Anda di halaman 1dari 9

SISTEM FOTONIKA

KOMPONEN-KOMPONEN OPTIC
1. Lensa
Lensa adalah suatu benda bening yang dibatasi dua bidang lengkung, yaitu membentuk
lensa berbentuk silindris (memusatkan cahaya dari sumber yang jauh pada suatu garis) dan
berbetuk bola (melengkung ke segala arah). Pada lensa terjadi sifat cahaya yang dibiaskan.
Jenis-jenis lensa :

Model matematik pembiasan lensa :

Rumus ini berlaku untuk lensa dan cermin :

Dimana :
S
= jarak benda terjadap lensa
S
= jarak bayangan
f
= jarak titik focus lensa (m)
M
= perbesaran lensa
h
= tinggi benda
h
= tinggi bayangan
P
= kuat lensa (dioptri)
Pembiasan cahaya dapat terjadi dikarenakan perbedaan laju cahaya pada kedua medium.
Laju cahaya pada medium yang rapat lebih kecil dibandingkan dengan laju cahaya pada
Nadhifa Maulida / 2414105020

SISTEM FOTONIKA

medium yang kurang rapat. Menurut Christian Huygens (1629-1695) : Perbandingan laju
cahaya dalam ruang hampa dengan laju cahaya dalam suatu zat dinamakan indeks bias.
Secara matematis dapat dirumuskan :
=

dimana :
0<<1
- n = indeks bias
- c = laju cahaya dalam ruang hampa ( 3108 m/s)
- v = laju cahaya dalam zat
Aplikasi Lensa pada Kamera :
Komponen optik yang memiliki fungsi seperti mata pada kamera, yang bertugas
memproyeksikan cahaya/bayangan dari objek ke permukaan film. Jika pada kamera digital,
lensa akan menangkap objek secara optic yang menghasilkan gambar dan diteruskan ke
permukaan tabung kamera (didalam tabung akan dirubah lagi dari optic ke elektrik).
Jenis lensa dibedakan menurut Focal Length, yaitu panjang jarak antara pusat optik lensa
terhadap titik dimana gambar terlihat dalam keadaan focus (sensor kamera). Semakin
panjang focal length maka semakin besar perbesaran objek dan perspektif dari objek. Focal
Length diukur dalam satuan millimeter. Focal Length disebutkan dalam nilai f-stop dengan
nilai F 1.4, F 2.0, F 5.6

Beberapa klasifikasi lensa :


a. Lensa Prime : lensa dengan panjang focus lensa tetap sehingga tidak bias di zooming,
seperti 50mm F1.4; 35mm F2.8.
Kelebihan lensa ini adalah kedalam focus lebih tajam, lebih cepat dan mendapat latar
blur lebih halus.
b. Lensa Makro : lensa untuk objek sangat dekat hingga 0mm (kurang dari 15cm dari
objek). Keuntungan lensa yaitu merekam benda-benda kecil, seperti capung, serangga
atau buah kecil. Didalam lensa ini ditambahkan beberapa jenis lensa, sehingga dapat
mengambil gambar sangat tajam dan jarak sangat dekat hingga mencapai perbandingan
objek 1:1.
Nadhifa Maulida / 2414105020

SISTEM FOTONIKA

c. Lensa Wide-angle / fish eye : lensa dengan focal length yang pendek, sehingga
menghasilkan efek visual mendorong onjek menjauh dari kamera dan membuath
objek jadi lebih kecil.
Kelemahan lensa adalah terjadi konvergensi (efek distorsi atau melengkung) yang
membuat struktur objek yang ditangkap berkumpul kearah tengah frame. Contoh lensa
ini yaitu 15mm, 17mmm, 24mm, dan 28mm.
d. Lensa Normal : lensa yang meniru prinsip mata manusia melihat atau yang disebut
dengan lensa standart. Hasil gambar yang dihasilkan bersifat biasa dan datar tidak ada
distorsi atau melengkung
e. Lensa Tele : lensa dengan focal length yang panjang, lensa yang memberi hasil objek
terasa dekat.
Keuntungan lensa yaitu dapat mengambil gambar dari jarak jauh dengan hasil objek
Nampak lebih dekat dan dapat meningkatkan ukuran objek dalam frame, ruang tajam
sempit jadi objek lebih jelas. Jika terjadi goyang, akan sangat berpengaruh pada hasil
rekam. Tipe lensa : 100mm, 250mm, 300mm, 800mm.
f. Lensa Vario/Zoom : lensa hasil penggabungan dari lensa sudut lebar sampai lensa tele.
Lensa ini sangat fleksibel karena tidak perlu mengganti lensa, karena telah mencakup
semua lensa.
jenis lensa dalam panjang focus internal, seperti 18-55m F2.8, 24-70mm, 18-200mm,
70-300mm. dengan f-stop 24mm-300mm F3.5-F5.6

