Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Dalam usaha meningkatkan suasana akademik yang maksimal dikampus,
khususnya untuk mata kuliah metode penelitian dan penulisan skripsi, serta untuk
menumbuhkan

rasa

pengalaman

belajar,

menumbuhkan

sikap,

kemampuan, dan keterampilah meneliti pada mahasiswa, Metodologi Penelitian


merupakan hal yang esensial.
Setiap mata kuliah diharapkan mampu menumbuhkan kegairahan meneliti
dan dapat memberikan pengalaman belajar yang menumbuhkan sikap,
kemampuan, dan keterampilan meneliti pada mahasiswa. Untuk itu, penguasaan
mahasiswa sebagai calon tenaga pengajar terhadap Metodologi Penelitian
merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan dan dipelajari, dengan
penguasaan Metodologi Penelitian yang optimal, diharapkan para mahasiswa
dapat menyertakan metode-metode penelitian serta hal-hal yang berkaitan
dengan penelitian dalam bidang yang akan diajarkan nanti apabila sudah terjun
sebagai tenaga pengajar.
Dalam penelitian kuantitatif, apalagi jika dirancang sebagai sebuah
penelitian survei (survey research), keberadaan populasi dan sampel penelitian
nyaris tak dapat dihindarkan. Populasi dan sampel merupakan sumber utama
untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam mengungkapkan fenomena atau
realitas yang dijadikan fokus penelitian kita.
Demi mencapai keakuratan dan validitas data yang dihasilkan, populasi dan
sampel yang dijadikan objek penelitian harus memiliki kejelasan baik dari segi
scope, ukuran, maupun karakteristiknya. Dengan kata lain, kejelasan populasi
1

dan ketepatan pengambilan sampel dalam penelitian akan menentukan validitas


proses dan hasil penelitian kita.
Dalam membantu kita memahami tentang Metodologi Penelitian, didalam
makalah ini disajikan bagian dari materi Metodologi Penelitian tersebut, yakni
tentang Sampel dan Populasi.

1.2

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang kami bahas dalam makalah ini yaitu:

1. Apa pengertian populasi dan sampel ?


2. Apa saja teknik pengambilan sampel ?
3. Bagaimana teknik pengambilan sampel ?
4. Bagaimana cara menentukan ukuran sampel ?
5. Bagaimana cara pengambilan anggota sampel ?

1.3

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu:

1. Memberikan informasi mengenai populasi dan sampel.


2. Mengetahui teknik pengambilan sampel, cara menentukan ukuran sampel dan cara
pengambilan anggota sampel.

3. Memenuhi tugas kelompok mata kuliah metode penelitian.

1.4

Metode Penulisan
Penulis mempergunakan metode kepustakaan. Cara-cara yang digunakan pada
penelitian ini adalah : Studi Pustaka. Dalam metode ini penulis membaca bukubuku yang berkaitan denga penulisan makalah ini.

BAB II
POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN

2.1 Pengertian Populasi dan Sampel


Dalam kehidupan sehari-hari manusia pernah menghadapi masalah
populasi dan contoh atau sampel dalam suasana yang berlainan yang mungkin
tidak disadarinya. Apabila seseorang melihat suatu kue, lalu dia ingin mengetahui
rasa dari kue tersebut, apakah rasanya manis, asam , gurih, atau pahit, seseorang
tersebut tidak perlu memakan seluruhnya. Seseorang tersebut cukup mengambil
seiris, mencicipinya, kemudian menyimpulkan bagaimana rasa kue tersebut.
Disini, perumpamaan kue adalah populasi, sedangkan irisan kue tersebut adalah
contoh atau sampel. Dengan demikian, yang disebut populasi adalah keseluruhan
objek yang akan diteliti, sedangkan contoh atau sampel adalah bagian tertentu
dari keseluruhan objek yang akan diteliti (Sulistiono-Basuki : 2010)
Prof. Dr. Sugiyono (2010) menegaskan bahwa terdapat perbedaan
mendasar dalam pengertian antara populasi dan sampel dalam penelitian
kuantitatif dan kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, populasi di artikan sebagai

wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas


dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi itu misalnya penduduk di wilayah
tertentu, jumlah guru dan murid di sekolah tertentu dan sebagainya. Populasi
bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi
juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi
meliputi keseluruhan karakteristik/sifat yang dimiliki oleh obyek/subyek itu.
Sedangkan sampel adalah bagian dari populasi itu, apa yang dipelajari dari
sampel, kesimpulan akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang
diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili).
Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi, tetapi
menggunakan istilah situasi sosial, yang terdiri atas tiga elemen yaitu: tempat,
pelaku dan aktifitas yang berinteraksi secara sinergis. Situasi sosial tersebut,
dapat dinyatakan sebagai obyek penelitian yang ingin diketahui apa yang
terjadi di dalam nya, misalnya rumah berikut keluarga dan aktifitasnya. Situasi
sosial tidak hanya terdiri dari tiga elemen tersebut, tetapi bisa juga berupa
peristiwa alam, binatang, tumbuh-tumbuhan dan sejenisnya. Sedangkan sampel
dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan responden, tetapi sebagai nara
sumber, partisipan, informan, teman dan guru dalam penelitian. Sampel dalam
penelitian kualitatif, juga bukan disebut sampel statistik, tetapi sampel teoritis,
karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menghasilkan teori.
Menurut Drs. S. Margono (2004), Populasi adalah seluruh data yang
menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan.
Jadi, populasi berhubungan dengan data, bukan manusianya. Jika manusia
memberikan suatu data, maka banyaknya atau ukuran populasi akan sama
banyaknya dengan ukuran manusia.

Populasi memiliki parameter yakni besaran terukur yang menunjukkan ciri


populasi tersebut. Besaran-besaran yang kita kenal antara lain: rata-rata,
bentengan, rata-rata simpangan, variansi, simpangan baku sebagai parameter
populasi. Parameter suatu populasi adalah tetap nilainya, jika nilainya berubah,
maka populasinyapun berubah.
Pengertian lain, menyebutkan bahwa populasi adalah keseluruhan objek
penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan,
gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang
memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian (Hadari Nawawi,
1993:141).
Data yang di gunakan dalam penelitian (bahan penelitian), dapat berupa
populasi (universe) atau sampel.
Menurut Drs. S. Margono (2004), populasi dapat di bedakan sebagai
berikut:
a. Populasi terbatas atau populasi terhingga, yakni populasi yang memiliki batas
kuantitatif secara jelas karena memiliki karakteristik yang terbatas. Misalnya
5.000.000 orang guru SMA pada awal tahun 1985, dengan karakteristik: masa
kerja 2 tahun, lulusan program strata 1, dan lain-lain.
b. Populasi tak terbatas atau populasi tak terhingga, yakni populasi yang tidak
dapat di temukan batas-batasnya, sehingga tidak dapat di nyatakan dalan
bentuk jumlah secara kuantitatif. Misalnya guru di Indonesia, yang berarti
harus dihitung jumlahnya sejak guru pertama ada sampai sekarang dan yang
akan datang. Dalam keadaan seperti itu jumlahnya tidak dapat di hitung,
hanya dapat di gambarkan suatu jumlah objek secara kualitas dengan
karakteristik yang bersifat umum yaitu orang-orang, dahulu, sekarang, dan
yang akan menjadi guru. Populasi ini di sebut juga parameter.

