Anda di halaman 1dari 70

1

Laporan Praktek Kerja


Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Sejarah Singkat PT Primarindo Argatile
PT.Primarindo Argatile adalah sebuah pabrik dengan bentuk perseroan
terbatas (PT) yang berdiri sejak 8 Agustus 2008. industri keramik ini berlokasi di Jl.
Raya Serang KM 68, Namboilir, Kibin, Serang dengan luas 7 hektar. Secara khusus
PT. Primarindo memproduksi keramik lantai ukuran 40 x 40 cm dengan berbagai
corak mulai dari Polos, Marble, Decoratif, Stone Series, Wood Series dan Granite
dengan kapasitas produksi sebesar 8.500 m2/hari. Dengan seiring berkembangnya
pabrik ini, maka PT Primarindo Argatile sampai saat ini sudah memproduksi lebih
banyak variasi ukuran keramik lantai dan juga sudah memproduksi keramik
dinding, dengan ukuran yang bervariatif antara lain 20x40 cm, 25x40 cm, 25x25
cm, 40x40 cm, dan 50x50 cm.
Saat ini PT Primarindo Argatile mengambil langkah-langkah maju untuk
efisiensi biaya, caranya dengan investasi tambahan untuk membeli mesin otomatis
dan perlengkapan serta pengembangan teknologi maju. Terbukti pada tahun 2013
pabrik ini mulai menggunakan metode Digital Printing dari Italia untuk proses
pemotifan keramik, karena pada tahun pertama pabrik hanya menggunakan cara flat
printing atau dengan menggunakan pasta. Penambahan teknologi ini bertujuan
untuk menambah kualitas keramik dengan biaya yang efisien agar dapat bersaing
dengan pabrik keramik lokal maupun luar negeri serta dapat menambah kuantitas
produksi karena proses pergantian motif tidak perlu mengganti alat produksi, tetapi
hanya mengganti desain pada mesin digital printing. Berkat kerja keras dan
perencanaan terpadu perusahaan mampu menerobos pasar domestik secara luas dan
merata mulai dari kota Jabotabek, Bandung, Cirebon, Semarang, Surabaya,
Palembang, Medan, Denpasar, Pontianak, Ujung Pandang, sampai Papua.

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

2
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

PT. Primarindo Argatile mengutamakan kepuasan pelanggan dengan cara


menyediakan produk keramik lantai berkulitas melalui penerapan proses produksi
yang dinamis dan inovatif yang mengacu pada Sistem Manajemen Mutu ISO
9001:2008

serta

terus

menerus

meningkatkan

efektifitas

sistem

dengan

memperhatikan aspek lingkungan, sumber daya manusia, dan teknologi. Tersirat


rasa bangga atas terwujudnya suatu prestasi dimana PT. Primarindo Argatile dapat
ikut mempersembahkan kepada masyarakat produk keramik lantai berkualitas yang
memanfaatkan kecanggihan tekhnologi mesin terpadu dari Eropa dan Asia
I.2. Lokasi dan Tata Letak Pabrik
I.2.1 Lokasi Pabrik
Pemilihan lokasi pabrik adalah suatu faktor terpenting dalam mendirikan
sebuah pabrik, dikarenakan adanya beberapa pertimbangan pemilihan lokasi demi
terwujudnya kelancaran proses produksi dan hubungan dengan lingkungan sekitar
pabrik. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan lokasi pabrik antara lain
penyediaan bahan baku dan bahan pendukung produksi, transportasi serta distribusi
produk ke konsumen, perolehan tenaga kerja, dan lain-lain. Dengan beberapa
petimbangan tersebut maka PT Primarindo Argatile memilih lokasi yang sangat
strategis di Jl. Raya Serang KM 68, Desa Namboilir, Kecamatan Kibin, Kabupaten
Serang, dengan luas wilayah 7 hektar.
Adapun beberapa faktor yang menjadi pertimbangan PT Primarindo Argatile
antara lain :
a. Faktor Bahan Baku
Faktor penyediaan bahan baku menjadi pertimbangan yang penting,
mengingat bahan baku diperoleh dari luar daerah seperti clay yang disuplai
dari Parung, Belitung, dan Sukabumi, Sedangkan

feldspar dari Parung,

Purwakarta, Pati dan Rangkas. Dolomit dari Cilengsi, dan zat additive yang
di impor dari china. sehingga lokasi pabrik yang berdekatan dengan jalan
raya memudahkan pabrik untuk memenuhi penyediaan bahan baku.
b. Faktor Transportasi

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

3
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Lokasi pabrik yang terletak di Jl. Raya Serang, Kibin, Serang memudahkan
proses pengangkutan dan pendistribusian produk ke konsumen.
c. Faktor Pemasaran
Adanya transportasi yang memadai menjadikan produk dari PT Primarindo
Argatile dapat dipasarkan ke seluruh wilayah Indonesia. Daerah pemasaran
produk PT Primarindo Argatile adalah Jabotabek, Bandung, Cirebon,
Semarang, Surabaya, Palembang, Medan, Denpasar, Pontianak, Ujung
Pandang, sampai Papua.
d. Faktor Utilitas
Kebutuhan air di PT Primarindo Argatile cukup besar, untuk memenuhi
kebutuhan air, pabrik mempunyai satelit untuk dijadikan sumber air serta
ditambah air dari PDAM. Selain air, kebutuhan listrik untuk proses produksi,
penerangan, dan lain-lain juga besar. Dan kebutuhan listrik diperoleh dari
PLN Banten.
e. Faktor Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk produksi cukup banyak. Tenaga kerja
ini dengan mudah didapat karena lokasi pabrik yang dekat dengan
pemukiman masyarakat. Pemilihan tenaga kerja dari lingkungan pabrik juga
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
I.2.2 Tata Letak Pabrik
PT Primarindo Argatile memiliki satu pintu akses untuk keluar masuk ke
dalam pabrik yang dilengkapi dengan beberapa security yang bertugas untuk
mengawasi, mendata setiap tamu dan memeriksa kendaraan barang misalnya truk
dan road tank yang keluar-masuk pabrik. Selain itu terdapat beberapa bangunan di
area pabrik, yaitu:
a. Masjid dan kantor
Masjid dan kantor utama PT Primarido Argatile terletak satu lokasi dengan unit
produksi.
b. Unit produksi
PT Primarindo Argatile memiliki beberapa unit produksi, yaitu :
1. Unit Body Preparation

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

4
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

2. Unit Press
3. Unit Glaze Preparation
4. Unit Glazing Line
5. Unit Kiln
6. Unit Sortir & Packing
c. Water treatment
Unit pengolahan air PT Primarindo Argatile memiliki 1 set alat pengolahan air
yang berfungsi, untuk mengolah air yang diperoleh dari PDAM yang kemudian
digunakan untuk air minum karyawan.
d. Bangunan lain
Bangunan lain yang terdapat di PT Primarindo Argatile adalah bengkel, gudang,
timbangan dan lain-lain.
Tata letak PT Primarindo Argatile dapat dilihat pada gambar I.1.

Keterangan :
A

: pos satpam

: unit maintenance

: parkir motor

: unit R&D

: masjid

: unit glaze preparation

: kantin

: gudang bahan baku

: parkir mobil

: unit pasta preparation

: koperasi

: unit pengolahan limbah

: water treatment

: bengkel suku cadang

: kantor utama

: unit press

: unit sortir&packing

: unit body preparation

: gudang bahan baku

: gudang batu bara

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

5
Laporan Praktek Kerja
PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Primarindo Argatile
J1

: timbangan

: bengkel forklift

: unit glazing line

: horizontal dryer

: unit digital printing

: gardu PLN

: unit kiln

G1

: Kolam penampungan air

Gambar I.1Tata Letak PT Primarindo Argatile


I.3 Struktur Organisasi
Struktur Organisasi adalah salah satu faktor terpenting di dalam suatu
perusahaan, dimana struktur organisasi dapat mengatur kelancaran dan terjalinnya
kerjasama antar bagian demi menjalankan tujuan perusahaan. Struktur organisasi
dijadikan sebagai acuan oleh setiap bagian untuk mengetahui tugas yang
dibebankan agar dapat mengarah pada upaya untuk menjalankan fungsi untuk
memenuhi tuntutan perusahaan.
Selanjutnya agar dapat menjawab tuntutan perusahaan untuk mampu
menghadapi kondisi persaingan yang semakin ketat dan tidak terduga. Struktur
organisasi PT Pimarindo Argatile adalah :

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

6
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

7
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

I.4 Manajemen Perusahaan


I.4.1 Manajemen Organisasi
PT Primarindo Argatile dipimpin oleh Direktur yang dibantu oleh seorang
General Manager atau Pimpinan, antara lain General Manager Produksi, General
Manager Marketing dan General Manager HRD.
Manager diatas mengatur dan mengawasi bidangnya masing-masing antara
lain :
a. Bidang Produksi
Bidang ini menangani masalah produksi dan keteknikan di perusahaan serta
perawatan dari masing-masing mesin produksi, yaitu :
1) Bidang Produksi atau Teknik Body Preparation
2) Bidang Produksi atau Teknik Press
3) Bidang Produksi atau Teknik Glaze Preparation
4) Bidang Produksi atau Teknik Glazing Line
5) Bidang Produksi atau Teknik Kiln
6) Bidang Produksi atau Teknik Sortir & Packing
7) Bidang Perawatan (Maintenance)
b. Bidang Pemasaran
Bidang pemasaran khusus menangani masalah purchasing order dari
distributor, karena pemasaran PT Primarindo Argatile dipegang oleh distributor
tunggal.
c.Bidang Administrasi
Khusus menangani masalah administrasi serta keuangan yang dibutuhkan
dalam suatu perusahaan. Bidang ini meliputi :
1. Seksi Keuangan
2. Seksi Umum
3. Seksi Pembelian
4. Seksi Logistik
I.4.2 Pemasaran
Pendistribusian produk dari PT Primarindo Argatile dipegang oleh CV Karya
Prima Indo Trading yang merupakan distributor tunggal. Daerah pemasaran dari
Produk PT Primarindo Argatile antara lain Jabotabek, Bandung, Cirebon, Semarang,
Surabaya, Palembang, Medan, Denpasar, Pontianak, Ujung Pandang, sampai Papua.
I.4.3 Jam Kerja

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

8
Laporan Praktek Kerja
PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Primarindo Argatile

Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003, maka


waktu kerja diperusahaan adalah 7 jam dalam sehari dan 40 jam dalam seminggu
selebihnya dihitung jam lembur, dimana pengaturan jam kerja adalah :
a. Jam kerja non shift
Jam kerja untuk non shift adalah jam 08.00 16.00 dengan dengan 6 hari
kerja. Setiap pegawai mendapatkan cuti selama 12 hari setiap tahunnya tetapi tidak
diakumulasikan pada tahun berikutnya apabila tidak diambil.
b. Jam kerja shift
Bagian produksi sendiri memiliki 4 kelompok shift dan jadwal pertukaran
waktu kerja diatur sendiri dengan kebutuhan perusahaan. Setiap shift mendapatkan
waktu libur 2 hari dalam 8 hari kerja.
Tabel I.1Jadwal Pembagian Shift
Kelompo

Tanggal
7
8

10

11

12

13

14

Of

Of

III

III

II

II

Of

Of

III

III

II

II

f
I

f
I

Of

Of

III

III

II

II

f
I

f
I

Of

Off

III

III

II

II

f
I

f
I

Of

Of

III

III

II

II

f
I

Of

Of

III

III

II

II

f
I

f
I

Of

Of

III

III

II

II

Keterangan :
A,B,C,D
Shift I
Shift II
Shift III

: kelompok
: jam kerja (07.00 15.00)
: jam kerja (15.00 23.00)
: jam kerja (23.00 07.00)

I.4.4 Waktu Istirahat


Lamanya waktu istirahat untuk hari senin kamis adalah 1 jam, hari jumat
adalah 1,5 jam sedangkan hari sabtu tidak diberlakukan jam istirahat untuk pegawai
non-shift.

