Anda di halaman 1dari 66

FARMASI INDUSTRI

SEDIAAN STERIL
Injeksi Ampul Natrium Fenobarbital

OLEH

Kelompok II
Dini Kurniaty
Nur Oktaviani
Emil Syachrul
M. Arifuddin
Resty Purwasary
Fariani Ifu
Mudiyana Muin
Gina Agriany B
Hikma Abu
Wahyuni Indrawaty

N211
N211
N211
N211
N211
N211
N211
N211
N211
N211

10
10
10
10
10
10
10
10
10
10

022
023
027
035
129
131
132
623
624
625

PENDIDIKAN
PROFESI APOTEKER
Makassar
2010
5
2

BAB I
PENDAHULUAN

Pembangunan nasional dalam bidang kesehatan bertujuan untuk


mewujudkan

derajat

kesehatan

masyarakat

yang

optimal

melalui

peningkatan serta perluasan jangkauan pelayanan kesehatan bagi


masyarakat, dimana tidak lagi dititikberatkan hanya pada upaya
penyembuhan penderita, tetapi berkembang ke arah keterpaduan yang
menyeluruh dan berkesinambungan. Hal tersebut, mencakup upaya
peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif),
penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitasi).
Salah satu hal yang mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat
kesehatan masyarakat adalah kualitas obat yang digunakan dalam
pelayanan

kesehatan. Industri farmasi

sebagai

unit usaha

yang

menunjang kesehatan masyarakat mempunyai peranan yang sangat


strategis karena produk yang dihasilkan merupakan komoditi yang
digunakan oleh masyarakat secara langsung terutama pada kondisi yang
dibutuhkan. Oleh karena itu industri farmasi mempunyai kewajiban moral
dan tanggung jawab sosial untuk menyediakan obat yang aman, bermutu,
berkualitas serta dengan harga yang terjangkau masyarakat
Tanggung jawab moral industri farmasi tidak hanya berupa
pengadaan

obat

yang

bermutu

tinggi,

berkhasiat

dan

terjamin

keamanannya, namun harus menjamin kesinambungan ketersediaan obat


dengan harga yang terjangkau, sehingga dalam setiap perkembangannya,
5
2

industri farmasi selain Product oriented, juga dituntut untuk Patien


oriented
Dalam pembuatan obat, pengawasan menyeluruh adalah sangat
penting untuk meyakinkan bahwa konsumen menerima obat yang
bermutu tinggi (GMP should apply to all). Cara kerja yang acak tidak boleh
karena obat menyangkut jiwa dan menjaga kesehatan. Pedoman yang
baik harus diperhatikan sebagai standar mutu obat.

5
2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Industri obat jadi adalah industri yang menghasilkan suatu produk


yang telah melalui seluruh tahapan proses pembuatan. Proses pembuatan
meliputi seluruh rangkaian kegiatan yang menghasilkan suatu obat yang
terdiri dari produksi dan pengawasan mutu mulai dari pengadaan bahan
obat, proses pengolahan sampai obat jadi untuk didistribusikan.
Obat adalah bahan atau campuran bahan-bahan baik yang berasal
dari alam ataupun sintesis yang digunakan untuk diagnosis, mencegah,
mengobati penyakit atau gejala-gejalanya, memulihkan kesehatan baik
pada manusia ataupun hewan. Obat dikatakan bermutu bila memenuhi
persyaratan aman, berkhasiat tinggi dan dapat diterima masyarakat.
A. Pengertian Steril, Sterilitas, dan Sterilisasi

Steril

adalah

suatu

keadaan

yang

mutlak

bebas

dari

mikroorganisme patogen maupun non patogen, baik vegetatif


maupun sporanya, tidak setengah atau hampir setengah.
Sterilitas adalah karakteristik yang diisyaratkan untuk sediaan
farmasetik yang bebas dari mikroorganisme hidup meliputi metode,
wadah atau rute pemakaian.
Sterilisasi adalah suatu proses mengurangi, menghilangkan,
menghancurkan, membunuh mikroorganisme dan sporanya dari
sediaan untuk mencapai suatu keadaan yang steril

5
2

B. Produk Steril
Obat / Produk steril adalah bentuk sediaan obat dalam bentuk
terbagi yang bebas dari mikroorganisme hidup. Sediaan parenteral,
preparat untuk mata dan preparat irigasi (misalnya infus) merupakan
contoh dari produk steril.
Sediaan parenteral harus bebas dari kontaminasi mikroba dan
dari bahan-bahan toksik lainnya, serta harus memiliki tingkat
kemurnian yang tinggi karena sediaan ini melewati garis pertahanan
pertama dari tubuh yang paling efisien, yaitu membran kulit dan
mukosa. Semua bahan dan proses yang terlibat dalam pembuatan
produk ini harus dipilih dan dirancang untuk menghilangkan semua
jenis kontaminasi, apakah kontaminasi fisik, kimia atau mikrobiologis.
Produksi steril hendaklah dibuat dengan persyaratan khusus
dengan tujuan memperkecil resiko pencemaran mikroba, partikulat
dan pirogen, yang sangat tergantung dari ketrampilan, pelatihan dan
sikap dari personil yang terlibat. Pemastian mutu sangatlah penting
dan cara pembuatan ini harus sepenuhnya mengikuti secara ketat
metode pembuatan dan prosedur yang ditetapkan dengan seksama
dan tervalidasi. Pelaksanaan proses akhir atau pengujian produk jadi
tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya andalan untuk menjamin
sterilitas atau aspek mutu lain.

5
2

C. PERSYARATAN CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK DAN


BENAR (CPOB) TERKINI
1) BANGUNAN
Produk steril diolah diruang produksi yang dirancang bangun dan
dikontruksi secara khusus, terpisah dari daerah produksi lain. Daerah
masing-masing jenis pekerjaan yang berbeda seperti penyiapan bahan
awal dan komponen lain, penyiapan larutan, pengisian larutan dan
sterilisasi hendaklah terpisah.
Ruangan
Pembuatan produk steril memerlukan 3 kualitas ruangan yang
berbeda, yaitu :
1. Ruang ganti pakaian. Pakaian yang dipakai dari rumah tidak boleh
dibawa kedaerah bersih. Karyawan yang masuk keruang ganti
harus sudah memakai pakaian pelindung kerja standar.
2. Ruang bersih, yaitu ruang persiapan komponen dan pembuatan
larutan serta ruang untuk produk yang akan disterilisasi akhir.
3. Ruang steril, digunakan untuk kegiatan steril, Petugas yang akan
masuk keruangan ini harus melalui ruang penyangga udara atau
dibawah aliran udara laminer.
Daerah pengolahan produk steril harus dipisahkan dari daerah
produksi lain serta dirancang dan dibangun secara khusus. Ruangan
harus bebas debu, dialiri udara yang melewati saringan bakteri. Saringan
tersebut harus diperiksa (di-verifikasi) pada saat pemasangan serta
dilakukan pemeriksaan secara berkala.
5
2

Daerah Produksi untuk pembuatan sediaan steril secara CPOB


terkini (cGMP) yaitu :
1. Kelas A : Zona untuk kegiatan yang berisiko tinggi, misalnya zona
pengisian, wadah tutup karet, ampul dan vial terbuka, penyambungan
secara aseptik. Umumnya kondisi ini dicapai dengan memasang unit
aliran udara laminar (laminar air flow) di tempat kerja. Sistem udara
laminar hendaklah mengalirkan udara dengan kecepatan merata
berkisar 036 0,54 m/detik (nilai acuan) pada posisi kerja dalam
ruang bersih terbuka. Sistem LAF harus memberikan kecepatan udara
yang homogen sekitar 0,45 m/detik 20 % (nilai rujukan) pada posisi
kerja.
2. Kelas B : Untuk pembuatan dan pengisian secara aseptik, kelas ini
adalah lingkungan latar belakang untuk zona kelas A.
3. Kelas C dan D : Area bersih untuk melakukan tahap pembuatan
produk steril dengan tingkat risiko lebih rendah.
Berikut ini adalah tabel Jumlah partikulat di udara untuk masingmasing daerah di atas :
Non-operasional
Kelas

Operasional

Jumlah maksimum partikel /m3 yang diperbolehkan untuk kelas


setara atau lebih tinggi dari

0,5 m

5m

0,5 m

5m

3500

3500

3500

350.000

2000

350.000

2000

3.500.000

20.000

3.500.000

20.000

Tidak
ditetapkan

Tidak
ditetapkan

5
2

Persyaratan standar lingkungan produksi menurut CPOB terkini


(2006) untuk pembuatan produk steril
Persyaratan bahan bangunan:
Permukaan
Dalam

1. Lantai

2. Dinding

Jenis
Bangunan
- Epoksi
atau
poliuretan

Keterangan

Sesuai Untuk

- Monolitik,
permukaan
tidak berpori dan tidak
licin
- Menahan pertumbuhan
bakteri
- Mudah tergores

- Ruang
produksi
khusus
daerah steril

- (ubin) teraso
permukaan
licin dan tidak
berpori
dengan celah
yang ditutup
resin sintetis

- Sukar diperbaiki dan


dimodifikasi
- Ketahanan
terhadap
bahan kimia terbatas
- Mudah ternoda

- Bata/blok,
beton
padat
yang
permukaannya
diplester halus
&
dibuat
kedap
air
dengan
lapisan
cat
dari
bahan
akrilik/ enamel
polimer tinggi,
poliuretan atau
epoksi
atau

- Mudah
retak
bila
pengerjaannya
kurang
baik
- Menimbulkan debu bila
dibongkar
untuk
perbaikan atau renovasi

- Khusus
daerah steril

- Daerah steril
- Daerah
produksi

- Daerah steril
- Panel

logam

- Tidak

melepaskan

5
2

yg
digalvanisasi,
lembaran
aluminium
/
baja
tahan
karat

3. Langitlangit

- Beton
yang
dicat dengan
bahan akrilik,
enamel
polimer tinggi
atau epoksi

partikel
- Umumnya
tidak
memerlukan perawatan
- Cukup tangguh
- Sukar diperbaiki bila
kena benturan
- Rongga
pada
sambungan harus ditutup
misalnya dengan bahan
karet
silicon
yang
fleksibel
- Sukar
memodifikasi
saluran listrik & saluran
udara
- Dirancang utk menahan
beban berat
- Ruangan
diatasnya
dapat digunakan untuk
penempatan
saluran
udara & layanan lain

- Daerah steril,
daerah
pengolahan
lahan
dan
pengisian
aseptik

Pelapisan dinding dan langit-langit hanya dilakukan apabila


telah

benar-benar

kering.

