Anda di halaman 1dari 2

SINOPSIS TESIS

Disusun Oleh :
DWI SETIANI SUMARDIKO.,S.Kep.,Ners
HUBUNGAN DERAJAT NYERI PADA PASIEN DENGAN PENENTUAN
TRIASE BERDASARKAN EMERGENCY SEVERITY INDEX (ESI)
DI RUANG GAWAT DARURAT
Unit Gawat Darurat (UGD) merupakan salah satu pintu masuk rumah sakit karena jumlah
pengunjung dari UGD tidak dapat direncanakan dengan tepat dan kerap terjadi kepadatan pasien
yang masuk ke UGD, sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi keselamatan pasien juga dapat
mengancam privasi pasien dan membuat frustasi staf UGD (Oredsson et al. 2011). Kondsi ini
memerlukan solusi yang tepat yang disebut dengan triase.
Triase pada dasarnya adalah proses kategorisasi dimana sistem ini mulai dikembangkan
pada akhir tahun 1950an. Mace & Mayer (2008) menulis bahwa triase adalah prioritisasi pasien
berdasarkan penyakit, keparahan, prognosis, dan ketersediaan sumber daya. Namun definisi ini
lebih tepat diaplikasikan pada keadaan bencana atau korban massal. Adapun untuk
kegawatdaruratan sehari-hari istilah triase lebih tepat dikatakan sebagai metode untuk secara
cepat menilai keparahan kondisi pasien, menetapkan prioritas, dan memindahkan pasien ke
tempat yang paling tepat untuk perawatan ( Christ et al. 2010)
Sejauh ini penelusuran yang di dapat bahwa sebagian besar rumah sakit di Indonesia
masih menggunakan sistem triase klasik yaitu dengan membuat kategori cepat dengan warna
hitam, merah, kuning dan hijau yang merupakan adaptasi dari sistem triase bencana. Sistem tiga
level ini tidak cocok diaplikasikan di UGD rumah sakit modern yang mempertimbangkan
evidence-based medicine atau kedokteran berbasis bukti. Sehingga muncullah beberapa sistem
triase yang berbasis bukti yang bisa menjadi acuan salah satunya yaitu ESI (Emergency Severity
Index) dari Amerika Serikat.
Emergency Severity Index (ESI) dikembangkan sejak akhir tahun sembilan puluhan di
Amerika Serikat. Sistem ini bersandar pada perawat dengan pelatihan triase secara spesifik dan
juga sistem ini mengelompokkan pasien dalam lima level berjenjang. Pasien yang masuk
digolongkan dalam ESI1 sampai ESI5 sesuai kondisi pasien, dan sumberdaya rumah sakit yang
dibutuhkan oleh pasien (Christ et al. 2010; Mace & Mayer 2008; Gilboy et al. 2011). ESI akan
lebih mudah diterapkan di Indonesia karena tidak ada batas waktu spesifik yang ditentukan
secara ketat untuk masing-masing level. Selain itu, ESI tidak secara spesifik mempertimbangkan
diagnosis untuk penentuan level triase, dan satu hal yang menarik dari sistem ini yaitu triase ESI
mempergunakan skala nyeri 1-10, sama dengan yang secara umum dipakai di Indonesia.

Nyeri adalah suatu rasa yang tidak nyaman, baik ringan maupun berat. Menurut
International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah pengalaman perasaan emosional
yang tidak menyenangkan akibat terjadinya kerusakan aktual maupun potensial atau
menggambarkan terjadinya kerusakan. Nyeri adalah apa yang dikatakan oleh orang yang
mengalami nyeri namun definisi tersebut tidak berarti bahwa anak harus mengatakan bila dia
sakit, tetapi nyeri juga dapat diekspresikan melalui menangis, pengutraan, atau isyarat perilaku
( Mc Caffrey & Beebe, 1989 dikutip dari Betz & Sowden, 2002 ).
Secara umum pasien yang datang ke UGD sebelum ditentukan pasien tersebut masuk
dalam level berapa, perawat harus memahami terlebih dahulu kondisi atau situasi yang
memungkinkan pada penyakit-penyakit tertentu yang memiliki resiko tinggi untuk mengalami
lethargi/disorientasi, nyeri/distres dan lain-lain. Sehingga dapat ditentukan jika pasien memiliki
faktor resiko tersebut maka pasien dapat digolongkan dalam level 2. Pasien yang digolongkan
dalam level 2 jika derajat nyerinya 7/10 atau lebih tetapi tidak semua pasien dengan skor 7/10
harus diprioritaskan dalam level 2 karena hal tersebut sewaktu-waktu dapat berubah sesuai
dengan kebijakan perawat triase dalam menentukan apakah gabungan antara kondisi klinis
pasien dan tingkat nyeri pasien sudah termasuk dalam kategori ESI level 2 . Jika tidak maka
masuk dalam level 3, 4 atau 5 (Bolk, Mencl, Rijswijk, Simons, Vught, 2007).
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah yang dapat
diangkat yaitu Hubungan Derajat Nyeri pada pasien dengan penentuan triase berdasarkan ESI
(Emergency Severity Index) di ruang UGD.