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

9
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Jam istirahat hari senin kamis

: 12.00 13.00

Jam istirahat hari jumat

: 11.30 13.00

I.5 Faktor Pendukung


a. Faktor Transportasi
Lokasi pabrik yang terletak di Jl. Raya Serang, Kibin, Serang memudahkan
proses pengangkutan dan pendistribusian produk ke konsumen.
b. Faktor Utilitas
PT Primarindo Argatile membutuhkan air dan listrik cukup besar. Air
diperoleh dari satelit dan PDAM. Kebutuhan listrik diperoleh dari PLN
Banten.
c. Faktor Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk produksi cukup banyak. Tenaga kerja
ini dengan mudah didapat karena lokasi pabrik yang dekat dengan
pemukiman masyarakat. Pemilihan tenaga kerja dari lingkungan pabrik juga
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
I.6 Tenaga Kerja
Jumlah pegawai di PT Primarindo Argatile berjumlah 320 karyawan. Dengan
spesifikasi pendidikan sebagai berikut:
a. Pendidikan SLTA
b. Pendidikan Diploma
c. Pendidikan Sarjana
I.7 Bahan Baku dan Produk yang Dihasilkan
I.7.1 Bahan Baku
Bahan baku utama di PT Primarindo Argatile adalah Clay, Feldspar, dan Dolomite.
Dengan standar dan kandungan utama yang digunakan adalah :
a. Clay

b.

Feldspar

: Susut kering = 1-8%


Warna
= putih sampai putih kecoklatan
Berat jenis = 1250-1700 gr/lt
Kandungan = alumina dan silika
: Susut Kering = 5-12%
Warna
= cream sampai cream kecoklatan
Berat jenis = 1530-1620 gr/lt

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

10
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

c. Dolomite

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Kandungan = natrium, kalium, silika, alumina


: Ekspansi
= 0,05-0,016%
Warna= cream
Berat Jenis = 1600-1620 gr/lt
Kandungan = magnesium

I.7.2 Produk yang Dihasilkan


Produk PT Primarindo Argatile tersedia dengan 3 brand berdasarkan
target pasar yang berbeda-beda. tiga produk tersebut adalah sebagai berikut:
a. Red Horse, dengan motto Primarindo, menawarkan produk wall
tile dengan ukuran 20x40 cm dan floor tile dengan ukuran 40x40 cm,
dan 50x50 cm, yang ditunjukkan untuk target pasar kelas menengah
ke atas yang mengutamakan teknologi dan desain modern, dimana
proses pemotifan menggunakan digital printing.
b. Bergen, dengan motto Primarindo, menawarkan produk floor tile
dengan ukuran 40x40 cm dan 50x50 cm yang ditunjukkan untuk
target pasar kelas menengah yang menawarkan produk yang menarik
dan proses pemotifan menggunakan digital printing.
c. Regular, menawarkan produk

floor tile dan wall tile dengan

berbagai merk seperti Aristocrat, Optima, Venetas, Citicer, dan


DeOscar dengan ukuran 25x40 cm, 25x25 cm, 40x40 cm, dan
50x50 cm untuk target pasar kelas menengah ekomonis yang
menginginkan penggunaan keramik dengan harga paling efisien dan
menarik dengan keunggulan di motif keramik yang bervariasi.
I.8 Kesejahteraan Karyawan
Karyawan PT Primarindo Argatile selain mendapat gaji setiap bulan juga
mendapatkan jaminan sosial berupa :
a. Jamsostek.
b. Tunjangan pengobatan.
c. BPJS kesehatan.
d. Adanya Koperasi Perusahaan.

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

11
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

I.9 Peraturan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)


Mengutamakan perlindungan terhadap lingkungan hidup dan keselamatan
kerja dari para karyawan, pelanggan, dan masyarakat umum merupakan salah satu
kebijakan PT. Primarindo Argatile terhadap seluruh kegiatan operasinya. Peraturan
yang berkenaan dengan aturan kerja tersebut berdasarkan pada Peraturan
Pemerintah No. 11 tahun 1979 pasal 36 dan Undang-undang No. 1 tahun 1970 Bab
III pasal 3 dan pasal 4 sebagai UU pokok yang memuat aturan-aturan dasar atau
ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan kerja disegala tempat dan
perlindungan atas keselamatan tenaga kerja.
Adapun tujuan keselamatan kerja adalah sebagai berikut :
1

Menjamin tiap pekerja atas hak kesehatan keselamatan dalam


melaksanakan tugas untuk kesejahteraan hidupnya.

Menjamin agar sumber produksi dapat terpelihara dengan baik dan dapat
digunakan secara efisien.

Menjamin agar produksi dapat berjalan dengan lancar tanpa hambatan


apapun.

Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, maka PT. Primarindo Argatile


memberikan keselamatan kerja pada pegawainya yang telah diatur dalam peraturan
dan petunjuk keselamatan kerja sebagai berikut :
A Ketentuan Umum
1 Perlindungan Mekanik
Semua mesin atau alat yang berputar atau bergerak harus dilindungi.
2 Pekerjaan Perbaikan
Saat perbaikan, mesin atau alat harus dimatikan terlebih dahulu dan dipasang
tanda khusus SEDANG DIPERBAIKI. Petugas yang akan memperbaiki
harus menghubungi atau meminta ijin dulu kepada Kepala Bagian dimana
mesin atau alat itu berada.
3 Keadaan yang Membahayakan

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

12
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Jika menjumpai hal-hal yang membahayakan seperti : kebocoran gas-gas,


terjadinya percikan api dan lain-lain, agar sedapat mungkin dapat diatasi dari
dini dan segera dilaporkan ke atasannya untuk penanganan lebih lanjut.
4 Kebersihan atau Keselamatan Lingkungan
Pegawai harus menjaga agar tempat kerjanya aman dari bahaya dan selalu
menjaga kebersihan dan kerapian, baik pada tempat kerja, gudang
penyimpanan, kantor, tempat pengisian, mesin atau alat kerja, serta
lingkungan sekelilingnya.
5 Alat Kerja
Gunakan alat kerja yang sesuai dan baik serta aman untuk pekerjaan yang
akan dilakukan. Alat yang rusak agar dikembalikan untuk dapat diganti.
6 Perbaikan Mesin Bergerak
Matikan motor penggerak sebelum memulai perbaikan mesin bergerak,
putuskan aliran listrik pada mesin yang diperbaiki.
7 Alat Pelindung Diri
Perusahaan menyediakan Alat Pelindung Diri bagi pegawai yang jenis
pekerjaannya mengharuskan menggunakan alat tersebut dan pegawai
berkewajiban memakainya pada saat menjalankan tugas.
8 Alat Pemadam Api
Alat pemadam api hanya boleh dipergunakan jika terjadi kebakaran di suatu
tempat, alat ini harus dipelihara atau dirawat dengan baik dan ditaruh di
tempat yang tepat.
9 Kotak Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K)
Kotak P3K disediakan dan diletakkan di tempat kerja untuk dapat
dipergunakan sebagaimana mestinya terutama untuk usaha pertolongan
pertama pada kecelakaan.
10 Poster atau Tanda Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

13
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Poster-poster K3 dipasang pada tempat yang tepat atau mudah dibaca untuk
tujuan pemberitahuan dan peringatan kepada karyawan guna mencegah
kecelakaan kerja.
B. Ketentuan Mengenai Pencegahan Kebakaran
1

Merokok
Merokok hanya diijinkan pada tempat-tempat yang telah ditentukan, dan
ketentuan ini berlaku bagi setiap orang yang berada di lingkungan
perusahaan. Matikan puntung rokok setelah selesai merokok dan yakinkan
bahwa puntung rokok tersebut telah mati kemudian buang pada tempatnya.

Menyalakan Api
Dilarang menyalakan api pada tempat-tempat seperti : area pabrik, tempat
pengisian gas, gudang penyimpanan : gas, zat kimia, bahan bakar dan atau
pada tempat-tempat lain yang rawan terjadi kebakaran.

Api Terbuka
Pemakaian api seperti pekerjaan pengelasan, memotong pelat besi di area
pabrik atau tempat-tempat lain yang rawan terjadi kebakaran, perlu ijin
khusus dari petugas yang berwenang setelah dilakukan pengamanan lebih
lanjut terhadap kemungkinan terjadinya kebakaran atau ledakan.

Pemakaian Bahan Cair yang Mudah Menyala atau Terbakar


Pemakaian zat cair seperti minyak, oli harus diwaspadai dan dijauhkan dari
gas yang mudah terbakar (LPG) demikian juga untuk penyimpanannya.

Pemakaian Alat Pemadam Kebakaran dan Hydrant


Pemakaian alat pemadam kebakaran dan Hydrant hanya boleh dipergunakan
untuk menanggulangi terjadinya kebakaran di suatu tempat. Untuk
pemakaian alat pemadam kebakaran perlu disesuaikan dengan jenis atau
kelas api atau kebakarannya. Khusus untuk pemakaian Hydrant perlu
diperhatikan agar jangan memakai atau menyemprotkan air Hydrant untuk
jenis kebakaran yang di akibatkan oleh listrik, bahan cair (bensin, minyak,

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

14
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

aseton, alkohol, dll.), bahan gas (LPG), dan bahan yang berbahaya jika
terkena air (seperti: karbid, dll.).
6

Pemeliharaan Alat Pemadam Kebakaran


Semua alat pemadam kebakaran perlu dirawat atau dipelihara dengan baik
agar dapat berfungsi dan selalu siap dipakai. Untuk pemeliharaan alat
pemadam kebakaran ringan menjadi tanggung jawab dari masing-masing
bagian yang diserahi alat tersebut.

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

15
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Keramik Lantai
Keramik Lantai digunakan sebagai penutup lantai, misalnya lantai
kamar mandi, dapur, dan lain-lain. Keramik lantai mempunyai spesifikasi
sebagai berikut :
Ketebalan

: kurang lebih 3,0 %

Water Absorption

: 8-10%

Bending Strength

: minimal 200 Kg/cm2

Crazing Resistance

: 5 Bar/ 1 jam

Keramik Lantai terdiri dari empat bagian yaitu body, engobe, glazur
dan decoration .

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

16
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Gambar II.1 Bagian-bagian Keramik


II.2. Bahan Baku dan Bahan Pendukung Produksi
II.2.1. Bahan Baku Body Keramik
a Clay
Clay digunakan sebagai bahan pengikat yang berfungsi sebagai pengikat atau
perekat semua bahan yang ada, sehingga terbentuk ikatan keramik. Clay
adalah material tanah alami yang mempunyai ukuran butir sangat halus (<2
mm) dan bersifat plastis apabila ditambah sejumlah air tertentu. Clay sebagai
sumber pengikat aluminium dan silika (Al 2O3,2SiO2,2H2O) dengan komposisi
Al2O 39,56%, SiO2 46,54% dan H2O 13,9% (dalam keadaan murni). Clay
adalah alumunium silikat hidrat tidak terlalu murni yang terbentuk sebagai

hasil dari pelapukan batuan beku yang megandung feldspar.


Fungsi dari bahan pengikat adalah:
Memberikan kemudahan dalam proses pembentukan bodi
Mempunyai daya ikat yang baik terhadap bahan yang non plastis
Memberikan kekuatan kering
Mempertinggi susut kering dan susut bakar
Memberikan kekuatan kekuatan mekanis produk
Pada suhu tinggi membentuk ikatan keramik
b Feldspar
Feldspar adalah senyawa alumina silikat yang mengandung satu atau lebih
unsur basa seperti Na, K, Ca, Ba. Feldspat digunakan sebagai bahan pelebur.
Titik lebur feldspar adalah 1250 oC 1268 oC. Bahan ini sangat penting dalam

industri keramik sebagai bahan non plastis sehingga berfungsi :


Untuk mengurangi penyusutan pada proses pengeringan dan pembakaran.
Sebagai flux (penurunan titik leleh).
Sebagai kerangka bodi dan bahan pelebur
c Dolomit
Dolomit adalah MgCO3. Bahan ini berfungsi sebagai :
Penahan susut body
Penyeimbang body
II.2.2 Bahan Baku Pendukung Produksi
Bahan baku pendukung yang digunakan dalam proes pembuatan body adalah :
Air

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

17
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Air yang digunakan sebagai pembentuk suspensi dan media pencuci dari
bahan mentah yang diolah. Air memberi pengaruh terhadap keplastisan
lempung. Air yang biasa ditambahkan ke dalam slip bodi adalah 30 35 %.