Selain itu, populasi dapat di bedakan ke dalam hal berikut ini:


a. Populasi teoritis (Theoritical Population), yakni sejumlah populasi yang
batas-batasnya di tetapkan secara kualitatif. Kemudian agar hasil penelitian
berlaku juga bagi populasi yang lebih luas, maka di tetapka terdiri dari guru;
berumur 25 tahun sampai 40 tahun, program S1, jalur tesis, dll.
b. Populasi yang tersedia (Accessible population), yakni sejumlah populasi yang
secara kuantitatif dapat di nyatakan dengan tegas. Misalnya, guru sebanyak
250 di kota Bandung terdiri dari guru yang memiliki karakteristik yang telah
di tetapkan dalam populasi teoritis.
Di samping itu persoalan populasi bagi suatu penelitian harus di bedakan
ke dalam sifat berikut ini:
a. Populasi yang bersifat homogen, yakni populasi yang unsur-unsurnya
memiliki sifat yang sama, sehingga tidak perlu di persoalkan jumlahnya
secara kuantitatif. Misalnya, seorang dokter yang akan melihat golongan
darah seseorang, maka ia cukup mengambil setetes darah saja. Dokter itu
tidak perlu mengambil satu botol darah, karena baik setetes maupun satu botol
hasilnya akan sama saja.
b. Populasi yang bersifat heterogen, yakni populasi yang unsur-unsurnya
memiliki sifat atau keadaan yang bervariasi, sehingga perlu di tetapkan batasbatasnya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Penelitian di bidang sosial
yang objeknya manusia atau gejala-gejala dalam kehidupan manusia
menghadapi populasi yang heterogen.
2.2 Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi, sebagai contoh (monster) yang
diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu. Masalah sampel dalam suatu
penelitian timbul disebabkan hal berikut ini :
a. Penelitian bermaksud mereduksi objek penelitian sebagai akibat dari besarnya
jumlah populasi sehingga harus meneliti sebagian saja dari populasi.

b. Penelitian

bermaksud

mengadakan

generalisasi

dari

hasil

hasil

kepenelitiannya, dalam arti menegakkan kesimpulan kesimpulan kepada


objek, gejala atau kejadian yang lebih luas.
Adapun alasan-alasan penelitian dilakukan dengan mempergunakan sampel
beikut ini
a. Ukuran populasi
Dalam hal populasi tak terbatas (tak terhingga) beruppa parameter yang
jumlahnya tidak diketahui dengan pasti, pada dasarnya bersifat konseptual.
Karena itu sama sekali tidak mungkin mengumpulkan data dari populasi
seperti itu.demikian juga dalam populasi terbatas (terhingga) yang jumlahnya
sangat besar ,tidak praktis untuk mengumpulkan data dari populasi 50 juta
murid sekolah dasar yang tersebar diseluruh pelosok Indonesia misalnya.
b. Masalah biaya
Besar-kecilnya biaya tergantung juga dari banyak sedikitnya objek yang
diselidiki. Semakin besar jumlah objek, maka semakin besar biaya yang
diperlukan, lebih lebih bila objek itu tersebar diwilayah yang cukup luas.
Oleh karena itu, sampling ialah satu cara untuk mengurangi biaya.
c. Masalah waktu
Penelitian sampel selalu memerlukan waktu yang lebih sedikit daripada
penelitian populasi. Sehubungan dengan hal itu, apabila waktu yang tersedia
terbatas, dan kesimpulan diinginkan dengan segera, maka penelitian sampel,
dalam hal ini, lebih cepat.
d. Percobaan yang sifatnya merusak
Banyak penelitian yang tidak dapat dilakukan pada seluruh populasi karena
dapat merusak atau merugikan. Misalnya, tidak mungkin mengeluarkan
semua darah dari tubuh seseorang pasien yang akan dianalisis keadaan
darahnya, juga tidak mungkin mencoba seluruh neon untuk diuji kekuatannya.
Karena itu penelitian harus dilakukan hanya pada sampel.
e. Masalah ketelitian
Adalah salah satu segi yang diperlukan agar kesimpulan cukup dapat
dipertanggung jawabkan. Ketelitian ,dalam hal ini, meliputi pengumpulan,
pencatatan, dan analisis data. Penelitian terhadap populasi belum tentu