Permukaannya

hendaklah

tanpa

sambungan, kedap air dengan permukaan licin, tidak retak dan


tanpa pori-pori.
Lapisan hendaknya tahan sinar ultra lembayung dan bukan
merupakan tempat pertumbuhan bakteri dan jamur serta tahan
terhadap gosokan dan tidak rusak oleh suatu desinfekan. Bahan
yang memenuhi persyaratan diatas adalah epoksi dan poliuretan.

5
2

Dinding dan langit-langit dapat juga dibuat dari elemenelemen baja tahan karat atau plat baja/aluminium yang telah
digalvanisasi dengan tepat, dapat juga terbuat dari panel-panel
terbuat dari damar sintesis yang mengeras pada suhu panas
dengan serat selulosa.
Lantai dapat dibuat dari teraso yang licin dan permukaannya
tanpa pori-pori yang disambung dengan dammar sintesis atau
dibuat ditempat
Sudut-sudut

pertemuan

lantai

dengan

dinding

dibuat

melengkung dengan radius 20-30 mm.


Persyaratan tambahan lainnya antara lain :
Suhu udara diruang bersih dan ruang steril hendaknya
dipelihara pada 16 - 25C dan kelembaban relatif pada 45%-55%.
Tekanan udara di dalam ruang pengolahan produk steril
harus lebih tinggi dibanding dengan ruangan sebelahnya yang
dibuktikan dengan perbedaan tekanan yang ditunjukkan oleh alat
magnehelic dan dicatat secara teratur.
Jalan masuk dan keluar bagi petugas ke dan dari ruang steril
hanya melalui ruang ganti pakaian kecuali dalam keadaan darurat.
Lokasi ruang ganti pakaian hendaklah langsung berhubungan
dengan daerah steril yang akan dilayani.
Ruang ganti pakaian hendaklah dilengkapi dengan ruang
penyangga udara yang terletak diantara ruang ganti pakaian dan

5
2

ruang steril dan dialiri udara tersaring dengan tekanan positif yang
lebih rendah daripada ruang steril tetapi lebih tinggi daripada
ruangan lain yang berhubungan langsung.
Ruang

ganti

pakaian

hendaknya

dilengkapi

dengan

manometer atau alat lain yang tepat yang terus menerus menunjuk
perbedaan tekanan udara diruang udara bersangkangkutan dengan
ruang bertetangga.
Ruang ganti pakaian dan ruang penyangga hendaklah
dibangun sedemikian rupa untuk dapat memisahkan penggantian
pakaian yang berbeda tingkat kebersihannya. Untuk itu ruang ganti
pakaian hendaknya terletak sebelum ruang penyangga udara dan
terdiri dari ruangan terpisah yang memisahkan daerah ruangan
kerja biasa dan daerah pakaian steril.
Pintu

antara

ruang

steril

dengan

ruang

penyangga

hendaklah dilengkapi dengan suatu system antara lain system


penguncian elektro yang tidak memungkinkan dua pintu dibuka
dalam waktu yang sama.
Lampu UV yang efektif (panjang gelombang 253,7 nm)
hendaklah dipasang dalam ruang ganti pakaian steril atau lemari
penyimpanan komponen pakaian steril.
Ruang ganti pakaian steril hendaklah dilengkapi dengan bak
pencuci tangan seperti dikamar operasi dan alat pengering tangan
otomatis.

5
2

Untuk kegiatan tertentu hendaklah diperhatikan hal-hal


sebagai berikut:
a.

Ruangan pencucian ampul atau vial dan ruangan pencucian


tutup karet
Sebelum dicuci vial atau ampul dan tutup karet
dikeluarkan dari pengemasnya. Umumnya bahan pengemas
berupa karton dapat mengeluarkan partikel. Oleh karena itu,
pengeluaran vial, ampul dan tutup karet hendaklah dilakukan
diruangan khusus sebelum dibawa kedaerah bersih. Vial atau
ampul dan tutup karet sebaiknya dicuci dibawah unit aliran

b.

udara laminar vertikal.


Sterilisasi panas kering dan autoklaf
Ampul atau vial kosong disterilkan disterilisator panas
kering dan tutup karet diautoklaf. Tutup aluminium sebaiknya
disterilkan pada dalam lemari sterilisasi. Autoklaf dan lemari
sterilisasi bermutu ganda tembus ke ruang steril, masingmasing dengan pintu kedua membuka keruangan steril untuk
mengeluarkan ampul, vial, dan tutup karet yang sudah steril.
Daerah tempat mengeluarkan barang yang sudah disterilkan
sebaiknya dilindungi terhadap pencemaran balik dengan

c.

memasang modul aliran udara laminer vertikel diatasnya.


Ruang steril (ruangan pengisian aseptis)
Kebersihan lingkungan di tempat pengisian aseptis dan
penutupan dengan tutup karet serta tutup aluminium dijaga
dengan memasang modul aliran udara laminar vertikel
diatasnya. Dinding ruangan ini sebaiknya berkaca

tembus

5
2

pandang untuk memudahkan pelaksanaan pengawasan dari


luar ruangan. Pengawasan hendaklah dilakukan dari luar
ruangan untuk mengurangi kemungkinan pencemaran udara
diruangan pengisian.
Ruangan
steril

hendaklah

dilengkapi

dengan

manometer atau alat lain yang menunjuk adanya perbedaan


tekanan udara di dalam terhadap tekanan udara di ruanganruangan lain yang bertetangga langsung dengan ruangand.

ruangan lain.
Ruang timbang dan pengolahan bahan baku secara aseptis
Dalam pembuatan dengan cara aseptis penimbangan
bahan baku dan pengolahannya hendaklah dilaksanakan
secara aseptis yang dapat dilaksanakan di bawah modul arus
udara laminar.

2) PERALATAN
1. Otoklaf
Suatu otoklaf digunakan untuk sterilisasi cara panas basah
dimana uap air dihasilkan dalam bentuk tekanan uap jenuh
a. Rongga sterilisasi
- Hendaklah diadakan saluran masuk yang cukup agar uap air
dapat didistribusi secara efektif ke dalam rongga
- Rongga hendaknya dapat melakukan pembuangan sendiri dan
cukup besar untuk menyediakan penyaluran yang memadai
- Dibuat sarana yang memungkinkan tempat masuk termokopel
ke dalam rongga untuk pegujian distribusi panas.
b. Pintu

5
2

- Hendaklah ada dua pintu yang saling berhadapan


- Mekanisme membuka dan menutup hendaklah dikontruksi
sehingga
1. Pintu tidak dapat dibukabila tekanan dalam rongga belum
mencapai 0,15 kg/cm2(bar) atau lebih kecil
2. Kedua pintu tidak dapat dibuka secara bersamaan
3. Uap air tidak dapt mengalir ke rongga kecuali bila pintupintunya tertutup dan terkunci .
4. Sterilisasi hanya dapat dimulai bila kedua pintunya tertutup
dan terkunci.
- Packing seal hendaklah terbuat dari jenis yang tahan terhadap
uap air dan vakum.
- Pintu hendaklah cukup diisolasi untuk mempertahankan suhu
permukaanpintu tidak melebihi 70 C
c. Jaket
- Otoklaf hendaklah diselubungi penuh dilengkapi ventilasi udara
otomatik
- Jaket hendaklah diisi dengan bahan isolasi tahan panas seperti
wol gelas yang dapat lepas.
d. Lori, rak dan penunjang hendaklah dibuat dari baja tahankarat.
Penempatan rak hendaklah cukup jarak terhadap dasar otoklaf
agar kondensar dapat mengalir.
e. Otoklaf hendaklah dilengkapi dengan :
-

Penunjuk tekanan/vakum rongga,

Alat pencatat suhudan tekanan dari saluran pembuangan


rongga

Indikator tekanan jaket

Penunjuk kevakuman untuk pengujiankebocoran


5
2

f.

Bila otoklaf dijalankan dengan proses pulsa, hendaklah otoklaf


dilengkapi dengan alat pendeteksi udara

g. Otoklaf hendaklah dilengkapi sarana seperti uap air, udara, dan


air

bertekanan

udarayangmasuk

ke

dalan

rongga

untuk

mengakhiri
h. Panel pengawas instrumen dan alat pengawas proses sterilisasi
hendaklah dipasang pada sisi non-septik dari otoklaf agar segera
dapat dicapai untuk keperluan perawatan danperbaikan.
i.

Mutu uap air sangat penting untuk mencapai keberhasilan kerja


otoklaf, untuk itu diperlukan uap air yang kering dan jenuh (tidak
superheated). Uap air hendaklah bebas cemaran

j.

Saluran pembuangan kondensat hendaklah dilengkapi dengan


saringan

200

mesh

dan

disambungkan

dengan

suatu

termometer resistan dan dengan suhu termokopel dengan


pecatat suhu bertitik ganda
k. Pompa vakum hendaklah dihubungkan ke rongga atau saluran
pembuangan rongga
l.

Otoklaf dapat digunakan bila seluruh kinerja dan pengujian


terhadap kebocoran sebagaimana dianjurkan oleh pembuat
otoklaf bersangkutan telah dilaksanakan dengan hasil yang
memuaskan.

2. Oven

5
2

Oven sterilisator digunakanuntuk sterilisasi panas kering


yang beroperasi dengan suhu yang jauh lebih tinggi serta waktu
yang lebih lama dibandingkan dengan sterilisasi panas basah.
Oven sterilisator hendaklah dibuat dari metal berlapis
gandayang diisolasi dengan bahan tidak dapat terbakar yang
disisipkan di antara kedua lapis logam dari permukaan bagian dalam.
Tebal isolasi hendaklah sedemikian rupa sehingga dapatmenjaga
agar suhu pada permukaan dinding tidak melebihi 50 C
Rongga dalam, saluran udara masuk, pintu dan kipas
hendaklah terbuat dari baja tahan karat agar mudah dibersihkan
tidak melepaskan partikel dan tahan terhadap penimbulan karat.
Terminal-terminal

elemen

panas

hendaklah

dapat

bertahan

padasuhu 20 C di atas suhu tertinggi yang akan dioperasikan.


Udara yang dipanaskan hendaklah disirkualsikan ke seluruh
isi rongga oven sehingga dicapai suhu merata selama siklus operasi
sterilisasi. Oven dapat dilengkapi dengan suatu sistem pendingin
yaitu dengan memasang spiral pendingin pada kotak elemen
pemanas
Oven

hendaknya

mempunyai

dua

pintu.