Water Glass (sodium metasilicate, Na2SiO3)


Bahan ini bertujuan untuk mencegah terjadinya sedimentasi dari slip body dan
mengatur kekentalan, komposisi water glass yang ditambahkan pada slip bodi

adalah 1,5 %.
Deffloculant
Fungsi bahan ini sebagai pengencer slip, mempercepat penghancuran material.
Komposisi deffloculant yang ditambahkan pada slip bodi adalah 0,3-0,7%.

Afal Bodi
Afal adalah bahan buangan keramik yang belum dibakar dan berupa padatan
atau cairan yang dapat digunakan kembali sebagai bahan campuran di dalam
formulasi pembuatan body pada proses milling di ball mill.

II.3 Engobe
Engobe merupakan bahan yang dilapiskan diatas permukaan bodi keramik
sebelum glasur dengan tujuan untuk melindungi lapisan glasur dari bahanbahan perusak yang keluar melalui impurities body. Engobe mempunyai sifat
tidak transparan sehingga dapat menutup warna body sehingga warna body
tidak terlihat pada saat dilapisi glasur transparan ataupun pewarnaan dan
warna yang dihasilkan menjadi lebih baik. Engobe dapat mengurangi
timbulnya efek lubang jarum (pinhole) pada saat proses pembakaran dan
membantu proses pembentukan permukaan keramik yang datar (flat). Selain
itu engobe juga berfungsi untuk menahan penyerapan air (watermark)
dikeramik yang dapat mempengaruhi perubahan warna setelah keramik

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

18
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

dipasang. Bahan baku pembuatan engobe adalah: Fritz, Kaolin, Feldspar, talk,
zirconium, silica, dan alumunium oxide. Berikut adalah fungsi dari masingmasing bahan untuk pembuatan engobe :
Fritz
Fritz berguna untuk memberi efek mengkilap dan efek matt (tidak mengkilap)
tergantung pada fungsinya. Fritz terdiri dari senyawa SiO2-B2O3-PbO-ZrONaO-K2O-TiO2 (Van Valck, 1964). Untuk pembuatan formula engobe pada
dasarnya menggunakan jenis fritz titanium.
Kaolin
Kaolin merupakan clay murni yang berwarna putih sebelum dan sesudah
dibakar. Kaolin murni memiliki komposisi kimia Al 2O3.2SiO2.2H2O
sedangkan kandungan komposisi kimianya 39,8% Al2O3, 46,3% SIO2, 13,9%
H2O (Austinn, 1975).
Fungsi kaolin antara lain :
- Dalam pembuatan engobe sebagai bahan pengeras.
- Sebagai pengikat dan penambahan kekuatan pada suhu tinggi.
Feldspar
Feldspar digunakan sebagai bahan baku engobe yang berfungsi sebagai fluks,
terdiri dari sodium feldspar dan potasium feldspar.
d Talk
Talk digunakan sebagai bahan pelebur bahan baku pada pembuatan engobe.
e Zirconium
Zirconium berfungsi untuk menaikkan densitas engobe dan membuat engobe
menjadi watermark.
f Silica
Silica adalah bahan baku pembuatan engobe yang berfungsi membuat massa
pada engobe sehingga kekuatan engobe bertambah.
g Aluminium oxide
Allumunium oxide berguna untuk menaikkan titik lebur engobe dan
menambah kekuatan engobe agar tahan terhadap pengaruh mekanisme kimia.
II.4 Glazur
Glazur merupakan lapisan tipis gelas yang meleleh di atas permukaan bodi
1

keramik. Glazur memiliki beberapa fungsi antara lain:


Membentuk selubung penutup permukaan bodi sehingga higienis

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

19
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

2
3
4
5
6

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Membentuk permukaan licin sehingga mudah dibersihkan


Membuat warna dan dekorasi
Menambah kekuatan benda tersebut
Secara fungsional keramik menjadi lebih baik.
Lebih tahan terhadap goresan dan bahan kimia.
Komponen glazur terdiri dari fritz, kaolin dan zat additif. Untuk glazur yang
berwarna dapat ditambahkan pewarna oksida logam khusus (stain atau
pigment) yang dapat menghasilkan warna yang beagam setelah proses
pembakaran. Komponen pada glazur yaitu :

Fritz
Fritz berguna untuk memberikan efek mengkilap (glossy) dan efek matt (tidak
kilap) tergantung pada fugsinya. Fritz dari senyawa SiO2-B2O3-PbO-NaOK2O-TiO2 (Van Valck, 1964). Kategori fritz terdiri dari fritz transparan dan
fritz putih (opaque) dimana penggnaannya menyesuaikan dengan karakter
glaze yang kita inginkan.
Kaolin
Kaolin berfungsi sebagai bahan untuk mencegah terjadinya pengendapan slip
glaze, membentuk plastisitas glaze dan mencegah timbulnya cacat lubang
3

jarum pada saat proses pembakaran.


Bahan pengikat (binder) yang bertujuan agar lapisan dapat menempel satu
sama lain atau pada massa selama dikeringkan dan mencegah pengendapan
slip glaze sehingga membantu proses aplikasi glaze diatas lapisan engobe

menjadi lebih baik dan tiak mengelupas.


Contoh: CMC (Carboxyl Methyl Cellulosa)
Bahan pensuspensi yang dipakai yaitu Sodium Tri Poly Phospat (STPP) yang
ditambahkan sebagai deflokulant untuk menurunkan viskositas slip glaze agar
tidak terlalu tinggi. Pemakaian STPP berkisar antara 0,3 0,4%.
5. Bahan pemberi warna berfungsi untuk memberi warna pada glasur yang
lebih dikenal dengan stain, terdiri dari senyawa-senyawa yang mengandung
logam seperti warna hitam (Fe-Cr), merah maroon (Sn-Cr-Ca-Si), merah
anggu (Sn-Cr-Zn-Al), dan abu-abu (Zn-Co-Ni-Si).

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

20
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Dalam pembuatan glazur hal-hal yang perluh diperhatikan mengenai


sifat materialnya sendiri meliputi viskositas, densitas, dan resistan saringan.

II.5 Dekorasi Keramik (Decoration)


Decoration merupakan lapisan paling luar dari keramik yang membuat
tampilan keramik menjadi lebih menarik dengan penambahan proses aplikasi
pencetakan (printing) desain/ motif keramik yang beragam. Proses printing
motif keramik dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu teknologi
printing keramik flat printing dan teknologi digital printing. Pada PT
Primarindo Argatile memakai kedua teknologi ini untuk proses pendekorasian
keramik.

Decoration pada flat printing yang terdiri atas :

h Pigment/stain
Pewarna stain/pigment merupakan bahan pewarna khusus yang terbuat dari
bahan-bahan oksida logam melalui proses pembakaran sehingga dihasilkan
i

warna yang lebih stabil. Contoh bahan pewarna oksida :


Cobalt alumina
= biru
Selenium
= merah
Medium
Medium merupakan pelarut khusus (oil pasta) yang digunakan untuk
melarutkan pigment dan printing powder dalam pembuatan warna (pasta)
untuk proses flat printing.
Pada proses flat printing ada beberapa parameter yang harus dijaga, antara
lain:
a

LW

= printing 1 : 1550 1600 gram/liter

printing 2 : 1550 1600 gram/liter


printing 3 : 1650 1700 gram/liter

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

21
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Decoration pada digital printing juga berupa pigment dan medium, tetapi
untuk komposisi yang mengetahui dari pihak supplier dan sudah dalam
berbentuk tinta.
Pada proses digital printing ada beberapa parameter yang harus dijaga, antara
lain:
a. Suhu masuk keramik = 45 500C
BAB III
DESKRIPSI PROSES

III.1 Deskripsi Proses


III.1.1 Body Preparation
a. Raw Material

Raw material yang digunakan dalam pembuatan keramik adalah, clay,


feldspar, dolomit, afal. Semua raw material tersebut sebelum masuk gudang di cek
secara visual meliputi pemeriksaan size, butiran, dan jenisnya serta juga di cek
secara fisik meliputi pengecekan susut kering, bending strength, dan loss of ignation
(LOI), pengecekan dilakukan agar tidak terjadi masalah dip roses selanjutnya.
Kandungan air juga dicek karena akan digunakan untuk menghitung jumlah air yang
ditambahkan pada formulasi body pada proses milling di ball mill. Raw material
yang digunakan sudah halus, jadi tidak memerlukan proses penghancuran bahan
baku.
Raw material yang dicampur pada ball mill akan menghasilkan larutan yang
disebut slip. Untuk menjaga kestabilan hasil produksi slip dilakukan pengecekan
pada saat raw material dari supplier masuk ke pabrik dan pada saat material dari
gudang akan digunakan. Bahan baku yang digunakan diambil dari gudang raw
material untuk ditimbang sesuai dengan formulasi yang telah ditetapkan oleh R&D.
b. Milling (Penggilingan)

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

22
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Didalam proses ini terjadi proses penggilingan dan pencampuran bahan-bahan


yang telah ditimbang sesuai komposisi. Komposisi material yang digunakan sesuai
dengan kapasitas ball mill dan hasil yang diinginkan. Ball mill adalah suatu alat
dengan dimensi tabung yang berfungsi untuk menggiling campuran bahan baku,
sehingga lebih homogen dengan proses basah (wet grinding) dengan kecepatan
putaran 13,5 rpm. Proses basah ini dilakukan dengan penambahan air, deflokulan,
dan water glass. Didalam ball mill campuran bahan baku dengan bola-bola yang
disebut allubite (Na2Al2O3.6SiO2). Penggantian allubite ini biasanya 1 bulan sekali,
tetapi biasanya melihat kondisi batu allubite itu sendiri, jika hasil milling selalu
tidak memenuhi standar maka akan dilakukan pengecekan pada batu allubite, dan
jika ukuran batu sudah tidak memenuhi standar makan akan dilakukan pergantian.
Allubite merupakan batuan yang terdiri dari silika dan alumina sebagai media yang
digunakan untuk menggiling raw material. Batu allubite yang digunakan pada
proses milling body preparation adalah batu yang mengandung 70-75% alumina.
Allubite yang dimasukan kedalam ball mill adalah sekitar 50 55 % dari volume
ball mill dengan komposisi sebagai berikut:

Proses

Ukuran 40mm sebanyak 25% dari volume ball mill.


Ukuran 50mm sebanyak 50% dari volume ball mill.
Ukuran 60mm sebanyak 25% dari volume ball mill.
penggilingan dalam ball mill dilakukan selama 5 jam. Ball mill yang

tersedia sebanyak 7 buah, dengan kapasitas masing-masing ball mill 36 ton 1 unit
dan 14 ton 6 unit. Dimana ball mill tersebut menggunakan sistem batch. Produk
yang dihasilkan oleh ball mill adalah slip. Kemudian slip diperiksa rheologinya,
dimana slip memiliki parameter rheologi sebagai berikut:
- Residu 200 mesh (%)
: 3 3,5
- Viskositas (dt)
: < 60
- Densitas (gr/lt)
: 1620 - 1650
Untuk menjaga nilai rheology ( LW, viskositas, dan residu) pada slip
dilakukan dengan penambahan zat aditif berupa :

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

23
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Water glass : sebagai deflokulant yang berguna untuk mencegah terjadinya


sedimentasi slip body, berguna untuk menjaga homogenitas partikel satu
dengan partikel yang lainnya.

