Anda di halaman 1dari 16

Judul

: Dasar Dasar Ilmu Politik

Penulis : Prof. Miriam Budiardjo


Cetakan :Edisi revisi: Cetakan kelima, September 2012.
Bab 1
Sifat, Arti, dan Hubungan Ilmu Politik dengan Ilmu Pengetahuan lainnya.
Perkembangan dan Definisi Ilmu Politik
Ilmu Politik merupakan sebuah kerangka atau cabang-cabang dari ilmu ilmu
sosial lainnya yang memiliki dasar, rangka, fokus, dan ruang lingkup yang jelas.Ilmu
politik bisa dikatakan masih memiliki usia yang masih muda dikarenakan ilmu politik
baru lahir pada akhir abad ke-19. Pada tahap itu ilmu politik berkembang secara pesat
berdampingan dengan cabang-cabang ilmu sosial lainnya, seperti sosiologi, antropologi,
ekonomi, dan psikologi, dan dalam perkembangan ini mereka saling berhubungan satu
sama lain.
Perkembangan Ilmu Politik juga sudah cukup maju dari mulai lahirnya pada akhir
abad ke-19 ilmu politik diberbagai Negara belahan dunia seperti Yunani Kuno
pemikiran mengenai Negara sudah dimulai pada tahun 450 S.M., yang pada saat itu
sudah dijumpai berbagai karya-karya ahli sejarah Herodotus, atau filsuf-filsuf seperti
Plato, Aristoteles, dan sebagainya. Di Indonesia itu sendiri perkembangan seperti itu
banyak dijumpai melalui beberapa karya tulis yang membahas masalah sejarah dan
kenegaraan, seperti Negarakertagama yang ditulis pada zaman kerajaan Majapahit
sekitar abad ke-13 dan ke-15 Masehi dan Babad Tanah Jawi. Dan karya karya tersebut
semenjak adanya imprealisme maka karya tersebut terdesak oleh pemikiran-pemikiran
bangsa barat yang berada di sekitar kawasan Asia sehingga karya sastra tersebut
mengalami kemunduran.
Sedangkan di Negara-negara yang terletak di Benua Eropa Ilmu Politik seperti di
Negara Jerman, Austria, dan Prancis pada abad ke-18 dan ke-19 banyak dipengaruhi
oleh ilmu hukum dan karena itu fokus perhatiannya adalah Negara semata-mata.
Setelah perang dunia ke- 2 perkembangan ilmu politik semakin pesat lagi.Seperti di
Indonesia kemajuan tersebut ditandai oleh banyak didirikannya Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik seperti di Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia .

Pesatnya perkembangan ilmu politik sesudah Perang dunia ke-2 tersebut juga
disebabkan karena mendapatkan dorongan kuat dari beberapa badan internasional,
terutama UNESCO.(h.5-h.7)
Ilmu Politik Sebagai Ilmu Pengetahuan
Ilmu Politik memiliki syarat sebagai ilmu pengetahuan karena ilmu politik sampai
sekarang belum ditemukan hukum-hukum ilmiah seperti itu. Karena manusia makhluk
yang kreatif yang selalu menemukan hal-hal baru sebagai ide kreatifnya sampai tidak
dapat diramalkan. Dan manusia bersifat kompleks dan perilakunya tidak selalu
didasarkan atas tindakan tindakan yang rasional dan logis sebagai pertimbangannya.
Dan pada dasarnya bahwa ilmu pengetahuan adalah keseluruhan dari pengetahuan
adalah keseluruhan dari pengetahuan yang terkoordinasi mengenai pokok pemikiran
tertentu, Apabila perumusan ini dipakai sebagai patokan, maka memang ilmu politik
boleh

dinamakan

suatu

ilmu

pengetahuan.

(h.8)

Definisi Ilmu Politik


Ilmu

Politik

adalah

ilmu

yang

mempelajari

politik

atau

politics

atau

kepolitikan.Politik adalah usaha menggapai kehidupan yang baik. Dan pada umumnya
dapat dikatakan bahwa politik adalah usaha untuk menentukan peraturan-peraturan
yang dapat diterima baik oleh sebagian besar warga, untuk membawa masyarakat ke
arah kehidupan yang harmonis.
Untuk melaksanakan kebijakan kebijakan umum yang menyangkut pengaturan
dan alokasi dari sumber daya alam ,perlu dimiliki kekuasaan (power) serta wewenang (
authority).
Konsep-Konsep Pokok Politik :
1. Negara adalah suatu organisasi dalam suatu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi
yang sah dan ditaati oleh rakyatnya.
2. Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau suatu kelompok untuk memengaruhi
perilaku seseorang atau suatu kelompok untuk memengaruhi perilaku seseorang atau
kelompok lain, sesuai dengan keinginan para pelaku.
3. Keputusan adalah hasil dari membuat pilihan diantara beberapa alternatif, sedangkan
istilah pengambilan keputusan menujuk pada proses yang terjadi sampai keputusan itu
tercapai.

