Anda di halaman 1dari 25

Modul Workshop

Modul Rencana Detail Tata Ruang

Modul Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) akan memuat pemahaman dasar RDTR, muatan
dan prosedur penyusunan RDTR serta disertai beberapa contoh penyusunan RDTR. Modul
RDTR ini mengacu pada Permen PU 20/2011 tentang Pedoman Penyusunan RDTR dan
Peraturan Zonasi (PZ) beserta contoh-contohnya. Diharapkan dengan modul ini dapat
menambah wawasan dan ketermapilan perencana dalam menyusun RDTR kawasan.

A. Pengertian RDTR
Menurut Permen PU No 20/2011Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) sebagai rencana secara
terperinci tentang tata ruang kabupaten/kota yang dilengkapi dengan peraturan zonasi
kabupaten/kota. Secara sederhana, RDTR dapat diartikan sebagai rencana peruntukan
ruang detail per blok fisik yang dilengkapi dengan rencana jaringan prasarana
pendukungnya dan peraturan zonasi. Ia biasanya dilengkapi dengan Peraturan zonasi (PZ),
yaitu ketentuan persyaratan pemanfaatan ruang beserta dengan ketentuan
pengendaliannya.
RDTR disusun di atas peta dasar dengan skala 1:5.000.Penetapan skala 1:5000 sebagai
skala peta RDTR merupakan keputusan yang dibuat setelah melalui beberapa
pertimbangan. Pertama, pemilihan skala dikembalikan pada tujuan utama RDTR, yaitu
memberikan arahan pemanfaatan ruang terperinci pada sebuah kawasan. Para pakar
sepakat bahwa RDTR selayaknya mengatur blok/kapling sebagai bentuk pendetailan
terhadap kawasan yang direncanakan pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Secara
umum blok akan tampak nyata pada peta skala 1:5.000.
Kedua, pada skala lebih kecil, tidak semua ukuran blok dapat terlihat secara jelas.
Sebaliknya pada skala lebih besar, akan ada unsur permukaan bumi lain yang akan
tergambar pada peta. Seharusnya untuk unsur-unsur lain tersebut ada aturan hukumnya,
namun karena RDTR dan PZ ditujukan untuk mengatur kapling, maka skala peta
1:5.000dianggap cukup.

A.1 Pengertian Blok dan Zona


Telah dijelaskan sebelumnya bahwa RDTR dibuat dengan tujuan utama untuk mengarahkan
pembangunan pada blok kawasan. Oleh karena itu perlu kiranya untuk memahami
pengertian blok, sub blok, zona dan sub zona.
a. Blok dan Sub Blok
Blok fisik adalah bagian terkecil dari kawasan perencanaan yang memiliki batas
fisik yang jelas. Secara praktis, blok fisik dapat diartikan sebagai suatu bagian
kawasan yang dikelilingi oleh jalan dan/atau sungai/saluran. Untuk suatu kawasan
perencanaan yang belum terbangun, blok fisik dapat diartikan sebagai suatu bagian
kawasan yang dikelilingi oleh rencana jalan dan/atau rencana sungai/saluran.
Blok memiliki beberapa variasi menurut pembagian luasnya, antara lain blok, sub
blok dan superblok. Pembagian blok dan sub blok sangat bergantung pada

1-1

Modul Workshop
bagaimana mendefinisikannya.
mendefinisikannya. Berikut diterangkan beberapa variasi blokyang
dapat digunakan:
i.
Blok.Bila
Bila blok didefinisikan sebagai bagian kawasan perencanaan yang
dibatasi jalan, maka semua bagian kawasan yang dibatasi
dibatasi oleh jalan apapun
dan berapa pun ukuran luasnya akan menjadi blok seperti gambar 1 di
bawah ini.

Gambar 1. 1Ilustrasi Blok

ii.

Sub Blok. Bila blok didefinisikan sebagai bagian kawasan yang dibatasi oleh
jalan lingkungan,
lingkungan maka blok 3, 4, 5 dan 6 yang merupakan blok ke
kecil yang
dipisahkan oleh gangakan
gangakan menadi satu kesatuan blok seperti pada gambar 2.
Penggabungan dua atau beberapa blok kecil menjadi satu blok sebaiknya harus
memperhatikan pola penggunaan lahan yang ada pada masing-masing
masing blok kecil
kecil.
Blok kecil yang dapat digabung menjadi satu kesatuan blok baru adalah yang
memiliki homogenitas penggunaan lahan.
lahan Blok kecil yang penggunaan lahannya
tidak homogen sebaiknya tidak digabungkan karena pada ahirnya blok kecil ini
akan menjadi sub blok tersendiri.
tersendiri

Gambar 1. 2Ilustrasi Blok dan Sub Blok

iii.

Superblok. Bila blok didefinisikan sebagai bagian kawasan yang dibatasi


oleh jalan kolektor sekunder, maka akan lahir super blok yang berisikan blok
1-2

Modul Workshop
dan sub blok.
blok Penetapan superblok sebaiknya harus memperhatikan
keterkaitan fungsi antar blok di dalam setiap super blok
blok.Penetapan
superblok sifatnya futuristik sehingga harus diiringi dengan program
penyamaan fungsi antar blok, revitalisasi lingkungan atau bahkan
redevelopment
redevelopment.

Gambar 1. 3Ilustrasi Super Blok

b. Zona dan Sub Zona


Zona adalah peruntukan
ntukan ruang pada blok kawasan. Contoh zona adalah zona
perumahan, zona perdagangan
erdagangan dan jasa serta zona industri.Peruntukan
Peruntukan ruang pada
setiap blok fisik tidak harus selalu homogen, melainkan bisa terdapat lebih dari
satu zona atau sub-zona
zona peruntukan. Jika pada suatu blok fisik terdapat dua atau
lebih zona atau sub zona peruntukan ruang, maka blok fisik tersebut dapat dibagi
menjadi sub blok fisik mengikuti zona atau sub zona peruntukannya.
Contoh pendetailan sebuah zona menjadi sub zona adalah Zona Perumahan dirinci
menjadi Perumahan Kepadatan Sangat Tinggi, Perumahan Kepadatan Tinggi,
Perumahan Kepadatan Sedang, Perumahan Kepadatan Rendah dan Perumahan
Kepadatan Sangat Rendah.Apabila
Rendah.
diperlukan,peruntukan
eruntukan ruang sub zona dapat
ditetapkan lebih rinci lagi menjadi sub-sub zona.
A.2 Kedudukan RDTR dan Peraturan Zonasi dalam Rencana Tata Ruang
Kedudukan RDTR adalah sebagai rencana rinci dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Kabupaten/Kota dan peraturan zonasi sebagai salah satu perangkat pengendalian
pemanfaatan ruang. Sesuai ketentuan Pasal 59 Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun
2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, setiap RTRW kabupaten/kota harus
menetapkan bagian dari wilayah kabupaten/kota yang perlu disusun RDTR
RDTR-nya.Bagian dari
wilayah yang akan disusun RDTRtersebut merupakan kawasan perkotaan atau kawasan
strategis kabupaten/kota.