Air : Air berfungsi sebagai pelarut dalam proses milling, penambahan air dapat
menjaga parameter pada slip. Pada proses milling air yang digunakan adalah air
bersih yang berasal dari kolam buatan yang berfungsi menampung air dari
satelit dan hasil pengolahan limbah.

Deflokulan : Deflokulan berfungsi sebagai pengencer slip dan juga


mempercepat penghancuran material. Biasanya digunakan untuk menghindari
terjadinya pengendapan atau penggumpalan slip, misalnya senyawa Na atau Li,
dan water glass (Sodium silikat).

Afal Body : Afal adalah bahan buangan keramik yang belum dibakar dan
berupa padatan atau cairan yang dapat digunakan kembali sebagai bahan
campuran formulasi pembuatan body pada proses milling di dalam ball mill.
Slip yang telah melewati pemeriksaan rheologi dan sesuai dengan parameter

dibongkar ke ground tank, kemudian disaring dengan menggunakan saringan


magnet dan saring getar dengan ukuran 50 mesh, yang kemudian dialirkan kedalam
mixer tank. Pada mixer tank terdapat pengaduk atau stirer yang berfungsi agar slip
tidak mengendap. Slip yang tidak lolos saringan (terlalu kasar dan banyak
mengandung besi) akan jatuh kedalam bak penampung dan dapat dikembalikan ke
dalam ball mill untuk dicampur dengan bahan baku yang lain (recycle). Slip yang
tidak lolos saringan disebut afal.
III.1.2 Spray Dryer
Slip yang ada di mixer tank akan di pompa ke selang nozzle dengan pompa
untuk dikeringkan. Spray dryer merupakan suatu alat yang digunakan untuk
menguapkan air yang terkandung dalam suatu campuran yang mengandung air
(slip), sehingga campuran tersebut menjadi kering. Dimana produk yang dihasilkan
berupa powder.

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

24
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Slip dipompakan pada tekanan yang konstan sekitar 9-10 bar kedalam spray
dryer, melewati selang nozzle, lalu slip akan disemprotkan melalui lubang oriffice
pada ujung stang nozzle. Slip yang disemprotkan oleh stang nozzle akan
bersentuhan dengan udara panas yang dihasilkan oleh pembakaran batu bara di
dalam coal stove dengan suhu sekitar 380 C. Udara panas tersebut dialirkan melalui
pipa tahan panas yang terbuat dari stainlees steel, tetapi sebelum udara panas masuk
ke spray dryer terlebih dahulu dipisahkan dengan abu batu bara, karena bahan bakar
alat penyuplai udara panas (coal stove) adalah batu bara. Hasil pembakaran dari
coal stove berupa udara panas dan abu batu bara, keduanya akan masuk ke cyclone
untuk dipisahkan, jadi udara panas yang masuk ke spray dryer tidak terkontaminasi
oleh abu batu bara karena dapat mempengaruhi hasil powder. Sedangkan abu batu
bara masuk ke penampungan di bawah cyclone. Udara panas masuk ke spray dryer
dan bersentuhan dengan slip dengan berlawanan arah atau counter current, powder
kering dikeluarkan melalui saluran pengeluaran menuju sebuah conveyor yang akan
mengantarkan powder tersebut kedalam silo-silo. Powder yang sangat halus
dipisahkan dengan cara dihisap oleh exhaust menuju ke cyclone powder untuk
dipisahkan, sedangkan untuk powder yang sangat halus dipisahkan menggunakan
water separator, air dari water separator ditampung di storage slurry yang akan
dipakai kembali untuk proses pada ball mill melalui proses pengolahan air limbah
terlebih dahulu, dan gas buang dikeluarkan melalui cerobong asap. Kapasitas spray
dryer 7 ton/jam dengan jumlah pemakaian nozzle sebanyak 17 nozzle dan ukuran
diameter lubang orifice yang dipakai adalah 2,0 mm, 2.2 mm, 2.4 mm, 2.6 mm.
Selama proses berlangsung, temperatur dan tekanan merupakan variabel yang harus
dijaga. Temperatur dan tekanan tersebut dikendalikan oleh suatu panel control yang
dilengkapi oleh alarm.
Powder yang dihasilkan oleh spray dryer disaring dengan saringan 8 mesh
dan 10 mesh. Untuk powder yang lolos dari saringan dibawa oleh conveyor untuk
menuju silo (tempat penyimpanan powder), sedangkan untuk powder yang tidak

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

25
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

lolos saringan dibawa ke bak penampungan (tong Afal). Silo yang tersedia sebanyak
4 buah, dengan kapasitas masing-masing silo 95 ton. Didalam silo, powder diperam
selama 24 jam dengan tujuan mendapat powder yang lebih homogen dan memiliki
kandungan air yang seragam.
Powder yang keluar dari spray dryer diambil untuk dilakukan pengetesan
kadar air dengan tujuan agar dapat diambil langkah antisipasi apabila kadar air
tersebut melebihi batas yang diizinkan maka temperaturnya ditambah, begitu juga
sebaliknya jika kadar air kurang dari batas yang ditentukan makan ditangani dengan
pengurangan jumlah pemakaian nozzle. Dari spray dryer ini powder dihasilkan
dengan kebasahan 6-7%, powder hasil dari spray dryer disimpan di dalam silo
untuk menyeragamkan kadar kebasahan sehingga dapat digunakan untuk body.

Tabel III.1 Komposisi Pembuatan Body Keramik (R&D)


Material

FEED

% Formula

Clay
Feldspar
Dolomit

46
52
2

Total

100

yaitu:
Residu 200 mesh (%)
Viskositas (dt)
Densitas (gr/lt)
Powder MC di SD (%)
Powder MC di Press (%)

Pada spray dryer dilakukan pengecekan


: 3-3,5
: <60
: 1620-1650
: 6-7
: 6-7

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

26
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

III.1.3 Pressing Dan Drying


Proses pressing adalah proses yang bertujuan untuk menghasilkan body
keramik dengan bentuk geometri dan karakteristik kekerasan yang diinginkan.
Powder dimasukkan dalam cetakan (mouldset) dan ditekan (moulding) dengan
tekanan spesifik ukuran 40x40 cm dilakukan penekanan sebesar 245-255 bar, dan
ukuran 50x50 cm dilakukan penekanan sebesar 255-265 bar.
Agar powder dapat saling melekat satu sama lain dibutuhkan kadar kebasahan
yang cukup. Kebasahan yang diperlukan sekitar 6-7% untuk mendapatkan hasil
yang baik. Terlalu kering akan menyebabkan body hasil press mengalami laminasi
(green tile membentuk lapisan-lapisan seperti kue lapis sehingga mudah retak), dan
apabila kebasahan terlalu tinggi akan menyebabkan bahan keramik menempel pada
mould cetakan serta juga dapat menyebabkan body mengalami laminasi.
Proses produksi selanjutnya yaitu proses pengeringan (drying) dengan
menggunakan horizontal dryer. Proses ini bertujuan untuk menguapkan air yang
sudah tidak diperlukan dan meningkatkan nilai bending strenght body. Digunakan
alat pengering dengan jenis horizontal dryer untuk mencapai nilai kebasahan kurang
dari 1%.
III.1.4 GlazePreparation
Glaze preparation di PT Primarindo Argatile meliputi glazur, engobe, dan
pasta yang dilakukan dengan suatu formulasi bahan baku yang telah disiapkan oleh
bagian R&D (Research and Development).

Bahan baku yang telah disiapkan

ditimbang sesuai dengan formulasi masingmasing engobe, glazur, dan pasta.


Waktu penggilingan yang diperlukan bervariasi yaitu 45 menit untuk pasta
(skala 50-100 kg), 11 jam untuk engobe (skala 6 ton), dan 7 jam untuk glazur
(skala 6 ton). Glazur yang akan dilapiskan pada permukaan body keramik, disiapkan
melalui tahapan berikut
1. Penimbangan material glazur.
2. Pencampuran dan penggilingan material glazur.
Pada tahap ini digunakan ball mill glazur dengan kapasitas tertentu.
Tabel III. Jenis-jenis Ball Mill pada Glaze Preparation
Merk/Tipe ball mill

Kapasitas (kg)

Waktu Penggilingan

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

Hasil

27
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

KEDA
6000
11 jam
Engobe
KEDA
6000
7 jam
Glazur
Parameter standar penggilingan di PT Primarindo Argatile:
Untuk Glazur :
- Densitas (gr/lt)
: 1860-1870
- Viskositas (dt)
: <120
- Residu 325 mesh (%)
: 4-5
Untuk Engobe :
- Densitas (gr/lt)
: 1800-1840
- Viskositas (dt)
: <120
Residu 325 mesh (%)
: 0,5-1
3. Penyaringan glazur dan engobe
Dilakukan dengan saringan magnet yang bertujuan menghilangkan kotoran
yang mengandung partikel besi dan bahan logam yang terbawa pada glazur atau
engobe, saringan getar untuk menghilangkan kotoran selain logam yang terkandung
pada bahan-bahan pembentuk glazur dan engobe. Saringan glazur ini berukuran 6080 mesh, sedangkan saringan engobe berukuran 120 mesh. Setelah itu dicek
rheologinya, apabila sudah sesuai dengan parameter standar dapat dimasukan ke
reservoir, dan dapat langsung digunakan di glazing line.
III.1.5 Aplikasi Glazur (Glazing Line)
Glazing line merupakan tahapan yang bertujuan untuk mengaplikasikan
engobe, glazur dan printing terhadap permukaan body keramik dengan parameter
dan standar yang telah ditetapkan. Alat yang digunakan untuk melapiskan glazur
dan engobe pada PT Primarindo Argatile adalah campana dan vela.
Tahap proses glazing line adalah :
a.
Aplikasi engobe
Tile dilewatkan dibawah vela untuk pengaplikasian engobe, dengan standar
pengaplikasian sebagai berikut :
LW (gram/liter)
: 1760-1770
Viskositas (detik)
: 20-22
Berat (gram)
: Ukuran 40x40cm = 85-90
Ukuran 50x50cm = 170-175
b.
Aplikasi glazur
Pengaplikasian glazur diatur sesuai kebutuhan dengan mengunakan campana
untuk menghasilkan tile yang setelah dibakar akan memiliki surface

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

k
h
e
P
d
p
R
g
r
F
C
w
o
S
u
c
s
lB
a
in
t
28

Laporan Praktek Kerja

Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

glossy /matt, flat, tidak berlubang dan rata pada seluruh permukaan tile.

dengan standar pengaplikasian sebagai berikut :


LW (gram/liter)
: 1820-1840
Viskositas (detik)
: 35-40
Berat (gram)
: Ukuran 40x40cm = 110-115
Ukuran 50x50cm = 185-230
c.
Printing
Keramik yang telah diglazur diberi motif dengan proses printing motif

dipermukaan keramik dengan menggunakan mesin digital printing dan flat


printing.

III.1.6 Pembakaran Keramik (Kiln)


Pada tahap pembakaran keramik dilakukan untuk menghasilkan keramik yang
matang. Proses pembakaran merupakan tahapan yang paling penting dan sangat

menentukan terhadap mutu biscuit yang dihasilkan. Tahapan-tahapan yang terjadi


pada saat pembakaran pada kiln secara garis besar adalah

Gambar III.2 Tahapan-tahapan pada saat Pembakaran (biscuit firing)

a. Drying zone / prekiln (100-180 0C)

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

29
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Zona ini dipanasi oleh hasil pembakaran yang didapat dari preheating zone,
untuk mengurangi kadar air dari 4-6 % sampai 0,5-1 %, supaya saat
memasuki proses pembakaran tidak terjadi thermal shock.
b. Preheating zone (300-950 0C)
Peristiwa yang terjadi :
1. Pelepasan air terabsorpsi
Setelah pengeringan, masih terdapat sisa-sisa air terabsorpsi (air pori)
sebesar 1-3 %. Ini akan dilepaskan pada daerah pemanasan antara 100200 C.