4.

Kebijakan Umum adalah suatu kumpulan keputusan yang diambil oleh seseorang
pelaku atau kelompok politik, dalam usaha memilih tujuan dan cara untuk mencapai
tujuan itu.

5.

Pembagian atau Alokasi ialah pembagian dan penjatahan nilai-nilai dalam


masyarakat.(h.13-h.22)
Hubungan Ilmu Politik dengan Ilmu Pengetahuan Lain
Ilmu Politik sangat erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan yang lainnya yang
pada khususnya berbau ilmu sosial seperti Ilmu Sejarah, Filsafat, Sosiologi, Antropologi,
Ilmu ekonomi, Psikologi Sosial,Geografi,Ilmu Hukum (h.25-h.38)
Bab 2
Konsep-Konsep Politik
Teori Politik
Teori adalah generalisasi yang abstrak mengenal beberapa fenomena.Dalam
menyusun generalisasi, teori selalu memakai dengan konsep-konsep.Teori Politik
adalah bahasan dan generalisasi dari fenomena yang bersifat politik. Dengan kata lain,
teori politik adalah bahasan dan renungan atas tujuan dari kegiatan politik, cara
mencapai tujuan itu, kemungkinan kemungkinan dan kebutuhan kebutuhan yang
akan ditimbulkan oleh situasi politik tertentu dan kewajiban kewajiban yang
diakibatkan oleh tujuan politik itu. Ada dua macam teori dalam teori politik yang
bersifat mutlak, yang pertama teori yang memiliki dasar moral atau bersifat akhlak dan
yang menentukan norma-norma untuk perilaku politik teori tersebut seperti contohnya
dibagi menjadi 3 yaitu filsafat politik, teori politik sistematis, ideology politik. Dan teori
yang kedua teori yang menggambarkan dan membahas fenomena dan fakta-fakta
politik dengan tidak mempersoalkan norma-norma atau nilai.(h.43-h.45)
Masyarakat
Masyarakat

adalah

keseluruhan

antara

hubungan-hubungan

antar

manusia.Biasanya anggota-anggota masyarakat menghuni suatu wilayah geografis yang


mempunyai kebudayaan-kebudayaan dan lembaga-lembaga yang kira-kira sama.(h.46)
Negara
Negara merupakan integrasi dari kekuasaan politik, Negara

adalah organisasi

pokok dari kekuasaan politik Negara merupakan alat dari masyarakat yang mempunyai
kekuasaan untuk mengatur hubungan-hubungan manusia dalam masyarakat dan

menertibkan gejala-gejala kekuasaan dalam masyarakat. Negara memiliki sifat


memaksa, memonopoli dan mencakup semua.Unsur- unsur Negara terdiri dari wilayah,
penduduk,pemerintah dan kedaulatan.Tujuan Negara tergantung kepada Ideologi, citacita dan undang-undang Negara masing-masing, Indonesia tujuan negaranya terdapat
dalam pembukaan UUD 1945.(h.47-h.54)