1-3

Modul Workshop

Gambar 1. 4Hubungan
Hubungan Antara Produk Rencana dan Wilayah Perencanaannya

Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan merupakan dua pilar penentu arah
pembangunan. Keduanya berpadu memberikan pelita bagi pembangunan Indonesia,
dimana rencana pembangunan berperan sebagai penentu visi pembangunan disertai
dengan kebijakan dan strategi untuk mewujudkan visi tersebut, sedangkan rencana tata
ruang berfungsi
erfungsi sebagai berperan sebagai penerjemah visi rencana pembangunan ke dalam
ruang supaya dapat dimanfaatkan secara optimal. Kedudukan RDTR dalam dua sistem
perencanaan tersebut ditunjukkan oleh gambar 5.

Gambar 1. 5Kedudukan
Kedudukan RDTR Dalam Rencana Tata Ruang danSistem
anSistem Perencanaan Pembangunan
Nasional

UU 26/2007 tentang Penataan Ruang menjelaskan bahwa penyelenggaraan penataan ruang


terdiri dari pengaturan, pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan. RDTR merupakan
produk darii kegiatan perencanaan tata ruang, tepatnya sebagai hasil dari penyusunan

1-4

Modul Workshop
rencana rinci tata ruang. Kedudukan RDTR dalam sistem penataan ruang ditunjukkan oleh
diagram di bawah ini.

Gambar 1. 6Kedudukan
Kedudukan Rencana Rinci dan Peraturan
Perat
Zonasi dalam Sistem Penataan Ruang

A.3 Kriteria Penyusunan RDTR Kabupaten/Kota dan Peraturan Zonasi


RDTR Kabupaten/Kota disusun apabila memenuhi salah satu dari tiga kriteria berikut:
1. RTRW Kabupaten/Kota belum dapat dijadikan acuan dalam pelaksanaan
pemanfaatan
anfaatan ruang karena tingkat ketelitian petanya belum mencapai
1:5000
2. RTRW Kabupaten/Kota sudah mengamanatkan bagian dari wilayahnya yang
perlu disusun RDTR-nya
RDTR
3. RTRW Kabupaten/Kota disusun pada tingkat ketelitian peta 1:5000 tetapi
belum dilengkapi
engkapi dengan Peraturan Zonasi
Pada kondisi yang sesuai dengan kriteria 1 dan 2, maka pemerintah harus menyusun RDTR
berikut Peraturan Zonasinya sesuai amanat Permen PU 20/2011. Pada kondisi yang sesuai
dengan kriteria 3, maka pemerintah cukup menyusun Peraturan Zonasi saja. Ilustrasi
kriteria penyusunan RDTR dan PZ ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

1-5

Modul Workshop
Gambar 1. 7Kriteria Penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi

A.4 Lingkup Wilayah Perencanaan RDTR Kabupaten/Kota dan Peraturan Zonasi


Melanjutkan pembahasan mengenai wilayah perencanaan yang sudah disinggung di sub bab
A.2, berikut dijelaskan beberapa jenis lingkup wilayah yang dapat direncanakan melalui
RDTR:
a. Wilayah administrasi. Lingkup wilayah perencanaan dapat berupa wilayah
administrasi seperti kecamatan.

Gambar 1. 8Contoh RDTR Kecamatan X

b. Kawasan fungsional. Lingkup wilayah perencanaan dapat berupa bagian wilayah


kota/sub wilayah kota yang direncanakan oleh RTRW yang melingkupinya.

Gambar 1. 9Contoh RDTR Kawasan Pusat Kota

c. Bagian dari wilayah yang memiliki ciri perkotaan. Lingkup wilayah perencanaan
dapat berupa kawasan perkotaan, seperti kawasan ibukotakabupaten atau pusat
permukimandi kabupaten.

1-6

Modul Workshop

Gambar 1. 10Contoh RDTR Kawasan Perkotaan

d. Kawasan strategis yang memiliki ciri kawasan perkotaan. Lingkup wilayah


perencanaan ini merupakan gabungan antara lingkup wilayah perencanaan kedua
(kawasan fungsional) dan lingkup wilayah perencanaan ketiga (kawasan perkotaan).
Contoh wilayah perencanaan tipe ini adalah kawasan strategis yang dilihat dari
sudut kepentingan ekonomi (kawasan pusat perdagangan dan jasa).

Gambar 1. 11Contoh RDTR Kawasan Strategis Perkotaan

e. Bagian wilayah yang berupa kawasan pedesaan dan direncanakan menjadi


kawasan perkotaan. Lingkup wilayah perencanaan dapat berupa kawasan pedesaan
yang akan didorong pembangunannya menjadi pusat kegiatan baru. Contoh wilayah
jenis ini adalah kawasan pusat permukiman baru.

1-7

Modul Workshop

Gambar 1. 12Contoh RDTR Kawasan Pedesaan yang Direncanakan sebagai Kawasan Perkotaan

Wilayah perencanaan RDTR tersebut disebut sebagai Bagian Wilayah Perencanaan (BWP)
dalam materi teknis rencana. Setiap BWP terdiri atas Sub BWP yang ditetapkan dengan
mempertimbangkan:

Morfologi BWP;
Keserasian dan keterpaduan fungsi BWP; dan
Jangkauan dan batasan pelayanan untuk keseluruhan BWP dengan
memperhatikan rencana struktur ruang dalam RTRW

A.5 Masa Berlaku RDTR


RDTR berlaku dalam jangka waktu 20 (dua puluh) tahun dan ditinjau kembali setiap 5
(lima) tahun. Peninjauan kembali RDTR dapat dilakukan lebih dari 1 (satu) kali dalam 5
(lima) tahun jika:
o
o

Terjadi perubahan RTRW kabupaten/kota yang mempengaruhi BWP RDTR


Terjadi dinamika internal kabupaten/kota yang mempengaruhi pemanfaatan
ruang secara mendasar antara lain berkaitan dengan bencana alam skala
besar, perkembangan ekonomi yang signifikan, dan perubahan batas wilayah
daerah

B. Muatan RDTR
Penyusunan RDTR saat ini berpedoman pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20
Tahun 2011. Dalam pedoman tersebut disebutkan bahwa muatan RDTR terdiri atas:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Tujuan penataan BWP;


Rencana pola ruang;
Rencana jaringan prasarana;
Penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya;
Ketentuan pemanfaatan ruang; dan
Peraturan zonasi

Modul ini akan membahas 5 muatan pertama, yaitu tujuan penataan BWP, rencana pola
ruang, rencana jaringan prasarana, penetapan sub BWP yang diprioritaskan penanganannya
1-8

Modul Workshop
dan ketentuan pemanfaatan ruang. Pembahasan mengenai muatan peraturan zonasi
disajikan dalam modul terpisah.