55-250mm

18-55mm

g. Telephoto/ Long Focal Length : lensa yang dapat mendekatkan jarak agar objek pada
latar depan dan objek pada latar belakang nampak berdekatan. Dimana dalam
pengambilannya dapat dilakukan dengan zooming dan focus (pengaturan lensa yang
tepat untuk jarak tertentu).

2. Cermin
Komponen optic yang berfungsi untuk memantulkan cahaya. Komponen ini terbuat dari
kaca yang dilapisi dengan bahan lapisan tipis alumunium atau logam mengkilat lainnya.
Cermin ada 3 jenis, yaitu : cermin datar, cermin cekung dan cermin cembung. Cermin
datar, cermin yang memiliki permukaan datar dan menghasilkan bayangan nyata dan
dibelakang cermin. Cermin cekung mempunyai kelengkungan ke arah dalam. Cermin
cembung memiliki kelengkungan kearah luar cermin. Hasil bayangan cermin cembung dan
cermin cekung menyesuaikan keberadaan benda. Hasil bayangan cermin cekung bersifat
Nadhifa Maulida / 2414105020

SISTEM FOTONIKA

ukuran banyangan lebih besar dari ukuran bendanya, sedangkan bayangan cermin cembung
menghasilkan bayangan ukuran lebih kecil dari ukuran benda.

Gambar X. Pemantulan cahaya pada cermin datar


Persamaan yang dapat digunakan untuk menentukan jarak focus sama seperti pada
persamaan lensa.

Gambar x. hasil pemantulan di cermin cekung

Gambar x. hasil pemantulan di cermin cembung


Hubungan jarak focus dan jari-jari kelengkungan cermin :

Dimana :
f
= jarak fokus
Nadhifa Maulida / 2414105020

SISTEM FOTONIKA

R
S
S

= jari-jari kelengkungan cermin


= jarak benda dari cermin
= jarak bayangan dari cermin

3. Beam Splitter
Beam splitter atau pembagi sinar adalah komponen optik yang dapat membagi berkas
cahaya menjadi dua. Beam splitter biasanya digunakan dalam sistem interferometer,
dimana sistem tersebut memanfaatkan superposisi dua gelombang yang telah melewati
beam splitter. Bentuk dari komponen ini biasanya berbentuk balok yang terdiri dari dua
buah prisma segitiga. Komponen ini biasanya terbuat dari lapisan resin atau cermin
setengah perak. Dengan persamaan yang digunakan :

Gambar x. beam splitter


4. Beam Expander
Komponen optic yang digunakan untuk memperbesar beam. Konsep dasar yang digunakan
dalam komponen ini adalah prinsip dasar teleskop.
Jenis beam expander ada 2, yaitu :
1. Galilean Beam Expander
Pada Beam Expander ini terdiri dari lensa negative dan lensa positif.

Persamaan penguatan beam expander :


Nadhifa Maulida / 2414105020

SISTEM FOTONIKA

M=-f2/f1
Dimana :

2. Keplerian Beam Expander


Dimana Beam Expander ini terdiri dari 2 lensa positif.

Persamaan penguatan beam expander :


M=f2/f1=R2/R1=h2/h1
dimana :

5. Prisma
Prisma adalah komponen optik berupa benda transparan yang terbuat dari gelas atau kaca
yang dibatasi oleh dua bidang permukaan yang membentuk sudut tertentu. Fungsi Prisma
digunakan untuk menganalisa pembiasan cahaya, pemisahan cahaya dan juga pemantulan
cahaya. Prisma ini biasanya digunakan untuk sistem spektrometri.
Cahaya datang dari udara menuju pembias satu kemudian melewati prisma, setelah
melewati prisma maka cahaya dibiaskan mendekati garis normal. Kemudian cahaya akan
sampai ke bidang pembias kedua, setelah melewati prisma maka cahaya akan keluar
menjauhi garis normal.