Mekanisme

membuka dan menutup pitu hendaklah dikontruksi sedemikian rupa


sehingga:
a. Kedua pintu tidak dapat dibuka serentak
b. Pintu tidak dapatdibukaselama proses sterilisasi berlangsung

5
2

Packing seal pintu hendaklah kedap udara bila pintu-pintu


dalam posisi tertutup.
Lori dan rak terbuat dari baja tahan karat dan dirancang bangun
sedemikian rupa sehingga tersedia cukup ruangan anatar rak yang
satu dengan yang lain maupun dengan sisi rongga untuk mencapai
distribusi panas yang merata pada muatan
Oven hendaklah dilengkapi dengan penghubung thermocouple,
alat pencatat suhu termostat, alat pencatat waktu proses dan alat
penunjuk tekanan. Hendaklah dipasang alat pencatats uhu dengan
sekurang-kurangnya10 titik kontrol untuk pemantauan secara teratur.
Suatu panel untuk pengawasan instrumen dan pemantauan
siklus proses hendaklah dipasang. Panel ini hendaklah dipasang
padas uatu tempat yang mudah dijangkau untuk perawatan dan
perbaikan.
Udara yang disalurkan ke dalam oven hendaklah dilewatkan
melalui saringan HEPA dengan efisiensi paling sedikit 99,997%.
Udara lembab yang dihisap dari oven tidak boleh dikeluarkan ke
daerah steril.
Oven hendaklah dikontruksi sedemikian rupa untuk mencegah
kebocoran yang akan mengakibatkan titik-titik dingin di dalam oven
selama pemanasan atau mengakibatkan pencemaran selama proses
pendinginan.
3. Penyaring Membran

5
2

a. Filter seitz
Bagian dari filter ini dibuat dari bahan asbestos yang dijepit
pada dasar wadah besi. Keuntungan utama dari filter seitz adalah
lapisan filter dapat dibuang setelah digunakan dan untuk masalah
ini pembersihannya berkurang. Efisiensi dari filter ini tergantung
pada pengembangan serat dan lapisan filter oleh air. Karena
larutan alkohol pekat tidak mengembang, filter ini tidak digunakan
untuk mensterilkan larutan yang mengandung alcohol dengan
jumlah besar. Filter ini mampu dengan kapasitas volume dari 30 ml
hingga lebih 100 ml.
Kerugian pertama dari filter ini cenderung memberikan
komponen magnesium pada filtrat. Bahan alkalin ini dapat
menyebabkan pengendapan dari alkaloid bebas dari garamnya dan
dapat menginaktifkan bahwa yang sensitiv seperti insulin, ekstrak
pituitary, epinefrin, dan apomorphin. Hal ini dapat diatasi dengan
perawatan pertama dengan filter dengan dibasahkan dengan HCl
dan kemudian dibilas dengan air.
Kerugian kedua dari seitz adalah permukaan serat dari lapisan
filtrat, membuat larutan tidak cocok untuk injeksi. Ini dapat diatasi
dengan menempatkan ayakan dari nilon atau sutra, di bawah
lapisan filter sebelum menempatkan lapisan di dalam filter atau
sebuah fritted glass dapat ditempelkan pada saluran. Kedua untuk
menghilangkan serat. Filter seitz juga cenderung menghilangkan
substrat dari filtrate dengan absorpsi.
5
2

b. Filter Swinny
Sebuah adaptasi dari filter seitz, filter swinny mempunyai
adaptor khusus yaitu terdiri dari lapisan asbes, bersama dengan
layer dan pencuci. Keutamaan untuk digunakan filter swinny di
bungkus dengan kertas dan autoklaf. Bagian yang dipotong
dihubungkan pada spoit werlock dan cairan dimasukkan ke
potongan asbes dengan menggunakan tekanan pada sal spoit.
c. Filter Fritted-Glass
Filter

Sintered

Fritted-Glass

dapat

dihancurkan

oleh

kandungan dalam serbuk, tombol bulat dari gelas digabungkan


bersama dengan penggunaan panas untuk menempatkan ukuran
dari bentuk potongan. Permeabilitas dari filter berbanding lurus
dengan berkembangnya ukuran. Setelah potongan dibentuk,
potongan disegel dengan pemanasan didalam gelas pirex seperti
corong Buchner.
d. Filter Berkefeld dan Mandler
Mandler terbuat dari tanah silika murni, asbestos dan
kalsium sulfat. Berkefeld disusun juga dari tanah silika murni.
Masing-masing filter bermuatan negatif. Tersedia dalam beberapa
prioritas berdasarkan permeabilitasnya ke dalam air dalam
Bekerfeld atau Mandler.
e. Filter Selas
Filter ini secara kimia, menjadi resistensi terhadap semua
larutan yang tidak menyerang silika. Karena masing-masing
5
2

partikel meliputi filter semata-mata bersama selama proses


manufaktur, ada bahaya kecil partikel-partikel dari filter jauh dalam
larutan.
f.

Filter Candles-Pasteur-Chamberland
Ada pemanasan dengan Bekerfeld tetapi dibuat dari pori

porselen tak berkaca dengan pori kecil yang menghasilkan filtrasi


lambat.
Air Handling Unit (AHU)
Merupakan seperangkat alat yang dapat mengontrol suhu,
kelembaban, tekanan

udara, tingkat kebersihan (julah partikel

mikroba), pola aliran udara, jumlah pergantian udara dan sebagainya,


diruang produksi sesuai dengan persyaratan ruangan yang telah
ditentukan.
Pada dasarnya AHU terdiri atas :
1. Cooling coil
Berfungsi untuk mengontrol

suhu

(temperature)

dan

kelembaban relative udara yang didistribusikan ke ruangan


produksi. Hal ini dimaksudkan agar dapat dihasilkan output udara,
sesuai dengan spesifikasi ruangan yang telah ditetapkan
2. Static Pressure Fan (Blower)
Berfungsi untuk menggerakkan udara di sepanjang system
distribusi udara yang terhubung dengannya.
3. Filter
Berfungsi untuk mengendalikan dan mengontrol jumlah
partikel

dan

mikroorganisme

(partikel

asing)

yang

mengkontaminasi udara yang masuk ke dalam ruang produksi


4. Ducting
Berfungsi sebagai saluran tertutup tempat mengalirnya udara
5
2

5. Dumper
Berfungsi

untuk

mengatur

jumlah

debit

udara

yang

dipindahkan ke dalam ruangan produksi


Sarana-sarana produksi steril meliputi :
A. Washing Machine. Mesin cuci otomatik ini digunakan untuk
mencuci vial yang akan diisi dengan larutan atau serbuk steril.
Pencucian

dilakukan

dengan

air

murni

(purified

water),

dilanjutkan menggunakan air untuk injeksi (water for injection),


diikuti dengan udara steril untuk pengeringan. Mesin ini memiliki
kapasitas pencucian hingga 9.000 vial per jam.
B. Depyrogenation Machine. Mesin ini digunakan untuk proses
sterilisasi dan depirogenasi vial pada suhu maksimum 340 C,
dan aliran udara dalam mesin diatur laminar dengan melalui
Hepa filter. Mesin ini memiliki kapasitas hingga 9.000 vial per
jam.
C. Filling & Stoppering Machine. Mesin filling ini digunakan untuk
melakukan pengisian larutan atau serbuk steril pada vial steril
dan penutupan vial yang telah di-filling dengan rubber stopper.
Proses filling dilakukan dengan volumetric vacuum-pressure
system. Mesin ini dilengkapi dengan statistical weight control
dengan feedback untuk automatic adjustment pada dosing
chamber, dan liquid filling system untuk keperluan validasi media
fill. Semua proses ini dilakukan dibawah kondisi aliran udara
laminar dengan Hepa filter. Mesin ini memiliki kapasitas hingga
9.000 vial per jam.

5
2

D. Capping and Dedusting Machine. Proses penutupan vial


dilakukan secara otomatis, diteruskan pembersihan bagian luar
vial dengan cara di-vacum untuk mencegah kontaminasi debu
terhadap lingkungan luar.
E. Inspection & Labelling Machine. Inspeksi dilakukan terhadap
semua vial yang menggunakan Inspection Machine diteruskan
dengan proses labelling secara otomatis, dilanjutkan dengan
proses packaging.
Sedangkan sarana penunjangnya terdiri dari :
a) Purified Water Treatment Plant. Fasilitas pengolahan air murni
ini terdiri dari Reverse Osmosis (RO) dan Electrodeionization
(EDI). Sistem ini mampu menghasilkan air murni dengan
konduktiviti kurang dari 0.1 S/cm dan total organic carbon (TOC)
kurang dari 50 ppb.
b) Purified water distribution system. Distribusi purified water
dilakukan dengan sistem loop pada temperatur ambient yang
beoperasi selama 24 jam. Sistem distribusi purified water terdiri
dari SS316L storage tank and pipe, diaphragm valve pada user
point, UV purifier untuk mengontrol pertumbuhan mikroba.
c) Water for Injection. Water for injection dihasilkan dari multi
column distillation plant dengan purified water sebagai air
sumber.
d) Water for Injection Distribution System. Distribusi water for
injection (WFI) dilakukan dengan system loop pada suhu 80 C
yang beroperasi 24 jam. Sistem distribusi WFI terdiri dari

5
2

SS316L storage tank, SS 316L pipe dengan orbital welding, dan


zero deag leg diaphragm valve

3) PERSONIL
Untuk mencegah pencemaran pada pembuatan obat steril tindakan
dan prosedur khusus harus dilaksanakan sepenuhnya. Petugas yang
bekerja di daerah pengolahan obat steril berikut pakaiannya dapat
menjadi sumber pencemaran bila mereka tidak memperhatikan hal-hal
mengenai hygiene, kebersihan dan tingkah laku bekerja.
Peraturan tambahan dan tindakan yang harus dilaksanakan. :
Kesehatan
1. Karyawan yang mengidap luka terbuka, ruam, bisul atau penyakit kulit
lain tidak boleh bertugas di daerah bersih dan daerah steril.
2. Karyawan yang menderita infeksi saluran pernapasan bagian atas,
influenza, batuk, diare, dan penyakit menular lain juga tidak boleh
bertugas di daerah bersih dan daerah steril.
3. Pemeriksaan kesehatan terhadap kondisi-kondisi tersebut di atas
harus dilakukan secara berkala.
Higiene Perorangan
1. Kuku karyawan yang bertugas di daerah bersih dan daerah steril
harus dipotong secara teratur.
2. Karyawan harus didorong untuk berambut pendek demi mengurangi
pencemaran udara oleh rambut.
3. Kosmetik tidak boleh digunakan atau dipakai dalam ruangan bersih.
Kosmetik tersebut meliputi : perona wajah, perona bibir (lipstick),
bedak muka, pewarna kelopak mata, pensil alis mata, mascara,
5
2

penggaris mata (eye liner), bulu mata palsu, cat kuku, semprot
rambut, dan pemakaian deodorant aerosol berlebihan.
4. Perhiasan seperti cincin ukuran besar, kalung, anting-anting, liontin
(lockets), gelang tidak boleh digunakan di ruangan bersih.
5. Milik pribadi seperti kunci, dompet, uang logam, rokok, korek api,
pensil, sapu tangan, arloji, lap kertas, dan sisir tidak boleh di bawa ke
ruangan bersih.
6. Tangan dan kuku tangan harus disikat secara menyeluruh sebelum
memasuki ruangan bersih dengan sabun desinfektan yang telah
disediakan.
7. Tangan harus dikeringkan dengan pengering udara panas. Dilarang
menggunakan lap kertas atau handuk kain di ruang bersih.
8. Tidak boleh makan, mengunyah permen karet atau tembakau, atau
merokok di daerah bersih.
9. Kesadaran mengenai hygiene dan kebersihan harus ditanamkan
dengan memberikan pelajaran dan pengajaran kepada karyawan
mengenai unsure dasar mikrobiologi.
Tingkah Laku Higiene
1. Jumlah karyawan yang bertugas di daerah steril harus dibatasi.
Pengamatan dan pengewasan harus dilakukan dari luar.
2. Kebiasaan seperti menggaruk kepala atau menggosok tangan, muka
atau bagian tubuh lain harus secara sadar dihindari.
3. Berteriak dan berbicara yang tidak perlu melalui masker harus
dihindari. Tertawa, bernyanyi dan berteriak manambah jumlah bakteri
yang keluar dari mulut.
4. Pakaian kerja kotor tidak boleh dipakai di dalam ruang bersih
5. Karyawan tidak boleh bersandar atau menjangkau di atas vial terbuka
pada jalan pengisian

5
2

6. Karyawan harus menjauhi tangannya di bagian vial terbuka. Vial harus


dipegang pada bagian bawahnya
7. Tutup kepala harus disispkan sepenuhnya ke dalma baju dan abju
diresleting secara sempurna sampai ke leher
8. Bila bagian manapun dari baju ruang bersih rusak, robek atau kotor
selama melakukan kegiatan operasional, karyawan bersangkutan
harus mengembalikan baju tersebut ke temapt ruang ganti pakaian
dan menggantikanbagian yang rusak tersebut
9. Semua rambut harus tertutup secara menyeluruh setiap saat
10. Resleting pakaian terusan tidak boleh dibuka di ruangan bersih
11. Tidak boleh ada bagian kulit diantara sarung tangan dan pakaian
terusan yang terpapar. Bila tercemar sarung tangan harus dicuci dan
dibilas dengan larutan desinfektan yang disediakan
12. Tidak seorang pun yang sakit terutama yang menderita gangguan
perut atau pernafasan diperkenankan memasuki ruangan atau daerah
steril
13. Tidak boleh ada pakaian untuk ruang steril yang digunakan kedua
kalinya tanpa dicuci ulang dan disterilkan ulang
14. Sekali sudah berada di dalam ruang steril, karyawan yang
bersangkutan harus mencegah dirinya kembali ke ruang penyangga
udara. Bila seorang karyawan harus pergi ke toilet, prosedur
pergantian pakaian harus dilakukan sebelum memasuki kembali ke
dalam ruang bersih
15. Gerakan tubuh yang tidak perlu harus dihindari di dalam ruang steril
karena hal tersebut akan meningkatkan penyebaran partikel dan
mikroba secara signifikan
16. Karyawan dari Bagian Perawatan Mesin atau mereka yang melakukan
tugas lain di ruang steril harus memenuhi peraturan tentang hygiene
perorangan yang berlaku bagi Karyawan bagian produk steril
5
2

PAKAIAN KERJA/SERAGAM PERSONALIA


Pakaian yang digunakan dalam daerah steril hendaklah
berfungsi sebagai sistem saringan yang dapat menahan pencemaran
partikel

yang

berasal

dari

tubuh

pemakai

sehingga

tidak

mengkontaminasi ke sekeliling ruang kerja.


Pakaian untuk daerah steril terdiri dari :
-

Tutup kepala, yang menutupi seluruh bagian kepala termasuk

seluruh rambut
Baju dan celana model terusan
Penutup kaki
Masker, yang menutupi mulut, hidung dan janggut, dan
Kaca mata pelindung
Pakaian
Pelindung

Persyaratan dan Penggunaan pakaian pelindung


sesuai dengan tingkat kebersihan ruangan
Kelas I dan II
- Terbuat dari kain yang ditenun dengan multi-filament
terusan yang dapat menyaring bakteri dan partikulat

1. Baju Kerja

udara secara maksimal


- Bebas tiras/serta
- Lengan panjang, dicuci dan disterilkan sebelum
digunakan
- Penggantian pakaian kerja dan sarung kaki steril

2. Sepatu
3. Pelindung
rambut
4. Masker
5. Sarung
Tangan

dilakukan di ruang ganti pakaian steril


Ganti setiap hari dan apabila terlihat kotor
Dapat menyaring partikel secara maksimal
Bebas tiras/serat
Cuci dan sterilkan sebelum digunakan
Dapat menyaring partikel secara maksimal
Bebas tiras/serat

Dapat menyaring partikel secara maksimal


Bebas tiras/serat
Cuci dan sterilkan sebelum digunakan
Terbuat dari vinil atau lateks, dapat menyaring partikel
secara maksimal
5
2

- Bebas bedak/serbuk
- Sterilkan sebelum digunakan, atau gunakan yang
tersedia di pasaran dalam kondisi steril
- Didesinfeksi secara berkala paling tidak setiap jam
misalnya dengan etilalkohol 70%
- Diganti segera bila rusak atau terkontaminasi

D. Incoming Material Inspection (IMI)


Merupakan salah satu bagian dari Quality Control (QC) yang
bertanggung jawab melakukan :
1) Pemeriksaan bahan baku dan bahan kemasan
2) Analisis bahan baku dan bahan kemasan
3) Pengendalian Mutu
Gambaran Alur Incoming Material Inspection (IMI)
Pengiriman

Suplier

Tidak

Cek bagian pembelian


Gudang karantina

LPB (Laporan Pemeriksaan


Barang)
( Laporan Pemeriksaan Barang)

Bagian QC
Labelling
Sampling
Periksa
Tolak

Label Merah

Hasil
Label Hijau

Masuk
gudang
5
2

Pelaksanaan sampling
Kategori

Saat datang

Stabil

1 minggu sebelum dipakai


0

Tidak stabil

Sangat tidak stabil

N = jumlah wadah yang diterima, n>5


Material/bahan yang diperiksa yaitu :
Bahan Baku
a. Pelaksanaan on the spot sesuai spesifikasi
b. Kesesuaian : label, nama suplier, kondisi wadah, organoleptik (warna,
bau, rasa)
c. Analisis : kualitatif, kuantitatif (kadar, potensi), kemurnian bahan

Spesifikasi bahan awal terutama bahan baku yang akan digunakan


untuk pembuatan obat steril, disamping ketentuan yang biasa berlaku,
hendaklah mencakup ketentuan mengenai sterilitas bahan atau bilangan
kuman maksimum yang boleh terkandung dalam bahan bersangkutan.
Kadar pirogen bahan awal yang digunakan dalam pembuatan obat injeksi
hendaklah ditentukan bila perlu. Penentuan ini dapat dilakukan misalnya
dengan menggunakan metode LAL.

5
2

Batas kandungan mikroba dan pirogen ditentukan melalui validasi.


Bila batas kandungan dilewati, hendaklah bahan baku bersangkutan
disterilisasi dengan metode sterilisasi yang tepat atau dibebaskan dari
pirogen dengan cara yang tepat (ntara lain dengan melarutkan dan
kemudian menyaringnya melalui ultrafilter)
Bahan pengemas
a. On the spot : kondisi wadah (tidak rusak/penyok, tutup wadah, segel,
label (ada/tidak), tercium bau asing/tidak, basah/tidak), warna,
penandaan, bentuk, dll
b. Analisis : dengan alat ukur panjang, lebar, bonding strength
c. Military standard 105E

E. Production Planning & Inventory Control (PPIC)


Bagian yang berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara
produksi, pemasaran, pengadaan, akutansi/keuangan, penyimpanan,
RPD, dll, yang berfungsi dalam penyediaan obat.
Tujuan Pokok : Merencanakan dan mengendalikan aliran bahanbahan yang masuk ke proses produksi barang/bahan yang sedang dalam
proses (WIP), barang/bahan yang keluar dari pabrik sehingga profit yang
diinginkan perusahaan dapat dicapai secara optimal dan efisien.
Sasaran Utama : Terciptanya proses produksi yang efektif dan
efisien serta menguntungkan bagi perusahaan.
Tanggung Jawab PPIC :

5
2

1. Pembuatan rencana produksi


2. Pembuatan jadwal produksi
3. Melakukan evaluasi terhadap sistem perencanaan produksi dan
distribusi stok bahan baku dan barang jadi serta penjadwalan produksi.
4. Penetapan tingkat persediaan yang ekonomis baik bahan baku
maupun produk jadi.
5. Penerbitan bon-bon permintaan barang/bahan.
6. Penugasan kerja
Fungsi Pokok :
1. Fungsi Perencanaan: Menentukan sasaran dan langkah-langkah untuk
mencapai sasaran
2. Fungsi Pengendalian: Alat manajemen untuk memastikan bahwa
pelaksanaan telah sesuai dengan rencana.
PPIC membawahi :
1. Perencanaan dan pengendalian produksi
2. Perencanaan dan pengendalian bahan
3. Evaluasi persediaan dan pasar
Tugas kepala divisi PPIC
1. Mengelola kegiatan rencana kerja dan anggaran perusahaan
sesuai dengan estimasi rencana penjualan.
2. Mengelola kegiatan perencanaan dan evaluasi bahan baku, bahan
kemasan dan produk jadi.

5
2

3. Mengelola kegiatan perencanaan dan evaluasi proses produksi.


4. Mengelola data dan informasi produksi dan evaluasi inventory
5. Mengelola pembinaan SDM di lingkungan bagian perencanaan dan
pengendalin produksi.
6. Menyusun

rencana

kerja

dan

mengkonstusikan

rencan

pelaksanaan tugas dan melaporkan hasilnya ke manajer.


Tugas Utama :
1. memaksimalkan tingkat pelayanan pelanggan.
2. Meminimalkan investasi persediaan
3. Efisiensi operasi.
4. Menyusun RAKP
Peranan PPIC dalam Proses Produksi
Pengaraha
n

P.P.I.C
Info

Info

Pengaraha
n

Info Control

Input
Gudang BB

Bahan
Baku

Output
Produks
Gudang Jadi
i
Hasil Produk

Alur kerja PPIC dalam Perencanaan Produksi


Forecast Pengolahan
Data
Pengolahan
Data
Jadwal
Produksi

Rencana
Produksi

Dalam

membuat

rencana

Distribusi
Jadwal

dan

schedule

produksi

harus

mempertimbangkan :
5
2

1. Stock yang ada baik bahn baku maupun barang jadi


2. waktu ketersediaan bahan baku
3. Kemampuan tenaga kerja
4. Kondisi peralatan yang ada
5. Type komponen/material yang dipakai
6. Waktu yang tersedia baik waktu pemeliharaan mesin untuk setiap
operasi.
F. Produksi Sediaan Steril
Secara garis besar, terdapat dua metode dalam pembuatan produk
steril, yaitu produk yang disterilisasi akhir (post sterization) dan produk
tanpa sterilisasi akhir (pembuatan secara aseptis). Perbedaan mendasar
dari kedua metode ini, adalah pada metode yang pertama (post
sterization) dilakukan sterilisasi produk setelah dimasukkan ke dalam
wadah (vial atau ampul atau botol infus). Sedangkan metode yang kedua
(aseptis)

tidak

dilakukan

sterilisasi

akhir, sehingga

pada

proses

pembuatannya dilakukan secara aseptis.