Bab 3
Berbagai Pendekatan Dalam Ilmu Politik
Pendekatan
Pendekatan Legal/Institusional
Pendekatan legal/institusional, yang sering dinamakan pendekatan tradisional, mulai
berkembang abad 19 pada masa sebelum Perang Dunia II. Dalam pendekataan ini
negara menjadi fokus pokok, terutama segi konstitusional dan yuridisnya.
Pendekatan Perilaku
Pendekatan perilaku timbul dan mulai berkembang di amerika pada tahun 1950-an
seusai Perang Dunia II. Adapun sebab-sebab kemunculannya adalah seabgai berikut.
Pertama, sifat deskriptif dari ilmu politik dianggap tidak memuaskan, karena tidak
realistis dan sangat berbeda dengan kenyataan sehari-hari. Kedua, ada kekhawatiran
bahwa, jika ilmu politik tidak maju dengan pesat, ia akan ketinggalan dibanding dengan
ilmu-ilmu lainnya, seperti sosiologi dengan tokohnya Max Weber (1864-1920) dan
Talcott Parsons (1902-1979), antropologi, dan psikologi.Ketiga, di kalangan pemerintah
Amerika telah muncul keraguan mengenai kemampuan para sarjana ilmu politik untuk
menerangkan fenomena politik.
Teori Ketergantungan ( Dependency Theory )
Kalangan lain yang juga berada dalam rangka teori-teori kiri, yang kemudian dikenal
sebagai Teori Ketergantungan, adalah kelompok yang mengkhususkan penelitiannya
pada hubungan antara negara Dunia Pertama dan Dunia Ketiga.
Pendekatan Pilihan Rasional ( Rational Choice)
Pendekatan ini muncul dan berkembang belakangan sesudah pertentangan antara
pendekatan-pendekatan yang dibicarakan di atas mencapai semacam konsensus yang
menunjukkan adanya pluralitas dalam bermacam-macam pandangan. Dalam ilmu
politik pada umumnya, dikenal nama Pendekatan Pilihan Rasional. Pengikut

Pendekatan ini menimbulkan kejutan karena mencanangkan bahwa mereka telah


meningkatkan ilmu politik menjadi suatu ilmu yang benar-benar science.
Pendekatan Institusionalisme Baru
Institusionalisme baru ( New Institutionalism ) berbeda dengan pendekataanpendekataan yang diuraikan sebelumnya. Ia lebih merupakan suatu visi yang meliputi
beberapa pendekatan lain, bahkan merupakan suatu visi yang meliputi beberapa
pendekatan lain, bahkan beberapa bidang ilmu pengetahuan lain seperti sosiologi dan
ekonomi. Mengapa disebut institusionalisme baru? Oleh karena itu ia merupakan
penyimpangan dari institusionalisme lama. Seperti telah diuraikan di atas,
institusionalisme lama mengupas lembaga-lembaga kenegaraan (aparatur negara)
seperti apa adanya secara statis. Berbeda dengan itu, institusionalisme baru melihat
institusi negara sebagai hal yang dapat diperbaiki ke arah suatu tujuan tertentu, seperti
misalnya membangun masyarakat yang lebih makmur.
Bab 4
Demokrasi
Kita melihat gejala bahwa secara formal demokrasi merupakan dasar dari
kebanyakan Negara di dunia, Demokrasi yang dianut di Indonesia adalah demokrasi
berdasarkan pancasila , masih dalam tahap perkembangan dan mengenai sifat dan ciri
cirinya terdapat pelbagai tafsiran serta pandangan.(h.105)
Demokrasi Konstitusional
Ciri khas dari demokrasi konstitusional ialah gagasan bahwa pemerintah yang
demokratis adalah pemerintah yang tak terbatas kekuasaanya dan tidak dibenarkan
bertindak sewenang-wenang terhadap warga Negaranya. (h.107)
Sebagai akibat dari keinginan untuk menyelennggarakan hak hak politik itu secara
efektif timbullah gagasan gagasan bahwa secara cara yang terbaik untuk membatasi
kekuasaan pemerintah yaitu dengan suatu konstitusi. Konstitusi menjamin hak-hak
politik dan menyelenggarakan pembagian kekuasaan Negara sehingga kekuasaan
eksekutif diimbangi oleh kekuasaan parlemen dan lembaga-lembaga hukum. (h.112)
Masa-masa demokrasi di Indonesia

telah melewati fase-fase yang merupakan

berbagai jenis demokrasi yang pernah diterapkan di Indonesia antaralain

masa

Republik Indonesia 1 (1945-1959) yaitu masa demokrasi konstitusional yang


diterapkan , masa Republik Indonesia 2 (1959-1965) merupakan masa demokrasi

terpimpinnya yang diterapkan Presiden Soekarno dan setelah itu lahir Masa demokrasi
Pancasila (1965-1998) pada era pemerintahan rezim Orde Baru yaitu Presiden
Soeharto dan hingga saat ini pada era Reformasi

demokrasi Pancasila terus

dikembangkan sesuai dengan UUD 1945 dan kultur budaya Indonesia.(h.127-h.135)

