Anda di halaman 1dari 5

REVIEW

Kandungan Anti-Kanker dari Pemurnian C2 Tinta Cumi-Cumi


(Sepia pharaonis) pada Kanker Serviks
Dosen:
Ir. Sri Dayuti
NIP. 19591127 198602 2 001

Oleh:
Dwi Wulan Sari

135080300111010

Siti Sofiyah

135080300111016

TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014
Kandungan Anti-Kanker dari Pemurnian C2 Tinta Cumi-Cumi

(Sepia pharaonis) pada Kanker Serviks

Cumi-cumi berasal dari kelas Cephalopoda (filum molusca) yang merupakan salah satu sumber
daya laut yang besar. Cumi-cumi (Sepia sp.) merupakan salah satu komoditas
hasil perairan yang mengandung senyawa kimia, nilai gizi dan nilai tambah
yang berpotensi tinggi untuk dimanfaatkan.. Biasanya cumi-cumi tersebut di
eksploitasi terutama untuk bahan ekspor. Pada cumi-cumi terdapat kantong tinta yang sering kali
tidak di gunakan dan merupakan salah satu limbah yang besar pada pengolahan produk cumicumi Tinta yang dikeluarkan oleh cumi-cumi biasanya digunakan untuk mengelabuhi musuh atau
sebagai mekanisme pertahanan diri ketika diserang musuh atau predator. Cairan hitam pada tinta
cumi-cumi umumnya berasal dari mucus dan melanin yaitu pigmen hitam yang memberikan
warna gelap pada kulit. Melanin secara alami terdapat dalam bentuk melanoprotein yang
mengandung melanin 90%, protein 5,8%. Melanin ini juga mengikat protein melalui asam amino
yang mengandung sulfur, yaitu sistein. Selain mucus dan melanin, tinta cumi-cumi juga bersifat
alkaloid dan mengandung sebagian kecil asam amino seperti taurin, asam aspartate, asam
glutamate, alanine, dan leusin.
Pengujian kandungan senyawa yang dilakukan dapat menentukan nilai
guna suatu bahan baku Upaya yang dilakukan saat ini adalah bagaimana memanfaatkan
tinta cumi-cumi yang tidak digunakan, untuk memproduksi bahan bioaktif seperti agen antibakteri, anti-kanker dan anti-virus.
Penelitian anti-kanker pada tinta cumi-cumi masih relative sedikit yang dikarenakan
kurangnya informasi tentang pentingnya tinta cumi-cumi sebagai anti-kanker, salah satunya
untuk kanker serviks. Kandungan dari tinta cumi-cumi ternyata dapat di jadikan sebagai obat
homeopati (obat yang bersumber dari hewan).
Penulis meneliti tentang kandungan yang terdapat dalam tinta cumi-cumi (Sepia
pharaonis) untuk bisa di jadikan sebagai obat penyakit kanker serviks. Kanker serviks atau
disebut juga kanker rahim merupakan jenis penyakit kanker nomor tiga di dunia. Bahkan di
Indonesia setiap satu jam seorang wanita meninggal dunia dikarenakan kanker serviks ini.
Perkembangan kanker jenis ini sangat sulit dideteksi, oleh karena itu Kanker servik ini disebut

juga sebagai silent killer. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dilakukan sebuah penelitian
melalui pemurnian pecahan (peptidoglikan) dari ekstrak tinta cumi-cumi untuk sel kanker serviks
pada manusia melalui sel Hela dan Caski. Jenis cumi-cumi yang digunakan dalam penelitian ini
yaitu Sepia pharaonis.
Dilaporkan bahwa tinta dari Cephalopoda dapat menginduksi apoptosis. Hal ini di
buktikan bahwa dengan melakukan pemurnian peptidoglikan pecahan C2 dari tinta cumi-cumi
(Sepia pharaonis) dapat menghambat pertumbuhan sel kanker serviks (Hela dan Caski).
Peptidoglikan yang dipecah oleh C2 dapat menginduksi kematian sel dan perubahan morfologi
dalam sel kanker serviks manusia. Karakteristik morfologi yang muncul pada penelitian ini
adalah bahwa control sel hela konfluen dan sehat dengan beberapa sel apoptosis. Sel HeLa yang
diobati dengan pemurnian peptidoglikan fraksi C2 (50 mikro gram per ml) selama 24 jam
menunjukkan sitotoksisitas sedang dan karakteristik morfologi berubah. Tapi sel yang di obati
dengan perlakuan 150 mikro gram per ml menunjukan sitotoksin yang tinggi dengan mengubah
karakteristik tubuh serta apoptosis. Selain pada sel Hela, karakteristik morfologi yang terjadi
pada sel caski juga sama yaitu bahwa control sel caski konfluen dan sehat dengan beberapa
apoptosis sel. Sel caski yang di obati dengan hasil pemurnian peptidoglikan pecahan C2 (50
mikrogram per ml) selama 24 jam menunjukan sitotoksin sedang dan karakteristik morfologi
brubah. Tapi sel yang di obati dengan perlakuan 2000 mikro gram per ml menunjukan sitotoksin
yang tinggi dengan mengubah karakteristik tubuh serta apoptosis. Hasil tersebut menunjukkan
bahwa dimurnikannya peptidoglikan fraksi C2 dari ekstrak tinta cumi-cumi (Sepia pharaonis)
dapat mengerahkan efek antiproliferatif pada sel kanker serviks manusia (HeLa dan Caski)
dalam 24 jam. Sitotoksin yang tinggi akan menyebabkan perubahan karakteristik morfologi dan
apoptosis.
Penulis juga melaporkan bahwa pecahan peptidoglikan C2 dapat menghambat poliferasi
pada sel Hela dan Caski. Sel HeLa lebih sensitif terhadap obat di atas dibandingkan dengan sel
Caski. Jadi obat ini menginduksi apoptosis yang selanjutnya dikonfirmasikan dengan
menggunakan sel HeLa. Obat tersebut menyebabkan perubahan morfologi dan kondensasi nuklir
dalam sel HeLa. Sel yang mengalami apoptosis menunjukkan kondensasi nuklir.
Meskipun, tinta dan jaringan ekstrak cumi-cumi menunjukkan aktivitas antibakteri dan
antivirus , tidak banyak dalam studi vitro berfokus pada aktivitas antikanker dari dimurnikannya