2. Peruraian zat-zat organik (200-300 0C )


Pada daerah suhu ini, zat-zat organik yang sering terdapat dalam clay
mengalami peruraian secara pirolisa. Pirolisa adalah reaksi terbakarnya
zat organik menjadi gas CO, CO2 , dan H2O.
3. Pembakaran zat-zat organik (300-500 0C )
Zat-zat organik seperti bahan perekat organik atau lainnya akan terbakar
pada zone ini dan kekuatan keramik pada tahap ini akan menurun
sehingga pada zone ini keusakan keramik mudah terjadi. Selang pada
termperatur antara 300-500 C komponen organik dan pengotor (biasanya
karbon atau gugus CH dari jenis bituminus, selulose, granit, dll) akan
terbakar menjadi gas H2O dan CO2.
Reaksi yang terjadi pada proses pembakaran adalah :
C + O2
CO2
Reaksi pembakaran lain yang berlangsung adalah oksidasi hidrogen yang
terkandung dalam bahan bakar membentuk uap air, reaksi yang terjadi :
H2 + O2
H2O
4. Pelepasan air kristal (500-700 0C )
Air kristal (air konstitusi) dari mineral-mineral lempung akan terlepas
pada daerah suhu ini.
5. Perubahan sisa-sisa karbon dan belerang (700-800 0C )

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

30
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Pada daerah suhu ini belerang dan sisa-sisa karbon yang belum terbakar
akan terbakar menjadi CO2 dan SO2 atau SO3. Penguraian karbonat kalsit,
magnetit dan dolomit terjadi juga pada selang temperatur ini. Mineralmineral tersebut terurai menjadi oksida murni CaO, MgO dan CO 2.
Temperatur berikut ini dapat diberikan untuk mineral murni:
Kalsium Karbonat (CaCO3): pada suhu 800 C menjadi CaO + CO2.
Magnesium Karbonat (MgCO3): pada suhu 350 C menjadi MgO +

CO2.
Kalsium dan Magnesium Karbonat (CaCO3 dan MgCO3): pada suhu

700 C 800 C :
CaCO3 + MgCO3 (700 C) CaCO3 + MgO + CO2
(Sacmi, 2002)
CaCO3 + MgO (800 C) CaO + MgO + CO2
(Sacmi, 2002)
0
c. Firing zone (1000-1160 C)
Fungsi utama dari firing zone ini adalah membentuk tile dengan :
Kedataran yang diinginkan.
Dimensi yang diinginkan.
Kehomogenan
d. Rapid cooling (6000C)
Fase ini meliputi interval antara temperatur maksimum pembakaran. Proses
ini digunakan untuk mendinginkan keramik.
e. Slow cooling (4500C)
Tahap ini merupakan tahap dimana tranformasi allotropi quartz yang sangat
lembut terjadi, sebuah peristiwa yang melibatkan penurunan yang tajam
pada volume body keramik. Proses pendinginan harus secara lambat dan
perlahan-lahan supaya proses transformasi berlangsung secara serempak di
seluruh keramik.
f. Final (1000C )
Tahap ini merupakan tahapan pendinginan.
III.1.7 Sortir And Packaging
Tujuan tahapan ini adalah memisahkan hasil jadi keramik menjadi bagianbagian sesuai dengan dimensi, kualitas surface keramik dan planaritnya. Bagianbagian ini lalu di packing ke dalam kardus-kardus sesuai dengan golongan
kualitasnya kemudian di muat ke dalam pallet-pallet.
Tahapan penting dalam sorting yaitu:

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

31
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

a. Kualitas-kualitas yang dipisahkan di sini adalah cacat-cacat fisik seperti


lubang, retak, kotoran menempel, cacat dekor dan lain-lain.
b. Mesin pemindai berguna untuk memindai keramik berdasarkan kualitas.
Di PT Primarindo Argatile, kualitas keramik dibedakan menjadi empat bagian
yaitu:
a. Kualitas I (KW I) : kualitas ekspor
b. Kualitas II (KW II)
: kualitas premium
c. Kualitas III (KW III)
: kualitas ekonomis
d. Kualitas IV (KW IV)
: kualitas standar
e. Afkir (reject)
Produk yang telah lolos dari proses sortir di masukkan ke dalam kardus dan
dikemas sesuai ukuran dan tingkat kualitasnya dengan alat otomatis. Kualitas
keramik yang dipasarkan dibedakan berdasarkan warna kardusnya. Warna yang
digunakan, antara lain :
a. Warna merah untuk KW I
b. Warna hijau untuk KW II
c. Lambang kuda berwarna biru KW III
d. Kardus polos KW IV
selanjutnya keramik disimpan dalam gudang dan siap dipasarkan dan
pemberian kode tanggal pembuatan.

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

32
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

BAB IV
SPESIFIKASI ALAT
IV.1.

Alat-Alat Proses
Peralatan yang digunakan untuk memproduksi keramik lantai di PT
Primarindo Argatile terdiri dari peralatan utama dan peralatan pembantu.
Spesifikasi peralatan utama :
IV.1.1. Penghancur Bahan Baku
a. Ball mill

Gambar IV.1 Ball Mill


Fungsi
: Menghancurkan dan homogenisasi material body

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

33
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Jumlah
Kapasitas
Pabrik Pembuat
Kondisi Operasi
Cara Kerja

: 7 unit
: 14 ton 6 unit
36 ton 1 unit
: KEDA
: kecepatan perputaran 13,5 rpm
: Material body yang sudah diberi formula oleh R&D
dimasukkan dalam ball mill ditambahkan dengan air,
water glass dan deflokulant. Setelah itu ball mill
diputar dengan kecepatan 13,5 rpm secara batch. Slip
dikeluarkan dari ball mill ke ground tank.

a. Ball mill glaze making


Fungsi
: Menghacurkan dan homogenisasi material glaze
Jumlah
: 4 unit
Kapasitas
: kapasitas 3 ton 2 unit
kapasitas 6 ton 2 unit
Cara Kerja
: Material glaze yang telah ditimbang berdasarkan
pada formulasi yang direkomendasikan oleh R&D
dimasukkan dalam ball mill ditambahkan air dan
water glass. Setelah itu ball mill diputar dengan
kecepatan 11-16 rpm secara batch. Slip dikeluarkan
dari ball mill ke slip tank dengan bantuan turo pump.
IV.1.2. Pembuatan Powder
a.Vibrating Sieve

Gambar IV.2 Vibrating Sieve

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

34
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Jenis
Fungsi

: Vibrating sieve
: Menyaring slip sebelum masuk ke ground tank dan

Cara kerja

mixer tank.
: Slip dilewatkan di ayakan yang bergetar sehingga
slip yang halus lolos dari ayakan sementara slip
yang kasar tertinggal. Slip yang lolos dari ayakan
getar disimpan di alirkan ke ground tank dan mixer
tank.

b. Spray Dryer

Gambar IV.3. Spray Dryer


Fungsi

: untuk menguapkan air yang terkandung dalam


suatu campuran yang mengandung air (slip), sehingga
campuran tersebut menjadi kering (powder). Prinsip
kerja alat ini adalah pengeringan dengan udara vakum.

Jumlah

: 2 unit

Kapasitas

: 168 ton

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

35
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Bahan bakar

: Batu Bara

Cara Kerja

: Slip dari mixer tank disemprotkan menggunakan


nozzle spray dryer dengan bantuan pompa hidrolik.
Slip dari mixer tank disemprotkan menggunakan
nozzle spray dryer dengan bantuan pompa hidrolik
dengan tekanan kurang lebih 9-10 bar. Slip yang
disemprotkan menggunakan nozzle akan berubah
menjadi powder karena mengalami kontak dengan
udara panas yang dialirkan berlawanan arah. Powder
dengan ukuran besar keluar dari bagian bawah spray
dryer

dengan

suhu

sekitar

60

diangkut

menggunakan belt conveyor sementara powder yang


berukuran sangat kecil akan ikut udara panas yang
dihisap oleh fan menuju cyclone separator.
c. Cyclone Separator batu bara

Fungsi
Cara kerja

Gambar IV.4 Cyclone Separator


: Memisahkan debu batau bara yang halus dengan
udara panas yang masuk spray dryer.
: Didalam cyclone separator ini debu batu bara
dipisahkan dengan udara panas melalui proses

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

36
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

pemusingan sehingga udara panas akan masuk ke


spray dryer sedangkan debu yang lolos pada cyclone
separator akan diberikan tampungan berisi air
dibawah cyclone separator agar debu tersebut
bercampur dengan air dan endapan siap untuk
dibuang.

d. Cyclone Separator powder

Fungsi
Cara kerja

Gambar IV.5 Cyclone Separator


: Memisahkan powder yang halus

dengan udara

panas yang keluar.


: Didalam cyclone separator ini powder dipisahkan
dengan udara panas melalui proses pemusingan
sehingga udara panas akan terus keatas dengan debu
yang lolos pada cyclone separator akan diberikan
spray air agar debu tersebut bercampur dengan air

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

37
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

dan direcycle ke

bagian unit pengolahan air

limbah.
IV.1.3. Penyimpanan Powder
a.

Silo Powder

Fungsi
Jumlah
Kapasitas
Cara Kerja

Gambar IV.6 Silo


: Menyimpan powder
: 9 buah silo
: 5 unit 65 ton/silo
4 unit 95 ton/silo
:.Powder yang dihasilkan oleh spray dryer diangkut
ke silo dengan conveyor dan bucket elevator. Di
dalam silo, powder didiamkan minimal 8 jam untuk
menghomogenkan

powder, sehingga

powder seragam.
IV.1.4. Pencetakan Body Keramik
a. Hidrolic Press

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

kadar

air

38
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Gambar IV.7. Mesin Press


Fungsi
: Mencetak body keramik sesuai dengan ukuran
dan standar bending strength yang ditetapkan.
Jumlah
: SITI 3 buah
SACMI 1 buah
Kekuatan press (PH) : SITI 1503
SACMI 2090
Cara kerja
: Powder yang telah diperam selama 24 jam
dimasukkan ke dalam silo kecil yang biasa disebut
hopper yang terletak dibagian atas pressing. Powder
ini memiliki kadar air 6-7%. Powder mengisi cetakan
melalui filler kedalam frame. Kemudian powder
diratakan oleh scrapper. Powder lalu dipress. Pada
tile jumping, green tile dibalik sehingga permukaan
green tile yang halus berada dibagian atas.
IV.1.5. Pengeringan dan Pembakaran
a. Horizontal Dryer

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

39
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Fungsi
Bahan bakar
Jumlah
Cara kerja

Gambar IV.8. Horizontal Dryer


: Mengurangi kadar air green tile.
: Natural gas.
: 2 buah
:.Green tile yang keluar dari press kemudian
dipanaskan dalam horizontal dryer.

b.

Roller Kiln

Fungsi
Tipe
Bahan Bakar Burner
Jumlah
Temperatur operasi
Diameter roller
Panjang roller
Panjang kiln
Lebar kiln
Jumlah termokopel

Gambar IV.9. Biscuit Kiln


: Untuk pembakaran keramik.
: Roller Kiln
: LNG
: 3 unit
: 1180 C
: 42 mm
: 3000 mm
: kiln 1 dan kiln 2 : 8400 cm
Kiln 3 : 7770 cm
:2m
: kiln 1 dan kiln 2 : 24 buah

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

40
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Kiln 3 : 21 buah
IV.1.6. Pengglazuran dan Pemotifan
a. Campana

Gambar IV.10 Campana


Fungsi
Jumlah
Cara kerja

: Melapiskan glazur pada body keramik.


: 3 buah
:.Biskuit dilapisi glazur dengan cara melewatkannya
dibawah campana menggunakan belt.

b.