B.1 Tujuan Penataan Bagian Wilayah Perkotaan (BWP)


Tujuan penaatan BWP berfungsi sebagai acuan dalam penyusunan Rencana Pola Ruang,
Rencana Jaringan Prasarana, Penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya,
ketentuan pemanfaatan ruang dan peraturan zonasi sekaligus menjaga konsistensi dan
keserasian dengan RTRW. Perumusan Tujuan Penataan BWP, didasarkan kepada beberapa
pertimbangan, yaitu:
Arahan pencapaian sebagaimana ditetapkan dalam RTRW
Isu strategis BWP yang antara lain dapat berupa potensi, permasalahan maupun
urgensi penanganan lainnya
Karakteristikspesifik BWP
Tujuan penataan BWP dirumuskan dengan mempertimbangkan:

Keseimbangan dan keserasian antar bagian dari wilayah kabupaten/kota;


Fungsi dan peran BWP;
Potensi investasi;
Kondisi sosial dan lingkungan BWP;
Peran masyarakat dalam pembangunan; dan
Prinsip-prinsip yang merupakan penjabaran dari tujuan tersebut

Contohnya adalah tujuan penataan ruang Kota Salatiga dan Kelurahan Sidorejo Lor, Kota
Salatiga. Kota Salatiga memiliki tujuan penataan ruang sebagai berikut:
Mewujudkan Koridor Ampenan-Mataram-Cakranegara
Perdagangan dan Jasa dan Ikon Kota Mataram Metro

(AMC)

sebagai

Kawasan

Untuk menjaga keserasian dengan tujuan tersebut, maka tujuan penataan Kelurahan
Sidorejo Lor ditetapkan sebagai berikut:
Mewujudkan Sidorejo Lor sebagai pusat pendidikan dan olahraga di kawasan Kendal
UngaranSemarangSalatigaPurwodadi (Kedungsepur) yang berkelanjutan didukung sektor
perdagangan dan jasa yang berwawasan lingkungan

1-9

Modul Workshop

Gambar 1. 13Kota
Kota Salatiga dan Kelurahan Sidorejo Lor, Kota Salatiga

B.2 Rencana Pola Ruang


Rencana pola ruang dalam RDTR merupakan rencana distribusi subzona peruntukan yang
antara lain meliputi hutan lindung, zona yang memberikan perlindungan
perlindungan terhadap zona di
bawahnya, zona perlindungan setempat, perumahan, perdagangan dan jasa, perkantoran,
industry, dan RTNH, ke dalam blok-blok.
blok blok. Rencana pola ruang dimuat dalam peta yang juga
berfungsi sebagai zoning map bagi peraturan zonasi.
Rencana pola ruang
uang berfungsi sebagai:
a. Alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial, ekonomi, serta kegiatan pelestarian
fungsi lingkungan dalam BWP;
b. Dasar penertiban izin pemanfaatan ruang;
c. Dasar penyusunan RTBL; dan
d. Dasar penyusunan rencana jaringan prasarana.
Rencana pola ruang dirumuskan berdasarkan:
a. Daya dukung dan daya tamping lingkungan hidup dalam BWP; dan
b. Perkiraan kebutuhan ruang untuk pengembangan kegiatan sosial ekonomu dan
pelestarian fungsi lingkungan.
Rencana pola ruang dirumuskan dengan kriteria:
a. Mengacu pada rencana pola ruang yang telah ditetapkan dalam RTRW;
b. Memperhatikan rencana pola ruang bagian wilayah yang berbatasan;
c. Memperhatikan mitigasi dan adaptasi bencana pada BWP, termasuk dampak
perubahan ikliim; dan

1-10

Modul Workshop
d. Menyediakan RTH dan RTHN untuk menampung kegiatan sosial, budaya, dan
ekonomi masyarakat
Ketentuan rencana pola ruang adalah:
a. Rencana pola ruang digambarkan pada peta dengan skala atau tingkat
ketelitian minimal 1:5000 dan mengikuti ketentuan mengenai sitem
informasi geografis
b. Cakupan rencana pola ruang meliputi ruang darat/ ruang laut dengan
batasan 4 (empat) mil laut yang diukur dari garis pantai wilayah
kabupaten/kota atau sampai batas negara yang disepakati secara
internasional
c. Rencana pola ruang dapat digambarkan ke dalam beberapa lembar p
peta
yang tersusun secara beraturan mengikuti ketentuan yang berlaku
d. Peta rencana pola ruang berfungsi sebagai zoning map bagi peraturan zonasi
e. Peta rencana pola ruang harus sudah menunjukkan batasan hingga persil
Rencana pola ruang dihasilkan dari overlay peta-peta
peta yang didelineasi berdasarkan:
a. Delineasi fisik;; delineasi fisik dapat dilakukan berdasarkan:
Wilayah perencanaan
Sub wilayah perencanaan
Blok
b. Delineasi fungsi;; dlineasi fungsi dilakukan berdasarkan:
Zona
Subzona

Gambar 1. 14(a) Delineasi Fisik dan (b) Delineasi Fungsi

1-11

Modul Workshop

Kawasan Lindung

Kawasan Budidaya

HL

Hutan

Zona Perumahan

PB

Perlindungan Kawasan Bawahnya

Zona Perdagangan dan Jasa

PS

Perlindungan Setempat

KT

Zona Perkantoran

RTH

Ruang Terbuka Hijau

Zona Industri

SC

Suaka Alam dan Cagar Budaya

SPU

Zona Sarana Pelayanan Umum

RB

Rawan Bencana Alam


Gambar 1. 15Contoh Rencana Pola Ruang

B.3 Rencana Jaringan Prasarana


Rencana Jaringan Prasarana merupakan pengembangan jaringan prasarana yang telah
dirumuskan dalam Rencana Struktur Ruang yang terdapat pada RTRW Kabupaten/Kota.
Fungsinya adalah sebagai:
1. Pembentuk sistem pelayanan, terutama pergerakan dalam BWP
2. Dasar dalam peletakan jaringan serta rencana pembangunanprasaranaserta utilitas
dalam BWP sesuai dengan fungsi pelayanannya
3. Dasar rencana sistim pergerakan dan aksesibilitas lingkungan dalam RTBL dan
rencana teknis sektoral
Rencana Jaringan Prasarana dirumuskan berdasarkan :
1. Rencana struktur ruang wilayah kab/kota yang termuat dalam RTRW
1-12