peptidoglikan tinta cumi-cumi pada lini sel kanker manusia. Baru-baru ini telah muncul
penelitian yang menunjukkan bahwa ekstrak metanol cumi, Sepia brevimana dan Sepiella
inermis memiliki aktivitas antikanker terhadap sel-sel ascites Limfoma Dalton bantalan tikus.
Analisis kimia dari fraksi C2 mengungkapkan bahwa peptidoglikan terdiri dari gula
(84%), peptida (5.6%) dan pigmen (10%) (karotenoid). Analisis HPLC juga mengungkapkan
bahwa bagian peptida terdiri dari lima asam amino utama yaitu , serin, treonin, asam glutamate,
asam aspartat dan alanin. Hasil tersebut sama dengan laporan sebelumnya yang menunjukkan
bahwa bagian protein dari tinta cumi-cumi, Ommastrephes bartrami terdiri dari asam amino
seperti glisin, asam aspartat dan asam glutamat terdapat dalam jumlah besar dan ada juga
sejumlah belerang yang terkandung. Laporan sebelumnya juga menunjukkan bahwa (persiapan
dinding sel) peptidoglikan strukturnya sama dari Bifidobacterium infantis yang menekanan pada
pertumbuhan tumor terhadap syngenic Meth A fibrosarcoma di tikus BALB / c asam amino.
Hal ini semakin menegaskan bahwa protein terikat dengan polisakarida yang diisolasi
dari jamur telah digunakan sebagai agen terapi kekebalan dalam pengobatan kanker di Asia. Hal
ini menunjukkan bahwa peptidoglikan dari sumber yang berbeda juga memiliki efek antikanker.
Fraksi antitumor tinta argntinus Illex dipisahkan dengan kromatografi Phenyl Separose CL-4B
dalam tiga fraksi-illexin peptidoglikan, tirosinase dan gabungan dari keduanya . Fraksi ketiga
yang berisi illexin peptidoglikan dan tirosinase menunjukkan aktivitas tertinggi terhadap Metha
tumor pada tikus BALB / c, hal ini menunjukkan peran kedua komponen dalam kegiatan
antitumor dari tinta cumi-cumi.
Selain itu, penulis juga menunjukkan bahwa dalam sel kanker serviks manusia, tinta dari
Cephalopoda dapat menginduksi apoptosis. Di sini, penelitian tersebut menunjukkan bahwa
dimurnikannya peptidoglikan fraksi C2 dari cumi-cumi (Sepia pharaonis) tinta dapat
menghambat pertumbuhan sel kanker serviks (HeLa dan Caski). Ini ditunjukkan dengan adannya
aktivitas antikanker yang bergantung pada dosis yang signifikan pada sel-sel kanker serviks
secara in vitro. Jadi hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dimurnikannya peptidoglikan
fraksi C2 dapat menghambat proliferasi sel kanker serviks (HeLa dan Caski).
Penulis juga melaporkan bahwa sel-sel HeLa lebih sensitif terhadap obat di atas
dibandingkan dengan sel Caski (nilai LC50 untuk sel HeLa yang ditemukan 135 mikrogram /

ml). Jadi apoptosis inducing dari obat tersebut dikonfirmasi lebih lanjut dengan menggunakan sel
HeLa. Fraksi juga menginduksi karakter morfologi khas seperti kondensasi kromatin, membran
blebbing dan kerusakan DNA yang menunjukkan bahwa efek antiproliferatif dimurnikannya
peptidoglikan fraksi C2 dimediasi melalui apoptosis.
Hasil spenelitian tersebut dengan jelas menunjukan bahwa pada tinta cumi-cumi (Sepia
pharaonis) sangat bermanfaaat untuk pengobatan sel kanker serviks. Dengan adanya banyak
penelitian yang mengungkapkan mengenai kandungan bioaktif yang di kandung Cephalopoda,
diharapkan agar masyarakat bisa memanfaatkan tinta cumi-cumi. Dan dengan adanya penelitian
ini bisa mengurangi limbah kantong tinta cumi-cumi untuk bisa di manfaatkan menjadi obatobatan yang lain.