Fungsi
Jumlah
Cara kerja

Vela

Gambar IV.11 Vela


: Melapiskan engobe pada body keramik.
: 3 buah
: Biskuit dilapisi engobe dengan cara melewatkannya

dibawah vela menggunakan belt.


c. Roller EUT ( Engobe Under Tile )
Fungsi
:.Menempelkan engobe dibagianbawah body keramik
sehingga keramik tidak menempel pada
Jumlah

dalam proses pembakaran di kiln produksi.


: 1 buah

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

roller

41
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

IV.1.7 Packaging Keramik


Jumlah station pemalet
Cycle

:3
: 5 dus/menit

IV.1.8 Spesifikasi Alat Pendukung


1. Belt Conveyer

Fungsi

Gambar IV.12 Belt Conveyor


: Mengangkut material dari box feeder ke ball
mill, dari spray dryer ke silo dan dari silo ke

Lebar
Kemiringan
2. V Belt Conveyor

Fungsi
3. Mixing Tank

mesin press.
: 0,5 meter
: 45o

Gambar IV.13 V Belt Conveyor


: Mengangkut biskuit pada glazing line.

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

42
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Fungsi
Kapasitas
Jumlah
4. Dust Collector

Gambar IV.14 Mixing Tank


: Menampung slip setelah
: 32 liter
: 7 unit

melalui proses.

Gambar IV.15 Dust Collector


Fungsi

: Mengumpulkan

dan

memisahkan

material

Cara Kerja

halus yang terbawa oleh udara.


: Debu atau padatan halus yang terbawa

oleh

udara diserap oleh dust collector dan ditahan dalam


bag filter bagian luar. Untuk melepaskan debu
digunakan angin yang berasal dari compressor dan
diatur oleh valve solenoid yang dirangkai secara
elektrik. Dust Collector biasanya dilengkapi dengan
filter udara agar tetap kering. Material yang terlepas
dari bag filter akan menyatu di bagian bawah dan di

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

43
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

bawa oleh screw conveyor untuk diangkut ke luar


lubang yang dilengkapi dengan rotary lock. Rotary
lock berguna untuk menjaga agar material tidak
kembali lagi ke dust collector.

BAB V
UTILITAS
V.1. Penyediaan Air
Kebutuhan air pada PT Primarindo Argatile yaitu 3000 m 3/ bulan. Kebutuhan
air ini digunakan untuk proses produksi dan sanitasi.
a. Kebutuhan air bersih
Air bersih yang digunakan oleh perusahaan dan karyawan untuk keperluan
minum dicukupi dengan memproses air dari PDAM untuk menjadi air siap
minum. Dan untuk keperluan sanitasi dicukupi dengan menggunakan satelit
milik PT Primarindo Argatile.
b. Kebutuhan air proses
1) Air proses adalah air yang digunakan untuk proses produksi keramik. Air
untuk keperluan proses produksi diantaranya digunakan pembuatan body,
engobe dan glaze keramik. Air untuk keperluan ini disuplai dari campuran
air PDAM dan Satelit tanpa proses pengolahan terlebih dahulu.
2) Air pencucian adalah air yang digunakan untuk proses pembersihan alatalat produksi. Air untuk keperluan pencucian alat-alat produksi
diantaranya digunakan pembersihan vibrating sieve, ball mill, vela,

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

44
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

campana, mixing tank, dan lain-lain. Air untuk keperluan ini disuplai dari
satelit milik PT Primarindo Argatile.
V.2. Penyediaan Bahan Bakar
a. LNG
LNG digunakan untuk menghasilkan udara panas di kiln. Kebutuhan LNG
ini disuplai dari Perusahaan Gas Negara melalui instalasi pipa. Total
kebutuhan gas untuk semua proses produksi adalah 540.000 m3/bulan .
b. Solar
Solar digunakan sebagai bahan bakar mesin pengangkut (forklip), alat berat,
dan Generator yang membutuhkan 6000 liter setiap bulannya, solar disuplai
dari Pertamina.

V.3 Penyediaan Udara tekan


Udara tekan menggunakan alat kompresor untuk penyuplai udara tekan.
Kompresor yang digunakan adalah kompresor otomatis yang dapat mengisi
dengan sendirinya apabila tekanan udara di dalam kompresor berkurang.
Tekanan pada kompresor sebesar 6-7,5 bar yang digunakan untuk pompa
penyaluran air limbah dari produksi dan alat-alat packing.
V.4 Penyediaan minyak pelumas
Minyak pelumas digunakan sebagai salah satu media pengawetan mesin.
Pelumasan mesin biasanya dilakukan oleh bagian maintenance secara berkala
dengan tujuan agar mesin dapat beroperasi dengan baik selama proses produksi.
Kebutuhan minyak pelumas (oli) di PT Primarindo Argatile setiap bulannya
rata-rata 46 liter.
V.5 Penyediaan listrik
Mayoritas kebutuhan listrik disuplai oleh PLN. Listrik yang disuplai oleh PLN
sebesar 24.000 KW/bulan dari PLN Banten. Jika terjadi pemadaman listrik

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

45
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

secara tiba-tiba dari PLN, pabrik tidak melakukan proses produksi. Generator
hanya untuk penerangan pabrik.

BAB VI
PENGENDALIAN MUTU

VI.1 Program Kerja Pengendalian Mutu


Pengendalian Mutu berfungsi untuk mengendalikan kualitas selama proses
produksi dan mempertahankan kualitas produksi sesuai dengan standar-standar yang
telah ditentukan. Pengawasan kualitas dilakukan mulai dari bahan baku, material
selama proses produksi sampai pada produk keramik yang dihasilkan. Standard
produk dan produksi diberikan oleh departemen Research dan Development (R&D)
yang akan dijaga oleh unit-unit pengendali mutu.
Di pabrik keramik lantai dan dinding yang bertugas sebagai pengendali mutu
produksi tebagi menjadi dua bagian, yaitu:

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

46
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

VI.1.1 Quality Control


Proses quality control (QC) merupakan suatu kegiatan menjaga dan
memelihara kondisi proses produksi agar selalu berada dalam standar yang telah
ditetapkan dengan selalu membandingkan produk dengan standar yang telah
diberikan oleh R&D. Kegiatan ini dilakukan sekaligus untuk memisahkan kelaskelas produk dalam proses sortir.
Keramik yang berkualitas adalah keramik yang dapat memberikan kepuasan
terhadap konsumen, jadi sifat dan kualitas keramik adalah relatif, tergantung pada
sudut pandang penilaian konsumen.
Standar mutu dibuat berdasarkan survei dan eksperimen yang dimulai dari
penentuan standar kualitas produk jadi (finished good). Dari standar finished good
inilah standar formula dan standar proses produksi ditentukan. Penentuan ini
didasarkan beberapa faktor antara lain biaya produksi, efektivitas dan efisiensi
kerja.
Untuk mencegah terjadinya penyimpangan produk dari standar yang ada, QC
melakukan pengawasan hasil produk secara terus menerus. Jadi, di samping
memberikan batasan sortir, QC juga memeriksa hasil produksi pada tiap-tiap waktu
tertentu.
QC selalu berkoordinasi dengan produksi dan R&D tentang penyimpanganpenyimpangan yang terjadi pada hal-hal di atas. Penyimpangan yang terlalu jauh
dari standar akan diserahkan kepada R&D untuk menyelesaikan dengan melakukan
perubahan formula atau proses produksi.
VI.1.2 Research and Development
Secara umum Research and Development (R&D) bertugas melakukan
penelitian (riset) untuk menentukan formula keramik yang akan diproduksi sesuai
dengan keinginan pasar dan menentukan standar kualitasnya, menentukan material
dan proses produksi terbaik yang digunakan. Selain itu (R&D) juga bertugas
melakukan koreksi terhadap formula yang telah ada apabila terjadi produk yang

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

47
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

tidak sesuai dengan standar kualitas pasar sekaligus menjaga kualitas bahan baku
serta selama proses produksi.
Dalam hal formulasi, R&D melakukan riset formula body, engobe, glaze dan
pasta yang baik untuk digunakan produksi.
Dalam hal penggunaan material baru, R&D melakukan penelitian
kemungkinan penggunaan material baru, uji kelayakan suplier dan menentukan
batasan kualitas material yang berhubungan dengan penerimaan material. Setelah
melakukan riset, R&D menetapkan batasan spesifikasi material yang akan dijaga
oleh unit Material Control.
Dalam hal proses produksi, R&D menetapkan batasan-batasan proses
produksi yang harus diikuti oleh setiap unit produksi. Berikut standar kualitas dari
bahan baku dan produk tiap unit proses produksi.
a. Body preparation
Sebelum bahan baku digunakan untuk proses produksi bahan baku diuji dulu
standar kualitasnya. Tiap bahan baku mempunyai standar kualitas tersendiri, hal ini
didasarkan pada sifat masing-masing bahan.
Dalam proses body preparation terbagi menjadi beberapa sub unit proses
produksi, yaitu:

Ball Mill
:
Allubite

a. Diamater 40mm sebanyak 25% dari volume


ball mill.
b. Diamater 50mm sebanyak 50% dari
volume ball mill.
c. Diamater 60mm sebanyak 25% dari

Residu 200 mesh


Viskositas
Densitas
Spray Dryer (SD)
Residu 200 mesh
Viskositas
Densitas
Powder MC di SD (%)

volume ball mill.


: 3-3,5 %
: <60 detik
: 1620-1650 gram/liter
: 3-3,5 %
: <60 detik
: 1620-1650 gram/liter
: 6-7 %

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

48
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Powder MC di Press(%) : 6-7 %


b. Pressing
Moisture Content powder
: 6-7 %
Tekanan mesin press
: 240-265 bar
c. Drying
Dried Shrinkage
: 0,15-0,25 %
Moisture
: 0,10-0,50 %
d. Firing ( Roller Kiln )
Temperatur
: 1. Prekiln 100-180 0C
2. Preheating 300-950 C
3. Firing 1000-1180 C
4. Rapid Cooling 600oC
5. Final Cooling 100oC
e. Glaze Preparation
Glaze preparation terdiri dari engobe dan glazur dengan standar kualitas:

Engobe
Viscositas
LW
Residu 325 mesh
Glazur

: <120 detik
: 1800-1840 gram/liter
: 0.5- 1%

Viscositas

: <120 detik (fordcup)

LW

: 1860-1870 gram/liter

Residu 325 mesh

: 4 - 5%

f. Pasta Preparation
Pasta preparation terdiri dari pasta printing 1, pasta printing 2, dan pasta

printing 3( sinking )
Pasta printing 1
LW
: 1550 1600 gram/liter
Pasta printing 2
LW
: 1550 1600 gram/liter
Pasta printing 3 ( sinking )
LW
: 1650 1700 gram/liter
g. Engobe Under Tile (EUT)
LW
: 1200 1250 gram/liter
VI.2

Alat-Alat Uji Pengendalian Mutu Skala Lab.

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

49
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Oven
Digunakan untuk mengeringkan / menurunkan kadar air sampel.
Pott Mill
Digunakan untuk proses milling engobe/glaze/pasta skala laboratorium.
Hidraulic Press
Digunakan untuk pengepresan sampel komposisi body atau material body.
Kabin Spray
Digunakan untuk tes aplikasi spray air , engobe dan glaze.
Ford Cup
Alat untuk mengukur viskositas slip body, glaze, engobe dan pasta.
Stopwach
Untuk menghitung waktu dalam menentukan viskositas.
Storage
Untuk menyimpan keramik sementara.
Hand Printing Screen
Alat untuk tes printing skala lab.
Bending strength
Untuk mengukur kekuatan keramik.
Piknometer
Untuk menentukan densitas slip body, glaze, engobe dan pasta.
Autoclave
Untuk melakukan tes crazing resistance.