Bab 5
Komunisme, Demokrasi menurut Terminologi Komunisme, dan Perkembangan
Post Komunisme
Terjadi karena banyak ketimpangan ketimpangan sosial dalam kehidupan
bermasyarakat oleh Karena itu Marx ingin mempersamakan derajat pada setiap
golongan masyarakat dalam ajaran Marxisme yang lebih mengarah kepada komunisme ,
perkembangan teori ini sangat berkembang secara pesat hingga berkembang pula
Marxisme-Leninisme di Uni Soviet jika Marx mengedepankan kepada kaum buruh
sedangkan Lenin megedepankan kaum petani yang memimpin para kaum proletar yang
ada untuk bersaing dengan kaum kapitalis atau borjuis. Namun, keduanya tidak
memperselisihkan hal tersebut karena mereka ingin ideologi komunisme tetap
dijalankan. (h.139-h.146)
Runtuhnya Komunisme karena banyak Negara Negara yang masyarakatnya tidak
menyukai paham Komunis karena mereka sudah dapat berpikir dan bertindak secara
rasional dan menggunakan logika dan mereka juga menginginkan sebagian besar
kebebasan dalam sebuah Negara yang teratur oleh karena itu dengan runtuhnya Uni
Soviet memberikan dampak yang buruk bagi perkembangan paham paham komunisme
di berbagai belahan dunia untuk meninggalkan ajaran-ajaran komunisme yang mereka
pernah terapkan ,. Tetapi, hingga saat ini masih menerapkan komunisme tersebut
antara lain Negara Rusia yang dahulu bekas Uni Soviet tetap memberlakukannya dan
China hingga Korea Utara.(h.151-h.165)
Bab 6
Undang-Undang Dasar (UUD)

Undang undang sering kita biasakan dalam istilah konstitusi dalam bahasa Inggris
constitution yang berartikan menjadi Undang-Undang Dasar (UUD). UUD tidak hanya
tertulis namun juga ada yang tidak tertulis . Sifat dan fungsi UUD merupakan suatu
perangkat peraturan yang menentukan kekuasaan dan tanggung jawab dari berbagai
alat kenegaraan. UUD juga menentukan batas-batas berbagai pusat kekuasaan itu dan
memaparkan hubungan-hubungan diantara mereka. (h.169-h.170)
Konstutisionalisme
UUD sebenarnya tidak dapat dilihat lepas dari konsep konstitusionalisme, suatu
konsep yang telah berkembang sebelum UUD pertama dirumuskan. Ide pokok dari
konstitusionalisme adalah bahwa pemerintah perlu dibatasi kekuasaanya, agar
penyelenggaraanya tidak sewenang-wenang. (h.171)

Ciri-Ciri Undang-Undang Dasar


Walaupun UUD satu Negara dengan Negara lain berbeda tetapi UUD memiliki ciriciri yang beberapa sama , yaitu biasanya memuat ketentuan-ketentuan mengenai soalsoal seperti Organisasi Negara, Hak Asasi Manusia (HAM), Prosedur mengubah UUD
(Amandemen) dan adakalanya memuat larangan untuk mengubah sifat tertentu dari
UUD. Dan merupakan aturan hokum yang tertinggi yang mengikat semua warga Negara
dan lembaga Negara tanpa terkecuali. Selain itu dalam mukadimah atau pembukaan
UUD sering memuat cita-cita rakyat dan asas-asas ideology Negara.(h.177-h.178)
UUD dan Konvensi
Konvensi adalah aturan perilaku kenegaraan yang didasarkan tidak pada undangundang melainkan kebiasaan-kebiasaan ketatanegaraan dan presiden. Konvensi ada
dalam semua system UUD , dan biasanya memberikan panduan ketika aturan formal
tidak memadai atau tidak jelas. Dalam Konteks UUD tidak tertulis, konvensi merupakan
hal yang signifikan karena ia memberikan arahan tentang prosedur, kekuasaan dan
kewajiban dari institusi institusi utama Negara. (h.179)
Pergantian, Perubahan dan Supremasi UUD
UUD dapat diganti dengan UUD baru apabila UUD yang ada tidak lagi mencerminkan
konstelasi politik atau tidak lagi memenuhi harapan dan aspirasi rakyat. Di Indonesia
kita telah melalui lima tahap perkembangan UUD .

Selain penggantian secara

menyeluruh, tidak jarang pula Negara mengadakan perubahan sebagian dari UUD-nya.

