
merupakan frekuensi minimum dari cahaya agar dapat menghasilkan efek fotolistrik.
W =h 0
W =fungsi kerja

h=konstanta Planck
0 =frekuensi cutoff
Fakta-fakta sesuai dengan hasil yang ditemukan pada percobaan efek fotolistrik
adalah:
1. Potensial penghenti tidak bergantung pada intensitas cahaya.

2. Potensial pemberhenti (V0) bergantung pada frekuensi () cahaya yang menyinari katoda.

3. Untuk satu macam bahan anoda, lengkung potensial pemberhenti Vo sebagai fungsifungsi frekuensi cahaya, merupakan garis yang lurus. Ada satu frekuensi potong 0
(frekuensi ambang batas), yang menjadi batas efek fotolistrik. Artinya bahan cahaya
dengan frekuensi di bawah harga 0 tidak akan menghasilkan efek fotolistrik berapapun
intensitasnya dan setiap bahan logam mempunyai harga 0 tersendiri.

C. Alat dan Bahan


1. Planck Constant Apparatus
2. Voltmeter
3. Galvanometer
4. Kabel Penghubung

D. Prosedur Percobaan
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Menghubungkan voltmeter dan galvanometer pada Planck Constant Apparatus.
3. Menghubungkan kabel power Planck Constant Apparatus pada sumber tegangan.
4. Menyalakan Planck Constant Apparatus.
5. Mengatur sudut pantul alat menjadi 00
6. Mencari dan mengukur potensial penghenti menggunakan voltmeter dengan cara
menaikan potensial pada alat sampai arus yang terbaca pada galvanometer
menunjukkan angka nol atau tidak ada arus yang mengalir.
7. Menulis V0 (Potensial Penghenti) pada table percobaan.
8. Mengulangi prosedur 5-7 dengan mengubah sudut pantul sesuai dengan tabel yang
tertera pada alat sampai diperoleh 9 data.
E. Data Percobaan
No

(nm)

V0 (volt)

1
2
3
4
5
6
7
8
9

00
-10
-20
-30
-40
-50
-60
-70
-80

589
564
539
514
489
463
437
411
386

0.5
0.6
0.67
0.75
0.83
0.9
1.0
1.2
1.4

F. Pengolahan Data
Sesuai dengan hukum kekekalan energi yang dinyatakan Einstein maka :
h=W + Ek
ketika tidak ada arus yang mengalir, foton mencapai energi kinetik maksimum dengan W
sebagai fungsi kerja atau energi minimum yang dibutuhkan elektron untuk berpindah,
persamaan hukum kekekalan energi Einstein menjadi :
Ek=e V 0
W =h 0
h=h 0+ e V 0
e V 0 =hh 0
e V 0 =h ( 0 )

h
V 0= ( 0 )
e
V0
h
=
e ( 0 )
Dari data hasil percobaan yang didapat kita bisa menghitung nilai frekuensi dari masingmasing gelombang yang digunakan untuk percobaan menggunakan rumus :
c=
=

8m
Dengan c=3 10 s

No

( nm)

V0 (volt)

( 1014 Hz )
1
2
3
4
5
6
7
8
9

00
-10
-20
-30
-40
-50
-60
-70
-80

589
564
539
514
489
463
437
411
386

0.5
0.6
0.67
0.75
0.83
0.9
1.0
1.2
1.4

5.09
5.32
5.57
5.84
6.13
6.48
6.86
7.30
7.77

Dari pengolahan menggunakan rumus tersebut bisa dibuat grafik hubungan V0 terhadap

Dari grafik tersebut didapat persamaan garis yaitu :


V 0=3.15058 1015 1.10074
Saat V 0=0

didapat nilai frekuensi cut-off ( 0 )

sebesar :

0=3.15058 1015 1.10074


3.15058 1015 0=1.10074
0 =

1.10074
3.15058 1015

0 =3.49377 1014 Hz
Sesuai dengan penurunan persamaan hukum kekekalan energi Einstein, maka nilai
kemiringan garis atau gradient grafik tersebut merupakan perbandingan nilai konstanta

Planck dengan nilai muatan elektron


didapatkan nilai konstanta Planck yaitu :

( he )

maka dengan nilai

e=1.602 1019 C

h
=3.15058 1015
e
h=e 3.15058 1015
h=( 1.602 1019) ( 3.15058 1015 )
h=5.04723 1034 Js
Dengan nilai ketidakpastian sebesar :
h=e 1.1463 1016
h=( 1.602 1019 ) ( 1.39385 1016 )
h=0.223295 1034 Js
Sehingga nilai konstanta yang didapat adalah sebesar :
h=( 5.04723 0.223295 ) 1034 Js
Nilai fungsi kerja atau energi minimum yang dibutuhkan elektron untuk lepas dari logam
bisa didapat dari nilai konstanta Planck

(h)

dan frekuensi cut-off

( 0 ) yang didapat

dari hasil percobaan yaitu :