VI.3

Prosedur Analisa

1. Tes % Moisture Content


a. Menimbang material sebanyak 100 gram (berat basah)
b. Mengeringkan dalam oven selama kurang lebih 25-30 menit
c. Menimbang berat kering
d. Menghitung kadar air
Berat basahBerat kering
% MC =
100 %
Berat basah
2. Liter Weight (LW)
a. Timbang berat piknometer kosong
b. Mengambil sampel slip
c. Masukkan slip ke piknometer sampai penuh
d. Hitung LW dengan
LW = Berat piknometer isi Berat piknometer kosong
3. Tes % Residu
a. Menimbang material yang ingin ditest 100 gram ke dalam wadah

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

50
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

b.
c.
d.
e.
f.

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Menambahkan air secukupnya


Menghidupkan mixer
Mencuci dengan air
Sisa saringan ditempatkan dalam wadah
Setelah hancur dan menjadi slip disaring dengan saringan 325 mesh

sambil dikeringkan di dalam oven sampai kering


g. Setelah kering menimbangnya
Berat kering
Berat keringresidu
% Residu =
100
100

100 %

4. Viscosity
a. Mengambil 100 cc slip
b. Masukkan slip ke alat Ford Cup
c. Mengukur waktu alirannya dengan stopwatch.
d. Catat hasil waktu sampai slip terakhir menetes dari Ford Cup.
5. Partikel Size
a. Ambil sampel powder sebanyak 100 gram.
b. Masukkan ke ayakan getar dengan urutan saringan 30 mesh, 40 mesh, 60
mesh, 80 mesh, 100 mesh.
c. Hidupkan ayakan getar.
d. Atur waktu alat 10 menit.
e. Setelah alat berhenti timbang powder yang masih tertinggal di masingmasing saringan.
f. Cocokkan hasil dengan standar yang digunakan pabrik.
6. Water Absorbsion (%W)
a. Memasukkan sampel yang telah dibakar kedalam water bath
b. Merebus sampel dengan waktu yang telah ditentukan
P 2P 1
x 100
% WA =
P1
Keterangan :
% WA : % penyerapan air
P2
: Berat keramik setelah direbus (g)
P1
: Berat keramik sebelum direbus (g)
7. Shringkage ( % )
%R=

L 4L 1
x 100
L1

Keterangan :

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

51
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

% R : % penyusutan
L4
: Ukuran keramik setelah dicetak dan dibakar (cm)
L1
: Ukuran badan cetakan (g)
8. Bending Strength
a. Mengukur ketebalan sampel (mm)
b. Mengukur jarak antara dua blade yang menyokong sampel (mm)
c. Memasukkan sampel kedalam alat bending strength untuk menerima
gaya
d. Melihat skala yang terbaca pada alat
e. Mengukur lebar sampel pada titik terbelahnya (mm)
3x Px L
BS = 2 x h2 x b
Keterangan :
BS: Bending strength (N/mm2)
P : Skala yang terbaca pada alat (N)
h : Ketebalan minimum sampel (mm)
L : Jarak antara 2 blade yang menyongkong sampel (mm)
b : lebar sampel pada titik terbelahnya (mm)
7.

8.

Crazing Resistance
a.

Memasukkan keramik ke dalam autoclave (alat dengan temperatur dan

b.

tekanan tinggi)
Mendiamkan keramik di dalam autoclave selama 2 jam dengan tekanan

c.

10 bar dan temperatur 1700C.


Mengeluarkan keramik dari autoclave dan diberi pewarna aniline pada

d.
e.

permukaannya
Mencuci keramik dengan air sampai bersih
Mengamati pada keramik apakah tedapat bercak garis retak rambut tipis

dari larutan pewarna akibat dari crazing


Ketahanan Terhadap Asam/Basa
a. Memberikan larutan asam/basa dengan konsentrasi tertentu pada bagian
permukaan keramik. Reagen yang digunakan antara lain : larutan HCL
b.
c.

dan larutan NaOH. Prosedur tes mengacu pada standar ISO.


Mendiamkannya selama 1 4 hari
Mengamati pada keramik, jika timbul bercak atau noda bekas larutan
asam/basa maka keramik tersebut tidak tahan asam/basa.

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

52
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

9.

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Test uji ketahanan Fisika


Terdiri dari uji kekerasan permukaan keramik uji ketahanan watermark
dgn MB sesuai dengan standar ISO.

BAB VII
PENGOLAHAN LIMBAH
VII.1. Pengolahan Limbah

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

53
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Limbah sebagai hasil samping suatu produksi merupakan masalah yang


penting sehingga diperlukan penanganan khusus dan pengolahan yang berkelanjutan
agar tidak mencemari lingkungan sekitar. Limbah yang dihasilkan di PT Primarindo
Argatile ada 3 macam, yaitu:
1. Limbah cair
Limbah ini dihasilkan dari unit glaze preparation serta di glazing line,
sebagian berasal dari cyclone powder spray dryer .
Limbah cair yang berasal dari cyclone powder spray dryer adalah berupa
powder halus yang masuk ke dalam tangki pembuangan yang berisi air.
Air hasil pengendapan dapat digunakan kembali untuk proses
penambahan air di ball mill sedangkan sludge (limbah padatnya)
digunakan sebagai bahan baku body.
Limbah cair yang berasal dari unit glaze preparation serta di glazing line
diolah dengan cara pengendapan, dimana limbah yang berasal dari unit
glaze preparation dan glazing line dialirkan menuju mixing tank, di dalam
mixing tank limbah akan ditambahkan dengan koagulan yang sudah
dibuat dengan takaran tertentu. Limbah dan koagulan diaduk agar merata
dan koagulan bekerja maksimal. Setelah itu limbah dialirkan menuju bak
penampungan menggunakan pompa dengan tekanan 2-3 bar, limbah yang
dialirkan akan mengendap di bak penampungan I, lalu jika masih ada
endapan yang tersisa akan mengendap di bak penampungan II. Setelah
melewati bak penampungan I dan II maka sisa air yang mengandung
sedikit endapan akan masuk ke bak penampungan III, ketika limbah
sudah memasuki bak penampungan IV maka limbah sudah menjadi air
jernih yang siap dialirkan ke kolam penampungan, dimana air jernih ini
akan digunakan kembali untuk proses pembuatan body. Endapan yang
berada di bak penampungan I dan II akan dihisap oleh pompa dan
dialirkan ke reservoir untuk proses selanjutnya yaitu pengepressan

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

54
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

endapan limbah yang akan dijadikan cake. Ketika limbah sudah menjadi
cake, maka limbah siap digunakan untuk proses pembuatan engobe.

Gambar VII.1 Diagram Alir proses Pengolahan Limbah Cair dari unit glazing line
dan glaze preparation PT Primarindo Argatile
- Limbah cair yang berasal dari pasta preparation diolah dengan metode
filtrasi, dimana limbah cair yang berasal dari pasta preparation dialirkan
ke mixing tank, selama di mixing tank limbah diaduk agar tidak
mengendap. Setelah itu limbah dipompa menuju bak penampungan I
untuk tampungan pertama kali sebelum limbah mengalir ke bak
selanjutnya. Limbah dari bak I akan mengalir secara otomatis ke bak
penampungan II yang berisi spoon, bak penampungan III untuk
pengecekan limbah, bak penampungan IV yang berisi bongkahan limbah
batu bara, bak penampungan penampungan V yang berisi kerikil, bak
penampungan VI untuk pengecekan limbah, dan terakhir melewati bak VII
yang berisi limbah batu bara yang halus. Limbah yang semula keruh
setelah melewati pengolahan ini, akan berubah menjadi jernih karena
sudah terpisah dengan endapan. Endapan yang tertinggal di bak

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

55
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

penampungan 1 akan diambil melewati pipa di bagian bawah bak


penampungan. Saat ini endapan limbah sedang di riset oleh bagian R&D
untuk memastikan limbah ini bisa dipakai kembali atau akan dibuang.

Gambar VII.2 Diagram Alir proses Pengolahan Limbah Cair dari unit pasta
preparation PT Primarindo Argatile
2. Limbah Padat
Selain limbah cair pabrik keramik lantai juga menghasilkan limbah
padat berupa debu yang berterbangan. Untuk mengatasi masalah ini
pabrik keramik menggunakan dust collector.
Semua limbah padat yang dihasilkan dari proses produksi direcycle
kembali untuk diolah kembali menjadi body. Kebanyakan limbah padat
dihasilkan dari:
Afal
Limbah padat bahan keramik yang belum mengalami

proses

pembakaran. Afal ini ada yang berasal dari powder yang sangat halus
dari spray dryer.
3. Emisi Gas buang
emisi gas buang merupakan gas buangan yang berasal dari proses
penguapan di dalam spray dryer dan proses pembakaran lain di dalam
kiln. Emisi gas buang yang keluar dari spray dryer mengandung debu

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

56
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

yang merupakan powder yang telalu halus. Emisi gas buang ini dialirkan
ke dalam cyclone dan disemprotkan dengan air untuk memisahkan debu
dengan gas sehingga dapat dibuang ke lingkungan melalui cerobong gas
buang. Gas buang yang berasal dari unit pembakaran (kiln) merupakan
gas pembakaran biskuit dan glazur. Emisi gas ini dibuang melalui
cerobong gas karena merupakan gas yang bersih (tidak mengandung
sulfur) dan tidak polusi.

BAB VIII
PENUTUP
VIII.1. Kesimpulan

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

57
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Setelah melakukan kerja praktek di PT Primarindo Argatile Serang,


maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. PT Primarindo Argatile adalah sebuah perusahaan yang menghasilkan
produk yang berupa keramik lantai dan keramik dinding dengan
menggunakan teknologi modern.
2. Kapasitas produksi di PT Primarindo Argatile pada Plant Floor Tile
adalah 8500 m2/hari.
3. Proses pembuatan keramik dinding meliputi 5 proses, diantaranya
proses

persiapan

massa

bodi,

pengepresan

dan

pengeringan,

pengglasuran, pembakaran, dan penyortiran serta pengepakan.


4. Bahan baku pembuatan keramik dinding terdiri atas bahan baku plastis,
non plastis dan afval. Dimana bahan baku pembuatan keramik adalah
clay, feldspar, dolomit, dan recycle. Pengecekan rheologi (viskositas,
densitas, residu dan kadar air) terhadap slip, engobe, pasta dan glasur
sangat diperlukan agar dapat mencapai hasil yang sesuai standar
sebelum diproduksi dalam jumlah besar.
VIII.1. Saran
Setelah kami melaksanakan kerja praktik di PT Primarindo Argatile
selama satu bulan di plant floor tile, maka kami mempunyai saran kepada PT
Primarindo Argatile diantaranya sebagai berikut :
1. Melakukan pemeriksaan secara rutin cara kerja seluruh alat, agar tidak
terjadi defect pada keramik hasil produksi.
2. Melakukan pengalibrasian dan verifikasi secara rutin dan berkala untuk
operator atau Quality Controller.
3. Untuk lebih menjaga kesehatan kerja , sebaiknya karyawan yang bekerja
ditempat bising diberi tambahan alat perlindungan diri (APD) berupa ear
plak. Hal ini ditujukan agar menghindari gangguan pendengaran dalam
jangka waktu panjang.