Perubahan ini dinamakan amandemen. Wewenang mengamandemen UUD

ada

prosedur-prosedurnya dan ditangan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dengan


ketentuan bahwa kuorum adalah 2/3 dari anggota MPR, sedangkan usul perubahan
UUD harus diterima oleh 2/3 dari anggota yang hadir (pasal 37). Sejak tahun 1999,
setelah Orde Baru berakhir, UUD 1945 telah mengalami 4 kali amandemen. Banyak
perubahan yang substantial yang berubah akibat dari adanya amandemen tersebut bagi
Negara ini. Karena UUD merupakan sumber hokum tertinggi disebuah Negara maka
perlu adanya penguatan-penguatan untuk UUD itu tersebut agar keberadaan UUD tidak
mudah dipermainkan oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan keberadaan sebuah
UUD itu. Oleh karenanya perlu adanya tindakan supremasi UUD agar kedudukan UUD
tetap sebagai sumber hukum yang tetap dan tertinggi.(h.181-h.185)

Bab 7
Hak-Hak Asasi Manusia (HAM)

Perkembangan Hak Asasi manusia di Eropa


Di Eropa barat pemikiran mengenai hak asasi berawal dari abad ke-17 dengan
timbulnya konsep Hukum Alam serta hak-hak alam. Akan tetapi, sebenarnya beberapa
abad sebelumnya, yaitu zaman Pertengahan, masalah hak manusia sudah mulai
mencuat di Inggris.(h.213-h.215)

Hak Asasi Manusia pada Abad ke-20 dan awal abad ke-21
Dalam perkembangan berikutnya terjadi perubahan dalam pemikiran mengenai
hak asasi, antara lain karena terjadinya depresi besar sekitar tahun 1929 hingga 1934,
yang melanda sebagaian besar dunia. Depresi ini, yang mulai di amerika dan kemudian
menjalar ke hampir seluruh dunia, berdampak luas.(h.215)

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (1948)

Deklarasi Universal dimaksud sebagai pedoman sekaligus standar minimum yang


dicita-citakan oleh seluruh umat manusia. Maka dari itu berbagai hak dan kebebasan
dirumuskan secara luas, seolah-olah bebas tanpa batas.(h.218-h.219)

Dua Kovenan Internasional


Tahap kedua ditempuh oleh Komisi Hak Asasi PBB adalah menyusun seseuatu yang
lebih mengikat dari pada deklarasi belaka dalam bentuk perjanjian. Untuk mencapai
konsesus agar Sidang Umum PBB menerima baik kovenan Internasional Hak Ekonomi,
sosial dan budaya, kovenan internasional hak sipil dan politik,serta tentang pengaduan
perorangan.(h.219-h.220)

Masalah Ratifikasi
Meratifikasi suatu perjanjian berarti bahwa negara yang bersangkutan mengikat diri
untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan perjanjian dan bahwa ketentuan-ketentuan
itu menjadi bagian dari hukum nasionalnya. Jika jalannya ratifikasi dua konvensi PBB
menyita waktu lama, di tingkat regional, terutama di eropa barat yang masyarakatnya
lebih homogen, pelaksanaan hak asasi lebih berhasil.(h.225-h.226)

Hak Asasi Manusia pada awal abad ke-20


Pada awal abad ke-20 suasana yang melatar belakangi kampanye internasional
untuk memajukan hak asasi secara global, kadang-kadang dinamakan revolusi hak
asasi, telah mengalami pukulan berat, terutama sesudah peristiwa 11 September 2001
di New York, perang terhadap Argentina, dan invasi tentara kolaisi Amerika serikat dan
Inggris terhadap irak.(h.246-247)

Hak-Hak Asasi Manusia di Indonesia


Hak asasi

Manusia di Indonesia telah mengalami pasang surut. Sesudah dua

periode represi ( rezim soekarno dan rezim soeharto), reformasi berusaha lebih
memajukan hak asasi.(h.247)

Hak Asasi Perempuan


Konsep Hak Asasi Perempuan ( HAP ) sedikitnya dua makna yang terkandung di
dalamnya. Yang pertama, hak asasi perempuan hanya dimaknai sekadar berdasarkan
akal sehat. Logika yang dipakai adalah pengakuan mereka juga memiliki hak asasi. Hak
asasi Perempuan di indonesia cukup menonjol. Menurut UUD 1945 secara formal tidak
ada perpedaan antara laki-laki dan perempuan(h.256-h.257)

Bab 8
Pembagian Kekuasaan Negara Secara Vertikal dan Horisontal
Pembagian kekuasaan dapat dibedakan menjadi 2 cara yaitu secara vertikal yang
berarti membagi kekuasaan antara beberapa tingkat pemerintahan atau dapat
dinamakan pembagian kekuasaan secara teritorial, dan yang kedua secara horisontal
yaitu pembagian yang menunjukan pembedaan antar fungsi-fungsi pemerintahan yang
bersifat legislatif,eksekutif, yudikatif yang dikenal sebagai trias politika atau pembagian
kekuasaan.(h.267)
Konfederasi
Konfederasi merupakan gabungan beberapa negara yang berdaulat penuh untuk
mempertahankan kemerdekaan secara internal dan eksternal , bersatu negara negara
tersebut diatur dalam perjanjian internasional . (h.268)
Negara Kesatuan
Negara kesatuan negara yang terdiri dari banyaknya wilayah namun yang menjadi
pusat pengatur dalam negara tersebut yaitu pemerintah pusat sebagai penguasa atas
negara itu. (h.269)
Negara Federal

Negara yang menyesuaikan dua konsep yang bertentangan , yaitu kedaulatan negara
federal dalam keseluruhannya dan kedaulatan negara bagian. Kedaulatan keluar
diserahkan penuh oleh pemerintahan federal sedangkan yang kedalam dibatasi.(h.270)
Perkembangan Konsep Trias Politika
Konsep ini pembagian kekuasaannya secara horisontal

, trias politika adalah

anggapan bahwa kekuasaan negara terdiri terdiri atas tiga macam kekuasaan yaitu
legislatif kekuasaan pembuat undang-undang, kedua eksekutif atau kekuasaan
melaksanakan undang-undang dan ketiga kekuasaan yudikatif atau kekuasaan
mengadili atas pelanggaran undang-undang. Trias politika adalah sutu prinsip
kekuasaan-kekuasaan ini sebaliknya tidak diserahkan kepada orang yang sama untuk
mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh pihak yang berkuasa. Dengan diharapkan
hak-hak asasi warga negara lebih terjamin.(h.281-h.282)

Bab 9
Badan Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif
Badan Eksekutif
Badan eksekutif terdiri atas kepala negara seperti raja atau presiden beserta
menteri-menterinya. Dalam arti luas pegawai negeri sipil serta militer juga termasuk
kedalam badan eksekutif. Badan eksekutif memiliki beberapa wewenang yang
diantaranya mencakup berbagai bidang yaitu Administratif, Legislatif, Keamanan,
Yudikatif memberi grasi, amnesti, abolisi dan sebagainya. Dan diplomatik untuk
berhubungan dengan negara-negara lain. (h.295-h.297)
Badan Legislatif
Badan Legislatif yaitu pembuat undang-undang pada umumnya di berbagai negara
terdapat pada parlemen dalam negara itu, di Indonesia badan legislatif terdiri atas
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan
Perwakilan Daerah (DPD) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) merupakan
badan-badan yang memiliki wewenang legislasi, kontrol dan anggaran. Tentunya
disetiap negara badan legislatifnya tentu berbeda-beda ada yang menerapkan dengan
sistem satu majelis dan dua majelis. Majelis tersebut juga diklasifikasikan kembali
menjadi majelis rendah dan majelis tinggi. (h.315-h.326)
Badan Yudikatif

Badan Yudikatif biasanya identik dengan kehakiman dimana badan ini bertugas
sebagai mengadili dan memutuskan pelanggaran undang-undang. Diberbagai negara
badan yudikatif memiliki berbagai persamaan. Di Indonesia badan Yudikatif terdiri atas
Mahkamah Konstitusi (MK), Mahkamah Agung (Ma), serta Komisi Yudisial (KY). MK
adalah lembaga yudikatif tertinggi atas lembaga-lembaga yang lain setara dengan MA
jika MA bisa digugat namun keputusan MK tidak dapat diajukan banding dan sifatnya
sudah final. Sedangkan, KY pada dasarnya sebagai pengatur dari hakim-hakim
konstitusi karena KY umumnya bersifat mengatur kode etik para hakim-hakim agung
agar dapat menjalankan tugas kehakiman secara baik.(h.350-h.361)