ketelitian terselengar. Boleh jadi peneliti akan menjadi bosan dlam


melaksanakan tugasnya. Untuk menghindarkan itu semua,penelitian terhadap
sampel memungkinkan ketelitian dalam suatu penelitian.
f. Masalah ekonomis
Pertanyaan yang harus selalu diajukan oleh seseorang penelitian; apakah
kegunaan dari hasil penelitian sepadan dengan biaya ,waktu, dan tenaga yang
telah dikeluarkan? Jika tidak, mengapa harus dilakukan penelitian? Dengan
kata lain penelitian sampel pada dasarnya akan lebih ekonomis daripada
penelitian populasi (sudjana, 1975:159-161); ( Hadari Nawawi,1923: 146148).
Selanjutnya, mengenai penetapan besar kecilnya sample tidaklah ada suatu
ketetapan yang mutlak, artinya tidak ada suatu ketentuan berapa persen suatu
sample harus diambil. suatu

hal yang perlu diperhatikan adalaha keadaan

homogenitas dan heterogenitas populasi. Jika keadaan populasi homogen, jumlah


sample hampir-hampir tidak menjadi persoalan, sebaliknya, jika keadaan
populasi

heterogen,

maka

pertimbanagna

pengambilan

sample

harus

memperhatikan hal :
1. Harus diselidiki kategori-kategori heterogenitas.
2. Besarnya populasi dalam tiap kategori.
Karena itu informasi tentang populasi perlu dikejar seberapa jauh dapat
diusahakan. Satu nasihat yang perlu diingat, bahwa penetapan jumlah sampel
yang kelewat banyak selalu lebih baik dari pada kurang (oversampling is always
better than undersampling). Namun demikian ada cara untuk memperoleh sample
minimal yang harus diselidiki dengan menggunakan rumus:
2
z 1/ 2 a
b
keterangan :
n
= jumlah sampel

= sama dengan atau lebih besar


P
= proporsi populasi persentase kelompok pertama
q
= proporsi sisa di dalam populasi
z1/2
= derajat koefisien konfidensi pada 99% 95 %

n pq

= persentase perkiraan kemungkinan membuat kekeliruan dalam


menentukan sampel.

Contoh :
Jika diketahui jumlah populasi guru SMA lulusan D3 di jateng adalah
400.000 orang. Diantara mereka yang tinggal didaerah pedesaan (luar kota)
sebanyak 50.000 orang. Bebrapa sampel yang perlu diselidki dalam rangka
mengunggkapkan hambatan penanaman disiplin disekolah di wilayah masingmasing.
Perhitungan:
50.000
F=
400.000 X 100 % = 12,5 % atau P = 0,125
q
Z 1/2
B

= 1,00 -0,125 = 0,875


= 1,96 (pada derajat konfidensi 99% atau 0,05)
= 5 % atau 0,05

Dimasukkan ke dalam rumus sebagai berikut :


n 0,125 X 0,875

1,96
0,05

n < 168,05 dibulatkan 169 orang.


Jika penenelitian kurang puas dengan jumlah sampel minimal itu, maka
dapat dilakukan peningkatan jumlah sampel dengan meningkatkan jumlah
sampel dengan sebesar 2,58. Demikian juga ukuran sampel dapat diperbesar lagi
dengan memperkecil perkiraan persentase kemungkinaan membuat kesalahan
dalam penarikan sampel, misalnya sebesar 2% atau b = 0,02. Dari contoh itu,
maka sample minimum menjadi :
n 0,125 X 0,875

2,58

0,02

n > 1.740,21 dibulatkan 1.740 orang.


Apabila proporsi di dalam populasi yang tersedia tidak diketahui maka
variasi p dan q dapat mengganti dengan harga maksimum, yakni (0,50 X 0,50 =
0,25) uku
Ran sampel yang harus diselidiki :
2

n 0,25

1,96
0,05

n 384.
Sample yang baik adalah sampel yang memiliki populasi atau yang
representatif, artinya yang menggambarkan keadaan populasi atau mencerminkan
populasi secara maksimal walaupun mewakili sample bukan merupakan duplikat
dari populasi.
Pada umumnya masalah sampling timbul apabila penelitian bermaksud
untuk :
1. Mereduksi objek penyelidikannya. Karena suatu alasan kerapkali seorang
penyelidik tidak menyelidiki semua objek, semua gejala, semua kejadian atau
peristiwa, melainkan hanya sebagian saja dari objek gejala atau kejadian yang
dimaksudkan.
2. Ingin mengadakan

generalisasi

dari

hasil-hasil,

penyelidikannya.

Mengadakan generalisasi berarti mengesahkan kesimpulan-kesimpulan


kepada objek-objek, gejala-gejala, dan kejadian-kejadian yang diselidiki.
Mahasiswa yang baru belajr metodelogi penelitian di tingkat awal harus
menyadari betul bahwa sample bukan merupakan duplikat populasi ;karena itu ,
ia tidak boleh berprestensi bahwa suatu sample jika telah ditetapkan dengan caracara tertentu dapat menjadi cermin yang sempurna bagi populasi artinya ia tidak
boleh meyakini bahwa sample

tidak mengalami kesesatan walaupun

pengambilannya sudah menggunakan metode-metode statistik tertentu.


Petunjuk petunjuk untuk mengambil sampel :
1. Daerah generalisasi
Yang pentinga disini adalah menentukan dahulu luas populasinnya sebagai
daerah generalisasi, selanjutnya barulah menentukan sampelnya sebagai
daerah penelitiannya. Di sampling itu, yang penting adalah : kalau yang
10

diselidiki hanya satu kelas saja, jangan diperluas sampai kelas-kelas lainnya
apalagi menyimpulkan untuk sekolah-sekolah lain.
2. Pengesahan sifat-sifat populasi dan ketegasan batas-batasnya
Bila luas populasinya telah ditetapkan , harus segera diikuti penegasan tentang
sifat-sifat populasinnya. Penegasan ini sangat penting bila menginginkan
adanya valliditas dan reabilitas bagi penelitiannya. Oleh sebab itu, haruslah
ditentukan terlebih dahulu luas dan sifat-sifat populasi, dan memberikan
batas-batas yang tegas, kemudian menetapkan sampelnya. Jangan terjadi
kebalikannya,yaitu menetapkan populasilah yang lebih dahulu baru kemudian
sampelnya.
3. Sumber-sumber informasi tentang populasi
Untuk mengetahui ciri-ciri populasinya secara terperinci dapat diperoleh
melalui bermacam-macam sumber informasi tentang populasi tersebut.
Misalnya, sensus penduduk dokumen-dokumen yang disusun oleh instansiinstansi dan organisasi-organisasi, seperti pengadilan, kepolisian, kantor P &
K, kantor kelurahan, dan sebagainnya.
Meskipun demikia, haruslah diteliti kembali apakah informasi tersebut telah
menunjukkan validitasnya (kesahihan) . Hal itu perlu karena jangan sampai
terjadi data tahun 1954 masih dipakai sebagia sumber untuk tahun 1965,
misalnya bila tahun 1954 tercatat jumlah anak rata-rata dalam seiap keluarga 4
orang, maka pada tahun 1965 jumlah anak rata-rata mungkin tidak seperti itu
(4 orang).
4. Menetapkan besar kecilnya sampel
Mengenai berapa besar kecilnya sampel yang harus diambil untuk sebuah
penelitian, memang tidak ada ketentuan yang pasti.
5. Menetapkan teknik sampling
Dalam masalah sampel , ada yang disebut biased sampel , yaitu sampel yang
tidak mewakili populasi atau disebut juga dengan sample yang menyeleweng.
Pengambilan sampel yang menyeleweng disebut : biased sampling. Biased
sampling adalah pengambilan sampel yang tidak dari seluruh populasi, tetapi
hanya dari salah satu golongan populasi saja, tetapi generalisasinya dikenakan
kepada seluruh populasi. Contoh : misalnya mengadakan penelitian tentang
11

penghasilan rata-rata orang indonesia hanya diambil sample yang kaya raya
saja, ataupun hanya yang melarst ? miskin saja. Dengan sendiriny akan
mengakibatkan adaanya kesimpulan yang menyeleweng atau disebut biased
conclusion.
2.3 Teknik Sampling
Teknik

sampling

merupakan

teknik

pengambilan

sampel.

Untuk

menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai


teknik sampling yang digunakan. Dalam penelitian kuantitatif kualitatif dan r&d,
Prof. Dr. Sugiyono (2010) menyatakan Secara skematis, teknik sampling pada
dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu Probability Sampling dan Non
probability

Sampling. Probability

Sampling meliputi: simple

random,

proportionate stratified random, disproportionate stratifed random, dan area


random. Nonprobability sampling meliputi:sampling sistematis, sampling kuota,
sampling

aksidental,

purposive

sampling,

sampling

jenuh,dan snowball

sampling.
1) Probability sampling
Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan
peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi
anggota sampel. Macam-macam teknik ini meliputi:
1. Simple random sampling
Simple random sampling merupakan pengambilan anggota sampel dari
populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam
populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap
homogen.
2. Proportionate stratified random sampling

12

Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak


homogen dan berstrata secara proposional. Suatu organisasi yang mempunyai
pegawai dari latar belakang pendidikan yang berstrata, maka populasi
pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulus S1=45 orang,
S2=30 orang, SMK= 800 orang, SMA= 400 orang, SMP= 300 orang, SD=
300 orang. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan
tersebut.
3. Disproportionate stratified random sampling
Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi
berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari unit kerja tertentu
mempunyai, 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang S1, 800 orang
SMU, 700 orang SMP. Maka 3 orang lulusan S3 dan 4 orang lulusan S2
tersebut diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok ini terlalu
kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SMU, dan SMP.
4. Cluster sampling ( Area sampling)
Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang
akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu
negara, provinsi, atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang
akan jadi sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah
populasi yang telah ditetapkan.
Misalnya di Indonesia terdapat 30 provinsi, dan sampelnya akan
menggunakan 15 provinsi, maka pengambilan 15 privinsi itu dilakukan secara
random,. Tetapi perlu diingat, karena provinsi-provinsi di Indonesia itu berstrata
(tidak sama) maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random
sampling. Provinsi di Indonesia ada yang penduduknya padat ada yang tidak, ada
yang mempunyai hutan banyak ada yang tidak, ada yang kaya bahan tambang
ada yang tidak. Karakter semacam ini perlu diperhatikan sehingga pengambilan
sampel menurut strata populasi itu dapat ditetapkan.
13

Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap
pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan orangorang yang ada pada daerahn itu ceara sampling juga
2) Nonprobability sampling
Nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak
memberi peluang/kesempatan sam bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk
dipilih menjadi sampel.
1. Sampling sistematis
Sampling sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan
dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota
populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota tersebut diberi
nomor urut, yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 100. Pengambilan sampel
dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, atau kelipatan dari bilangan
tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan 5, untuk itu maka yang diambil
sebagai sampel adalah nomor1, 5, 10, 15, 20, dan seterusnya sampai 100.
2. Sampling kuota
Sampling kuota adalah teknik menentukan sampel dari populasi yang
mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Sebagai
contoh, akan melakukan penelitian tentang pendapat masyarakat terhadap
pelayanan masyarakat dalam urusan Ijin Mendirikan Bangunan. Jumlah
sampel yang ditentukan 500 orang. Kalau pengumpulan data belum
didasarkan pada 500 orang tersebut, maka penelitian dipandang belum selesai,
karena belum memenuhi kuota yang ditentukan.
Bila pengumpulan data dilakukan secara kelompok yang terdiri atas 5 orang
pengumpul data, maka setiap anggota kelompok harus dapat menghubungi
100 orang anggota sampel, atau 5 orang tersebut harus dapat mencari data dari
500 orang anggota sampel tersebut.
3. Sampling ansidental
14

Sampling insidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan,


yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti,
hasil datanya dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang
kebetulan yang ditemui itu cocok sebagai sumber data.
4. Sampling purposive
Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan
tertentu. Misalnya akan melekukan penelitian tentang kualitas makanan, maka
sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan. Atau penelitian
tentang kondisi politik di suatu daerah, maka sampel sumber datanya adalah
orang yang ahli politik. Sampel ini lebih cocok digunakan untuk penelitian
kualitatif atau penelitian-penelitian yang tidak melakukan generalisasi.
5. Sampling jenuh
Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi
digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi
relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat
generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Istilah lain sampel jenuh
adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.
6. Snowball sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula
jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding
yang lama-lama menjadi besar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama
dipilih satu atau dua orang, tetapi karena dengan dua orang ini belum merasa
lengkap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang
dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua
orang sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin
banyak.

15

Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan sampel purposive dan


snowball, misalnya akan meneliti siapa provokator kerusuhan, maka akan cocok
menggunakan purposive dan snowball.
2.4 Menentukan ukuran sampel
Jumlah anggota sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah
sampel yang diharapkan 100% yang mewakili populasi adalah sama dengan
jumlah populasi itu sendiri. Jadi bila jumlah populasi 1000 dan hasil penelitan itu
akan diberlakukan untuk 1000 orang tersebut tanpa ada kesalahan, maka jumlah
sampel yang diambil sama dengan jumlah populasi tersebut yaitu 1000 orang.
Makin besar jumlah sampel mendekati populasi, maka peluang kesalahan
generalisasi semakin kecil dan sebaliknya semakin kecil jumlah sampel menjauhi
populasi, maka semakin besar kesalahan generalisasi (diberlakukan umum).
Berapa jumlah anggota sampel yang paling tepat digunakan dalam
penelitian? Jawabannya tergantung pada tingkat ketelitian atau kesalahan yang
dikehendaki. Tingkat ketelitian/kepercayaan yang dikehendaki sering tergantung
pada sumber dana, waktu dan tenaga yang tersedia. Makin besar tingkat
kesalahan maka akan semakin kecil jumlah sampel yang diperlukan, dan
sebaliknya, makin kecil tingkat kesalahan, maka akan semakin besar jumlah
anggota sampel yang diperlukan sebagai sumber dana.
Berikut ini rumus menghitung ukuran sampel dari populasi yang jumlahnya
telah diketahui:

s=

2 . N . P .Q
d 2(N1)+ 2 . P . Q

2 dengan dk 1 = taraf kesalahan bisa 1%, 5%, 10%.

16

P = Q = 0,5
d = 0,05
s = jumlah sampel
Cara menentukan ukuran sempel bila sempel tidak berdistribusi normal,
misalnya populasi homogen maka cara-cara tersebut tidak perlu dipakai.
Misalnya populasinya berbeda, katakan logam dimana susunan molekulnya
homogen, maka jumlah sempel yang diperlukan 1% saja sudah bisa mewakili.
Sebenarnya terdapat berbagai rumus untuk menghitung ukuran sempel,
misalnya dari Cochen, Cohen dll. Bila keduanya digunakan untuk menghitung
ukuran sempel, terdapat sedikit perbedaan jumplahnya. Lalu yang dipakai yang
mana? Sebaiknya yang dipakai adalah jumlah ukuran sempel yang paling besar.
2.5 Contoh Menentukan Ukuran Sempel
Akan dilakukan penelitian untuk mengetahui tanggapan kelompok
masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah tertentu.
Kelompok masyarakat itu terdiri 1000 orang, yang dapat dikelompokan
berdasarkan jenjang pendidikan, yaitu lulusan S1= 50, Sarjana Muda = 300,
SMK = 500, SMP = 100, SD = 50 (populasi berstrata).
Bila jumlah populasi = 1000, kesalahan 5% , maka jumlah sempelnya =
258, Karena populasi berstrata, maka sampelnya jga berstrata. Stratanya
ditentukan menurut jenjang pendidikan. Dengan demikian masing-masing
sempel untuk tingkat pendidikan harus proporsional sesuai dengan populasi.
Berdasarkan perhitungan dengan cara berikut ini jumlah sempel untuk kelompok
S1 = 14, Sarjana Muda (SM) = 83, SMK = 139, SMP = 14, dan SD = 28.

