Anda di halaman 1dari 3

Mar 29, '07 3:57 AM

Megaria (Metropole) - Menteng Siap Dijual ? for everyone

Setelah “lenyap”nya Lapangan Persija (dulu Viosveld) Menteng, kini sejak pertengahan
Maret, banyak warga Jakarta dan media menggunjingkan akan dijualnya Gedung
Bioskop Megaria di Menteng. Kehebohan merebak menyusul munculnya penawaran
penjualan gedung bioskop berusia lebih dari setengah abad itu di situs jual beli
properti, 8 Maret lalu.

Dalam situs itu disebutkan, "Dijual bangunan eks bioskop Metropole (Megahria) Jalan
Pegangsaan Barat 21 (Diponegoro), sebelah rel KA Cikini Jakarta seluas 11.623 m² @
Rp 15 juta/m². Sudah ditawar Rp 11 juta/m². Kalau ada yang nawar di atas Rp 11 juta
atau minimal Rp 13 juta/m² akan dilepas. Tawaran masih ditambah dengan penjelasan
soal harga total Rp 151.099.000.000 dan tentang uang komisi yang bakal diterima
perantara. Gedung dan lahan Megaria adalah milik PT Bioskop Metropole, perusahaan

yang pemiliknya tinggal di Semarang.

SEJARAH GEDUNG

Bioskop Megaria, yang kini bernama Megaria 21 merupakan hasil rancangan Johannes
Martinus (Han) Groenewegen, arsitek Belanda kelahiran Den Haag (1888) yang tinggal
di Jakarta sampai dengan akhir hayatnya (1980). Gedung mulai dibangun pada 11
Agustus 1949 dan rampung sekaligus mulai dioperasikan sebagai bioskop pada tahun
1951. Bangunan cukup monumental berarsitektur paduan gaya Art-Deco Tropis dan De
Stijl dengan menara lancipnya yang khas ini berada di lokasi yang sangat strategis di
sudut persimpangan dua jalan yang cukup ramai, yakni antara Jalan Cikini, Jalan
Proklamasi (Pegangsaan Timur), dan Jalan Diponegoro yang kala itu bernama Oranje
Boulevard.

Saat-saat Metropole mulai beroperasi 57 tahun lalu, bioskop ini memutar film produksi MGM
(Metro Goldwyn Mayer), AS. Meskipun demikian, sekali-kali memutar film Indonesia.

Pada 1960-an diganti jadi Megaria karena, konon, Bung Karno (Presiden pertama
Indonesia) ketika itu tak suka pada nama berbau Belanda itu.
Setelah bergabung dengan kelompok bioskop 21 pada tahun 1990-an, namanya diganti
lagi menjadi Metropole 21. Akhirnya, sejak beberapa tahun silam, balik lagi memakai
nama Megaria 21 hingga hari ini.

Pada dekade 1960 dan 1970-an, bioskop dengan kapasitas 1.000 penonton itu sempat
menjadi salah satu yang terbaik dan bergengsi di Jakarta. Namun, setelah ruang
bioskop dipecah-pecah menjadi empat teater kecil ala sinepleks kelompok bioskop 21,
pamor Megaria malah merosot dan cuma jadi tujuan penonton film kelas dua.

Tidak ada perubahan mencolok ketika gedung bioskop ini masih bernama Metropole. Hanya loket
penjualan tiket yang dulu terletak di bagian luar kini menjadi tempat pijat refleksi. Tempat
penjualan tiket kini terletak di bagian dalam, melayani enam bioskop dari kelompok 21. Di
samping kanan bioskop, yang dulu berupa toko-toko tekstil, kini diisi barber shop, pedagang
empek-empek, wartel dan rumah makan ayam kambali. Di sini juga terdapat kantor sekuriti
Metropole, induk dari bioskop Megaria 21.

Bagian belakang gedung bioskop, dekat tempat parkir kendaraan bermotor yang kini menjadi
Megaria 6, dulunya adalah perumahan militer. Di sebelahnya terdapat Hero Super Market.

Menurut keterangan, pemilik gedung bioskop Megaria, pada tahun 1970-an dan 1980-an, juga
membangun Bioskokp Nedw Garden Hall yang kini berubah menjadi pertokoan Blok M Plaza.
TIDAK BOLEH DIRUBAH

Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta tidak mempersoalkan penjualan gedung
bioskop Megaria di Jalan Pegangsaan Timur nomor 21, Jakarta Pusat. "Tapi pemilik baru tidak
boleh mengubah tampak muka, ornamen, dan struktur utama bangunan itu," kata Aurora
Tambunan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI.

Gedung itu terdaftar dalam Surat Keputusan Gubernur Nomor 475 Tahun 1993 tentang
Bangunan Cagar Budaya DKI dengan klasifikasi kelas A.

Sanggupkah gedung ini bertahan…???

(Sumber: Republika, Kompas, Tempo )

Foto atas : Bioskop Menteng 1955 di Javaweg (Jl. HOS Cokroaminoto), Arsip KITLV (Sekarang
menjadi Menteng Plaza, sejak 1990)

Tags: menteng, bioskop