W =h 0
W = ( 5.04723 1034 ) ( 3.49377 E 10 14)
W =1.763391019 J
W =1.10077 eV
Sedangkan

dengan

nilai

konstanta

Planck

sesuai

literature

( h=6.626 1034 Js ) , maka :


W = ( 6.626 1034 ) ( 2.38908 1014 )
W =1.58300 1019 J
W =0.98816 eV

G. Analisis
Efek fotolistrik adalah gejala pelepasan electron dari suatu atom karena
penyinaran. Adanya peristiwa ini tidak bergantung pada intensitas cahaya yang diberikan
tetapi lebih kepada panjang gelombang dari cahaya yang diberikan. Apabila panjang
gelombang kurang dari panjang gelombang pancung maka fotolistrik akan terjadi, tetapi

apabila lebih besar dari panjang gelombang pancung maka fotolistrik tidak akan terjadi,
walaupun diberikan cahaya dengen intensitas yang sangat tinggi sekalipun. Selain itu
adanya fotolistrik hanya dalam selang waktu 10 -9 detik setelah terjadinya penyinaran. Hal
ini.bertentangan dengan teori gelombang, sehingga adanya efek fotolistrik ini
menandakan bahwa teori gelombang telah gagal menjelaskan keberadaan panjang
gelombang pancung dan waktu tunda.
Fungsi kerja sangat bergantung dari bahan yang yang digunakan. Logam yang
berbeda memilki fungsi kerja yang berbeda pula. Apabila fungsi kerja suatu bahan adalah
, maka harus dipasok sekurang-kurangnya energi sebesar W, untuk mengeluarkan
electron dari suatu bahan. Jika h< W

tidak terjadi fotolistrik, jika maka electron akan

terpental keluar dan kelebihan energi yang dipasok akan digunakan electron untuk
bergerak menuju anoda (diubah dalam bentuk energi kinetik).
Energi kinetik maksimum fotoelektron sangat bergantung pada bahan yang digunakan,
karena dengan energi yang diberikan sama (semua foton mempunyai energi yang sama)
digunakan untuk melepaskan electron (fungsi kerja yang tergantung pada bahan). Karena
fungsi kerja untuk masing-masing bahan berbeda maka energi kinetik maksimum juga
bergantung pada bahan yang digunakan. Dengan hubungan :
Ek=e V 0
W =h 0
h=h 0+ e V 0
e V 0 =hh 0
e V 0 =h ( 0 )
h
V 0= ( 0 )
e
V0
h
=
e ( 0 )
dimana h adalah konstanta planck yang nilainya konstan untuk semua bahan.

Dari eksperimen ini, didapatkan nilai konstanta planck dan fungsi kerja sebagai
berikut:
h=( 5.04723 0.223295 ) 1034 Js
W =1.10077 eV

nilai diatas berbeda dengan literature, hal ini disebabkan ruang yang digunakan (alat
percobaan fotoelektron) kurang hampa sehingga masih terdapat molekul-molekul udara
didalamnya sehingga memungkinkan untuk electron kehilangan energinya karena
bertumbukan dengan molekul-molekul tersebut sehingga pada saat electron sampai pada
potensial penghalang energinya telah berkurang.
Selain mendapat nilai konstanta Planck, frekuensi cut-off dan fungsi kerja, pada
percobaan ini didapat hubungan potensial penghenti dengan frekuensi cahaya yang sesuai
dengan hukum kekekalan energi Einstein. Terbukti bahwa efek fotolistrik hanya
dipengaruhi oleh frekuensi cahaya yang dapat dilihat dari data percobaan yang didapat
yaitu potensial penghenti sebanding dengan frekuensi

( V 0 ) . Hal ini membuktikan

bahwa cahaya dapat dipandang sebagai partikel atau berupa paket-paket energi sesuai
dengan yang dinyatakan oleh hipotesa Max Planck dan Albert Einstein.
H. Kesimpulan
Setelah dilakukan pengolahan data dan analisis pada data maka dapat disimpulkan
bahwa:
1. Teori gelombang menyarankan bahwa tenaga elektrik dari fotoelektron harus semakin
besar jika sinar cahaya dibuat lebih rapat (kuat). Namun dari hasil eksperiment
memperlihatkan bahwa Ek=e V 0

tidak tergantung intensitas cahaya.

2. Nilai konstanta Planck yang diperoleh:


h=( 5.04723 0.223295 ) 1034 Js
3. Nilai fungsi kerja logam yang diperoleh:
34
a. Untuk h=( 4.15916 0.18364 ) 10 Js
W =0.62028 eV
34
b. Untuk h=6.626 10 Js
W =0.98816 eV

I. Daftar Pustaka
Beiser, Arthur. (1992). Konsep Fisika Modern. Jakarta : Erlangga.
Fowler, Michael. The Photoelectric Effect. Tersedia: http://galileo.phys.virginia.edu/
classes/252/photoelectric_effect.html. (23 Maret 2016).