Modul Workshop
2. Kebutuhan pelayanan dan pengembangan BWP
3. Rencana Pola Ruang RDTR
4. Sistem Pelayanan, terutama pergerakan sesuai fungsi dan peran BWP
Rencana jaringan prasarana dirumuskan dengan kriteria:
1. Memperhatikan rencana struktur bagian wilayah lainnya dalam wilayah
kabupaten/kota dan/atau wilayah administrasi kabupaten/kota sekitarnya yang
berbatasan langsung dengan BWP;
2. Menjamin keterpaduan dan prioritas pelaksanaan pembangunan prasarana dan
utilitas pada BWP;
3. Mengakomodasi kebutuhan pelayanan prasaranadan utilitas BWP; dan
4. Mengakomodasi kebutuhan fungsi dan peran pelayanan kawasan di dalam struktur
ruang BWP
Peta rencana jaringan prasaranadigambarkan dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Peta rencana jaringan prasarana memuat jaringan jalan dan sistem prasarana
wilayah lainnya yang digambarkan pada satu lembar peta secara utuh dan dapat
digambarkan secara tersendiri untuk masing-masing rencana jaringan prasarana;
2) Rencana jaringan prasarana digambarkan dalam peta dengan skala atau tingkat
ketelitian 1:5.000 dan mengikuti ketentuan mengenai sistem informasi geografis
yang dikeluarkan oleh kementerian /lembaga yang berwenang;
3) Untuk BWP yang memiliki wilayah pesisir dan laut dapat dilengkapi denganpeta
batimetri yang menggambarkan kontur laut.
Materi rencana jaringan meliputi:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Rencana
Rencana
Rencana
Rencana
Rencana
Rencana
Rencana

Pengembangan Jaringan Pergerakan


Pengembangan Jaringan Energi/Kelistrikan
Pengembangan Jaringan Telekomunikasi
Pengembangan Jaringan Air Minum
Pengembangan Jaringan Drainase
Pengembangan Jaringan Air Limbah
Pengembangan Prasarana Lainnya

B.3.1 Rencana Pengembangan Jaringan Pergerakan


Rencana pengembangan jaringan pergerakan merupakan seluruh jaringan primer dan
sekunder pada BWP yang meliputi:
o
o
o
o
o

Jalan arteri
Jalan kolektor
Jalan lokal
Jalan lingkungan
Dan lain-lain

Rencana pengembangan jaringan pergerakan yang masuk dalam kategori dan lain-lain
adalah jaringan pergerakan yang belum termuat dalam RTRW seperti jalan masuk-keluar
terminal barang, terminal penumpang, hingga pangkalan angkutan umum, jalan moda

1-13

Modul Workshop
transportasi umum (keluar-masuk terminal hingga pangkalan serta jalan keluar-masuk
parkir).

B.3.2 Rencana Pengembangan Jaringan Energi


Rencana pengembangan jaringan energy/kelistrikan merupakan penjabaran dari jaringan
distribusi dan pengembangannya berdasarkan prakiraan kebutuhan energi/kelistrikan di
BWP yang termuat dalam RTRW, yang terdiri atas:
1) Jaringan substransmisi yang berfungsi untuk menyalurkan daya listrik dari sumber
daya terbesar (pembangkit)menuju jaringan distribusi primer (gardu induk) yang
terletak di BWP (jika ada);
2) Jaringan distribusi primer (jaringan SUTUT, SUTET, dan SUTT) yang berfungsi untuk
menyalurkan daya listrik dan jaringan substransmisi menuju jaringan
distribusisekunder, yang dilengkapi dengan infrastruktur pendukung yang meliputi:
i.
Gardu induk yang berfungsi untuk menurunkan tegangan dari jaringan
substransmisi (70-500 kv) menjadi tegangan menengah 20 kv; dan
ii.
Gardu hubung yang berfungsi untuk membagi daya listrik dari gardu induk
menuju gardu distribusi;
3) Jaringan distribusi sekunder yang berfungsi untuk menyalurkan atau
menghubungkan daya listrik tegangan rendah ke konsumen, yang dilengkapi dengan
infrastruktur pendukung berupa gardu distribusi yang berfungsi untuk menurunkan
tegangan primer (20 kv) menjadi tegangan sekunder (220 v/380 v).

B.3.3 Rencana Pengembangan JaringanTelekomunikasi


Rencana pengembangan jaringan telekomunikasi terdiri atas:
1) Rencana pengembangan infrastruktur dasar telekomunikasi yang berupa penetapan
lokasi pusat automatisai sambungan telepon;
2) Rencana penyediaan jaringan telekomunikasi telepon kabel yang berupa penetapan
lokasi stasiun telepon otomat, rumah kabel, dan kotak pembagi;
3) Rencana penyediaan jaringan telekomunikasi telepon nirkabel yang berupa
penetapan lokasi menara telekomunikasi termasuk menara Base Transceiver
Stasion (BTS);
4) Rencana pengembangan sistem televisi kabeltermasuk penetapan lokasi stasiun
transmisi;
5) Rencana penyediaan jaringan serat optik; dan
6) Rencana peningkatan pelayanan jaringan telekomunikasi

B.3.4 Rencana Pengembangan Jaringan Air Minum


Rencana pengembangan jaringan air minum berupa rencana kebutuhan dan sistem
penyediaan air minum, yang terdiri atas:
1) Sistem penyediaan air minum wilayah kabupaten/kota yang mencakup sistem
jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan;
1-14

Modul Workshop
2)
3)
4)
5)
6)

Bangunan pengambil air baku;


Pipa transmisi air baku dan instalasi produksi;
Pipa unit distribusi hingga persil;
Bangunan penunjang dan bangunan pelengkap;
Bak penampung

B.3.5 Rencana Pengembangan Jaringan Drainase


Rencana pengembangan jaringan drainase terdiri atas:
1) Sistem jaringan drainase yang berfungsi untuk mencegah genangan; dan
2) Rencana kebutuhan sistem jaringan drainase yang meliputi rencana jaringan
primer, sekunder, tersier, dan lingkungan di BWP;
Dalam hal kondisi topografi di BWP berpotensi terjadi genangan, maka perlu dibuat kolam
retensi sistem pemompaan, dan pintu air

B.3.6 Rencana Pengembangan Jaringan Air Limbah


Jaringan air limbah meliputi sistem pembuangan air limbah setempat (onsite) dan/ atau
terpusat (offsite). Sistem pembuangan air limbah setempat, terdiri atas:
1) Bak septik (septic tank); dan
2) Instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT)
Sistem pembuangan air limbah terpusat, terdiri atas:
1) Seluruh saluran pembuangan; dan
2) Bangunan pengolahan air limbah

B.3.7 Rencana Pengembangan Prasarana Lainnya


Penyediaan prasarana lainnya direncanakan sesuai kebutuhan pengembangan BWP,
misalnya BWP yang berada pada kawasan rawan benacana wajib menyediakan jalur
evakuasi bencana yang meliputi jalur evakuasi dan tempat evakuasi sementara yang
terintegrasi baik untuk skala kabupaten/kota, kawasan maupun lingkungan.