Nadhifa Maulida / 2414105020

SISTEM FOTONIKA

6. Slit/celah
Slit adalah komponen optic dengan celah sempit yang digunakan untuk melewatkan cahaya
agar tidak tersebar. Cahaya yang bersifat polikromatis masuk melalui slit atau pintu masuk,
kemudian cahaya polikromatis masuk ke prisma dimana prisma berfungsi untuk
menguraikan atau mendispersikan cahaya polikromatis menjadi bebeberapa panjang
gelombang. Kemudian pada monokromator bisa diseleksi panjang gelombang berapa yang
diinginkan. Panjang gelombang yang telah diseleksi masuk ke slit dan cahaya keluar
melalui slit.

7. Pin hole
Pinhole adalah lubang kecil yang terbuar dari metal yang tipis. Kacamata pinhole
merupakan kacamata tanpa lensa, untuk menggantikan lensa tersebut maka digunakan
pinhole dengan lubang sekita 1 mm.Menurut William H. Bates, M.D, Ophtalmologist
dengan menggunakan kacamata pinhole maka otot-otot mata lebih rileks dan mata akan
erbebas dari kacamata plus, minus atau silinder. Kacamata pinhole bisa digunakan untuk
penderita miopi, presbiopi ataupun hipermetropi.

8. Diafragma
Diafragma/Aperture yang disebut juga Iris, yaitu sejumlah lembaran metal tipis yang
disusun sedemikian hingga dapat dibuka dan ditutup untuk mengatur banyaknya sinar

Nadhifa Maulida / 2414105020

SISTEM FOTONIKA

yang masuk ke lensa kamera. Semakin lebar diafragma terbuka maka semakin banyak lensa
mengirim sinar ke dalam kamera dan sebaliknya.
Bukaan diafragma diukur dalam satuan f-stop : f/1.4-f/22. Semakin besar nilai f-stop maka
bukaan diafragma semakin kecil, dan sebaliknya. Diafragma pada kamera dapat diatur
secara manual dengan memutar ring iris di lensa kamera.
Dengan rumus f-stop sebagai berikut :

Dimana :
f-stop = panjang focus lensa
D
= diameter bukaan
f
= focus lensa

Gambar x. Nilai Diafragma Dan Hasil Penangkapan Objek Pada Kamera


9. Shutter Speed
Shutter Speed adalah waktu yang dibutuhkan oleh shutter kamera untuk membuka dan
menutup kembali dalam mengambil gambar objek.
Explosure citra ditentukan dari kombinasi Shutter Speed dan bukaan diafragma. Shutter
Speed ditunjukkan dalam satuan fraksi satu detik, yaitu 1 ; 2 ; 4 ; 8 ; 15 ; 30 ; 60 ; 125 ;
250 ; 500 ; 1000 ; 2000 ; dan B.

Nadhifa Maulida / 2414105020

SISTEM FOTONIKA

Gambar X. ilustrasi shutter speed


Angka 1 berarti shutter membuka dengan kecepatan 1/1 detik. Angka 200 berarti shutter
membuka dengan kecepatan 1:2000 detik. B (Blub) berarti kecepatan tanpa batas. Shutter
speed ini digunakan untuk menangkap objek yang bergerak. Semakin besar nilai shutter
speed makan kemampuan kamera dalam menangkap benda bergerak semakin jelas.
10. ISO
ISO adalah Untuk mengatur kecepatan film atau mengatur tingkat senstivitas sensor
terhadap cahaya. Kecepatan ISO rendah akan membutuhkan waktu exposure yang lebih
lama (slow), sedangkan nilai ISO yang tinggi akan membutuhkan waktu exposure yang
lebih cepat (fast). Semakin besar nilai ISO yang dipilih makan munculnya noise atau bintik
pada foto akan semakin banyak, beberapa kecepatan ISO, antara lain : ISO 50 100 200
400 800 1600 3200

Nadhifa Maulida / 2414105020