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

58
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

59
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

LAMPIRAN

LAPORAN TUGAS KHUSUS


STANDART OPERATING PROCEDURE (SOP) PADA SPRAY DRYER
PT PRIMARINDO ARGATILE

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

60
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Disusun Oleh :
DIARTA SUBAKTI
NIM .I8313012
PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA
JURUSAN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016

BAB 1

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

61
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Standart Operating Procedure (SOP) merupakan petunjuk terperinci
untuk menjalankan atau mengoperasikan suatu alat maupun proses dengan baik
dan benar dalam suatu industri. Ketika kita ingin mendapatkan hasil atau
produk yang sesuai dengan standart, maka dalam mengoperasikan suatu alat
harus dengan prosedur yang benar.
Pada pabrik keramik ini, dryer yang digunakan adalah jenis spray dryer.
Spray dryer memiliki peranan yaitu mengubah bahan yang semula berbentuk
cair (slip) menjadi powder (bubuk) yang selanjutnya akan digunakan dalam
proses pressing. Pada spray dryer, terdapat beberapa parameter yang harus
dijaga, diantaranya : suhu, tekanan, aliran udara panas, kecepatan umpan, dan
PSD (Particel Size Distribution). Karena terdapat banyak parameter yang harus
dijaga, maka pengopeasian alat yang sesuai dengan SOP sangat diperlukan.
Standart Operating Procedure (SOP) terdiri atas :, start up, shut down, dan
trouble shooting.
Start up meliputi hal-hal yang harus disiapkan sebelum alat dinyalakan.
Start up dilakukan dengan mengecek segala bagian pada alat agar sesuai
dengan standart. Shut down dijalankan saat alat mengalami gangguan atau
sedang dilakukan maintenance.
B. Rumusan Masalah
1. BagaimanaStandard Operating Procedure pada Spray Dryer ?
2. Bagaimana cara mengatasi masalah yang terjadi pada Spray Dryer?
C. Tujuan
1. Mengetahui Standard Operating Procedure meliputi cara start up, kondisi
operasi dan shut down pada Spray Dryer.
2. Mengetahui respon dari masalah yang terjadi pada Spray Dryer

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

62
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

D. Manfaat
Penulis mendapatkan pengetahuan yang lebih luas tentang :
1. Langkah start up, kondisi operasi dan shut down pada Spray Dryer
2. Langkah penangan yang tepat jika terjadi masalah pada Spray Dryer

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

63
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Drying
B. Spray Dryer
Spray dryer adalah alat yang digunakan untuk mengeringkan larutan atau slurry
menjadi bentuk bubuk (powder) yang kering. Berdasarkan cara pemanasannya,
spray dryer dibagi menjadi dua macam, yaitu :
1. Pemanasan secara langsung
Spray dryer menggunakan panas untuk menguapkan air pada slip dengan
menggunakan gas pembakaran dan udara panas yang dikontakkan langsung
dengan droplet dan menyebabkan penguapan dengan pemanasan secara
konveksi. Tipe ini banyak digunakan dalam industri pembuatan keramik.
2. Pemanasan secara tidak langsung
Pada tipe ini, panas dipindahkan ke material dengan cara konduksi. Luas
permukaan yang besar akan dapat membuat proses penguapan menjadi lebih
cepat.
Sedangkan berdasarkan arah aliran, spray dryer juga terdapat dua macam, yaitu :
1. Aliran searah (Parallel current)
Pada proses parallel current aliran umpan slip dan aliran udara dikontakkan
searah.
2. Aliran Berlawanan arah (Counter current)
Pada counter current aliran umpan yang berupa slip dan aliran udara panas
dikontakkan secara berlawanan arah.
Pada spray dryer, pembuatan powder dari slip dipengaruhi oleh konsentrasi
larutan, viskositas, densitas, ukuran nozzle, dan tekanan pompa. Proses atau cara
kerja dari spray dryer dimulai ketika slip disemburkan ke atas dan udara panas

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

64
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

disemburkan ke bawah. Pada proses ini akan terjadi penguapan kandungan air yang
ada pada slip sehingga berubah menjadi bentuk powder yang kering dan jatuh ke
bawah. Kemudian powder akan tehisap ke cyclone separator.
Di dalam cyclone, terjadi gerakan sentrifugal yang menyebabkan powder halus
berbenturan dengan dinding dan jatuh ke bawah, sedangkan powder yang kurang
halus akan kembali lagi diolah.
Spray dryer terdiri dari beberapa komponen diantaranya:
1. Chamber : tempat penguapan dimana saat kontak slip disemprotkan ke atas
2.

dan udara panas dialirkan ke slip bawah.


Piston pump : pompa yang berfungsi untuk mengatur tekanan dan kecepatan

aliran udara panas.


3. Ayakan : alat untuk memisahkan powder yang berbeda ukurannya pada
persiapan slip.
4. Belt conveyor : alat pengangkut powder yang keluar dari chamber.
5. Centrifugal fan : kipas penghisap debu dan uap panas dibagian cyclone
separator.
6. Coal Stove : sebagai penghasil uap panas berbahan bakar (Batu Bara)
7. Nozzle : alat bertekanan sentrifugal yang digunakan untuk pembuatan
powder dari slip.
8. Electrical control cabin : alat untuk mengontrol alat instrumen yang
dioperasikan di dalam spray dryer.
9. Cyclone separator : memisahkan powder yang halus.

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

65
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

BAB 3
METODOLOGI
A. Cara Memperoleh Data
Perolehan data dilakukan dengan berbagai metode, yaitu :
1. Pengamatan di lapangan
a. Pengamatan langsung dilakukan di pabrik selama proses produksi
berlangsung
b. Data diperoleh dengan pengamatan pada ruang control.
2. Studi Literatur
Data diperoleh dengan membaca sumber-sumber literature yang tersedia di
pabrik, maupun sumber lain.
3. Wawancara
Data diperoleh dari wawancara dengan tenaga ahli dan operator untuk
mendapatkan uraian penjelasan yang benar tentang SOP Spray Dryer.
B. Cara Mengolah Data
Berdasarkan data-data yang di peroleh maka dapat dijabarkan secara
detail mengenai Standard Operating Procedure (SOP) pada Spray Dryer,
sehingga memperoleh Standard Operating Procedure(SOP) yang sistematis.

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

66
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Di PT Primarindo Argatile menggunakan spray dryer untuk proses pembuatan
powder. Spray dryer mengubah slip menjadi powder dengan proses drying. Berikut
adalah gambar dari spray dryer :

Keterangan gambar :
A. Chamber
B. Coal stove
C. Cyclone separator
D. Nozzle
E. Cerobong gas buang
F. Blower
G. Cyclone separator

H. Piston pump
I. Belt conveyor
J. Exhaust
K. Udara masuk
L. Blower
M. Electrical control cabin
N. Vibrating Screen

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

67
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

Cara pengoperasian spray dryer dilakukan dengan cara manual. Pengoperasian


dilakukan dengan cara mensetting alat pada kondisi yang diinginkan agar hasil
sesuai dengan standar. Electrical control cabin hanya menyediakan tampilan visual
dari suhu yang dihasilkan oleh coal stove dan suhu yang ada di dalam chamber.
Supaya proses pembuatan powder pada spray dryer dapat berjalan dengan baik
harus dijalankan sesuai dengan Standart Operational Procedure (SOP). SOP pada
spray dryer meliputi prosedur start up, kondisi operasi dan shut down.Berikut SOP
pada Spray Dryer :
a. Proses Start Up Spray Dryer
1) Persiapan spray dryer
a) Memastikan jendela pada chamber tertutup.
b) Menyalakan alat pengukur temperatur di electrical control cabin (M).
c) Menghidupkan water spray melewati stang nozzle yang disuplai dari
bak penampungan air.
d) Menyalakan centrifugal fan (G) pada penghisap debu di bagian cyclone
separator (I).
e) Udara panas masuk setelah dihisap oleh exhaust.
f) Mengontrol suhu di dalam coal stove dan spray dryer.
2) Persiapan coal stove
a) Mengisi coal stove (L) dengan batu bara
b) Menyalakan batu bara dengan api dibantu dengan solar
c) Menghidupkan blower (B)
d) Udara panas masuk ke chamber (K)
3) Persiapan slip
a) Membuka slip valve dari pompa pada pipa masuk dan menutup valve air
yang ada pada pompa (H).
b) Mengatur temperatur pada coal stove (L) sehingga kadar air pada
powder memenuhi standart yang ditentukan (6-7%).
4) Persiapan powder
a) Menyalakan ayakan bergetar (N) dibawah chamber.
b) Menghidupkan belt conveyor (I) dibawah chamber.
b. Kondisi operasi Spray Dryer
1) Mengatur tekanan pompa sebesar 9-10 bar
2) Mengontrol water content pada powder sebesar 6-7% (% berat).

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

68
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

3) Mengontrol temperatur inlet udara panas sebesar 380 oC dan temperatur


outlet udara panas 100oC
c. Prosedur shut down spray dryer
1) Mengganti slip dengan air
Membuka valve air pada pipa masuk dan menutup slip valve yang ada
pada pompa (H).
2) Mematikan mixer dan saringan getar (N)
3) Saringan getar powder diganti dengan talang air
4) Mematikan blower
a) Mematikan blower (B).
b) Mencabut stang nozzle pada chamber (A).
5) Mematikan centrifugal fan
Setelah mematikan water spray, kemudian mematikan centrifugal fan
(F).
6) Mematikan coal stove
a) Mematikan coal stove (B)
b) Kosongan batu bara dari coal stove (B)
c) Matikan motor pada coal stove
7) Mematikan semua instrument yang ada pada electrical control cabin
(M).
d. Troubleshooting
1) Temperatur pengering powder tidak sesuai
Penyebab :
Disebabkan oleh daya bakar batu bara yang tidak maksimal, serta faktor
penunjang lain yang tidak bekerja maksimal.
Penanganan :
a) Memeriksa suhu coal stove
Menambah kecepatan rantai dan menambah daya blower (O).
b) Memeriksa pipa udara
Jika pipa mengalami kebocoran maka harus shut down. Daya dari
centrifugal fan harus besar agar debu batu bara tidak menempel di
pipa udara yang menyebabkan pipa udara tersumbat.
c) Persiapan slip
- Mengontrol densitas dan viskositas dari slip
Densitas : 1620 1650 gram/liter
Viskositas : <60 detik
Jika slip terlalu kental maka ditambahkan deflokulan dan
waterglass.

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

L8

69
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

d) Memeriksa apakah aliran slip stabil atau tidak


- Memeriksa apakah spray nozzle macet atau tidak.
Jika nozzle macet maka nozzle diganti yang baru.
- Memeriksa tekanan pada pompa slip
Menjaga tekanan pompa sebsar 9-10 bar
- Memeriksa pipa slip dan valve
Jika mengalami penyumbatan maka spray dryer tidak dapat
beroperasi dan pipa harus dibongkar.
2) Adanya kotoran pada nozzle
Penyebab :
Disebabkan karena tekanan pada pompa menurun sehingga sebagian slip
menempel pada nozzle.
Penanganan :
Mengatasinya dengan cara memukul-mukul saluran nozzle dari luar.
3) Ukuran powder terlalu besar
Penyebab :
Disebabkan karena diameter nozzle yang membesar.
Penanganan :
Mengatasinya dengan cara mengganti nozzle setiap minggu.
B. Pembahasan
Pengendalian proses dilakukan secara manual dengan melihat kondisi
operasi di electrical control cabin. Permasalahan proses produksi yang sering terjadi
di PT Primarindo Argatile disebabkan temperatur yang tidak stabil atau jauh dari
setpoint yang telah ditentukan. Tidak stabilnya temperature dapat menyebabkan
produk tidak sesuai dengan standar yang telah ditentukan dan mudah rusaknya alat.
PT Primariindo Argatile memiliki standar yang harus dipenuhi untuk menghasilkan
produk dengan kualitas baik dan melakukan analisis secara berkala dari bahan baku
serta produk yang dihasilkan. Dengan adanya Standard Operation Procedure (SOP)
maka dengan cepat dapat diketahui solusi untuk mengatasinya.
Masalah yang ditemui pada pengoperasian Spray Dryer adalah naik turunya
temperatur operasi karena bahan bakar spray dryer adalah batu bara, sehingga
kualitas batu bara juga berpengaruh terhadap stabil atau tidaknya temperatur di

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

70
Laporan Praktek Kerja
Primarindo Argatile

PT Primarindo Argatile
Serang , Banten

spray dryer. Sehingga temperatur operasi selalu dikontrol untuk mengendalikan agar
memperoleh produk yang memenuhi standar produksi.

Diploma III Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta