Anda di halaman 1dari 24

REFERAT

ILEUS OBSTRUKTIF

DISUSUN OLEH :
Priscila R. Suprapto (112013295)
Pembimbing :
Dr. Gunadi Petrus SpB, KBD
KEPANITERAAN KLINIK BEDAH
RUMAH SAKIT BAYUKARTA KARAWANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRIDA WACANA
PERIODE 26 MEI 2 AGUSTUS 2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ileus adalah gangguan pasase isi usus yang merupakan tanda adanya obstruksi usus,
dan merupakan 6070% dari seluruh kasus akut abdomen yang bukan appendicitis akuta.
Akut abdomen dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi, dan
penyulitnya, ileus obstruktif, iskemik, dan perdarahan. Sebagian kelainan dapat disebabkan
oleh cedera langsung atau tidak langsung yang mengakibatkan perforasi saluran cerna atau
perdarahan. Ileus memiliki mortalitas tinggi jika tidak segera didiagnosis dan ditangani
dalam 24 jam.
Obstruksi usus halus menempati sekitar 20% dari seluruh pembedahan darurat,dan
mortalitas dan morbiditas sangat bergantung pada pengenalan awal dan diagnosis yang tepat.
Perlekatan usus sebagai penyebab dari Ileus saat ini menempati urutan pertama.
Ileus lebih sering terjadi pada obstruksi usus halus daripada usus besar. Keduanya
memiliki cara penanganan yang berbeda dengan tujuan yang berbeda pula. Obstruksi usus
halus yang dibiarkan dapat menyebabkan gangguan vaskularisasi usus dan memicu iskemia,
nekrosis, perforasi dan kematian, sehingga penanganan obstruksi usus halus lebih ditujukan
pada dekompresi dan menghilangkan penyebab untuk mencegah kematian.
Obstruksi usus besar sering disebabkan oleh neoplasma atau kelainan anatomic seperti
volvulus, hernia inkarserata, striktur atau obstipasi. Penanganan obstruksi kolon lebih
kompleks karena masalahnya tidak bisa hilang dengan sekali operasi saja. Terkadang cukup
sulit untuk menentukan jenis operasi kolon karena diperlukan diagnosis yang tepat tentang
penyebab dan letak anatominya. Pada kasus keganasan kolon, penanganan pasien tidak hanya
berhenti setelah operasi kolostomi, tetapi membutuhkan radiasi dan sitostatika lebih lanjut.
Hal ini yang menyebabkan manajemen obstruksi kolon begitu rumit dan kompleks daripada
obstruksi usus halus.
Setiap tahunnya 1 dari 1000 penduduk dari segala usia didiagnosa ileus. Di Amerika
diperkirakan sekitar 300.000-400.000 menderita ileus setiap tahunnya. Di Indonesia tercatat
ada 7.059 kasus ileus paralitik dan obstruktif tanpa hernia yang dirawat inap dan 7.024
pasien rawat jalan pada tahun 2004 menurut Bank data Departemen Kesehatan
Indonesia.Penentuan waktu kritis serta tergantung atas jenis dan lama proses ileus obstruktif.
Dalam referat ini akan dibahas mengenai bagaimana mendiagnosis, melakukan pemeriksaan
fisik dan penatalaksanaan dari ileus obstruktif tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1 Anatomi
Usus halus terbentang dari pylorum sampai caecum dengan panjang 270 cm sampai
290 cm. Usus halus dibagi menjadi duodenum, jejenum dan ileum. Duodenum panjangnya
sekitar 25 cm, mulai dari pilorus sampai jejenum. Panjang jejenum 100-110 cm dan panjang
ileum 150 -160 cm. Pemisahan duodenum dan jejenum ditandai oleh Ligamentum Treitz.
Ligamentum ini berperan sebagai ligamentum suspensorium. Kira-kira dua per lima dari sisa
usus halus adalah jejenum, dan tiga per lima bagian terminalnya adalah ileum. Jejenum
mempunyai vaskularisasi yang besar dimana lebih tebal dari ileum. Apendiks vermiformis
merupakan tabung buntu berukuran sekitar jari kelingking yang terletak pada daerah
ileosekal, yaitu pada apeks sekum. (Basson, 2004)
Arteri mesenterika superior dicabangkan dari aorta tepat di bawah arteri celiaca.
Arteri ini mendarahi seluruh usus halus kecuali duodenum yang diperdarahi oleh arteri
gastroduodenalis dan cabangnya arteri pankreatikoduodenalis superior. Darah dikembalikan
lewat vena mesenterika superior yang menyatu dengan vena lienalis membentuk vena porta.
Usus halus dipersarafi cabang-cabang kedua sistem saraf otonom. Rangsangan
parasimpatis merangsang aktivitas sekresi dan pergerakan, sedangkan rangsangan simpatis
menghambat pergerakan usus. Serabut saraf sensorik sistem simpatis menghantarkan nyeri,
sedangkan serabut saraf parasimpatis mengatur refleks usus.
Usus besar dibagi menjadi caecum, colon dan rektum. Pada caecum terdapat katup
ileosekal dan apendiks yang melekat pada ujung caecum. Caecum menempati sekitar dua
atau tiga inchi pertama dari usus besar. Kolon dibagi lagi menjadi colon ascenden, colon
transversum, descenden dan sigmoid. Tempat dimana colon membentuk belokan tajam yaitu
pada abdomen kanan dan kiri atas berturut-turut dinamakan fleksura hepatika dan fleksura
lienalis. Colon sigmoid mulai setinggi krista iliaka dan berbentuk suatu lekukan berbentuk S.
Lekukan bagian bawah membelok ke kiri waktu colon sigmoid bersatu dengan rektum. Usus
besar memiliki empat lapisan morfologik seperti bagian usus lainnya.
Sekum, kolon ascenden dan bagian kanan kolon transversum diperdarahi oleh cabang
a.mesenterika superior yaitu a.ileokolika, a.kolika dekstra dan a.kolika media. Kolon
transversum bagian kiri, kolon descendens, kolon sigmoid dan sebagian besar rektum
perdarahi oleh a.mesenterika inferior melalui a.kolika sinistra, a.sigmoid dan a.hemoroidalis
superior. Pembuluh vena kolon berjalan paralel dengan arterinya. Kolon dipersarafi oleh oleh

serabut simpatis yang berasal dari n.splanknikus dan pleksus presakralis serta serabut
parasimpatis yang berasal dari N.vagus. (Basson, 2004)

Gambar 2.1 Anatomi sistem pencernaan (Translight Medical Media, 2008)


2.2 Fisiologi
Usus halus mempunyai dua fungsi utama yaitu pencernaan dan absorbsi bahan-bahan
nutrisi, air, elektrolit dan mineral. Proses pencernaan dimulai dalam mulut dan lambung oleh
kerja ptialin, asam klorida dan pepsin terhadap makanan yang masuk. Proses dilanjutkan di
dalam duodenum terutama oleh kerja enzim-enzim pankreas yang menghidrolisis
karbohidrat, lemak, dan protein menjadi zat-zat yang lebih sederhana. Adanya bikarbonat
dalam sekret pankreas membantu menetralkan asam dan memberikan pH optimal untuk kerja
enzim-enzim. Sekresi empedu dari hati membantu proses pencernaan dengan mengemulsikan
lemak sehingga memberikan permukaan yang lebih luas bagi kerja lipase pankreas.
Proses pencernaan disempurnakan oleh sejumlah enzim dalam getah usus (sukus
enterikus). Banyak di antara enzim enzim ini terdapat pada brush border vili dan
mencernakan zat zat makanan sambil diabsorbsi. Pergerakan segmental usus halus akan
mencampur zat zat yang dimakan dengan sekret pankreas, hepatobiliar dan sekresi usus dan
pergerakan peristaltik mendorong isi dari salah satu ujung ke ujung lainnya dengan kecepatan
yang sesuai untuk absorbsi optimal dan suplai kontinu isi lambung. Absorbsi adalah
pemindahan hasil akhir pencernaan karbohidrat, lemak dan protein melalui dinding usus ke
sirkulasi darah dan limfe untuk digunakan oleh sel sel tubuh. Selain itu, air, elektrolit dan
vitamin juga diabsorbsi (Price, 2002).
Kontraksi usus halus disebabkan oleh aktifitas otot polos usus halus yang terdiri dari 2
lapis yaitu lapisan otot longitudinal dan lapisan otot sirkuler. Otot yang terutama berperan

pada kontraksi segmentasi untuk mencampur makanan adalah otot longitudinal. Bila bagian
mengalami distensi oleh makanan, dinding usus halus akan berkontraksi secara lokal. Tiap
kontraksi ini melibatkan segmen usus halus sekitar 1 4 cm. Pada saat satu segmen usus
halus yang berkontraksi mengalami relaksasi, segmen lainnya segera akan memulai
kontraksi, demikian seterusnya. Bila usus halus berelaksasi, makanan akan kembali ke
posisinya semula. Gerakan ini berulang terus sehingga makanan akan bercampur dengan
enzim pencernaan dan mengadakan hubungan dengan mukosa usus halus dan selanjutnya
terjadi absorbs (Price, 2002).
Kontraksi segmentasi berlangsung oleh karena adanya gelombang lambat yang
merupakan basic electric rhytm (BER) dari otot polos saluran cerna. Proses kontraksi
segmentasi berlangsung 8 sampai 12 kali/menit pada duodenum dan sekitar 7 kali/menit pada
ileum. Gerakan peristaltik pada usus halus mendorong makanan menuju ke arah kolon
dengan kecepatan 0,5 sampai 2 cm/detik, dimana pada bagian proksimal lebih cepat daripada
bagian distal. Gerakan peristaltik ini sangat lemah dan biasanya menghilang setelah
berlangsung sekitar 3 sampai 5 cm
Aktifitas gerakan peristaltik akan meningkat setelah makan. Hal ini sebagian besar
disebabkan oleh masuknya makanan ke duodenum sehingga menimbulkan refleks peristaltik
yang akan menyebar ke dinding usus halus. Selain itu, hormon gastrin, CCK, serotonin, dan
insulin juga meningkatkan pergerakan usus halus. Sebaliknya sekretin dan glukagon
menghambat pergerakan usus halus. (Manaf, 2003)
Fungsi sfingter ileocaecal diatur oleh mekanisme umpan balik. Bila tekanan di dalam
caecum meningkat sehingga terjadi dilatasi, maka kontraksi sfingter ileocaecal akan
meningkat dan gerakan peristaltik ileum akan berkurang sehingga memperlambat
pengosongan ileum. Bila terjadi peradangan pada caecum atau pada appendiks maka sfingter
ileocaecal akan mengalami spasme, dan ileum akan mengalami paralisis sehingga
pengosonga ileum sangat terhambat.

2.3 Histologi
Lapisan usus halus dibagi kedalam empat lapisan:

Tunica Serosa. Tunica serosa atau lapisan peritoneum, tak lengkap di atas duodenum,
hampir lengkap di dalam usus halus mesenterica, kekecualian pada sebagian kecil,
tempat lembaran visera dan mesenterica peritoneum bersatu pada tepi usus.

Tunica Muscularis. Dua selubung otot polos tak bergaris membentuk tunica
muscularis usus halus. Ia paling tebal di dalam duodenum dan berkurang tebalnya ke
arah distal. Lapisan luarnya stratum longitudinale dan lapisan dalamnya stratum
circulare. Yang terakhir membentuk massa dinding usus. Plexus myentericus saraf

(Auerbach) dan saluran limfe terletak diantara kedua lapisan otot.


Tela Submucosa. Tela submucosa terdiri dari jaringan ikat longgar yang terletak
diantara tunica muskularis dan lapisan tipis lamina muskularis mukosa, yang terletak
di bawah mukosa. Dalam ruangan ini berjalan jalinan pembuluh darah halus dan

pembuluh limfe. Di samping itu, di sini ditemukan neuroplexus meissner.


Tunica Mucosa. Tunica mucosa usus halus, kecuali pars superior duodenum, tersusun
dalam lipatan sirkular tumpang tindih yang berinterdigitasi secara transversa. Masingmasing lipatan ini ditutup dengan tonjolan, villi.
Usus halus ditandai oleh adanya tiga struktur yang sangat menambah luas permukaan
dan membantu fungsi absorpsi yang merupakan fungsi utamanya:

Lapisan mukosa dan submukosa membentuk lipatan-lipatan sirkular yang dinamakan


valvula koniventes (lipatan kerckringi) yang menonjol ke dalam lumen sekitar 3
ampai 10 mm. Lipatan-lipatan ini nyata pada duodenum dan jejenum dan menghilang

dekat pertengahan ileum. Adanya lipatan-lipatan ini menyerupai bulu pada radiogram.
Vili merupakan tonjolan-tonjolan seperti jari-jari dari mukosa yang jumlahnya sekitar
4 atau 5 juta dan terdapat di sepanjang usus halus. Villi panjangnya 0,5 sampai 1 mm
(dapat dilihat dengan mata telanjang) dan menyebabkan gambaran mukosa

menyerupai beludru.
Mikrovili merupakan tonjolan menyerupai jari-jari dengan panjang sekitar 1 pada
permukaan luar setiap villus. Mikrovilli terlihat dengan mikroskop elektron dan
tampak sebagai brush border pada mikroskop cahaya.
Bila lapisan permukaan usus halus ini rata, maka luas permukaannya hanyalah sekitar

2.00 cm. Valvula koniventes, vili dan mikrovili bersama-sama menambah luas permukaan
absorpsi sampai 2 juta cm, yaitu menigkat seribu kali lipat (Price&Wilson, 2002).
Usus besar memiliki empat lapisan morfologik seperti juga bagian usus lainnya. Akan tetapi,
ada beberapa gambaran yang khas pada usus besar saja. Lapisan otot longitudinal usus besar
tidak sempurna, tetapi terkumpul dalam tiga pita yang dinamakan taenia koli. Taenia bersatu
pada sigmoid distal, dengan demikian rektum mempunyai satu lapisan otot longitudinal yang
lengkap. Panjang taenia lebih pendek daripada usus, hal ini menyebabkan usus tertarik dan
berkerut membentuk kantong-kantong kecil peritoneum yang berisi lemak dan melekat di

sepanjang taenia. Lapisan mukosa usus besar jauh lebih tebal daripada lapisan mukosa usus
halus dan tidak mengandung villi atau rugae. Kriptus lieberkn (kelenjar intestinal) terletak
lebih dalam dan mempunyai lebih banyak sel goblet daripada usus halus. (Price&Wilson,
2002).

2.4 Ileus Obstruktif


Ileus obstruktif adalah obstruksi usus akibat dari penghambatan motilitas usus yang
dapat ditimbulkan oleh banyak penyebab atau dapat didefinisikan sebagai gangguan
(apapun penyebabnya) aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi usus dapat
akut dengan kronik, partial atau total. Obstruksi usus biasanya mengenai kolon sebagai
akibat karsinoma dan perkembangannya lambat. Sebahagaian dasar dari obstruksi justru
mengenai usus halus. Obstruksi total usus halus merupakan keadaan gawat yang
memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan darurat bila penderita ingin tetap
hidup.
Terdapat 2 jenis obstruksi usus: (1) Non-mekanis (mis: ileus paralitik atau ileus
adinamik), peristaltik usus dihambat akibat pengaruh toksin atau trauma yang
mempengaruhi pengendalian otonom motilitas usus; (2) Mekanis, terjadi obstruksi di
dalam lumen usus atau obstruksi mural yang disebabkan oleh tekanan ekstrinsik.
Ada empat sebab utama obstruksi usus : (1) obstruksi mekanik lumen, (2) lesi dinding
usus, (3) lesi ekstrinsik terhadap usus dan (4) motilitas tak adekuat. Obstruksi dapat timbul
di tempat mana pun sepanjang tractus GI, tetapi kita akan kuatir sendiri dengan obstruksi
usus besar dan halus. Sebagai patokan umum, lebih proksimal tingkat obstruksi, maka
lebih akut gejala. Obstruksi tingkat tinggi dalam usus halus disertai dengan akutnya mulai
nyeri abdomen parah seperti kolik dan sering disertai dengan beberapa episode muntah.
Dalam obstruksi usus besar, mulainya gejala relatif menahun. Gejala obstruksi usus tidak
statis. Obstruksi dapat menyebabkan iskemia yang diikuti oleh perforasi dan kolaps
vaskular sistemik.
Khas mulainya nyeri pada obstruksi usus halus relatif akut, sedangkan dalam obstruksi
usus besar, nyeri dimulai lebih diam-diam. Distribusi nyeri dalam obstruksi usus halus
pada epigastrium atau perium-bilicus, sedangkan dalam obstruksi usus besar, nyeri
tersering digambarkan dalam hypogastrium. Khas obstruksi tampil bersama nyeri episodik
kolik yang sering diperhebat oleh inspirasi dalam. Muntah khas obstruksi usus. Kadang-

kadang ia mempunyai endapan dan harus selalu memperhatikan hubungan mulainya nyeri
dengan mulainya muntah.
Obstruksi usus tampil dengan nyeri episodik. Sering pasien nyaman di antara episode
nyeri. Nyeri menetap di hadapan gambaran obstruksi meramalkan strangulasi dan
perforasi mengancam serta membentuk kedaruratan bedah. Pasien bisa memperhatikan
bukti sistemik dehidrasi maupun distensi abdomen. Kadang-kadang dalam individu kurus
dengan tanda obstruksi usus lanjut, maka gelombang peristaltik sepanjang dinding abdomen dapat terlihat. Pada obstruksi, akan terdapat bunyi usus hiperaktif dengan dorongan
dan "gemerincing" ('tinkles') bernada tinggi.
Dalam ringkasan, obstruksi usus halus ditandai oleh nyeri abdomen akuta, yang bersifat
kolik dan biasanya terletak dalam epigastrium atau area perium-bilicus. Obstruksi usus
halus sering disertai dengan muntah dan sebab terlazim obstruksi usus halus, yang
mencakup pita lekat dan hernia eksterna. Obstruksi usus besar lebih diam-diam dimulai
dan sering disertai dengan mual ketimbang muntah. Obstruksi usus besar bertanggung
jawab bagi hanya 15%-20% dari semua obstruksi usus. Dari ini, karsinoma colorectum
bertanggung jawab untuk 60% pasien obstruksi usus besar dan divertikulitis bertanggung
jawab untuk 20%.

I.

Klasifikasi Ileus Obstruktif


Berdasarkan Lokasi Obstruksi :
Letak Tinggi : Duodenum-Jejunum
Letak Tengah : Ileum Terminal
Letak Rendah : Colon-Sigmoid-rectum

II.

Berdasarkan Stadium :
Parsial : menyumbat lumen sebagian
Simple/Komplit: menyumbat lumen total
Strangulasi: Simple dengan jepitan vasa
Etiologi
Obstruksi non-mekanis atau ileus adinamik sering terjadi setelah pembedahan
abdomen karena adanya refleks penghambatan peristaltik akibat visera abdomen
yang tersentuh tangan. Refleks penghambatan peristaltik ini sering disebut sebagai
ileus paralitik, walaupun paralisis peristaltik ini tidak terjadi secara total. Keadaan
lain yang sering menyebabkan terjadinya ileus adinamik adalah peritonitis. Atoni
usus dan peregangan gas sering timbul menyertai berbagai kondisi traumatik,
terutama setelah fraktur iga, trauma medula spinalis, dan fraktur tulang belakang.
Penyebab obstruksi mekanis berkaitan dengan kelompok usia yang terserang dan
letak obstruksi. Sekitar 50% obstruksi terjadi pada kelompok usia pertengahan dan
tua, dan terjadi akibat perlekatan yang disebabkan oleh pembedahan sebelumnya.
Tumor ganas dan volvulus merupakan penyebab tersering obstruksi usus besar
pada usia pertengahan dan orang tua. Kanker kolon merupakan penyebab 90%
obstruksi yang terjadi. Volvulus adalah usus yang terpelintir, paling sering terjadi
pada pria usia tua dan biasanya mengenai kolon sigmoid. Inkarserasi lengkung
usus pada hernia inguinalis atau femoralis sangat sering menyebabkan terjadinya
obstruksi usus halus. Intususepsi adalah invaginasi salah satu bagian usus ke
dalam bagian berikutnya dan merupakan penyebab obstruksi yang hampir selalu
ditemukan pada bayi dan balita. Intususepsi sering terjadi pada ileum terminalis
yang masuk ke dalam sekum. Benda asing dan kelainan kongenital merupakan
penyebab lain obstruksi yang terjadi pada anak dan bayi.

Penyebab
terjadinya
obstruksi
usus :
1.Perlengketan : Lengkung usus menjadi melekat pada area yang sembuh secara
lambat atau pada jaringan parut setelah pembedahan abdomen
2.Intusepsi : Salah satu bagian dari usus menyusup kedalam bagian lain yang ada
dibawahnya akibat penyempitan lumen usus. Segmen usus tertarik kedalam segmen
berikutnya oleh gerakan peristaltik yang memperlakukan segmen itu seperti usus.
Paling sering terjadi pada anaka-anak dimana kelenjar limfe mendorong dinding

ileum kedalam dan terpijat disepanjang bagian usus tersebut (ileocaecal) lewat
coecum kedalam usus besar (colon) dan bahkan sampai sejauh rectum dan anus.
3.Volvulus : Usus besar yang mempunyai mesocolon dapat terpuntir sendiri dengan
demikian menimbulkan penyumbatan dengan menutupnya gelungan usus yang
terjadi amat distensi. Keadaan ini dapat juga terjadi pada usus halus yang terputar
pada mesentriumnya
4.Hernia : Protrusi usus melalui area yang lemah dalam usus atau dinding dan otot
abdomen
5.Tumor : Tumor yang ada dalam dinding usus meluas kelumen usus atau tumor
diluar usus menyebabkan tekanan pada dinding usus.
III.

PATOFISIOLOGI
Obstruksi ileus merupakan penyumbatan intestinal mekanik yang terjadi karena
adanya daya mekanik yang bekerja atau mempengaruhi dinding usus sehingga
menyebabkan penyempitan/penyumbatan lumen usus. Hal tersebut menyebabkan
pasase lumen usus terganggu. Akan terjadi pengumpulan isi lumen usus yang
berupa gas dan cairan, pada bagian proximal tempat penyumbatan, yang
menyebabkan pelebaran dinding usus (distensi). Sumbatan usus dan distensi usus
menyebabkan rangsangan terjadinya hipersekresi kelenjar pencernaan. Dengan
demikian akumulasi cairan dan gas ntakin hertambah yang menyebabkan distensi
usus tidak hanya pada tempat sumbatan tetapi juga dapat mengenai seluruh
panjang usus sehelah proximal sumbatan. Sumbatan ini menyebabkan gerakan
usus yang meningkat (hiperperistaltik) sebagai usaha alamiah. Sebaliknya juga
terjadi gerakan anti peristaltik. Hal ini menyebabkan terjadi serangan kolik
abdomen dan muntah-muntah. Pada obstruksi usus yang lanjut, peristaltik sudah
hilang oleh karena dinding usus kehilangan kontraksinya
1. Obstruksi Usus Halus
a)
Obstruksi sederhana
Pada obstruksi usus halus proksimal akan timbul gejala muntah yang banyak,
yang jarang menjadi muntah fekal walaupun obstruksi berlangsung lama. Nyeri
abdomen bervariasi dan sering dirasakan sebagai perasaan tidak enak di perut
bagian atas.
Obstruksi bagian tengah atau distal menyebabkan kejang di daerah periumbilikal
atau nyeri yang sulit dijelaskan lokasinya. Kejang hilang timbul dengan adanya
fase bebas keluhan. Muntah akan timbul kemudian, waktunya bervariasi
tergantung letak sumbatan. Semakin distal sumbatan, maka muntah yang

dihasilkan semakin fekulen. Obstipasi selalu terjadi terutama pada obstruksi


komplit.
b)
Obstruksi disertai proses strangulasi
Kira-kira sepertiga obstruksi dengan strangulasi tidak diperkirakan sebelum
dilakukan operasi. Gejalanya seperti obstruksi sederhana tetapi lebih nyata dan
disertai dengan nyeri hebat. Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya skar bekas
operasi atau hernia. Bila dijumpai tanda-tanda strangulasi maka diperlukan
tindakan operasi segera untuk mencegah terjadinya nekrosis usus.
2.Obstruksi usus besar
Obstruksi mekanis di kolon timbul perlahan-lahan dengan nyeri akibat sumbatan
biasanya terasa di daerah epigastrium. Nyeri yang hebat dan terus menerus
menunjukkan adanya iskemia atau peritonitis. Borborygmus dapat keras dan
timbul sesuai dengan nyeri. Konstipasi atau obstipasi adalah gambaran umum
obstruksi komplit. Muntah timbul kemudian dan tidak terjadi bila katup ileosekal
mampu mencegah refluks. Bila terjadi refluks isi kolon terdorong ke dalam usus
halus, akan tampak gangguan pada usus halus. Muntah fekal akan terjadi
kemudian. Pada keadaan valvula Bauchini yang paten, terjadi distensi hebat dan
sering mengakibatkan perforasi sekum karena tekanannya paling tinggi dan
dindingnya yang lebih tipis.

Mekanisme
Peristiwa patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa
memandang apakah obtruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau
fungsional. Perbedaan utamanya pada obstruksi paralitik dimana peristaltik
dihambat dari permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanis peristaltik mulamula diperkuat, kemudian intermitten, dan akhirnya hilang.
Patofisiologik obstruksi mekanik pada usus berhubungan dengan perubahan
fungsi dari usus, dimana terjadi peningkatan tekanan intraluminal. Bila terjadi
obstruksi maka bagian proksimal dari usus mengalami distensi dan berisi gas,
cairan dan elektrolit. Bila terjadi peningkatan tekanan intraluminal, hipersekresi
akan meningkat pada saat kemampuan absorbsi usus menurun, sehingga terjadi
kehilangan volume sistemik yang besar dan progresif. Awalnya, peristaltik pada
bagian proksimal usus meningkat untuk melawan adanya hambatan. Peristaltik
yang terus berlanjut menyebabkan aktivitasnya pecah, dimana frekuensinya

tergantung pada lokasi obstruksi. Bila obstruksi terus berlanjut dan terjadi
peningkatan tekanan intraluminal, maka bagian proksimal dari usus tidak akan
berkontraksi dengan baik dan bising usus menjadi tidak teratur dan hilang.
Peningkatan tekanan intraluminal dan adanya distensi menyebabkan gangguan
vaskuler terutama stasis vena. Dinding usus menjadi udem dan terjadi translokasi
bakteri ke pembuluh darah. Produksi toksin yang disebabkan oleh adanya
translokasi bakteri menyebabkan timbulnya gejala sistemik. Efek lokal
peregangan usus adalah iskemik akibat nekrosis disertai absorpsi toksin-toksin
bakteri ke dalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik.
Pada obstruksi mekanik sederhana, hambatan pasase muncul tanpa disertai
gangguan vaskuler dan neurologik. Makanan dan cairan yang tertelan, sekresi
usus dan udara akan berkumpul dalam jumlah yang banyak jika obstruksinya
komplit. Bagian proksimal dari usus mengalami distensi dan bagian distalnya
kolaps. Fungsi sekresi dan absorpsi membran mukosa usus menurun dan dinding
usus menjadi edema dan kongesti. Distensi intestinal yang berat dengan
sendirinya secara terus-menerus dan progresif akan mengacaukan peristaltik dan
fungsi sekresi mukosa serta meningkatkan risiko terjadinya dehidrasi, iskemik,
nekrosis, perforasi, peritonitis dan kematian.
Pada obstruksi strangulata, biasanya berawal dari obstruksi vena, yang kemudian
diikuti oleh oklusi arteri, menyebabkan iskemik yang cepat pada dinding
usus. Usus menjadi udem dan nekrosis, memacu usus menjadi gangrene dan
perforasi.
IV.

Gejala Klinis
Gejala kardinal obstruksi usus halus adalah peregangan abdomen, nyeri, muntah
dan konstipasi absolut. Nyeri biasanya menyerupai kejang dan di pertengahan
abdomen (terutama daerah paraumbilikalis) dan memberat bila letak obstruksi
makin tinggi. Abdomen terasa nyeri. Frekuensi muntah bervariasi bergantung
pada letak obstruksi . Bila obstruksi terjadi di usus halus bagian atas, maka
muntah lebih sering terjadi dibandingkan dengan obstruksi yang terjadi pada
ileum dan usua besar. Konstipasi absolut sering terjadi dini pada obstruksi usus
besar , tetapi flatus dan feses mungkin dapat dikeluarkan pada permulaan
obstruksi usus halus, pemeriksaan radiografi abdomen sangat penting dalam
menegakkan diagnosis obstruksi usus. Obstruksi mekanis usus halus ditandai
dengan adanya udara dalam usus halus, tetapi tidak terdapat dalam kolon.

Sedangkan obstruksi kolon ditandai adanya gas di seluruh kolon tetapi sedikit atau
tidak ada gas dalam usus halus. Bila foto polos tidak memberikan kepastian
diagnosis akhir, dilakukan permiksaan radiografi dengan barium untuk
mengetahui letak obstruksi.
V.

DIAGNOSIS

1. Anamnesis
Akut Abdomen
Nyeri, anoreksia, mual, muntah dan demam merupakan manifestasi khas suatu kelainan abdomen akuta. Tanda penting
pada pemeriksaan fisik mencakup nyeri tekan 'defence musculair' dan perubahan dalam peristalsis usus. Identifikasi
abdomen bedah tergantung atas penggunaan tiga komponen diagnostik dasar: anamnesis, pemeriksaan fisik dan tes
penyokong.
Anamnesis dapat dibagi dalam beberapa kategori utama: usia, jenis kelamin, nyeri abdomen dan gejala sistemik.

USIA DAN JENIS KELAMIN

Yang sangat tua dan sangat muda, masing-masing menampilkan sekitar 10 persen penyajian
pasien nyeri abdomen akuta. Tetapi pasien di atas usia 65 tahun mempunyai dua kali insidens
penyakit bedah (30 persen) sebagai sebab nyeri abdomennya dibandingkan pasien di bawah
usia 65 tahun.1 Pada kelompok usia dewasa, wanita lebih mungkin tampil dengan nyeri
abdomen dibanding pria, tetapi pria yang menampilkan gejala ini mempunyai insidens
penyakit bedah yang lebih tinggi. Sistem genitourinarius lazim menyebabkan nyeri abdomen
pada wanita. Dalam urutan penyajian lebih jarang, sebab genitourinarius yang lazim pada
wanita meliputi penyakit peradangan pelris, infeksi tractus urinarius, dismenore dan kehamilan ektopik.
NYERI1,2
Nyeri tanda abdomen akuta. Ia bisa ditandai oleh cara mulainya, sifat, faktor pencetus atau
lokalisasinya. Ada tiga jenis mulainya nyeri abdomen : ekplosif, cepat dan bertahap.
Pasien yang mendadak dicekam nyeri eksplosif menderita sekali-lebih mungkin menderita
pecahnya viskus berongga ke dalam cavitas peritonealis beba atau menderita
accident'

'vascular

berkelanjutan. Kolik berasal dari ginjal dan saluran empedu bisa dimulai

mendadak, tetapi jarang menyebabkan nyeri begitu parah, sehingga pasien tak berdaya.
Pasien dengan nyeri yang cepat dimulai, yang cepat memburuk mungkin menderita
pankreatitis akuta, trombosis mesenterica atau strangulasi usus halus, dengan nyeri yang

dimulai bertahap mungkin menderita peradangan peritoneum, seperti yang terlihat dalam
apendisitis atau divertikulitis.
Keparahan nyeri bisa ditandai sebagai me parah, tumpul atau seperti kolik. Nyeri menyiksa
tak berespon terhadap narkotika menggambarkan lesi vaskular akuta seperti ruptura
aneurisma minalis atau infark usus. Pasien infark usus menderita nyeri melebihi proporsi
gambaran laboratorium. Nyeri yang parah tetapi mudah dalikan oleh obat khas peritonitis
akibat viskus pecah atau pankreasitis akuta. Nyeri tumpul, samar yang sukar dilokalisasi
menggambarkan suatu proses peradangan dan lazim presentasi awal disitis. Nyeri kolik yang
ditantai sebagai kram dorongan (rush) menggambarkan

gastroent Nyeri akibat obstruksi

usus halus mekanik juga kolik, tetapi mempunyai pola berirama dengan interval bebas nyeri
bergantian dengan kolik parah. Dorongan peristaltik bisa terdengar selama kolik parah.
Dorongan peristaltik menyertai gastroenteritis tidak perlu koordinasi dengan nyeri kolik.
Gambaran klinik bermanfaat berhubungan dengan distribusi nyeri pada keterlibatan organ.
Tempat Teri abdomen suatu cermin jenis rangsangan saraf n asal embriologi organ. Sensasi
nyeri yang sukar okalisasi dari abdomen diperantarai melalui susunan taf autonom yang
berhubungan dengan visera intra abdomen. Serabut nervus spinalis memberikan persarafan
berlokalisasi baik dari peritoneum perietalis, phragma dan dinding pelvis. Nyeri berlokalisasi
buruk biasanya dapat dihubungkan ke satu dari tiga area abdomen: epigastrium, daerah
periumbilicus dan ogastrium.
Lambung dan duodenum berasal, dari 'foregut' nyeri dari organ ini khas terasa dalam
epigastrium. Usus halus dan colon proksimal yang diberi makan h arteria mesenterica
superior berasal dari 'midgut' dan nyeri dalam bagian tractus gastrointestinalis ini terletak
periumbilicus. Nyeri yang berasal dalam dua iga colon secara embriologi berasal dari
'hindgut' dan khas dialihkan ke hypogastrium.
Nyeri 'flank' dan nyeri dalam angulus costrovertebralis berhubungan dengan batu ginjal atau
ureter atau dengan pielonefritis. Nyeri ginjal bisa juga disertai dengan nyeri dalam testis
ipsilateral. Iritasi diaphragma bisa menyebabkan nyeri dalam daerah distribusi C4. Sehingga
proses peradangan hati atau limpa atau kumpulan cairan subdiaphragma akibat ulkus perforara bisa mengalihkan nyeri ke bahu.
Informasi bermakna berasal dari diperolehnya faktor pemburuk atau peringan yang menyertai
nyeri. Misalnya rasa terbakar bisa hanya dialami bila tekanan abdomen ditingkatkan. Nyeri
yang membaik dengan makan antasid menggambarkan penyakit ulkus pepti-kum, sedangkan
nyeri yang dieksaserbasi oleh makanan berlemak menggambarkan kolesistitis.

Mendapatkan riwayat cermat bagi gejala sistemik penting dalam evaluasi abdomen akuta.
Walaupun lazim sejumlah derajat demam pada kebanyakan kedaruratan bedah, namun tak
biasa pasien abdomen bedah menampilkan demam dan kedinginan. Keadaan bedah yang
tampil dengan demam tinggi dan kedinginan meliputi pileflebitis dan kolangitis supurativa.
Lebih lazim nyeri abdomen yang disertai oleh demam tinggi dan kedinginan disertai dengan
penyakit medis yang meliputi penyakit peradangan pelvis dan infeksi tractus urinarius. Gejala
sistemik lain yang akan menyadarkan dokter bagi kemungkinan penyakit medis mencakup
diare hebat, gejala sendi aktif, erupsi kulit yang muncul pada saat mulainya nyeri abdomen
serta sekret urethra atau vagina. Anoreksia, mual dan muntah merupakan penyerta sering
penyakit abdomen akuta. Ia bisa membantu membedakan penyakit medis dari bedah. Jika
mual dan muntah mendahului mulainya nyeri abdomen, kurang mungkin penyakit bedah.
Penilaian gejala diare, konstipasi dan obstipasi suatu bagian kritis anamnesis apa pun bagi
nyeri abdomen. Jika dapat dipastikan bahwa pasien tidak mengeluarkan gas per rectum dan
tidak mempunyai gerakan usus selama 24 jam, maka tinggi probabilitas obstruksi usus. Diare
lazim menyertai gastroenteritis, tetapi ia bisa disertai dengan penyakit bedah seperti
apendisitis. Diare berulang berdarah menunjukkan diagnosis yang cocok dengan kolitis
ulserativa, penyakit Crohn, disentri atau iskemia colon.
Riwayat penyakit dahulu seharusnya mencakup semua perumah-sakitan dan operasi
sebelumnya. Dalam masalah diagnostik sulit, maka pertanyaan seharusnya mencakup riwayat
keluarga yang luas maupun riwayat pengobatan, pemaparan ke toksin dan perjalanan ke luar
negeri.2

2. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan Fisik
Bila pasien tempil dengan nyeri abdomen, maka anamnesis suatu basis data untuk
pembahasan kemungkinan diagnostik, tetapi keputusan tentang apakah dioperasi atau
tidak, dibuat atas dasar pemeriksaan fisik yang harus dilakukan dalam cara tertib dan sistematik. Enam gambaran utama pemeriksaan fisik mencakup (1) inspeksi, (2) auskulatasi,
(3) palpasi, (4) perkusi, (5) pemeriksaan rectum/genitalis dan (6) tes khusus dan tanda.
INSPEKSI
Penampilan umum pasien bisa memberikan petunjuk tentang sifat penyakit. Perubahan
dalam keadaan mental, warna dan tumor kulit serta mata yang cekung bisa manifestasi

hipovolemia parah dan kolaps kardiovaskular mengancam. Pasien nyeri visera terisolasi
seperti yang ditemukan dalam obstruksi usus, bisa sering mengubah posisi, tetapi jika
nyeri terlokalisasi atau ada iritasi peritoneum generalisata, maka sering pasien
menghindari gerakan.
Posisi anatomi pasien di ranjang patut diperhatikan. Pasien peritonitis yang luas sering
membawa lututnya ke atas untuk merelaksasi tegangan abdomen. Pasien keadaan
peradangan yang berkontak dengan musculus psoas bisa memfleksi paha yang berhubungan. Pasien Pankreatitis parah bisa duduk di ranjang dengan lututnya ditarik ke dadanya,
berayun-ayun maju mundur pada serangan nyeri.
Abdomen harus diinspeksi bagi tanda distensi. Pada individu kurus dengan obstruksi usus
yang berlangsung lama, dorongan bisa terlihat pada dinding abdomen anterior. Pulsasi
dalam area epigastrium cocok dengan penyakit aneurisma.
AUSKULTASI
Auskultasi dilakukan sebelum palpasi karena palpasi bisa mengubah sifat bising usus.
Teknik auskultasi memerlukan penempatan lonceng stetoskop dengan lambat di atas
dinding abdomen anterior yang dimulai dengan kuadran kiri bawah, kemudian dalam
empat kuadran. Masa auskultasi 2 sampai 3 menit diperlukan untuk menentukan bahwa
tak ada bising usus. Waktu ini juga memungkinkan observasi wajah dan sikap pasien
secara tak terputus. Bising usus bernada tinggi yang timbul dalam dorongan yang
bersamaan nyeri menunjukkan obstruksi usus halus.

PALPASI
Dari semua segi pemeriksaan fisik, palpasi mungkin yang terpenting bagi ahli bedah.
Tempat hernia inguinalis, femoralis dan ventralis harus diperiksa dengan cermat pada tiap
pasien nyeri abdomen. Inkarserasi segmen usus dalam hernia femoralis yang kecil dapat
mudah terlewatkan. Tanda hernia Richter satu-satunya bisa nyeri tekan titik di atas tempat
hernia.

Sering batuk membangkitkan nyeri dalam abdomen dan pasien seharusnya

diminta menunjukan dengan satu jari tangan titik intensitas maksimum. Ia melokalisasi
lesi bila peritonitis generalitis tidak ada dan memberikan klinikus suatu daftar awal
diagnosis kerja.

Palpasi seharusnya dimulai sejauh mungkin dari pusat nyeri dan ia harus dilakukan
dengan lembut dengan satu jari tangan. Secara bertahap jari tanagn seharusnya bergerak
ke arah area nyeri tekan maksimum. Kemudian perlu menentukan adanya defence
musculair atau spasme". Tempatkan tangan dengan lembut di atas musculus rectus dan
tekan sedikit serta minta pasien menarik napas dalam. Jika spasme volunter maka ahli
bedah akan merasakan musculus rectus yang mendasari relaksasi. Tetapi jika ada spasme
sejati, maka ahli bedah merasa otot kaku tegang di keseluruhan siklus pernapasan. Sering
perasat ini akan menegakkan adanya peritonitis.
Jika lesi terletak di dalam dinding abdomen,maks akan ada nyeri tekan. Tetapi jika lesi
intraperitoneum maka nyeri tekan akan menurun selama musculus rectus tetap tegang. 1,2
Pada penyakit peradangan pelvis, sering tak ada rigiditas. Pada pasien tua lemah rigititas
otot mungkin tak ada,walaupun ada peritonitis. Gastroenteritis khas disertai oleh nyeri
tekan abdomen difus tanpa rigititas otot.
PERKUSI
Perkusi abdomen harus selalu dilakukan dengan sangat lembut. Ia bermanfaat dalam
menilai jurmlah distensi yang menyertai obstruksi usus dan dapat digunakan untuk
menyingkirkan adanya vesica urinaria terdistensi sebagai sebab nyeri abdomen akuta.
Mungkin yang terpenting, perkusi bermanfaat dalam membangkitkan nyeri tekan angulus
costrovertebralis menyertai infeksi tractus urinarius atau penyakit vesica biliaris

b. Pemeriksaan penunjang
1. Laboratorium
Tes laboratorium mempunyai keterbatasan nilai dalam menegakkan diagnosis,
tetapi sangat membantu memberikan penilaian berat ringannya dan membantu
dalam resusitasi. Pada tahap awal, ditemukan hasil laboratorium yang normal.
Selanjutnya ditemukan adanya hemokonsentrasi, leukositosis dan nilai elektrolit
yang abnormal. Peningkatan serum amilase sering didapatkan.10 Leukositosis
menunjukkan adanya iskemik atau strangulasi, tetapi hanya terjadi pada 38% 50% obstruksi strangulasi dibandingkan 27% - 44% pada obstruksi non
strangulata. Hematokrit yang meningkat dapat timbul pada dehidrasi. Selain itu
dapat ditemukan adanya gangguan elektrolit. Analisa gas darah mungkin
terganggu, dengan alkalosis metabolik bila muntah berat, dan metabolik asidosis
bila ada tanda tanda shock, dehidrasi dan ketosis.
2. Radiologik

Adanya dilatasi dari usus disertai gambaran step ladder dan air fluid level
pada foto polos abdomen dapat disimpulkan bahwa adanya suatu obstruksi. Foto
polos abdomen mempunyai tingkat sensitivitas 66% pada obstruksi usus halus,
sedangkan sensitivitas 84% pada obstruksi kolon.
3. Foto polos abdomen
Dapat ditemukan gambaran step ladder dan air fluid level terutama pada
obstruksi bagian distal. Pada kolon bisa saja tidak tampak gas. Jika terjadi
stangulasi dan nekrosis, maka akan terlihat gambaran berupa hilangnya muosa
yang reguler dan adanya gas dalam dinding usus. Udara bebas pada foto thoraks
tegak menunjukkan adanya perforasi usus. Penggunaan kontras tidak dianjurkan
karena dapat menyebabkan peritonitis akibat adanya perforasi.

CT scan kadang kadang digunakan untuk menegakkan diagnosa pada obstruksi


usus halus untuk mengidentifikasi pasien dengan obstruksi yang komplit dan pada
obstruksi usus besar yang dicurigai adanya abses maupun keganasan.

VI.

Diagnosis Banding
1. Ileus Paralitik

Pada ileus paralitik nyeri yang timbul lebih ringan tetapi konstan dan difus, dan
terjadi distensi abdomen. Ileus paralitik, bising usus tidak terdengar dan tidak
terjadi ketegangan dinding perut. Bila ileus disebabkan oleh proses inflamasi akut,
akan ada tanda dan gejala dari penyebab primer tersebut. Gastroenteritis akut,
apendisitis akut, dan pankreatitis akut juga dapat menyerupai obstruksi usus
sederhana.
2. Pankreatitis Akuta1-3
Pankreatitis akuta ditandai oleh mendadaknya dimulai nyeri epigastrium, yang
sering menjalar ke punggung dan disertai oleh mual dan muntah. Etiologi
terlazim Pankreatitis akuta adalah alkoholisme atau kolelitiasis. Khas amilase
serum dan kemudian amilase urina meningkat. Proses patologi bisa menyebabkan
serangan relatif ringan karena Pankreatitis edematosa. Penyakit ini bisa
memburuk dengan mulainya Pankreatitis hemoragika, yang disertai oleh
tingginya angka mortalitas dan morbiditas yang ditandai oleh pseudokista
pancreas, abses dan asites pancreas. Dalam Pankreatitis edematosa yang lebih
lazim, pankreas dan jaringan retroperitoneum sekelilingnya diinfiltrasi dengan
banyak cairan interstisial. Kehilangan piran (jika tidak diganti) bisa begitu masif,
sehingga menyebabkan syok hipovolemi. Pankreatitis hemoragika yang lebih
parah disertai oleh perdarahan ke dalam parenkima pancreas dan area
retroperitoneum kelilingnya. Bisa timbul nekrosis pancreas yang luas.
Khas pasien menderita nyeri epigastrium parah setelah makan besar. Nyeri
menyebar melalui punggung yang menetap serta disertai mual dan muntah.
Tergantung atas jumlah kehilangan cairan dalam pancreas dan area peripancreas,
pasien bisa menderita dehidrasi parah dengan hipertensi dan kecepatan nadi yang
cepat. Fungsi myocardium tertekan mungkin karena toksin yang bersirkulasi
mempengaruhi penampilan jantung.
VII.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan obstruksi ileus sekarang dengan jelas telah menurunkan angka

morbiditas dan mortalitas. Hal ini terutama disebabkan telah dipahaminya dengan
tepat patogenesis penyakit serta perubahan homeostasis sebagai akibat obstruksi usus.
Pada umumnya penderita mengikuti prosedur penatalaksanaan dalam aturan yang
tetap.

1. Persiapan penderita
Persiapan penderita berjalan bersama dengan usaha menegakkan diagnosa obstruksi
ileus secara lengkap dan tepat. Sering dengan persiapan penderita yang baik,
obstruksinya berkurang atau hilang sama sekali. Persiapan penderita meliputi :
o Penderita dirawat di rumah sakit.
o Penderita dipuasakan
o Kontrol status airway, breathing and circulation.
o Dekompresi dengan nasogastric tube.
o Intravenous fluids and electrolyte
o Dipasang kateter urin untuk menghitung balance cairan.

2. Operatif.

Bila telah diputuskan untuk tindakan operasi, ada 3 hal yang perlu :
Berapa lama obstruksinya sudah berlangsung.
Bagaimana keadaan/fungsi organ vital lainnya, baik sebagai akibat

obstruksinya maupun kondisi sebelum sakit.


Apakah ada risiko strangulasi.

Kewaspadaan akan resiko strangulasi sangat penting. Pada obstruksi ileus yang
ditolong dengan cara operatif pada saat yang tepat, angka kematiannya adalah 1%
pada 24 jam pertama, sedangkan pada strangulasi angka kematian tersebut 31%.
Pada umumnya dikenal 4 macam (cara) tindakan bedah yang dikerjakan pada
obstruksi ileus :
a) Koreksi sederhana (simple correction). Hal ini merupakan tindakan bedah
sederhana untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya pada hernia incarcerata
non-strangulasi, jepitan oleh streng/adhesi atau pada volvulus ringan.

b) Tindakan operatif by-pass. Membuat saluran usus baru yang "melewati" bagian
usus yang tersumbat, misalnya pada tumor intralurninal, Crohn disease, dan
sebagainya.
c) Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat obstruksi,
misalnya pada Ca stadium lanjut.
d) Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung-ujung
usus

untuk

mempertahankan

kontinuitas

lumen

usus,

misalnya

pada

carcinomacolon, invaginasi strangulate dan sebagainya.


Pada beberapa obstruksi ileus, kadang-kadang dilakukan tindakan operatif bertahap,
baik oleh karena penyakitnya sendiri maupun karena keadaan penderitanya, misalnya
pada Ca sigmoid obstruktif, mula-mula dilakukan kolostomi saja, kemudian hari
dilakukan reseksi usus dan anastomosis.
3. Pasca Operasi
Suatu problematik yang sulit pada keadaan pasca bedah adalah distensi usus yang
masih ada. Pada tindakan operatif dekompressi usus, gas dan cairan yang terkumpul
dalam lumen usus tidak boleh dibersihkan sama sekali oleh karena catatan tersebut
mengandung banyak bahan-bahan digestif yang sangat diperlukan. Pasca bedah tidak
dapat diharapkan fisiologi usus kembali normal, walaupun terdengar bising usus. Hal
tersebut bukan berarti peristaltik usus telah berfungsi dengan efisien, sementara
ekskresi meninggi dan absorpsi sama sekali belum baik.
Sering didapati penderita dalam keadaan masih distensi dan disertai diare pasca
bedah. Tindakan dekompressi usus dan koreksi air dan elektrolit serta menjaga
keseimbangan asam basa darah dalam batas normal tetap dilaksanakan pada pasca
bedahnya. Pada obstruksi yang lanjut, apalagi bila telah terjadi strangulasi, monitoring
pasca bedah yang teliti diperlukan sampai selama 6 - 7 hari pasca bedah. Bahaya lain
pada masa pasca bedah adalah toksinemia dan sepsis. Gambaran kliniknya biasanya
mulai nampak pada hari ke 4-5 pasca bedah. Pemberian antibiotika dengan spektrum
luas dan disesuaikan dengan hasil kultur kuman sangatlah penting.
VIII. Komplikasi
o Nekrosis usus
o Perforasi usus
o Sepsis

o
o
o
o
o
o
IX.

Syok-dehidrasi
Abses
Sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi
Pneumonia aspirasi dari proses muntah
Gangguan elektrolit
Meninggal

Prognosis
Mortalitas obstruksi tanpa strangulata adalah 5% sampai 8% asalkan operasi dapat
segera dilakukan. Keterlambatan dalam melakukan pembedahan atau jika terjadi
strangulasi atau komplikasi lainnya akan meningkatkan mortalitas sampai sekitar 35%
atau 40%.3 Prognosisnya baik bila diagnosis dan tindakan dilakukan dengan cepat

X.

Daftar Pustaka
1. Basson, M.D.: Colonic Obstruction. Editor: Ochoa, J.B., Talavera, F.,
Mechaber, A.J., and Katz, J. http://www.emedicine.com. Last Updated, June
14, 2004
2. Levine, B.A., and Aust, J.B. Kelainan Bedah Usus Halus. Dalam Buku Ajar
Bedah Sabistons essentials surgery. Editor: Sabiston, D.C. Alih bahasa:
Andrianto, P., dan I.S., Timan. Editor bahasa: Oswari, J. Jakarta: EGC, 1992.
3. Sjamsuhidajat, R.; Dahlan, Murnizat; Jusi, Djang. Gawat Abdomen. Dalam
Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Editor: Sjamsuhidajat, R. dan De Jong, Wim.
Jakarta: EGC, 2003. Hal: 181-192.
4. Price SA, Wilson LM. Patofisioloogi konsep klinis proses-proses penyakit.
Jakartra: EGC; 2005.p.448-54.
5. FK UI. Bedah dan keperawatannya. Jakarta : Balai Penerbit FK
UI;2005.h.214-31