Bab 10
Partisipasi Politik
Sifat dan Definisi Partai Politik
Dalam analisis politik modern partisipasi politik merupakan salah suatu masalah
yang penting; dan akhir-akhir ini banyak dipelajari terutama dalam hubungannya
dengan Negara-negara berkembang. Partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau
kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik , antaralain
dengan jalan memilih pimpinan Negara; dan secara langsung dan tindak langsung ,
mempengaruhi kebijakan pemerintah.
Di Negara-negara demokrasi konsep partisipasi politik bertolak dari paham bahwa
kedaulatan ada ditangan rakyat, yang dilaksanakan melalui kegiatan bersama untuk
menetapkan tujuan-tujuan serta masa depan masyarakat itu dan untuk menentukan
orang-orang yang akan memgang tampuk pimpinan.(h367-h.368)
Partisipasi Politik erat kaitannya dengan kesadaran politik, karena semakin sadar
bahwa dirinya diperintah, orang kemudian menuntut diberikan hak bersuara dalam
penyelenggaraan pemerintah. Orang yang memiliki kesadaran politik tentunya harus
orang yang memiliki pendidikan, yang kehidupannya lebih baik, dan orang-orang
terkemuka. Jika Partisipasi Politik disebuah Negara rendah pada umumnya sebagai
tanda yang kurang baik, karena dapat ditafsirkan bahwa banyak warga tidak menaruh
perhatian terhadap permasalahan Negara. (h.369)
Bab 11

Partai Politik
Partai Politik merupakan sarana bagi warga Negara untuk turut serta atau
berpartisipasi dalam proses pengelolaan Negara. Partai Politik pertama-tama lahir di
Negara-negara Eropa Barat dengan meluasnya gagasan bahwa rakyat merupakan faktor
yang dapat diperhitungkan serta diikutsertakan dalam proses politik, maka partai
politik (parpol)

telah lahir secara spontan dan berkembang menjadi penghubung

antara rakyat di satu pihak dan pemerintah di pihak lain.(h.397)

Definsi Partai Politik (Parpol)


Secara umum dapat dikatakan bahwa parpol adalah suatu kelompok terorganisir
yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama.
Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dari dan merebut
kedudukan politik(biasanya) sdengan cara konstitusionaluntuk melaksanakan
program-programnya.(h.403-h.404)
Fungsi Partai Politik
Fungsi Parpol di Negara Demokrasi meliputi Parpol dapat sebagai sarana komunikasi
politik , sebagai sarana sosialisasi politik, sebagai rekrutmen politik dan sebagai sarana
pengatur konflik. Sedangkan, fungsi parpol di Negara otoriter yaitu untuk mencari
dukungan masyarakat untuk tidak kepuasan terhadap pemerintah dan bertujuan untuk
mencapai kedudukan atau kekuasaan yang dapat dijadikan batu loncatan guna
menguasai semua parpol yang ada dan menghancurkan sistem politik yang demokratis.
Contohnya, seperti Partai Komunis. Sedangkan fungsi parpol di Negara Berkembang
yaitu selain sebagai penyambung aspirasi masyarakat terhadap pemerintah tetapi yang
lebih terpenting merupakan sebuah peran yang sangat diharapkan dari parpol yaitu
sebagai sarana untuk memperkembangkan integrasi nasional dan memupuk identitas
nasional, karena Negara baru atau berkembang sering dihadapkan dengan masalah
masalah berbagai macam sumber perbedaan yang ada disebuah Negara itu.(h.405h.414)
Klarifikasi Sistem Kepartaian ( Sistem Partai-Tunggal, Dwi Partai dan Multi
Partai)

Kategori-kategori tersebut dapat mewakili keberadaan sistem parpol disebuah


Negara dengan berdasarkan kepada ideologi sistem yang diterapkan disebuah Negara
itu dan bergantung yang nantinya mengarah kepada jumlah sebuah parpol itu sendiri
nantinya, ada tiga kategori sistem parpol disebuah Negara antaralain;
1. Sistem Partai Tunggal hanya terdiri dari satu partai politik di Negara tersebut tidak
ada parpol parpol lainnya pada umumnya (Contoh; di China hanya terdapat Partai
Komunis China (PKC)
2. Sistem Dwi Partai hanya terdapat dua buah Parpol disebuah Negara dimana dalam
pemilihan umum mereka saling berkompetisi merebut hati rakyat kelak salah satu
mereka dapat menjadi partai pemerintah dan satu diantaranya menjadi partai
penyeimbang pemerintah (Contoh di Amerika terdapat dua partai besar yaitu Partai
Demokrat dan Republik)
3. Sistem Multi Partai dalam sistem ini disebuah Negara banyak terdapat banyak parpol
yang hadir dalam menyelenggarakan kondisi perpolitikan disebuah Negara tersebut
yang memiliki banyak positif dan negatifnya bagi perpolitikan itu yang saling
berhubungan satu sama lain koalisi dan oposisi juga masuk kedalam sistem ini.
(Contohnya di Indonesia pada masa saat ini banyak Parpol Parpol bermunculan yang
memenuhi syarat seperti Partai Golongan Karya, Demokrat, Partai Gerakan Indonesia
Raya dan lain-lain.(h.415-h.418)
Bab 12
Sistem Pemilihan Umum
Dalam Ilmu Politik dikenal bermacam-macam sistem Pemilihan Umum (Pemilu)
dengan berbagai variasinya , akan tetapi umumnya berkisar pada dua prinsip pokok,
yaitu prinsip yang pertama adalah Satu Daerah Pemilihan memilih satu wakil; biasanya
disebut dengan sistem distrik. Dan prinsip yang kedua yaitu Satu daerah pemilihan
memilih beberapa wakil; biasanya dinamakan Sistem Perwakilan Berimbang atau
Sistem Proporsional. Berikut penjabaran mengenai kelebihan dan kekurangan sistem
distrik dan proporsional yang keduanya termasuk sistem pemilu mekanis seperti yang
dijelaskan di atas. Sistem perwakilan distrik (satu dapil untuk satu wakil) Di dalam
sistem distrik sebuah daerah kecil menentukan satu wakil tunggal berdasarkan suara
terbanyak.
Kelebihan Sistem Distrik