Proses produksi dengan secara aseptis, penyiapan bahan,
pembuatan larutan, penyaringan dan pengisian, dilakukan di lingkungan
kelas A dengan latar belakang kelas B. Sedangkan untuk produk yang
disterilisasi akhir, penyiapan bahan, penyimpanan larutan, penyaringan,
dan pengsian dilakukan dilingkungan kelas C (kecuali jika ada resiko
terhadap produk yang berada di luar jangkauan, misalnya oleh karena

5
2

kegagalan pengisian berjalan lambat, maka pengisian harus dilakukan di


lingkungan kelas A dengan latar belakang kelas C).
Tahap-tahap dalam proses pembuatan bentuk sediaan steril adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Pengisian & penyiapan ruangan serta fasilitas produksi


Pembuatan dan penanganan air untuk injeksi
Pembersihan/pencucian dan steerilisasi peralatan
Pencucian dan sterilisasi wadah (vial atau ampul)
Pencampuran produk
Penyaringan larutan
Pengisian
Penyegelan
Pengujian selama proses produksi (In Process Control = IPC)
Penyelesaian
Validasi

Penyiapan Ruangan Dan Fasilitas Produksi


Sebelum dilakukan proses produksi, ruangan harus dibersihkan
dengan seksama dan tidak ada sisa partikel bebas produk sebelumnya
yang tertinggal. Selanjutnya ruangan disterilisasi dengan menggunakan
gas (gas formaldehida atau etilen oxide). Cara lain adalah dengan
menggunakan

lampu

ultra

violet

(UV)

yang

ditempatkan

untuk

memberikan intensitas penyinaran yang memadai pada luas permukaan


yang maksimum.
Sinar ultra violet (UV), terutama digunakan untuk menyinari
permukaan tangki pemrosesan bagian dalam dan permukaan yang
terpapar, permukaan di bawah tutup, permukaan ban berjalan, dari
permukaan tertentu yang sulit di sterilkan jika tidak dengan penyinaran.
Pembuatan Dan Penanganan Air Untuk Injeksi

5
2

Pembuatan air untuk injeksi (Water for Injection=WFI), biasanya


dibuat dengan cara destilasi (penyulingan) bertingkat dari bahan baku air
murni (purified water).
Air suling yang dipakai sebagi bahan baku untuk pengolahan, bila
disimpan lebih dari 24 jam, hendaklah dipanaskan pada suhu minimal 70
C dan sirkulasi dengan kecepatan antara 0,5-1,5 m/detik,
Kualifikasi air secara umum:
a. Grade I: Raw Water
Fungsi : Untuk pemadam kebakaran, menyiram tanaman, dll
Pembuatan: Air sumur, PDAM, dll
b. Grade II: Potable Water (PW)
Fungsi : Cuci pakaian, cuci alat nonsteril, pembersihan ruangan, cuci
tangan, kamar mandi, dll
Pembuatan:
Raw water

Iron
removal

Sand
filter

Chlorinasi

Carbon
filter

Potable
Water

5
2

c. Grade III : Purified Water/Aquademineralisata


Fungsi : Cuci akhir container, produksi syrup/tablet/coating
Pembuatan:
Saringan
mikro 3 m
Potable
Water

De-ionisasi

Saringan
mikro 1 m
UV Lamp

Purified
water

Saringan
mikro 0,2 m

d. Grade IV: Water For Injection (WFI)


Diagram alir system distribusi air untuk injeksi
Fungsi : Cuci akhir container steril, cuci vial/ampul, produksi steril,
laboratorium, dll
Pembuatan:
Purified
Water

Water For
Injection

Unit
destilasi

Berikut standar air yang digunakan untuk produksi sesuai dengan


persyaratan CPOB terkini (2006) :
Purified Water

Highly Purified

Water For Injection

5
2

Water
(Eur. Pharm. +
USP)

(European
Pharmacopeia)

(Eur.
Pharm.)

Conductivity at
25C

1.3 S/ cm

1.3 S/ cm

1.3 S/ cm

Heavy Metals

0.1 ppm

0.1 ppm

Nitrate

0.2 ppm

0.1 ppm

Total Organic
Carbon

< 500 ppb

< 500 ppb

< 500 ppb

Microbial Limit

< 100 cfu/ ml

< 10 cfu/ ml

< 10 cfu/ ml

Endotoxines

< 0.25 Eu/ ml

< 0.25 Eu/ ml

USP

Gambaran proses hingga diperoleh Air Untuk Injeksi (Water for Injecton)

5
2

Pembersihan/Pencucian Dan Sterilisasi Peralatan


Alat dan wadah yang akan digunakan dalam pemrosesan suatu
produk steril harus benar-benar bersih, tidak berdebu, dan tidak bersekat.
Beberapa

alat

yang

canggih

sekarang

telah

dilengkapi

dengan

pembersihan di tempat (cleaning in place/CIP). Pembersihan ini


menggunakan tekanan tinggi yang dilakukan secara otomatis di dalam
peralatan tersebut. Selanjutnya, alat dan wadah untuk pemrosesan produk
steril, dilakukan sterilisasi dengan cara yang sesuai.
Wadah, peralatan dan komponennya yang telah dicuci hendaklah
disterilisasi dalam waktu lebih lama daripada 4 jam setelah dicuci, kecuali
proses sterilisasi yang mencakup juga proses depirogenesis di mana
pelaksanaan proses sterilisasi boleh dilakukan dalam waktu paling lama 8
jam seterlah proses pencucian. Namun kondisi demikian hendaklah
divalidasi
Wadah, peralatan dan komponennya yang telah dicuci dan
disterilisai hendaklah dijaga agar tidak tercemar kembali oleh partikel dan
mikroba. Barang yang telah disterilkan hendaklah diberi tanggal
sterilisasinya, disimpan dalam lemari yang dilengkapi dengan sinar ultraviolet atau di bawah aliran laminar. Wadah, peralatan dan komponen
hendaklah digunakan dalam waktu paling lama 3 hari (72 jam) setelah
proses sterilisasi. Kondisi ini hendaklah divalidasi.

5
2

Metode Sterilisasi
a. Sterilisasi Secara Fisika
1. Pemanasan Kering
a. Contoh: udara panas oven, penangas minyak dan lainnya,
pemijaran langsung
b. Mekanisme umum: mikroorganisme dibunuh dengan adanya
proses oksidasi dari uap panas dengan temperatur tinggi.
Beberapa waktu dan suhu yang umum digunakan pada oven:
- 170 C (340 F) selama 1 jam
- 160 C (320 F) sampai 2 jam
- 150 C (300 F) sampai 2,5 jam
- 140 C (285 F) sampai 3 jam
c. Keuntungan:
Dapat menghilangkan pirogen
Tersedia alat sterilisasi dengan rancang bangun dan

persyaratan instalasi yang sederhana


Kondisi sterilisasi diketahui dan didokumentasi
Indikator biologi tidak diperlukan
Dapat digunakan untuk membunuh spora dan bentuk

vegetatif dari semua mikroorganisme (Lachman ind)


Umumnya digunakan untuk senyawa-senyawa yang tidak

efektif disterilkan dengan uap air panas (Ansel;413)


Metode pilihan bila dibutuhkan peralatan kering atau wadah
yang kering, seperti pada zat kimia kering atau larutan bukan

air (Ansel 414)


d. Bahan yang dapat diproses:
Bahan yang tidak dapat ditembus, seperti bubuk, cairan
dengan bahan pembawa bukan air, beberapa instrument

untuk pembedahan seperti alat tajam dan bor listrik


Foil aluminium lebih dipilih untuk pengemasan, tetapi kaca

atau logam dapat juga digunakan.


e. Bahan yang tidak dapat diproses:
Bahan yang tidak tahan panas

5
2

f. Kerugian lain dan persyaratan khusus:


Karena panas kering efektif membunuh mikroba dengan uap
air panas, maka diperlukan temperatur yang lebih tinggi dan
waktu yang lebih panjang (ansel; 413)
2. Panas Lembab
a. Contoh: Uap bertekanan (otoklaf), Uap panas 100 C,
pemanasan dengan bakterisida, Air mendidih
b. Mekanisme umum: kematian mikroorganisme oleh panas
lembab adalah hasil koagulasi protein sel. Waktu sterilisasi
minimum adalah:
30 menit untuk suhu 115 C - 116 C
20 menit untuk suhu 121 C - 123 C
10 menit untuk suhu 126 C - 129 C,
Ditambah waktu tambahan untuk larutan dalam wadah.
Secara

umum

larutan

dalam

botol

100-200

ml

akan

membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit dan untuk botol 500


ml membutuhkan antara 10 15 menit.
c. Keuntungan:
Adanya uap air dalam sel mikroba menimbulkan kerusakan
pada temperatur yang relatif rendah daripada tidak ada

kelembaban (ansel; 412)


Sel bakteri dengan kadar air besar umumnya lebih mudah

dibunuh (Ansel;413)
Dapat membunuh semua bentuk mikroorganisme vegetatif

(Scovilles 408)
d. Bahan yang cocok untuk diproses:
Cairan dengan bahan pembawa air
Pengemasan dalam wadah polimer kaku, gelas atau polimer
yang fleksibel
Alat-alat gelas yang berskala
e. Bahan yang tidak dapat diproses:
Cairan dengan bahan pembawa bukan air
5
2

f. Kerugian lain dan persyaratan khusus:


Waktu siklus lama
Bahaya meledak bila wadah terisi melebihi batas
Tidak dapat menghilangkan pirogen
3. Cara bukan panas
1. Sinar UV
a. Mekanisme:
Ketika sinar UV melewati bahan, energi bebas ke elektron
orbital dalam atom-atom dan mengubah kereaktivannya.
Absorpsi energi ini menyebabkan meningginya keadaan
tertinggi atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Ketika
eksitasi dan perubahan aktivitas atom-atom utama terjadi
dalam molekul-molekul

mikroorganisme

atau

metabolit

utamnya, organisme itu mati atau tidak dapat berproduksi.