S1

50/1000

258

13,90 =

12,9

SM

300/1000

258

83,40 =

77,4

17

SMK =

500/1000

258

139,0 =

129

SMP

100/1000

258

27,8

25,8

SD

50/1000

258

13,91 =

12,9

258

Jumlah

Jadi jumlah sempelnya = 12,9 + 77,4 +129 + 25,8 + 12,9 + = 258. Jumlah
yang pecahan bisa dibulatkan ke atas, sehingga jumlah sempel menjadi 13 + 78 +
129 + 26 + 13 = 259.
Pada perhitungan yang menghasilkan pecahaan (terdapat koma) sebaiknya
dibulatkan ke atas sehingga jumlah sempelnya lebih 259. Hal ini lebih aman
daripada kurang dari 258.
Roscoe

dalam

buku Research

Methonds

For

Business (1982:253)

memberikan saran-saran tentang ukuran sempel untuk penelitian seperti berikut


ini:
a. Ukuran sempel yang layak dalam penelitian adalah antara 30 sampai dengan
500.
b. Bila sempel dibagi dalam katagori ( misalnya: pria-wanita, pegawai negeriswasta dan lain-lain) maka jumlah anggota sempel setiap katagori minimal 30.
c. Bila dalam penelitian akan melakukan analisis dengan Multivariate (korelasi
atau regresi ganda misalnya). Maka jumlah anggota sempel minimal 10 kali
dari jumlah variabel yang diteliti. Misalnya variabel penelitiaanya ada 5
(independen + dependen), maka jumlah anggota sempel = 10 X 5 = 50.
d. Untuk penelitian eksperimen yang sederhana, yang mengunakan kelompok
ekspetrimen dan kelompok kontrol, maka jumlah anggota sempel masingmasing antara 10 s/d 20.
2.6 Cara Mengambil Anggota Sempel
Probability sampling adalah teknik sempling yang memberi peluang sama
kepada anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sempel. Cara demikian

18

sering disebut dengan random sampling, atau cara pengambilan sampel secara
acak.
Pengambilan sempel secara acak random/acak dapat dilakukan dengan
bilangan random, komputer, maupun dengan undian. Bila pengambilan dilakukan
dengan undian, maka setiap anggota populasi diberi nomer terlebih dahulu,
sesuai dengan jumlah anggota populasi.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab II, dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang
lingkup dan waktu yang kita tentukan.
2. Jenis-jenis populasi: populasi umum dan populasi target
3. Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi, sebagai contoh (monster)
yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu.
4. Adapun alasan penelitian menggunakan sampel adalah:
a. Ukuran populasi
b. Masalah biaya
c. Masalah waktu

19

d. Percobaan yang sifatnya merusak


e. Masalah ketelitian
f. Masalah ekonomis
5. Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya
sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya,
dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh
sampel yang representatif.
6. Teknik-teknik yang di gunakan dalam pengambilan sampel
a. Probability/Random Sampling
b. Nonprobability/Nonrandom Sampling atau Sampel Tidak Acak

DAFTAR PUSTAKA
Haryono. 1998. Metode penelitian pendidikan II. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mahmud. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.
Margono, S. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT. RINEKA CIPTA.
Sugiyono Prof. Dr., metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kulaitatif
dan R & D, Bandung : Cv. Alfa Beta, 2012

Sulistyo, Basuki. Metode Penelitian, Jakarta : Penaku, 2010

20