Sistem ini mendorong terjadinya integrasi antar partai, karena kursi kekuasaan
yang diperebutkan hanya satu.

Perpecahan partai dan pembentukan partai baru dapat dihambat, bahkan dapat
mendorong penyederhanaan partai secara alami.

Distrik merupakan daerah kecil, karena itu wakil terpilih dapat dikenali dengan
baik oleh komunitasnya, dan hubungan dengan pemilihnya menjadi lebih akrab.

Bagi partai besar, lebih mudah untuk mendapatkan kedudukan mayoritas di


parlemen.

Jumlah partai yang terbatas membuat stabilitas politik mudah diciptakan

Kelemahan Sistem Distrik

Ada kesenjangan persentase suara yang diperoleh dengan jumlah kursi di partai,
hal ini menyebabkan partai besar lebih berkuasa.

Partai kecil dan minoritas merugi karena sistem ini membuat banyak suara
terbuang.

Sistem ini kurang mewakili kepentingan masyarakat heterogen dan pluralis.

Wakil rakyat terpilih cenderung memerhatikan kepentingan daerahnya daripada


kepentingan nasional.

Sistem Pemilu
Sistem Proposional ( satu dapil memilih beberapa wakil )
Sistem yang melihat pada jumlah penduduk yang merupakan peserta pemilih. Berbeda
dengan sistem distrik, wakil dengan pemilih kurang dekat karena wakil dipilih melalui
tanda gambar kertas suara saja. Sistem proporsional banyak diterapkan oleh negara
multipartai, seperti Italia, Indonesia, Swedia, dan Belanda.
Sistem ini juga dinamakan perwakilan berimbang ataupun multi member constituenty.
ada dua jenis sistem di dalam sistem proporsional, yaitu ;

list proportional representation : disini partai-partai peserta pemilu menunjukan


daftar calon yang diajukan, para pemilih cukup memilih partai. alokasi kursi
partai didasarkan pada daftar urut yang sudah ada.

the single transferable vote : para pemilih di beri otoritas untuk menentukan
preferensinya. pemenangnya didasarkan atas penggunaan kota.

Kelebihan Sistem Proposional

Dipandang lebih mewakili suara rakyat sebab perolehan suara partai sama
dengan persentase kursinya di parlemen.

Setiap suara dihitung & tidak ada yang terbuang, hingga partai kecil & minoritas
memiliki kesempatan untuk mengirimkan wakilnya di parlemen. Hal ini sangat
mewakili masyarakat majemuk(pluralis).

Kelemahan Sistem Proposional

Sistem proporsional tidak begitu mendukung integrasi partai politik. Jumlah


partai yang terus bertambah menghalangi integrasi partai.

Wakil rakyat kurang dekat dengan pemilihnya, tapi lebih dekat dengan
partainya. Hal ini memberikan kedudukan kuat pada pimpinan partai untuk
menentukan wakilnya di parlemen.

Banyaknya partai yang bersaing menyebabkan kesulitan bagi suatu partai untuk
menjadi partai mayoritas.

Perbedaan utama antara sistem proporsional & distrik adalah bahwa cara
penghitungan suara dapat memunculkan perbedaan dalam komposisi perwakilan
dalam parlemen bagi masing-masing partai politik.(h.461-h.467)