Pengaruh utamanya mungkin pada asam nukleat sel, yang
diperhatikan untuk menunjukkan lapisan absorpsi kuat
dalam rentang gelombang UV yang panjang.
2. Radiasi
a. Mekanisme:
b. Keuntungan:
Produk yang dikemas dalam wadah luar untuk transit
Indicator biologi tidak diperlukan
Radiasi sinar gamma berdaya tembus tinggi, sterilisator
berkapasitas besar
Pancaran electron

bukan

sumber

radioaktif,

daya

degradasi terhadap bahan plastic kecil, proses cepat


c. Bahan yang cocok untuk diproses:
- Berbagai jenis bahan plastik seperti polipropilen kualitas
tertentu, stiren, akrilonitril, polietilen, dan bahan alam,
seperti latek
5
2

Produk

logam

dengan

batas

kepadatan

tertentu

(misalnya bahan implant, ortopedik)


d. Bahan yang tidak cocok untuk proses:
- Beberapa jenis plastic dan kaca mengalami ikatan silang
-

menyebabkan warna memudar dan menjadi rapuh


Penggunaan terbatas pada produk farmas karena dapat

menyebabkan perubahan kimiawi dan penguraian


- Pengaruh dari radiasi pada pengemasan perlu ditentukan
e. Kerugian lain dan persyaratan khusus:
- Bermodal tinggi
- Persyaratan pada peralatan sangat rumit
- Tidak dapat menghilangkan pirogen
- Pancaran elektron, daya tembus yang rendah, ketebalan
produk merupakan hal yang kritis, rumit dikendalikan.
b. Sterilisasi secara kimia
1. Gas
a. Gas yang biasa digunakan: Gas etilen oksida
b. Mekanisme: etilen oksida bereaksi sebagai bakterisid dengan
alkilasi asam, amin, hidroksil, dan gugus sulfidril dari protein dan
sel

enzim.

Kelembaban

dibutuhkan

untuk

etilen

oksida

berpenetrasi dan merusak sel (parrot;280)


c. Keuntungan:
- siklusnya dapat dikembangkan untuk produk khusus
- Dapat memproses produk yang dikemas dalam wadah antara
- Tersedia alat sterilisasi otomatik dari berbagai ukuran 1 m 3
hingga 30 m3
d. Bahan yang cocok untuk diproses:
- Bahan polimer seperti propilen yang berkepadatan rendah,
polivinil klorid, polimetil metakrilat, dan poliurelan
- Bahan pengemas harus dapat ditembus udara, uap air dan gas
misalnya kertas untuk sterilisasi dan poliofelin soun bonded
- Obat serbuk, seperti penisilin
e. Bahan yang tidak cocok untuk diproses:
- Ampul dan vial yang pada permukaan luarnya terdapat
keretakan yang halus sehingga menyebabkan gas masuk
5
2

- Bahan pengemas yang tidak dapat ditembus, misalnya kaca,


logam.
- Produk

yang

peka

terhadap

kelembaban

tinggi

dapat

menimbulkan masalah khusus


- Produk yang tidak bersih akibat pengotoran dari bahan organik
atau anorganik dapat menyebabkan gas tidak dapat tembus.
f. Kerugian lain dan masalah khusus:
- Diperlukan indikator biologi
- Tidak ada siklus sterilisasi yang baku
- Tingkat keracunan dari gas
- Sisa gas dalam produk yang diproses
- Diperlukan seorang yang memiliki keahlian khusus
- Rongga sterilisasi harus dilembabkan (dihumidifikasi) terlebih
dahulu.
- Tidak dapat menghilangkan pirogen
- Gas-gas (etilen oksida dan propilen oksida) mudah terbakar
(bersifat eksplosif) bila bercampur dengan udara.
- Waktu sterilisasi bergantung pada keberadaan kontaminasi,
kelembaban, temperatur, dan konsentrasi dari gas etilen
oksida. Konsentrasi minimum adalah 450 mg/L pada tekanan
27 psi.
c. Sterilisasi secara mekanik
a. Contoh: menggunakan filter Seitz, Filter Swinny, Filter Fritted-Glass,
Filter Berkefeld dan Mandler, Filter Chamberland Pasteur
b. Mekanisme umum: larutan dibebaskan dari mikroorganisme
vegetatif dan sporanya melalui filter bakteri.
c. Keuntungan:
- Dapat dilaksanakan pada suhu ruangan
- Dapat digunakan untuk volume besar secara bertahap
- Juga menghilangkan partikel
- Tidak terbentuk pirogen akibat proses
- Tersedia saringan yang kompatibel bahkan terhadap produk
yang agresif.
5
2

Peralatan yang digunakan relative tidak mahal dan mikroba


hidup dan mati serta partikel-partikel lengkap semua dihilangkan

dari larutan (Ansel; 416)


Tidak menghilangkan bahan yang diinginkan atau membawa

komponen yang tidak diinginkan (lachman ind; 1265)


d. Bahan yang cocok untuk diproses:
- Cairan yang tidak dapat disterilisasi akhir
e. Bahan yang tidak dapat diproses:
Produk bukan cairan
f. Kerugian lain dan persyaratan khusus:
Diperlukan proses aseptik sesudah sterilisasi
Kemungkinan tidak dapat menghilangkan virus atau mikroplasma
Kemungkinan tidak dapat menghilangkan pirogen dari aliran
cairan
Menyerap beberapa obat, pengawet, dan sebagainya
Pelepasan komponen saringan

5
2

Pencucian Dan Sterilisasi Wadah (Vial Atau Ampul)


Tutup karet (untuk vial) dicuci dengan pengocokan mekanik dalam
suatu tangki yang berisi larutan deterjen panas (misalnya 0,5% natrium
pirofosfat) yang dilanjutkan dengan pembilasan menggunakan air untuk
injeksi (WFI), selanjutnya disterilkan dalam autoclave. Sedangkan untuk
ampul, dalam proses produksi di industri farmasi dicuci dan disterilkan
dalam satu rangkaian alat/mesin otomatis dengan ban berjalan.
Pencampuran Produk
Produk harus dicampur pada kondisi lingkungan tertentu (lihat
pada bagian Proses Pembuatan sebelumnya). Hal terpenting dalam
proses pencampuran ini adalah ketelitian dalam proses pencampuran.
Urut-urutan pencampuran sangat berdampak terhadap hasil produk yang
diinginkan. Perhatian khusus harus diberikan untuk mencapai dan
menjaga homogenitas larutan, dengan cara menjaga suhu larutan.
Penyaringan Larutan
Larutan harus disaring. Tujuan utama proses penyaringan adalah
penjernihan atau sterilisasi larutan. Secara prinsip, kedua tujuan ini
berbeda. Penjernihan diberi istilah pengkilapan dan larutan yang
dikilapkan membutuhkan penghilangan partikel-partikel kecil sampai
ukuran paling tidak 3 mikron. Sedangkan sterilisasi dimaksudkan untuk
menghilangkan partikel di bawah 3 mikron, termasuk menghilangkan
mikroorganisme hidup atau spora. Setelah penyaringan, larutan harus
dilindungi dari kontaminasi lingkungan sampai larutan tersebut tersegel
5
2

dalam wadah akhir. Untuk menjamin sterilisasi larutan yang akan di-filling,
dilakukan uji tes sterilisasi
Pengisian
Pengisian larutan steril, biasanya dilakukan secara otomatis
dengan mesin pengisi dan penyegelan, terutama untuk sediaan ampul.
Mesin pengisi harus didesain untuk dapat memberikan ketepatan volume.
Ketepatan volume dapat dipengaruhi oleh beberapa factor, antara lain
kecepatan pengisian dan keseragaman ukuran botol ampul. Hal lain yang
perlu diperhatikan adalah jangan sampai ujung jarum pengisi, yang
biasanya terbuat dari stainless steel, mengenai mulut ampul, karena
dapat menyebabkan terjadi serpihan kaca yang dapat masuk ke dalam
ampul yang sedang diisi. Selin itu, tekanan pada saat pengisian juga perlu
mendapat perhatian, karena botol kaca ampul tidak didesain untuk
menahan tekanan tinggi.
Pengisian sebuk padat steril ke dalam wadah botol (vial)
merupakan proses yang cukup rumit bila dibandingkan dengan pengisian
bentuk larutan. Kecepatan pengisian biasanya lebih lambat, dengan
variasi pengisian yang tinggi. Untuk itu, proses pengisian serbuk steril ke
dalam wadah vial harus dilakukan secara hati-hati dan dilakukan
pemantauan bobot dengan cermat.
Bila ada pembilasan akhir tidak digunakan air bebas pirogen,
hendaklah wadah dan komponen mesin yang akan bersentuhan dengan
produk atau bahan pengemas primer, mialnya vial, dilewatkan melalui

5
2

proses depirogenesis yaitu pemanasan pada suhu 180 C selama 2 jam


atau suhu 250 C selama jam atau pada kondisi pemanasan lain yang
telah divalidasi
Penyegelan
Penyegelan ampul yang telah diisi, biasanya dilakukan segera
setelah diisi dengan menggunakan mesin filling and sealing otomatis
dalam satu rangkaian. Penyegelan ampul dilakukan dengan melelehkan
bagian gelas dari leher ampul hingga membentuk segel penutup (tipseal) atau segel tarik (pull-seal). Penyegelan ampul dilakukan dengan
menggunakan nyala api gas oksigen (gas oxygen flame) teperatur tinggi.
Penyegelan harus dilakukan dengan hati-hati dan dijaga untuk mencegah
distorsi segel tersebut.
Untuk penyegelan botol vial, tutup karet harus cocok dengan mulut
wadah, serta cukup rapat untuk menghasilkan wadah yang dapat disegel
dengan

rapat.

Biasanya

penutup

ini

dilakukan

secara

manual

menggunakan pinset steril. Untuk itu, penyegelan botol vial harus


dilakukan dengan cermat dan hati-hati jangan sampai menimbulkan
kontaminasi pada produk. Selanjutnya, botol yang telah tertutup karet diseal dengan menggunakan segel aluminium untuk menahan karet
penutup.
Pengawasan Selama Proses Produksi (In Proses Control = IPC)
IPC merupakan pemeriksaan dan pengujian yang dilembagakan
dan dilaksanakan selama proses pembutan obat, termasuk pemeriksaan
5
2

dan pengujian terhadap lingkungan dan peralatan. Tujuannya adalah


untuk mencegah terlanjur diproduksinya obat yang tidak memenuhi
spesifikasi.
Cara pengawasan:
Pengawasan

dilakukan

dengan

cara

mengambil

contoh

dan

mengadakan pemeriksaan dan pengujian terhadap produk yang


dihasilkan pada langkah-langkah tertentu dari proses pengolahan
Pengawasan oleh bagian produksi: untuk menjamin bahwa mesin dan
peralatan produksi serta proses yang digunakan akan menghasilkan
produk yang memenuhi spesifikasi yang ditetapkan
Pengawasan oleh bagian QC: untuk meyakinkan bahwaproduk yang
dihasilkan pada tahap tertentu telah memenuhi spesifikasi yang telah
ditetapkan sebelum dilanjutkan proses berikutnya
Bagian pengawasan mutu menentukan apakah tahap lanjutan dari
proses pengolahan dapat dilaksanakan atau tidak berdasarkan hasil
pengujian yang dilakukan.
Gambaran Alur In Procces Control

Permintaa
n

Selesai
produksi

Bagian QC

Labelling
Sampling

Periksa
Ditolak /

Hasil
(NHPB)

Pada pengawasan
dalam In Procces Control (IPC) ada beberapa
diterima
hal yang dilakukan yaitu :
5
2

Uji Kebocoran. Uji kebocoran dimaksudkan untuk mendeteksi


ampul yang belum tertutup dengan sempurna, sehingga ampul-ampul
tersebut harus di-reject. Kebocoran biasanya dideteksi menggunakan
tekanan negatif dalam ruangan vakum, biasanya ditambahkan pula zat
warna (0,5 1% methylen blue) untuk melihat penetrasi zat warna ke
dalam ampul. Setelah diperiksa kebocorannya, ampul kemudian dicuci
kemudian. Uji kebocoran tidak dilakukan untuk preparat vial dan botol
karna tutup karetnya yang tidak kaku; meskipun demikian, pada saat
penyegelan botol harus dalam kondisi vakum.
Uji Kejernihan. Kejernihan adalah suatu batasan relatif, artinya
sangat dipengaruhi oleh penilaian subyektif dari pemeriksa. Menurut
CPOB Terkini (CPOB: 2006) seluruh wadah terisi produk parenteral harus
diinspeksi satu persatu terhadap kontaminasi oleh benda asing atau cacat
lain. Inspeksi secara visual harus diatur sedemikian rupa dalam kondisi
pencahayaan dan latar belakang yang dikendalikan dan sesuai.
Uji Pirogen. Adanya zat pirigen pada preparat parenteral dilakukan
oleh suatu uji biologis kualitatif berdasarkan respons demam pada kelinci.
Kelinci

digunakan

sebagai

binatang

percobaan

karena

kelinci

menunjukkan respons fisiologis terhadap pirogen serupa dengan respons


pada manusia. Jika suatu zat pirogenik disuntikkan ke dalam ven kelinci,
terjaid kenaikan temperature dalam waktu 3 jam sesudhnya. Uji porogen
juga dapat dilakukan secara in vitro menggunakan sifat membentuk gel
dari lisat amebosit dari Limulus polifemus (kepiting sepatu kuda). Uji

5
2

limulus amebosit lisat (Limulus Amebocyte Lysate = LAL) ternyata 5


sampai 10 kali lebih sensitif dibandingkan dengan uji kelinci.
Pengemasan dan penyelesaian serta validasi kemasan
a. Pengemasan
Kemasan untuk sediaan steril haruslah steril, kedap udara, dan
tahan terhadap perubahan suhu. Apabila kemasan dimaksudkan untuk
pemakaian pada dosis ganda, maka kemasan tersebut haruslah
dirancang agar ia kembali menjadi kedap udara setelah dibuka dan ditutup
kembali.
Kemasan sediaan steril harus inert, tidak bereaksi dengan bahan,
dapat disterilkan, dapat dibersihkan seperti kaca, plastic, aluminium atau
stainless steel. Kesesuaian antara wadah dan tutupnya serta tidak adanya
interaksi berbahaya antara wadah dengan sediaan (bahan aktif dan
tambahan) harus selalu diperhatikan dan diuji. Integritas kemasan setelah
pengisian dan selama penyimpanan harus selalu divalidasi. Validasi yang
dimaksud harus mencakup uji penetrasi dari mikroorganisme ke dalam
kemasan.
Kemasan harus ditutup sesegera mungkin setelah pengisian dan
penyegelan untuk mencegah kontaminasi dan kelembaban.

b. Penyelesaian
Pada tahapan penyelesaian, hal-hal yang dilakukan yaitu :
5
2

1) Penutupan wadah hendaklah divalidasi dengan metode yang

sesuai. Terhadap penutupan wadah dengan fusi, misalnya ampul


kaca atau plastik, hendaklah dilakukan uji integritas 100%. Uji
integritas wadah lain hendaklah dilakukan terhadap sampel dengan
menggunakan prosedur yang sesuai.
2) Sampel wadah yang ditutup dalam kondisi vakum hendaklah
diambil

dan

diuji

setelah

periode

yang

ditentukan,

untuk

memastikan keadaan vakum yang diperthankan.


3) Wadah terisi produk parenteral hendaklah satu per satu diinspeksi

terhadap kontaminasi oleh benda asing atau cacat lain. Bila


inspeksi dilakukan dengan cara visual, hendaklah dilakukan dalam
kondisi pencahayaan dan latar belakang yang terkendali dan
sesuai. Operator yang melakukan inspeksi hendaklah lulus
pemeriksaan

mata

secara

berkala,

dengan

menggunakan

kacamata bila memakai, dan diperbolehkan sering melakukan


istirahat selama proses inspeksi.
4) Bila digunakan metode inspeksi lain, proses ini hendaklah divalidasi
dan kerja peralatan hendaklah diperiksa secara berkala. Hasil
pemeriksaan hendaklah dicatat.

5
2

Validasi kemasan
Tujuan validasi adalah untuk memberikan bukti tertulis dan
terdokumentasi bahwa:

Proses pengemasan yang dilakukan telah sesuai dengan prosedur


tetap proses pengemasan yang telah ditentukan serta memberikan
hasil yang sesuai dengan persyaratan (rekonsiliasi) yang telah
ditentukan secara terus menerus (reliable and reproducible)

Operator/pelaksana

yang

melakukan

proses

pengemasan

kompeten serta mengikuti prosedur pengemasan dan peralatan


pengemasan yang telah ditentukan

Proses pengemasan yang dilakukan, tidak terjadi peristiwa mix-up


(campur baur) antara produk maupun antar batch

Hal-hal yang harus divalidasi


Jumlah ampul/vial yang dihasilkan vs jumlah cairan yang diproduksi
Volume (isi) per ampul/vial
Kebocoran (tutup)
Jumlah ampul/vial dalam dus
Jumlah dus dalam karton
Kelengkapan (etiket, brosur, penandaan)
Kerapian
Rekonsiliasi bahan pengemas

5
2

Validasi Proses Produksi


Tujuan validasi proses produksi yaitu :

Memberikan dokumentasi secara tertulis bahwa prosedur produksi


yang

berlaku

dan

digunakan

dalam

proses

produksi

(Batch

Processing Record), senantiasa mencapai hasil yang diinginkan

secara terus menerus.


Mengurangi problem yang terjadi selama proses produksi
Memperkecil kemungkinan terjadinya proses ulang

(reworking

process)
Meningkatkan efektifitas dan efisiensi produksi
a. Prospective Validation
Untuk produk-produk baru yang belum pernah diproduksi
Dilakukan pada tiga batch pertama
Bisa digunakan untuk dijual (commercial batch)
Bukan termasuk trial batch (skala lab)
b. Concurrent Validation
Untuk produk yang sudah berjalan (sudah diproduksi)
Terjadi perubahan pada parameter kritis, seperti peralatan yang
digunakan, prosedur (cara) pembuatan, spesifikasi bahan baku,
cara pengujian, dll yang dapat mempengaruhi mutu dan
spesifikasi produk.
c. Retrospective validation
Untuk produk-produk yang sudah lama diproduksi yang belum
divalidasi, namun memerlukan data validasi (mis. Untuk

keperluan registrasi ulang, dsb)


Penelusuran dari data produksi yang sedang berjalan
Data berasal dari batch record (minimum 10-20 batch)
Penelusuran sejarah (riwayat) produk yang bersangkutan.

5
2

Urutan-urutan pelaksanaan validasi proses produksi (prospective


dan concurrent)
1. Pemilihan proses produksi yang diuji
2. Pembuatan protocol validasi
3. Pembuatan lembar kerja (worksheet) validasi
4. Pelaksanaan validasi
5. Pengujian sampel
6. Penentuan criteria (batas) penerimaan
7. Pembuatan kesimpulan
8. Pembuatan laporan validasi
Petunjuk untuk program dan metode validasi efektifitas dari
produk asptis. Media fill dilakukan dalam kondisi produksi normal dan
jumlah unit yang diisi selama pengisian berkisar antara 1.000 sampai
10.000, yaitu ukuran yang cukup besar untuk memperoleh probabi;itas
tinggi mendeteksi insiden pencemaran yang rendah. Setiap kali pengujian
paling sedikit 3.000 unit (atau seluruh unit apabila ukuran bets kurang dari
3.000 unti) diperlukan contoh untuk mendeteksi pencemaran sebesar 0,1
% dengan tingkat konfidensi 95%. Biasanya dipakai Soybean Casein
Digest Broth (SCDB) sebagai medium. Wadah yang sudah terisi
diinkubasi pada suhu 30 C 35 C selama tidak kurang dari 14 hari.

SKEMA PRODUKSI SEDIAAN INJEKSI


Bahan Baku

Air Untuk Injeksi

Ampul

Penimbangan

Pengukuran Volume

Pencucian

Pembuatan Larutan

Sterilisasi

Penyaringan

5
2

Pengisian
Sterilisasi & Pendinginan
Pinole Test
Seleksi
Bulk Product
Pengemasan
Cek Kelengkapan Pengemasan
Quarantine
Distribusi
BAB III
CONTOH FORMULA SEDIAAN STERIL

Formula : Injeksi Fenobarbital


Rancangan formula
Tiap 1 ml mengandung :
Sodium Fenobarbital

130 mg

Propilen Glikol

30 %

Aqua Pro Injeksi

ad

1 ml

Master formula
Nama produk

Lumifen ampul
5
2

Jumlah produk

1000 Ampul @ 1 ml

Tanggal formulasi

19 Oktober 2010

Tanggal produksi

18 Desember 2010

No Reg

DKL 1023409919 A1

No. Batch

K1023409
Lumifen Ampul

No.

Kode Bahan

Nama Bahan

Fungsi Bahan

Jumlah
Perdosis Per batch
130 mg

NF 001

Sodium Fenobarbital

Zat aktif

PG 002

Propilen Glikol

Kosolven

0,3 ml

API 010

Aqua Pro Injeksi

Pembawa

ad 1 ml

5
2

ALASAN PENAMBAHAN BAHAN


NATRIUM FENOBARBITAL (Kode Bahan : NF 001)
1. Indikasi
a) Informasi Spesialite Obat ; 38

Fenobarbital digunakan sebagai anti konvulsi, hipnotik


sedatif.
b) Remingtons Pharmaceutical Science 18th Edition; 1060
Fenobarbital diberikan dalam bentuk injeksi IV untuk
mengobati sindrom konvulsi akut.
c) AHFS Drug Information e-Book
Fenobarbital

sebagai

antikonvulsi,

digunakan

dalam

penanganan grand mall.


d) Obat Obat Penting ; 396
Fenobarbital digunakan pada serangan grand mall dan
status epileptikus.
e) Martindale The Extra Pharmacopeia Ebook
Fenobarbital digunakan sebagai antieilepsi
2. Mekanisme Kerja
a) Obat Obat Penting ; 396

Berdasarkan sifatnya yang dapat memblokir pelepasan


muatan listrik di otak.