B.4 Penetapan Sub BWP yang Diprioritaskan Penanganannya


Penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya ditujukan untuk mengembangkan,
melestarikan, melindungi, memperbaiki, mengkoordinasikan pembangunan atau
melaksanakan revitalisasi di kawasan yang dianggap memiliki prioritas tinggi sebagai dasar
penyusunan RTBL dan rencana teknis sektor lainnya
Penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya ditetapkan dengan kriteria:
a. Merupakan faktor kunci yang mendukung perwujudan rencana pola ruang dan
rencana jaringan prasarana, serta pelaksanaan peraturan zonasi di BWP;
b. Mendukung tercapainya agenda pembangunan dan pengembangan kawasan;

1-15

Modul Workshop
c. Merupakan Sub BWP yang memiliki nilai penting dari sudut kepentingan ekonomi,
sosial-budaya, pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi, fungsi
dan daya dukung lingkungan hidup, dan/atau memiliki nilai penting lainnya yag
sesuai dengan kepentingan pembangunan BWP; dan/atau
d. Merupakan Sub BWP yang dinilai perlu dikembangkan, diperbaiki, dilestarikan,
dan/atau direvitalisasi agar dapat mencapai standar tertentu berdasarkan
pertimbangan ekonomi, sosial-budaya, dan/atau lingkungan.
Penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya sekurang-kurangnya memuat
LOKASI yang merupakan satu kesatuan tematik, seperti kota lama, sentra perindustrian
rakyat, kawasan permukiman tradisional atau kawasan baru yang berkembang cepat,
kawasan rawan bencana serta TEMA PENANGANAN yang terdiri dari perbaikan,
pengembangan kembali, pengembangan baru atau pelestarian.

B.5 Ketentuan Pemanfaatan Ruang


Ketentuan pemanfaatan ruang dalam RDTR merupakan upaya mewujudkan RDTR dalam
bentuk program pengembangan BWP dalam jangka waktu perencanaan 5 (lima) tahunan
sampai akhir tahun masa perencanaan sebagaimana diatur dalam pedoman ini.
Ketentuan pemanfaatan ruang berfungsi sebagai:
a. Dasar pemerintah dan masyarakat dalam pemrograman investasi pengembangan
BWP;
b. Arahan untuk sektor dalam penyusunan program;
c. Dasar estimasi kebutuhan pembiayaan dalam jangka waktu 5 (lima) tahunan dan
penyusunan program tahunan untuk setiap jangaka 5 (lima) tahun; dan
d. Acuan bagi masyarakat dalam melakukan investasi.
Ketentuan Pemanfaatan Ruang disusun berdasarkan:
a.
b.
c.
d.
e.

Rencana pola ruang dan rencana jaringan prasarana;


Ketersediaan sumber daya dan sumber dana pembangunan;
Kesepakatan para pemangku kepentingan dan kebijakan yang ditetapkan;
Masukan dan kesepakatan dengan para investor; dan
Prioritas pengembangan BWP dan pentahapan rencana pelaksanaan program sesuai
dengan rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) daerah dan rencana
pembangunan jangka menengah (RPJM) daerah, serta rencana terpadu dan program
investasi infrastruktut jangka menengah (RPI2JM)

Ketentuan pemanfaatan ruang disusun dengan kriteria:


a. Mendukung perwujudan rencana pola ruang dan rencana jarringan prasarana di
BWP serta perwujudan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya;
b. Mendukung program penataan ruang wilayah kabupaen/kota;
c. Realistis, objektif, terukur, dan dapat dilaksanakan dalam jangka waktu
perencanaan;
d. Konsisten dan berkesinambungan terhadap program yang disusun, baik dalam
jangka waktu tahunan maupun lima tahunan; dan
e. Terjaganya sinkronisasi antarprogram dalam satu kerangka program terpadu
pengembangan wilayah kabupaten/kota.
1-16

Modul Workshop
Program dalam Ketentuan pemanfaatan ruang meliputi:
a. Program Pemanfaatan Ruang Prioritas
Program pemanfaatan ruang prioritas merupakan program-program pengembangan
BWP yang diindikasikan memiliki bobot tinggi berdasarkan tingkat kepentingan atau
diprioritaskan dan memiliki nilai strategis untuk mewujudkan rencana pola ruang
dan rencana jaringan prasarana di BWP sesuai tujuan penataan BWP
b. Lokasi
Lokasi merupakan tempat dimana usulan program akan dilaksanakan.
c. Besaran
Besaran merupakan perkiraan jumlah satuan masing-masing usulan program
prioritas pengembangan wilayah yang akan dilaksanakan.
d. Sumber Pendanaan
Sumber pendanaan dapat berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD) kabupaten/kota, APBD Provinsi, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN), swasta, dan/atau masyarakat.
e. Instansi Pelaksana
Instansi pelaksana merupakan pihak-pihak pelaksana program prioritas yang
meliputi pemerintah seperti satuan kerja perangkat daerah (SKPD), dinas teknis
terkait, dan/atau kementerian/lembaga, swasta, dan/atau masyarakat.
f. Waktu dan Tahapan Pelaksanaan
Program direncanakan dalam kurun waktu perencanaan 20 (dua puluh) tahun yang
dirinci setiap 5 (lima) tahunan dan masing-masing program mempunyai durasi
pelaksanaan yang bervariasi sesuai kebutuhan. Penyusunan program prioritas
disesuaikan dengan pentahapan jangka waktu 5 tahunan RPJP daerah
kabupaten/kota.

C. Prosedur Penyusunan RDTR


Penyusunan RDTR memiliki tahapan-tahapan baku yang harus dilalui oleh perencana secara
sekuensial. Hal ini mengandung arti bahwa setiap tahapan harus diselesaikan secara urut
satu-persatu untuk menjamin kelengkapan data dan informasi yang dibutuhkan di tahapan
berikutnya. Prosedur penyusunan RDTR secara garis besar terbagi ke dalam 5 tahapan,
yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Pra Persiapan Penyusunan


Persiapan Penyusunan
Pengumpulan Data
Pengolahan dan Analisa Data
Perumusan Konsep Perencanaan

Sumber lain menyebutkan bahwa penyusunan RDTR mengikuti prosedur yang kurang-lebih
sama sebagai berikut:
1. Menyiapkan Peta Dasar dan Peta Penggunaan Lahan Eksisting
1-17

Modul Workshop
2. Survei pengumpulan data
3. Perumusan tema kawasan
4. Penyusunan rencana pola ruang
5. Analisis kebutuhan prasarana
6. Penyusunan rencana jaringan prasarana
7. Pemilihan Sub Kawasan Prioritas
8. Penyusunan Program Pemanfaatan Ruang
9. Penyusunan Peraturan Zonasi
10. Penyusunan Rancangan Perda RDTR
Sepuluh tahapan diatas dapat dirangkum dalam 5 tahapan yang dijelaskan sebelumnya,
dimana tahap 1 (penyiapan peta dasar) termasuk ke dalam tahap persiapan penyusunan
dan tahap 3-9 (perumusan tema kawasan hingga penyusunan peraturan zonasi) termasuk
ke dalam tahap perumusan konsep. Tahap 10, penyusunan Rancangan Perda RDTR, dapat
dimasukkan ke dalam rangkaian prosedur penyusunan RDTR atau dapat pula berupa
kegiatan terpisah. Penjelasan lebih lanjut mengenai setiap tahap adalah sebagai berikut:
1. Pra Persiapan Penyusunan
Pada tahap pra persiapan, tim penyusun diminta untuk memahami benar
permintaan user seperti tercantum dalam Kerangka Acuan Kerja. Pemahaman
tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam metodologi pelaksanaan pekerjaan dan
rencana kerja yang dibuat dengan mempertimbangkan batasan waktu, SDM dan
anggaran. Dengan selesainya tahap ini maka tim penyusun siap untuk bekerja.
2. Persiapan Penyusunan (Kajian Data Sekunder, Rencana Survei)
Pada tahap persiapan penyusunan, tim penyusun berusaha memahami wilayah studi
menggunakan data sekunder yang tersedia. Hal ini dilakukan sebagai bentuk
orientasi awal untuk memahami profil wilayah studi, supaya tim penyusun dalam
memulai kegiatan perencanaan dapat berangkat dari isu-isu spesifik-meski masih
berupa dugaan, bukan berangkat tanpa pengetahuan sama sekali. Dari hasil kajian
data sekunder ini tim penyusun dapat menentukan berapa lama waktu survei yang
diperlukan untuk memverifikasi dan melengkapi data sekunder yang didapat.
3. Pengumpulan Data
Pada tahap pengumpulan data, tim penyusun akan mengeksplor wilayah studi
dengan cara observasi lapangan untuk mendapatkan sense mengenai pemanfaatan
ruang eksisting. Tim akan menulis dan mencatat hal apapun yang dirasa relevan
dalam memahami wilayah studi lebih dalam. Yang tidak kalah penting, tim akan
melakukan banyak wawancara dan diskusi dengan para pemangku kepentingan
untuk mendapatkan aspirasi mereka tentang kondisi pemanfaatan ruang wilayah
studi.
4. Pengolahan dan Analisa Data
Pada tahap pengolahan dan analisa data, tim penyusun dituntut untuk mampu
mencari tahu isu pemanfaatan ruang utama pada wilayah studi. Hal ini akan
menjadi dasar untuk melakukan perencanaan nantinya. Untuk dapat merumuskan
isu pembangunan utama, tim akan melakukan kompilasi dan analisis data yang
sudah diperoleh di tahapan selanjutnya. Analisis data setidaknya dilakukan pada 5
aspek pembangunan, yaitu fisik lingkungan, kependudukan, perekonomian, fasilitas
umum dan fasilitas sosial dan prasarana perkotaan.
5. Perumusan Konsep Perencanaan
1-18

Modul Workshop
Pada tahap perumusan konsep perencanaan, tim penyusun membuat muatan RDTR
seperti yang diarahkan oleh Permen PU 20/2011, yaitu tujuan penataan BWP,
rencana pola ruang, rencana jaringan prasarana, penetapan sub BWP yang
diprioritaskan pembangunannya dan ketentuan pemanfaatan ruang dan peraturan
zonasi. Tim dapat pula menambahkan pembuatan draft raperda RDTR pada tahap
ini.

Gambar 1. 16Prosedur
Prosedur penyusunan Rencana Detail Tata Ruang

D. Peran Serta Masyarakat dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang


Dalam menyusun RDTR, tim penyusun diwajibkan untuk melibatkan masyarakat. Hal ini
diatur oleh UU 26/2007 pasal 65, PP 15/2010 pasal 20 dan PP 68/2010. UU 26/2007 pasal
65 menyebutkan pada ayat 1 bahwa Penyelenggaraan
enyelenggaraan penataan ruang dilakukan oleh
pemerintah dengan melibatkan peran masyarakat.
masyarakat. Selanjutnya ayat 2 menjelaskan bahwa
Peran
Peran masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan,
antara lain, melalui:
a. partisipasi dalam
am penyusunan rencana tata ruang;
b. partisipasi dalam pemanfaatan ruang; dan
c. partisipasi dalam pengendalian pemanfaatan ruang
Ayat terakhir, yaitu ayat ketiga, menyebutkan bahwa Ketentuan
Ketentuan lebih lanjut mengenai
tata cara dan bentuk peran masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah.
pemerintah. PP yang dimaksud adalah PP 68/2010
tentang Bentuk dan
an Tata Cara Peran Masyarakat Dalam Penataan Ruang.
Ruang.
PP 15/2010 pasal 20 menyatakan bahwa Prosedur

penyusunan rencana
encana tata ruang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) meliputi:
a. proses penyusunan rencana tata ruang;
b. pelibatan peran masyarakat dalam perumusan konsepsi rencana tata ruang; dan
c. pembahasan rancangan rencana tata ruang oleh pemangku kep
kepentingan

1-19

Modul Workshop
Peraturan-peraturan diatas menunjukkan perubahan paradigma penyusunan rencana tata
ruang dari yang semula bersifat teknokratis menjadi lebih partisipatif. Keterbukaan dalam
hal pelibatan masyarakat merupakan indikasi positif bahwa arah pembangunan tidak lagi
ditentukan oleh sekelompok kecil orang, melainkan oleh konsensus bersama antar
pemangku kepentingan. Dengan begitu diharapkan tanggung jawab untuk merealisasikan
rencana pembangunan juga dapat ditanggung bersama.
Secara teknis, pelibatan peran masyarakat dapat dibagi ke dalam 3 jenis, yaitu berupa
hak, kewajiban dan peran serta. Penjelasan singkat akan tiga hal tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Hak masyarakat
o

o
o

Mengajukan inisiatif untuk melakukan penyusunan dan/atau mengevaluasi


dan/atau meninjau kembali dan/atau mengubah RDTR sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan
Berperan memberikan masukan terkait penyusunan RDTR serta mengetahui proses
penyusunan RDTR yang dilakukan pemerintah
Mengetahui secara terbuka setiap produk rencana tata ruang wilayah yang
bersangkutan

2. Kewajiban masyarakat
o
o

Memberikan informasi, data, dan keterangan secara konkrit dan bertanggung jawab
dalam setiap tahapan penyusunan RDTR
Berlaku tertib dan mendukung kelancaran proses penyusunan RDTR

3. Bentuk peran masyarakat


o
o

Masukan, pendapat, dan saran dalam indentifikasi masalah, perumusan tujuan,


perumusan konsep dan penetapan rencana
Kerja sama dengan Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau sesama unsur
masyarakat daerah

E. Persoalan Dalam Penyusunan RDTR


Berkaca dari pengalaman Kementerian Pekerjaan Umum dalam mendampingi proses
penyusunan RDTR di daerah, terdapat beberapa persoalan yang ditemui dalam proses
tersebut. Persoalan merupakan sebuah hal yang tidak bisa dihindari dalam sebuah proyek,
namun yang lebih penting adalah bagaimana tim dapat mencari jalan keluar dari persoalan
tersebut. Sub bab ini diharapkan dapat menambah wawasan perencana dalam memahami
berbagai persoalan yang mungkin dihadapi nantinya.

E.1 Persoalan Terkait Peta Dasar dan Peta Penggunaan Lahan Eksisting
Persoalan utama terkait peta dasar, terutama bagi wilayah di luar Pulau Jawa, adalah
peta dasar skala 1:5.000 tidak tersedia. Oleh karenanya peta tersebut harus dibuat secara
khusus oleh pemerintah daerah yang akan menyusun RDTR. Peta dasar skala 1:5.000 harus
dibuat atau diturunkan dari citra satelit dengan resolusi tinggi, sekurangnya resolusi 60cm
(Quickbird) atau yang lebih tinggi 50cm (WorldView 2).

1-20

Modul Workshop
Namun perlu diperhatikan bahwa wilayah
wilayah nusantara yang terletak di katulistiwa hampir
sepanjang tahun terselimuti awan yang tidak dapat ditembus oleh kamera satelit,
akibatnya walaupun setiap 17 s/d 27 hari sekali satelit penginderaan jauh melalui tempat
yang sama, sangat sulit untuk dapat memperoleh citra yang benar-benar
benar benar up to date.Maka
dari itu untuk keperluan penyusunan peta dasar RDTR, penggunaan citra satelit yang
berumur setahun lalu masih bisa ditolerir, dengan catatan kekurangan informasi pada citra
satelit tersebut
ersebut dilengkapi dengan survei
surve lapangan
Persoalan kedua, perencana
erencana perlu mengerti bahwa citra
itra satelit yang diperoleh tidak dapat
langsung didigitasi menjadi peta dasar, karena posisi citra tersebut belum duduk secara
tepat pada posisi geografis yang sebenarnya. Karena itu sebelum didigitasi citra satelit
harus direktifikasi ulang
ang atau diberi koordinat geografis yang tepat.
tepat. Pengunaan citra
satelit yang tidak direktifikasi ulang akan memberikan ukuran panjang dan luas yang tidak
tepat, yang pada akhirnya akan menimbulkan persoalan hukum yang serius di masa
datang.
Secara praktis, rektifikasi ulang citra
c ra satelit dapat dilakukan dengan memilih enam titik
yang dapat dikenali pada citra satelit, yang berada di sekeliling kawasan perencanaan.
Kemudian ambil koordinat geografis keenam titik tersebut dengan menggunakan GPS
geodetik yang memiliki ketelitian lebih kecil dari 1m.
1m
Harga alat GPS geodetik yang diperlukan untuk melakukan rektifikasi ulang relatif mahal.
Solusi yang dapat dilakukan adalah melakukan pengadaan dan penggunaan bersama oleh
semua kabupaten/kota
kota dalam satu provinsi yang
ya
sama.. Cara lain, pemerintah mencari
konsultan yang memiliki peralatan survei yang memadai.Data
memadai.
rektifikasi
ektifikasi ulang citra satelit
dapat diolah menggunakan perangkat lunak GIS, seperti ArcGIS atau MapInfo. Namun
untuk memperoleh hasil yang lebih baik dan dapat
dapat digunakan dimana
dimana-mana, sebaiknya
digunakan perangkat lunak Global Mapper.
Mapper

1-21

Modul Workshop

Gambar 1. 17Rektifikasi Ulang Citra Satelit

Setelah direktifikasi ulang citra satelit kemudian harus didigitasi untuk menghasilkan peta
blok seperti
eperti contoh yang ditunjukan sebelumnya. Pada peta skala 1:5.000, jaringan jalan
harus tergambar dalam dua garis. Akibatnya, rencana jaringan prasarana harus
digambarkan ulang sebagai garis tunggal yang berada di poros jalan seperti pada ilustrasi
di bawah ini.

Gambar 1. 18Ilustrasi Penggambaran Jaringan Prasarana

Persoalan ketiga, citra


itra satelit tidak dapat menginformasikan pengunaan lahan kota.
Penggunaan lahan eksisting hanya
h
dapat diperoleh dari survei lapangan
lapangan. Survei lapangan
harus dilakukan dengan membawa cetakan citra satelit keliling seluruh kawasan
perencanaan dan menandai jenis penggunaan lahan pada setiap
setiap atap bangunan. Hasil
survei lapangan kemudian diplotkan ulang di atas peta dasar digital yang sudah dibuat
sehingga
ga diperoleh peta penggunaan lahan eksisiting seperti peta zonasi yang ditunjukan
sebelumnya.
1-22

Modul Workshop
E.2 Persoalan Terkait Rencana Pola Ruang
Di dalam RDTR, rencana pola ruang adalah inti produk rencana. Dimana rencana lainnya
harus disusun dengan mengikuti recana pola ruang. Rencana pola ruang RDTR disusun
berdasarkan

Rencana pola ruang RTRW (khusus untuk RDTR di kota otonom)


Pola pengunaan lahan yang ada
Tema perancangan ruang yang ingin dituju
Kaidah-kaidah perancangan

Penyusunan rencana pola ruang harus dilandasi dengan pengetahuan yang baik mengenai
kondisi fisik , sosial, ekonomi dan budaya setempat, agar hasil rencana yang disusunnya
lebih representatif.Penyusunan rencana pola ruang juga harus dilandasi dengan cita rasa
seni atau sense of art agar hasil rencana yang disusunnya akan lebih memiliki jiwa.
Pengaruh sense of art sangat tampak, terutama pada penyusunan rencana pola ruang
kawasan baru yang masih beum terbangun.
Persoalan pertama terkait dengan tenaga ahli. Tim penyusun RDTR umumnya adalah
konsultan yang datang jauh dari luar kawasan perencanaan yang sebelumnya sama sekali
tidak mengenal apa pun tentang kawasan perencanaan. Lebih dari itu konsultan umumnya
bersifat generalis dalam arti mengerjakan semua pekerjaan tata ruang mulai dari RTRW
provinsi, kabupaten, kota s/d RDTR. Padahal untuk menyusun RDTR diperlukan suatu
keahlian khusus yang sama sekali berbeda dengan menyusun RTRW.
Dalam penyusunan RTRW diperlukan keahlian dalam melihat kecenderungan
perkembangan ekonomi wilayah. Sedangkan dalam penyusunan RDTR lebih diperlukan
sense of art. Untuk menghadapi hal ini, harus lebih selektif dalam memilih tenaga
konsultan dan harus mewajibkan konsultan untuk tinggal lebih lama guna lebih memahami
kondisi fisik, sosial, ekonomi dan budaya kawasan perencanaan secara menyeluruh.
Persoalan kedua terkait dengan rencana pola ruang. Rencana pola ruang yang mengubah
peruntukan pada umumnya akan memberikan persoalan baik secara finansial maupun
secara sosial bagi kelompok masyarakat (yang merasa dirugikan) dan pemerintah yang
hendak mewujudkan rencana tersebut. Sebagai contoh, sebuah sub-zona perumahan
kepadatan sangat tinggi yang kumuh akan dirubah menjadi sub-zona perumahan kepadatan
tinggi dengan mengubah perumahan kumuh yang padat menjadi rumah susun yang lebih
besar daya tampungnya, lebih sehat, lebih rapi dan lebih tertib.Persoalannya, seringkali
pemerintah daerah memiliki dana yang cukup untuk memberikan hunian pengganti dan
biaya ganti rugi sesuai dengan PP 15 tahun 2010 pasal 168.
Untuk suatu kawasan perencanaan yang sudah terbangun, penyusunan rencana pola ruang
akan dihadapkan pada dua pilihan, yaitu:

Membuat perubahan peruntukan ke arah yang lebih baik


Tidak membuat perubahan peruntukan tapi hanya meningkatkan kualitas
lingkungan melalui peningkatan kualitas jaringan prasarana pelayanan dan sarana
lingkungan

Pemilihan alternatif pembangunan harus mempertimbangkan kemampuan finansial daerah.


Apabila implementasi dipaksakan maka bisa saja terjadi ada pihak yang dirugikan seperti
dicontohkan di paragraf sebelumnya.
1-23

Modul Workshop
Persoalan ketiga terkait dengan rencana pola ruang pada kawasan yang belum terbangun.
Sesuai dengan UU 26 tahun 2007, rencana pola ruang harus disusun untuk seluruh kawasan
perencanaan, termasuk bagian kawasan yang belum terbangun. Bila pada bagian kawasan
yang belum terbangun tidak ada rencana peruntukannya, maka sampai dengan 20 tahun ke
depan kawasan tersebut tidak diperkenankan unuk dibangun. Persoalannya tanah pada
kawasan yang belum terbangun masih milik peroranganbukan milik pemerintah daerah.
Penyusunan rencana pola ruang hingga kedalaman blok akan dapat menimbulkan gejolak
sosial dan juga spekulasi harga tanah.
Persoalan Keempat, di dalam penyusunan rencana pola ruang adalah seringnya terjadi
kerancuan antara zona (use) dengan kegiatan. Konsep klasifikasi zona menurut Permen PU
20/2011 adalah sub zona harus merupakan rincian dari zona. Oleh karena zona bersifat
use maka sub-zona juga harus bersifat use pula namun lebih rinci. Begitu pula dengan
sub-sub zona yang merupakan rincian dari sub zona, seharusnya merujuk pada use,
bukan jenis fisik. Namun peraturan membolehkan sub-sub zona dirinci mengikuti jenis fisik
bangunannya. Hal inilah yang kadang menimbulkan kebingungan di lapangan.

E.3 Persoalan Terkait Analisis Kebutuhan Prasarana dan Rencana Jaringan Prasarana
Secara keseluruhan ada 6 jenis prasarana yang harus direncanakan di dalam RDTR, yaitu:
o
o
o
o
o
o
o

Prasarana pergerakan
Prasarana energi/kelistrikan
Prasarana telekomunikasi
Prasarana air bersih
Prasarana drainase
Prasarana air limbah
Prasarana lainnya

Penyusunan rencana jaringan prasarana harus didasarkan pada:


o
o
o

Rencana pola ruang;


Perkiraan kebutuhan prasarana; dan
Jaringan prasarana yang sudah ada

Sehubungan dengan itu sebelum rencana jaringan prasarana disusun, terlebih dahulu harus
diperkirakan berapa besarnya kebutuhan layanan prasarana terkait. Perkiraan besarnya
kebutuhan prasarana harus dilakukan untuk setiap blok fisik, sehingga pada ahirnya akan
dapat diketahui kemana jaringan prasarana harus dibuat.
Persoalan pertama, standar teknis perencanaan yang ada umumnya sudah kadaluwarsa dan
tidak mengikuti perkembangan kebutuhan pasarana yang ada di masyarakat serta tidak
mengikuti perkembangan teknologi prasarana itu sendiri. Untuk keperluan ini harus dicari
standar teknis perencanaan dari berbagai sumber, termasuk dari berbagai buku teks.
Namun sebelum digunakan standar teknis tersebut terlebih dahulu harus dikalibrasi agar
sesuai dengan kondisi fisik, sosial, ekonomi dan budaya kawasan perencanaan.

1-24

Modul Workshop
Tabel 1. 1Contoh Standar Kebutuhan Air

Persoalan kedua di dalam penyusunan rencana jaringan prasarana adalah tidak lengkapnya
data tentang jaringan parasarana yang ada sekarang. Baik gambar jaringannya maupun
kapasitas dan kualitas jaringannya.
jaringannya. Ketidaklengkapan data jaringan eksisting dapat
menimbulkan perencanaan jaringan prasarana yang under atau over estimate
estimate.Oleh karena
itu keterlibatan SKPD yang membidangi prasarana perkotaan, BUMD/BUMN/perusahaan
swasta yang melayani penyediaan prasarana
prasarana perkotaan dalam penyusunan RDTR mutlak
diperlukan.

1-25