5
2

b) Farmakologi dasar dan klinik ; 33


Berikatan dengan komponen-komponen molekular reseptor
GABA, yang

terdapat dalam membran neuron pada sistem saraf

pusat.
3. Efek Samping
a. Farmakologi dan Terapi ; 186

Penggunaan Fenobarbital menyebabkan berbagai efek


samping seperti sedasi, psikosis akut dan agitasi.
b. Martindale The Extra Pharmacopeia Ebook
Efek samping yang paling sering terjadi adalah sedasi, tetapi
ini akan berkurang jika pemakaian dilanjutkan seperti antiepilepsi
yang lain. Fenobarbital dapat menyebabkan perubahan-perubahan
mood-mood dan kerusakan koguisi.
4. Kontra Indikasi
a. AHFS Drug Information Ebook

Barbiturat dapat menyebabkan kerusakan jenin jika diberikan


pada ibu hamil
b. Martindale The Extra Pharmacopeia Ebook
Penggunaaan Fenobarbital di kontra indikasikan pada
pasien yang mengalami depresi saluran pernapasan.
5. Dosis
a. AHFS Drug Information ebook
Injeksi 30 mg/ml, 60 mg/ml, 65 mg/ml, 130 mg/ml.

5
2

b. Martindale The Extra Pharmacopeia Ebook


Untuk pengontrolan starus epilepsikus, dosis 10 mg/Kg
maksimum

19

dapat

diberikan

secara

intravena

Sodium

Fenobarbital dapat diberikan secara parenteral pada serangan


akut. Dosis 200 mg telah diberikan secara intramaskular pada
orang dewasa, diulang setelah 6 jam bila perlu. Anak-anak dapat
diberikan 15 mg/Kg secara 1M sebagai dosis tunggal. Rute sc
dapat menyebabkan nekrosis jaringan.
c. Remingtons Pharmaceutical Science 18th Edition; 1060
Pada penggunaan injeksi digunakan 130 mg/ml
6. pH
a. Martindale The Complete Drug Reference 35th : 444
pH dalam 10 % larutan air, phnya tidak lebih besar 10,2.
b. AHFS Drug Information e Book
Injeksi Febarbital mempunyai pH 8,2 10,5

PROPILEN GLIKOL (Kode Bahan : PG 002)


a. AHFS Drug Information e Book

Larutan dari Sodium Fenobarbital Cenderung tidak stabil pada


PEG atau EP. PE sangat sering digunakan sebagai pelarut dalam
injeksi sodium fenobarbital.
b. Handbook Of Pharmaceutical Excipient e-Book

Konsentrasi sebagai produk Pareteral 10-60%


c. Martindale The Complete Drug Reference 35th : 2152
5
2

Propilen glikol lebih luas digunakan sebagai pelarut dan


pembawa, khususnyaobat yang tidak stabil atau tidak larut air.
d. Martindale The Complete Drug Reference 35th : 2118

PEG stabil, tidak toksik, memiliki khasiat tergantung dari BM.


Lebih luas digunakan untuk produk sebagai basis larut air ph dari 5%
larutan PEG dalam air 4,5-7,5.
e. Farmakope Indonesia edisi III : 534
Propilen glikol larut dalam air dan stabil pada wadah yang
tertutup baik, tetapi pada konsentrasi tinggi akan teroksidasi.

AQUA PRO INJEKSI (Kode Bahan : API 010)


a. Martindale The Complete Drug Reference 32 th ; 1644

Air untuk injeksi adalah air destillara bebas pirogen yang


digunakan untuk membuat larutan injeksi.
b. Teori dan praktek Industri Farmasi ; 1294

Sejauh ini pembawa yang paling sering digunakan untuk


produk steril adalah air karena merupakan pembawa untuk semua
cairan tubuh.
c. Martindale The Chomplete Drugs Reference e-book
Air untuk injeksi (USP) adalah air murni melalui destilasi atau
dengan osmosa balik, bebas pirogen dan tidak mengandung bahan
tambahan. Cenderung digunakan sebagai pelarut dalam larutan
parenteral yang akan disterilkan setelah penyiapan sediaan akhir.

5
2

d. Sterile Dosage Forms : 19


Air steril untuk injeksi pada temperatur tinggi (ekstrim) akan
mencegah terjadinya reaksi pirogen dengan cara penghambatan
pertumbuhan mikroorganisme.
e. AHFS Drug Information Ebook
Digunakan pembawa air untuk injeksi karena sangat mudah
larut dalam air.

5
2

URAIAN BAHAN
1.

Natrium Phenobarbital
(Martindale The Complete Drug Reference EBook)
Nama Resmi

: Sodium Phenobarbital

Nama Lain

: Fenobarbital Na, Sodium Fenobarbital

RM/BM

: C12 H11N2NaO3 / 254,2

RB

Pemerian

: Kristal, atau granul putih, serbuk putih,


higroskopik dan tidak berbau

Kelarutan

: Sangat mudah larut dalam air, larut dalam


alkohol, praktis tidak larut dalam kloroform
dan eter

Incomp

Natrium

Fenobarbital

incomp

dengan

berbagai obat lainnya dan diendapkan


dengan

campuran

yang

mengandung

Natrium Fenobarbital, ini tergantung pada


konsentrasi dan pH
Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan

: zat aktif

Khasiat

: hipnotikum, sedativum

5
2

2.

Propilenglikol
(Farmakope Indonesia edisi III ; 534)
Nama resmi

: Propilen glicolum

Nama lain

: Propilen glikol

RM/BM

: C3H8O2 / 76,10

Pemberian

: Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak


berbau, rasa agak manis, ingroskopis

Kelarutan

: Dapat bercampur dengan air, dengan


etanol (95%) P dan dengan kloroform P,
larut dalam 5 bagian eter P, tidak dapat
bercampur dengan eter minyak tanah P
dan dengan minyak lemak.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Penggunaan

: Pelarut

Incomp

Bahan

pengoksidasi

seperti

Kalium

permanganat
Kestabilan

: PG stabil pada wadah yang tertutup baik,


tetapi

pada

konsentrasi

tinggi

akan

teroksidasi.
3. Aqua Pro Injeksi (Farmakope Indonesia III ; 97)
Nama Resmi

: Aqua Pro Injeksi

Nama Lain

: Air untuk injeksi

RM/BM

: H2O / 18, 02

5
2

Pemberian

: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau,


tidak berasa.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat

Sterilisasi

: Autoklaf

Kegunaan

: Pembawa / pelarut.

PERHITUNGAN
A. Perhitungan tonisitas
1. Rumus Cataline
BM Na fenobarbital = 254,2

Fd = 2

BM PG

= 76,10

Fd= 1

BM NaCl

= 58,44

Fd = 2

C
g/100 ml =

0,031 -

BM`
xk

BM

13
=

0,031-

30
x2+

254,3

58,5
x1

76,10

= [0,031 (0,1022 + 0,3942)] x 29,25


= (0,031 0,237) 29,25
= - 13,59 g / 100 ml (hipertonis)

5
2

2. Rumus Belanda (g/1000 ml)


h=

h=

= -146,62 g/1000ml = -14,662 g/100ml

B. Perhitungan Bahan
a. Per Dosis
Dibuat 1 ml untuk 1 ampul
Na fenobarbital = 130 mg
Propilen Glikol = 30 / 100 x 1ml = 0,3 ml
API

ad 1 ml

b. Per Bacth

Dibuat 1000 ampul


Na-Fenobarbital
Propilen Glikol
Air Pro Injeksi

= 1000 ampul x 1 ml
= 1000 ml
= 1000 x 130 mg
= 130000 mg = 130 g
= 1000 x 0,3 ml
= 300 ml
ad 1000 ml

CARA KERJA PEMBUATAN SEDIAAN STERIL INJEKSI AMPUL


5
2

1.

Ruangan dibersihkan dan disterilkan dengan menggunakan gas

2.

seperti gas formaldehid atau etilen oksida.


Peralatan yang akan digunakan dibersihkan

dengan

menggunakan cleaning in place/CIP lalu disterilkan dengan


3.

metode yang sesuai dan divalidasi


Disiapkan bahan yang sudah steril sekaligus penyiapan air untuk

4.

injeksi
Wadah ampul yang akan digunakan dicuci dan disterilkan dalam

5.
6.

suatu rangkaian alat/mesin otomatis dengan ban berjalan


Bahan-bahan dicampurkan dengan menggunakan mesin mixing
Dilakukan penyaringan larutan dan dilakukan sterilisasi terhadap
larutan untuk menjamin mutu dengan menggunakan alat sterility

7.

tester isolator
Ampul diisi secara otomatis dengan menggunakan filling
machine dan secara otomatis disegel dengan menggunakan

8.

sealing machine dalam satu rangkaian


Dilakukan pengujian terhadap produk dan validasi proses

9.

produksi.
Dilakukan pengemasan

DAFTAR PUSTAKA
1. Dirtjen POM. Cara Pembuatan Obat dengan Baik, Departemen Kesehatan
RI. Jakarta. 2006.
2. Dirtjen POM. Cara Pembuatan Obat dengan Baik. Departemen Kesehatan
RI. Jakarta. 2001.

5
2

3. Fatmawaty A. Farmasi Industri Ed. II. Fakultas Farmasi UNHAS. Makassar.


2010.
4. Priyambodo

B. Manajemen Farmasi Industri. Global Pustaka Utama.

Yogyakarta. 2007.
5. Scoville, (1957), The Art of Compounding, Mc.Graw-Hill, Book company Inc
New York, Toronto-London.
6. AnselC.H. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. UI Press. Jakarta. 1989.
7. Ditjen POM. Farmakope Indonesia, Edisi III. Depkes RI. Jakarta.1979.
8. Gennaro A.R. Remington's Pharmaceutical Science, 18th Ed. Marck
Publishing Co. Easton.1998.
9. Parfitt K. Martindale The Complete Drug Reference, 32nd Ed. Pharmacy
Press. 1994.
10. Tjay T.H. dan Rahardja k. Obat-obat Penting, Edisi V. Depkes RI. Jakarta.
2000.
11. Ganiswara S. Farmakologi dan Terapi, Edisi V. Bagian Farmakologi

FKUI.

Jakarta. 2007.

5
2